Anda di halaman 1dari 22

PEMINATAN CVCU

LAPORAN PENDAHULUAN
ANGINA PECTORIS

OLEH

NAMA : FATMAWATI
NIM : C 121 06 043

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
ANGINA PECTORIS

I. KONSEP MEDIS

A. Pengertian
Angina pectoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung dan
terjadi sebagai respos terhadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel
miokardium dibandingkan kebutuhan mereka akan oksigen. Nyeri angina
dapat menyebar ke lengan kiri ke punggung, ke rahang, atau ke daerah
abdomen.
Angina biasanya disebabkan oleh penyakit jantung aterosklerotik dan
hamper selalu berhubungan dengan sumbatan arteri koroner utama.

B. Etiologi
Biasanya angina merupakan akibat dari penyakit arteri koroner,
penyebab lainnya adalah:
 Stenosis katup aorta (penyempitan katup aorta)
 Regurgitasi katup aorta
 Spasme arterial
 Anemia yang berat
C. Klasifikasi
Secara klinis angina pectoris, dibagi atas:
1. Stable angina : serangan nyeri dada biasanya berlangsung 1-5 menit
belum menetap, dan berespon terhadap pengobatan.
2. Unstable angina: serangan nyeri dada biasanya berlangsung lebih dari
lima menit, menetap, dan tidak berespon terhadap pengobatan.
merupakan angina yang pola gejalanya mengalami perubahan.
Ciri angina pada seorang penderita biasanya tetap, oleh karena itu setiap
perubahan merupakan masalah yang serius (msialnya nyeri menjadi
lebih hebat, serangan menjadi lebih sering terjadi atau nyeri timbul
ketika sedang beristirahat).
Perubahan tersebut biasanya menunjukkan perkembangan yang cepat
dari penyakit arteri koroner, dimana telah terjadi penyumbatan arteri
koroner karena pecahnya suatu ateroma atau terbentuknya suatu
bekuan.resiko terjadinya serangan jantung sangat tinggi.
unstable angina merupakan suatu keadaan darurat.
3. Prizmetal (variant) angina: serangan nyeri dada yang hanya timbul saat
istirahat, gambaran EKG adanya ST elevasi.
4. Vaiable threshold angina : terjadi bila pergerakan pembuluh darah
(vasomotion) dapat muncul saat istirahat.

D. Patofisiologi
Telah diketahui bahwa sel endotel pembuluh darah mampu
melepaskan endothelial derived relaxing factor (EDRF) yang menyebabkan
relaksasi pembuluh darah dan endothelial derived constricting factor (EDCF)
yang menyebabkan kontraksi pembuluh darah
Pada keadaan normal, pelepasan EDRF terutama diatur oleh
asetilkolin melalui perangsangan muskarinik yang mungkin terletak di sel
endotel. Berbagai substansi lain seperti trombin, adenosine dipospat,
adrenalin, serotonin, vasopressin, histamine, dan noreadrenalin juga mampu
merangsang pelepasan EDRF, selain memiliki efek tersendiri terhadap
pembuluh darah.
Pada keadaan patologis seperti adanya lesi aterosklerotik maka
serotonin, ADP, dan asetilkolin justru merangsang pelepasan EDC. Hipoksia
akibat aterosklerotik pembuluh darah juga merangsang pelepasan EDCF.
Berhubung karena sebagian penderita angina pectoris juga menderita
aterosklerotik di pembuluh darah koroner, maka produksi EDRF menjadi
berkurang sebaliknya EDCFbertambah sehingga terjadi peningkatan tonus
A.koronaria.
Walaupun demikian, jantung memiliki coronary reserve yang besar,
maka pada keadaan biasa, penderita yang mengalami aterosklerotik pembuluh
darah koroner mungkin tidak ada gejala. Namun apabila beban jantung
meningkat akibat aktivitas fisik, atauoleh sebab terjadi peningkatan aktivitas
saraf simpatis. Maka aliran darah koroner ke miokard sehingga terjadi hiposia
miokard.
Keadaan hipoksia dan iskemik ini akan merubah proses glikolisis dari
anaerobic menjadi aerobic, dengan demikian terjadipenurunan sistesis ATP
dan penimbunan asam laktat.

E. Manifestasi Klinik
Rasa diikat atau ditekan yang bermula dari tengah dada yang secara
bertahap menyebar ke rahang bawah, permukaan dalam tangan kiri,
permukaan ulnar jari manis dan jari kelingking.
Secara garis besar, cirri khas tanda dan gejala terjadinya angina
pectoris dapat dilihat dari letaknya (daerah yang terasa sakit), kualitas sakit,
hubungan timbulnya sakit dengan aktivitas dan lamanya serangan.
Sakit biasanya timbul di daerah sternal, sub sternal, atau dada sebelah
kiri dan menjalar ke lengan kiri, kualitas sakit yang timbul beragam, dapat
seperti ditekan benda berat, dijepit atau terasa panas. Sakit biasanya timbul
saat melakukan aktivitas dan hilang saat berhenti.

F. Pemeriksaan Diagnostik
 EKG (elektrokardiograf), didapatkan depresi segmen ST lebih dari 1 mm
pada waktu melakukan latihan/aktivitas dan biasanya disertai sakit dada
mirip seperti serangan saat angina.
 Enzim/isoenzim jantung biasanya DM: meningkat menunjukkan
kerusakan miokard.pemantauan EKG 24jam dilakukan untuk melihat
episode nyeri sehubungan dengan segmen ST berubah. Depresi ST tanpa
nyeri menunjukkan iskemia.
 Foto dada: biasanya normalnamun infiltrate mungkin ada menunjukkan
dekompensasi jantung atau komplikasi paru.
 PCO2 kalium dan laktat miokard: munkin meningkat selama serangan
angina (semua berperan dalam iskemia miokard).
 Pacu stress takikardi atrial: dapat menunjukkan perubahan segmen ST
LVEDP dapat meningkat atau masih statis dengan iskemia. Meninggi
dengan nyeri dada atau perubahan ST adalah diagnostic iskemia.
 Kateterisasi jantung dengan angiografi: diindikasikan pada pasien dengan
iskemia yang diketahui dengan angina atau nyeri dada tanpa kerja, pada
pasien dengan kolestronemia dan penyakian jantung keluarga yang
mengalami nyeri dada dan dengan pasien EKG istirahat abnormal. Hasil
abnormal ada gangguan kontraktilitas, penyakit katup, gagal ventikel.
 Injeksi ergonogative (ergogratea): pasien yang mengalami angina saat
istirahat menunjukkan hiperplastik pembuluh darah koroner. Pasien
angina biasanya mengalami nyeri daa, peninggian ST.

G. Komplikasi
Komplikasi utama dari angina (stable) adalah unstable angina, infark
miokard, aritmia dan sudden death
H. Penatalaksanaan
Pengobatan dimulai dengan usaha untuk mencegah penyakit arteri koroner,
memperlambat progresivitasnya atau melawannya dengan mengatasi faktor-faktor
resikonya.
faktor resiko utama (misalnya peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol),
diobati sebagaimana mestinya.
faktor resiko terpenting yang bisa dicegah adalah merokok sigaret.

Pengobatan angina terutama tergantung kepada berat dan kestabilan gejala-


gejalanya.
Jika gejalanya stabil dan ringan sampai sedang, yang paling efektif adalah
mengurangi faktor resiko dan mengkonsumsi obat-obatan.

Jika gejalanya memburuk dengan cepat, biasanya penderita segera dirawat dan
diberikan obat-obatan di rumah sakit.
jika gejalanya tidak menghilang dengan obat-obatan, perubahan pola makan dan
gaya hidup, maka bisa digunakan angiografi untuk menentukan perlu tidaknya
dilakukan pembedahan bypass arteri koroner atau angioplasti.

Stable angina

pengobatan dimaksudkan untuk mencegah atau mengurangi iskemia dan


meminimalkan gejala.
terdapat 4 macam obat yang diberikan kepada penderita:

1. Beta-bloker
obat ini mempengaruhi efek hormon epinefrin dan norepinefrin pada jantung
dan organ lainnya.
beta bloker mengurangi denyut jantung pada saat istirahat. selama melakukan
aktivitas, beta-bloker membatasi peningkatan denyut jantung sehingga
mengurangi kebutuhan akan oksigen.
beta-bloker dan nitrat telah terbukti mampu mengurangi kejadian serangan
jantung dan kematian mendadak.

2. Nitrat (contohnya nitrogliserin).


nitrat menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah, terdapat dalam
bentuk short-acting dan long-acting.
sebuah tablet nitrogliserin yang diletakkan di bawah lidah (sublingual)
biasanya akan menghilangkan gejala angina dalam waktu 1-3 menit, dan
efeknya berlangsung selama 30 menit.
penderita stable angina kronik harus selalu membawa tablet atau semprotan
nitrogliserin setiap saat.
menelan sebuah tablet sesaat sebelum melakukan kegiatan yang diketahui
penderita dapat memicu terjadinya angina, akan sangat membantu penderita.
nitrogliserin tablet juga bisa diselipkan diantara gusi dan pipi bagian dalam
atau penderita bisa menghirup nitrogliserin yang disemprotkan ke dalam
mulut; tetapi yang banyak digunakan adalah pemakaian nitrogliserin tablet
sublingual.

nitrat long-acting diminum sebanyak 1-4 kali/hari.


nitrat juga terdapat dalam bentuk plester dan perekat kulit, dimana obat ini
diserap melalui kulit selama beberapa jam.
nitrat long-acting yang dikonsumsi secara rutin bisa segera kehilangan
kemampuannya untuk mengurangi gejala. oleh karena itu sebagian besar ahli
menganjurkan selang waktu selama 8-12 jam bebas obat untuk
mempertahankan efektivitas jangka panjangnya.

3. Antagonis kalsium
obat ini mencegah pengkerutan pembuluh darah dan bisa mengatasi kejang
arteri koroner.
antagonis kalsium juga efektif untuk mengobati variant angina.
beberapa antagonis kalsium (misalnya verapamil dan diltiazem) bisa
memperlambat denyut jantung.
obat ini juga bisa digabungkan bersama beta-bloker untuk mencegah
terjadinya episode takikardi (denyut jantung yang sangat cepat).

4. Antiplatelet (contohnya aspirin)


platelet adalah suatu faktor yang diperlukan untuk terjadinya pembekuan
darah bila terjadi perdarahan. tetapi jika platelet terkumpul pada ateroma di
dinding arteri, maka pembentukan bekuan ini (trombosis) bisa mempersempit
atau menyumbat arteri sehingga terjadi serangan jantung.
aspirin terikat pada platelet dan mencegahnya membentuk gumpalan dalam
dinding pembuluh darah, jadi aspirin mengurangi resiko kematian karena
penyakit arteri koroner.
penderita yang alergi terhadap aspirin, bisa menggunakan triklopidin.
unstable angina

Pada umumnya penderita unstable angina harus dirawat, agar pemberian obat
dapat diawasi secara ketat dan terapi lain dapat diberikan bila perlu.

penderita mendapatkan obat untuk mengurangi kecenderungan terbentuknya


bekuan darah, yaitu:
- heparin (suatu antikoagulan yang mengurangi pembentukan bekuan darah)
- penghambat glikoprotein iib/iiia (misalnya absiksimab atau tirofiban)
- aspirin.

juga diberikan beta-bloker dan nitrogliserin intravena untuk mengurangi beban


kerja jantung.
jika pemberian obat tidak efektif, mungkin harus dilakukan arteriografi koroner
dan angioplasti atau operasi bypass.

operasi bypass arteri koroner


pembedahan ini sangat efektif dilakukan pada penderita angina dan penyakit
arteri koroner yang tidak meluas.
pembedahan ini bisa memperbaiki toleransi penderita terhadap aktivitasnya,
mengurangi gejala dan memperkecil jumlah atau dosis obat yang diperlukan.

pembedahan dilakukan pada penderita angina berat yang:


- tidak menunjukkan perbaikan pada pemberian obat-obatan
- sebelumnya tidak mengalami serangan jantung
- fungsi jantungnya normal
- tidak memiliki keadaan lainnya yang membahayakan pembedahan (misalnya
penyakit paru obstruktif menahun).

pembedahan ini merupakan pencangkokan vena atau arteri dari aorta ke arteri
koroner, meloncati bagian yang mengalami penyumbatan.
arteri biasanya diambil dari bawah tulang dada. arteri ini jarang mengalami
penyumbatan dan lebih dari 90% masih berfungsi dengan baik dalam waktu 10
tahun setelah pembedahan dilakukan.
pencangkokan vena secara bertahap akan mengalami penyumbatan.

angioplasti koroner
alasan dilakukannya angioplasti sama dengan alasan untuk pembedahan bypass.
tidak semua penyumbatan bisa menjalani angioplasti, hal ini tergantung kepada
lokasi, panjang, beratnya pengapuran atau keadaaan lainnya.

angioplasti dimulai dengan menusuk arteri perifer yang besar (biasanya arteri
femoralis di paha) dengan jarum besar. kemudian dimasukkan kawat penuntun
yang panjang melalui jarum menuju ke sistem arteri, melewati aorta dan masuk ke
dalam arteri koroner yang tersumbat.
sebuah kateter (selang kecil) yang pada ujungnya terpasang balon dimasukkan
melalui kawat penuntun ke daerah sumbatan. balon kemudian dikembangkan
selama beberapa detik, lalu dikempiskan.
pengembangan dan pengempisan balon diulang beberapa kali.

penderita diawasi dengan ketat karena selama balon mengembang, bisa terjadi
sumbatan alliran darah sesaat. sumbatan ini akan merubah gambaran ekg dan
menimbulkan gejala iskemia.

balon yang mengembang akan menekan ateroma, sehingga terjadi peregangan


arteri dan perobekan lapisan dalam arteri di tempat terbentuknya sumbatan.
bila berhasil, angioplasti bisa membuka sebanyak 80-90% sumbatan.

sekitar 1-2% penderita meninggal selama prosedur angioplasti dan 3-5%


mengalami serangan jantung yang tidak fatal.
dalam waktu 6 bulan (seringkali dalam beberapa minggu pertama setelah
prosedur angioplasti), arteri koroner kembali mengalami penyumbatan pada
sekitar 20-30% penderita.
angioplasti seringkali harus diulang dan bisa mengendalikan penyakit arteri
koroner dalam waktu yang cukup lama.
agar arteri tetap terbuka, digunakan prosedur terbaru, dimana suatu alat yang
terbuat dari gulungan kawat (stent) dimasukkan ke dalam arteri. pada 50%
penderita, prosedur ini tampaknya bisa mengurangi resiko terjadi penyumbatan
arteri berikutnya.
II. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Aktivitas/Istirahat
Gejala Pola hidup monoton, kelemahan
Kelelahan, perasaan tidak berdaya setelah latihan
Nyeri dada bila bekerja
Terbangun bila nyeri dada
Tanda Dispnea saat bekerja

Sirkulasi
Gejala Riwayat penyakit jantung, hipertensi, kegemukan
Tanda Takikardia, disritmia
Tekanan darah normal, meningkat atau menurun
Bunyi jantung : mungkin normal : S4 lambat atau
murmur sistolik transient lambat (disfungsi otot
papillaris) mungkin ada saat nyeri
Makanan/Cairan
Gejala Mual, nyeri uluhati/epigastrium saat makan
Diet tinggi kolesterol/lemak, garam, kafein, minuman
keras
Tanda Ikat pinggang sesak, distensi gaster

Integritas Ego
Gejala Stressor kerja, keluarga lain-lain
Tanda Ketakutan mudah marah

Nyeri/kenyamanan
Gejala Nyeri dada sub sternal, anterior yang menyebar ke
rahang, leher, bahu, dan ekstremitas atas (lebih pada
kira daripada kanan)
Kualitas: bervariasi dari ringan sampai sedang. Tekanan
berat, tertekan, terjepit, terbakar.
Durasi: biasanya kurang dari 15 menit kadang lebih dari
30 menit (rata-rata 3 menit)
Faktor pencetus : nyeri sehubungan dengan kerja fisik
atau emosi besar, seperti marah marh atau
hasratseksual, olahrag pada suhu ekstrim, atau
mungkin tak dapat diperkirakn dan atau terjadi selama
istirahat.
Faktor penghilang : nyeri mungkin responsif terhadap
mekanisme penghiang tertentu (contoh: istirahat ,obat
antiangina)
Nyeri dada baru atau terus menerus yang terus menerus
yang telah berubah frekuensi, durasinya, karakter atau
dapat diperkirakan (contoh: tidak stabil, bervariasi,
prizmental)
Tanda Wajah berkerut, meletakkan pergelangan tangann pada
midsternum, memijit tangan kiri, tegangan otot,
gelisah.
Pernapasan
Gejala Dispnea saat kerja
Riwayat merokok
Tanda Meningkat pada frekuensi/irama dan gangguan
kedalaman

B. Prioritas Keperawatan
i. Menghilangkan atau mengontrol nyeri
ii. Mencegah/meminimalkan terjadinya komplikasi miokard
iii. Membagikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan pengobatan
iv. mendukung pasien/orang terdekat dalam melakukan perubahan pola
hidup/perilaku yang perlu.

C. Tujuan Pemulangan
1. Meningkatkan kebutuhan tingkat aktivitas memenuhi kebutuhan
perawatan dengan nyeri minimal atau tidak ada.
2. Bebas komplikasi
3. Proses penyakit/prognosis dan program terapeutik dipahami.
4. Berpartisipasi dalam program pengobatan, perubahan perilaku.

D. Rencana Asuhan Keperawatan


i. Nyeri (akut) berhubungan dengan laporan nyeri atau perilaku distraksi
Tujuan:
1. Berpartisipasi dalam proses belajar,mencari informasi dan menanyakan
pertanyaan.
2. Berpartisipasi dalam pengobatan.
3. Melakukan pola hidup.
Rencana tindakan Rasional
1. Anjurkan klien untuk memberithu 1. Nyeri dan penurunan curah jantung
perawat dengan cepat bila terjadi dapat merangsang sistem saraf
nyeri dada. simpatis untuk mengeluarkan
sejumlah besar norefineprin, yang
menegakkan agregasi trombosit dan
mengeluarkan tromboxane A2. ini
vasokonstriktor poten yang
menyebabkan spasme arteri koroner
yang dapat mencetus
mengkomplikasi dan atau
memperlama serangan angina
memanjang. Nyeri tak bisa ditahan
menyebabkan respons vasovagal,
menurunkan tekanan darah dan
frekuensi jantung.
2. Kaji dan catat respon pasien/efek 2. Memberikan informasi tentang
obat. kemajuan penyakit. Alat dalam
evaluasi keefektifan intervensi dan
dapat menunjukkan kebutuhan
perubahan program pengobatan.
3. Identifikasi terjadinya pencetus 3. Membantu membedakan nyeri dada
(frekuensi, durasi, intensitas, dan dini dan alat evaluasi kemungkinan
lokasi nyeri) kemajuan menjadi unstable angina
(angina stabil biasanya berakhir 3-5
menit sementara angina tidak stabil
lebih lama dan dapt berakhir lebih
dari 45 menit).
4. Observasi gejala yang berhubungan 4. Penurunan curah jantung (yang
(dispneu, mual/muntah, pusing terjadi selama periode iskemia
palpitasi, keinginan berkemih) miokard) merangsang sistem saraf
simpatis/parasimpatis, menyebabkan
berbagai rasa sakit/sensasi dimana
pasien tidak dapat mengidentifikasi
apakah berhubungan dengan episode
angina.
5. Nyeri jantung dapat menyebar,
5. Evaluasi laporan nyeri pada rahang, contoh nyeri lebih sering ke
leher lengan bahu, (khususnya sisi permukaan dipersarafi oleh tingkat
kiri) saraf spinal yang sama.
6. Menurunkan kebutuhan oksigen
6. Anjurkan pasien untuk beristirahat miokard untuk meminimalkan resiko
total pada episode angina. cedera jaringan/nekrosis.
7. Memudahkan pertukaran gas untuk
7. Tinggikan kepala bila pasien napas menurunkan hipoksia dan napas
pendek. pendek berulang.
8. Pasien angina tidak stabil mengalami
8. Pantau irama jantung peningkatan disritmia yang
mengancam hidup secara akut, yang
terjadi pada respon terhadap iskemia
dan/atau stress.
9. Tekanan darah meningkat secara dini
9. Pantau tanda vital tiap 5 menit sehubungan dengan rangsangan
selama serangan angina simpatis, kemudian turun bila curah
jantung dipengaruhi. Takikardi juga
terjadi pada respon terhadap
rangsangan simpatis dan dapat
berlanjut sebagai kompensasi bila
curah jantung menurun.
10. Stress mental/meningkat kerja
miokard.
10. Pertahankan lingkungan yang
tenang, nyaman, batasi pengunjung 11. Menurunkan kerja miokard
bila perlu. sehubungan dengan kerja
11. Berikan makanan lembut. Biarkan pencernaan, menurunkan serangan
pasien istirahat 1 jam setelah angina.
makan.

12. Meningkatkan sediaan oksigen


Kolaborasi untuk kebutuhan miokard/mencegah
12. Berikan oksigen tambahan sesuai iskemia.
indikasi. 13. Nitrogliserin merupakan vasidilator
berakhir 10-30 menit dan dapat
13. Berikan antiangina sesuai indikasi digunakan secara profilaksis untuk
Nitrogliserin;sublingual (nitrostat, mencegah serangan angina.
bukal, atau tablet oral) Menurunkan frekuensi dan beratnya
serangan dengan menghasilkan
Lanjutkan tablet kunyah dengan vasodilatasi yang panjang/kontinu.
kerja panjang Menurunkan angina dengan
menurunkan kerja jantung.
ß-bloker 14. Iskemia selama serangan angina
dapat menyebabkan depresi segmen
14. Pantau perubahan seri EKG ST atau peninggian dan inversi
gelombang T. Seri gambaran
perubahan iskemia yang hilang bila
pasien bebas nyeri dan juga dasar
yang membandingkan pola
perubahan selanjutnya.

ii. Curah jantung menurun berhubungan dengan gangguan pada


frekuensi/irama dan konduksi elektrikal.
Tujuan:
1. Melaporkan penurunan episode dispneu, angina dan disritmia
menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas
2. Berpartisipasi pada perilaku/aktivitas yang menurunkan kerja
jantung.
Rencana tindakan Rasional
1. Pantau tanda vital. 1. Takikardi dapat terjadi karena
nyeri, cemas, hipoksemia dan
menurunnya curah jantung.
2. Evaluasi status mental catat 2. Menurunkan perfusi otak dapat
terjadinya disorientasi. menghasilkan perubahan sensorium.
3. Catat warna kuliit dan adanya 3. Sirkulasi perifer menurun bila
kualitas nadi. curah jantung menurun, membuat
kulit pucat dan menurunnya
kekuatan nadi perifer.
4. S3 dan S4, krekelsterjadi dengan
4. Auskultasi bunyi napas dan bunyi dekompensasi jantung atau
jantung. beberapa obat. Terjadinya murmur
dapat menunjukkan katup karena
nyeri dada.
5. Menurunkan konsumsi oksigen/
5. Mempertahankan tirah baring pada kebutuhan menurunkan kerja
posisi nyaman selama episode akut. miokard dan risiko dekompensasi.
6. Berikan periode istirahat adekuat 6. Penghematan energi dan
dan bantu dalam melakukan ktivitas menurunkan kerja jantung.
perawatan diri.
7. Tekankan pentingnya menghindari 7. Manuver valsava menyebabkan
regangan/angkat berat, khususnya rangsang vagal, menurunkan
selama defekasi. frekuensi jantung yang diikuti
takikardi keduanya memungkinkan
mengganggu curah jantung.
8. Intervensi sesuai waktu
8. Dorong pelaporan cepat nyeri menurunkan konsumsi oksigen dan
untuk upaya pengobatan sesuai kerja jantung dan mencegah/
indikasi. meminimalkan komplikasi jantung.
9. Efek yang diinginkan untuk
9. Pantau dan catat efek/kerugian menurunkan kebutuhan oksigen
respon obat, catat TD, frekuensi dan miokard dengan menurunkan stress
irama jantung ventrikuler.
10. Angina hanyalah gejala patologis
10. Kaji tanda-tanda gejala GJK yang disebabkan oleh iskemia
miokard. Penyakit yang
mempengaruhi fungsi jantung
menjadi dekompensasi.
Kolaborasi 11. Meningkatkan sediaan oksigen
11. Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk kebutuhan miokard untuk
memperbaiki kontraktilitas,
menurunkan iskemia, dan kadar
asam laktat.
12. Berperan dalam mencegah dan
12. Berikan obat sesuai indikasi menghilangkan iskemia pencetus
Penyekat saluran kalsium spasme arteri koroner dan
menurunkan tahanan vaskuler,
sehingga menurunkan tekanan
darah dan kerja jantung.
Obat ini menurunkan kerja jantung
dengan menurunkan frekuensi
Penyekat beta jantung dan tekanan darah sistolik.
13. Tes stress memberikan informasi
tentang ventrikel sehat/kuat yang
13. Diskusikan tujuan dan siapkan berguna pada penentuan tingkat
untuk kateterisasi jantung bila aktivitas yang tepat. Angiografi
diindikasikan. mungkin diindikasikan untuk
mengidentifikasikan area
obstruksi/kerusakan arteri koroner
yang memerlukan intervensi bedah.
14. PTCA meningkatkan aliran darah
koroner dengan kompresi lesi
aterosklerosis dan dilatasi lumen
14. Siapkan untuk intervensi pembuluh pada arteri koroner
pembedahan (PTCA, penggantian tersumbat.
katup) sesuai indikasi
iii. Ansietas berhubungan krisis situasi, ancaman terhadap konsep diri
(gangguan citra/kemampuan)
Tujuan:
1. Menyatakan kesadaran perasaan ansietas dan cara sehat sesuai
2. Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat yang bisa diatasi
3. Menyatakan masalah tentang efek penyakit pada pola hidup, posisi
dalam keluarga dan masyarakat
4. Menunjukkan strategi koping efektif/keterampilan pemecahan masalah

Rencana tindakan Rasional


1. Jelaskan tujuan dan prosedur tes, 1. Menurunkan cemas dan takut
contoh tes stress terhadap diagnosa dan prognosis.
2. Tingkatkan ekspresi perasaan dan 2. Perasaan tidak diekspresikan dapat
takut, contoh menolak, depsresi, menimbulkan kekacauan internal
dan marah. Biarkan pasien/orang dan efek gambaran diri. Pernyataan
terdekat mengetahui ini sebagai masalah menurunkan tegangan,
reaksi normal. Contoh: serangan mengklarifikasi tingkat koping, dan
jantung tak dapat terelakkan. memudahkan pemahaman
perasaan. Adanya bicara tentang
diri negative meningkatkan tingkat
cemas dan eksaserbasi serangan
angina.
3. Dorong keluarga dan teman untuk 3. Meyakinkan pasien bahwa peran
menganggap pasien seperti dalam dan kerja tidak berubah.
sebelumnya
4. Beritahu pasien program medis 4. Mendorong pasien untuk
yang telah dibuat untuk mengontrol tes gejala (contoh, tak
menurunkan/membatasi serangan ada angina dengan tingkat aktivitas
akan datang dan meningkatkan tertentu), untuk meningkatkan
stabilitas jantung. kepercayaan pada program medis
dan mengintegrasikan kemampuan
dalam persepsi diri.

Kolaborasi 5. Mungkin diperlukan untuk


5. Berikan sedarif, tranquinlizer sesuai membantu pasien rileks sampai
indikasi secara fisik mampu untuk
membuat strategi koping adekuat.

iv. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan informasi tidak


adekuat/kesalahan interpretasi.
Tujuan:
1. Berpartisipasi dalam proses belajar
2. Mengasumsi tanggung jawab untuk belajar, mencari informasi dan
menanyakan pertanyaan.
3. Menyatakan pemahaman konsi/proses penyakit dan pengobatan.
4. Berpartisipasi dalam proses pengobatan
5. Melakukan perubahan pola hidup

Rencana tindakan Rasional


1. Kaji ulang kondisi patofisiologi. 1. Pasien angina membutuhkan
Tekankan perlunya mencegah belajar.
serangan angina.
2. Dorong untuk menghindari 2. Dapat menurunkan insiden/beratnya
faktor/situasi sebagai pencetus episode iskemik.
angina.contoh stress emosional
kerja fisik, makan terlalu banyak,
terpajan pada suhu lingkungan yang
ekstrem.
3. Bantu pasien/orang terdekat untuk 3. Langkah penting pembatasan
mengidentifikasi sumber fisik dan /mencegah serangan angina.
stress emosi dan diskusikan cara
yang dapat mereka hindari.
4. Kaji pentingnya kontrol berat 4. Pengetahuan faktor risiko penting
badan, menghentikan merokok, memberikan pasien kesempatan
perubahan diit dan olah raga. untuk membuat perubahan
kebutuhan.
5. Dorong pasien untuk mengikuti 5. Takut terhadap pencetus serangan
program yang ditentukan dapat menyebabkan psien
menghindari partisipasi pada
aktivitas yang telah dibuat untuk
meningkatkan perbaikan
(meningkatkan kekuatan miokard)
dan membentuk sirkulasi kolateral.
6. Diskusikan dampak penyakit sesuai 6. Pasien enggan melakukan aktivitas
pola hidup yang diinginkan dan seperti biasanya karena takut
aktivitas. serangan angina. Pasien harus
menggunakan nitrogliserin, secara
profilaktik, sebelum beraktivitas
yang diketahui sebagai pencetus
agina.
7. Dorong pasien untuk memantau 7. Membiarkan pasien untuk
nadi sendiri selama aktiviotas, mengantisipasi aktivitas yang dapt
jadual aktivitas hindari ketegangan. dimodifikasi untuk menghindari
stree jantung dan tetap di bawah
ambang angina.
8. Diskusikan langkah yang diambila 8. Menyiapkan apsien pada kejadian
bila terjadi serangan angina. untuk menghilangkan takut yng
Contoh:menghentikan aktiovitas, meungkin tidak tahu apa yang harus
penggunaan teknik relaksasi. dilakukan bila terjadi serangan.
9. Angina adalah kondisi rumit yang
9. Kaji ulang obat yang diresepkan sering menggunakan obat yang
untuk memngontrol/mencegah banyak untuk menurukan kerja
serangan angina. jantung memperbaiki sirkulasi
koroner dan mengontrol terjadinya
serangan.
10. Obat yang dijual bebas mempunyai
10. Tekankan pentingnya mengecek ke potensi penyimpangan.
dokter kapan menggunakan obat-
obat yang dijual bebas.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M.E, Moorhouse, MF, Geisler A.C. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan:
Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Diterjemahkan oleh I Made kanasia dan Ni Made Sumarwati. 2000. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran.

Smeltzer S.C, Bare, B.G. 1996. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner
Suddarth. Diterjemahkan oleh Kuncoro, et.al.. 2002. ed.8. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran . EGC.
Mansjoer A, et.al (ed). 2005. Kapita Selekta Kedokteran. Ed3. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Rilantono,LI. 2004. Buku Ajar Kardiologi.Jakarta: Balai Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Hasanuddin>

Pitzer R.L. 2003. Handout-Cardiology (online). (http:/ www.


extension.umn.edu/spezialisation/6141-11) diakses tanggal 11 September
2006.