Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan

1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil tahu, yang terjadi setelah seseorang melakukan

pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra

manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan

merupakan hasil dari apa yang diketahui seseorang yang didapatkan secara formal

maupun informal. Pengetahuan formal ini diperoleh dari pendidikan sekolah, sedangkan

pendidikan informal diperoleh dari luar sekolah seperti dari lingkungan keluarga, orang

lain dalam pergaulan sehari-hari dan dapat juga diperoleh dari media informasi yaitu

media cetak seperti: buku, majalah, media elektronik seperti tv, radio, dan internet

(Notoatmodjo, 2007, hlm.139).

2. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

tindakan seseorang (overtt behavior). Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif

mempunyai 6 tingkatan yaitu:

Universitas Sumatera Utara


a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang

spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

b. Memahami (Komprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara

benar.

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya).

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

kedalam struktur organisasi dan masih kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini

dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan,

memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

e. Sintesis (Synthesis)

Universitas Sumatera Utara


Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam satu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan

kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari

formulasi-formulasi yang telah ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan justrifikasi atau

penelitian terhadap suatu materi atau objek penelitian tersebut di dasarkan kriteria yang

di tentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

B. Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap

stimulus atau objek. Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa

sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan

pelaksanaan motif tertentu (Notoadmojo, 2007, hlm.142).

Sikap mempunyai beberapa ciri-ciri yaitu :

1. Sikap bukan di bawa sejak lahir, melainkan di bentuk atau di pelajari sepanjang

perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objek.

Universitas Sumatera Utara


2. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat di pelajari dan karena itu pula sifat

dapat berubah-ubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-

syarat tertentu yang mempermudah sikap orang itu.

3. Sikap tidak berdiri sendiri, senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu

objek. Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan

kumpulan dari data-data tersebut.

4. Sikap mempunyai segi motivasi dan segi-segi perasaan.

Selain itu, Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai 3 komponen

pokok, antara lain :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

3. Kecenderungan untuk bertindak.

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total

attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengethuan, pikiran, keyakinan, dan

emosi memegang peranan penting (Notoatmodjo, 2007, hlm.143).

Seperti halnya pengetahuan, sikap juga terdiri dari berbagai tingkatan yaitu

Menerima (receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus

yang diberikan (objek), Merespon (responding) memberikan jawaban bila di tanya,

Universitas Sumatera Utara


mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap,

Menghargai (valuing) mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu

masalah adalah suatu indikasi tingkat tiga, dan Bertanggung jawab (responsibility)

bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala resiko adalah

sikap yang paling tinggi.

Sedangkan fungsi sikap dibagi menjadi 4 golongan yaitu :

1. Sebagai alat untuk menyesuaikan

Sikap adalah sesuatu yang bersifat communocable, artinya sesuatu yang mudah

mengajar, sehingga mudah pula menjadi milik bersama. Sikap bisa menjadi rantai

penghubung antara orang dengan kelompok atau dengan anggota kelompok lainnya.

2. Sebagai alat pengatur tingkah laku

Pertimbangan dan reaksi pada anak, dewasa, dan yang sudah lanjut usia tidak ada.

Perangsang itu pada umumnya tidak diberi perangsang spontan, akan tetapi terdapat

adanya proses secara sadar untuk menilai perangsang-perangsang itu.

3. Sebagai alat pengatur pengalaman

Manusia didalam menerima pengalaman-pengalaman secara aktif, artinya semua

berasal dari dunia luar tidak semua dilayani oleh manusia, tetapi manusia memilih

Universitas Sumatera Utara


mana hal-hal yang perlu dan mana yang tidak perlu dilayani. Jadi semua pengalaman

di beri penilaian lalu dipilih.

4. Sebagai pernyataan kepribadian

Sikap sering mencerminkan pribadi seseorang ini disebabkan karena sikap tidak

pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya oleh karena itu sikap-sikap pada

objek tertentu, sedikit banyak orang bisa mengetahui pribadi orang tersebut.

C. Pengertian Ibu

Ibu merupakan wanita yang melahirkan seorang anak. Pada dasarnya Ibu adalah

perempuan karena fungsinya yang mulia maka disebut Ibu. Ibu bukanlah seorang yang

telah menikah, seorang istri, atau seorang anak perempuan yang mempunyai kedudukan

atau posisi penting. Tetapi Ibu adalah sebutan untuk menghormati kodrat perempuan

sebagai satu-satunya jenis kelamin yang mampu melahirkan anak, menikah, atau tidak

mempunyai kedudukan maka perempuan adalah seorang Ibu.

D. Keluarga Berencana

1. Definisi Keluarga Berencana

Menurut WHO (World Health Organisation) Expert Committee 1970 adalah

tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk menghindari

kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol

Universitas Sumatera Utara


waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri dan menentukan jumlah

anak dalam keluarga (Hartanto, 2004, hlm.26-27).

Menurut UU No.10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan

Pembangunan Keluarga Sejahtera adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta

masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran,

pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan

sejahtera (Arum, Sujiyatini, 2009, hlm.28).

2. Tujuan Program KB

Tujuan utama program KB nasional adalah untuk memenuhi perintah masyarakat

akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas, menurunkan tingkat atau

angka kematian Ibu, bayi dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi

dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas.

E Definisi Tubektomi

Kontrasepsi mantap pada wanita adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur

yang mengakibatkan orang atau pasangan yang bersangkutan tidak akan mendapat

keturunan lagi. Kontrasepsi ini untuk jangka panjang dan sering disebut tubektomi atau

sterilisasi (Handayani, 2010, hlm.182).

Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas

(kesuburan) seorang perempuan yang dilakukan dengan cara eksisi atau menghambat

Universitas Sumatera Utara


tuba fallopi yang membawa ovum dari ovarium ke uterus. Tindakan ini mencegah ovum

dibuahi oleh sperma di tuba falopii (Everett,2008, hlm.252).

1. Jenis-jenis Tubektomi

a. Minilaporatomi adalah sterilisasi tuba yang dilakukan melalui suatu insisi

suprapubik kecil dengan panjang biasanya 3-5 cm. Minilaparotomi merupakan

metode sterilisasi wanita yang paling sering dilakukan di seluruh dunia karena

keamananya, kesederhanaannya, dan kemudahan adaptasinya terhadap lingkungan

bedah (Speroff, Darney, hlm.357).

Keuntungan minilaparotomi dapat dikerjakan oleh setiap tenaga medis yang

memiliki dasar-dasar ilmu bedah dan keterampilan bedah, hanya memerlukan alat-

alat yang sederhana dan tidak mahal terutama alat-alat bedah standar, komplikasi

umumnya hanya komplikasi minor dan dapat dilakukan segera setelah melahirkan

(Hartanto, 2004, hlm.251).

Kerugian minilaparotomi yaitu waktu operasi sedikit lebih lama dibandingkan

dengan laparoskopi yang rata-rata memerlukan 10-20 menit, sukar pada wanita yang

sangat gemuk bila ada perlekatan-perlekatan pelvis atau pernah mengalami operasi

pelvis, operasi ini meninggalkan bekas luka parut kecil yang masih dapat terlihat,

rasa sakit abdomen yang singkat karena luka insisi terjadi pada 50% wanita, angka

kejadian infeksi luka operasi lebih tinggi dibandingkan dengan laparoskopi.

Universitas Sumatera Utara


b. Laparoskopi adalah suatu pemeriksaan endoskopik dari bagian dalam rongga

peritoneum dengan alat laparoskop yang dimasukkan melalui dinding anterior

abdomen (Hartanto, 2004, hlm.252).

Keuntungan laparoskopi yaitu komplikasi rendah dan pelaksanaannya cepat (rata-

rata 5-15 menit), insisi kecil sehingga luka parut sedikit sekali, dapat dipakai juga

untuk diagnostik maupun terapi, kurang menyebabkan rasa sakit bila dibandingkan

dengan mini laparotomi, sangat berguna bila jumlah calon akseptor banyak.

Kerugian laparoskopi resiko komplikasi dapat serius (bila terjadi), lebih sukar

dipelajari, memerlukan keahlian dan keterampilan dalam bedah abdomen, harga

peralatanya mahal dan memerlukan perawatan yang teliti, tidak dianjurkan untuk

digunakan segera post-partum (Hartanto, 2004, hlm.258)

2. Indikasi dan Kontra indikasi Tubektomi

a. Indikasi

Dengan sifatnya yang permanen, sterilisasi hanya cocok untuk pasangan yang

tidak menginginkan anak lagi. Secara lebih luas, indikasi sterilisasi dapat dibagi

lima macam yaitu :

Universitas Sumatera Utara


1) Indikasi Medis

Yang termasuk indikasi medis adalah penyakit yang berat kronik seperti jantung,

ginjal, paru-paru, dan penyakit kronik lainnya. Tetapi tidak semua penyakit

tersebut merupakan indikasi, hanya yang membahayakan keselamatan Ibu kalau

ia mengandung merupakan indikasi untuk sterilisasi.

2) Indikasi Obstetris

Indikasi obstetris adalah keadaan di mana resiko kehamilan berikutnya

meningkat meskipun secara medis tidak menunjukkan kelainan apa-apa,

termasuk kedalam indikasi obstetric adalah multiparitas (banyak anak), apalagi

dengan usia yang relatif lanjut (misal grandemultigravida, yakni paritas lima

atau lebih dengan umur 35 tahun atau lebih), sesio sesarea dua kali atau lebih

dan lain-lain.

3) Indikasi Genetik

Indikasi genetik adalah penyakit herediter yang membahayakan kesehatan dan

keselamatan anak, seperti hemophilia.

4) Indikasi Kontrasepsi

Indikasi kontrasepsi adalah indikasi yang murni ingin menghentikan

(mengakhiri) kesuburan, artinya pasangan tersebut tidak menginginkan anak lagi

Universitas Sumatera Utara


meskipun tidak terdapat keadaan lain yng membahayakan keselamatan Ibu

seandainya ia hamil.

5) Indikasi Ekonomis

Indikasi ekonomis artinya pasangan suami istri menginginkan sterilisasi

karena merasa beban ekonomi keluarga menjadi terlalu berat dengan

bertambahnya anak dalam keluarga tersebut (siswosudarmo, 2007, hlm.52-53).

b. Konta indikasi

Kontra indikasi kontrasepsi mantap pada wanita adalah masalah hubungan,

ketidaksetujuan terhadap operasi dari salah satu pasangan, dan keadaan sakit atau

disabilitas yang dapat meningkatkan resiko pada operasi (Everett, 2008, hlm.253).

3. Keuntungan Tubektomi

Sterilisasi wanita adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif dengan angka

kegagalan 1-5 per 1000 kasus yang berarti efektifitasnya 99,4-99,8% per 100 wanita

pertahun, keefektifannya tercapai begitu operasi selesai dikerjakan. Tubektomi

merupakan cara KB jangka panjang yang tidak memerlukan tindakan ulang artinya

cukup sekali dikerjakan, meskipun kontap harus ditempuh melalui sebuah operasi

metode ini merupakan cara yang paling aman, bebas dari efek samping asal semua

prosedur dan persyaratan operasi terpenuhi. Sebagaimana cara KB lainnya kontap

bersifat praktis artinya tidak membutuhkan kunjungan ulang yang terjadwal, dan tidak

Universitas Sumatera Utara


mengganggu hubungan seksual. Metode ini bebas dari efek samping hormonal

sebagaimana pil, KB suntik maupun susuk. Kontap tidak mengganggu hubungan

seksual, tidak pula menurunkan libido. Sekarang sterilisasi merupakan tindakan operasi

kecil di mana klien hanya memerlukan istirahat beberapa jam sebelum ia bisa

meninggalkan tempat pelayanan dan dapat dikerjakan di lapangan dengan

memanfaatkan kamar operasi di puskesmas (Siswosudarmo, Anwar, 2007, hlm.51-52).

4. Keterbatasan Tubektomi

a. Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini (tidak dapat

dipulihkan kembali), kecuali dengan operasi rekanalisasi, maka sebelum

tindakan perlu pertimbangan matang dari pasangan sehingga klien (akseptor)

tidak menyesal dikemudian hari.

b. Resiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi umum).

c. Adanya rasa sakit atau ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan.

d. Dilakukan oleh dokter yang terlatih (dIbutuhkan dokter spesialis bedah untuk

proses laparoskopi).

e. Tidak melindungi diri dari IMS, termasuk HIV atau AIDS (Sujiyatini, Arum,

2009, hlm.164).

Universitas Sumatera Utara


5. Yang Dapat Menjalani Tubektomi

a. Usia Ibu > 26 sampai 46 tahun, memiliki paritas >2.

b. Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya

sehingga klien tidak menyesal dikemudian hari.

c. Pada kehamilanya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius.

d. Pada saat pascapersalinan dan pascakeguguran.

e. Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini (Saifuddin, 2006,

hlm.MK-83).

6. Yang Tidak Dapat Menjalani Tubektomi

a. Hamil atau dicurigai hamil.

b. Perdarahan melalui vagina yang belum terjelaskan penyebabnya.

c. Infeksi sistematik atau pelvic akut yang belum sembuh atau masih dikontrol.

d. Tidak boleh menjalani proses pembedahan.

e. Belum mantap/kurang pasti dengan keinginanya untuk fertilitas dimasa

mendatang.

f. Belum memberikan persetujuan tertulis (pinem, 2009, hlm.293).

Universitas Sumatera Utara


7. Waktu Pelaksanaanya

a. Dapat dilakukan setiap saat selama klien tidak hamil, apabila ingin melakukan

prosedur ini klien disarankan memakai kondom pada siklus menstruasi sebelum

dilakukan prosedur untuk memastikan tidak ada sperma didalam tuba fallopii

yang dapat membuahi sebuah ovum yang dilepaskan sesaat setelah pembedahan

yang kemudian mengakibatkan kehamilan ektopik.

b. Hari ke 6 sampai ke 13 dari siklus menstruasi (fase proliferasi).

c. Pascapersalinan (48 jam pertama atau setelah 6 minggu, jika ingin dilakukan

diluar waktu tersebut, klien sudah di imunisasi (Tetanus Toxoid), dan mendapat

lindungan antibiotik maka tubektomi dapat dilaksanakan oleh operator yang

berpengalaman.

d. Pasca keguguran segera atau dalam 7 hari pertama, selama tidak ditemukan

komplikasi infeksi pelvis.

8. Persiapan Pre-operatif Tubektomi

a. Konseling perihal kontrasepsi dan jelaskan kepada klien bahwa ia mempunyai

hak untuk berubah pikiran setiap waktu sebelum prosedur dilakukan.

b. Menanyakan riwayat medis yang mempengaruhi keputusan pelaksanaan operasi

atau anestesi antara lain meliputi penyakit-penyakit pelvis, pernah mengalami

Universitas Sumatera Utara


operasi abdominal atau pelvis, riwayat diabetes mellitus, riwayat penyakit paru-

paru seperti asthma, bronchitis, pernah mengalami problem dengan anestesi,

penyakit-penyakit perdarahan, alergi dan pengobatan yang dijalani saat ini.

c. Pemeriksaan fisik : meliputi kondisi-kondisi yang mungkin mempengaruhi

keputusan pelaksanaan operasi atau anestesi.

d. Pemeriksaan laboratorium meliputi pemerisaan darah lengkap, pemeriksaan urin

dan pap smear.

e. Informed consent harus diperoleh. Standard consent form harus ditandatangani

oleh suami atau istri yang dari calon akseptor kontrasepsi mantap sebelum

dilakukan. Umumnya penandatanganan dokumen Informed consent dilakukan

setelah calon akseptor dan pasangannya mendapatkan konseling (Pinem, 2009,

hlm.294).

9. Komplikasi Yang Mungkin Terjadi dan Penanganannya

a. Infeksi luka, apabila terlihat infeksi luka obati dengan antibiotik.

b. Demam pasca operasi (> 38 c), obati infeksi berdasarkan apa yang ditemukan.

c. Luka pada kandung kemih, intestinal (jarang terjadi). Apabila kandung kemih

atau usus luka dan diketahui sewaktu operasi, lakukan reparasi primer, apabila

ditemukan pascaoperasi,dirujuk kerumah sakit yang tepat bila perlu.

Universitas Sumatera Utara


d. Hematoma subkutan, gunakan packs yang hangat dan lembab ditempat tersebut.

Amati hal ini biasannya akan berhenti dengan berjalannya waktu tetapi dapat

membutuhkan drainase bila ekstensif.

e. Emboli gas yang diakibatkan laparoskopi (sangat jarang terjadi).

f. Rasa sakit pada lokasi pembedahan, pastikan adanya infeksi, atau abses dan obati

berdasarkan apa yang ditemukan.

g. Perdarahan superficial (tepi-tepi kulit atau subkutan), mengontrol perdarahan dan

obati berdasarkan apa yang ditemukan (Saifuddin, 2006, hlm.MK-84).

10. Perawatan dan Informasi postoperatife

Jagalah luka operasi tetap kering hingga pembalut dilepaskan. Mulai lagi

aktivitas normal secara bertahap (sebaiknya dapat kembali ke aktivitas normal dalam

waktu 7 hari setelah pembedahan), hindarilah hubungan intim hingga merasa cukup

nyaman, hindari mengangkat benda-benda berat dan apabila merasa sakit minumlah 1

atau 2 analgesik (penghilang rasa sakit) setiap 4 hingga 6 jam.

11. Persyaratan Peserta Kontrasepsi

a. Syarat Sukarela

Calon peserta secara sukarela, tetap memilih kontrasepsi mantap setelah diberi

konseling mengenai jenis-jenis kontrasepsi, efek samping, keefektifan, serta telah

diberikan waktu untuk berfikir lagi.

Universitas Sumatera Utara


b. Syarat Bahagia

Setelah syarat sukarela terpenuhi, maka perlu dinilai pula syarat kebahagian

keluarga. Yang meliputi terikat dalam perkawinan yang sah dan harmonis,

memiliki sekurang- kurangnya dua anak yang hidup dan sehat baik fisik maupun

mental, dan umur istri sekitar 25 tahun.

c. Syarat Sehat

Setelah syarat bahagia dipenuhi, maka syarat kesehatan perlu dilakukan

pemeriksaan (Handayani, 2010, hlm.182-183).

Universitas Sumatera Utara