Anda di halaman 1dari 19

40

BAB IV

Hasil dan Pembahasan

A. Gambaran umum lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Waeura kecamatan Waplau

Kabupaten Buru. Alasan memilih tempat penelitian ini karena Desa

Waeura terdapat tempat usaha minyak kayu putih yang dilakukan secara

berkelompok. Dengan adanya usaha tersebut dapat meningkatkan

pendapatan terhadap kesejahteraan. Pendapatan kelompok usaha minyak

kayu putih berupa gaji yang biasanya dipakai untuk memnuhi kebutuhan

kelompok usaha minyak kayu putih Desa Waeura sehingga dengan

pendapatan itu dapat meningkatkan kesejahteraan kelompok yang dilihat

dari penghasilan dan pengeluaran demi pemenuhan kehidupan sehari-hari.

B. Hasil dan Pembahasan

1) Karakteristik Responden

a. Jenis Kelamin Responden

Karakteristik menurut jenis kelamin biasanya menyebabkan seorang

individu ditempatkan secara jelas dalam salah satu kategori, yaitu laki-laki

atau perempuan. Jenis kelamin penduduk suatu daerah sering dipakai

sebagai pedoman di dalam menganalisis struktur dan kondisi sosial

ekonomi penduduk.1 Dari hasil penelitian, diketahui responden kelompok

1
Sukirno, Sadono. Teori Pengantar Ekonomi Mikro. (Jakarta: Pt Raja Grafindo
Persada,2016) h.48
41

usaha minyak kayu putih berdasarkan jenis kelamin keseluruhan adalah

laki-laki sebanyak 30 orang .

Tabel 4.1
Jenis Kelamin Responden

NoJenis Kelamin Jumlah Presentase


1 Perempuan 0 0 %
2 Laki-laki 30 100%
Jumlah 30 100%
Sumber : data primer yang di olah

b. Karakterristik Umur Responden

Umur menentukan intensitas dan jenis aktivitas yang dapat dilakukan

oleh seseorang2. Karakteristik responden kelompok minyak kayu putih

menurut umur, dilihat pada Tabel 4.2. Secara umum rata–rata umur

responden dilokasi penelitian masih berada pada kelompok usia produktif

untuk bekerja, artinya secara fisik mereka masih memiliki potensi yang

besar untuk dapat menghasilkan pendapatan

Tabel 4.2
Umur responden

No Umur Jumlah Presentase


1 28-39 22 73,33%
2 40-60 8 26,66 %
Jumlah 30 100%
Sumber : data Primer yang telah diolah

Dari tabel 4.2 di atas karakteristik umur kelompok usaha minyak kayu putih

diperoleh informasi bahwa umur pedagang rata-rata berada pada usia produktif

2
Samuelson, Paul A. Dan William D. Nordhaus.. Ilmu Mikro Ekonomi. (Jakarta: Pt
Media Global Edukasi,2016) h.30
42

umur 28 sampai dengan 60 tahun yang merupakan usia untuk bekerja untuk

memperoleh pendapatan3

c. Karakteristik Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan ditentukan dari awal dengan menggolongkan menjadi

lima level yaitu: tidak pernah sekolah, SD, SMP, SMA/SMK, dan Perguruan

Tinggi. Adpun tingkat pendidikan responden kelompok usaha minyak kayu putih

dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3
Tingkat Pendidikan Responden

No Tingkat Pendidikan Jumlah Presentase


1 SD 12 40%
2 SMP 12 40 %
3 SMA 6 20%
4 PT 0 0%
Jumlah 30 100%
sumber :data primer yang diolah,2020

Dari tabel 4.3. di atas dapat diketahui tingkat pendidikan terakhir kelompok usaha

minyak kayu putih adalah lulusan SD, yaitu sebanyak 12 responden yang tingkat

pendidikannya SMP/Mts adalah sebanyak 12 orang dan pedagang yang lulusan

SMA/MA/SMK sebanyak 6 orang dari total keseluruhan. Sedangkan yang

lulusan Perguruan Tinggi tidak ada responden.

Dari data tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat pendidikan

kemlompok usaha minyak kayu putih masih tergolong rendah. Hal tersebut

terlihat dari masih banyaknya responden yang hanya lulusan SD dan lulus SMP.

3
Todaro, Michael P. Pembangunan Ekonomi Jilid Satu, Edisi Kesembilan Terjemahan. (
Jakarta: Penerbit Erlangga,2015),h.28
43

Rendahnya tingkat pendidikan ini bukan karena tingkat kesadaran yang rendah

terhadap pentingnya belajar, tetapi lebih dipengaruhi kurangnya kemampuan

untuk biaya sekolah yang lebih tinggi.

d. Karakteristik lama bekerja responden

Tabel 4.4
Lama bekerja

No Thn/bln Jumlah Presentase


1 5-8 21 70%
2 5-10 9 30%
Jumlah 30 100%
Sumber : data primer yang di olah

Dari tabel 4.4. diatas dapat diketahui lama menjadi kelompok usaha minyak kayu

putih adalah mayoritas rata-rata 5-8 tahun yaitu 21 orang dan rata-rata 5-10 bulan

yaitu 9 orang, Jadi jumlah keseluruan ada 30 orang responden yang lama menjadi

kelompok usaha minyak kayu putih.

2) Analisis Pengaruh pendapatan terhadap kesejahteraan


masyarakat pada kelompok usaha minyak kayu putih Desa
Waeura Kecamatan Waplau Kabupaten Buru.

Untuk mengetahui analisis pendapatan terhadap kesejahteraan masyarakat

pada kelompok usaha minyak kayu putih Desa Waeura Kecamatan Waplau

Kabupaten Buru diperoleh dari data hasil penelitian berupa kuesioner, didalam

kuesioner ada 12 butir pertanyaan untuk indikator pendapatan dan 19 butir

pertanyaan untuk indikator kesejahteraan yang diberikan ataupun yang ditanyakan

kepada petani kelompok usaha minyak kayu putih. Dalam pengambilan data
44

peneliti kebanyakan menggunakan kuesioner dengan berlandaskan pada

pertanyaan yang terdapat di dalam angket. hal ini dilakukan atas dasar untuk

memudahkan dalam pengambilan data dan ada juga yang meminta untuk

membacakan dan mengisikan angket oleh peneliti. Angket penelitian tersebut

telah diisi/dijawab oleh 30 orang usaha minyak kayu putih.

a. Hasil Analisis Deskriptif Penelitian

1. Hasil Analisis Deskriptif Pendapatan

Varibel pendapatan dalam penelitian ini meliputi tiga indikator, yaitu

penerimaan penghasilan, ketepatan pembayaran dan kesesuaian pekerjaan. Dari

30 responden Pada variabel pendapatan terdapat 12 pernyataaan yang menjawab

4 skornya sangat cukup. Hasil analisis deskriptif berkaitan dengan pendapatan

terangkum dalam tabel 4.5berikut:

Tabel 4.5
Hasil Analisis Derkriptif Variabel Pendapatan

No Nilai skor Kategori Frekuensi Presentase


1 4 Sangat Cukup 0 0.00%
2 3 Cukup 20 66.67%
3 2 Kurang Cukup 7 23.33%
4 1 Tidak Cukup 3 10%
Jumlah 30 100%
Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel 4.5 dari hasil analisis deskriptif variabel pendapatan diperoleh

persentase sebesar 66,67% dari 20 responden yang berada pada antara nilai
45

skornya 3 termasuk dalam kategori cukup. Dalam penelitian tersebut diketahui

bahwa sebanyak 0.00% berada pada antara nilai skornya 4 yang termasuk dalam

kategori sangat cukup, hasil presentase 23.33% dari 7 responden berada pada

antara nilai skor 2 yang termasuk dalam kategori kurang cukup , hasil presentase

10% dari 3 responden berada pada antara nilai skornya 1 yang termasuk dalam

kategori kurang cukup.

2. Hasil Analisis Deskriptif Kesejahteraan

Varibel kesejahteraan dalam penelitian ini meliputi tiga indikator, yaitu

pemenuhan pada kebutuhan pokok, kebutuhan sosial dan kebutuhan

pengembangan. Pada variabel kesejahteraan dari 30 responden terdapat 19

pernyataaan yang menjawab 4 skornya (sangat terpenuhi). Hasil analisis deskriptif

berkaitan dengan kesejahteraan terangkum dalam tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6
Hasil Analisis Derkriptif Variabel Kesejahteraan

No Nilai skor Kategori Frekuensi Presentasi


1 4 Sangat 0 0.00%
Terpenuhi (ST)
2 3 Terpenuhi (T) 26 86.67 %
3 2 Kurang 4 13.33%
Terpenuhi (KT)
4 1 TidakTerpenuhi 0 0.00%
(TT)
Jumlah 30 100%

Sumber: Data primer yang diolah.


46

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa dari hasil analisis deskriptif variabel

kesejahteraan diperoleh persentase sebesar 86.67%, dari 26 responden yang

berada pada nilai skor 3 termasuk dalam kategori terpenuhi. Dalam penelitian

tersebut diketahui bahwa sebanyak 0.00% yang berada pada nilai skor 4 yang

termasuk dalam kategori sangat terpeuhi, hasil presentase 13.33% dari 4 responen

berada pada nilai skor 2 yang termasuk Kategori kurang terpenuhi, hasil

presentase 0.00% berada pada nilai skor 1 yang termasuk dalam kategori tidak

terpenuhi.

3) Hasil Uji hipotesis Variabel pendapatan terhadap Kesejahteraan

masyarakat pada Kelompok usaha minyak kayu putih Desa

Waeura Kecamatan Waplau Kabupaten Buru

a. Pengujian Analisis Regresi Linear.

Analisis regresi untuk mengetahui pengaruh variabel independen

(pendapatan) secara individual atau parsial terhadap variabel dependen

(kesejahteraan) berikut ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.7
Hasil Pengujian analisis regresi linear
47

Variabel Koofisien Regresi thitung Sig


Konstan 17,119
X 0,997 3,624 0,01
F=hitung = 13,135
Rsquare = 0,319

Sumber Data Primer Yang Diolah,mengunakan aplikasi SPSS 2020

Berdasarkan tabel 4.7 Hasil pengujian analisis regresi linear nilai

probabilitas signifikansi sebesar 0.01< 0.05 yang berarti bahwa model regresi

tersebut signifikan maka hipotesis yang diajukan diterima (Ha diterima). Hasil

pengujian analisis regresi linear nilai probabilitas signifikansi sebesar 0.01 < 0.05

bertanda positif y ang artinya semakin tinggi pendapatan maka akan semakin

tinggi kesejahteraan.Jadi dapat dikatakan bahwa ada pengaruh signifikan antara

pendapatan dan terhadap kesejahteraan. berarti bahwa model regresi tersebut

signifikan maka hipotesis yang diajukan diterima (Ha diterima).

Persamaan Garis yang terbentuk adalah:

Y = 17,119 + 0,997 X
N o r m a l P - P P lo t o f R e g r e s s i o n S t a n d a r d iz e d R e s i d u a l

D e p e n d e n t V a r ia b l e : K e s e j a h t e r a a n
E x p e c te d C u m P ro b

1 .0

0 .8

0 .6

0 .4

0 .2

0 .0
0 .0 0.2 0 .4 0 .6 0 .8 1 .0
O b s e r v e d C u m P ro b

Sumber : data primer yang di olah mengunakan aplikasi SPSS


48

Dari grafik normal probability plot di atas terlihat bahwa persebaran data

mengikuti garis diagonal yang ada sehingga dapat di sumpulkan bahwa residual

data terdisribusi dengan normal.

b. Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

Uji statistik t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel

independen (pendapatan dan konsumsi rumah tangga), secara individual

atau parsial terhadap variabel dependen (kesejahteraan keluarga). Untuk

melihat ada dan tidaknya pengaruh secara parsial dapat diketahui dari

besarnya probabilitas signifikansi tiap variabel pada tabel coefficient

dengan kriteria sebagai berikut:

(1) Jika probabilitas signifikansi < alpha (0.05), maka H0 diterima, atau

dengan kata lain menyatakan bahwa variabel independen (pendapatan );

(2) jika probabilitas signifikansi > alpha (0.05), maka H0 diterima, atau

dengan kata lain menyatakan bahwa variabel independen (pendapatan)

secara terpisah tidak mempengaruhi variabel dependen (kesejahteraan).

Secara lebih jelas hasil uji koefisien regresi secara parsial dapat dilihat

pada tabel berikut:

Tabel 4.8
Hasil pengujian Secara Parsial (Uji t)

Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 17,119 7,560 2,265 ,031
Pendapatan ,997 ,275 ,565 3,624 ,001
a. Dependent Variable: Kesejahteraan

Sumber: Data primer yang diolah mengunakan aplikasi SPSS


49

Dari hasil analisis data diperoleh hasil pengaruh pendapatan terhadap

kesejahteraan. Koefisien untuk variabel pendapatan sebesar 0.997 bertanda positif

yang artinya semakin tinggi pendapatan maka akan semakin tinggi kesejahteraan.

Untuk koefisisen korelasi parsial antara pendapatan dan kesejahteraan diperoleh

nilai probabilitas sebesar 0.001< 0.05 yang berarti bahwa model regresi tersebut

signifikan maka hipotesis yang diajukan diterima (Ha diterima). Dengan demikian

secara parsial pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kesejahteraan keluarga.

Tabel 4.9
Ringkasan model (R square)
Model Summaryb

Change Statistics
Adjusted Std. Error of R Square Durbin-
Model R R Square R Square the Estimate Change F Change df1 df2 Sig. F Change Watson
1 ,565a ,319 ,295 9,4131 ,319 13,135 1 28 ,001 2,030
a. Predictors: (Constant), Pendapatan
b. Dependent Variable: Kesejahteraan

Berdasarkan tabel diatas menjelaskan besarnya nilai atau hubungan (R) yaitu

sebesar 0,565 dan besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat
50

yang disebut koefisien derterminasi sebesar 0,319, Hal tersebut mengandung

pengertian bahwa pengaruh variabel bebas ( pendapatan ) terhadap variabel terikat

( kesejahteraan) adalah sebesar 31,9% sedangkan sisahnya yakni 68,1%

dipengaruhi faktor lain luar variabel X.

4) Pendapatan terhadap kesejahteraan masyarakat pada kelompok

usaha minyak kayu putih Desa Waeura kecamatan Waplau

Kabupaten Buru dalam prespektif ekonomi Islam

Islam menganjurkan umatnya untuk memproduksi dan berperan dalam

berbagai bentuk kegiatan aktivitas ekonomi, perindustrian, perdagangan,

pertanian, perkebunan. Islam memberkahi pekerjaan dunia ini dan menjadikannya

bagian dari pada ibadah dan jihad. Bekerja adalah bagian dari ibadah dan jihad

jika sang pekerja bersikap konsisten terhadap peraturan

Islam menganjurkan umatnya untuk memproduksi dan berperan dalam

berbagai bentuk kegiatan aktivitas ekonomi, perindustrian, perdagangan,

pertanian, perkebunan. Islam memberkahi pekerjaan dunia ini dan menjadikannya

bagian dari pada ibadah dan jihad. Bekerja adalah bagian dari ibadah dan jihad

jika sang pekerja bersikap konsisten terhadap peraturan Allah, suci niatnya, dan

tidak melupakan-Nya. Dengan bekerja masyarakat bisa melaksanakan tugas

kekhalifahannya, menjaga diri dari maksiat, dan meraih tujuan yang besar.

Demikian pula dengan bekerja seorang individu mampu memenuhi kebutuhannya,

mencukupi kebutuhan keluarganya, dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Semua hal tersebut tidak akan terwujud tanpa harta yang dapat diperoleh dengan
51

bekerja4. Mewujudkan kesejahteraan dan meningkatkan kehidupan yang layak

bagi kaum muslim merupakan kewajiban syar’i, yang jika disertai ketulusan niat

akan naik pada tingkatan ibadah. Dalam pandangan Islam, segala sesuatu harus

dilakukan secara rapi, benar,teratur dan tertib. Proses-prosesnya harus dilakukan

dengan baik. Segala sesuatu tidak boleh dikerjakan secara asal-asalan. Hal ini

merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Arah pekerjaan yang jelas, landasan

yang mantap, cara mendapatkannya yang transparan merupakan suatu amal yang

di sukai oleh Allah Swt.

Kelompok usaha minyak kayu putih di desa Waeura adalah sarana bagi

untuk lebih giat bekerja dan berusaha. Keberadaan Kelompok Usaha Bersama ini

telah berperan dalam menyerap tenaga kerja dan hal ini berarti telah ikut andil

dalam mengatasi kemiskinan. Disamping itu juga keberadaan Kelompok Usaha

Bersama juga telah berperan untuk membentuk pemilik usaha menjadi manusia

produktif karena telah bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk membantu

meningkatkan produktifitas produksi. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh

peneliti bahwa masyarakat yang bekerja dalam suatu kelompok ini sudah bekerja

sesuai perspektif Islam dan kaidah Islam. Mereka semua bekerja halal, berusaha

dan bekerja keras. Bekerja halal disini maksudnya adalah agar seseorang bekerja

secara mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. Sedangkan

berusaha dan bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidup didunia dan di

akhirat. Seperti yang berbunyi pada Q.S At-Taubah ayat 105 :

4
Yusuf Qardhawi , Norma Dan Etika Ekonomi Islam (Jakarta: gema insane press, 2017), cet. Ke-
1, h.107
52

‫هّٰللا‬
ِ ‫َوقُ ِل ا ْع َملُوْ ا فَ َسيَ َرى ُ َع َملَ ُك ْم َو َرسُوْ لُهٗ َو ْال ُم ْؤ ِمنُوْ ۗ_نَ َو َستُ َر ُّدوْ نَ اِ ٰلى ٰعلِ ِم ْال َغ ْي‬
‫ب‬

١٠٥ - َ‫َوال َّشهَا َد ِة فَيُنَبِّئُ ُك ْم بِ َما ُك ْنتُ ْم تَ ْع َملُوْ ۚن‬


Terjemahannya : dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan

melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu

akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang yang

nyata lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Makna Surat At Taubah ayat 105 yaitu Allah memerintahkan hamba-Nya

untuk beramal dan bekerja. Sebaliknya, Allah melarang sikap malas dan

membuang-buang waktu. Allah melihat dan menilai setiap amal hamba-Nya.

Karenanya setiap amal harus dilakukan dengan ikhlas, bukan karena riya’ dan

mengharap pujian manusia. Allah memotivasi hamba-Nya untuk bersungguh-

sungguh dalam proses amal dan pekerjaannya karena proses itulah yang dilihat

dan dinilai-Nya. Allah tidak menilai hasil dari usaha tersebut. Allah Maha

Mengetahui seluruh perbuatan manusia baik yang tersembunyi maupun yang yang

terang-terangan. Setiap manusia akan kembali kepada Allah dan

mempertanggungjawabkan setiap amalnya.

Usaha yang dikembangkan oleh Kelompok Usaha minyak kayu putih di

desa Waeura sudah sejalan dengan syariat Isam karena mereka satu sama lain

saling terbuka satu sama lain, saling membantu sesama anggota, bekerja keras,

berusaha, tanggung jawab, sabar, dan mereka juga memanfaatkan sumber daya

alam yang ada disekitar mereka dengan sebaik mungkin dan secara adil karena

mereka menyadari bahwa mereka harus saling berbagi dengan masyarakat yang
53

lainnya dalam menggunakan sumber daya alam yang melimpah. Namun, dalam

kegiatan usahanya masih dilakukan dengan sangat sederhana dan dari segi

permodalannya juga masih minim, sehingga dengan modal yang sedikit kegiatan

produksi masih terbatas. Tetapi itu semua bukan masalah bagi para anggota

karena dengan modal yang masih terbatas mereka mampu mengembangkan usaha

mereka sedikit demi sedikit

5) Prinsip-prinsip Ekonomi Islam

Ekonomi sebagai bagian dari aktivitas manusia, berkaitan dengan produksi

barang, mengumpulkan kekayaan, tenaga kerja, akumulasi perdagangan dan

pertukaran objek material, telah penting . Pandangan Islam, ekonomi Islam terdiri

dari tiga komponen dasar, sesuai dengan konten yang teoretis yang dibedakan dari

teori ekonomi lain, yaitu:

a. Prinsip kepemilikan multi-faceted;

b. Prinsip kebebasan ekonomi dalam batas yang ditetapkan;

c. Prinsip keadilan sosial5

a. Prinsip kepemilikan

Islam berbeda pada dasarnya dari kapitalisme dan sosialisme dalam sifat

prinsip pengakuan kepemilikan. Masyarakat kapitalis percaya unsur kepemilikan

dalam bentuk individu swasta, yaitu kepemilikan pribadi. Hal ini memungkinkan

kepemilikan swasta individu dari berbagai jenis kekayaan di negara ini sesuai
5
Sadr, Muhammad. Iqtisaduna (ekonomi kita). 2nd Edition, (Teheran,
Iran, 1994) h. 51-55
54

dengan kegiatan dan keadaan. Islam hanya mengakui kepemilikan publik bila

diminta oleh kebutuhan sosial dan perlunya nasionalisasi untuk menjaga utilitas.

Sosialisme masyarakat benar-benar bertentangan dengan itu. Jadi

kepemilikan umum adalah prinsip umum, yang diterapkan untuk setiap jenis

kekayaan. Namun, sifat dasar kedua masyarakat ini tidak berlaku untuk

masyarakat Islam karena masyarakat Islam tidak setuju dengan kapitalisme di

doktrin bahwa kepemilikan pribadi adalah prinsip, atau dengan sosialisme dalam

pandangannya bahwa kepemilikan umum adalah sebuah prinsip umum.

Melainkan mengakui kepemilikan bentuk yang berbeda pada saat yang

sama. Dengan demikian meletakkan prinsip kepemilikan multi-faceted. Itu berarti

dari sudut pandang Islam kepemilikan diterima dalam berbagai bentuk-bukan

prinsip hanya satu jenis kepemilikan, seperti, kepemilikan pribadi, kepemilikan

publik dan kepemilikan negara.

Untuk alasan ini, akan menjadi kesalahan untuk memanggil Islam

masyarakat kapitalis, meskipun itu memungkinkan kepemilikan pribadi dari

sejumlah jenis properti dan alat-alat produksi, karena kepemilikan pandangan

pribadi adalah bukan aturan dasar. Dengan cara yang sama itu akan menjadi

kesalahan untuk menggunakan istilah "sosialis" masyarakat untuk masyarakat

Islam, meskipun telah mengadopsi kepemilikan publik dan kepemilikan negara

untuk beberapa jenis kekayaan dan properti, karena dalam pandangannya bentuk

sosialis kepemilikan tidak aturan umum.

b. Prinsip kebebasan ekonomi dalam batas yang ditetapkan


55

Prinsip kebebasan Islam terdiri dari komponen ekonomi Islam adalah untuk

memungkinkan individu, di tingkat ekonomi, kebebasan yang terbatas, dalam

batas-batas spiritual dan nilai-nilai moral di mana Islam percaya. Pelaksanaan

prinsip ini dalam Islam dilakukan dengan cara berikut:

1. Hukum agama, dalam sumber-sumber umum, asalkan ketentuan tekstual untuk

melarang kelompok kegiatan sosial dan ekonomi, yang menghambat, dalam

pandangan Islam, realisasi cita-cita dan dinilai diadopsi oleh Islam, seperti riba,

monopoli dan seperti.

2. Hukum agama diletakkan ditaburkan pada prinsipnya pengawasan penguasa

atas kegiatan umum dan intervensi negara untuk melindungi dan menjaga

kepentingan publik melalui pembatasan kebebasan individu dalam aksi yang

mereka lakukan. Mengenai kepentingan pribadi, Islam menekankan bahwa

keberhasilan individu dan masyarakat tergantung keseimbangan antara spiritual

dan material kebutuhan manusia.

Keseimbangan yang tepat antara kebutuhan tubuh dan jiwa sehingga

kepentingan pribadinya serta kesejahteraan masyarakat mungkin dilindungi.

Selain itu, ini tidak boleh diabaikan bahwa kemajuan manusia selalu tergantung

pada keberhasilan koordinasi dan keharmonisan penting yang ada antara aspek-

aspek spiritual dan material kehidupan. Ketika kehidupan rohani terlepas dari

perjuangan ekonomi manusia, keseimbangan diperlukan dominan akan marah.

Tentu saja, prevalensi seperti keseimbangan yang konstruktif sangat penting bagi

pemeliharaan stabilitas dalam struktur ekonomi.6

6
Muthahhari. M. . Ekonomi Islam, , (Pub Sadra.: Teheran,1993) h.83.
56

keseimbangan permintaan dan pasokan komoditas. Dengan mengacu pada

prinsip-prinsip Islam, kekuatan penawaran dan permintaan telah diakui dengan

baik di pasar7.

c. Prinsip keadilan sosial

Komponen ketiga dalam ekonomi Islam yang merupakan atribut yang paling

penting dalam perekonomian Islam adalah prinsip keadilan sosial. Hal ini

diwujudkan dalam Islam oleh unsur-unsur dan jaminan yang, Islam disediakan

untuk sistem distribusi kekayaan dalam masyarakat Islam. Keadilan sosial kunci

ekonomi Islam terletak pada hubungan manusia dengan yang Allah, alam semesta

dan umat-Nya, dan sifat dan tujuan yang hidup manusia di bumi. Jika seorang pria

percaya pada Allah dan hari kiamat, dia sadar sepenuhnya tugas dan tanggung

jawabnya kepada Allah dan makhluk-Nya,. Dengan demikian keberhasilan

manusia tergantung pada berikut perintah-Nya dan menciptakan keharmonisan

antara moralitas dan aspek material dari kehidupan8.

7
Chapra, Umar, The Islamic Kesejahteraan Negara dan Peran Ekonomi Studi di Ekonomi Islam,
(Inggris Redwood Burn limited.UK,1980).h.126
8
Tabatebaei. Sosial Ekonomi Islam (pub Anteshar,1980), h. 94
57

BAB V
Kesimpulan dan Saran

a. Kesimpulan

Adapun yang menjadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah:

1. Hasil uji t adalah koefisien untuk variabel pendapatan sebesar 0.997

bertanda positif yang artinya semakin tinggi pendapatan maka akan

semakin tinggi kesejahteraan. Sementara nilai probalitas signifikansi

pendapatan terhadap kesejahteraan sebesar 0,01 dimana sig < 0,05. Jadi

dapat dikatakan bahwa ada pengaruh signifikan antara pendapatan dan

setiap kenaikan satu kali pendapatan meningkat sebesar 0,997

kesejahteraan.

2. Pendapatan terhadap kesejahteraan masyarakat pada kelompok usaha

minyak kayu putih Desa Waeura Kecamatan Waplau Kabupaten Buru


58

sesuai dengan prespektif ekonomi Islam karena masyarakat yang bekerja

dalam suatu kelompok ini sudah bekerja sesuai ekonomi Islam yaitu

bekerja halal, berusaha dan bekerja keras. Berusaha dan bekerja keras

guna memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan di akhirat sesuai Q.S At-

Taubah ayat 105 yang berarti usaha yang dikembangkan oleh Kelompok

minyak kayu putih di desa Waeura sudah sejalan dengan syariat Isam

karena mereka satu sama lain saling terbuka satu sama lain, saling

membantu sesama anggota, bekerja keras, berusaha, tanggung jawab,

sabar, dan mereka juga memanfaatkan sumber daya alam yang ada

disekitar mereka dengan sebaik mungkin dan secara adil.

b. Saran

Saran dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Kelompok usaha minyak kayu putih hendaknya bekerjasama dengan

pemerintah kabupaten Buru untuk meningkatkan pendapatannya sehingga

harga jual tinggi dan pendapatan meningkat

2. Pemerintah setempat hendaknya agar membantu dalam mensosialisasikan

Desa Waeura sebagai sentra usaha minyak kayu putih yang berkualitas.

3. Pemerintah harus memberikan bantuan sarana dan prasarana yang

menunjang proses kegiatan penyulingan minyak kayu putih secara modern

guna memperoleh minyak kayu putih dalam jumlah yang banyak karena

selama ini mereka mengunakan proses penyulingan secara tradisonal.