Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

“PERILAKU TERCELA”
Mata Pelajaran:
(Akhlak)

Guru Pembimbing:
(Ustad. Muhammad Haris Nasution Spd.i)

Disusun Oleh:
Kelompok : II (Dua)
Nama :
 Tri annisah
 Ariani
 Tiwi nasabila
 Zelma azahra
 Putri ayu sekar sari
 Rika nursaada
 Ramla atika daulay

MAS ALWASHLIYAH 12 PERBAUNGAN


TA.2019-2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. Dzat yang Maha Sempurna Pencipta
dan Maha Penguasa Segalanya, karena hanya dengan ridho-Nya
penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah ini sesuai dengan apa
yang diharapkan yaitu tentang ”perilaku tercela”. Makalah ini sengaja
disusun untuk memenehi tugas mata pelajaran “AKHLAK”.
Tidak lupa penyusun sampaikan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang turut berpartisipasi dalam proses penyusunan tugas
ini, karena penyusun sadar sebagai makhluk sosial penyusun tidak
bisa berbuat banyak tanpa ada interaksi dengan orang lain dan tanpa
adanya bimbingan , serta rahmat dan karunia dari-Nya.
Kami berharap agar guru pembimbing dan teman teman
khususnya. Dan umumnya dari para pembaca dapat memberi kritik
yang positif dan saran untuk kesempurnaan makalah ini.

Perbaungan, November 2020


Hormat Kami

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................... 1
C. Tujuan....................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Zalim ...................................................................... 3
B. Deskriminasi .......................................................... 4
C. Gibah ...................................................................... 5
D. Namima................................................................... 7

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan.............................................................. 9
B. Saran........................................................................ 9

DAFTAR PUSTAKA............................................................. 10
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah SWT menciptakan manusia bukanlah tanpa tujuan.
Manusia sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi ini
diciptakan-Nya sebagai khalifah, pemimpin dan penjaga amanat Sang
Khalik. Manusia diberikan akal untuk berpikir, hati untuk merasakan
kasih sayang Allah, dan tubuh yang menjadi sarana untuk beribadah.
Dari segala sesuatu yang telah dititipkan Allah kepada manusia , ada
satu hal yang menjadi ukuran derajat seorang manusia dimuka bumi,
yaitu akhlak. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya akidah dan
syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi
buruknya pemahaman seseorang terhadap akidah dan syariah.
Rasulullah shallallahu‟alaihi wasallam merupakan suri tauladan bagi
seluruh ummat. Akhlak beliau adalah Al-Qur‟an. Sebagaimana
pernyataan Aisyah ra,”Akhlak beliau (Rasulullah) adalah Alquran.”
(HR Abu Daud dan Muslim).

B. Rumusan Masalah
a. Sebutkan contoh-contoh perilaku akhlak Tercela?
b. Sebutkan masing-masing pengertian dari sifat-sifat akhlak
tercela?

C. Tujuan
Pembahasan Makalah ini bertujuan memberikan pemahaman
dan pengertian tentang” Prilaku Tercela “ para siswa atau pembaca
sehingga mampu memberikan suatu pengertian terutama dalam ilmu
akhlak. Maka memahami dengan benar melalui berbagai sumber
bacaan yg lebih mengedepankan dasar utama umat islam. Al-Quran
dan As-Sunnah menjadi harapan dan doa serta tujuan utama
pembahasan ini diangkat.
BAB II
PEMBAHASAN

A. ZALIM

1. Pengertian zalim
Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la
ma” (‫ظ ل م‬ ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan
katazhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga
sama dengan zalim yaitu melanggar hak orang lain. Namun pengertian
zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat
yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di
antaranya adalah syirik

2. Macam – macam zalim

a. Zalim kepada allah


Yang di maksud zalim kepa allah yakni tidak mau
melaksanakan perintahnya allah dan selalu melaksanakan larangan-
nya. Misalnya tidak mejalankan sholat 5 waktu dengan tertib dan
benar, suka memakan makanan yang diharamkan oleh allah, dan lain-
lain.

b. Zalim kepada diri sendiri


Aniyaya, macam-macam kezaliman, peyebab orang
melakukan kezaliman, balasan bagi orang yang zalim serta kezaliman
merusak fitrah manusia
Sifat malas adalah termasuk zalim kepada diri sendiri
Yang di maksud dengan zalim kepada diri sendiri adalah yakni tidak
mensyukuri apa yang diberikan allah atau tidak menjaga diri atau
membiarkan diri dalam kemudaratan misilanya : membiarkan diri
sendiri tatap bodoh, miskin, malas dan minum-minuman keras, dan
bunuh diri.
c. Zalim kepada orang lain
Yang di maksud dengan zalim kepada orang lain yakni suatu
sikap yang memperlakukan orang lain dengan tidak baik seperti
malalui kekerasan atau kata-kata yang kasar. Misalnya: memukul ,
mengumpat, mengadu domba, memfitnah, mecuri , merampok ,
penyiksaan dan pembunuhan.

d. Zalim kepada lingkungan


Yang di maksud dengan zalim terhadap lingkungan yakni
sikap yang tidak adil terhadap lingkungan, misalnya menembang
pohon liar dan menyembelih dengan senjata tumpul.

3. Dalil tentang zalim

Tidak kurang dari 289 kali kata dzalim dan yang seakar
dengannya disebutkan dalam alquran. Hal ini menunjukkan bahwa
kedzaliman bukanlah perkara sepele sehingga Allah banyak sekali
memberikan peringatan tentang sifat tercela ini. Berikut ini beberapa
ayat alquran tentang kedzaliman yang bisa kita jadikan sebagai bahan
kajian mengenai bagaimana alquran berbicara tentang kedzaliman

‫إِ َّن الَّ ِذينَ َكفَرُوا َوظَلَ ُموا لَ ْم يَ ُك ِن هَّللا ُ لِيَ ْغفِ َر لَهُ ْم َواَل لِيَ ْه ِديَهُ ْم طَ ِريقًا‬
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kedzaliman,
Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula akan
menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus”). – (Q.S An-Nisa:
168)

ِ ‫ب َم ْديَنَ َو ْال ُم ْؤتَفِ َكا‬


ِ ‫م إِب َْرا ِهي َم َوأَصْ َحا‬rِ ْ‫د َوقَو‬rَ ‫وح َوعَا ٍد َوثَ ُمو‬ ُ ْ
‫ت‬ ٍ ُ‫أَلَ ْم يَأتِ ِه ْم نَبَأ الَّ ِذينَ ِم ْن قَ ْبلِ ِه ْم قَوْ ِم ن‬
ْ َ‫ظلِ َمهُ ْم َولَ ِك ْن َكانُوا أَ ْنفُ َسهُ ْم ي‬
َ‫ظلِ ُمون‬ ْ َ‫ت فَ َما َكانَ هَّللا ُ لِي‬
ِ ‫أَتَ ْتهُ ْم ُر ُسلُهُ ْم بِ ْالبَيِّنَا‬
“Apakah tidak sampai kepada mereka kabar tentang orang-orang
sebelum mereka, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Ibrahim,
penduduk Madyan, dan juga penduduk negeri-negeri yang telah
musnah? Para Rasul telah datang kepada mereka dengan membawa
bukti-bukti yang nyata. Allah tidak berbuat dzalim kepada mereka,
akan tetapi merekalah yang mendzalimi diri mereka sendiri”. – (Q.S
At-Taubah: 70).

B. DESKRIMINASI
Pengertian diskriminasi yaitu, diskriminasi merupakan
sebuah sikap, perilaku, dan tindakan yang mencerminkan
ketidakadilan yang dilakukan baik secara individu maupun
berkelompok kepada individu dan kelompok yang lainnya.
Berbagai macam diskriminasi seperti, diskriminasi ras, diskriminasi
warna kulit, diskriminasi gender, diskriminasi fisik, diskriminasi
kepintaran, diskriminasi agama, diskriminasi umur, dsb.
Adapula contoh sikap diskriminasi dalam kehidupan sehari–hari,
antara lain seperti :
a. Seorang guru yang membeda-bedakan antara muridnya yang
pintar dan kurang pintar.
b. Pembedaan jumlah gaji karyawan padahal jabatan, jam kerja,
serta kualitas bekerjanya sama.
c. Adanya perbedaan antara jumlah penerimaan kerja untuk wanita
dan pria, dimana pria lebih banyak dibutuhkan.
d. Perlakuan yang tidak berimbang dan sama antar umat beragama
tertentu.
e. Melakukan tindakan pilih-pilih teman, seperti memilih teman
yang sekasata, yang  sama warna kulitnya, yang sama kayanya,
dsb.

C. GIBAH
Mengumpat (ghibah) adalah kejahatan lidah yang terbesar.
Menurut Al-Ghazali mengumpat adalah mengatakan sesuatu (aib atau
kekurangan) tentang orang lain yang kemungkinan besar akan
menyakiti perasaannya apabila ia mengetahuinya, meskipun apa yang
diceritakan itu sungguh benar adanya. kekurangan yang dibicarakan
itu bisa terdapat pada badan, nasab, tabiat, ucapan, agama, maupun
urusan duniawi lainnya. Adapun membicarakan kekurangan atau aib
seseorang yang tidak terdapat pada diri orang tersebut dinamakan
fitnah (buhtan).Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

"‫ةُ؟‬r َ‫ "أَتَ َدرُوْ نَ َما ْال ِغ ْيب‬:‫ال‬ َ َ‫صلّى هَّللا َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ق‬ َ ‫ض َى هَّللا ُ َع ْنهُ أَ َّن َرسُوْ َل هَّللا‬ ِ ‫َوع َْن أَبِى هُ َري َْرةَ َر‬
‫وْ لُ؟‬rrُ‫ا أَق‬rr‫ أَفَ َرأَيْتَ إِ ْن َكانَ فِى أَ ِخى َم‬:‫ك بِ َما يَ ْك َرهُ" قِ ْي َل‬ َ ‫ك أَخَا‬ َ ‫ " ِذ ْك ُر‬:‫ قَا َل‬،‫ هَّللا ُ َو َرسُوْ لُهُ أَ ْعلَ ُم‬:‫قَا َل‬
‫ إِ ْن َكانَ فِ ْي ِه َما تَقُوْ ُل فَقَ ِد ا ْغتَ ْبتَهُ َوإِ ْن لَ ْم يَ ُك ْن فِ ْي ِه بَهَتَّهُ" أَ ْخ َر َجهُ ُم ْسلِ ٌم‬:‫قَا َل‬.
Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda,
“Tahukah kalian, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah
dan Rasul-Nya yang tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu kamu
menuturkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.”
Seorag sahabat bertanya, “Bagaimana jika apa yang aku tuturkan itu
memang benar-benar ada padanya?” Beliau bersabda, “Jika apa
yang kamu tuturkan itu memanga ada  padanya, maka berarti kamu
telah berbuat ghibah terhadapnya. Dan jika tidak demikian, berarti
kamu telah membuat-buat kebohongan padanya.”

Ghibah tidak hanya dapat dilakukan dengan lisan saja namun juga bisa
terjadi dengan tulisan atau isyarat seperti kerdipan mata, gerakan
tangan, cibiran, dan sebagainya. Karena pada intinya semuanya itu
memiliki arti memberitahukan kekurangan seseorang kepada orang
lain. Adapun macam dan bentuk ghibah yang paling buruk adalah
ghibah yang disertai dengan riya’. Misalnya, dengan mengatakan
“Saya berlindung kepada Allah dari perbuatan yang tidak tahu malu
seperti ini, semoga Allah menjagaku dari perbuatan itu.” Ini
mengandung maksud bahwa ia mengungkapkan ketidaksenangannya
kepada orang lain namun ia menggunakan ungkapan doa untuk
mengutarakan maksudnya.
Megatakan keburukan orang tertentu memang tidak salah jika ini
dilakukan untuk maksud yang baik, yaitu:
a. Untuk mencari keadilan atau bantuan seseorang yang
berwewenang.
b. Untuk menghilangkan kejahatan dengan memberitahukan
orang-orang yang dapat menghapuskannya.
c. Untuk minta pendapat hukum (nasihat) dari seorang hakim.
d. Menyebut seseorang sesuai dengan sifat yang telah
diumumkannya sendiri namun tidak boleh menyebutkan
aib-aib yang lain.
e.    Menyebut seseorang dengan sebutan yang telah masyhur
pada diri seseorang. Namun hal ini tidak diperbolehkan bila
dimaksudkan untuk menunjukkan kekurangan seseorang.

Penyebab seseorang yang melakukan ghibah adalah karena


ada rasa dengki dan amarah yang dapat memicu seseorang memiliki
keinginan agar seseorang tertentu menjadi tidak dipercaya orang lain,
dan ia akan merasakan kepuasan apabila keinginannya itu
terpenuhi.Seseorang yang telah melakukan ghibah berarti ia telah
melakukan dua kejahatan, yaitu kejahatan terhadap Allah swt karena
melakukan perbuatan yang dilarang oleh-Nya dan kejahatan terhadap
hak manusia. oleh karena itu, apabila seseorang melakukan ini harus
bertaubat, menyesali perbuatan yang telah dilakukan dan berjanji
untuk tidak mengulanginya kembali.Kemudian selanjutnya yaitu
dengan meminta maaf kepada orang yang digunjingkannya atas
perbuatannya apabila orang yang dibicarakannya itu telah
mengetahuinya.Namun apabila ia belum mengetahuinya maka
hendaknya yang melakukan ghibah tersebut mendo’akannya dengan
kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam hadits:

‫ ُّد‬r‫ةَ أَ َش‬rَ‫إِ َّن ْال ِغ ْيب‬rَ‫ةَ ف‬rَ‫ إِيَّا ُك ْم َو ْال ِغ ْيب‬:‫صلَّى هَّللا َعلَيْه َو َسلَّم‬ َ ‫ال َرسُوْ ُل هَّللا‬ َ َ‫ ق‬:َ‫ع َْن َجابِ ٍر َوأَبِى َس ِع ْي ٍد قَاال‬
‫الغ ْيبَ ِة الَ يَ ْغفِ ُر لَهُ َحتَّى‬ ِ ‫ب‬ َ ‫اح‬
ِ ‫ص‬ َ ‫ِمنَ ال ِّزنَا قِي َْل لَهُ َك ْيفَ قَا َل إِ َّن ال َّر ُج َل يَ ْزنِى َويَتُوْ بُ هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َوإِ َّن‬
)‫ وابوالشيخ وابن ابي الدنيا‬r‫صا ِحبَهُ (اخرجه البيهقي والطبرنى‬ َ ُ‫يَ ْغفِ َر لَه‬
Dari Jabir dan Abu Sa’id mereka berkata, Rasulullah Saw. pernah
bersabda: Jauhilah olehmu sifat ghibah karena ghibah itu lebih besar
dosanya dari pada zina. Ditanyakan kepada Rasul “bagaimana
bisa?” Rasulullah menjawab: seorang laki-laki berzina kemudian
bertaubat, Allah akan mengampuninya dan orang yang mempunyai
sifat ghibah, Allah tidak akan mengampuninya sehingga temannya
mau mengampuninya.

Hadits diatas menerangkan bahwa dosa ghibah tidak akan


diampuni oleh Allah sebelum orang yang dighibahkan mau
mengampuninya. Adapun untuk mengobati kebiasaan ghibah yang
merupakan penyakit yang sulit dideteksi dan diobati ini dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan ilmu dan amal. Dimana
dengan ilmu berarti mengetahui pengaruh jahat mengumpat terhadap
kehidupan dan  menghapuskan penyebab mengumpat. Dan dengan
amal, bertujuan untuk menyelidiki kekurangan diri sendiri sehingga
kita akan malu menyalahkan orang lain tanpa melihat kekurangan diri
sendiri.

D. NAMIMAH
Secara bahasa, Namimah berarti mengadu domba. Menurut
Imam Zakaria Yahya bin Syarfin Nawawi dalam kitab Riyadhus
Shalihin, Namimah adalah merekayasa omongan untuk
menghancurkan sesama manusia. Namimah adalah mengadu domba
antara seseorang dengan orang lain dengan tujuan agar mereka saling
bermusuhan. Namimah termasuk perbuatan tercela yang harus kita
hindari dalam kehidupan sehari-hari, karena namimah dapat
menimbulkan permusuhan antar sesama umat. Sebagaimana firman
Allah dalam Qs. Al-Qalam ayat 10-14 Bahkan dalam suatu hadits
Nabi disebutkan bahwasanya orang yang melakukan namimah
diancam tidak akan masuk surga.

)‫صلَّى هَّللا َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم الَ يَ ْد ُخ ُل ْال َجنَّةَ نَ َما ٌم (اخرجه الشيخان‬
َ ‫ال َرسُوْ ُل هَّللا‬
َ َ‫ ق‬: ‫ع َْن ُح َذ ْيفَةَ قَا َل‬
Dari Hudzaifah r.a. ia mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba (menebar
fitnah)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bentuk menyebarkan berita tentang perkataan atau perbuatan orang


dikatakan namimah apabila dalam kondisi untuk merusak, namun
apabila tujuannya untuk memberi nasehat, mencari kebenaran dan
mencegah kemungkaran tidak dikatakan sebagai namimah. Akan
tetapi, hukumnya dapat menjadi sunah atau bahkan wajib bergantung
pada situasi dan kondisi tersebut. Misalnya, melaporkan pada
pemerintah tentang orang yang akan membuat kerusakan, orang yang
akan menganiaya orang lain, dan lain sebagainya.
sskarena adanya rasa dengki terhadap seseorang sehingga menjadikan
kita berlaku jahat atau tidak adil kepadanya. Oleh karena itu untuk
agar kita dapat terhindar dari perbuatan ini ada beberapa cara yang
dapat dilakukan:
1.    Menyadari tentang bahaya yang ditimbulkan dari sifat namimah
2.    Menyadari bahwa namimah merupakan perbuatan dosa
3.    Menyadari bahwa diri kita juga tidak suka apabila diadu domba
oleh orang lain
4.    Menjaga lisan dari perkataan yang tidak berguna, yang karenanya
dapat menyakiti dan mendzalimi orang lain.
BAB III
PENUTUPAN
A. Kesimpulan
1. Dalam pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku
terpuji ada 4:
 ZALIM : Kata zalim berasal dari bahasa arab yang artinya
gelap. Atau juga bisa diartikan melanggar hak orang lain.
 DESKRIMINASI : Sebuah sikap, perilaku, dan tindakan
yang mencerminkan ketidak adilan yang dilakukan secara
individu dan kelompok lainnya.
 GHIBAH : Mengatakan (aib/kekurangan) tentang orang
lain.
 NAMIMAH : Merekayasa omongan untuk
menghancurkan sesame manusia/ mengadu domba.

2. Dan orang telah terbiasa zalim, deskriminasi, ghibah, dan


namimah memiliki sikap sebagai berikut:
 Tidak mau menjalankan perintah allah, dan mengerjakan
yang dilarang.
 Membeda bedakan atau memilih dalam berteman.
 Suka menyari kesalahan orang lain.
 Memiliki sikap dengki atau iri hati.
B. Saran
Kami meminta beberapa saran hal terkait proses
pembelajaran diatas seperti:
Untuk pengembangan dan pengadaan media pendidikan
Penulis juga mengharapkan kritik dan saran dalam
penulisan makalah dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA

Syafe’I Rachmat.2000. Al-hadis(Aqidah,Akhlak,Sosial dan Hukum.) Bandung. CV


Pustaka Setia
An-Nawawi.2001.Terjemahan Hadits Arba’in. Jakarta.Al-I’tishom Cahaya
Umat. blogspot.com/2011/06/hadits-tentang-buruk-sangka
Kamarudin. 2011. Makalah Perilaku Tercela. http//perilakutercela.com/ Di akses
pada tanggal 23 Oktober 2013
Lumrisaja. 2010. Perilaku Tercela.