Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN BAHAN ALAM


“FORMULASI SEDIAAN GRANUL EFFERVESCENT OBAT TRADISIONAL”

Disusun oleh :

Ernawati 33178K18009

PRODI D-III FARMASI


STIKES MUHAMMADIYAH KUNINGAN
2020
A. Judul Praktikum
1. Formulasi sediaan granul effervescent obat tradisional

B. Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa mampu membuat formulasi sediaan granul effervescent obat tradisional.

C. Dasar Teori
Tablet effervescent adalah tablet tidak bersalut, mengandung asam dan karbonat
atau bikarbonat yang bereaksi dengan cepat pada penambahan air dengan melepaskan
gas karbondioksida. Tablet effervescent diharapkan larut dalam air sebelum diberikan
kepada pasien (Lindberg et al., 1992). Tablet effervescent biasanya mengandung zat aktif
dan vitamin (Wolfram, 1999).
Tablet effervescent dibuat dengan cara mengempa bahan-bahan aktif berupa sumber
asam dan sumber karbonat. Bila tablet effervescent dimasukkan kedalam air, mulailah
terjadi reaksi kimia antara sumber asam dan sumber karbonat tersebut sehingga
membentuk garam natrium dari asam kemudian menghasilkan gas dalam bentuk
karbondioksida (CO2) (Rohdiana, 2003).
Tablet effervescent memiliki keuntungan dibandingkan bentuk sediaan padat oral
konvensional lainnya (Lindberg et al., 1992). Banyak studi menerangkan bahwa tablet
dan serbuk effervescent dapat meningkatkan absorbsi jumlah zat aktifnya dibandingkan
formula konvensional. Sebagai bentuk obat, tablet effervescent memberikan penyiapan
larutan dalam waktu seketika yang mengandung dosis obat yang tepat sehingga zat aktif
sudah berada dalam bentuk partikelnya (tidak perlu waktu untuk desintegrasi) sehingga
dapat dengan cepat diabsorbsi dan cepat mencapai onsetnya (Lee, 2005). Tablet
effervescent dapat diberikan pada pasien yang sulit menelan kapsul atau tablet (Lindberg
et al., 1992). Selain itu, adanya pelepasan gas karbondioksida juga membantu
memperbaiki rasa beberapa obat tertentu (Banker and Anderson, 1986). Gas
karbondioksida yang terbentuk memberikan efek sparkle (rasa seperti soda) dan
mempermudah proses pelarutan tablet effervescent tanpa pengadukan secara manual
dengan syarat semua komponen bersifat sangat mudah larut air (Kusnadhi, 2003).
Kerugian tablet effervescent adalah produk yang dihasilkan tidak stabil dengan

1
adanya lembab. Sebagian besar produk effervescent adalah higroskopis sehingga dapat
mengadsorbsi lembab yang cukup untuk memulai degradasi jika tidak disimpan dalam
kemasan yang sesuai (Lindberg et al., 1992). Bahkan kelembapan udara selama
pembuatan produk sudah cukup untuk memulai reaktivitas effervescent (Lachman et al.,
1994).
Pada pembuatan tablet effervescent asam merupakan bahan yang sangat penting.
Bahan asam inilah yang akan bereaksi dengan bahan karbonat untuk membentuk gas CO 2
sehingga tablet dapat hancur ketika dimasukkan ke dalam air. Asam yang digunakan
pada penelitian ini merupakan kombinasi antara asam sitrat dan asam tartrat karena
penggunaan bahan asam tunggal akan menimbulkan kesukaran. Penggunaan asam tartrat
tunggal menghasilkan campuran serbuk yang mudah kehilangan kekuatannya dan
menggumpal, sedangkan campuran yang lengket akan dihasilkan ketika asam sitrat
tunggal digunakan. Selain itu, kedua asam tersebut memiliki kelarutan yang tinggi dalam
air sehingga tablet dapat larut dengan cepat.
Reaksi yang terjadi antara komponen asam basapada sediaan effervescent menurut
Ansel (1989), yaitu :
1) H3C6H5O7.H2O + 3 NaHCO3 → Na3C6H5O7 + 4 H2O + 3 CO2
(Asam sitrat + natrium bikarbonat → natrium sitrat)
2) H2C4H4O6 + 2 NaHCO3 → Na2C4H4O6 + 2 H2O + 2 CO2
(asam tartrat + natrium bikarbonat → natrium tartrat)
Dalam pembuatan sediaan effervescent, selain zat aktif dibutuhkan pula bahan-
bahan tambahan seperti:
a. Sumber Asam
Sumber asam yang diperlukan untuk reaksi effervescent dapat diperoleh dari tiga
sumber utama, yaitu asam makanan (asam sitrat, asam tartrat, asam malat, asam
fumarat, asam adiptat dan asam suksinat), asam anhidrat ( asam suksinat anhidrat dan
asam sitrat anhidrat) dan asam garam (natrium dihirogen pospat, dinatrium dihirogen
piropospat, garam asam sitrat dan natrium asam sulfit). Asam makanan adalah yang
biasa digunakan (Mohrle, 1989). Asam sangat penting pada pembuatan tablet
effervescent. Sumber asam jika direaksikan dengan air maka bahan tersebut akan
terhidrolisa kemudian akan melepaskan asam yang dalam proses selanjutnya akan

2
bereaksi dengan bahan karbonat sehingga terbentuklah gas CO 2 (Banker and
Anderson, 1986).
Asam sitrat bersifat sangat mudah larut air dan mudah larut etanol (Lindberg et
al., 1992). Sifat asam sitrat yang higroskopis dan mudah larut dalam air merupakan
alasan yang menyebabkan asam sitrat lebih sering digunakan dalam pembuatan
suasana asam pada pembuatan tablet effervescent (Ansel, 1989). Asam tartrat lebih
larut dalam air dan lebih higroskopis dibandingkan dengan asam sitrat (Mohrle, 1989).
Asam tartrat terlarut di dalam kurang dari 1 bagian air, hal ini berarti 1 bagian asam
larut dalam kurang dari 1 bagian air dan larut dalam 2,5 bagian alkohol (Lindberg et
al., 1992). Sumber asam akan menghasilkan reaksi effervescent yang baik bila
digunakan pada range konsentrasi 25-40% dari berat tablet (Wehling and Fred, 2004).
b. Sumber Karbonat
Sumber karbonat untuk effervescent meliputi natrium bikarbonat, natrium
karbonat, potassium karbonat, natrium sesquikarbonat, natrium glisin karbonat, L-lisin
karbonat, arginin karbonat (Mohrle, 1989). Natrium karbonat di pasaran tersedia
dalam bentuk anhidrat atau monohidrat.. Semua bentuk natrium karbonat sangat larut
dalam air (Lindberg et al., 1992). Natrium karbonat (Na2CO3) menunjukkan efek
menstabilkan ketika digunakan dalam tablet effervescent dikarenakan kemampuannya
mengabsorbsi lembab, hal ini dapat mencegah reaksi awal effervescent. Natrium
karbonat dalam bentuk anhidrat akan mengabsorbsi lembab menjadi bentuk hidrat
yang stabil (Mohrle, 1989).
c. Bahan Pengikat
Bahan pengikat adalah bahan yang membantu untuk mengikat bahan lain
bersama-sama (Mohrle, 1989). Bahan pengikat menjamin penyatuan beberapa partikel
serbuk dalam sebuah butir granulat. Demikian pula kekompakan tablet akan
dipengaruhi, baik oleh tekanan pencetakan maupun bahan pengikat (Voigt, 1995).
Penggunaan bahan pengikat pada tablet effervescent dibatasi bukan karena tidak
dibutuhkan tetapi karena aksi dua arah bahan pengikat tersebut. Penggunaan bahan
p engikat, sekalipun larut air, akan memperlambat proses desintegrasi tablet
effervescent (Mohrle, 1989). Oleh karena itu, sebaiknya bahan pengikat digunakan
sesedikit mungkin (Voigt, 1995).

3
Bahan pengikat yang efektif untuk tablet effervescent adalah PVP
(polivinylpyrolidone) (Mohrle, 1989). PVP dapat ditambahkan ke dalam campuran
dalam bentuk kering atau di granulasi. Konsentrasi PVP yang digunakan sebagai
bahan pengikat berkisar antara 0,5-5% (Khankari and Hortz, 1997).
Tanaman yang digunakan dalam pengujian ini adalah jahe merah (Zingiber officinale
Rosc.).
a. Kedudukan tanaman jahe merah dalam taksonomi tanaman
Dunia : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Zingiber
Jenis : Zingiber officinale Rosc. (Tjitrosoepomo, 1991)

b. Deskripsi Tanaman
Jahe merah merupakan tumbuhan tahunan yang memiliki rimpang tebal berwarna
coklat kemerahan. Tinggi sekitar 40-50 cm. Daunnya sempit berbentuk lanset dengan
panjang 5-25 cm dan lebar 8-20 mm, ujung daunnya runcing, dengan pangkal tumpul dan
bertepi rata. Berbunga majemuk dengan bentuk bulat telur, muncul dari rimpang, dengan
panjang tangkai 10-25 cm dan terdapat daun kecil pada dasar bunga. Kelopak bunga kecil,
berbentuk tabung dan bergerigi tiga. Mahkota bunga bentuk corong, panjang 2-2,5 cm,
berwarna ungu tua dengan bercak krem-kuning (Standard of ASEAN, 1993).

c. Kandungan Kimia
Jahe merah mengandung minyak atsiri (1-3%), oleoresin, dan protease. Minyak
atsirinya terdiri dari monoterpen seperti geranial (citral a) dan neral (citral b) dan
sesquiterpen seperti bisabolone dan zingiberen. Oleoresin jahe merah sebagian besar
mengandung zat yang memberikan rasa pedas, yaitu gingerol, shogaol, paradol dan
zingeron. Gingerol bersifat termolabil, sehingga bila terkena panas dan udara gingerol
akan berubah menjadi shogaol dan zingeron. Shogaol juga bisa berubah menjadi paradol

4
(Standard of ASEAN, 1993).
Shogaol dan zingeron banyak terdapat pada jahe merah yang sudah menjadi serbuk,
sebaliknya jumlahnya sedikit pada jahe merah yang masih segar. Gingerol, shogaol, dan
paradol merupakan senyawa identitas dalam jahe merah yang dikenal memiliki berbagai
macam aktivitas biologis termasuk sebagai antinflamasi (Standard of ASEAN, 1993).

d. Khasiat
Pada pengobatan tradisional China dan India, jahe merah digunakan untuk
mengatasi penyakit batuk, diare, mual, asma, gangguan pernapasan, sakit gigi, dan
arthritis. Sekarang para ahli kesehatan merekomendasikan jahe merah dan ekstraknya
untuk mengatasi dyspepsia dan motion sickness. (Standard of ASEAN, 1993; Grzanna,
Reinhard, Lars, & Carmelita, 2005). Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa jahe
merah dapat digunakan untuk mengatasi inflamasi akut dan kronik. (Grzanna, Reinhard,
Lars, & Carmelita, 2005; Hassanabad, Fatehi, Gholamnezad, Mostafa, & Mohammad,
2005).

D. Metode Praktikum
1. Alat
a. Timbangan analitik
b. Mortir dan stemper
c. Cawan penguap
d. Gelas ukur
e. Corong
f. Beakerglass
g. Piknometer
h. Kertas perkamen
i. Plastik klip

2. Bahan
a. Ekstrak kental jahe merah
b. Natrium bikarbonat
c. Asam sitrat

5
d. Asam tartrat
e. Laktosa
f. CMC-Na
g. Air

3. Cara Kerja
a. Formulasi sediaan obat tradisional
Bagian I : Pencarian informasi dan pustaka
No Aspek Hasil Masukan
1. Nama simplisia Zingiberis officinale rhizoma
2. Bentuk sediaan Granul
3. Komposisi Tiap bungkus mengandung :
1. Ekstrak jahe merah 388 mg
2. Natrium bikarbonat 335 mg
3. Asam sitrat 250 mg
4. Asam tartrat 150 mg
5. Laktosa 1,7 gram
6. CMC-Na 165 mg
4. Khasiat yang dipilih Ekstrak jahe merah digunakan untuk
mengurangi inflamasi (Kitagata-cho, 2007).
5. Kandungan kimia Jahe merah mengandung minyak atsiri
(monoterpen dan sesquiterpen), oleoresin
(gingerol, shogaol, paradol dan zingeron)
serta protease. Gingerol, shogaol dan paradol
merupakan senyawa identitas dalam jahe
merah yang dikenal memiliki berbagai
macam aktivitas biologis termasuk
antiinflamasi (Standard Of ASEAN, 1993).
6. Dosis Dosis ekstrak jahe merah sebagai anti
inflamasi berdasarkan referensi adalah
100mg/kg mencit secara oral (Kitagata-cho,
2007).
Konversi dosis mencit dengan BB 20gr=

6
100 mg
× 20gr = 20mg/20gr BB
1000
Konversi ke manusia :
Dosis = dosis pada hewan uji x faktor
konversi
Dosis = 2mg x 387,9
= 775,8mg ~ 776mg/hari
= 776mg : 2 = 388mg/1x pemakaian
7. Prosedur pembuatan 1. Timbang semua baham.
sediaan 2. Masukkan setengah bagian laktosa pada
mortir guna melapisi pori-pori mortir.
3. Kemudian tambahkan setengah bagian
ekstrak, gerus hingga homogen.
4. Tambahkan asam sitrat, asam tartrat dan
sebagian CMC Na pada mortir dan gerus
kembali hingga homogen, hasil disisihkan
pada cawan 1 sebagai bahan asam.
5. Pada mortir lain, masukkan sisa bagian
laktosa dan masukkan sisa bagian ekstrak
gerus hingga homogen.
6. Tambahkan natrium bikarbonat dan CMC
Na, gerus kembali hingga homogen. Hasil
ditempatkan pada cawa 2 sebagai bahan
basa.
7. Kedua cawan kemudian di oven pada
suhu 65°C selama ± 5 menit.
8. Setelah di oven, cawan 1 dan 2 dicampur
dalam mortir dan digerus hingga homogen
dan dikeringkan kembali menggunakan
oven ± 20 menit
9. Setelah benar-benar kering, serbuk diayak
menggunakan mesh 22 hingga tercipta

7
granul-granul.
10.Dilakukan evaluasi granul kemudian hasil
disimpan rapat dalam plastik klip dan
aluminium foil.

Bagian II : Kerja Laboratorium


1. Formulasi sediaan dan kegunaan tiap bahan

1. Ekstrak jahe merah


Sebagai zat aktif, dapat meringankan inflamasi
2. Natrium bikarbonat
Sebagai bahan/sumber basa
3. Asam sitrat, asam tartrat
Sebagai bahan/sumber asam
4. Laktosa
Sebagai bahan pemanis dan pengisi
5. CMC Na
Sebagai bahan pengikat

2. Prosedur pembuatan sediaan

1. Timbang semua baham.


2. Masukkan setengah bagian laktosa pada mortir guna melapisi pori-pori mortir.
3. Kemudian tambahkan setengah bagian ekstrak, gerus hingga homogen.
4. Tambahkan asam sitrat, asam tartrat dan sebagian CMC Na pada mortir dan
gerus kembali hingga homogen, hasil disisihkan pada cawan 1 sebagai bahan
asam.
5. Pada mortir lain, masukkan sisa bagian laktosa dan masukkan sisa bagian ekstrak
gerus hingga homogen.
6. Tambahkan natrium bikarbonat dan CMC Na, gerus kembali hingga homogen.
Hasil ditempatkan pada cawa 2 sebagai bahan basa.
7. Kedua cawan kemudian di oven pada suhu 65°C selama ± 5 menit.
8. Setelah di oven, cawan 1 dan 2 dicampur dalam mortir dan digerus hingga

8
homogen dan dikeringkan kembali menggunakan oven ± 20 menit
9. Setelah benar-benar kering, serbuk diayak menggunakan mesh 22 hingga tercipta
granul-granul.
10.Dilakukan evaluasi granul kemudian hasil disimpan rapat dalam plastik klip dan
aluminium foil.

b. Evaluasi granul
1) Uji aliran granul
a) Disediakan serbuk minimal 20-30 gram
b) Disediakan corong dan beaker glass
c) Ditutup lubang bawah corong dengan jari tangan
d) Dimasukkan serbuk kedalam corong
e) Disiapkan beakerglass, diletakkan dibuang bawah corong
f) Dibuka lubang corong yang ditutup dengan jari tangan bersamaan dengan
menjalankan stopwatch
g) Dicatat waktu alir serbuk. Dilakukan 2x (duplo)
Syarat :
1. > 10 = bebas mengalir
2. 1,4 – 4 = kohesif
3. 4 – 10 = mudah mengalir
2) Bobot jenis granul/serbuk
Bobot jenis (ρ ¿adalah konstanta atau tetapan bahan yang tergantung pada
suhu, baik untuk padat, cair dan gas yang homogen.
a. Bobot jenis didefinisikan sebagai perbandingan antara massa bahan
terhadap volume
m
ρ=
v
b. Bobot jenis relatif farmakope yakni bobot jenis yang mengacu pada
ukuran, berat dan merupakan perbandingan berat serta bagian volume
sama dari zat yang diteliti terhadap cairan, dimana diukur di udara pada
suhu 20°C.
3) Uji pemampatan granul

9
a) Ditimbang 20-30 gram massa, masukkan kedalam gelas ukur
b) Diketukkan sebanyak 20 kali
c) Dihitung tinggi awal dan akhir massa dalam gelas ukur. Dilakukan 2x (duplo)
T1
Perhitungan : ×100%
T0
Keterangan : T1 = tinggi awal
T0 = tinggi akhir
Syarat : < 20% aliran baik
4) Homogenitas
Prosedur pengujian :
a. Timbang 20-30 gr serbuk
b. Letakkan serbuk pada pengayak paling atas
c. Getarkan 5-30 menit, tergantung dari ketahanan granul pada getaran
d. Timbang serbuk yang tertahan pada tiap-tiap pengayak
e. Hitung persentase serbuk pada tiap-tiap pengayak
berat serbuk yang tertinggal di ayakan
%= x 100%
berat total granul
E. Hasil Praktikum
Evaluasi granul
a. Uji aliran serbuk/granul
1) 52,8 detik
24,62 gr
Waktu alir serbuk : = 0,47
52,8 detik
2) 11detik
24,62 gr
Waktu alir serbuk : = 2,24
11 detik
0,47+2,24 2,81
Sehingga rata-rata waktu alir serbuk = = = 1,405 (sifat aliran granul
2 2
yakni kohesif)

b. Bobot jenis serbuk/granul


Piknometer kosong (g) 21,42 g
Piknometer + serbuk (g) 99,33 g

10
Berat serbuk (g) 77,91 g
Volume serbuk yang dapat dimasukan ke dalam piknometer (mL) 22 ml
Bobot jenis (g/ml) 3,541
Bobot jenis relative 3,56
c. Uji pemampatan
1) To = 42 T1 = 43
43
Perhitungan : x 100% = 1,02%
42
2) To = 46 T1 = 45
45
Perhitungan : x 100% = 0,97%
46
Sehingga rata-rata uji pemampatan yaitu :
1,02% +0,97 % 1,99
= = 1,5% (daya alir baik, karena < 20%)
2 2

d. Homogenitas
0
Mesh ke-1 : g x 100% = 0%
24,62
1,60
Mesh ke-2 : g x 100% = 0,065%
24,62
9,85
Mesh ke-3 : g x 100% = 0,4 %
24,62

F. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan mengenai sediaan granul effervescent
menggunakan bahan aktif ekstrak etanol jahe merah. Penggunaan ekstrak etanol jahe merah
ini digunakan untuk mengurangi peradangan yang telah dibuktikan melalui penelitian yang
dilakukan oleh Kitaga-cho (2007). Hal tersebut dapat terjadi karena jahe merah mengandung
oleoresin dengan jenis gingerol, shogaol dan paradol yang dapat membantu mengurangi
peradangan yang terjadi.
Effervescent merupakan serbuk jika dilarutkan dalam air mempunyai reaksi asam dan
basa. Dasar reaksi dari minuman effervescent ialah terjadinya reaksi senyawa asam dan
senyawa basa (Rakte dan Nanjwade, 2014). Kandungan asam yang tidak seimbang pada
produk dapat menyebabkan berkurangnya efek menyegarkan sehingga mempengaruhi cita
rasa pada effervescent. Pada pembuatan granul effervescent ini, digunakan kombinasi dari 2

11
bahan asam dan bahan basa. Penggunaan bahan asam yang kombinasi ini seharusnya
menghasilkan kombinasi yang baik. Pada pembuatan tablet effervescent sumber asam
merupakan bahan yang sangat penting, dimana asam akan bereaksi dengan bahan karbonat
sehingga terbentuklah gas CO2 (Banker and Anderson, 1986). Gas karbondioksida inilah
yang membantu larutnya tablet ketika dimasukkan ke dalam air.
Penggunaan bahan asam tunggal akan menimbulkan kesukaran. Apabila asam tartrat
digunakan sebagai asam tunggal maka campuran serbuk yang dihasilkan akan mudah
kehilangan kekuatannya dan menggumpal, sedangkan penggunaan asam sitrat saja akan
menghasilkan campuran yang lengket (Ansel, 1989). Asam sitrat memiliki kelarutan yang
tinggi dalam air dan mudah diperoleh dalam bentuk granulat. Alasan inilah yang
menyebabkan mengapa asam sitrat lebih sering digunakan sebagai sumber asam dalam
pembuatan tablet effervescent (Rohdiana, 2003). Asam tartrat digunakan sebagai sumber
asam dikarenakan asam tartrat memiliki kelarutan yang sangat baik dalam air (Ansel, 1989).
Asam tartrat juga merupakan sumber asam yang banyak digunakan dalam sediaan
effervescent.
Pada pembuatannya sendiri dilakukan sesuai dengan cara kerja. Setelah pengeringan
terakhir dilakukan, granul yang lumayan besar digerus kembali sehingga didapatkan granul
yang diinginkan. Namun ternyata sediaan granul tersebut kurang homogen, masih terdapat
bercak putih tertinggal ketika granul di gerus kembali. Setelahnya dilakukan uji kelarutan
granul effervescent menggunakan 7 gram granul effervescent yang dilarutkan dalam 200 ml.
hasil kelarutan menunjukkan sediaan larut dalam waktu 31,9 detik termasuk dengan
pelepasan sparkle dan gelembung gas CO2. Namun pada waktu tersebut, sediaan tidak larut
sempurna melainkan terdapat endapan dibagian bawah beaker glass. Ketika endapan
tersebut diaduk ternyata endapan tersebut dapat larut sempurna. Hal itu dapat disebabkan
karena saat pencampuran bahan yang kurang homogen atau karena penggunaan bahan
pengikat yang kurang tepat. Waktu larut tablet effervescent dapat terhalangi oleh jumlah
bahan yang tidak larut air dan bahan pengikat yang terlalu banyak serta kekerasan tablet
yang berlebihan. Tablet effervescent yang baik akan larut dan terlarut dengan cepat dalam
waktu 1-2 menit (Mohrle, 1989). Setelah disimpan selama seminggu, sediaan kemudian
dilakukan uji kelarutan kembali, dan hasil dari evaluasi tersebut ternyata sediaan hanya
sedikit dan lambat dalam menghasilkan buih atau gelembung CO2. Hal tersebut dapat

12
disebabkan karena faktor penyimpanan yang kurang tepat atau karena memang bahan yang
digunakan kurang tepat seperti perbandingan asam basa dan penggunaan pengikat yang
kurang tepat.
Dilakukan pula pengujian sifat alir granul. Sifat alir campuran serbuk sangat penting
tidak hanya karena efek langsungnya pada keseragaman pengisian die dan keseragaman
bobot tablet, tetapi juga peranannya dalam homogenitas campuran atau serbuk. Berdasarkan
pengujian dan perhitungan yang dilakukan, didapatkan nilai daya alir sebesar 1,405 sehingga
dapat dikatakan bahwa sifat alir dari granul effervescent ini kohesif atau mengalir dengan
baik. Selain itu juga dilakukan uji pemampatan granul effervescent. Pengujian ini dilakukan
untukmengetahui kemampatan campuran setiap bahan. Hasil dari uji pemampatan in yaitu
sebesar 1,5% dan hal tersebut memenuhi syarat karena kurang dari 20% sehingga dapat
dikatakan bahwa daya alir serbuk ini baik.
Pengujian selanjutnya yakni uji bobot jenis serbuk. Tujuan dilakukannya pengujian ini
adalah untuk mengetahui kekentalan suatu zat cair juga digunakan untuk mengetahui
kemurnian suatu zat dengan menghitung berat jenisnya kemudian dibandingkan dengan teori
yang ada, jika berat jenisnya mendekati maka dapat dikatakan zat tersebut memiliki
kemurnian yang tinggi. Hasil pengujian ini sudah tertera pada poin hasil pengamatan dengan
bobot jenis relatif sebesar 3,56. Pengujian terakhir yang dilakukan yakni homogenitas.
Tujuan dari pengujian ini yakni untuk mengetahui apakah proses pencampuran serbuk yang
dilakukan menghasilkan campuran yang homogen dan mengetahi derajat atau tingkat
kehalusan serbuk. Hasil dari pengujian ini yakni tidak ada yang tertinggal pada mesh 1 dan
0,065% serbuk tertinggal pada mesh ke 2 dan 0,4% serbuk tertinggal pada mesh ke 3.
Sehingga serbuk yang lolos dari ketiga mesh ini tersisa 10,27 gram.

G. Kesimpulan
Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa granul effervescent ini berhasil
dibuat karena menghasilkan gelembung gas CO2. Namun pada saat kelarutan serbuk tidak
larut sempurna melainkan harus dibantu dengan pengadukan sesaat untuk melarutkan
endapan yang tersisa. Setelah dilakukan penyimpanan selama 1 minggu, serbuk tidak
menghasilkan buih/gelembung CO2.
H. Saran

13
Untuk praktikum kedepannya, bagi kami sebagai mahasiswa harus lebih teliti pada
saat praktikum agar tidak terjadi kesalahan.

I. Daftar Pustaka
Ansel, H.C., 1989, Pharmaceutical Dosage Form and Delivery System, terjemahan Farida
Ibrahim, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Ed IV, 201-273, UI Press, Jakarta.
Banker, G.S., and Anderson, N.R., 1980, Tablet, in Lachman, L., Lieberman, H.A., Kanig,
J.L ,The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, diterjemahkan oleh Siti
Suyatmi, Edisi ke-3, UI Press, Jakarta.
Grzanna, Reinhard, Lars Linmark & Carmelita G. Frondoza. 2005. Review: Ginger An
Herbal Medicinal Product with Broad Anti-Inflammatory Actions. Journal of
Medicinal Food, 8 (2), 125-132.
Hassanabad, Zahra Fatehi, Zahra Gholamnezad, Mostafa Jafarzedah, & Mohammad Fatehi.
2005. The Anti-Inflammatory Effects of Aqueous Extract of Ginger Root in Diabetic
mice. DARU, 13 (2), 70-73.
Khankari, R.K., and Hontz, J., 1997, Binders and Solvents in Parikh, D.M., Handbook of
Pharmaceutical Granulation Technology, hal 64, Marcel Dekker Inc : New York
Kitaga-Cho, Numata. 2007. Red Ginger Extract: All Natural Anti-Arthritic & Anti-
Inflamatory Agent For Food & Cosmetics Applications. Ichinomiya City, Japan:
Oryza Oil & Fat Chemical, 1-21.
Kusnadhi F.F., 2003, Formulasi Produk Minuman Instant Lingzhi-Jahe Effervescent,
Seminar Nasioanal dan Pertemuan Tahunan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan
Indonesia Peranan Industri dalam Pengembangan Produk Pangan Indonesia,
Fakultas Teknologi Pertanian, 1699, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Lachman, L., Lieberman, H.A., dan Kanig, J.L., 1989, Teori dan Praktek Industri Farmasi,
edisi III, diterjemahkan oleh Siti suyatmi dan Iis Aisyah, 644- 645, 681-683, 685,
Univesitas Indonesia Press, Jakarta.
Lee, and Robert E., 2005, Effervescent Tablet,
http://www.amerilabtech.com/EffervescentTablets&KeyFacts.pdf.

14
Lindberg, N., Engfors, H., and Ericson, T., 1992, Effervescent Pharmaceuticals in
Swarbricck, J., Boylan, J.C., (eds), Encyclopedia of Pharmaceutical Technology,
Vol.5, 45-71, Marcell Dekker Inc., New York.
Mohrle, R., 1989, Effervescent tablets in Lieberman, H.A., Lachman, L., (eds),
Pharmaceutical Dossage form : Tablet, Vol. I, 225-228, Marcell Dekker Inc., New
York.
Rakte, AS., dan Nanjwade, BK. 2014. Development and Characteritezation of Novel
Enzymes. World journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 3(3): 1600-1620.
Rohdiana, D., 2003, Mengenali Teknologi Tablet effervescent, http:// www.pikiran-
rakyat.com/cetak/0403/10/cakrawala/lainnya2.htm
Rusita, Youstiana Dwi., Rakhmayanti, R. D. 2019. Formulasi Sediaan Serbuk Effervescent
Daun Kelor (Moringa Oleifera L.). Prosiding Seminar Nasional Universitas
Muhammadiyah Semarang. Volume 2 : 118-125.
Standard of ASEAN Herbal Medicine, Vol. I. 1993. Jakarta: ASEAN Countries, 447-457.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1991. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 152-155, 443-445.
Voight,R., 1995, Lehrbuch Der Pharmazeutischen Technologie, 5th Ed., 165-226,
Terjemahan Soewandhi, S.N., UGM-Press, Yogyakarta
Wehling, and Fred., 2004, Effervescent Composition Including Stevia,
http://www.patentstorm.us/patents/6811793.html.
Wolfram, Tritthart, Psikernig, Maria, Andre, Kolb, et al., 1999, Effervescent Formulations,
http://www.Pharmcast.com/patents.

J. Lampiran

15
Bahan pemgikat Bahan sumber basa Bobot ekstrak yang Bobot natrium
dan sumber basa yang digunakan digunakan bikarbonat

Bobot asam sitrat Bobot asam tartrat Bobot CMC Na yang Bobot laktosa yang
yang digunakan yang digunakan digunakan digunakan

Pencampuran Pengeringan Pengeringan bahan Bobot bahan basa


bahan pembuatan sediaan asam dan basa setelah dikeringkan
granul menggunakan oven

Bobot bahan asam Pencampuran bahan Bobot total serbuk Bobot granul yang
setelah asam dan basa setelah dilakukan digunakan untuk
dikeringkan Pengeringan ulang pengujian

16
Uji aliran granul Bobot piknometer Bobot piknometer + Uji pemampatan granul
kosong granul effervescent effervescent

Sisa granul pada Sisa granul pada Sisa granul pada Bobot granul yang
mesh ke 1 mesh ke 2 mesh ke 3 lolos dari ketiga mesh

Bobot granul Bobot granul yang Sediaan red ginger


Hasil uji kelarutan
untuk uji kelarutan akan dikemas effervescent
granul effervescent
@3gram/bungkus

Kemasan dan brosur

17
18

Anda mungkin juga menyukai