Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh negara-negara berkembang

adalah masalah ekonomi, termasuk negara Indonesia saat ini. Permasalahan ekonomi

seringkali berdampak negatif terhadap kehidupan sosial masyarakat seperti,

kemiskinan dan pengangguran yang sering kali menimbulkan tindakan-tindakan

kriminal. Oleh karena itu, untuk mengatasi problematika tersebut perlu adanya

sebuah kebijakan untuk penanggulangan masalah kemiskinan. Sebagai negara yang

penduduknya yang kurang lebih 90% beragama Islam, maka tuntunan dan kiat Islam

dalam mengantisipasi problematika kemiskinan umat menjadi penting untuk

direalisasikan.1

Namun demikian, permasalahan kemiskinan bukanlah hal yang mudah untuk

diselesaikan seperti halnya membalik tangan, karna kemiskinan adalah bukti

kekuasaan Allah bahwa dengan kemiskinan Allah ingin mengetahui sejauh mana

kepedulian hamba-Nya yang diberi harta lebih untuk dapat berbagi dengan yang

berkekurangan. Islam menekankan adanya hubungan saling menolong di dalam

lingkungan sosial umatnya.2 Bahkan Islam menggambarkan umat muslim sebagai satu

batang tubuh yang semua anggota dan bagiannya berkaitan dengan bagian yang lain.

Dengan adanya konsep tersebut dimungkinkan kesuksesan seseorang ataupun

1
Masyarakat muslim sampai saat ini masih dalam sekatan ekonomi terbelakang, artinya
masalah pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial (enequality income) dimiliki oleh sejumlah
negara yang justru berpenduduk mayoritas Islam. (Arief Mufraini, Akuntasi dan Manajemen Zakat,
Mengomunikasikan Kesadaran Dan Membangun Jaringan,Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2006.
2
Abdurrahman Qodir, Zakat Dalam Dimensi Mahdah Dan Sosial, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 1998
sekelompok masyarakat dalam sektor ekonomi. Bersamaan dengan majunya ekonomi,

juga akan menciptakan masyarakat yang maju dan sejahtera taraf hidupnya.3

Dalam ajaran Islam pemberantasan kemiskinan sudah dilembagakan dalam

salah satu rukunnya, yaitu menunaikan zakat. Pembayaran zakat di kota ambon

sebagai sarana untuk mempersempit perbedaan pendapatan dalam masyarakat,

sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial dan mengganggu keharmonisan dalam

bermasyarakat. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan

hidup umat terutama dari golongan yang berhak menerima zakat. Sehingga mereka

bisa hidup dengan layak dan mandiri tanpa menggantungkan kepada orang lain.4

Zakat tak sekedar dimaknai sebagai sebuah ibadah semata yang diwajibkan

kepada setiap umat Islam bagi yang sudah memenuhi syarat, yakni sebagai sebuah

sistem pendistribusian harta benda dikalangan umat islam, dari si kaya kepada si

miskin. Sehingga zakat mampu menghilangkan kesenjangan sosio-ekonomi

masyarakat. Bagi kebanyakan umat Islam zakat lebih diyakini sebagai pemenuhan

individu yang bersifat ubudiyyah daripada perwujudan solidaritas sosial yang lebih

mendasar. Yakni tidak dalam konteks mendistribusikan kekayaan secara adil

sehingga tidak terakumulasi dalam sekelompok orang saja. Pelaksanaan zakat hanya

sekedar memenuhi tuntutan syari’at saja. Akibatnya, potensi zakat yang demikian

besar itu tidak bisa digali dan dikelola dengan baik untuk program pengentasan

kemiskinan, pendidikan dan sebagainya yang benar-benar bermanfaat bagi

masyarakat. Sesungguhnya zakat memiliki dimensi yang sangat luas bagi manusia.

Zakat menjadi bukti bahwa Islam bukanlah agama yang melupakan kehidupan dunia

semata, zakat adalah pembangun umat manusia.

3
Asnaini, Zakat Produktif Dalam Perspektif hukum Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008
4
Iqbal M. Ambara, Problematika Zakat dan Pajak Indonesia, Jakarta: Sketsa, 2009
Untuk memberdayakan potensi zakat maka diperlukan sebuah lembaga yang

mampu mengelola dana zakat untuk mendistribusikannya baik untuk konsumtif

maupun untuk usaha yang produktif. Di Indonesia, terdapat lembaga semi-pemerintah

yang berwenang untuk melakukan pengolahan dan pendistribusian zakat, yaitu Badan

Amil Zakat dari tingkat nasional (BAZNAS) sampai tingkat daerah (BAZDA). Selain

itu, ada juga lembaga non pemerintah yang bernama Yayasan Kesejateraan Madani

(YAKESMA).5 Zakat adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang

memfokuskan pada pengelolaan zakat, infaq, shodaqohdan wakaf secara lebih

profesional dengan menitikberatkan program pendidikan (Edu Care), kesehatan

(Health Care), pembinaan komunitas (Youth Care) dan pemberdayaan ekonomi (Eco

Care) sebagai penyaluran program unggulan. Program tersebut merupakan upaya

untuk meningkatkan indeks pembangunan kaum dhuafa.

Sistem pengelolaan zakat terdapat dalam UU. No. 38 Tahun 1999 tentang

pengelolaan zakat, di dalamnya mengatur tentang pelaksanan pengelolaan zakat

dimulai dari perencanaan sampai pada tahap pendistribusian dan pendayagunaannya.

Adapun pengumpulan zakat dilakukan oleh amil zakat yang terdiri atas unsur

masyarakat dan pemerintah yang pembentukannya disesuaikan dengan tingkat

wilayahnya. Manajemen sebuah organisasi pengelola zakat harus dapat diukur dengan

tiga kata kunci yaitu: amanah, profesional dan transparan. Tiga kunci tersebut

dinamakan prinsip “Good Organization Governance.”Dengan penerapan ketiga

prinsip tersebut maka sebuah organisasi pengelola zakat akan lebih dipercaya oleh

masyarakat luas.6

Dalam pelaksanaannya, pengumpulan zakat di daerah masih dirasa kurang

optimal jika melihat potensinya. Penghitungan yang dilakukan oleh Badan Amil
5
Iqbal M. Ambara, Problematika Zakat dan Pajak Indonesia, Jakarta: Sketsa, 2009
6
M. Ali Hasan, Zakat dan Infak Salah Satu Solusi Mengatasi Problema Sosial di Indonesia,
Kencana Prenada Media Group,2008
Zakat Daerah (BAZDA) menyebutkan bahwa potensi zakat di daerah tercatat sebesar

Rp.17,5 Milyar per tahun. Namun, faktanya menunjukkan bahwa pengumpulan zakat

yang terdata melalui Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) hanyalah sekitar Rp. 250 miliar

per tahun. Kurang optimalnya jumlah zakat yang terkumpul disebabkan oleh

beberapa hal, antara lain; Pertama, ketidaktahuan kewajiban membayar zakat. Ada

sebagian dari masyarakat yang tidak tahu bahwa dia harus membayar zakat.7

Mereka hanya tahu bahwa zakat itu hanyalah zakat fitrah di bulan Ramadhan.

Bahwa sebenarnya ada kewajiban membayar zakat-zakat lainnya yang mereka belum

tahu. Kedua, ketidakmauan membayar zakat. Terdapat sebagian masyarakat yang

enggan untuk membayar zakat. Ada sebagian masyarakat yang berperilaku kikir,

mereka merasa harta yang mereka peroleh adalah hasil usahanya sendiri, sehingga

mereka merasa tidak perlu mengeluarkan zakat. Ketiga, ketidak percayaan terhadap

Lembaga Pengelola Zakat. Sebagian masyarakat mengeluarkan kewajiban zakatnya

langsungkepada mustahiq,karena mereka tidak atau kurang percaya kepada lembaga

pengelola zakat yang ada. Selain itu mereka merasa lebih afdholjika bisa

memberikan langsung kepada Mustahiq yang bersangkutan. Dengan demikian,

kepercayaan, tingkat religiusitas serta pendapatan masyarakat merupakan faktor

terpenting dalam menentukan perilaku masyarakat untuk menunaikan zakat di

lembaga amil zakat. Pengelolaan dana zakat yang lebih profesional akan menjadikan

lembaga amil zakat sebagai pilihan utama masyarakat dalam berzakat dan mengajak

orang lain untuk menunaikan zakat.8

Dan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas program pengentasan

masyarakat miskin, menurunkan tingkat penyalahgunaan dana pengentasan

masyarakat miskin dan meningkatkan efektivitasnya. Dimana penulis sangat tertarik

7
http://www.rumahzakat.org,
8
Nurul Huda dkk, Zakat Perspektif Mikro-Makro (Jakarta: Kencana, 2015)
ingin meneliti lebih jauh tentang masyarakat yang menyalurkan zakatnya, khusus nya

yang menggunakan lembaga Badan Amil Zakat. Oleh karena itu peneliti mengambil

penelitian yang berjudul:“Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat

dan Menggunakan Jasa Bazis Dalam Penyaluran Zakat”.

B. Rumusan Dan Batasan Masalah

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah yang

dapat diambil sebagai dasar dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana pelaksanaan jasa bazis untuk mempengaruhi keputusan

masyarakat dalam menggunakan Badan amil zakat daerah kota ambon?

2. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat untuk

menggunakan jasa bazis dalam penyaluran zakat di kota ambon?

2. Batasan Masalah

Agar tidak terjadi pembahasan yang meluas dan keluar dari koridor

penelitian ini, maka penelitian membatasi ruang lingkup penelitian ini hanya

mengacu kepada faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam

menggunakan jasa basis dan penyaluran zakat.

C. Defenisi Operasional

1. Pengertian Masyarakat

Setiap masyarakat dalam kehidupannya pasti akan mengalami perubahan-

perubahan walaupun ruang lingkup perubahan tersebut tidak terlalu luas. Perubahan-

perubahan yang terjadi di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma

sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-

lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain

sebagainya.
Disamping itu, kebutuhan maupun kepentingan masyarakat senantiasa

berkembang terus, sehingga diperlukan perubahan agar kebutuhan dan kepentingan

dapat dipenuhi secara wajar. Para sosiolog mengklasifikasikan masyarakat menjadi

dua yaitu masyarakat statis dan masyarakat dinamis. Masyarakat statis adalah

masyarakat yang mengalami perubahan yang berjalan lambat. Masyarakat dinamis

adalah masyarakat yang mengalami berbagai perubahan yang cepat. Jadi setiap

masyarakat, pada suatu masa dapat dianggap sebagai masya rakat yang statis,

sedangkan pada masyarakat lainnya dianggap sebagai masyarakat yang dinamis.

Perubahan-perubahan bukanlah semata-mata berarti suatu kemajuan (progress)

namun dapat pula berarti kemunduran dari bidang-bidang kehidupan tertentu.

Penemuan baru di bidang teknologi yang terjadi di suatu tempa dengan cepat dapat

diketahui oleh masyarakat lain yang berada jauh dari tempat tersebut. Perubahan yang

berjalan secara konstan terjadi karena memang terikat oleh waktu dan tempat. Akan

tetapi karena sifatnya yang berkaitan satu dengan yang lain, maka perubahan terlihat

berlangsung terus, walau diselingi keadaan dimana masyarakat mengadakan

reorganisasi unsur-unsur yang terkena perubahan

Menurut Gillin dan Gillin perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi

cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan keadaan

geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya

difusi maupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Secara singkat Samuel

Koeing mengatakan bahwa perubahan sosial merujuk pada modifikasi-modifikasi

yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi terjadi

karena sebab intern maupun sebab-sebab ekstern.

1. Perubahan sosial di dalam masyarakat meliputi lembaga-lembaga

kemasyarakatan di dalam masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya,


termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok-

kelompok dalam masyarakat. Selain perubahan sosial di dalam masyarakat

juga dapat terjadi perubahan pada aspek ekonomi.

2. Perubahan ekonomi menyangkut pada perekonomian masyarakat yang

berhubungan dengan sistem mata pencaharian masyarakat setempat. Sistem

mata pencaharian masyarakat misalnya pedagang, pegawai negeri, karyawan,

wiraswasta, guru dan masih banyak jenis pekerjaan lain yang dilakukan untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya

2. Jasa Bazis

Zakat tak sekedar dimaknai sebagai sebuah ibadah semata yang diwajibkan

kepada setiap umat Islam bagi yang sudahmemenuhi syarat, akan tetapi lebih dari

pada itu, yakni sebagai sebuah sistem pendistribusian harta benda dikalangan umat

islam, dari si kaya kepada si miskin. Sehingga zakat mampu menghilangkan

kesenjangan sosio-ekonomi masyarakat.

Bagi kebanyakan umat Islam zakat lebih diyakini sebagai pemenuhan kesalehan

individu yang bersifat ubudiyyah daripada perwujudan solidaritas sosial yang lebih

mendasar. Yakni tidak dalam konteks mendistribusikan kekayaan secara adil sehingga

tidak terakumulasi dalam sekelompok orang saja. Pelaksanaan zakat hanya sekedar

memenuhi tuntutan syari’at saja. Akibatnya, potensi zakat yang demikian besar itu

tidak bisa digali dan dikelola dengan baik untuk program pengentasan kemiskinan,

pendidikan dan sebagainya yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Sesungguhnya zakat memiliki dimensi yang sangat luas bagi manusia. Zakat tidak

saja memiliki dimensi ketuhanan tetapi juga memiliki dimensi kemanusiaan yang

sangat kuat. Zakat membuktikan bahwa hubungan kemanusiaan, tolong-menolong

antar sesama manusia dibangun di atas nilai-nilai fondasi ketuhanan. Zakat menjadi
bukti bahwa Islam bukanlah agama yang melupakan kehidupan dunia semata, zakat

adalah pembangun umat manusia.

Menurut terminologi para fuqaha,zakat dimaksudkan sebagai penunaian, yakni

penunaian hak yang wajib yang terdapat dalam harta. Zakat juga dimaksudkan

sebagai bagian harta tertentu dan yang diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada

orang-orang fakir Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa zakat merupakansalah satu

rukun Islam dan juga menjadi kewajiban bagi umat Islam dalam rangka pelaksanaan

dua kalimat syahadat. Dalam Qur’an disebutkan, kata zakat dan shalat selalu

digandengkan disebut sebanyak 82 kali. Ini menunjukkan hukum dasar zakat yang

sangat kuat.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an dalam surat At-Taubah: 103:

“Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya
doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui”.(QS. At-Taubah: 103).

Kewajiban zakat pada dasarnya adalah kewajiban ilahiyah yang pasti dan

perolehan zakat yang dianggap sebagai pemberdayaan dan pengembangan harta

benda sehingga tidak menimbun harta yang mengakibatkan mendapatkan ancaman

dari siksa api neraka bagi penimba harta. Rukun zakat ialah mengeluarkan sebagian

dari nishab (harta) dengan melepaskan kepemilikan terhadapnya, menjadikan sebagai

milik orang fakir dan menyerahkan kepadanya atau harta tersebut diserahkan

Islam mengajarkan beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menangani

masalah kemiskinan, yakni dengan saling tolong-menolong antar manusia melalui

sedekah maupun zakat. Menunaikan zakat merupakan salah satu rukun Islam yang

wajib dilaksanakan setiap muslim. Islam mengajarkan bahwa melalui zakat maka

dapat mengurangi kesenjangan sosial dari ketidakadilan ekonomi yang tercipta di


masyarakat. Konsep zakat dalam Islam menyatakan, terdapat sebagian hak bagi orang

lain terutama hak kaum fakir miskin terhadap orang-orang yang memiliki harta

berlebih. Harta yang dimiliki akan lebih berkah jika sebagian dari harta itudapat

disalurkan baik dengan sedekah maupun zakat. Hal ini tentu sedikit banyak akan

sangat membantu dalam pengentasan kemiskinan. Dilihat dari segi ekonomi, sepintas

zakat merupakan pengeluaran (konsumsi) bagi pemilik harta sehingga kemampuan

ekonomisnya berkurang.

Kaitannya dalam ekonomi Islam, zakat merupakan instrument orisinil dari

sistem ekonomi Islam sebagai salah satu sumber ekonomi Islam yang merupakan

salah satu sumber pendapatan tetap institusi ekonomi Islam. Zakat, Infaq, dan

Sedekah (ZIS) merupakan ibadah yang tidak hanya memiliki nilai ketuhanan saja

tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan yang sangat kuat dan juga harta yang wajib

dikeluarkan oleh orang Islam yang mampu. Zakat juga memiliki manfaat yang

sangat penting dan strategis. Bila dilihat dari sudut pandang ajaran Islam maupun

dari aspek pembangunan kesejahteraan umat. Zakat membuktikan bahwa adanya

hubungan kemanusiaan, dan juga tolong-menolong antar sesama manusia

3. Penyaluran zakat

Pengelolaan zakat yang dilakukan secara optimal dan professional oleh

masyarakat dan pemerintah adalah salah satu instrumen yang digunakan sebagai

sumber dana yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat terutama

untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan sosial. Mengingat

banyaknya warga muslim yang ada di Indonesia, bisa menggambarkan betapa

besarnya potensi zakat yang dikeluarkan oleh masyarakat muslim yang telah

mencapai nishab dan menyalurkan zakatnya pada Lembaga/ Badan Amil Zakat yang

terpercaya.
Negaralah yang memiliki kekuatan besar untuk mewajibkan warganya untuk

mengeluarkan zakat. Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999

tentang Pengelolaan Zakat yang dinilai sudah tidak memadai lagi dengan

perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat, diganti dengan Undang-

Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Di

dalam Pengaturan Pendayagunaan Zakat UU No. 23 Tahun 2011 Pasal 27

disebutkan bahwa, (1) Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam

rangka penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat (2) Pendayagunaan

Zakat untuk usaha produktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila

kebutuhan dasar mustahik telah terpenuhi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai

pendayagunaan zakat untuk usaha produktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

diatur dengan Peraturan Menteri Pasal 27 ini mengatur mengenai pendayagunaan

zakat dimana apabila kebutuhan mustahik telah terpenuhi maka harta zakat dapat

didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka penanganan pengentasan

kemiskinan dan peningkatan kualitas umat. Harta zakat juga dapat didayagunakan

untuk kepentingan publik seperti untuk membangun sarana kesehatan, sepanjang

tidak melanggar ketentuan syariat Islam, dasar hukum dibolehkannya

pendayagunaan harta zakat semacam ini dapat kita temui dalam firman Allah SWT

dalam surat At-Taubah ayat 60:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang


miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Agar dana zakat yang disalurkan itu dapat berdaya guna dan berhasil guna,

maka pemanfaatannya harus selektif untuk kebutuhan konsumtif atau produktif.


Untuk pendayagunaan dana zakat, bentuk inovasi distribusi dikategorikan dalam

empat bentuk berikut:

1. Distribusi bersifat „konsumtif tradisional‟, yaitu zakat dibagikan kepada

mustahik untuk dimanfaatkan secara langsung.

2. Distribusi bersifat „konsumtif kreatif‟, yaitu zakat diwujudkan dalam bentuk

lain dari barangnya semula.

3. Distribusi bersifat „produktif tradisional‟, dimana zakat diberikan dalam bentuk

barang-barang yang produktif.

4. Distribusi dalam bentuk „produktif kreatif‟, yaitu zakat yang diwujudkan dalam

bentuk permodalan

Pola distribusi lainnya yang sangat menarik untuk segera dikembangkan adalah

pola menginvestasikan dana zakat. Konsep ini menurut Mufraini belum pernah

dibahas secara mendetail oleh ulama-ulama salaf (terdahulu), dengan begitu konsep

ini masih membuka pintu ijtihad bagi setiap pemikir Islam untuk urun rembuk

mambahas inovasi pola distribusi ini. Pola distribusi produktif sangat efektif untuk

dapat memproyeksikan perubahan seorang mustahik menjadi muzakki, sedangkan

untuk pola mengin vestasikan dana zakat diharapkan dapat efektif memfungsikan

sistem zakat sebagai suatu bentuk jaminan sosio-kultural masyarakat muslim,

terutama untuk kelompok miskin/defisit atau dengan bahasa lain sekuritisasi sosial.

Adapun penyaluran dana zakat secara produktif sebagaimana yang pernah

terjadi pada zaman Rasulullah SAW yang dikemukakan dalam sebuah riwayat Imam

Muslim dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW telah

memberikan kepadanya zakat lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau

disedekahkan lagi. Dalam kaitan dengan pemberian zakat yang bersifat produktif,

terdapat pendapat yang menarik sebagaimana dikemukakan oleh Yusuf al-Qardhawi


dalam Fiqh Zakat bahwa pemerintah Islam diperbolehkan membangun pabrik-pabrik

atau perusahaan-perusahaan dari uang zakat untuk kemudian kepemilikan dan

keuntungannya bagi fakir miskin, sehingga akan terpenuhi kebutuhan hidup mereka

sepanjang masa.Zakat akan mencegah terjadinya akumulasi harta pada satu tangan

dan pada saat yang sama mendorong manusia untuk melakukan investasi dan

mempromosikan distribusi.

Sebagai upaya mencapai tujuan pengelolaan zakat yang terstruktur, dibentuk

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang berkedudukan di ibu kota negara,

BAZNAS provinsi, dan BAZNAS kabupaten/ kota. BAZNAS merupakan lembaga

pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan be rtanggungjawab kepada

Presiden melalui Menteri. BAZNAS merupakan lembaga yang berwenang melakukan

tugas pengelolaan zakat secara nasional yang masa kerjanya 5 tahunan.

D. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui upaya-upaya yang digunakan oleh Badan Amil Zakat

Daerah Kota Ambon dalam pengelolaan dan penyaluran zakat

2. Untuk mengetahui langkah antsipasi Badan Amil Zakat Daerah Kota

Ambon dalam mengoptimalisasikan pengelolaan zakat

2. Kegunaan Penelitian

Sedangkan manfaat dari penelitian ini meliputi dua (2) hal, yaitu:

1. Manfaat Praktis
a. Sebagai salah satu masukan metode penelitian ditinjau dari pelaksanaan,

pengelolaan zakat dan nilai-nilai hukum yang dianggap masyarakat umum

sebagai landasan hukum yang absolute.

b. Sebagai rujukan untuk penelitian lanjutan.

2. Manafaat Teoritis

a. Memberikan sumbangan pengetahuan dan tambahan referensi.

b. Sebagai bahan referensi untuk mengkaji permasalahan yang sama dalam

lingkup yang luas


E. Garis-Garis Besar Isi Skripsi

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang arah dan tujuan penelitian ini

secara garis besar dapat digunakan sistematika penulisan sebagai berikut;

Bab Satu, sebagai pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan

dan batasan masalah, pengertian judul, tinjauan pustaka, tujuan dan kegunaan

penelitian, metode penelitian serta garis-garis besar penelitian.

Bab Dua, tentang tinjauan umum tentang zakat yang terdiri dari pengertian

dan dasar hukum zakat, jenis-jenis harta yang dizakatkan, kedudukan badan amil

zakat, menurut Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2011.

Bab Tiga, menjelaskan tentang pelaksanaan pengelolaan zakat profesi di

YAKESMA Perwakilan Provinsi Maluku, di dalamnya memaparkan tentang sejarah

berdirinya YAKESMA, struktur kepengurusan YAKESMA, program-program kerja

pemberdayaan keumatan, dan pengelolaan zakat profesi di YAKESMA.

Bab Empat, membahas analisis tentang Pelaksanaan Pengelolaan Badan Amil

Zakat dan analisis tentang pelaksanaan pengelolaan Badan Amil Zakat di YAKESMA

Perwakilan Provinsi Maluku.

Bab kelima adalah Kesimpulan dan Saran dan diikuti oleh daftar pustaka serta

lampiran-lampiran.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemasaran

1. Pengertian Pemasaran

Banyak definisi yang dikemukakan oleh pakar pemasaran. Pemasaran,

menurut American Marketing Association (AMA), adalah suatu fungsiorganisasi dan

serangkaian proses untuk menciptakan, mengomunikasikan, dan memberikan nilai

kepada pelanggan untuk mengelola hubunganpelanggan dengan cara yang

menguntungkan organisasinya.9

Miller dan Layton mendefinisikan pemasaran merupakan sistem total aktivitas

bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menetapkan harga, mempromosikan dan

mendistribusikan produk, jasa dan gagasan yang mampu memuaskan keinginan

pasar sasaran dalam rangka mencapai tujuan organisasinya. Miller mengungkapkan

dalam bukunya bahwa pemasaran merupakan sebuah proses sosial dan manajerial

yang dengannya individu-individu dan kelompok-kelompok memeroleh apa yang

mereka butuhkan dan mereka inginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan

produk dan nilai satu sama lain. Sedangkan menurut Mullins, Walker dan Boyd

mendefinisikan pemasaran adalah proses sosial yang mencakup aktivitas-aktivitas

yang diperlukan untuk memungkinkan individu dan organisasi mendapatkan apa yang

mereka butuhkan dan inginkan melalui pertukaran dengan pihak lain dan untuk

mengembangkan relasi pertukaran berkesinambungan.10

Wiliam J. Santon mendefinisikan pemasaran dalam dua pengertian dasar

yaitu: pemasaran adalah setiap kegiatan tukar-menukar yang bertujuan memuaskan

9
Philip Kotler, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008)
10
Fandi Tjiptono, Pemasaran Jasa (Yogyakarta: C.V Andi, 2014)
keinginan manusia. Dalam konteks ini kita perlu melihat dalam wawasan yang lebih

luas, yaitu:

1) siapa yang digolongkan sebagai pemasar, 2) apa yang dipasarkan, dan 3)

siapa target/sasaran pasar. Dalam arti bisnis, pemasaran adalah sebuah sistem dari

kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, memberi harga,

mempromosikan, dan mendistribusikan jasa serta barang-barang pemuas keinginan

pasar.11

Beberapa definisi tentang pemasaran di atas tidak saling bertentangan satu

sama lain. Definisi pemasaran tersebut memiliki sejumlah persamaan dalam hal

esensi, yaitu mencakup aspek-aspek: 1) pihak yang terlibat, yaitu siapa yang

memasarkan (pemasar) dan siapa yang membeli (pasar), 2) kebutuhan dan keinginan

pelanggan, 3) apa yang dipertukarkan yaitu produk fisik dan jasa, dan 4) bagaimana

pertukaran menciptakan nilai, yang menekankan bahwa pelanggan membeli manfaat

(benefits), bukan sekedar produk semata.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa pemasaran adalah proses

penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan memberikan informasi mengenai

barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan

manusia.12

2. Strategi Pemasaran

`Setiap perusahaan mempunyai tujuan untuk dapat bertahan dan berkembang.

Tujuan tersebut dapat dicapai melalui usaha dengan mempertahankan dan

meningkatkan tingkat keuntungan/laba perusahaan. Strategi pemasaran mempunyai

peran penting untuk keberhasilan usaha sebuah perusahaan. Strategi pemasaran

11
Philip Kotler dan Gary Amstrong, Prinsip-Prinsip Pemasaran (Jakarta: Erlangga, 1997)
12
Marius P. Anggora, Dasar-Dasar Pemasaran (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999)
adalah serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah

kepada usaha-usaha pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu sebagai tanggapan

perusahaan dalam meghadapi lingkungan dan keadaan persaingan yang selalu

berubah.13

Menurut Corey, strategi pemasaran terdiri dari lima elemen yang saling

berkait. Kelima elemen tersebut adalah:

a) pemilihan pasar, yaitu memilih pasar yang akan dilayani, b) perencanaan

produk, meliputi produk spesifik yang dijual, pembentukan lini produk, dan desain

penawaran individual pada masing-masing lini. Produk tersebut menawarkan manfaat

yang dapat diperoleh pelanggan dengan melakukan pembelian, c) penetapan harga,

yaitu menetapkan harga yang dapat mencerminkan nilai kuantitatif dari produk

kepada pelanggan, d) sistem distribusi, yaitu saluran perdagangan grosir dan eceran

yang dilalui produk hingga mencapai konsumen akhir dan menggunakannya, e)

komunikasi pemasaran (promosi), yang meliputi periklanan, personal selling,

promosi penjualan, direct marketing dan public relations14.

Dalam melakukan strategi pasar, sebuah perusahaan dapat menggunakan

beberapa analisis tentang pelaksanaan strategi, antara lain:

a. Segmentasi, Targeting, dan Positioning

Sasaran utama proses segmentasi, targeting, dan positioning (STP) adalah

menciptakan dan mempertahankan citra unik merek perusahaan dalam benak

konsumen sedemikian rupa, sehingga merek tersebut memiliki keunggulan kompetitif

berkesinambungan. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam proses STP adalah

melakukan segmentasi pasar.

13
Fandi Tjiptono, Strategi Pemasaran (Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2008)
14
Rhenald Kasali, Membidik Pasar Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia Utama, 2007)
Segmentasi pasar, menurut Wendel R. Smith, adalah pembagian dari pasar

secara keseluruhan dalam kelompok-kelompok sesuai dengan kebutuhan dan ciri-ciri

tertentu. Segmetasi pasar merupakan konsep pokok yang mendasari strategi

pemasaran perusahaan dan alokasi sumber daya yang harus dilakukan dalam

mengimplikasikan progam pemasaran. Dalam kegiatan bisnis segmentasi pasar

digunakan untuk memilih pasar sasaran, mencari peluang, merumuskan pesan-pesan

komunikasi, menganalisis perilaku konsumen, mendesain produk, dan lain sebagainya

Menurut Hermawan Kartajaya, segmentasi memegang peranan penting bagi

perusahaan.15

Pertama, secara umum segmentasi memungkinkan sebuah perusahaan lebih

fokus dalam mengalokasikan sumber daya. Dengan secara kreatif membagi dalam

segmen-segmen pasar. Perusahaan dapat memberikan pelayanan terbaik dan

perusahaan memiliki keunggulan kompetitif yang paling besar. Selain itu, segmentasi

juga memungkinkan perusahaan lebih jelas dalam melihat kompetisi dan menetapkan

posisi pasar. Dengan adanya segmentasi tersebut, perusahaan akan memiliki

kemampuan lebih baik dalam menjalankan strategi dalam persaingan.

Kedua, segmentasi merupakam simpul dari penentuan keseluruhan strategi,

taktik, dan value perusahaan. Segmentasi yang diikuti oleh pemilihan segmen-

segmen yang akan dijadikan target pasar perusahaan menjadi acuan serta alasan

perusahaan untuk menetapkan segmenting, targeting, dan positioning.

Ketiga, bahwa segmentasi dapat menjadi faktor kunci untuk memenangkan

persaingan dengan melihat pasar dari sudut yang unik dan dengan cara yang berbeda

Hermawan Kertajaya, Hermawan Kertajaya Onmarketing (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka


15

Utama, 2004)
dari para pesaingnya. Sesuai dengan namanya, prosedur segmentasi, targetting, dan

positioning (STP) secara rinci meliputi tiga tahap pokok, yaitu:

1. Segmentasi

a) Mensegmen pasar menggunakan variabel-variabel permintaan, seperti

kebutuhan pelanggan, keinginan pelanggan, manfaat yang dicari (benefits

sought), solusi atas masalah yang dihadapi, situasi pemakainan, dan lain-lain.

b) Mendeskripsikan segmen pasar yang diidentifikasi dengan menggunakan

variabel-variabel yang bisa membantu perusahaan memahami cara melayani

kebutuhan pelanggan.

2. Targetting

Mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen dengan menggunakan

variabel-variabel yang dapat mengklasifikasikan kemungkinan permintaan dari setiap

segmen (misalnya, tingkat pertumbuhan segmen bersangkutan), meliputi biaya

melayani setiap segmen (misalnya, biaya distribusi), biaya memproduksi produk dan

jasa yang diinginkan pelanggan (misalnya biaya produksi dan diferensiasi produk),

dan kesesuaian antara kompetensi inti perusahaan dan peluang sasaran.

3. Positioning

Mengidentifikasi konsep positioning yang memungkinkan bagi masing-

masing segmen sasaran, kemudian memilih, mengembangkan, dan

mengomunikasikan konsep positioning yang dipilih.

a. Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

Sebuah perusahaan memutuskan untuk menentukan posisi pasarnya.

Perusahaan siap mulai merencanakan rincian dari bauran pemasaran (marketing mix).

Bauran pemasaran adalah sebuah konsep dari berbagai konsep penting di dalam

pemasaran modern. Marketing mix adalah perangkat variabel-variabel pemasaran


terkontrol yang digabungkan perusahaan untuk menghasilkan tanggapan yang

diinginkan dalam pasar sasaran (target market). Komponen-komponen pokok

marketing mix yang digabungkan oleh perusahaan terdiri dari 4 (empat) variabel

yang dikenal dengan 4P, yaitu:

1) Product (produk)

Produk merupakan bentuk penawaran organisasi jasa yang ditujukan untuk

mencapai tujuan organisasi melalui pemuasan kebutuhan dan keinginan pelanggan.

Dalam konteks ini, produk bisa berupa barang atau jasa yang dapat ditawarkan

kepada pelanggan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tertentu.

2) Price (harga)

Harga mencerminkan sejumlah uang yang harus dibayar oleh konsumen untuk

mendapatkan produk tersebut. Penetapan harga oleh pihak produsen dilakukan dalam

2 (dua) cara, yaitu harga eceran dan harga grosir. Harga yang ditetapkan harus diukur

dengan nilai yang dirasakan dari tawaran tersebut, kalau tidak maka konsumen akan

beralih pada pesaing untuk membeli barang/jasa yang dibutuhkan.

3) Place (tempat)

Keputusan distribusi menyangkut kemudahan akses terhadap jasa bagi para

pelanggan potensial. Keputusan ini meliputi keputusan lokasi fisik (misalnya,

keputusan mengenai di mana sebuah perusahaan harus didirikan), keputusan

mengenai penggunaan perantara untuk meningkatkan aksesibilitas jasa bagi para

pelanggan (misalnya, apakah akan mengunakan jasa agen perjalanan ataukah harus

memasarkan sendiri paket liburan secara langsung kepada konsumen), dan keputusan

non-lokasi yang ditetapkan demi ketersediaan jasa (contohnya, penggunaan telephone

delivery system)
4) Promotion (promosi)

Bauran promosi tradisional meliputi berbagai metode yang akan dilakukan

perusahaan untuk mengomunikasikan manfaat dan keunggulan produk kepada

pelanggan. Konsep bauran pemasaran (marketing mix) yang dipopulerkan oleh

Jerome Mc Carthy merumuskannya menjadi 4P yang dijelaskan di atas menunjukkan

bahwa penerapan 4P terlampau terbatas/sempit untuk bisnis jasa. Dalam

perkembangannya, hal tersebut mendorong banyak pakar pemasaran untuk

mendefinisikan ulang bauran pemasaran sedemikian rupa sehingga lebih aplikatif

untuk sektor jasa. Hasilnya, 4P tradisional diperluas dan ditambahkan empat unsur

lainnya, yaitu people, process, physical evidence, dan customer service.

1) People

Bagi sebagian besar jasa, orang merupakan unsur vital dalam bauran

pemasaran. Dalam industri jasa, setiap orang merupakan part-time marketer yang

tindakan dan perilakunya memiliki dampak langsung pada output yang diterima

pelanggan.

2) Physical Evidence

Karakteristik intangible pada jasa menyebabkan pelanggan potensial tidak

bisa menilai suatu jasa sebelum mengonsumsinya. Ini menyebabkan risiko yang

dipersepsikan konsumen dalam keputusan pembelian semakin besar. Oleh sebab itu,

salah satu unsur penting dalam bauran pemasaran adalah upaya mengurangi tingkat

risiko tersebut dengan jalan menawarkan bukti fisik dari kerakteristik jasa. Bukti fisik

ini bisa dalam berbagai bentuk, misalnya melalui brosur, dan pamflet.
3) Process

Process produksi atau operasi merupakan faktor penting bagi konsumen

high-contact service yang seringkali juga berperan sebagai co-producer jasa yang

bersangkutan.

4) Customer Service

Dalam sektor jasa, layanan pelanggan dapat diartikan sebagai kualitas total jasa yang

dipersepsikan oleh pelanggan. Oleh sebab itu, tanggung jawab atas unsur bauran

pemasaran tidak bisa hanya melibatkan departemen layanan tetapi menjadi juga

perhatian dan tangung jawab semua personal produksi, baik adalah yang dipekerjakan

oleh organisasi jasa maupun oleh pemasok.16

b. Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah analisis kondisi internal maupun eksternal suatu

organisasi yang selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk merancang strategi

dan program kerja. Analisis internal meliputi penilaian terhadap faktor kekuatan

(strength) dan kelemahan (weakness). Sementara, analisis eksternal meliputi faktor

peluang (opportunity) dan ancaman (threaths). Alasan ini didasarkan pada logika

yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunity), namun

secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman

(threaths). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan

pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan.17

Metode SWOT ini penting untuk melatih daya analisis perusahaan dalam

mengidentifikasi masalah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta menemukan

pemecahan/solusi.

16
Philip Kotler dan Gary Amstrong, Prinsip-Prinsip Pemasaran
17
Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2006)
1) Analisis Lingkungan Eksternal (Analisis Peluang dan Ancaman)

Tujuan utama pengamatan lingkungan adalah melihat peluang pemasaran

baru. Dalam banyak hal, pemasaran yang baik adalah seni menemukan

mengembangkan, dan mendapatkan laba dari peluang. Peluang pemasaran adalah

wilayah kebutuhan atau potensi permintaan pembeli dimana perusahaan mendapatkan

keuntungan.Beberapa perkembangan di lingkungan ekternal merupakan ancaman.

Ancaman lingkungan adalah tantangan akibat kecenderungan atau perkembangan

yang kurang menguntungkan, yang akan mengurangi penjualan dan laba jika tidak

dilakukan tindakan pemasaran defensife.18

2) Analisis Lingkungan Internal (Analisis Kekuatan dan Kelemahan)

Selain mengetahui peluang dan ancaman di lingkungan, perusahaan perlu juga

memiliki keahlian yang dibutuhan untuk berhasil memanfatkan peluang tersebut.

Setiap perusahaan harus mengevaluasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

3. Komunikator dalam Pemasaran

Dalam melakukan pemasaran maka perlu adanya komunikator yang

profesional. Komunikator harus menyusun pesan yang efektif sehingga pesan itu

mendapat perhatian, menarik konsumen, membangkitkan keinginan, dan

menghasilkan tindakan. Ada tiga jenis himbauan yang dilakukan oleh komunikator

untuk menghasilkan tanggapan yang diinginkan

a. Himbauan Rasional

Himbauan ini berkaitan dengan kepentingan masyarakat sendiri. Himbauan ini

menunjukkan bahwa produk itu menghasilkan manfaat-manfaat yang

diinginkan.

b. Himbauan Emosional
18
M. Fathur Rohman, Teknik Analisis Manajemen SWOT (Malang: AFJ. Mobicons, 2012)
Himbauan ini untuk menggerakkan emosi, baik yang positif maupun yang

negatif untuk merangsang pembelian. Para komunikator telah menggunakan

himbauan yang membangkitkan rasa takut dan bersalah, serta malu supaya

orang-orang melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Contohnya,

menyikat gigi, melakukan pemeriksaan kesehatan setiap tahun.

c. Himbauan Moral

Himbauan ini ditunjukkan kepada masyarakat untuk memberitahukan tentang

apa yang baik dan benar. Contonya, seruan Gerakan Pengumpul Dana bagi

anak-anak cacat.

4. Saluran Komunikasi Pemasaran

Setelah pesan dan pembawa pesan telah dipilih kita harus memilih media

pemasaran yang tepat untuk perusahaan kita. Dalam penyampaian tersebut perusahaan

bisa memilih iklan sebagai solusinya.19 Periklanan dapat digunakan dalam jangka

panjang untuk membangun gambaran organisasi yang diinginkan atau dalam jangka

pendek untuk memicu respons yang cepat. Selain itu periklanan juga sebagai alat

komunikasi yang paling mampu mencapai audiens yang besar.

Ada beberapa cara untuk menampilkan pesan di media untuk mengomunikasi

secara efektif kepada masyarakat, meliputi:

a. Periklanan. Dalam periklanan ini ada dua alternatif untuk berkomunikasi

secara efektif dengan masyarakat, pertama melalui siaran berupa televisi

dan radio. Kedua melalui media cetak, berupa koran, majalah, iklan pada

internet/situs

b. Publik Relation, komunikasi dengan masyarakat dalam publik relation

dapat melalui cerita di televisi atau radio, artikel di majalah dan Koran,

tajuk opini, dan video.


19
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Indeks, 2009)
c. Event khusus, melalui rapat komunitas, demonstrasi, pameran dan tur.

d. Pemasaran langsung, melalui surat, internet/email, telemarketing, dan

katalog.

e. Materi cetak, melalui formulir, brosur, kalender, poster, amplop, booklet,

stiker, dan gantungan pintu.

f. Barang-brang promosi khusus seperti pakaian (t-shirt, topi baseball, kain

alas dada), barang-barang fungsional (gantungan kunci, senter, botol air,

pulpen dan pensil, pembatas buku, sampul buku, notepad, tas, mascot, dan

tempat handpone).

g. Tanda dan diplay, melalui tanda jalan, tanda dan poster di properti

pemerintah atau property yang diatur undang-undang pemerintah.

h. Saluran komunikasi pribadi, melalui pertemuan dan presentasi tatap

muka, workshop, seminar, sesi latihan, dari mulut ke mulut.

i. Media popular, melalui seni masyarakat, lagu, program radio, buku komik

dan strip komik.

B. Manajemen Zakat

1. Pengertian Zakat

Zakat ditinjau dari segi bahasa (lughah) memiliki beberapa arti, yaitu

keberkahan (al-barakah), pertumbuhan dan perkembangan (al-nama) kesucian (al-

taharah) dan keberesan (al-salah). Dinamakan zakat karena zakat dapat

mengembangkan harta yang telah dikeluarkan zakatnya dan menjauhkannya dari

segala kerusakan sebagaimana yang dikatakan Ibnu Taimah ‚diri dan harta orang yang

mengeluarkan zakat menjadi suci dan bersih serta hartanya berkembang secara

maknawi‛20
20
Ismail Nawawi, Zakat dalam Perspektif Fiqh, Sosial, dan Ekonomi (Surabaya: Putra Media
Nusantara, 2010)
Zakat ditinjau dari syara’ yaitu sebagian harta yang telah diwajibkan Allah

swt. untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya sebagaimana

yang telah dinyatakan dalam Al Quran.

Dari definisi yang telah dikemukakan di atas, pada dasarnya zakat mempunyai

pengertian yang sama yaitu pengelolaan sejumlah harta yang diambil dari orang yang

wajib membayar zakat (muzaki) untuk diberikan kepada mereka yang berhak

menerimanya (mustahik).21

2. Manajemen Zakat

Kathryn M. Bartol dan David C. Marten dalam Kadarman dan Yusuf Udaya

mengemukakan bahwa manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan organisasi

dengan penerapan kegiatan dari empat fungsi utama, yaitu: perencanaan (planing),

pengorganisasian (organnizing), memimpin pelaksanaan kegiatan (leading/actuating),

dan pengawasan (controlling). Dengan demikian, manajemen zakat merupakan suatu

kegiatan yang berkesinambungan. Melalui proses dan sistem yang mengubah berbagai

sumber daya (manusia, material, mesin, metode, uang, waktu, informasi, pasar, dan

modal) dalam suatu ruang usaha zakat yang berguna bagi kemanusiaan. Penerapan

manajemen zakat mencakup hal-hal sebagai berikut:22

a. Mengordinasikan sumber daya manusia, material, dan metode ke arah

tercapainya pengorganisasian zakat secara efektif dan efisien.

b. Menghubungkan organisasi dengan lingkungan luar dan menanggapi

kebutuhan, tuntutan masyarakat, dan lingkungannya.

c. Mengembangkan ilmu organisasi zakat dimana orang dapat mengejar

sasaran perseorangan (individual) dan sarana bersama (collective) sesuai

dengan niai-nilai Islam.


21
Syaikh Muhammad Abdul Malik Ar-Rahman, Zakat 1001 Masalah dan Solusinya (Jakarta:
Lintas Pustaka, 2003)
22
Ismail Nawawi Uha, Manajemen Zakat dan Waqaf (Jakarta: Viv Pres, 2013
d. Melaksanakan fungsi sosial dan keagamaan yang dapat ditetapkan seperti

menentukan sasaran, merencanakan, mendesain sumber daya,

mengorganisisasi, melaksanakan, dan mengawasi pengelolaan zakat.

e. Melaksanakan berbagai peranan antarpribadi informasional dan

memutuskan penggalian sumber zakat, distribusi, dan pengembangan

zakat secara produktif.

2. Tujuan Zakat

Secara umum zakat bertujuan untuk menata hubungan dua arah yaitu

hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama

manusia.23 Artinya secara vertikal, zakat sebagai ibadah dan wujud ketakwaan dan

kesyukuran seorang hamba kepada Allah atas nikmat berupa harta yang diberikan

Allah kepadanya serta untuk membersihkan, mensucikan diri dan hartanya itu.

Dalam konteks inilah zakat bertujuan untuk menata hubungan seorang hamba

dengan tuhannya sebagai pemberi rezeki. Sedangkan secara horizontal zakat

bertujuan mewujudkan rasa keadilan sosial dan kasih sayang diantara pihak yang

berkemampuan dengan pihak yang tidak mampu dan dapat memperkecil problema

dan kesenjangan sosial serta ekonomi umat.

Dalam konteks ini dapat mewujudkan pemerataan dan keadilan sosial

diantara sesama manusia. Disamping itu, zakat zakat juga menciptakan

pertumbuhan untuk orang-orang miskin, jika zakat dikembangkan pada bentuk

usaha, peningkatan ekonomi, dalam waktu tertentu pnerima zakat bukan hanya

menerima yang sifatnya konsumtif akan tetapi bersifat produktif, inshaalloh bisa

jadi semula mereka miskin kemudian berubah status menjadi orang yang mampu

dan bahkan harus mengeluarkan zakat.24


23
Arief Mufraini, Akuntansi dan Manajemen Zakat (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2008)
24
Orang-orang atau golongan yang berhak menerima zakat diatur dalam al-Qur’an surat
3. Jenis-Jenis harta yang wajib dizakati

Dalam fiqih Islam harta kekayaan yang wajib dizakati digolongkan dalam

beberapa kategori dan masing-masing kelompok berbeda nishab, haul dan kadar

zakatnya, yakni sebagai berikut:

a. Emas dan perak

Emas dan perak termasuk logam mulia yakni merupan kantambang

elok yang dijadikan perhiasan dan dijadikanmata uang yang berlaku dari

waktu ke waktu.

b. Hasil pertanian

Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang

bernilai ekonomis seperti biji-bijian,umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-

buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, daun-daunan, dan sebagainya.

c. Hasil peternakan

Yakni hewan ternak yang dipelihara selama setahun dan tidak di

pekerjakan sebagai tenaga pengangkutan. Meliputi hewan besar (unta, sapi,

kerbau), hewan kecil (kambing, domba) dan unggas (ayam, itik, burung).

d. Harta perniagaan

Harta perniagaan adalah semua yang dapat diperjual-belikan untuk

meraih keuntungan dari berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat,

pakaian, makanan, perhiasan, dll.

e. Hasil tambang dan barang temuan

Ma'din(hasil tambang) adalah benda-benda yang terdapat di dalam perut

bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah, tembaga,

marmer, giok, minyak bumi, batu-bara dan sebagainya.

al-Taubah ayat 60.


Rikaz(barang temuan) adalah harta yang terpendam di dalam tanah dari

zaman dahulu atau biasa disebut dengan harta karun. Termasuk didalamnya

harta atau barang yang ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai

pemiliknya.

f. Kekayaan yang bersifat umum.

Termasuk zakat profesi, saham, obligasi, rezeki takterduga, undian, dan

sebagainya

Amil, Muzakki dan Mustahiq Zakat

1. Amil Zakat:

Amil yaitu orang-orang atau lembaga yang melaksanakan segala kegiatan terkait

urusan zakat, mulai dari mengumpulkan, mencatat, dan mendistribusikannya.25

Amil harus memenuhi syarat-syarat yakni:26

a. Seorang muslim

b. Mukalaf

c. Jujur

d. Memahami hukum zakat

e. Mammpu melaksanakan tugas

f. Ulama Fiqh sepakat menyatakan bahwa hamba sahaya tidak boleh menjadi

amil zakat karena mereka tidak memiliki ahliyyah al -ada’ al-tammah

(kecakapan bertindak secara penuh), tetapi Ibn Hajib, tokoh mazhab

Maliki mengatakan bahwa dalam persoalan amil zakat, status budak dan

orang merdeka sama saja, sebab budak pun bisa menyelesaikan tugas ini.

25
Rozalinda, Ekonomi Islam Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi, (Yogyakarta)
h.262
26
Abd. Khalik Latuconsina, Zakat dan Pengelolaannya, (Yogyakarta: Aynat Publishing,
2014), Cet.I, h.80-81
g. Sebagian ulama Fiqh mensyaratkan amil zalat adalah seorang laki2.

Pendapat ini didasarkan pada hadits yang menyatakan kegagalan suatu

urusan jika dilakukan oleh perempuan. Namun sebenarnya hadits itu tidak

ada kaitannya dengan tugas amil zakat.

2. Muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat):

Muzakki adalah seorang muslim atau badan usahayang berkewajiban

menunaikan zakat.27 Sementara menurut UU No.38 tahun 1999 tentang

pengelolaan zakat, muzakki adalah orang atau badan yang dimiliki oleh orang

Muslim yang bekewajiban menunaikan zakat

Seluruh ahli fiqih sepakat bahwa setiap muslim, merdeka, baligh dan

berakal wajib menunaikan zakat. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang

orang yang belum baligh dan gila. Menurut mazhab imamiyah, harta orang gila,

anak-anak, dan budak tidak wajib dizakati, dan baru wajib dizakati ketika

pemiliknya sudah baligh, berakal, dan meredeka.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Mazhab Hanafi, tetapi Hanafi

tidak memberlakukan berakal dan baligh pada zakat tanaman dan buah-buahan.

Menurut Mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali berakal dan baligh tidak dijadikan

syarat bagi diwajibkannya zakat. Oleh sebab itu, harta orang gila dan anak-anak

wajib dizakati oleh walinya.

Syarat-syarat bagi orang yang wajib zakat adalah:

a. Islam

b. Merdeka

27
UU RI No.23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, Pasal 1 (ayat 5)
c. Memiliki nishab, yaitu kelebihan harta milik yang digunakan untuk

mencukupi kebutuhan pokok (primer) seperti pangan, sandang, papan,

kendaraan dan perabot rumah tangga lainnya

d. Sempurnanya haul (waktu nishab) hartanya, kecuali biji-bijian dan buahan-

buahan karena tidak disyarat-kan sempurnanya waktu.

e. Terhindarnya harta zakat dari hutang, baik seluruhnya maupun sebagian

besarnya dan tidak sedang diper-sengketakan.

3. Mustahiq (penerima zakat):

Mustahiq adalah orang yang berhak menerima zakat.28Adapun obyek-

obyek zakat dan pembelanjaannya, semuanya telah ditentukan dengan batasan

yang jelas, sehingga zakat tersebut tidak akan diserahkan kepada selain delapan

ashnaf , yang telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dalam surat At-

Taubah: 60:

‫ب‬ ُ َ‫ص َد ٰق‬


ِ ‫ا‬UUَ‫وبُهُمۡ َوفِي ٱلرِّ ق‬UUُ‫ت لِ ۡلفُقَ َرٓا ِء َو ۡٱل َم ٰ َس ِكي ِن َو ۡٱل ٰ َع ِملِينَ َعلَ ۡيهَا َو ۡٱل ُم َؤلَّفَ ِة قُل‬ َّ ‫إِنَّ َما ٱل‬
٦٠ ‫يم‬ٞ ‫ض ٗة ِّمنَ ٱهَّلل ۗ ِ َوٱهَّلل ُ َعلِي ٌم َح ِك‬ َ ‫يل فَ ِري‬ِ ۖ ِ‫َو ۡٱل ٰ َغ ِر ِمينَ َوفِي َسبِي ِل ٱهَّلل ِ َو ۡٱب ِن ٱل َّسب‬
Terjemahnya:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,
orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang
dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang
berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”29

Berikut ini akan diuraikan bagaimana batasan dari masing-masing

mustahiq zakat tersebut.

1. Fakir, berupa yaitu orang yang tidak memiliki harta dan tidak memiliki

harta dan tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang dapat memenuhi
28
Ibid, Pasal 1( ayat 6)
29
Departemen Agama RI, Qur’an Tajwid dan Terjemah, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2006),
h.196
kebutuhan pokok diri dan keluarga pangan, pakaian, dan perumahan. Allah

berfirman di dalam Q.S. Al-Balad: 16:

١٦ ‫أَ ۡو ِم ۡس ِك ٗينا َذا َم ۡت َربَ ٖة‬

Terjemahnya:

“Atau orang-orang miskin yang sangat fakir”.

2. Miskin, yaitu orang yang memiliki pekerjaan atau usaha tapi

penghasilannya hanya mampu menutupi sebagian hidup diri maupun

keluarganya.

3. Amil, yaitu orang-orang lembaga yang melaksanakan segala kegiatan

terkait urusan zakat, mulai dari mengumpulkan, mencatat, dan

mendistribusikannya.

4. Muallaf, yaitu mereka yang diharapkan kecenderungan hatinya atau

keyakinannya dapat bertambah terhadap islam, terhalangnya niat jahat

mereka atas kaum muslimin, atau harapan akan adanya manfaat mereka

dalam membela dan menolong kaum muslimin dari musuh.

5. Riqab, yaitu hamba mukatab (hamba yang dijanjikan akan dimerdekakan

tuannya dengan membayar sejumlah uang) yang Muslim tidak mempunyai

uang untuk menebus kemerdekannya. Dan kelompok riqab ini sekarang

tidak ada.

6. Gharimin, yaitu orang yang berutang dan tidak mampu untuk

melunasinya.

7. Fi sabilillah. Secara bahasa fi sabilillah berarti di jalan Allah. Ibn Arabi

dalam Ahkam Al-Qur’an menjelaskan makna sabilillah adalah tentara yang


berperang. Imam Nawawi menyatakan makna sabilillah adalah para

sukarelawan yang tidak dapat tunjangan tetap dari pemerintah.

8. Ibn Sabil, yaitu orang yang menempuh perjalanan jauh yang sudah tidak

punya harta lagi. Perjalanan yang dimaksudkan adalah perjalanan dalam

rangka ketaatan kepada Allah bukan untuk maksiat.

Secara umum aktivitas manajemen dalam organisasi diarahkan untuk

mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Manajemen adalah proses

bekerja sama antara individu dan kelompok serta sumber daya lainnya dalam

mencapai tujuan, organisasi adalah sebagai aktivitas manajemen. Dengan kata lain,

aktivitas manajerial hanya ditemukan dalam wadah sebuah organisasi, baik organisasi

bisnis, sekolah dan juga lainnya.30

Kathryn M. Bartol dan David C. Marten sebagaimana yang dikutip oleh

Kadarman dan Yusuf Udaya mengemukakan bahwa manajemen adalah proses untuk

mencapai tujuan organisasi dengan penerapan kegiatan dari empat fungsi utama,

yaitu: perencanaan (planing), pengorganisasian (organnizing), memimpin

pelaksanaan kegiatan (leading/actuating), dan pengawasan (controlling).

Manajemen berhubungan dengan semua aktivitas organisasi dan dilaksanakan

pada semua level organisasi. Karena itu manajemen bukan merupakan sesuatu yang

terpisah atau pengurangan fungsi suatu organisasi tidak hanya memiliki mengelola

satu bidang tetapi juga sangat luas sebagai contoh: bidang produksi, pemasaran,

keuangan atau personil. Dalam hal ini manajemen suatu proses umum terhadap semua

fungsi lain yang dilaksanakan dalam organisasi. Tegasnya manajemen adalah suatu

perpaduan aktivitas.31

30
Muhammad Muflih, Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ikmu Ekonomi Islam, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2006
31
Didin Hafidhuddin dan Heri Tanjung, Manajemen Syari’ah dalam Praktek, (Jakarta:
Gema Insani Press, 2003)
Fungsi manajemen dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni planning

(perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan), dan

controlling (pengawasan). Yaitu:

a. Planning (Perencanaan)

Planning (perencanaan) ialah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan

oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan.Planning mencakup

kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk dalam pemilihan alternatif-

alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi

dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan

untuk masa mendatang.32

b. Organizing (Pengorganisasian)

Organizing berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat,

yaitu proses pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan

dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer. Pengorganisasian

mempersatukan sumber-sumber daya pokok dengan cara yang teratur dan

mengatur orang-orang dalam pola yang demikian rupa, hingga mereka dapat

melaksanakan aktivitas-aktivitas guna mencapai tujuan-tujuan yang

ditetapkan. Pengorganisasi adalah proses dan rangkaian kegiatan dalam

pembagian pekerjaan yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota

kelompok pekerjaan, penentuan hubungan pekerjaan yang baik diantara

mereka, serta pemeliharaan lingkungan dan fasilitas pekerjaan yang pantas.

c. Actuating (Penggerakan)

Penggerakan adalah satu usaha untuk menggerakan anggota-anggota

kelompok demikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk

mencapai sasaran-sasaran perusahaan yang bersangkutan dan sasaran-sasaran


32
Sukarna, Dasar-dasar Manajemen (Bandung: Mandar Maju, 1992)
anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu ingin

mencapai sasaran-sasaran tersebut. Menggerakan berhubungan erat dengan

sumber daya manusia yang pada akhirnya merupakan pusat sekitar apa

aktivitas-aktivitas manajemen berputar. Nilai-nilai, sikap, harapan, kebutuhan,

ambisi, harapan, pemuasan seseorang dan interaksinya dengan orang-orang

lain dan dengan lingkungan fisik kesemuanya bertautan dengan proses

menggerakan.33

d. Controling (Pengawasan)

Pengawasan adalah suatu kegiatan untuk mencocokkan apakah kegiatan

operasional (actuating) di lapangan sesuai dengan rencana (planning) yang

telah ditetapkan dalam mencapai tujuan (goal) dari organisasi, Dengan

demikian yang menjadi obyek dari kegiatan pengawasan adalah mengenai

kesalahan, penyimpangan, cacat dan hal-hal yang bersifat negatif. Sebutan

controlling lebih banyak digunakan karena lebih mengandung konotasi yang

mencakup penetapan standar, pengukuran kegiatan, dan pengambilan tindakan

korektif.

Pengelolaan zakat memerlukan persiapan dan perencanaan yang

matang. Semua aktifitas dan faktor-faktor terkait dengan aktifitas tersebut

mesti terencana, terorganisir, bahkan terkontrol dan dievaluasi tingkat

capaiannya. Hal ini diperlukan agar pengelolaan zakat dapat dilakukan secara

efektif dan efisien. Selain itu sudah barang tentu ‘amil zakat juga memiliki

berbagai hal yang dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana sebuah lembaga

pada umumnya, seperti dokumen dan data atau pembukuan yang rinci

mengenai jumlah dana zakat yang diterima, para muzakki (orang yang

33
Fakhruddin, Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia (Malang: UIN-Malang Press,
2008)
membayar zakatnya), para mustahik, digunakan untuk apa saja, dan

sebagainya, sehingga data-data yang dimiliki itu akurat dan transparan.34

Dalam konteks pengelolaan zakat, tujuan zakat akan tercapai manakala

zakat dikelola secara baik berdasarkan prinsip-prinsip manajemen. Dengan

kata lain, manajemen zakat merupakan perantara bagi tercapainya

kesempurnaan pelaksanaan zakat.Oleh karena itu, dalam pengumpulan zakat

mestinya didasarkan pada prinsip-prinsip manajemen. Tahapan pelaksanaan

manajemen zakat dan infaq antara lain perencanaan, organisir, penerapan dan

evaluasi.

Undang - undang No. 23 tahun 2011 pasal (1) satu ayat (1)

satumemaknai pengelolaan zakat sebagai kegiatan perencanaan, pelaksanaan,

dan pengorganisasian dalam pengumpulan, pendistribusian dan

pendayagunaan zakat. mengacu pada terminologi kegiatan perencanaan,

pelaksanaan, dan pengorganisasian dalam pengumpulan, pendistribusian dan

pendayagunaan zakat tersebut, ruang lingkup kegiatan ini dapat dikembangkan

dan diperluas pada beberapa langkah dan fase berikut ini:35

1) Perencanaan pengelolaan dana ZIS

Dalam kegiatan ini, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain

yaitu;

Pertama, perencanaan strategi kelembagaan. Perencanaan adalah pemilihan

sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya terhadap apa yang harus dilakukan,

kapan, bagaimana, dan oleh siapa. Oleh karena itu, dalam melakukan perencanaan,

setidaknya harus ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, di antaranya; hasil yang

ingin dicapai, apa yang akan dilakukan, kapan waktu dan skala prioritasnya serta
34
Fakhruddin, Fiqh dan Manajemen Zakat
35
Definisi yang sama juga terdapat pada BAB (1) satu, pasal (1) satu, ayat (1) satu peraturan
pemerintah No 14 tahun 2014 tentang pelaksanaan UU No 23 tahun 2011.
berapa jumlah dana (kapital) yang dibutuhkan. Dengan demikian, perencanaan

dengan segala variasinya ditujukan untuk membantu mencapai tujuan suatu lembaga

atau organisasi. Hal tersebut merupakan prinsip yang penting, karena perencanaan

harus mendukung fungsi manajemen36

Adapun prinsip-prinsip perencanaan yang harus diperhatikan antara lain yaitu:

a. Prinsip membantu tercapainya tujuan setiap perencanaan dan segala

perubahannya yang harus ditujukan kepada tercapainya tujuan;

b. Prinsip efisiensi dari perencanaan agar dapat mencapai tujuan dengan biaya

yang sekecil-kecilnya;

c. Prinsip pengutamaan, pemerataan, dan patokan dalam perencanaan;

d. Prinsip kebijakan pola kerja;

e. Prinsip waktu yang efektif dan seeffesien mungkin;

f. Prinsip tata hubungan perencanaan;

g. Prinsip alternatif pada setiap rangkaian kerja dan perencanaannya;

h. Prinsip keterikatan dengan memperhitungkan jangka waktu;

i. Prinsip ketepatan arah dengan pengamatan yang terus menerus terhadap

kejadian-kejadian yang timbul

j. dalam pelaksanaan dan

k. Prinsip perencanaan strategis dengan memilih tindakantindakan yang

diperlukan agar tetap efektif.37

Kedua, perencanaan tujuan kelembagaan. Tujuan merupakan suatu harapan

yang harus dicapai. Dalam pengelolaan zakat, setidaknya ada empat tujuan yang

hendak direalisasikan, yaitu:

a. Kemudahan Muzakki menunaikan kewajiban berzakat


36
Sofjan Assauri, Strategic Marketing Sustaining Lifetime Customer Value, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2012)
37
Philip Kotler & Gary Armstrong, Prinsip-prinsip Pemasaran, (Jakarta: Erlangga, 1997)
b. Menyalurkan zakat kepada Mustahiq Zakat

c. Memprofesionalkan organisasi zakat dan

d. Terwujudnya kesejahteraan sosisal.

C. Marketing Zakat

Marketing merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu lembaga, dimana

marketing bukan hanya prinsip mengenai bagaimana untuk menawarkan saja, tetapi

bagaimana memberikan kepuasan kepada pelanggan atau donatur.38

Banyak definisi yang dikemukakan oleh pakar marketing atau pemasaran.

Pemasaran, menurut American Marketing Association (AMA), adalah suatu fungsi

organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengomunikasikan, dan

memberikan nilai kepada pelanggan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan

cara yang menguntungkan organisasinya. Miller dan Layton Sebagaimana yang

dikutip oleh Philip Kotler mendefinisikan pemasaran merupakan sistem total aktivitas

bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menetapkan harga, mempromosikan dan

mendistribusikan produk, jasa dan gagasan yang mampu memuaskan keinginan pasar

sasaran dalam

Wiliam J. Santo sebagaimana diutip oleh Marius P. Anggora mendefinisikan

pemasaran dalam dua pengertian dasar yaitu: dalam arti angka mencapai tujuan

organisasinya. kemasyarakatan, pemasaran adalah setiap kegiatan tukar-menukar yang

bertujuan memuaskan keinginan manusia. Dalam konteks ini kita perlu melihat dalam

wawasan yang lebih luas, yaitu: 1) siapa yang digolongkan sebagai pemasar; 2) apa

yang dipasarkan; dan 3) siapa target/sasaran pasar. Dalam arti bisnis, pemasaran

adalah sebuah sistem dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan,

memberi harga, mempromosikan, dan mendistribusikan jasa serta barang-barang

38
Ibid.
pemuas keinginan pasar Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa pemasaran adalah

proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan memberikan informasi

mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan

keinginan manusia.

D. Penelitian Terdahulu

Untuk menunjang dalam mengkaji dan menganalisa “Analisis Faktor-faktor

Yang Mempengaruhi Masyarakat Dalam Menggunakan Jasa Basis Dan Penyaluran

Zakat Di Kota Ambon”. Agar sesuai dengan maksud dan tujuan yang di inginkan

maka penulis mengambil dan menelah dari buku-buku atau kajian-kajian

terdahulu lainnya yang membahas tentang Proses Pelaksanaan zakat diantaranya

adalah:

Skripsi M.Abdul Rouf “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat

masyarakat dalam membayar zakat di Rumah Cabang Semarang” peelitian tersebut

bertujuan untuk mengetahui faktor yang di pertimbangkan oleh muzakki dalam

membayar zakat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor dan analisis

regresi. Berdasarkan hasli penelitian tersebut diketahui beberapa faktor yaitu

releguistis, kepercayaan, dan pendapatan serta mempunyai pengaruh positif dan

signifikan. faktor dominannya adalah faktor releguistitas. perbedaan penelitian dengan

penelitian ini terletak pada penelitian tesebut menggunakan dua teknik analisis,

sedangkan penelitian ini hanya menggunakan analisis faktor saja.

Skripsi Abdul Hafiz Daulay “Analisis faktor-faktor penyebab keengangan

masyarakat masyarakat membayar zakat melalui instansi BAZIS/LAZ di Kota Medan.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi

pembayaran zakat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor.

berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui beberapa faktor religuisitas. Perbedaan


penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada pada penelitian tersebut

menggunakan lima faktor yang diteliti, sedangangkan pada penelitian ini hanya

mengunakan tiga faktor saja yaitu faktor relegiusitas, faktor kepercayaan dan faktor

pendapatan.

Skripsi Ngain Naini “ Faktor-faktor yang mempengaruhi muzaki dalam

membayarzakat” ibadah maaliyah ijtima iyyah yang memiliki posisi sangat penting,

strategis dan menentukan, baik dilihat dari sisi ajaran islam maupun dari sisi

pembangunan kesejateraan umat.

Skripsi Tengku Savina Goldia ” Analisi Faktor-faktor yang mempengaruhi

masyarakat menggunakan jasa baznas dalam penyaluran zakat (studi muzaki tanjung

murawa)” penelitian ini dilakukan karena rendanya keputusan muzaki memberikan

zakatnya melalui badan amil zakat nasional (BAZNAS) deli serdang dengan tujuan

untuk mengetahui pengaruh variabel religiusitas

Perbedaan dalam penelitian ini adalah, dalam penelitian ini penulis membatasi

hanya pada Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Dalam

Menggunakan Jasa Basis Dan Penyaluran Zakat Di Kota Ambon. Agar dalam

penelitian ini tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda, maka penulis

membatasi hanya pada masala tersebut.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan lapangan

(Library reseach) penelitian lapangan dilakukan untuk pengamatan langsung

dilapangan untuk memperoleh data yang diperuntukan. Metode kepustakaan

dilakukan untuk mencari data melalui buku buku sebagai literatur yang terkumpul

dengan persoalan yang dibahas, seperti karya tulis skripsi, buku-buku serta bahan

bahan lainya yang dapat mendukung judul skripsi ini. Adapun metode yang dipakai

adalah metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data

deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang orang dan perilaku yang dapat

diamati.39

Sifat penulisan ini adalah analisis Deskriptif adalah metode pengkajian data

secara sistematis sehingga dapat dengan mudah dipahami dan disimpulkan. Sedangkan

analisis adalah mengurai sesuatu dengan tepat dan terarah.40

B. Tipe Penilitian

metode yang digunakan oleh peneliti adalah deskriptif analisis yang berusaha

memberikan pemecahan masalah dengan cara mengumpulkan data, menyusun,

mengklasifikasikan, menganalisa, mengevaluasi, dan menginprestasikannya.

Sesuai dengan jenis penelitian, maka pengumpulan data penulis menggunakan

metode dokumentasi berasal dari kata dokumen, Metode dokumentasi berarti cara

39
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Cet-X (Bandung: Remaja Rosdakarya
2005),H.4
40
S Misbeth, J. dan J. Watt, Studi Kasus Sebuah Panduan praktiis (Gramedia Widia
Sarana
Indonesia, Jakarta, 1994) h.47
mengumpulkan data dengan mencatat data data yang sudah ada41 data yang menjadi

objek penelitian ini adalah proses pengelolaan zakat pada YAKESMA Desa Batu

Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon Provinsi Maluku.

Dengan mengadakan penelitian lapangan atau dokumentasi yang perlu

diperhatikan:

1. Authentisitas (keaslian) data, yaitu harus di periksa secara kritis sebelum

dipergunakan dalam penelitian yang dilakukan sendiri.

2. Apabila tidak ada penjelsan,sulit untuk mengetahui metode yang dipergunakan

dalam pengumpulan dan pengelola data.

3. Dalam penelitian lapangan kerapkali kesulitan untuk mengetahui secara pasti

lokasi terkumpulnya tersebut.

data deskriptif berupa kata kata tertulis atau lisan dari orang orang dan perilaku

yang dapat diamati.42

C. Metode Penelitian

penyusun menggunakan metode berfikir deduktif. Deduktif yaitu pengambilan

kesimpulan dari yang berbentuk umum ke bentuk khusus. Pendekatan yang digunakan

oleh peneliti adalah deskripti analisis yang berusaha memberikan pemecahan masalah

dengan cara mengumpulkan data, menyusun, mengklasifikasikan, menganalisa,

mengevaluasi, dan menginprestasikannya.

D. Sumber Data

a. Data;

Data yang menjadi objek penelitian ini adalah proses pengelolaan zakat pada

YAKESMA Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon Provinsi Maluku.

41
Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan.(Surabaya:SIC,2010), H.130
42
Lexy J. Moleong, Metode PenelitianKualitatif, Cet-X (Bandung: Remaja Rosdakarya
2005),H.4
Maupun yang berhubungan dengan persoalan yang dibahas, yang bisa dijadikan

sebagai bahan literatur.

b. Sumber Data;

Data yang dibutuhkan tersebut tentu ada pada pelaksanaan pengelolaan zakat pada

YAKESMA Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon Provinsi Maluku,

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber yaitu:

1.) Sumber primer yaitu berupa dokumen, buku buku fiqh yang menyangkut

persoalan yang dibahas.

2.) Sumber sekunder yaitu karya tulis yang berupa karya tulis berupa, jurnal, buku-

buku dan lainya.

E. Pengumpulan Data

Mengingat pelaksaan ini ada pada YAKESMA maka untuk memperoleh data

tersebut, (akan) digunakan dua teknik yaitu :

a. Observasi

Dalam observasi nanti, akan dilakukan kegiatan pemantauan terhadap proses

pengelolaan zakat pada YAKESMA Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau.

b. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam adalah percakapan dengan maksud tertentu.Percakapan

itu dilakukan oleh pihak, yaitu pewawancara (iterviewer) yang mengajukan pertanyaan

dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan itu.43

c. Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu suatu metode penelitian yang mencari data

mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, notulen rapat dan

sebagainya. Dalam literatur paradigma kualitatif ada dibedakan istilah documents dari

43
Ibidh, h. 135
records (bukti catatan). Records segala catatan tertulis yang disiapkan seseorang atau

lembaga untuk pembuktian sebuah peristiwa atau menyajikan perhitungan,

sedangkan dokumen adalah barang yang tertulis atau terfilmkan selain records

yang tidak disiapkan khusus atas permintaan peneliti.44

F. Analisa Data

Menurut Miles dan Huberman, tahapan analisis data dalam penelitian kualitatif

secara umum dimulai dengan pengumpulan data, reduksi data, pengkajian data dan

penarikan kesimpulan atau verivikasi.

Selanjutnya data dikumpulkan untuk dianalisis secara deskriptif kualitatif,

sehingga dapat menggambarkan proses serta menghasilkan sebuah pemahaman

tentang proses pengelolaan zakat pada YAKESMA Desa Batu Merah Kecamatan

Sirimau Kota Ambon Provinsi Maluku.

Untuk menganalisa data yang diperoleh penyusun menggunakan metode

berfikir deduktif. Deduktif yaitu pengambilan kesimpulan dari yang berbentuk umum

ke bentuk khusus. Kesimpulan itu dengan sendirinya muncul dari satu atau beberapa

premis.45 Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana proses pengelolaan zakat

pada YAKESMA Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon Provinsi Maluku

tersebut

44
Ibidh, h. 187
45
Kashandi, Hukum Jaminan, (Semarang, Fakultas Hukum Undip, 2005), h. 13
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Sejarah Singkat YAKESMA Provinsi Maluku

Yayasan Kesejahteraan Madani (YAKESMA) didirikan pada 4 Juli 2011, lahir

dari sebuah kepedulian akan kehidupan para da'i di kota maupun di pelosok pedesaan

yang tetap bersemangat dalam memperbaiki masyarakatnya dengan menyeru ke jalan

yang lebih baik dan di berkahi Allah SWT. Dalam proses perbaikan masyarakat

tersebut para dai beserta elemen masyarakat yang lain seperti para guru dan penggiat

kebajikan lainnya yang penuh dedikasi terkadang mengeluarkan pengorbanan yang

lebih dari batas-batas materi yang mereka miliki. Terlebih lagi di saat mereka

kekurangan dan mendapatkan musibah ketika menjalankan tugas. Seperti masalah

kesehatan da'i dan keluarganya, perawatan rumah sakit dan kasus kesehatan lainnya.

Selain itu ketika anak mereka akan masuk sekolah atau juga ketika mereka tidak

memiliki rumah sebagai kebutuhan primer sebuah keluarga.

Pada saat yang sama kemampuan ekonomi para da'i pun belum di tunjang oleh

profesi yang di sandangnya saat ini dan juga oleh usaha mereka. Sampai saat ini

masih sedikit lembaga yang memperhatikan kehidupan mereka sehingga yang terjadi

adalah proses perbaikan di dalam masyarakat terganggu. Untuk itulah lembaga

YAKESMA berdiri untuk membantu mereka dalam rangka meringankan beban da'i di

bidang kesehatan, pendidikan dan perumahan sehingga mereka dapat lebih fokus

dalam proses perbaikan di masyarakat.46

Selain di Pusat, YAKESMA juga mendirikan kantor perwakilannya di beberapa

daerah, satu diantaranya adalah di Maluku. YAKESMA Perwakilan Provinsi Maluku

Website YAKESMA, https://www.yakesma.org/program.php?id=1, diakses pada 07


46

November 2020, Pukul 10.00 Wit.


telah memulai kerja-kerja kemanusiaannya sejak tahun 2015 dan mendapatkan

rekomendasi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Maluku pada tahun

2018 dengan nomor rekomendasi: 015/BAZNAS-PM/II/2018. Seperti lembaga amil

zakat pada umumnya, YAKESMA Perwakilan Provinsi Maluku juga wajib

melaporkan pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat

yang telah diaudit kepada BAZNAS secara berkala. Pada tahun yang sama

YAKESMA juga telah mendapatkan izin Operasional dari Kementerian Agama

Provinsi Maluku dengan nomor izin: 60 Tahun 2018.47

2. Visi dan Misi LAZ YAKESMA Perwakilan Provinsi Maluku

a. Visi : Menjadi lembaga filantropi yang terpercaya, profesional, dan berkontribusi

dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

b. Misi :

1. Mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam

upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat

2. Membangun kemitraan lembaga filantropi dari dalam negeri dan luar negeri

3. Menciptakan program layanan dan pemberdayaan yang profesional dan

terpercaya.

3. Dasar Hukum LAZ YAKESMA Provinsi Maluku

Dasar hukum berdirinya LAZ YAKESMA Perwakilan Provinsi Maluku adalah

sebagai berikut.48

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 115, tambahan Lembaran Negara

Repuplik Indonesia Nomor 5255);

47
Brosur YAKESMA Maluku.
48
Lampiran Surat Keputusan Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Maluku.
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-

Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 5508);

Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian

Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);

Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata

Kerja Instansi Vertikal Kementerian Agama (Berita Negara Republik Indonesia

Tahun 2012 Nomor 851);

Keputusan Menteri Agama Nomor 333 Tahun 2015 tentang Pedoman

Pemberian Izin Pembentukan Lembaga Amil Zakat);

Keputusan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku

Nomor 60 Tahun 2018 tentang Pemberian Izin Perwakilan kepada Lembaga Amil

Zakat Berskala Provinsi Maluku Yayasan Kesejahteraan Madani.

4. Struktur Kepengurusan LAZ YAKESMA Provinsi Maluku

Struktur kepengurusan serta tupoksi pada LAZ YAKESMA Perwakilan

Provinsi Maluku adalah sebagai berikut:49

1. Pembina (Husen Maswara, M.Th.I) yang memiliki tupoksi sebagai berikut;

a. Memajukan dan mengembangkan yayasan;

b. Promotor yayasan pada tingkat internal dan eksternal;

c. Leading sector untuk mengontrol realisasi seluruh program yayasan.

2. Penasehat Syari’ah (M. Hatta Ingratubun, Lc), dibantu oleh seorang anggota

(Indran Wally, S.Pd.I) yang memiliki tupoksi sebagai berikut;

49
Brosur YAKESMA.
a. Mengawal pekerjaan-pekerjaan yayasan yang harus sesuai dengan standar

syar’i.

b. Badan pengkaji dalam yayasan, apakah sesuai dengan standar syari’ah

islam atau tidak.

Bidang ini juga sangat berpengaruh bagi pekerjaan-pekerjaan di yayasan,

karena setiap LAZ, harus sesuai dengan standar operasi syari’ah.

3. Kepala Cabang (Zulkifli Farojai, S.Pd.I., Al-Hafidzh) yang memilki tupoksi

sebagai berikut:

a. Mengomandani seluruh anggota yayasan.

b. Yang menjalankan seluruh program baik turunan maupun rekayasa dari

yayasan.50

4. Sekertaris dan Keuangan (Muhammad Qabil Semarang, S.HI) yang

mempunyai tupoksi sebagai berikut:

a. Memfilter informasi dan sebagai sumber informasi bagi pimpinan dan

menjalankan tugas, fungsi dan tanggungjawabnya.

b. Mengatur aktivitas perusahaan, mulai dari administrasi hingga human

relations (HR).

c. Menjadi perantara pihak-pihak yang ingin berhubungan dengan pimpinan.

a. Merencanakan, menganggarkan, memeriksa, mengelola, dan menyimpan

dana yang dimiliki oleh lembaga.

b. Bertanggung jawab penuh pada keuangan lembaga.

c. Mengambil keputusan penting dalam suatu investasi dan pembelanjaan

lembaga.

5. Dir. Program dan Fundraising (wardin Jailaini) yang memiliki tupoksi

sebagai berikut:
50
Wardin Jailani (wawancara), pada tanggal 21 19 Oktober 2020, Pukul 09.36 Wit.
a. Melaksanakan urusan penyiapan bahan penyusunan program dan anggaran

b. menyelenggarakan fungsi penyiapan bahan penyusunan program dan

anggaran

c. Melaporkan hasil kegiatan penyusunan, pemantauan, evaluasi,

dokumentasi dan penyusunan laporan program anggaran

d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasan dan pimpinan lembaga.

5. Program-program LAZ YAKESMA Provinsi Maluku

Secara umum, program-program yang ada pada YAKESMA perwakilan Provinsi

Maluku dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

1. Program Pusat

YAKESMA perwakilan Provinsi Maluku menjalankan sebagian program

yang diturunkan dari pusat, diantara program-program dari YAKESMA pusat

adalah sebagai berikut:51

a. ZIS (Zakat Infak dan Shadaqah)

1. Zakat

Zakat adalah ibadah maliyah (harta benda) yang bersifat sosial dan

memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam.52 Ditinjau dari segi bahasa,

kata zakat merupakan kata dasar (masdar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh,

bersih, dan baik. Sesuatu itu zaka, berarti tumbuh dan berkembang, dan seorang

itu zaka, berarti orang itu baik. Zakat dari segi istilah fikih berarti sejumlah harta

tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak .53 Di

dalam syariat, zakat ialah sedekah wajib dari sebagian harta. Sebab dengan

51
YAKESMA, http://www.yakesma.org/, di akses pada tanggal 20 Oktober 2020, Pukul 09.04
Wit.
Labib dan Moh. Ridho’ie, Kuliah Ibadah ditinjau dari segi hukum & hikmahnya, Cet.I,
52

(Surabaya: Tiga Dua Surabaya, 2000), h.399.


53
Yusuf Qardawi, Studi Komparatif Mengenai Status dan Filasafat Zakat Bersadarkan
Qur’an dan Hadis,Cet.III, (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 1993), h.34.
mengeluarkan zakat maka pelakunya akan tumbuh (mendapat kedudukan tinggi)

di sisi Allah SWT dan menjadi orang yang suci dan disucikan.54

2. Infak

Infak merupakan amalibadah kepada Allah dan amal sosial

kemasyarakatan serta kemanusiaan dalam wujud menyerahkan sebagian harta atau

nilainya oleh perorangan atau badan hukum untuk diberikan kepada seseorang

atau badan hukum karena suatu kebutuhan.55 Dalam infak tidak ditetapkan bentuk

dan waktunya, demikian pula dengan besar atau kecil jumlahnya. Tetapi infak

biasanya identik dengan harta atau sesuatu yang memiliki nilai barang yang

dikorbankan.Infak adalah jenis kebaikan yang bersifat umum, berbeda dengan

zakat.

3. Shadaqah

Pengertian shadaqah atau sedekah secara bahasa berasal dari kata

shadaqah yang artinya benar tersurat dari kata ini bahwa yang bersedekah adalah

orang yang benar imannya. Shadaqah atau sedekah adalah pemberian sukarela

yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kepada orang-orang

yang tidak ditentukan baik jenis, jumlah maupun waktunya. Adapun secara

terminologi syariat shadaqah adalah pemberian sukarela yang dilakukan oleh

seseorang kepada orang lain, terutama kepada orang-orang miskin setiap

kesempatan terbuka yang tidak ditentukan baik jenis, jumlah maupun waktunya,

sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat

berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Sedekah adalah pemberian sesuatu

54
Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Imam Ja’far Ash-Shadiq ‘ardh wa istidlal Juz 1 & 2,
Cet.IV, (Jakarta: Penerbit Lentera, 2009), h. 403.
55
Nukthoh Arfawie Kurde, Memungut Zakat dan Infak Profesi, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2005), h.18.
kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya diluar kewajiban zakat dan

zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi.56

b. Wakaf

Wakaf berasal dari makna kata yang berarti, menahan, diam, atau berhenti.

Harta yang berhenti, ditahan dan sudah tidak di gunakan lagi oleh pemiliknya

(diam) untuk tujuan kebaikan dan manfaat, maka ia disebut dengan waqaf.

Sebagai satu istilah dalam syariah Islam, wakaf dapat diartkan sebagai penahanan

hak milik atas materi benda untuk tujuan menyedekahkan manfaat.Jadi dapat

disimpulkan bahwa wakaf bertujuan untuk memberikan manfaat atau harta yang

diwakafkan kepada orang yang berhak dan dipergunakan sesuai dengan ajaran

agama Islam.

1. Sekolah/Universitas: Program penggalangan dana wakaf untuk pendirian,

pengembangan, dan pembangunan lembaga pendidikan seperti universitas,

sekolah, dan pusat pelatihan

2. Rumah Sakit: Program penggalangan dana wakaf untuk pendirian,

pengembangan dan pembangunan rumah sakit

3. Klinik: Program penggalangan dana wakaf untuk pendirian, pengembangan,

dan pembangunan klinik.

4. Masjid: Program penggalangan dana wakaf untuk pendirian, pengembangan,

dan pembangunan masjid.

c. Kurban

Program Sebar Hewan Kurban atau disingkat dengan SHK adalah program

kurban YAKESMA yang dilaksanakan setiap hari raya Idul Adha bersama dengan
56
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa,
fakir, miskin, para guru dan da’i serta masyarakat di daerah zona 3T yang menjadi

daerah binaan YAKESMA dan tempat da'i serta guru berkhidmat. Di tahun 2017,

SHK telah mendistribusikan hewan kurban kepada 5095 jiwa penerima manfaat

pada 20 lokasi penyaluran, meliputi NTB, Subang, Sulawesi Selatan, Riau,

Sulawesi Barat, Medan, Bengkulu, Maluku Tengah, Papua dan Jabodetabek.

Program SHK 2018 tahun ini berharap dapat mencakup seluruh daerah

sebaran zona 3T, artinya dengan sebar kurban nasional YAKESMA berharap

masyarakat terpencil di seluruh Indonesia mendapatkan penyaluran distribusi

hewan kurban dari para donatur dan dapat memberikan kebahagiaan dunia dan

akhirat.Tahun 2018 YAKESMA mencoba mengajak berbagai mitra untuk

mengantar atau mendistribusikan hewan kurban melalui YAKESMA agar

terwujudnya sebar kurban nasional secara merata dan lebih banyak lagi penerima

manfaat yang merasakan kebahagiaan.

d. Hallo YAKESMA

Hallo YAKESMA adalah program sosialisasi dan diskusi seputar ziswaf (zakat,

infaq, shadaqah, wakaf, dan fidyah) yang diadakan secara rutin baik di kantor perwakilan,

radio, tv, instansi/lembaga, kampus, masjid, dan masyarakat umum.

Hallo YAKESMA bertujuan memberikan edukasi dan membangun kesadaran

masyarakat akan pentingnya ziswaf dalam menopang ekonomi keumatan. Selain diskusi

secara langsung, masyarakat juga dapat mengakses program Hallo YAKESMA melalui

saluran telepon dan akun media sosial YAKESMA.

B. Sisitem Pelaksanaan Pengelolaan Jasa Bazis Dan Penyaluran Zakat di

Provinsi Maluku
BAZIS diartikan sebagai suatu usaha mengelola dan mendistribusikan

sumbangan atau derma umat Islam kepada orang sosial dan keagamaan dalam

mendorong membangun program serta sarana lainnya untuk keadilan social

Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa lembaga BAZIS

merupakan salah satu bentuk peran serta umat Islam, pemerintah setempat dalam

menanggulangi masalah-masalah sosial dan keagamaan yang diaktualisasikan dengan

pemberdayaan zakat, infaq dan shadaqah melalui BAZIS dalam upaya mengantarkan

masyarakat yang hidup dalam kemiskinan untuk lepas dari kesengsaraan dan

kekurangan serta dapat melaksanakan aktivitas lainnya seperti beribadah, melanjutkan

pendidikan dan meningkatkan usaha melalui modal yang diberikan

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“salah satu program disini adalah halo yakesma, adalah program sosialisasi
kedunia luar baik dunia akademis, instanti pemerintahan maupun masyarakat
pada umumnya, biasanya berupa dialok dan sosialisasi secara umum terkait
yekesma ataupun terkait pengelolaan zakat, infak sedekah.57

Dari hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, dalam pelsanaan

pengelolaan zakat, prinsp peratama yang perlu untuk dilakukan adalah yakni

memberikan pemahaman berupa sosialisasi secara umum tentang tata cara

pelaksanaan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, hal tersebut merupakan salah satu

dari sistem pelaksaan pengelolaan zakat pada yakesma provinsi Maluku.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

57
Bpk. Muhammad Qabil Semarang, hasil wawancara dengan Sekretaris Dan Keuangan
Yakesmas, Tanggal 12 Oktober 2020
“ketika ada sumbangan dari donator itu biasanya kita klasifikasikan
maksudnya donator tersebut menyumbang dalam porsi atau kategori dana apa
seperti infak, sedakah atau zakat, tergantung niatnya untuk apa lalu kita catat
donasinya seberapa banyak atas nama siapa, dan kalau misalnya itu dalam
bentuk kes akan kita setorkan ke bank, masing-masing tabungan ada, seperti
tabungan infak, qurban, sedekah dan zakat.58

Dari hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, dana yang

diperuntuhkan untuk masing-masing dari pada sumbangan yang diberikan oleh

donatur tersebut telah dipersiapkan termasuk dana pemasukan untuk pengelolaan

zakat dalam peyaluranya sehingga melalui metode tersebut mampu memberikan

kemudahan dalam pelaksanaan penyaluranya.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“pertama itu kita cari atau kita tentukan program apa dulu yang akan kita bagi
lalu tim akan turun survei untuk penerimanya atau mustahiqnya mana-mana
yang berhak untuk kita salurkan dan ketika suda ada ataupun layak, maka akan
kita salurkan kepada orang berhak yang sudah kita survei, lalu kita ambil
dokumentasi baik foto video testimoni, lalu setelah semua suda terkumpul kita
rekap lalu kita buat pemberitahuan, baik melalui medsos maupun notifikasi
kepara donator.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, dalam proses

pelaksanaan penyaluranya pihak yekesma lebih telitih terkait pihak-pihak yang berhak

menerimanya, sehingga pihak-pihak yang telah didata ini kemudian dicatat sebagai

dokumen atau bukti penyaluran yang telah tersalurkan.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“pertama kita tim sebelum turun survei ada hasil atau info dari orang lain atau
hasil kita sendiri yang telah kita siapkan, lalu nanti calon penerima tersebut
akan diminta untuk mengisi data yakni biodata secara umum, seperti nama,
tempat tanggal lahir, tempat tinggal, pekerjaan, pengahasilan, dan lain-lainya,
kemudian setelah itu kita bicarakan apa yang menjadi kebutuhan mereka yang
sesui dengan program prioritas yakesma, seperti zakat sedakah dan lain-lainya,

58
Bpk. Muhammad Qabil Semarang, hasil wawancara dengan Sekretaris Dan Keuangan
Yakesmas, Tanggal 12 Oktober 2020
kemudian setelah itu data tersbut kita bawa ke kantor untuk kita rekap, lalu
ketika penyaluran kita biasayana ada dua opsi, opsi pertama biasanya kita
langsung ke lokasi untuk penyaluranya dan opsi yang kedua para penerimanya
mereka langsung bisa datang ke kantor untuk penyaluranya.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, dalam

pelaksanaan penyaluran zakat pihak yakemas memiliki dua metode yang digunakan

yakni medote percepatan dan kemudahan penyaluran, sehingga dalam pelaksanaan

penyaluran zakat para penerima tersebut bisa menerima di tempat ataupun dapat

menerimanya pada kantor yakesmas sendiri.

Penulis menganalisis pendapat di atas bahwa dalam melakukan zakat memiliki

sistem yang sudah termaktub di dalam syari’at dengan takaran yang sudah ditentukan

besar kecilnya yang harus dikeluarkan.

Zakat menurut syara Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi yang di kutip oleh

Hasbi Ash-Shiddieqy berkata:

Zakat itu sebutan untuk pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut

sifat-sifat yang tertentu untuk diberikan kepada golongan yang tertentu”. Sedangkan

Asy-Syaukani berkata: “memberikan suatu bagian dari harta yang sudah sampai

nishab kepada orang fakir dan sebagainya, yang tidak bersifat dengan sesuatu

halangan syara’ yang tidak membolehkan kita memberikan kepadanya

C. Faktor Faktor Yang Mempangaruhi Masyarakat Untuk Menggunakan

Jasa Yakemas
Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“pertama tama dari segi pelayanan kita menyambut mereka dengan ramah
ketika mereka datang ke kantor lalu apabilah mereka memakai pakaian rapi
atau tidak itu tidak teralu di persoalkan.59

Dari hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, dalam pelaksanaan

pengelolaan zakat tersebut hal paling diperhatikan adalah pelayanan yang baik kepada

setiap orang yang datang, baik muzaki maupun mustahiq dalam hal penampilanya

singga tidak memberatkan kepada setiap orang yang datang.

Ibu. Satira Mahu, Bahwa :

“Sebenarnya hal yang membuat saya nyaman atau tertarik dengan yakesma
karna, kita dilayani dengan baik, trus diberikan pemahaman juga tentang
yakesma dan satu lagi yang baik dari yakesma ini adalah mereka mampu
mengelola donasi yang diberikan dengan baik, sampai dengan pembagianya.60

Dari hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, ketertarikan para

donatur dengan lembaga yakesma, berdasarkan juga kepada aspek pelayanan sehingga

para donatur lebih merasa nyaman dan santai dalam penyaluran anggaran, kemudian

dengan adanya halo yakesma tetang prinsip sosialisasi kepada seluruh donatur

maupun masyarakat, merupakan suatu kelebihan yang diakui oleh para dunatur,

termasuk asas tranprasi dalam pengelolaan dan penyaluranya yang menjadi nilai ples

tersendiri untuk lembaga yakesma.

Bpk. Rohsiandra (ozi), Bahwa :

“Saya berdonasi dengan yakesma karna saya tahu tentang pengelolanya yang
baik dan tarnsparasi, dan ini tidak hanya pengetahuan saya sendiri, tapi

59
Bpk. Muhammad Qabil Semarang, hasil wawancara dengan Sekretaris Dan Keuangan
Yakesmas, Tanggal 12 Oktober 2020
60
Ibu. Satira Mahu, hasil wawancara dengan donatur, tanggal 13 Oktober 2020
disampaikan dan dibetulkan juga oleh orang lain, termasuk para penerima
zakat yang disantuni oleh yekasma.

Dari hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, lembaga yakesma selain

pengelolaanya yang baik yang berdasarkan asas transparansi ataupun keterbukaan

umum, yakesma juga memiliki program unggulan atau prioritas, sehingga dengan

adanya program-program tersebut mampu membantu para mustahiq, terutama para

muzaqi untuk lebih tertarik dalam berdonasi dengan lembaga yakesma

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“disini kita ketika ada program kumpul donasi kita terbuka seperti berapa
donasi yang sudah terkumpul berapa yang dibutuhkan tanggal berapa sampai
tanggal brapa totalnya ada berapa, yang menjadi keterbukaan yakesma untuk
masyarakat umum.

Dari hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, keterbukan tantang

pelaksanaan pengelolaan merupakan hal yang sangat diperhatikan sehingga seluruh

prosedur yang terkait dapat diketahui oleh masyarakat secerah umum.

Bpk Ali Rahman, Bahwa :

“Beta memilih yakesma sebagai tempat berdonasi karna kebetulan waktu itu
beta lihat untuk penyaluran zakat ini banyak tapi takutnya dia tidak punya
badan hukum yang jelas atau tidak ada, Alhamdulillah setelah beta cek dan
cari tau tentang yakesmas sendiri ternyata yakesmas ini suda memiliki
legalitas hukum dan dalam pengelolanya juga bagus.61

Dari hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, pilihan untuk

menggunakan jasa yakesmas sebagai penyaluran donasi adalah dikarenakan pada

legalitas hukumnya yang suda ada, dan termasuk pengelolaanya yang baik.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

61
Bpk. Alli Rahman, hasil wancara, Tanggal 13 Oktober 2020
”Dari segi legalitasnya kita semuanya suda ada izin, baik dari kementrian,
kesbangpol, baznas, izin legalnya sudah ada

Dari hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa, salah satu keberhasilan

yakesma dalam pelaksanaan dan pengelolaan zakat dan sebagainya adalah merupakan

legalitas yakesmas yang telah diberikan sehingga hal tersebut mampu memberikan

kemudahan kepada yakesma dalam pelaksanaanya, juga termasuk para donatur yang

telah memberikan donasi.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“Dari segi pelayanan kita, apabilah ada orang yang ingin berdonasi atau ingin
zakat, dan infak, ada berbagai kemudahan pertama mereka langsung bisa
datang kekantor dengan mengisi kwitansi dan segela macamnya, lalu yang
kedua apabilah mereka berhalangan hadir bisa lewat transfer dengan nomor
rekening yang telah disediakan, kemudian apabilah mereka masi berhalangan
juga bisa minta kita untuk menjemputnya.62

Dari hasil wawancara tesebut penulis menyimpullkan bahwa, salah satu langkah pihak

yaksemas dalam menerima dan mengelola donasi dari para donator terkait zakat, infak

maupun sedekah, dalam hal ini pihak yakesmas lebih membrikan kemudahan kepada

para donatur dengan penawaran pembayaran langsung atau transfer, dan tidak jarang

juga pihak yakemas langsung menemui para donatur tersebut.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“Kita memang tiap tahunya itu ada program konsumtif misalnya untuk tahun
ini berapa banyak anggaran yang disediakan, program produktif berapa
banyak yang disediakan memang sudah ada sesuai dengan kita punya
perhimpunan biasanya itu suda di anggarkan setahun misalnya tahun 2019 itu
kita sudah pikirkan bagaimana nanti tahun 2020 program-program apa-apa
saja yang akan kita salurkan dan akan kita keluarkan itu sudah di tetapkan
cuman nanti sepanjang perjalanan biasanya ada peningkatan dari himpunan-
himpunan yang masuk atau ada peningkatan juga sesuai dengan kebutuhan
atau apa yang dibutuhkan masyarakat.

62
Bpk. Muhammad Qabil Semarang, hasil wawancara dengan Sekretaris Dan Keuangan
Yakesmas, Tanggal 12 Oktober 2020
Dari hasil wawancara tesebut penulis menyimpullkan bahwa, dalam perencanaan dan

pelaksaan program konsumtif dan program produktif, yakesma melakukan

pertimbangan berdasarkan pertimbangan anggaran dan pertimbangan data masyarakat

sehingga dalam perencaanya selalu terlaksana dengan baik.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“Pada dasarnya hampir semua kita punya program itu memang untuk umat
terutama yakesmas ini kan memang fokus ke pendidikan dan dakwa jadi kita
prioritaskan orang-orang yang memang dibidang itu dari segi pendidikan
maupun dakwa, dan mereka orang yang kurang sejaterah atau butu
penghargaan dari kita, dan hal ini sesuai dengan kita juga yakni lembaga amil
zakat.

Dari hasil wawancara tesebut penulis menyimpullkan bahwa, dalam proses

pengelolanya yakesma juga memiliki prioritas dalam pembagaianya dari delapan

golongan yang berhak menerima zakat tersebut, hal yang dimaksud dilakukan agar

dalam pembagian dan penerimanya pihak-pihak yang dimaksud tersebut dapat labih

baik dalam peningkatan kualiatsnya, seperti pendidikan dan pendakwa.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“Yang pertama kita dari segi himpunan atau segi pencapaian kita dari segi
dana itu meningkat tiap tahunya mengalami peningkatan lalu jumlah penerima
manfaat juga semakin banyak yang kita berikan dari tahun ketahun program
juga mulai berkembang semakin banyak lalu mulai banyak kalangan
masyarakat yang kita sisir mulai dari orang ekonomi rendah atau miskin
duafah dan segala macamnya.

Bpk. Muhammad Qabil Semarang, bahwa :

“kita ini lembaga amil zakat tapi selain itu juga lembaga kemanusiaan, dana
yang lebih banyak terkumpul itu dana zakat baru dana kemanusiaan jadi kita
memang lebih memprioritaskan manfaat dana zakat itu diberdayakan itu
berupa edukatif dari segi pendidikan, lalu ada konsumtif berupa bantuan
pangan.

Dari hasil wawancara tesebut penulis menyimpullkan bahwa, pengelolaan dan

pelaksaan zakat pada yakesmas lebih berupaya dalam peningkatan kualiatas


kemanusiaan yang berupa bantuan pemberdayaan dan bantuan peningkatan sehingga

para penerima zakat tersebut akan lebih terbantu melalui program-program tersebut.

D. Manfaat Dari Jasa Yekesmas

Bpk Ali Rahman, Bahwa :

“Ketika saya berdonasi keyakesmas saya lebih tenang dan tidak ragu-ragu
karena saya lebih tau ini jelas dalam pengelolaanya, bahwa dalam
pelaksanaanya akan tersalurkan dengan baik.sampai ke para penerimanya.63

Dari hasil wawancara tesebut penulis menyimpullkan bahwa, eksistensi yaksesma

dalam pelaksanaan pengelolaan zakat ataupun yang lainya, selalu memberikan

kepuasan kepada para muzaki dikarenakan keterbukaan dalam pengelolaanya yang

baik dan efesian

Ibu Rosmina, Bahwa :

“Saya merasa sangat terbantu dengan keberadaan yakesmas karena biasanya


santunan yang diberikan sebesar dua juta dan digunakan sebagai penambahan
modal.64

Ibu Salifa Belatu Bahwa :

“yekemas ini bt rasa sangat membantu karena biasanya sumbangan yang


katong terima dapat memberikan kemudahan, biasanya berupa uang tunai.65

Dari hasil wawancara tesebut penulis menyimpullkan bahwa, pelaksanaan

pengelolaan oleh yakesmas betul-betul melihat pada kondisi mustahiq sehingga dalam

penyaluranya para mustahiq merasa sangat terbantu dengan adanya jasa yakesmas

tersebut.

BAB V

PENUTUP

63
Bpk Ali Rahman, hasil wawancara, 13 Oktober 2020
64
Ibu Rosmina, hasil wawancara, 13 Oktober 2020
65
Ibu Sallifa, hasil wawancara, 13 Oktober 2020
A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penilitian yang diperoleh pada yakesmas Provinsi Maluku


tentang Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Dalam
Menggunakan Jasa Bazis di Yakesmas :

1. Dalam proses pelaksanaan penyaluranya pihak yekesma lebih telitih terkait

pihak-pihak yang berhak menerimanya, sehingga pihak-pihak yang telah

didata ini kemudian dicatat sebagai dokumen atau bukti penyaluran yang telah

tersalurkan. Dan yakemas memiliki dua metode yang digunakan yakni medote

percepatan dan kemudahan penyaluran, sehingga dalam pelaksanaan

penyaluran zakat para penerima tersebut bisa menerima di tempat ataupun

dapat menerimanya pada kantor yakesmas sendiri.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat untuk menggunakan

jasa bazis dalam bentuk penyaluran zakat di YAKESMA dalam hal ini selain

pengelolaanya yang baik yang berdasarkan asas transparansi ataupun

keterbukaan umum, yakesma juga memiliki program unggulan atau prioritas,

sehingga dengan adanya program-program tersebut mampu membantu para

mustahiq, terutama para muzaqi untuk lebih tertarik dalam berdonasi dengan

lembaga yakesma

3. Bahwa pilihan donatur untuk menggunakan jasa yakesmas sebagai penyaluran

donasi adalah dikarenakan pada legalitas hukumnya yang suda ada, dan

termasuk pengelolaanya yang baik

B. Saran

Berdasarkan dengan penelitian yang penulis lakukan, ada beberapa hal yang

disarankan yaitu :
1. Perlu adanya sosialisasi secara terus menerus terkait eksistensi yakesmas

sebagai Badan Amil Zakat termasuk badan pemberdayaan masyarakat kepada

pihak-pihak donatur atau muzaki

2. Yakesmas sendiri perlu pengembangan-pengembagan baru terkait penyaluran

agar tetap menjadi lembaga pilihan

3. Sebagai bahan informasi bagi saya, teman-teman dan sifitas akademik untuk

bisa mengetahui penyaluran dan pelaksanaan pengelolaan zakat pada

yakesmas.