Anda di halaman 1dari 6

BUKU JAWABAN TUGAS MATA KULIAH

TUGAS 2

Nama Mahasiswa : NUR AZIZAH

Nomor Induk Mahasiswa/ NIM : 042411769

Kode/Nama Mata Kuliah : PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Kode/Nama UPBJJ : ESPA4110

Masa Ujian : 2020/21.1(2020.2)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS TERBUKA
TMK PENGANTAR EKONOMI MAKRO

1. Komponen-komponen yang ada pada permintaan agregat, yaitu: Y = C + I + G + NX dan


gambarkan kurvanya!
Komponen permintaan agregat
Untuk memahami permintaan agregat, mari kita gambarkan komponennya. Kita menghitung
permintaan agregat dengan menjumlahkan permintaan dari empat sektor ekonomi makro (rumah
tangga, bisnis, pemerintah, dan eksternal) :

a. Konsumsi (C)
Konsumsi mewakili pengeluaran rumah tangga untuk barang dan jasa. Penentu utama dari
komponen ini adalah pendapatan disposabel (disposable income), kadang-kadang juga disebut
pendapatan setelah pajak atau pendapatan sekali pakai.
Pengeluaran sekali pakai yang lebih tinggi meningkatkan konsumsi dan tabungan. Berapa
banyak yang ditabung dan dikonsumsi rumah tangga dari tambahan uang yang mereka terima,
itu tergantung pada kebiasaan rumah tangga. Kita mengukur kebiasaan ini melalui indikator
kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity to consume) dan kecenderungan
menabung marginal (marginal propensity to save).
Karena disposable income juga tergantung pada pajak, kita juga perlu mempertimbangkan
pengaruh variabel ini dalam analisis konsumsi rumah tangga. Mengurangi pajak pribadi
membuat rumah tangga memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan atau untuk ditabung.
Sebaliknya, kenaikan pajak mengurangi pendapatan disposabel, karenanya konsumsi dan
tabungan.
Beberapa faktor mempengaruhi konsumsi rumah tangga. Diantaranya adalah kekayaan,
ekspektasi konsumen, inflasi, dan suku bunga. Namun, para ekonom menyimpulkan bahwa
disposable income adalah faktor yang paling dominan dalam menjelaskan konsumsi.

b. Investasi (I)
Pengeluaran investasi adalah pembelian barang dan jasa oleh bisnis. Pembelian biasanya untuk
modal fisik, yang sangat penting untuk kapasitas produksi mereka. Keputusan investasi
terutama tergantung pada keuntungan yang diharapkan dan biaya pendanaan.
Ekonom menggunakan PDB riil sebagai proksi untuk menjelaskan keuntungan yang
diharapkan. Pengembalian investasi baru yang diharapkan tinggi ketika PDB riil berekspansi.
Dan sebaliknya, ketika PDB riil turun (kontraksi), investasi semacam itu cenderung tidak
menguntungkan. Alasannya adalah bahwa, selama kontraksi, permintaan barang dan jasa lemah.
Oleh karena itu, tidak mungkin perusahaan dapat menjual output tambahan yang dihasilkan dari
investasi modal baru.
Biaya pendanaan juga mempengaruhi investasi bisnis. Untuk mengukur biaya, para ekonom
menggunakan suku bunga riil daripada suku bunga nominal. Suku bunga riil adalah tingkat
bunga nominal yang disesuaikan dengan inflasi.
Suku bunga riil yang lebih rendah menyebabkan biaya investasi yang lebih rendah. Dan, efek
sebaliknya berlaku ketika suku bunga riil lebih tinggi

c. Pengeluaran pemerintah (G)


Pengeluaran pemerintah dianggap sebagai variabel eksogen. Itu karena variabel ekonomi seperti
pertumbuhan ekonomi, nilai tukar mata uang, dan suku bunga; tidak mempengaruhi keputusan
pengeluaran.

d. Ekspor bersih (NX)


Ekspor neto sama dengan ekspor dikurangi impor. Ekspor adalah permintaan asing untuk output
dalam negeri. Impor mewakili permintaan domestik untuk output orang asing. Komponen ini
ditentukan oleh pendapatan dan harga relatif antara ekonomi domestik dan dunia.

Secara agregat, pertumbuhan PDB riil mewakili pendapatan suatu negara, dan tingkat inflasi
mencerminkan harga umum suatu negara. Juga, karena perdagangan internasional melibatkan mata
uang yang berbeda, nilai tukar mempengaruhi tingkat harga. Oleh karena itu, dalam menilai
permintaan agregat, para ekonom menggunakan nilai tukar riil daripada nilai tukar nominal.
Meningkatnya PDB riil domestik mendorong permintaan akan barang-barang impor, mengurangi
ekspor neto dan sebaliknya. Sementara itu, penurunan harga barang-barang domestik (mungkin
karena depresiasi mata uang) membuat barang-barang ini lebih murah bagi orang asing, sehingga
meningkatkan ekspor neto.

Kurva permintaan agregat dan determinannya

Kurva permintaan agregat secara grafis mewakili AD. Kurva memiliki kemiringan ke bawah, yang
berarti bahwa kuantitas yang diminta berkurang ketika tingkat harga meningkat. Pergerakan di
sepanjang kurva terjadi karena perubahan tingkat harga. Sementara itu, perubahan faktor-faktor selain
tingkat harga menggeser kurva permintaan agregat. Pergeseran ke kanan berarti peningkatan
permintaan agregat, sementara pergeseran ke kiri menunjukkan penurunan.
2. Pandangan teori kuantitas uang yang dikemukakan oleh Irving Fisher beserta asumsi dasar
yang digunakan

Teori Irving Fisher Teori permintaan uang klasik bermula dari tentang teori jumlah uang beredar
dalam masyarakat (teori kuantitas uang). Teori ini dapat dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa
seorang/ masyarakat menyimpan uang kas, tetapi lebih pada peranan uang dalam perekonomian.
Irving Fisher merumuskan teori kuantitas uang sebagai berikut :
M.V=P.T

Di mana :
M : Jumlah uang beredar
V : Perputaran uang dari tangan satu ke tangan yang lain dalam satu periode
P : Harga barang
T : Volume barang yang diperdangangkan

Menurut teori ini, perubahan jumlah uang beredar akan mengakibatkan perubahan harga secara
porporsional. Artinya, kalau jumlah uang naik dua kali lipat maka tingkat harga naik dua kali lipat.
Jika kenaikan harga P terjadi secara umum dan secara terus menerus maka keadaan ini disebut
sebagai inflasi.

Persamaan diatas yang dikemukakan Irving Fisher di atas diubah menjdai persamaan uang dengan
mengganti volume barang yang diperdagangkan ( T ) dengan output riil (Q). Formulasi teori
kuantitas menjadi :
M .V = P . Q =Y
Di mana :
Y : P.Q = GNP nominal
V : Tingkat perputaran pendapatan (income velocity of money)

Teori kuantitas uang dikemukakan oleh Irving Fisher, seorang ahli ekonomi Amerika yang
tergolong dalam golongan ahli-ahli ekonomi klasik.
Pandangan teori kuantitas didasarkan kepada dua asumsi, yaitu :
 Laju peredaran uang, atau V, adalah tetap.
Menurut ahli-ahli ekonomi klasik kelajuan peredaran uang tergantung kepada beberapa faktor
teknikal, seperti sistem pembayaran gaji, ciri-ciri kegiatan perdagangan, efisien sistem
pengangkutan dan kepadatan penduduk. Faktor- faktor ini tidak mengalami perubahan dalam
jangka pendek, dan oleh karena itu cara-cara masyarakat untuk menggunakan uang dan
berbelanja tidak berubah.

 Kesempatan kerja penuh selalu tercapai dalam ekonomi


Penawaran tidak akan pernah kurang dari produksi barang pada kesempatan kerja penuh, karena
setiap barang yang dikeluarkan akan dibeli masyarakat, hal ini sesuai dengan rumusan Say.
Oleh karena itu, jumlah barang-barang adalah tetap dan tidak dapat ditambah. Maka untuk
memaksimalkan untung, mereka akan selalu memproduksikan barang pada tingkat kesempatan
kerja penuh. Ini berarti jumlah T tetap. Sebagai implikasi dari kedua asumsi di atas, maka
menurut persamaan MV = PT, apabila M berubah maka ia hanya akan merubah P pada tingkat
yang sama dengan perubahan M.
3. Dasar dari kritikan golongan Keynesian terhadap teori klasik
Keynesian economy adalah teori ekonomi tentang pengeluaran total dalam perekonomian dan
pengaruhnya terhadap output dan inflasi. Teori ini dikembangkan oleh ekonom Inggris John
Maynard Keynes selama tahun 1930-an dalam upaya untuk memahami Depresi Besar. Keynes
menganjurkan untuk meningkatkan pengeluaran pemerintah dan menurunkan pajak untuk
merangsang permintaan dan menarik ekonomi global keluar dari depresi.
Selanjutnya, teori ini juga digunakan untuk merujuk pada konsep bahwa kinerja ekonomi yang
optimal dapat dicapai, dan kemerosotan ekonomi dapat dicegah. Dengan mempengaruhi
permintaan agregat melalui kebijakan stabilisasi aktivis dan intervensi ekonomi oleh pemerintah.
Ekonomi Keynesian dianggap sebagai teori “sisi permintaan” yang berfokus pada perubahan
ekonomi dalam jangka pendek.

Kritik Keynes terhadap Pandangan Teori Klasik


Menyadari kelemahan analisis yang dilakukan oleh ahli-ahli ekonomi Klasik merupakan dorongan
penting kepada Keynes untuk melakukan suatu pendekatan baru di dalam menelaah pola kegiatan
ekonomi masyarakat,dan bagaimana tingkat kegiatan ekonomi dan tingkat produksi nasional yang
ditentukan. Keynes tidak menyetujui pandangan yang paling pokok dalam teori Klasik, yaitu
bahwa penggunaan tenaga kerja penuh akan selalu tercipta dalam perekonomian. Keynes
berpendapat “Penggunaan tenaga kerja penuh adalah keadaan yang jarang terjadi, dan hal itu
disebabkan karena kekurangan permintaan agregat yang wujud dalam perekonomian”.

5. Perbedaan kebijakan fiskal ekspansif dan kontraktif dan berikan contohnya


Kebijakan fiskal bakal diterapkan tergantung dari kondisi perekonomian suatu negara, dan
berdasarkan itu, jenisnya dibagi menjadi dua yaitu ekspansif dan kontraktif.
a. Kebijakan fiskal ekspansif
Ekspansif dikeluarkan apabila kondisi negara tengah di dalam pertumbuhan ekonomi yang
lemah, artinya pengangguran meningkat, bisnis lesu, dan daya beli masyarakat berkurang.
Untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, suatu pemerintah bisa melakukan dua kebijakan,
pertama penurunan pajak dan meningkatkan pembelanjaan negara. Dengan cara ini, secara
perlahan pertumbuhan ekonomi juga bakal meningkat. Kebijakan ekspansif paling sering
digunakan selama masa resesi, saat-saat pengangguran tinggi atau periode siklus bisnis rendah
lainnya. Kebijakan Ini mengharuskan pemerintah membelanjakan lebih banyak uang,
menurunkan pajak, atau melakukan keduanya. Tujuannya adalah untuk menempatkan lebih
banyak uang di tangan konsumen sehingga mereka membelanjakan lebih banyak dan
merangsang ekonomi.
b. Kontraktif
Sebaliknya, kebijakan jenis kontraktif dikeluarkan ketika ekonomi suatu negara semakin
memanas yang ditandai dengan tingkat inflasi tinggi dan nilai tukar mata uang rendah.
Penerapannya adalah dengan mengurangi pengeluaran, dan meningkatkan pemasukan, salah
satunya dengan menerapkan pajak tinggi, sampai nantinya kondisi perekonomian kembali
stabil. Kebijakan fiskal kontraksional digunakan untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi,
seperti ketika inflasi tumbuh terlalu cepat. Kebalikan dari kebijakan fiskal ekspansif, kebijakan
fiskal kontraktif meningkatkan pajak dan memotong pengeluaran.
Ada banyak bentuk kebijakan fiskal yang pernah diterapkan oleh Indonesia.
Berikut ini contoh-contohnya :
 Tax Amnesty tahun 2017
Pemerintahan Presiden Jokowi pernah memberikan program pengampunan pajak atau tax
amnesty kepada individu dan badan usaha yang termasuk ke dalam wajib pajak. Khusus bagi
mereka yang pernah menunggak pajak, menunda pembayaran pajak, sampai tidak melaporkan
harta bendanya yang berada di negara-negara lain, pada momen ini tidak akan dikenakan sanksi
administrasi, sanksi pidana, dan denda keterlambatan bayar pajak. Saat itu total harta yang
dilaporkan oleh para wajib pajak bisa mencapai Rp4.000 triliun-an dan negara mendapatkan
penerimaan tambahan mencapai Rp130 triliun.
 Pengurangan subsidi BBM
Selain tax amnesty, pemerintah telah mencabut subsidi bahan bakar yang selama ini dinikmati
oleh masyarakat. Dengan cara ini, otomatis harga bahan bakar pun menjadi lebih mahal dan
fluktuatif sesuai dengan kondisi minyak dunia. Namun, dengan pencabutan subsidi itu,
pemerintah bisa meningkatkan pelayanan di program lainnya, seperti akses kesehatan,
pendidikan, dan fasilitas-fasilitas negara.
 Memberlakukan bebas visa ke banyak negara
Sektor pariwisata juga dijadikan sasaran empuk pemerintah untuk menerapkan kebijakan fiskal,
salah satunya adalah dengan memperluas pemberlakuan bebas visa bagi negara-negara
sahabat. Dengan cara ini, harapannya adalah bisa meningkatkan penerimaan negara dari sektor
pariwisata, mengingat pariwisata Indonesia termasuk industri andalan di dunia.

Anda mungkin juga menyukai