Anda di halaman 1dari 19

1

I. Kuliah Pertama Pasca MT UBH 2020 ( (Tanggal 13 Oktober 2019


Pascasarjana MT, UBH Padang)
a. Pengantar Ke Perkuliahan/PBM
Mahasiswa diberikan pengenalan mata kuliah dan pemahaman arti penting
keberadaan mata kuliah. Hal ini disesuaikan sesuai dengan deskripsi mata kuliah
yang ditawarkan dan pembidangan keilmuan yang erat keterkaitannya dengan
Kurikulum Magister Teknik Sipil dalam perkembangannya. Pada saat kuliah
pertama dikenal sasaran, penjelasan ringkas tentang masing topik dan sub
pembahasan pada acuan perkulihan yang telah disusun. Bahan kuliah disamping
digunakan berbagai literatur, jurnal dan web site, juga didukung oleh ringkasan
perkuliahan dan Power Point yang dijelaskan pada saat proses PBM..
b. Satuan Acuan Perkuliahan
Untuk lebih terarahnya PBM/perkuliahan dan pencapaian sasaran
pembelajaran, metode yang digunakan, disamping mahasiswa aktif mengikuti
proses kuliah, juga mahasiswa dijadikan pusat penggalian keilmuan melui sistem
SCL yang digabungkan dengan Kuliah Mimbar, diskusi, pembuatan tugas seperti
makalah yang diseminarkan secara terbatas di kelas untuk selanjutnya diadakan
penambahan penilaian melalui ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester.
Pengenalan Satuan Acuan Perkulihan sebagaimana dimaksudkan dilaksanakan
pada saat kuliah pertama diadakan.
Dalam uraian selanjutnya dikemukakan Satuan Acuan Perkuliahan
sebagaimana dimaksudkan :
Nama Mata Kuliah : Aspek Hukum Kontrak
Status Mata Kuliah : Wajib Program
Program Studi : Magister Teknik Sipil Pascasarjana Fakultas Teknik
UBH Padang
SKS : 3 (tiga)
Deskripsi Mata Kuliah : Mata Kuliah ini memberikan pemahaman berkaitan
dengan kedudukan hukum dalam dunia konstruksi
bidang kesipilan erat keterkaitannya dengan aspek
hukum administrasi, perdata, pidana dan hukum
2

kontrak baik secara umum maupun kekhususan di


bidang konstruksi.
Tujuan Mata Kuliah : Setelah mengikuti mata kuliah ini, di harapkan
mahasiswa mengerti, memahami dan mampu
mengaplikasikan keberadaan hukum dalam dunia
konstruksi serta pengaruh global dalam dunia
kesipilan.
Evaluasi/Penilaian : 1. Kehadiran
2. Tugas 1 Makalah dan Diskusi
3. Ujian Tengah Semester (UTS)
4. Tugas 2. Pembuatan Makalah dan Disukusi
5. Ujian Akhir Semester (UAS)

A. Acuan Perkuliahan
ASPEK HUKUM KONTRAK

No. Pokok Bahasan Sub.Pokok Bahasan

1. Aspek hukum 1. Pengertian Aspek hukum


2. Klasifikasi Aspek Hukum
3. Sifat, Tujuan dan Fungsi Hukum

2. Hukum Administrasi 1. Pengertian Hukum Administrasi


2. Sifat dan Tujuan Hukum Administrasi
3. Pelanggaran Hukum Administrasi dan Akibat
Hukumnya
4. Hukum Administrasi dalam Penawaran Pekerjaan
Konstruksi.

3. Hukum Perdata 1. Pengertian Perdata dan Hukum Perdata


2. Sifat dan Tujuan Hukum Perdata
3. Bagian-bagian Hukum Perdata
4. Para Pihak dalam Hubungan Perdata
5. Pelanggaran Hukum Perdata dan Akibat Hukumnya

4. Hukum Pidana 1. Pengertian Pidana dan Hukum Pidana


2. Jenis-jenis Pidana dan Hukum Pidana
3. Tujuan Hukum Pidana
4. Pelanggaran Ketentuan Pidana dan Akibat hukumnya
5. Perbandingan Hukum Administrasi, Hukum Perdata
dan Hukum Pidana
3

5. Kontrak/Perjanjian 1.Pengertian Kontrak/Perjanjian


2.Pengaturan Kontrak
3. Unsur-unsur kontrak/bagian-bagian dari Kontrak
4. Hubungan Kontrak dengan Perikatan
5. Syarat Sahnya Kontrak
6. Asas-asas Kontrak
7. Akibat-akibat persetujuan dari Kontrak
8. Pelaksanaan Isi Kontrak
9. Wanprestasi dan Akibat Hukumnya
10. Force Majeure/Overmacht dan Akibat Hukumnya
11. Ganti Rugi dan Unsur-unsur Ganti Rugi
12. Berakhirnya Kontrak
13. Penyelesaian Perselisihan

6. Kontrak Konstruksi/ 1. Pengertian Konstruksi dan Kontrak Konstruksi/


Perjanjian Perjanjian Pemborongan dan Pengadaan barang
Pemborongan dan dan jasa
Pengadaan Barang dan 2. Pengaturan Kontrak Konstruksi/Perjanjian
jasa Pemborongan dan Pengadaan Barang dan Jasa
3. Perbandingan Syarat Sahnya Kontrak
Konstruksi/Perjanjian Pemborongan/Pengadaan
Barang dan jasa :
1) Syarat-syarat Umum
2) Syarat-syarat Khusus
4. Klasifikasi jasa Konstruksi dan Pengadaan
Barang dan Jasa
(Perencanaan, pelaksanaan Pekerjaan dan
Pengawasan Pekerjaan)
5. Para Pihak dalam Jasa Konstruksi dan
Pengadaan Barang dan jasa
6. Pelaksanaan isi Kontrak Konstruksi
7. Wanprestasi, Force Majeure dan Akibat
Hukumnya
8. Ganti Rugi
9. Addendum/Amandemen dalam Kontrak
Konstruksi/perjanjian Pemborongan dan
Pengadaan barang dan jasa
10. Berakhirnya Kontrak Konstruksi
11. Asuransi/Jaminan/Garansi dalam Kontrak
Konstruksi/Perjanjian Pemborongan dan
Pengadaan barang dan jasa
12. Kedudukan Lampiran/Dokumen Kontrak
13. Penyelesaian Perselisihan
14. Klaim dan Arternatif Penyelesaian Sengketa
15. Etika Bisnis Jasa Konstruksi
4

16. Bentuk-bentuk Kontrak Konstruksi dan


Perkembangannya (pengaruh Global/FIDIC).

B. Bahan Bacaan
Bahan Bacaan
Abdulkadir Muhammad, Perjanjian Baku Dalam Praktek Perusahaan Perdagangan,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992;
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992;
Abdul Kadar and Ken Hoyle, Business and Commercial Law, Great Britain by Clays
Ltd, St Ives plc, 1993;
Andi Hamzah, 1994. Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta;
___________, 2011. Delik-Delik Tertentu (SpecialeDelicten) di Dalam KUHP. Sinar
Grafika, Jakarta;
__________, 2011. Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta;
A.Qirom Syamsudin Meliala, Pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya,
Liberty, Yogyakarta, 1985;
BPHN, Pertemuan Ilmiah Perkembangan Hukum Kontrak Dalam Bisnis di Indonesia,
BPHN, Jakarta, 1994;
Erman Rajagukguk, Kontrak Dagang Internasional di Indonesia, Fakultas Hukum
Yogyakarta, 1994;
Laboratorium Hukum Fakultas Hukum UNPAR, Keterampilan Perancangan Hukum,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997;
Munir Fuady, Hukum Kontrak Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1999;
Muhammad Hasbi, 2012, Hukum Perdata dan Perkembangannya, Suryani Indah,
Padang;
Muhammad Hasbi, 2012, Perancangan Kontrak dan Perkembangannya, Suryani Indah,
Padang;
Muhammad Hasbi, 2018, Disertasi S3 Ilmu Hukum, Perbuatan Tidak Merugikan dengan
adanya Kontrak Kontruksi Indonesia, Pascasarjana FHUA, Padang;
Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung, 1994;
Mohammad Chidir Ali, Bab-bab Tentang Hukum Perikatan, Mandar Maju, Bandung,
1995;
Mohammad Chidir Ali, Pengertian Elementer Hukum Perjanjian Perdata, Mandar
Madju, Bandung, 1993;
R.Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 1992,
Sanusi Bintang, Pokok-pokok Hukum Ekonomi dan Bisnis, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2000;
Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi
Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta,
1993;
W.T. Major, The Law of Contract, Macdonald Evans, The Chauser Press, Ltd,
England, 1984.

I. Pengantar Ke Aspek Hukum


5

1. Pengertian Hukum
Pada dasdarnya Hukum merupakan suatu sistem yang sengaja di buat oleh
manusia bertujuan sebagai pembatas terhadap berbagai tingkah laku dari manusia, agar
tingkah laku manusia tersebut dapat terkontrol atau sesuai dengan aturan yang ada,
baik hukum dalam pemahaman eraturan perundangan-undangan yang dibuat oleh
penguasa/Negara/pemerintah maupun hukum yang berlaku di tengah-tengah
masyarakat (Hukum tertulis/hukum positif/hukum yang sedang berlaku saat ini yang
jelas wilayah yirisdiksinya dan dibuat oleh penguasa maupun hukum yang tidak
tertulis). Artinya, bahwa keberadaan hukum itu sendiri adalah sangat penting dan
sesuai dengan keberadaan dari tujuasn hukum itu sendiri, berupa adanya keadilan,
kepastian hukum dan kemanfaatannya untuk manusia.
Hukum yang terdiri dari berbagai peraturan-peraturan yang di ciptakan oleh
suatu lembaga yang memiliki kewenangan maupun hukum yang berlaku di tengah-
tengah masyarakat, maka hukum memiliki sifat mengikat semua orang, Artinya,
hukum wajib untuk di taati karena mencangkup dengan adanya aturan kehidupan
manusia.
Pertanyaan yang sangat mendasar adalah, apa sebenarnya hukum itu dan
bagaimana bentuk dari hukum tersebut. Hal ini memerlukan jawaban dari berbagai
pendapat para ahli yang dimungkin penjelasan yang berbeda-beda namun satu tujuan
yang tidak lepas dari keberadaan hukum di tengah masyarakat/manusia dan
kewenangan Negara yang berdaulat. Dalam uraian selanjutnya, maka sebagai
gambaran dikemukakan beberapa pendapat ahli tentang hukum serta bentuk-
bentuknya.
Pengertian Hukum Menurut Prof. Dr. Van Kan “Hukum” adalah seluruh
peraturan yang memiliki sifat memaksa yang memang sengaja di adakan bertujuan
untuk mengatur serta melindungi terhadap kepentinagn orang yang berada di tengah
masyarakat. Pengertian Hukum Menurut Bellfoid
“Hukum” adalah suatu peraturan yang berlaku di dalam masyarakat berguna untuk
mengatur tata tertib dari masyarakat itu sendiri beradasarkan kekuasaan yang ada di
Masyarakat tersebut. Pengertian “Hukum” Menurut Duguit
beliau menjelaskan bahwasanya Hukum dapat di artikan suatu tingkah laku anggota
masyrakat atau berbagai aturan yang berguna pada saat tertentu dengan acuan Dari
masyarakat sebagai jaminan berdasarkan kepentingan bersama terhadap dari orang
yang melanggar dari peraturan yang telah berlaku. Pengertian Hukum Menurut Van
Apeldoorn “Hukum” dapat di artikan peraturan penghubung antar kehidupan
manusia dari gejala social dimana di dalam masyaralat tersebut tidak mengenal
hukum, sehingga dalam hal ini hukum merupakan suatu aspek kebudayaan, agama,
adat, Norma, Kesusilaan serta kebiasaan. Pengertian Hukum Menurut Immanuel
Kant kemudian tokoh Ahli bernama Immanuel Kant berpendapat yang mana
Hukum adalah segala syarat dari seseorang yang memiliki keinginan kebebasan
sehingga harus menyesuaikan dirinya senddiri terhadap kehendak bebas orang lainnya
serta wajib mentaati pertauran hukum mengenai kemerdekaan. Pengertian Hukum
Menurut Austin “Hukum” adalah suatu peraturan yang di sengaja di buat berguna
sebagai pedoman kepada makhluk yang berakal atas makhluk berakal yang memiliki
kuasa di atasnya. Pengertian Hukum Menurut Abdulkadir Muhammad Beliau
6

menjelaskan bahwasanya “Hukum” dapat di artikan seluruh peraturan baik yang


tertulisa atau tidak tertulis yang mana memiliki sanksi yang tegas bagi para pelanggar
hukum.
Dari berbagai pendapat ahli hukum, tentang pengertian aspek hukum itu sendiri,
pada dasarnya tidak jauh berbeda, artinya hukum pada dasarnya himpunan berbagai
aturan, ketentuan, norma, kaidah-kaidah baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang
berisikan berbagai hal tingkah laku manusia, baik berupa perintah, larangan, yang
memaksa, adanya sanksi dan kedaulatan, adanya kewajiban-kewajiban, hak-hak, yang
sifatnya memberikan pengaturan agar manusia dapat mempedomaninya dan sekaligus
untuk kepentingan manusia itu sendiri, baik dibuat oleh penguasa/Negara/pemerintah
maupun hukum yang ada ditengah masyarakat, agar ada kepastian hukum, keadilan
dan kemanfaatannya.

2. Klasifikasi Hukum
2.1.  Hukum Berdasarkan Sumbernya
Sumber hukum adalah segala sesuatu yang menimbulkan aturan-aturan
yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yakni aturanaturan yang kalau
dilanggar mengakibatkan timbulnya sanksi yang tegas dan nyata.
Sumber hukum hukum formil adalah tempat dimana kita dapat
menemukan  dan mengenal hukum, yang terdiri dari :
1. Hukum undang-undang
Hukum undang-undang, yaitu hukum yang tercantum didalam
perauran perundang-undangan. Undang-undang mempunyai dua
pengertian menurut Buys, yakni :
a.       Undang-undang dalam arti formil, adalah setiap peraturan yang
dibuat oleh alat pengundang-undang dan isinya mengikat umum. Contohnya,
undang-undang yang dibuat berdasarkan Pasal 5 Ayat (1) UUD 1945.
b.       Undang-undang dalam arti materiil, adalah setiap
peraturan/keputusan yang dibuat bukan oleh badan pengundang-undang, tapi
isinya mengikat umum. Contohnya Peraturan Pemerintah, dasar hukumnya Pasal
5 Ayat (2) UUD 1945.
2.    Hukum Kebiasaan Atau Adat
Hukum kebiasaan adalah perbuatan manusia yang tetap dilakukan
berulang-ulang dalam hal yang sama. Jadi kebiasaan itu bukan hasil
keputusan dari badan legislative dalam Negara. Kebiasaan itu walaupun
tidak ditentukan oleh pemerintah namun diakui dan ditaati oleh anggota-
anggota masyarakat, oleh karena kebiasaan-kebiasaan itu berkali-kali
dijalankan dan ditaati sehingga lambat laun menjadi peraturan yang teguh.
Dengan demikian terbentuklah peraturan hukum yang tak tertulis yang
disebut hukum kebiasaan.
Supaya hukum kebiasaan itu ditaati, maka ada dua syarat yang
harus dipenuhi, yaitu :
1.       Suatu perbuatan yang tetap dilakukan orang.
2.       Adanya keyakinan bahwa perbuatan itu harus dilakukan karena
telah merupakan kewajiban.
7

3.   Hukum Yurisprudensi
Yurisprudensi sebagai istilah teknis Indonesia sama artinya dengan
Yurisprudentie dalam bahasa Belanda dan Yurisprudence dalam bahasa
Perancis, yang artinya keputusan hakim yang terdahulu yang diikuti oleh
hakim dan dijadikan dasar keputusan hakim lain mengenai kasus yang
sama.
Pekerjaan hakim pada hakikatnya sama dengan pekerjaan pembuat
undang-undang, demikian dikatakan oleh Prof. Soebekti dalam bukunya
Dasar-dasar Hukum dan Pengadilan. Keduanya memberikan peraturan
yang harus diikuti, hanya dengan perbedaan bahwa pwmbuat undang-
undang memberikan suatu peraturan yang disusun dalam kata-kata umum
dan ditujukan kepada siapa saja yang berada dalam keadaan yang
diuraikan dalam undang-undang itu, sedangkan hakim memberikan suatu
peraturan yang berlaku terhadap para pihak yang berpekara.
Keputusan hakim yang menjadi yuriprudensi akan menjadi sumber
hukum bagi pengadilan.
Ada tiga alas an mengapa seorang hakim mengikuti keputusan
hakim lain, yaitu :
1.       Keputusan hakim yang mempunyai kekuasaan, terutama bila
keputusan itu dibuat oleh Mahkamah Agung atau Pengadilan Tinggi,
karena alasan psikologis maka seorang hakim akan mengikuti
keputusan hakim lain yang mempunyai kedudukan lebih tinggi.
2.       Karena alasan praktis.
3.       Sependapat, hakim mengikuti keputusan hakim lain karena ia
sependapat/menyetujui keputusan hakim lain tersbut.
4.   Hukum Traktat
Traktat atau treaty adalah perjanjian yang diadakan antara hanya
dua atau lebih Negara. Bila traktat diadakan antara hanya dua Negara,
maka perjanjian itu disebut bilateral, sedang kalau diadakan oleh banyak
Negara, maka disebut perjanjian multilateral.
Bilamana perjanjian multilateral member kesempatan kepada
Negara yang pada mulanya tidak turut mengadakan, kemudian menjadi
pihak, maka perjanjian itu merupakan perjanjian terbuka atau kolektif,
contohnya adalah Charter (Piagam) PBB. Sedang kalau perjanjian itu tidak
memungkinkan bagi Negara yang tadinya bukan menjadi salah satu pihak,
maka perjanjian itu merupakan perjanjian tertutup.
Kita mengenal dua macam perjanjian : traktat dan agreement.
Traktat dibuat oleh Presiden dengan persetujuan DPR, sedang agreement
dibuat hanya dengan keputusan  Presiden, biasanya menyangkut bidang
politik.
Suatu traktat berlaku dan mengikat didasarkan pada suatu asa
Pacta Sunt Servanda. Traktat itu mengikat dan berlaku sebagai peraturan
huum terhadap warga negara masing-masing negara yang
mengadakannya. Oleh karena itu dapat dikatakan traktat merupakan
sumber hukum.
8

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 11 disebutkan bahwa


Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat pejanjian
dengan negara lain. Pasal 11 itu sendiri tidak mensyaratkan membuat
persetujuan dengan negara lainitu diwujudkan dalam bentuk undang-
undang, namun karena Presiden dengan persetujuan DPR sebagai
pembentuk undang-undang, maka persetujuan tersebut lazim dituangkan
dalam bentuk undang-undang.
5.    Hukum Doktirn
Hukum doktrin adalah hukum yang berasal dari pendapat para ahli
hukum terkenal. Dalam yurisprudensi terlihat bahwa hakim sering
bepegang pada pendapat seseorang atau beberapa orang sarjana hukum
yang terkenal. Dalam penetapan apa yang akan menjadi dasar keputusan –
keputusanya, maka hakim sering mengutip pendapat seorang ahli atau
sarjana hukum mengenai soal yang harus diselesaikannya, apalagi bila
sarjana/ahli hukum tersebut menentukan bagaimana seharusnya, sehingga
pendapat itu menjadi dasar keputusan hakim tersebut.
Jadi pendapat ahli/sarjana hukum itu menjadi sumber hukum
melalui yurisprudensi. Dalam hubungan internasional terutama pendapat
para sarjana hukum mempunyai pengaruh yang besar. Bagi hukum
internasional pendapat para sarjana hukum merupakan sumber hukum
yang sangat penting.

2.2      Hukum Berdasarkan Tempat Berlakunya


Mengenai tempat berlakunya, hukum dapat terbagi atas :
a.       Hukum nasional, yaitu hukum yang berlaku dalam suatu negara.
b.       Hukum internasional, yaitu hukum yang mengatur hubungan hukum
dalam dunia internasional.
c.       Hukum asing, yaitu hukum yang berlaku dalam negara lain.
d.       Hukum gereja, yaitu kaidah yang ditetapkan gereja untuk para
anggotanya.

2.3      Hukum Berdasarkan Kekuatan Berlakunya (sanksi)


Biasanya golongan hukum berdasarkan sifatnya selalu diikuti
dengan kekuatan berlaku atau ketentuan sanksinya. Yang termasuk ke
dalam kriteria ini :
a.       Kaidah hukum yang memaksa (compulsory law, dwingendrecht,
imperatif), yaitu kaidah hukum yang dalam keadaan apapun harus
ditaaati dan bersifat mutlak daya ikatnya. Ini berarti bahwa kaidah
hukum yang memaksa ini berisi ketentuan hukum yang dalam situasi
apapun tidak dapat dikesampingkan melalui perjanjian para pihak.
Contohnya Pasal 340 KUH Pidana yang menetapkan :
“Barangsiapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu
menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan
direncanakan (mord), dengan hukuman mati atau penjara seumur
hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahum”.
9

b.       Kaidah hukum yang mengatur atau melengkapi (fakultatif,


aanvulledrecht, regelendrecht), yaitu kaidah hukum yang dapat
dikesampingkan oleh para pihak dengan jalan membuat ketantuan
khusus dalam suatu perjanjian yang mereka adakan. Kaidah hukum
semacam ini baru akan berlaku, apabila para pihak tidak menetapkan
aturan tersendiri didalam perjanjian yang mereka adakan. Ketentuan
ini dapat kita lihat dalam Pasal 1152 KUH Perdata :
“Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang bahwa
diletakkan dengan membawa barang gadainya dibawah kekuasaan si
berpiutang atau puhak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua
belah pihak”.
               Akan tetapi realitas menunjukkan, bahwa sering pemberi gadai
tetap menguasainya. Misalnya menggadaikan mobil.

2.4       Hukum Berdasarkan Isi atau Kepentingan Yang Diaturnya


Berdasarkan isi atau kepentingan yang diaturnya, hukum digolongkan
menjadi dua, yaitu :
a.   Hukum privat, adalah hukum yang mengatur kepentingan pribadi.
Misalnya hukum perdata, hukum dagang.
b.   Hukum publik, adalah hukum yang mengatur kepentingan umum atau
kepentingan public. Misalnya hukum tata negara, hukum pidana,
hukum acara pidana, dan sebagainya.

3. Sifat, Tujuan dan Fungsi Hukum Hukum


a. Sifat Hukum
1. Hukum Bersifat Mengatur
Hukum membuat berbagai peraturan baik itu peraturan dalam bentuk
larangan maupun perintah yang akan mengatur segala tingkah laku manusia
dalam kehidupan di masyarakat agar tercipta ketertiban dan keamanan.
2. Hukum Bersifat Memaksa
Hukum mempunyai kemampuan dan kewenangan memaksa warga
masyarakat untuk mematuhi setiap aturan. Terdapat sanksi tegas bagi siapa
saja yang melakukan pelanggaran hukum.
3. Hukum Bersifat Melindungi
Hukum diciptakan untuk melindungi hak setiap orang dan menjaga
keseimbangan antara berbagai kepentingan yang ada dalam kehidupan
bangsa dan negara.
b. Tujuan Hukum
Tujuan hukum yang bersifat universal, seperti ketertiban, kedamaian,
ketenteraman, kebahagiaan, dan kesejahteraan dalam kehidupan di
masyarakat. Hadirnya hukum membuat setiap perkara bisa
diselesaikan melalui proses pengadilan dengan perantara hakim
berdasarkan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Berikut adalah
Tujuan Hukum :
- Mendatangkan kemakmuran dalam kehidupan di masyarakat;
- Mengatur pergaulan hidup manusia agar damai
10

- Memberikan petunjuk bagi orang-orang dalam pergaulan


masyarakat
- Menjamin kebahagiaan sebanyak-banyaknya pada semua orang
- Sarana untuk mewujudkan keadilan sosial (lahir dan batin)
- Sarana penggerak pembangunan
- Sebagai fungsi kritis.
Tujuan hukum menurut berbagai para ahli antara lain adalah
agar adanya kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan hukum
itu sendiri bagi masyarakat.
c. Fungsi Hukum
Sebagai Perlindungan dimana hukum akan melindungi masyarakat dan
ancaman bahaya. Fungsi Keadilan dimana hukum sebagai pelindung, penjaga,
dan memberikan keadilan bagi manusia. Dalam Pembangunan hukum menjadi
acuan tujuan Negara. Fungsi dari hukum secara umum adalah :
- Melindungi kepentingan manusia
- Alat untuk ketertiban dan keteraturan manusia dalam masyarakat
- Sarana untuk mewujudkan keadilan social
- Sarana alat penggerak pembangunan
- Alat kritik / fungsi kritis
- Menyelesaikan pertikaian.

Sementara itu Subjek hukum adalah segala sesuatu yang dapat mempunyai
hak dan kewajiban untuk bertindak dalam hukum. Terdiri dari orang dan badan
hukum. Subjek hukum di bagi atas 2 jenis, yaitu :
1.   Subjek Hukum Manusia
Adalah setiap orang yang mempunyai kedudukan yang sama selaku pendukung
hak dan kewajiban. Pada prinsipnya orang sebagai subjek hukum dimulai sejak
lahir hingga meninggal dunia.
Ada juga golongan manusia yang tidak dapat menjadi subjek hukum,
karena tidak cakap dalam melakukan perbuatan hukum yaitu :
1. Anak yang masih dibawah umur, belum dewasa, dan belum menikah.
2. Orang yang berada dalam pengampunan yaitu orang yang sakit ingatan,
pemabuk, pemboros.
2.   Subjek Hukum Badan Hukum
Adalah sustu perkumpulan atau lembaga yang dibuat oleh hukum dan mempunyai
tujuan tertentu. Sebagai subjek hukum, badan usaha mempunyai syarat-syarat
yang telah ditentukan oleh hukum yaitu:
1. Memiliki kekayaan yang terpisah dari kekayaan anggotanya
2.Hak dan Kewajiban badan hukum terpisah dari hak dan kewajiban para
anggotanya.
Badan hukum ini juga terdiri atas 2 bagian, yakni badan hukum public dan
badan hukum privat.
11

II. Hukum Administrasi


Hukum di Indonesia  merupakan warisan dari negari Belanda karena
menganut asa konkordasi.Asas konkordasi adalah asa dimana negara jajahan akan
menggunakan hukum negara penjajah.Oleh karenanya terdapat banyak kesaaman
diantara hukum di Indonesia dan negeri Belanda.Selain itu Hukum di Indonesia
meliputi banyak sekali cabang. Diantaranya Hukum Perdata.Hukum Pidana, Hukum
Islam,Hukum Adat.Hukum Tata Usaha Negara.Hukum Administrasi Negara dan
lainya.
Dalam hal ini mengenai Hukum Administrasi Negara(HAN) berkaitan dengan
pengertian dan ruang lingkupnya.

1. Pengertian atau Definisi Hukum Administrasi Negara 


Sebelum kita membicarakan lebih lanjut mengenai pengertian administrasi
alangkah baiknya bila kita mengetahui apa maksud dari “definisi” terlebih
dahulu.Definisi berasal dari kata latin “definire” yang berarti menandai batas-
batas pada sesuatu,menentukan batas,memberi ketentuan atau batasan
arti.Sehingga “definisi“ dapat diartikan sebagai penjelasan terhadap
sesuatu.Atau sebuah pernyataan yang memuat penjelasan tentang sebuah
susuatu.
Istilah hukum administrasi negara adalah terjemahan dari Administratief
rech (Bahasa Belanda).Namun Istilah   Administrasi Recht juga diterjemahkan
menjadi Istilah lain yaitu hukum tata usaha negara dan hukum pemerintahan.
Dalam bahasa Inggris “administer” adalah kombinasi kata-kata bahasa Latin ad
+ ministrare,yang berarti  “to serve”  (melayani).Sementara di dalam kamus “to
administer” sama dengan “to manage” atau “direct” (mengelola atau
memerintah).
Ada juga ahli yang mengatakan bahwa Hukum administrasi Negara
merupakan bagian dari hukum publik. Hal ini dikarenakan  hukum publik
mengatur hal  yang berkenaan dengan pemerintahan umum. Hukum publik
ialah hukum yang mengatur tindakan pemerintah dan mengatur hubungan
antara pemerintah dengan warga negara atau hubungan antarorgan dengan
pemerintah. Hukum administrasi meliputi peraturan-peraturan yang berkenan
dengan administrasi. Administrasi berarti sama dengan pemerintahan.Sehingga
HAN disebut juga hukum tata pemrintahan. Perkataan pemerintah dapat
disamakan dengan kekuasaan aksekutif, artinya pemerintahan merupakan
bagian dari organ dan fungsi pemerintahan, yang tugas utamanya
bukankah  organ dan fungsi pembuat undang-undang dan peradilan.
Hukum admistrasi tata Negara atau hukum tata pemerintahan berisi
peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pemerintahan umum. Akan tetapi,
tidak semua peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pemerintahan umum
termasuk dalam cakupan HAN sebab ada peraturan yang menyangkut
pemerintahan umum, tetapi tidak termasuk dalam HAN, melainkan masuk
pada lingkup HTN. Hukum administrasi Negara adalah seperangkat peraturan
yang memungkinkan administrasi Negara menjalankan fungsinya, yang
sekaligus juga melindungi warga terhadap sikap tindak administrasi Negara,
dan melindungi administrasi Negara itu sendiri. HAN sebagai hubungan
12

istimewa yang diadakan memungkinkan para pejabat administrasi Negara


melakukan tugas mereka yang khusus.Sehingga dalam hal ini hukum
administrasi negara memiliki 2 aspek, yaitu pertama, aturan-aturan hukum
yang mengatur dengan cara bagaimana alat-alat perlengkapan Negara itu
melakukan tugasnya kedua, aturan-aturan hukum yang mengatur hubungan
hukum antara alat perlengkapan administrasi Negara atau pemerintah dengan
para warga negaranya. 

Definisi dari para ahli :

(R. Abdoel Djamali)


Hukum administrasi negara  adalah peraturan hukum yang mengatur
peraturan hukum yang mengatur tentang administrasi,yaitu hubungan antara
warga negara dan pemerintahanya yang menjadi sebab hingga negara tersebut
berfungsi.
(Kusumadi Poedjosewojo)
Hukum administrasi negara adalah keseluruhan aturan huku, yang
mengatur bagaimana negara sebagai penguasa menjalankan usaha-usaha untuk
memenuhi tugasnya.
(E.Utrecht)
Hukum administrasi negara dalah hukum yang menguji hubungan hukum
istimewa yang diadakan,akan kemungkinan para pejabat melakukan tugas mereka
yang khusus.
(Van Apeldoorn)
Hukum administrasi negara adalah keseluruhan aturan yang harus
diperhatikan oleh para penguasayang diserahi tugas pemerintahab dalam
menjalankan tugasnya.
(Djokosusanto)
Hukum administrasi negara adalah hukum yang mengatur tentang
hubungan-hubungan hukum antara jabatan-jabatan dalam negara dengan para
warga masyarakat. [3]
(de La Bassecour Caan)
bahwa yang dimaksud dengan hukum administrasi Negara adalah,
himpunan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi sebab maka Negara
berfungsi. Maka peraturan-peraturan itu mengatur hubungan-hubungan antara
tiap-tiap warga Negara dengan pemerintahannya.
(Van Vollenhoven)
HAN adalah suatu gabungan ketentuan-ketentuan yang mengikat badan-
badan yang tinggi maupun yang rendah apabila badan-badan utu menggunakan
wewenangnya yang diberikan kepadanya oleh hukum tata Negara
( J.H.A. Logemann,)
hukum administrasi Negara adalah, hukum mengenai hubungan-hubungan
antara jabatan-jabatan satu dengan lainnya, serta hukum antara jabatan-jabatan
Negara itu dengan para warga masyarakat.
(Muchsan)
13

hukum administrasi Negara dirumuskan sebagai “hukum mengenai


struktur dan kefungsian administrasi Negara.

Dari berbagai pendapat ahli mengenai administrasi negara terdapat banyak


perbedaan namun dari perbedaan tersebut terdapat persamaan yaitu aktifitas
negara dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan, artinya membicarakan
hukum administrasi pada dasarnya membahas tentang bagaimana pengaturan
hukum yang erat kaitannya dengan berprosesnya aministrasi Negara melalui
tangan-tangannya/organ-organnya untuk melaksanakan fungsinya sesuai dengan
ketentuan. Hal tersebut termasuk seperti PPK yang mengeluarkan putusan Tata
Usaha Negaranya dalam konteks menjalankan hukum adminsitrasi Negara berupa
Surat Perintah Kerja (SPK) maupun Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dalam
system Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

2. Ruang Lingkup Hukum Administrasi Negara

Ruang Lingkup apakah yang dimaksud dengan ruang lingkup.Ruang


Lingkup adalah batasan,batasan yang kami maksud disini adalah batasan materi
dalam hukum administrasi.Adapun ruang lingkup yang kami dapat dari berbagai
sumber adalah sebagai berikut :
—    HAN berkenaan mengenenai wewenang lembaga negara (administrasi negara)
baik dtingkat pusat maupun daerah
—    Bahwa HAN berkenaan dengan KEKUASAAN EKSEKUTIF, namun
pengertian KEKUASAAN EKSEKUTIF ini tidak sama dengan apa yang
dimaksudkan dalam konsep TRIAS POLITIKA.KEKUASAAN EKSEKUTIF
tersebut harus dipahami dalam dua hal : Terminologi dan Dinamika yang
ada.Secara terminologi hukum administrasi negara disebut juga
dengan Bestuursrecht, dengan unsur utama “bestuur”. Istilah bestuur berkenaan
dengan “sturen” dan “sturing”. Bestuurdirumuskan sebagai lingkungan
kekuasaan negara di luar lingkungan kekuasaan legislatif dan kekuasaan
yudikatif (yudisial). Dengan rumus itu, kekuasaan pemerintahan tidaklah
sekedar melaksanakan undang-undang. Kekuasaan pemerintahan merupakan
kekuasaan yang aktif. Sifat aktif tersebut dalam konsep hukum administrasi
negara secara intrinsik merupakan unsur utama dari “sturen” (besturen).
—     perhubungan kekuasaan antar lenbaga negara (administrasi negara), dan antara
lembaga negara dengan warga masyarakat (warga negara).
—    memberikan jaminan perlindungan hukum kepada keduanya, yakni kepada
warga masyarakat dan administrasi negara itu sendiri. 

3. Pelaksanaan Fungsi Fungsi Hukum Administrasi Negara  


Gagasan tentang penyelenggaraan kekuasaan yang baik, dari aspek historis di
bawah ini, terdapat dua pendekatan; personal dan sistem. Secara personal telah dimulai
pada masa Plato. Menurutnya, penyelenggaraan kekuasaan yang ideal dilakukan
secara paternalistik, yakni para penguasa yang bijaksana haruslah menempatkan diri
selaku ayah yang baik lagi arif yang dalam tindakannya terhadap anak-anaknya
terpadulah kasih dan ketegasan demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri. Pada bagian
14

lain, Plato mengusulkan agar negara menjadi baik, harus dipimpin oleh seorang
filosof, karena filosof adalah manusia yang arif bijaksana, menghargai kesusilaan, dan
berpengetahuan tinggi. Murid Plato, Aristoteles, berpendapat bahwa pemegang
kekuasaan haruslah orang yang takluk pada hukum, dan harus senantiasa diwarnai oleh
penghargaan dan penghormatan terhadap kebebasan, kedewasaan dan kesamaan
derajat. Hanya saja tidak mudah mencari pemimpin dengan kualitas pribadi yang
sempurna. Oleh karena itu, pendekatan sistem merupakan alternatif yang paling
memungkinkan. Plato sendiri, di usia tuanya terpaksa merubah gagasannya yang
semula mengidealkan pemerintah itu dijalankan oleh raja-filosof menjadi
pemerintahan yang dikendalikan oleh hukum. Penyelenggaraan negara yang baik,
menurut Plato, ialah yang didasarkan pada pengaturan hukum yang baik.
Berdasarkan pendapat Plato ini, maka penyelenggaraan pemerintahan yang
didasarkan pada hukum merupakan salah satu alternatif yang baik dalam
penyelenggaraan negara. HAN dapat dijadikan instrumen untuk terselenggaranya
pemerintahan yang baik. Penyelenggaraan pemerintahan lebih nyata dalam HAN,
karena di sini akan terlihat konkrit hubungan antara pemerintah dengan masyarakat,
kualitas dari hubungan pemerintah dengan masyarakat inilah setidaknya dapat
dijadikan ukuran apakah penyelenggaraan pemerintahan sudah baik atau belum.
Di satu sisi HAN dapat dijadikan instrumen yuridis oleh pemerintah dalam
rangka melakukan pengaturan, pelayanan, dan perlindungan bagi masyarakat, di sisi
lain HAN memuat aturan normatif tentang bagaimana pemerintahan dijalankan, atau
sebagaimana dikatakan Sjachran Basah, bahwa salah satu inti hakikat HAN adalah
untuk memungkinkan administrasi negara untuk menjalankan fungsinya, dan
melindungi administrasi negara dari melakukan perbuatan yang salah menurut hukum.
Tulisan dalam makalah ini akan difokuskan pada fungsi HAN baik sebagai norma,
instrumen, maupun jaminan perlindungan bagi rakyat.
Dalam negara hukum, setiap tindakan pemerintahan harus berdasarkan atas
hukum, karena dalam negara negara terdapat prinsipwetmatigheid van bestuur atau
asas legalitas. Asas ini menentukan bahwa tanpa adanya dasar wewenang yang
diberikan oleh suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka segala macam
aparat pemerintah tidak akan memiliki wewenang yang dapat mempengaruhi atau
mengubah keadaan atau posisi hukum warga masyarakatnya. Asas legalitas menurut
Sjachran Basah, berarti upaya mewujudkan duet integral secara harmonis antara
paham kedaulatan hukum dan paham kedaulatan rakyat berdasarkan prinsip
monodualistis selaku pilar-pilar, yang sifat hakikatnya konstitutif.
Meskipun demikian, tidak selalu setiap tindakan pemerintahan tersedia
peraturan peraundang-undangan yang mengaturnya. Dapat terjadi, dalam kondisi
tertentu terutama ketika pemerintah harus bertindak cepat untuk menyelesaikan
persoalan konkret dalam masyarakat, peraturan perundang-undangannya belum
tersedia. Dalam kondisi seperti ini, kepada pemerintah diberikan kebebasan bertindak
(discresionare power) yaitu melalui freies Ermessen, yang diartikan sebagai salah satu
sarana yang memberikan ruang bergerak bagi pejabat atau badan-badan administrasi
negara untuk melakukan tindakan tanpa harus terikat sepenuhnya pada undang-
undang.
15

4. Sumber-sumber Kewenangan Tindakan Pemerintahan


Kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah bersumbar pada tiga hal, atribusi,
delegasi, dan mandat. Atribusi ialah pemberian kewenangan oleh pembuat undang-
undang sendiri kepada suatu organ pemerintahan baik yang sudah ada maupun yang
baru sama sekali. Menurut Indroharto, legislator yang kompeten untuk memberikan
atribusi wewenang itu dibedakan antara :
a. Yang berkedudukan sebagai original legislator; di negara kita di tingkat pusat
adalah MPR sebagai pembantuk konstitusi (konstituante) dan DPR bersama-sama
Pemerintah sebagai yang melahirkan suatu undang-undang, dan di tingkat daerah
adalah DPRD dan Pemerintah Daerah yang melahirkan Peraturan Daerah;
b. Yang bertindak sebagai delegated legislator : seperti Presiden yang berdasarkan
pada suatu ketentuan undang-undang mengeluarkan Peraturan Pemerintah dimana
diciptakan wewenang-wewenang pemerintahan kepada Badan atau Jabatan TUN
tertentu.
Sedangkan yang dimaksud delegasi adalah penyerahan wewenang yang
dipunyai oleh organ pemerintahan kepada organ yang lain. Dalam delegasi
mengandung suatu penyerahan, yaitu apa yang semula kewenangan si A, untuk
selanjutnya menjadi kewenangan si B. Kewenangan yang telah diberikan oleh
pemberi delegasi selanjutnya menjadi tanggung jawab penerima wewenang. Adapun
pada mandat, di situ tidak terjadi suatu pemberian wewenang baru maupun
pelimpahan wewenang dari Badan atau Pejabat TUN yang satu kepada yang lain.
Tanggung jawab kewenangan atas dasar mandat masih tetap pada pemberi mandat,
tidak beralih kepada penerima mandat.

5. Fungsi-Fungsi Hukum Administrasi Negara


Dalam pengertian umum, menurut Budiono fungsi hukum adalah untuk
tercapainya ketertiban umum dan keadilan. Ketertiban umum adalah suatu keadaan
yang menyangkut penyelenggaraan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama.
Keadaan tertib yang umum menyiratkan suatu keteraturan yang diterima secara umum
sebagai suatu kepantasan minimal yang diperlukan, supaya kehidupan bersama tidak
berubah menjadi anarki.
Menurut Sjachran Basah ada lima fungsi hukum dalam kaitannya dengan
kehidupan masyarakat, yaitu sebagai berikut :
 Direktif, sebagai pengarah dalam membangun untuk membentuk masyarakat yang
hendak dicapai sesuai dengan tujuan kehidupan bernegara.
 Integratif, sebagai pembina kesatuan bangsa.
 Stabilitatif, sebagai pemelihara (termasuk ke dalamnya hasil-hasil pembangunan)
dan penjaga keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dalam kehidupan
bernegara dan bermasyarakat.
 Perfektif, sebagai penyempurna terhadap tindakan-tindakan administrasi negara,
maupun sikap tindak warga negara dalam kehidupan bernegara dan
bermasyarakat.
 Korektif, baik terhadap warga negara maupun administrasi negara dalam
mendapatkan keadilan.
Secara spesifik, fungsi HAN dikemukakan oleh Philipus M. Hadjon, yakni
fungsi normatif, fungsi instrumental, dan fungsi jaminan. Ketiga fungsi ini saling
16

berkaitan satu sama lain. Fungsi normatif yang menyangkut penormaan kekuasaan
memerintah jelas berkaitan erat dengan fungsi instrumental yang menetapkan
instrumen yang digunakan oleh pemerintah untuk menggunakan kekuasaan
memerintah dan pada akhirnya norma pemerintahan dan instrumen pemerintahan
yang digunakan harus menjamin perlindungan hukum bagi rakyat.

6. Fungsi Normatif Hukum Administrasi Negara


Penentuan norma HAN dilakukan melalui tahap-tahap. Untuk dapat menemukan
normanya kita harus meneliti dan melacak melalui serangkaian peraturan perundang-
undangan.28 Artinya, peraturan hukum yang harus diterapkan tidak begitu saja kita
temukan dalam undang-undang, tetapi dalam kombinasi peraturan-peraturan dan
keputusan-keputusan TUN yang satu dengan yang lain saling berkaitan. 29 Pada
umumnya ketentuan undang-undang yang berkaitan dengan HAN hanya memuat
norma-norma pokok atau umum, sementara periciannya diserahkan pada peraturan
pelaksanaan. Penyerahan ini dikenal dengan istilah terugtred atau sikap mundur dari
pembuat undang-undang. Hal ini terjadi karena tiga sebab, yaitu :
Karena keseluruhan hukum TUN itu demikian luasnya, sehingga tidak
mungkin bagi pembuat UU untuk mengatur seluruhnya dalam UU formal; Norma-
norma hukum TUN itu harus selalu disesuaikan de-ngan tiap perubahan-perubahan
keadaan yang terjadi sehubungan dengan kemajuan dan perkembangan teknologi yang
tidak mungkin selalu diikuti oleh pembuat UU dengan mengaturnya dalam suatu UU
formal;
Di samping itu tiap kali diperlukan pengaturan lebih lanjut hal itu selalu
berkaitan dengan penilaian-penilaian dari segi teknis yang sangat mendetail, sehingga
tidak sewajarnya harus diminta pembuat UU yang harus mengaturnya. Akan lebih
cepat dilakukan dengan pengeluaran peraturan-peraturan atau keputusan-keputusan
TUN yang lebih rendah tingkatannya, seperti Keppres, Peraturan Menteri, dan
sebagainya.30
Seperti disebutkan di atas bahwa setiap tindakan pemerintah dalam negara
hukum harus didasarkan pada asas legalitas. Hal ini berarti ketika pemerintah akan
melakukan tindakan, terlebih dahulu mencari apakah legalitas tindakan tersebut
ditemukan dalam undang-undang. Jika tidak terdapat dalam UU, pemerintah mencari
dalam berbagai peraturan perundang-undangan terkait. Ketika pemerintah tidak
menemukan dasar legalitas dari tindakan yang akan diambil, sementara pemerintah
harus segera mengambil tindakan, maka pemerintah menggunakan kewenangan bebas
yaitu dengan menggunakan freies Ermessen. Meskipun penggunaan freies Ermessen
dibenarkan, akan tetapi harus dalam batas-batas tertentu.
Menurut Sjachran Basah pelaksanaan freies Ermessen harus dapat
dipertanggung jawabkan, secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa,31 dan secara
hukum berdasarkan batas-atas dan batas-bawah. Batas-atas yaitu peraturan yang
tingkat derajatnya lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang
tingkat derajatnya lebih tinggi. Sedangkan batas-bawah ialah peraturan yang dibuat
atau sikap-tindak administrasi negara (baik aktif maupun pasif), tidak boleh melanggar
hak dan kewajiban asasi warga.32 Di samping itu, pelaksanaan freies Ermessen juga
harus memperhatikan asas-asas umum pemerintahan yang baik. Berdasarkan
keterangan singkat ini dapat dikatakan bahwa fungsi normatif HAN adalah mengatur
17

dan menentukan penyelenggaraan pemerintahan agar sesuai dengan gagasan negara


hukum yang melatarbelakanginya, yakni negara hukum Pancasila.

7. Fungsi Instrumental Hukum Administrasi Negara


Pemerintah dalam melakukan berbagai kegiatannya menggunakan instrumen
yuridis seperti peraturan, keputusan, peraturan kebijaksanaan, dan sebagainya.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa dalam negara sekarang ini khususnya yang
mengaut type welfare state, pemberian kewenangan yang luas bagi pemerintah
merupakan konsekuensi logis, termasuk memberikan kewenangan kepada pemerintah
untuk menciptakan berbagai instrumen yuridis sebagai sarana untuk kelancaran
penyelenggaraan pemerintahan.
Pembuatan instrumen yuridis oleh pemerintah harus didasarkan pada ketentuan
hukum yang berlaku atau didasarkan pada kewenangan yang diberikan oleh peraturan
perundang-undangan. Hukum Administrasi Negara memberikan beberapa ketentuan
tentang pembuatan instrumen yuridis, sebagai contoh mengenai pembuatan keputusan.
Di dalam pembuatan keputusan, HAN menentukan syarat material dan syarat formal,
yaitu sebagai berikut :
Syarat-syarat material :
 Alat pemerintahan yang mem buat keputusan harus berwenang;
 Keputusan tidak boleh mengandung kekurangan-kekurangan yuridis seperti
penipuan, paksaan, sogokan, kesesatan, dan kekeliruan;
 Keputusan harus diberi bentuk sesuai dengan peraturan dasarnya dan pembuatnya
juga harus memperhatikan prosedur membuat keputusan;
 Isi dan tujuan keputusan itu harus sesuai dengan isi dan tujuan peraturan
dasarnya.
Syarat-syarat formal :
 Syarat-syarat yang ditentukan berhubung dengan persiapan dibuatnya keputusan
dan berhubung dengan cara dibuatnya keputusan harus dipenuhi;
 Harus diberi dibentuk yang telah ditentukan;
 Syarat-syarat berhubung de-ngan pelaksanaan keputusan itu dipenuhi;
 Jangka waktu harus ditentukan antara timbulnya hal-hal yang menyebabkan
dibuatnya dan diumumkannya keputusan itu dan tidak boleh dilupakan.
Berdasarkan persyaratan yang ditentukan HAN, maka peyelenggarakan
pemerintahan akan berjalan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dan sejalan
dengan tuntutan negara berdasarkan atas hukum, terutama memberikan perlindungan
bagi warga masyarakat.

8. Fungsi Jaminan Hukum Administrasi Negara


Menurut Sjachran Basah, perlindungan terhadap warga diberikan bilamana
sikap tindak administrasi negara itu menimbulkan kerugian terhadapnya. Sedangkan
perlindungan terhadap administrasi negara itu sendiri, dilakukan terhadap sikap
tindaknya dengan baik dan benar menurut hukum, baik yang tertulis maupun yang
tidak tertulis. Dengan perkataan lain, melindungi administrasi negara dari melakukan
perbuatan yang salah menurut hukum.34 Di dalam negara hukum Pancasila,
perlindungan hukum bagi rakyat diarahkan kepada usaha-usaha untuk mencegah
terjadinya sengketa antara pemerintah dan rakyat, menyelesaikan sengketa antara
18

pemerintah dan rakyat secara musayawarah serta peradilan merupakan sarana terakhir
dalam usaha menyelesaikan sengketa antara pemerintah dengan rakyat.35 Dengan
adanya UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menurut Paulus
E. Lotulung, sesungguhnya tidak semata-mata memberikan perlindungan terhadap
hak-hak perseorangan, tetapi juga sekaligus melindungi hak-hak masyarakat, yang
menimbulkan kewajiban-kewajiban bagi perseorangan. Hak dan kewajiban
perseorangan bagi warga masyarakat harus diletakan dalam keserasian, keseimbangan,
dan keselarasan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan masyarakat,
sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam falsafah negara dan bangsa kita, yaitu
Pancasila.
Berdasarkan pemaparan fungsi-fungsi HAN ini, dapatlah disebutkan bahwa
dengan menerapkan fungsi-fungsi HAN ini akan tercipta pemerintahan yang bersih,
sesuai dengan prinsip-prinsip negara hukum. Pemerintah menjalankan aktifitas sesuai
dengan ketentuan yang berlaku atau berdasarkan asas legalitas, dan ketika
menggunakan freies Ermessen, pemerintah memperhatikan asas-asas umum yang
berlaku sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan hukum. Ketika
pemerintah menciptakan dan menggunakan instrumen yuridis, maka dengan mengikuti
ketentuan formal dan material penggunaan instrumen tersebut tidak akan
menyebabkan kerugian terhadap masyarakat. Dengan demikian, jaminan perlindungan
terhadap warga negarapun akan terjamin dengan baik.

9. Aktualisasi fungsi hukum administrasi negara dalam mewujudkan perintahan


yang baik.
a. Mewujudkan Pemerintahan yang Baik
Meskipun diketahui bahwa penyelenggaraan negara dilakukan oleh
beberapa lembaga negara, akan tetapi aspek penting penyelenggaraan negara
terletak pada aspek pemerintahan. Dalam sistem pemerintahan Indonesia, Presiden
memiliki dua kedudukan, sebagai salah satu organ negara yang bertindak untuk
dan atas nama negara, dan sebagai penyelenggara pemerintahan atau sebagai
administrasi negara. Sebagai administrasi negara, pemerintah diberi wewenang
baik berdasarkan atribusi, delegasi, ataupun mandat untuk melakukan
pembangunan dalam rangka merealisir tujuan-tujuan negara yang telah ditetapkan
oleh MPR. Dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah berwenang untuk
melakukan pengaturan dan memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Agar
tindakan pemerintah dalam menjalankan pembangunan dan melakukan pengaturan
serta pelayanan ini berjalan dengan baik, maka harus didasarkan pada aturan
hukum.
Di antara hukum yang ada ialah Hukum Administrasi Negara, yang
memiliki fungsi normatif, fungsi instrumental, dan fungsi jaminan. Seperti telah
disebutkan di atas, fungsi normatif yang menyangkut penormaan kekuasaan
memerintah berkaitan dengan fungsi instrumental yang menetapkan instrumen
yang digunakan oleh pemerintah untuk menggunakan kekuasaan memerintah dan
norma pemerintahan dan instrumen pemerintahan yang digunakan harus menjamin
perlindungan hukum bagi rakyat.
Ketika pemerintah akan menjalankan pemerintahan, maka kepada
pemerintah diberikan kekuasaan, yang dengan kekuasaan ini pemerintah
19

melaksanakan pembangunan, pengaturan dan pelayanan. Agar kekuasaan ini


digunakan sesuai dengan tujuan diberikannya, maka diperlukan norma-norma
pengatur dan pengarah. Dalam Penyelenggaraan pembangunan, pengaturan, dan
pelayanan, pemerintah menggunakan berbagai instrumen yuridis. Pembuatan dan
pelaksanaan instrumen yuridis ini harus didasarkan pada legalitas dengan
mengikuti dan mematuhi persyaratan formal dan metarial. Dengan didasarkan pada
asas legalitas dan mengikuti persyaratan, maka perlindungan bagi administrasi
negara dan warga masyarakat akan terjamin. Dengan demikian, pelaksanaan
fungsi-fungsi HAN adalah dengan membuat penormaan kekuasaan, mendasarkan
pada asas legalitas dan persyaratan, sehingga memberikan jaminan perlindungan
baik bagi administrasi negara maupun warga masyarakat.

b. Upaya Meningkatkan Pemerintahan yang Baik


Penyelenggaraan pemerintahan tidak selalu berjalan sebagaimana yang
telah ditentukan oleh aturan yang ada. Bahkan sering terjadi penyelenggaraan
pemerintahan ini menimbulkan kerugian bagi rakyat baik akibat penyalahgunaan
wewenang (detournement de pouvoir) maupun tindakan sewenang-wenang
(willekeur). Perbuatan pemerintah yang sewenang-wenang terjadi apabila
terpenuhi unsur-unsur; pertama, penguasa yang berbuat secara yuridis memeliki
kewenangan untuk berbuat (ada peraturan dasarnya); kedua, dalam
mempertimbangkan yang terkait dalam keputusan yang dibuat oleh pemerintah,
unsur kepentingan umum kurang diperhatikan; ketiga, perbuatan tersebut
menimbulkan kerugian konkret bagi pihak tertentu.37 Dampak lain dari
penyelenggaraan pemerintahan seperti ini adalah tidak terselenggaranya
pembangunan dengan baik dan tidak terlaksananya pengaturan dan pelayanan
terhadap masyarakat sebagaimana mestinya. Keadaan ini menunjukan
penyelenggaraan pemerintahan belum berjalan dengan baik. Upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan adalah antara lain
dengan mengefektifkan pengawasan baik melalui pengawasan lembaga peradilan,
pengawasan dari masyarakat, maupun pengawasan melalui lembaga ombusdman.
Di samping itu juga dengan menerapkan asas-asas umum pemerintahan yang
baik.
Pelaksanaan fungsi-fungsi HAN adalah dengan membuat penormaan
kekuasaan, mendasarkan pada asas legalitas dan persyaratan, sehingga
memberikan jaminan perlindungan baik bagi administrasi negara maupun warga
masyarakat.
Upaya meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan antara lain dengan
pengawasan lembaga peradilan, pengawasan masyarakat, dan pengawasan
melalui lembaga ombusdman. Di samping itu juga dengan menerapkan asas-asas
umum pemerintahan yang baik.