Anda di halaman 1dari 20

Critical Book Report

“Profesi Kependidikan”

D
I
S
U
S
U
N
Oleh:

Saurina Septiani Sitanggang


3172131022

Jurusan Pendidikan Geografi


Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Medan
2018
Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunia yang dilimpahkan-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan tugas
ini.
Adapun yang menjadi judul tugas saya adalah “Critical Book Report”.Tujuan saya
membuat tugas ini yang utama untuk memenuhi tugas dari dosen pembimbing saya dalam mata
kuliah Profesi Kependidikan
Jika dalam penulisan makalah saya terdapat berbagai kesalahan dan kekurangan dalam
penulisannya, maka kepada para pembaca, penulis memohon maaf sebesar-besarnya atas
koreksi-koreksi yang telah dilakukan. Hal tersebut semata-mata agar menjadi suatu evaluasi
dalam pembuatan tugas ini.
Mudah-mudahan dengan adanya pembuatan tugas ini dapat memberikan manfaat berupa ilmu
pengetahuan yang baik bagi penulis maupun bagi para pembaca.

Medan, Februari 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Informasi Blibliografi

Buku 1

Judul : Profesi Kependidikan


Penulis : Prof. Dr. H. Hamzah B. Uno, M.Pd
Penerbit : PT. Bumi Aksara
Tahun terbit : 2008
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan : Kedua
Jumlah Halaman : 145 halaman
ISBN : (13) 978-979-010-171-5

Buku 2

Judul : Profesi Kependidikan


Penulis : Tri Yuni Hendrowati
Penerbit : STKIP Muhammadiyah Piringsewu Lampug
Tahun terbit : 2008
Kota Terbit : Lampung
Jumlah Halaman : 265 halaman
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

Buku 1

Pengantar Profesi Kependidikan


Di dalam manajemen pendidikan kita harus melihat seberapa jauh kekuasaan pembuatan
kebijaksanaan pendidikan itu tersentralisasi atau terdesentralisasi. Demikian juga kita harus
mengamati seberapa jauh masyarakat terlibat dan ikut berperan dalam pendidikan berarti
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengontrol pelaksanaan pendidikan. Dengan
demikian, pengontrolan ini pendidikan tidak akan dikebiri prosesnya dalam meningkatkan
kualitas sumber daya manusia.
Pelaksanaan pendidikan selama ini banyak diwarnai oleh pendekatan sarwa negara (state
driven). Di mana yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat
(putting customers first). Pendidikan harus mengenali siapa pelanggannya, dan dari pengenalan
ini pendidikan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui
aspirasi dan kebutuhan mereka, baru ditentukan sistem pendidikan, macam kurikulumnya, dan
persyaratan pengajarnya.
Pendekatan sarwa negara mengakibatkan terjadinya sentralisasi sistem pendidikan. Untuk
masa depan, visi pendidikan tidak lagi berorientasi pada sentralisasi kekuasaan, melainkan
desentralisasi dan memberikan otonomi kepada satuan di bawah atau kepada daerah.
Visi pendidikan masa depan menuntut kita agar mampu hidup dalam suasana schooling and
working in democratic state dan meletakkan information technology.
Mengingat masih banyaknya lulusan lembaga pendidikan formal, baik dari tingkat
sekolah menengah maupun perguruan tinggi, terkesan belum mampu mengembangkan
kreativitas dalam kehidupan mereka. Lulusan sekolah menengah sukar untuk bekerja di sektor
formal, karena belum memiliki keahlian khusus. Bagi sarjana, mereka yang dapat berperan
secara aktif dalam bekerja di sektor formal terbilang hanya sedikit. Keahlian dan profesionalisasi
yang melekat pada lembaga pendidikan tinggi terkesan hanyalah simbol belaka, lulusannya tidak
profesional. Penguasaan bahasa Inggris, keterampilan komputer, dan pengalaman kerja
merupakan persyaratan utama yang diminta perusahaan-perusahaan. Sementara ijazah yang
diperoleh selama 20 atau 25 tahun dari lembaga pendidikan formal terabaikan.
Memperhatikan berbagai kondisi pendidikan dewasa ini, maka hal yang perlu
dikedepankan, yaitu (1) bagaimana memberdayakan lembaga pendidikan agar menjadi lembaga
human investment? (2) hal-hal apakah yang perlu dilakukan agar otonomisasi penyelenggaraan
pendidikan dapat dilakukan dengan baik.

Sepuluh Perubahan Pendidikan untuk Peningkatan Sumber Daya Manusia


Seberapa jauh pendidikan mampu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) kita dan
jati diri bangsa dalam mengembangkan demokrasi dan memupuk persatuan bangsa? Hal ini
dapat terlihat dengan menganalisis beberapa paradigme pendidikan, di antaranya: (1) pendidikan
sebagai proses pembebasan. (2) pendidikan sebagai proses pencerdasan. (3) pendidikan
menjunjung tinggi hak-hak anak. (4) pendidikan menghasilkan tindak perdamaian. (5)
pendidikan sebagai proses pemberdayaan potensi manusia (6) pendidikan anak berwawasan
integratif. (7) pendidikan membangun watak persatuan. (8) pendidikan menghasilkan manusia
demokratis. (9) pendidikan menghasilkan manusia yang peduli terhadap lingkungan. (10)
Sekolah bukan satu-satunya instrumen pendidikan.

Profesionalisme Guru
Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik,
mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki
kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar
peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan
akhir dari proses pendidikan. Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang
memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dilakukan oleh sembarang orang di luar
bidang pendidikan.
Untuk seorang guru perlu mengetahui dan dapat menerapkan beberapa prinsip mengajar
agar ia dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, yaitu sebagai berikut:
1. Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang
diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi.
2. Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir serta mencari
dan menemukan sendiri pengetahuan.
3. Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran dan penyesuaiannya
dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta didik.
4. Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah
dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi), agar peserta didik menjadi mudah dalam memahami
pelajaran yang diterimanya.
5. Sesuai dengan prinsip repetisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru dapat menjelaskan
unit pelajaran secara berulang-ulang hingga tanggapan peserta didik menjadi jelas.
6. Guru wajib memperhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara mata pelajaan
dan/atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
7. Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara memberikan
kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati/meneliti, dan menyimpulkan
pengetahuan yang didapatnya.
8. Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam
kelas maupun di luar kelas.
9. Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara individual agar dapat
melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut.
Guru dapat melaksanakan evaluasi yang efektif serta menggunakan hasilnya untuk
mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta dapat melakukan perbaikan dan pengembangan.
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang telah demikian pesat, guru tidak lagi hanya
bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator,
motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mencari dan mengolah sendiri informasi. Dengan demikian, keahlian guru harus terus
dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan prinsip mengajar saja.
Seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang dapat ditunjukkan oleh
peserta didiknya. Untuk itu, apabila seseorang ingin menjadi guru yang profesional maka sudah
seharusnya ia dapat selalu meningkatkan wawasan pengetahuan akademis dan praktis melalui
jalur pendidikan berjenjang ataupun upgrading dan/atau pelatihan yang bersifat in service
training dengan rekan-rekan sejawatnya.
Perubahan dalam cara mengajar guru dapat dilatihkan melalui peningkatan kemampuan
mengajar sehingga kebiasaan lama yang kurang efektif dapat segera terdeteksi dan perlahan-
lahan dihilangkan. Untuk itu, maka perlu adanya perubahan kebiasaan dalam cara mengajar guru
yang diharapkan akan berpengaruh pada cara belajar siswa, di antaranya sebagai berikut:
1. Memperkecil kebiasaan cara mengajar guru baru (calon guru) yang cepat merasa puas dalam
mengajar apabila banyak menyajikan informasi (ceramah) dan terlalu mendominasi kegiatan
belajar peserta didik.
2. Guru hendaknya berperan sebagai pengarah, pembimbing, pemberi kemudahan dengan
menyediakan berbagai fasilitas belajar, pemberi bantuan bagi peserta yang mendapat kesulitan
belajar, dan pencipta kondisi yang merangsang dan menantang peserta untuk berpikir dan
bekerja (melakukan).
3. Mengubah dari sekadar metode ceramah dengan berbagai variasi metode yang lebih relevan
dengan tujuan pembelajaran, memperkecil kebiasaan cara belajar peserta yang baru merasa
belajar dan puas kalau banyak mendengarkan dan menerima informasi (diceramahi) guru, atau
baru belajar kalau ada guru.
4.  Guru hendaknya mampu menyiapkan berbagai jenis sumber belajar sehingga peserta didik
dapat belajar secara mandiri dan berkelompok, percaya diri, terbuka untuk saling memberi dan
menerima pendapat orang lain, serta membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri
informasi.
Kompetensi profesional seorang guru adalah seperangkat kemampuan yang harus
dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil.
Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, terdiri dari 3 (tiga), yaitu kompetensi
pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Agar lebih jelas tentang kompetensi profesional, dijelaskan bahwa peran guru sebagai
pengelola proses pembelajaran, harus memiliki kemampuan:
1)  Merencanakan sistem pembelajaran

 Merumuskan tujuan
 Memilih prioritas materi yang akan diajarkan
 Memilih dan menggunakan metode
 Memilih dan menggunakan sumber belajar yang ada
 Memilih dan menggunakan media pembelajaran.

2)   Melaksanakan sistem pembelajaran

 Memilih bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat


 Menyajikan urutan pembelajaran secara tepat

3)   Mengevaluasi sistem pembelajaran

 Memilih dan menyusun jenis evaluasi


 Melaksanakan kegiatan evaluasi sepanjang proses
 Mengadministrasikan hasil evaluasi.

4)   Mengembangkan sistem pembelajaran

 Mengoptimalkan potensi peserta didik


 Meningkatkan wawasan kemampuan diri sendiri
 Mengembangkan program pembelajaran lebih lanjut

Sedangkan kompetensi guru yang telah dibakukan oleh Dirjen Dikdasmen Depdiknas (1999)
sebagai berikut:
1)    Mengembangkan kepribadian
2)    Menguasai landasan kependidikan
3)    Menguasai bahan pelajaran
4)    Menyusun program pengajaran
5)    Melaksanakan program pengajaran
6)    Menilai hasil dalam PBM yang telah dilaksanakan
7)    Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
8)    Menyelenggarakan program bimbingan
9)    Berinteraksi dengan sejawat dan masyarakat
10)  Menyelenggarakan administrasi sekolah.
Merekonstruksi Masyarakat dan Kebudayaan Melalui Pengubahan Sistem Pengelolaan
Pendidikan di Sekolah
Perananan sekolah dalam merekonstruksi masyarakat berarti sekolah merekonstruksi
berbagai tata nilai yang telah ada dalam masyarakat, yang oleh Malindoski disebutkan sebagai
upaya mengembangkan kebudayaan. Ada tujuh sistem nilai atau kebudayaan yang secara
universal dikembangkan, yaitu (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) sistem mata pencaharian
hidup dan ekonomi, (4) organisasional, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, dan (7) kesenian.

Jabatan Profesional dan Tantangan Guru dalam Pembelajaran


Jabatan guru merupakan jabatan profesional yang menghendaki guru harus bekerja secara
profesional. Bekerja sebagai seorang yang profesional berarti bekerja dengan keahlian, dan
keahlian hanya dapat diperoleh melalui pendidikan khusus.
Kondisi dan asas untuk bealajar yang berhasil meliputi: persiapan sebelum mengajar, sasaran
belajar, susunan bahan ajar, perbedaan individu, motivasi, sumber pengajaran, keikutsertaan,
balikan, penguatan, latihan dan pengulangan, urutan kegiatan belajar, penerapan, sikap mengajar,
penyajian di depan kelas.

Kompetensi Profesionalisme Guru


Kompetensi guru adalah kecakapan atau kemampuan yang dimiliki guru, yang
diindikasikan dalam tiga kompetensi, yaitu kompetensi yang berhubungan dengan tugas
profesionalnya sebagai guru (profesional), kompetensi yang berhubungan dengan keadaan
pribadinya (personal), dan kompetensi yang berhubungan dengan masyarakat atau
lingkungannya (sosial).
Kompetensi guru profesional menurut pakar pendidikan seperti Soediarto menuntut
dirinya sebagai seorang guru agar mampu menganalisis, mendiagnosis, dan memprognosis
situasi pendidikan. Guru yang memiliki kompetensi profesional perlu menguasai antara lain: (a)
disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran, (b) bahan ajar yang diajarkan, (c)
pengetahuan tentang karakteristik siswa, (d) pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan,
(e) pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar, (f) penguasaan terhadap prinsip
teknologi pembelajaran, (g) pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan,
memimpin, guna kelancaran proses pendidikan.
Reformasi Pendidikan
Sistem pendidikan yang selama ini dikelola dalam suatu iklim birokratik dan sentralistik
dianggap sebagai salah satu sebab yang telah membuahkan keterpurukan dalam mutu dan
keunggulan pendidikan di tanah air. Mengapa demikian? Karena sistem birokrasi selalu
menempatkan kekuasaan sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses pengambilan
keputusan.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) muncul sebagai paradigma baru pengelolaan
pendidikan. MBS bermaksud “mengembalikan” sekolah kepada pemiliknya, yaitu masyarakat,
yang diharapkan akan merasa bertanggung jawab kembali sepenuhnya terhadap pendidikan yang
diselenggarakan di sekolah-sekolah.
Paradigma MBS beranggapan bahwa satu-satunya jalan masuk yang terdekat menuju
peningkatan mutu dan relevansi adalah demokratisasi, partisipasi, dan akuntabilitas pendidikan.
Kepala sekolah, guru, dan masyarakat adalah pelaku utama dan terdepan dalam penyelenggaraan
pendidikan di sekolah sehingga segala keputusan mengenai penanganan persoalan pendidikan
pada tingkatan mikro harus dihasilkan dari interaksi ketiga pihak tersebut.
Untuk sampai pada kemampuan untuk mengurus dan mengatur penyelenggaraan
pendidikan di setiap satuan pendidikan, diperlukan program yang sistematis dengan melakukan
capacity building. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan setiap satuan
pendidikan secara berkelanjutan, baik untuk melaksanakan peran-peran manajemen pendidikan
maupun peran-peran pembelajaran. Namun, kegiatan capacity building tersebut perlu dilakukan
secara sistematis melalui penahapan sehingga menjadi proses yang dilakukan secara
berkesinambungan arahnya menjadi jelas (straight foreward) dan terukur (measurable). Terdapat
empat tahapan pokok yang perlu dilalui dalam melaksanakan capacity building bagi setiap
satuan pendidikan, yaitu: tahap praformal, tahap formalitas, tahap transisional, dan tahap
otonomi.

Peran Teknologi dalam Perkembangan Pendidikan di Indonesia


Salah satu komponen pendidikan yang perlu dikembangkan adalah kurikulum yang
berbasis pendidikan teknologi di jenjang pendidikan dasar. Kemampuan-kemampuan seperti
memecahkan masalah, berpikir secara alternatif, dan menilai sendiri hasil karyanya dapat
dibelajarkan melalui pendidikan teknonologi. Untuk itu, pembelajaran pendidikan teknologi
perlu didasarkan pada empat pilar proses pembelajaran, yaitu learning to know, learning to do,
learning to be, dan learning to live together.

Peran Guru dalam Pengembangan Media Pembelajaran di Era Teknologi Komunikasi dan
Informasi
Klasifikasi media pembelajaran sebagai berikut:
1. Media yang tidak diproyeksikan (non projected media), jenis media: Realita, model, bahan
grafis (graphical material), display.
2.  Media yang diproyeksikan (projected media), jenis media: OHT, slide, opaque.
3.  Media audio (Audio), jenis media: Audio kaset, audio vision, active audio vision.
4.  Media video (video), jenis media: video.
5. Media berbasis komputer (computer based media), jenis media: Computer Assisted
Instruction (CIA), Computer Managed Instruction (CMI).
6.  Multimedia Kit, jenis media: perangkat praktikum.

Benang Kusut Pendidikan di Era Otonomi Pendidikan


Pada saat ini pendidikan nasional masih dihadapkan pada beberapa permasalahan yang
menonjol: (1) masih rendahnya pemerataan untuk memperoleh pendidikan, (2) masih rendahnya
kualitas dan relevansi pendidikan, dan (3) masih lemahnya manajemen pendidikan, di samping
belum terwujudnya kemandirian dan  keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan
akademisi. Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi di antarwilayah geografis, yaitu
antara perkotaan dan pedesaan, serta antara Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat
Indonesia (KBI), dan antartingkat pendapatan penduduk ataupun atargender.
Kondisi yang sangat memprihatinkan tentang kualitas pendidikan di Indonesia tercermin
pada hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) yang dilaksanakan oleh
organisasi International Education Achievement (IEA) yang menunjukkan bahwa siswa SD di
Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat
Sekolah Menengah Pertama (SMP), studi untuk kemampuan matematika siswa SMP di
Indonesia hanya berada pada urutan ke-39 dari 42 negara, dan untuk kemampuan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) hanya berada pada urutan ke-40 dari 42 negara peserta.
Buku 2

Pengertian Profesi, Profesional, Profesionalitas dan Profesionalisme

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu
pengetahuan khusus atau bisa disebut dengan kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian
tertentu dan sekaligus dituntut dari padanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.

Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang dilakukan
dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi. Seorang yang profesional adalah seorang yang
hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama
sebagai suatu hobbi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang dalam melakukan
pekerjaan di profesinya.

Profesionalitas adalah suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi
terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat
melakukan tugas-tugasnya. Dengan demikian, sebutan profesionalitas lebih mengambarkan suatu
keadaan derajat keprofesian seseorang dilihat dari sikap, pengetahuan dan keahlian yang
diperlukan untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru secara lebih maksimal.

Profesionalisme merupakan suatu tingkah laku suatu tujuan atau suatu rangkaian kualitas
yang menandai atau melukiskan coraknya suatu profesi.

Organisasi Pendidikan

Organisasi pendidikan adalah sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan
tujuan pendewasaan manusia sebagai makhluk sosial agar mampu berinteraksi dengan
lingkungan. Dengan begitu, disana kita dapat bisa belajar bagaimana cara menyikapi diri kita
ketika berhadapan dengan suatu masalah sehingga kita bisa melewatinya.

Unsur-unsur organisasi pendidikan adalah penanggungjawab, pelaksana (guru, murid).


Ada 4 tipe organisasi yaitu (1) orgaisasi lini, (2) organisasi staff, (3) bentuk gabungan, (4)
organisasi fungsional. Macam-macam struktur organisasi pendidikanyang pokok ada 2 macam
yaitu sentralisasi dan desentralisasi.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah semestinya mempunyai organisasi yang baik
agar tujuan pendidikan formal ini tercapai sepenuhnya.

Konsep Profesi Kependidikan

Profesi adalah suatu pekerjaan, tapi tidak semua pekerjaan adalah sebuah profesi. Suatu
profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik serta roses sertifikasi dan lisensi khusus
untuk bidang profesi tersebut. Prosesi juga merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan
pelatihan, pelajaran dan penugasan terhadap suatu pengetahuan khusus. Profesi mempunyai
karakteristik sendiri yang membedakannya dari pekerjaan lain.

Berdasarrkan kajian teoritik yang menjelaskan tentang konsep profesi kependidikan,


dapat disimpulkan bahwa profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan dimana jabatan ini
memerlukan kriteria tertentu. Jika seseorang memiliki suatu profesi, maka seseorang tersebut
dituntut bertanggungjawab atas profesi yang dijalaninya sebagai suatu konsekuensi.

Sikap Profesi Kependidikan

Sasaran sikap keprofesionalan guru yaitu sikap peraturan perundang-undangan, sikap


terhadap organisasi profesi, sikap terhadap teman sejawat, sikap terhadap anak didik, sikap
terhadap tempat kerja, sikap terhadap pemimpin, dan sikap terhadap pekerjaan. Dan tujuan peran
profesi pendidikan terhadap organisasi pendidikan sebagaimana dijelaskan dalam PP no.38 tahun
199, dalam pasal 61, ada lima misi dan tujuan organisasi pendidikan yaitu meningkatkan dan
atau mengembangkan.

Sedangkan visi nya secara umum ialah (1)terwujudnya tenaga pendidikan yang
profesional, (2)meningkatkan dan mengambangkan karier anggota, (3) meningkatkan dan
mengembangkan kemampuan anggota, (4) meningkatkan dan mengembangkan kewenangan
profesional anggota, (5) meningkatkan dan mengembangkan martabat anggota, dan (6)
meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan.
Administrasi Pendidikan dalam Profesi Kependidikan

Administrasi pendidikan mempunyai pengertian kerjasama untuk mencapai tujuan


pendidikan. Seperti yang kita ketahui, tujuan pendidikan itu tujuan yang merentang dari tujuan
yang sederhana sampai tujuan yang kompleks. Tujuan pendidikan dalam satu jam pelajaran di
kelas sekolah menengah pertama, misalnya lebih mudah dibandingan dengan tujuan pendidikan
luar sekolah untuk orang dewasa atau tujuan pendidikan nasional.

Administrasi pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan


pendidikan. Proses itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan dan
penilaian. Proses ini meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin diperlukan dan berapa banyak
biayanya. Perencanaan ini dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan.

Standar Nasional Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Standar menurut W.J.S Poerwadarminta adalah ukuran atau sesuatu yang dipakai sebagai
contoh atau dasar yang sah bagi ukuran. Adapun standar nasional pendidikan adalah sebuah
kriteria minimal tentang sistem diseluruh wilayah hukum NKRI. Jadi standar nasional
pendidikan ialah batas minimal tentang sistem pendidikan bagi penyelenggara pendidikan bisa
melakukan suatu proses pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Profesionalisme Guru (Analisis UU no.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen)

Sebagai sebuah profesi, guru memang sudah selayaknya memiliki payung hukum
tersendiri sehingga mendapatkan perlakuan yang layak dari berbagai pihak. UU no.14 tahun
2005 tentang Guru dan Dosen yang dilakukan kini memiliki kekuatan dan kelemahan tersendiri.
Misi dari UUDG ini adalah tidak lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya
adalah dengan meningkatkan keprofesionalan guru. Sayangnya dalam teknis pelaksanaannya
beberapa pasal yang mengatur keprofesionalan guru mengalami hambatan dan kendala aik teknis
maupun teoritis.

Membaca UUDG ini seperti berhadapan dengan utopia negara tentang pekerjaan
mendidik, yang sama halnya dengan karyawan. Seorang yang dikatakan sebagai guru profesional
maka harus memiliki sertifikat profesi yang mana sertifikat tersebut mesti di up date melalui uji
kompetensi. Hal ini membuat guru menjadi tertekan dan akhirnya tugasnya menjadi
terbengkalai. Pemberian tunjangan profesi yang tidak merata dengan syarat-syarat yang berat
juga menimbulkan kecemburuan dikalangan guru yang berimbas pada kinerja.

Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru

Kualifikasi mendorong seseorang untuk memiliki “kualitas atau kemampan khusus”.


Dalam dunia pendidikan, kualifikasi dimengerti sebagai keahlian atau kecakapan khusus dalam
bidang pendidikan baik pengajar mata pelajaran, administrasi pendidikan, maupun sebagainya.

Kompetensi dapat digambarkan sebagai suatu kemampuan untuk melaksanakan suatu


tugas, peran atau tugas, kemampan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan,
sikap-sikap, dan nilai-nilai pribadi dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan
keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Standar
kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama yaitu: kompeteni
pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam
kinerja guru.

Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor

Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu
kualifikas pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, fasilitator dan
istruktur. Masing-masing kualifikasi pendidik termasuk konselor, memiliki keunikan konteks
tugas dan ekspetasi kinerja. Standar kualifikasi dan kompetensi konselor dikembangkan dan
dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspetasi kinerja
konselor. Ekspetasi kinerja konselor dalam mengadakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling
senantiasa digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman serta
mengutamakan kepentingan konseling dengan selalu mencermati dalam jangka panjang dari
pelayanan yang diberikan.

Standar Tenaga Administrasi Sekolah atauMadrasah

Kualitas dan kompetensi tenaga administrasi sekolah adalah suatu komponen yang asngat
berkaitan dengan proses pembelajaran bermutu. Untuk mncapai standar nasional pendidikan di
sekolah, setiap tenaga administrasi sekolah wajib memenuhi standar kualifikasi dan kompetensi
sesuai dengan ketetapan yang mengatur tentang itu. Pemenuhan standar kualifikasi dan
kompetensi tenaga administrasi sekolah akan dapat mengimbangi kualitas pendidik dalam proses
pembelajaran disekolah.

Standar kualifikasi dan kompetensi sudah merupakan hak bagi setiap tenaga administrasi
yang saat ini sudah bekerja di sekolah, sehingga wajib dipenuhi oleh penyelenggara sekolah.
Kelalaian penyelenggara sekolah untuk mematuhi ketentuan standar ini akan dianggap sebagai
suatu pelanggaran dan dapat dikenai sanksi, lebih-lebih jika sudah melanggar hak asasi setiap
tenaga administrasi sekolah di sekolah itu.

Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Perpustakaan Sekolah

Dari sejumlah sarana dan prasarana pendidikan yang harus dimiliki, keberadaan
perpustakaan adalah salah satu standar nasional pendidikan yang harus dipenuhi oeh setaip
sekolah. Setiap sekolah harus memiliki perpustakaan sebagai unsur pendukung yang mengelola
berbagai sumber belajar untuk kepentingan pembelajaran baik untuk guru maupun siswa. Setiap
sekolah yang memiliki perpustakaan wajib memiliki tenaga pengelola perpustakaan, setidaknya
tenaga perpustakaan yang diangkat dengan mempertimbangkan persyaratan kualifikasi dan
kompetensi tertentu. Kepemilikan perpustakaan dan tenaga pengelola perpustakaan disekolah
harus dapat dipenuhi selaambat-lambatnya 5 tahun setelah perarturan tentang hal tersebut
dikeluarkan.

Standar Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Laboratorium

Tenaga laboratorium sekolah adalah tenaga kependidikan yang mengabdikan diri dan
diangkat untuk menunjang kemampuan proses pendidikan di laboratorium sekolah. Fungsi dasar
laboratorium adalah memfasilitasi dukungan dalam proses pembelajaran agar sekolah dapat
memenuhi misi dan tujuannya. Laboratorium sekolah dapat digunakan sebagai wahana untuk
pengembangan penalaran, sikap dan keterampilan peserta didik dalam mengkonstruksi
pengetahuannya. Keberhasilan kegiatan laboratorium didukung oleh tiga faktor yaitu peralatan,
bahan, dan fasilitas lainnya, tenaga laboratorium serta bimbingan pendidik yang diperoleh
peserta didik dalam melakukan tugas-tugas praktik.

Standart kualifikasi adalah kesepakatan-kesepakatan yang di dokumentasikan yang


didalamnya terdiri dari keahlian atau kecakapan khusus dalam bidang pendidikan baik sebagai
pengajar mata pelajaran, administrasi pendidikan, dst. Sedangkan standar kompetensi adalah
kesepakatan-kesepakatan yang didokumentasikan yang didalamnya terdapat seperangkattindakan
cerdas penuh tanggungjawab yang dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu
oleh masyarakat untuk melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu. Standart
kualifikasi dan kompetensi diatur dalam Permendiknas no.26 tentang Standar Laboratorium
Sekolah/Madrasah.

Standar Kompetensi Kepala Sekolah (Permendiknas no. 13 tahun 2007)

Dalam permendiknas disebutkan bahwa untuk menjadi seorang kepala sekolah harus
memenuhi standar kualifikasi dan kompetensi. Untuk standar kualifikasi meliputi kualifikasi
umum dan khusus. Standar kualifikasi umum kepala sekolah yaitu kualifikasi akademik (S1),
usia maksimal 56 tahun, pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun, dan pangkat
serendah-rendahnya III/C atau yang setara. Sedangkan kualifikasi khusus yaitu berstatus guru,
bersertifikat pendidik, dan memiliki sertifikat kepala sekolah.
Untuk standar kompetensi, dalam permendiknas no.1 tahun 2007 disyaratkan 5
kompetensi yang harus dimiliki seorang kepala sekolah. Lima kompetensi tersebut adalah
kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi
supervisi dan kompetensi sosial.

Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pengawas Sekolah

Pengawas satuan pendidikan/sekoalh adalah pejabat fungsional yang berkedudukan


sebagai pelaksana teknis untuk melakukan pengawasan pendidikan sebagai sejumlah sekolah
tertentu yang ditunjuk dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar/bimbingan
untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam satu kabupaten atau kota pengawas sekolah
dikoordinasikan atau dipimpin oleh seorang koordinator (korwas) sekolah/satuan pendidikan.

Tugas pokok pengawas satuan pendidikan adalah melakukan pengawasan manajerial


terdiri dari pembinaan, pemantauan (standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar sarana
dan prasarana, standar pendidik dan kependidikan) dan penilaian kinerja sekolah pada satuan
pendidikan yang menjadi binaannya.

Kompetensi pengawas sekolah meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,


kompetensi supervisi manajerial, kompetensi supervisi akademik, kompetensi evaluasi
kependidikan, kompetensi penelitian dan pengembangan.

Guru Bermutu

Sumberdaya manusia yang bermutu adalah investasi masa depan. Sumberdaya manusia
yang berkualitas hanya dapat dihasilkan oleh sistem pendidikan yang bermutu. Salah satu faktor
yang menopang sistem pendidikan yang bermutu adalah tersedianya guru yang profesional.
Artinya guru yang menjalankan tugasnya secara profesional. Guru yang profesional adalah guru
yang menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan dan ahli mengajarkannya(menyampaikannya).
Dengan kata lain guru yang bermutu adalah guru yang mampu membelajarkan peserta didiknya
tentang pengetahuan yang dikuasainya secara baik.
BAB III

Kelebihan dan Kelemahan Buku

A. Kelebihan

Kelebihan yang terdapat dalam buku 1 ini adalah informasi yang disajikan dalam buku 1
mengenai bagaimana profesi kependidikan yang sebenarnya berlaku di dunia pendidikan. Hal ini
sangat bagus karena dengan membaca satu buku ini, pembaca dapat mengetahui secara lengkap
mengenai profesi kependidikan.

Kelebihan yang terdapat dalam buku 2 ini adalah informasi yang disajikan dalam buku 2
ini mengenai hal-hal dasar mengenai setiap jabatan dalam lingkungan pendidikan. Dalam buku
ini lebih banyak memuat tentang standar-standar untuk setiap jabatan yang ada. Hal ini juga
sangat bagus mengingat kita harus mempelajari dasar-dasar dari segala sesuatu yang ingin kita
tekuni agar kita bisa dengan lancar menekuni profesi kita nanti.

B. Kelemahan

Kelemahan yang terdapat dalam buku 1 adalah dalam penyampaian materi yang ada
dibuku ini yaitu pembahasannya cukup kompleks dan meluas sehingga pembaca merasa
kesulitan untuk memahami isi buku secara cepat.

Kelemahan yang terdapat pada buku 2 adalah dikarenakan jumlah halaman buku yang
terlalu tebal dan juga banyak kata-kata dan kalimat-kalimat yang diulang sehingga pembaca
harus sangat teliti dalam membaca buku tersebut agar dapat memahaminya.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Mengingat masih banyaknya lulusan lembaga pendidikan formal, baik dari tingkat
sekolah menengah maupun perguruan tinggi, terkesan belum mampu mengembangkan
kreativitas dalam kehidupan mereka. Lulusan sekolah menengah sukar untuk bekerja di sektor
formal, karena belum memiliki keahlian khusus. Bagi sarjana, mereka yang dapat berperan
secara aktif dalam bekerja di sektor formal terbilang hanya sedikit. Keahlian dan profesionalisasi
yang melekat pada lembaga pendidikan tinggi terkesan hanyalah simbol belaka, lulusannya tidak
profesional. Maka dari itu diperlukan adanya sikap profesional dalam diri manusia khususnya
guru agar dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Oelh karena itu, mata kuliah profesi
kependidikan ini sangat berperan penting dalam membentuk sikap profesional dalam diri seorang
calon tenaga pendidik agar dapat menjadi seorang guru yang bermutu.

B. Saran

Sebagai seorang calon guru, hendaknya dapat lebih memahami dan mengarahkan diri
menjadi seorang yang profesional agar kita dapat menjadi seorang guru yang bermutu serta
membawa peserta didik menjadi orang-orang yang bermutu juga sehingga kualitas pendidikan di
negara kita semakin meningkat.