Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah swt. serta asisten laboratorium yang
sudah membimbing saya sehingga akhirnya saya dapat menyelesaikan laporan
tentang Isolasi Mikroorganisme yang digunakan sebagai salah satu syarat yang
harus penuhi untuk menunjang mata kuliah Mikrobiologi umum tepat pada
waktunya.
Saya harap laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca karena didalamnya
terdapat pengetahuan mengenai Isolasi Mikroorganisme. Saya sebagai penulis
menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat pada laporan ini. Dikarenakan
kurangnya pengetahuan serta sumber buku yang didapatkan. Untuk itu, saya
harapkan kritik yang membangun untuk lebih meningkatkan kualitas laporan ini.

Serang, April 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
DAFTAR TABEL................................................................................................iii
BAB I PENDHULUAN
1.1. Latar Belakang......................................................................................1
1.2. Tujuan...................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Isolasi Mikroba....................................................................................2
2.2. Teknik Isolasi Mikroba.........................................................................3
2.3. Teknik Isolasi Pengenceran..................................................................6
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat................................................................................7
3.2. Alat dan Bahan......................................................................................7
3.3. Cara Kerja.............................................................................................7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASA
4.1. Hasil......................................................................................................8
4.2. Pembahasan...........................................................................................9
BAB V PENUTUP
5.1. Simpulan...............................................................................................13
5.2. Saran......................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................14
LAMPIRAN.........................................................................................................15

ii
DAFTAR TABEL

4.1.1 Tabel Hasil Pengenceran 10-7.......................................................................8


4.1.2 Tabel Hasil Pengenceran 10-8....................................................................................................................... 8

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.
Latar Belakang
Mikroorganisme (jasad renik) merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran
sangat kecil. Mikroorganisme mempengaruhi kehidupan manusia baik secara
langsung maupun tidak langsung yang bisa berperan sebagai kawan maupun
lawan bagi kehidupan manusia. Mikroorganisme juga merupakan makhluk hidup,
untuk memeliharanya dibutuhkan medium yang harus mengandung semua zat
yang diperlukan untuk pertumbuhannya, antara lain senyawa-senyawa organik
(protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin.
Tanah merupakan cadangan utama kehidupan mikroorganisme. Mikroorganise
paling besar jumlahnya menghuni tanah adalah bacteria yang
mencapai jumlah berjutajuta yang dapat dijumpai dalam jumlah yang besar mengh
asilkan substansi dalam wujud yang dinamakan geosmin. Tingkat kesuburan tanah
dipengaruhi beberapa faktor antara lain keanekaragaman mikroba tanah, faktor
iklim seperti suhu, curah hujan, kelembaban, faktor nutrisi dan lingkungan, serta
populasi mikroba yang merupakan indikator tingkat kesuburan tanah. Peran
mikroba dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara, penyimpanan
sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman dan lain-lain.
Ada berbagai cara untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni yaitu, cara
pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan atau penggoresan, cara
penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada hewan. Masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangan(Waluyo, 2007).

1.2. Tuj
uan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum kali ini yaitu agar mahasiswa dapat
memisahkan mikroba dari campurannya sehingga didapat kultur murni.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Isolasi Mikroba


Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, udara, substrat
yang berupa bahan pangan, tanaman, dan hewan. Jenis mikroorganismenya dapat
berupa bakteri, khamir, kapang, dan sebagainya. populasi dari mikroba yang ada
di lingkungan ini sangatlah beranekaragam sehingga dalam mengisolasi dierlukan
beberapa tahap penanaman sehingga berhasil diperoleh koloni yang tunggal.
Koloni yang tunggal ini kemudian yang akan diperbanyak untuk suatu tujuan
penelitian misalnya untuk mengisolasi DNA mikroba yang dapat mendeteksi
mikroba yang telah resisten terhadap suatu antibiotic (Ferdiaz, 1992).
Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha untuk menumbuhkan
mikroba diluar dari lingkungan alamiahnya. Pemisahan mikroorganisme dari
lingkungan ini bertujuan untuk memperoleh biakan bakteri yang sudah tidak
bercampur lagi dengan bakteri lainnya dan disebut biakan murni. Prinsip dari
isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya
yang berasal dari camouran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan
dengan menumbuhkannya dalam media padat, sel-sel mikroba akan membentuk
koloni sel yang tetap pada tempatnya. Dikenal beberapa cara atau metode untuk
memperoleh biakan murni dari suatu biakan campuran. Dua diantaranya yang
paling sering digunakan adalah metode cawan gores dan metode cawan tuang.
Yang didasarkan padda prinsip pengenceran dengan maksud untuk memperoleh
spesies individu. Dengan anggapan bahwa setiap koloni dapat terpisah dari satu
jenis sel yang dapat diamati (Aprianto, 2004).
Biakan murni diperlukan dalam berbagai metode mikrobiologis, antara lain
digunakan dalam mengidentifikasi mikroba. Untuk mengamati ciri-ciri kultural
morfologi, fisiologi, dan serologi dibutuhkan mikroba yang berasal dari satu
spesies (Dwidjoseputro, 2005). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam
melakukan isolasi mikroba yaitu antara lain:

2
1. Sifat setiap jenis mikroba yang akan diisolasi.
2. Tempat hidup atau asal mikroba tersebut.
3. Medium pertumbuhan yang sesuai.
4. Cara menginkubasi mikroba.
5. Cara menginokulasi mikroba.
6. Cara menguji bahwa mikroba yang diisolasi telah berupa kultur murni dan
sesuai dengan yang dimaksud.
7. Cara memelihara agar mikroba yang telah diisolasi tetap merupakan kultur
murni.

2.2. Teknik Isolasi Mikroba


Proses pemisahan/pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena
semua pekerjaan mikrobiologi, misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme,
memerlukan suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme
saja. Teknik tersebut dikenal dengan isolasi mikroba. Terdapat berbagai cara
mengisolasi mikroba, yaitu:
1. Isolasi pada cawan agar
Prinsip metode isolasi pada agar cawan adalah mengencerkan mikroorganisme
sehingga diperoleh individu spesies yang dapat dipisahkan dari
mikroorganisme lain. Setiap koloni yang terpisah yang tampak pada cawan
tersebut setelah inkubasi berasal dari satu sel tunggal. Terdapat beberapa cara
dalam metode isolasi pada cawan agar, yaitu: metode gores kuadran dan
metode agar cawan tuang. Metode gores kuadran bila metode ini dilakukan
dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme dimana setiap
koloni berasal dari satu sel. Metode agar tuang berbeda dengan metode gores
kuadran, cawan tuang menggunakan medium agar yang dicairkan dan
didinginkan 50oC, yang kemudian dicawankan. Pengenceran tetap perlu
dilakukan sehingga pada cawan yang terakhir mengandung koloni-koloni yang
terpisah di atas permukaan/di dalam cawan (Almunady, 2016).
2. Isolasi pada medium cair
Metode ini dilakukan bila mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada agar
cawan (medium padat), tetapi hanya dapat tumbuh pada kultur cair. Metode ini

3
juga perlu dilakukan pengenceran dengan beberapa serial pengenceran.
Semakin tinggi pengenceran, peluang untuk mendapatkan satu sel semakin
besar (Hadioetomo, 1990).
3.  Isolasi sel tunggal
Metode ini dilakukan untuk mengisolasi sel mikroorganisme berukuran besar
yang tidak dapat diisolasi dengan metode cawan atau medium cair. Sel
mikroorganisme dilihat dengan menggunakan perbesaran sekitar 100 kali.
Kemudian sel tersebut dipisahkan dengan menggunakan pipet kapiler yang
sangat halus ataupun mikromanipulator yang dilakukan secara aseptis
(Hadioetomo, 1990).
 Teknik pemindahan biakan
Tujuan dari pemindahan biakan untuk menguasai teknik pemindahan biakan
bakteri dari satu wadah ke wadah lain, secara aseptik sehingga hanya biakan
murni yang diharapkan yang tumbuh. Hal ini sangat penting dalam tahap awal
pekerjaan isolasi mikroba terutama yang berasal dari stok kultur ( bukan dari
substrat). Kegagalan dalam hal pemindahan biakan dapat menyebab kan
kontaminasi dari pertumbuhan mikroba yang tidak diharapkan. Pemindahan
bakteri dari medium lama kemedium baru memerlukan banyak ketelitian.
Terlebih dahulu kita harus mengusahakan agar semua alat-alat yang kan
digunakan untuk mengerjakan medium dan pengerjaan inokulasi benar-benar
steril. Hal ini untuk menghindari kontaminasi yaitu masuknya mikroba lain
yang tidak diinginkan sehingga biakkan yang tumbuh di dalam medium adalah
benar-benar biakan murni (Kusnadi, 2003).
 Teknik pertumbuhan mikroorganisme
1. Teknik Piringan Goresan (Streak plate method)
Medium agar dicairkan, didinginkan pada suhu 45  C, dituang ke dalam
cawan petri steril (cawan gelas dengan garis tengag tiga inci) dan dibiarkan
sampai menjadi padat. Kemudian dengan kawat gelang menginokulasi
yang penuh dengan biakan campuran (misalnya specimen ludah atau bahan
lain), goresan dilakukan diatas permukaan agar. Ada beberapa metode
penggorean yang berbeda, namun kesemua metode bertujuan untuk
meletakkan sebagian besar organism pada beberapa goresan pertama.

4
Apabila sebaran dilakukan dengan menggerakkan kawat gelang kian
kemari dari satu bagian ke bagian lain. Cawan petri, bakteri yang tertinggal
pada kawat gelang semakin berkurang. Jika dilakukan secara sempurna,
goresan akhir akan meninggalkan bakteri individual cukup terpisah satu
sama lain, sehingga setelah mengalami pertumbuhan, koloni yang berasal
dari bakteri individual akan benar-benar terpisah satu sama lain. Kemudian
koloni tunggal dapat ditinggalkan kemedium steril, dan akan tumbuhlah
biakan murni (Almunady, 2016).
2. Metode tuang (pour-plate method)
Terdiri atas penginokulasian biakan campuran kedalam tabung uji yang
mengandung agar mencair yang telah didinginkan pada suhu 450c. isinya
diaduk untuk memencarkan bakteri keseluruh medium. Campuran itu
kemudian ditungkan kedalam cawan petri steril dan dibiarkan padat
pertumbuhan koloni terjadi baik dalam medium tujuan pada kedua proses
ialah untuk memisahkan bakteri satu sama lain sehingga sel-sel itu akan
tumbuh menjadi koloni-koloni yang terpisah didalam medium yang padat.
 Kemudian dapat diambil sel-sel dari satu koloni untuk mendapatkan
biakan murni. Dalam praktek, sering piringan kedua digores kembali
dengan organism yang berasal dari koloni yang diidolasi untuk menjamin
bahwa hasil yang diperoleh adalah biakan murni (Almunady, 2016).
3. Teknik sebar (spread plate)
Teknik isolasi dan mikroba dengan cara menyebarkan mikroba pada
permukaan media yang akan digunakan (Almunady, 2016).
4. Teknik pengenceran (dilution method)
Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-
macam spesies diencerkan dalam suatu tabung yang tersendiri. Dari hasil
pengenceran ini kemudian di ambil kira- kira 1 mL untuk diencerkan lebih
lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 mL untuk
disebarkan pada suatu medium padat, kemungkinan besar kita akan
mendapatkan beberapa koloni yang akan tumbuh dalam mdium tersebut,
akan tetapi mungkin juga kita hanya akan memperoleh satu koloni saja.
Dalam hal yang demikian ini dapat kita jadikan piaraan murni. Jika kita

5
belum yakin, Bahwa koloni tunggal yang kita peroleh tersebut merupakan
koloni yang murni, maka kita dapat mengulang pengenceran dengan
menggunakan koloni ini sebagai sampel (Leni, 2010).
5. Teknik micromanipulator
Mengambil satu bakteri dengan mikropipet yang ditempatkan dalam mikro
manupulator, kemudian ditempatkan dalam mikromanupulator. Kemudian
ditempatkan dalam medium encer untuk dibiakkan (Leni, 2010).

2.3. Teknik Isolasi Pengenceran


Menurut Dwidjoseputro (2005), Sampel yang telah diambil kemudian
disuspensikan dalam akuades steril. Tujuan dari teknik ini pada prinsipnya adalah
melarutkan atau melepaskan mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga lebih
mudah penanganannya. Macam-macam preparsi bergantung kepada bentuk
sampel :
a. Swab (ulas), dilakukan menggunakan cotton bud steril pada sampel yang
memiliki permukaan luas dan pada umumnya sulit dipindahkan atau sesuatu
pada benda tersebut. Contohnya adalah meja, batu, batang kayu dll. Caranya
dengan mengusapkan cotton bud memutar sehingga seluruh permukaan kapas
dari cotton bud kontak dengan permukaan sampel. Swab akan lebih baik jika
cotton bud dicelupkan terlebih dahulu ke dalam larutan atraktansemisal pepton
water.
b. Rinse (bilas) ditujukan untuk melarutkan sel-sel mikroba yang menempel pada
permukaan substrat yang luas tapi relatif berukuran kecil, misalnya daun bunga
dll. Rinse merupakan prosedur kerja dengan mencelupkan sampel ke dalam
akuades dengan perbandingan 1 : 9 (w/v). Contohnya sampel daun diambil dan
ditimbang 5 g kemudian dibilas dengan akuades 45 ml yang terdapat dalam
beaker glass.
c. Maseration (pengancuran), sampel yang berbentuk padat dapat ditumbuk
dengan mortar dan pestle sehingga mikroba yang ada dipermukaan atau di
dalam dapat terlepas kemudian dilarutkan ke dalam air. Contoh sampelnya
antar lain bakso, biji, daun, buah dll. Perbandingan antar berat sampel dengan

6
pengenceran pertama adalah 1 : 9 (w/v). Untuk sampel dari tanah tak perlu
dimaserasi.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Pada praktikum Isolasi Mikroorganisme, dilaksanakan pada hari Senin, 16
April 2018 pada jam 13.00–14.40 WIB. Bertempat di Laboratorium Bioteknologi
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu tabung reaksi, rak tabung
reaksi, batang L, pipet tetes, bunset, erlenmeyer, dan mikropipet. Sedangkan
bahan yang digunakan adalah media NA, aquades, dan sampel tanah vegetasi dan
non vegetasi.

3.3. Cara kerja


Adapun cara kerja dari praktikum media pertumbuhan ini adalah:
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dijelaskan pengertian isolasi dan cara isolasi mikroorganisme oleh asisten
laboratorium
3. Hasil dimasukkan kedalam tabel hasil

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 4.1.1 Hasil Pengenceran 10-7
No Gambar Keterangan
1.  Vegetasi

2.  Non vegetasi

Tabel 4.1.2 Hasil Pengenceran 10-8


No Gambar Keterangan

8
1.  Vegetasi

3.  Non vegetasi

4.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini mengenai isolasi mikroorganisme. Isolasi
mikroorganisme adalah suatu usaha untuk menumbuhkan mikroba diluar dari
lingkungan alamiahnya. Pemisahan mikroorganisme dari lingkungan ini bertujuan
untuk memperoleh biakan bakteri yang sudah tidak bercampur lagi dengan bakteri
lainnya dan disebut biakan murni. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan
satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari camouran
bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya
dalam media padat, sel-sel mikroba akan membentuk koloni sel yang tetap pada
tempatnya (Dwidjoseputro, 2005). Dalam melakukann isolasi mikroorganisme,
terdapat beberapa teknik yang bisa dilakukan sesuai dengan bahan yang akan
diisolasi. Teknik isolasi mikroorganisme dibagi menjadi isolasi pada cawan
agar,isolasi pada medium cair, dan isolasi sel tunggal metode cawan sebar dan
teknik dilusi. Adapun cara mengisolasi mikroba dibagi menjadi dua yaitu metode
pengenceran dan metode penuangan. Menurut Volk (1993), dua diantaranya yang
paling sering digunakan dalam mengisolasi mikroba adalah metode cawan gores

9
dan metode cawan tuang yang didasarkan pada prinsip pengenceran dengan
maksud untuk memperoleh spesies individu. Dengan anggapan bahwa setiap
koloni dapat terpisah dari satu jenis sel yang dapat diamati.
Pada praktikum kali ini, isolasi dilakukan pada bahan tanah vegetasi dan tanah
non vegetasi. Tanah vegetasi adalah tanah yang bagian atas tanahnya ditumbuhi
oleh tumbuhan atau tanaman. Sedangkan tanah non vegetasi adalah tanah yang
tidak ditumbuhi oleh tumbuhan. Dalam melakukan praktikum ini, dilakukan
dengan metode atau cara isolasi pengenceran. Menurut Almunady (2016),
pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah dalam perhitungan jumlah koloni
mikroba yang tumbuh, baik warna maupun karakteristik lainnya serta berguna
untuk mendapatkan bakteri secara spesifik. Metode pengenceran pada prinsipnya
adalah melarutkan atau melepaskan mikroba dari substratnya ke dalam air
sehingga lebih mudah penanganannya. Macam-macam preparasi bergantung
kepada bentuk sampel. Macam-macam teknik pengenceran yaitu ulas, bilas dan
pengancuran.
Metode pengenceran digunakan dengan cara pengancuran karena bahan yang
digunakan berupa padatan atau tanah sehingga harus dihancurkan terlebih dahulu
sebelum dilakukan isolasi. Hal pertama yang dilakukan dalam praktikum kali ini
yaitu menyiapkan sampel tanah vegetasi dan non vegetasi, selanjutnya
semprotkan alkohol 97% ke cawan petri agar steril. Kemudian menimbang tanah
vegetasi dan non vegetasi dengan menggunakan timbangan statik masing-masing
sebanyak 1 gram. Setelah tanah ditimbang, kemudian dimasukkan kedalam
tabung reaksi yang sudah berisi aquades yang telah disterilisasi dengan autoklaf.
Tabung reaksi harus steril karena kebersihan alat dan bahan yang digunakan peda
saat praktikum akan mempengaruhi hasil dari praktikum yang dilakukan. Oleh
karena itu, tabung reaksi ditutup dengan menggunakan alumunium foil dan
ditambahkan perekat agar udara luar tidak masuk kedalam. Tabung reaksi yang
digunakan dalam raktikum kali ini berjumlah 16, yaitu 8 untuk tanah vegetasi dan
8 tabung lainnya untuk tanah non vegetasi. Tabung reaksi disusun dengan rapi di
rak tabung reaksi. Setelah itu, masukkan tanah vegetasi dan non vegetasi 1 gram
kedalam tabung reaksi yang pertama 10-1 yang mengandung aquades 9 ml
kemudian homogenkan. Setelah homogen, ambil 1 ml larutan dari tabung reaksi

10
yang pertama dan dimasukkan kedalam tabung reaksi kedua 10 -2 secara aseptik
kemudian kocok dengan membenturkan tabung ketelapak tangan sampai
homogen. Pemindahan dilakukan dengan menggunakan pipet tetes yang steril.
Pemindahan dilanjutkan hingga tabung pengenceran terakhir yaitu pada tabung
reaksi yang ke delapan 10 -8 dengan cara yang sama dan bertingkat. Hal tersebut
sesuai dengan pernyataan Leni (2010), Tujuan dari pengenceran bertingkat yaitu
memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan.
Penentuan besarnya atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung kepada
perkiraan jumlah mikroba dalam sampel.
Setelah tanah dihomogenkan, selanjutnya yaitu bahan ditanam pada media NA.
Menurut Leni (2010), Medium NA berfungsi untuk membiakan berbagai macam
mikroorganisme serta kultur bakteri. Pengambilan suspensi dapat diambil dari
pengenceran mana saja tapi biasanya untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni
tunggal) diambil beberapa tabung pengenceran terakhir. Pada tanah yang vegetasi,
diambil suspensi pada tabung ke tujuh dan ke delapan begitupun dengan tanah
non vegetasi. Tanah non vegetasi memiliki bakteri yang lebih sedikit
dibandingkan dengan tanah yang vegetasi karena kurangnya sumber makanan
yang tersedia bagi bakteri sebab tanah non vegetasi tidak ditumbuhi tanaman.
Oleh karena itu, sebenarnya pada tanah non vegetasi, suspensi dapat diambil pada
tabung reaksi yang ke tiga atau yang keempat karena mikroba yang terdapat
didalam tanah sangat sedikit. Hal itu juga dapat dilihat dari warna tahan yang
berbeda, tanah vegetasi memiliki warna yang lebih pekat daripada tanah non
vegetasi. Sebelum dimasukkan kedalam cawan petri, sampel tanah dicampurkan
terlebih dahulu dengan media NA.
Setelah itu, baru dimasukkan kedalam cawan petri dan didiamkan. Sebelum
ditambahkan dengan sempel tanah, terlebih dahulu dibuat media NA dan
didinginkan dengan menggunakan inkubator. Sebelum media NA disterilisasi,
cawan petri ditutup dengan rapat dan ditambahkan dengan wrapping plastik agar
larutan tidak berceceran keluar. Saat disterilisasi, cawan petri dibalik sehingga
bagian atas dari cawan petri berada dibawah. Hal ini dilakukan karena pada saat
sterilisasi dengan menggunakan autoklaf yang memiliki prinsip kerja dengan uap
air, dikhawatirkan air akan masuk kedalam cawan petri dan mengenai media

11
sehingga media akan bercampur dengan air dan bisa memyebabkan media keluar
dari cawan petri karena bertambahnya volume yang terdapat didalam cawan petri.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa pada sampel tanah
vegetasi 10-7 terlihat mikroba yang lebih banyak dibandingkan dengan hasil dari
sampel tanah vegetasi 10-8. Sedangkan pada sampel tanah non vegetasi 10 -7
hasilnya juga lebih banyak dari sampel tanah non vegetasi 10-8. Hal ini disebabkan
karena pada saat pengenceran, menggunakan metode pengenceran bertingkat
sehingga semakin banyak pengenceran yang dilakukan, maka akan semakin
sedikit mikroba yang terkandung dalam tanah atau semakin spesifik mikroba yang
ada. Hasil mikroba pada sampel tanah vegetasi baik 10 -7 maupun 10-8 lebih banyak
dari hasil sampel pada tanah non vegetasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Dwidjoseputro (2005), tanah non vegetasi memiliki jumlah mikroba lebih sedikit
dibandingkan tanah vegetasi karena pada tanah vegetasi, unsur hara yang
dibutuhkan oleh mikroba lebih banyak dibandingkan dengan unsur hara yang
terdapat pada tanah non vegetasi. Mikroba yang tumbuh dalam media juga hanya
bakteri saja. hal ini dikarenakan media yang digunakan dalam isolasi mikroba ini
yaitu media NA yang diketahui hanya bisa membiakkan mikroba bakteri.
Bakteri memiliki bentuk bulat (coccus), batang (basil), dan lengkung (spiral).
Namun bentuk bakteri juga dapat dipengaruhi oleh umur. Bakteri dapat
mengalami perubahan bentuk yang disebabkan faktor makanan, suhu, dan
lingkungan juga dapat mengalami pleomerfi, yaitu bentuk yang bermacam-macam
dan teratur walaupun ditumbuhkan pada syarat pertumbuhan yang sesuai. Bakteri
dapat hidup soliter maupun berkoloni dan berkembang biak dengan cara
membelah diri. Bakteri juga mempunyai beberapa morfologi koloni, yaitu
circular, irregular, spindle, filamentous dan rhizoid.

12
BAB V
PENUTUP

5.1. Simpulan
Dari praktikum yang sudah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan Isolasi
merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari
lingkungan, sehingga diperoleh kultur murni. Cara-cara pengisolasian mikroba
dengan cara isolasi ke media padat dan isolasi ke media cair. Teknik-teknik isolasi
ke media padat dengan cara agar miring, teknik sebar, teknik tuang, dan teknik
gores. Hasil praktikum menunjukkan bahwa tanah vegetasi lebih banyak
mengandung mikroba dari pada tanah non vegetasi karena di tanah vegetasi
memiliki unsur hara yang lebih banyak daripada tanah non vegetasi. Pada tanah
10-7 menunjukkan mikroba yang lebih banyak dibanding tanah 10-8 baik pada
sampel tanah vegetasi maupun non vegetasi. Metode yang digunakan yaitu
pengenceran bertingkat yang bertujuan untuk memperkecil atau mengurangi
jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan.

5.2. Saran
Saran saya untuk praktikum kali ini yaitu isolasi mikroorganisme adalah salah
satu praktikum yang penting. Praktikan dianjurkan dalam melakukan isolasi harus
dilakukan dengan sangat hati-hati agar praktikum bisa berjalan dengan lancar dan
praktikum bisa lebih kondusif lagi.

13
DAFTAR PUSTAKA

Almunady. 2016. Isolasi Mikroba Penghasil Antibiotika Dari Tanah Kampus


Unsri Indralaya Menggunakan Media Ekstrak Tanah. Jurnal Penelitian
Sains. Vol. 14, No. 3
Aprianto. 2004. Pengantar Mikrobiologi Umum . Bandung. Angkasa.
Dwidjoseputro, D.2005. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Erlangga
Ferdiaz. 1992. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta. Universitas Indonesia
Hadioetomo, Ratna, 1990, Mikrobiologi Dalam Praktek. Jakarta : PT Gramedia.
Kawuri, R., Y. Ramona dan I. B. G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum
Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga
Kusnadi, Peristiwati dkk,  2003, Mikrobiologi. Bandung: Universitas Pendidikan
Lay,B. W. dan Hastowo. 1992. Mikrobiologi. Jakarta. Rajawali Press.
Leni, Bernadeta. 2010. Isolasi Dan Seleksi Bakteri Pendegradasi Paraquat Dari
Tanah Pertanian Di Kampar Riau. Jurnal Teknologi. Vol. 1, No. 2
Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.

14
15

Anda mungkin juga menyukai