Anda di halaman 1dari 9

Tugas Terstruktur Berkelompok Mata Kuliah Etika Bisnis & Profesi

ETIKA PERPAJAKAN

Disusun Oleh:
Ade Irma Hidayah
Rizki Fadila

PPAk
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011
ETIKA PERPAJAKAN, SEBUAH NILAI LUHUR YANG WAJIB DIMILIKI OLEH
SETIAP INDIVIDU

Berbicara perihal etika, apapun bentuknya pastilah berkaitan dengan nilai


(value). Etika adalah yang tak kasat mata, namun memiliki pengaruh yang luar biasa
dalam segala segi kehidupan. Ketika etika itu dikaitkan dengan perpajakan, maka akan
banyak sekali pihak yang terlibat di dalamnya. Bahkan bisa dikatakan semua pihak ada
di dalamnya. Secara subyektif seluruh warga Negara adalah wajib pajak. Dengan
demikian artinya etika perpajakan ini wajib dimiliki, dimengerti dan diamalkan oleh
setiap individu seperti halnya etika berpakaian dan sebagainya.
Pendapatan terbesar Negara ini didapatkan dari sector pajak, pajak inilah yang
digunakan untuk pembangunan baik sektor infrastukrtur maupun pembangunan
dibidang lainya. Alangkah kecewanya begitu mendengar adanya sebuah
penyimpangan yang melibatkan antar institusi dinegeri ini berkaitan dengan pengelolan
pendapatan tersebut. Bagaimana pembangunan dinegara ini akan akan maju jika
pendapatan untuk membangun disalah gunakan untuk kepentingan pribadi. Apalagi
penyimpangan ini sudah dianggap menjadi sebuah tradisi.
Namun sangatlah tidak bijak ketika kita membicarakan etika perpajakan, kita
hanya menunjuk satu pihak saja, misalnya pemerintah yang bertindak sebagai fiskus.
Tidak dapat dipungkiri bahwa fiskus merupakan salah satu actor utama dalam
perpajakan. Namun ada dua actor utama lainnya, yaitu konsultan pajak dan wajib
pajak itu sendiri.
Mari kita menegok kasus yang baru baru ini memerahkan telingan Dirjend
Pajak. Tertangkapnya Gayus di Singapura bukan berarti mematikan jalur
penyelewangan pajak, justru dengan ditangkapnya Gayus yang diharapkan
membongkar sindikat tradisi yang melembaga dinegeri ini. Betapa tidak Gayus yang
baru bergabung dengan institusinya selama 5 tahun memiliki harta melebihi kekayaan
seorang menteri, jangan heran jika ada atasan Gayus yang memiliki harta berlimah,
tanah berhektar-hektar dan sejumlah rumah mewah diberbagai wilayah dan alangkah
lebih mengagetkan lagi jika mereka melaporkan kekayaan tersebut didapat dari hasil
hibah sebab seorang Gayus saja bisa terbebas dari jeratan hukum apa lagi atasanya.
Begitu luasnya mata rantai sindikat pengelapan pajak ini membuat pemerintah dalam
hal ini aparat penegak hukum harus bekerja lebih ekstra keras untuk mengungkap
kasus yang melibatkan beberapa institusi dinegeri ini. Sebuah tantangan bagi institusi
pajak itu sendiri.
Kasus di atas jelas tidak hanya melibatkan Gayus sebagai fiskus, namun juga
wajib pajak sendiri. Uang yang diterima oleh Gayus adalah upeti dari wajib pajak nakal
yang berusaha untuk mengemplang pajak. Bahkan dari media elektronik
detiknews.com yang melansir sebuah artikel yang di dalamnya melansir bahwa
seorang konsultan pajak turut berperan dalam menghubungkan Gayus dengan wajib
pajak jelas membuktikan peran konsultan dalam kejahatan perpajakan.
Banyak konsultan pajak berpikir mereka paham semua yang perlu diketahui
tentang etika: tidak berbohong, menipu atau mencuri. Mereka memiliki komite etika
profesi yang melakukan kongres secara rutin, tetapi sering komite tersebut tidak peduli
dengan praktek nakal yang dilakukan oleh anggotanya, bahkan terkesan menutup
mata. Lebih jauh dari itu, etika tidak sekedar aturan dalam sebuah buku code of
conduct. Seperti yang kami ungkapkan di depan, bahwa etika lebih pada sebuah nilai.
Sebelum kita berpicara lebih jauh tentang etika, pada dasarnya negeri ini telah
memiliki aturan yang jelas dan tegas berikut dengan sanksi yang harus diberikan
kepada para pengemplang pajak, konsultan pajak, dan fiskus yang korup. Namun
mengapa masih banyak juga kejahatan perpajakan yang terjadi di Indonesia? Sebelum
menjawab pertanyaan di atas, marilah kita simak aturan-aturan terkait dengan etika
perpajakan ditinjau dari sudut pandang fiskus, wajib pajak dan konsultan pajak.

1. KODE ETIK PEGAWAI DIRJEND PAJAK

Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak (Kode Etik) adalah pedoman
sikap, tingkah laku, dan perbuatan, yang mengikat Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
(Pegawai) dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan
hidup sehari-hari. Dengan Kode Etik, segenap jajaran Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
dituntut untuk mengetahui, memahami, menghayati, dan melaksanakan tugas sesuai
prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance).

Keberhasilan pelaksanaan Kode Etik tidak hanya bergantung pada badan atau
unit yang berwenang mengawasi Kode Etik, tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor
seperti pengawasan melekat dan keteladanan dari atasan dan tanggung jawab seluruh
Pegawai DJP. Oleh karena itu Pegawai diharapkan memiliki inisiatif untuk menjaga
agar Kode Etik dapat dipatuhi antara lain dengan saling mengingatkan sesama
Pegawai, berkonsultasi dengan atasan, atau melaporkan apabila terjadi pelanggaran
Kode Etik di lingkungan kerja masing-masing.

Setiap pegawai pajak wajib:


• Menghormati agama, kepercayaan, budaya, dan adapt istiadat orang lain.
• Bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Bekerja secara profesional meliputi:
- integritas, yaitu ukuran kualitas moral Pegawai yang diwujudkan dalam sikap
jujur, bersih dari tindakan tercela, dan senantiasa mengutamakan kepentingan
negara;
- disiplin, yaitu pencerminan ketaatan Pegawai terhadap setiap ketentuan yang
berlaku;
- kompetensi, yaitu ukuran tingkat pengetahuan, kemampuan dan penguasaan
atas bidang tugas Pegawai sehingga mampu melaksanakan tugas secara
efektif dan efisien.
- Bekerja secara transparan, yaitu setiap Pegawai bersikap terbuka dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan ketentuan yang
berlaku. Namun demikian, kerahasiaan jabatan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, tetap harus diterapkan.
- Bekerja secara akuntabel artinya Pegawai harus bertanggungjawab dan
bersedia untuk diperiksa oleh pihak yang berwenang atas setiap keputusan
atau tindakan yang diambil dalam rangka pelaksanaan tugas.
• Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak.
• Memberikan pelayanan kepada wajib pajak, sesame pegawai, atau pihak lain
dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya.
• Mentaati perintah kedinasan.
Perintah kedinasan adalah perintah yang diberikan oleh atasan yang
berwenang mengenai atau yang ada hubungannya dengan kedinasan.
• Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat
Jenderal Pajak.
• Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor.
• Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban
perpajakan.
• Bersikap, berpenampilan, dan bertutur kata secara sopan.

Dalam buku kode etik pegawai Dirjed Pajak di atas jelas disebutkan bahwa
pegawai harus bekerja dengan jujur, bersih dari tindakan tercela, dan senantiasa
mengutamakan kepentingan Negara. Namu lagi-lagi apalah arti buku kode etik
tersebut tanpa adanya moral yang baik dari pelaksananya.

2. ETIKA WAJIB PAJAK


Pada dasarnya etika wajib pajak identik dengan kewajiban wajib pajak yaitu
melaksanakan segala kewajiban perpajakannya. Secara lebih detail hal itu
tertuang dalam buku panduan wajib pajak, antara lain:
• Kewajiban Mendaftarkan Diri

• Kewajiban Pembayaran, Pemotongan/Pemungutan, Dan Pelaporan

• Memenuhi panggilan untuk datang menghadiiri pemeriksaan sesuai


dengan waktu yang ditentukan khususnya untuk jenis pemeriksaan kantor;
• Memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen
yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain termasuk data yang dikelola secara
elektronik, yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan
usaha, pekerjaan bebas wajib Pajak, atau objek yang terutang Pajak. Khusus
untuk pemeriksaan lapangan, wajib Pajak wajib memberikan kesempatan untuk
mengakses dan/atau mengunduh data yang dikelola secara elektronik
• Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang
dipandang perlu dan memberi bantuan lainnya guna kelancaran pemeriksaan;
• Menyampaikan tanggapan secara tertulis atas surat pemberitahuan hasil
pemeriksaan
• Meminjamkan kertas kerja pemeriksaan yang dibuat oleh akuntan publik
khususnya untuk jenis pemeriksaan kantor
• Memberikan keterangan lain baik lisan maupun tulisan yang diperlukan.
Jelas wajib pajak harus menaati aturan perpajakan, itulah etika wajib pajak.
Jadi ketika mereka tidak menaati aturan tersebut, bisa dikatakan kalau mereka telah
melanggar etika perpajakan. Apalagi dengan system self-assessment yang berlaku di
Indonesia, etika wajib pajak mutlak dibutuhkan. Sekali lagi disinilah nilai berlaku.
Aturan pajak dengan segala sanksinya mampu dilanggar oleh wajib pajak, karena tidak
adanya nilai dalam diri meraka.

3. KODE ETIK KONSULTAN PAJAK


Kode Etik IKPI adalah kaidah moral yang menjadi pedoman dalam berfikir,
bersikap dan bertindak oleh setiap anggota IKPI. Setiap anggota IKPI wajib menjaga
citra martabat profesi dengan senantiasa berpegang pada Kode Etik IKPI. Kode Etik
IKPI juga mengatur sanksi terhadap tidak dipenuhinya kewajiban atau dilanggarnya
larangan oleh anggota IKPI.

Konsultan Pajak Indonesia wajib :

• Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
• Menjunjung tinggi kepatuhan hukum dan peraturan perpajakan, integritas,
martabat dan kehormatan profesi konsultan pajak.
• Melakukan tugas profesi dengan penuh tanggung jawab, dedikasi tinggi dan
independen.
• Menjadi wajib pajak yang baik.
• Menjaga kerahasiaan dalam menjalankan profesi.

Konsultan Pajak Indonesia tidak diperkenankan :

• Melakukan kegiatan profesi lain yang terikat dengan pekerjaan sebagai


pegawai negeri sipil baik pada tingkat Pusat maupun Daerah, kecuali mereka
yang bekerja pada bidang riset, pengkajian dan pendidikan.
• Meminjamkan ijin kerja untuk digunakan oleh pihak lain.
• Menugaskan pegawainya yang tidak menguasai seluk beluk, teknik,
pengetahuan dan peraturan perpajakan untuk bertindak atas nama Konsultan
pajak, memberikan nasehat dan menangani urusan perpajakan Klien.
Pada buku kode etik IKPI tersebut di atas setiap anggota IKPI wajib menjunjung
tinggi kepatuhan hukum dan peraturan perpajakan, integritas, martabat dan
kehormatan profesi konsultan pajak. Namun bagaimana bagi mereka yang bukan
anggota IKPI, apakah kodeetik tersebut tidak mengikat mereka? Secara keanggotaan
memang tidak. Namun seperti yang sudah kami sampaikan di awal bahwa etika di sini
bukanlah kode etik, melainkan nilai dalam hati setiap individu untuk bertindak sesuai
dengan aturan.

Sekarang kita membahas pada inti permasalahannya, kenapa aturan, kode etik
dan sanksi tidak dapat menghentikan kejahatan perpajakan? Dalam model fraud,
sebuah kecurangan diawalai dari nilai – pengendalian internal – pengawasan internal –
pengawasan eksternal. Rantai fraud di atas menunjukkan bahwa dasar dari
dilakukannya sebuah kecurangan adalah rendahnya nilai seorang individu untuk tidak
berbuat curang. Yang dimaksud dengan pengendalian internal adalah auditor internal
perusahaan. Jika perusahaan dianggap sebagai wajib pajak, dan management telah
sepakat untuk melakukan pengemplangan pajak, maka rontoklah dua rantai pertama.

Kemudian yang dimaksud sebagai pengawasan internal disini adalah konsultan


pajak. Konsultan pajak berperan untuk mengarahkan wajib pajak menerapkan aturan
perpajakan yang benar. Dan yang terakhir adalah pengawasan ekternal, atau yang
biasa kita sebut sebagai fiskus. Model fraud sendiri menyadari kelemahan utama dari
rantai kedua hingga keempat. Baik pengendalian internal, pengawasan internal,
maupun pengawasan eksternal akan tumbang jika ada kerjasama antara ketiganya.
Kerjasama tersebut muncul jika nilai dalam ketiganya telah hilang.

Untuk kesekian kalinya, nilai menjadi kunci dasar dari permasalahan etika ini.
Lalu bagaimanakan cara kita untuk mengembangkan nilai luhur dan budaya beretika
perpajakan di negeri kita ini? Beragam diskusi telah dilakukan guna membahas
masalah degradasi nilai bagsa kita. Berbagai solusipun telah disampaikan, dari
hukuman yang keras dan tegas hingga reformasi birokrasi besar-besaran. Bisa saya
katakana bahwa hal itu hanya menguatkan rantai kedua hingga keempat tanpa
menyentuh pokok permasalahannya sama sekali yaitu nilai.
Sehingga yang perlu kita gali adalah, mengapa di Indonesia yang budaya
ketimuran masih begitu kuat, masyarakatnya begitu agamis, namun tingkat
penyelewengan pajak begitu besar? Nampaknya hal inilah yang sesungguhnya bisa
kita katakana sebagai masalah sistemik. Kemiskinan di Indonesia, atau bagi yang tidak
miskin, ketakutan menjadi miskin, menjadi masalah utama. Tingginya angka
kemiskinan inilah yang mencetak SDM dengan kualitas rendah. Di sisi lain, bagi yang
tidak miskin dan berhasil mencetak SDM bagus, mereka terbiasa melihat kemiskinan,
dan berusaha semaksimal mumgkin untuk tidak menjadi miskin.

Masalah kemiskinan ini menjadi rantai yang tak putus – putus menciptakan
budaya pencuruian, yang pada level lebih tinggi menjadi korupsi dan kolusi. Hal yang
dilakukan oleh hamper semua orang, meskipun salah, lama – lama yang akan menjadi
sebuah budaya. Inilah yang terjadi di negeri ini, budaya mencuri. Inilah nampaknya
yang harus kita benahi terlebih dahulu. Memperbaiki taraf hidup masyarakat,
menurunkan angka kemiskinan. Tidak membiarkan mereka dalam kondisi kelaparan,
perut lapar membuat orang akan nekat berbuat jahat. Ketika hal itu telah kita atasi,
sedikit banyak budaya untuk mencuri ini akan berkurang. Pada jangka panjang budaya
inipun juga akan ditinggalkan.

Yang kedua adalah masalah ketidaktahuan. Masyarakat tidak tahu mengenai


hak dan kewajiban perpajakannya. Peraturan perpajakan menjaudi sesuatu yang amat
tinggi dan kompleks. Inilah yang harsus sesegera mungkin kita rubah. DIrjen Pajak
harus mampu mengerem hobinya mengeluarkan peraturan – peraturan baru.
Sebaiknya peraturan itu dibiuat tidak terlalu banyak, dengan bahasa yang jelas.
Peraturan harus disosialisasikan ke semua kalangan. Berhentilah berfikir bahwa
masyarakan akan selalu mengaupdate segala peraturan perpajakan. Jika perlu pajak
ini harus menjadi kurikulum wajib di kelurahan, pertemuan RT/RW dan ibu – ibu PKK.
Jika masyarakat tidak tahu bagaiman mungkin mereka melaksanakan.

Yang ketiga adalah timbal balik yang jelas dari Negara. Walaupun pajak
bukanlah retribusi, namun rakyat sudah lelah melihat pajak yang dibayarkan itu hangus
melalui departemen – departemen yang difasilitasi oleh APBN. Disini pemerintah mau
tidak mau harus meningkatkan otonomi daerah. Aneh juga, di negeri yang makmur ini,
dimana tokat kayu dan batu jadi tanaman, pemerintah gagal meraih devisa dari SDA.
Menggantungkan hidup dari subsidi rakyat melalui pajak. Seharusnya pemerintah
melakukan introspeksi diri. Jangan terus menyalahkan masyarakat atas tunggakan
pajak yang belum terbayar. Jangan pula wakil rakyat berteriak-teriak di senayan
menuntut Dirjend Pajak untuk menaikkan target penerimaan. Jelas itu tidak fair bagi
rakyat dan Dirjend Pajak sendiri. Nampaknya pemerintah pusat sudah putus asa dalam
menghasilkan devisa, hingga harus meminta – meminta kepada rakyat dari pajak yang
penggunaanyapun tidak efisien.

Marilah bersama kita perbaiki nilai dalam diri kita. Kita harus membangkitkan
rasa memiliki dan nasionalisme pada bangsa kita ini. Mungkin tiga hal di atas tidak
akan terwujud dalam jangka waktu yang cepat. Namun kita harus mulai dari diri kita
sendiri, mulai dari hal yang terkecil dan mulai sekarang juga. Mungkin kita tidak akan
pernah menikmatinya, namun ini bukan untuk kita. Ini adalah warisan untuk anak cucu
kita. Ini adalah sebuah pengabdian kepada Negara kita. Kalau bukan kita lalu siapa
lagi.