Anda di halaman 1dari 2

Petikan Monolog olahan dari naskah Preh karya Asma Nadia

LIMAH:

Subhanallah wahdalu wabihamdihi

Khalikul badri wa laili Azza wa jalla

Uloen pojoepo sidroepo syukoe keu Rabbi ya aini

Keu kamoeneubri beu suci Aceh mulia


(Maha Suci Allah dan baginya segala puji Pencipta siang dan malam Saya uji Tuhan Satu
syukur untuk Rabbi Berilah kami kesucian Aceh Mulia)

Saat kehilangan laki‐laki pertama dalam hidup Mak, Mak mencoba tegar, karena
menganggap itu adalah sesuatu yang biasa terjadi, toh laki‐laki itu sudah menurukan
kepada Mak seorang laki‐laki lagi, juga dua anak perempuan. Tapi ketika laki‐laki
pemberiannya itu pun harus pergi, membawa semua harapan yang lama Mak bangun,
Mak…Mak…(SEPERTI KEHILANGAN KATA‐KATA)

Tapi Cutbang bukan sengaja menghilang. Sejak dulu, cuma kita yang dipikirkan Cutbang.
Dia tak pernah mementingkan dirinya sendiri. Cutbang berhenti sekolah lalu bekerja, biar
kita tak putus sekolah. Cutbang tak mau mendekati perempuan, belum menikah pun
supaya tetap bisa menguruskan kita. Bahkan kalau saja Cutbang tak menyelamatkan dan
membawa kita ke Masjid tempoh hari, entah apa jadinya. Tapi begitupun Cutbang tak bisa
bersikap egois. Tenang‐tenang sendiri sementara arus masih deras. Mana bisa Cutbang
diam saja melihat orang tua dan anak‐anak terbawa air?

Ahh, ke mana ombak telah membawa si Abang? Mak menunggu mu di sini... Di tempat
yang tak mungkin Mak tinggalkan sejak kenangan demi kenangan menyemak. Mak
menunggu mu. Cuma itu yang bisa Mak lakukan. Pulanglah, Cutbang. Pulang. Bukankah
setiap pengembara rindu pulang ke tanah asal? Mak lah tanah asal itu sebelum kita
pulang ke Maha Asal. Pulang Abang..

(MENGHAPUS AIRMATANYA, MENCUBA UNTUK TEGAR) Saat kejadian itu, ketika gempa
mengguncang, dan gelombang menerjang, kami semua meihat, betapa tipisnya antara
hidup dan mati. Pasti beralasan, kenapa Dia mengambil sebahagian dari kami, dan
kenapa pula Dia membiarkan sebahagian kami tetap hidup. Barangkali supaya ada yang
menjadi saksi; begitu lemahnya manusia, begitu Kuatnya Yang Kuasa. Begitu tak
berartinya segala perhiasan dunia yang kami timbun selama ini. Hanya dalam hitungan
detik, smua harta, rumah dan dan gedung bertingkat, mobil‐mobil mewah, kapal
tersungkur di halaman MasjidNya.
Akan halnya Cutbang, jika memang Dia sudah memanggilnya, maka kami ikhlas. Tapi jika
Cutbang masih hidup, dan ada dari kalian yang melihatnya, tolongtolong sampaikan pada
Cutbang, kami menunggunya di Kahju, bagian dari tanah serambi yang Cutbang cintai.
Soal bahaya, saya percaya, kalau memang belum ajal, di tengah laut pun kita tak akan
mati. Tapi kalau sudah ajal, lari ke gunung pun kita tetap akan mati.