Anda di halaman 1dari 2

Petikan Monolog olahan dari naskah Cindua Mato karya Wisran Hadi

CINDUA MATO :

(MEMBANTINGKAN NASKAH TUA ITU KE LANTAI) Naskah celaka! Naskah‐naskah seperti inilah
yang paling banyak menyimpan tipuan dan dusta sejarah! Kini baru kutahu apa sebabnya Bundo
Kanduang diam, bila kutanya di mana ayahku. Itukah sebabnya Bundo Kanduang tidak tahan
menatap kenangan masa lalu sehingga sering jatuh sakit? (KETAWA HISTERIS SEHINGGA
MENANGIS) Aku tertawa untuk menangisi penulisan naskah ini. Terlalu banyak yang dikaburkan
penulisnya. (KEMBALI KETAWA HISTERIS DAN SEMAKIN LIAR) Akan kukatakan pada seluruh
negeri! Ayah kita yang tidak diketahui selama ini adalah Bujang Salamat itu! Dia tak disebut
dalam naskah karena dia telah menjadikan istana sebagai sebuah arena skandal yang
memalukan! Disebabkan dia istana gempar karena kehamilan beramai‐ramai! Dan pemergian
Rajo Mudo ke Ranah Sikalawi adalah untuk menghindar dari malu yang tak tertanggungkan!
DangTuanku. Setelah kita dikalahkan penyerbu dari utara itu, panglima pasukannya telah
menggagahi Bundo Kanduang beserta seluruh isi istana. Ya, sebagai risiko dari sebuah
kekalahan. Panglima itu bermata sepet, kuning kulitnya dan berjambul rambutnya! Itulah ayah
kita! Bujang Salamat Panjang Gombak! Agar kehormatan istana tetap terjaga, Pendendang ini
dipaksa tutup mulut dan menuliskannya dengan simbol‐simbol yang menyesatkan. Dang
Tuanku. Itulah sebabnya Rajo Mudo, biar mamak Dang Tuanku sendiri, tidak mau menikahkan
anaknya dengan anak hasil perzinaan. Bundo Kanduang kini ingin menggagalkan perkahwinan
Puti Bungsu dengan Imbang Jaya, adalah pelampiasan dendam yang tidak berkesudahan.
Kerana Rajo Mudo bersumpah tidak akan kembali selamanya ke Pagaruyung, tidak akan
menaiki tangga istana, karena malu! Dang Tuanku. Kau pun tentu faham, kenapa Bundo
Kanduang diam kalau ada perempuanperempuan yang didapati turun dari kamarmu setiap
malam. Siapa yang dapat mencegah hubungan‐hubungan gelap yang terjadi secara terbuka di
sini, sedangkan Bundo Kanduang sendiri telah berbuat lebih jauh lagi sebelum ini. Begitu juga,
tekad Bundo Kanduang yang tidak mahu kahwin lagi, bukanlah karena setia pada suaminya
yang telah pergi, atau kasih sayangnya padamu, tidak! Tidak seorang pun lagi yang mau
menjadikannya seorang isteri, walaupun kedudukannya sangat tinggi!

Kini aku disuruh merebut Puti Bungsu dengan membawa si Binuang, Kinantan dan Gumarang!
Bukankah ketiganya ketua pasukan istimewa istana, yang boleh turun bila hanya diperintah
Bundo Kanduang? Padahal sebenarnya mereka adalah saudara‐saudara seayah dengan kita.
Mereka disembunyikan asal‐usulnya agar kehamilan beramai‐ramai itu tidak terlalu
menghebohkan negeri ini. Bahwa disini, Bundo Kanduang, dayang‐dayang dan seluruh
perempuan istana telah digagahi Bujang Salamat! Oh, kita menerima warisan ini tanpa kita pun
tahu! (berteriak keras sekali) Dang Tuanku! Mari kita taklukan dunia! Kemudian hamili semua
perempuan yang ada! Bakar semua naskah, tambo dan kisah‐kisah! Nanti semua orang juga
tahu apa yang kita sembunyikan hari ini! (KETAWA LIAR SEHINGGA SEPI SENDIRI. SENDU)
Semuanya telah kudendangkan. Kerana aku pun tidak ada ertinya dalam kenyataan. Aku telah
menutup mata untuk dapat melakukan segalanya. Kesediaanku pergi merebut Puti Bungsu
sebagai seorang lelaki yang sangat mencintainya, tapi juga paling kuyakini bahwa aku tidak
mungkin dapat mengahwininya. Dan saudaraku sendiri, Dang Tuanku telah kulemahkan segala
persendian peragaannya dengan berita‐berita bohong tentang hubungan gelapku dengan Puti
Bungsu. Agar Dang Tuanku pergi, hingga aku dapat mempersunting Puti Bungsu. Aku tahu, tidak
seorang pun yang setuju mengangkatku menjadi seorang raja, kerana aku hanya orang kedua.
Anak dari seorang dayang yang kebetulan seayah dengan putera mahkota. Untuk
melampiaskan perasaanku yang tertekan begitu lama, seluruh isi istana kuobrak‐abrik moral
dan ukuran nilai‐nilainya. Dan kini, setelah Bundo Kanduang, Dang Tuanku serta Puti Bungsu tak
lagi kembali ke istana, kerajaan ini terasa berada di tanganku. Sebuah keinginan manusia yang
hakiki telah dapat terpenuhi. Tapi kepergian Puti Bungsu? O, siapakah yang dapat memenuhi
semua apa yang diinginkannya.