Anda di halaman 1dari 41

MODUL PENGELOLAAN KESEHATAN DASAR DI PONDOK PESANTREN

Cara mengatasi gigitan ular

Untuk mengatasi gigitan ular, kenali terlebih dahulu jenis ular yang menggigit tersebut apakah
merupakan ular berbisa atau tidak. Hal ini bisa diketahui dari luka yang ditimbulkan. Gigitan ular tidak
berbisa biasanya akan menimbulkan luka halus berbentuk lengkungan. Sedangkan luka pada korban
gigitan ular berbisa akan menimbulkan bercak kebiruan, bengkak, dan nyeri.

Pada korban gigitan ular tidak berbisa, penanganan bisa dilakukan dengan membersihkan luka dengan
antiseptik dan memberikan pengobatan pada luka yang ditimbulkan. Dokter juga bisa memberikan
serum anti tetanus atau pengobatan medis lainnya sesuai dengan indikasi.

Sedangkan korban gigitan ular berbisa membutuhkan penanganan dan pengobatan medis yang lebih
serius. Jika salah dalam memberikan penanganan bisa membahayakan nyawa seseorang.

Pertolongan pertama korban gigitan ular berbisa

Gigitan ular berbisa akan menimbulkan sejumlah gejala pada tubuh manusia. Selain bercak biru dan
bengkak, gejala umum pada korban gigitan ular berbisa di antaranya adalah kelemahan otot, menggigil,
berkeringat, mual, muntah, nyeri kepala, dan pandangan kabur. Gejala tersebut dapat muncul sekitar 30
menit hingga 24 jam setelah digigit ular berbisa. Sebelum berakibat fatal, pertolongan pertama harus
dilakukan agar racun ular tidak tersebar ke seluruh tubuh. Berikut caranya:

1. Tetap tenang dan jangan panik.

2. Jangan banyak bergerak karena gerakan tubuh akan membuat racun ular tersebar dengan cepat ke
seluruh tubuh.

3. Letakkan bagian tubuh yang digigit ular lebih rendah dari posisi tubuh lainnya.

4. Bersihkan luka gigitan ular seperlunya tanpa menggunakan air untuk membilas.

5. Tutup luka gigitan ular dengan kain kering dan bersih.

6. Longgarkan pakaian dan lepaskan aksesoris seperti cincin dan gelang.

7. Jangan buang waktu dan segera cari pertolongan medis atau fasilitas kesehatan terdekat yang
memiliki serum antivenom ular.

8. Selama dalam perjalan ke fasilitas medis, berbaringlah dengan posisi luka gigitan ular lebih rendah
dari jantung.

9. Berikan informasi ciri-ciri ular yang menggigit agar petugas medis bisa memberikan tindakan yang
tepat.

Hindari hal berikut ketika menangani korban gigitan ular


Cara mengatasi gigitan ular berbisa, kamu harus menghindari tindakan penanganan yang salah yang bisa
menyebabkan dampak lebih parah. Hal-hal yang harus dihindari di antaranya adalah mengisap racun
dari luka gigitan ular, menyayat luka gigitan agar darah keluar, mencuci atau membilas luka gigitan
dengan air, air panas atau es batu, serta minum alkohol atau kopi.

Jangan lupa juga untuk tidak mencoba mengejar atau menangkap ular karena akan membuat tubuh
banyak bergerak dan racun lebih cepat menyebar ke seluruh tubuh. Namun, untuk mempermudah
petugas medis dalam melakukan penanganan, sebaiknya perhatikan dan ingat ciri-ciri ular yang
menggigit seperti bentuk, ukuran, dan warna ular. Dengan demikian, petugas medis bisa memberikan
serum antivenom atau antibisa ular dan tindakan medis secara tepat.

Pertolongan Pertama saat Digigit Serangga


Halodoc, Jakarta – Kebanyakan reaksi terhadap gigitan dan sengatan serangga umumnya ringan dengan
gejala kulit kemerahan, gatal, menyengat, atau pembengkakan ringan. Bagaimana pertolongan pertama
saat digigit serangga?

Cuci area yang digigit dengan sabun lalu basuh dengan air, kompres dengan air dingin untuk membantu
mengurangi peradangan, selain itu mengoleskan minyak angin juga bisa mengurangi peradangan dan
gatal. Ingin tahu lebih detail pertolongan pertama saat digigit serangga, baca lebih lanjut di sini!

Apa Tanda Bahaya dari Digigit Serangga?


Biasanya, tanda dan gejala gigitan atau sengatan hilang dalam satu atau dua hari. Jika kamu  khawatir
akan kemungkinan terjadi komplikasi, bisa tanyakan langsung ke Halodoc.  Dokter yang ahli di bidangnya
akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. 

Apalagi kalau kamu mengalami gejala-gejala seperti:

1. Kesulitan bernapas.

2. Pembengkakan pada bibir, kelopak mata, atau tenggorokan.

3. Pusing, pingsan, atau kebingungan.

4. Detak jantung cepat.

5. Mual, kram, atau muntah.

Pada beberapa orang tertentu atau jenis serangga yang beracun, gigitan atau sengatan dapat
menimbulkan reaksi pada seluruh tubuh, seperti:

 Bentol-bentol dan gatal diseluruh tubuh (urtikaria).

 Bengkak pada wajah dan bibir (angioedema).

 Kelemahan tubuh sampai kelumpuhan.

 Demam.

 Gejala sistem pencernaan, contohnya mual, muntah, diare.

 Pusing.

 Pingsan.

Reaksi Anafilaktik (syok Anafilaktik), yaitu reaksi alergi berat yang dapat mengancam nyawa. Gejala-
gejala reaksi anafilaktik, yaitu ruam dan gatal seluruh tubuh, pembengkakan tenggorokan, sesak nafas,
jantung berdebar, tekanan darah menurun, gelisah, keringat dingin, mual muntah, hingga kesadaran
menurun. Reaksi ini terjadi beberapa detik sampai beberapa menit setelah digigit atau disengat
serangga. Racun yang dikeluarkan serangga dan masuk kedalam tubuh sebagai alergen (zat perangsang
reaksi alergi). Jika tidak ditangani dengan cepat, reaksi ini dapat menimbulkan kematian.

Bagaimana Meringankan Ketidaknyamanan?

Ada banyak saran untuk meredakan ketidaknyamanan akibat reaksi alergi terhadap gigitan nyamuk.
Penanganan gigitan serangga yang menimbulkan reaksi lokal, yaitu membasuh area yang digigit atau
disengat dengan air dan sabun, kemudian kompres dingin pada daerah yang digigit atau disengat.
Kompres dingin ini dapat mengurangi rasa nyeri dan pembengkakan. 

Apabila terdapat lepuhan pada kulit, jangan memecahkan lepuhan tersebut. Beberapa obat dapat
digunakan untuk mengurangi gejala yang ringan, bentol kecil kemerahan yang gatal, yaitu campuran
menthol atau camphor berbentuk lotion atau gel dapat membantu mengurangi gejala.
Bila terdapat lepuhan kulit yang panas, nyeri, dapat digunakan salep kortikosteroid untuk mengurangi
reaksi alergi yang ditimbulkan. Obat-obatan minum, seperti golongan antihistamin (difenhidramin, ctm,
dan cetirizine) dapat membantu mengurangi gatal. 

Apabila tergigit atau tersengat serangga beracun yang berbahaya, seperti yang dijelaskan diatas, langkah
pertama yang dilakukan adalah cabut sengat yang menempel pada kulit dengan cepat, cuci dengan air
mengalir dan sabun, kompres dingin pada area yang tersengat. Apabila lokasi yang tersengat adalah
tangan atau kaki, angkat tangan atau kaki yang tersengat.

Salep yang mengandung kortikosteroid dapat membantu meringankan gejala lokal yang terjadi. Namun,
apabila tersengat dibagian wajah, leher, atau terdapat gejala-gejala seluruh tubuh sebaiknya langsung
ke rumah sakit.

Jika mengalami gejala reaksi alergi hebat atau reaksi anafilaktik, sebaiknya langsung dibawa ke unit
gawat darurat(UGD). Selama perjalanan ke rumah sakit, jika pengidap muntah atau penurunan
kesadaran jangan diberi makan. Penanganan cepat tim dokter di UGD berupa pemberian oksigen,
pemasangan jalur infus, dan penyuntikan obat epinefrin yang telah diencerkan. Pemberian obat ini tidak
dapat dilakukan sendiri dirumah karena efek samping yang berbahaya.

Cara terbaik untuk mencegah gigitan nyamuk adalah dengan menghindari gigitan. Sesederhana
kedengarannya, ini bisa menjadi tantangan nyata, terutama selama musim panas atau di iklim hangat.
Karenanya, batasi beraktivitas di tempat-tempat di mana serangga berkumpul. Jaga lingkungan dan
rumah tetap bersih supaya kamu tidak terpapar serangga yang mengganggu.

Singkirkan genangan air di sekitar pekarangan karena akan menjadi tempat berkembang biak nyamuk
dan serangga. Biarkan rumput dan semak-semak dipangkas agar tidak memiliki tempat hewan-hewan
kecil tersebut bermukim. Pastikan semua jendela memiliki kasa dan semuanya dalam kondisi baik.

Bila diperlukan aplikasikan lotion antiserangga berbahan alami seperti serai, supaya kamu bisa
beraktivitas dengan nyaman meski berada di tempat yang berisiko. Ketika pergi keluar, usahakan kulit
tertutup sebanyak mungkin dan hindari warna-warna cerah yang akan menarik perhatian nyamuk. 

Intinya adalah tidak ada cara untuk menjamin bahwa kamu tidak akan pernah merasakan gigitan
serangga. Namun, dengan mengetahui tindakan pencegahan dan penanganan yang tepat dapat
membantu kamu mengatasi masalah gigitan serangga bilamana ini terjadi padamu.

Wajib Tahu Pertolongan Pertama pada Luka Bakar untuk Selamatkan Nyawa

Cedera akibat luka bakar dapat terjadi di mana saja, termasuk di rumah. Jika bukan Anda yang
mengalaminya, bisa jadi Anda merupakan orang terdekat yang dapat membantu korban. Maka dari
itu, penting untuk mengetahui cara memberikan pertolongan pertama pada luka bakar.
Agar dapat memberikan pertolongan pertama pada luka bakar, penting mengenali jenis-jenis luka bakar.
Selain itu, penanganan luka bakar perlu disesuaikan dengan tingkatan lukanya juga.

Mengenali Jenis Luka Bakar

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan luka bakar, seperti paparan sinar matahari berlebih,
sengatan listrik, api atau kebakaran, dan luka bakar karena terpapar bahan kimiawi. Melihat dari
tingkatannya, luka bakar yang dialami seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut:

 Luka bakar ringan


Luka bakar ringan bisa disebut dengan luka bakar derajat 1 yang memiliki ciri luas area luka tidak
lebih dari 8 centimeter (cm). Selain itu, luka jenis ini hanya meliputi kulit bagian paling luar dan
dianggap tidak serius. Gejala yang muncul, biasanya seperti rasa sakit, kemerahan, dan bengkak.
Contoh luka bakar derajat pertama yaitu luka bakar pada permukaan kulit yang terbakar sinar
matahari secara langsung.

 Luka bakar sedang


Luka bakar sedang adalah luka bakar derajat 2 yang memiliki ciri kulit melepuh, sangat perih dan
kemerahan. Luka bakar jenis ini memerlukan perawatan medis darurat, terutama jika luka bakar
meluas di area penting, seperti wajah, tangan, bokong, selangkangan atau paha dan kaki.
Sebagian luka bakar derajat 2 membutuhkan waktu penyembuhan lebih dari tiga minggu.

 Luka bakar berat


Luka bakar berat atau luka bakar tingkat 3 termasuk luka bakar yang serius, karena merusak
seluruh lapisan kulit dan lemak, bahkan bisa sampai ke otot dan tulang. Korban kebakaran yang
mengalami luka bakar berat dapat mengalami keracunan karbon monoksida, sesak napas atau
kulit yang terbakar hangus.

Cara Mengatasi Luka Bakar Ringan

Luka bakar ringan umumnya dapat ditangani sendiri di rumah, namun harus dilakukan dengan cara yang
benar. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberikan pertolongan pertama pada luka bakar ringan
adalah:

 Luka bakar perlu didinginkan untuk meredakan rasa perih. Anda bisa letakkan handuk yang
sudah dibasahi air dingin pada luka.

 Hindari memecahkan luka yang melepuh karena berisiko menyebabkan infeksi.

 Cuci dengan air bersih mengalir jika ada luka lepuh yang pecah dengan sendirinya.

 Jika rasa sakit terasa tidak tertahankan, penderita dapat mengonsumsi obat pereda rasa sakit,
seperti paracetamol, atau obat antinyeri lainnya sesuai anjuran dokter.

Penanganan Luka Bakar Sedang

Penanganan luka bakar sedang di rumah umumnya hampir sama dengan luka bakar ringan. Hanya saja,
pada kondisi tertentu, luka bakar sedang sebaiknya diperiksakan ke dokter.

Berikut ini adalah penanganan luka bakar sedang:


 Dinginkan area luka bakar dengan handuk selama kurang lebih 15 menit.

 Hindari memecahkan luka yang melepuh karena berisiko menyebabkan infeksi.

 Periksakan diri ke dokter jika terdapat luka lepuh yang cukup besar, jika luka bakar cukup luas,
atau jika terjadi infeksi berupa bengkak, merah, dan rasa sakit yang bertambah parah. Dokter
mungkin akan memberi pengobatan berupa antinyeri atau antibiotik.

Anda juga perlu segera memeriksakan diri ke dokter, bila luka bakar memengaruhi area tertentu seperti
wajah, tangan, bokong, selangkangan, atau kaki.

Langkah Pertolongan Luka Bakar Berat

Sebagai bentuk pertolongan pertama pada luka bakar berat, segera larikan korban ke unit gawat darurat
(UGD) atau hubungi ambulans UGD rumah sakit terdekat. Selama menunggu, Anda bisa melakukan
sesuatu untuk menolong korban, misalnya:

 Jauhkan korban dari sumber kebakaran atau area yang berdekatan dengan api maupun asap.

 Pastikan korban dapat bernapas dengan lancar.

 Bila perlu dan jika memungkinkan, berikan bantuan pernapasan.

 Lepaskan perhiasan, ikat pinggang, ataupun aksesori yang melingkar di sekitar area yang
terbakar.

 Untuk mencegah terjadinya hipotermia, jangan berikan air dingin pada luka bakar yang luas. Hal
ini juga untuk mencegah turunnya tekanan darah dan aliran darah secara drastis.

 Tutup luka bakar dengan kain bersih atau plester yang dingin dan lembut.

 Hindari mengoleskan obat atau salep pada area yang terbakar di luar dari anjuran dokter. Selain
itu, menempelkan es atau mengoleskan mentega justru dapat membahayakan jaringan kulit
yang terbakar.

 Baringkan pasien dengan kaki terangkat setidaknya 40 cm.

 Gunakan selimut atau mantel pada tubuh pasien.

Selain memahami pertolongan pertama pada luka bakar, penting melakukan langkah pencegahan.
Disarankan untuk menyimpan tabung pemadam kebakaran di rumah. Jika Anda menghuni apartemen,
pastikan bangunan dilengkapi dengan alarm yang berbunyi jika terjadi kebakaran. Jauhkan anak dari api
dan air panas tanpa pengawasan.
Berikut persiapan yang dibutuhkan untuk persiapan pendirian Poskestren :

1. Rumah sakit menyiapkan modul kesehatan dasar untuk pondok pesantren


2. Pondok menyiapkan kader kesehatan untuk 20 santri 1 kader (1:20)
3. Pondok menyiapkan kader kesehatan tingkat pondok pesantren sebagai leader kesehatan dalam
satu asrama
4. Kader kesehatan tersebut akan di training di rumah sakit untuk materi poskestren sesuai jadwal
yang telah ditentukan
5. Rumah sakit akan memberikan daftar inventaris kebutuhan obat-obatan dasar dan peralatan
medis dasar yang harus dimiliki oleh pesantren dalam menyiapkan poskestren
6. Rumah sakit akan membantu setting tempat / lokasi poskestren
7. Rumah sakit akan membantu menyediakan SDM sebagai konsultan poskestren 24 jam dengan
jadwal konsultan terlampir
8. Rumah sakit akan melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan poskestren setiap 3 bulan sekali dan
memberikan arahan tindak lanjut dari hasil evaluasi tersebut

Panduan Memberi Pertolongan Pada Korban Jatuh dari Ketinggian


Jatuh dari ketinggian tidak hanya dapat menyebabkan cedera, tapi juga dampak lain yang mungkin tidak
langsung terlihat dari luar. Maka dari itu, pertolongan pertama saat jatuh tidak boleh dilakukan secara
sembarangan. Ada sejumlah hal yang perlu dicermati agar upaya yang Anda berikan guna menolong
korban tidak memperparah cedera.

Memberikan pertolongan pertama pada orang yang terjatuh

Sebelum melakukan tindak penanganan apa pun, pastikan bahwa kondisi sekitar Anda cukup aman.
Hindari posisi maupun lokasi yang dapat membahayakan Anda seperti di bawah reruntuhan, di atas
permukaan tanah yang licin, dan sebagainya.

Setelah memastikan kondisi Anda aman, ikuti langkah-langkah berikut:

1. Memastikan kesadaran korban


Saat memberikan pertolongan pertama pada orang yang jatuh, jangan terburu-buru memindahkan
badannya. Hampiri korban terlebih dulu agar Anda bisa memastikan kesadarannya dan menilai kondisi
tubuhnya dengan cepat.

Perhatian apakah korban sadar dan mampu merespons. Jika korban dapat merespons, perhatikan
apakah ia bisa bernapas. Bila korban tidak merespons, apalagi jika tidak teraba nadi di daerah lehernya,
segera lakukan resusitasi jantung paru. Begitu korban dipastikan bernapas, pastikan jalur udaranya tidak
terhambat. Ubah posisi tubuhnya bila ia tampak kesulitan bernapas.

2. Ketahui kapan Anda harus menghubungi nomor darurat

Segera hubungi nomor ambulans apabila korban tidak sadarkan diri atau mengalami cedera serius pada
leher, kepala, punggung, tulang pinggul, ataupun paha. Hubungi pula nomor darurat apabila korban
tidak mampu bernapas atau mengalami kejang.

Saat menunggu bantuan medis bagi korban jatuh yang tidak bernapas, Anda dapat memberikan
pertolongan pertama dengan melakukan resusitasi jantung dan paru (RJP). Jika Anda tidak mengetahui
caranya, hubungi tenaga medis untuk memandu Anda.

3. Melihat tanda-tanda cedera dan luka


Jika korban mampu bernapas dan memberikan respons, langkah selanjutnya adalah melihat tanda-tanda
cedera dan luka. Tanyakan pada korban bagian mana dari tubuhnya yang terasa sakit. Awasi pula adanya
perdarahan dalam, memar, dan bagian tubuh yang terkilir.

Jangan pindahkan badan korban bila ia mengalami cedera pada leher atau tulang belakang. Hubungi
ambulans dan jagalah posisi korban hingga tenaga medis tiba. Apabila terjadi perdarahan, tekan
perlahan bagian yang berdarah dengan kain bersih.

4. Melakukan penanganan darurat terhadap patah tulang

Saat memberikan pertolongan pertama pada korban jatuh, bentuk cedera yang paling sering terjadi
adalah patah tulang. Jangan memindahkan badan korban karena hal ini bisa memperparah cedera pada
tulang maupun area sekitarnya.

Jangan pula mencoba membetulkan posisi tulang yang bergeser. Sebagai gantinya, Anda bisa
memasangkan bebat darurat dari kayu atau bahan sejenisnya pada bagian atas dan bawah area patah
tulang. Gunakan kain untuk mengikat bebat tersebut.

5. Menjaga kondisi korban saat tidak ada cedera dan luka


Apabila korban tampak tidak mengalami luka dan mampu bergerak bebas, Anda bisa membantunya
duduk. Perhatikan kondisi korban dan awasi tanda-tanda nyeri, rasa tidak nyaman, pusing, atau kepala
berkunang-kunang.

Bila memungkinkan, atau jika Anda adalah anggota keluarga korban, pantau kondisinya selama 24 jam
ke depan. Segera hubungi tenaga medis apabila korban mengalami gejala gegar otak seperti sakit
kepala, kejang, muntah, atau pingsan.

Pertolongan pertama yang Anda berikan saat seseorang jatuh dari ketinggian akan memberikan
pengaruh yang besar. Tindakan paling sederhana sekalipun bisa menghindarkan korban dari risiko
cedera permanen atau bahkan kematian.

Agar manfaatnya optimal, pastikan Anda cermat dan berhati-hati sebelum memberikan pertolongan
pertama. Tidak lupa, keselamatan Anda sebagai penolong juga harus tetap diutamakan.
Pertolongan Pertama Pada Fraktur (Patah Tulang), Perhatikan Langkah-langkah Ini!

7 Oktober 2019

Fraktur tidak boleh dianggap remeh. Meskipun tidak semua kondisi fraktur mengancam nyawa
korban, namun fraktur tetap membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin.

Sumber: zuberbrioux.com

Secara umum cedera bisa terjadi kapan saja dan sulit untuk dihindari, salah satunya fraktur atau patah
tulang. Fraktur dapat terjadi ketika Anda terjatuh dari ketinggian tertentu, mengalami kecelakaan lalu
lintas, cedera saat berolahraga, atau ketika tulang terhantam benda-benda keras.
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang yang terjadi akibat cedera langsung ataupun tidak langsung.
Jadi, tulang dikatakan patah (fraktur) ketika tubuh mengalami kondisi terputusnya keutuhan susunan
tulang menjadi beberapa bagian.

Fraktur dapat diakibatkan oleh benturan atau tekanan yang kuat, melebihi kemampuan tulang untuk
meredamnya. Terdapat tiga penyebab dari fraktur, di antaranya:

 Insiden trauma, seperti cedera olahraga, kecelakaan, dan jatuh dari ketinggian

 Kondisi patologis, diakibatkan adanya gangguan pada tulang berupa penyakit yang mana apabila
terjadi sedikit trauma dapat mengakibatkan fraktur, seperti penyakit tumor tulang, infeksi
tulang, atau rakitis.

 Fraktur spontan, diakibatkan oleh stres tulang yang berlangsung terus-menerus, contohnya
pada kasus polio dan orang yang bertugas dibidang militer.

 
Sumber: safe-skipper.com

Berdasarkan sifatnya, fraktur digolongkan menjadi dua macam, yakni fraktur tertutup dan terbuka.
Fraktur tertutup adalah suatu kondisi tulang yang mengalami patah tidak sampai keluar menembus
kulit. Sedangkan fraktur terbuka adalah suatu kondisi sebagian atau keseluruhan tulang yang patah
terlihat menembus kulit dan memiliki risiko infeksi yang cukup tinggi.

Baca juga artikel ini:

 Kesalahan Pertolongan Pertama Ini Nyatanya Bisa Membahayakan Nyawa

 Kasus Lomba Makan Ayam "Maut" KFC dan Trik Heimlich Maneuver, Apa Kaitannya?

Tanda dan Gejala Fraktur

Sumber: healthline.com

Tanda dan gejala fraktur di antaranya:

 Adanya riwayat trauma (terjatuh, kecelakaan, dll.)

 Pembengkakan, memar, dan deformitas (pergeseran fragmen pada fraktur) di area cedera

 Merasakan nyeri saat bergerak

 Mati rasa atau merasakan kesemutan di area cedera

 Merasakan atau mendengar bunyi tulang yang patah

 Perubahan warna, kemerahan atau membiru

 Kelainan bentuk, ukuran atau panjang tulang berbeda dibandingkan pasangan tulang lainnya

 Dalam kasus yang berat, anggota tubuh biasa saja patah dengan luka terbuka.

Pertolongan Pertama Pada Fraktur


Pada setiap kecelakaan atau cedera akan dijumpai situasi kekacauan dan kepanikan di tempat kejadian,
seorang pelaku pertolongan pertama harus mampu menanggulangi hal itu.

Sumber: engadget.com

Fraktur tidak boleh dianggap remeh. Meskipun kondisi fraktur umumnya tidak mengancam nyawa
korban, namun fraktur tetap membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin.

Ketika Anda menemukan atau bahkan mengalami fraktur, segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat
dan perhatikan langkah pertolongan pertama berikut sambil menunggu bantuan medis tiba.

Pertolongan pertama pada fraktur:

1. Periksa kondisi cedera korban. Periksa Airway (jalan napas)─Breathing (napas korban)─Circulation
(sirkulasi) dan tingkat keparahan cedera dengan cepat.

Berhati-hatilah saat memeriksa cedera agar tidak menimbulkan terlalu banyak gerakan.  Jika korban
tidak sadarkan diri, segera lakukan resusitasi jantung paru (RJP).

2. Cegah gerakan di area cedera. Lakukan imobilisasi (membatasi gerakan) pada bagian yang patah.

Terdapat dua tipe imobilisasi yang dapat Anda lakukan:


 Imobilisasi tangan dasar. Korban dianjurkan untuk menopang cedera dengan tangannya sendiri
dengan memeganginya, jika memungkinkan atau di mana tidak ada peralatan/bahan lain dalam
bentuk apa pun.

 Menggunakan bantalan (padding). Letakkan bantalan yang lembut (baju, selimut, handuk kecil,
dll.) pada bagian tubuh yang patah atau pada lekukan tubuh terdekat pada daerah cedera untuk
menopang.

Menopang bagian yang cedera dapat mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Terus
topang bagian yang patah hingga bantuan medis tiba.

3. Hentikan perdarahan jika korban mengalami fraktur terbuka. Tekan kuat luka dengan perban atau
kain steril (prinsip balut tekan).

4. Jangan mencoba memindahkan korban, terutama jika korban mengalami cedera kepala, leher, atau
tulang belakang untuk menghindari cedera yang lebih parah.

5. Jangan mencoba untuk mengembalikan tulang ke posisi semula.

6. Jika memungkinkan, lakukan kompres dingin dengan es yang dibalut handuk atau ice pack selama
maksimal 20 menit.

7. Pantau kondisi korban dan perhatikan jika ada tanda-tanda syok. Jika korban mengalami syok,
baringkan korban dengan menempatkan kaki lebih tinggi dari kepala.

Pertolongan Pertama Pada Fraktur Tertutup (Closed Fracture)

1. Setelah memeriksa cedera, mintalah korban untuk tidak banyak bergerak. Gunakan bantalan ringan
untuk menopang cedera.
2. Jika Anda bisa melakukannya, setelah bantalan diletakkan di area cedera, pasang gendongan (sling)
menggunakan kain untuk melindungi cedera agar tidak bertambah parah. Sling digunakan sebagai
penopang atau pencegah bagian tubuh yang patah dari gerakan sambil menunggu bantuan medis tiba.
3. Lakukan imobilisasi patah tulang dengan memasang sling menggunakan kain segitiga hingga setara
dada. Ini akan mencegah pergerakan ketika korban dalam perjalanan ke rumah sakit. Hubungi fasilitas
kesehatan terdekat untuk pertolongan lebih lanjut.
Pertolongan Pertama Pada Fraktur Terbuka (Open Fracture)

Ketika seseorang mengalami fraktur terbuka, penting bagi pelaku pertolongan pertama untuk
menghentikan perdarahan dan infeksi di area cedera serta melakukan imobilisasi di area tersebut.

1. Hubungi Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Letakkan balutan steril di atas area cedera
untuk melindungi luka terbuka terkontaminasi, menghentikan perdarahan, dan mengurangi infeksi.

Pembalutan tidak boleh terlalu kencang maupun longgar. Simpul balutan dianjurkan pada posisi yang
datar dan tidak boleh di atas luka. Susun bantalan di samping tulang yang patah jika menonjol keluar
dari kulit.
Pantau terus kondisi korban, terutama pernapasannya, karena mungkin korban bisa saja mengalami
syok. Periksa sirkulasi ekstremitas lengan atau kaki yang cedera di luar perban setiap 10 menit.

2. Dalam keadaan yang lebih ekstrem─ jika Anda berada di daerah terpencil, di mana bantuan medis tiba
sangat lama atau Anda terpaksa membawa korban sendiri ke dokter atau Rumah Sakit─ Anda mungkin
perlu melakukan pembidaian belat (splint).
Tambahkan bantalan ekstra di sekitar tungkai dan lakukan pembidaian (dapat menggunakan payung
yang dilipat, koran yang digulung, atau bahan seperti tongkat yang keras) pada persangkaan tulang yang
patah.  Jangan membalut terlalu ketat. Usahakan gerakan apa pun seminimal mungkin.

Prinsip pembidaian:

 Bidai hanya dapat dilakukan jika tidak mengakibatkan nyeri dan rasa tidak enak

 Letak cedera ditemukan

 Gunakan bidai meliputi sendi atas dan bawah patahan

 Periksa sirkulasi sebelum dan sesudah pembidaian, serta pastikan aman

 Dilakukan oleh orang yang kompeten dan telah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama.

Berdasarkan buku berjudul “Practical Guide to First Aid Fast and Effective Emergency Care” karya Dr
Pippa Keech, pembidaian belat untuk patah tulang sudah sedikit digunakan dalam praktik pertolongan
pertama, kecuali korban berada di daerah terpencil, atau di mana pelaku pertolongan pertama terpaksa
harus mengangkut korban sendiri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Penting!

 Jika anggota tubuh mengalami dislokasi atau patah, jangan pernah mencoba untuk
mengembalikan ke posisi semula karena dapat mengakibatkan cedera yang lebih berat. Petugas
medis di rumah sakit akan menanganinya.

 Memindahkan atau mengangkut korban patah tulang tidak direkomendasikan kecuali Anda
telah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama.

 Jika korban terlihat normal dan hanya memar, coba cari tahu penyebab cedera (misalnya
kejatuhan atau tertimpa sesuatu) untuk dapat mengetahui apakah ada tulang yang patah. Foto
rontgen atau sinar X biasanya diperlukan untuk mendiagnosis patah tulang.

Hal terpenting ketika menangani korban patah tulang adalah hindari melakukan pertolongan lebih lanjut
sebelum mengetahui dengan seksama lokasi dan kondisi patah tulang pada korban serta jika Anda
merasa tidak memiliki kemampuan untuk memberikan bantuan darurat pada korban.

Jika korban sadar, jaga kondisinya agar tetap terjaga hingga bantuan medis tiba ke lokasi. Posisikan
korban dalam keadaan nyaman dan coba tenangkan.

Pertolongan Pertama Ketika Pergelangan Kaki Keseleo

Sering mengenakan sepatu berhak tinggi, berlari, atau melompat bisa membuat pergelangan kaki
rentan keseleo. Jika Anda sedang mengalaminya, yuk dicoba beberapa langkah berikut ini agar kaki
yang keseleo bisa segera sembuh.

Pergelangan kaki keseleo terjadi ketika ligamen (jaringan penyambung kuat yang menghubungkan
tulang-tulang) pada kaki cedera. Ligamen berfungsi untuk membantu menstabilkan sendi dan
mencegah gerakan yang berlebihan.
Posisi kaki yang berubah atau memutar secara tiba-tiba, dapat membuat ligamen meregang terlalu
jauh atau bahkan sobek. Begitu pula jika menapakkan kaki dengan sudut yang salah atau
menggunakan terlalu banyak tenaga, ligamen dapat tersentak.

Begini Pertolongan Kaki Keseleo

Pergelangan kaki keseleo dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu ringan, sedang, dan parah. Untungnya,
keseleo pergelangan kaki ringan dan sedang dapat sembuh dengan sendirinya. Untuk mempercepat
penyembuhan, Anda dapat melakukan berbagai hal berikut:

 Istirahatkan sendi pergelangan kaki selama 2-3 hari setelah keseleo. Tapi bukan berarti Anda
tidak dapat beraktivitas sama sekali. Anda boleh melakukan beberapa aktivitas fisik, namun
jangan yang terlalu berat.  Disarankan untuk tidak berlari atau melompat hingga Anda bisa
berjalan tanpa kaki terasa sakit. Selain itu, jangan paksa pergelangan kaki untuk terus
bergerak dan jangan berjalan kaki terlalu jauh atau lama. Lebih baik berdiri dan berjalan di
sekitar rumah yang jaraknya pendek, walaupun menggunakan kruk.

 Lindungi pergelangan kaki yang keseleo agar cederanya tidak berkelanjutan. Anda bisa
membalut pergelangan kaki yang keseleo dengan perban elastis selama setidaknya 48 jam
(bisa kurang atau lebih). Gunanya untuk membatasi pembengkakan dan membantu sendi
beristirahat. Jangan membalut pergelangan kaki dengan perban terlalu kencang karena bisa
membatasi aliran darah ke kaki. Jika jari-jari kaki berubah warna, kesemutan, atau mati rasa,
segera buka perban.
 Kompres pergelangan kaki yang keseleo dengan air es. Tujuannya, mengurangi nyeri dan
pembengkakan. Kompres dingin daerah yang cedera sesegera mungkin selama 20 sampai 30
menit, 3-4 kali sehari. Hal ini dilakukan untuk 48 jam pertama atau sampai bengkak
mengempis. Jika Anda menggunakan es batu, jangan ditempelkan langsung ke kulit.

 Angkat pergelangan kaki hingga posisi kaki yang keseleo lebih tinggi dari dada saat berbaring.
Tujuannya untuk membantu membatasi dan mengurangi pembengkakan serta memar.
Caranya, berbaringlah di sofa atau tempat tidur dan letakkan kaki di atas tumpukan beberapa
bantal. Bila tidak memungkinkan, kaki bisa diangkat setinggi pinggul saat duduk di kursi. Perlu
diingat, jangan menggunakan perban ketika kaki dinaikkan. Mengapa? Karena perban bisa
membatasi aliran darah ke kaki.

 Jika nyeri terasa cukup berat, Anda bisa minum obat penghilang rasa sakit, seperti
paracetamol.

 Dalam 72 jam setelah keseleo, dianjurkan untuk tidak mandi air panas, sauna, mengonsumsi
minuman beralkohol, berlari, atau memijat pergelangan kaki yang keseleo. Ditakutkan jika
hal-hal tersebut dilakukan, dapat menyebabkan perdarahan dan memperparah
pembengkakan, menghambat proses penyembuhan, dan menyebabkan kerusakan lebih
lanjut.

 Lakukan olahraga peregangan jika dokter menganjurkan.

Seperti disebutkan di atas, keseleo ringan bisa sembuh dengan sendirinya. Namun bila kaki yang sakit
tidak sembuh dalam dua atau tiga hari, disarankan untuk segera menemui dokter. Terutama apabila
nyeri atau bengkak semakin parah, ada luka terbuka, muncul tanda-tanda infeksi, atau Anda tidak
bisa berdiri sama sekali.

Kesehatan

Ketahui Cara Pertolongan Pertama pada Orang Pingsan

Orang bisa pingsan kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, memberikan pertolongan pertama
pada orang pingsan bukan hanya tugas dokter dan perawat. Semua orang perlu mengetahui cara
memberikan pertolongan yang tepat pada orang pingsan, agar penanganan awal dapat dilakukan saat
itu juga.

Pingsan terjadi ketika otak kekurangan pasokan darah, sehingga asupan oksigen dan gula darah ke
otak juga berkurang. Padahal, keduanya dibutuhkan oleh otak untuk dapat berfungsi dengan baik.
Akibatnya, dapat terjadi penurunan kesadaran untuk sementara waktu.
Selain karena berkurangnya aliran oksigen dan gula darah ke otak, pingsan juga bisa disebabkan oleh
kelelahan. Pingsan juga bisa saja disebabkan oleh kondisi medis atau penyakit tertentu, seperti:

 Hipoglikemia.

 Gangguan jantung, misalnya kelainan irama jantung (aritmia) dan gagal jantung.

 Serangan panik.

 Gangguan elektrolit.

 Penurunan tekanan darah yang drastis, misalnya karena hipotensi ortostatik atau dehidrasi.

Gejala Lain yang Perlu Diwaspadai ketika Seseorang Pingsan

Pingsan dapat dialami oleh siapa pun dan kapan saja. Misalnya, ketika tubuh terlalu lelah, telat
makan, mengubah posisi tubuh terlalu cepat, atau saat berdesak-desakan di dalam kendaraan umum.

Kondisi tersebut dapat memicu penurunan tekanan darah dan detak jantung, sehingga asupan darah
ke otak berkurang dan mengakibatkan penurunan kesadaran.

Pingsan yang bukan disebabkan oleh kondisi medis serius biasanya tidak berbahaya dan penderitanya
bisa sadar dengan sendirinya setelah beberapa waktu. Akan tetapi, pingsan perlu diwaspadai jika
disertai tanda dan gejala lain, seperti:
 Nyeri dada

 Sesak napas atau tidak napas bernapas spontan

 Detak jantung tidak teratur

 Bibir membiru

 Kulit pucat dan dingin

 Kejang

 Tampak kebingungan

 Sakit kepala

 Pingsan setelah mengalami cedera kepala

Seseorang yang mengalami pingsan disertai beberapa hal di atas perlu segera mendapat pertolongan
medis dan dibawa ke UGD rumah sakit terdekat.

Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan pada Orang Pingsan

Penanganan terhadap orang pingsan sebenarnya tergantung pada penyebabnya. Namun, ada cara
umum yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama pada orang pingsan (sebelum orang
tersebut ditolong oleh dokter di rumah sakit).

Berikut ini adalah langkah-langkah yang tepat untuk menolong orang yang pingsan:

 Pindahkan orang yang pingsan ke lokasi yang aman dan nyaman. Misalnya jika pingsan di
jalan, coba pindahkan orang tersebut ke tepi jalan. Jika pingsan disebabkan oleh hawa panas,
pindahkan orang tersebut ke tempat yang lebih teduh dan pastikan dia mendapatkan udara
segar.

 Minta bantuan orang lain untuk menghubungi ambulans atau rumah sakit terdekat.

 Periksa kondisi orang yang pingsan, panggil orang tersebut dan lihat apakah ia dapat memberi
respon atau menjawab panggilan. Selain itu, perhatikan juga apakah orang tersebut dapat
bernapas dan terdapat denyut nadi di lehernya.

 Posisikan secara terlentang dan naikkan kakinya lebih tinggi sekitar 30 cm dari dada. Tindakan
ini bertujuan untuk mengembalikan aliran darah kembali ke otak. Orang yang pingsan di
tempat duduk pun dianjurkan untuk dibaringkan di lantai atau permukaan yang datar.

 Jangan lupa untuk melonggarkan pakaiannya, agar dia dapat lebih mudah dan nyaman untuk
bernapas.

 Ketika sadar, berikan dia minuman manis, seperti teh manis. Minuman manis dapat
meningkatkan gula darah dan mengembalikan energi yang diperlukan tubuhnya.

 Jika dia muntah, miringkan kepalanya agar tidak tersedak dan muntahannya tidak mengenai
dirinya.
 Jika orang tersebut tetap tidak sadarkan diri hingga beberapa menit lamanya, tidak bernapas,
atau denyut nadinya tidak terdeteksi, maka Anda perlu memberikan napas buatan dan CPR
sambil menunggu ambulans datang.

Orang yang telah sadar dari pingsan disarankan untuk tidak terlalu cepat berdiri. Dia perlu
didudukkan atau beristirahat setidaknya selama 15–20 menit, agar pingsan tidak terulang kembali.

Tanyakan apakah dia masih mengalami gejala, seperti sesak napas, sakit kepala, lemas, atau sulit
menggerakkan bagian tubuh tertentu.

Jangan tunda untuk segera membawanya ke UGD rumah sakit terdekat, jika orang yang pingsan
tersebut mengeluhkan beberapa gejala di atas, sedang hamil, mengalami cedera kepala, atau
menunjukkan gejala lain, seperti linglung, penglihatan buram, sulit bicara, demam, atau kejang.

Apabila Anda melihat secara langsung ada orang yang tidak sadarkan diri, berikanlah pertolongan
pertama pada orang pingsan dengan cara-cara di atas, sambil menunggu bantuan medis datang.

Kesehatan

Pertolongan Pertama pada Asma yang Wajib Diketahui

Apabila Anda atau anggota keluarga menderita penyakit asma, maka penting untuk mengetahui cara-
cara pertolongan pertama pada asma yang tepat. Dengan demikian, Anda tidak panik dan tahu apa
yang harus dilakukan jika tiba-tiba terjadi serangan asma.

Asma bisa membuat penderitanya sulit bernapas. Saat serangan asma datang, saluran napas akan
bengkak, menyempit, dan menghasilkan banyak lendir. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, tidak
peduli berapa usia dan apa jenis kelaminnya. Mulai dari bayi hingga orang dewasa, baik wanita
maupun pria.
Faktor pemicu terjadinya serangan asma berbeda pada setiap orang. Hal-hal yang dapat memicu
munculnya gejala asma dapat berupa debu, asap rokok, bulu hewan, kelelahan, stres, atau efek
samping obat.

Walaupun tidak dapat disembuhkan, kemunculan gejala penyakit asma setidaknya bisa diantisipasi
dan dicegah. Dengan pengobatan yang tepat, gejala asma dapat dikendalikan sehingga tidak
mengganggu kehidupan penderitanya.

Gejala Serangan Asma

Serangan asma bisa terjadi secara mendadak, kapan saja, dan di mana saja. Gejalanya meliputi:

 Mengi (bengek), yaitu bunyi ‘ngik’ saat bernapas.

 Sesak napas atau napas pendek.

 Dada terasa berat atau penuh.

 Batuk-batuk parah, biasanya terjadi di malam hari sehingga menyulitkan tidur.

 Tiba-tiba merasa lemas.

 Kesulitan berbicara, karena napas sesak.

Waspadai jika serangan asma yang muncul cukup berat, ditandai dengan sesak napas parah disertai
kulit pucat, bibir dan jari tangan tampak kebiruan.
Pertolongan Pertama pada Asma

Jika Anda merasa sedang mengalami serangan asma, tetaplah tenang dan lakukan langkah-langkah
pertolongan pertama pada asma berikut ini:

 Duduk dan ambil napas pelan-pelan dengan stabil. Sekali lagi, cobalah untuk tetap tenang,
karena panik justru akan semakin memperparah serangan asma.

 Semprotkan obat inhaler untuk asma setiap 30-60 detik, maksimal 10 semprotan.

 Hubungi ambulans jika Anda tidak memiliki inhaler, asma bertambah parah meski sudah
menggunakan inhaler, tidak ada perbaikan meski sudah menyemprotkan inhaler sebanyak 10
kali, atau jika Anda merasa khawatir.

 Jika ambulans belum tiba dalam waktu 15 menit, ulangi langkah nomor 2.

Apabila Anda melihat orang lain sedang mengalami serangan asma, Anda bisa membantunya dengan
mempraktikkan pertolongan pertama pada asma berikut ini:

 Hubungi ambulans.

 Bantu orang tersebut untuk duduk tegak dengan nyaman, sambil melonggarkan pakaiannya
agar tidak sesak.

 Jauhkan penderita asma yang sedang kumat dari kemungkinan pencetusnya, seperti debu,
udara dingin, atau hewan peliharaan. Tanyakan faktor pencetus asma pada penderita, jika
memungkinkan.

 Jika orang tersebut memiliki obat asma, seperti inhaler, bantu dia untuk menggunakannya.
Jika dia tidak punya inhaler, gunakan inhaler yang ada di kotak P3K. Jangan pakai obat inhaler
dari penderita asma yang lain.

 Untuk menggunakan inhaler, pertama-tama lepaskan tutupnya, kocok, lalu sambungkan


inhaler ke spacer, dan pasangkan mouthpiece pada spacer.

 Setelah itu, tempelkan mouthpiece pada mulut penderita. Usahakan agar mulut penderita
menutupi seluruh ujung mouthpiece.

 Ketika penderita mengambil napas perlahan-lahan, tekan inhaler satu kali. Minta dia agar
tetap mengambil napas pelan-pelan dan sedalam mungkin, kemudian tahan napas selama 10
detik.

 Semprotkan inhaler sebanyak empat kali, dengan jarak waktu sekitar 1 menit tiap kali
semprotan.

 Setelah empat semprotan, tunggu hingga 4 menit. Jika masih sulit bernapas, berikan empat
semprotan lagi dengan jarak waktu yang sama.

 Jika tetap tidak ada perubahan, berikan empat semprotan inhaler setiap 4 menit sekali,
sampai ambulans tiba.

 Jika serangan asmanya berat, semprotkan inhaler sebanyak 6-8 kali setiap 5 menit.
Jika Anda mengalami serangan asma atau melihat orang lain mengalaminya, segeralah minta
pertolongan dengan menghubungi ambulans. Lakukan langkah pertolongan di atas sambil menunggu
bantuan datang, dan jangan tinggalkan penderita asma sendirian.

Perawatan medis darurat harus diberikan secepatnya apabila penderita asma mengalami kesulitan
bernapas hingga tampak pucat, bibirnya membiru, tidak bisa bicara, atau pingsan.

10 Langkah Penanganan Anak Kejang Tanpa Harus Panik

(56)

17 May 2019|Asni Harismi

Ditinjau olehdr. Reni Utari

Penanganan anak kejang harus dilakukan dengan tepat oleh orang tua.
Hal pertama yang harus diingat oleh orangtua saat anak mengalami kejang ialah tidak panik. Meski
demikian, penting bagi orang tua untuk mengetahui langkah penanganan kejang dengan saksama.

Kejang biasanya hanya berlangsung sebentar dan tidak membahayakan nyawa anak. Sebaliknya,
orang tua harus mengetahui penanganan anak kejang untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan. Seperti apakah langkah-langkah tersebut?

Baca Juga

Pilihan Obat Demam yang Bisa Dibeli Tanpa ResepPerlukah Memberikan Obat Penurun Panas Bayi?
Mengenal Kejang pada Bayi dan Gejala yang Ditimbulkan

10 langkah penanganan anak kejang

Kejang biasanya hanya berlangsung singkat, yakni dalam beberapa detik hingga maksimal lima menit
dan tidak berulang lebih dari satu kali dalam 24 jam. Penyebab kejang juga umumnya bukanlah
penyakit berbahaya.Meski demikian, perilaku anak yang mengalami kejang memang terlihat
menyeramkan sama seperti kejang demam. Mulai dari mata anak yang melotot, tubuh yang kaku atau
mengalami guncangan hebat, hingga lidah yang tergigit.Kondisi ini tentu akan membuat orangtua
panik dan kebingungan. Oleh sebab itu, orangtua sangat dianjurkan untuk tetap tenang dan
mengingat apa yang harus dilakukan ketika anaknya kejang. Berikut langkah-langkah penanganan
pertama untuk anak kejang:

1. Letakkan anak di lantai, singkirkan benda-benda di sekitar yang bisa menghalangi gerakannya
atau membahayakan anak.

2. Baringkan anak dengan posisi miring. Posisi ini akan menghindarkan anak tersedak air liurnya
sendiri.

3. Jika anak muntah, bersihkan mulutnya secara perlahan-lahan.

4. Longgarkan pakaian anak, terutama di sekitar leher dan kepala.

5. Cek dan pastikan anak Anda bisa bernapas dengan lancar.

6. Jangan mencoba untuk menghentikan gerakan kejang-kejang anak dengan paksa, misalnya
memeluk erat atau menahan tubuh anak. Tindakan ini tidak akan menghentikan kejang dan
justru akan membuat anak semakin tidak nyaman dan bisa memicu bahkan patah tulang.

7. Jangan masukkan apapun ke dalam mulut anak ketika kejang. Hal ini berpotensi menutup
jalur napasnya.

8. Jangan memaksa anak untuk makan atau minum saat masih kejang, termasuk obat-obatan
atau air.

9. Catat durasi kejang yang dialami oleh anak.

10. Setelah kejang usai, anak akan berada dalam posisi sadar, namun kehabisan energi. Biarkan ia
beristirahat hingga kondisinya pulih kembali. Setelah itu, Anda bisa membawanya ke dokter
atau unit gawat darurat di rumah sakit.
Kapan anak butuh bantuan darurat medis?

Meski sebagian besar kejang merupakan kondisi yang tidak membahayakan, Anda sebaiknya tetap
membawa anak ke dokter untuk diperiksa. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter dan
mendeskripsikan perilaku anak selama mengalami kejang maupun frekuensi terjadinya
kejang.Langkah ini akan membantu dokter dalam proses diagnosis mengenai apakah kejang yang
dialami anak termasuk kejang umum atau akibat penyakit lainnya. Misalnya, epilepsi, tumor otak,
meningitis, maupun ensefalitis.Di sisi lain, ada pula kondisi-kondisi kejang tertentu yang perlu
diwaspadai sebagai kondisi darurat dan harus segera ditangani oleh atau di rumah sakit. Seperti
apakah kondisi tersebut?

 Kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit.

 Anak mengalami kejang berulang Kondisi ini bisa mengindikasikan epilepsi.

 Anak tidak kunjung sadar setelah kejang, lebih dari beberapa menit.

 Anak mengalami kesulitan bernapas.

 Bibir, lidah, maupun wajah anak yang tampak membiru. Kondisi ini bisa menandakan
kurangnya asupan oksigen.

 Kepala anak terbentur atau anak terjatuh sebelum atau selama kejang.

 Anak tampak sakit saat kejang.

 Anak mengalami kejang saat berada di dalam air.

 Anak menunjukkan gejala lain yang membuat Anda khawatir.

Dokter mungkin akan meresepkan obat kejang yang dapat diberikan lewat dubur, terlebih jika anak
memiliki riwayat kejang berulang. Berikan obat sesuai resep dokter dan ikuti instruksinya.

Apa Kejang Bisa Dicegah?

Jika anak memiliki riwayat kejang, Anda sebaiknya melakukan serangkaian langkah pencegahan agar
kejang tidak terulang. Misalnya ketika anak mulai demam, Anda harus cepat memberinya obat
paracetamol atau ibuprofen agar suhu tubuhnya tidak terus meningkat dan mencapai titik
kejang.Untuk mengetahui titik kejang tersebut, Anda bisa mengecek suhu tubuh anak dengan
termometer dan mencatatnya ketika anak mulai mengalami kejang. Pasalnya, toleransi tiap anak
terhadap suhu demam berbeda-beda.Anak yang satu mungkin mengalami kejang ketika suhu
tubuhnya mencapai 40 derajat celcius. Sementara ada juga sebagian anak lain yang langsung kejang
meski suhu tubuhnya baru 38 derajat celcius.Oleh sebab itu, orangtua dihimbau untuk mengetahui
titik kejang anak dengan saksama. Demikian pula dengan mempelajari dan mengingat langkah
penanganan anak kejang agar tidak panik ketika menghadapi kondisi ini. Semoga bermanfaat!

Jangan Salah, Begini Pertolongan Pertama Keracunan Makanan

Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli


14 September 2019

Halodoc, Jakarta – Keracunan makanan bisa saja disebabkan oleh makan makanan yang
terkontaminasi. Dalam kebanyakan kasus, makanan belum dimasak dengan benar dan terkontaminasi
oleh bakteri, seperti Salmonella atau Escherichia coli (E. coli) yang ditemukan terutama dalam daging.

Seseorang mungkin merasakan efek keracunan makanan dalam beberapa jam dan akan sering sakit
atau diare. Namun dalam beberapa kasus, dapat memakan waktu hingga tiga hari. Efek keracunan
makanan bisa membuat seseorang merasa sangat sakit. Bagaimana pertolongan pertama pada
keracunan makanan?

Penanganan Keracunan Makanan

Kalau kamu atau seseorang yang berada di dekatmu mengalami keracunan makanan, berikut ini
langkah-langkah yang harus dilakukan.

1. Mengontrol Mual dan Muntah

Hindari makanan padat sampai muntah berakhir. Kemudia,  makan makanan ringan, hambar, seperti
biskuit asin, pisang, nasi, atau roti. Mengonsumsi air putih dapat membantu menghindari muntah.

Baca juga: Atasi Keracunan Makanan dengan Tips Ini

Kemudian, jangan makan-makanan yang digoreng, berminyak, pedas, atau manis. Jangan minum obat
anti mual atau anti diare tanpa bertanya kepada dokter. Ini bisa jadi memiliki efek samping dan dapat
memperburuk diare. 

Sebaik-baiknya memang adalah berkonsultasi dengan ahlinya. Kalau kamu sedang berada di situasi
seperti ini tanyakan langsung ke Halodoc.  Dokter atau psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha
memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play
atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call
atau Chat.

2. Mencegah Dehidrasi

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, mengonsumsi air putih sangat penting. Mulai dengan
tegukan kecil dan secara bertahap minum lebih banyak. Jika muntah dan diare bertahan lebih dari 24
jam, minumlah larutan rehidrasi oral.

3. Segera ke Dokter

Kamu membutuhkan bantuan ahli bila mengalami gejala-gejala sebagai berikut:

 Nyeri perut yang parah.

 Demam.
 Diare berdarah atau feses berwarna gelap.

 Muntah yang berkepanjangan atau berdarah.

 Tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, penurunan buang air kecil, pusing, kelelahan,
atau peningkatan denyut jantung atau laju pernapasan.

Efek jangka panjang yang serius terkait dengan beberapa jenis keracunan makanan yang umum
termasuk:

 Gagal ginjal.

 Arthritis kronis.

 Kerusakan otak dan saraf.

 Kematian.

Orang-orang tertentu bisa lebih tinggi risiko keracunan makanan. Ini berarti bahwa mereka lebih
cenderung sakit karena makanan yang terkontaminasi jika mereka sakit, efeknya jauh lebih serius.
Mereka adalah:

Baca juga: Ketahui 8 Jenis Makanan yang Rentan Sebabkan Keracunan Makanan

 Wanita hamil.

 Anak-anak di bawah 5 tahun.

 Orang dewasa berusia 65 tahun ke atas.

 Orang yang sistem kekebalannya melemah karena penyakit atau perawatan medis.

Perlu diketahui ada beberapa penyebab keracunan makanan, dan itu adalah:

 Bakteri dan Virus

Bakteri dan virus adalah penyebab paling umum keracunan makanan. Gejala dan tingkat keparahan
keracunan makanan bervariasi yang tergantung pada bakteri atau virus mana yang telah mencemari
makanan tersebut.

 Parasit

Parasit adalah organisme yang memperoleh makanan dan perlindungan dari organisme hidup lainnya
yang dikenal sebagai inang. Di Amerika Serikat, parasit bawaan makanan yang paling umum adalah
protozoa, cacing gelang, dan cacing pita.
 

 Jamur, Toksin, dan Kontaminan

Sebagian besar keracunan makanan disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit daripada zat beracun
dalam makanan. Namun, beberapa kasus keracunan makanan dapat dikaitkan dengan racun alami
atau racun kimia tambahan.

 Alergen

Alergi makanan adalah respons abnormal terhadap makanan yang dipicu oleh sistem kekebalan
tubuh. Beberapa makanan, seperti kacang-kacangan, susu, telur, ikan, kerang krustasea, kacang
pohon, kacang tanah, gandum atau kedelai, dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang dengan
alergi makanan.

Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan Jika Buah Hati Mengalami Serangan Asma

1 Mei 2020

Ditulis Oleh: dr. Ribka Cordelia Iskandar, Sp.A Anak


Memiliki buah hati memang terasa sangat menyenangkan. Meski begitu, proses mengurus buah hati
tidak selalu berjalan dengan lancar. Ada kalanya kita, sebagai orang tua, akan menghadapi momen-
momen sulit dan mendebarkan, seperti ketika si kecil jatuh sakit.

Jika buah hati kita terserang penyakit umum, seperti batuk dan flu, kita mungkin tidak akan merasa
terlalu panik karena sebagai orang tua, tentunya kita sudah mengetahui cara dan tahapan
penanganan yang tepat untuk mengatasinya. Lantas, bagaimana jika si kecil terserang penyakit yang
membutuhkan penanganan khusus dan tanggap seperti asma? Hal pertama yang perlu kita lakukan
tentunya adalah menjaga kondisi diri agar tetap tenang dan segera melakukan penanganan pertama
bagi penderita asma. Jika kita masih merasa bingung, langkah apa yang perlu kita lakukan sebagai
pertolongan pertama ketika anak mengalami serangan asma, beberapa tips berikut dapat kita
lakukan:

1. Bantu anak untuk duduk tegak dengan nyaman

Hal pertama yang perlu dilakukan ketika anak terserang asma adalah membantunya untuk duduk
tegak dan membuatnya berada dalam posisi yang nyaman. Hal ini dapat membantu si kecil untuk
lebih rileks dan tenang sehingga dapat membantunya bernapas dengan lebih baik. Kita juga dapat
membantunya untuk melonggarkan pakaian agar semakin mudah bernapas.

2. Jauhkan anak dari hal yang dapat menjadi pencetus asma


Ada beberapa hal yang kemungkinan besar dapat menjadi pencetus asma. Di antaranya adalah debu,
suhu udara yang dingin, atau bulu-bulu yang berterbangan dari hewan peliharaan. Jika si kecil
terserang asma, ada baiknya kita menjauhkan si kecil dari hal-hal pencetus asma di sekitarnya terlebih
dahulu untuk mencegah agar serangan asma tidak bertambah parah.

3. Pemberian Inhaler

Peran inhaler bagi si kecil yang terserang asma sangat penting untuk membantunya bernapas lebih
lega. Namun, si kecil pastinya perlu bantuan kita untuk menyemprotkan inhaler tersebut ke dalam
mulutnya. Bantu ia menyemprotkan inhaler secara perlahan sebanyak 2x dengan selang waktu 30
menit. Apabila tidak ada perubahan, harus segera dibawa ke Rumah Sakit.

4. Hubungi ambulans jika diperlukan

Jika tidak memiliki inhaler untuk si kecil atau serangan asma si kecil bertambah parah meski telah
menggunakan inhaler hingga maksimal dosis semprotan sebanyak 10 kali, maka kita dapat segera
menghubungi ambulans untuk membantunya mendapatkan perawatan medis secepatnya.

5. Beri anak secangkir teh hangat

Memberi buah hati secangkir teh hangat dapat menjadi pertolongan pertama asma yang tepat.
Alasan di balik hal ini adalah fakta bahwa minuman hangat yang mengandung kafein, seperti teh,
dapat sedikit membantu membuka saluran pernapasan. Senyawa kafein bekerja dengan cara yang
hampir mirip dengan obat asma bernama teofilin yang berfungsi mengurangi gejala sesak napas.
Namun ini hanya untuk penderita Asma ringan.

Itu dia beberapa hal yang dapat kita lakukan ketika buah hati mengalami serangan asma. Namun, tips
melakukan pertolongan pertama ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan prosedur penanganan
medis. Jadi, setelah serangan asma anak mereda, ada baiknya untuk segera membawa anak ke
fasilitas kesehatan yang mumpuni, seperti rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan dan
mendapatkan tindakan dari tenaga medis yang profesional dan berpengalaman. Dengan begitu,
serangan asma yang dialami oleh anak tidak berpotensi mengganggu tumbuh kembang dan
kesehariannya

Bila Anda terserang demam, jangan keburu merasa cemas berlebihan. Berikut ini saran mengatasi
demam di rumah dari dr. Florentina R. Wahjuni, CQ.Phy, CHt, CI., dari RS Meilia Cibubur seperti
dikutip dari tabloidnova.com . Tujuh langkah atasi demam di rumah ini diharapkan dapat menjadi
tindakan penanganan pertama saat demam. 1. Kenakan pakaian tipis meskipun tubuh terasa dingin.
“Pakaian tebal dan selimut akan menaikkan suhu tubuh. Suhu yang sangat tinggi, 39 derajat Celsius
atau lebih pada anak-anak bisa menyebabkan kejang-kejang. Ini adalah langkah mengatasi demam di
rumah yang pertama. 2. Istirahatlah di rumah dengan ventilasi yang baik. Gunakan kipas angin atau
alat pendingin udara, tapi jangan diarahkan langsung ke tubuh dan kepala Anda. Sesuaikan suhunya
sesuai kenyamanan penderita demam. Ini adalah mengatasi demam di rumah berikutnya. 3.
Minumlah banyak air putih, sari buah, atau sup bening. Minuman sehat akan membantu menurunkan
suhu tubuh. “Untuk mengetahui apakah sudah cukup minum atau tidak dengan melihat urin, apakah
berwarna terang atau kuning tua. Kalau berwarna terang dan cenderung jernih, itu pertanda sudah
cukup minum.” 4. Usahakan makan seperti biasa meskipun nafsu berkurang. “Bila tidak mau makan,
tubuh akan lemah. Sehingga daya tahan tubuh semakin turun akibat nutrisi yang tidak memadai. Ini
adalah langkah mengatasi demam di rumah yang keempat. 5. Periksalah suhu tubuh setiap empat jam
sekali. “Janganlah makan atau minum selama setengah jam sebelum suhu tubuh diukur karena
hasilnya tidak tepat.” Cara terbaik mengukur suhu tubuh dengan menggunakan termometer yang
dapat dibeli di apotek. “Pastikan termometer terpasang secara baik dengan waktu yang cukup,
sehingga suhu tubuh terukur dengan benar.” 6. Kompres tubuh dengan kain basah. Jika tak mungkin
memberikan kompresan di seluruh tubuh, maka utamakan bagian samping leher, ketiak, dan
selangkangan terkompres dengan baik menggunakan kain atau handuk basah. “Karena di daerah itu
berjalan pembuluh besar tubuh yang berjalan cukup superficial, sehingga bila terkompres dengan baik
akan segera menurunkan demam secara cukup signifikan.” Tindakan ini akan membantu menurunkan
suhu tubuh secara keseluruhan. “Air yang digunakan boleh air hangat, air suhu biasa atau air dingin.
Tergantung penderita demam bagaimana tingkat kenyamanannya, sehingga tidak mengganggu
istirahatnya. Istirahat yang cukup sangat diperlukan untuk pemulihan penderita dari kondisi
demamnya.” 7. Mengurangi aktivitas. Terlalu banyak aktivitas dapat memperburuk demam, karena
meningkatkan metabolisme dan meningkatkan pengaturan suhu tubuh