Anda di halaman 1dari 5

BUKU JAWABAN TUGAS MATA KULIAH

TUGAS 3

Nama Mahasiswa : NUR AZIZAH

Nomor Induk Mahasiswa/ NIM : 042411769

Kode/Nama Mata Kuliah : PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Kode/Nama UPBJJ : ESPA4110

Masa Ujian : 2020/21.1(2020.2)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS TERBUKA
TMK PENGANTAR EKONOMI MAKRO

1. Perbedaan kurva penawaran agregat jangka pendek dan jangka panjang secara verbal dan
grafis
Kurva penawaran agregat adalah representasi grafis dari hubungan antara tingkat harga dan total
output barang dan jasa dalam perekonomian, menjaga faktor-faktor lain tetap konstan. Dalam bidang
ekonomi, para ekonom menggunakan PDB riil untuk mewakili total output dalam perekonomian.

Dalam periode yang sangat singkat (very short-run), kurva adalah garis horizontal (sangat elastis),
artinya perusahaan akan menyesuaikan output tanpa mengubah harga. Mereka hanya menyesuaikan
jam kerja dan intensitas fasilitas produksi mereka dalam menanggapi perubahan permintaan.

Dalam jangka pendek, beberapa faktor produksi tetap ada, biasanya modal. Kurva penawaran
agregat jangka pendek (short-run aggregate supply atau SRAS) memiliki kemiringan ke atas, yang
berarti bahwa harga yang lebih tinggi akan mendorong lebih banyak pasokan.

Dalam jangka panjang, semua biaya input bervariasi. Kurva penawaran agregat jangka panjang
(long-run aggregate supply atau LRAS) adalah inelastis sempurna, yang berarti bahwa tingkat harga
tidak mempengaruhi pasokan agregat. Tingkat harga yang lebih tinggi tidak mengubah kuantitas
yang disediakan. Pada tingkat ini, para ekonom mengatakan perekonomian berada pada lapangan
kerja penuh (pada potensi output, PDB potensial, atau kapasitas produksi potensial).

2. Keadaan stagflasi suatu negara dan solusi atas keadaan tersebut


Stagflasi merujuk pada dua kondisi ekonomi ekstrem yang terjadi secara bersamaan, yaitu
stagnasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang menggerus daya beli masyarakat. Kondisi stagflasi
merupakan kondisi yang paling ditakuti oleh seluruh pelaku ekonomi di seluruh negara. Stagflasi
merupakan perwujudan dari krisis ekonomi yang menghancurkan seluruh sendi perekonomian dari
dua sisi sekaligus, yaitu sisi penawaran dan permintaan.

Oleh karena itu, salah satu langkah realistis pemerintah ketika kondisi ekonomi mulai masuk ke
dalam pusaran krisis ekonomi adalah dengan menjaga agar roda dan aktivitas perekonomian tidak
terseret ke dalam kondisi stagflasi. Pandemi Covid-19 sepertinya sudah mulai memunculkan potensi
stagflasi, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pandemi ini telah menimbulkan
guncangan ekonomi yang sangat luas dan berdampak pada seluruh sektor ekonomi. Selain
menggoncang sisi penawaran dan permintaan sekaligus, wabah ini juga ikut mengguncang rantai
pasok global, sehingga berdampak ke hampir seluruh lapangan usaha.
Lingkaran episentrum guncangan ekonomi yang diakibatkan pandemi Covid-19 diyakini semakin
membesar. Penutupan pusat-pusat produksi dan perbelanjaan yang sudah dimulai sejak
pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan New Normal sudah menciptakan
gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut catatan Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Indonesia, terdapat 6 juta tenaga kerja yang terkena PHK dan dirumahkan sebagai dampak pandemi.
Munculnya 6 juta pengangguran baru ini akan menekan daya beli masyarakat secara agregat dan
mendorong tingkat inflasi riil menjadi lebih tinggi. Di sisi lain, penghentian aktivitas produksi untuk
sektor-sektor non-primer akan semakin menekan aktivitas produksi yang berimplikasi pada
penurunan produk domestik bruto (PDB) dalam skala nasional.
Untuk menekan dampak negatif pandemi terhadap kondisi perekonomian nasional, pemerintah telah
membuat berbagai kebijakan, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Dari sisi fiskal, ada beberapa
paket insentif fiskal seperti relaksasi pajak dan bantuan permodalan untuk UMKM yang bersumber
dari APBN.
Dari sisi moneter, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan yang dapat
menurunkan tingkat suku bunga seperti subsidi suku bunga, penurunan suku bunga acuan,
peningkatan peran BI, dan relaksasi kredit. Namun sejauh ini kebijakan tersebut dinilai masih belum
efektif dalam meredam efek negatif pandemi. Oleh karena itu, pemerintah harus terbuka terhadap
berbagai masukan kebijakan dalam menekan efek negatif pandemi terhadap perekonomian, terutama
terhadap potensi munculnya stagflasi ekonomi.
Stagnansi pertumbuhan ekonomi harus didorong oleh kebijakan fiskal dan moneter yang
ekspansioner. Kebijakan yang memerlukan biaya yang sangat mahal tetapi diperlukan untuk
menahan efek negatif yang jauh lebih besar. Insentif untuk sektor-sektor primer harus diperbesar
dengan bantuan pembukaan akses pasar yang lebih masif, terutama untuk kelompok UMKM. Di sisi
lain, daya beli masyarakat harus tetap dijaga. Kebijakan moneter harus dibuat seirama dengan
kebijakan fiskal, sehingga keterkaitan antara sektor keuangan dan sektor riil makin kuat. Pasar
keuangan harus ‘diperdalam’ untuk meminimalisasi capital outflow. Semua kebijakan moneter
tersebut harus tetap berpegang pada asas kehati-hatian.
Pada situasi abnormal seperti masa pandemi ini, pemerintah harus mampu membuat respon
kebijakan yang cepat tetapi dengan tetap memberi ruang pada prinsip kehatian-hatian dan
fleksibilitas terhadap berbagai alternatif kebijakan lainnya. Ibarat sebuah kapal yang sedang
menghadapi badai di lautan, pemerintah yang bertindak sebagai nakhoda harus memiliki ruang yang
cukup agar mampu bermanuver cepat dengan tetap aman, sehingga kapal tidak karam dan seluruh
penumpangnya selamat.

3. Gambaran tentang keadaan resesi, dan berikan contoh dengan perekonomian Indonesia
Resesi ekonomi adalah situasi terjadinya penurunan nilai pertumbuhan ekonomi rill menjadi
negatif sepanjang sepertiga tahun berturut-turut. Resesi ekonomi pada suatu wilayah secara simultan
akan memberikan pengaruh kepada penurunan pada seluruh kegiatan ekonomi, seperti investasi,
lapangan pekerjaan, dan penurunan keuntungan perusahaan. Diambil dari buku Mewaspadai
Terulangnya Krisis Ekonomi 1998 dan Upaya Pencegahannya (2020) Eri Hariyanto, terjadinya
resesi ekonomi sering kali diindikasikan dengan menurunnya atau meningkatnya harga-harga
komoditas dalam negeri. Jika tidak segera diatasi, resesi akan berlangsung dalam jangka waktu lama
sehingga menjadi depresi ekonomi.
Resesi Hebat 2008 Terdapat empat kuartal berturut-turut pertumbuhan PDB (Produk Domestik
Bruto) negatif, yaitu dua kuartal terakhir 2018 dan dua kuartal pertama 2009. Resesi dimulai pada
kuartal pertama 2008 ketika PDB menyusut 2,3 persen. Ekonomi kehilangan 16.000 pekerjaan pada
2008. Tidak seperti kebanyakan resesi, permintaan untuk perumahan melambat terlebih dahulu.
Akibatnya, sebagian besar ahli ekonomi mengira ini hanyalah akhir dari sekotor perumahan, bukan
awal resesi.

Berikut faktanya :
 Pada 2008, PDB mengalami penurunan tajam sebesar 2,1 persen pada kuartal ketiga. DIlanjurkan
penurunan sebesar 8,4 persen pada kuartal keempat. Pada 2009, PDB juga mengalami penurunan
lagi sebesar 4,4 persen pada kuartal pertama dan 0,6 persen pada kuartal kedua.
 Pengangguran naik menjadi 10 persen di Oktober 2009
 Ketenagakerjaan turun sebesar 33.000 orang kehilangan pekerja pada Juli 2007. Kemudian
membaik bulan Desember dengan mendapatkan 110.000 pekerjaan. Namun, Februari 2008 turun
48.000 orang kehilangan pekerjaan. Kerugian terus meningkat hingga pad Desember 2008
sebanyak 704.000 orang kehilangan pekerjaan. Bulan terburuk pada Maret 2009 sebanyak
803.000 orang kehilangan pekerjaan dan tidak segera membaik. Kemudian pada 2010 mulai
membaik dengan adanya 180.000 orang mendapatkan pekerjaan.
 Harga rumah turun 10 persen

4. Penyebab pergeseran kurva penawaran agregat


Sebelum membahas faktor-faktor penentu, harap dicatat, SRAS dan LRAS akan berperilaku
berbeda.
a. Jangka pendek
Dalam jangka pendek, perubahan tingkat harga menyebabkan penawaran agregat bergerak (tidak
menggeser) kurva SRAS. Kurva akan bergeser hanya ketika biaya produksi dan kapasitas
produktif ekonomi berubah.
Berikut ini adalah faktor-faktor rinci yang menggeser kurva SRAS :
 Harga input. Harga input yang lebih tinggi (seperti bahan baku dan energi) meningkatkan
biaya produksi, menggeser kurva SRAS ke kiri. Sebaliknya, kurva SRAS akan bergeser ke
kanan karena penurunan harga input.
 Upah nominal. Seperti harga input, perubahan upah nominal akan menggeser kurva SRAS.
Upah nominal yang lebih tinggi meningkatkan biaya produksi dan menggeser kurva SRAS ke
kiri. Sebaliknya, upah nominal yang lebih rendah menggeser kurva SRAS ke kanan.
 Ekspektasi harga output di masa depan. Ketika harga di masa depan naik, produsen akan
meningkatkan pasokan untuk mengantisipasi margin laba yang lebih tinggi di masa depan.
Akibatnya, kurva SRAS bergeser ke kanan. Namun, jika harga output turun, produsen
memangkas produksi dan dengan demikian bergeser ke kiri.
 Pajak bisnis. Kurva SRAS bergeser ke kanan ketika pemerintah memotong pajak bisnis. Pajak
bisnis yang lebih rendah mengurangi biaya produksi dan sebaliknya; biaya produksi
meningkat ketika pemerintah menaikkannya.
 Subsidi pemerintah. Pemerintah sering menawarkan subsidi untuk membantu bisnis
mengurangi biaya produksinya, sehingga menggeser kurva SRAS ke kanan. Jika subsidi
dicabut, biaya produksi meningkat dan menggeser kurva SRAS ke kiri.
 Kurs. Apresiasi mata uang membuat bahan baku dan barang modal impor lebih murah bagi
produsen dalam negeri. Ini mengurangi biaya produksi dan menggeser kurva SRAS ke kanan.
Efek sebaliknya berlaku ketika nilai tukar terdepresiasi.

b. Jangka panjang
Faktor-faktor yang mempengaruhi pasokan agregat jangka panjang. Mengubah faktor-faktor ini
akan menggeser kurva SRAS. Misalnya, peningkatan kualitas tenaga kerja karena teknologi
canggih memungkinkan mereka untuk menghasilkan lebih banyak output menggunakan input
yang ada. Akibatnya, produksi jangka pendek meningkat dan menggeser kurva SRAS ke kanan.
Dalam jangka panjang, ekonomi menggunakan kapasitas produksinya dan berproduksi pada
output potensial. Selama periode ini, harga input menyesuaikan perubahan tingkat harga secara
proporsional. Oleh karena itu, perubahan biaya produksi tidak mempengaruhi LRAS dan kurva-
nya.
Output potensial hanya berubah ketika faktor-faktor produksi ekonomi juga berubah. Misalnya,
LRAS meningkat ketika faktor produksi meningkat dalam hal jumlah atau membaik dalam hal
kualitas. LRAS yang meningkat menggeser kurva ke kanan. Berikut ini adalah faktor-faktor yang
meningkatkan LRAS dan menggeser kurva ke kanan :
 Peningkatan pasokan tenaga kerja
 Peningkatan sumber daya alam
 Perbaikan modal manusia
 Peningkatan modal fisik
 Teknologi lebih maju

5. Konsep tabungan, investasi, dan hubungannya dengan aliran internasional


Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka
waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.”

Investasi dan tabungan adalah dua hal yang terpisah, tapi pada kondisi yang lebih makro, kedua hal
itu menjadi kesatuan. Seorang yang berinvestasi sesungguhnya dirinya telah menjalankan kegiatan
menabung. Karena alasan tersebut maka menabung tidak seharusnya dibatasi dengan tabungan di
perbankan melainkan lebih luas lagi. Menabung itu investasi, dan secara tradisional tabungan di
perbankan itu investasi. Investa si jenis ini aman dan likuid atau mudah dicairkan.

Anda mungkin juga menyukai