Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

Akuntansi Keperilakuan

Bab 8
Pengendalian Keuangan

KELOMPOK 1

Arnetha Latumenasse (2017-30-034) Riskawati Rahayu (2017-30-087)

Putry Talitha J Heumasse (2017-30-362) Aprillia Aponno (2017-30-117)

Since Veronica de Fretes (2017-30-168) Desanli Gansa (2017-30-312)

Silviya M Lakussa (2017-30-155) Jesica F Matatula (2017-30-271)

Chetsya Wanne (2017-30-098) Samuel Oktafianus (2017-30-111)

Frans Malessy (2017-30-382) Jordan Tuhuteru (2017-30-261)

Selviyana Saija (2017-30-154) Petra M Erley (2017-30-059)

Mouren M Pessiwarisa (2017-30-390) Oliver A Mainake (2017-30-211)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS PATTIMURA
2019
KATA PENGANTAR

Terima kasih kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat kasih dan
kuasanya kami dapat diberikan kesehatan dan kemampuan sehingga saat ini kami sebagai mahasiswa
mampu menyelesaikan Makalah Akuntansi Keperilakuan : Pengendalian Keuangan. Selanjutnya kami
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selva Tamagi selaku dosen mata kuliah Akuntansi
Keperilakuan yang telah memberi kesempatan dan kepercayaannya kepada kami untuk membuat dan
menyelesaikan makalah ini. Sehingga kami memperoleh banyak ilmu, informasi dan pengetahuan
selama membuat dan menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah yang telah kami susun ini menjadi
manfaat untuk mereka yang membacanya.

Ambon, November 2020

Kelompok 1 Akuntansi Keperilakuan

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Akhir-akhir ini, keterbatasan dalam akuntansi menjadi semakin luas karena permintaan atau
kebutuhan dan teknologi baru atas bagian yang selama ini dicari oleh pemakai akuntansi sebagai
bentuk dukungan dalam pelaporan akuntansi.
Pertumbuhan yang signifikan dalam manajemen penyedia sistem informasi baru yang terdapat
di setiap orgaisasi selalu menjadi pemicu hadirnya kebutuhan klien. Setiap klien selalu membutuhkan
dukungan untuk perancangan dan penerapa sistem pengendalian keuangan.
Makalah ini akan membahas masalah-masalah yang terkait dengan topik pengendalian dan
dampak dari desain serta implementasi sistem pengendalian keuangan. Sebagai usaha untuk
mempermudah memahami isi topik pengendalian keuangan ini. Makalah ini menguraikan dilema
pengendalian keuangan perusahaan.
Berdasarkan masalah ini, diharapkan pembaca dapat berpikir untuk mencari solusi tentang
bagaimana pengendalian keuangan yang tepat bagi perusahaan. Untuk mengetahui pengendalian yang
tepat, diharapkan untuk mengetahui dulu teori keuangan yang berkembang.

1.2. Tujuan Pembahasan


Makalah ini dibuat dengan tujuan - tujuan sebagai berikut :
1. Menjelaskan dilema pengendalian.
2. Menjelaskan keuangan dan fungsinya.
3. Menjelaskan arti penting laporan keuangan.
4. Menjelaskan sifat laporan keuangan.
5. Menjelaskan aktivitas keuangan yang perlu dikendalikan.
6. Menjelaskan beberapa konsep matematik yang umum digunakan dalam keuangan.
7. Menjelaskan aspek dimensi keperilakuan dalam pengendalian keuangan.
8. Menjelaskan aspek keperilakuan dari pengendalian keuangan yang komprehensif.
9. Menjelaskan aspek keperilakuan atas pengendalian keuangan dari faktor-faktor
kontekstual.
10. Menjelaskan aspek keperilakuan dalam perekayasaan pengendalian keuangan.
11. Menjelaskan aspek keperilakuan dalam pertimbangan rancangan.
12. Menjelaskan aspek keperilakuan pengendalian keuangan dalam kerangka pemberdayaan
perusahaan.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dilema Pengendalian
Treetech steel inc. adalah perusahan konglomerasi terbesar dunia di bidang pabrikasi baja.
perusahan ini mengutamakan desain invatif, dan produksi berkualitas tinggi. Oleh karna
mengutamakan pada pabrikasi tertentu, perusahan tidak dapat memenuhi pesanan yang kuantitasnya
di bawah 100 unit.
Treetech steel memiliki tantangan untuk merestrukturisasi bisnis lama dan memasuki bisnis
baru dengan tujuan menjadi salah satu dari lima perusahan baja teratas dunia. Pada tahun 2000,
perusahan menghadirkan tantangan besar untuk bisnis baja yang berteknologi tinggi. Treetech steel
membuka sebagian besar peluang ini dengan memfokuskan kembali strategi bisnisnya untuk
merespon keinginan pasar dengan lebih baik.

Pada tahun 2008, Treetech Steel revolusi usahanya dengan dedikasi untuk membuat produk
kelas dunia, dengan memberikan kepuasan pelanggan sepenuhnya dan menjadi perusahan yang
bersih. Pada tahun 2009 terjdi krisis keuangan yang mempengaruhi hampir semua bisnis, Treetech
steel menjadi salah satu perusahan yang dapat terus tumbuh. Berkat kepemimpinannya di bidang baja
dan kosentrasinya pada bidang elektronik keuangan.

2.2 Keuangan dan Fungsinya


Setiap entitas yang menjalankan usahanya tidak bisa lepas dari aspek keuangan. Kebutuhan
perusahan tentunya beraneka ragam dan berubah mulai dari membayar gaji, membayar telepon,
membayar listrik dan air, membaeli bahan baku, investasi dan lain sebagainya tanpa keuangan yang
memadai, perusahan tidak mampu mengoperasikan perusahan dengan normal.
Adapun fungsi keuangan bertujuan untuk mengatur pencairan sumber daya dana yang
dibutukan perusahan. Sumber daya yang dibutuhkan dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik
sumber dana intern maupun ekstern.
Setelah sumber dana diperoleh, maka tugas selanjutnya dari bagian keuangan adalah mengatur
penggunaan dana yang telah diperoleh dari sumber intern maupun ekstern tersebut dapat di
pergunakan untuk kebutuhannya.

2.3 Arti Penting Laporan Keuangan


Laporan keuangan diperlukan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahan. pada awalnya
laporan keuangan bagi perusahan hanya sebagai alat penguji dari pekerjaan bagian pembukuaan.
Analisis terhadap laporan keuangan perusahan pada dasarnya dilakukan karena ingin mengetahui
tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat resiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan.
Arti penting analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1. Bagi pihak manajemen 2. Bagi pemegang saham

4
3. Bagi kreditor 5. Bagi karyawan
4. Bagi pemerintah

2.4 Sifat Laporan Keuangan


Laporan keuangan harus bersifat historis serta menyeluruh dan sebagai progres report
keuangan yang terdiri dari data – data yang merupakan hasil dari suatu kombinasi beberapa
hal berikut (Munawir, 2004).
1. Fakta yang telah dicatat (recorded fact)
Laporan keuangan dibuat atas dasar fakta dari catatan akuntansi, seperti jumlah uang kas
yang tersedia dalam perusahaan maupun yang disimpan di bank, jumlah piutang,
persediaan barang dagangan, utang maupun aset tetap yang dimiliki perusahaan.
Pencatatan atas pos-pos ini berdasarkan catatan historis dari peristiwa yang telah terjadi
di masa lampau, dan jumlah uang yang tercatat dalam pos-pos tersebut dinyatakan dalam
harga pada waktu terjadinya peristiwa tersebut. Dengan sifat tersebut maka laporan
keuangan tidak dapat mencerminkan posisi keuangan perusahaan dalam kondisi
perekonomian yang terakhir, karena segala sesuatunya sifatnya historis.
2. Prinsip-prinsip dalam akuntasi
Data yang dicatat didasarkan pada prosedur maupun asumsi tertentu yang merupakan
prinsip-prinsip akuntansi yang belaku umum (GGAP), hal ini dilakukan dengan dengan
tujuan memudahkan pencatatan atau untuk Keseragaman.
3. Pendapat pribadi (personal judgment)

Walaupun pencatatan telah diatur oleh konvensi atau dalil dasar yang sudah ditetapkan
menjadi standar praktik pembukuan, tetapi penggunaan konvensi dan dalil dasar
tergantung pada akuntan atau manajemen perusahaan yang bersangkutan. Pendapat
(judgment) ini tergantung pada kemampuan atau integritas pembuatnya yang
dikombinasikan dengan fakta yang tercatat dengan kebiasaan serta dalil dasar akuntansi
yang telah disetujui akan digunakan dalam beberapa hal. Suatu hal yang penting
mengenai prosedur, asumsi/anggapan, kebiasaan, atau pendapat pribadi yang telah
digunakan harus dipertahankan secara terus menerus atau secara konsisten dari tahun ke
tahun

2.5 Aktivitas Keuangan yang Perlu Dikendalikan


Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang
bersifat tetap dan terus-menerus dan atau yang didirikan, dengan tujuan untuk memperoleh
keuntungan atau laba. Berbagai bidang dalam perusahaan harus dipilih dengan teliti dan
saksama karena ada banyak bidang perusahaan. Laporan keuangan perusahaan berikut

5
pengungkapannya menginformasikan empat aktifitas perusahaan: perencanaan, pendanaan,
investasi, dan operasi.

2.5.1 Aktivitas Perencanaan


Proses perencanaan dicirikan sebagai perilaku penetapan tujuan. Perencanaan formal
lebih dari sekedar data-data statistik yang hampir memenuhi seluruh halaman dalam dokumen
perencanaan. Aspek penting dari proses penetapan tujuan adalah adanya dua hal dasar yaitu
organisasi dan komunikasi. Jika struktur organisasi tidak efisien, maka harus dirampingkan
selama proses perencanaan. Proses perencanaan mengangkat berbagai pertanyaan mengenai
pengendalian seperti:
Bagaimana divisi-divisi diidentifikasi? Apa yang digunakan untuk menyusun akuntansi
pertanggungjawaban? Bagaimana departemen-departemen dibentuk dan akuntansi apa yang
akan dibuat untuk masalah transfer antar departemen?
 Perencanaan sangat penting bagi pengendalian yang efektif. Pengendalian juga sangat
penting bagi perencanaan yang efektif. Suatu rencana secara teknik maupun logistik, dapat
mengundang, bencana pengendalian bagi organisasi, yang tidak waspada, dengan kata lain
tidak memperhatikan implikasi pengendalian dari suatu penetapan rencana. Dalam hal ini,
pengendalian membutuhkan sesuatu untuk dapat beroperasi sebagai suatu rangkaian
pembatasan bagi fungsi perencanaan. Fenomena ini biasa terjadi dalam organisasi
berteknologi tinggi di mana kelayakan teknis seringkali melebihi kemampuan kita untuk
melindungi organisasi dari ancaman-ancaman seperti pelanggaran keamanan, kecelakaan kerja,
kecurangan, dan kegagalan, pengendalian lainnya.

2.5.2 Aktivitas Pendanaan


Aktifitas pendanaan adalah metode yang digunakan dalam perusahaan untuk
mendapatkan uang guna membayar kebutuhan perusahaan. Terdapat dua sumber aktifitas
pendanaan eksternal, yaitu investor ekuitas (pemilik atau pemegang saham) dan kreditor
(pemberi pinjaman). Pendanaan ekuitas dapat berupa uang tunai atau aset atau jasa yang
dikontribusikan kepada perusahaan sebagai penukar saham. Penawaran saham swasta biasanya
melibatkan perusahaan kepada satu atau lebih individu atau organisasi.
Selain dari investor, perusahaan juga bisa memperoleh pendanaan dari kreditor. Terdapat
2 jenis kreditor: (1) kreditor utang, yang secara langsung meminjamkan uang kepada
perusahaan, (2) kreditor operasi, yang meminjamkan uang kepada perusahaan sebagai bagian
dari operasinya. Pendanaan utang sering terjadi melalui pinjaman (loan) atau melalui penerbitan
efek seperti obligasi.

2.5.3 Aktivitas Investasi


Investasi adalah mengeluarkan sejumlah uang atau menyimpan uang pada sesuatu
dengan harapan suatu saat mendapat keuntungan finansial. Contoh investasi adalah pembelian
6
berupa aset keuangan (asset financial) seperti obligasi, saham dan asuransi. Pembelian berupa
barang seperti mobil atau tanah. Lebih luasnya investasi dapat berarti pembelian barang modal
untuk produksi dalam suatu usaha, seperti pembelian mesin. Kesamaan dari semua investasi
tersebut adalah harapan memperoleh keuntungan (gain) di kemudian hari.
Aktifitas investasi mengacu pada perolehan dan pemeliharaan investasi dengan tujuan
menjual produk dan menyediakan jasa, dan untuk tujuan menginvestasikan kelebihan kas.
Keputusan investasi melibatkan beberapa faktor seperti jenis investasi yang diperlukan
(termasuk intensitas teknologi dan tenaga kerja), jumlah yang dibutuhkan, waktu perolehan,
lokasi aset, dan perjanjian kontraktual.

2.5.4 Aktivitas Operasi


Aktivitas operasi mencerminkan pelaksanaan rencana bisnis yang terdapat alam aktivitas
pendanaan dan aktivitas investasi, dengan melibatkan komponen litbang, pembelian, produksi,
pemasaran, dan administrasi.
Seberapa baik perusahaan dalam menjalankan rencana bisnis dan strateginya, serta dalam
menentukan bauran aktivitas operasinya, akan menentuka kesuksesan atau kegagalan
perusahaan.
Di dalam organisasi yang terstruktur, fungsi operasi membuktikan adanya perencanaan
manajemen, meskipun perencanaan itu bersifat informal / tidak tertulis. Operasi berarti
pencaturan aktivitas-aktivitas di dalam organisasi, termasuk provisi jasa-jasa dan pembuatan
produk serta fungsi-fungsi, pendukung penting yang dibutuhkan untuk melakukan operasi.
Pengendalian operasi adalah suatu proses memonitor dari mengoreksi aktivitas operasi selama
masa penerapan rencana manajemen. Contoh dari sub sistem pengendalian operasi adalah
aplikes, persediaan dan pembelian. biaya standar; dan sub sistem house keeping adalah
administrasi pembayaran dan manajemen kredit.
Dalam beberapa organisasi, pengendalian operasi adalah sebuah tanggung jawab manajer
pemilik yang harus mengendalikan sarana-sarana informal dan personal. Organisasi yang lebih
besar dan lebih kompleks akan membentuk sub sistem pengendalian-operasi untuk, mencapai
suatu standar efektivitas dan meningkatkan efisiensi operasi. 

2.6 Beberapa Konsep Matematis yang Umum Digunakan dalam Keuangan


Konsep statistik umum yang digunakan dalam pengendalian keuangan dilakukan
dengan pendekatan rasio keuangan. Rasio mengungkapkan hubungan matematis antara suatu
jumlah dengan jumlah lainnya, atau perbandingan antara suatu pos dengan pos lainnya.
Menurut Brigham dan Houston (2012), terdapat beberapa kelompok rasio keuangan
yaitu:
1. Rasio likuiditas 3. Rasio manajemen utang
2. Rasio manajemen aset
4. Rasio profitabilitas
7
5. Rasio nilai pasar

2.6.1 Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas merupakan aset yang diperdagangkan di pasar aktif sehingga dapat
dikonversi dengan cepat menjadi kas pada harga pasar yang berlaku. Dua rasio likuiditas yang
umum digunakan (Brigham dan Houston, 2012) yaitu :

8
1. Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio lancar merupakan salah satu rasio yang paling umum digunakan untuk
mengukur likuiditas perusahaan atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi
liabilitas jangka pendek tanpa menghadapi kesulitan.

Rasio lancar = Aset lancar


Liabilitas jangka pendek

2. Rasio Cepat (Quick Ratio)


Rasio cepat = Aset lancar – Persediaan

Liabilitas jangka pendek

2.6.2 Rasio Manajemen Aset


Rasio manajemen aset mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola asetnya.
Rasio manajemen aset diuraikan menjadi beberapa bagian yaitu :
1. Rasio Perputaran Persediaan
Rasio perputaran persediaan adalah cara untuk mengetahui berapa kali dalam
suatu periode tertentu sebuah perusahaan menjual persediaanya .

Rasio perputaran persediaan = Penjualan

Persediaan
2. Jumlah Hari Penjualan Belum Tertagih
Jumlah hari penjualan belum tertagih (days sales outstanding- DSO) atau
disebut juga periode penagihan rata-rata digunakan untuk menilai piutang usaha .

DSO = Jumlah hari = Piutang = Piutang


Penjualan Rata-rata penjualan Penjualan

belum tertagih per hari


tahunan/365

3. Rasio Perputaran Aset Tetap


Rasio ini mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada aset tetap,
dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan neto yang
dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aset tetap.

Rasio perputaran aset tetap = Penjualan

Aset tetap neto

4. Rasio Perputaran Total Aset

9
Rasio perputaran total aset = Penjualan

Total aset

10
2.6.3 Rasio Manajemen Utang
Rasio manajemen utang adalah rasio yang menunjuk pada utang yang dimiliki
perusahaan. Dalam arti harfiah, leverage berarti pengungkit/tuas. Sumber dana perusahaan
dapat dibedakan menjadi menjadi dua, yaitu sumber dana intern dan sumber dana ekstern.
Leverage juga dapat diartikan sebagai penggunaan aset atau dana dimana untuk
penggunaan tersebut perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap.
Leverage merupakan jumlah utang yang digunakan untuk membiayai / membeli aset-aset
perusahaan.
Terdapat dua alasan dibalik dampak leverage : (1) karena bunga dapat menjadi
pengurang pajak , penggunaan utang akan mengurangi kewajiban pajak dan menyisakan laba
operasi yang lebih besar bagi investor perusahaan, (2) jika laba operasi sebagai persentase
terhadap aset melebihi tingkat bunga atas utang seperti yang umumnya diharapkan, maka
perusahaan dapat menggunakan utang untuk membeli aset, membayar bunga atas utang, dan
masih mendapatkan sisanya sebagai bonus pemegang saham.

1. Total Utang terhadap Total Aset


Total utang terhadap total aset adalah salah satu rasio yang digunakan untuk
mengukur tingkat solvabilitas perusahaan.
Rumus untuk menghitung total utang terhadap total aset adalah sebagai
berikut:

Rasio Utang = Total utang

Total aset

2. Rasio Kelipatan Bunga


Rasio kelipatan bunga dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak
dengan beban bunga:

Rasio kelipatan bunga = EBIT

Beban bunga

3. Rasio Cakupan EBITDA


Rasio ini memliki dua kelemahan : (1) Bunga bukan satu-satunya beban
keuangan yang bersifat tetap, perusahaan juga harus mengurangi utangnya sesuai
jadwal , dan banyak perusahaan menyewa aset dan akibatnya harus melakukan
pembayaran sewanya, perusahaan terpaksa harus menyatakan bangkrut, (2) EBIT
tidak mencerminkan seluruh arus kas yang tersedia untuk melunasi utang.

EBITDA+ Pembayaran Sewa GunaUsaha


¿
Bunga+ Pembayaran Pokok + Pembayaran SewaGuna Usaha
11
Rasio Cakupan
EBITDA

2.6.4 Rasio Profitabilitas

1. Margin Laba atas Penjualan


Margin laba atas penjualan dihitung dengan membagi laba neto dengan
penjualan, memberikan angka laba per rupiah penjualan seperti dalam rumus berikut :

Margin laba atas penjualan = Laba neto

Penjualan

2. Imbal Hasil atas Aset (Return on Assets – ROA)


Menurut Brigham dan Houston (2012) , imbal hasil atas aset (ROA) dihitung
dengan cara membandingkan laba neto yang tersedia untuk pemegang saham biasa
dengan total aset.

Imbal hasil atas aset (ROA) = Laba neto

Total aset

3. Rasio Kemampuan Dasar untuk Menghasilkan Laba (Baic Earning Power –


BEP)
Rasio Kemampuan Dasar untuk = EBIT

Menghasilkan Laba (BEP) Total aset

4. Imbal Hasil atas Ekuitas (Return on Equity – ROE)


Untuk melihat tingkat efisiensi perusahaan dalam mengelola ekuitasnya
untuk menhasilkan laba neto perusahaan. Secara teori, ROE dirumuskan sebagai
berikut :

ROE = Laba neto

Ekuitas

2.6.5 Rasio Nilai Pasar


Raiso nilai pasar merupakan sekumpulan raiso yang mengguhubungkan harga saham
dengan laba, nilai buku per saham dan deviden. Rasio ini memberikan petunjuk mengenai apa
yang dipikirkan investor atas kinerja perusahaan di masa lalu serta prospeknya di masa depan.
Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor) atau para
pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau membeli saham perusahaan
dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan nilai buku saham .
Raiso pasar mengukur harga pasar saham perusahaan relatif terhadap nilai bukunya.
Sudut pandang raiso ini lebih banyak berdasarkan pada sudut pandang investor ataupun calon
12
investor, meskipun pihak manajemen, juga berkepentingan dalam raiso ini. Raiso modal saham
atau raiso pasar modam terdiri atas:

1. Raiso Harga/Laba
Raiso harga terhadap laba (Price Earning Ratio-P/E) menunjukan berapa banyak
investor yang bersedia membayar untuk setiap rupiah dari laba yang dilaporkan, oleh
para investor, raiso ini digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Kesediaan para investor untuk menerima
kenaikan P/E sangat bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang
tingkat pertumbuhan yang tinggi, biasanya memiliki P/E yang tinggi sebaliknya
perusahaan dengan tingkat pertumbuhan rendah cenderung memiliki P/E yang rendah
pula.
Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung raiso harga tetap laba adalah

Harga per Saham


P/E =
Laba per saham

Rasio P/E akan lebih tinggi bagi perusahaan dengan prosper pertumbuhan yang
bagus dan resikonya relatif rendah.
Contohnya rasio P/E pada Gudang Garam berada di atas rata-rata perusahaan
rokok lainnya, ini menunjukan perusahaan dinilai kecil resikonyadaripada perusahaan
pada umumnya, memiliki prospek pertumbuhan yang baik atau keduanya.

2. Raiso Harga Terhadap Arus Kas


Raiso harga saham terhadap arus kas per saham digunakan untuk menunjukan
harga yang dibayarkan pemegam saham terhadap arus kas dari aktifitas operasi per
lembar saham perusahaan. Valuasi harga saham terhadap arus kas dari aktifitas operasi
digunakan untuk lebih mengetahui kemampuan rill perusahaan dalam menghasilkan arus
kas dari aktifitas operasinya. Arus kas tidak mudah dimanipulasi karena tidak
dipengaruhi oleh faktor nonkas seperti penyusutan, amortisasi dan faktor nonkas lainnya

Rasio Harga Terhadap Harga per Saham


¿
Arus Kas Laba per saham

Perlu dicatat oleh karena alasan tertentu, analisis juga melihat raiso lain selain
raiso harga terhadap laba dan harga terhadap arus kas. Misalnya tergantung dari
industrinya. , analisis mungkin melihat harga terhadap penjualan, harga terhadap
pelanggan, atau harga terhadap EBITDA per saham. Namun, pada akhirnya nilai
perusahaan akan tergantung pada laba arus kas. Jadi jika raiso “eksotis" tersebut tidak

13
meramalkan tingkan EPS dan arus kasmasa depan yang ternyata memiliki kemungkinan
yang menyesatkan.

3. Raiso Nilai Pasar terhadap Nilai Buku


Raiso ini menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau yang
sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi raiso ini, semakin besar
tambahan kekayaan yang dinikmati oleh pemilik perusahaan. Jika harga pasar berada
dibawah nilai bukunya, investor memandang bahwa perusahan tidak cukup potensial.
Bila seorang investor pestimistis atau prospek suaru saham, banyak harga dijual pada
harga dibawah nilai buku. Sebaliknya jika investor optimis maka harga saham dijual
diatas nilai buku.
Rumus yang biasa dipakai untuk menghitung raiso ini yaitu:

Ekuitas Biasa
Nilai Buku per Saham ¿
Jumlah Saham Beredar

Harga Pasar per Saham


Rasio Nilai Pasar terhadap ¿ Nilai Buku per saham
Nilai Buku (M/B)

Biasanya rasio B/M pada umumny lebih besar dari 1. Ini artinya investor bersedia
membayar saham lebih besar dari pada nilai buku akuntansinya. Situasi seperti ini
biasanya terjadi karena nilai asset, seperti yang dilaporkan akuntan dalam laopran posisi
keuangan, tidak mencerminkan invlasi atau goodwill. Jika suaru perusahaan menerima
tingkat imbal hasil atas asset yang rendah, maja raiso M/B akan relatif rendah
dibandingkan rat-rata perusahaan lain.

2.7 Aspek Dimensi Keperilakuan dalam Pengendalian Keuangan


2.7.1 Umpan Balik Mekanilak versus Respon Perilaku

Fokus utama dalam subsistem pengendalian keuangan adalah perilaku dari orang-orang
yang ada dalam organisasi dan bukan pada mesin. Oleh sebab itu, pengendalian keuangan dapat
dipahami secara baik melalui penekanan pada pentingnya asumsi asumsi keprilakuan. Sasaran
perilaku utama dari pengendalian keuangan dapat dijelaskan dengan menggunakan defenisi
kepengendalian secara umum. Pada umumnya, pengendalian didefinisikan sebagai suatu
inisiatif yang dipilih yang akan mengubah kemungkinan pencapaian hasil yang diharapkan.
Pengendalian dikatakan sebagai proses memantau kegiatan untuk memastikan bahwa kegiatan
tersebut diselesaikan seperti yang telah direncanakandan proses mengoreksi setiap
penyimpangan yang berarti.
Pada pengendalian keuangan, hasil yang diinginkan merupakan peristiwa perilaku dan
aplikasi dari masalah keuangan. Definisi pengendalian dalam konteks perilaku didasarkan pada

14
konsep “kepercayaan" dan “ kemungkinan" . Kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk
bertumpu pada orang lain dimana kita memiliki keyakinan padanya. Ketika seseirang
mengambil suatu keputusan,ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan dari orang-
orang yang lebih dapat ia percaya daripada yang kurang ia percayai (Moorman, 1993).
Dalam konteks organisasi, pemahaman tentang sebab akibat adalah penting karena
penyabaran secara nyata menjadi sulit sebagai akibat dari kompleksitas lingkungan.
Arah utama dari litelatur akuntansi belakangan ini hanya mengutamakan asumsi perilaku
terhadap pengendalian keuangan. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai suatu evolusi
pemikiran dan perluasan lingkungan yang mempengaruhi akuntan dan disiplin akuntansi.
Banyak hal yang telah dihasilkan dari penggabungan antara pendekatan perilaku terhadap
pengendalian dalam akuntansi manajerial dan akuntansi tradisional dengan konsep
nonkeprilakuan dari pengendalian yang ada dalam literator akuntansi dan audit.

2.7.2 Perluasan Konsep Tradisional

Konsep pengendalian tradisional dalam akuntansi sering kali berarti hasil dari informasi
akuntansi adalah langkah akhir dari peran akuntan. Dalam pendekatan perilaku, menghasilkan
informasi bukanlah akhir dari keterlibatan akuntan, sehingga informasi dapat dipandang
sebagai intermadiasi dari langkah akhir. Informasi akuntansi adalah bagian dari proses
pendanaan yang dirancang untuk meningkatkan manfaat organisasi awal dengan mempengaruhi
perilaku anggotanya. Tujuan pengendalian didasari keinginan untuk memilih suaru inisiatif
yang akan mengubah kemungkinan pencapaian hasilkeprilakuan yang diharapkan. Dengan
demikian, informasi akuntansi dapat dipandang sebagai pertanda dan bukan sebagai suatu
akhir.
Ketika sistem pengendalian dirancang secara tepat untuk menghasilkan informasi
akuntansi yang akurat dan andal, fokus sistem pengendalian secara tradisional terletak pada
tujuh faktor berikut.
1. Mempekerjakan karyawan yang akan melaksanakan tanggung jawabnya dwngan kopeten
dan penuh intergritas.
2. Menghindari fungsi yang tidak harmonis dengan memisahkan tugas dan tanggung jawab.
3. Mendefinisikan wewenang yang terkait dengan posisi sehingga kesesuaian transaksi
dilaksanakan dapat dievaluasi.
4. Menetapkan metode yang sistematis guna memastikan bahwa transaksi telah dicatat
dengan akurat.
5. Memastikan bahwa dokumentasi memadai.
6. Menjaga asset dengan mendesain prosedur yang membatasi aksesterhadap asset tersebut.
7. Mendesain pengecekan independen untuk meningkatkan akurasi.

15
2.8 Aspek Keperilakuan dari Pengendalian Keuangan yang Komprehensif
Secara formal, sistem pengendalian komprehensif merupakan suatu konfigurasi yang
saling melengkapi, yaitu subsistem formal yang mendukung proses administratif. Untuk dapat
diformalkan, suatu subsistem pengendalian seharusnya terstruktur dan berkelanjutan, serta
didesain dengan suatu proses yang tepat untuk mencapai tujuan yang spesifik. Untuk bisa
menjadi pengendalian yang komperhasif, suatu sistem pengendalian seharusnya mencakup
aktivitas perencanaan, operasi dan fungsi umpan balik. Terdapat tiga tahap proses
administratif dan implementasi pengendalian yang akan dibicarakan pada submateri berikut.

2.8.1 Perencanaan
Perencanaan dalam organisasi adalah ensensial, karena dalam kenyataannya perencanaan
memegang peranan lebih dibandingkan fungsi manajemen lainnya. Perencanaan adalah
pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan,
bagaimana dan oleh siap.
Proses perencanaan organisasi juga ditandai dengan istilah perilaku penetapan tujuan.
Aspek terpenting pross penetapan tujuan adalah dasar dari organisasi dan koomunikasi. Jika
struktur organisasi kurang memadai, maka hal ini akan menjadi permasalahan utama dari
proses perencanaan. Pengendalian juga dapat menjadi pokok perencanaan yang efektif.
Perencanaan yang terlalu teknis atau terlalu logis dapat menimbulkan kerusakan pada
pengendalian bagi mereka yang kurang waspada, karena tidak ada perhatian yang utuh pada
implikasi pengendalian terhadap implementasi rencana. Pada kondisi seperti ini, pengendalian
membutuhkan sesuatu untuk dapat beroperasi sebagai suatu rangkaian pembatasan bagi fungsi
perencanaan.

2.8.2 Operasi
Operasi sering kali didefinisikan sebagai proses transformasi. Ada dua jenis proses dalam
kegiatan operasi, yaitu proses inti (core process) dan proses pendukung (support process).
Proses inti merupakan serangkaian kegiatan yang menyampaikan nilai pada pelanggan.
Sedangkan proses pendukung memberikan sumber daya dan input yang penting ke dalam
proses inti yang penting bagi pengelolaan kegiatan perusahaan atau organisasi. Batasan
“Operasi” mengacu pada pelaksanaan aktivitas organisasi termasuk di dalamnya provisi atas
jasa pelayanan dan produksi produk yang sama pentingnya dengan menjaga fungsi operasi.
Pengendalian operasi merupakan suatu proses perantara dan proses perbaikan terhadap
aktivitas operasi selama proses implementasi terhadap rencana manajemen. Contoh
pengendalian operasi seperti pengorganisasian subsistem meliputi aplikasi pembelian dan
persedian, perhitungan biaya standar dan subsistem rumah tangga seperti administrasi
penggajian dan manajemen kredit. Pada berbagai operasi, pengendalian operasi merupakan

16
tanggung jawab manajer pemilik, yaitu mereka yang ahli dalam mengendalikan pengoperasian
lewat sesuatu yang tidak formal dan berfokus pada manusia.

2.8.3 Umpan Balik


Umpan balik dalam organisasi berasal dari sumber formal dan informal yang disusun
dari komunikasi nonverbal. Komunikasi tersebut dihasilkan secara rutin dari statistik yang
ditabulasikan sebagai dasar untuk evaluasi penyusunan. Evaluasi ini akan memengaruhi
distribusi kompensasi, pemberian sanksi, dan perubahan atas proses perencanaan serta operasi
sebagai akibat dari umpan balik. Suatu rancangan yang formal dan sistematis dikumpulkan
untuk koleksi dan penyaringan umpan balik. Perencanaan, operasi, dan aktivitas umpan balik
telah didefinisikan sebagai tiga aspek proses administrative yang sangat didukung oleh
rancangan pengendalian terpadu. Ketika setiap dimensi ini dibahas, dimensi tersebut bukan
merupakan aktivitas yang terkait.
Saling keterikatan antar-subsistem pengendalian juga memegang peranan yang penting
atas hasil yang kurang memuaskan. Logikannya, perencanaan lebih dahulu ada dibandingkan
dengan operasi dan ukuran umpan balik yang berasal dari rencana operasi serta tujuan yang
ditetapkan. Demikina pula, jika ukuran umpan balik diasumsikan bersifat netral dan relative
longgar, maka bisa diharapkan bahwa umpan balik dipandang sebagai tindakan pengumpulan
ukuran umpan balik itu sendiri dan tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap tahapan
perencanaan dan operasi.

2.9 Aspek Keperilakuan atas Pengendalian Keuangan dari Faktor Kontekstual


Konteks dapat menjadi hal penting untuk keberhasilan dalam mendesain dan
mengimplementasikan sistem pengendalian keuangan. Konteks mengacu pada serangkaian
karakteristik yang ditetapkan berdasarkan kajian empiris dalam sistem pengendalian. Pada
bagian ini akan dibahas factor kontekstual seperti ukuran, stabilitas lingkunngan, motivasi
keuntungan dan faktor proses.

2.9.1 Ukuran
Konteks dapat menjadi hal penting untuk keberhasilan dalam mendesain dan
mengimplementasikan sistem pengendalian keuangan. Konteks mengacu pada serangkaian
karakteristik yang ditetapkan berdasarkan kajian empiris dalam sistem pengendalian. Pada
bagian ini akan dibahas factor kontekstual seperti ukuran, stabilitas lingkunngan, motivasi
keuntungan dan faktor proses.

2.9.2 Stabilitas Lingkungan


Desain pengendalian dalam lingkungan yang stabil dapat berbeda dengan desain
pengendalian dalam lingkungan yang selalu berubah. Stabilitas dalam lingkungan eksogen
dapat dinilai dari kekuatan gerakan yang secara eksternal menghasilkan produk yang

17
memerlukan suatu tanggapan. Derajat stabilitas lingkungan dapat ditingkatkan dengan memilih
alat yang tepat terhadap perubahan lingkungan, seperti pengenalan sejumlah produk baru,
tindakan pesaing yang melakukan metode produksi yang lebih baik atau efisien, atau inisiatif
pihak pengambil keputusan yang memengaruhi unit kerja.

2.9.3 Motif Keuntungan


Kebanyakan ekonomi dan ahli keuangan menganggap motif keuntungan menjadi alasan
utama bisnis ada dalam masyarakat kapitalis. Meskipun hal ini mungkin tampak agak
disederhanakan, semua aspek bisnis biasanya dapat dihubungkan ke bagaimana bisnis membuat
keuntungan dan bagaimana keuntungan digunakan untuk terus menumbuhkan bisnis. Motif
keuntungan dengan kata lain, juga dapat dilihat sebagai suatu usaha yang sepenuhnya egois,
tetapi pendukung kapitalisme dan kepentingan dalam bisnis akan berpendapat sebaliknya.
Keberadaan dari motif keuntungan tentunya bukan penghalangan untuk menggunakan ukuran
penilaian akuntansi terhadap produktivitas.

2.10 Aspek Keperilakuan dalam Perekayasaan Pengendalian Keuangan


Terdapat banyak cara mengarakteristikan proses pengendalian keuangan orgasnisasi.
Beberapa karakteristik bersifat terbatas bagi tujuan pengendalian, sedangkan karakteristik
lainnya mungkin bersifat terbatas dan tidak membuat perbedaan. Proses sederhana maupun
kompleks dan proses biaya variabel maupun biaya tetap mengilustrasikan proses variabel.
Proses yang sederhana adalah salah satu proses yang dapat dikarakteristikan dengan
memahami hubungan sebab-akibat secara baik. Sedangkan proses yang kompleks melibatkan
berbagai hubungan yang tidak dapat dipahami dengan baik. Proses sederhana lebih mudah
dikendalikan dibandingkan dengan proses yang kompleks.
Faktor proses penting dalam pengendalian biaya yang tidak dapat dihindari dan biaya
untuk melakukan rekayasa adalah biaya variabel. Biaya variabel adalah biaya yang berubah
sebanding/sesuai dengan perubahan volume produksi. Contoh biaya variabel adalah biaya
bahan baku dan upah langsung.

2.11 Aspek Keperilakuan dalam Pertimbangan Rancangan


Untuk memperbaiki kemungkinan keberhasilan, para desainer akan mencari cara
menemukan hubungan sebab-akibat yang dipercaya bersifat nyata dalam lingkungan. Oleh
karena lebih focus pada perilaku dibandingkan dengan mekanis ,para desainer harus
mempertimbangkan secara ekspektasi dan kemungkinan dibandingkan dengan kepastian
dalam hal output. Pengembangan rencana hingga mencapai tingkat yang sempurna menjadi
tujuan yang tidak realistis.

2.11.1Antisipasi terhadap Konsekuensi Logis

18
Antisipasi terhadap konsekuensi logis merupakan komponen inti dalam mendesain
penegndalian. Kondisi ini merupakan hal yang penting bagi seorang manager keuangan dalam
mempertimbangkan baik dan buruk suatu hasil. Laporan keuangan memberikan informasi
untuk menentukan apakah hasil tersebut tersebut tepat. Pengendalian akan berhubungan dengan
hasil atau konsekuensi, namun pengendalian lebih mencerminkan konsekuensi perilaku
terhadap strategi pengendalian khusus.
Misalnya studi tentang waktu dan gerak mesin digunakan untuk menetapkan standar
tenaga kerja dan waktu luang. Pada banyak kasus ,pekerja akan menagmbil manfaat pribadi
dari rentang waktu luang dan baru benar-benar bekerja pada waktu ekstra guna menyelesaikan
tugasnya. Perilaku pekerja ini bersifat rasional, dapat diprediksi, dan logis. Hal ini merupakan
suatu konsekuensilogis yang sering dikaitkan dengan pengenalan terhadap sistem biaya standar.

2.11.2Relevansi dengan Teori Agensi


Teori agensi menyangkut persoalan ‘biaya’, dimana suati pendelegasian dengan asumsi
keputusan tertentu bersifat tidak jelas atau dipengaruhi secara bersama-sama agar menjadi tidak
nyata. Bentuk yang paling sederhana dari bentuk yang tidak nyata adalah tindakan karyawan
atau agen yang memperhatikan tingkat kinerja dalam menjalankan tugasnya. Pokok
persoalannya terletak pada bagaimana manager atau pelaku dapat menggabungkan insentif atau
pendorong dengan baik dari perjanjian pekerjaan , untuk memastikan tindakan agen sesuai
dengan kepentingan pemberi perintah dengan memberikan penghargaan yang sesuai dengan
keinginan agen tersebut. Sebagaimana diketahui, persoalan memberi banyak perhatian dalam
akuntansi manjemen karena pendorong tersebut sering kali didasarkan pada penilaian
variabelyang berhubungan dengan system akuntansi manajemen.

2.11.3Pengelolaan Perubahan
Pengelolaan perubahan adalah sesuatu yang penting dalam menentukan rancangan
pengendalian. Keberadaan pengendalian di dalam perusahaan mungkin fungsinya telah
berhenti ketika terjadi perubahan, tetapi para manager biasanya khawatir terhadap perubahan
pengendalian tersebut. Tantangan yang lebih logis lagi dan lebih menimbulkan ketegangan
adalah ketika manager tidak tanggap dengan perubahan yang terjadi. Dalam jangka panjang,
perusahaan akan memelihara lingkungan pengendalian lewat suatu proses perubahan dan
kompensasi. Hal ini terjadi ketika rancangan pengendalian dimodifikasi melalui proses
regenerasi internal secara berkelanjutan atau ketika perubahan disebabkan oleh factor eksternal
yang berdampak pada organisasi, seperti lingkungan konsumen utama atau kegagalan keuangan
yang serius pada perusahaan inti atau industry tertentu. Pada organisasi yang kompleks,
keseimbngan dalam lingkungan pengendalian membutuhkan perubahan dan kompensasi secara
terus-menerus. Posisi keseimbangan merupakan sesuatu yang bersifat dinamis, bukan statis.

19
Perusahaan dapat menjaga status pengendalian yang baik secara konstan hanya melalui
perubahan dan kompensasi.

2.12 Aspek Keperilakuan Pengendalian Keuangan dalam Kerangka Pemberdayaan


Perusahaan
Untuk melindungi perusahaannya, manajer senior didorong untuk mendefinisikan
ulang bagaimana mereka melaksanakan tugasnya dan bagaimana mereka yakin bahwa
bawahan dengan bakat kewiraswastaan tidak membahayakan kelangsungan hidup perusahaan.
Manajer menjalankan pengendalian dengan memberitahukan kepada bawahannya bagaimana
mereka sebaiknya melakukan tugasnya dan memonitor bawahannya dengan pengawasan yang
melekat untuk mencegah timbulnya kejutan.
Namun demikian, kebanyakan organisasi yang beroperasi dalam pasar yang sangat
kompetitif, manajernya tidak dapat menghabiskan seluruh waktu dan upayanya guna
memastikan bahwa semua orang melaksanakan permintaannya. Dewasa ini, manajer harus
mendorong karyawannya untuk memprakarsai perbaikan proses dan cara-cara baru untuk
merespon kebutuhan konsumen, tetapi masih dalam batasan yang dapat dikendalikan.
Sistem diagnostik (diagnostic system) hanya merupakan salah satu unsur pengendalian.
Tiga unsur lain yang sama pentingnya dalam lingkungan bisnis dewasa ini adalah sistem
kepercayaan (belief systems), sistem batasan (boundary systems), dan sistem interaktif
(interactive systems). Setiap unsur tersebut memiliki tujuan yang berbeda bagi manajer yang
berupaya menajamkan kreativitas karyawan. Sistem pengendalian diagnostik memungkinkan
manajer untuk memastikan bahwa tujuan penting tersebut telah diraih secara efisien dan
efektif. Sistem kepercayaan memberdayakan dan mendorong individu untuk mencari
kesempatan baru. Kedua sistem tersebut mengkomunikasikan nilai inti dan mengilhami
semua yang terlibat untuk melaksanakan tujuan organisasi. Sistem batasan menentukan aturan
main dan mengidentifikasi tindakan serta jebakan yang harus dihindari oleh karyawan. Sistem
pengendalian interaktif memungkinkan manajer puncak untuk memfokuskan perhatiannya
pada ketidakpastian strategis dan tidak membiarkannya begitu saja supaya dapat mencapai
tujuan.

2.12.1Membangun Sistem Pengendalian Logistik


Kebanyakan bisnis memanfaatkan sistem pengendalian diagnostik untuk membantu
manajer mengetahui kemajuan individu, departemen, atau fasilitas produksi ke arah tujuan yang
penting secara strategis. Manajer menggunakan sistem pengendalian diagnostik untuk
memonitor tujuan dan profitabilitas serta memastikan kemajuan ke arah target, seperti
pertumbuhan laba dan pangsa pasar.
Pada kenyataannya, sistem ini menciptakan tekanan yang dapat menimbulkan kegagalan
pengendalian, bahkan kritis. Salah satu tujuan utama sistem penilaian diagnostik adalah
20
menghilangkan beban manajer terhadap pengawasan yang konstan. Setelah tujuan ditetapkan,
penghargaan akan didasarkan pada tujuan tersebut. Dengan demikian, banyak manajer yang
yakin bahwa mereka dapat mengalihkan perhatiannya ke masalah lain karena mereka
mengetahui bahwa pekerja akan bekerja dengan rajin untuk mencapai tujuan yang telah
disepakati.

2.12.2Membangun Sistem Kepercayaan


Perusahaan menggunakan sistem kepercayaan selama bertahun-tahun dalam upaya untuk
menegaskan nilai dan arah yang diinginkan oleh manajer untuk diterapkan oleh karyawannya.
Sistem ini mengarahkan perhatian karyawan pada tujuan utama bisnis, cara organisasi
menciptakan nilai, upaya untuk mengatur tingkat kinerja organisasi, dan cara seseorang
diharapkan untuk mengatur hubungan internal dan eksternal.
Sistem kepercayaan dapat meningkatkan pengendalian diagnostik guna memberikan
pengendalian yang lebih besar kepada para manajer dewasa ini.

2.12.3Membangun Sistem Batasan


Sistem ini didasarkan pada prinsip manajemen sederhana yang mendasar pada kekuatan
pemikiran negatif. Memberi tahu karyawan mengenai apa yang tidak boleh dilakukan dapat
memunculkan inovasi, tetapi dalam batasan yang jelas.
Sistem batasan dan sistem kepercayaan jika digabungkan akan menciptakan ketegangan
yang dinamis serta kepercaaan yang hangat, positif, dan inspirasional secara bersama-sama.
hasilnya adalah ketegangan dinamis antara komitmen dengan sanksi. Kedua sistem ini
membentuk kesempatan secara bersama-sama tanpa batas ke dalam domain yang terfokus,
dimana manajer dan karyawan didorong untuk memanfaatkannya secara efektif.

2.12.4Membangun Sistem Pengendalian Interaktif


Sistem pengendalian interaktif merupakan sistem informasi formal yang digunakan oleh
manajer untuk melibatkan diri secara terus-menerus dan personal dalam keputusan bawahan.
Sistem pengendalian dapat bersifat interaktif jika ada perhatian dari seluruh pihak yang terlibat
dalam perusahaan.
Sistem pengendalian interaktif memiliki 4 karakteristik yang membedakannya dengan
sistem pengendalian diagnostik
1. Memfokuskan pada informasi yang berubah secara konstan dan diidentifikasi oleh para
manajer puncak sebagai informasi yang potensial bersifat strategis.
2. Informasi menuntut perhatian rutin yang cukup signifikan dari manajer operasi di seluruh
tingkatan organisasi
3. Data yang dihasilkan dijabarkan dan didiskusikan dalam rapat langsung yang dihadiri
oleh penyelia, bawahan, dan rekan sejawat.
4. Debat hanya akan berlangsung mengenai data, asumsi, dan tindakan perencanaan.
21
Sistem pengendalian interaktif melacak ketidakseimbangan strategis yang membuat
manajer senior berjaga-jaga akan ketidakpastian yang dapat merusak perencanaan yang dibuat
untuk mencapai tujuan.

2.12.5Melakukan Penyeimbangan Pemberdayaan dan Pengendalian


Manajer yang efektif akan memberdayakan organisasinya karena mereka percaya pada
potensi dasar manusia untuk melakukan inovasi dan menambah nilai. Oleh karena itu,
pengendalian dan komunikasi prinsip-prinsip tuntutan merupakan hal yang penting.
Secara kolektif, keempat jenis pengendalian disusun dalam kekuatan yang saling
mendukung. Oleh karena organisasi menjadi lebih kompleks, manajer akan selalu berhubungan
dengan kesempatan dan kekuatan kompetitif yang bertambah serta penurunan dalam waktu dan
perhatian untuk mencapai keuntungan dari inovasi dan kreativitas yang tidak dapat dicapai
dengan mengorbankan pengendalian.

GAMBAR 8.1 Memperbarui Strategi dengan Empat Tingkat Pengendalian

22
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Pengendalian dapat didefinisikan sebagai suatu inisiatif dalam memilih karena yakin
bahwa kemungkinan untuk memperoleh hasil yang diinginkan akan semakin meningkat.
Sistem yang komprehensif atas pengendalian dapat ditemukan pada perencanaan, operasi, dan
kegiatan umpat balik organisasi.
Agar menjadi komprehensif, desain pengendalian seharusnya responsif terhadap
lingkungan organisasi.
1.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis mohon
kritik dan saran dari pembaca untuk penyempurnaan makalah ini kedepan, akhir kata sekian dan
trimakasih.

23
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan “Akuntansi Keperilakuan Akuntansi Multiparadigma.” Pengandalian Keuangan.

24

Anda mungkin juga menyukai