Anda di halaman 1dari 7

Ujian Tengah Semester

Program Magister Manajemen


UNIVBI

Nama : Perif Hendrik


NPM : 19.23.036
Mata kuliah : Budaya Organisasi
Hari/tanggal : Sabtu/21-11-2020
Dosen Pengampu : DR.H.RAHIDIN H.ANANG,MS

1. Sebutkan dan jelaskan budaya organisasi sebagai pedoman bekerja saudara ditampat tugas
masing-masing!
Jawab:
Secara umum, budaya organisasi merupakan sebuah karakteristik yang dijunjung tinggi oleh
organisasi dan menjadi panutan organisasi sebagai pembeda antara satu organisasi dengan
organisasi yang lain, atau budaya organisasi juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma perilaku
yang diterima dan dipahami secara bersama oleh seluruh anggota organisasi sebagai dasar
dalam aturan perilaku yang terdapat dalam organisasi tersebut.
Budaya organisasi di lingkungan tempat saya bekerja yaitu di Kementerian Hukum dan HAM
tepatnya pada Lembaga pemasyarakatan (Lapas) Lubuklinggau menganut budaya organisasi
“Kami PASTI” yang memiliki arti sebagai “Profesinal, Akuntabel, Transparan, dan Inovatif”
 1. Profesional  : Aparatur Kementerian Hukum dan HAM adalah aparat yang bekerja keras untuk mencapai
tujuan organisasi melalui penguasaan bidang tugasnya, menjunjung tinggi etika dan
integirtas profesi;
 2. Akuntabel : Setiap kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintah dapat dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku;
 3. Sinergi : Komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama yang produktif serta
kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan untuk menemukan dan
melaksanakan solusi terbaik, bermanfaat, dan berkualitas;
 4. Transparan : Kementerian Hukum dan HAM menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk
memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang
kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai;
 5. Inovatif : Kementerian Hukum dan HAM mendukung kreatifitas dan mengembangkan inisiatif untuk
selalu melakukan pembaharuan dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya.

2. Sebutkan dan jelaskan mengapa pentingnya budaya organisasi ditempat saudara bekerja!
Jawab:
Budaya organisasi/organisasi sangat berperan penting dalam menciptakan kelancaran dalam
segala aspek yang berjalan pada lapas lubuklinggau. Budaya organisasi merupakan pondasi yang
berisi norma-norma, nilai-nilai, cara kerja pegawai dan kebiasaan yang bermuara pada kualitas
kinerja organisasi Pemimpin. Apalagi, dalam lingkungan kerja lapas, dimana para pegwai lapas
tidak hanya berinteraksi kepada anatar sesaama petugas lapas melainkan juga dengan para
tahanan dan narapidana. Sehingga budaya organisasi yang unggul dan tepat mampu membuat
pegawai lapas bekerja secara maksimal dengan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asassi manusia

Budaya organisasi dapat mempengaruhi cara orang dalam berperilaku dan harus menjadi
patokan dalam setiap program pengembangan organisasi dan kebijakan yang diambil. Seeperti
tidak melakukan tindakan penjeraan kepada tahanan dan narapidana akan tetapi melakukan
tindakan pembinaan terhadap mereka. Sehingga nanti, ketika mereka telah selesai menjalni
hukumnan pidana mereka, mereka dapat kembali dirterima oleh masyarakat luar.
Selain itu, Budaya organisasi memiliki peran yang sangat strategis untuk mendorong dan
meningkatkan efektifitas kinerja organisasi pada lapas lubuklinggau.sehingga Menjadi faktor
yang lebih menentukan dalam menentukan kesuksesan atau kegagalan organisasi dalam
menjalankan visi dan misinya pada tahun selanjutnya

3. Sebutkan dan uraikan :


a. Sistem kerja dan unit kerja saudara masing-masing, sesuai dengan tupoksi ditempat kerja
saudara
b. Berikan contoh dalam sistem kerja yang dimaksud
Jawab:
Sistem kerja : adalah satu kesatuan antara tata kerja dan prosedur kerja
sehingga membentuk

suatu pola yang dapat dengan tepat menyelesaikan sebuah pekerjaan


4. Dalam suatu ketika ditempat saudara bekerja terjadinya hubungan yang sangat tidak harmonis
antara pimpinan dengan bawahan dan sebaliknya antara bawahan sesama bawahan dan juga
pimpinan.
Pertanyaan:
Bagaimana saudara mengatasi suasana yang tidak kondusif tersebut?
Dalam situasi tersebut, sangat penting untuk memaksimalkan Peran Pimpinan Dalam
Menyelesaikan Konflik di Organisasi. Tugas seorang pimpinan yaitu mampu memecahklan
masalah dengan baik. Seorang Pemimpin memerlukan jiwa yang dinamis, kreatif, berani,
bertanggung jawab dan berdedikasi penuh pengabdian, yang hanya dimiliki oleh pribadi
pemimpin yang berkarakter kuat.
Adapun cara pemimpin untuk mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi,yaitu:
Banyak cara untuk memecahkan persoalan konflik antar pribadi maupun antar
kelompok, misalnya membuka diri, menerima umpan balik, menaruh kepercayaan
terhadap orang lain. Ada beberapa strategi untuk mengurangi konflik di
organisasi,yaitu :
1. Memecahkan masalah melalui sikap kooperatif
Bila dua kelompok atau dua individu memiliki tujuan yang berbeda karena masing-
masing menganut sistem nilai yang berbeda, maka penyelesaian masalahnya ialah:
a. Duduk bersama, berunding, dan bermusyawarah
b. Melihat masalah dengan kepala dingin dan mendiskusikannya
c. Melelui sikap kooperati orang berusaha melepaskan perbedaan perbedaan yang
tidak prinsipil, untuk lebih banyak menemukan titik-titik persamaan
d. Tidak selalu mengedepankan ego pribadi.dengan kata lain, Bersedialah mengalah
dengan itikad baik untuk memecahkan masalah.
2. Mempersatukan tujuan
Tujuan yang dipersatukan ini sama dengan tujuan yang harus dicapai oleh kelompok
yang tengah berselisih. Tujuan bersama itu harus bisa dicapai karena sifatnya
imperative atau memaksa. Melalui jalan kooperatif dan disertai rasa solidaritas
tinggi, orang harus bisa bekerjasama atas dasar saling percaya-mempercayai satu
sama lain.
3. Memperhalus konflik
Hal ini dapat dilakkan dengan cara Mengecilkan perbedaan-perbedaan sikap dan ide
dari perorangan dan kelompok yang tengah bertikai serta memperbesar titik
persamaan/ titik singgung dari tujuan atau kepentingan bersama, yang harus dicapai
dengan cara kooperatif. Dengan memperhalus konflik dan melicinkan jalan
penyelesaian orang berusaha dengan sengaja dan sadar menyingkirkan perbedaan
untuk lebih menonjolkan persamaan serta kepentingan bersama, sehingga jalan
damai dapat ditempuh untuk memecahkan masalah yang dipertengkarkan.
4. Kompromi
Kompromi merupakan proses saling berjanji antara kedua belah pihak yang bersedia
melepaskan sebagian dari tuntutannya. Dalam peristiwa kompromi boleh dikatakan
tidak ada pihak yang menang dan yang kalah secara mutlak. Kedua belah pihak
bersedia mengorbankan sedikit dari pendirian dan tuntutanya sehingga tersapai satu
keputusan bersama, sekalipun keputusan itu tidak bisa disebut sebagai hasil yang
optimal bagi kedua belah pihak. Keputusan hasil kompromi itu merupakan produk
penalaran,saling mengalah, saling memberi dan menerima dimana kedua belah
pihak saling terpuaskan.

5. Mengubah struktur individual dan struktur organisasi


Cara lain untuk mengurangi konflik yaitu dengan cara mengubah struktur organisasi.
Memindahkan atau melakukan mutasi terhadap pegawai. “the right man in the right
place”, filosofi ini yang coba diterapkan paada lapas lubuklinggau guna membentuk
badan koordinasi, memperkenalkan sistem konsultasi dan sistem apel, memperluas
partisipasi aktif para pegawai lapas lubuklinggau

5. Bagaimanakan budaya organisasi yang saudara inginkan?


Jawab:
Budaya organisasi yang diharapkan di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau yaitu budaya
organisasi yang mengacu pada tata nilai Kemenkumham PASTI. Tentunya budaya tersebut
bersinergi dengan budaya organisasi secara teoritis.
Menurut saya Budaya Organisasi ini bisa menciptakan situasi yang dapat mendorong para
pegawai lapas lubuklinggau agar meningkatkan kinerja yang mereka miliki. Karena dengan
adanya suatu budaya organisasi yang baik dan terarah dapat menjalankan pekerjaan dengan
runtun dengan hasil yang maksimal. Tanpa adanya budaya organisasi yang diterapkan pada
suatu organisasi atau organisasi, maka akan sangat sulit organisasi atau organisasi tersebut
mencapai tujuan yang diinginkan. Budaya organisasi merupakan suatu alat penggerak organisasi
dalam hal menjalankan visi dan misinya.
budaya organisasi mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja pegawai. Pengaruh
yang positif ini menunjukkan adanya pengaruh yang searah antara budaya organisasi dengan
kinerja pegawai, atau dengan kata lain dengan adanya budaya organisasi yang baik maka
produktivitas kinerja pegawai akan tinggi. Sedangkan pengaruh yang signifikan ini menunjukkan
bahwa budaya organisasi berpengaruh nyata (berarti) terhadap kinerja pegawai
Budaya organisasi dapat mempengaruhi cara orang dalam berperilaku dan harus menjadi
patokan dalam setiap program pengembangan organisasi dan kebijakan yang diambil. Hal ini
terkait dengan bagaimana budaya itu mempengaruhi organisasi dan bagaimana suatu budaya
itu dapat dikelola oleh organisasi.
Di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau, Inovasi sangat membantu proses kerja dan
menimbulkan penilaian positif dimana pegawai sangat terbantu dalam melakukan
registrasi kepegawaian dan juga segala macam bentuk kinerja sesuai Standart
Operasional Prosedur dapat terlaksana lebih cepat sesuai target kinerja, inovasi perlu
dilakukan bahkan beberapa instansi maupun perkantoran baik swasta maupun negeri
wajib melakukan inovasi agar dapat menciptakan pembaharuan didalam lingkungan
kerja baik dari infrastruktur kantor, sistem pelayanan, budaya kerja, dan lain sebagainya
guna mencapai target kerja lebih baik dan menciptakan budaya organisasi yang lebih
mudah untuk diterapkan didalam lingkungan kerja pegawai sesuai dengan keperluan
dan perkembangan zaman, khususnya di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau.

Di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau, dalam menjalankan Budaya Organisasi memberi


perhatian pada setiap masalah secara detail sangat diperlukan agar dalam pelaksanaan
kinerja dalam suatu organisasi dapat berjalan dengan baik dan meminimaliskan setiap
masalah yang ada, terutama pada Lembaga yang bergerak dalam bidang pelayanan
publik dengan kapasitas pembinaan masyarakat seperti Lapas Kelas IIA Lubuklinggau
yang berdiri dibawah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang menjalankan
Budaya Organisasi sesuai Standart Operasional Prosedur telah berjalan dengan baik.
Dengan meningkatkan hubungan komunikasi yang baik antara pimpinan dan bawahan
agar didalam ruang lingkup lebih cepat tanggap dalam memberikan perhatian pada
setiap masalah secara detail, sehingga apabila masalah dalam ruang lingkup kerja
sesama pegawai dapat diatasi tentu proses pembinaan terhadap narapidana/warga
binaan dapat berjalan dengan baik tanpa ada kendala yang cukup serius meskipun
dengan keadaan kekurangan pegawai/personil sekalipun, semua didukung dengan
kerjasama tim yang baik.
1. Orientasi hasil
Berorientasi terhadap hasil yang akan dicapai merupakan suatu indikator yang sangat
penting dalam menjalankan proses Budaya Organisasi, karena dimana ada Budaya
Organisasi tentu ada tujuan kerja yang ingin dicapai, tergantung bagaimana cara pelaku
Budaya Organisasi itu sendiri bagaimana menjalankannya. Di Lapas Kelas IIA
Lubuklinggau sangat berorientasi terhadap hasil yang akan dicapai karena pekerjaan
yang mereka jalani juga merupakan pekerjaan yang mereka cintai dengan keadaan
hubungan sesama pegawai yang ada pada Lapas Kelas IIA Lubuklinggau cukup baik
begitu juga hubungan terhadap pimpinan yang melakukan supervisi terhadap
bawahan/pegawai juga cukup baik dalam mengayomi dan memberikan intruksi
terhadap bawahannya, sehingga para pegawai juga sangat berorientasi terhadap hasil
yang akan dicapai karena disamping untuk mencapai target kerja orientasi terhadap
hasil yang akan dicapai oleh para pegawai juga akan menjadi laporan kinerja pegawai
yang nantinya semakin baik melakukan kinerja maka karir yang akan didapat oleh
pegawai itu sendiri akan semakin baik.
2. Orientasi orang
Selain berorientasi terhadap hasil yang akan dicapai guna mencapai target kerja,
berorientasi kepada semua kepentingan pegawai juga perlu diterapakan agar
pencapaian target kerja dapat berjalan lebih efektif dan efisien dalam Budaya Organisasi
yang berlaku pada organisasi maupun lembaga yang bergerak dibidang pelayanan
publik, hal ini merupakan indikator yang cukup berperan penting didalam Budaya
Organisasi pada Lapas Kelas IIA Lubuklinggau dalam melaksanakan kinerja dibawah
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau belum
sepenuhnya kepentingan pegawai terpenuhi dalam ruang lingkup kerja, namun
beberapa kepentingan yang berorientasi kepada semua kepentingan pegawai dalam
melaksanakan kinerja baik bagian staf tata usaha maupun bidang pengamanan warga
binaan sudah dicoba untuk dimaksimalkan dalam pelaksanaannya karena mengingat
kurangnya pegawai maka beberapa solusi telah dilakukan agar kepentingan pegawai
dapat terpenuhi satu persatu.
3. Orientasi tim
Selain orientasi hasil dan orientasi orang, berorientasi terhadap tim juga perlu dilakukan
agar para pegawai lebih bersemangat dan nyaman dalam melaksanakan kerja organisasi,
dan kegiatan kerja diorientasikan sekitar timtim, bukannya individu-individu, karena
orientasi tim lebih mengarah pada kerjasama tim dalam mencapai target kerja, bukan
tentang bagaimana individu melaksanakan tugas namun lebih kepada bentuk kerjasama
tim secara keseluruhan agar lebih mudah dalam pencapaian hasil kerja, kerjasama perlu
dibangun agar supervisi terhadap orientasi tim dapat menjadi pertimbangan yang cukup
baik untuk individu yang berada pada tim kerja dan juga untuk tim kerja itu sendiri. pada
Lapas Kelas IIA Lubuklinggau, bentuk orientasi tim cukup baik dalam kegiatan kerja
secara tim, para pegawai tidak hanya melaksanakan tugas atau kinerja organisasi pada
bidang masing-masing, namun para pegawai juga saling bantu membantu dalam
melaksanakan tugas pegawai lainnya apabila dalam tim kerja terdapat kekurangan
personil seperti masalah yang ada pada Lapas, bentuk orientasi terhadap tim ini juga
tidak terlepas dari bentuk supervisi dari Kepala Lapas yang selalu memantau dan turun
langsung untuk mencarikan solusi demi orientasi terhadap hasil, orientasi terhadap
pegawai, dan orientasi terhadap tim dapat tercapai dan terlaksana dengan baik.
pegawai Lapas Kelas IIA Lubuklinggau cukup agresif dalam bekerja karena mereka
mempunyai target kerja yang nantinya akan dipaparkan pada kalender kerja pegawai
masing-masing yang merupakan penilaian kinerja langsung dari Kepala Lapas Kelas IIA
Lubuklinggau dan juga Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagai bentuk
penilaian kerja pegawai yang nantinya dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk para
pegawai dalam karir yang lebih tinggi, hal ini dapat menjadi motivasi pegawai untuk
lebih agresif lagi dalam bekerja sesuai Stpemimpinrt Operasional Prosedur dalam
Budaya Organisasi pada Lapas Kelas IIA Lubuklinggau.