Anda di halaman 1dari 61

PENGARUH IMPLEMENTASI SURGICAL SAFAETY CHECKLIST (SSC)

TERHADAP KESELAMATA PASIEN SECTIO-CAESARIA DI KAMAR


BEDAH RSUD HAMBA
TAHUN 2020

PROPOSAL SKRIPSI

Rinda
NIM : 181012114201111

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS


KEPERAWATAN INSTITUT KESEHATAN PRIMA NUSANTARA BUKIT
TINGGI TAHUN 2020
2

PENGARUH IMPLEMENTASI SURGICAL SAFAETY


CHECKLIST (SSC) TERHADAP KESELAMATA PASIEN SECTIO-
CAESARIA DI KAMAR BEDAH RSUD HAMBA
TAHUN 2020

PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan Pada
Program Studi Sarjana Keperawatan Institut Kesehatan Prima Nusantara

Rinda
NIM : 181012114201111

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS


KEPERAWATAN INSTITUT KESEHATAN PRIMA NUSANTARA BUKIT
TINGGI TAHUN 2020
3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Maha Esa yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal

skripsi yang berjudul ’’Pengaruh Implemnetasi Surgical safety Checklist ( SSC)

terhadap keselamatan pasien SC di kamar Bedah RSUD HAMBA Tahun 2020’’.

Skripsi ini disusun dengan maksud memenuhi tugas akhir sebagai salah satu

syarat kelulusan institut kesehatan Prima Nusantara Bukittinggi. Penulis menyadari

bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sangatlah sulit bagi penulis

untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimaksih

terutama kepada Yth Bapak Asrul Fahmi S.Kep, M.Kep selaku pembimbing yang telah

memberikan arahan dan masukan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Seterusnya ucapan terimaksih penulis kepada :

1. Ibu Dr. Hj. Evi susanti, S.S.T, M. Biomed selaku Rektor IKES Prima

Nusantara Bukittinggi

2. Bapak Ns. Fauzi Ashra, S.Kep, M.Kep, selaku wakil Rektor satu Prima

Nusantara Bukittingi

3. Bapak Yuhendri Putra, S.Si, M.Biomed selaku wakil Rektor dua

4. Ibu Ns. Rima Berlian Putri, M. Kep. Sp. Kom selaku dekan fakultas

keperawatan ikes Prima Nusantara Bukittinggi sekaligus dewan penguji I

5. Ibu Ns. Elfira Husna, M. Kep selaku ketua program studi keperawatan IKes

Prima Nusantara Bukittinggi sekaligus dewan penguji II


4

6. Ibu Ns. Vera Kurnia, M. Kep selaku dosen kordinator skripsi program studi

keperawatan IKes Prima Nusantra Bukittinggi

7. Para staf dosen yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu-persatu

8. Bapak/ Ibu tenaga kependidikan yang telah membantu proses selama ini

9. Keluarga besar IKes Prima Nusantara Bukittinggi

10. Kepada responden dan peneliti yang bersedia berpartispasi pada penelitian

ini

11. Orang tua tercinta, kakak adik beserta keluarga yang telah memberikan

dukungan doa, materil dan perhatian yang tidak terhingga

12. Para sahabat yang telah sama-sama berjuang dalam suka duka menjalani

pendidikan ini

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu

kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan

demi perbaikan skripsi ini dimasa yang akan datang. Mudah-mudahan skripsi

bermanfaat bagi kita semua dan bagi tenaga kesehatan.

Bukittinggi, September 2020

(Penulis)
5

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................i


DAFTAR ISI ..................................................................................................iii
DAFTAR SKEMA..........................................................................................v
DAFTAR TABEL...........................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................vii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................4
C. Tujuan Penelitian....................................................................5
D. Manfaat Penelitian..................................................................5
E. Ruang Lingkup Penelitian......................................................6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Keselamatan pasien
1. Pengertian kesematan pasien ………………………. 7
2. Persiapan Pre Operasi…………………………………8.
B. Konsep Kecemasan
1. Defenisi.………………………………………………13
2. Tingkat Kecemasan………………………………… 14
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan…..…. 16
4. Teori Kecemasan …………………………..……….. 17
5. Gejala Kecemasan……….. …………………………. 19
6. Pengukuran Tingkat Kecemasan….…………………. 21
7. Penanganan gangguan kecemasan….……….………. 22
C. Konsep Terapi Dzikir ……………………...……..……….. 24

BAB III KERANGKA KONSEP


A. Kerangka Konsep.................................................................30
B. Defenisi Operasional............................................................31
C. Hipotesa................................................................................31

BAB IV METODE PENELITIAN


A. Desain Penelitian..................................................................32
B. Tempat dan waktu Penelitian...............................................32
C. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling..............................32
6

D. Sumber Data.........................................................................34
E. Langkah-langkah Pengolahan Data......................................34
F. Alat dan Metode Pengumpulan Data....................................34
G. Pengolahan Data...................................................................36
H. Teknik Analisa Data.............................................................37
I. Etika Penelitian.....................................................................38

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
7

DAFTAR SKEMA

2.1 Skema Kerangka Teori…………………………………. 29

3.1 Skema Kerangka Konsep………………………………. 30


8

DAFTAR TABEL

2.1 Implementasi Surgical Safety Checklist (SSC)..…….…..…. 22


3.1 Defenisi Operasional………………………………………... 31
9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembedahan merupakan salah satu tindakan medis yang penting dalam pelayanan

kesehatan. Tindakan pembedahan bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mencegah

kecacatan dan komplikasi. Namun demikian, pembedahan yang dilakukan juga dapat

menimbulkan komplikasi yang dapat membahayakan nyawa (Haynes, et al. 2011). Oleh

sebab itu diperlukan pelayanan pembedahan yang aman untuk mengatasi komplikasi

pembedahan.

Berbagai penelitian menunjukkan komplikasi yang terjadi setelah pembedahan. Data

WHO tahun 2009 menunjukkan komplikasi utama pembedahan adalah kecacatan dan

rawat inap yang berkepanjangan 3-16% pasien bedah terjadi di negara- negara

berkembang. Secara global angka kematian kasar berbagai operasi sebesar 0,2-10%.

Diperkirakan hingga 50% dari komplikasi dan kematian dapat dicegah di negara

berkembang jika standar dasar tertentu perawatan diikuti.

WHO melaksanakan 19 item ceklist bedah dapat mengurangi komplikasi,

meningkatkan komunikasi tim dan menurunkan kematian yang berhubungan dengan

operasi. Save surgery Checklist diciptakan oleh sekelompok ahli Internasional dengan

tujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien selama menjalani prosedur bedah di

seluruh dunia. WHO mengidentifikasi tiga fase operasi yaitu sebelum


10

induksi anestesi (sign in), sebelum sayatan kulit (time out) dan sebelum pasien

meninggalkan ruang operasi (sign out) (Cavoukian, 2009).

Surgical Safety Checklist adalah sebuah daftar periksa untuk memberikan

pembedahan yang aman dan berkualitas pada pasien. Safety & complience (2012)

Surgical Safety Checklist merupakan alat komunikasi, mendorong teamwork untuk

keselamatan pasien yang digunakan oleh tim profesional diruang operasi untuk

meningkatkan kualitas dan menurunkan kematian serta komplikasi akibat pembedahan,

dan memerlukan persamaan persepsi antara ahli bedah, anestesi dan perawat.

Uji coba telah dilakukan terhadap penggunaan surgical safety checklist di delapan

rumah sakit di dunia. Kota Toronto (Kanada), New Delhi (India), Amman (Yordania);

Auckland (Selandia Baru), Manila (Filipina), Ifakara (Tanzania), London (Inggris), dan

Seattle, Okt 2007 - Sept 2008 ) yang mewakili berbagai kondisi ekonomi dan populasi

dengan beragam pasien Hasil penelitian menunjukkan penurunan kematian dan

komplikasi akibat pembedahan. Menurut Houwerd (2011) komplikasi bedah setelah

penggunaan Surgical Safety Checklist secara keseluruhan turun dari 19.9% menjadi

11,5%, dan angka kematian menurun dari 1,9% menjadi 0,2%. Pelaksanaan Surgical

Patient Safety telah membuktikan pengurangan dalam angka mordibiti dan morbiliti

dalam rawatan dirumah sakit.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hendrik Hermawan(2015) di RSUD Kebumen

tentang penerapan surgical pasien safety di kamar bedah central masih 72


11

%. Begitu juga dengan Penelitian yang dilakukan oleh Triwahyermawan di, Mona

Saparwati(2015) tentang pelaksanaan surgical safety cheklist di instalasi bedah central

RSUD Harapan Insan Sendawar menghasilkan pelaksanaan surgical safety cheklist

masih 64 % persen.dan pelaksanaan nya belum sesuai dengan SPO.

Rendahnya pelaksanaan surgical safety cheklist di kamar bedah, menunjukan masih

rendahnya kesadaran perawat dalam keselamatan pasien. Sesuai dengan peraturan

Depkes no.1691 tentang keselamatan pasien dan Komite Akreditasi Rumah Sakit (Kars)

dan juga SNARS 1 tahun 2017 menuntut pelaksanaan surgery safety checklist di kamar

operasi harus 100% untuk mengeliminasi masalah yang mengkhwatirkan dan

kemungkinan kekeliruan diselesaikan dalam tindakan operasi dimana pelaksanaan

surgery safety cheklist dilakukan pada semua item yang telah ditentukan. Keselamatan

pasien merupakan prinsip dasar dalam pemberian pelayanan dan merupakan komponen

sangat penting dalam manajemen pelayanan kesehatan di rumah sakit(WHO,2019)

Manajemen pelayanan kesehatan yang berfokus pada keselamatan pasien meliputi

fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi ketenagaan, fungsi pengarahan, dan

fungsi pengendalian. Fungsi perencanaan termasuk usaha merancang kegiatan untuk

menetapkan aktivitas yang dapat mendukung keselamatan pasien, fungsi

pengorganisasian terkait penetapan tim dan anggota yang bertanggung jawab terhadap

keselamatan pasien, serta fungsi ketenagaan berupa kesesuaian jumlah staf dengan

beban kerja. Selanjutnya bentuk pengarahan terkait keselamatan pasien dapat


12

berupa komunikasi dan melakukan supervisi serta bentuk audit keselamatan pasien pada

fungsi pengendalian (Swanburg, 2012).

Keselamatan pasien dapat diperoleh bila faktor yang berkontribusi terhadap insiden

keselamatan dapat diminimalisir bahkan dihindari. Faktor yang berkontribusi terhadap

hal ini menurut Henriksen, et.al. (2008) adalah faktor manusia yang meliputi: sumber

daya yang tidak memenuhi persyaratan, dan sistem. Faktor manusia meliputi

pengetahuan, keterampilan, lama kerja, sedangkan sistem kesalahan dalam mengambil

keputusan klinis, salah persepsi, pengetahuan manusia, keterbatasan mengoperasikan

alat dan mesin, sistem, tugas dan pekerjaan. Hal ini juga diungkapkan oleh Yahya

(2012) yang menyatakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian nyaris cedera

(KNC) dan kejadian tidak diharapkan (KTD) melibatkan faktor manusia meliputi

standar, kebijakan dan aturan dalam organisasi.

Tercapainya keselamatan pasien juga didukung oleh beberapa komponen yang dapat

menentukan keberhasilan keselamatan pasien. Menurut Behal (dalam Cahyono, 2012)

ada beberapa faktor yang mempangaruhi keberhasilan program keselamatan pasien,

meliputi : lingkungan eksternal, kepemimpinan, budaya organisasi, manajemen, struktur

dan sistem, serta tugas dan keterampilaan individu,dan lingkungan kerja.

Perawat sebagai salah satu tim bedah yang melaksanakan pembedahan yaitu sebagai

perawat scrubs (instrumen) dan perawat sirkuler yang melaksanakan program


13

keselamatan pasien. Perawat harus konsisten melakukan setiap item yang dilakukan

dalam pembedahan mulai dari fase sign in, time out, dan sign out sehingga dapat

meminimalkan setiap resiko yang tidak diinginkan (Weiser, 2011).

Penelitian yang dilakukan oleh Christina Anugrahrini, Junaiti Sahar, Mutika Sari

(2015) mengatakan faktor dominan yang berhubungan dengan menerapkan pedoman

pasient safety yaitu kepemimpinan. Begitu juga penelitan yang dilakukan oleh Nazvia

Natasia, Ahas Luqizana, Janik Kurniawati (2012) di RSUD Gambiran Kediri

mengatakan komponen penting dalam manajemen, faktor budaya organisasi

mempengaruhi perawat dalam melaksanakan keselamatan pasien.

Hasil penelitian dari Andri Firman Saputra, Elsye Maria Rosa (2015) menyatakan

faktor budaya patient safety dikamar bedah masih minim disertai dengan SDM yang

kurang, serta kurangnya pengawasan dan sosialisasi dari manajemen.begitu juga dengan

hasil penelitian Ni Luh Putu Ariastuti, Ani Margawati, Wahyu Hidayati (2015) bahwa

faktor yang paling mempengaruhi pelaksanaan surgical safety adalah pengetahuan. Hasil

penelitian Ni Wayan Asri Ardiani Saputri (2015) bahwa lingkungan kerja perawat

sangat mempengaruhi keselamatan pasien dikamar bedah. RSUD Haji Abdul Madjid

Batoe (HAMBA) Muaro Bulian didirikan atas prakarsa Bapak dr Abdul Madjid yang

merupakan Putra Batanghari tertuang pada Akta pemmerintaha kabuoaten Batang hari

mempunyai tujuan tercapainya derajat kesehatan yang optimal


14

bagi masyarakat seluruhnya melalui pelayanan kesehatan tanpa memandang

perbedaan agama, kedudukan, warna kulit dan asal usul, bertitik tolak dari niat

kesehatan. Dari RSUD Hamba yang melaksanakan lembar ceklist keselamatan pasien

dikamar operasi masih banyak yang belum terlaksanan dengan melakukan keselamatan

pasien dimana pelaksanan SSC Surgical Sfaety Checklist banyak perawat dan juga tenaga

kesehatan lainnya yang masih belum sempurna meakukannnya .

Dari hasil studi pendahuluan wawancara dengan kepala ruangan kamar operasi

RSUD HAMBA pada 29 Juli 2020 menjelaskan tentang pelaksanaan Surgical Safety

Checklist masih belum terlaksana 100%, dengan jumlah operasi pada bulan Juli

sampai September 2020 yaitu sebanyak 338 tindakan pembedahan, pelaksanaan

Surgical Safety Checklist baru terlaksana 55% dengan kategori 60 % yang lengkap

dan 35% masih belum lengkap. dan sepanjang tahun 2020 ada 2 kasus kejadian KNC

( Kejadian Nyaris Cedera) di kamar operasi.

Hasil wawancara dari tiga orang perawat yang bertugas pada ruangan OK RSUD

HAMBA mengatakan ada melaksanakan surgery safety cheklist tetapi tidak rutini,

dan dua orang mengatakan kurang paham dengan SPO surgery safety cheklist, satu

orang mengatakan mengetahui tapi belum sepenuhnya memahami dan

menghapalnya. Semua personil mengatakan bahwa sosialisasi SPO surgery safety

cheklist belum maksimal, dua orang perawat mengatakan kurangnya perhatian dan

pengawasan dari kepala ruangan apabila dilaksanakan maupun tidak dilaksanakan

sama saja dan tidak ada konsekwensi maupun kompensasinya. Dari data yang

diberikan masih didapati poin pada blangko checklist yang tidak terisi.

Demikian pula dengan hasil wawancara dengan kepala ruangan Kamar Operasi
15

RSUD HAMBA pada 1 Agustus 2020 menjelaskan bahwa pelaksanaan Surgical

Safety Checklist sudah 80% dari jumlah operasi pada bulan juli 2020 yaitu 345,

pelaksanaan Surgical Safety Checklist sudah 75% terisi lengkap. Dan sepanjang

tahun 2020 ada 1 kejadian KNC. Hasil wawancara pada tiga orang perawat OK

RSUD HAMBA mengatakan pelaksanaan Surgical Safety Checklist harus di lakukan

tetapi disebabkan rangkap dalam pelaksanaan tim operasi sehingga belum terlaksana

dengan baik. Dari tiga orang perawat OK, dua orang diantaranya sudah mengetahui

adanya SPO tentang Surgical Safety Checklist, satu orang mengatakan kurang hapal

SPO Surgical Safety Checklist dan dua orang perawat bedah mengatakan belum

pernah dievaluasi oleh kepala ruangan tentang pelaksanaan Surgical Safety Checklist

ini.

Hasil wawancara dengan kepala ruangan Kamar Operasi RSUD HAMBA pada

tanggal 8 Agustus 2020 menjelaskan bahwa pelaksanaan Surgical Safety Checklist

baru terlaksana 40%. Jumlah operasi pada bulan Juli 2020 yaitu 268 tindakan. Maka

diantara operasi yang terbanyak adalah operasi dengan indikasi section caesaria

sebanyak 78 % tiap bulannya

Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi

pada dinding abdomen dan uterus. Cesar adalah jalan alternatif menyambut kelahiran

seorang bayi melalui operasi praktis.pembedahan dilakukan pada perut ibu dan rahim

ibu. Dalam bahasa inggris sering disebut Cesarean Sectio atau Caesarean Section

dalam logat Inggris-Amerika. Kadang kala dokter menyebut C-section atau CS saja.

Cesar dilakukan sebagai tindakan penyelamatan terhadap kasus-kasus persalinan

normal yang berbahaya. Metode ini hanya dilakukan sebagai tindakan penyelamatan

terhadap kasus-kasus persalinan normal yang berbahaya dan dilakukan ketika proses
16

persalinan alamiah melalui vagina tidak memungkinkan karena resiko medis tertentu

(Indiarti, 2017)

Sosialisasi tentang SPO Surgical Safety Checklist sudah dilakukan, dan

kebijakan tentang pelaksanaan Surgical Safety Checklist saat ini sedang dalam

proses. Dan kejadian yang berhubungan dengan pasien safety ada 2 kasus KNC.Hasil

wawancara dengan tiga orang perawat yang bertugas pada ruangan OK RSUD

HAMBA mengatakan bahwa pelaksanaan Surgical Safety Checklist jarang lakukan.

Dari tiga orang perawat yang bertugas pada ruangan OK tadi, dua orang diantaranya

mengetahui adanya SPO tentang Surgical Safety Checklist, sementara satu orang

lainnya mengatakan kurang menguasai melihat SPO Surgical Safety Checklist.

Semua perawat tersebut mengatakan belum pernah dilaksanakan sosialisasi tentang

ceklist keselamatan pasien di kamar operasi. Begitu juga kurangnya supervisi dari

kepala ruangan tentang pelaksanaan Surgical Safety Checklist sehingga

menyebabkan kurangnya kepatuhan terhadap pelaksanaan Surgical Safety Checklist

dimaksud.

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang “Pengaruh Implementasi surgical Checklist terhadap keselamatan pasien di

Kamar Bedah RSUD HAMBA tahu 2020.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah yang peneliti simpulkan

apakah ada Pengaruh Implementasi surgical Checklist terhadap keselamatan pasien

Sectio Caesaria di Kamar Bedah RSUD HAMBA Tahun 2020

.
17

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengidentifikasi Pengaruh Implementasi surgical Checklist terhadap keselamatan pasien

Sectio Caesaria di Kamar Bedah RSUD HAMBA Tahun 2020.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus :

a. Mengidentifikasi rata rata tingkat keselamatan pasien SC sebelum

dilakukannya Implementasi Surgical Safety Checklist di Kamar Bedah RSUD


HAMBA Tahun 2020

b. Mengidentifikasi rata rata tingkat keselamatan pasien SC setelah

dilakukannya Implementasi Surgical Safety Checklist di Kamar Bedah RSUD

HAMBA Tahun 2020.

c. Mengetahui Pengaruh Implementasi surgical Checklist terhadap keselamatan pasien


Sectio Caesaria di Kamar Bedah RSUD HAMBA Tahun 2020

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :

1. Bagi peneliti

Dengan penelitian ini didapatkan gambaran bagi peneliti tentang bagaimana

pelaksanaan surgical safety cheklist di lingkungan RSUD HAMBA.

2. Bagi RSUD HAMBA

Bagi rumah sakit khususnya di kamar bedah surgery safety checklist sangat

bermanfaat karena melindungi perawat dan tim bedah lainnya karena dapat

dijadikan sebagai aspek legal yang dapat dipertanggungjawabkan karena

seluruh kegiatan yang dilakukan pada pasien akan diverifikasi dan


18

terdokumentasi didalamnya termasuk kegiatan persiapan pembedahan, dan

melakukan evaluasi dan tetap memotivasi tim agar kondisi apapun tetap

menggunakannya.

3. Bagi Keperawatan

Bagi keperawatan akan melindungi perawat bedah yang terlibat didalam tim

karena ada pernyataan khusus yang ditujukan kepada perawat sebagai

instrumentator yang akan diverifikasi persiapan alat dan kelengkapan alat

setelah tindakan pembedahan selesai.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat menjadi bahan rujukan dan

dikembangkan terutama untuk penelitian sejenis. Dapat memberikan

konstribusi bagi perkembangan riset keperawatan khususnya pada penelitian

manajemen keperawatan tentang pelaksanaan surgical safety cheklist dikamar

operasi.

BAB II
19

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Surgical Safety Checklis

Surgical Safety Checklist merupakan bagian dari Safe Surgery Saves

Lives yang berupa alat komunikasi untuk keselamatan pasien yang digunakan

oleh tim bedah di ruang operasi. Surgical Safety Checklist adalah sebuah

daftar periksa untuk memberikan pembedahan yang aman dan berkualitas

pada pasien. Surgical safety checklist merupakan alat komunikasi untuk

keselamatan pasien yang digunakan oleh tim bedah di ruang operasi. Tim

bedah terdiri dari perawat, dokter bedah, anestesi dan lainnya. Tim bedah

harus konsisten melakukan setiap item yang dilakukan dalam pembedahan

mulai dari sign in, time out, sign out sehingga dapat meminimalkan setiap

risiko yang tidak diinginkan (Safety & Compliance, 2012).

Tiga fase operasi Dalam pelaksanaan prosedur safety surgical

operasi meliputi tiga fase yaitu :

1. Pelaksanaan Sign In

Sign In adalah prosedur yang dilakukan sebelum induksi anastesi

prosedur Sign In idealnya dilakukan oleh tiga komponen, yaitu pasien (bila

kondisi sadar/memungkinkan), perawat anastesi , dan dokter anastesi.

Pada fase Sign In dilakukan konfirmasi berupa identitas

pasien, sisi operasi yang sudah tepat dan telah ditandai, apakah mesin

anastesi sudah berfungsi, apakah pulse oksimeter pada pasien berfungsi,

serta faktor resiko.


6

pasien seperti apakah ada reaksi alergi, resiko kesulitan jalan nafas, dan adanya

resiko kehilangan darah lebih dari 500ml

Langkah-langkah Surgical Safety Checklist yang harus dikonfirmasi saat

pelaksanaan Sign In adalah :

1. Konfirmasi identitas pasien

Koordinator Checklist secara lisan menegaskan identitas pasien, jenis

prosedur pembedahan, lokasi operasi, serta persetujuan untuk dilakukan operasi.

Langkah ini penting dilakukan agar petugas kamar operasi tidak salah melakukan

pembedahan terhadap pasien, sisi, dan prosedur pembedahan. Bagi pasien anak-anak

atau pasien yang tidak memungkinkan untuk berkomunikasi dapat dilakukan kepada

pihak keluarga, itulah mengapa dilakukan konfirmasi kepada pasien sebelum

pembedahan.

2. Konfirmasi sisi pembedahan

Koordinator Checklist harus mengkonfirmasi kalau ahli bedah telah

melakukan penandaan terhadap sisi operasi bedah pada pasien (biasanya

menggunakan marker permanen) untuk pasien dengan kasuss lateralitas (perbedaan

kanan atau kiri) atau beberapa struktur dan tingkat (misalnya jari tertentu, jari kaki,

lesi kulit, vertebrata) atau tunggal (misalnya limpa). Penandaan yang permanen

dilakukan dalam semua kasus, bagaimanapun, dan dapat memberikan ceklist

cadangan agar dapat mengkonfirmasi tempat yang benar dan sesuai prosedur.
7

3. Persiapan mesin pembedahan dan anestesi

Koordinator Checklist melengkapi langkah berikutnya dengan meminta

bagian anastesi untuk melakukan konfirmasi penyelesaian pemeriksaan keamanan

anastesi, dilakukan dengan pemeriksaan peralatan anastesi, saluran untuk pernafasan

pasien nantinya (oksigen dan inhalasi), ketersediaan obat-obatan, serta resiko pada

pasien setiap kasus.

4. Pengecekan pulse oximetri dan fungsinya

Koordinator Checklist menegaskan bahwa pulse oksimetri telah ditempatkan

pada pasien dan dapat berfungsi benar sebelum induksi anastesi. Idealnya pulse

oksimetri dilengkapi sebuah sistem untuk dapat membaca denyut nadi dan saturasi

oksigen, pulse oksimetri sangat direkomendasikan oleh WHO dalam pemberian

anastesi, jika pulse oksimetri tidak berfungsi atau belum siap maaka ahli bedah

anastesi harus mempertimbangkan menunda operasi sampai alat-alat sudah siap

sepenuhnya.

5. Konfirmasi tentang alergi pasien

Koordinator Checklist harus mengarahkan pertanyaan ini dan dua pertanyaan

berikutnya kepada ahli anastesi. Pertama, koordinator harus bertanya apakah pasien

memiliki alergi? Jika iya, apa itu? Jika koordinator tidak tahu tentang alergi pada

pasien maka informasi ini harus dikomunikasikan. Konfirmasi Resiko Operasi

Ahli anastesi akan menulis apabila pasien memiliki kesulitan jalan nafas pada status

pasien, sehingga pada tahapan Sign In ini tim bedah dapat mengetahuinya dan

mengantisipasi pemakaian jenis anastesi yang digunakan. Resiko terjadinya aspirasi

dievaluasi sebagai bagian dari penilaian jaln nafas sehingga apabila pasien memiliki

gejala refluks aktif atau perut penuh, ahli anastesi harus mempersiapkan
8

kemungkianan terjadi aspirasi. Resiko aspirasi dapat dikurangi dengan cara

memodifikasi rencana anastesi, misalnya menggunakan teknik induksi cepat dan

dengan bantuan asisten memberikan tekanan krikoid selama induksi untuk

mengantisipasi aspirasi pasien yang telah dipuasakan enam jam sebelum operasi.

6. Konfirmasi resiko kehilangan darah lebih dari 500 ml (700ml/kg pada anak-

anak)

Dalam langkah keselamatan , koordinator Checklist meminta tim anastesi

memastikan apa ada resiko kehilangan darah lebih dari setengah liter darah selama

operasi karena kehilangan darah merupakan salah satu bahaya umum dan sangat

penting bagi pasien bedah, dengan resiko syok hipovolemik terjadi ketika kehilangan

darah 500ml (700ml/kg pada anak- anak), Persiapan yang memadai daoat dilakukan

dengan perencanaan jauh- jauh hari dan melakukan resusitasi cairan saat

pembedahan berlangsung.

a. Pelaksanaan Time Out

Time Out adalah prosedur keselamatan pembedahan pasien yang dilakukan

sebelum dilakukan insisi kulit, Time Out dikoordinasi oleh salah satu dari

anggota petugas kamar operasi (dokter atau perawat). Saat Time Out setiap

petugas kamar operasi memeperkenalkan diri dan tugasnya, ini bertujuan agar

diantara petugas operasi dapat saling mengetahui dan mengenal peran masing-

masing. Sebelum melakukan insisi petugas kamar operasi dengan suara keras

akan mengkonfirmasi mereka melakukan operasi dengan benar, pasien yang

benar, serta mengkonfirmasi bahwa antibiotik profilaksis telah diberikan

minimal 60 menit sebelumnya

Langkah-langkah Surgical Safety Checklist yang harus dikonfirmasi saat


9

pelaksanaan Time Out adalah :

Sebelum melakukan insisi atau sayatan pada kulit, jeda sesaat harus diambil oleh

tim untuk mengkonfirmasi bahwa beberapa keselamatan penting pemeriksaan

harus dilakukan

1. Konfirmasi nama dan peran anggota tim

Konfirmasi dilakukan dengan cara semua anggota tim memperkenalkan

nama dan perannya, karena anggota tim sering berubah sehingga dilakukan

manajemen yang baik yang diambil pada tindakan denagn resiko tinggi

seperti pembedahan. Koordinator harus mengkonfirmasi bahwa semua

orang telah diperkenalkan termasuk staf, mahasiswa, atau orang lain

2. Anggota tim operasi melakukan konfirmasi secara lisan identitas

pasien, sisi yang akan dibedah, dan prosedur pembedahan.

Koordniator Checklist akan meminta semua orang berhenti dan melakukan

konfirmasi identitas pasien, sisi yang kan dilakukan pembedahan, dan

prosedur pembedahan agar tidak terjadi kesalahan selama proses

pembedahan berlangsung. Sebagai contoh, perawat secara lisan

mengatakan “sebelum kita melakukan sayatan pada kulit (Time Out)

apakah semua orang setuju bahawa ini adalah pasien X?, mengalami

Hernia Inguinal kanan?”. Ahli anastesi, ahli bedah, dan perawat secara

eksplisit dan individual mengkonfirmasi kesepakatan, jika pasien tidak

dibius akan lebih mudah membantu baginya untuk mengkonfirmasi hal

yang sama.

3. Konfirmasi antibiotik profilaksis telah diberikan 60 menit terakhir

4. Koordinator Checklist akan bertanya dengan suara keras apakah


10

Antibiotik Profilaksis Telah Diberikan Dalam 60 Menit Terakhir,

Anggota Tim Yang Bertanggung Jawab Dalam Pemberian

Antibiotik Profilaksis Adalah Ahli Bedah, Dan Harus

Memberikan Konfirmasi Secara Verbal. Jika Antibiotik Profilaksis

Telah Diberikan 60 Menit Sebelum, Tim Harus

Mempertimbangkan Pemberian Ulang Pada Pasien.

5. Antisipasi Peristiwa kritis

Untuk memastikan komunikasi pada pasien dengan keadaan

kritis, koordinaor Checklist akan memimpin diskusi secara cepat

antara ahli bedah, ahli anastesi, dan perawat terkait bahaya kritis

dan rencana selama pembedahan.

Hal ini dapat dilakukan dengan meminta setiap pertanyaan

langsung dijawab, urutan diskusi tidak penting, tetapi masing-

masing disiplin klinis saling berkomunikasi, isi diskusi meliputi:

Untuk dokter bedah : langkah kritis apa, berapa lama kasus

ini dilakukan, dan bagaimana antisipasi kehilangan darah

a. Diskusi langkah-langkah kritis ini dimaksutkan untuk

meminimalkan resiko pembedahan. Semua anggota tim

mendapat informasi tentang resiko kehilangan darah, cidera,

morbiditas. Kesempatan ini juga dilakukan untuk meninjau

langkah-langkah yang mungkin memerlukan peralatan khusus,

implan, atau persiapan yang lainnya.

b. Untuk dokter anastesi : kekhawatiran pada pasien yang

mungkin terjadi
11

Pada pasien dengan resiko untuk kehilangan darah besar,

ketidakstabilan hemodinamik, atau morbiditas (seperti

penyakit jantung, paru, aritmia, kelainan darah, dll), anggota

tim anastesi harus meninjau ulang rencana spesifik dan

kekhawatiran untuk resusitasi khususnya. Dalam diskusi ini

dokter anastesi cukup mengatakan, “saya tidak punya perhatian

khusus mengenai hal ini”

c. Untuk perawat : konfirmasi sterilitas (termasuk hasil indikator)

Masalah peralatan atau masalah apapun.Perawat menanyakan

kepada ahli bedah apakah alat-alat yang diperlukan sudah

diperlukan sehingga perawat dapat memastikan instrumen di

kamar operasi telah steril dan lengkap

6. Pemeriksaan penunjang berupa foto perlu ditampilkan di kamar

operasi Ahli bedah memberi keputusan apakah foto penunjang

diperlukan dalam pelaksanaan operasi atau tidak

b. Pelaksanaan Sign Out

Sign Out adalah prosedur keselamatan pembedahan yang dilakukan oleh

petugas kamar operasi sebelum penutupan luka, dikoordinasi oleh salah satu anggota

petugas kamar operasi (dokter atau perawat). Saat Sign Out akan dilakukan review

tindakan yang telah dilakukan sebelumnya, dilakukan juga pengecekan kelengkapan

spons, penghitungan instrumen, pemberian label pada spesimen, kerusakan alat atau

masalah yang perlu ditangani, selanjutnya langkah akhir adalah memusatkan

perhatian pada manajemen post-operasi serta pemulihan pasien sebelum dipindah

dari kamar operasi.


12

Pemeriksaan keamanan ini harus diselesaikan sebelum pasien meninggalkan

kamar operasi, tujuannya adalah untuk memfasilitasi transfer informasi penting

kepada tim perawatan yang bertanggung jawab untuk pasien setelah pembedahan.

Langkah-langkah Surgical Safety Checklist yang harus dikonfirmasi saat

pelaksanaan Sign Out adalah :

1. Review pembedahan

Koordinator Checklist harus mengkonfirmasikan dengan ahli bedah dan tim

apa prosedur yang telah dilakukan, dapat dilakukan dengan pertanyaan, “apa

prosedur yang telah dilakukan?” atau sebagai konfirmasi, “kami melakukan prosedur

X, benar?”

2. Penghitungan instrumen, spons, dan jumlah jarum

Perawat harus mengkonfirmasi secara lisan kelengkapan akhir instrumen,

spons, dan jarum, dalam kasus rongga terbuka jumlah instrumen dipastikan harus

lengkap, jika jumlah tidak lengkap maka tim harus waspada sehingga dapat

mengambil langkah (seperti memeriksa tirai, sampah, luka, atau jika perlu

mendapatkan gambar radiografi).

3. Pelabelan spesimen

Pelabelan digunakan untuk pemeriksaan dianostik patologi. Salah melakukan

pelabelan berpotensi menjadi bencana untuk pasien dan terbukti menjadi salah satu

penyebab error pada laboratorium. Perawat sirkuler harus mengkonfirmasi dengan

benar dari setiap spesimen patologis yang diperoleh selama prosedur dengan

membacakan secara lisan nama pasien, deskripsi spesimen, dan setiap tanda

berorientasi.
13

4. Konfirmasi masalah peralatan

Apakah ada masalah peralatan di kamar operasi yang bersifat universal

sehingga koordinator harus mengidentifikasi peralatan yang bermasalah agar

instrumen atau peralatan yang tidak berfungsi tidak menganggu jalannya

pembedahan di lain hari.

5. Ahli bedah, ahli anastesi, dan perawat meninjau rencana pemulihan dan

pengelolaan pasien

Sebelum pasien keluar dari ruang operasi maka anggota tim bedah

memberikan informasi tentang pasien kepada perawat yang bertanggung jawab di

ruang pemulihan (recovery room), tujuan dari langkah ini adalah transfer efisien dan

tepat informasi penting untuk seluruh tim.

Dengan langkah terakhir ini, Checklist WHO selesai, jika diinginkan

Checklist dapat ditempatkan dalam catatan pasien atau perlu dipertahankan untuk

kualitas ulasan jaminan

Dasar Hukum Surgical Safety Checklist

1. Rekomendasi WHO (World Health Organization) tentang Patient Safety

dan Safe Surgical Saves Live

2. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1691/menkes/Per/VIII/2011 tentang

keselamatan pasien di rumah sakit yang tertuang dalam Bab IV Pasal 8 ayat 1

dan 2 yang isinya adalah :

a. Setiap rumah sakit wajib mengupayakan pemenuhan sasaran keselamatan

pasien

b. Sasaran keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi :

 ketepatan identifikasi pasien


14

 peningkatan komunikasi yang efektif

 Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai

 Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi

 Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

 Pengurangan resiko pasien jatuh

Konsep Keperawatan Perioperatif

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk

menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman

pembedahan pasien. Kata “perioperatif” adalah suatu istilah gabungan yang

mencakup tiga fase pengalaman pembedahan : praoperatif , intraoperatif, dan pasca

operatif. Seperti yang diperlihtkan pada bab sebelumnya tentang fase perioperatif ,

masing masing dari setiap fase ini dimulai dan berakhir pada waktu tertentu dalam

urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah, dan masing – masing

mencakup rentang waktu perilaku dan aktifitas keperawatan yang luas yang

dilakukan oleh perawat denga menggunaan proses keperawatan dan standart praktek

keperawatan (Brunner&suddart;2002).

B. Persalinan Sectio Caesarea

1. Definisi

Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat

insisi pada dinding abdomen dan uterus. Cesar adalah jalan alternatif

menyambut kelahiran seorang bayi melalui operasi praktis.pembedahan

dilakukan pada perut ibu dan rahim ibu. Dalam bahasa inggris sering disebut

Cesarean Sectio atau Caesarean Section dalam logat Inggris-Amerika. Kadang


15

kala dokter menyebut C-section atau CS saja.

Cesar dilakukan sebagai tindakan penyelamatan terhadap kasus-kasus

persalinan normal yang berbahaya. Metode ini hanya dilakukan sebagai tindakan

penyelamatan terhadap kasus-kasus persalinan normal yang berbahaya dan

dilakukan ketika proses persalinan alamiah melalui vagina tidak memungkinkan

karena resiko medis tertentu (Indiarti, 2007, 43).

Secara umum jumlah persalinan sectio caesarea dirumah sakit

pemerintah adalah sekitar 20-25% dari total persalinan, sedangkan di rumah

sakit swasta jumlahnya sangat tinggi yaitu sekitar 30-80% dari total persalinan.

Dampak persalinan dari bekas operasi sectio caesarea adalah masa

penyembuhan yang relatif lama dan pada pesalinan berikutnya cenderung akan

melahirkan secara sectio caesarea lagi. Pasien yang langsung dilakukan sectio

caesarea ulangan mempunyai dampak lebih besar untuk mengalami perdarahan,

dilakukan transfusi, infeksi rahim, dan komplikasi anestesi. Bila jarak operasi

dengan kelahiran sekarang dibawah 24 bulan maka untuk robek pada rahim

meningkat sebesar 2-3 kali Caesarea (Health medical, 2008).

Tindakan sectio caesarea merupakan pilihan utama bagi tenaga medis

untuk menyelamatkan ibu dan janin. Ada beberapa indikasi untuk dilakukan

tindakan sectio caesarea adalah gawat janin, persalinan tidak maju, plasenta,

panggul sempit dan preeklamsia.

Untuk mengurangi atau mencegah kejadian persalinan dengan sectio

caesarea maka ibu diharapkan memeriksakan kehamilan secara rutin ke petugas

kesehatan agar dapat dideteksi secara dini adanya komplikasi yang terjadi pada

masa kehamilan dan persalinan. Program-program yang ditujukan untuk


16

mengurangi sectio caesarea yang tidak diperlukan umumnya difokuskan pada

upaya pendidikan, dan pengawasan oleh sesama, mendorong percobaan

persalinan pada wanita dengan riwayat sectio caesarea transversal, dan

membatasi sectio caesarea atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang

memenuhi kriteria yang ditentukan secara ketat (Juaria Henny, 2014).

2. Indikasi Persalinan Sectio Caesarea

Setiap tindakan medis harus dilakukan melalui diagnosa medis pula.

Apalagi tindakan yang berisiko. Mula-mula alasan cesar hanya karena ada

kelainan passage, sehingga kelahiran tidak bisa melalui kelahiran yang benar,

vagina. Namun, dalam perkembangannya, power dan passenger bisa juga

menjadi alasan. Apalagi dengan semakin majunya teknologi cesar, maka

tindakan ini jauh lebih baik dalam menyelamatkan situasi persalinan daripada

teknik penyelamatan yang lain. Cesar bisa diminta oleh sang ibu yang akan

melahirkan, namun hanya dilakukan bila ada indikasi medisnya berupa.

a. Indikasi janin

Yang masuk kategori ini misalnya gawat janin akibat air ketuban kurang,

posisi bayi sungsang, pertumbuhan janin kurang baik, dan sebagainya.

Indikasi ini pun bisa dijadikan alsan dokter melakukan tindakan cesar.

Berikut beberapa kondisi yang mengharuskan tindakan cesar.

1) Placenta previa

2) Posisi plasenta berada di bawah menutupi jalan lahir. Pada awalnya

sudah diketahui di awal kehamilan.

3) Terjadi ketidakseimbangan antara tulang panggul ibu dan ukuran

bayi.
17

4) Ibu mengalami preeklamsia, dimana tekanan darah ibu terlalu

tinggi. Persalinan secara normal bisa membuat ibu kejang. Cesar

menjadi alternatif yang dianjurkan.

5) Janin pada posisi sungsang atau melintang. Sungsang adalah istilah

untuk posisi kepala janin diatas. Sedangkan melintang kepala janin

berada pada posisi kiri atau kanan. Persalinan normal menghendaki

posisi kepala janin berada dibawah dekat dengan jalan lahir. Pada

beberapa kasus dokter berusaha mempertahankan bayi sungsang

untuk lahir normal, namun resikonya cukup tinggi.

6) Terlilit tali pusat sering dijadikan alsan untuk cesar. Sekitar 7 dari

10 bayi yang dilahirkan mengalami terlilit tali pusar. Ini wajar

karena janin didalam perut bergerak, sebagian besar bisa dilahirkan

dengan normal. Indikasi cesar berlaku untuk kasus janin yang

terlilit dengan kencang yang membuat janin sulit bernafas.

b. Indikasi ibu

Untuk menentukan apakah ibu cukup beresiko melahirkan normal,

ada ketentuan skor yang bisa dijadikan pertimbangan dokter. Beberapa hal

dimasukan dalam pertimbangan ini, antara lain usia, riwayat penyakit

seperti hipertensi, diabetes mellitus, atau letak plasenta ibu menutupi jalan

lahir janin. Apabila skornya diatas 5, si ibu bisa dikategorikan beresiko

tinggi untuk melahirkan normal sehingga harus dilakukan tindakan sectio

caesarea

c. Indikasi waktu

Selain indikasi ibu dan janin ada indikasi waktu. Misalnya setelah tiga
18

jam dibimbing melahirkan normal ternyata hasilnya nihil, sementara

bantuan dengan vacum atau forceps juga tidak memungkinkan, maka

alternatif terakhir adalah sectio caesarea.

1) Faktor kesehatan ibu dan bayi

a) Varises di wilayah vagina

b) Air ketuban pecah

c) Bobot bayi lebih dari empat kilogram

d) Tingginya tekanan darah sang ibu

e) Posisi bayi sungsang

f) Kelainan jantung pada sang ibu

g) Kelainan tulang panggul pada sang ibu

2) Faktor sosial

a) Pasangan yang lama tak dikaruniai anak, begitu istrinya mau

melahirkan, pada umumnya pasangan ini memilih persalinan sectio

caesarea.

b) Sang suami cemas karena menganggap istrinya tidak bisa

melahirkan normal.

c) Sang suami beranggapan, kalau melahirkan normal, vagina istrinya

menjadi longgar.

3) Faktor keyakinan dokter

Dokter tidak yakin dengan kondisi ibu dan bayinya untuk

melahirkan secara normal.

4) Faktor persepsi ibu hamil


19

a) Sang ibu kurang memahami resiko dan manfaat persalinan sectio

caesarea.

b) Sang ibu terlalu beranggapan bahwa persalinan normal bukan selalu

yang terbaik

Dimanapun, cesar dilakukan sebagai alternatif terakhir dalam

persalinan, bilamana peralinan normal tidak bisa diwujudkan. Namun,

pada praktiknya cesar dibagi dalam dua kategori, primer dan sekunder.

Disebut cesar primer bila sejak awal kehamilan telah diprediksi ibu

tidak bisa melahirkan secara normal. Misalkan disebabkan oleh posisi

plasenta previa. Untuk kasus cesar primer, persalinan dilakukan lebih

awal dari tafsiran kelahiran normal dengan syarat usia kandungan sudah

memenuhi cukup umur. Persalinan cesar primer tidak menunggu ibu

mengalami tanda-tanda mules. Dan diusahakan dilaksanakan sebelum

ketuban pecah agar bayi tidak mengalami infeksi.

Cesar sekunder terjadi bila semula ibu diperkirakan bisa

melahirkan secara normal tetapi menjelang persalinan diketahui hal itu

sulit diwujudkan karena berbagai sebab. Misalnya, posisi bayi

melintang, atau ukuran bayi terlalu besar sementara pinggul ibu kecil.

Sebagian besar hal yang menyebabkan perlu tindakan cesar dapat

dideteksi dengan rajin mengontrol kehamilan, terutama bila kandungan

sudah berusia 8 bulan. Seandainya tidak ditemukan indikasi cesar,

persalinan normal tetap menjadi pilihan terbaik. Sekali lagi, cesar

adalah alternatif bila persalinan normal tidak bisa dilakukan (Indiarti,

2017).
20

3. Kontra Indikasi Sectio Caesarea

Sectio Caesarea tidak boleh di kerjakan kalau ada keadaan berikut ini :

a. Kalau janin sudah mati atau berada dalam keadaan jelek, kemungkinan

hidup kecil. Dalam keadaan ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi

berbahaya yang tidak diperlukan.

b. Kalau jalan lahir ibu mengalami infeksi yang luas dan fasilitas untuk

caesarea extraperirtoneal tidak tersedia.

c. Kalau dokter bedahnya tidak berpengalaman, kalau keadaannya tidak

menguntungkan bagi pembedahan, atau tidak tersedia tenaga asisten yang

memadai (Hakimi, 2010, 639).

4. Keuntungan Metode Sectio Caesarea

Ada beberapa keuntungan sectio caesarea

a. Sebagai tindakan penyelamatan

Sectio caesarea telah banyak menyelamatkan jiwa ibu yang

mengalami kesulitan melahirkan. Demikian pula sectio caesarea telah

banyak menyelamatkan janin dari kecelakaan persalinan, dengan demikian

sectio caesarea lebih aman bagi keselamatan ibu dan bayi. Berbagai

kesulitan dan masalah kehamilan yang mengakibatkan sulitnya persalinan,

dapat diatasi dengan jalannya sectio caesarea. Memang ada prosedur

untuk membantu persalinan normal yang sedikit mengalami masalah.

Dalam dunia kedokteran dikenal dua alat yang biasa digunakan untuk

membantu proses persalinan, yakni vacum dan forcep.

b. Ibu tidak merasakan nyerinya kontraksi


21

Sang ibu tidak akan merasa cemas oleh rasa nyeri saat kontraksi

sebelum dan selama proses bersalinan. Rasa nyeri akan dirasakan sejak 6

jam pasca sectio caesarea setelah reaksi obat bius hilang. Teknik ini

menguntungkan, apabila tindakan dilakukan dengan pertimbangan tepat

dan didukung data objektif lainnya. Sulitnya bagi penderita atau

keluarganya, tidak semua indikasi sectio caesarea mudah dibuktikan.

Tidak jaramg seorang dokter menentukan indikasi tindakan berdasrkan

firasat dan perasaannya. Bagi ibu yang akan melahirkan, kepercayaan

menjadi dasar terpenting dalam hubungan dengan dokternya. Misalnya,

diagnosa dugaan bakal terjadi trauma kelahiran lebih serius pada ibu atau

anak setelah proses persalinan.

c. Persalinan lebih cepat

Dalam persalinan normal, seorang ibu akan merasakan mulas dan

nyeri hingga puncak rasa sakit sekitar 48 jam. Pada persalinan anak kedua

dan selanjutnya bisa lebih singkat, misalnya hanya 7 jam saja. Pada

pembukaan 1 sampai pembukaan 10, kadangkala memerlukan waktu yang

sangat lama. Bisa jadi seorang ibu masuk hari ini pukul 20.00 malam, dan

persalinan baru bisa terlaksana dua hari lagi. Sang ibu pun tidak bisa tidur

dan akibatnya akan kehabisan tenaga untuk mengejan. Bagi suami dan

keluarga yang menunggu pun tidak kalah cemasnya.

Berbeda halnya dengan sectio caesarea, dalam arti sectio caesarea

yang direncanakan, bukan sectio caesarea dadakan. Seorang ibu yang

akan melahirkan, cukup dating jam 20.00 malam, kemudian berpuasa

selama semalam sambil istirahat tidur nyenyak dan paginya mandi yang
22

bersih, lalu jam 05.00 sudah diajak keruangan tindakan. Suami atau

keluarga pun bisa cukup santai dan tenang karena dokter sudah akan

bekerja secara maksimal. Adapun pelaksanaan operasi itu kurang lebih 25-

30 menit saja dan tanggis pertama bayi sudah akan terdengar. Selanjutnya

1 jam kemudian si ibu akan pulih dengan kesadarannya dari pengaruh obat

bius secara penuh dan sudah kembali keruang istirahat.

d. Persalinan bisa direncanakan

Sectio caesarea merupakan tindakan yang bisa direncanakan. Salah

satu manfaatnya adalah sang ibu maupun ayah bisa memilih kapan jam

dan tanggal bayi yang mau dilahirkan. Akan tetapi hanya ada rentang 1-2

minggu yang bisa dipilih. Pada umunya ayah dan ibu memilih sesuai hari

istimewa jika ada. Misalnya hari raya nasional, hari raya agama, hari ulang

tahun sang ayah atau sang ibu. Atau juga hari dimana sanga ayah bertugas

diluar kota bisa ambil cuti sehingga bisa menunggui proses kelahiran

anaknya yang tercinta.

e. Kehidupan seksual lebih baik

Karena vagina tidak bekerja keras mengeluarkan jabang bayi, maka

vitalitasnya masih terjaga utuh (Indiarti, 2007, 82-86).

5. Kerugian Sectio Caesarea

Operasi Sectio Caesarea merupakan prosedur medis yang mahal.

Prosedur anastesi pada operasi bisa membuat anak ikut terbius, sehingga anak

tidak spontan menangis, keterlambatan menangis ini mengakibatkan kelainan

hemodinamika dan mengurangi apgar score. Ibu akan mendapat luka baru di
23

perut dan kemungkinan timbulnya infeksi bila luka operasi tidak dirawat

dengan baik. Gerak tubuh ibu menjadi sangat terbatas sehingga proses

penyembuhan luka akan semakin lama. Tindakan sectio caesarea biasanya di

anggap sebagai suatu penyiksaan bagi yang tidak memiliki kebiasaan

beristirahat lama di rumah sakit setelah melahirkan.

6. Jenis Tindakan Sectio Caesarea

Ada beberapa jenis caesarea yang kita kenal saat ini, yaitu :

a. Segmen Bawah : Insisi Melintang

Karena cara ini memungkinkan kelahiran per abdominal yang aman

sekalipun dikerjakan kemudian pada saat persalinan dan sekalipun rongga

rahim terinfeksi, maka insisi melintang segmen bawah uterus telah

menimbulkan revolusi dalam pelaksanaan obstetri pada hal-hal berikut :

1) Insisi ini memungkinkan ahli kebidanan untuk mengubah

keputusannya.

2) Insisi ini menghasilkan konsep trial of labor, trial of oxytocin

stimulation dan trial forceps.

3) Indikasi kelahiran dengan forceps yang membawa cedera benar-

benar telah ditiadakan.

4) Indikasi untuk Sectio Caesarea semakin meluas.

5) Morbiditas dan mortalitas maternal lebih rendah dibandingkan

insisi segmen atas.

6) Cicatrix yang terjadi pada uterus lebih kuat.

Dalam pemikiran kami, insisi melintang segmen bawah ini


24

merupakan prosedur pilihan. Abdomen dibuka dan uterus

disingkapkan. Lipatan vesicouterina periteoneum (bladder flap) yang

terletak dekat sambungan segmen atas dan bawah uterus ditentukan

dan disayat melintang, lipatan ini dilepaskan dari segmen bawah dan

bersam-sama kandung kemih didorong kebawah serta di tarik agar

tidak menutupi lapangan pandangan.

Pada segmen bawah uterus dibuat insisi melintang yang kecil,

luka insisi ini dilebarkan kesamping dengan jari-jari tangan dan

berhenti di dekat daerah pembuluh-pembuluh darah uterus. Kepala

janin yang pada sebagian besar kasus terletak di balik insisi di

ekstraksi atau di dorong, di ikuti oleh bagian tubuh lainnya dan

kemudian plasenta serta selaput ketuban.

Insisi melintang tersebut di tutup dengan jahitan catgut

bersambung satu lapis atau dua lapis. Lipatan vesicouterina kemudian

di jahit kembali pada dinding uterus sehingga seluruh luka insisi

terbungkus dan tertutup dari rongga peritoneum generalisata. Dinding

abdomen di tutup lapis demi lapis. Adapun keuntungan dari segmen

bawah (insisi melintang) yaitu :

1) Insisinya ada pada segmen bawah uterus. Namun demikian, kita

harus yakin bahwa tempat insisi ini berada pada segmen bawah

yang tipis dan bukannya pada bagian inverior dari segmen atas

yang muskuler.

2) Otot tidak di potong tetapi di pisah kesamping, cara ini

mengurangi perdarahan.
25

3) Insisi jarang terjadi sampai plasenta.

4) Kepala janin biasanya berada dibawah insisi dan mudah di

ekstraksi.

5) Lapisan otot yang tipis dari segmen bawah rahim lebih mudah

dirapatkan kembali dibanding segmen atas yang tebal.

6) Keseluruhan luka insisi terbungkus oleh lipatan vesicouterina

sehingga mengurangi perembasan kedalam cavum peritonei

generalisata.

7) Ruptura jaringan cicatrix yang melintang kurang membahayakan

jiwa ibu dan janin karena :

a) Insidensi ruptura tersebut lebih rendah.

b) Kejadian ini jarang terjadi sebelum aterm. Dengan demikian

pasien sudah dalam pengamatan ketat di rumah sakit.

c) Perdarahan dari segmen bawah yang kurang mengandung

pembuluh darah itu lebih sedikit dibandingkan perdarahan dari

corpus.

d) Ruptura bekas insisi melintang yang rendah letaknya kadang-

kadang saja di ikuti dengan ekspulsi janin atau dengan

terpisahnya plasenta, sehingga masih ada kesempatan untuk

menyelamatkan bayi.

Adapun kerugian dari segmen bawah (insisi melintang) yaitu :

a) Jika insisi terlampau jauh ke lateral, seperti terjadi pada kasus

yang bayinya terlalu besar, maka pembuluh darah uterus dapat

terobek sehingga menimbulkan perdarahan hebat.


26

b) Prosedur ini tidak di anjurkan kalau terdapat abnormalitas

pada segmen bawah, seperti fibroid atau varices yang luas.

c) Pembedahan sebelumnya atau peletakan yang padat yang

menghalangi pencapaian segmen bawah akan mempersulit

operasi.

d) Kalau segmen bawah belum terbentuk dengan baik,

pembedahan melintang sukar dikerjakan.

e) Kadang-kadang vesica urinaria melekat pada jaringan cicatrix

yang terjadi sebelumnya sehingga vesica urinaria dapat

terluka.

b. Segmen Bawah : Insisi Membujur

Cara membuka abdomen dan menyikapkan uterus sama seperti pada insisi

melintang. Insisi membujur dibuat dengan scalpel dan dilebarkan dengan

gunting tumpul untuk menghindari cedera pada bayi.

Insisi membujur mempunyai keuntungan, yaitu kalau perlu luka insisi bisa

diperlebar keatas. Pelebaran ini diperlukan kalau bayinya besar,

pembentukan segmen bawah jelek, ada mal posisi janin seperti letak

lintang atau kalau ada anomali janin seperti kehamilan kembar yang

menyatu. Sebagian ahli kebidanan menyukai jenis insisi ini untuk plasenta

previa.

Salah satu kerugian utamanya adalah perdarahan dari tepi sayatan yang

lebih banyak karena terpotongnya otot, juga sering luka insisi tanpa

dikehendaki meluas ke segmen atas sehingga nilai penutupan

retroperitoneal yang lengkap akan hilang.


27

c. Sectio Caesarea Klasik

Insisi longitudinal di garis tengah dibuat dengan skalpel ke dalam

dinding anterior uterus dan dilebarkan ke atas serta ke bawah dengan gunting

berujung tumpul. Diperlukan luka insisi yang lebar karena bayi sering

dilahirkan dengan bokong dahulu. Janin serta placenta dikeluarkan dan uterus

ditutup dengan jahitan tiga lapis. Pada masa modern ini hampir sudah tidak

dipertimbangkan lagi untuk mengerjakan sectio caesarea klasik. Satu-satunya

indikasi untuk prosedur segmen atas adalah kesulitan teknis dalam

menyingkapkan segmen bawah. Adapun indikasi dari sectio caesarea yaitu :

1. Kesulitan dalam menyingkapkan segmen bawah

a) Adanya pembuluh-pembuluh darah besar pada dinding anterior

b) Vesica urinaria yang letaknya tinggi dan melekat

c) Myoma pada segmen bawah

2. Bayi yang tercekam pada letak lintang

3. Beberapa kasus placenta previa anterior

4. Malformasi uterus tertentu

Adapun kerugian dari sectio caesarea klasik yaitu :

 Myometrium yang tebal harus di potong, sinus-sinus yang lebar

dibuka, dan perdarahannya banyak.

 Bayi sering di ekstraksi bokong dahulu sehingga kemungkinan

aspirasi cairan ketuban lebih besar.

 Apabila plasenta melekat pada dinding depan uterus, insisi akan

memotongnya dan dapat menimbulkan kehilangan darah dari

sirkulasi janin yang berbahaya.


28

 Letak insisi tidak tertutup dalam cavum peritonei generalisata dan isi

uterus yang terinfeksi kemungkinan besar merembes dengan akibat

peritonitis.

 Insidensi pelekatan isi abdomen pada luka jahitan uterus lebih tinggi.

 Insidensi ruptura uteri pada kehamilan berikutnya lebih tinggi.

d. Sectio Caesarea Extraperitoneal

Pembedahan extraperitoneal dikerjakan untuk menghindari perlunya

histerektomi pada kasus-kasus yang mengalami infeksi luas dengan mencegah

peritonitis generalisata yang sering bersifat fatal.

Teknik pada prosedur ini relatif sulit, sering tanpa sengaja masuk ke

dalam cavum peritonei, dan insidensi cedera vesica urinaria meningkat.

Perawatan prenatal yang lebih baik, penurunan insidensi kasus yang terlantar,

dan tersedianya darah serta antibiotik telah mengurangi perlunya teknik

extraperitoneal. Metode ini tidak boleh dibuang tetapi tetap di simpan sebagai

cadangan bagi kasus-kasus tertentu.

e. Histerektomi Caesarea

Pembedahan ini merupakan sectio caesarea yang dilanjutkan dengan

pengeluaran uterus. Kalau mungkin histerektomi harus dikerjakan lengkap

(histerektomi total). Akan tetapi, karena pembedahan subtotal lebih mudah dan

dapat dikerjakan lebih cepat, maka pembedahan subtotal menjadi prosedur

pilihan kalau terdapat perdarahan hebat dan pasiennya shock, atau kalau pasien

dalam keadaan jelek akibat sebab-sebab lain.

Pada kasus-kasus semacam ini, tujuan pembedahan adalah

menyelesaikannya secepat mungkin. Adapun indikasi dari histerektomi caesarea


29

yaitu :

1. Perdarahan akibat atonia uteri setelah terapi konservatif gagal.

2. Perdarahan yang tidak dapat dikendalikan pada kasus-kasus placenta previa.

3. Pada kasus-kasus tertentu kanker cervix atau ovarium.

4. Ruptura uteri yang tidak dapat diperbaiki.

5. Sebagai metode sterilisasi kalau kelanjutan haid tidak dikehendaki demi

alasan medis.

6. Pelebaran luka insisi yang mengenai pembuluh-pembuluh darah sehingga

perdarahan tidak bisa dihentikan.

Adapun komplikasi histerektomi caesarea yaitu :

1. Angka morbiditasnya 20%.

2. Darah lebih banyak hilang.

3. Kerusakan pada traktus urinarius dan usus termasuk pembentukan

fistula.

4. Trauma psikologis akibat hilangnya rahim (Hakimi, 2010, 640-644).

7. Perkembangan Sectio Caesarea

Sampai hari ini, terdapat tiga perkembangan penting dari teknik

operasi. Pertama, perkembangan metode penjahitan rahim dengan benang

untuk menghentikan perdarahan. Kedua, perkembangan dari cara tindakan

yang aseptik dan ketiga perubahan dari insisi atau sayatan pada rahim dari

cara klasik menjadi sayatan melintang pada segmen bawah rahim. Dengan

makin majunya perkembangan ilmu kedokteran, bidang teknik pembedahan,

anestesi dan perinatologi, ilmu yang berkaitan dengan sectio caesarea juga
30

ikut maju pesat. Perinatologi adalah bidang yang menangani janin berusia 28

minggu sebelum dilahirkan hingga 28 minggu usai kelahiran.

Dalam bidang teknik pembedahan, kini frekuensi ibu yang bisa

menjalani sectio caesarea dengan aman telah meningkat menjadi 4 kali

semasa hidupnya. Padahal, sebelumnya Cuma bisa 2 kali. Arah sayatannya

pun berkembang. Dulu hanya dikenal teknik cesar klasik dengan sayatan

membujur dari bawah pusar kearah tulang kemaluan. Kini sayatan bisa

melintang dari kiri kekanan diatas tulang kemaluan. Secara estetis, teknik

pembedahan baru ini lebih baik dan penyembuhannya lebih cepat. Apabila

hendak mandi matahari dengan cuma mengenakan bikini, bekas operas

dengan sayatan klasik akan tampak pada perut, sehingga mungkin tidak

mulus lagi. Sedangkan dengan sayatan trans profunda bekas operasi bisa

disembunyikan dari pandangan umum. Luka bekas operasi juga bisa

dimanipulasi agar tidak tampak. Caranya, dengan teknik penjahitan yang

sering digunakan oleh ahli bedah plastik (Indiarti, 2007, 47-48)

8. Resiko Sectio Caesarea

Adapun tindakan yang dipilih oleh ibu melahirkan selalu mengandung

resiko. Pada zaman dahulu, persalinan hampir selalu alamiah, dalam arti bayi

keluar melalui jalan lahir atau vagina. Mulai decade 90-an sampai dengan

saat ini, melahirkan dengan cara sectio caesarea sudah popular. Demikian,

secara obyektif kita perlu menimbang untung dan resikonya. Adapun resiko

sectio caesarea jangka pendek adalah :

a. Terjadinya infeksi

Infeksi luka akibat persalinan sectio caesarea berbeda dengan resiko


31

persalinan normal. Luka persalinan normal sedikit dan mudah terlihat,

sedangkan luka sectio caesarea lebih besar dan berlapis-lapis. Ada sekitar

7 lapisan mulai kulit perut sampai dinding rahim, yang setelah operasi

selesai, masing-masing lapisan dijahit tersendiri. Jadi bisa ada 3 sampai 5

jahitan. Apabila penyembuhan tidak sempurna, kuman akan lebih mudah

menginfeksi sehingga luka menjadi lebih parah.

b. Kemungkinan terjadi keloid

Keloid atau jaringan parut muncul pada organ tertentu karena

pertumbuhan berlebihan. Sel-sel pembentuk organ tersebut. Ukuran sel

meningkat dan terjadilah tonjolan jaringan parut. Perempuan yang

mempunyai kecenderungan keloid tiap mengalami luka niscaya

mengalami keloid pada sayatan bekas operasinya. Keloid hanya terjdi

padawanita yang memiliki jenis penyakit tertentu. Cara mengatasinya

adalah dengan memberikan informasi tentang segala penyakit yang ibu

derita sebelum kepastian tindakan section caesarea dilakukan.

c. Perdarahan berlebihan

Resiko lainnya adalah perdarahan. Memang perdarahan tak bisa

dihindari dalam proses persalinan. Misalnya plasenta lengket tak mau

lepas. Bukan tak mungkin setelah terlepas akan menyebabkan perdarahan.

Darah yang hilang lewat section caesarea lebih sedikit dibandingkan lewat

persalinan normal. Apalagi dengan teknik pembedahan dewasa ini

perdarahan bisa ditekan sedemikian rupa sehingga sangat minim sekali.

Darah yang keluar saat sectio caesarea adalah darah yang memang

semestinya keluar dalam proses persalinan normal.


32

Resiko jangka panjang dari sectio caesarea adalah pembatasan

kehamilan. Dulu, perempuan yang pernah menjalani sectio caesarea hanya

boleh melahirkan 3 kali. Kini, dengan teknik operasi yang lebih baik, ibu

memang boleh melahirkan lebih dari itu bahkan sampai 4 kali. Akan

tetapi, tetntu bagi keluarga zaman sekarang pembatasan itu tidak terlalu

bermasalah karena setiap keluarga memang dituntut membatasi jumlah

kelahiran sesuai dengan program KB Nasional.


33

Kerangka Konsep

Tim Bedah :
Operator
Assisten operator Prosedur
Dokter anastesi Surgical
safety Patient Safety
Pengetahuan Perawat
Checklist :
(Keselamatan pasien)
Periopertif : Sign In
- Baik
Perawat anastesi
Time Out - Cukup
Sign Out) - Kurang
Perawat
Instrumen
Perawat

Faktor Penunjang Pengetahuan perawat Perioperatif :


Tingkat pendidikan
Pelatihan (informasi)
Media (Notoatmojo,2013)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Gambaran Pelaksanaan Surgical


Safety Checklist oleh Kamar Operasi RS Lavalette
Malang.
Keterangan
: Variabel yang diteliti berhuruf tebal miring
: Variabel yang tidak diteliti
: Berpengaruh
Deskripsi : Pelaksanaan prosedur Surgical Safety Checklist
dipengaruhi oleh pengetahuan perawat perioperatif yang
terlibat dalam pelaksanaan operasi tersebut.
34

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka konsep

Kerangka konsep yang berhubungan dengan Pengaruh implementasi surgical

Safety Checklist terhadap keselamatan pasien SC di Kamar Bedah RSUD HAMBA

Muarabulian Tahun 2020 sebagai berikut :

Skema 3.1
Kerangka Konsep
Pre test Post test
Keselamatan Pasien Keselamatan Pasien
SC diKamar Bedah Surgical safety SC diKamar Bedah
sebelum Implementasi Cehecklist (SSC) setelah
SSC Implementasi SSC

Skema 3.1. : Kerangka Konsep


35

B. Defenisi Operasional

Variabel Definisi operasional Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala ukur
InPreTest
(keselamata Suatu Keadaan pasien Pedoman Pasien Safety
n Pasien SC) SC dimana sebelum observasi Observasi Teridentifikasi Interval
K dilakukan surgical
Safaety Checklis
(Adlany, 2010)

Implementasi Tindakan yang - - -


Surgical dilakukan dengan
Safety menggunakan
Checklist pedoman checklist
mulai dari Sig-In ,
Time-Out dan Sig-Out
(permenkes 2011)
PostTest
(keselamata Suatu Keadaan pasien Pedoman Pasien Safety
n Pasien SC) SC dimana setelah observasi Observasi Teridentifikasi Interval
K dilakukan surgical
Safaety Checklis
(Adlany, 2010)

C. Hipotesis

Ha : Ada Pengaruh implementasi surgical Safety Checklist terhadap keselamatan

pasien SC di Kamar Bedah RSUD HAMBA Muarabulian Tahun 2020.

Ho : Tidak ada Pengaruh implementasi surgical Safety Checklist terhadap

keselamatan pasien SC di Kamar Bedah RSUD HAMBA Muarabulian

Tahun 2020.
36

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain Quasi-eksperimen dengan rancangan one

group pre-test and post-test design . Pada penelitian ini mengungkapkan hubungan

sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek

diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah

dilakukan intervensi dimana hal ini akan dilihat tentang Pengaruh implementasi

surgical Safety Checklist terhadap keselamatan pasien SC di Kamar Bedah RSUD

HAMBA Muarabulian Tahun 2020 (Nursalam, 2010).

Dalam one group pretest-postest design adalah mengukur apa yang terjadi

pada kelompok percobaan sesuai dengan kondisi awalnya sebelum eksperimen (pre-

test) dan perbedaan yang tampak diakhir eksperimen (post-test) tanpa kelompok

kontrol.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan dilakukan di Ruangan Bedah RSUD HAMBA

pada bulan September-Oktober tahun 2020.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah
37

ditetapkan (Nursalam, 2010). Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang

mengalami Operasi dengan kasusu SC (section Caesaria) di Ruang bedah RSUD

HAMBA Muarabulian perbulannya sebanyak 22 orang pasien

2. Sampel

Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari

karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Alimul, 2013). Pada penelitian ini,

peneliti menggunakan teknik Accidental Sampling yaitu pengambilan sampel

yang kebetulan ada atau tersedia disuatu tempat sesuai konteks penelitian. Suatu

pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti dalam memilih sampel atau

responden untuk mempermudah dalam melaksanakan penelitian (Notoadmodjo,

2013).

Menurut Sugiyono (2011), ukuran besar sampel untuk penelitian sederhana

adalah 10 s/d 20 orang. Pada penelitian ini peneliti mengambil standar minimal

yaitu 10 orang. pasien yang mengalami ansietas pre operasi bedah SC di Ruang

Bedah RSUD HAMBA Muarabulian tahun 2020.

Kriteria Inklusi :

Adalah karakteristik umum subjektif penelitian dari suatu populasi target yang

terjangkau dan akan diteliti (Nursalam 2009, p.92).

a. Pasien mengalami SC

b. Bersedia menjadi responden

c. Tidak terindikasi gangguan kejiwaan

d. Umur 21-35 tahun

Kriteria eksklusi :

a. Pasien yang mengkonsumsi obat penenang


38

b. Tidak bersedia menjadi responden

c. Pasien yang tidak menjalani bedah lain

d. Pasien hipertensi

D. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer yaitu data yang langsung didapatkan dari responden berupa

pengukuran Keselamatan pasien safety sewaktu sebelum intervensi dan setelah

intervensi pemberian Implementasi Surgical Safety Checklist

b. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang didapatkan dari lingkungan penelitian

berupa data di RSUD HAMBA, yaitu data pasien, catatan medik, catatan

keperawatan dan sumber lain yang mendukung penelitian ini seperti nama,

umur, dan jenis kelamin.

E. Langkah-Langkah Pengolahan Data

Langkah-langkah pengolahan data pada kelompok eksperimen :

1. Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan lebih kurang 1 bulan dimana Langkah-

langkah dalam proses penelitian sebagai berikut :

a) Meminta izin penelitian pada kepala ruangan

b) Melakukan informed consent kepada responden

c) Melakukan wawancara dengan menggunakan lembar wawancara


39

2. Instrument Penelitian

Instrument yang digunakan untuk intervensi penelitian yaitu lembar

Kuesioner SSC untuk menilai tingkat Keselamatan pasien SC pada pasien pre

operasi bedah SC.

3. Prosedur Pengumpulan Data

Langkah-langkah dalam prosedur penelitian sebagai berikut :

a) Tahap Persiapan

Tahap persiapan dalam penelitian ini adalah mengurus surat izin

penelitian dibagian akademik Institut Prima Nusantara Bukittinggi dan surat

izin penelitian di RSUD HAMBA. Setelah mendapatkan izin, peneliti mulai

melakukan penelitian dengan memberikan lembar penjelasan tujuan serta

konsekuensi dari peneliti kepada responden.Responden diberikan

kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti dan bila ada

pertanyaan peneliti siap untuk menjelaskannya.

b) Tahap pelaksanaan

Pada penelitian ini dilakukan yang pertama tahap pre test. Pre test

merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mengetahui kondisi awal

kecemasan sebelum dilakukan intervensi SSC. Klien yang telah bersedia

menjadi responden kemudian diminta untuk mengisi lembar wawancara

untuk menilai tingkat kecemasan sebelum diberikan intervensi. Setelah


40

semua wawancara dijawab, kemudian dijumlahkan skornya untuk

mengetahui tingkat keselamatan Pasien pasien pre operasi bedah SC.

Setelah dilakukan pre test selanjutnya diberikan intervensi SSC. Setelah

dilakukan pre-test selanjutnya diberikan intervensi implementasi SSC.

Tahap post-test dilakukan setelah intervensi. Kegiatan yang dilakukan

adalah dengan kembali memberikan wawancara yaitu formulir yang sama

dengan yang diberikan pada saat pre-test..

c) Tahap Penutup

Setelah selesai pelaksanaan penelitian terapis melakukan terminasi

kepada pimpinan Rumah Sakit, perawat ruangan dan responden yang ada

yang telah membantu dalam penelitian.

F. Teknik Pengolahan Data

Alat pengumpulan data dalam penelitian yang digunakan yaitu Kuesioner

Keselamatan pasien SC untuk memeriksa tingkat keselamatan pasien pre operasi

bedah SC. Pengolahan data dilakukan secara sistem komputerisasi. Setelah data

terkumpul, dianalisis, kemudian data tersebut diolah dengan langkah – langkah

sebagai berikut :

1. Editing (Pemeriksaan data)

Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian lembar observasi.

2. Coding (Mengkode data)

Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk

angka/ bilangan untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga

mempercepat pada saat entry data.


41

3. Processing (Memasukkan data)

Setelah semua lembar observasi terisi serta telah melewati pengkodean, maka

langkah selanjutnya adalah memproses data agar data yang sudah di entry dapat

dianalisis. Processing dapat dilakukan dengan cara meng-entry data dari hasil

observasi ke paket program computer.

4. Cleaning (Membersihkan data)

Pembersihan data merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah

di-entry apakah ada kesalahan atau tidak (Notoadmodjo, 2010).

G. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat, karena

dalam penelitian ini peneliti tidak saja menggambarkan tetapi juga mencari

hubungan antara kedua variabel yaitu hubungan antara variabel independen dan

variabel dependen. Dalam hal ini peneliti akan menganalisa dengan :

1. Analisis Univariat

Analisis ini dilakukan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik

setiap variabel penelitian, yang disajikan dalam bentuk statistik deskriptif

meliputi mean dan standar deviasi (Notoadmodjo, 2013).

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkolerasi (Notoadmodjo, 2010). Analisis ini dilakukan

untuk mengetahui perbedaan keselamatan pasien SC pre operasi sebelum dan

setelah pemberian Implementasi SSC dengan uji t-test dependent (Parametrik da

non parametrik) menggunakan batas kemaknaan α = 0,05. Hipotesa diterima jika


42

probabilitas p ≤ 0,05 dan hipotesa ditolak jika nilai probalitas p > 0,05

(Trihendradi 2009, p.118).

H. Etika Penelitian

1. Informed consent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent

diberikan kepada responden sebelum melakukan penelitian dan memenuhi

kriteria inklusi. Lembar informed consent juga dilengkapi dengan judul

penelitian.

2. Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga keberhasilan, peneliti tidak akan mencantumkan nama

responden, tetapi pada lembar tersebut diberikan kode sebagai pengganti nama

responden.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, dan hanya kelompok

data tertentu yang akan dilaporkan sebagai


43

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz Hidayat. 2010. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salembada Medika
Asep. 2016. Tinjauan Operasi. Jakarta : Bumi Aksara

Asmadi. 2016. Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar. Jakarta : Salemba Medika

Brunner & Suddarth. 2013. Buku Ajar Keperawatn Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Fitri Ulandari, 2011. Hubungan paritas dan pekerjaan ibu bersalin dengan
persalinan sectio caesarea.

HIPKABI. 2014. Buku Keterampilan Dasar Bagi Perawat Kamar Bedah. Jakarta :
Hibkabi Press

Harun, Herlinda Mahdania, dkk. 2014. Hubungan Karakteristik Dan Prilaku Ibu
Dengan Status Persalinan Sectio Caesar. Diakses pada tanggal 16 juni 2016
Hanifah suryani, dkk, 2013. Hubungan pengetahuan dan sikap ibu post sectio
caesarea terhadap mobilisasi dini.
Indiarti, M.T. 2007. CESAR, Cara Aman Menyambut Kelahiran Buah Hati Anda.
Pringgodani Mrican :Yogyakarta
Intan salfariani, 2013. hubungan sikap ibu bersalin sectio caesarea yang mempunyai
riwayat persalinan sectio caesarea.
Isti Mulyawati, 2010. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Persalinan Operasi
Sectio Caesarea. Diakses pada tanggal 18 juni 2016
Juaria Henny & Hartatik. 2013. Profil Umur Dan Pekerjaan Ibu Bersalin Sectio
44

Caesarea Yang Mempunyai Riwayat Sectio Caesarea. Diakses pada tanggal


16 juni 2016
Kurniati. 2010. Pelaksanaan keselamatan pasien safety diruang Bedah. Jakarta:
Qultum Media

Maryunani, A. (2014). Asuhan Keperawatan Perioperatif-Preoperasi : Menjelang


Pembedahan. Jakarta : TIM

Medical Record RSUD HAMBA. 2020. Data Pasien Bedah Mayor. Muarabulian

Machfoeds, ircham. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif.


Yogyakarta : Fitramaya.
Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian kualitatif dan kuantitatif. Jakarta :
Salemba Medika
Nursalam. 2010. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan
(Edisi 3). Jakarta: Salemba Medika.

Oxorn Harry & R. Forte William. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi
Persalinan. Yogyakarta : Andi Offset.
Smeltzer. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Sinaga, Ezra Marisi D. 2007. Karakteristik Ibu Yang Mengalami Persalinan Dengan
Seksio Sesarea. Diakses pada tanggal 16 juni 2016
Sumelung Veibymiaty, dkk. 2014. Faktor-faktor Yang Berperan Meningkatnya
Angka Kejadian Sectio Caesarea. Diakses pada tanggal 16 juni 2016
Wawan & Dewi. 2011. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta : Nuha Medika
Nurhidayati Anis, dkk. 2014. Hubungan Pengetahuan Tentang Sectio Caesarea
Dengan Kecemasan Ibu Pre Operasi. Diakses pada tanggal 16 juni 2016
45

LEMBAR OBSERVASI

No. Responden

A. Identitas Klien

1. Nama :

2. Umur :

B. Lembar Observasi

Pengukuran Keselamatan pasien SC dalam implementasi SSC (surgical


Safety Checklist ) di RSUD HAMBA
Intervensi
No Nama responden
Pre Post
46

C. Keselamata Pasien SC

No Aspek Penilaian 0 1 2 3
1 Identitas pasien aman
1 Jenis Prosedur pembedahan jelas
2 Lokasi Operasi jelas
3 Lokasi yang akan dioperasi sudah jelas
4 Tindakan persetujuan sudah aman
5 DoktervAhli Bedah sudah siap dan selesai
6 Peralata anestasi lengkap
7 Saluran untuk pernafasan udah stanby
8 Obat obat pasien udah lengkap
9 Tidak Adanya perubahan denyut jantung tanpa
aktivitas
10 Tidak madanya kendala dalm operasi
11 Pasien aman dan selamat
12 Pasien tidak punya riwayat alergi
13 Pasien tidak terlihat dengan keadaan tekanan
14 Tidak terjadi Gemetar

Nilai 0-21 : Keselamatan tidak Adequat

Nilai 21-42 : Keselamatan Adequat


47