Anda di halaman 1dari 46

SEKSI BEDAH PLASTIK

SMF/ BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH
KUALA/ RSZA BANDA ACEH

STANDARD OPERATING
PROCEDURE (SOP)
SEKSI BEDAH PLASTIK.

OLEH

Dr. Muhammad Jailani SpBP.


NIP : 19610606 199702 1 001

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH


KUALA/
RUMAH SAKIT ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2002

1
STANDARD OPERATING PROCEDURE
(SOP)
SEKSI BEDAH PLASTIK.

DAFTAR ISI;

@. Luka Bakar.

@. Kontraktur

@ Skin Graft

@. Sumbing / Skisis / CLP ( Cleft Lip & Palate ).

@. Hemangioma.

@. Fraktur Tulang-Tulang Muka.

@. Amputasi Traumatis Ekstremitas & Organ Tubuh


( Telinga, Hidung dan Penis ).

@. Ulkus dekubitus.

@. Hipospadi.

2
LUKA BAKAR

A. PROSEDUR DIAGNOSIS LUKA BAKAR.

DEFINISI

Luka bakar adalah suatu trauma yang dapat


disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia
atau petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan
– jaringan yang lebih dalam .
Kulit atau jaringan tubuh yang terbakar akan
menjadi jaringan nekrotik.

Prosedur lengkap

Saat penderita datang dilakukan penilaian dalamnya


luka bakar dan luasnya luka bakar.

1. Dalamnya luka bakar.


Dalamnya luka bakar tergantung tingginya
panas, penyebab dan lamanya kontak dengan
kulit.
Oleh Dupuytren dibagi6 tingkat, tetapi sekarang
telah umum dan praktis dengan hanya dibagi 3
tingkat atau derajat.

3
Tingkat I : hanya mengenai epidermis.
Tingkat II A; Superfisial; mengenai epidermis dan
lapisan atas dari corium. Elemen – elemen
epitelial yaitu dinding dri kelenjar keringat, lemak
dan folikel rmbut masih banyak, karenanya
penyembuhan ( epitelialisasi ) akan mudah
dalam 1-2minggu, tanpa terbentuk sikatrik.
Tingkat II B; Deep, sisa-sisa jaringan epitel
tinggal sedikit. Sembuh dalam tempo 3-4 minggu
dan disertai dengan parut hipertropi.
Tingkat III: mengenai seluruh ketebalan kulit,
tidak adalagi elemen epitel kulit. Luka bakar yang
lebih dalam sampai ke subkutan dan tulang
disebut juga tingat III.

Tingkat Klinis Tusukan jarum

I hiperaemi hiperesthesi
II A basah + bulla hiperestesi
II B basah + bulla + Keputihan hipoesthesi
III kering + putih + hitam anasthesi

2. Luasnya luka bakar.


Bagian tubuh dibagi atas bagian-bagian 9 atau
dikenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of
Wallace.

4
Kepala dan leher ………………………….. 9%
Lengan masng-masing 9%……………………18%
Badan depan 18%……………………………..18%
Badan belakang 18%………………………….18%
Tungkai masing-masing 18%…………………36%
Genetalia, perineum……………..…………… 1%
Jumlah 100%

Perlu diingat bahwa 1 telapak tangan seorang


adalah 1 % dari permukaan tubuhnya.
Antara umur 15 tahun dan 5 tahun, untuk tiap tahun,
tiap tungkai berselisih 0,2 %.
Antara umur 5 tahun dan 1 tahun, untuk tiap tungkai
berselisih 0,4%.

3. Berat ringannya luka bakar.


American College of Surgeon membagi dalam;
1. Parah ( Critical ).
a. Tingkat II 30% atau lebih.
b. Tingkat III 10% atau lebih.
c. Tingkat III pada tangan, kaki, muka.
d. Dengan adanya komplikasi pernafasan,
jantung, fraktur, trauma soft tissue yang
luas.
2. Sedang ( Moderate ).
a. Tingkat II 15-30%
b. Tingkat III 5-10%.

5
3. Ringan ( Minor ).
a. Tingkat II kurang 15%.
b. Tingkat III kurang 5%.

B. PROSEDUR PENANGANAN LUKA BAKAR.

Definisi.

Penanganan Fase Akut.


Saat penderita datang ke IRD setelah kejadian,
kadang datang dengan problem pernafasan dan
problem kehilangan cairan (shok).

Penanganan Fase Subakut.


Saat penderita dirawat di Burn Unit, problem
perawatan luka dan infeksi.

Penanganan Fase Lanjut.


Saat penderita berobat jalan, problem hipertropik
scar, keloid dan kontraktur.

6
Prosedur lengkap.

1. Lakukan penanganan seperti menangani kasus


gawat darurat pada umumnya, yaitu resusitasi
sesuai urutan ABC.
2. Penderita dengan kriteria ringan diizinkan dirawat
poliklinis, kriteria berat harus dirawat.
3. Untuk penderita yang poliklinis dilakukan
perawatan secara tertutup di IRD dengan;
a. cuci luka dengan savlon 1:30. Bilas dengan
NaCl 0,9%.
b. Beri cream silver sulfadiazine diatas luka
bakar.
c. Tutup dengan verban ( perawatan secara
tertutup ).
d. Beri antibiotik bila ada indikasi dan penderita
bisa dipulangkan.
4. Penderita yang perlu dirawat sambil resusitasi
dievaluasi lagi bila ada cedera jalan nafas, bila
ada lakukan endotrakheal tube, pasang kateter,
pasang CVP bila kriteria berat.
5. Cairan ;
Orang dewasa >20% dan Anak-anak >15% pada
tingkat II dan III harus diberi cairan.
Cairan yang dipilih adalah Ringer Laktat
berdasarkan rumus Baxter; dewasa 4ccxkgBBx%
luka bakar dalam 24 jam.

7
Pada anak-anak 2 cc x kgBB x % luka bakar +
kebutuhan cairan basal dengan perbandingan
kristaloid : koloid = 17 : 3 ( menurut Mincrief ), ½
nya diberikan 8 jam pertama, !/2 sisanya
diberikan dalam 16 jam kemudian.
Observasi produksi urine setiap jam sebanyak 1
cc/kgBB/jam, bila dalam 2 jam berturut tidak ada
urine beri tambahan RL 500 cc dalam 1 jam,
observasi urine dan vital sign, bila urine belum
keluar cek posisi kateter apakah sudah masuk
buli-buli bila sudah lakukan tes manitol ( lihat
cara tes manitol ).
6. Konsultasi ke bagian anastesi untuk bius umum
karena cuci luka dilakukan di kamar operasi
( untuk mengurangi nyeri saat cuci luka dan
mengurangi kontaminasi ).
7. Bulla boleh dipecahkan tidak melebihi 20% luas
permukaan tubuh.
8. Olesi luka dengan sulfa siverdiazine cream dan
dibalut dengan verban tebal (perawatan tertutup).
9. Endotrakheal tube dipertahankan bila ada
trauma inhalasi, sampai di yakini oedema saluran
pernafasan sudah berkurang.
10. Beri antibiotik bila luka bakar di cuci melebihi 6
jam pasca trauma.
11. Beri antasida untuk mengurangi kemungkinan
strees ulcer pada gaster.

8
12. Setelah ekstubasi ( bila cedera jalan nafas ),
penderita dikirim ke Burn Unit untuk perawatan
lebih lanjut.
13. koloid dapat diberikan 500-1000 ml dalan 1-2
jam setelah 18 jam.
14. Profilaksis tetanus diberikan toksoid.

BURN UNIT

1. Buat status Burn Unit secara lengkap.


2. Resusitasi diteruskan dengan observasi produksi
urine tiap jam. Pada fase akut yang paling utama
adalah monitor produksi urine dan ukur CVP.
3. Periksa; darah lengkap, foto thorak bila ada
trauma inhalasi, EKG bila trauma listrik, kultur
luka, urine lengkap, analisa gas darah.
4. Penderita di beri analgetika kuat, biasanya
diberikan morfin, baik saat pencucian luka
(mandi) atau rutin bila ada keluhan.
5. Mandi atau keramas dengan air kran dan sabun,
sesudah bersih
dibilas dengan savlon 1;30. Mandi 1 kali setiap
hari.
6. Antibiotik tidak diberikan secara rutin kecuali ada
indikasi.
7. Intake tinggi kalori dan protein.

9
8. Persiapkan pasien yang perlu dilakukan
eskarektomi ( tingkat IIB ) usahakan dilakukan
dalam general anstesi.
9. Skin graft atau skin flap dilakukan pasca eksisi
skar ( tingkat 3 ).
10. Rehabilitasi.
11. Untuk luka bakar listrik dan bahan kimia
prinsipnya sama dengan luka bakar pada
umumnya.

RAWAT JALAN.

Setelah penderita diperbolehkan poliklinis problem


yang mungkin terjadi adalah kontraktur, hipertropik
scar atau keloid. Posisi nyaman (position of comfort)
adalah posisi kontraktur.
Luka akan mengkerut sampai menemukan kekuatan
yang melawannya seperti splint, latihan atau
kombinasi keduanya.
Splint yang dipergunakan selalu harus berada
ditempatnya dan dilepas hanya pada waktu latihan,
kemudian dipasang kembali. Jika mengganggu
aktifitas dianjurkan pemasangan pada malam hari,
saat tidur (Night Splinting).
Kepala dan leher tidur tidak memakai bantal, posisi
ekstensi, memakai collar neck.

10
Siku ekstensi dengan splint.
Bahu aduksi 90 derajat dan fleksi 30 derajat.
Tangan posisi fungsional atau posisi lumbrikal plus.
Tungkai bawah-panggul; ekstensi dan abduksi 15
derajat.
- Lutut ; ekstensi
- Kaki ; pergelangan kaki posisi netral atau
900 dipasang foot board atau Dennis
Brown splint.
Bila terjadi kontraktur dilakukan tindakan release
bila perlu sebelum terbentuk kontraktur berat
sebelum 6 bulan pasca perawatan.
Tindakan berupa release kontraktur dan skin graft
atau flap.

11
KONTRAKTUR

Prosedur penanganan kontraktur.

DEFINISI

Kontraktur adalah suatu kelainan berupa kontraksi


yang menetap pada daerah-daerah ditubuh akibat
regangan parut pasca penyembuhan luka sehingga
dapat menyebabkan gangguan/terbatasnya gerak.
Kontraktur ini bisa terjadi pada daerah leher, aksila,
siku, lutut, pergelangan dan jari.

PROSEDUR LENGKAP

Untuk kontraktur linier dapat diatasi dengan tehnik z


plasti. Dengan tehnik ini akan didapatkan
pemanjangan luka.
Untuk kontraktur difus dilakukan eksisi parut serta
release sampai betul-betul didapatkan posisi yang
bebas.
Raw surface/defek yang timbul dapat ditutup
dengan

12
1. Skin Graft.
Split thickness Skin Graft ( STG ) dilakukan bila
defek yang timbul cukup luas. Secara tehnik lebih
mudah dan lebih cepat.
Full thickness Skin Graft ( FTG ) dilakukan
untuk defek yang tidak
Luas. Secara estetik lebih baik.

2. Skin Flap.
Dilakukan untuk menutup defek daerah yang
mempunyai kecendrungan untuk kontraktur
kembali karena posisi anatominya misalnya
leher, aksila. Juga bila mengharapkan kualitas
kulit yang lebih baik sebagai contoh leher dan
wajah.
Pemilihan flap bisa; Flap Lokal, Flap Bebas
( Free Flap ) dengan tehnik bedah mikro. Hal ini
tergantung letak dan besar defek yang harus
ditutup.
Khusus untuk daerah leher setelah dilakukan
skin graft untuk mencegah timbulnya kontraktur
ulang maka dipasang Collar Brace selama masa
pematangan luka sampai 3 atau 6 bulan.
Bila tendon telah memendek saat release maka
dilakukan tendon graft oleh ahli Bedah Plastik
atau tendon transfer.
Bila kontraktur telah melibatkan sendi maka
dilakukan pemotongan kapsul sendi didaerah

13
volar ( kapsulotomi ) atau kalau perlu dilakukan
eksisi sebagian dari kapsul sendi bagian volar,
bila permukaan sendi sudah berubah atau rusak
maka untuk stabilitas sendi dilakukan artrodosis
yaitu penyatuan ujung tulang sendi akibatnya
sendi tersebut kaku dan posisi diatur fungsional,
oleh ahli Bedah Plastik dapat dilakukan pseudo
atrosis dengan tehnik tertentu agar persendian
tersebut dapat berfungsi.

14
SKIN GRAFT

A. Prosedur Tindakan Skin Graft.

DEFINISI

Skin graft adalah tindakan transplantasi kulit


dengan melepaskan sebagian atau seluruh kulit
secara komplit dari daerah donor dan
memindahkannya ke daerah yang membutuhkan
( resipien=host bed ), dimana dibutuhkan suplai
darah baru untuk menjamin kehidupan sel-sel
yang dipindahkan tersebut.

Macam-macam skin graft;


Autograft = berasal dari tubuh yang sama.
Allograft = disebut homograft berasal dari
spesies yang sama.
Xenograft= disebut heterograft berasal dari
spesies yang berbeda.

Pembagian skin graft :


1. Split thickness skin graft (STG), terbagi
menjadi;
- Thin STG.
- Intermediate / medium STG.
- Thick STG.

15
2. Full thickness skin graft (FTG).

Semakin tipis skin graft (STG) semakin mudah


hidupnya ( “take” ) tapi semakin besar daya
kontraksinya karena pemberian nutrisi dari
vaskuler daerah resipien lebih cepat. Daerah
donor sendiri akan lebih cepat sembuh
( berepitelialisasi ). FTG secara penampakan
akan terlihat lebih baik karena kwalitas dan
warna kulitnya mendekati kulit normal, daya
kontraksinya minimal, tapi daerah donor tidak
bisa sembuh sendiri karena seluruh elemen kulit
telah diambil jadi harus ditutup primer.

Revaskulerisasi skin graft ini terjadi secara


proses tunggal tau gabungan dari beberapa
proses yaitu;
1. Hubungan lansung antara donor dengan
pembuluh daran resipien ( inokulasi ).
2. Pertumbuhan kedalam dari resipien kedalam
kedalam saluran endotelial kulit donor.
3. Penetrasi dari resipien kedalam skin graft
yang membentuk saluran endotelial baru.

16
PROSEDUR LENGKAP.

A. Split Thickness Skin Graft.

Split thickness skin graft ( STG ) merupakan


metoda yang paling banyak digunakan dalam
tranplantasi kulit. Dalam rangka penutupan raw
surface STG dapat merupakan terapi definitif
maupun temporer sambil menunggu prosedur
tindakan berikutnya yang lebih sempurna. STG
merupakan indikasi pada raw surface yang luas,
bila defek nya kecil maka FTG dapat
dipertimbangkan.maka secara umum dapat
dikatakan skin graft merupakan indikasi untuk
setiap luka yang tidak dapat ditutup primer.

Pengambilan bahan untuk STG.


Dapat dilakukan dengan pisau bedah biasa (no.
22) atau dengan alat khusus seperti Humby
Knife, Dermatoma. Dengan alat khusus ini
ketebalan pengambilan kulit dapat diatur sesuai
dengan ukuran yang tersedia.

Pemilihan daerah donor.


STG dapat diambil dari daerah mana saja, pada
umumnya yang sering dilakukan pada pada
sebelah lateral.

17
Penempelan STG.
Setelah kulit ditempelkan pada daaerah resipien
yang telah dipersiapkan (bersih, tidak ada
perdarahan atau bekuan darah) dilakukan
penjahitan dengan benang non absorbbable 4-0
atau 5-0 pada pinggir kulit agar graft tidak
bergeser. Diatas kulit diberi tulle dilapisi kasa
lembab atau kapas steril dan diikat dengan
benang agar kasa atau kapas tersebut tidak
bergerak dan terfiksir dengan menggunakan “tie
over”. Untuk membantu keberhasilan prosedur
skin graft perlu dilakukan balut tekan dengan
elastik verband.

B. Full Thickness Skin Graft.

FTG meliputi sluruh ketebalan kulit maka proses


revaskulrisasi yang terjadi lebih lama oleh karena itu
lemak – lemak yang melekat harus dibuang
( trimming ) dan dibutuhkan kondisi suplai darah
yang optimal untuk mempertahankan kehidupannya.

Penggunaan FTG.
1. Untuk mengisi defek-defek daerah wajah.
2. Menutup daerah yang tidak menginginkan
terjadinya pigmentasi pasca bedah.
3. Menutup defek daerah tangan.

18
Pengambilan bahan FTG.
Diambil dari daerah donor sesuai kebutuhan
didaerah resipien dengan menggunakan pola yang
telah dibuat sebelumnya ( kasa lembab yang
tercetak darah dari daerah defek resipien ). Donor
dari retrouricular, supraclavicular, bagian atas
kelopak mata, perut, daerah lipatan; lipat siku
depan, lipat pergelangan volar dan lipat paha.

Cara pengambilan.
1. eksisi daerah donor sesuai dengan pola yang
telah digambar dengan ketebalan tepat diatas
jaringan lemak, didaerah dermal subdermal
junction.
2. Dilakukan pembuangan jaringan lemak yang ikut
terangkat dengan menggunakan gunting.
3. Defek donor ditutup secara primer dengan
terlebih dahulu melakukan undermining.
4. Penutupan defek pada daerah resipien dilkukan
setelah prosedur hemostasis sempurna.
5. Untuk menjamin kontak skin graft dengan
resipien ditambah jahitan kasur diatas skin graft.
6. Untuk mencegah hematoma/seroma dibuat
sayatan kecil meltipel pada skin graft.
7. Graft yang ditempel dijahit, ditutup dengan kasa
tebal dan dilakukan Tie Over.
8. Setelah dibalut dipasang elastic verband.

19
9. Jika perlu dipasang split untuk membatasi gerak
pada graft yang terletak daerah persendian.

Keuntungan FTG.
-Tendensi kontraksi lebih sedikit.
-Tendensi terjadinya pigmentasi lebih sedikit.
-Tidak mengkilap.
-Secara fungsional dan estetik lebih baik dari STG.

B.Persiapan Pra Bedah dan Perawatan Pasca


Bedah Skin Graft.

DEFINISI

Persiapan pra bedah dan perawatan pasca bedah


pada kasus dengan raw surface/defek yang akan
dan telah dilakukan operasi skin graft.

PROSEDUR LENGKAP.

a. persiapan prabedah.
Merawat luka/resipien dengan sebaik-baiknya,
kompres dengan

20
NaCl 0,9%.Mempesiapkan donor diusahakan
dari daerah tubuh yang tersembunyi atau yang
dapat tertutup pakaian, tergantung kebutuhan skin
graft.

b. Perawatan pasca bedah.


Dalam 24-48 jam sebaiknya dilakukan infeksi
graft dengan hati-hari untuk melihat apakah ada
seroma dibawah graft yang akan menghalangi
terjadinya “take” dari skin graft tersebut.
Bila mana terdapat seroma/hematoma dibawah
skin graft harus segera dievakuasi dengan
melakukan insisi pada graft tpat diatas
hematoma. Selanjutnya dilakukan balut tekan
kembali.

Bila diyakini tidak terdapat hematoma dibawah skin


graft serta telah dilakukan fiksasi dengan baik,
evaluasi berikutnya dilakukan hari ke 5. Dinilai “take”
pendeita dapat dipulangkan. Dan perawatan
berikutnya setiap 2 hari sekali.

21
CLEFT LIP & PALATE ( CLP )

A. Prosedur diagnosis Cleft Lip & Palate.

DEFINISI

CLP suatu cacat bawaan dimana terdapat celah


pada bibir, gusi dan langit-langit. Keadaan ini dapat
disertai dengan distorsi dari hidung pada sisi yang
sama.

PROSEDUR LENGLAP.

Pemeriksaan klinis.
= Anamnesa.
Keluhan adanya kelainan yang diderita sejak lahir
berupa celah
pada bibir dan atau celah pada langit-langit.
= Pemeriksaan fisik.
- umum
- lokal: celah bibir, kiri kanan keduanya
(unilateral/bilateral), lengkap, tidak lengkap
(komplit/inkomplit).
- celah alveolus.

22
- Celah langit-langit, komplit-inkomplit. Dicari
adakah penyulit yang menyertai seperti otitis
media, kurang gizi.
Cara penulisan dianjurkan dengan cara yang
ditulis oleh Otto Kriens yaitu dengan cara
LAHSHAL dimana

L=Lip,
A=alveolus,
H=Hard Palate,
Soft Palate.

Bila celah sebelah kanan yang sebelah kiri


dicoret atau biasa ditulis dengan CLP/-L atau
bila disertai dengan celah alveolus, hard
palate dan soft palate maka ditulis CLP /
---SHAL. Bila celah disebelah kiri maka ditulis
dengan CLP/LAHS----. Bila celah tidal
lengkap/ inkomplit maka ditulis dengan huruf
kecil.

23
B. Prosedur Penanganan CLP.

DEFINISI

Cheiloraphy/ Labioplasty ; tindakan bedah untuk


mengatasi celah bibir (cheiloschizis/labioschizi ).

Palatoraphy ; tindakan bedah untuk mengatasi


celah langit-langit (palatoschizis).

Speech therapy ; tindakan latihan bicara untuk


gangguan bicara.

Pharyngoplasty ; tindakan bedah untuk mengatasi


gangguan bicara.

Orthodonti: tindakan untuk mendapatkan lengkung


rahang yang baik.

Alveolar bone graft ; tindakan untuk mengatasi


celah pada gusi / rahang.

Lefort I osteotomi : tindakan untuk mengtasi


hipoplasi maksila.

24
PROSEDUR LENGKAP.

 Cheiloraphy dilakukan pada usia 3 bulan ( BB=10


kg ) dengan memakai tehnik Millard ( rotation
advancement ).
 Palatoraphy dilakukan pada usia 8 – 18 bulan.
 Speech therapy dilakukan pada usia 4 tahun.
 Pharyngoplasty dilakukan bila pada usia 5 – 6
masih terdapat suara sengau walaupun sudah
mendapatkan speech therapy.
 Alveolar bone graft dilakukan pada usia 9 – 10
tahun setelah sebelumnya mendapatkan
perawatan orthodonti untuk memperbaiki
lengkung rahang.
 Lefort I osteotomi dilakukan pada usia 17-18
tahun untuk mengatasi hipoplasi maksila.

C. Persiapan Pra Bedah dan Perawatan Pasca


Bedah CLP.

DEFINISI

Persiapan prabedah dan perawatan pasca bedah


pada kasus cheiloschizis yang akan dioperasi
Cheiloraphy.

25
PROSEDUR LENGKAP

Persiapan Prabedah.
- Menerangkan pada keluarga penderita
tentang kelainan cheiloschizis ini, bila kelainan
ini juga disertai dengan GnatoPlatoschizis
harus diterangkan tahapan-tahapan tindakan
dan operasi yang akan dilakukan.
- Syarat yang harus dipenuhi dalam persiapan
prabedah adalah umur 10 minggu, BB > 10
pound ( 5 kg ), Hb > 10 gr%.
- Tidak ada penyakit penyerta spt otitis media,
kurang gizi.
- Pemeriksaan laboratorium : Hb, Leuko, Ct, Bt.
- Pemeriksaan thoraks foto.
- Bila ada kelainan dalam pemeriksaan tsb,
dikonsulkan ke bagian yang berhubungan dg
kelainan tsb.

Perawatan Pasca Bedah.


- Luka operasi dirawat terbuka, diolesi salep
antibiotik konsentrasi rendah ( salep mata ).
- Pasien bisa rawat jalan setelah pulih dari obat
bius (poliklinis).
- Penderita kontrol ke poliklinik bedah plastik
hari ke 5 untuk pencabutan benang.
- Penderita kontrol kembali 3 dan 6 bulan
kemudian untuk menilai parut hasil operasi.

26
- Bila terdapat juga kelainan palatoschizis pada
penderita ini maka keluarga penderita
diberitahu untuk persiapan operasi pada usia
8 – 18 bulan.

27
HEMANGIOMA

A. Prosedur Diagnosis Hemangioma.

DEFINISI

Hemangioma adalah suatu kelainan pembuluh


darah bawaan yang tidak ikut aktif dalam peredaran
darah umum. Hemangioma bukanlah tumor
neoplastik sekalipun mempunyai kecenderungan
untuk membesar. Ia merupakan “mesodermal
excess” dari jaringan “vaso formative”.

PROSEDUR LENGKAP.

Macam-macam hemangioma.
A. Hemangioma kapiler.
B. Hemangioma kavernosum.
C. Hemangioma Campuran ( kapiler dan
kavernosum ).

Diantara jenis hemangioma kavernosum dan


campuran ada yang disertai fistula arterio-venous
(bawaan ).

28
Ad. A. Hemangioma kapiler, dikenal.

1. “Salmon Patch”.
2. “Port Wine Stain”
3. “Spider Angioma”
4. “Strawberry Mark”

tanda-tanda hemangioma kapiler, berupa bercak


merah tidak menonjol dari permukaan kulit.”Salmon
Patch” berwarna lebih muda, sedangkan “Port Wine
Stain” lebih gelap kebiruan, kadang-kadang
membentuk benjolan diatas permukaan kulit.

Ad. B. Hemangioma kavernosum.

Tampak sebagai suatu benjolan, kemerahan, teraba


hangat dan “Compressible” ( tumor mengecil bila
ditekan, dilepas dalam beberapa waktu membesar
kembali ).

29
Gejala Klinis

Tergantung macamnya.
- Hemangioma kapiler, Port Wine Stain tidak
ada penonjolan kulit.
- Strawberry Mark, menonjol seperti buah
murbai.
- Hemangioma kavernosum, teraba hangat dan
compressible.

Pemeriksaan dan diagnosis


- Mudah tampak secara klinis, sebagai tumor
yang sangat menonjol atau tidak menonjol
dengan warna kemerah-merahan.
- Tumor bersifat compressible.
- Kalau perlu dengan pemeriksaan angiografi.

Diagnosa Banding.

= “ A – V shunt “

Komplikasi
- Perdarahan.
- Pada tempat tertentu dapat mengganggu
fungsi, seperti ambliopia, sesak nafas,
gangguan kencing, gangguan menggunakan
jari-jari dll.
- Trombositopenia, DIC.

30
B. Prosedur Penanganan Hemangioma.

DEFINISI.

Penanganan kasus-kasus hemangioma operatif dan


non operatif.

PROSEDUR LENGKAP.

Dari segi pengobatan, karena adanya persamaan-


persamaan dalam tindakan maka dapat digolongkan
atas 3 golongan.

Golongan I.
a. “Strawberry Mark”.
b. Hemangioma kavernosa.
c. Hemangioma campuran.

Golongan II.
a. “Samon Patch”.
b. “Port Wine Stain”.

Golongan III.
“Spider Angioma” dengan ‘’central arteriole”

31
Pengobatan Golongan I.

1. Radiasi; radiasi daat membuat involusi, tapi


komplikasi-komplikasi jauh lebih berbahaya dari
pada hemangiomanya sendiri bila tidak diobati.
2. Pembedahan :
a. Eksisi hemangioma.
Bukan cara yang ideal karena kesukaran
tehnis, perdarahan banyak, tidak dapat
mengambil secara tuntas.
b. Ligasi arteri bagian proksimal juga kurang
memuaskan.
c. Elektro koagulasi, untuk spider angioma.
d. Sclerozing agent , dipakai 5% sod. Morhuate.
Dipakai hanya didaerah scalp, lidah, mukosa
dimana skar yang terbentuk kelak tidak
menyusahkan.
e. Kortikosteroid diberikan secara oral 20-30
mg/hari selama 2-3 minggu dan diturunkan
secara perlahan sampai 3 bulan.

3. Menunggu:
Tindakan ini dilakukan atas pertimbangan,
hemangioma akan mengalami involusi spontan.

32
Pengobatan untuk golongan II:

“Salmon Patch” dan “Port Wine Stain” tidak


mengadakan regresi spontan.
Tindakan eksisi kemudian defek ditutup dg skin graft
atau dengan flap. Penanganan dengan sinar Laser
Argon.

33
FRAKTUR TULANG MUKA

A. Prosedur Diagnosis Fraktur Tulang Muka.

DEFINISI.

Fraktur tulang muka ; suatu kelainan yang timbul


akibat trauma dan menyebabkan fraktur pada tulang
muka.
- Fraktur nasal.
- Fraktur zigoma.
- Fraktur mandibula.
- Fraktur maxilla;
a a. Lefort I : transfersal
b. Lefort II : pyramidal
b c. Lefort III : craniofacial disjunction.

PROSEDUR LENGKAP.

Pemeriksaan klinis.
- anamnesa ; adanya riwayat trauma muka.
- Pemeriksaan fisik :
a. umum,
b. lokal;
Gejala yang timbul: luka/jejas dimuka, sakit,
udema, deformitas, echymosis, maloklusi,

34
anesteia/hipoaestesia, perdarahan hidung
atau mulut, diplopia, enofthalmus.
- Pemeriksaan foto rontgen : foto kepala
AP/Lateral, foto Waters.
Fraktur tulang muka ini sering disertai pula
dengan adanya cedera kepala.

B. Prosedur Penanganan Fraktur Tulang Kepala.

DEFINISI.

Prinsip terapi.
Tindakan dilakukan secepatnya, tetapi bila tidak
memungkinkan sebaiknya tindakan dilakukan
sebelum hari ke 7 pasca trauma.

Fraktur tulang muka bisa terjadi gangguan fungsi


dan atau gangguan estetik. Terapi dilakukan untuk
mengatasi gangguan tersebut.

PROSEDUR LENGKAP.

Secara umum dilakukan penanganan seperti


menangani kasus gawat darurat sesuai urutan ABC.

35
a. Fraktur nasal.
- reposisi dengan forceps Walsham, forceps
Asch atau Salinger.
- Tampon.
- Gips kupu-kupu.
Sangat dianjurkan tindakan ini dilakukan
dalam narkose umum.
Tampon dicabut hari ke 3-5.
Gip dipertahankan sampai 10-14 hari.
b. Fraktur Zigoma.
- eksplorai
- reposisi
- fiksasi dengan : mini plate dan screw, wire.
- Approach :
a. semi open=untuk fraktur arkus zigoma
dengan Gillies
Procedure.
c. open= ekstra oral,intra oral.

d. Fraktur maksila
Tujuan tindakan adalah pengembalian oklusi
seperti keadaan sebelum trauma dapat dilakukan
tindakan.
- IDW – IMW.
- IDW – IMW – IFW.
- Arch Bar.

36
- Miniplate & Screw.
Fiksasi dengan wire atau archbar
dipertahankan selama 5-6 minggu.
e. Fraktur Maksilla.
- Lefort I dan Lefort II Reposisi dengan Rowe
Forceps, Heaton Williams kemudian difiksasi
dengan IDW + IMF/Arch Bar + Suspensi. Atau
mini plate. Ini dipertahankan selama 5-6
minggu
- Lefort III dilakukan Open Reduction dan
internal Fixation.
Fiksasi dengan mini plate atau wire dan
atau dilakukan suspensi.
f. Frakturv Orbita dan Blow out Fracture.
- Wire atau miniplate inter fragmen.
- Untuk penanganan muscle entrapment
( diplopia ) dapat dilakukan eksplorasi dan
pembebasan 5-7 hari saat oedema sudah
hilang.

37
ULKUS DEKUBITUS

A. Prosedur Diagnosis Ulkus Dekubitus.

DEFINISI.

Ulkus Dekubitus adalah suatu nekrosis seluler dan


kerusakan vaskuler pada daerah tertentu karena
tekanan pada dasar yang keras ( daerah tubuh yang
ada tonjolan ).

Hal ini bisa terjadi akibat ;


Gangguan kesadaran.
Gangguan sensibilitas.
Perawatan yang tidak baik.

PROSEDUR LENGKAP.

Pemeriksaan Klinis.
Anamnesa.
Pemeriksaan fisik.
- umum
- lokal, adanya tanda-tanda tekanan yang lama
pada daerah tubuh yang menonjol. Gejala

38
yang timbul sesuai stadium/lamanya proses
penekanan.
Stadium I : Hiperemi.
Stadium II : Iskemi.
Stadium III : Nekrosis.
Stadium IV : Ulserasi.
Dicari faktor yang mendasari terjadinya ulkus
dekubitus seperti geangguan kesadaran,
gangguan sensibilitas, perawatan yang kurang
baik, malnutrisi, anemia, penyakit-penyakit
sistemik.

B.Prosedur Penanganan Ulkus Dekubitus.

DEFINISI.

Terapi konservatif dilakukan pada ulkus yang kecil


dimana tanpa tindakan bedah dapat sembuh, bila
faktor-faktor penyebab atau yang mendasari dapat
dihilangkan/ diatasi.

Terapi operatif dilakukan pada ulkus yang besar


dengan suatu keyakinan tindakan ini akan berhasil,
dalam hal ini perludukungan dari perawat ruangan,
keluarga penderita dan penderita sendiri dan
perawatan pasca bedah.

39
PROSEDUR LENGKAP.

1. Penerangan untuk penderita dan keluarga.


2. Bila ulkus kecil dapat sembuh sendiri bila faktor
penyebab dihilangkan.
3. Usaha pencegahan keadaan yang lebih buruk.
Pengurangan tekanan : merubah posisi tiap 2
jam, alas tidur yang empuk. Kulit dijaga kering
dan bersih jangan sampai kotor oleh urine dan
feces. Diusahakan mobilisasi aktif.
4. rawat luka dan debridemen.
5. Perbaiki keadaan umum.
6. Tindakan operasi harus yakin akan berhasil.
7. Jahitan dipertahankan lebih lama.
8. Benang tahan lama dan monofilamen.
9. Operasi :
Eksisi + kerok dan skin graft.
Eksisi + kerok dan flap.
Flap rotasi.
Flap miokutan.
10. Rehabilitasi : latih otot-otot.

40
HIPOSPADIA.

A. Prosedur Dignosis Hipospadia.

DEFINISI.

Hipospadia adalah kelainan kongenital dimana


meatus uretra eksterna terletak lebih proksimal dari
tempat yang normal.

Letak meatus uretra eksterna pada kelainan ini bisa


terdapat pada glans sampai perineal. Kelainan ini
disebabkan oleh proses perkembangan genetalia
eksterna yang tidak berjalan sempurna karena
involusi yang prematur dari sel interstitial testis.
Klasifikasi yang sering digunakan adalah
- Glanular.
- Penile distal.
- Penile,
- Penoskrotal dan
- Perineal.

41
PROSEDUR LENGKAP

Pemeriksaan klinis.
- Anamnesa. Buang air kecil tidak diujung.
- Pemeriksaan fisik.
= umum.
= lokal : Hipospadia dapat dengan mudah
dilakukan pada
hari-hari pertama kelahiran. Pada
bgian distal dari meatus uretra yang abnormal
berbentuk seperti kipas, puncak kipas pada meatus
abnormal dan menyebar kearah glans, kelainan ini
disebut Chordee. Chordee akan membentuk ujung
glans melengkung ke ventral terutama terlihat saat
ereksi.
Chordee tidak selalu tampak pada hipospadia.
Makin proksimal letak meatus eksterna maka
chordee akan makin jelas dan khas.
Kelainan hipospadia akan menimbulkan berbagai
problem psikologi, problem fungsi dan problem
estetik. Problem fungsi berupa gangguan urinasi,
kopulasi dan inseminasi.

Beberapa aspek yang harus dinilai.

42
1. kualitas kulit, dinilai adanya jaringan fibrosa
bawaan abnormal yang membuat penis
melengkung.
2. Kualitas kulit, penilaian adakah kekurangan kulit
pada bagian ventral dan juga kelebihan kulit
pada bagian dorsal.
3. Muara uretra, dinilai letak dan ukurannya.
4. Struktur penis, korpus kavernosum dinilai adakah
hipoplasi yang dapat menyebabkan mikropenis
dan juga apakah korpus spongiosum
berkembang atau tidak, bila tidak berkembang
tampak uretra tipis.
5. Kelainan yang mungkin bisa menyertai pada
kasus hipospadia adalah hernia inguinalis,
undensensus testis, varikokel, hidrokel, kelainan
traktur urinarius dan bifid skrotum.

Pemeriksaan laboratorium.
Hb, Leuko, Ht, Trobosit, Ct, Bt.

Bila ada mikro penis dikonsulkan ke bagian


endokrin anak.
Bila hipospadia meragukan kelainan pada jenis
kelaminnya maka dikonsulkan pada bagian genetika
kedokteran.

43
B. Prosedur Penanganan Hipospadia.

DEFINISI.

= Tindakan satu tahap: chordee eksisi/release


sekaligus uretroplaty.
= Tindakan 2 tahap: Chordee eksisi/release pada
operasi pertama dan uretroplasti pada operasi ke 2.

PROSEDUR LENGKAP

Tindakan satu tahap.


- Pembebasan chordee untuk meluruskan penis
dan membuat uretra serta memindahkan
muara eksterna dilakukan dalam satu kali
operasi.
- Untuk dapat mengatasi semua tipe/derajat
hipospadia diperlukan penguasaan berbagai
tehnik :
= Kelainan tipe glanular dengan tehnik Meatal
Advancment
Glansplasty ( MAGPI ).
= Kelainan tipe distal penile dengan tehnik
Flip Flap.

44
= Kelainan tipe penile, penoscrotal dan scrotal
dengan tehnik
Preprotial Island Skin Flap.
= Kelainan tipe perineal dengan tehnik Tubed
Free Graft.

Tindakan 2 tahap.

- Adalah cara kuno yang tetap populer sampai


sekarang, cara ini adalah yang paling banyak
diminati.
- Cara yang dipakai adalah THIERCH-DUPLAY
( Modified Byars ).
- Tahap pertama : Pembebasan chordee
sehingga penis menjadi lurus, penutupan luka
dengan menggunakan preputium bagian
dorsal. Pada tahap ini meatus masih terletak
ditempatnya yang abnormal.
- Tahap kedua : dilakukan uretroplaty 6 bulan
setelah operasi tahap pertama.
- Pada penanggulangan hipospadia jelas
diperlukan kulit prepotium karena itu
sirkumsisi merupakan merupakan kontra
indikai absolut.
- Diharapkan semua tahapan operasi untuk
hipospadia dapat selesai sebelum anak
masuk sekolah supaya gangguan psikologis

45
tidak timbul pada perkembangan jiwa anak
tersebut.

JAI 2002

46