Anda di halaman 1dari 31

ASPEK HUKUM SUNAT

PADA PEREMPUAN
(FEMALE GENITALE
MUTILATION)
dr. Mohammad Tegar Indrayana, SpFM
KJF Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Fakultas Kedokteran Universitas Riau
ISU HUKUM KHITAN PADA PEREMPUAN

▪ KAJIAN HUKUM SYAR’I KHITAN PADA PEREMPUAN


MENURUT FATWA MUI
▪ KAJIAN HUKUM KHITAN PADA PEREMPUAN
MENURUT HUKUM POSITIF DI INDONESIA
▪ KAJIAN KHITAN PADA PEREMPUAN MENURUT WHO
▪ BAGAIMANA BIDAN BERSIKAP TERHADAP KHITAN
PADA PEREMPUAN?
LATAR BELAKANG

SUNAT PADA
FGM
menurut WHO VS PEREMPUAN
menurut syari’at
Islam
PENGERTIAN FGM
❖Salah satu bentuk tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan dalam masyarakat
adalah female genital mutilation (FGM).
❖FGM adalah segala prosedur atau tindakan yang ditujukan untuk menghilangkan
sebagian atau seluruh organ genital luar dari wanita atas nama budaya, adat, agama
atau alasan-alasan lain di luar alasan-alasan kesehatan atau penyembuhan.
❖FGM merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis budaya, yaitu kekerasan yang
dilakukan berdasarkan atas tuntutan budaya atau tradisi masyarakat.
❖Tindakan tersebut menyebabkan atau mungkin menyebabkan penderitaan fisik, psikis,
seksual pada perempuan, karena di dalamnya termasuk tindakan memaksa,
mengurangi kebebasan perempuan itu sendiri

Erwanti MO, Rahayu, Farida E. Kajian Yuridis Female Genital Mutilation


dalam Perspektif Hak Azazi Manusia. Diponegoro Law Rev. 2012;1.
Tersedia di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dlr
HUKUM SUNAT PEREMPUAN DI INDONESIA

▪ Surat Edaran Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, Departemen


Kesehatan, Nomor HK 00.07.1.31047a tertanggal 20 April 2006
tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan → TENAGA
MEDIS TIDAK BOLEH MEMBANTU MELAKUKAN PRAKTIK
TERSEBUT SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG SEGALA USAHA
UNTUK MENGHAPUS TINDAK KEKERASAN TERHADAP
PEREMPUAN
▪ Namun surat edaran tersebut ditentang oleh MUI karena sunat
pada perempuan merupakan bagian dari Syi’ar Agama Islam
KAJIAN HUKUM SYAR’I SUNAT PADA
PEREMPUAN MENURUT FATWA MUI
FATWA MUI TENTANG KHITAN TERHADAP PEREMPUAN
TERTUANG PADA: FATWA MUI NO 9A TAHUN 2008
▪ Terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Khatib, Abu Dawud, Al Hakim, Ibnu ‘Adi dimana
Rasulullah bersabda kepada ‘Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha “Khitanlah (anak-anak perempuan), tetapi
jangan dipotong habis, karena sesungguhnya khitan itu membuat wajah lebih berseri dan lebih disenangi
oleh suami”.*

▪ Hadits diatas yang menerangkan bahwa tidak semua dari bagian klitoris yang dipotong. Bagian
tubuh yang diperbolehkan untuk dikhitan adalah Klitoral Hood atau preputium clitoridis and clitorial
prepuce.* Klitoral hood adalah lipatan kulit yang terbentuk oleh penyatuan labia minora anterior (depan)
dan bersatu dengan batang klitoris.**

▪ Klitoral hood homolog dengan preputium pada gland penis yang merupakan kulit yang dipotong
saat anak laki-laki dikhitan.***

*) Bahraen R. Fiqih Kontemporer Kesehatan Wanita. Penebar Sunnah

**) Dorland N. Kamus Kedokteran Dorland. 29th ed. Jakarta: EGC; 2002.

***) Snell RS. Anatomi Klinis Berdasarkan Regio. 9th ed. Jakarta: EGC; 2012
KAJIAN HUKUM KHITAN PADA
PEREMPUAN MENURUT HUKUM
POSITIF DI INDONESIA
REGULASI TENTANG KHITAN PADA PEREMPUAN
VIDEO SUNAT MENURUT KETENTUAN SYARI’AH ISLAM DAN
PERMENKES NO 1636 TAHUN 2010 TENTANG KHITAN TENTANG
SUNAT PEREMPUAN
▪ Pada tanggal 23 Juni 2011, Amnesty International bersama dengan masyarakat sipil
Indonesia menyatakan pernyataan sikap yang meminta pemerintah untuk segera
mencabut Permenkes nomor 1636 tahun 2010 tentang sunat perempuan.
▪ Dikatakan bahwa Permenkes tersebut melegitimasi praktik mutilasi kelamin
perempuan dan memberi otoritas pada pekerja medis tertentu untuk melakukannya dan
Permenkes ini juga berlawanan dengan langkah pemerintah memperkuat kesetaraan
gender dan melawan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.
▪ Peraturan ini juga dinilai melanggar sejumlah hukum di Indonesia, termasuk Undang-
Undang No.7/1984 tentang Ratifikasi Konvensi Internasional tentang Penghapusan
Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), Undang-Undang No.
5/1998 tentang ratifikasi Konvensi PBB Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau
Penghukuman yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan (CAT), Undang-
Undang No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang No. 23/2002
tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang No. 23/2004 tentang Kekerasaan dalam
Rumah Tangga, dan Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

ASA. Amnesty International Pernyataan Publik.; 2011


ALASAN PENOLAKAN TERHADAP PERMENKES NO 1636
TAHUN 2010 TENTANG SUNAT PEREMPUAN

▪ Permenkes ini dianggap melegitimasi praktik perusakan alat


kelamin perempuan melalui tindakan sunat perempuan.
▪ Hukum di Indonesia tidak secara eksplisit mencantumkan
pelarangan terhadap sunat perempuan, namun:
▪ UUD 1945 Pasal 28B ayat (2) dan pasal 28 I ayat (2) menyatakan: “hak anak
untuk bebas dan mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”
▪ UU Kesehatan Pasal 74 ayat (1) menyatakan: “setiap pelayanan kesehatan
reproduksi harus memperhatikan aspek-aspek kesehatan reproduksi
perempuan”
▪ UU Perlindungan Anak Pasal 4 menyatakan bahwa: “anak berhak untuk
mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”

Inayati IN, Widianti SA, Lucyati A. Ketentuan tentang Sunat Perempuan Dikaitkan dengan
Asas Gender dan Nondiskriminatif. Soepra Jurnal Hukum Kesehatan, Vol 2, No 1, Tahun
2016. Hal 61-73
▪ Sehingga, pada tanggal 6
Februari 2014, Menteri
Kesehatan Republik Indonesia
mengeluarkan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 6 Tahun 2014 tentang
pencabutan peraturan menteri
kesehatan nomor
1636/MENKES/PER/XII/2010
tentang sunat perempuan, dan
menyatakan bahwa Permenkes
tersebut tidak berlaku lagi.
LATAR BELAKANG PENCABUTAN PERMENKES NO. 1636
TAHUN 2010 (1)

▪ Desakan Dunia Internasional


▪ Pada Mei 2012, Komisi HAM PBB dalam sesi Universal Periodical Review (UPR)
meminta Pemerintah Indonesia untuk mencabut Permenkes No.1636 Tahun 2010
tentang Sunat Perempuan
▪ Pada November 2012, Pemerintah Indonesia mendapat surat teguran dan
permohonan informasi terkait sunat perempuan dari Special Rapporteur on the Right
of everyone to the enjoyment of highest attaible standart of Physical and mental
health.
▪ What is Special Rapporteur? Special Rapporteurs are independent experts
appointed by the Human Rights Council to examine and report back on a
country situation or a specific human rights theme. The position is honorary
and the expert is not a staff of the United Nations nor paid for his/her work.
He/she expresses his/her view in an independent capacity and does not
represent his/her Government
LATAR BELAKANG PENCABUTAN PERMENKES NO. 1636
TAHUN 2010 (2)

▪ Hingga pada tahun 2013, dikeluarkan List if Issue (LoI) yang


dikeluarkan oleh Human Rights Committee (HRC) atas laporan
pelaksanaan ICCPR (International Covenant on Civil and Political
Rights) → mempertanyakan perihal sunat perempuan di
Indonesia → meminta negara Indonesia untuk memberikan
tanggapan terkait tidak adanya UU yang melarang praktik FGM
▪ Sebagai perbandingan, di Australia pada bulan Mei 2014 oleh
badan legislative NSW mengesahkan RUU “Crimes Amandement
Bill 2014” mengenai FGM dan menaikkan hukuman menjadi 21
tahun kepada seseorang yang bersalah karena telah melakuakn
FGM pada anak perempuan, gadis atau wanita

Pratiwi YD, Widodo H. Pengaturan Sunat Perempuan dalam Peraturan


Perundang-undangan di Indonesia. Jurnal Novum, Vol 3 No 2, Tahun 2016
KAJIAN KHITAN PADA PEREMPUAN
MENURUT WHO
VIDEO FEMALE GENITALE MUTILATION menurut WHO
KLASIFIKASI FGM menurut WHO
Tipe 1 (klitoridektomi), yaitu menghilangkan klitoris
Klitoridektomi
Tipe 2 (Eksisi), adalah menghilangkan klitoris dan
labia
1
Tipe 3 (Infibulasi), yaitu narrowing the vaginal opening
Unclassified 4 2 Eksisi (Tindakan penyempitan liang senggama yang
terkadang dilakukan dengan cara penjahitan pada
3 lubang vagina

Tipe 4 tidak terklasifikasi, yaitu segala macam bentuk


Infibulasi FGM lainnya yang tidak mengikuti kaidah tipe 1,2 dan
3. Seperti pricking (ditusuk), stretching (diregangkan),
scrapping (dikikis) dan diberi cairan asam (acid)
BAGAIMANA BIDAN BERSIKAP
TERHADAP KHITAN PADA PEREMPUAN?
PERMENKES NO 6 TAHUN 2014
▪ Peraturan ini tidak melarang
praktik sunat pada perempuan
dengan jalan memberi mandat
kepada Majelis Pertimbangan
Kesehatan dan Syarak untuk
menerbitkan pedoman
penyelenggaraan sunat pada
perempuan yang menjamin
keselamatan dan kesehatan
perempuan yang disunat serta
tidak melakukan mutilasi alat Namun hingga saat ini, pedoman
kelamin perempuan (female penyelenggaraan sunat perempuan belum
genital mutilation). dikeluarkan Majelis Pertimbangan
Kesehatan dan Syarak Kemenkes
KESIMPULAN
▪ Dapat disimpulkan bahwa sunat pada perempuan menurut
Fatwa MUI dan Permenkes No 1636 Tahun 2010 berbeda
dengan mutilasi alat kelamin perempuan menurut WHO
▪ Sunat pada perempuan menurut fatwa MUI dan permenkes
menyatakan hanya menggores sedikit frenulum klitoris atau
kulit yang menutupi klitoris tanpa menyebabkan terpotongnya
klitoris, sedangkan yang dikatakan mutilasi alat kelamin
perempuan (female genital mutilation) adalah apabila
terpotongnya sebagian atau seluruh klitoris, dan bagian kelamin
wanita lainnya seperti bibir kecil kemaluan (labia minor), bibir
besar kemaluan (labia mayor), selaput dara (hymen), serta
vagina