Anda di halaman 1dari 16

Nama data : Asam Sulfat

Nama sinonim : Oil of Vitriol, Battery Acid, Fertilizer Acid


Nama Inggris : Sulphuric Acid
LKB : 001-98
CAS : 7664-93-9
Rumus molekul : H2SO4
Berat molekul : 98,08
Informasi bahan singkat : Asam sulfat banyak digunakan dalam industri. Cairan
kental, amat korosif. Bereaksi dengan jaringan tubuh.
Berbahaya bila kontak dengan kulit dan mata. Bereaksi
hebat dengan air dan mengeluarkan panas (eksotermis).
Bereaksi pula dengan logam, kayu, pakaian dan zat
organik. Uapnya amat iritatif terhadap saluran
pernapasan.
Sifat-sifat bahaya
Kesehatan : Efek jangka pendek :
Penghirupan uap asam menyebabkan iritasi pada hidung
dan tenggorokan serta mengganggu paru-paru. Cairan
asam dapat merusak kulit dan menimbulkan luka yang
amat sakit. Dapat menimbulkan kebutaan bila terkena
mata.
Efek jangka panjang :
Penghirupan uap asam kadar kecil dalam jangka panjang
berakibat iritasi pada hidung, tenggorokan dan paru-paru.
NAB :
1 mg/m3 (ACGIH 1987-88)
Toksisitas :
LD-50 = 2,14 g/kg (tikus); LC-50 = 510 mg/m 3 (tikus); IDLH
= 80 mg/m3
Kebakaran : Tidak terbakar, tetapi asam pekat bersifat oksidator yang
dapat menimbulkan kebakaran bila kontak dengan zat
organik seperti gula, selulosa dan lain-lain. Amat reaktif
dengan bubuk zat organik.
Reaktivitas : Mengalami penguraian bila kena panas, mengeluarkan
gas SO2. Asam encer bereaksi dengan logam
menghasilkan gas hidrogen yang eksplosif bila kena nyala
atau panas. Asam sulfat bereaksi hebat dengan air.
Sifat-sifat fisika
Titik leleh (oC) : 10
Titik didih (oC) : 290
Tekanan uap (mmHg) : 1 (146 oC)
Berat jenis cairan : 1,84 (100 persen)
Berat jenis gas : -
Berat jenis uap : 3,4 (udara = 1)
Kelarutan : -
Bau : -
Keselamatan dan pengamanan
Penanganan dan : Hindari kontak langsung dengan asam. Cegah
penyimpanan penghisapan uap atau kabut, dengan bekerja dalam almari
asam atau dengan ventilasi yang baik. Pengenceran asam
dilakukan dengan menambahkan asam sedikit demi sedikit
ke dalam air dan bukan sebaliknya. Ingat eksotermik !
Simpan asam dalam wadah yang kuat di tempat
berventilasi dan dingin. Jauhkan dari air, zat organik
mudah terbakar dan logam. Perhatikan kebocoran wadah.
kebocoran dapat merusak lantai.
Tumpahan dan kebocoran : Jangan sentuh tumpahan asam. merusak kulit atau
pakaian dan lantai. Netralkan tumpahan dengan larutan
soda atau kapur, sebelum disiram dengan air. Beri
ventilasi. Hati-hati terhadap tempat rendah (uap lebih berat
dari udara). Pakai alat pelindung diri dalam menangani
tumpahan asam.
Alat pelindung diri : Paru-paru : filter penyerap asam atau respirator udara.
Mata : pelindung muka.
Kulit : sarung tangan (CPE, neoprene, PE), pakaian kerja.
Pertolongan pertama : Penghirupan : bawa korban ke tempat segar, cari
pengobatan.
Terkena mata : cuci dengan air bersih (dan hangat)
selama 20 menit dan segera bawa ke dokter.
Terkena kulit : cuci dengan air bersih lk. 20 menit, cari
pengobatan.
Tertelan : bila sadar beri minum 1-2 gelas, bawa ke dokter.
Pemadaman api : informasi tidak dibuka cuma-cuma
Informasi lingkungan : Penyebab asam dalam air limbah dan mengganggu
kehidupan tanaman dan binatang dalam air. Penetralan
dapat dilakukan dengan soda atau air kapur sampai pH 6-
9 sebelum dibuang ke lingkungan. Residu netralisasi dapat
dicampur dengan tanah atau pasir.
 

Asam sulfat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari


Asam sulfat
Nama
Asam sulfat
Sistematis

Nama lain Minyak vitriol

Identifikasi

Nomor CAS [7664-93-9]

Nomor
231-639-5
EINECS

Nomor
WS5600000
RTECS

Sifat

Rumus
H2SO4
molekul

Massa molar 98,08 g/mol

cairan bening, tak


Penampilan
berwarna, tak berbau

Densitas 1,84 g/cm3, cair


Titik leleh
10 °C, 283 K, 50 °F

Titik didih
337 °C, 610 K, 639 °F

Kelarutan
tercampur penuh
dalam air

Keasaman
−3
(pKa)

Viskositas 26,7 cP (20 °C)

Bahaya

MSDS ICSC 0362

Klasifikasi
Korosif (C)
EU

Indeks EU 016-020-00-8

NFPA 704 0
3
2
W
Frasa-R Templat:R35

Frasa-S (S1/2), S26, S30, S45

Titik nyala tak ternyalakan

Senyawa terkait

Asam selenat
Asam kuat
Asam klorida
terkait
Asam nitrat
Asam sulfit
Asam
Senyawa
peroksimonosulfat
terkait
Sulfur trioksida
Oleum
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas
berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25°C,
100 kPa)

Sangkalan dan referensi

Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut
dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan
merupakan salah satu produk utama industri kimia. Produksi dunia asam sulfat pada
tahun 2001 adalah 165 juta ton, dengan nilai perdagangan seharga US$8 juta.
Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan
air limbah dan pengilangan minyak.

Keberadaan
Asam sulfat murni yang tidak diencerkan tidak dapat ditemukan secara alami
di bumi oleh karena sifatnya yang higroskopis. Walaupun demikian, asam sulfat
merupakan komponen utama hujan asam, yang terjadi karena oksidasi sulfur dioksida
di atmosfer dengan keberadaan air (oksidasi asam sulfit). Sulfur dioksida adalah
produk sampingan utama dari pembakaran bahan bakar seperti batu bara dan minyak
yang mengandung sulfur (belerang).

Asam sulfat terbentuk secara alami melalui oksidasi mineral sulfida, misalnya
besi sulfida. Air yang dihasilkan dari oksidasi ini sangat asam dan disebut sebagai air
asam tambang. Air asam ini mampu melarutkan logam-logam yang ada dalam bijih
sulfida, yang akan menghasilkan uap berwarna cerah yang beracun. Oksidasi besi
sulfida pirit oleh oksigen molekuler menhasilkan besi(II), atau Fe2+:

2 FeS2 + 7 O2 + 2 H2O → 2 Fe2+ + 4 SO42− + 4 H+

Fe2+ dapat kemudian dioksidasi lebih lanjut menjadi Fe3+:

4 Fe2+ + O2 + 4 H+ → 4 Fe3+ + 2 H2O

Fe3+ yang dihasilkan dapat diendapkan sebagai hidroksida:


Fe3+ + 3 H2O → Fe(OH)3 + 3 H+

Besi(III) atau ion feri juga dapat mengoksidasi pirit. Ketika oksidasi pirit besi(III)
terjadi, proses ini akan berjalan dengan cepat. Nilai pH yang lebih rendah dari nol
telah terukur pada air asam tambang yang dihasilkan oleh proses ini.

Asam sulfat di luar angkasa

Atmosfer Venus

Asam sulfat diproduksi di atmosfer bagian atas Venus dari karbon dioksida,
sulfur dioksida, dan uap air secara fotokimia oleh cahaya matahari. Foton ultraviolet
dengan panjang gelombang kurang dari 169 nm dapat mengakibatkan fotodisosiasi
karbon dioksida menjadi karbon monoksida dan oksigen atomik.

Oksigen atomik sangatlah reaktif. Ketika ia bereaksi dengan sulfur dioksida


yang merupakan sekelumit bagian dari atmosfer Venus, sulfur trioksida dihasilkan,
dan ketika bergabung dengan air, akan menghasilkan asam sulfat.

CO2 → CO + O
SO2 + O → SO3
SO3 + H2O → H2SO4

Di bagian atas atmosfer Venus yang lebih dingin, asam sulfat terdapat dalam
keadaan cair, dan awan asam sulfat yang tebal menghalangi pandangan permukaan
Venus ketika dipandang dari atas. Awan permanen Venus menghasilkan hujan asam
yang pekat sama halnya atmosfer bumi menghasilkan air hujan.

Atmosfer Venus menunjukkan adanya siklus asam sulfat. Setelah tetesan


hujan asam sulfat jatuh ke lapisan atmosfer yang lebih panas, asam sulfat akan
dipanaskan dan melepaskan uap air, sehingga asam sulfat tersebut menjadi lebih
pekat. Ketika mencapai temperatur di atas 300°C, asam sulfat mulai berdekomposisi
menjadi sulfur trioksida dan air (dalam fase gas). Sulfur trioksida sangatlah reaktif
dan berdisosiasi menjadi sulfur dioksida dan oksigen atomik, yang akan kemudian
mengoksidasi karbon monoksida menjadi karbon dioksida.

Sulfur dioksida dan uap air kemudian naik secara arus konveksi dari lapisan
tengah atmosfer menuju lapisan atas, di mana keduanya akan diubah kembali lagi
menjadi asam sulfat, dan siklus ini kemudian berulang.

Pada permukaan es Europa


Spektrum inframerah dari misi Galileo NASA menunjukkan adanya absorpsi
khusus pada satelit Yupiter Europa yang mengindikasikan adanya satu atau lebih
hidrat asam sulfat. Interpretasi spektrum ini kontroversial. Beberapa ilmuwan planet
lebih condong menginterpretasikan spektrum ini sebagai ion sulfat, kemungkinan
sebagai bagian dari mineral Europa.[1]

Pembuatan
Asam sulfat diproduksi dari belerang, oksigen, dan air melalui proses kontak.

Pada langkah pertama, belerang dipanaskan untuk mendapatkan sulfur dioksida:

S (s) + O2 (g) → SO2 (g)

Sulfur dioksida kemudian dioksidasi menggunakan oksigen dengan keberadaan


katalis vanadium(V) oksida:

2 SO2 + O2(g) → 2 SO3 (g)   (dengan keberadaan V2O5)

Sulfur trioksida diserap ke dalam 97-98% H2SO4 menjadi oleum (H2S2O7), juga
dikenal sebagai asam sulfat berasap. Oleum kemudian diencerkan ke dalam air
menjadi asam sulfat pekat.

H2SO4 (l) + SO3 → H2S2O7 (l)


H2S2O7 (l) + H2O (l) → 2 H2SO4 (l)

Perhatikan bahwa pelarutan langsung SO3 ke dalam air tidaklah praktis karena reaksi
sulfur trioksida dengan air yang bersifat eksotermik. Reaksi ini akan membentuk
aerosol korosif yang akan sulit dipisahkan.

SO3(g) + H2O (l) → H2SO4(l)

Sebelum tahun 1900, kebanyakan asam sulfat diproduksi dengan proses bilik.[2]

Sifat-sifat fisika
Bentuk-bentuk asam sulfat

Walaupun asam sulfat yang mendekati 100% dapat dibuat, ia akan melepaskan
SO3 pada titik didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. 98% asam sulfat lebih stabil
untuk disimpan, dan merupakan bentuk asam sulfat yang paling umum. Asam sulfat
98% umumnya disebut sebagai asam sulfat pekat. Terdapat berbagai jenis konsentrasi
asam sulfat yang digunakan untuk berbagai keperluan:

10%, asam sulfat encer untuk kegunaan laboratorium,


33,53%, asam baterai,
62,18%, asam bilik atau asam pupuk,
73,61%, asam menara atau asam glover,
97%, asam pekat.

Terdapat juga asam sulfat dalam berbagai kemurnian. Mutu teknis H2SO4 tidaklah
murni dan seringkali berwarna, namun cocok untuk digunakan untuk membuat
pupuk. Mutu murni asam sulfat digunakan untuk membuat obat-obatan dan zat
warna.

Apabila SO3(g) dalam konsentrasi tinggi ditambahkan ke dalam asam sulfat,


H2S2O7 akan terbentuk. Senyawa ini disebut sebagai asam pirosulfat, asam sulfat
berasap, ataupun oleum. Konsentrasi oleum diekspresikan sebagai %SO3
(disebut %oleum) atau %H2SO4 (jumlah asam sulfat yang dihasilkan apabila H2O
ditambahkan); konsentrasi yang umum adalah 40% oleum (109% H2SO4) dan 65%
oleum (114,6% H2SO4). H2S2O7 murni terdapat dalam bentuk padat dengan titik leleh
36°C.

Asam sulfat murni berupa cairan bening seperti minyak, dan oleh karenanya pada
zaman dahulu ia dinamakan 'minyak vitriol'.

Polaritas dan konduktivitas

H2SO4 anhidrat adalah cairan yang sangat polar. Ia memiliki tetapan dielektrik
sekitar 100. Konduktivitas listriknya juga tinggi. Hal ini diakibatkan oleh disosiasi
yang disebabkan oleh swa-protonasi, disebut sebagai autopirolisis.[3]

2 H2SO4 → H3SO4+ + HSO4−

Konstanta kesetimbangan autopirolisisnya adalah[3]

Kap(25°C)= [H3SO4+][HSO4−] = 2,7 × 10−4.

Dibandingkan dengan konstanta keseimbangan air, Kw = 10−14, nilai konstanta


kesetimbangan autopirolisis asam sulfat 1010 (10 triliun) kali lebih kecil.

Walaupun asam ini memiliki viskositas yang cukup tinggi, konduktivitas


efektif ion H3SO4+ dan HSO4− tinggi dikarenakan mekanisme ulang alik proton intra
molekul, menjadikan asam sulfat sebagai konduktor yang baik. Ia juga merupakan
pelarut yang baik untuk banyak reaksi.

Kesetimbangan kimiawi asam sulfat sebenarnya lebih rumit daripada yang


ditunjukkan di atas; 100% H2SO4 mengandung beragam spesi dalam kesetimbangan
(ditunjukkan dengan nilai milimol per kg pelarut), yaitu: HSO4− (15,0), H3SO4+
(11,3), H3O+ (8,0), HS2O7− (4,4), H2S2O7 (3,6), H2O (0,1).[3]

Sifat-sifat kimia
Reaksi dengan air

Reaksi hidrasi asam sulfat sangatlah eksotermik. Selalu tambahkan asam ke


dalam air daripada air ke dalam asam. Air memiliki massa jenis yang lebih rendah
daripada asam sulfat, dan cenderung mengapung di atasnya, sehingga apabila air
ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, ia akan dapat mendidih dan bereaksi
dengan keras. Reaksi yang terjadi adalah pembentukan ion hidronium:

H2SO4 + H2O → H3O+ + HSO4-


HSO4- + H2O → H3O+ + SO42-

Karena hidrasi asam sulfat secara termodinamika difavoritkan, asam sulfat


adalah zat pendehidrasi yang sangat baik, dan digunakan untuk mengeringkan buah-
buahan. Afinitas asam sulfat terhadap air cukuplah kuat sedemikiannya ia akan
memisahkan atom hidrogen dan oksigen dari suatu senyawa. Sebagai contoh,
mencampurkan pati (C6H12O6)n dengan asam sulfat pekat akan menghasilkan karbon
dan air yang terserap dalam asam sulfat (yang akan mengencerkan asam sulfat):

(C6H12O6)n → 6n C + 6n H2O

Efek ini dapat dilihat ketika asam sulfat pekat diteteskan ke permukaan kertas.
Selulosa bereaksi dengan asam sulfat dan menghasilkan karbon yang akan terlihat
seperti efek pembakaran kertas. Reaksi yang lebih dramatis terjadi apabila asam
sulfat ditambahkan ke dalam satu sendok teh gula. Seketika ditambahkan, gula
tersebut akan menjadi karbon berpori-pori yang mengembang dan mengeluarkan
aroma seperti karamel.

Reaksi lainnya

Sebagai asam, asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan basa, menghasilkan


garam sulfat. Sebagai contoh, garam tembaga tembaga(II) sulfat dibuat dari reaksi
antara tembaga(II) oksida dengan asam sulfat:
CuO + H2SO4 → CuSO4 + H2O

Asam sulfat juga dapat digunakan untuk mengasamkan garam dan


menghasilkan asam yang lebih lemah. Reaksi antara natrium asetat dengan asam
sulfat akan menghasilkan asam asetat, CH3COOH, dan natrium bisulfat:

H2SO4 + CH3COONa → NaHSO4 + CH3COOH

Hal yang sama juga berlaku apabila mereaksikan asam sulfat dengan kalium
nitrat. Reaksi ini akan menghasilkan asam nitrat dan endapat kalium bisulfat. Ketika
dikombinasikan dengan asam nitrat, asam sulfat berperilaku sebagai asam sekaligus
zat pendehidrasi, membentuk ion nitronium NO2+, yang penting dalam reaksi nitrasi
yang melibatkan substitusi aromatik elektrofilik. Reaksi jenis ini sangatlah penting
dalam kimia organik.

Asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan logam via reaksi penggantian


tunggal, menghasilkan gas hidrogen dan logam sulfat. H2SO4 encer menyerang besi,
aluminium, seng, mangan, magnesium dan nikel. Namun reaksi dengan timah dan
tembaga memerlukan asam sulfat yang panas dan pekat. Timbal dan tungsten tidak
bereaksi dengan asam sulfat. Reaksi antara asam sulfat dengan logam biasanya akan
menghasilkan hidrogen seperti yang ditunjukkan pada persamaan di bawah ini.
Namun reaksi dengan timah akan menghasilkan sulfur dioksida daripada hidrogen.

Fe (s) + H2SO4 (aq) → H2 (g) + FeSO4 (aq)


Sn (s) + 2 H2SO4 (aq) → SnSO4 (aq) + 2 H2O (l) + SO2 (g)

Hal ini dikarenakan asam pekat panas umumnya berperan sebagai oksidator,
manakala asam encer berperan sebagai asam biasa. Sehingga ketika asam pekat panas
bereaksi dengan seng, timah, dan tembaga, ia akan menghasilkan garam, air dan
sulfur dioksida, manakahal asam encer yang beraksi dengan logam seperti seng akan
menghasilkan garam dan hidrogen.

Asam sulfat menjalani reaksi substitusi aromatik elektrofilik dengan senyawa-


senyawa aromatik, menghasilkan asam sulfonat terkait:[4]
Kegunaan
Asam sulfat merupakan komoditas kimia yang sangat penting, dan sebenarnya
pula, produksi asam sulfat suatu negara merupakan indikator yang baik terhadap
kekuatan industri negara tersebut.[5] Kegunaan utama (60% dari total produksi di
seluruh dunia) asam sulfat adalah dalam "metode basah" produksi asam fosfat, yang
digunakan untuk membuat pupuk fosfat dan juga trinatrium fosfat untuk deterjen.
Pada metode ini, batuan fosfat digunakan dan diproses lebih dari 100 juta ton setiap
tahunnya. Bahan-bahan baku yang ditunjukkan pada persamaan di bawah ini
merupakan fluorapatit, walaupun komposisinya dapat bervariasi. Bahan baku ini
kemudian diberi 93% asam suflat untuk menghasilkan kalsium sulfat, hidrogen
fluorida (HF), dan asam fosfat. HF dipisahan sebagai asam fluorida. Proses
keseluruhannya dapat ditulis:

Ca5F(PO4)3 + 5 H2SO4 + 10 H2O → 5 CaSO4•2 H2O + HF + 3 H3PO4

Asam sulfat digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri besi dan baja
untuk menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri
otomobil. Asam yang telah digunakan sering kali didaur ulang dalam kilang
regenerasi asam bekas (Spent Acid Regeneration (SAR) plant). Kilang ini membakar
asam bekas dengan gas alam, gas kilang, bahan bakar minyak, ataupun sumber bahan
bakar lainnya. Proses pembakaran ini akan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2)
dan sulfur trioksida (SO3) yang kemudian digunakan untuk membuat asam sulfat
yang "baru".

Amonium sulfat, yang merupakan pupuk nitrogen yang penting, umumnya


diproduksi sebagai produk sampingan dari kilang pemroses kokas untuk produksi
besi dan baja. Mereaksikan amonia yang dihasilkan pada dekomposisi termal batu
bara dengan asam sulfat bekas mengijinkan amonia dikristalkan keluar sebagai garam
(sering kali berwarna coklat karena kontaminasi besi) dan dijual kepada industri
agrokimia.

Kegunaan asam sulfat lainnya yang penting adalah untuk pembuatan


aluminium sulfat. Alumunium sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun
pada serat pulp kertas untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang membantu
mengentalkan serat pulp menjadi permukaan kertas yang keras. Aluminium sulfat
juga digunakan untuk membuat aluminium hidroksida. Aluminium sulfat dibuat
dengan mereaksikan bauksit dengan asam sulfat:
Al2O3 + 3 H2SO4 → Al2(SO4)3 + 3 H2O

Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai


contoh, asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk
mengubah sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang digunakan untuk
membuat nilon. Ia juga digunakan untuk membuat asam klorida dari garam melalui
proses Mannheim. Banyak H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak bumi,
contohnya sebagai katalis untuk reaksi isobutana dengan isobutilena yang
menghasilkan isooktana.

Siklus sulfur-iodin

Siklus sulfur-iodin merupakan sederet proses termokimia yang digunakan


untuk mendapatkan hidrogen. Ia terdiri dari tiga reaksi kimia yang keseluruhan
reaktannya adalah air dan keseluruhan produknya adalah hidrogen dan oksigen.

2 H2SO4 → 2 SO2 + 2 H2O + O2     (830°C)


I2 + SO2 + 2 H2O → 2 HI + H2SO4     (120°C)
2 HI → I2 + H2     (320°C)

Senyawa sulfur dan iodin didaur dan digunakan ulang. Proses ini bersifat
endotermik dan haruslah terjadi pada suhu yang tinggi. Siklus sulfur iodin sekarang
ini sedang diteliti sebagai metode yang praktis untuk mendapatkan hidrogen. Namun
karena penggunaan asam korosif yang pekat pada suhu yang tinggi, ia dapat
menimbulkan resiko bahaya keselamatan yang besar apabila proses ini dibangun
dalam skala besar.

Sejarah

Besi(II) sulfat heptahidrat


Tembaga(II) sulfat pentahidrat

Alkimiawan abad ke-8 Abu Musa Jabir bin Hayyan (Geber) dipercayai
sebagai penemu asam sulfat. Asam ini kemudian dikaji oleh alkimiawan dan dokter
Persia abad ke-9 Ar-Razi (Rhazes), yang mendapatkan zat ini dari distilasi kering
mineral yang mengandung besi(II) sulfat heptahidrat, FeSO4 • 7H2O, dan tembaga(II)
sulfat pentahidrat, CuSO4 • 5H2O. Ketika dipanaskan, senyawa-senyawa ini akan
terurai menjadi besi(II) oksida dan tembaga(II) oksida, melepaskan air beserta sulfur
trioksida yang akan bergabung menjadi larutan asam sulfat. Metode ini dipopulerkan
di Eropa melalui terjemahan-terjamahan buku-buku Arab dan Persia.

Asam sulfat dikenal oleh alkimiawan Eropa abad pertengahan sebagai minyak
vitriol. Kata vitriol berasal dari bahasa Latin vitreus yang berarti 'gelas', merujuk pada
penampilan garam sulfat yang seperti gelas, disebut sebagai garam vitriol. Garam-
garam ini meliputi tembaga(II) sulfat (vitriol biru), seng sulfat (vitriol putih), besi(II)
sulfat (vitriol hijau), besi(III) sulfat (vitriol Mars), dan kobalt(II) sulfat (vitriol
merah).

Garam-garam vitriol tersebut merupakan zat yang paling penting dalam


alkimia, yang digunakan untuk menemukan batu filsuf. Vitriol yang sangat murni
digunakan sebagai media reaksi zat-zat lainnya. Hal ini dikarenakan asam vitriol
tidak bereaksi dengan emas. Pentingnya vitriol dalam alkimia terlihat pada moto
alkimia Visita Interiora Terrae Rectificando Invenies Occultum Lapidem ('Kunjungi
bagian dalam bumi dan murnikanlah, anda akan menemukan batu rahasia') yang
ditemukan dalam L'Azoth des Philosophes karya alkimiawan abad ke-15 Basilius
Valentinus, .

Pada abad ke-17, kimiawan Jerman Belanda Johann Glauber membuat asam
sulfat dengan membakar sulfur bersamaan dengan kalium nitrat, KNO3, dengan
keberadaan uap. Kalium nitrat tersebut terurai dan mengoksidasi sulfur menjadi SO3,
yang akan bergabung dengan air membentuk asam sulfat. Pada tahun 1736, Joshua
Ward, ahli farmasi London, menggunakan metode ini untuk memulai
produksi asam sulfat berskala besar.

Pada tahun 1746 di Birmingham, John Roebuck mengadaptasikan metode ini


ke dalam suatu bilik, yang dapat menghasilkan asam sulfat lebih banyak. Proses ini
disebut sebagai proses bilik, yang mengijinkan produksi asam sulfat secara efektif.
Setelah berbagai perbaikan, metode ini menjadi proses standar produksi asam sulfat
selama hampir dua abad.

Pada tahun 1831, saudagar asam cuka Britania Peregrine Phillips mematenkan proses
kontak, yang lebih ekonomis dalam memproduksi sulfur trioksida dan asam sulfat.
Sekarang, hampir semua produksi asam sulfat dunia menggunakan proses ini.

Keselamatan
Bahaya laboratorium

Tetesan 98% asam sulfat akan dengan segera membakar kertas tisu menjadi karbon

Sifat-sifat asam sulfat yang korosif diperburuk oleh reaksi eksotermiknya


dengan air. Luka bakar akibat asam sulfat berpotensi lebih buruk daripada luka bakar
akibat asam kuat lainnya, hal ini dikarenakan adanya tambahan kerusakan jaringan
dikarenakan dehidrasi dan kerusakan termal sekunder akibat pelepasan panas oleh
reaksi asam sulfat dengan air.

Bahaya akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi


asam sulfat. Namun, bahkan asam sulfat encer (sekitar 1 M, 10%) akan dapat
mendehidrasi kertas apabila tetesan asam sulfat tersebut dibiarkan dalam waktu yang
lama. Oleh karenanya, larutan asam sulfat yang sama atau lebih dari 1,5 M diberi
label "CORROSIVE" (korosif), manakala larutan lebih besar dari 0,5 M dan lebih
kecil dari 1,5 M diberi label "IRRITANT" (iritan). Asam sulfat berasap (oleum)
tidaklah dianjurkan untuk digunakan dalam sekolah oleh karena bahaya
keselamatannya yang sangat tinggi.
Perawatan pertama yang standar dalam menangani tumpahnya asam sulfat ke
kulit adalah dengan membilas kulit tersebut dengan air sebanyak-banyaknya.
Pembilasan dilanjutkan selama 10 sampai 15 menit untuk mendinginkan jaringan
disekitar luka bakar asam dan untuk menghindari kerusakan sekunder. Pakaian yang
terkontaminasi oleh asam sulfat harulah dilepaskan dengan segera dan segera bilas
kulit yang berkontak dengan pakaian tersebut.

Pembuatan asam sulfat encer juga berbahaya oleh karena pelepasan panas
selama proses pengenceran. Asam sulfat pekat haruslah selalu ditambahkan ke air,
dan bukannya sebaliknya. Penambahan air ke asam sulfat pekat dapat menyebabkan
tersebarnya aerosol asam sulfat dan bahkan dapat menyebabkan ledakan. Pembuatan
larutan lebih dari 6 M (35%) adalah yang paling berbahaya, karena panas yang
dihasilkan cukup panas untuk mendidihkan asam encer tersebut.

Bahaya industri

Walaupun asam sulfat tidak mudah terbakar, kontak dengan logam dalam
kasus tumpahan asam dapat menyebabkan pelepasan gas hidrogen. Penyebaran
aerosol asam dan gas sulfur dioksida menambah bahaya kebakaran yang melibatkan
asam sulfat.

Asam sulfat dianggap tidak beracun selain bahaya korosifnya. Resiko utama
asam sulfat adalah kontak dengan kulit yang menyebabkan luka bakar dan
penghirupan aerosol asap. Paparan dengan aerosol asam pada konsentrasi tinggi akan
menyebabkan iritasi mata, saluran pernafasan, dan membran mukosa yang parah.
Iritasi akan mereda dengan cepat setelah paparan, walaupun terdapat resiko edema
paru apabila kerusakan jaringan lebih parah. Pada konsentrasi rendah, simtom-
simtom akibat paparan kronis aerosol asam sulfat yang paling umumnya dilaporkan
adalah pengikisan gigi. Indikasi kerusakan kronis saluran pernafasan masih belum
jelas. Di Amerika Serikat, batasan paparan yang diperbolehkan ditetapkan sebagai
1 mg/m³. Terdapat pula laporan bahwa penelanan asam sulfat menyebabkan
defisiensi vitamin B12 dengan degenarasi gabungan subakut.

Pembatasan hukum
Perdagangan internasional asam sulfat dikontrol oleh Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika
tahun 1988, yang meletakkan asam sulfat di Tabel II konvensi tersebut sebagai bahan
kimia yang sering diguakan dalam produksi gelap narkotika ataupun psikotropika.[6]
Di Indonesia, konvensi ini disahkan oleh Undang-Undang Dasar Nomor 7 Tahun
1997. [7]