Anda di halaman 1dari 25

TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL BANDURA

Semua teori yang telah kita bahas sejauh ini adalah teori perilaku
(behavioral theory) yang berkaitan dengan faktor lingkungan yang membentuk
perilaku atau teori kognitif yang berkaitan dengan internal seseorang yaitu proses
mental. Sebagai guru yang harus peduli dengan membimbing perilaku dan proses
mental siswa, memungkin seseorang merasa sulit untuk menggunakan pendekatan
yang berbeda dari dua pandangan teori ini. Namun, ada posisi secara teoretis yang
dapat membantu mengintegrasikan pendekatan pembelajaran yang terlihat
berbeda ini. Teori pembelajaran sosial memicu munculnya perilaku dengan
menekankan peran proses kognitif dalam perolehan (acquisition) dan
pembentukan perilaku. Ini memoderasi teori kognitif dengan memasukkan
penguatan (reinforcement) sebagai faktor penting yang memengaruhi proses
kognitif dan mengendalikan perilaku. Teori pembelajaran sosial memperluas teori
perilaku dan kognitif dengan menekankan sifat sosial pembelajaran. Yaitu, ahli
teori pembelajaran sosial secara tradisional mempelajari bagaimana anak-anak
memperoleh perilaku sosial seperti berbagi dan kerja sama melalui interaksi
pengamatan terhadap orang lain.
Sama halnya dengan teori pemrosesan informasi, teori pembelajaran sosial
adalah kerangka kerja atau pendekatan teoretis secara umum yang mencakup
karya dari banyak ahli teori. Pendekatan ini muncul pada 1930-an dan 1940-an
oleh Miller dan Dollard dan teman-temannya, yang mengusulkan bahwa meniru
(imitative learning) adalah mekanisme pembelajaran utama bagi sebagian besar
perilaku sosial (Miller & Dollard, 1941; Dollard, Doob, Miller, Mowrer, & Sears,
1939). Selanjutnya, teori pembelajaran sosial yang dipelopori oleh Albert dan
rekan-rekannya (Bandura & Walters, 1963) pada awalnya berusaha menjelaskan
munculnya agresi dan perilaku sosial lainnya melalui pengamatan dan
pengalamannya sendiri (vicarious reinforcement). Lebih dari tiga dekade, teori
Bandura secara bertahap telah berganti nama menjadi teori kognitif sosial (Social
Cognitive Theory) dari yang sebelumnya teori belajar sosial (Social Learning
Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Bandura telah mengelaborasi
proses belajar sosial dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang
memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial. Bandura dan rekan-rekannya

1
(Rosenthal & Zimmerman, 1978; Schunk, 1981) juga memperluas ruang lingkup
teori tersebut untuk mencakup pembelajaran dalam segi keahlian akademik dan
pemahaman konsep.
Pada bab ini didasarkan pada teori pembelajaran sosial menurut Bandura.
Pertama, mengidentifikasi beberapa persamaan dan perbedaan antara teori
Bandura dan pendekatan lain. Kemudian bab ini melihat konsep utama dari teori
kognitif sosial adalah pengertian tentang observational learning atau proses
belajar dengan mengamati. Terakhir, melihat adanya kaitan teori Bandura
terhadap pengaturan diri (self-regulation) dan motivasi. Yang pada akhirnya
pembahasan dalam bab ini melihat adanya implikasi dari ide-ide Bandura dalam
mengajar dalam bidang akademik, keterampilan sosial dan manajemen kelas.

A. PERBANDINGAN DENGAN PENDEKATAN TEORI LAINNYA


1. Perbandingan dengan Teori Perilaku (Behavioral Theory)

Teori Bandura mirip dengan teori belajar perilaku dalam hal ini terutama
berkaitan dengan perubahan perilaku. Perbedaan utama di antara kedua teori
tersebut terletak pada konsepsi mereka tentang bagaimana orang memperoleh
perilaku baru yang kompleks.

Bandura merasa sulit untuk percaya bahwa semua atau bahkan sebagian
besar perilaku diperoleh dengan cara yang diklaim Skinner. Untuk satu hal, itu
hanya akan memakan waktu terlalu lama. Perhatikan contoh pada bahasa di mana
anak menguasai ribuan kata, sintaksis dan tata bahasa yang rumit pada saat ia
masuk sekolah. Kecepatan dan terlihatnya anak mudah dalam mendapatkan
bahasa tidak cocok dengan proses pembentukan yang terkesan membosankan.
Bandura menunjukkan bahwa perkembangan kognitif dan sosial akan sangat
terbelakang jika indvidu belajar hanya melalui efek dari tindakan kita sendiri.
Bandura mengklaim sebagian besar perilaku manusia dipelajari dengan
mengamati perilaku orang lain (Bandura, 1986). Karena orang dapat belajar
berdasarkan apa yang harus dilakukan pertama-tama yaitu dengan mengamati
perilaku orang lain, mereka tidak hanya menghemat waktu tetapi juga mengurangi
kemungkinan-kemungkinan adanyanya kegagalan yang terjadi pada proses trial

2
and error. Contohnya yaitu menyetir dengan proses trial and error sebagai
pembentukan perilaku.

Ahli teori behavioral yang lain telah menerima pentingnya peniruan


(imitation) tetapi merasa bahwa belajar hanya terjadi ketika orang tersebut secara
langsung mereproduksi tindakan yang diamati (Miller & Dollard, 1941). Namun,
Bandura telah menghasilkan bukti bahwa penguatan tidak diperlukan pada
pembelajaran melalui pemodelan. Sebagai contoh, Freddie mengamati temannya
David mengangkat tangannya untuk mendapatkan perhatian guru. Freddie belajar
mengangkat tangannya dalam situasi yang sama. Dalam hal ini, Freddie belajar
perilaku baru tanpa menanggapi atau menerima penguatan. Meskipun penguatan
memang memainkan peran penting dalam teori Bandura, konsepsinya tentang
bagaimana hal itu mempengaruhi perilaku yang sangat berbeda dari teori
behavioris.

2. Perbandingan dengan Teori Kognitif


Teori Bandura mirip dengan teori belajar kognitif karena teori ini
mendalilkan proses mental atau pemikiran yang mengintervensi antara peristiwa
stimulus dan reaksi orang terhadap sebuah peristiwa. Namun, tidak seperti ahli
teori kognitif, yang terutama berkaitan dengan menggambarkan sifat-sifat proses
mental. Teori Bandura juga menentukan mekanisme di mana pengetahuan
diekspresikan ke dalam perilaku. Teori kognitif terutama mempelajari perolehan
pengetahuan dari individu, sementara Bandura mendasarkan banyak prinsipnya
pada studi interaksi sosial, yaitu pada interaksi dua orang atau lebih.

3. Determinisme Timbal-Balik (Reciprocal Determinsm)


Banyak perbedaan antara Bandura dan pendekatan teoretis lainnya terhadap
pembelajaran bagi manusia dengan mengontraskan pandangan mereka tentang di
mana penyebab perilaku manusia itu berada. Behavioris, terutama behavioris
radikal seperti Skinner mendukung adanya determinisme lingkungan. Dalam
pandangan ini, perilaku dikendalikan oleh pengaruh lingkungan. Pengaturan ini
berdasarkan pada lingkungan yang mana searah dalam hal “A person does not act
upon the world, the world acts upon him,” (Skinner, 1971, p. 211). Ahli teori lain
telah menemukan penyebab perilaku manusia di dalam orang tersebut. Personal

3
Determinism mengklaim bahwa perilaku adalah fungsi-dari naluri, sifat,
dorongan, kepercayaan, atau kekuatan motivasi dalam individu. Misalnya, Freud
percaya bahwa perilaku berasal dari interaksi dinamis berdasarkan kekuatan batin
psikis, yang sebagian besar di bawah tingkat kesadaran. Ahli teori trait (mis.,
Allport, 1961; Cattell, 1966) percaya bahwa tindakan manusia diatur oleh sifat-
sifat kepribadian (mis. Agresi, ketergantungan), yang merupakan kecenderungan
yang luas dan bertahan lama dalam berperilaku dengan cara tertentu.
Sebagian besar ahli teori kognitif mengambil pandangan interaksional
bahwa perilaku ditentukan oleh adanya interaksi kekuatan internal dan pengaruh
lingkungan. Namun, perlu diingat bahwa kontrolnya searah. Yaitu, teori kognitif,
percaya bahwa pikiran dan kepercayaan orang dalam berinteraksi dengan
informasi dari lingkungan untuk menghasilkan perilaku. Namun, model ini tidak
memperhitungkan bagaimana perilaku seseorang dapat menyebabkan perubahan
lingkungan yang pada gilirannya dapat mempengaruhi bagaimana seseorang
berpikir tentang situasi tersebut (lihat contoh John di bawah).
Bandura memandang bahwa hubungan perilaku, orang, dan lingkungan
sebagai proses timbal balik tiga arah yang disebutnya timbal balik triadik (triadic
reciprocality). Dalam model ini, yang diringkas dalam Gambar 8.1, perilaku,
kognisi, dan faktor-faktor pribadi lainnya, serta pengaruh lingkungan, semua
beroperasi sebagai penentu yang saling terkait satu sama lain.
Contohnya pada kasus John, yang berusaha di kelas matematika karena dia
yakin dia tidak terlalu cerdas. Self-conseption (faktor pribadi) memengaruhi
perilakunya. Namun, John mengamati bahwa ia melakukan banyak upaya dalam
tugas-tugas literatur. Mungkin, John cerdas tetapi tidak bagus dalam matematika.
Self-examination pada John membawa self-concept pada dirinya sejalan dengan
perilaku keseluruhannya dan John mulai berusaha lebih keras. Guru matematika
John menghargai usaha-usaha John dan mulai memperkuat usahanya
(konsekuensi lingkungan). John mulai berhasil dalam matematika yang pada
akhirnya, semakin meningkatkan konsep pada dirinya. Maka proses interaktif
antara kognisi, perilaku, dan konsekuensi lingkungan terus berlangsung.
Perlu juga dicatat bahwa orang dapat secara pasif mengaktifkan reaksi
lingkungan. Artinya, orang dapat memperoleh reaksi karena karakteristik fisik

4
(jenis kelamin, ras, penampilan fisik) dan peran dan status sosial. Bagaimana jika
John adalah Joan? Seorang guru matematika yang bias mungkin menyimpulkan
bahwa, sebagai seorang perempuan beranggapan bahwa John tidak mungkin
berhasil dalam matematika dan akibatnya, mungkin John tidak memperkuat usaha
barunya dalam mempelajari matematika. Kurangnya respons guru ini mungkin
pada akhirnya akan menghambat Joan untuk melanjutkan upaya barunya.
Bandura (1986) menunjukkan bahwa pengaruh relatif yang muncul dari
usaha mental berdasarkan faktor-faktor pribadi, perilaku, dan lingkungan akan
bervariasi antar individu dan kenyataan. Dalam beberapa kasus, kondisi
lingkungan sangat berpengaruh. Sebagai contoh, jika orang dijatuhkan ke air yang
dalam, mereka semua akan terlibat dalam perilaku berenang terlepas dari
perbedaan dalam proses kognitif dan repertoar perilaku mereka. Kadang-kadang
perilaku dan umpan balik intrinsiknya merupakan faktor sentral dalam sistem
yang saling berinteraksi. Contohnya ketika seseorang memainkan piano untuk
memperoleh kesenangan pada dirinya sendiri. Perilaku seperti itu kemudian
dipertahankan dalam jangka waktu yang lama oleh efek sensorisnya, dengan
aktivitas kognitif dan pengaruh situasional yang terlibat pada tingkat yang lebih
rendah.

B
GAMBAR 8.1
Pandangan Bandura tentang
hubungan perilaku (B),
orang (P), dan lingkungan
(E) sebagai proses timbal
P E
balik tiga arah.

Dalam beberapa keadaan, seperti memutuskan buku apa yang harus dilihat
dari perpustakaan, faktor pribadi (minat dan preferensi seseorang) mendominasi.
Reaksi defensif adalah contoh lain dari dominasi faktor pribadi. Misalnya,
seseorang dengan keyakinan yang salah, katakanlah prasangka rasial akan
bertindak berdasarkan keyakinan itu dan menghindari kontak dengan orang-orang
dari ras itu. Perilaku menghindar ini membuatnya tidak bersentuhan dengan

5
kondisi lingkungan yang mungkin menangkal pada keyakinannya. Akibatnya,
pola tindakan-kepercayaan dilindungi dari pengaruh lingkungan korektif.
Dalam kebanyakan kasus, pengembangan dan pengaktivasi terdiri dari tiga
set faktor sangat saling mempengaruhi. Bandura (1986) menggunakan contoh
menonton televisi dalam menggambarkan saling kmempengaruhi ini. Preferensi
pribadi memengaruhi kapan dan program mana dari beberapa alternatif yang
tersedia yang dipilih individu untuk ditonton. Melalui perilaku menonton mereka,
mereka sebagian membentuk jenis program yang akan ditawarkan di masa depan
(acara TV hidup dan mati berdasarkan rating). Karena biaya produksi dan
persyaratan komersial juga menentukan apa yang ditunjukkan orang, opsi yang
disediakan di lingkungan televisi juga membentuk preferensi pemirsa. Oleh
karena itu, ketiga faktor (preferensi pemirsa, perilaku menonton, dan penawaran
televisi) saling mempengaruhi satu sama lain.
Dengan demikian, Bandura mengusulkan proses sebab-akibat yang memberi
perhatian pada keadaan internal orang (pikiran dan emosi mereka), perilaku yang
dapat diamati, persepsi dan tindakan orang lain. Seperti yang akan dibahas setelah
ini, dimana semua faktor ini berperan dalam pembelajaran observasional.

B. PEMBELAJARAN OBSERVASI
Menurut Bandura, orang memperoleh representasi kognitif dari perilaku
dengan cara mengamati model. Representasi kognitif ini dalam bentuk kode
memori yang disimpan dalam memori jangka panjang. Representasi kognitif dapat
berupa kode citra visual atau kode proposisional verbal. Bandura menggunakan
istilah “pembelajaran observasional” dan “pemodelan” secara bergantian merujuk
pada pembelajaran yang terjadi dalam konteks sosial. Bandura lebih suka istilah
“pemodelan” (atau “pembelajaran observasional”) daripada istilah “imitasi”
karena Bandura percaya bahwa imitasi hanya satu cara seseorang belajar dari
model. Seperti foto sekali jepret, gambarnya lengkap, meliputi figur (objek utama)
dan groud (latar belakang). Apa outputnya? Yang namanya belajar, pastinya
luarannya yang paling bisa diamati adalah perubahan perilaku yang relatif
menetap. Observational learning juga penting buat orangtua atau orang yang
lebih dewasa dalam memberikan contoh kepada anak. Karena anak belajar dari
perilaku kita, maka dengan memahami observational learning, maka kita bisa

6
membantu belajar anak. Selain itu, kita juga bisa lebih berhati-hati dengan
perilaku kita, karena anak mengamati dan akan mencontohnya.

C. KLASIFIKASI EFEK PEMODELAN

Fungsi utama dari perilaku yang dimodelkan adalah untuk mengirimkan


informasi kepada pengamat. Bandura mengklasifikasikan informasi ini dalam
empat jenis efek yang dihasilkannya pada pengamat: pembelajaran observasional,
efek menghalangi (inhibitory effects), efek membiarkan (disinhibitory effects) dan
fasilitasi respons.
1. Efek Belajar Observasional
Pengamat dapat memperoleh keterampilan kognitif baru dan pola perilaku
baru dengan mengamati kinerja orang lain. Misalnya, setelah melihat guru
pendidikan jasmani menunjukkan cara yang tepat untuk memegang raket tenis,
siswa kemudian memegang raket dengan tepat. Di kelas matematika, setelah
menyaksikan model guru bagaimana mencari resiprok atau kebalikan dari suatu
angka, siswa kemudian bekerja melalui beberapa masalah praktik di mana siswa
dapat menemukan kebalikannya. Dalam setiap contoh, model menunjukkan pola-
pola pemikiran atau perilaku baru yang belum dimiliki oleh para siswa tetapi yang
apabila setelah diobservasi, siswa dapat mengerjakannya kembali. Efek
pemodelan juga hadir ketika pengamat belajar untuk dapat belajar ke dalam
struktur yang baru. Sebagai contoh, siswa yang mengamati gurunya mengucapkan
kata kosa kata baru seperti “onomatopoeia” sudah tahu cara menghasilkan fonem
yang konstituen. Siswa hanya belajar menempatkan kata tersebut ke dalam
pengorganisasian yang baru.

2. Efek Menghalangi (inhibitory effects), Efek Membiarkan (disinhibitory


effects)
Fungsi kedua pemodelan ini adalah untuk memperkuat atau melemahkan
hambatan atas perilaku yang telah dipelajari sebelumnya. Efek menghalangi
(inhibitory effects) terjadi ketika seorang pengamat mengurangi penampilannya

7
dari beberapa perilaku sebagai hasil dari menonton model berdasarkan
pengalaman konsekuensi negatif untuk menghasilkan perilaku itu. Sebagai
contoh, Alice menyaksikan Marcia yang diejek oleh gurunya karena mengajukan
jawaban yang salah atas pertanyaan yang diajukan oleh guru. Sehingga membuat
Alice lebih jarang menjadi sukarelawan di kelas guru itu. Contoh lain, Anda
mengemudi di jalan bebas hambatan dan melihat mobil di depan Anda menepi
karena ngebut. Kemudian Anda segera mengurangi kecepatan Anda sesuai batas
hukum yang berlaku. Efek disinhibisi terjadi ketika pengamat meningkatkan
kinerja perilaku yang sebelumnya dihambat setelah melihat orang lain terlibat
tanpa efek samping. Sebagai contoh, Axel mulai bertindak di kelas setelah
mengamati bahwa perilaku temannya yang tidak dihukum oleh guru. Dengan kata
lain, Inhibitory effects terjadi ketika seseorang melihat seorang model yang diberi
hukuman karena perilaku tertentu. Sebaliknya, Disinhibitory effects terjadi ketika
seseorang melihat seorang model yang diberi penghargaan atau imbalan untuk
suatu perilaku tertentu.

3. Efek Fasilitasi Respons


Dalam kasus ini, perilaku model merupakan isyarat bagi pengamat untuk
melakukan perilaku yang sama atau serupa. Misalnya, ada salah seorang dari
audiens mulai bertepuk tangan dan kemudian audiens lainnya mengikuti. Orang-
orang memandang ketika melihat orang lain menatap ke langit adalah contoh
umum lain dari fasilitasi respons dengan pemodelan. Efek fasilitasi respons
dibedakan berdasarkan pembelajaran observasional karena tidak ada respons baru
yang diperoleh. Disinhibition tidak terlibat karena perilaku yang difasilitasi dapat
diterima secara sosial dan belum halangi (inhibitory) atau dibiarkan
(disinhibitory) oleh pengamat. Berbagai efek pemodelan dirangkum dalam Tabel
8.1.

TABEL 8.1 RINGKASAN EFEK PEMODELAN

Modeling efek Deskripsi

8
Pembelajaran Observers memperoleh keterampilan kognitif dan pola
Observasional baru perilaku dengan cara mengamati perilaku orang
lain
Inhibition Pengamat mengurangi kinerja mereka dari perilaku
yang dimodelkan sebagai akibat dari melihat model
sehingga mengalami konsekuensi negatif
Disinhibition Pengamat meningkatkan kinerja mereka dari perilaku
sebelumnya yang terhambat setelah melihat orang lain
 
terlibat dalam situasi yang dilarang perilaku tanpa
 
konsekuensi yang merugikan
Fasilitasi respon Pengamat melakukan beberapa perilaku yang telah
diberikan isyarat atau diaktifkan dengan melihat model
terlibat di dalamnya; tingkah lakunya bukanlah hal
yang baru dan juga tidak pernah dihalangi sebelumnya

D. PROSES DALAM PEMODELAN

Menurut Bandura (1986), belajar adalah sebagian besar kegiatan


pemrosesan informasi di mana informasi tentang perilaku dan tentang peristiwa
yang mana lingkungan ditransformasikan menjadi representasi simbolik yang
berfungsi sebagai panduan terhadap sebuah tindakan. Dalam analisis sosial-
kognitifnya tentang pembelajaran observasional, secara skematis digambarkan
dalam gambar 8.2, terdapat empat proses yang mempengaruhi pembelajaran
seseorang. Attentional processes atau proses mengamati merupakan dasar dari
suatu proses pengamatan yang mempengaruhi eksplorasi dan persepsi kegiatan
yang dimodelkan. Retention processes atau proses retensi merupakan proses yang
mengubah persepsi menjadi kode memori jangka panjang yang berfungsi sebagai
model internal untuk memproduksi respons dan standar terhadap adanya koreksi
respons. Production prosesses atau proses produksi yang mengatur
pengorganisasian komponen dari sub keterampilan ke dalam pola respons baru.
Terakhir yaitu motivational processes atau proses motivasi menentukan apakah
kompetensi yang diperoleh melalui observasi akan digunakan. Proses perhatian
dan retensi sangat penting untuk mempelajari munculnya perilaku baru, sementara
proses produksi dan motivasi terlibat dalam kinerja perilaku.

1. Proses Perhatian (Attentional Processes)

9
Ketika belajar dari mengamati perilaku orang lain, tentunya pengamat harus
memperhatikan dan dengan benar memahami aktivitas yang dimodelkan. Ada hal
yang bisa dikatakan tidak jelas, mengapa siswa memperhatikan beberapa bagian
dari perilaku model dan bukan bagian yang lain, dan mengapa mereka hanya
memperhatikan beberapa bagian dari perilaku model dan bukan bagian lain.
Perhatian tampaknya dipengaruhi oleh sifat dari aktivitas yang dimodelkan dan
keadaan internal pengamat. Faktor-faktor yang terkait dengan model termasuk
kekhasan dan kompleksitas perilaku model. Semakin khusus perilaku model,
semakin mudah bagi pengamat untuk memperhatikannya. Selain itu, ketika
aktivitas yang dimodelkan adalah peristiwa yang sedang berlangsung (misalnya,
pertunjukan tari), perilaku yang lebih khas adalah perilaku yang biasanya akan
muncul (misalnya, solo dramatis). Semakin kompleks aktivitas yang dimodelkan,
semakin sulit bagi pengamat untuk memfokuskan perhatiannya. Dengan
demikian, tindakan sederhana dan mencolok adalah tindakan yang paling mudah
dipelajari melalui pengamatan.
Faktor internal yang memengaruhi perhatian dan persepsi termasuk
pengetahuan dan harapan pengamat sebelumnya, yang membuat individu mencari
beberapa hal tetapi tidak dengan yang lain. Tingkat perkembangan kognitif
seorang pengamat juga mempengaruhi seberapa banyak pembelajaran
observasional. Jika tingkat atau kompleksitas dari aktivitas yang dimodelkan
melebihi kapasitas perhatian pengamat, pembelajaran observasional akan terpisah-
pisah. Tingkat ketertarikan pengamat adalah faktor lain yang memengaruhi
perhatian yang diberikan pada peristiwa yang dimodelkan. Level ketertarikan
mengacu pada tingkat aktivitas keseluruhan seseorang. Pada ketertarikan
seseorang berada pada lever yang paling rendah maka seseorang tersebut akan
mengantuk; pada level yang sangat tinggi, seseorang akan menjadi hiperaktif.
Pembelajaran observasional dikatakan terbaik ketika pembelajar berada
padakondiri yang membuatnya sangat terangsang atau benar-benar memusatkan
perhatian secara lebih. Poin penting adalah bahwa gairah tinggi atau ketertarikan
terhadap sesuau dapat dialami sebagai keadaan yang tidak menyenangkan, disebut
sebagai kecemasan. Kecemasan sering dialami ketika kita berada dalam situasi
baru dan asing di mana seseorang tidak yakin terhadap apa yang harus dilakukan.

10
Dalam keadaan seperti itu, seseorang kemungkinan besar memperhatikan perilaku
seorang individu yang tampaknya tahu seluk-beluknya. Misalnya, jika Anda
menghadiri pesta makan malam formal untuk pertama kalinya, Anda mungkin
akan cenderung mempelajari hal yang tak biasa seperti penggunaan garpu sebagai
pembelajaran baru yang mana Anda akan mengamati perilaku seseorang yang
tampaknya berpengalaman.

11
ATTENTIONAL PRODUCTION MOTIVATIONAL
PROCESSES RETENTION PROCESSES PROCESSES
PROCESSES

Modeled Events Symbolic Coding Cognitive Representation External Incentives


Salience Cognitive Organization Observation of Enactments Sensory
Affective Valence Cognitive Rehearsal Feedback Information Tangible
Complexity Enactive Rearsal Conception Matching Social
Prevalence Control
Functional Value Vicarious Incentives
Self-Incevitives
MODELED Tangible
EVENTS Self-Evaluative MATCHING
Observer Attributes Observer Attributes PATTERN
Observer Attributes Observer Attributes
Perceptual Capabilities Cognitive Skills Physical Capabilities Incentive Preferences
Perceptual Set Cognitive Structures Component Subskills Social Comparative Biases
Cognitive Capabilities Internal Standards
Arousal Level CogiCognitive Representation
Acquired Preferences Observation of Enactments
Feedback Information
Conception Matching

GAMBAR 8.2 Sub proses yang mengatur pembelajaran observasional. (Dari Albert Bandura, Yayasan Sosial Pemikiran & Action:..
Sebuah Sosial Kognitif Teori Copyright 1986. Diterbitkan ulang atas izin Prentice Hall, Englewood Cliffs, NJ).

12
2. Retensi Proses
Komponen utama kedua dalam pembelajaran observasional adalah retensi
terhadap pengetahuan tentang kegiatan yang dimodelkan. Retensi melibatkan
transformasi aktif dan restrukturisasi informasi tentang peristiwa yang
dimodelkan. Peserta didik mengubah kegiatan yang dimodelkan menjadi gambar
dan / atau proposisi verbal yang menangkap fitur penting dari kinerja yang
dimodelkan.
Pandangan Bandura tentang proses retensi mirip dengan pandangan
konstruktif dari memori yang diantut oleh ahli teori skema (lihat Bab 3). Dengan
demikian, menurut Bandura pengamat tidak mengikutsertakan ke dalam memori
tiruan yang tepat dari perilaku model. Sebaliknya, pengamat mengabstraksi
perilaku model dari aturan umum atau kode yang kemudian ia gunakan untuk
menghasilkan atau membangun perilaku sendiri. Misalnya, bila diperhatikan anak
kecil bermain dengan bonekanya. Dimungkinkan untuk mengidentifikasi sedikit
perilaku yang telah anak tersebut pelajari dari menonton ibunya yang merawat
saudara kandung atau dari menonton iklan TV yang memperlihatkan anak-anak
bermain dengan boneka yang serupa. Tapi anak tesebut tidak benar-benar
menirukan seluruh urutan perilaku ibunya terhadap model yang ada di TV. Alih-
alih, perilakunya menunjukkan bahwa ia telah mengabstraksi sebagian kecil dari
perilaku itu dan mengaitkannya sehingga membentuk pola yang unik.
Anak telah dikembangkan bagan atau skema perilaku pengasuhan anak.
Skema ini mencakup kategori umum perilaku seperti menyanyi untuk bayi,
mengganti pakaian bayi, dan menidurkan bayi. Dari kategori-kategori umum ini
anak dapat membangun pola-pola baru. Dengan kata lain, pengamat tidak
mempelajari serangkaian perilaku yang tidak fleksibel dengan mengamati model.
Sebaliknya, pengamat mempelajari pola atau aturan umum yang dapat digunakan
untuk menghasilkan perilaku yang sesuai dengan berbagai pengaturan. Kode
memori yang terbentuk selama pengamatan tidak hanya menyimpan informasi
terkait tentang aktivitas yang dimodelkan tetapi juga mencakup operasi ketika
menerjemahkan informasi kode ini ke dalam sebuah tindakan. Dengan demikian,
baik pengetahuan deklaratif dan prosedural tentang peristiwa model disimpan
dalam memori.

13
Latihan membantu retensi pada kegiatan yang dimodelkan. Orang-orang
yang berlatih secara kognitif atau benar-benar melakukan pola-pola perilaku yang
dimodelkan lebih kecil kemungkinannya untuk melupakan sesuatu daripada
mereka yang tidak berlatih. Seperti dalam pembelajaran informasi verbal, latihan
elaboratif yang berfungsi untuk mengatur ulang dan membuat aktivitas yang
dimodelkan lebih bermakna bagi pelajar sehingga menghasilkan retensi yang lebih
baik daripada latihan untuk mempertahankan sesuatu yang hanya mengulangi
sebuah peristiwa yang dimodelkan.
Latihan kognitif (Cognitive rehearsal), di mana individu memvisualisasikan
diri mereka dalam melakukan urutan tindakan yang benar, berperan penting dalam
pembelajaran observasional karena sering dilibatkan. Apa yang diamati tidak
dapat dengan mudah dipraktekkan apabila jarang dilibatkan. Keterbatasan waktu,
ruang, dan sumber daya seringkali menyulitkan adanya latihan fisik. Penelitian
Corbin (1972) menunjukkan bahwa latihan kognitif bermanfaat bagi kinerja
keterampilan atletik, kegiatan kejuruan, dan tugas konseptual lainnya. Kegiatan
tersebut dikuasai lebih cepat dengan menggabungkan latihan kognitif dan fisik
daripada dengan latihan fisik saja. Selain itu, latihan kognitif terhadap
keterampilan psikomotorik yang telah dipelajari terbukti dapat membantu retensi
(Sackett, 1935). Latihan kognitif juga dapat mempersiapkan orang untuk
melakukan keterampilan yang dipelajari dengan baik. Artinya, individu yang
memvisualisasikan diri mereka melakukan apa yang akan mereka lakukan
biasanya lebih baik daripada jika mereka tidak memvisualisasikan kinerja mereka
(Richardson, 1967).
Latihan kognitif bermanfaat terhadap perolehan keterampilan karena
membantu peserta didik untuk membuat konsep keterampilan dan mengatur
sistem psikologis, saraf, dan otot yang mendasari suatu pola tindakan.
Pembelajaran awal menghasilkan yang terbaik dengan mendapatkan konsepsi
yang jelas terhadap kinerja yang terampil dan kemudian bergantian dengan latihan
kognitif dan fisik (Richardson, 1967). Sebagai contoh, setelah pembelajaran
diberikan oleh guru, siswa mungkin pertama-tama mempelajari serangkaian
langkah-langkah yang terlibat dalam menyiapkan peralatan ilmiah yang dirasa
rumit. Siswa kemudian dapat memvisualisasikan diri mereka dengan cara

14
melakukan prosedur sebelum benar-benar melakukannya. Akhirnya,
diberlakukannya kognitif dan fisik secara bergantian sampai keterampilan benar-
benar dikuasai. Penting bagi guru untuk memberikan siswa umpan balik yang
jelas selama adanya latihan secara fisik sehingga latihan kognitif mereka tidak
mengandung prosedur yang salah.

3. Proses Produksi
Komponen ketiga pemodelan melibatkan konversi kode simbolik dalam
memori menjadi tindakan yang sesuai. Ini dilakukan dengan mengurutkan dan
menentukan waktu perilaku seseorang sesuai dengan representasi kognitif
seseorang dari aktivitas tersebut. Dengan demikian, representasi konseptual yang
disimpan dalam memori jangka panjang merupakan pembelajaran dari aktivitas
yang dimodelkan, sedangkan berlakunya perilaku berdasarkan pada representasi
konseptual mewakili sebuah kinerja.
Representasi merupakan tingkah laku yang akan ditiru, harus
disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk
gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi
secara verbal tingkah laku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan
mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat
dilakukannya latihan simbolik dalam pikiran, tanpa benar-benar melakukannya
secara fisik. Menurut Bandura (1986), produksi perilaku terutama melibatkan
proses pencocokan konsepsi di mana umpan balik sensorik dari kinerja motor
dibandingkan dengan konsepsi. Dengan demikian, keakuratan representasi
konseptual sangat penting untuk proses pencocokan ini untuk menghasilkan
kinerja yang baik. Itulah sebabnya itu ide yang baik untuk mengevaluasi konsepsi
siswa secara mandiri dari kinerja motorik mereka.
Bahkan ketika siswa telah memperoleh konsepsi yang akurat tentang
aktivitas yang dimodelkan, produksi perilaku mereka dapat salah jika kinerja
memerlukan keterampilan motorik komponen yang belum dikuasai. Sebagai
contoh, siswa mungkin gagal menghasilkan ujaran model dalam bahasa Prancis
sampai mereka menguasai bunyi ujaran yang diperlukan untuk melafalkan kata-
kata Prancis perbedaan individu dan perkembangan dalam kekuatan fisik dan
ketangkasan sangat mempengaruhi proses pembelajaran observasional ini. Anak-

15
anak kecil, misalnya, mungkin dapat hadir dan secara akurat menyandikan
kegiatan yang dimodelkan seperti mengendarai mobil. Namun, mereka tidak akan
dapat memproduksinya karena keterbatasan fisik.
Konsepsi jarang ditransformasikan menjadi tindakan yang sesuai tanpa
kesalahan pada beberapa upaya pertama. Pada awalnya, orang mencoba untuk
memperbaiki diri mereka sendiri dengan memonitor umpan balik dari tindakan
mereka dan membandingkannya dengan representasi konseptual mereka. Dengan
demikian, orang meningkatkan kinerja mereka dengan melihat, mendengar, dan
merasakan apa yang mereka lakukan. Umpan balik intrinsik ini dapat ditambah
dengan umpan balik ekstrinsik dari orang lain yang telah mengamati dan
mengevaluasi tindakan mereka. Sebagai contoh, seorang siswa yang mencoba
melakukan pukulan tenis yang dimodelkan oleh guru PE menghadiri penempatan
visual lengan dan pergelangan tangannya, bunyi bola saat menyentuh raket, dan
umpan balik kinestetik dari gerakannya. Dia juga mendapat manfaat dari melihat
apa yang terjadi pada bola setelah dia mengelusnya. Akhirnya, instrukturnya dapat
memberinya umpan balik verbal evaluatif.
Masalah umum dalam mempelajari keterampilan baru adalah bahwa orang
tidak dapat sepenuhnya mengamati perilaku mereka sendiri. Misalnya, dalam
keterampilan yang terkoordinasi seperti olahraga tenis dan berenang, siswa tidak
dapat melihat banyak dari apa yang mereka lakukan. Demikian pula, siswa dengan
keahlian pidato dan drama mengalami hambatan karena siswa tersebut tidak dapat
melihat diri mereka sendiri saat tampil. Pengamatan diri melalui rekaman video
semakin digunakan untuk mengatasi masalah ini. Namun, diperlukannya ketelitian
ketika menggunakan pengamatan diri. Memberikan kesempatan pada siswa untuk
melihat replay kinerja mereka tidak akan efektif jika siswa tidak menyadari
kesalahan yang mereka buat atau tahu bagimana cara untuk memperbaiki
kesalahan jika mereka menemukannya. Selain itu, pengamatan diri terhadap
kinerja yang kurang sempurna dapat mengurangi persepsi siswa tentang
kemampuan mereka (Brown, 1980). Dengan demikian, guru perlu memberikan
umpan balik yang korektif selama pengamatan diri untuk mengarahkan perhatian
siswa pada aspek kinerja yang relevan. Umpan balik guru seperti itu harus fokus

16
pada keberhasilan, bukan hanya kesalahan, dan harus memberi tahu siswa cara
memperbaiki kesalahan.
4. Proses Motivasi
Seseorang dapat menirukan aktivitas yang dimodelkan, menyimpan
representasi kognitifnya dalam memori jangka panjang, dan dapat menghasilkan
perilaku secara akurat tetapi mungkin masih belum memberlakukan perilaku
tersebut. Sekali lagi, ini adalah tentang perbedaan antara pembelajaran dan
kinerja. Proses terakhir dalam model berkaitan dengan faktor-faktor motivasi yang
meningkatkan atau menekan pada kinerja perilaku model yang dipelajari melalui
pengamatan. Tiga jenis konsekuensi mempengaruhi kinerja perilaku model-
vicarious, langsung, dan self-produced.

Vicarious consequences atau konsekuensi yang bervariasi. Istilah ini


mengacu pada hadiah atau hukuman yang diberikan kepada model setelah adanya
beberapa perilaku. Penelitian menunjukkan bahwa seorang pengamat lebih
cenderung mereproduksi perilaku yang modelnya telah menerima reward
daripada perilaku yang telah dihukum atau diabaikan (Bandura, Ross, & Ross,
1963b). Namun, ada satu pengecualian penting pada peraturan ini yang perlu
diketahui oleh para guru dan orang tua. Ketika sebuah model menunjukkan
perilaku yang tidak disetujui atau dilarang secara sosial tanpa menerima
konsekuensi yang merugikan, itu dapat menghilangkan perilaku pengamat dengan
cara yang sama seperti jika model itu dihargai untuk perilaku tersebut. Sebagai
contoh, seorang guru mungkin mencoba untuk mengurangi perilaku yang
mengganggu seorang siswa dengan cara mengabaikannya. Tetapi ini dapat
memberikan situasi pemodelan di mana anak-anak lain tidak hanya belajar bahwa
perilaku yang mengganggu tersebut melalui pengamatan tetapi juga belajar bahwa
aman saat terlibat di dalamnya.

Direct Consequences atau konsekuensi langsung. Hadiah atau hukuman


karena terlibat dalam perilaku yang dimodelkan juga dapat muncul secara
langsung ke pengamat. Orang akan lebih cenderung menunjukkan perilaku yang
dimodelkan jika itu menghasilkan hasil yang dihargai daripada jika tidak dihargai
atau dihukum. Secara umum, konsekuensi langsung lebih kuat dalam memotivasi
reproduksi perilaku model daripada konsekuensi perwakilan. Meskipun melihat

17
orang lain diberi penghargaan untuk sementara waktu dapat meningkatkan
motivasi seseorang, penguatan secara langsung diperlukan untuk mendukung
secara mental perilaku.

Self-produced Cosequences atau konsekuensi yang dihasilkan sendiri.


Bagaimana orang mengevaluasi perilaku mereka sendiri juga menentukan
perilaku yang dipelajari secara observasi yang cenderung mereka tunjukkan.
Mereka cenderung mereproduksi perilaku yang diamati yang mereka anggap
dapat memuaskan diri sendiri dan menolak perilaku yang secara pribadi tidak
mereka setujui.
Function of Cosequences atau fungsi konsekuensi. Konsekuensi memiliki
peran yang sangat berbeda dalam teori Bandura dari pada teori perilaku seperti
Skinner. Untuk satu hal, Skinner memandang penguatan sebagai sesuatu yang
diperlukan dalam pembelajaran, sementara Bandura menyatakan bahwa
penguatan tidak diperlukan untuk belajar (yaitu, untuk membentuk representasi
kognitif). Menurut Bandura, penguatan memfasilitasi kinerja perilaku yang
dipelajari, tetapi itu hanya satu di antara beberapa penentu kinerja. Penguatan
langsung diperlukan dalam pandangan Skinner, sedangkan dalam teori Bandura,
perwakilan dan penguatan diri memiliki peran yang sama pentingnya dengan
penguatan langsung.
Akhirnya, mekanisme yang mempengaruhi penguatan perilaku sangat
berbeda pada kedua teori ini. Dalam pandangan Skinner, penguatan cendrung
terhadap respons melalui penguatan otomatis. Artinya, ketika tindakan seseorang
diperkuat, tidak perlu baginya untuk secara sadar berpikir, “Itu berhasil, jadi saya
akan mencobanya lagi di masa depan.” Sebaliknya, penguatan secara tidak sadar
akan memperkuat adanya respons. Selain itu, Skinner percaya bahwa agar
penguatan otomatis ini menjadi paling efektif, konsekuensi harus segera
melibatkan perilaku.
Bandura tidak setuju dengan pandangan penguatan ini sebagai penguat
adanya respons otomatis. Albert Bandura percaya bahwa penguatan memiliki
fungsi informatif dan motivasi. Dengan informatif, Bandura beranggapan bahwa
konsekuensinya memberi tahu seseorang dalam keadaan apapun akan lebih
bijaksana ketika mencoba tindakan tertentu di masa depan. Dengan motivasi, yang

18
Bandura maksudkan adalah bahwa orang akan lebih mungkin melakukan perilaku
jika mereka menghargai konsekuensi yang terliahat ada hasilnya. Pandangan
konsekuensi ini memungkinkan Bandura untuk memperhitungkan pembelajaran
dengan pengalaman sendiri. Artinya, melihat orang lain menerima konsekuensi
yang dihargai untuk perilaku tertentu memberikan pengamat informasi yang sama
yang ia dapatkan dari konsekuensi perilaku sendiri secara langsungnya. Sebagai
contoh, jika seorang siswa menginginkan pengakuan dan mengamati bahwa guru
memberikan pengakuan dan persetujuan kepada siswa yang berhasil dalam bidang
aritmatika, ia termotivasi untuk bekerja keras dalam tugas-tugas aritmatika.
Perhatikan bahwa baik dalam peran informatif dan motivasi mereka, efek dari
konsekuensi ini adalah tidak memperkuat adanya tanggapan yang segera muncul
dari diri mereka. Sebaliknya, konsekuensinya adalah pengatur perilaku masa
depan. Mereka mengatur dengan memberikan informasi individu tentang
kemungkinan konsekuensi di masa depan dan dengan memotivasi tindakan yang
mengarah pada konsekuensi tersebut (Thomas, 1992).
Selain memberikan informasi dan perilaku yang memotivasi, konsekuensi
perwakilan melayani fungsi emosi dan fungsi penilaian. Kedua fungsi ini muncul
sebagai reaksi saksi model untuk menerima konsekuensi. Orang-orang biasanya
menampilkan reaksi emosional sambil mengalami konsekuensi yang bermanfaat
atau menyakitkan. Para pengamat dari reaksi-reaksi semacam itu mengalami
rangsangan emosional perwakilan yang memungkinkan mereka untuk
mempelajari apa yang mungkin menyenangkan atau menyakitkan tanpa harus
melalui pengalaman sendiri yang sama. Melalui reaksi emosional perwakilan
semacam itu, pengamat dapat menyukai, tidak menyukai, atau takut dengan orang,
tempat, dan hal-hal yang hampir tidak ada kontak langsung dengan mereka
(Bandura, 1965). Misalnya, seorang anak yang mengamati reaksi emosional anak
lain karena digigit anjing tidak hanya akan menjadi takut, tetapi ia juga akan
menjadi takut pada anjing. Setelah diperoleh, ketakutan semacam itu menjadi
abadi melalui reaksi penghindaran yang muncul dari diri mereka. Lebih
positifnya, anak-anak dapat mengembangkan nilai atau preferensi baru dengan
mengamati orang lain ketika menerima hadiah. Misalnya, anak-anak menilai
segala sesuatu dengan uang karea setelah melihat reaksi orang dewasa terhadap

19
penerimaan uang. Dengan demikian, pemodelan adalah teknik yang kuat untuk
membangun adanya penguat sekunder yang baru.
Internal Standards adalah contoh lain dari nilai-nilai yang dapat diperoleh
dengan adanya penguatan. Artinya, ketika orang terlibat dalam perilaku, mereka
sering menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan atas perilaku mereka sendiri
sesuai dengan standar pribadi mereka. Mereka bereaksi menyetujui ketika
perilaku mereka cocok dengan beberapa standar internal, tetapi mengkritik diri
sendiri ketika perilaku mereka gagal atau melanggar standar yang mereka
tetapkan sendiri. Melalui paparan berulang pada model evaluasi diri terhadap
orang lain, pengamat dapat memperoleh standar dasar yang sama dan
menggunakannya sebagai panduan pada perilaku masa depan mereka sendiri
(Bandura, 1976). Misalnya, perlawanan tanpa kekerasan yang dimodelkan oleh
Martin Luther King, Jr. bagi jutaan orang Amerika menjadi standar internal yang
dengannya banyak orang kemudian menilai reaksi mereka sendiri terhadap
ketidakadilan dan penindasan. Tabel 8.2 merangkum fungsi dari vicarious
consequences.
Self-efficacy atau efikasi diri. Menurut Bandura, faktor lain yang
mempengaruhi motivasi seseorang untuk melakukan kegiatan yang dimodelkan
adalah keberhasilan yang dirasakan. “Self-efficacy” adalah istilah akademis yang
merujuk pada seberapa cakap seseorang menilai dirinya sendiri dalam situasi
tertentu. Ini adalah perasaan seseorang tentang “Aku bisa melakukannya atau Aku
tidak bisa melakukannya”. Selain peran informatif dan motivasi, penguatan, baik
secara langsung dan diwakilkan, mempengaruhi kinerja dengan efeknya pada self-
efficacy. Yaitu, melihat orang lain berhasil atau gagal memengaruhi penilaian
seseorang atas kemampuannya sendiri (Brown & Inouye, 1978).

Persepsi terhadap self-efficacy dapat memiliki beragam efek pada perilaku,


pola pikir, dan reaksi emosional. Individu cenderung menghindari adanya tugas
dan situasi yang mereka yakini melebihi kemampuan mereka, tetapi mereka
mengerjakan tugas yang mereka rasa mampu ditangani (Bandura, 1977).
Misalnya, siswa yang tidak memandang diri mereka sebagai mampu dalam
matematika mungkin berusaha untuk menghindari mengambil kelas matematika,
sementara siswa dengan self-efficacy yang tinggi terhadap pembelajaran

20
matematika akan memilih lebih memilih pembelajaran matematika. Efektivitas
yang dirasakan mempengaruhi berapa banyak upaya yang akan dilakukan
seseorang dan berapa lama mereka akan bertahan pada tugas ketika dihadapi
dengan kesulitan. Ketika menghadapi tugas belajar yang sulit, siswa yang
menganggap diri mereka sebagai pelajar yang mampu akan mengeluarkan lebih
banyak usaha dan bertahan lebih lama daripada siswa yang meragukan
kemampuan belajar mereka (Schunk, 1984).

TABEL 8.2 FUNGSI DARI VICARIOUS CONSEQUENCES 

Informati Vicarious Consequences menginformasikan kepada


f pengamat apa hasil yang diharapkan jika dia
menirukan perilaku yang dimodelkan.
Vicarious Consequences memotivasi munculnya
Motivasi kembali aktivitas yang dimodelkan ketika mereka
menampilkan hasil yang dinilai oleh pengamat.
Reaksi model terhadap suatu tindakan observasi yang
Emosi menghasilkan pengalaman emosional pada pengamat.
Daya tarik dan ketidaksukaan ini tercipta tanpa
adanya kontak langsung dengan model.
Reaksi model terhadap suatu tindakan observasi yang
dapat menghasilkan nilai dan preferensi baru pada
Valuasi
pengamat. Reaksi evaluasi diri ini dapat
menghasilkan standar internal baru bagi pengamat.

Manfaat yang dirasakan juga mempengaruhi pola pikir dan reaksi


emosional. Mereka yang menilai diri mereka tidak efisien dalam mengatasi
tuntutan dari lingkungan tempat tinggal pada suatu perasaan ketidakmampuan
mereka dan membayangkan kesulitan potensial sebagai seseorang yang lebih
tangguh daripada yang sebenarnya (Meichenbaum, 1977; Sarason, 1975). Sebagai
contoh, seseorang yang meragukan kemampuannya mengemudi di jalan bebas
hambatan dalam lalu lintas yang padat kemudian yang terlitas di pikiran orang
tersebut pastinya ada bayangan-banyang tentang puing-puing dan kecelakaan
sehingga mengakibatkan seseorang tersebut mengalami tingkat stres yang tinggi.
Pikiran dan emosi semacam ini merupakan hal yang mengganggu upayanya
sendiri untuk mengatasi situasi.

21
Secara umum, harapan hasil (outcome expectancies) dan efikasi diri (self-
efficacy) adalah proses motivasi yang berbeda kemudain saling memiliki
keterkaitan untuk mempengaruhi kinerja. Harapan hasil adalah keyakinan pribadi
bahwa perilaku tertentu akan mengarah pada hasil atau konsekuensi tertentu.
Harapan seperti itu terjadi karena adanya konsep pengharapan hasil (outcome
expectations ) dan harapan hasil secara langsung. Sebagai contoh, seorang siswa
percaya bahwa ia dapat memperoleh pujian dari guru ketika melakukan pengejaan
dengan baik karena siswa tersebut telah mengamati orang yang sebelumnya yang
mendapatkan pujian dari guru tersebut dan yang mendapat nilai bagus pada tes
ejaan. Namun, saat itu siswa tidak diperbolehkan memilih pada bagian mana
(daftar ejaan) atau tetap mempelajarinya jika dia meragukan kemampuannya
sebagai pengeja yang baik. Di sisi lain, seorang siswa yang percaya bahwa ia
memiliki kemampuan tinggi dalam mengeja juga dapat belajar sekedarnya saja
jika ia merasa bahwa kegiatan ini tidak akan mengarah pada hasil yang dihargai
seperti penerimaan dari guru. Baik harapan hasil yang positif dan efikasi diri yang
tinggi tampaknya diperlukan bagi siswa untuk memilih dan tetap bertahan dalam
tugas akademik.
Sources of Self-efficacy Information - Pengetahuan tentang kepercayaan
diri seseorang, apakah akurat atau tidak, berasal dari empat sumber utama:
pencapaian kinerja, pengalamannya sendiri, persuasi verbal, dan keadaan
fisiologis. Salah satu cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang mampu
melakukan suatu kinerja adalah dengan cara benar-benar mencobanya.
Keberhasilan yang berulang pada suatu kegiatan menghasilkan self-efficacy yang
tinggi sementara kegagalan akan menurunkan self-efficacy, kecuali jika tidak ada
upaya atau keadaan yang akan membuat situasi semakin memburuk yang muncul
(Bandura, Adams, & Beyer, 1977). Setelah rasa yang kuat (atau ketidakefisienan)
terbentuk, itu akan menggeneralisasi tugas-tugas dan situasi yang semacamnya.
Seringkali, kita tidak perlu langsung mengerjakan tugas untuk
mendapatkan suatu keberhasilan. Mengamati orang lain berhasil pada suatu tugas
juga dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri kita sendiri, terutama jika kita
menganggap diri kita sama atau sebanding dengan yang kita amati. Dengan cara
yang sama, mengamati orang lain yang mirip dengan diri kita kemudian gagal

22
meskipun upaya yang dilakukan tinggi tentunya akan ikut menurunkan
kepercayaan diri kita sendiri (Brown & Inouye, 197). Namun, pengalaman
observasi sebelumnya yang seperti itu dapat dialami langsung berdasarkan dari
pengalaman. Secara umum, sumber informasi efikasi yang diperoleh dari model
akan lebih kuat ketika orang yang memiliki pengalamannya sedikit dari
sebelumnya apabila menjadi dasar evaluasi kompetensi pada diri mereka.
Persuasi verbal banyak digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa
mereka memiliki kemampuan untuk mencapai apa yang mereka cari. Sebagai
guru, kita semua berusaha meningkatkan kepercayaan diri siswa terhadap
kemampuan mereka sendiri. Persuasi seperti itu dapat bermanfaat untuk
meningkatkan self-efficacy siswa hingga mereka mulai berusaha untuk mencapai
sebuah keberhasilan. Namun, untuk meningkatkan kepercayaan yang tidak
realistis akan mengundang kegagalan yang tidak hanya mendiskreditkan
persuader tetapi juga melemahkan kepercayaan diri siswa.

Sumber keempat informasi self-efficacy adalah keadaan fisiologis seseorang.


Orang menilai sebagian kemampuan mereka berdasarkan informasi yang
diperoleh dari pemantauan keadaan fisiologis mereka. Karena reaksi kecemasan
atau stres biasanya melemahkan kinerja, seseorang akan lebih cenderung merasa
mampu ketika mereka tidak merasakan adanya tingkat kecemasan yang
berlebihan. Sebagai contoh, seorang siswa yang sangat cemas ketika akan ujian
yang akan muncul adalah perasaan cenderung memiliki self-efficacy yang lebih
rendah daripada seorang yang tidak memiliki kecemasan dalam ujian, meskipun
kedua siswa sama-sama siap untuk ujian. Reaksi kecemasan ini menghasilkan
ketakutan yang berlebih sehingga membuat pikiran yang muncul membuat rasa
takut semakin tinggi terkait dengan ketidakmampuan seseorang. Tingginya tingkat
stres kemudian dapat menghasilkan disfungsi yang ditakuti. Perlakuan untu
menghilangkan rangsangan emosional terhadap ancaman yang dirasakan dapat
meningkatkan efikasi diri dengan adanya peningkatan kinerja yang sesuai
(Bandura & Adams, 1977).
Self-efficacy paling baik dipahami dalam konteks bagian dari teori motivasi
(Weiner, 1980) yang meneliti bagaimana orang memaknai keberhasilan dan
kegagalan mereka. Seperti yang ditunjukkan Weiner, ada sejumlah faktor yang

23
dapat dikaitkan dengan keberhasilan atau kegagalan seeorang. Hanya beberapa di
antaranya, seperti kemampuan dan upaya, yang mencerminkan secara langsung
kepercayaan diri individu. Lainnya, seperti keberuntungan dan kesulitan tugas,
tidak di bawah kendali pribadi dan tidak memiliki implikasi langsung untuk
penilaian efikasi diri. Dalam Bab 9, kita juga akan memeriksa hubungan self-
efficacy dengan prestasi sekolah dan membahas cara-cara meningkatkan self-
efficacy siswa.
5. Proses Modeling dan Media Informasi
Istilah “model” dapat merujuk pada orang yang sebenarnya hadir secara
fisik yang perilakunya berfungsi sebagai panduan untuk orang lain. Model
mungkin juga berbentuk simbolis. Model simbolik meliputi hal-hal seperti buku,
instruksi lisan atau tertulis, gambar, karakter kartun atau film, program TV, dan
sebagainya. Menurut teori kognitif sosial, proses pencocokan atas konsepsi dasar
yang mendasari pembelajaran observasional adalah sama, terlepas dari jenis
model yang terlibat. Itu tidak berarti bahwa berbagai bentuk pemodelan sama-
sama efektif. Mereka mungkin berbeda dalam jumlah informasi yang mereka
sampaikan dan kekuatan mereka dalam menyita perhatian.
Membandingkan Jenis-Jenis Pemodelan. Efektivitas berbagai jenis
pemodelan tergantung pada tingkat perkembangan pengamat dan kompleksitas
dan kodabilitas dari kegiatan yang dimodelkan. Anak-anak kecil pada tingkat
perkembangan preverbal harus memperoleh perilaku baru dari mengamati model
secara fisik, baik hidup atau bergambar. Ketika model langsung dan bergambar
(misalnya, karakter TV dan film) menyita perhatian dan memberikan jumlah
informasi yang sama, sehingga menghasilkan jumlah pembelajaran observasional
yang sebanding pada anak-anak kecil (Bandura, Ross, & Ross, 1963a). Anak-anak
yang lebih tua yang memiliki pemahaman bahasa yang baik dapat mempelajari
perilaku baru dari deskripsi verbal tanpa perlu adanya kehadiran fisik model
(Bandura & Mischel, 1965). Namun, kebanyakan orang belajar dengan baik dari
beberapa kombinasi pengajaran verbal dan peragaan perilaku. Sebagai contoh,
anak-anak belajar perilaku yang diatur oleh aturan lebih baik (misalnya,
mengklasifikasikan objek berdasarkan ukuran atau bentuk) ketika aturan diberikan
baik secara lisan dan melalui demonstrasi daripada ketika hanya instruksi verbal

24
atau demonstrasi perilaku yang digunakan sendiri (Rosenthal & Zimmerman,
1978).
Pemodelan Verbal Proses Pemikiran. Pemodelan adalah prosedur yang
efektif untuk mengajar siswa menggunakan strategi kognitif untuk belajar dan
berpikir. Namun, hal itu membutuhkan model yang memadai dapat
mencerminkan proses mental terselubung saat memodelkan strategi. Misalnya,
guru dapat mengungkapkan strategi pemikiran mereka dengan sebaik-baiknya saat
mereka terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat menggambarkan
proses mental yang mereka gunakan secara verbal untuk mengingat kosakata baru
atau proses yang mereka gunakan untuk dengan mudah memahami teks yang
sulit. Pemodelan pemikiran dan tindakan yang baik merupakan unsur penting dari
instruksi strategi dan merupakan inti dari pengajaran timbal balik (reciprocal
teaching) dan pendekatan pembelajaran langsung untuk instruksi strategi.

25