Anda di halaman 1dari 2

Petikan Monolog olahan dari naskah Hamletmaschine karya Heiner Muller 2

OPHELIA:

Aku Ophelia. Perempuan di tali gantungan Perempuan dengan nadi tersayat Perempuan
dengan SALJU DI BIBIR Perempuan dengan kepala dalam dapur gas. Semalam aku berhenti
membunuh diriku. Aku sendirian dengan susuku, pahaku, rahimku. Kupecahkan penjara‐
penjaraku Kerusi Meja Tempat Tidur. Kuhancurkan medan pertempuran yang dulunya adalah
Rumahku. Kucabut pintu dari engselnya dan membiarkan jerit dan tangis Dunia menderu.
Kuhempaskan jendela‐jendela, dengan tangan yang berdarah kurobek gambar‐gambar para
lelaki yang pernah kucinta dan menggunakanku di Tempat Tidur, di Meja, di Kerusi, di Tanah.
Aku nyalakan api dalam penjaraku. Kucampakkan pakaianku ke dalam api. Aku pergi ke jalan
berbaju darah. Ingin makan jantungku, Hamlet?
Perapian berasap dalam Oktober yang gelisah. DEMAM PARAH YANG IA DERITA HANYALAH
SAAT YANG PALING BURUK. SAAT YANG PALING BURUK DALAM TAHUN SEBUAH PERJUANGAN
Menyusuri simen pinggiran kota di antara kumpulan bunga berjalan Dr. Zhivago menangisi
serigala‐serigalanya. KADANG‐KADANG MEREKA DATANG DI MUSIM SEJUK KE KAMPUNG
MENCABIK‐CABIK SEORANG PETANI
Membuka topeng dan kostum

Televisyen kemuakan

Kemuakan kekejaman sehari‐hari

Pada perbualan yang dipersiapkan

Pada kebahagiaan yang diperintahkan


Bagaimana kau mengeja PERSAHABATAN

Hari ini memberi kepada kita pembunuhan sehari‐hari

Kerana milikmu adalah kemuakan yang sia‐sia

Pada kebohongan yang dipercaya

Oleh para pembohong dan tidak oleh sesiapapun kecuali kemuakan pada kebohongan yang
dapat dipercaya

Kemuakan pada topeng‐topeng yang melukiskan

Oleh perjuangan mereka merebutkan pekerjaan‐pekerjaan, suara‐suara untuk pemilihan


Kemuakan sebuah tank tempur dengan sebuah garis bersabit berkilau
Aku berjalan menyusuri lorong‐lorong perkedaian
Wajah‐wajah dengan bekas luka pertempuran para konsumen
Kemiskinan tanpa harga diri – kemiskinan tanpa harga diri

Tubuh terhina para perempuan

Harapan generasi – generasi

Tercekik dalam darah pengecut yang tolol

Tawa dari perut‐perut mati


Dalam sepi lapangan terbang – lapangan terbang

Aku bernafas

Aku seorang yang mendapat keistimewaan

Kemuakanku adalah sebuah keistimewaan

Dikelilingi tembok Kawat berduri penjara


Aku tidak ingin lagi makan, minum, bernafas, mencintai seorang lelaki, seorang perempuan,
seorang anak, seekor binatang. Aku tidak ingin lagi mati. Aku tidak ingin lagi membunuh.

Di sini Elektra bicara. Dalam jantung kegelapan. Di bawah matahari sebagai alat siksa. Kepada
kota‐kota metropolitan dunia. Atas nama para korban. Aku menolak seluruh benih yang telah
kuterima. Kuubah susuku menjadi racun mematikan. Aku tarik kembali dunia yang telah
kulahirkan di antara kedua pahaku. Kukuburkan dunia dalam rahimku. Injaklah kebahagiaan
penaklukan hiduplah kebencian, penghinaan, pemberontakan, kematian. Ketika dia lalu di bilik
tidurmu dengan pisau jagal, kalian akan tahu tentang kebenaran.