Anda di halaman 1dari 17

Makalah

PENGENBANGAN SIKAP KEAGAMAAN PESERTA DIDIK


PADA REMAJA

DISUSUN OLEH

Sri Vega Wahyuni (112019004)

Matakuliah : Metodologi Pembelajaran PAI

Dosen pengampu : Khairuddin Hasan, M.Pd

KEMENTRIAN AGAMA RI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH

TAHUN AJARAN 2020/2021


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatu

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami
tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang
kita nanti-natikansyafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya,
baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul “PENGEMBANGAN SIKAP PESERTA
DIDIK PADA REMAJA”.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Waalaikumsalamwarahmatullahiwabarakatu

Simeulue, 06 November 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................................... ii
BAB PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
A. Latar Belakang............................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................... 1
C. Tujuan.......................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................... 2
A. Pengertian dan Peran Agama Bagi Remaja................................................................. 2
1. Pengertian Agama..................................................................................................... 2
2. Pengertian Remaja................................................................................................. ... 2
3. Peran Agama Bagi Remaja........................................................................................ 3
BAB III PENUTUP............................................................................................................... 13
A. Kesimpulan................................................................................................................... 13
B. Saran............................................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa ini
merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan
merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang
sehat.
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap
progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa: Juvenilitas
(adolescantium), pubertas dan nubilitas.
Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut
dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama
dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor
perkembangan tersebut. untuk lebih jelasnya mengenai bagaimana perkembangan agama
pada masa remaja akan saya bahas dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Apa yang dimaksud masa remaja itu?
2. Bagaimana perkembangan agama pada masa remaja?
3. Apa saja faktor-faktor yang mengindikasi perkembangan agama pada masa remaja?
4. Bagaimana ciri-ciri kesadaran beragama pada masa remaja?
5. Bagaimana sikap remaja dalam beragama?

C. Tujuan
1. Memahami apa yang dimaksud dengan masa remaja.
2. Mengetahui perkembangan agama pada diri seorang remaja.
3. Mengidentifikasi faktor-faktor apa yang dapat mengindikasikan perkembangan agama
pada diri seorang remaja.
4. Mengidentifikasi ciri-ciri kesadaran beragama seorang remaja.
5. Menganalisis sikap seorang remaja dalam konteks keagamaan.

1
BAB II
PEMBAHASAN
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Peran Agama Bagi Remaja
1. Pengertian Agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata
keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah
yang berhubungan dengan pergaulan umat manusia serta lingkungannya. Kata "agama"
berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tradisi. Sedangkan kata lain untuk menyatakan
konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio, berakar pada kata kerja re-
ligare yang berarti mengikat kembali. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat
dirinya kepada Tuhan.
Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini
diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-
agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap
apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik
perbedaannya.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan
keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya.
Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang
luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusia sendiri. Misal Tuhan,
Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti
Yang Mahakuasa, IngkangMurbengDumadi, DeWeldadige, dll.
Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan
cara menghambakan diri, yakni menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya
dan yakin berasal dari Tuhanmenaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini
berasal dari tuhan. Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu
penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur:
manusia, penghambaan, dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga
unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

2. Pengertian Remaja
Istilah remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya adoloscentia yang
berarti remaja) yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa yang mencakup
kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Kata tersebut mengandung aneka kesan, ada
yang berkata bahwa remaja merupakan kelompok yang potensinya dapat dimanfaatkan dan
kelompok yang bertanggung jawab terhadap bangsa dalam masa depan. Masa remaja
merupakan masa perkembangan menuju kematangan jasmani, seksualitas, pikiran dan
emosional. Masa remaja kadang panjang kadang pendek tergantung lingkungan dan budaya
di mana remaja itu hidup.

2
Kehidupan remaja itu sendiri merupakan salah satu fase perkembangan dari diri
manusia. Fase ini adalah masa transisi dari masa kanak-kanak dalam menggapai kedewasaan.
Disebut masa transisi karena terjadi saling pengaruh antara aspek jiwa dengan aspek yang
lain, yang kesumuanya akan mempengaruhi keadaan kehidupan remaja.
Neidahart menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dan
ketergantungan pada masa anak-anak kemasa dewasa, dan pada masa ini remaja dituntut
untuk mandiri. Pendapat ini hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Ottorank bahwa
masa remaja merupakan masa perubahan yang drastis dari keadaan tergantung menjadi
keadaan mandiri, bahkan Daradjat mengatakan masa remaja adalah masa dimana munculnya
berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih
jelas dan daya fikir yang matang.

3. Peran Agama Bagi Remaja


Salah satu ciri pokok masyarakat Indonesia adalah percaya kepada Tuhan Yang Maha
Esa, seluruh rakyat Indonesia pasti beragama. Di Indonesia terdapat beberapa agama seperti:
Islam, Katholik, Kristen, Hindu dan Budha. Agama bagi manusia khususnya bangsa
Indonesia merupakan unsur pokok yang menjadi kebutuhan spiritual.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalam agama pada dasarnya merupakan nilai
tertinggi bagi manusia, demikian pula bagi anak remaja norma-norma agama tetap diakui
sebagai kaidah-kaidah suci yang bersumber dari tuhan. Kaidah-kaidah yang digariskan di
dalam agama selalu baik, sebab bertujuan untuk membimbing manusia menuju jalan yang
benar.
Kaidah-kaidah agama berisi hal-hal yang dilarang dan menunjukkan hal-hal yang di
wajibkan serta menggariskan perbuatan-perbuatan yang baik dan buruk sehingga jika anak
remaja benar-benar mendalami dan memahami isi agama, maka besar kemungkinan mereka
akan menjadi anggota masyarakat yang baik dan enggan melakukan perbuatan-perbuatan
yang dapat merugikan masyarakan dan mengganggu orang lain baik harta maupun nyawa,
seperti kejahatan pencurian, penganiayaan, pembunuhan, penipuan, dll.
Bagi anak remaja sangat diperlukan adanya pemahaman, pendalaman, serta ketaatan
terhadap ajaran-ajaran agama yang dianut. Dalam kenyataan sehari-hari menunjukkan, bahwa
anak-anak remaja yang melalukan kejahatan sebagian besar kurang memahami norma-norma
agama bahkan lalai menunaikan perintah-perintah agama antara lain mengikuti acara
kebaktian, acara missa, puasa dan sholat, nyepi, dll.
Pada garis besarnya arti agama bagi anak remaja dewasa ini menjadi kompleks, sebab
agama sesuai denagn fungsi dan tujuannya memang multidimensional. Anak-anak remaja
yang merupakan bagian yang harus menerima agama sesuai dengan fitrahnya, yakni
merupakan suatu subyek yang memilki dua kondisi ialah Jasmaniah dan Rokhaniah. Maka
dari itu agama dalam perwujudannya mencakup tiga segi: memperbaiki, meluruskan, serta
mengharmoniskan sifat tabiat serta watak manusia ke arah tujuan yang benar, sedangkan sisi
lain agama menyinggung segi Jasmaniah. Anak remaja yang sehat mental, moral dan
spiritualnya dalam arti sebenar-benarnya, maka jasmaniahnya pun turut sehat.

3
Perkembangan Agama pada Remaja Masa remaja adalah masa peralihan, yang
ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa. Atau dapat dikatakan masa
remaja adalah perpanjangan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa remaja
merupakan periode dimana individualisme semakin menampakkan wujudnya, pada masa
tersebut memungkinkan mereka untuk menerima tanggung jawab atas perilaku mereka
sendiri dan menjadi sadar terlibat pada perkara hal, keinginan, serta cita-cita yang mereka
pillih.
Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan
rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Starbuck adalah: Masa
muda merupakan tahap yang penting dalam pertumbuhan religious, perkembangan psikologis
remaja dan agama dapat dibagi sebagai berikut:
1. Perkembangan Kognitif
Oleh Piaget pertumbuhan kognitif pada masa remaja digambarkan sebagai gerak
peralihan dari cara berpikir konkret ke cara berpikir proporsional. Pertumbuhan
kognitif memberi kemungkinan terjadi perpindahan atau transisi dari agama lahiriah
ke agama batiniah. Studi Piaget dan Goldman menunjukkan bahwa perkembangan
kognitif selama masa muda berubah dan membuat cara berpikir secara kualitatif
berbeda dengan cara anak-anak. Remaja memperkembangkan kemampuan untuk
membangun teori dan menilai alasan-alasannya.

2. Perkembangan Identitas
Erik Erikson telah menekankan sifat krisis pergulatan orang muda untuk menemukan
identitas dan mengutarakan kebutuhan untuk menyelesaikan perjuangan rasa cukup
atas harga diri, peran untuk berhubungan dengan orang lain.
Segala persoalan dan problema yang terjadi pada remaja-remaja itu, sebenarnya
bersangkut-paut dan barkait-kait dengan usia yang mereka lalui, dan tidak dapat dilepaskan
dari pengaruh lingkungan di mana mereka hidup. Dalam hal itu, suatu faktor penting yang
memegang peranan yang menentukan dalam kehidupan remaja adalah agama. Tapi sayang
sekali, dunia modern kurang menyadari betapa penting dan hebatnya pengaruh agama dalam
kehidupan manusia, terutama pada orang-orang yang sedang mengalami kegoncangan jiwa,
dimana umur remaja terkenal dengan umur goncang, karena pertumbuhan yang dilaluinya
dari segala bidang dan segi kehidupan.
a. Masa Remaja Awal (13-16 tahun)
Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga memungkinkan
terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Bahkan, kepercayaan
agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami
kegoncangan. Kepercayaan kepada tuhan kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi
kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadanya yang kadang-
kadang rajin dan kadang-kadang malas. penghayatan rohani cenderung skeptis
sehingga muncul keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan
ritual yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
Kegoncangan dalam keagamaan ini mungkin muncul, karena disebabkan oleh
faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan matangnya organ
seks, yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun di sisi lain

4
ia tahu bahwa perbuatannya itu dilarang oleh agama. Kondisi ini menimbulkan
konflik pada diri remaja.
Faktor internal lainnya adalah bersifat psikologis, yaitu sikap independen,
keinginan untuk bebas, tidak mau terikat oleh norma-norma keluarga (orangtua).
Apabila orangtua atau guru-guru kurang memahami dan mendekatinya secara baik,
bahkan dengan sikap keras , maka sikap itu akan muncul dalam bentuk tingkah laku
negatif, seperti membandel, oposisi, menentang atau menyendiri, dan acuh tak acuh.
b. Masa Remaja Akhir (17-21 tahun)
Masa remaja terakhir dapat dikatakan bahwa anak pada waktu itu dari segi
jasmani dan kecerdasan telah mendekati kesempurnaan. Yang berarti bahwa tubuh
dengan seluruh anggotanya telah dapat berfungsi dengan baik, kecerdasan telah
dianggap selesai pertumbuhannya, tinggal pengembangan dan penggunaannya saja
yang perlu diperhatikan.
Akibat pertumbuhan dan perkembangan jasmani, serta kecerdasan yang telah
mendekati sempurna, atau dalam istilah agama mungkin dapat dikatakan telah mencapai
tingkat baligh-berakal, maka remaja itu merasa bahwa dirinya telah dewasa dan dapat
berpikir logis. Di samping itu pengetahuan remaja juga telah berkembang pula, berbagai ilmu
pengetahuan yang diajarkan oleh bermacam-macam guru sesuai dengan bidang keahlian
mereka masing-masing telah memenuhi otak remaja. Remaja saat itu sedang berusaha untuk
mencapai peningkatan dan kesempurnaan pribadinya, maka mereka juga ingin
mengembangkan agama, mengikuti perkembangan dan alur jiwanya ynag sedang bertumbuh
pesat itu.
Kendatipun kecerdasan remaja telah sampai kepada menuntut agar ajaran agama yang
dia terima itu masuk akal, dapat difahami dan dijelaskan secara ilmiah dan orisinil, namun
perasaan masih memegang peranan penting dalam sikap dan tindak agama remaja.
Diantara sebab kegoncangan perasaan, yang sering terjadi pada masa remaja terakhir
itu adalah pertentangan dan ketidakserasian yang terdapat dalam keluarga, sekolah dan
masyarakat. Disamping itu, yang juga menggelisahkan remaja adalah tampaknya perbedaan
antara nilai-nilai akhlak yang diajarkan oleh agama dengan kelakuan orang dalam
masyarakat. Terutama yang sangat menggelisahkan remaja, apabila pertentangan itu terlihat
pada orangtua, guru-gurunya di sekolah, pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh agama.
Banyak lagi faktor yang menggoncangkan jiwa remaja, seyogyanya guru agama dapat
memahaminya, agar dapat menyelami jiwa remaja itu, lalu membawa mereka kepada ajaran
agama, sehingga ajaran agama yang mereka dapat itu, betul-betul dapat meredakan
kegoncangan jiwa meraka.
Faktor-Faktor yang Mengindikasi Perkembangan Agama Robert H. Thouless mengemukakan
empat faktor keberagamaan yang dimasukkan dalam kelompok utama, yaitu:
1. Pengaruh-pengaruh sosial
2. Berbagai pengalaman
3. Kebutuhan proses pemikiran
Faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap
keberagamaan, yaitu: pendidikan orang tua, tradisi- tradisi sosial, dan tekanan- tekanan

5
lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang
disepakati oleh lingkungan.
Faktor lain yang dianggap sebagai sumber keyakinan agama adalah kebutuhan-
kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi secara sempurna, sehingga mengakibatkan terasa
adanya kebutuhan akan kepuasan agama. Kebutuhan- kebutuhan tersebut dapat
dikelompokkan dalam empat bagian, antara lain kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan
akan cinta, kebutuhan untuk memperoleh harga diri dan kebutuhan yang timbul karena
adanya kematian.
Faktor terakhir adalah pemikiran yang agaknya relevan untuk masa remaja, karena
disadari bahwa masa remaja mulai kritis dalam menyikapi soal- soal keagamaan, terutama
bagi mereka yang mempunyai keyakinan secara sadar dan bersikap terbuka. Mereka akan
mengkritik guru agama mereka yang tidak rasional dalam menjelaskan ajaran- ajaran agama
islam, khususnya bagi remaja yang selalu ingin tahu dengan pertanyaan- pertanyaan
kritisnya. Meski demikian, sikap kritis remaja juga tidak menafikkan faktor- faktor lainnya,
seperti faktor berbagai pengalaman.
Perkembangan rasa keamaan pada masa remaja sangat dipengaruhi oleh tumbuhnya
hati nurani keagamaan, baik kualitasnya pada akhir usia anak maupun perkembangan pada
usia remaja. Hati nurani yang sudah tumbuh kuat pada akhir masa anak-anak akan akan
memudahkan perkembangan rasa keagamaan pada masa remaja.
Faktor consience atau hati nurani ini mempunyai padanan kata superego, innerlight
dan innerpolicemen. Pada masa remaja, anak masuk ke dalam tahap pendewasaan, dimana
hati nurani (conscience) sudah mulai berkembang melalui pengembangan dan pengayaan
pada usia anak melalui proses sosialisasi. Proses sosialisasi nilai tersebut terlaksana melalui
proses identifikasi anak terhadap perilaku orang tuanya dan juga orang orang di sekelilingnya
yang memiliki kesan dominan secara kejiwaan, sehingga terjadi proses imitasi sikap dan
perilaku. Kekuatan dari kata hati sebagiannya justru terletak pada ketidakmengertian anak,
karena dengan begitu konsep nilai yang masuk dalam diri anak terbentuk melalui proses
tanpa tanya, begitu saja terserap tanpa adanya reaksi dari dalam. Proses kerja hati nurani
dibantu oleh gejala jiwa yang lain yang disebut rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame),
yang akan muncul setiap kali ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati
nuraninya. Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata hati adalah merupakan
potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata hati merupakan hasil dari
proses belajar.
Rasa bersalah (guilt) adalah perasaan yang tumbuh jika dirinya tidak melakukan
sesuatu sesuai dengan hati nuraninya. Beriringan dengan itu kemudian muncul rasa rasa malu
(shame), yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian negatif
dari orang lain terhadap dirinya. Kata hati, rasa bersalah dan rasa malu dalam perkembangan
religiousitas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk melalui proses internalisasi nilai nilai
keagamaan pada usia anak, yang akan berfungsi sebagai pengontrol perilaku pada usia
remaja.
Hati nurani mulai mengambil peran pada masa remaja yang juga membantu dalam
proses pemilikan pandangan hidup yang akan menjadi dasar dasar pegangan hidupnya dalam
bermasyarakat.

6
Menurut W. Stabuck, pertumbuhan dan perkembangan agama dan tindak lanjut
keagamaan remaja sangat berkaitan dengan beberapa faktor berikut, yaitu:
1. Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-
kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama
mulai timbul. Menurut penelitian Allport, Gillesphy dan Young menunjukkan bahwa
85% remaja Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya, dan 40% remaja
Protestan tetap taat terhadap ajaran agamanya. Dari hasil ini dinyatakan bahwa agama
yang ajarannya bersifat konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk
tetap taat pada ajaran agamanya.
Sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak
liberal akan mudah merangsang perkembangan pikiran dan mental remaja sehingga
mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya.

2. Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis
dan estesis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam
lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke
arah hidup yang religius pula. Sebaliknya bagi remaja yang kurang mendapat
pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan
seksual.

3. Perkembangan Sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya perkembangan sosial.
Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan
material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi
lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cenderung
jiwanya untuk bersikap materialis.

4. Perkembangan Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha
untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para remaja juga
mencakupi:
a) Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan
pribadi.
b) Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
c) Submissive, merasakan adanya keragauan terhadap ajaran moral dan agama.
d) Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
e) Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral
masyarakat.
f)
5. Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat
kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang
mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).

7
6. Konflik dan Agama
Dari sampel yang diambil W. Strabuck terhadap mahasiswa
MiddleburgCollege, tersimpul bahwa dari remaja usia 11-26 tahun terdapat 53% dari
142 mahasiswa yang mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang
mereka terima, cara penerapan, keadaan lembaga keagamaan dan para pemuka
agama. Hal yang serupa ketika diteliti terhadap 95 mahasiswa, maka 75% diantaranya
mengalami kasus yang serupa.

Ciri-ciri Kesadaran Remaja dalam Beragama


1. Pengalaman ketuhanan remaja semakin bersifat individual
Remaja semakin mengenal dirinya. Ia menemukan dirinya bukan hanya
sekedar badan jasmaniah, tetapi merupakan suatu kehidupan psikologis rohaniah
berupa pribadi. Remaja bersifat kritis terhadap dirinya sendiri dan segala sesuatu yang
menjadi milik pribadinya. Ia menemukan pribadinya terpisah dari pribadi-pribadi lain
dan terpisah pula dari alam sekitarnya.
Penemuan diri pribadinya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri menimbulkan
rasa kesepian dan rasa terpisah dari pribadi lainnya. Secara formal dapat menambah
kedalaman alam perasaan, akan tetapi sekaligus menjadi bertambah labil. Keadaan
labil yang menekan menyebabkan si remaja mencari ketentraman dan pegangan
hidup. Penghayatan kesepian, perasaan tidak berdaya menjadikan si remaja berpaling
kepada Tuhan sebagai satu-satunya pegangan hidup, pelindung dan penunjuk jalan
dalam goncangan psikologis yang dialaminya.

2. Keimanannya semakin menuju realitas yang sebenarnya.


Terarahnya perhatian ke dunia dalam menimbulkan kecendrungan yang besar
untuk merenungkan, mengkritik, dan menilai diri sendiri. Intropeksi diri ini dapat
menimbulkan kesibukan untuk bertanya-tanya pada orang lain tentang dirinya
mengenai keimanan dan kehidupan agamanya. Dengan berkembangnya kemampuan
berpikir secara abstrak, si remaja mampu pula menerima dan memahami ajaran agama
yang berhubungan dengan masalah ghaib, abstrak dan rohaniah, seperti kehidupan
alam kubur, hari kebangkitan dan lain-lain. Penggambaran anthropormofik atau
memanusiakan Tuhan dan sifat-sifatNya lambat laun diganti dengan pemikiran yang
lebih sesuai dengan realitas.

3. Peribadatan mulai disertai penghayatan yang tulus


Agama adalah pengalaman dan penghayatan dunia dalam seseorang tentang
ketuhanan disertai keimanan dan peribadatan. Pada masa remaja dimulai
pembentukan dan perkembnagan suatu sistem moral pribadi sejalan dengan
pertumbuhan pengalaman keagamaan yang individual. Melalui kesadaran beragama
dan pengalaman keTuhanan akhirnya remaja akan menemukan Tuhannya yang berarti
menemukan kepribadiannya. Ia pun akan menemukan prinsip dan norma pegangan
hidup, hati nurani, serta makna dan tujuan hidupnya. Kesadaran beragamanya menjadi

8
otonom subjektif dan mandiri sehingga sikap dan tingkah lakunya merupakan
pencerminan keadaan dunia dalamnya, penampilan keimanan dan kepribadian yang
mantap.

4. Sikap menentukan pribadi


Kebanyakan remaja bersikap abivalen dalam menghadapi perubahan yang
terjadi. Di satu sisi mereka meginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut
akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan
kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut. Kebutuhan
remaja akan Allah kadang-kadang tidak terasa ketika remaja dalam keadaan tenang,
aman, dan tentram. Sebaliknya Allah sangat dibutuhkan apabila remaja dalam
keadaan gelisah, ketika ada ancaman, takut akan kegelapan, dan ketika merasa
berdosa.
Perasaan remaja pada agama adalah ambivalensi. Kadang-kadang sangat cinta
dan percaya pada Tuhan, tetapi sering pula berubah menjadi acuh tak acuh dan
menentang (Zakiyyah Darajat, 2003;96 dan Sururin, 2002;70)
5. Menggariskan jalan hidup
Maksudnya Ia mampu mengetahui jalan yang akan dilalui di dalam
perjuangannya mencapai cita-cita. Hal ini terjadi pada masa andolesen yaitu masa
menginjak dewasa.

Sikap Remaja dalam Beragama Pada masa remaja berbagai cara dilakukan mereka untuk
mengekspresikan jiwa keagamaan itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman beragama yang
dilaluinya. Ekspresi dan pengalaman beragama remaja itu dapat dilihat oleh sikap
keberagamaannya, yang meliputi:
1. Percaya Ikut-ikutan
Sifat beragama yang ikut-ikutan ini biasanya hanya terjadi pada usia diantara 13-16
tahun, dan akan hilang jika pemikiran kritis remaja sudah berkembang. Seperti apa
karakteristik percaya ikut-ikutan ini?
a. Bersikap apatis dalam mengekspresikan ajaran/tindakan agama.
b. Tidak ada perhatian untuk meningkatkan penghayatan agamanya.
c. Tidak mau terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan agama.
Jadi secara umum dapat dikatakan remaja yang sikap keberagamaannya masih
percaya ikut-ikutan dalam kelaksanakan ibadah dan ajaran agama sekedar hanya mengikuti
suasana lingkungan dimana dia hidup.
Apa faktor yang menyebabkan munculnya sikap remaja beragama, percaya ikut-ikutan?
a. Jika semenjak kecil diberikan pendidikan agama dengan cara yang menyenangkan,
yang jauh dari pengalaman-pengalaman pahit.
b. Pada saat remaja, mereka tidak mengalami peristiwa-peristiwa atau hal yang
menggoncangkan jiwanya.

9
Kedua faktor ini menyebabkan remaja tidak perlu meninjau kembali ajaran/tindakan
keagamaan yang diterima dimasa kanak-kanak, sehingga cara beragama yang bersifat
kekanak-kanakan masih terus berjalan. Percaya ikut-ikutan ini biasanya dihasilkan oleh
pendidikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun
demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu
biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan
psikisnya.
2. Percaya dengan Kesadaran
Sifat beragama remaja yang percaya dengan kesadaran ini biasanya dimulai
sekitar usia 16 tahun. Apa yang menyebabkan munculnya sikap beragama remaja
yang percaya dengan kesadaran?
a. Meredanya kegoncangan yang dialami remaja sebagai dampak dari perubahan
jasmani yang begitu cepat.
b. Hampir selesainya pertumbuhan jasmani.
c. Kemampuan berpikir yang sudah semakin matang.
d. Bertambahnya pengetahuan remaja.

Semua kondisi itu mendorong remaja untuk lebih memikirkan dirinya sendiri, ingin
mengambil tempat dan menonjol dalam masyarakat, perhatiannya pada ilmu pengetahuan,
agama dan masalah sosial semakin bertambah
Seperti apa karakteristik remaja yang percaya dengan kesaradan?
a. Dalam diri remaja muncul semangat keagamaan yang dimulai dari munculnya
kecenderungan remaja untuk meninjau kembali cara beragama yang diterima masa
kecil dulu.
b. Remaja punya keinginan untuk menjadikan agama sebagai suatu lapangan baru untuk
membuktikan kepribadiannya.
c. Semangat remaja sebagai dampak adanya kepercayaan dengan kesadaran ini muncul
dalam 2 bentuk, positif dan negatif.
Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah-masalah
keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagai suatu
lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama
secara ikut-ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18
tahun.
1. Dalam Bentuk Positif
Cirinya:
a. Remaja berusaha melihat agama dengan pandangan yang kritis.
b. Remaja tidak mau lagi menerima hal-hal yang tidak masuk akal dalam masalah
agama.
c. Remaja tidak mau mencampuradukkan agama dengan hal-hal yang bersifat
khurafat/tahayyul.
d. Remaja menjauhkan bid’ah dalam masalah agama

10
e. Remaja akan menyerang adat kebiasan yang dipandang tidak masuk akan dan
kurang sesuai dengan agama.
f. Remaja melontarkan kritik kepada pemimpin agama, yang mereka anggap kolot
dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Remaja ingin membersihkan agama dari segala yang mengurangi kemurnian agama.
Yaitu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal-hal
yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan
khurafat, dari kekakuan dan kekolotan. Dan menghindari gambaran sensusal terhadap
beberapa obyek agama, seperti gambaran surga, neraka, malaikat dan syetan tidak lagi
dibayangkan, akan tetapi memikirkan secara abstrak.
Seperti apa tindakan/sikap keagamaan remaja yang memiliki semangat keagamaan
dalam bentuk positif ini? Tindakan dan sikap keagamaan remaja yang memiliki semangat
yang positif ini akan terlihat berbeda satu sama lainnya. Hal ini sesuai dengan kecenderungan
kepribadian yang dimiliki oleh remaja bersangkutan.
a. Bagi remaja yang berkepribadianekstrovert/terbuka.
Cenderung menunjukkan aktivitas agamanya keluar, seperti: Melakukan kegiatan
keagamaan yang brsifat sosial, Melakukan perbaikan-perbaikan sosial dalam
bidang agama, Cenderung bisa bergaul erat dengan orang yang berbeda agama
atau aliran.
b. Bagi remaja yang berkepribadian introvert/suka meynyendiri/tertutup.
Cenderung untuk mencari kepuasan dalam do’a, sholat dan ibadah lainnya. Tidak
senang melakukan aktivitas agama yang besifat keluar/sosial.

2. Dalam Bentuk Negatif


Agama dan keyakinannya biasanya lebih cenderung kepada mengambil unsur-
unsur luar yang bercampur ke dalam agama misalnya khurafat, bid’ah dan
kepercayaan lainnya.

3. Percaya Tapi Ragu-ragu


Kebimbangan remaja terhadap agama itu tidak sama, berbeda antara satu
dengan yang lainnya, sesuai dengan kepribadiannya masing-masing. Ada yang
mengalami kebimbangan ringan yang cepat bisa diatasi dan ada yang sangat berat
sampai kepada berubah agama.
Kebimbangan tergantung pada dua faktor:
a. Kebimbangan dan keingkaran kepada Tuhan merupakan pantulan keadaan
masyarakat yang dipenuhi oleh penderitaan, kemerosotan moral, kekacauan dan
kebingungan.
b. Pantulan dari kebebasan berfikir yang menyebabkab agama menjadi sasaran dan
arus sekularisme.
Faktor penyelamat untuk menghindarkan remaja dari kesesatan adalah

11
a. Hubungan kasih sayang antara remaja dengan orang tua
b. Ketekunan menjalankan syariat agama, terutama dalam kelompok beragama.
Adanya jamaah yang tekun beragama, akan membuatnya terikat oleh tata tertib
dalam bergama.
c. Berusaha mempertahankan kepercayaannya terhadap Tuhan.

4. Tidak Percaya (Cenderung Atheis)


Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah
mengingkari adanya wujud Tuhan sama sekali dan mengganti dengan keyakinan lain.
Perkembangan remaja ke arah tidak mempercayai adanya Tuhan, sebenarnya
mempunyai akar atau sumber dari kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh
kekuasaan atau kezaliman orang tua kepadanya, maka ia telah memendam sesuatu
tantangan terhadap kekuasaan orang tua, dan kekuasaan terhadap siapapun, termasuk
kekuasaan Tuhan.

12
BAB III
PENUTUP
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa yang
ditandai dengan perubahan pada diri seseorang baik pada segi fisik maupun psikis.
Perkembangan tersebut mendorong remaja untuk lebih memahami diri dan lingkungannya
termasuk dalam kebutuhan beragama, seorang remaja cenderung lebih memilih agama yang
ajarannya konservatif dan tidak bersifat dogmatis.
Terdapat dua perkembangan agama yang terjadi pada remaja, yaitu
perkembangan kognitif dan perkembangan identitas pada masa remaja awal dan akhir. Hal
ini ditandai dengan beberapa faktor, antara lain faktor sosial, pengalaman, pemikiran, hati
nurani, pertumbuhan dan perkembangan mental, perasaan, sosial, moral, serta sikap dan
minat remaja itu sendiri.
Ciri-ciri kesadaran beragama telah timbul pada diri seorang remaja adalah jika
pengalaman dan kebutuhannya semakin bersifat individual, keimanannya semakin menuju
realitas yang sebenarnya, peribadatan mulai disertai penghayatan yang tulus, sikap
menentukan pribadi, menggariskan jalan hidupnya. Adapun sikap-sikap seorang remaja
dalam memahami agama yakni percaya ikut-ikutan, percaya dengan kesadaran, percaya tapi
ragu-ragu, atau tidak percaya bahkan cenderung atheis.

B. Saran
Seorang remaja meskipun telah melewati masa kanak-kanak belum dapat dikatakan
dewasa karena jalan pemikirannya masih membutuhkan bimbingan agar tidak merujuk ke
jalan yang salah. Oleh karena itu, bimbingan orang tua, motivasi dan lingkungan harus
disesuaikan dengan perkembangan remaja dan agamanya agar dapat menjadi seorang remaja
bergama yang beradab, baik dalam hal sosial maupun bagi diri sendiri.

13
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Sikap Remaja dalam Beragama. (Online) https://www.psychologymania.com/


Fathoni, Ahmad &Desbay. 2015. Perkembangan Agama pada Remaja. (Online)
https://www.desbayy.blogspot.co.id/
Nadhifah. 2015. Perkembangan Agama fpada Remaja. (Online)
https://www.ifadah26.abatasa.co.id/

14