Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt. serta penulis ucapkan
terima kasih kepada asisten laboratorium yang sudah membimbing penulis
sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum tentang Uji
Klorofil II (kualitatif) yang digunakan sebagai salah satu syarat yang harus penuhi
untuk menunjang mata kuliah Biokimia Tanaman tepat pada waktunya.
Penulis harap laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca karena
didalamnya terdapat pengetahuan mengenai Uji Klorofil II (kualitatif). Penulis
menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat pada laporan ini. Dikarenakan
kurangnya pengetahuan serta sumber buku yang didapatkan. Untuk itu, Penulis
harapkan kritik yang membangun untuk lebih meningkatkan kualitas laporan ini.

Serang, Mei 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
DAFTAR TABEL................................................................................................iii
BAB. I .PENDUHULUAN
1.1. Latar Belakang......................................................................................1
1.2. Tujuan...................................................................................................1
BAB. II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Klorofil................................................................................2
2.2. Fotosintesis............................................................................................2
2.3. Faktor Fotosintesis................................................................................3
2.4. Uji Fotosintesis.....................................................................................4
2.5. Pengaeruh Cahaya Terhadap Fotosintesis.............................................7
BAB. III. METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat................................................................................8
3.2. Alat dan Bahan......................................................................................8
3.3. Cara kerja..............................................................................................8
BAB. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil......................................................................................................9
4.2. Pembahasan...........................................................................................9
BAB. V. PENUTUP
5.1. Simpulan...............................................................................................12
5.2. Saran......................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................iv
LAMPIRAN.........................................................................................................v

2
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Uji Klorofil II (kualitatif)...............................................................9

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.....................................................................................................................
Latar Belakang
Suatu ciri hidup yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan hijau
adalah    kemampuan dalam menggunakan  zat karbon dari udara untuk diubah
menjadi bahan organik serta diasimilasi dalam tubuh tumbuhan.  Proses ini
disebut fotosintesis. Fotosintesis atau  asimilasi karbon adalah proses pengubahan
zat-zat anorganik H2O dan   CO2 oleh klorofil menjadi zat organik karbohidrat
dengan bantuan cahaya. Proses fotosintesis hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan
yangmempunyai pigmen fotosintetik yang mampu melakukan fotosintesis, karena
pigmen itulah yang mampu menangkap energi dari cahaya.  Jika fotosintesis
adalah suatu proses penyusunan (anabolisme atau asimilasi) di mana energi
diperoleh dari sumber cahaya dan disimpan sebagai zat kimia,maka proses
respirasi adalah suatu proses pembongkaran (katabolisme atau disasimilasi)  di
mana energi yang tersimpan dibongkar kembali untuk menyelenggarakan proses –
proses kehidupan (Campbell, 2002).
Klorofil adalah zat pemberi warna hijau pada proses fotosintesis yang
terdapat dalam organisme fotoautotrof seperti tumbuhan, Algae dan Cynobacteria.
Fungsi klorofil pada tanaman yaitu untuk menyerap cahaya matahari yang
digunakan untuk reaksi fotosintesis terutama pada fase terang. Pada umumnya
klorofil disintesis pada daun untuk menangkap cahaya matahari. Setiap klorofil
memiliki kemampuan yang berbeda beda dalam menangkap gelombang cahaya
matahari bergantung pada lingkungan dan faktor genetiknya. Beberapa faktor
yang mempengaruhi sintesis klorofil yaitu cahaya, gula atau karbohidrat, air,
temperatur (Kimball, 1999).

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk mendeteksi bagian daun
manakah yang aktif berfotosintesis.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Klorofil


Klorofil adalah pigmen hijau fotosintetis yang terdapat dalam tanaman algae
dan Cynobacteria. nama "chlorophyll" berasal dari bahasa Yunani kuno
choloros= green(hijau), and phyllon= leaf (daun). Fungsi krolofil pada tanaman
adalah menyerap energi darisinar matahari untuk digunakan dalam proses
fotosintetis yaitu suatu proses biokimiadimana tanaman mensintesis karbohidrat
(gula menjadi pati), dari gas karbon dioksida danair dengan bantuan sinar
matahari. Klorofil adalah pigmen karena menyerap cahaya, yakni radiasi
elekromagnetik pada spectrum kasat mata(visib). Senyawa putih mengandung
semua warna spectrum kasat mata dari merah sampai violet. Tetapi seluruh
panjang gelombang unsurnya tidak di serap dengan baik secara merata oleh
klorofil (Champbell, 2002).
. Klorofil berasal dari proplastida yaitu plastida yang belum dewasa, kecil dan
hampir tidak berwarna dan sedikit atau tanpa membran dalam. Proplastida
membelah saat embrio berkembang, dan menjadi kloroplas ketika daun dan
batang terbentuk. Pada organ yang terkena cahaya matahari, kloroplas muda akan
aktif membelah. Kloroplas terutama berfungsi adalah sebagai tempat
berlangsungnya fotosintesis. Pigmen-pigmen pada membran tilakoid akan
menyerap cahaya matahari atau sumber cahaya lainnya dan mengubah energi
cahaya tersebut menjadi energi kimia dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP)
(Robert, 2002).

2.2. Fotosintesis
  Fotosintesis berasal dari kata foton yang berarti cahaya dan sintesis yang
berarti penyusunan. Fotosintesis merupakan aktifitas fisiologis yang khusus
dilakukan oleh organism fotosintetik, terutama kelompok tumbuhan. Fotosintesis
dapat diartikan suatu proses penyusunan zat karbohidrat dengan cahaya sebagai
energinya. Hanya organisme yang mempunyai pigmen fotosintetik yang mampu

2
melakukan fotosintesis, karena pigmen itulah yang mampu menangkap energi dari
cahaya. Zat organik yang disusun dalam fotosintesis ini adalah karbohidrat
(Cn(H2O)n) yang berasal dari molekul CO2 dan H2O. Sebagai hasil sampingan
adalah molekul O2. Proses fotosintesis dapat dirumuskan dalam persamaan
sebagai berikut (Anwar, 2001):        
                                           cahaya
6CO2 + 12H2O  C6H12O6 + 6O2 + 6H2O
                                    pigmen. f.s
Cahaya yang dapat dipergunakan dalam fotosintesis ini mempunyai
syarat kualitas (jenis gelombang) dan kuantitas (intensitas cahaya) tertentu. Dalam
kondisinormal, cahaya matahari memenuhi semua syarat itu, sehingga secara
alami, cahaya matahari merupakan    sumber energi bagi fotosintesis. Pigmen
fotosintetik,sebagai penangkap energi cahaya matahari, berupa klorofil dan atau
karotenoid. CO2 dan H2O sebagai substrat fotosintesis dapat berasal dari sisa
oksidasi dalam jaringan fotosintetik. Selain itu, CO2 dapat pula diambil dari
atmosfir melalui proses difusi melalui stomata, sedangkan H2O diambil
dari   lingkungan melalui proses absorbsi di akar atau bagian penyerapan lainnya.
Glukosa sebagai hasil utama fotosintesis segera ditranslokasikan ke bagian
tubuh   tumbuhan yang lain atau ditranslokasikan ke dalam jeringan penimbun dan
diubah menjadi 40 amilum. Bila laju fotosintesis tinggi, sebagian dari karbohidrat
yang terbentuk dalam fotosintesis ini diendapkan dalam kloroplas sebagai
amilum. Oksigen sebagai hasil sampingan fotosintesis, dilepaskan ke atmosfer
sebagai gas atau sebagian dimanfaatkan  pada respirasi dalam sel di mana
fotosintesis itu terjadi (Purwo, 1993) 

2.3. Faktor Fotosintesis


Fotosintesis dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari dalam maupun
faktor dari luar. Faktor dalam antara lain adalah umur daun, keadaan stomata,
jenis tumbuhan. Faktor luar antara lain adalah (Kimball, 1999) :
1) CO2 dan O2,
2) Ketersediaan air,
3) Kelembaban dan suhu udara

3
4) Keadaan cahaya.
Selain 4 faktor tersebut, bahan-bahan beracun juga akan mempengaruhi
fotosintesis. Misalnya herbisida, tumpahan minyak dan air sabun, logam-logam
berat, dsb. Cahaya matahari merupakan sumber energi utama fotosintesis. Albert
Einstein menyebut energi matahari sebagai foton (kuantum). Cahaya
mempengaruhi fotosintesis dalam tiga hal, yaitu (Champbell, 2000):
1) Intensitas
2) Lama pencahayaan
3) Warna cahayanya.
Menurut warna cahayanya, cahaya matahari terdiri atas 7 jenis warna sinar.
Bukti bahwa cahaya matahari tersusun atas bermacam-macam warna sinar dapat
kita lihat pada peristiwa pelangi. Ke tujuh warna sinar memiliki panjang
gelombang yang berbeda-beda. Berdasar urutan panjang gelombangnya dari
panjang ke pendek adalah meliputi sinar merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila
dan ungu. Untuk memudahkan menghafal, sering disingkat “me-ji-ku-hi-bi-ni-u”.
Tetapi tidak semua jenis sinar tersebut dimanfaatkan atau diserap secara optimal
oleh tumbuhan. Untuk fotosintesis dibutuhkan intensitas cahaya minimal tertentu.
Pada intensitas cahaya yang kurang, fotosintesisnya akan lambat. Sebaliknya,
pada intensitas yang lebih tinggi, fotosintesis akan lebih cepat. Hal itu nyata,
terutama pada tumbuhtumbuhan rumput, seperti jagung, tebu dan golongan
rumput yang lain. Kadar CO2 juga menjadi faktor penting. Fotosintesis cenderung
meningkat bila kadar CO2-nya lebih tinggi. Sebaliknya, keberadaan O2 justru akan
menghambat fotosintesis (Poedjiadi, 2005).

2.4. Uji Fotosintesis


Macam-macam uji yang digunakan dalam fotosintesis yaitu (Anwar, 2001):
a. Ingenhousz (1799)
Membuktikan bahwa pada fotosintesis dilepaskan O2. Hal ini dibuktikan
dengan percobaannya menggunakan tanaman air Hydrilla vertiolata di bawah
corong terbalik. Jika tanaman tersebut kena sinar, maka timbulah gelembung-
gelembung gas yang akhirnya mengumpul di dasar tabung reaksi. Gas ini
ternyata oksigen.

4
b. Engelmann (1822)
Membuktikan bahwa klorofil merupakan suatu factor keharusan dalam
fotosintesis. Untuk ini ia menyinari ganggang hijau Spirogyra yang
kloroplasnya berbentuk pita melingkar seperti spiral. Hanya kloroplas yang
kena sinar melepaskan oksigen. Ini terbukti dari banyaknya bakteri oksigen
yang berkerumun di sekitar tempat kloroplas yang kena sinar.
c. Sachs (1860)
Membuktikan bahwa pada fotosintesis terbentuk karbohidrat amilum. Adanya
amilum dapat dibuktikan dengan pengujian menggunakan yodium; amilum
dengan yodium akan memberikan warna hitam. Amilum hanya terdapat pada
bagian daun yang hijau dan kena sinar. Daun yang tertutup sepanjang hari tidak
mengandung amilum. Percobaan Sachs ini terkenal juga dengan nama “uji
yodium”. Pada Uji Sachs, digunakan larutan lugol yang bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya amilum pada daun tersebut. Jika terdapat amilum
maka pada bagian daun yang ditetesi iodin akan berubah warna menjadi biru
kehitaman. Pada saat daun ditetesi dengan iodin bagian yang sebelumnya
tertutup oleh aluminium foil tetap pucat, sedangkan yang tidak tertutup
aluminium foil warnanya menjadi biru kehitaman. Sehingga dapat dikatakan
bahwa pada bagian daun yang tidak ditutupi aluminium foil terdapat amilum,
sedangkan pada bagian daun yang ditutupi aluminium foil tidak terdapat
amilum. Amilum merupakan salah satu hasil dari proses fotosintesis, yang
berarti pada bagian daun yang terkena cahaya matahari terjadi proses
fotosintesis, sedangkan pada daun yang tidak terkena cahaya matahari tidak
terjadi proses fotosintesis. Hal ini sesuai dengan percobaan yang dilakukan
oleh Sachspada tahun 1860. Sachs membuktikan bahwa fotosintesis
menghasilkan amilum. Dalam percobaannya tersebut ia menggunakan daun
segar yang sebagian dibungkus dengan aluminium foil kemudian daun
tersebut direbus, lalu dimasukkan kedalam alkohol dan ditetesi dengan
iodium. Ia menyimpulkan bahwa warna biru kehitaman pada daun yang tidak
ditutupi aluminium foil menandakan adanya amilum
d. Hill (1937)

5
Berhasil mengikuti kegiatan kloroplas yang telah dipisahkan dari sel hidup.
Kloroplas lepas sel itu jika disinari mampu menghasilkan O 2 asal saja
tersediakan penampang electron (Fe 3+). Terlepasnya O2 itu dapat diperhatikan
pula dengan 2,6-diklorofenol-indofenol, yaitu zat yang tidak berwarna jika
dalam keadaan tersusut akan tetapi menjadi berwarna jika mengalami oksidasi.
Warna menjadi biru jika dalam keadaan basa dan warna merah jika dalam
keadaan asam. Meskipun tanpa CO2, penghasilan O2 oleh kloroplas tetap
berlangsung selama masih tersedia penampang electron, dari sini dapat ditarik
kesimpulan, bahwa O2 yang terlepas itu tidak berasal dari CO2 melainkan H2O.
hal ini juga dapat dibuktikan dengan menggunakan elemen penyusun. Reaksi
redoks dengan 2,6-diklorofenol-indofenol, zat ini dapat menampung H. Hill
lebih lanjut mengatakan bahwa sinar itu hanya perlu untuk memecahkan air;
pemecahan ini disebut fotolisis. Fotolisis mengakibatkan molekul air pecah
menjadi hydrogen dan oksigen, peristiwanya dapat dituliskan sebagai berikut:
2H2Oà 2H2 + O2. H2 yang terlepas itu ditampung oleh koenzim NADP. Dalam
hal demikian NADP dikatakan menjadi akseptor H2, dan terbentuknya menjadi
NADPH2, O22 oleh H2 yang dibawakan oleh NADP tersebut. Peristiwa
penyusutan CO2 tidak memerlukan sinar (dalam gelap). tetap dalam keadaan
bebas. Fotolisis inilah merupakan pendahuluan dalam proses fotosintesis.
Langkah berikut setelah fotolisis ialah penyusunan CO
e. Blackmann (1905)
Membuktikan bahwa reduksi dari CO2 ke CH2O itu berlangsung tanpa sinar.
Oleh Emerson(1932) diperkirakan reduksi ini makan waktu 2.10 -2 detik. Jika
fotolisis yang disebut juga reaksi Hill atau reaksi terang itu kita gabungkan
dengan reaksi berikutnya, yaitu reaksi Blackmann (yang disebut juga reaksi
gelap atau reduksi CO2 jadilah:
1) Hill: 2H2O       2NADPH2 + O2
2) Blackmann: CO2 + 2NADPH2 + O2  2NADP + H2 + CO + O + H2 +
O2
atau : 2H2O + CO2   CH 2O + H2O + O2 kalau baris terkhir ini dikali 6,
maka diperoleh:
6CO2 + 12H2O                C6H12O6 + 6O2 + 6H2O.

6
2.5. Pengaruh Cahaya Terhadap Fotosintesis
Cahaya matahari merupakan sumber energi utama fotosintesis. Cahaya
pengaruhnya lewat intensitas, kualitasnya, lama penyinaran dan besarnya
pantulan. Untuk fotosintesis dibutuhkan intensitas cahaya minimal tertentu. Pada
intensitas cahaya yang kurang, fotosintesisnya akan lambat. Sebaliknya, pada
intensitas yang lebih tinggi, fotosintesis akan lebih cepat. Cahaya matahari terdiri
atas beberapa spektrum, masing-masing spektrum mempunyai panjang gelombang
berbeda, sehingga pengaruhnya terhadap proses fotosintesis juga berbeda (Robert,
2002).
Terdapat urutan panjang gelombangnya dari panjang ke pendek adalah
meliputi sinar merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Klorofil menyerap
semua warna sinar, kecuali sinar hijau yang justru dipantulkan oleh klorofil,
sehingga daun tampak berwarna hijau. Warna merah salah satu yang memiliki
panjang gelombang yang paling efektif diserap oleh klorofil. Spektrum cahaya
merah merupakan spektrum cahaya yang paling efektif untuk digunakan dalam
aktivitas fotosintesis tumbuhan perairan (Champbell, 2002).

7
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu


Pada praktikum Uji Klorofil II (Kualitatif) dilaksanakan di Laboratorium
Bioteknologi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa pada hari Jum’at, 27 April 2018 pada jam 07.30 – 09.10 WIB.

3.2. Alat dan Bahan


Pada praktikumUji Klorofil II (Kualitatif), alat yang digunakan yaitu gelas
beaker 250 mL, gelas beaker 1000 mL, hot plate, pinset, cawan petri, penjepit
kertas dan stopwatch.
Sedangkan bahan yang digunakan yaitu air, etanol 96%, daun lada muda,
daun lada tua, kertas alumunium dan betadine.

3.3. Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum kali ini yaitu:
1. Daun ditutup sebagian dengan menggunakan kertas alumuniaum poil
2. Daun dibiarkan terkena sinar matahari selama beberapa jam
3. Daun dipetik lalu dicelupkan kedalam air mendidih sampai daun tersebut
layu ± 10 menit
4. Daun diambil lalu dimasukkan kedalam alkohol panas ± 7 menit atau
sampai daun menjadi pucat
5. Daun diambil lalu dicuci dengan air kemudian diletakkan kedalam cawan
petri
6. Daun ditetesi dengan iodine (betadine)
7. Diamati perubahan warna yang terjadi

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Tabel 1. Uji Klorofil II (kualitatif)
No Jenis daun Warna daun Keterangan
Bagian yang Bagian yang tidak
ditutupi ditutupi
1. Daun muda Hijau muda Hijau muda Tidak
mengandung
amilum
2. Daun tua Hijau tua Hijau tua Tidak
mengandung
amilum

4.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas tentang uji klorofil kualitatif. Menurut
Sumenda (2011), klorofil yaitu pigmen hijau fotosintetis yang terdapat dalam
tanaman klorofil sangat berperan penting dalam proses fotosintesis karena
klorofil merupakan tempat berlangsungnya fotosintesis, klorofil terdapat dalam
organ kloroplas. Proses fotosintesis yang terjadi pada tubuh tumbuhan akan
menghasilkan amilum (karbohidrat). Hal ini dapat kita lihat pada definisi
fotosintesis itu sendiri. Fotosintesis atau asimilasi karbon adalah proses
pengubahan zat-zat anorganik H2O dan CO2 oleh klorofil menjadi zat organik
karbohidrat dengan bantuan cahaya. Praktikum kali ini menggunakan metode uji
sach yaitu metode uji yang bertujan untuk mengetahui apakah tanpa cahaya daun
tidak berfotosintesis. Percobaan ini berdasar pada ciri hidup yang hanya dimiliki
oleh tumbuhan hijau yaitu kemampuan dalam menggunakan karbon dioksida dari
udara untuk diubah menjadi bahan organik serta direspirasikan /desimilasi bahan
organik dalam tubuhnya sehingga zat organik itu bisa digunakan untuk aktivitas
makhluk hidup.
Praktikum kali ini dilakukan dilaboratorium Bioteknologi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada hari Jum’at, 27 April
2018 pada jam 07.30 – 09.10 WIB. Hal pertama yang dilakukan pada praktikum

9
kali ini yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
seperti gelas beaker 250 mL, gelas beaker 1000 mL, hot plate, pinset, cawan petri,
penjepit kertas dan stopwatch, air, etanol 96%, daun lada muda, daun lada tua,
kertas alumunium dan betadine. Setelah itu, dijelaskan tentang fotosintesis dan
amilum oleh asisten laboratorium kepada praktikan, baru praktikum dilakukan.
Setelah menerima arahan, hal yang pertama dilakukan yaitu memanaskan air dan
etanol 96% dalam gelas beaker 250 dan 1000 mL dengan menggunakan hot plate.
Gelas beaker yang berisi etanol ditempatkan diengah gelas beaker yang berisi air.
Kemudian sebagian daun lada tua dan muda ditutupi oleh alumunium poil,
penutupan ini dilakukan pada saat daun masih berada ditanamannya setelah itu
diamkan beberapa menit agar daun menerima sinar matahari. Penggunaan
alumunium poil pada daun yaitu sebagai penghambat jalannya sinar matahari
mengenai daun tersebut, kemudian petik daun dan celupkan kedalam air pnas
selama ± 10 menit atau sampai daun menjadi layu. Perebusan dengan
menggunakan air ini untuk mematikan sel-sel yang terdapat pada daun. Sel-sel
daun yang rusak akan memecah amyloplas, yaitu plastida yang digunakan untuk
menyimpan amilum. Jika amyloplas pecah maka amylum akan bebas tersebar
sehingga ketika terkena larutan iodium/ioidine akan mudah menampakkan warna
birunya. Setelah dipanaskan daun lada berwarna lebih pucat daipada sebelum
dipanaskan. Kemudian daun dimasukkan kedalam alkohol panas selama ± 7 menit
untuk melunturkan kandungan klorofil pada daun. Selanjutnya daun diangkat dan
dibersihkan dengan menggunakan aquades lalu diletakkan didalam cawan petri
dan diberikan betadine. Larutan iodium ini berfungsi sebagai indikator untuk
menentukan apakah pada daun terdapat amilum/glukosa atau tidak.
Hasil dari praktikum yang telah dilakukan yaitu pada daun lada muda
sebelum ditetesi dengan betadine berwarna hijau muda sedangkan setelah ditetesi
betadine daun tidak berubah warna. Hal ini juga terjadi pada daun lada tua. Hal
tersebut dikarenakan karena pada praktikum kali ini mengguakan betadine dan
bukan iodine. Kandungan 10% iodine didalam betadine hanya berkisar 1 % saja
sehingga mengakibatkan daun tidak berubah warna karena kandungan iodine yang
sangat sedikit. Jika dilihat dari literatur lain menyatakan bahwa seharusnya daun
yang tidak tertutupi oleh alumunium poil berubah warna karena daun tersebut

10
berfotosintesis.
Hasil praktikum kali ini tidak sesuai dengan pernyataan Buana (2011), yang
menyatakan bahwa fotosintesis memerlukan cahaya, buktinya bagian daun yang
terbuka terkena cahaya matahari langsung terbentuk amilum dari hasil fotosintesis
Fotosintesis menghasilkan amilum, buktinya bagian daun yang ditutup aluminium
foil (tidak terkena cahaya) berwarna pucat / tidak mengandung amilum karena
tidak berlangsung fotosintesis. Proses fotosintesis memerlukan cahaya matahari,
terjadi pada tumbuhan yang berklorofil. Dalam proses fotosintesis menghasilkan
amilum. Ini bisa diketahui ketika permukaan daun yang terkena cahaya ditetesi
larutan iodium warnanya berubah menjadi kehitaman. Bagian daun yang tidak
terkena cahaya tidak akan melakukan fotosintesis sehingga tidak membentuk
amilum dan warnanya pucat.
Menurut Handoko (2015), pada daun terkena sinar matahari yang dicelupkan
dalam alkohol panas warnanya berubah menjadi hijau pucat. Dimana zat hijau
daun (klorofil) telah larut dalam alkohol, hal ini sesuai dengan fungsi alkohol
sebagai zat pelarut klorofil dalam daun. Kemudian setelah ditetesi dengan iodin,
timbul bercak-bercak hitam. Hal tersebut membuktikan bahwa di dalam daun
yang tidak ditutup aluminium foil terkandung amilum yang dihasilkan dari proses
fotosintesis dan pengaruh sinar matahari. Namun hal tersebut tidak terjadi pada
praktikum yang dilakukan, hal ini bisa disebabkan karena pada saat praktikum
cuaca sedang mendung sehingga sinar matahari tidak dapat mengenai daun atau
karena kurangnya tingkat kandungan iodine yang terdapat pada betadine.

BAB V
PENUTUP

11
1.1. Simpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa
fotosintesis memerlukan cahaya dan menghasilkan amilum 
fotosintesis merupakan proses pembentukan bahan organik (karbohidrat) dengan
bantuan sinar matahari, fotosintesis ini terjadi hanya pada sel-sel yang mempunyai
klorofil, cahaya matahari merupakan sumber energi utama fotosintesis dimana
dengan bantuan cahaya matahari subtrat karbon dioksida (CO 2) dan air (H2O)
dalam reaksi fotosintesis dapat menghasilkan karbohidrat (C6H12O6) dan Oksigen
(O2). Namun praktikum kali ini bisa dikatakan gagal karena tidak adanya
perubahan warna pada daun serta tidak adanya bercak-bercak yang
mengidentifikasikan adanya amilum pada daun tersebut. Hal ini disebabkan
karena penggunakan iodine dengan kadar yang sangat kecil. Iodine diperlukan
karena pada saat daun yang terbuka yang telah dicelupkan kedalan alkohol panas
ditambahkan iodine, maka akan terjadi perubahan warna pada daun tersebut.

5.2. Saran
Saran saya dalam praktikum uji klorofil II (kualitatif) ini adalah sebaiknya
praktikan memahami terlebih dahulu metode yang akan dilakukan. Alat yang
digunakan harus dalam keadaan bersih dan harus berhati hati saat penggunaan
sampel karena mudah rusak, serta dalam melakukan uji tersebut praktikan harus
lebih berhati-hati pada saat pengambilan bahan-bahan yang bersifat korosif .

12
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Lehinger. 2001. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.


Buana, eqi, dkk. 2011. Makalah uji amilum dan lugol. Bogor: Regina
Campbell, N. A. 2000. Biologi Edisi Lima . Jakarta: Erlangga.
Campbell, N. A. 2002. Biologi Jilid I. Erlangga. Jakarta. 
Kimball, J. W. 1999. Biologi Umum. Jakarta: Erlangga.
Handoko. 2015. Pengaruh Spektrum Cahaya Tampak Terhadap Laju Fotosintesis
Tanaman Air . Jurnal Agroekoteknologi. Vol. 1, No. 3
Poedjiadi, Anna, 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia
PRESS
Purwo, Arbianto. 1993. Konsep-konsep Dasar Biokimia. Bandung: Kimia Farma-
Institut Teknik Bandung.
Robert K. Murray, et all., 2002, Biokimia Harper. Jakarta: Erlangga
Sumenda, Lusia, dkk. 2011. Analisis Kandungan Klorofil Daun Mangga
(Mangifera indica L.) pada Tingkat Perkembangan Daun yang Berbeda.
Jurnal Bioslogos. Vol. 1 No. 1

iv
v