Anda di halaman 1dari 102

LAPORAN PENDAHULUAN

Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Demam

OLEH :

Clarissa Pramestya, S.Kep

2041312036

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Demam merupakan bentuk pertahanan tubuh terhadap masalah yang terjadi
dalam tubuh. Demam pada umumnya tidak berbahaya, tetapi bila demam tinggi
dapat menyebabkan masalah serius pada anak. Masalah yang sering terjadi pada
kenaikan suhu tubuh diatas 38ºC yaitu kejang demam (Ngastiyah, 2012).
Demam adalah suatu tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi atau bakteri
yang berada di dalam tubuh. Demam juga biasanya menjadi pertanda bahwa sistem
imunitas anak berfungsi dengan baik (Nurdiansyah, 2011). Demam bukan
merupakan penyakit melainkan reaksi yang menggambarkan adanya suatu proses
dalam tubuh. Saat terjadi kenaikan suhu, tubuh bisa jadi sedang memerangi infeksi
sehingga terjadi demam atau menunjukan adanya proses inflamasi yang
menimbulkan demam (Arifianto, 2012). Protokol Kaiser Permanente Appointment
and Advice Call Center mendefinisikan demam yaitu temperatur rektal diatas 38°C,
aksilar 37,5°C dan diatas 38,2°C dengan pengukuran membrane tympani.
Demam sebagian disebabkan karena infeksi atau virus. Namun data
menunjukan bahwa justru sebagian besar tenaga medis mendiagnosisnya sebagai
infeksi bakteri (Sodikin dalam Jannah, 2015). Penyebab demam menurut Valita
(2008) yaitu demam yang berhubungan dengan infeksi sekitar 29-52% sedangkan 11-
20% dengan keganasan, 4% dengan penyakit metabolik dan 11-12% dengan penyakit
lain. Penyebab demam terbanyak di Indonesiaadalah penyakit infeksi, dimana
penyakit infeksi menjadi penyebab demam sebesar 80%, yaitu infeksi saluran kemih,
demam tifoid, bakteremia, tuberkulosis serta otitis media. Penyebab tersebut akan
menimbulkan dampak apabila tidak diberikan penanganan yang tepat pada demam
tersebut (Pediatri, 2008).
Demam pada anak dibutuhkan perlakuan dan penanganan tersendiri yang
berbeda bila dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini dikarenakan, apabila
tindakan dalam mengatasi demam tidak tepat dan lambat maka akan mengakibatkan
pertumbuhan dan perkembangan anak terganggu. Demam dapat membahayakan
keselamatan anak jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat

akan menimbulkan komplikasi lain seperti, hipertermi, kejang dan penurunan


kesadaran (Maharani dalam Wardiyah, 2016).
Sebagian besar demam berhubungan dengan infeksi yang dapat berupa infeksi
lokal atau sistemik. Oleh karena itu demam harus ditangani dengan benar karena
terdapat beberapa dampak negatif yang ditimbulkannya (Kalbaca dalam Dewi,
2016). Dampak yang ditimbulkan demam dapat berupa penguapan cairan tubuh yang
berlebihan sehingga terjadi kekurangan cairan dan kejang. Orang tua banyak yang
menganggap demam berbahaya bagi kesehatan anak karena dapat menyebabkan
kejang dan kerusakan otak (Avner dalam Dewi, 2016). Perawat sangat berperan
untuk mengatasi demam melalui peran mandiri maupun kolaborasi. Untuk peran
mandiri perawat dalam mengatasi demam bisa dengan memberikan kompres. Metode
kompres merupakan metode yang lebih baik untuk menurunkan suhu tubuh (Kolcaba
dalam Dewi, 2016).
Penanganan yang biasa dilakukan pada kasus anak dengan demam/febris untuk
menurunkan suhu tubuh anak meliputi pemberian antipiretik (paracetamol,
ibuprofen), pemasangan infus dan lain-lain. Selain penanganan secara medis
tindakan yang dapat dilakukan untuk menurunkan suhu yaitu pemberian kompres.
Menurut Swardana, dalam Purwanti (2017) mengatakan bahwa menggunakan air
dapat memelihara suhu tubuh sesuai dengan fluktuasi suhu tubuh pasien. Kompres
hangat dapat menurunkan suhu tubuh melalui proses evaporasi.
Menurut Dewi (2016) kompres yang diberikan pada anak demam yaitu
kompres hangat karena dengan kompres hangat yang diletakkan pada lipatan tubuh
dapat membantu proses evaporasi atau penguapan panas tubuh. Dengan kompres air
hangat menyebabkan suhu tubuh di luar akan hangat sehingga tubuh akan
menginterpretasikan bahwa suhu di luar cukup panas, akhirnya tubuh akan
menurunkan kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan suhu pengatur
tubuh, dengan suhu di luar hangat akan membuat pembuluh darah tepi di kulit
melebar dan mengalami vasodilatasi sehingga pori pori kulit akan membuka dan
mempermudah pengeluaran panas, sehingga akan terjadi penurunan suhu tubuh.

Pemberian kompres hangat pada daerah aksila lebih efektif karena pada daerah
tersebut lebih banyak terdapat pembuluh darah yang besar dan banyak terdapat
kelenjar keringat apokrin yang mempunyai banyak vaskuler sehingga akan
memperluas daerah yang mengalami vasodilatasi yang akan memungkinkan
percepatan perpindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih
banyak (Ayu, 2015).
Kebutuhan nyaman merupakan kebutuhan fisiologis mengenai kenyamanan
dan keamanan terkait tubuh pasien. Pada kasus anak demam dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan nyaman ini akan diterapkan pemberian kompres. Pemberian
kompres bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh anak agar kebutuhan dasar
manusia dalam hal ini kebutuhan nyaman terpenuhi.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada anak dengan demam


di komunitas.

2. Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu:
a. Mampu melakukan pengkajian pada Anak dengan Demam di komunitas
b. Mampu merumuskan diagnose pada Anak dengan Demam di komunitas
c. Mampu menyusunrencana keperawatan pada Anak dengan Demam di
komunitas
d. Mampu melakukan implementasi keperawatan pada Anak dengan Demam di
komunitas
e. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada Anak dengan Demam di
komunitas
f. Mampu memberikan Terapi bermain sesuai tumbuh kembang pada Anak
g. Mampu memaparkan analisis hasil asuhan keperawatan pada Anak.

C. Manfaat
1. Bagi Peneliti

Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran mahasiswa dalam


melakukan asuhan keperawatan pada anak dengan demam.

2. Bagi Sejawat

Hasil kelolaan kasus ini diharapakan meningkatkan wawasan mahasiswa profesi


ners tentang asuhan keperawatan yang diberikan pada anak dengan demam.
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Persyarafan

a. Anatomi dan fisiologi persarafan menurut setiadi (2007)

Sistem saraf pusat, meliputi meliputi otak yaitu suatu alat tubuh yang sangat

penting karena merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh. Bagian dari saraf

sentral yang terletak didalam rongga tengkorak (kranium) yang dibungkus oleh selaput

otak yang kuat. Berat otak orang dewasa berkisar 1400 gram.

b. Pelindung otak

Otak dilindungi oleh beberapa komponen yang terdiri dari kulit kepala, tulang

tengkorak dan meningen (selaput otak).

c. Bagian-bagian otak

Bagian otak terdiri dari:

1) Cerebral hemisphrase (serebrum: otak besar)

2) Diancephalon

3) Brain stem (batang otak)

4) Cerebellum (otak kecil)

d. Cerebral hemisphrase (serebrum: otak besar)

Berpasangan (kanan dan kiri) bagian atas dari otak yang mengisi lebih dari

setengah masa otak. Permukaannya berasal dari bagian yang menonjol (gyri) dan

lekukan (sulci).
Cerebrum dibagi dalam 4 lobus yaitu: lobus frontalis, menstimulus

pergerakan otak, yang bertanggung jawab untuk proses berfikir. Lobus parietalis,

merupakan area sensoris dari otak yang merupakan sensasi perabaan, tekanan, dan

sedikit menerima perubahan temperatur. Lobus occipitalis, mengandung area visual

yang menerima sensasi dari mata. Lobus temporalis, mengandung area auditori yang

menerima sensasi dari telinga.

Area khusus otak besar (cerebrum) adalah somatic sensory area yang

menerima impuls dari reseptor sensori tubuh, primary motorarea yang mengirim

impuls ke otot skeletal. Broca’s area yang terlibatdalam kemampuan bicara.

e. Cerebellum (otak kecil)

Terletak dalam fosa cranial posterior, dibawah tentorium celebrum bagian

posterior dari pons faroli dan medulla oblongata. Cerebrum mempunyai dua

hemisfer yang dihubungkan oleh fermis berat cerebellum lebih kurang 150 gram (85-

90%) dari berat otak seluruhnya. Fungsi cerebellum mengambalikan tonus otot diluar

kesadaran yang merupakan suatu mekanisme saraf yang berpengaruh dalam

pengaturan dan pengendalian terhadap:

1) Perubahan ketegangan dalam otot untuk mempertahankan keseimbangan dan

sikap tubuh.

2) Terjadinya kontraksi dengan lancar dan teratur pada pergerakan dibawah

pengendalian kemauan dan mempunyai aspek

ketrampilan.

Setiap pergerakan memerlukan koordinasi dalam kegiatan sejumlah otot. Otot

antagonis harus mengalami relaksasi secara teratur dan otot sinergis berusaha

memfiksasi sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh bermacam pergerakan.


f. Ventrikel otak

Yaitu beberapa rongga yang saling berhubungan didalam otak yang berisi

cairan serebrospinalis. Fungsi dari cairan serebrospinalis adalah sebagai buffer.

Melindungi otak dan sumsum tulang dari goncangan dan trauma. Menghantar

makanan kesistem saraf pusat. Ada tiga jenis kelompok saraf yang dibentuk oleh

saraf serebrospinalis yaitu saraf sensorik (saraf afferent), yaitu membawa impuls dari

otak dan medulla spinalis ke perifer. Saraf motorik (saraf efferent), menghantarkan

impuls dari otak dan medulla spinalis ke perifer. Saraf campuran, yang mengandung

serabut motorik dan sensorik, sehingga dapat menghantar impuls dalam dua jurusan.

g. Medulla spinalis

Medula spinalis disebut juga sumsum tulang belakang yang terlindungi dalam

tulang belakang dan berfungsi untuk menyalurkan komunikasi antara otak dan semua

bagian tubuh dan berperan sebagai: gerak reflek, berisi pusat pengontrolan,

mengontrol denyut jantung, pengaturan tekanan darah, pernafasan, menelan dan

muntah.

h. Hipotalamus

Hipotalamus merupakan bagian ujung depan diesenfalon yang terletak di

bawah sulkus hipotalamik dan didepan nucleusinterpundenkuler hipotalamus terbagi

dalam berbagai inti dan daerahinti. Terletak pada anterior dan inferior thalamus

berfungsi mengontrol dan mengatur sistem saraf autonom juga bekerja dengan

hipofisis untuk mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan

suhu tubuh melalui peningkatan vasokontriksi atau vasodilatasi dan mempengaruhi

sekresi hormonal dengan kelenjar hipofisis, juga sebagai pusat lapar dan mengontrol

berat badan, sebagai pengatur tidur, minum, perilaku seksual, tekanan darah, perilaku

agresif, seksual dan pusat respon emosional.


i. Talamus

Talamus berada pada salah satu sisi pada sepertiga fentrikel dan aktivitas

primernya sebagai pusat penyambung sensasi bau yang diterima semua impuls

memori, sensasi dan nyeri melalui bagian ini.

j. Traktus spinotalamus (serabut-serabut segera menyilang kesisi yang berlawanan dan

masuk kemedula spinalis dan naik). Bagian ini bertugas mengirim impuls nyeri dan

temperatur ketalamus dan kortek serebri.

k. Kelenjar hipofisis dianggap sebagai masker kelenjar karena sejumlah hormon dan

fungsinya diatur oleh kelenjar ini. Hipofisis merupakan bagian otak yang tiga kali

lebih sering timbul tumor pada orang dewasa.

l. Hipotesis termostatik: mengajukan bahwa suhu tubuh diatas titiktersebut akan

menghambat nafsu makan. Mekanisme aferen: empat hipotesis utama tentang

mekanisme aferen yang terlibat dalam pengaturan masukan makanan telah diajukan

dan keempat hipotesis itu tidak ada hubungannya satu dengan yang lainnya.

Hipotalamus mempunyai fungsi sebagai pengaturan suhu tubuh dan untuk

mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh.

1) Pirogen endogen

Demam yang ditimbulkan oleh sitokin mungkin disebabkan oleh pelepasan

prostaglandin lokal dihipotalamus. Penyuntikan prostaglandin kedalam hipotalamus

menyebabkan demam. Selain itu efek antipiretik aspirin bekerja langsung pada

hipotalamus dan aspirin menghambat sintesis prostaglandin.

2) Pengatur suhu

Dalam tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asimilasi makanan dan oleh

semua proses fital yang berperan dalam metabolisme basal. Panas dikeluarkan dari

tubuh melalui radiasi, konduksi (hantaran) dan penguapan air disaluran nafas dan
kulit. Keseimbangan pembentukan pengeluaran panas menentukan suhu tubuh,

karena kecepatan reaksi-reaksi kimia bervariasi sesuai dengan suhu dan karena

sistem enzim dalam tubuh memiliki rentang suhu normal yang sempit agar berfungsi

optimal, fungsi tubuh normal tergantung pada suhu yang relative konstan (Price,

1995).

B. Definisi Penyakit

Demam adalah proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang masuk ke dalam

tubuh ketika suhu meningkat melebihi suhu tubuh normal (>37,5°C). Demam adalah

proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Demam terajadi

pada suhu > 37, 2°C, biasanya disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus, jamu atau

parasit), penyakit autoimun, keganasan , ataupun obat – obatan (Surinah dalam Hartini,

2015).

Demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai akibat

peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus. Sebagian besar demam pada anak

merupakan akibat dari perubahan pada pusat panas (termoregulasi) di hipotalamus.

Penyakit – penyakit yang ditandai dengan adanya demam dapat menyerang sistem

tubuh.Selain itu demam mungkin berperan dalam meningkatkan perkembangan imunitas

spesifik dan non spesifik dalam membantu pemulihan atau pertahanan terhadap infeksi

(Sodikin dalam Wardiyah, 2016).

C. Etiologi

Demam sering disebabkan karena infeksi. Penyebab demam selain infeksi juga

dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian

obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya perdarahan otak, koma).

Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara

lain: ketelitian pengambilan riwayat penyekit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik,


observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium, serta penunjang

lain secara tepat dan holistic (Nurarif, 2015).

Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat

berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun

penyakit lain. Demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri atau zat

toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor

otak atau dehidrasi (Guyton dalam Thabarani, 2015).

Demam sering disebabkan karena; infeksi saluran pernafasan atas, otitis media,

sinusitis, bronchiolitis,pneumonia, pharyngitis, abses gigi, gingi vostomatitis,

gastroenteritis, infeksi saluran kemih, pyelonephritis, meningitis, bakterimia, reaksi

imun, neoplasma, osteomyelitis (Suriadi, 2006).

Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan

antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan

fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium serta

penunjang lain secara tepat dan holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada

demam adalah cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala

yang menyertai demam.

Sedangkan menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal dalam

Thobaroni (2015) bahwa etiologi febris, diantaranya : Suhu lingkungan, Adanya infeksi,

Pneumonia, Malaria, Otitis media, Imunisas

Penyebab utama demam thypoid ini adalah bakteri salmonella thypi. Bakteri

salmonella thypi adalah berupa basil gram negative, bergerak dengan rambut getar, tidak

berspora, mempunyai tiga macam antigen yaitu antigen O, antigen H dan antigen VI

(Lestari, 2016).
D. Patofisiologi

Exogenous dan virogens (seperti; bakteri, virus kompleksantigen-antibodi) akan

menstimulasi sel host inflamasi (seperti; makrofag sel PMN) yang memproduksi

indogeneus pyrogen (Eps). Interleuikin 1 sebagai prototypical eR Eps menyebabkan

endothelium hipotalamus meningkatkan prostaglandin dan neurotransmitter, kemudian

beraksi dengan neuron preoptik di hipotalamus anterior dengan memproduksi

peningkatan “set-point”. Mekanisme tubuh secara fisiologis mengalami(Vasokinstriksi

perifer, menggigil),dan perilaku ingn berpakaian yang tebal-tebal atau ingin diselimuti

dan minum air hangat. Demam seringkali dikaitkan dengan adanya penggunaan pada

“set-point” hipotalamus oleh karena infeksi, alergi, endotoxin atau tumor (Suriadi,

2006).

Patofisiologi demam thypoid sendiri disebabkan karena kuman masuk ke dalam

mulut melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh salmonella. Sebagian kuman

dapat dimusnahkan oleh asam hcl lambung dansebagian lagi masuk ke usus halus. Jika

responimunitas humoral mukosa (igA) usus kurang baik, maka basil salmonella akan

menembussel epitel (sel m) dan selanjutnya menuju lamina propia dan berkembang biak

di jaringan limfoid plak nyeri di ileum distal dan kelenjar getah bening. Basil tersebut

masuk ke aliran darah (Lestari, 2016)


WOC

Agen infeksius Dehidrasi


Mediator inflamasi

Monosit/makrofag Tubuh kehilangan cairan

Sitokin pirogen

Mempengaruhi hipothalamus penurunan cairan intrasel


Anterior

Demam

Peningkatan evaporasi meningkatnya Ph berkurang Peningkatansuhu


Metabolik tubuhtubuh

Mk: resiko anoreksia


defisit volume
cairan Mk :
Kelemahan intake makanan hipertermi
berkurang

Mk: intoleransi Mk: nutrisi


aktivitas kurang dari
kebutuhan

gangguan rasa nyaman

gelisah tidak bisa tidur

kurang pengetahuan
Mk: gangguan
istirahat tidur
Mk : ansietas
E. Klasifikasi

Menurut Nurarif (2015) klasifikasi demam adalah sebagai berikut:

a. Demam septik

Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan

turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan

menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang

normal dinamakan juga demam hektik.

b. Demam remiten

Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan

normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak

sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.

c. Demam intermiten

Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu

hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila

terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.

d. Demam kontinyu

Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat

demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.

e. Demam siklik

Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa

periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu

seperti semula.

Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu

misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan

demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas seperti :
abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak

dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari

para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu

penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya.

Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial.

(Nurarif, 2015)

F. Manifestasi Klinis

Menurut Nurarif (2015) tanda dan gejala terjadinya febris adalah:


a. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,5⁰C - 39⁰C)
b. Kulit kemerahan
c. Hangat pada sentuhan
d. Peningkatan frekuensi pernapasan
e. Menggigil
f. Dehidrasi
g. Kehilangan nafsu makan
G. Komplikasi

Menurut Nurarif (2015) komplikasi dari demam adalah:

a. Dehidrasi : demam meningkatkan penguapan cairan tubuh

b. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering terjadi pada

anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama demam dan

umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak membahayakan otak.

Menurut Lestari (2016) komplikasi yang dapat terjadi pada anak dmam thypoid yaitu :

a. Perdarahan usus, perporasi usus dan illius paralitik

b. Miokarditis, thrombosis, kegagalan sirkulasi

c. Anemia hemolitik

d. Pneumoni, empyema dan pleuritis

e. Hepatitis, koleolitis
H. Penatalaksanaan Medis

Menurut Kania dalam Wardiyah, (2016) penanganan terhadap demam dapat

dilakukan dengan tindakan farmakologis, tindakan nonfarmakologis maupun kombinasi

keduanya. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani demam pada anak :

a. Tindakan farmakologis

Tindakan farmakologis yang dapat dilakukan yaitu memberikan antipiretik berupa:

1) Paracetamol

Paracetamol atau acetaminophen merupakan obat pilihan pertama untuk

menurunkan suhu tubuh. Dosis yang diberikan antara 10-15 mg/Kg BB akan

menurunkan demam dalam waktu 30 menit dengan puncak pada 2 jam setelah

pemberian. Demam dapat muncul kembali dalam waktu 3-4 jam.

Paracetamol dapat diberikan kembali dengan jarak 4-6 jam dari dosis

sebelumnya. Penurunan suhu yang diharapkan 1,2 – 1,4 oC, sehingga jelas bahwa

pemberian obat paracetamol bukan untuk menormalkan suhu namun untuk

menurunkan suhu tubuh.

Paracetamol tidak dianjurkan diberikan pada bayi < 2 bualn karena alasan

kenyamanan. Bayi baru lahir umumnya belum memiliki fungsi hati yang sempurna,

sementara efek samping paracetamol adalah hepatotoksik atau gangguan hati. Selain

itu, peningkatan suhu pada bayibaru lahir yang bugar(sehat) tanpa resiko infeksi

umumnya diakibatkan oleh factor lingkungan atau kurang cairan.

Efek samping parasetamol antara lain : muntah, nyeri perut, reaksi, alergi

berupa urtikaria (biduran), purpura (bintik kemerahan di kulit karena perdarahan

bawah kulit), bronkospasme (penyempitan saluran napas), hepatotoksik dan dapat

meningkatkan waktu perkembangan virus seperti pada cacar air (memperpanjang

masa sakit).
2) Ibuprofen

Ibuprofen merupakan obat penurun demam yang juga memiliki efek

antiperadangan. Ibuprofen merupakan pilihan kedua pada demam, bila alergi

terhadap parasetamol. Ibuprofen dapat diberikan ulang dengan jarak antara 6-8 jam

dari dosis sebelumnya. Untuk penurun panas dapat dicapai dengan dosis 5mg/Kg

BB.

Ibuprofen bekerja maksimal dalam waktu 1jam dan berlangsung 3-4 jam.

Efek penurun demam lebih cepat dari parasetamol. Ibuprofen memiliki efek samping

yaitu mual, muntah, nyeri perut, diare, perdarahan saluran cerna, rewel, sakit kepala,

gaduh, dan gelisah. Pada dosis berlebih dapat menyebabkan kejang bahkan koma

serta gagal ginjal.

b. Tindakan non farmakologis

Tindakan non farmakologis terhadap penurunan panas yang dapat dilakukan seperti

(Nurarif, 2015):

a. Memberikan minuman yang banyak

b. Tempatkan dalam ruangan bersuhu normal

c. Menggunakan pakaian yang tidak tebal

d. Memberikan kompres.

Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan

cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh

yang memerlukan. Kompres meupakan metode untuk menurunkan suhu tubuh

(Ayu, 2015). Ada 2 jenis kompres yaitu kompres hangat dan kompres dingin. Pada

penelitian ini Peneliti menerapkan penggunaan kompres hangat.

Kompres hangat adalah tindakan dengan menggunakan kain atau handuk

yang telah dicelupkan pada air hangat, yang ditempelkan pada bagian tubuh
tertentu sehingga dapat memberikan rasa nyaman dan menurunkan suhu tubuh

(Maharani dalam Wardiyah 2016).

Kompres hangat yang diletakkan pada lipatan tubuh dapat membantu

proses evaporasi atau penguapan panas tubuh (Dewi, 2016). Penggunaan Kompres

hangat di lipatan ketiak dan lipatan selangkangan selama 10 – 15 menit dengan

temperature air 30-32oC, akan membantu menurunkan panas dengan cara panas

keluar lewat pori-pori kulit melalui proses penguapan.

Pemberian kompres hangat pada daerah aksila lebih efektif karena pada

daerah tersebut lebih banyak terdapat pembuluh darah yang besar dan banyak

terdapat kelenjar keringat apokrin yang mempunyai banyak vaskuler sehingga

akan memperluas daerah yang mengalami vasodilatasi yang akan memungkinkan

percepatan perpindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih

banyak (Ayu, 2015).

I. Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

1) Identitas penderita

Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat, status

perkawinan, suku bangsa, no register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa

medis.

2) Keluhan Utama

Orang yang menderita observasi febris biasanya mengeluh suhu badannya naik

(panas), keluar banyak keringat, batuk-batuk dan tidak nafsu makan.


3) Riwayat Kesehatan

a. Riwayat penyakit sekarang

Pada umumnya didapatkan peningkatan suhu tubuh di atas 37,50C (N 36,5 – 37,5

C) atau ada masalah psikologis ( rasa takut dan cemas terhadap penyakitnya)

b. Riwayat penyakit dahulu

Umumnya dikaitkan dengan riwayat medis yang berhubungan dengan penyakit

febris.

c. Riwayat penyakit keluarga

Dalam susunan keluarga adalah riwayat penyakit febris yang pernah diderita atau

penyakit turunan dan menular yang pernah diderita atau anggota keluarga.

B. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum

Kesadaran (baik, gelisah, apatis / koma), badan lemah, frekuensi pernafasan tinggi,

suhu badan meningkat dan nadi meningkat

2. Kepala dan leher

Bentuk, kebersihan, ada bekas trauma atau tidak

3. Kulit, rambut, kuku

Turgor kulit (baik-buruk), tidak ada gangguan / kelainan.

4. Mata

Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik

5. Telinga, hidung, tenggorokan dan mulut

Bentuk, kebersihan, fungsi indranya adanya gangguan atau tidak.

6. Thorak dan abdomen

Tidak didapatkan adanya sesak, abdomen biasanya nyeri dan ada peningkatan bising

usus.
7. Sistem respirasi

Umumnya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam.

8. Sistem kardiovaskuler

Pada kasus ini biasanya denyut pada nadinya meningkat

9. Sistem musculoskeletal

Biasanya terjadi kelemahan pada muskoloskeletal

10. Sistem pernafasan

Biasanya tidak terdapat nafas yang tertinggal / gerakan nafas dan

biasanyakesadarannya gelisah, apatis atau koma

C. Diagnosa Keperawatan

1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi

2. Perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan reduksi aliran darah ke

otak

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia

D. NANDA NOC NIC

NANDA NOC NIC

Hipertermia berhubungan Termoregulation Temperatur Regulation


dengan proses infeksi Kriteria hasil: Aktivitas :
Batasan Karakteristik : - Suhu tubuh dalam rentang - Monitor suhu minimal tiap
- Kenaikan suhu tubuh normal 2 jam
diatas rentang normal - Nadi dan respirasi dalam - Rencanakan monitor suhu
- seranganatau konvulsi rentang normal. secara kontinyu
(kejang) - Tidak ada perubahan warna - Monitor TD, nadi, dan RR
- kulit kemerahan kulit dan tidak pusing. - Monitor warna dan suhu
- pertambahanrespirasi kulit
- takikardi - Monitor tanda-tanda
- saat di sentuh tangan hipertemi dan hipotermi
terasa hangat - Kompres air hangat
- Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi
- Kolaborasi pemberian
antibiotik dan antipiretik

Perfusi jaringan cerebral Status Sirkulasi Monitor Tanda-Tanda Vital


tidak efektif berhubungan Kriteria hasil: Aktivitas :
dengan reduksi aliran - Tekanan darah sistolik - Monitor tekanan darah,
darah ke otak dalam batas normal. nadi, suhu, respirasi rate.
Batasan Karakteristik : - Tekanan darah diastolik - Catat adanya fluktuasi
- abnormalitas bicara dalam batas normal. tekanan darah.
- kelemahan - Kekuatan nadi dalam - Monitor jumlah dan irama
ekstremitas atau batas normal. jantung.
paralis - Tekanan vena sentral - Monitor bunyi jantung.
- perubahan status dalam batas normal. - Monitor TD pada saat
mental - Rata-rata takanan darah klien berbaring, duduk,
- perubahan pada dalam batas normal. berdiri
respon motoric
- perubahan reaksi Status Neurologis
pupil - Monitor tingkat kesadaran.
- kesulitan untuk - Monitor tingkat orientasi.
menelan - Monitor status tanda-tanda
- perubahan kebiasaan vital.
- Monitor Gaslow Coma
Scale.
Ketidakseimbangan nutrisi Status nutrisi Terapi Nutrisi
kurang dari kebutuhan Kriteria hasil: Aktivitas :
tubuh berhubungan dengan - Laporkan nutrisi adekuat - Monitor makanan/cairan
anoreksia - Masukan makanan dan yang dicerna dan hitung
Batasan karakteristik : cairan adekuat masukan kalori tiap hari.
- Berat badan 20% atau - Energi adekuat - Tentukan makanan kesukaan
lebih dibawah ideal - Massa tubuh normal dengan mempertimbangkan
- membran mukosa dan - Ukuran biokimia normal budaya dan keyakinannya.
konjungtiva pucat - Tentukan kebutuhan
- tonus otot jelek pemberian makan melalui
- kelemahan otot yang NGT.
digunakan untuk - Dorong pasien untuk
menelan atau memilih makanan yang
mengunyah lunak.
- dilaporkan atau fakta - Dorong masukan makanan
adanya kekurangan tinggi kalsium.
makanan - Kolaborasi dengan ahli gizi
- kram pada abdomen untuk pemberian diit tinggi
- nyeri abdominal nutrisi
dengan atau tanpa - Monitor interaksianak atau
patologi orangtuaselama makan
- luka, inflamasi pada - Monitor turgor kulit
rongga mulut. - Monitor mual muntah
- Monitorkekeringan,rambut
kusam danmudah patah

E. Implementasi

Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah

direncanakan mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah

tindakan keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat serta bukan atas

petunjuk tenaga kesehatan yang lain. Sedangkan tindakan kolaborasi adalah tindakan

keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau

petugas kesehatan lain.

F. Evaluasi

Merupakan penilaian dari hasil implementasi keperawatan yang berpedoman

kepada hasil dan tujuan yang hendak dicapai.


BAB III

LAPORAN KASUS

Nama Mahasiswa : Clarissa Pramestya Tanggal Pengkajian : 23/11/2020


No. BP : 2041312036 Tanggal Masuk RS : __________________
Tempat Praktek : ________________ No. RM : __________________

I. IDENTITAS DATA
Nama Anak : An. Z Nama Ibu : Ny. R
BB/TB : 25kg/125cm Pekerjaan : SWASTA
Tanggal Lahir/Usia : 20-11-2012/8 th Pendidikan : SMA
Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam
Pendidikan Anak : SD Alamat : Jl. Banuaran
Anak ke :1 Diagnosa Medis : Demam

II. KELUHAN UTAMA


Ibu mengatakan anak sudah 2 hari demam, nafsu makan kurang dari biasanya , minum
juga kurang dan ibu juga mengatakan bahwa pada malam hari anaknya gelisah dan
tidak bisa tidur dengan nyenyak.
III. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
a. Prenatal :
Ibu rutin memeriksakan kehamilannya saat hamil setiap bulan dan selama hamil
tidak dapat keluhan.
b. Intranatal :
An.Z lahir normal dan ditolong oleh bidan dimana berat badan lahir (3900 gr) anak
langsung menangis dan tidak terdapat kelainan pada anak.
c. Postnatal :
Anak diberikan ASI ekslusif hingga berumur 6 bulan dan setelah itu ditambah
dengan pemberian susu formula dan makanan pendamping ASI.

IV. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


a. Penyakit yang diderita sebelumnya:
Pasien tidak memilliki riwayat penyakit lain.
b. Pernah dirawat di RS:
Pasien belum pernah dirawat di RS sebelumnya.
c. Obat-obatan yang pernah digunakan:
Sanmol sirup 3 kali sehari.
d. Alergi: Tidak ada.
Pasien tidak ada alergi
e. Kecelakaan: Tidak ada.
f. Riwayat imunisasi : Lengkap.

V. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI


Pada saat pengkajian anak demamnya sudah mulai turun , tetapi masih sedikit lemas ,
ibu An.Z mengakatakan dua hari selama sakit panas badan anak naik ketika malam
hari sehingga anak gelisah dan rewel tidak bisa tidur.
VI. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama
dengan klien saat ini.
GENOGRAM

Keterangan :
: perempuan
: Laki-laki
: penghubung
: Pasien
VII. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG
a. Kemandirian dan Bergaul :
Anak dapat menyesuaikan diri dengan teman sebayanya, dapat bekerjasama dalam
bermain.
b. Kognitif dan Bahasa :
Keluarga mengatakan An.Z sangat terampil membaca, mendengar cerita dan
bertanya.
c. Psikososial :
Anak bisa bekerjasama dalam kelompok teman sebayannya, menyukai perlombaan
dengan anak lainnya.
d. Lain-lain :

VIII. RIWAYAT SOSIAL


a. Yang mengasuh Klien:
Ibu
b. Hubungan dengan Anggota Keluarga:
Keluarga mengatakan anak memiliki hubungan yang dekat dengan anggota
keluarga.
c. Hubungan dengan Teman Sebaya:
Keluarga mengatakan An.Z memiliki hubungan yang baik dengan teman sebaya
nya, An.Z merupakan anak yang ceria dan mudah bergaul.
d. Pembawaan secara Umum: Anak tampak aktif dan ramah
Keluarga mengatakan pembawaan An. Z secara umum aktif
e. Lingkungan Rumah : rumah besar, pekarangan luas.
IX. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum : baik
HR : 90 x/i
RR : 20 x/i
S : 37,8
b. TB/BB : 125cm/25 kg
c. Kepala
- Lingkar kepala :50 cm
- Rambut : bersih, rambut panjang, warna hitam bersih, distribusi rambut
merata.
d. Mata
Mata kiri dankana simetris, konjungtiva tidak anemis, tidak ada pembengkakan
pada mata, refleks terhadap cahaya pupil isokor.
e. Hidung
Tidak ada sumbatan
f. Mulut dan gigi
Bibir tidak sianosis, lidah bersih, gigi bersih dan tidak ada bolong dan mukosa
bibir pucat.
g. Telinga
Telinga kiri dan kanan simetris,tidak ada pembengkakan, tidak ada sumbatan,
fungsi pendengaran baik.
h. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe, tidak adapembesaran
vena jugularis.
i. Paru-paru :
Inspeksi : pola napas teratur, dinding dada simetris kiri dan kanan, pergerakan
dada kiri dan kanan simetris,tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada dinding dada, fremitus dada kiri dan kanan
sama.
Perkusi : resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : bunyi nafas vesikuler, tidak ada ronkhi dan wheezing
j. Jantung
Inspeksi: dinding dada simetris, ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : tidak ada nyeri pada dinding dada, ictus cordis tidak teraba
Perkusi : pekak
Auskultasi : reguler, tidak ada bising jantung
k. Abdomen
Inspeksi : perut tidak ada buncit, tidak ada lesi
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
l. Punggung : bentuk simetris
m. Ekstremitas : kekuatan dan tonus otot normal, reflek-reflek atas dan bawah
normal
n. Genitalia : normal
o. Kulit : akral teraba hangat, kulit merah
X. PEMERIKSAAN TUMBUH KEMBANG
a. Status Nutrisi :

Status gizi baik


XI. PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL (Erick H. Erickson)
Industry vs Inferiority (6-12 tahun) pada umur ini anak-anak belajar untuk
bekerjasama dengan anak lainnya melalui kegiatan yang dilakukan, baik dalam
kegiatan akademik maupun dalam pergaulan melalui permainan yang dilakukan
bersama. Pada usia ini anak mengembangkan keterampilan dasar : membaca,
menulis dan berhitung, belajar bergaul dan menyesuaikan diri dengan teman-
temannya. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang
umum.
XII. PEMERIKSAAN SPRITUAL
Anak memiliki dunia fantasi dan khayalan pribadi, anak meyakini bahwa
Tuhan itu baik dan selalu ada untuk membantu.

XIII. KEBUTUHAN DASAR SEHARI-HARI


No Jenis Kebutuhan Di Rumah/sebelum sakit Di Rumah/ selama sakit

1 Makan Makan 3x/hari : nasi lauk Makan 3 x/hari : nasi, lauk

pauk, sayuran dengan satu pauk, sayuran dan nasi

piring nasi kecil habis. (makanan habis hanya

Jumlah : ± 1600 kalori setengah piring porsi)

Jumlah : ±1200 kalori

2 Minum Jenis Minum : air putih dan minum air putih kurang dari

susu biasanya

Fkrekuensi : ± 7-8 kali/ hari jumlah : ±1400cc/hari


Jumlah :± 1600cc/hari frekuensi : 5-6 kali/ hari

3 Tidur Tidur malam : ±10 jam/hari Tidur malam : ±7-8

Tidur siang : ±2 jam / hari jam/hari

Tidur Siang : ±2 jam/hari

4 Mandi Secara mandiri,frekuensi Klien tidak mandi selama

2x/hari sakit, hanya lap badan saja ,

jika panas turun mandi

hanya 1x/hari dengan air

hangat.

5 Eliminasi Jumlah :± 300 cc Jumlah :± 300cc

Frekuensi : BAB 2x/hari Frekuensi : BAB 2x/hari

Konsistensi : normal Konsistensi : normal

6 Bermain Normal seperti anak Hanya bermain di rumah


sebelumnya bermain di luar bersama ibunya dan
rumah. menonton TV.

XIV. RINGKASAN RIWAYAT KEPERAWATAN


Saat ini anak Z mengeluh badannya panas, anak tampak lemas dan lesu, akral
teraba hangat dan kulit merah. Orangtua anak mengatakan bahwa pada malam
hari anaknya gelisah dan rewel tidak bisa tidur. An. Z berumur 8 tahun, anak ke 1
, BB = 25 kg, TB = 125 cm, S= 37,8 ͦC, HR = 90 x/i, RR= 20 x/i
XV. ANALISA DATA
No. Data Etiologi Masalah
1. DO: Peningkatan suhu tubuh Hipertermi
S = 37,80C
RR = 20x/i
HR = 90x/i
Kulit terasa hangat
Kulit merah

DS:
Keluarga mengatakan bahwa badan anaknya
panas

2. DO: Gejala penyakit : Gangguan rasa


Pasien tampak gelisah peningkatan suhu tubuh nyaman
Pasien tampak murung
Pasien tampak tidak nyaman
DS:
Keluarga mengatakan An. Z sulit tidur

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi (NIC)


Hipertermi Termoregulasi Edukasi Termoregulasi
1. Kriteria hasil : Observasi
1. Pucat cukup menurun - Identifikasi
2. Kulit merah cukup menurun kesiapan dan
3. Suhu tubuh membaik kemampuanm
enerima
informasi
Teraupetik
- Sediakan
materi dan
media
pendidikan
kesehatan
- Jadwalkan
pendidikan
kesehatan
sesuai
kesepakatan
- Berikan
kesempatan
untuk
bertanya
Edukasi
- Ajarkan kompres hangat
jika demam
- ajarkan cara pengukuran
suhu
- Anjurkan penggunaan
pakaian yang dapat
menyerap keringat
- Anjurkan tetap
memandikan pasien, jika
memungkinkan
- anjurkan pemberian
antipiretik, sesuai indikasi
- Anjurkan menciptakan
lingkungan yang nyaman
- Anjurkna perbanyak minum
- Anjurkan penggunaan
pakaian yang longgar
- Anjurkan melakukan
pemeriksaan darah jika
demam > 3 hari

Kompres Hangat

Observasi
- Identifikasi
kontraindikasi kompres
panas(mis: penurunan
sensasi)
- Periksa suhu alat
kompres
- Monitor iritasi kulit
Teraupetik
- Pilih metode kompres
yang nyaman dan mudah
didapat (mis : handuk)
- Pilih lokasi kompres
(mis : di dahi, ketiak)
Edukasi
- Jelaskan prosedur
penggunaan kompres
panas
- Anjurkan tidak
menyesuaikan
pengaturan suhu
secara mandiri tanpa
pemberitahuan
sebelumnya
Perawatan Kenyamanan
Observasi
- Identifikasi gejala yang
tidak menyenangkan (mual,
2. Gangguan rasa nyaman nyeri)
Status Kenyamanan :
-identifikasi pemahaman
tentang kondisi, situasi dan
Indikator Tingkat
perasaannya
Kesejahtera 4
-Identifikasi masalah
an fisik (Cukup
emosional dan spritual
meningkat)
Teraupetik
Kesejahtera 4
-Berikan posisi yang nyaman
an (Cukup
-Berikan kompres
psikologis meningkat)
dingin/hangat
Gelisah 4
- Ciptakan lingkungan yang
(cukup
nyaman
menurun)
Edukasi
Keluhan 4
-Jelaskan mengenai kondisi
kedinginan (Cukup
-Ajarkan terapi relaksasi
menurun)
-Ajarkan latihan pernapasan
Mual 4
(Cukup
menurun)
Lelah 4
(Cukup
menurun)
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama : An. Z No RM :-

No Hari/Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi Paraf


1. 23/11/2020 Hipertermi b.d 1. Mengukur suhu tubuh di axila anak S : -Ibu pasien mengatakan memahami
peningkatan suhu 2. Menjelaskan kompres hangat pada tentang kompres hangat pada anak
tubuh keluarga(kompres hangat adalah - Ibu pasien mengatakan demam anak
tindakan dengan menggunakan kain sudah mulai turun
atau handuk yang telah dicelupkan
pada air hangat yang ditempelkan
pada bagian tubuh tertentu seperti di
dahi dan lipatan ketiak sehingga dapat
memberikan rasa nyaman dan
menurunkan suhu tubuh) (Wardiyah,
2016)
3. Menganjurkan perbanyak minum 5-7 O : T= 37,8 HR= 86 x/i RR = 20 x/i
gelas sehari (anak umur 4-8 tahun
memerlukan 1700 ml/ hari ,dan ketika
panas anak memerlukan cairan
tambahanlebih banyak dari kebutuhan
minimum) (IDAI,2016)
4. Menganjurkan pakaian yang dapat A : Masalah teratasi sebagian
menyerap keringat
P : Intervensi dilanjutkan dengan
mengobservasi suhu tubuh
2. 24/11/2020 Gangguan Rasa 1. Mengidentifikasi gejala yang tidak S : Keluarga mengatakan anak sudah tidak
Nyaman b.d menyenangkan seperti muntah, mual, lesu serta gelisah, anak sudah mulai riang
peningkatan suhu gelisah. (hal ini dilakukan agara bisa kembali
tubuh mengatasi ketidaknyamanan pada anak).
2. Menginstruksikan keluarga untuk O : Anak tampak rileks dan riang
menciptakan lingkungan yang
nyaman.(lingkungan yang nyaman bagi anak
bisa saja berupa tempat tidur yang rapi,atau
situasi yang membuat anak nyaman).
3. Memberikan posisi yang nyaman untuk A : Masalah teratasi
pasien (memberikan posisi supine)
4.Mengajarkan teknik relaksasi (melatih P : Intervensi dihentikan
tarik nafas dalam dengan cara menarik nafas
selama 3 detik dan hebuskan secara pelahan
melalui hidung dan dilakukan sampai anak
merasa rilaks).
3. 25/11/2020 Hipertermi 1. Menginstruksikan kompres hangat di dahi S : Ibu pasien mengatakan demam anak
atau lipatan ketiak anak pada keluarga nya sudah turun
2. Menganjurkan perbanyak minum 5-7 O : T= 37
gelas sehari (IDAI,2016)
3.Menganjurkan pakaian yang dapat A : Masalah teratasi
menyerap keringat.
4. Mengukur suhu tubuh di axila anak P : Intervensi dilanjutkan dengan
dengan menggunakan termometer. mengobservasi suhu tubuh
INTERPESTASI : STATUS GIZI BAIK
- P/U
Usia 8 tahun Tinggi normal 128 cm
Tinggi normal = 125/128 x 100% = 98 % (normal)
Tinggi ideal

- BB/U
Usia 8 tahun berat badan normal 26 kg
BB aktual/BB ideal x 100%
25/26 x 100% = 92% (Normal)

- BB/TB
Berat badan yang terukur saat ini / berat badan anak yang sesuai dengan
tinggibadan saat ini x100%
25/26 x 100% = 96% (normal)
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah pertama di dalam proses keperawatan.


Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data dasar tentang kesehatan pasien
baik fisik, psikologis, maupun emosional.Data dasar ini digunakan untuk
menetapkan status kesehatan pasien, menemukan masalah aktual ataupun
potensial, serta sebagai acuan dalam memberi edukasi pada pasien.Data dapat
bersifat subjektif dan objektif.Data subjektif adalah data yang didapat
langsung dengan cara wawancara dengan pasien, sedangkan data objektif
adalah data yang bisa diukur dan diobservasi. Sumber data dapat diperoleh
dari pasien, keluarga pasien, anggota tim kesehatan lainnya, catatan kesehatan
dan hasil pemeriksaan diagnostik (Debora,2012). Pada kasus ini, data objektif
saat melakukan pemeriksaan pada anak, Sedangkan untuk data subjektif
didapatkan pada pasien dan orang tua klien.
Pasien lahir ditolong oleh bidan pada tanggal 20 November 2012
dengan kelahiran dibantu Bidan di praktek bidan, dengan berat badan lahir
3900 gram. Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 23 Novembar 2020,
didapatkan An.Z masih mengalami demam. Tidak ada ditemukan kejang dan
tanda bahaya umum lainnya.Tidak ada ditemukan batuk dan sukar
bernafas.TTV didapatkan suhu 38 oC, Nadi 90 x/menit, pernafasan 20
x/menit.Pada uraian perkembangan kasus, penulis menerapkan kasus pada
anak usia 8 tahun. Pada pembahasan ini penulis akan membandingkan antara
teori yang sudah ada dengan kenyataan yang dihadapi pada saat pelaksanaan
asuhan keperawatan pasien dengan Demam pada An.Z.
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh yang berhubungan dengan
ketidak mampuan tubuh untuk menghilangkan panas ataupun mengurangi
produksi panas. Hipertermi terjadi karena adanya ketidak mampuan
mekanisme kehilangan panas untuk mengimbangi produksi panas yang
berlebihan sehingga dapat terjadi peningkatan suhu tubuh (Perry & Potter,
2010). Hal ini terdapat kesesuaian antara teori dengan kasus An.Z, bahwa
An.Z sudah sejak 2 hari yang lalu mengalami demam dengan suhu 37,8 oC,
frekuensi nadi 90 x/menit, frekuensi pernafasan 20 x/menit, dan badan teraba
hangat.

Demam terajadi pada suhu > 37,2°C, biasanya disebabkan oleh infeksi
(bakteri, virus, jamu atau parasit), penyakit autoimun, keganasan, ataupun
obat – obatan (Surinah dalam Hartini, 2015).Sedangkan menurut Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal dalam Thobaroni (2015) bahwa etiologi
febris, diantaranya: suhu lingkungan, adanya infeksi, pneumonia, malaria,
otitis media, imunisasi. Hal ini juga terdapat kesesuaian antara teori dan kasus
An.Z dimana sebelum An.Z sering main diluar di saat hari hujan.
Demam pada anak seringkali terjadi, perawat biasanya melakukan
berbagai tindakan untuk penurunan demam salah satunya yaitu dengan cara
kompres air hangat. Kompres adalah salah satu metode fisik untuk
menurunkan suhu tubuh anak yang mengalami demam (Anisa, K. D. 2019).
Pemberian kompres hangat pada daerah pembuluh darah besar merupakan
upaya memberikan rangsangan pada area preoptik hipotalamus agar
menurunkan suhu tubuh. Sinyal hangat yang dibawa oleh darah ini menuju
hipotalamus akan merangsang area preoptik mengakibatkan pengeluaran
sinyal oleh sistem efektor. Sinyal ini akan menyebabkan terjadinya
pengeluaran panas tubuh yang lebih banyak melalui dua mekanisme yaitu
dilatasi pembuluh darah perifer dan berkeringat (Potter & Perry, 2005).
B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas mengenai status


kesehatan atau masalah aktual atau risiko dalam rangka mengidentifikasi dan
menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan, atau
mencegah masalah kesehatan klien yang ada pada tanggung jawabnya
(Tarwoto dan Wartonah, 2011).
Menurut NANDA 2015-2017, diagnosa keperawatan yang muncul
pada anakdengan demam setelah dilakukan analisa data yaitu hipertermia
berhubungan dengan adanya proses penyakit, aktivitas berlebih yang
mempengaruhi pusat termoregulasi yang menyebabkan peningkatan suhu di
atas normal di tandai dengan suhu 37,8oC, frekuensi nadi 90 x/menit,
frekuensi pernafasan 20 x/menit, dan badan teraba hangat. Selain itu,
diagnose lain yang data timbul Gangguan Rasanyaman.
C. Intervensi Keperawatan

Intervensi atau perencanaan keperawatan merupakan proses


penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk
mencegah, menurunkan atau mengurangi masalah-masalah klien. Dalam
menentukan tahap perencanaan bagi perawat diperlukan berbagai
pengetahuan dan keterampilan diantaranya pengetahuan tentang kekuatan dan
kelemahan klien, nilai dan kepercayaan klien, batasan praktek keperawatan,
peran dari tenaga kesehatan lainnya, kemampuan dalam memecahkan
masalah, mengambil keputusan, menulis tujuan, serta memilih dan membuat
strategi keperawatan yang aman dalam memenuhi tujuan, menulis instruksi
keperawatan serta kemampuan dalam melaksanakan kerjasama dengan
tingkat kesehatan lain. Kegiatan perencanaan ini meliputi memprioritaskan
masalah, merumuskan tujuan, kriteria hasil serta tindakan (Hidayat, 2009).
Dalam teori pada pasien dengan asma dapat diberikan intervensi
sesuai dengan diagnosa yang didapat dari data pengkajian. Dari teori yang
didapat, intervensi yang dilakukan untuk diagnose hipertermia berhubungan
dengan proses penyakit adalah:
- Monitor suhu sesering mungkin
- Monitor intake dan output
- Beri pengobatan untuk mengatasi penyebab demam
- Kompres pasien pada lipatan paha dan aksila
- Tingkatkan sirkulasi udara
- Monitor Nadi dan RR
- Monitor warna dan kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
Dari teori yang didapat, intervensi yang dilakukan untuk diagnose
timbul gangguan rasa nyaman adalah :
- Identifikasi gejala yang tidak menyenangkan.
- identifikasi pemahaman tentang kondisi, situasi dan perasaannya
- Identifikasi masalah emosional dan spritual
- Berikan posisi yang nyaman
- Berikan kompres dingin/hangat
- Ciptakan lingkungan yang nyaman
- Jelaskan mengenai kondisi
- Ajarkan terapi relaksasi
- Ajarkan latihan pernapasan
D. Implementasi Keperawatan

Tindakan keperawatan adalah tahap melakukan rencana keperawatan


yang telah dibuat. Adapun kegiatan yang ada dalam tahap implementasi
meliputi pengkajian ulang, memperbaharui data dasar, meninjau, dan
merevisi rencana asuhan keperawatan yang direncanakan (Deswani, 2009).
Pada kasus ini penulis melakukan implementasi pada An.Z dengan
demam.Implementasi dilakukan selama 3 hari. Implementasi yang dilakukan
antara lain:
- Untuk diagnose keperawatan pertama yaitu hipertermia berhubungan
dengan penigkatan suhu tubuh . Implementasi yang dilakukan sesuai
denga teori yaitu: Mengukur suhu tubuh di axila anak , Menjelaskan
kompres hangat pada keluarga (kompres hangat adalah tindakan
dengan menggunakan kain atau handuk yang telah dicelupkan pada air
hangat yang ditempelkan pada bagian tubuh tertentu seperti di dahi
dan lipatan ketiak sehingga dapat memberikan rasa nyaman dan
menurunkan suhu tubuh) (Wardiyah, 2016), Menganjurkan perbanyak
minum 5-7 gelas sehari (anak umur 4-8 tahun memerlukan 1700 ml/
hari ,dan ketika panas anak memerlukan cairan tambahanlebih banyak
dari kebutuhan minimum) (IDAI,2016), Menganjurkan pakaian yang
dapat menyerap keringat.
- Untuk diagnose keperatawan kedua yaitu Gangguan Rasa Nyaman b.d
peningkatan suhu tubuh Implementasi yang dilakukan sesuai denga
teori yaitu: Mengidentifikasi gejala yang tidak menyenangkan seperti
muntah, mual, gelisah. Menginstruksikan keluarga untuk menciptakan
lingkungan yang nyaman, Memberikan posisi yang nyaman untuk
pasien (memberikan posisi supine), Mengajarkan teknik relaksasi
(melatih tarik nafas dalam).

E. Evaluasi Keperawatan

Tahap evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan


dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana
keperawatan tercapai atau tidak (Hidayat, 2013). Evaluasi pada diagnose
hipertermia berhubungan dengan proses penyakit. Evaluasi dilakukan dengan
mengevaluasi suhu tubuh, suhu sudah mengalami penurunan, Suhu An.Z :37
C, turgor kulit tampak lembab. Masalah teratasi. Evaluasi pada diagnose
gangguan rasanyaman Evaluasi dilakukan dengan mengevaluasi An.Z tampak
tidak lesu dan gelisah, An.Z tampak rileks .Masalah teratasi.
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai


akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus.Sebagian besar
demam pada anak merupakan akibat dari perubahan pada pusat panas
(termoregulasi) di hipotalamus. Penyakit – penyakit yang ditandai dengan
adanya demam dapat menyerang sistem tubuh.Selain itu demam mungkin
berperan dalam meningkatkan perkembangan imunitas spesifik dan non
spesifik dalam membantu pemulihan atau pertahanan terhadap infeksi
(Sodikin dalam Wardiyah, 2016).
Menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal dalam
Thobaroni (2015) bahwa etiologi febris, diantaranya: suhu lingkungan,
adanya infeksi, pneumonia, malaria, otitis media, imunisasi.
Penurunan panas yang dapat dilakukan seperti: memberikan minuman
yang banyak, tempatkan dalam ruangan bersuhu normal, menggunakan
pakaian yang tidak tebal dan memberikan kompres(Nurarif, 2015).
Asuhan keperawatan pada An.Z dengan demam dilakukan
berdasarkan diagnose prioritas yaitu hipertermia berhubungan dengan
peningkatan suhu tubuh dan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan
peningkatan suhu tubuh.
B. SARAN
1. Bagi Akademik

Hasil laporan kasus ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi


atau masukan untuk menambah wawasan bagi pembaca dan sebagai
pembelajaran mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan
pada anak dengan demam.
2. Bagi Perawat

Diharapkan perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan lebih


meningkatkan pemberian asuhan keperawatan kepada anak dengan
demam sehingga masalah bisa teratasi dengan cepat tanda
menimbulkan komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Anisa, K. D. 2019. Efektifitas Kompres Hangat Untuk Menurunkan Suhu Tubuh


Pada An.D Dengan Hipertermia Vol. 5 Nomor 2. Jurnal Ilmiah Ilmu
Kesehatan: Wawasan Kesehatan, P-Issn 2087-4995, E-Issn 2598-4004, Doi:
10.33485/Jiik- Wk.V5i2.112.

Arifianto.2012. Orangtua Cermat, Anak Sehat. Jakarta : Gagas Media

Ayu, E.I. (2015). Kompres Air Hangat Pada Daerah Aksila dan Dahi Terhadap
Penurunan Suhu Tubuh pada Pasien Demam di PKU Muhammadiyah
Kutoarjo. Jurnal Ners dan Kebidanan vol 3 No.1, 10-14.

Bulechek, M.G dkk.(2013). Nursing Interventions Classification (NIC), 6th


Indonesian edition. Indonesia: Mocomedia.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi Revisi 3. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Dewi, A. K. (2016). Perbedaan Penurunan Suhu Tubuh Antara Pemberian


Kompres Air Hangat Dengan Tepid Sponge Bath Pada Anak Demam. Jurnal
Keperawatan Muhammadiyah, 1 (1): 63-71.

Guyton, A. C. (2014). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta: EGC.

Hartini, S. P. (2015). Efektifitas Kompres Air Hangat Terhadap Penurunan Suhu


Tubuh Anak Demam Usia 1 - 3 Tahun Di SMC RS Telogorejo Semarang. .
Jurnal Keperawatan.

IDAI. (2015). Pusat Data dan Informasi. Kementerian Kesehatan RI.

Jannah, A.R. (2015). Pengelolaan Hiperetmi Pada An. F Dengan Kejang Demam
Di Ruang Anggrek RSUD Ambarawa. Jurnal Akper Ngudi Waluyo
Ungaran.

Kementerian Kesehatan RI. 2016. INFODATIN Pusat Data dan Informasi


Kementerian Kesehatan RI Situasi Balita Pendek. Jakarta Selatan.

NANDA International. (2015). Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi


2015- 2017 (10 th ed.). United states of America : Elsevier

Nurarif, A. d. (2015).APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction

Marwan, R. (2017). Faktor Yang Berhubungan Dengan Penanganan Pertama


Kejadian Kejang Demam Pada Anak Usia 6 Bulan - 5 Tahun Di Puskesmas,
1(1), 32–40.

Moorhead Sue, dkk. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC), 5th


Indonesian edition. Indonesia: Mocomedia.

Potter, Perry. (2010). Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and Practice.


Edisi 7.Vol. 3. Jakarta : EGC

Purwanti, Sri. (2017). Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Perubahan Suhu


Tubuh Pada Pasien Anak Hipertermia Di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.
Moewardi Surakarta. Jurnal Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697,
Vol. 1. No. 2., 81- 86.

Saputra, F., Hasanah, O., & Sabrian, F. (2015). Perbedaan Tumbuh Kembang
Anak Toddler Yang Diasuh Orang Tua Dengan Yang Dititipkan Ditempat
Penitipan Anak (Tpa). Jom, 2(2).

Thobaroni, Imam. (2015). Asuhan Keperawatan Demam. Artikel Kesehatan

Wardiyah, A. (2016). Perbandingan Efektifitas Pemberian Kompres Hangat Dan


Tepid sponge Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Anak Yang Mengalami
Demam Rsud Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Jurnal Ilmu
Keperawatan - Volume 4, No. 1, 45.

Wong, Dona L, dkk,. 2003. Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis:
Mosby Inc.
JURNAL 1

JUDUL JURNAL HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI


IBU DENGAN PEMBERIAN KOMPRES HANGAT
PADA BALITA FEBRIS DI BPM YETTI PURNAMA,
S.ST., M.KEB KOTA BENGKULU
Penulis Ronalen Br. Situmorang, Desi Aulia Umami, Mitra
Kadarsih
Daftar Pustaka Ronalen, dkk (2020), hubungan pengetahuan dan motivasi ibu de
yetti purnama, s.st., m.keb kota bengkulu, journal of
nursing
Penerbit journal of nursing
Hasil Penelitian Hasil penelitian penulis Terdapat hubungan yang
signifikan antara pengetahuan ibu dengan pemberian
kompres hangat. Dimana nilai P-value 0.01 < 0.05.
Terdapat hubungan yang signifikan antara Motivasi
ibu dengan pemberian kompres
hangat. Dimana nilai P-value 0.028 < 0.05.
Pembahasan Pada tabel Chi Square Tests diperoleh nilai p-value
(Asymp.Sig) sebesar 0.028.Karena nilai P-value
0.028 < 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa
hipotesis no l (H0) ditolak, artinya terdapat hubungan
yang signifikan antara motivasi ibu dengan pemberian
kompres hangat. Motivasi ibu memiliki korelasi
dengan sikapnya dalam memberikan kompres hangat
terhadap anak balitanya.

JURNAL 2

Judul Jurnal PERBEDAAN PENURUNAN SUHU TUBUH


ANTARA PEMBERIAN KOMPRES AIR
HANGAT DENGAN TEPID
SPONGE BATH PADA ANAK DEMAM
Penulis Arie Kusumo Dewi
Daftar Pustaka Dewi, A. K. (2016). Perbedaan Penurunan Suhu Tubuh
Antara Pemberian Kompres Air Hangat Dengan Tepid
Sponge Bath Pada Anak Demam. Jurnal Keperawatan
Muhammadiyah, 1 (1): 63-71.
Penerbit Jurnal Keperawatan Muhammadiyah
Hasil Penelitian Ada perbedaan yang signifikan, antara suhu sebelum
dilakukan kompres air hangat dengan suhu sesudah
dilakukan kompres air hangat. Ada perbedaan yang
signifikan, antara suhu sebelum dilakukan
pemberian tepid sponge bath dengan suhu sesudah
dilakukan tepid sponge bath. Ada perbedaan penurunan
suhu tubuh antara pemberian kompres air hangat dan
tepid sponge bath pada anak demam di ruang Hijr
Ismail RSI A Yani Surabaya.
Pembahasan Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa
kompres air hangat dapat menurunkan suhu tubuh
melalui proses evaporasi. Dengan kompres air hangat
menyebabkan suhu tubuh di luar akan hangat sehingga
tubuh akan menginter pretasikan bahwa suhu di luar cukup
kulit akan membuka dan memper mudah pengeluaran
panas, sehingga akan terjadi penurunan suhu tubuh
(Guyton, 2007). Pemberian kompres air hangat ini
dilakukan di tempat tempat tertentu di bagian tubuh.
Penelitian ini didukung oleh penelitian Djuwariyah,
(2010) Yang mengemukakan bahwa kompres air
hangat efektif untuk menurunkan suhu tubuh sebesar
0,710C(p<0,0001).
JURNAL 3

Judul Jurnal Pengaturan Suhu Tubuh dengan Metode Tepid Water


Sponge dan Kompres Hangat pada Balita Demam
Penulis NLP Yunianti Suntari C, Putu Susy Natha Astini, Ni
Made Desi Sugiani
Daftar Pustaka Suntari, dkk (2019), Pengaturan Suhu Tubuh dengan
Metode Tepid Water Sponge dan Kompres Hangat
pada Balita Demam
Penerbit Jurnal Kesehatan
Hasil Penelitian Hasil analisis rata-rata penurunan suhu pada
kelompok tepid water sponge yaitu 0,9930 C,
sedangkan pada kelompok kompres hangat yaitu
0,540C. Hasil penelitian diuji dengan paired-samples
t-test dan independent samples t-test didapatkan hasil
p=0,0001 (p<0,05). Ada perbedaan efektivitas metode
tepid water sponge Dan kompres hangat terhadap
pengaturan suhu tubuh pada anak Usia balita dengan
demam
Pembahasan Anak usia di bawah lima tahun (balita) merupakan
kelompok yang rentan terhadapgangguan kesehatan
sehingga membutuhkan perhatian dan pemantauan secara
suhu tubuh normal untuk anak berkisar antara 36,5oC
sampai 37,5 C. Demam merupakan kondisi terjadinya
kenaikan suhu tubuh hingga >37,50C (Setiawati,
2009). Pengukuran suhu dilakukan dengan
menggunakan termometer air raksa karena
termometer tersebut tidak bergantung pada
sumber energi apapun sehingga pengukuran dengan
cara yang benar akan selalu sama ketepatannya
(Handy, 2016). Kompres adalah salah satu tindakan
non farmakologis untuk menurunkan suhu tubuh bila
anak mengalami demam. Ada beberapa macam
kompres yang bisa diberikan untuk
menurunkan suhu tubuh yaitu tepid water sponge dan
kompres air hangat (Dewi, 2016). Studi pada
kelompok tepid water sponge didapatkan hasil terjadi
penurunan rata-rata suhu setelah dilakukan tindakan.
Rata-rata suhu tubuh sebelum tindakan yaitu 38,610C
atau dibulatkan menjadi 38,6 C dan rata-rata suhu 30
menit setelah dilakukan tindakan kompres tepid water
sponge yaitu 37,610C atau dibulatkan menjadi 37,6 C.
Hasil penelitian ini menyatakan terjadi penurunan
rata-rata setelah dilakukan tindakan kompres tepid
water sponge, senada dengan hasil penelitian
Bartolomeus Maling yang menyatakan ada pengaruh
kompres tepid water sponge terhadap penurunan suhu
tubuh anak

Jurnal 4

Judul Game therapy based on local wisdom in cegnitive


development of slow learner children
Penulis Eshthih Fithriyani, Hidayah
Daftar Pustaka Hidayah, E. F. (2019), Game therapy based on local
wisdom in cognitive development of slow learner
children
Penerbit Islamic University Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Hasil Penelitian Pemberian terapi bermain (game threapy) berbasis
kearifan lokal dapat membantu anak learner untuk
mengatasi hambatan-hambatan yang dialaminya dan
memahami aturan atau informasi tertentu.
Pembahasan Game therapy berbasis kearifan lokal ialah suatu bentuk
permainan yang berbasis tradisional dan digunakan
untuk membantu anak menyelesaikan
masalahnya.banyak permainan tradisional yang
berpotensi untuk dijadikan sebagai game therapy salah
satunya ialah congklak. Bermain congklak dapat melatih
anak pandai dalam berhitung, selain itu anak juga bisa
mengatur strategi agar bbisa memenangkan permainan.
Ketika anak melalukan permainan tradisional(congklak)
secara tidak sadar perkembangan kognitif anak akan
berkembang. Sehingga anak tidak merasa bosan, dengan
bermain congklak anak dapat belajar memecahkan
masalah dalam kehidupannya, anak mampu berhitung,
dan mampu membedakan warna.
Lampiran Dokumentasi
Pengkajian

Terapi bermain
penyuluhan
SATUAN ACARA PENYULUHAN
TENTANG “KOMPRES HANGAT”

Pada SAP sebelumnya untuk TIK dan TIU kurang sesuai cara sistematisnya,untuk latar
belakang belum ada,tidak adanya setting,waktu penyuluhan tidak sesuai,pada penyuluhan di
kegiatannya intinya tidak di terangkan tentang kegiatan apa saja,evaluasi hasil kurang sesuai dan
daftar pustaka dengan tahun yang sudah lama.Berikut adalah sistematis yang sesuai :

Pokok bahasa : Termoregulasi


Sub pokok bahasa : Penyuluhan Kompres Hangat
Sasaran : Keluarga pasien
Hari / tanggal : -
Waktu / jam : 20 menit
Pukul : 14.00 WIB
Sasaran : Pasien kelolaan Dan Keluarga Pasien
Tempat : Rumah Pasien
Penyuluh : Clarissa Pramestya

Latar Belakang
Demam merupakan suatu gejala gangguan kesehatan yang berupa keluhan dan
bukan diagnosa.Menurut Guyton & Hall (2007), demam adalah peningkatan suhu
tubuh diatas normal dapat disebabkan oleh kelainan di dalam otak sendiri atau oleh
zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu tubuh.Mekanisme terjadinya
demam berawal dari ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan kecepatan
pengeluaran kelebihan panas, yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh
abnormal.suhu diatas 38˚C keatas akan dapat mengakibatkan kekejangan apalagi
terhadap balita sehingga di perlu penanganan yang cepat untuk menghindari akibat
yang lebih parah.
Pemberian kompres hangat merupakan suatu metode untuk menurunkan
suhutubuh biasanya diberikan pada suhu dibawah 38˚C.Pemberian kompres hangat
merupakan tindakan mandiri perawat yang bertujuan menurunkan suhu
tubuh,member kenyamanan dan mencegah terjadinya kejang demam (Perry &
Potter,2009).Pemberiannya sering dilakukan di daerah vena besar seperti axilla dan
daerah abdomen.Kompres hangat didaerah axilla cukup efektif karena adanya proses
vasodilatas. Suhu air hangat yang digunakan pada kompres hangat sekitar 34 _ -
37˚C.Mekanisme penurunan suhu dengan kompres hangat yaitu tubuh akan
menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas.Dengan demikian tubuh akan
menurunkan kontrol pengatur suhu diotak supaya tidak meningkatkan pengaturan
suhu tubuh lagi.Disamping itu lingkungan luar yang hangat akan membuka pembuluh
darah tepi dikulit melebar atau vasodilatasi dan pori pori kulit terbuka sehingga
mempermudah pengeluaran panas (Mahmud,2007).

Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama + 10 menit diharapkan keluarga dan
pasien memahami tentang cara mengompres dengan baik dan benar.
2. Tujuan khusus
Diharapkan keluarga dapat :
a. Mengetahui pengertian kompres hangat basah
b. Memahami tujuan kompres hangat basah
c. Menjelaskan cara mengompres
d. Mendemontrasikan cara mengompres

A. Materi
1. Pengertian Kompres
2. Macam-macam Kompres
3. Tujuan pengompresan
4. Indikasi Kompres
5. Kontraindikasi pemberian kompres
B. Setting
Keterangan :
Penyuluh

Media

Audient

C. Metode
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
D. Media
1. Demonstrasi
2. Penggunaan Alat :
a. Larutan kompres berupa air hangat 40° dalam wadah (kom atau baskom)
b. Handuk / kain / washlap untuk kompres
c. Handuk pengering
d. Sarung tangan
e. Termometer
f. Selimut mandi

E. Pengorganisasian

Penyuluh :

Kegiatan Penyuluhan

No. Kegiatan Penyuluhan Waktu Kegiatan Peserta

1. Pendahuluan 5 menit

· Memberi salam · Menjawab salam


· Menyampaikan pokok bahasan · Memperhatikan

· Menyampaikan tujuan Memperhatikan

2. Kegiatan Inti 15 menit

1. Memberikan penjelasan · Memperhatikan


tentang Pengertian Kompres
2. Memberikan penjelasan
· Memperhatikan
tentang Macam-macam
Kompres
3. Memberikan penjelasan
Memperhatikan
tentang Tujuan
pengompresan
4. Memberikan penjelasan Memperhatikan
tentang Indikasi Kompres
5. Memberikan penjelasan
Memperhatikan
tentang Kontraindikasi
pemberian kompres

· Memberikan kesempatan peserta


Bertanya
untuk bertanya

· Menjawab pertanyaan peserta


· Memperhatikan

3. Penutup 5 menit

· Menyimpulkan materi · Memperhatikan

penyuluhan bersama peserta

· Memberikan salam penutup · Menjawab salam

penutup
F. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Satuan Acara Pengajaran sudah siap sesuai dengan masalah keperawatan
b. Kontrak waktu sudah tepat dengan mahasiswa
c. Media sudah disiapkan
2. Evaluasi Proses
a. Peserta yang hadir
b. Media dapat digunakan dengan baik
c. Pendidikan kesehatan dapat dilaksanakan sesuai waktu
d. Partisipasi peserta yang hadir
e. Peserta dapat mengikuti sampai selesai

3. Evaluasi hasil
a. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengertian kompres hangat = 80%
b. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Macam-macam Kompres = 80%
c. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Tujuan pengompresan = 85%
d. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Indikasi Kompres = 85%
e. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Kontraindikasi pemberian kompres =90%
MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN
KOMPRES HANGAT

A. Pengertian
Menurut Doengoes, M. (2000) Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat pada
daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada
bagian tubuh yang memerlukan. Tindakan ini selain untuk melancarkan sirkulasi darah
juga untuk menghilangkan rasa sakit, merangsang peristaltic usus, pengeluaran getah
radang menjadi lancar, serta memberikan ketenangan dan kesenangan pada klien.
Pemberian kompres dilakukan pada radang persendian, kekejangan otot, perut kembung,
dan kedinginan.
Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat untuk memenuhi kebutuhan rasa
nyaman, mengurangi atau membebaskan nyeri, mengurangi atau mencegah spasme otot
dan memberikan rasa hangat pada daerah tertentu.Kompres hangat dapat dilakukan
dengan menempelkan kantong karet yang diisi air hangat atau handuk yang telah
direndam di dalam air hangat, ke bagian tubuh yang nyeri. Sebaiknya diikuti dengan
latihan pergerakan atau pemijatan. Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah
pelunakan jaringan fibrosa, membuat otot tubuh lebih rileks, menurunkan atau
menghilangkan rasa nyeri, dan memperlancar aliran darah (Kompas, 2009)

B. Macam-Macam Kompres menurut Ignatavicius (Yohmi,2008)


1. Kompres hangat kering
Biasanya menggunakan BabyVifer atau bisa juga menggunakan buli-buli
2. Kompres panas basah
Biasanya menggunakan baskom air hangat sekitar 40˚C dan dengan menggunakan
waslap atau kain

C. Tujuan Kompres Hangat menurut (Ulyah & Hidayat,2008)


1. Membantu menurunkan suhu tubuh
2. Mengurangi rasa sakit atau nyeri
3. Membantu mengurangi perdarahan
4. Membatasi peradangan
5. Memperlancar sirkulasi darah
6. Memperlancar pengeluaran cairan / exudat
7. Merangsang peristaltic
8. Memberi ketenangan dan kesenangan klien

D. Indikasi menurut (Kusyanti eni,2006)


1. Pada klien yang suhunya tinggi
2. Pada klien yang kesakitan contohnya sakit kepala yang hebat
3. Pada klien dengan radang persendian
4. Pada kekejangan otot (spasmus)
5. Pada klien dengan perut kembung
6. Pada klien dengan bengkak akibat suntikan
7. Pada klien bila kedingina misalnya : akibat narkoses, iklim atau ketenangan jiwa
8. Pada bagian yang abses
9. Pada klien dengan pembengkakan (hematoma)

E. Kontraindikasi Pemberian Kompres Hangat menurut (STIKES Banyuwangi. 2009)


1. Pada 24 jam pertama setelah cidera traumatic.Panas akan meningkatkan
perdarahan dan pembengkakan
2. Peredaran aktif,panas akan menyebabkan vasodilatasi dan meningkatkan
perdarahan
3. Edema noninflamasi,panas meningkatkan permeabilitas kapiler dan edema
4. Tumor ganas terlokalisasi,karena panas mempercepat metabolism
sel,pertumbuhan sel dan meningkatkan sirkulasi,panas dapat mempercepat
metastase (tumor sekunder)
5. Gangguan kulit yang menyebabkan kemerahan atau lepuh,panas dapat membakar
atau menyebabkan kerusakan kulit lebih jahat
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC. Guyton, A. C., & John E.
Hall, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta, 2007
Kompas, 2009. Kompres, Alternatif Pereda Nyer.Bandung
Ns. Kusyati, Eni, S.Kep, dkk. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium. Jakarta: EGC
Mahmud, Mahir Hasan, 2007.”Terapi Air Hangat” Qultum Media, Jakarta

Program Study S-1 Keperawatan c. Panduan Keterampilan Prosedur Lab KDM 2. Jawa Timur :
EGC

Potter, P.A.& Perry, A.G. 2009. Fundamentals of nursing, fundamental keperawatan. Edisi 7
Buku 1 dan 2. Jakarta: EGC

Uliyah, Musrifatul & Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008 Praktikum Klinik: Aplikasi Dasar-Dasar
Praktik Kebidanan. Salemba Medika, Jakarta

Yohmi, E. (2008). Kompres Hangat. Tanggal 1 Februari 2010, jam 20.00 WITA
Prosedur pelaksanaan
KOMPRES HANGAT
o Membasahi handuk kecil dengan
Pengertian : air hangat
Pemberian kompres hangat yaitu o Memasang pengalas di bawah
memberikan rasa hangat pada persendian yang akan
pasien dengan menggunakan dikompres
cairan atau alat yang menimbulkan o Memasang kain diatas di ketiak
hangat pada bagian tubuh yang atau lipatan
memerlukan paha.

TUJUAN KOMPRES HANGAT PERALATAN

o Memberikan rasa o Wadah bertutup berisi air

nyaman/hangat dan tenang hangat sesuai kebutuhan (suhu

pada pasien 40 - 46º C)

o Mengurangi sakit / nyeri, o Pengalas /perlak dan kain

spasmus otot dan peradangan o Handuk kecil untuk kompres

o Memperlancar sirkulasi darah


o Menurunkan suhu tubuh saat
demam
KOMPRES
berubah menjadi menaikkan
Perhatian :
suhu karena benda dingin yang

HANGAT
o Cairan jangan terlalu panas menempel. Itulah sebab
(suhu air 40 – 46 ºC) mengapa orang yang demam
o Hindarkan kulit tidak terbakar diberikan kompres
o Sebelum dikompreskan diukur menggunakan air dingin atau es
dulu panasnya akan lebih demam lagi saat
kompres tersebut dihentikan.
KENAPA HARUS AIR HANGAT,
KENAPA TIDAK AIR DINGIN??
Letak Bagian Tubuh yang
Karena bila kontak dengan air
Sebaiknya Dikompres
dingin maka pembuluh darah
yang kontak dengan kain Penanganan demam pada anak
kompres dingin akan menyempit sebaiknya dilakukan dengan
(vasokonstriksi) sehingga melakukan kompres di ketiak
menyulitkan pengeluaran panas. atau lipatan paha. Iklan yang
selama ini menayangkan cara Disusun oleh:

Di samping itu, benda dingin yang menurunkan panas dengan Clarissa Pramestya
ditempelkan di tubuh menempelkan plester pada dahi
menyebabkan thermoregulator tidaklah benar. Kompres pada
(pengatur suhu) yang terdapat di PROGRAM STUDI PROFESI NERS
daerah kepala tidak efektif
FAKULTAS KEPERAWATAN
hipotalamus keliru memberi karena terhalang tulang UNIVERSITAS ANDALAS
perintah. Perintah yang tengkorak 2020
seharusnya menurunkan suhu
SATUAN ACARA KEGIATAN
TERAPI BERMAIN

Judul : Terapi bermain congkak


Tanggal pelaksanaan : 25 November 2020
Waktu : 10 menit
Tempat : Di rumah An. Z

1. TUJUAN
1.1 TujuanUmum
Setelah diajak bermain, diharapkan anak diharapkan biasa merasa tenang
selama perawatan dirumah dan bisa mengalihkan pikiran dari sakit
yangdialami.
1.2 TujuanKhusus
Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali diharapkan anak mampu :
1) Bisa merasa tenang selamadirawat mau melaksanakan anjuran dokter
danperawat
2) Anak menjadi kooperatif pada perawat dan tindakankeperawatan
3) Kebutuhan bermain anak dapatterpenuhi
4) Dapat melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yangnormal
5) Dapat mengekspresikan keinginan, perasaan, dan fantasi anak terhadap
suatu permainan
6) Dapat mengembangkan kreativitas melalui pengalaman bermain yangtepat
7) Agar anak dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress karenasakit
8) Anak dapat merasakan suasana yang nyaman dan aman
2. SASARAN
a. Anak usia sekolah (6-12tahun)
b. Tidak mempunyai keterbatasan (fisik atau akibat terapi lain) yang dapat
menghalangi proses terapibermain
c. Kooperatif dan mampu mengikuti proses kegiatan sampaiselesai
d. Anak yang dapat menghirung biji congkok
e. Anak yang mau berpartisipasi dalam terapi bermain congklak
3. MEDIA
a. Batu Congklak
b. Papan Congklak
4. STRATEGIPELAKSANAAN

No. Waktu Kegiatan Peserta


1 2 menit Pembukaan :
- Menjawab salam
1. Membuka kegiatan dengan
mengucapkan salam.
- Mendengarkan
2. Memperkenalkan diri
- Memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan dari terapi
bermain
- Memperhatikan
4. Kontrak waktu anak dan orang tua
2 10 menit Pelaksanaan :
- Memperhatikan
1. Menjelaskan tata cara
pelaksanaan terapi bermain
congklak kepada anak
- Bertanya
2. Memberikan kesempatankepada
anak untuk bertanya jika belum
Jelas
- Antusias saat menerima
3. Membagikan Anak dibagikan
peralatan
media bermain (congklak)
4. Fasilitator mendampingi anak dan
- Memulai bermain
memberikan motivasi kepadaanak
5. Menanyakan kepada anak
- Menjawabpertanyaan
apakah telah selesai bermain
- Mendengarkan
congklak
6. Memberitahu anak bahwa waktu
- Memperhatikan
yang diberikan telah selesai
7. Memberikan pujian terhadap
anak.
2 10 menit Pelaksanaan :
- Memperhatikan
8. Menjelaskan tata cara
pelaksanaan terapi bermain
congklak kepada anak
- Bertanya
9. Memberikan kesempatan
kepada anak untuk bertanya jika
belum Jelas
- Antusias saat menerima
10. Membagikan Anak dibagikan
peralatan
media bermain (congklak)
11. Fasilitator mendampingi anak dan
- Memulai bermain
memberikan motivasi kepada
anak - Menjawab pertanyaan
12. Menanyakan kepada anak - Mendengarkan
apakah telah selesai bermain
congklak - Memperhatikan
13. Memberitahu anak bahwa waktu
yang diberikan telah selesai
14. Memberikan pujian terhadap
anak
3. 3 menit Terminasi:
- Memperhatikan/gembira
1. Memberikan motivasi dan pujian
kepada seluruh anak yang telah
mengikuti program terapibermain
- Mendengarkan
2. Mengucapkan terima kasihkepada
anak dan orangtua
- Menjawabsalam
3. Mengucapkan salampenutup

5. KRITERIA EVALUASI
a. EvalusiStruktur
1. Anak hadir diruangan
2. Penyelenggaraan terapi bermain dilakukan di ruangkeluarga
3. Pengorganisasian penyelenggaraan terapi dilakukansebelumnya
b. EvaluasiProses
1. Anak antusias dalam kegiatan congkak
2. Anak mengikuti terapi bermain dari awal sampaiakhir
3. Tidak terdapat anak yang malas untuk bermaincongkak
c. Kriteria Hasil
1. Anak terlihat senang dangembira
2. Kecemasan anakberkurang
3. Anak mampu menyelesaikan permainan congkak

6. PERKIRAAN HAMBATAN
a. Jadwal terapi bermain yang kurang sesuai

7. ANTISIPASI HAMBATAN/MASALAH
a. Jadwal terapi bermain disesuaikan (Tidak pada waktuterapi)
b. Melakukan kerjasama dengan orang tua untuk mendampingi anak selama
programterapi
MATERI KEGIATAN

A. PENGERTIAN
Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan
merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia.Bagi anak bermain tidak
sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan,
perawatan, cinta kasih dan lain- lain.Anak-anak memerlukan berbagai variasi
permainan untuk kesehatan fisik, mentaldan perkembangan emosinya.
Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya
dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan
pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan
kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak
yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan
yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang
lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa
kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain.
Perawatan anak sakit sangatlah perlu karena hal ini adalah salah satu bentuk
upaya dalam proses penyembuhan pada anak sakit. Namun pada sisi lain, perawatan
dan proses keperawatan yang bertujuan penyembuhan tersebut kadang membuat anak-
anak menjadi takut/ trauma dan kejenuhan pada anak. Selain menimbulkan hal di atas,
kejenuhan dan lamanya anak di rawat di rumah membuat kebutuhan bermain anak
sangat kurang, hal ini terjadi karena banyak hal, antara lain : kondisi fisik klien yang
masih lemah sehingga anak tidak mampu beraktivitas, tidak bisa bermain di luar
rumah.Hal inilah yang akhirnya membuat anak hanya diam terpaku tanpa melakukan
aktifitas sehingga kebutuhan bermainya tidak terpenuhi, dari latar belakang di atas
menurut kelompok perlu di adakan suatu tindakan keperawatan yang tepat untuk
mengurangi tingkat kejenuhan dan katakutan anak sehingga anak menjadi aktif dan
terpenuhi kebutuhanbermainnya.
B. Anak Usia Sekolah(8-12Th)
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia pra sekolah
mempunyai kemampuan motorik kasar dan halus yang lebih matang. Anak sudah mulai
aktif, kreatif dan imajinatif. Demikian juga kemampuan bicara dan berhubungan sosial
dengan teman semakin meningkat. Oleh karna itu jenis permainan yang sesuai adalah
associative play, dramatic play dan skill palay.
C. Pengertian Bermain Congklak
Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikan
keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkn
diri untuk berperan dan berperilaku dewasa.Bermain adalah suatu kegiatan yang
dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan atau memberikan
informasi, memberikan kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak.
Congklak adalah permainan tradisional yang dimainkan dua orang yang saling
berhadapan menggunakan papan dan biji congklak. Alat tersebut dilengkapi dengan biji-
bijian untuk pengisi lubang congklak. Pada akhir permainan yang memiliki biji congklak
terbanyak pada lubang induk yang dimilikinyalah yang menjadi pemenang dalam
permainan congklak ini.
D. Alat Yang Diperlukan Dalam Bermain Congklak
Untuk bermain congklak dibutuhkan peralatan permainan congklak atau papan
congklak dan biji congklak. Papan congklak terbuat dari kayu atau plastic yang dibentuk
memanjang menyerupai lesung. Bidang atasnya pada kedua sisinya diberi lubang-lubang
berjajar dengan jumlah bervariasi pada setiap aderah misalnya 7 lubang. Dikedua sisi
papan terdapat lubang besar yang merupakan lubang induk pemain. Masing-masing
lubang kecil disi dengan 7 butir biji congklak.
E. Cara Bermain Congklak
Permainan congklak ini dapat dimainkan oleh dua orang baik perempuan maupun
laki-laki. Cara bermain congklak ini adalah, pertama tiap lubang kecil disi dengan 7 biji
congklak. Kecuali lubang induk yang dibiarkan kosong. Setiap permainan mengambil
semua biji yang terdapat pada lubang kecil yang dinginkan. Untuk disebar satu biji
perlubang berurutan searah jarum jam. Langkah tersebut dilakukan berulang. Apabila
pada lubang terakhir meletakkan biji masih ada bijinya maka pemain tersebut tetap
melanjutkan dengan mengambil semua biji yang terdapat pada lubang tersebut. Dan
melanjutkan permainan. Apabila peletakan biji terakhir pada lubang yang kosong maka
pemain tidak dapa melanjutkan langkah. Giliran permainan berpindah kepada lawan.
Setelah semua baris kosong maka permainan dimulai lagi dengan mngisi 7 lubang
milik kita, masing-masing dengan 7 biji dari biji yang ada dilubang induk kita. Dalam hal
ini, kejujuran pemain turut menentukan karena bias saja berlaku curang dengan
memasukkan 2 biji sekaligus dalam satu lubang, bola pengisian telah mendekati lubang
kosong. Permainan bias berlanjut dengan saling bergantian dan baru berakhir setelah
lubang salah seorang pemain kosong. Permainan berakhir apabila seluruh biji sudah
berada pada lubang tujuan masing-masing pemain atau apabila salah satu peman sudah
tidak memiliki biji pada lubang kecilnya untuk dimainkan. Pemenangnya adalah yang
memiliki jumlah biji terbanyak pada lubangnya.
F. Manfaat Bermain Congklak
Congklak adalah salah satu permainan yang didalamnya terdapat nilai yang lebih
yaitu matematika, khususnya konsep pembagian. Adapun beberapa manfaat atau nilai
yang bias diambil dari bermain congklak adalah sebagai berikut:
1. Sikap sportif, dengan bermain congklak kita dilatih untuk memberanikan diri bersikap
sportif, jika tidak sportif bias saja kita memasukkan beberapa biji kedalam satu lubang
induk atau berpura-pura tidak berhenti pada lubang kosong dan lain-lain.
2. Sikap jujur, jujur jufga tidak jauh berbeda dengan sikap sportif, intinya permainan
jujur dalam congklak akan membuat permainan menjadi seru.
3. Strategi, dalam bermain congklak tentunya kita tidak asal memainkan biji-biji
tersebut, tetapi kita dituntut untuk berpikir bagaimana caranya supaya kita bermain
tidak cepat berheni dilubang kosong, mengatur strategi bagaimana caranya kita dapat
mengambil biji lawa dengan cepat, bagaiman caranya kita bisa menang dan
bagaimana caranya agar kita tidak bermain kembali dengan kondisi ada lubang yang
kurang biji.
Manfaat bermain congklak terhadap perkembangan jiwa anak:
1. Mengembangkan kecerdasan logika anak
Hampir semua permainan tradisional dilakukan secara berkelompok. Dengan
berkelompok anak akan mengasah emosinya sehingga timbul toleransi dan empati
terhadap orang lain, nyaman dan terbiasa dalam kelompok.
2. Mengembangkan kecerdasan logika anak
Beberapa permainan tradisional melatih anak untuk berhitung dan menentukan
langkah-langkah yang harus dilewatinya.
3. Mengembangkan kecerdasan kinestik anak
Pada umumnya, permainan tradisional mendorong para emain untuk bergerak.
4. Mengembangkan kecerdasan natural anak
Banyak alat-alat permainan yang terbuat dari kayu , tanah, tumbuhan. Aktivitas
tersebut mendekatkan anak terhadap alam sekitarnya sehingga anak menyatu terhadap
alam serta mengembangkan kreatifitasnya.
5. Mengembangkan kecerdasan musilkal anak
Nyanyian atau bunyi-bunyian sangat akrab pada permainan tradisional. Permainan-
permainan yang dilakukan sambil bernyanyi dan menari.
6. Digunakan sebagai terapi terhadap anak
Saat bermain, anak-anak melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa dan
bergerak. Kegiatan semacam ini digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang
membutuhkan kondisi tersebut.
LINK VIDEO

https://drive.google.com/file/d/1fqYbP3GZyIYOEK-oaVVAC4pGAcsZSyZ2/view?usp=drivesdk
JM
Volume 8 No. 1 (April 2020)
© The Author(s) 2020

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI IBU DENGAN PEMBERIAN


KOMPRES HANGAT PADA BALITA FEBRIS DI BPM YETTI PURNAMA, S.ST.,
M.KEB KOTA BENGKULU

THE RELATIONSHIP OF KNOWLEDGE AND MOTIVATION OF MOTHER WITH


THE PROVISION OF WARM COMPRESSES IN FEBRIS TODDLERS IN
BPM YETTI PURNAMA, S.ST., M.KEB BENGKULU CITY

RONALEN BR. SITUMORANG, DESI AULIA UMAMI, MITRA KADARSIH


PROGRAM STUDI KEBIDANAN (DIII)
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DEHASEN BENGKULU
Email: ronalen@gmail.com, desiumami@gmail.com

ABSTRAK

Rendahnya kesehatan orang tua, terutama ibu dan anak bukan hanya karena sosial ekonominya
yang rendah, tetapi sering juga disebabkan karena orang tua, atau ibu tidak mengetahui
bagaimana cara memelihara kesehatannya dan kesehatan anaknya, misalnya saat balita demam
ibu tidak melakukan kompres hangat pada balitanya. Surveilans Departemen Kesehatan RI,
frekuensi kejadian demam di frekuensi menjadi 15,4 per 10.000 penduduk. Dari survey
berbagai rumah sakit di Indonesia dari tahun 1981 sampai dengan 1986 memperlihatkan
peningkatan jumlah penderita sekitar 35,8%. Tujuan penelitian mengetahui hubungan
pengetahuan dan motivasi ibu dengan pemberian kompres hangat pada balita febris di bpm
yetti purnama, s.st., m.keb Kota Bengkulu. Metode penelitian ini jenis penelitian Kuantitatif
Non Eksperimental dengan menggunakan pendekatan studi korelasi (cross sectional). Sampel
pada penelitian ini diambil secara accidental sampling pada bulan Februari tahun 2019 yang
berjumlah 35 Balita. Hasil penelitian penulis Terdapat hubungan yang signifikan antara
pengetahuan ibu dengan pemberian kompres hangat. Dimana nilai P-value 0.01 < 0.05.
Terdapat hubungan yang signifikan antara Motivasi ibu dengan pemberian kompres hangat.
Dimana nilai P-value 0.028 < 0.05.Saran, perlu dilakukan upaya peningkatan sosialisasi dan
cara penyampaian informasi yang efektif dan berkesinambungan oleh petugas puskesmas.

Kata Kunci: Pengetahuan, Motivasi dan Kompres Hangat

ABSTRACT

The low health of parents, especially mothers and children, is not only due to their low
socioeconomic status, but is often also caused by parents, or mothers not knowing how to take
care of their health and the health of their children, for example when toddlers have a fever the

ISSN: 2338-7068 37
mother does not warmly compress the toddler. Surveillance of the Ministry of Health of the
Republic of Indonesia, the frequency of fever occurrences in frequency to 15.4 per 10,000
population. From a survey of various hospitals in Indonesia from 1981 to 1986 showed an
increase in the number of patients around 35.8%. The purpose of this study was to determine
the relationship of mother's knowledge and motivation with the provision of warm compresses
to febrile toddlers at BPM Yetti Purnama, S.ST, M.Keb Bengkulu City. This research method is
Non-Experimental Quantitative research using a correlation study (cross sectional) approach.
The sample in this study was taken by accidental sampling in February 2019, amounting to 35
toddlers. The results of the author's research There is a significant relationship between mother's
knowledge with the provision of warm compresses. Where the value of P-value 0.01 <0.05.
There is a significant relationship between maternal motivation with warm compresses. Where
the P-value is 0.028 <0.05. Suggestions, it is necessary to make efforts to increase socialization
and how to deliver effective and continuous information by puskesmas staff.

Keywords: Knowledge, Motivation and Warm Compress

PENDAHULUAN mereka sedangkan sisanya 23,1 saja


menggunakan thermometer (Setyowati,
Rendahnya kesehatan orang tua, 2013). Pengetahuan dipengaruhi pendidikan
terutama ibu dan anak bukan hanya karena oleh faktor pendidikan formal. Pengetahuan
sosial ekonominya yang rendah, tetapi sering sangat erat hubungannya dengan pendidikan,
juga disebabkan karena orang tua, atau ibu dimana dengan pendidikan tinggi maka akan
tidak mengetahui bagaimana cara memelihara semakin luas pula pengetahuannya. Akan
kesehatannya dan kesehatan anaknya, tetapi bukan berarti seseorang yang
misalnya saat balita demam ibu tidak berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan
melakukan kompres hangat pada balitanya rendah pula. Pengetahuan yang dicari
(Notoatmodjo, 2010).Di keluarga, orang tua seseorang memiliki pengaruh pada
sangatlah dicintai dan dibanggakan oleh anak, peningkatan kemampuan berpikir dengan kata
begitu juga sebaliknya anak merupakan buah lain seseorang yang berpengetahuan tinggi
hati yang sangat berharga, yang harus dijaga akan dapat mengambil keputusan yang lebih
dan dilindungi, sehingga saat anak sakit baik umumnya terbuka untuk menerima
timbul suatu kekhawatiran seketika yang perubahan atau hal baru dibandingkan dengan
menimbulkan reaksi emosi serta terjadi yang berpengetahuan lebih rendah, begitu
ekspresi tingkah laku yang tidak biasa. Orang pula halnya dengan pengetahuan ibu dalam
tua, khususnya ibu adalah faktor yang sangat merawat balitanya yang sedang mengalami
penting dalam mewariskan status kesehatan febris (Wawan dan Dewi, 2011).
kepada anak-anak mereka. Motivasi adalah suatu perubahan tenaga
World Health Organization(WHO) didalam diri seseorang yang ditandai oleh
mengemukakan jumlah kasus demam di mengakibatkan seseorang mau dan rela untuk
seluruh dunia mencapai 18-34 juta, Anak mengerahkan kemampuan dalam bentuk
merupakan yang paling rentan terkena keahlian atau keterampilan tenaga dan
demam, walaupun gejala yang dialami anak waktunya untuk menyelenggarakan berbagai
lebih ringan dari dewasa. Di hampir semua kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya
daerah endemik, insidensi demam banyak dan menuaikan kewajibanya dalam rangka
terjadi pada anak usia 1-19 tahun (Niken pencapaian tujuan dari berbagai sasaran yang
J,2011). telah ditentukan sebelumnya begitu pula
Di Indonesia penderita demam sebanyak halnya dengan ibu dalam mengatasi demam
465 (91.0%) dari 511 ibu yang memakai pada anaknya (Soemanto, 2009).
perabaan untuk menilai demam pada anak Penanganan terhadap demam dapat

38 Journal Of Midwifery Vol. 8 No. 1 April 2020


dilakukan dengan tindakan farmakologis, ini bertujuan untuk untuk pengetahuan dan
tindakan non farmakologis maupun motivasi ibu dengan pemberian kompres
kombinasi keduanya .Tindakan farmakologis hangat pada balita febris. Populasi adalah
yaitu memberikan obat antipiretik.Sedangkan keseluruhan subjek penelitian yang akan
tindakan non farmakologis yaitu tindakan diteliti (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam
tambahan dalam menurunkan panas setelah penelitian ini adalah seluruh ibu yang
pemberian obat antipiretik.Tindakan non mempunyai balita di BPM Yetti Purnama,
farmakologis terhadap penurunan panas SST., M.Keb kota Bengkulu sebanyak 35
seperti memberikan minuman yang banyak, orang
ditempatkan dalam ruangan bersuhu normal, Sampel adalah sebagian dari keseluruhan
menggunakan pakaian yang tidak tebal, dan objek yang diteliti dan dianggap mewakili
memberikan kompres (Kania, 2007). seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010).
Kompres hangat adalah tindakan Informan yang digunakan dalam penelitian ini
denganmenggunakan kain atau handuk yang adalah 35 orang di BPM Bidan Yetti
telah dicelupkan pada air hangat, yang Purnama, SST., M.Keb kota Bengkulu.
ditempelkan pada bagian tubuh tertentu Teknik pengambilan informan dalam
sehingga dapat memberikan rasa nyaman dan penelitian ini adalah dengan menggunakan
menurunkan suhu tubuh (Maharani, 2011). teknik accidental sampling yaitu teknik yang
Berdasarkan survey awal dari 7 orang ibu dilakukan dengan mengambil kasus atau
yang membawa anaknya demam berobat ke responden yang kebetulan ada atau tersedia di
BPM Bidan Yetti Purnama, SST., M.Keb, suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian
diketahui 4 orang ibu beranggapan demam (Notoatmodjo, 2012).
merupakan suatu penyakit yang perlu segera Teknik pengumpulan data yang
diobati dan tidak melakukan kompres hangat digunanakan dalam penelitian ini adalah
pada anaknya karena kompres hangat dengan menggunakan data primer dan data
merupakan cara yang kurang efektif untuk sekunder.Data primer yaitu data yang akan
menurunkan panas pada anak, dan 2 orang diambil dengan cara memberikan kuesioner
ibu beranggapan demam merupakan gejala langsung dengan ibu balita. Data sekunder
suatu penyakit yang bisa dibantu dengan yaitu data yang diperoleh dari profil Dinkes
kompres hangat untuk menurun panas selain Kota dan BPM Bidan Yetti Purnama, SST.,
obat. M.Keb Kota Bengkulu
Berdasarkan latar belakang di atas maka Pada penelitian ini peneliti memeriksa
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian satu per satu data yang telah di entry
tentang “Hubungan Pengetahuan dan mengubah setiap kekeliruan atau kesalahan
Motivasi Ibu dengan Pemberian Kompres yang terjadi pada saat melakukan entry data.
Hangat pada Balita Febris di BPM Bidan Data bersih merupakan Setelah semua
Yetti Purnam, SST., M.Keb Kota Bengkulu kuisioner terisi penuh dan benar, serta sudah
Tahun 2019”. melewati pengkodean, maka selanjutnya
Tujuan dari penelitian ini adalah adalah memproses data agar data yang sudah
hubungan pengetahuan dan motivasi di-entry data dan koesioner ke paket program
ibu dengan pemberian kompres hangat pada komputer.
balita febris di BPM Bidan Yetti Purnam, Dalam penelitian kesehatan uji signifikan
SST., M.Keb Kota Bengkulu Tahun 2019”. dilakukan dengan menggunakan batas
kemaknaan (alpha)=0,05 dan 95% confidence
METODE PENELITIAN interval. Dengan ketentuan bila: P value ≤
0,05 berarti Ho ditolak (P value ≤ α). Uji
Penelitian ini menggunakan metode statistik menunjukkan adanya hubungan yang
deskriptif dengan rancangan cross sectional. signifikan. P value > 0,05 berarti Ho gagal
Alasan pemilihan deskriptif, karena penelitian ditolak (P value > α). Uji statitik

ISSN: 2338-7068 39
menunjukkan tidak ada hubungan yang Umur Ibu
signifikan.
Uji Chi Square digunakan karena Valid Cumulative
variabel dependen dan independen dalam Frequency Percent Percent Percent
penelitian ini bersifat katagorik. penelitian ini Valid 24.0 5 14.3 14.3 14.3
menggunakan batas bermakna secara statistik 0
sebesar 5%, sehingga jika diperoleh nilai
p>alpha, maka hasil perhitungan statistiknya 25.0 12 34.3 34.3 48.6
tidak bermakna, artinya tidak ada hubungan 0
signifikan antara variabel dependen dengan 26.0 2 5.7 5.7 54.3
variabel independen. sebaliknya jika 0
diperoleh nilai p< alpha, maka hasil
perhitungan statistiknya bermakna, artinya 28.0 2 5.7 5.7 60.0
ada hubungan yang signifikan antara variabel 0
dependen dengan variabel independen. 29.0 1 2.9 2.9 62.9
Pengumpulan data dalam bentuk tertulis 0
mulai dari pengambilan sampel, pelaksanaan
pengumpulan data dan sampai hasil analisis 30.0 2 5.7 5.7 68.6
yang berupa informasi dari pengumpulan data 0
tersebut dan penyajian data secara tabular 31.0 3 8.6 8.6 77.1
yaitu memberikan keterangan berbentuk 0
angka. Jenis yang digunakan dalam penelitian
ini adalah master tabel dan tabel distribusi 32.0 3 8.6 8.6 85.7
frekuensi. Dimana data disusun dalam baris 0
dan kolom dengan sedemikian rupa sehingga 34.0 1 2.9 2.9 88.6
dapat memberikan gambaran. 0

HASIL PENELITIAN 35.0 4 11.4 11.4 100.0


0
a. Umur Ibu Total 35 100.0 100.0

Jumlah responden sebanyak 35, sebaran Jika dilihat menurut usia dari 35
umur ibu yang paling muda adalah 24 tahun responden ibu, jumlah terbanyak pada umur
dan yang paling tua adalah 35 tahun. Rata- 25 tahun dengan persentase 34.3% (n=12) dan
rata umur ibu yaitu 28 tahun.Standar deviasi jumlah terendah pada usia 34 tahun dengan
berfungsi untuk melihat sebaran data dalam persentase 2.9% (n=1).
sampel.Semakin rendah nilai standar deviasi
maka semakin kecil tingkat variasi nilai umur b. Umur Balita
ibu.
Jumlah responden sebanyak 35, sebaran
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Analisis umur balita yang paling muda adalah 1.1
Univariat tahun dan yang paling tua adalah 5 tahun.
Rata-rata umur balita yaitu 3 tahun.

40 Journal Of Midwifery Vol. 8 No. 1 April 2020


Umur Balita Pemberian Kompres Hangat
Valid Cumulative Cumula-
Frequency Percent Percent Percent Freque- Valid tive
Valid 1.10 1 2.9 2.9 2.9 ncy Percent Percent Percent
1.13 1 2.9 2.9 5.7 Valid Kurang 17 48.6 48.6 48.6
1.15 2 5.7 5.7 11.4 Baik 18 51.4 51.4 100.0
1.20 1 2.9 2.9 14.3 Total 35 100.0 100.0
2.00 6 17.1 17.1 31.4
2.10 1 2.9 2.9 34.3 Sebagian besar responden sudah
2.11 1 2.9 2.9 37.1 mengetahui pemberian kompres hangat lebih
2.50 1 2.9 2.9 40.0 baik, yaitu sebanyak 51.4%.
2.80 2 5.7 5.7 45.7
2.90 1 2.9 2.9 48.6 e. Motivasi Ibu
3.00 4 11.4 11.4 60.0
3.10 2 5.7 5.7 65.7 Motivasi
4.00 6 17.1 17.1 82.9 Cumula-
5.00 6 17.1 17.1 100.0 Freque- Valid tive
Total 35 100.0 100.0 ncy Percent Percent Percent
Valid Rendah 15 42.9 42.9 42.9
Tinggi 20 57.1 57.1 100.0
Jika dilihat menurut usia dari 35
Total 35 100.0 100.0
responden balita, jumlah terbanyak pada
umur 2, 4, dan 5 tahun dengan persentase
masing-masing 17.1% (n=6). Lebih dari setengah total responden
memiliki motivasi yang tinggi dalam
c. Pendidikan Ibu pemberian kompres hangat, yaitu sebesar
57.1% (n=20), sisanya masih memiliki
Pendidikan Ibu motivasi yang cukup rendah.
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent f. Pengetahuan Ibu
Valid SD 1 2.9 2.9 2.9
SMP 6 17.1 17.1 20.0 Pengetahuan
SMA 13 37.1 37.1 57.1 Freque- Valid Cumulative
ncy Percent Percent Percent
SMK 4 11.4 11.4 68.6
Valid kurang 13 37.1 37.1 37.1
DI 1 2.9 2.9 71.4
cukup 11 31.4 31.4 68.6
DIII 5 14.3 14.3 85.7
baik 11 31.4 31.4 100.0
DIV 1 2.9 2.9 88.6
Total 35 100.0 100.0
S1 4 11.4 11.4 100.0
Total 35 100.0 100.0
Dari seluruh responden, ibu yang
Ditinjau dari pendidikan ibu, sebagian memiliki pengetahuan baik dan cukup
besar responden merupakan lulusan SMA mengenai kompres hangat masing-masing
sederajat yaitu sebesar 48.5% (n=17). berkisar 31.4%. Sedangkan ibu yang
berpengetahuan kurang masih cukup tinggi
d. Pemberian Kompres Hangat dibandingkan yang lain yaitu 37.1%.

ISSN: 2338-7068 41
PEMBAHASAN Chi-Square Tests
Asymp. Sig.
Analisis Bivariat Value Df (2-sided)
Pearson Chi-Square a
15.180 2 .001
a. Motivasi dengan Pemberian kompres Likelihood Ratio 19.552 2 .000
hangat Linear-by-Linear 10.495 1 .001
Association
Chi-Square Tests N of Valid Cases 35
Asymp. Exact Exact 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The
Sig. (2- Sig. (2- Sig. (1- minimum expected count is 5.34.
Value Df sided) sided) sided)
Pearson Chi- 6.443a 1 .011 KESIMPULAN
Square
Continuity 4.825 1 .028 Berdasarkan hasil penelitian tentang
Correctionb hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian
Likelihood 6.660 1 .010 kompres hangat pada balita febris di BPM
Ratio
Bidan Yetti Purnama, SST., M.Keb Kota
Fisher's Exact .018 .013
Bengkulu dapat disimpulkan:
Test
Linear-by- 6.259 1 .012
Linear 1. Terdapat hubungan yang signifikan
Association antara pengetahuan ibu dengan
N of Valid 35 pemberian kompres hangat. Dimana nilai
Cases P-value 0.01 < 0.05.
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The 2. Terdapat hubungan yang signifikan
minimum expected count is 7.29. antara Motivasi ibu dengan pemberian
b. Computed only for a 2x2 table kompres hangat. Dimana nilai P-value
0.028 < 0.05.
Pada tabel Chi Square Tests diperoleh
nilai p-value (Asymp.Sig) sebesar SARAN
0.028.Karena nilai P-value 0.028 < 0.05,
maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol Kepada peneliti selanjutnya diharapkan
(H0) ditolak, artinya terdapat hubungan yang agar berupaya lebih mengembangkan dan
signifikan antara motivasi ibu dengan memperdalam bahasan tentang Hubungan
pemberian kompres hangat. Motivasi ibu Pengetahuan Dan Motivasi Ibu Dengan
memiliki korelasi dengan sikapnya dalam Pemberian Kompres Hangat Pada Balita
memberikan kompres hangat terhadap anak Febris dengan menggunakan desain penelitian
balitanya. yang lain.

b. Pengetahuan dengan Pemberian kompres DAFTAR PUSTAKA


hangat
Chi-Square Tests Arikunto. 2009. Prosedur Penelitian. Jakarta:
Asymp. Sig. Rineka Cipta.
Value Df (2-sided) Bandiyah.2013. Keterampilan Dasar dalam
Pearson Chi-Square a
15.180 2 .001 Keperawatan (KDK).Yogyakarta: Nuha
Likelihood Ratio 19.552 2 .000 Medika.
Linear-by-Linear 10.495 1 .001 Corwin. 2006. Buku Saku Patofisiologi.
Association Jakarta: EGC
N of Valid Cases 35 Damayanti. 2008. Hubungan Tingkat
0 cells (.0%) have expected count less than 5. The pengetahuan tentang Demam dengan
minimum expected count is 5.34.

42 Journal Of Midwifery Vol. 8 No. 1 April 2020


Perilaku Kompres Di Ruang Rawat Inap Soemanto. 2009. Psikologi Pendidikan.
RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Diakses Jakarta : PT Rineka Cipta
dari Sugiarti.2012. Hubungan Motivasi dan
http://eprints.ums.ac.id/1879/1/J210040 Pengetahuan Ibu dengan Pemberian
011.pdf tanggal 20 November 2015. Kompres Hangat pada Anak Demam
Gloria & Kuklierus. 2008. Buku Ketika Thypoid di Wilayah Kerja Puskesmas
Sikecil Sakit. Jakarta: Salemba Medika Anggut Atas Kota Bengkulu.Skripsi
Latifah. 2012. Pengantar Psikologi tidak Dipublikasikan.
Pendidikan. Yogyakarta: Pedagogia. Valman. 2007. Diagram Penyakit Anak dan
Nur Hadi. 2012. Perbedaan Efektifitas Cara Mengatasinya.Yogyakarta : Citra
Pemberian Kompres Hangat dan Pustaka.
Kompres Air Biasa pada Daerah Wawan & Dewi, 2011.Teori & Pengukuran
Axillaris terhadap Penurunan Suhu Pengetahuaan, Sikap, dan Prilaku
Tubuh pada Pasien FebrisdiUPT Manusia.Yogyakarta: Nuha Medika
Puskesmas Mantup Lamongan.Diakses Widyawati. 2012. Konsep Dasar
darihttp://skripsi- Keperawatan. Jakarta: Prestasi
enjoy.blogspot.co.id/p/blog-page.html Pustakaraya
tanggal 27 November 2015. Willis. 2012. Psikologi Pendidikan. Bandung:
Notoatmodjo, S. 2010. Promosi Kesehatan Alfabeta.
Teori & Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta
, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta : Rineka Cipta
Nurarif & Kusuma.2013. Aplikasi Asuhan
Keperawatan berdasarkan Diagnosa
Medis & Nanda Jilid 1. Yogyakarta:
Mediaction Publishing.
Nurjannah. 2012. Faktor yang Berhubungan
dengan Lama Hari Rawat Inap Pasien
Demam Tifoid Di Ruang Inap RSUD
Rangkep.
Profil Dinas Kesehatan Kota Bengkulu. 2015.
Profil Kesehatan Kota Bengkulu tahun
2014. Bengkulu.
Rahmawati. 2008. Hubungan Antara Tingkat
Pengetahuan Dengan Sikap Ibu
MenghadapiDemam Pada Anak Balita
Di Desa Ngembat Padas Kecamatan
GemolongKabupaten Sragen. Naskah
dipublikasikan
Ranuh. 2012. Tumbuh Kembang Anak.
Jakarta: EGC.
Riyanto. 2009. Pengolahan dan Analisis Data
Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Riandita. 2012. Hubungan antara Tingkat
Pengetahuan Ibutentang Demam dengan
Pengelolaan Demampada Anak.Naskah
dipublikasikan
Setiadi. 2007. Konsep & Penulisan Riset
Keperawatan. Jakarta: Graha Ilmu.

ISSN: 2338-7068 43
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

PERBEDAAN PENURUNAN SUHU TUBUH ANTARA


PEMBERIAN KOMPRES AIR HANGAT DENGAN TEPID
SPONGE BATH PADA ANAK DEMAM
Arie Kusumo Dewi1

Rumah Sakit Islam, Surabaya, Jawa Timur1


Kutipan: Dewi, A. K. (2016). Perbedaan Penurunan Suhu Tubuh Antara Pemberian Kompres
Air Hangat Dengan Tepid Sponge Bath Pada Anak Demam. Jurnal Keperawatan
Muhammadiyah, 1 (1): 63-71.

INFORMASI ABSTRACT
Objective: to analyze the differences in the provision of warm
compresses and tepid sponge bath in a decrease in body temperature
in fever children in the room Hijr Ismail RSI A Yani Surabaya
Korespodensi:
dewi.kusumo@yahoo.co.id Methods: The design used in this study is quasy experiment with pre-
test and post-test design. The population in this study is children
aged 1-7 years who have increased body temperature ≥38oC treated
in Hijr Ismail RSI A Yani Surabaya. The total sample is 90
Keywords: respondents were divided into three groups: the provision of warm
warm compresses, tepid sponge water compresses, group tepid sponge bath, and a control group.
bath, body temperature, fever Sample was taken by simple random sampling technique according
children to inclusion criteria. The independent variable is the provision of
warm compresses and giving tepid sponge bath and the dependent
variable is the temperature of the body. Data were collected by using
a digital thermometer and recorded in the observation sheet. Data
were analyzed using one-way ANOVA to determine differences
between administration decreased body temperature warm
compresses and tepid sponge bath.

Results: The results of this study showed a difference between


providing a decrease in body temperature warm compresses and
tepid sponge bath, with a significance value (p) of 0.000.

Conclusion: It was concluded that the administration of tepid sponge


bath with warm water greater decrease in body temperature (0C
0.57) than that of warm water compresses at 0,430C.

PENDAHULUAN Puskesmas dan beberapa Rumah Sakit


Selama proses pertumbuhan dan masing-masing 4000 dan 1000 kasus
perkembangan, anak sering mengalami perbulan, dengan angka kematian 0,8%.
sakit. Berbagai penyakit khususnya Di RSUD Dr Soetomo Surabaya
penyakit yang disebabkan oleh infeksi selama periode 1991-1995 telah dirawat
hampir selalu disertai oleh demam. 586 penderita demam ( demam thypoid)
Demam diartikan sebagai kenaikan dengan angka kematian 1,4% dan
suhu tubuh di atas normal. Menurut selama periode 1996-2000 telah dirawat
Robert dan Edward, dalam Purwoko 1563 penderita dengan angka kematian
(2002), ada sekitar 0,05 % kejadian 1,09% ( Soewondo et al, 2007, dalam
hipertermia pada anak di Indonesia. Di Irma Suswati ).
Jawa Timur, kejadian demam di

63
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

Berdasarkan studi pendahuluan dengan tehnik seka ( Corrard,2001 ).


yang telah dilakukan peneliti di ruang Pemberian tepid sponge bath
Hijr Ismail RSI A Yani Surabaya, memungkinkan aliran udara lembab
didapatkan data bahwa anak yang membantu pelepasan panas tubuh
mengalami peningkatan suhu tubuh > dengan cara konveksi. Suhu tubuh lebih
380C pada bulan Juli – Agustus 2013 hangat daripada suhu udara atau suhu
sebanyak 116 anak, dengan diagnosa air memungkinkan panas akan pindah
medis : Febris Convulsi, Diare, DHF, ke molekul molekul udara melalui
Thypoid, Pharingitis, URI, GE, dan kontak langsung dengan permukaan
Pneumonia. Pada tanggal 10 September kulit ( Guyton, 2007 ). Pemberian tepid
2013, terdapat 18 anak menderita sponge bath ini dilakukan dengan cara
demam dari 22 anak yang sedang menyeka seluruh tubuh klien dengan air
dirawat. Dari 18 anak yang menderita hangat. Menurut Suprapti, (2008), tepid
demam, terdapat 15 anak yang sponge efektif dalam menurunkan suhu
diberikan kompres air hangat dan 3 tubuh pada anak dengan demam dan
anak yang diberikan tepid sponge bath. juga membantu dalam mengurangi rasa
Kompres adalah salah satu metode fisik sakit atau ketidaknyamanan.
untuk menurunkan suhu tubuh bila anak Menurut penelitian Maling, (2012)
mengalami demam. Ada beberapa bahwa suhu tubuh pada pasien anak
macam kompres yang bisa diberikan setelah pemberian kompres tepid
untuk menurunkan suhu tubuh yaitu sponge rata-rata dapat mengalami
kompres air hangat dan tepid sponge penurunan sebesar 1,40 C dalam waktu
bath. 20 menit.
Kompres air hangat dapat menurunkan Implementasi dari pemberian
suhu tubuh melalui proses evaporasi. kompres air hangat dan tepid sponge
Dengan kompres air hangat bath di ruang Hijr Ismail RSI A Yani
menyebabkan suhu tubuh di luar akan Surabaya belum sepenuhnya
hangat sehingga tubuh akan dilaksanakan sesuai standar yang telah
menginterpretasikan bahwa suhu di luar ditetapkan. Hampir 90% dari total anak
cukup panas, akhirnya tubuh akan yang dirawat karena demam, diberikan
menurunkan kontrol pengatur suhu di kompres air hangat saja selain
otak supaya tidak meningkatkan suhu pemberian antipiretik. Pemberian tepid
pengatur tubuh, dengan suhu di luar sponge bath di Rumah Sakit selama ini
hangat akan membuat pembuluh darah dilakukan sebagai bagian dari personal
tepi di kulit melebar dan mengalami hygiene, sehingga perbedaan penurunan
vasodilatasi sehingga pori pori kulit suhu tubuh antara pemberian kompres
akan membuka dan mempermudah air hangat dan tepid sponge bath pada
pengeluaran panas, sehingga akan anak demam di ruang Hijr Ismail RSI A
terjadi penurunan suhu tubuh. Yani Surabaya belum diketahui dengan
Pemberian kompres air hangat ini jelas.
dilakukan di tempat tempat tertentu di Sebagian besar demam
bagian tubuh. Menurut penelitian berhubungan dengan infeksi yang dapat
Djuwariyah, (2010) kompres air hangat berupa infeksi lokal atau sistemik. Oleh
efektif untuk menurunkan suhu tubuh karena itu demam harus ditangani
sebesar 0,710C(p<0,0001). dengan benar karena terdapat beberapa
Kompres tepid sponge adalah dampak negatif yang ditimbulkannya
sebuah tehnik kompres hangat yang (Kalbaca, 2007, dalam Setiawati,2009).
menggabungkan tehnik kompres blok Dampak yang ditimbulkan demam
pada pembuluh darah supervisial dapat berupa penguapan cairan tubuh

64
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

yang berlebihan sehingga terjadi yang diwakili oleh orangtua anak yang
kekurangan cairan dan kejang. Orang akan dilakukan penelitian diminta
tua banyak yang menganggap demam kesediaannya menjadi responden
berbahaya bagi kesehatan anak karena dengan mengisi surat pernyataan
dapat menyebabkan kejang dan kesediaan menjadi responden dalam
kerusakan otak (Avner, 2009). Perawat penelitian tersebut. Calon responden
sangat berperan untuk mengatasi yang bersedia menjadi responden,
demam melalui peran mandiri maupun dibedakan menjadi tiga kelompok.
kolaborasi. Untuk peran mandiri Pengelompokkan responden
perawat dalam mengatasi demam bisa berdasarkan kemiripan suhu tubuh pada
dengan memberikan kompres (Alves & awal pengukuran (pre test). Pre test
Almeida, 2008, dalam Setiawati, 2009). pada masing-masing kelompok berupa
Metode kompres yang lebih baik adalah pengukuran suhu tubuh awal di ketiak
kompres tepid sponge (Kolcaba,2007). dengan menggunakan termometer
Berdasarkan penelitian digital. Kelompok pertama yaitu
sebelumnya, belum ada penelitian responden yang mengalami peningkatan
tentang kompres yang menggunakan suhu tubuh >38oC diberikan tindakan
kelompok kontrol, sehingga peneliti kompres air hangat selama ± 10 menit,
tertarik untuk mengadakan penelitian begitu juga kelompok kedua yaitu
tentang perbedaan penurunan suhu responden yang mengalami peningkatan
tubuh antara pemberian kompres air suhu tubuh >38oC diberikan tindakan
hangat dengan tepid sponge bath tepid sponge bath ± 10
pada anak demam di ruang Hijr Ismail menit.Sedangkan pada kelompok
RSI A Yani Surabaya. kontrol tidak diberikan tindakan
kompres air hangat maupun tepid
sponge bath. Selang 30 menit
METODE kemudian, masing-masing kelompok
diberikan post test berupa pengukuran
Desain penelitian ini adalah quasy
suhu tubuh akhir di ketiak dengan
eksperiment dengan jenis rancangan pre
menggunakan termometer digital.
test dan post test design. Populasi pada
Kegiatan penelitian ini dilakukan 1 x
penelitian ini adalah anak usia 1-7 tahun
dalam sehari yaitu sore hari (15.00 –
yang mengalami demam di ruang Hijr
16.00).Seluruh pengambilan data
Ismail RSI A Yani Surabaya pada bulan
dilakukan oleh peneliti. Data hasil
Januari-Februari 2014 sebesar 116
pengukurab suhu tubuh di tabulasi
anak. Dalam penelitian ini peneliti
dengan dilihat selisih antara pengukuran
mengambil sampel 90 anak yang sesuai
suhu tubuh saat pre test dengan post
dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
test, kemudian dianalisis dengan uji
Teknik sampling yang akan digunakan
statistik anova 1 arah untuk mengetahui
pada penelitian ini adalah Simple
perbedaan penurunan suhu tubuh antara
random sampling.
pemebrian kompres air hangat dengan
Variabel dalam penelitian ini tepid sponge bath dengan derajat
terdiri atas atas dua variabel yaitu: kemaknaan p<0,005.
variabel Bebas (Independent) dalam
penelitian ini adalah kompres air hangat
dan tepid sponge bath, dan variabel HASIL
Terikat (Dependent) dalam penelitian Berdasarkan gambar 1 responden yang
ini adalah suhu tubuh. paling banyak mengalami demam
Pengumpulan data pada penelitian ini adalah umur 1- 3 tahun, baik kelompok
dilakukan dengan cara calon responden pemberian kompres air hangat,

65
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

kelompok pemberian tepid sponge bath


maupun kelompok kontrol (tanpa
diberikan kompres air hangat maupun
tepid sponge bath). Berdasarkan gambar
2 responden yang paling banyak
mengalami demam adalah laki-laki,
baik pemberian kompres air hangat
(53,3%), pemberian tepid sponge
bath(60%), maupun kelompok yang
tanpa perlakuan (70%). Anak dengan
jenis kelamin laki-laki banyak
mengalami peningkatan suhu tubuh.

66
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

25

66,7%
66,7%
20
53,3
%
responden

15 Kompres
hangat
jumlah

33,3
%
1 26,7
Tepid sponge
0 23,3 % Bath
%
Kontrol
5 13,3
% 10
6,7 %
%

0
1-3 tahun 4-5 tahun 6-7
tahun
umur

Gambar 1 Distribusi responden berdasarkan umur pada pemberian kompres air hangat, tepid sponge bath,
dan kontrol di ruang Hijr Ismail RSI A Yani Surabaya, Januari – Februari 2014

2
5
21

2
60
0 %
53,3
%
1 46,7
%
5
rerponden

40
% Kompres
jumlah

hangat
1 30
% Tepid Sponge
0 bath

Kontrol
5

0
Laki-laki
Perempua
n
Gambar 2 Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin pada pemberian kompres air hangat, tepid
sponge bath, dan kontrol di ruang Hijr Ismail RSI A Yani Surabaya, Januari – Februari 2014

67
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

Gambar 3 Distribusi responden berdasarkan diagnosa penyakit pada pemberian kompres air hangat, tepid
sponge bath, dan kontrol di ruang Hijr Ismail RSI A Yani Surabaya, Januari – Februari 2014

Multiple Comparisons

Dependent Variable: penurunan suhu

Mean
Difference 95% Confidence Interval
(I) kelompok (J) kelompok (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
LSD kompres air hangat pemakaian tepid
-.15667* .06238 .014 -.2807 -.0327
sponge bath
kontrol .39000* .06238 .000 .2660 .5140
pemakaian tepid kompres air hangat .15667* .06238 .014 .0327 .2807
sponge bath kontrol
.54667* .06238 .000 .4227 .6707

kontrol kompres air hangat -.39000* .06238 .000 -.5140 -.2660


pemakaian tepid
-.54667* .06238 .000 -.6707 -.4227
sponge bath
*. The mean difference is significant at the .05 level.

Berdasarkan gambar 3 yang paling disimpulkan ada perbedaan yang


banyak mengalami demam adalah signifikan, antara penurunan suhu pada
responden dengan diagnosa penyakit kel. Penggunaan kompres air hangat,
obs febris sebesar 36,6% (11 anak) pada kel. Pemakaian tepid sponge bath, dan
pemberian tepid sponge bath. kontrol. Berdasarkan hasil analisis uji
Sedangkan pada kelompok pemberian anova tunggal didapatkan hasil nilai
kompres air hangat dan kelompok tanpa signifikansi (p) sebesar 0,000. Hal ini
perlakuan, yang paling banyak menunjukkan bahwa ada perbedaan
mengalami demam adalah responden penurunan suhu yang signifikan antara
dengan diagnosa thypoid sebesar kelompok pemberian kompres air
26,7% (8 anak). Diketahui nilai sig, (p) hangat dengan kelompok pemberian
pada anova (F) sebesar 0,000 dimana tepid sponge bath pada anak demam.
lebih kecil dari taraf nyata (0,05) maka

68
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

PEMBAHASAN tepid sponge bath dengan air hangat


Hal ini sesuai dengan teori yang efektif menurunkan demam tinggi
menyebutkan bahwa kompres air (Perry & Potter, 2005). Hal ini sesuai
hangat dapat menurunkan suhu tubuh dengan penelitian sebelumnya bahwa
melalui proses evaporasi. Dengan penurunan suhu tubuh dengan metode
kompres air hangat menyebabkan suhu tepid sponge bath pada suhu tubuh
tubuh di luar akan hangat sehingga diatas 390C memberikan selisih
tubuh akan menginterpretasikan bahwa penurunan suhu yang lebih besar
suhu di luar cukup panas, akhirnya daripada peningkatan suhu tubuh di
tubuh akan menurunkan kontrol bawah 390C (Widanti, Fatimah &
pengatur suhu di otak supaya tidak Mardiyah,2004).
meningkatkan suhu pengatur tubuh, Berdasarkan hasil penelitian
dengan suhu di luar hangat akan dapat disimpulkan bahwa pemberian
membuat pembuluh darah tepi di kulit tepid sponge bath lebih efektif dalam
melebar dan mengalami vasodilatasi menurunkan suhu tubuh anak dengan
sehingga pori pori kulit akan membuka demam dibandingkan dengan kompres
dan mempermudah pengeluaran panas, air hangat. Hal ini disebabkan adanya
sehingga akan terjadi penurunan suhu seka tubuh pada teknik tersebut akan
tubuh (Guyton, 2007). Pemberian mempercepat vasodilatasi pembuluh
kompres air hangat ini dilakukan di darah perifer di sekujur tubuh sehingga
tempat tempat tertentu di bagian tubuh. evaporasi panas dari kulit ke
Penelitian ini didukung oleh penelitian lingkungan sekitar akan lebih cepat
Djuwariyah, (2010) yang dibandingkan hasil yang diberikan oleh
mengemukakan bahwa kompres air kompres air hangat yang hanya
hangat efektif untuk menurunkan suhu mengandalkan reaksi dari stimulasi
tubuh sebesar 0,710C(p<0,0001). hipotalamus. Jumlah luas waslap yang
kontak dengan pembuluh darah perifer
Berdasarkan hasil penelitian dapat yang berbeda antara teknik kompres air
disimpulkan bahwa, adanya perbedaan hangat dengan tepid sponge bath akan
penurunan suhu sebelum dan setelah turut memberikan perbedaan hasil
diberikan kompres air hangat karena terhadap penurunan suhu tubuh pada
kompres air hangat dapat menurunkan kelompok perlakuan tersebut.
suhu dengan proses evaporasi. Adanya
rerata penurunan suhu tubuh setelah
dilakukan pemberian kompres air KESIMPULAN
hangat kurang dari 1 derajat celcius, Ada perbedaan yang signifikan, antara
menunjukkan bahwa penurunan suhu suhu sebelum dilakukan kompres air
ini tidak secara drastis yang akan hangat dengan suhu sesudah dilakukan
membuat mekanisme penyesuaian kompres air hangat. Ada perbedaan
tubuh yang baik. yang signifikan, antara suhu sebelum
Seperti pada kompres air hangat, tepid dilakukan pemberian tepid sponge bath
sponge bath bekerja dengan cara dengan suhu sesudah dilakukan tepid
mengirimkan impuls ke hipotalamus sponge bath. Ada perbedaan penurunan
bahwa lingkungan sekitar sedang dalam suhu tubuh antara pemberian kompres
keadaan panas. Keadaan ini akan air hangat dan tepid sponge bath pada
mengakibatkan hipotalamus berespon anak demam di ruang Hijr Ismail RSI A
dengan mematok set poin suhu tubuh Yani Surabaya.
yang lebih tinggi dengan cara
menurunkan produksi dan konservasi
panas tubuh (Guyton, 1997). Pemberian SARAN

69
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

Bagi orang tua anak perlu http://www.jurnalkesehatan


meningkatkan pengetahuan mengenai samodrailmu/
teknik kompres hangat yang tepat Gabriel,1996, Fisika Kedokteran,EGC,
sesuai dengan kondisi anaknya. Orang Jakarta
tua juga bisa memberikan tepid sponge
bath pada anaknya yang demam. Bagi Guyton & Hall, 2007, Buku Saku
bidang keperawatan untuk memperbaiki Fisiologi Kedokteran, Edisi 11,
protap tindakan penurunan suhu tubuh EGC, Jakarta
anak demam dengan pemberian Hegner, B., 2003, Asisten Keperawatan:
kompres air hangat dan tepid sponge Suatu Pendekatan Proses
bath. Bagi perawat pelaksana untuk Keperawatan, EGC, Jakarta
memberikan asuhan keperawatan dalam
Hidayat, A.A.A, 2010, Metode
usaha penurunan suhu tubuh anak
Penelitian Kesehatan :
demam sesuai protap yang telah
Paradigma Kuantitatif, Health
ditetapkan yaitu pemberian kompres air
Books Publishing, Surabaya
hangat dan tepid sponge bath sebagai
penyerta dalam pemberian antipiretik. Mahar, A.F., Allen,S.J.,Milligan,P.,et
Bagi peneliti lain untuk melanjutkan al.,1994, Tepid Sponge To
penelitian tentang pemberian tepid Reduce Temperatur In febrile
sponge bath dengan mengendalikan Children in a Tropical Climate,
faktor suhu lingkungan, sehingga tidak Clinical pediatric, Philadelphia
terjadi bias dalam penelitian, dan juga Maling, Haryani & Arif,2012, Pengaruh
penelitian lanjut tentang keefektifan Kompres Tepid Sponge
antara pemberian kompres air hangat Hangat Terhadap
dengan tepid sponge bath. Penurunan Suhu Tubuh Pada
Anak Umur 1-10 Tahun
Dengan Hipertermia,
DAFTAR PUSTAKA Diakses 17 Oktober 2013, dari
Behrman, Kliegman & Arvin, 1999, http://googlescholar.com
Ilmu Kesehatan Anak Nelson, /
Edisi 15 Vol I, EGC, Jakarta
Nursalam, 2013, Metodologi Penelitian
Bouwhuizen, M., 1986, Ilmu Ilmu Keperawatan: Pendekatan
Keperawatan Bagian 2, EGC, Praktis, Salemba Medika,
Jakarta Jakarta
Cree, L., 1989, Science In Nursing, Perry & Potter, 2005, Buku Ajar
Philadelphia London Toranto Fundamental Keperawatan :
Sydney Konsep, Proses Dan Praktik,
Dahlan, M.S.,2008, Statistik Untuk Edisi 4, Volume 1, EGC, Jakarta
kedokteran Dan Kesehatan, Purwanti, Sri, 2008, Pengaruh
Salemba Medika, Jakarta KompresHangat Terhadap
Djuwariyah, Sodikin & Mustiah, 2010, Perubahan Suhu
Efektifitas Penurunan Suhu Tubuh Pada Pasien Anak
Tubuh Menggunakan Kompres Hipertermiadi Ruang Rawat
Air Hangat Dan Kompres Inap RSUD.Dr.Moewardi
Plester Pada Anak Dengan Surakarta, Diakses 17 Oktober
Demam Di Ruang Khantil 2013, dari
Rumah Sakit Umum Daerah http://publikasiilmiah.um
Banyumas, Diakses 23 s.ac.id/
September 2013, dari

70
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

Pusponegoro, H., 1999, ACKNOWLEDGEMENT


Penatalaksanaan Demam, Karya Diucapkan terima kasih kepada seluruh
Tulis Ilmiah, No. 1, Pharos responden dan beberapa instansi yang
Bulletin, Hal 21-25, Jakarta turut membantu dalam penelitian ini.
Setiawati, Tia, 2009, Pengaruh Tepid
Sponge Terhadap Penurunan
Suhu Tubuh Dan Kenyamanan
Pada Anak Usia Pra Sekolah
Dan Sekolah Yang Mengalami
Demam Di Ruang Perawatan
Anak Rumah Sakit
Muhammadiyah Bandung, tesis
Magister Ilmu Keperawatan,
Universitas Indonesia, Jakarta,
Diakses 20 Oktober 2013 dari
http://www.digilib.ui.ac.id/libri2
/
Sharber, J.,1997, The Efficacy Of Tepid
Sponge Bathing To Reduce
Fever In Young Children,
American Journal Emergency
medical, 15(2), hal 188-192
Susanti, Nurlaili, 2012, Efektifitas
KompresDingin dan Hangat
Pada Penatalaksanaan
Demam, Diakses 17 Oktober
2013, dari
http://publikasiilmiah.uin
.ac.id
Soedarmo, dkk., 2002, Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Anak, Infeksi Dan
Penyakit Tropis, Edisi pertama,
Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUI, Jakarta
Tambayong, J., 2001, Anatomi Dan
Fisiologi Untuk Keperawatan,
EGC, Jakarta
Widyanti, Fatimah & Mardhiyah, 2004,
Gambaran Pemeliharaan Suhu
Tubuh Pada Anak Tifoid
Melalui Metode Tepid Sponge
Dan Kompres Dingin Dengan
Kombinasi Antipiretik Di Ruang
A.1 Perjan Rs Hasan Sadikin
Bandung, Artikel Penelitian,
Vol. 5 No. IX Oktober 2003-
Februari 2004, Hal 75-85

71
JIKP©JURNAL ILMIAH KESEHATAN PENCERAH
PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP PERUBAHAN SUHU TUBUH PADA
PASIEN FEBRIS

Fadli1, Akmal Hasan2


1
Program Studi Profesi Ners STIKES Muhammadiyah Sidrap
2
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Muhammadiyah Sidrap

Alamat Korespondensi: fadli.hanafi88@yahoo.com/085342707077

ABSTRAK
Demam adalah peroses alami tubuh untuk melawan infeksi yang masuk ke dalam tubuh
ketika suhu tubuh meningkat melebihi suhu tubuh normal (>37,2 oC). Peningkatan suhu tubuh
mengakibatkan demam dan menjadi salah satu manifestasi paling umum penyakit pada anak.
Kompres adalah salah satu terapi non farmakologi yang mampu manangani suhu tubuh anak yang
mengalami febris. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 05 Juni sampai dengan 05 Juli Tahun
2017 di puskesmas Tanru Tedong Kabupaten Sidrap. Jenis penelitian yang digunakan adalah
kuantitatif dengan desain quasi eksperimen dengan rancangan pre and post test design, sampel
pada penelitian ini adalah pasien anak yang mengalami febris di ruang instalasi gawat darurat
dengan jumlah sampel sebanyak 17 orang. Tekhnik pengambilan sampel adalah purposive
sampling. Dari hasil penelitian dengan uji Kolmogorov-Smirnov Z didapat nilai pre p=0,62 dan
untuk post p=0,54. Dengan tingkat kemaknaan p >α (0,05) Yang dimana p >α (0,05) berarti uji
normalitas data berdistribusi normal maka dari itu dilakukan uji Paired T test, dengan hasil
p=0,0001 dengan tingkat kemaknaan p <α (0,05) yang dimana 0,0001<0,05 maka dari itu dapat
disimpulkan bahwa adanya pengaruh kompres hangat terhadap perubahan suhu tubuh pasien febris
di ruangan instalasi gawat darurat puskesmas Tanru Tedong Kabupaten Sidrap. Hasil penelitian ini
dapat di pergunakan sebagai bahan masukan bagi institusi kesehatan dan penanganan peningkatan
suhu tubuh pada pasien febris. Semoga penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan
peneliti sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi peneliti dalam hal melakukan penelitian.

Kata Kunci : Kompres hangat, Febris, Suhu tubuh

PENDAHULUAN Berdasarkan World Healt


Demam adalah suatu keadaan Organization (WHO) memperkirakan
suhu tubuh diatas normal akibat jumlah kasus deman di seluruh dunia
peningkatan pusat pengatur suhu di mencapai 16 - 33 juta 500 – 600 ribu
hipotalamus. Sebagian besar deman kematian tiap tahunya (Setyowati,
pada anak akibat dari perubahan pada 2013). Data kunjungan ke fasilitas
pusat panas (termoregulasi) di kesehatan
hipotalamus. Penyakit-penyakit yang pediatrik di Brazil terdapat
ditandai adanya deman dapat menyerang sekitar 19% sampai 30% anak diperiksa
sistem tubuh. Selain itu demam juga karena menderita demam. Penelitian
berperan dalam meningkatkan oleh Jalil, Jumah, & Al-Baghli,
perkembangan imunitas spesifik dan 2007) di Kuwait menunjukkan bahwa
nonspesifik dalam membantu pemulihan sebagian besar anak usia tiga bulan
atau pertahanan terhadap infeksi sampai 36 bulan mengalami serangan
(Sodikin, 2012).

78 Volume 7 Nomor 2 Bulan Desember Tahun 2018 ᴥ ISSN:2089-9394


JIKP©JURNAL ILMIAH KESEHATAN PENCERAH

demam rata-rata enam kali pengeluaran sinyal oleh sistem efektor.


pertahunnya (Setiawati, 2009) Sinyal ini akan menyebabkan terjadinya
Di Indonesia penderita demam pengeluaran panas tubuh yang lebih
sebanyak 465 (91.0%) dari 511 ibu banyak melalui dua mekanisme yaitu
yang memakai perabaan untuk menilai dilatasi pembuluh darah perifer dan
demam pada anak mereka sedangkan berkeringat (Potter & Perry, 2010).
sisanya 23,1 saja menggunakan Berdasarkan penelitian Purwanti
termometer (Setyowati, 2013). Dinas & Ambarwati (2013) menunjukkan
Kesehatan Sulawesi Selatan, merilis data bahwa rerata suhu tubuh pasien sebelum
penderita demam atau febris sepanjang dilakukan tindakan kompres hangat
bulan Januari 2016 sebanyak 528 kasus sebesar 38,9˚C dan sesudah dilakukan
(Dinkes Sulsel, 2016). Dinas kesehatan intervensi rerata suhu tubuh pasien
Kabupaten Sidrap merilis jumlah adalah 37,9˚C. Pada uji analisis terjadi
penderita demam atau febris di tahun perubahan rerata suhu tubuh 0,97˚C
2015 berjumlah 1570 jiwa (Dinas dengan SD 0,35˚C nilai P = 0,0001yang
kesehatan Kabupaten Sidrap, 2015) berarti bahwa P <0,05.
Berdasarkan hasil survey pendahuluan Tujuan penelitian ini adalah
di ruangan instalasi gawat darurat untuk mengetahui pengaruh kompres
puskesmas Tanru Tedong pada bulan hangat terhadap perubahan suhu tubuh
Januari - Desember 2016 angka pada pasien febris di ruangan instalasi
kejadian demam pada anak sebanyak gawat darurat puskesmas Tanru Tedong
102 pasien (Puskesmas Tanru Tedong, Kabupaten Sidrap.
2016).
Demam pada anak dibutuhkan BAHAN DAN METODE
perlakuan dan penanganan tersendiri Lokasi dan desain penelitian
yang berbeda bila dibandingkan dengan Lokasi penelitian ini dilakukan
orang dewasa. Hal ini dikarenakan, di ruangan instalasi gawat darurat
apabila tindakan dalam mengatasi Puskesmas Tanru Tedong Kabupaten
demam tidak tepat dan lambat maka Sidrap
akan mengakibatkan pertumbuhan dan Jenis penelitian ini adalah jenis
perkembangan anak terganggu. Demam penelitian kuantitatif experimental,
dapat membahayakan keselamatan anak dengan desain quasi eksperimen.
jika tidak ditangani dengan cepat dan Penelitian ini menggunakan, rancangan
tepat akan menimbulkan komplikasi lain pre-post test design, dimana penelitian
seperti, hipertermi, kejang dan ini hanya menggunakan satu kelompok
penurunan kesadaran (Maharani, 2011). yaitu kelompok intervensi untuk
Pemberian kompres hangat pada mengukur suhu tubuh sebelum dan
daerah pembuluh darah besar sesudah diberikan intervensi berupa
merupakan upaya memberikan kompres hangat selama 20 menit.
rangsangan pada area preoptik
hipotalamus agar menurunkan suhu Populasi dan sample
tubuh. Sinyal hangat yang dibawa oleh Populasi pada penelitian ini
darah ini menuju hipotalamus akan adalah semua pasien anak yang
meransang area preoptik mengakibatkan mengalami demam atau febris diruangan

79 Volume 7 Nomor 2 Bulan Desember Tahun 2018 ᴥ ISSN:2089-9394


JIKP©JURNAL ILMIAH KESEHATAN PENCERAH

instalasi gawat darurat Puskesmas Tanru Tabel 1. Distribusi berdasarkan


Tedong Kabupaten Sidrap karakteristik responden di ruangan
Sampel dalam penelitian ini instalasi gawat darurat puskesmas
berjumlah 17 sampel. Teknik Tanru Tedong Kabupaten Sidrap
pengambilan sampel menggunakan Karakteristik responden n %
purposive sampling yaitu pengambilan Umur
2-3 tahun 6 35,3
sampel didasarkan pada kenyataan 4-5tahun 6 35,3
bahwa mereka kebetulan muncul. Dalam 6-7 tahun 3 17,6
penelitian bisa saja diperolehnya sampel >8 tahun 2 11,8
yang tidak direncanakan terlebih dahulu, Jenis Kelamin
melainkan secara kebetulan, yaitu unit Laki-Laki 11 64,7
Perempuan 6 35,3
atau subjek tersedia bagi peneliti saat
Total 17 100
pengumpulan data dilakukan. Proses Berdasarkan tabel 1. menunjukkan
diperolehnya sampel semacam ini bahwa dari 17 Responden didapatkan
disebut penarikan sampel secara yang memiliki kelompok umur paling
kebetulan. banyak adalah kelompok umur 2-3 tahun
dan 4-5 tahun masing-masing berjumlah
Analisa dan penyajian data 6 orang (35,3 %) dan kelompok umur
Analisis univariat adalah paling sedikit adalah kelompok umur >8
analisis yang bertujuan untuk tahun berjumlah 2 orang (11,8 %), serta
menjelaskan atau mendeskripsikan kelompok umur 6-7 tahun berjumlah 3
karakteristik masing-masing variabel orang (17,6 %).
diteliti. Analisis uji univariat ini akan Sedangkan untuk karakteristik
mendeskripsikan tentang jenis kelamin, responden menurut jenis kelamin yaitu
suhu tubuh sebelum dan sesudah laki-laki berjumlah 11 orang (64,7%)
kompres hagat. dan yang berjenis kelamin perempuan 6
Analisis bivariat adalah analisis orang (35,3%).
untuk menguji pengaruh perbedaan
antara dua variabel. Uji ini dilakukan Tabel 2. Nilai rata-rata suhu tubuh
untuk mengetahui pengaruh kompres sebelum dan sesudah Intervensi di
hangat terhadap perubahan suhu tubuh ruangan instalasi gawat darurat
pada pasien febris dengan menggunakan puskesmas Tanru Tedong Kabupaten
uji statistik paired t-test dengan tingkat Sidrap
kemaknaan p < 0,05. Variabel N Mean SD Min-Max
Pre 38,1 0,6 37,3-39,5
17
HASIL Post 37,5 0,6 36,7-38,9
Pada penelitian ini akan Berdasarkan tabel 2. menunjukkan
disajikan hasil penelitian pada analisis bahwa dari 17 Responden uji analisis
univariat dan analisis bivariat. Adapun univariat didapatkan nilai rata-rata
penjelasan hasil penelitian sebagai sebelum intervensi yaitu hasil mean
berikut: 38,14 standar deviasi 0,61 dengan nilai
min 37,3 nilai max 39,5. Kemudian nilai
rata-rata sesudah intervensi didapatkan

80 Volume 7 Nomor 2 Bulan Desember Tahun 2018 ᴥ ISSN:2089-9394


JIKP©JURNAL ILMIAH KESEHATAN PENCERAH

hasil mean 37,54 standar deviasi 0,57 dari itu dapat disimpulkan bahwa adanya
dengan nilai min 36,7 nilai max 38,9. pengaruh kompres hangat terhadap
Tabel 3. Selisih nilai rata-rata perubahan suhu tubuh pasien febris di
sebelum dan setelah Intervensi di ruangan instalasi gawat darurat
ruangan instalasi gawat darurat puskesmas Tanru Tedong Kabupaten
puskesmas Tanru TedongKabupaten Sidrap yang berarti Ha diterima dan Ho
Sidrap ditolak.
Varia n Me SD Min- p Kompres adalah salah satu
bel an max metode fisik untuk menurunkan suhu
Pre-
tubuh anak yang mengalami demam.
post 17 0,7 0,4 0,4-0,8 0,0001
suhu Pemberian kompres hangat pada daerah
tubuh pembuluh darah besar merupakan upaya
Berdasarkan tabel 3. menunjukkan memberikan rangsangan pada area
bahwa dari 17 Responden uji analisis preoptik hipotalamus agar menurunkan
bivariat didapatkan nilai selisih rata-rata suhu tubuh. Sinyal hangat yang
skor suhu tubuh sebelum dan setelah dibawa oleh darah ini akan menuju
intervensi yaitu mean 0,65 standar area hipotalamus merangsang preoptik
deviasi 0,37 dengan nilai min 0,41 dan mengakibatkan pengeluaran sinyal oleh
max 0,80 dengan nilai p =0,0001 dengan sistem efektor. Sinyal ini akan
tingkat kemaknaan p <α (0,05) yang menyebabkan terjadinya pengeluarn
dimana 0,0001<0,05 maka dari itu dapat panas tubuh yang lebih banyak melalui
disimpulkan bahwa adanya pengaruh dua mekanisme yaitu dilatasi pembuluh
kompres hangat terhadap perubahan darah perifer dan berkeringat (Potter &
suhu tubuh pasien febris di ruangan Perry, 2010).
instalasi gawat darurat puskesmas Tanru Dengan kompres hangat
Tedong Kabupaten Sidrap yang berarti menyebabkan suhu tubuh diluaran akan
Ha diterima dan Ho ditolak. terjadi hangat sehingga tubuh akan
menginterpretasikan bahwa suhu
PEMBAHASAN diluaran cukup panas, akhirnya tubuh
Hasil uji analisis univariat akan menurunkan kontrol pengatur suhu
didapatkan nilai rata-rata sebelum di otak supaya tidak meningkatkan suhu
intervensi yaitu hasil mean 38,14 standar pengatur tubuh, dengan suhu diluaran
deviasi 0,61 dengan nilai min 37,3 nilai hangat akan membuat pembuluh darah
max 39,5. Kemudian nilai rata-rata tepi dikulit melebar dan mengalami
sesudah intervensi didapatkan hasil vasodilatasi sehingga pori-pori kulit
mean 37,54 standar deviasi 0,57 dengan akan membuka dan mempermudah
nilai min 36,7 nilai max 38,9. pengeluaran panas, sehingga akan terjadi
Uji analisis bivariat didapatkan nilai perubahan suhu tubuh.
selisih rata-rata skor suhu tubuh sebelum Penelitian ini sejalan dengan
dan setelah intervensi yaitu mean 0,65 penelitian Purwanti & Ambarwati
standar deviasi 0,37 dengan nilai min (2013) menunjukkan bahwa rerata suhu
0,41 dan max 0,80 dengan nilai p tubuh pasien sebelum dilakukan
=0,0001 dengan tingkat kemaknaan p <α tindakan kompres hangat sebesar 38,9˚C
(0,05) yang dimana 0,0001<0,05 maka dan sesudah dilakukan intervensi rerata

81 Volume 7 Nomor 2 Bulan Desember Tahun 2018 ᴥ ISSN:2089-9394


JIKP©JURNAL ILMIAH KESEHATAN PENCERAH

suhu tubuh pasien adalah 37,9˚C. Pada Tedong kabupaten Sidrap dengan nilai
uji analisis terjadi perubahan rerata suhu mean 38,14 dan rerata suhu tubuh
tubuh 0,97˚C dengan SD 0,35˚C nilai p sesudah di berikan tindakan kompres
= 0,0001 yang berarti bahwa p <0,05. hangat pada pasien febris di ruangan
Penelitian ini juga sejalan dengan instalasi gawat darurat puskesmas
penelitian Hartini & Pertiwi (2015) Puskesmas Tanru Tedong kabupaten
menunjukkan bahwa efektifitas Sidrap dengan nilai hasil mean 37,54.
penurunan suhu tubuh pada anak demam Sedangkan Pada analisis bivariat
sebelum perlakuan kompres air hangat didaptkan nilai selisih rerata 0,65 dan
adalah 38,65˚C dan sesudah diberikan nilai p = 0,0001, sehingga ada pengaruh
perlakuan kompres air hangat suhu kompres hangat terhadap perubahan
tubuh menjadi 37,27˚C. Pada uji Paired suhu tubuh pada pasien febris.
T-test menunjukkan nilai p =0,0001
(p<0,05), di rumah sakit Telogorejo SARAN
Semarang. Saran pada penelitian ini adalah
Adapun asumsi penelitian diharapkan pihak puskesmas atau
kompres hangat memiliki pengaruh pelayanan kesehatan setempat dapat
terhadap perubahan suhu tubuh pada menetapkan program penanganan Pasien
pasien febris khususnya anak-anak. febris nonfarmakologis pemberian
Kompres hangat termasuk tindakan tindakan kompres hangat dalam
mandiri yang harus diketahui oleh memberikan perubahan suhu tubuh pada
semua tenaga kesehatan begitupun pasien febris.
dengan orang tua. Maka dari itu
diharapkan bagi orang tua untuk DAFTAR PUSTAKA
memberikan tindakan kompres hangat Dinkes, Sul-Sel. (2016). Propil data
kepada anaknya yang mengalami pasien
demam. Kompres hangat berpengaruh febris.http:/pojoksulseL.com.
karena pembuluh tepi dikulit melebar Hartina & Pertiwi. (2015).Efektifitas
dan mengalami vasodilatasi sehingga Kompres Air Hangat Terhadap
pori-pori kulit akan membuka dan Penurunan Suhu Tubuh Anak
mempermudah pengeluaran panas, Demam Usia 1-3 Tahun Di SMC
sehingga terjadi perubahan suhu tubuh. RS Telogorejo
Oleh dari itu penelitian ini peneliti Semarang.http://publikasihilmia
h.umc.ac.id.
mengambil kesimpulan bahwa kompres
Maharani. (2011). Perbandingan
hangat berpengaruh terhadap perubahan Efektifitas Pemberian Kompres
suhu tubuh pada pasien febris diruangan Hangat Dan Tefid Water Spoge
instalsi gawat darurat puskesmas Tanru Terhadap Penurunan Suhu
Tedong Kabupaten Sidrap. Tubuh Balita Yang Mengalami
Demam Di Puskesmas Rawat
Inap Karya Wanita Rumbai
KESIMPULAN
Pesisir, Jurnal Universitas
Rerata suhu tubuh sebelum di Riau.http://www.scribd.com/doc
berikan tindakan kompres hangat pada /73195543/all-ok.
pasien febris di ruangan instalasi gawat
darurat puskesmas Puskesmas Tanru

82 Volume 7 Nomor 2 Bulan Desember Tahun 2018 ᴥ ISSN:2089-9394


JIKP©JURNAL ILMIAH KESEHATAN PENCERAH

Potter & Perry. (2010). Fundamental Setyowati & Lina. (2013). Hubungan
Keperawatan. Edisi 7. Jakarta: Tingkat Pengetahuan Orang
Salemba Medika Tua Dengan Penanganan
Puskesmas Tanru Tedong. (2017). Demam Pada Anak Balita Di
Instalasi Gawat Darurat Kampung Bakalan Kadipiro
Puskesmas Tanru Tedong Banjarmasin Surakarta. Jurnal
Kabupaten Sidrap. Stikes PKU Muhammadiyah
Purwanti & Ambarwati. (2013). Surakarta.
Pengaruh Kompres Hangat http://stikespku.com.pdf.
Terhadap Perubahan Suhu Setiawati. (2009). Pengaruh Tepid
Tubuh Pada Pasien Anak Sponge Terhadap Penurunan
Hipertermia Di Ruang Rawat Suhu Tubuh Dan Kenyamanan
Inap RSUD Pada Anak Usia Pra Sekolah
Dr.MoewardiSurakarta.http://pu Dan Sekolah Yang Mengalami
blikasihilmiah.umc.ac.id. Demam Di Ruangan Perawatan
Sodikin. (2012). Prinsip Perawatan Anak Rumah Sakit
Demam Pada anak. Yogyakarta: Muhammadiyah Bandung,
Pustaka Pelajar Jurnal Universitas Indonesia
Fakultas Ilmu Keperawatan.
http://www.digilib.ui.ac.id.

83 Volume 7 Nomor 2 Bulan Desember Tahun 2018 ᴥ ISSN:2089-9394


Proceedings of The 4th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education
© 2019 Study Program of Islamic Education for Early Childhood, Faculty of Tarbiyah and
Teaching Science, State Islamic University Sunan Kalijaga, Yogyakarta
http://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/conference/index.php/aciece/aciece2
Online ISSN (e-ISSN): 2548-4516
Volume 4, December 2019 (129-138)

Game Therapy Based on Local Wisdom in


Cognitive Development of Slow Learner
Children

Eshthih Fithriyana, Hidayah


IAI Sunan Giri Bojonegoro
Email: eshthih@sunan-giri.ac.id

Abstract
Early childhood is an important time for everyone. Because at this stage the child will experience
very rapid development in various aspects of development. At this stage children also have the
potential to experience problems that can inhibit their development, one of which is slow
learner. The purpose of this study was to determine how local wisdom-based game therapy can
develop the cognitive abilities of slow learner children. This type of research is qualitative
research. The subjects of this study were the teacher and children of slow learners at RA Subulus
Salam Bojonegoro and RA Nurul Ulum Bojonegoro. Data collection techniques using
questionnaires, interviews and documentation. Based on the results of the coefficient and
interview children slow learners experience several obstacles in cognitive development. Local
wisdom-based therapy games help slow learners to practice their ability to understand certain
commands or rules. Because local wisdom-based therapy games give children the opportunity
to obtain information or commands that are concrete and more tangible.
Keywords: slow learner, game therapy based on local wisdom

Pendahuluan
Pendidikan merupakan bagian penting yang harus dimiliki setiap manusia. Pendidikan
merupakan usaha seseorang untuk mengembangkan kualitasnya sebagai bagian dari makhluk
sosial. Pendidikan dapat dilakukan dimana saja, dimulai dari pendidikan dalam keluarga,
masyarakat atau lembaga pendidikan. Pendidikan itu sendiri akan lebih baik diberikan kepada
seseorang sejak sedini mungkin. Sejak dilahirkan bayi membawa milyaran sel-sel otak yang
nantinya akan terus berkembang dan mempengaruhi kercerdasan seseorang, namun apabila
tidak mendapatkan stimulasi psikososial maka potensi-potensi tersebut akan terus
berkurang.(Wahyudin and Agustin, 2012). Mengingat betapa pentingnya pemberian stimulasi
psikososial dan pendidikan pada anak usia dini, maka sudah sepatutnya untuk mendapatkan
perhatian yang lebih oleh semua pihak.
Secara yuridis istilah anak usia dini di Indonesia ditujukan kepada anak sejak lahir sampai
usia 6 tahun. Lebih lanjut pasal 1 ayat 14 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang
The 4th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education
Yogyakarta, December 7th 2019

Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa Pendidikan anak usia dini merupakan upaya
pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian stimulus pendidikan agar membantu perkembangan pertumbuhan
baik jasmanai maupun rohani sehingga anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan yang
lebih lanjut.(Martinis .Y dan Sanan J., 2010). Berdasarkan pengertian tersebut maka anak mulai
dari usia 0 hingga 6 tahun memiliki hak yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan di
PAUD dan termasuk juga didalamnya untuk anak usia 0 hingga 6 tahun yang memiliki
kebutuhan khusus.
Sebagaimana yang tertera dalam Deklarai Bandung Indonesia Menuju Pendidikan Inklusi
pada tahun 2004 bahwa seluruh anak berkelainan dan berkebutuhan khusus di Indonesia
memiliki kesamaan hak dalam berbicara, berpendapat, memperoleh pendidikan, kesejahteraan
dan kesehatan serta mendapatkan hak dan kewajiban yang penuh sebagai warga Negara
(Chamidah, 2010). Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki keunikan sendiri
yang membedakakannya dengan anak-anak pada umumnya.(Perempuan, 2013).
Berdasarkan data dari Bank Dunia menunjukan jumlah anak berkebutuha khusus
diseluruh dunia mencapai 10% dan lebih dari dua pertiga populasi tersebut berasal dari Negara-
negara d Asia.(Chamidah, 2010). Anak berkebutuhan khusus dapat dikategorikan menjadi
beberapa jenis, diantaranya tunagrahita (mental retardation), anak dengan kesulitan belajar
(learning disabilities), hiperatif (attention deficit disorder with hyperactive), tunalaras (emotional
and behavioral disorder), tunarungu wicara (communication disorder and deafness), tunanetra
(partially seeing and legally blind), autistic, tunadaksa (physical handicapped) dan anak berbakat
(giftedness and special talents). Beberapa jenis anak berkebutuhan khusus tersebut juga banyak
dijumpai pada beberapa lembaga pendidikan anak usia dini. Diantara jenis permasalahan anak
berkebutuhan khusus yang sering dijumpai dilembaga PAUD adalah anak yang tergolong slow
learner. Slow learner merupakan anak dengan tingkat intelektual sedikit dibawah normal dari
anak seusianya.(Rahayu, 2013). Selain itu menurut pendapat Burton Slow learner adalah anak
dengan tingkat penguasaan materi yang rendah padahal materi tersebut merupakan prasyarat
bagi kelanjutan pelajaran selanjutnya, sehingga mereka sering harus mengulang (Sudrajat,
2008). Secara garis besar Slow learner adalah anak yang memliki potensi intelektual sedikit
dibawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita atau sering disebut lamban belajar. Ada
beberapa hal mereka alami misalnya terlambat berpikir, terlambat merespon rangsangan dan
terlambat beradaptasi dengan lingkungan sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan
tunagrahita. Mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk menyelesaikan
tugas akademik maupun non akademik.
Terkait dengan kondisi tersebut anak akan membutuhkan perawatan serta pelayanan
lainnya termasuk layanan pendidikan yang lebih dari anak lainnya. Pendidikan inklusif
merupakan usaha yang dilakukan pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan pada
seluruh warga Negara khususnya anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusif merupakan
suatu sistem pendidikan yang menyertakan semua anak secara bersama-sama dalam proses
pembelajaran dengan layanan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan siswa tanpa
membedakan latar belakang, suku, ras, status sosial, ekonomi, status politik, bahasa, geografis,
jenis kelamin, agama/kepercayaan dan kondisi fisik atau mental(Herawati, 2016). Namun tidak
semua anak berkebutuhan khusus anak usia dini telah merasakan pendidikan anak usia dini,
karena tidak semua lembaga pendidikan anak usia dini memiliki atau siap untuk memberikan
pendidikan inklusif.
Untuk penangan anak berkebutuhan khusus slow learner guru anak usia dini dapat
menerapkan beberapa teknik atau cara yang mudah dan sesuai dengan karakteristik anak usia
dini yaitu bremain. Guru dapat menerapkan game therapy untuk mengatasi hambatan-
hambatan belajar bagi anak slow learner. Game therapy dapat didefinisikan sebagai suatu cara

130
Eshthih Fithriyana, Hidayah
Game Therapy Based on Local Wisdom In Cognitive Development of Slow Learner Children

untuk membantu anak yang mengalami maslah menggunakan permainan sebagai perantara
antara anak dan guru. Game therapy merupakan terapi kejiwaan namun pada pelaksanaannya
faktor gerak dan ekspresi menjadi titik ukur dalam analisa terapeutik dengan medianya adalah
permainan-permainan yang memberikan kesenangan dan tidak menggunakan unsur paksaan
serta dapat memberikan motivasi bagi anak yang bersifat spontanitas sukarela dan memliki
aturan-aturan yang tidak mengikat (Hall, Kaduson and Schaefer, 2002).
Dalam menerapkan game therapy guru dapat memilh dengan memodivikasi jenis-jenis
atau kegiatan dalam pelaksanaan game therapy tersebut. Diantaranya yaitu dengan
menerapkan game teraphy berbasis kearifan lokal. Indonesia merupakan Negara yang terkenal
dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang dimilikinya sebagai suatu identitas dan ciri
khas Bangsa(Fajarini, 2014). Hal tersebut sangat patut untuk kita jaga dan lestarikan melalui
pengenalan – pengenalan pada anak usia dini. Salah satu potensi dan kekayaan kearifan lokal
yang perlu kita lestarikan adalah permainan tradisional. Indonesia memiliki beberapa jenis
permainan tradisional yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebgai media game therapy
bagi anak slow learner, yaitu diantaranya sperti permainan dakon, engklek, gobak sodor dan
sebagainya. Jika dibandingkan dengan jenis-jenis permainan modern, permainan tradisional
memiliki manfaat yang lebih baik bagi anak khususnya anak slow learner. Atas dasar itulah
penelitian ini akan mengkaji bagaimana peranan game therapy berbasis kearifan lokal pada
pengembangan kognitif anak slow learner.

Kajian Teoretik
Game therapy
Game Therapy atau terapi bermain adalah suatu metode konseling atau terapi untuk anak usia
2-8 tahun dengan menggunakan pendekatan bermain. Pada usia ini bermain merupakan media
natural bagi anak untuk dapat bercerita dan membagi perasaannya. (Madyawati, Zubadi and
Yudi, 2016). Game therapy (terapi bermain) adalah salah satu alat untuk membangun
komunikasi bagi anak-anak yang bermasalah untuk dapat mengungkapkan permasalahan yang
sedang mereka hadapi dengan cara yang menyenangkan, santai dan terbuka. (C. E,Burtton,eid,
1986) Selain itu Landreth mendefinisikan game therapy sebagai hubungan interpersonal yang
dinamis antara anak dengan terapis yang terlatih dalam prosedur game therapy yang
menyediakan materi permainan yang dipilih dan memfasilitasi perkembangan suatu hubungan
yang aman bagi anak untuk sepenuhnya mengekspresikan dan mengeksplorasi dirinya
(perasaan, fikiran, pengalaman, dan perilakunya) melalui media bermain. (G. L, 2002)
Berdasarkan pendapat Sukmaningrum game therapy merupakan terapi yang dalam
pelaksanaan terapi menggunakan media alat-alat bermain. Setiap permainan memiliki makna
simbolis yang dapat membantu terapis untuk mendeteksi sumber permasalahan. (G. L, 2002)
Selain itu, Indiyani menyatakan bahwa game therapy adalah penggunaan media permainan (alat
dan cara bermain) dalam pembelajaran pada anak yang bertujuan untuk mengurangi atau
menghilangkan gangguan-gangguan atau penyimpangan -penyimpangan, seperti gangguan
dan penyimpangan pada fisik, mental, sosial sensorik, dan komunikasi. (Indriyani, 2011)
Saputra & Setianingrum menyatakan bahwa metode bermain ( game therapy) menjadi
alat bagi konselor untuk menangani permasalahan anak melalui layanan konseling, termasuk
dalam hal ini adalah masalah traumatis anak usia dini korban bencana. Metode bermain dapat
menjadi media layanan bimbingan dan konseling yang menarik bagi anak usia dini karena
karakteristik anak usia dini yang masih senang bermain.(Santi Widiasari, Dkk, 2016) Berdasarkan
pendapat Landreth game therapy direkomendasikan sebagai media konseling karena bermain
merupakan ekspresi alamiah anak. Game therapy tidak secara langsung mengingatkan anak
dengan peristiwa traumatik yang dialami karena dilakukan dengan menggunakan materi materi

131
The 4th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education
Yogyakarta, December 7th 2019

simbolik. Hal tersebut memungkinkan anak merasa aman dalam mengekspresikan dan
mengeksplorasi innermost feeling mereka. (G. L, 2002)
Menurut Bratton et al terdapat beberapa ciri media game therapy yaitu:
a. Difungsikan untuk berbagai perkembangan anak.
b. Dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk, dan untuk bermacam aspek pengembangan
(bermanfaat multiguna)
c. Aman dan tidak berbahaya bagi anak.
d. Dirancang untuk mendorong aktivitas dan kreativitas anak.
e. Bersifat konstruktif (ada sesuatu yang dihasilkan).
f. Mengandung nilai pendidikan. (Madyawati, Zubadi and Yudi, 2016)

Kearifan Lokal
Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi
kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab
berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing sering juga
dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local
knowledge” atau kecerdasan setempat “local genious”.(Fajarini, 2014) Haryati Subadio
mengatakan kearifan lokal (local genius) secara keseluruhan meliputi, bahkan mungkin dapat
dianggap sama dengan cultural identity yang dapat diartikan dengan identitas atau
keperibadian budaya suatu bangsa. (Brata, 2016) Dalam pandangan Mundardjito bahwa kearifan
lokal terbina secara kumulatif, terbentuk secara evolusioner, bersifat tidak abadi, dapat
menyusut, dan tidak selamanya tampak jelas secara lahiriah.(Brata, 2016) Sementara
Poespowardojo secara tegas menyebutkan bahwa sifat-sifat hakiki kearifan lokal adalah:
a) Mampu bertahan terhadap budaya luar.
b) Memiliki kemampuan mengakomodasi unsurunsur budaya luar.
c) Mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur-unsur budaya luar ke dalam kebudayaan asli.
d) Mampu mengendalikan.
e) Mampu memberikan arah pada perkembangan budaya.
Atas dasar itu kearifan lokal dapat dimaknai sebagai kebijakan manusia dan komunitas
dengan bersandar pada filosofi, nilai-nilai, etika, cara-cara, dan perilaku yang melembaga secara
tradisional mengelola berbagai sumber daya alam, sumber daya hayati, sumber daya manusia,
dan sumber daya budaya untuk kelestarian sumber kaya tersebut bagi kelangsungan hidup
berkelanjutan. Kearifan lokal dapat mencakup berbagai bidang kehiduapn manusia, misalnya
pendidikan, pariwisata, nilai-nilai agama dan moral, kebudayaan dan seni (Joko Pamungkas
dkk.., 2019).
Ilmuan antropologi seperti Koentjaraningrat, Spradley, Taylor kebudayaan manusia yang
menjadi wadah kearifan lokal itu kepada idea, aktivitas sosial, artifak. Kebudayaan merupakan
keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh sekelompok manusia dan dijadikan sebagai
pedoman hidup untuk menginterpretasikan lingkungannya dalam bentuk tindakan-tindakannya
sehari-hari. (Koentjaraningrat, 2009)
Permainan tradisional adalah suatu permainan warisan dari nenek moyang yang wajib
dan perlu dilestarikan sebagai bagian dari proses perkembangan anak.(Wulansari and
Ponorogo, 2017). Permainan tradisional juga memberikan kegembiraan pada anak (Ramadhan
Lubis dan Khadijah, 2018). Selain itu juga permainan-permainan tradisional juga memiliki banyak
manfaat khususnya bagi perkembangan anak usia dini. Beberapa manfaatnya diantaranya:
a) Mengembangkan kreatifitas anak Misal mobil-mobilan anak akan berfikir bagaimana
memanfaatkan bahan yang ada dan tersedia disekitar untuk dijadikan bagian dari alat
bemainnya. Dan anak juga berfikir untk mengolah dan mengoperasikan alat bermain
tersebut. Sehingga berbagai kreasi baru akan muncul. Dan kreatifitas anak jadi terbentuk.

132
Eshthih Fithriyana, Hidayah
Game Therapy Based on Local Wisdom In Cognitive Development of Slow Learner Children

b) Belajar sportifitas Menerima kekalahan dari permainan merupakan sikap sportifitas yang
dipelajari pada saat bermain. Pada dasarnya menang dan kalah bukan merupakan hal yang
penting, namun hal tersebut mengajarkan pada anak bagaimana seharusnya bersikap
c) Melatih kemampuan fisik Kemampuan fisik akan terlatih sejak dini jika melakukan
permainan tradisional. Contoh permainan ini diantaranya adalah permainan lompat tali,
lompat tali memiliki banyak gerakan dimana hal itu akan membantu otot-otot dalam
bekerja. Sehingga menjadi lebih sehat.
d) Mengasah kecerdasan permainan tradisional seperti bermain kelereng akan membantu
mereka melatih kecerdasannya, seperti bagaimana harus mengatur dan melempar kelereng
agar mengenai kelereng lain
e) Mampu bekerja sama Misal pada permainan galah atau semba lakon dituntut adanya
kerjasama antar anggota tim untuk menjaga daerah kekuasaan mereka.
f) Belajar mengelola emosi, Pada saat anak bermain seorang anak tentu akan mengutarakan
emosianya, seperti berteriak, bergerak, melompat, tertawa dan mengangis. Hal ini akan
membantu anak untuk memberikan mereka stimulus untuk berekspresi. Dengan berekspresi
anak akan lebih mendapatkan manfaat yang banyak.
g) Meningkatkan kepercayaan diri Dengan melakukan permainan tradisional otomatis
mengatur anak untuk melatih berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain.
h) Anak akan saling menghargai Melalui permainan tradisional seorang anak akan belajar
bagaimana caranya menghargai prestasi orang lain.
i) Bersikap demokratis Permainan tradisional tentu ada ketentuan yang dibuatnya bersama,
permainan yang dibuat bersama ini harus disepakati bersama. Sebelum kesepakatan pasti
adalah perundingan perundingan yang dilakukan. Tentu hal itu banyak mengajarkan pada
anak mengenai arti demokratis itu sendiri.
j) Anak menjadi lebih aktif Permainan tradisional menuntut anak untuk lebih aktif, aktif dalam
bermain, aktif dalam bertanya, aktif dalam melakukan eksplorasi dengan sekitarnya.
k) Melatih bertanggung jawab. Permainan tradisional akan membantu anak untuk belajar
tanggung jawab, ketika seorang sedang bermain tentu akan menggunakan barang-baran
permainannya sepertimasak masakan, untuk itu anak akan merapikannya ketika setelah
selesai.(Montolalu, 2007)

Game Therapy Berbasis Kearifan Lokal


Game therapy berbasis kearifan lokal ialah suatu bentuk permainan yang berbasis kearifan lokal
(permainan tradisional) dan digunakan untuk membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya
seperti masalah anak slow learner. Negara Indonesia memiliki beragam kearifan lokal salah
satunya adalah permainan tradisional. (Santi Widiasari, Dkk, 2016). Beberapa permianan
tradisional anak usia dini, yaitu: congkak/ dakon, lompat tali, dan klereng (Uswatun Hasanah,
2016). Banyak permainan tradisional yang berpotensi untuk dijadikan sebagai game therapy
dalam mengembangkan aspek perkembangan anak usia dini salah satunya bisa menggunakan
permianan congklak.
Permainan congklak merupakan alat bermain yang sudah ada sejak zaman dahulu dan
diwariskan secara turun menurun. Permainan – permainan tradisional memiliki nilai positif,
misalnya anak menjadi banyak bergerak sehingga terhindar dari masalah obesitas anak.
Sosialisasi mereka dengan oran lain akan semakin baik karena dalam permainan dimainkan oleh
minimal 2 anak.
Bermain congklak juga dapat melatih anak – anak pandai dalam menghitung. Selain itu,
anak yang bermain congklak harus pandai membuat strategi agar bisa memenangkan
permaianan. Permaianan yang disebut dakon dalam bahasa jawa ini, biasanya dimaiankan oleh
dua anak perempuan. Permaianan congklak menggunakan papan uang yang disebut papan
congklak. Ukuran papan terdiri atas 16 lubang untuk menyimpan biji congklak. Keenambelas

133
The 4th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education
Yogyakarta, December 7th 2019

lubang tersebut saling berhadapan dan 2 lubang besar dikedua sisisnya. Kemudian anak – anak
pun memebutuhkan 98 biji congklak. Biji congklak yang biasanya digunakan adalah cangkang
kereng, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau palstik. Dua lubang besar tersebut merupakan
milik masing- masing pemain untuk menyimpan milik masing masing pemain untuk menyimpan
biji congklak yang dikumpulkannya.
Dua lubang tersebut biasanya kosong sedangkan 14 lubang yang lain diisi 7 biji
congklak.(Heryanti et al., 2014). Manfaat yang bisa diambil dari permainan congklak ini ialah :
1. Dapat melatih otak kiri anak untuk berpikir
2. Melatih strategi mengumpulkan angka terbanyak agar bisa mengalahkan lawan, sepertinya
sederhana, namun ketika dimainkan, otak kiri dan kanan aktif dengan perhitungan numeric
3. Untuk perkembangan dan pembentukan otak kanan.
4. Melatih anak dalam bekerjasama
5. melatih emosi anak.
Ketika anak melakukan permainan tradisional (congklak) dan melalui kegiatan yang
beragam, secara tidak sadar perkembangan kognitif anak slow learner akan berkembang.
Sehingga anak slow learner merasa tidak cepat bosan, dengan bermain congklak anak dapat
belajar memacahkan masalah dalam kehidupannya, anak mampu berhitung, dan mampu
membedakan warna.

Metode
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Novemver 2019 di RA Subulus Salam Bojonegoro dan RA Nurul Ulum Bojonegoro. Subjek
Penelitian ini adalah pendidik dan anak slow learner usia 4 hingga 6 tahun di kedua lembaga
tersebut. Pemilihan subjek pada penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive. Data
yang digunakan dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif
diperoleh melalui hasil angket yang diberikan pada pendidik PAUD serta data kualitatif
diperoleh melalui hasil wawancara dan dokumentasi. Teknik pengambilan data menggunakan
teknik wawancara, observasi, angket dan studi dokumentasi.
Tabel 1. Jenis dan Kategori Data, Teknik Pengumpulan data, Instrumen dan Sumber Data pada
Penelitian
No Jenis & Kategori Data Teknik & metode Instrumen Sumber data
pengumpulan data
1 Tingkat implementasi wawancara dan Panduan Guru
game therapy berbasis observasi wawancara
kearifan lokal
2 Tingkat hambatan anak Wawancara dan Panduan Guru, kepala
slow learner observasi wawancara sekolah, orang
tua
3 Tanggapan guru terkait Kuesioner dan Panduan Guru
pemberian game therapy wawancara wawancara dan
berbasis kearifan lokal kuesioner
pada pengembangan
kognitif anak slow learner

Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahapan. Pada tahap pertama dimulai dengan tahap
pra kegiatan. Pada tahap pra kegiatan dilakukan adalah studi pendahulu, menyusun rancangan
penelitian, memilih responden atau pendidik yang akan diwawancarai serta menyiapkan hal-hal
yang dibutuhkan pada pelaksanaan penelitian. Tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan.
Pada tahap ini peneliti melakukan wawancara pada pendidik PAUD serta karyawan dan

134
Eshthih Fithriyana, Hidayah
Game Therapy Based on Local Wisdom In Cognitive Development of Slow Learner Children

melakukan pengambilan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Kemudian pada tahap ketiga
adalah tahap analisis data.

Hasil Penelitian Dan Pembahasan


Slow learner dapat diartikan sebagai anak yang memiliki potensi intelektual yang berada sedikit
dibawah normal namun tidak dapat dikategorikan sebagai tunagrahita. Anak dengan kategori
slow learner cenderung mengalami hambatan atau keterlambatan dalam berpikir.
Kemampuannya dalam merespon rangsangan dari guru atau orang dewasa lainnya sedikit
terlambat daripada teman seusianya. Slow learner juga mengalami hambatan pada
perkembangan kognitifnya.
Perkembangan kognitif menurut Piaget adalah kemampuan seseorang merasakan dan
mengingat, serta membuat alasan untuk berimajinasi (Musbikin, 2010). Perkembangan kognitif
merupakan proses berfikir, dimana anak memunculkan kemampuan menghubungkan, menilai
dan mempertimbangkan kejadian atau suatu peristiwa tertentu. Namun pada kenyataannya
anak yang tergolong slow learner khususnya anak slow learner pada kedua lembaga yang
menjadi subjek penelitian ini menunjukan bahwa mereka sedikit mengalamai masalah dan
hambatan pada perkembangan kognitifnya. Berdasarkan hasil wawancara dan analisis data
angket menunjukan bahwa anak slow learner membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Mereka juga membutuhkan pengulangan berkali-
kali untuk memahami suatu perintah atau aturan tertentu, oleh karena itu anak dengan kategori
slow learner membutuhkan pelayanan pendidikan khusus, atau bantuan tertentu.
Terdapat beberapa karakteristik anak dengan kategori slow learner yang perlu
diperhatikan yaitu (1) anak slow learner memiliki kemampuan intelektual lebih rendah namun
berbeda dengan anak penyandang tunagrahita, (2) anak slow learner menunjukan kemampuan
intelektual yang tinggi apabila suatu informasi atau perintah tertentu disampaikan secara
kongkrit, (3) anak slow learner mengalami kesulitan dalam menyusun informasi baru serta
mengaitkannya dengan informasi sebelumnya, (4) anak slow learner membutuhkan waktu yang
lebih lama dalam belajar atau menyelesaikan tugas tertentu.(Vasudevan, 2017)
Anak slow learner perlu mendapatkan layanan dan bantuan yang serius. Guru atau
pendidik memiliki peranan yang sangat penting dalam menangani permasalahan anak slow
learner. Hal tersebut dikarenakan guru perlu mengidentifikasi adanya hambatan-hambatan yang
dialami anak serta melakukan perbaikan. Guru perlu memperbaiki proses pembelajaran dengan
memanfaatkan lingkungan sekitar untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kongkrit. Salah
satu cara yang dapat dipilih guru yaitu dengan memanfaatkan lingkungan adalah dengan
memanfaatkan budaya disekitar anak (Ardianti et al., 2019).
Indonesia masyhur dengan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki kekayaan
ragam budaya yang luhur. Budaya tersebut adalah harta kekayaan bangsa
Indonesia yang harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya sejak usia dini. Sesuai dengan
hadits Rosulallahi SAW :

)‫ارحموا من في االرض يرحمكم من في السماء (رواه بخارمسلم‬: ‫قال رسول هللا صلي هللا عليه وسلم‬
artinya : “Sayangilah yang ada di bumi niscaya semua yang ada di langit akan menyayangi
kalian” ( HR : Bukhori Muslim ).(Baqi, 2010)

Dengan begitu ketika anak menjadi dewasa mampu melestarikan,menjaga dan


menyanyangi kearifan lokal yang ada di Indonesia. Kekayaan kearifan lokal perlu dibudayakan
dalam kehidupa sehari-hari. Kearifan lokal memuat nilai-nilai luhur Bangsa yang syarat akan
pengetahuan, nilai, aturan serta adat istiadat yang berada dalam masyarakat tertentu.(Brata Ida

135
The 4th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education
Yogyakarta, December 7th 2019

Bagus, 2016). Salah satu kekayaan kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan guru adalah
permainan tradisional congklak.
Pemberian terapi bermain (game therapy) berbasis kearifan lokal dapat membantu anak
slow learner untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dialaminya dalam memahai aturan
atau informasi tertentu. Game therapy berbasis kearifan lokal merupakan usaha untuk merubah
perilaku bermasalaah dengan menempatkan anak dalam situasi bermain. Pada saat melakukan
game therapy anak datang untuk mengekpresikan dan membuat beberapa pengalaman melalui
bermain. Game therapy membantu anak untuk mengatasi permasalahan yang dialaminya
dengan menggunakan permainan sebagai perantara bagi anak dan guru. Game therapy
memungkinkan anak untuk melepaskan emosi-emosi yang belum mampu ia keluarkan
sebelumnya. Game therapy yang akan diberikan kepada anak slow learner akan lebih bermakna
apabila dilakukan dengan mempertimbangkan kearifan lokal tempatnya tinggal, karena anak
akan merasa lebih akrab.
Game therapy adalah sebuah proses terapeutik yang menggunakan kegiatan bermain
atau permainan tertentu sebagai media terapi agar mempermudah melihat ekspresi yang
dialami anak yang tidak bisa diungkapkan dalam bahasa verbal.(Widiasari, Susiati and Saputra,
2016). Game therapy menitik beratkan pada gerakan seseorang (psikomotor performance)
dengan berbentuk suatu permainan. Kegiatan game therapy yang diterapkan didasarkan pada
karakteristik anak yaitu senang bermain. Game therapy diterapkan sesuai dengan tahap
perkembangan kognitif anak yang masih berada pada tahap praoperasional, sehingga
pengolahan informasi yang diterima melalui aktivitas imitasi tidak langsung, permainan simbolis,
menggambar, gambaran mental dan bahasa ucapan.(Papalia, Olds and Feldman, 1990).
Berdasarkan data hasil penelitian pengembangan game therapy berbasis kearifan lokal di
RA Subulus Salam Bojonegoro dan RA Nurul Ulum Bojonegoro memiliki potensidan prospek
yang sangat besar. Jika dilihat dari komposisi guru dan anak didik yang berlatar belakang jawa
maka pemberian game therapy berbasis kearifan lokal khas Bojonegoro dapat dilakukan dan
dikembangkan khususnya untuk memberikan pengajaran pada anak slow learner. Game therapy
berbasis kearifan loka adlah teknik intervensi yang dapat digunakan guru untuk membantu anak
usia dini khususnya slow learner mengatasi permasalahan dan hambatan dalam pembelajaran
dengan menggunakan permainan tradisional congklak. Jika dibandingkan dengan
menggunakan permainan modern, permainan tradisional memiliki lebih banyak manfaat. Selain
melatih kemampuan intelektual atau kognitif anak, juga dapat melatih kemampuan anal slow
learner dalam berinteraksi dengan temannya, melatih kemampuan bekerjasama, melatih
kreativitas serta emosi anak.
Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukan bahwa game therapy berbasis kearifan
lokal memiliki dampak yang signifikan dalam membantu anak usia dini khususnya slow learner
dalam menghapai maslah atau hambatannya dalam pembelajaran. Penelitian yang dilakukan
oleh Kurniati (2011) menyimpulkan bahwa permainan tradisional memberikan peranan yang
signifikan dalam pengembangan ketrampilan sosial anak, karena anak-anak dapat berinteraksi
secara langsung dengan teman dan guru. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Pratiwi dan
Kristanto (2015) menyimpulkan bahwa permainan tradisional engklek secara signifikan
mempengaruhi perkembangan motoric kasar anak usia dini, karena permainan ini selain
menyenangkan bagi anak juga memberikan kesempatan anak untuk bergerak lebih aktif dalam
situasi yang menyenangkan.
Penelitian-penelitian tersebut menunjukan bahwa game therapy berbasis kearifan lokal
merupakan salah satu alternative yang perlu dirancang dan dilakukan oleh guru pendidikan
anak usia dini untuk mengatasi anak slow learner dalam mengembangkan seluruh aspek
perkembangan khususnya perkembangan intelektual atau kognitif anak. Salah satu alasan kuat
bahwa game therapy berbasis kearifan lokal memiliki dampak efektif terhadap permasalahan
anak slow learner dalam mengatasi hambatan perkembangan kognitifnya adalah teknik tersebut
sesua dengan karakteristik anak usia dini, yaitu bermain (Elisabet, 2010).

136
Eshthih Fithriyana, Hidayah
Game Therapy Based on Local Wisdom In Cognitive Development of Slow Learner Children

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat dikemukakan kesimpulan game
therapy berbasis kearifan lokal merupakan salah satu alternative pembelajaran yang dapat
dilakukan guru dalam memberikan layanan pada anak slow learner. Karena selain
menyenangkan bagi anak game therapy berbasis kearifan lokal juga efektif dalam
pengembangan kemampuan kognitif anak usia dini.
Saran bagi peneliti hendaknya; mengembangkan penelitian lanjutan tentang game
therapy berbasis kearifan lokal lainnya yang dapat mengembangkan kemapuan anak usia dini
khususnya anak slow learner. Perlu juga untuk mengadakan penelitian yang fokus pada
kemampuan memahami anak slow learner , dan membuktikan lebih jauh tentang potensi
pengembangan game therapy berbasis kearifan lokal pada pengembangan anak slow learner di
lembaga pendidikan anak usia dini.

Referensi
Ardianti, S. D. et al. (2019) ‘Respon Siswa dan Guru Terhadap Modul Ethno-Edutainment Di
Sekolah Islam Terpadu’, Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 14(1), pp. 1–24.
Baqi, M. F. A. (2010) Kumpulan Hadist Shahih Bukhori Muslim. Jakarta: Insan Kamil.
Brata, I. B. (2016) ‘Kearifan Budaya Lokal Perekat Identitas Bangsa’, Jurnal Bakti Saraswati
Denpasar, Universitas Mahasaraswati, 05(01), pp. 9–16.
Brata Ida Bagus (2016) ‘Kearifan BudayaLokal Perekat Identitas Bangsa’, Jurnal Bakti Saraswati.
Diakses Pada Hari Minggu 20 Juli 2019. Pukul 00.00 WIB . doi: 10.1007/s11104-008-9614-
4.
C. E,Burtton,eid, S. E. & S. (1986) Game play therapeutic use of chillhood games,. Kanada: John
Wiley & Sons, Inc.v,.
Chamidah, A. N. (2010) ‘Pendidikan inklusif untuk anak dengan kebutuhan kesehatan khusus’,
JPK (Jurnal Pendidikan Khusus), 7(2).
Elisabet, H. (2010) Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup.,
Erlangga.
Fajarini, U. (2014) ‘Peranan kearifan lokal dalam pendidikan karakter’, SOSIO-DIDAKTIKA: Social
Science Education Journal, 1(2), pp. 123–130.
G. L, L. (2002) Play therapy: the art of the relationship. 2nd edn. New York: Brunner-Routledge.
Hall, T. M., Kaduson, H. G. and Schaefer, C. E. (2002) ‘Fifteen Effective Play Therapy Techniques’,
Professional Psychology: Research and Practice. doi: 10.1037/0735-7028.33.6.515.
Hasanah, Uswatun. (2016). Pengembangan Kemampuan Fisik Motorik Melalui Permainan
Tradisional bagi Anak Usia Dini, Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak, 2(1),
Herawati, N. I. (2016) ‘Pendidikan Inklusif’, EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus
Cibiru. doi: 10.17509/eh.v2i1.2755.
Heryanti, V. et al. (2014) ‘MENINGKATKAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK MENINGKATKAN
PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK’, Skripsi.
Indriyani, I. (2011) ‘Play Therapy Pembelajaran Mitigasi Bencana Tanah Longsor untuk ABK.’,
Bulletin Vulkanologi dan Bencana Geologi, 6(3), pp. 7–15.

137
The 4th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education
Yogyakarta, December 7th 2019

Khadijah dan Ramadhan Lubis. (2018). Permainan Tradisional sebagi Pengembangan Kecerdasan
Emosi Anak. Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak, 4 (2).pp. 177-186.
http://dx.doi.org./10.14421/al-athfal.42-05
Koentjaraningrat (2009) Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Madyawati, L., Zubadi, H. and Yudi, D. (2016) ‘THE DEVELOPMENT OF MULTIPLE INTELLIGENCE
BASED PLAY THERAPY MEDIA FOR CHILDREN AFTER THE DISASTER IN CENTRAL JAVA’,
pp. 17–29.
Martinis .Y dan Sanan J. (2010) Panduan pendidikan anak usia dini. Jakarta: Gaung Persada.
Montolalu, D. (2007) Bermain dan Permainan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka.
Musbikin, I. (2010) Buku Pintar PAUD. Jogjakarta: Laksana.
Papalia, D. E., Olds, S. W. and Feldman, R. D. (1990) A child’s world: Infancy through adolescence.
McGraw-Hill New York.
Perempuan, K. P. (2013) ‘Panduan penanganan anak berkebutuhan khusus bagi pendamping
(orang tua, keluarga, dan masyarakat)’, Kementrian Perlindungan Anak dan Perempuan:
Jakarta.
Rahayu, S. M. (2013) ‘Memenuhi Hak Anak Berkebutuhan Khusus Anak Usia Dini Melalui
Pendidikan Inklusif’, Jurnal Pendidikan Anak, 2(2).
Santi Widiasari, Dkk (2016) ‘PLAY THERAPY BERBASIS KEARIFAN LOKAL: PELUANG
IMPLEMENTASI TEKNIK KONSELING DI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI’, Jurnal CARE
(Children Advisory Research and Education) Volume 04 Nomor 1 Juni 2016 61, 04(2016),
pp. 61–68.
Sudrajat, A. (2008) Pengertian,Pendekatan,Strategi,Metode,Teknik dan Model Pembelajaran.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sudaryanti, Joko Pamungkas, Amir Syamsudin, dan Harun. (2019). Survei Pembelajaran Kearifan
Lokal di Taman Kanak-kanak Se-Provinsi Daerah Istimewa Yogykarta. Al-Athfal: Jurnal
Pendidikan Anak 5(1) pp. 1-20. http://dx.doi.org./10.14421/al-athfal.2019.51-01.
Vasudevan, A. (2017) ‘Slow learners – Causes , problems and educational programmes’,
International Journal of Applied Research 2017.
Wahyudin, U. and Agustin, M. (2012) ‘Penilaian Perkembangan Anak Usia Dini: Panduan untuk
Guru, Tutor, Fasilitator dan Pengelola Pendidikan Anak Usia Dini’, Bandung: Refika
Aditama.
Widiasari, S., Susiati, I. and Saputra, W. N. E. (2016) ‘Play Therapy Berbasis Kearifan Lokal:
Peluang Implementasi Teknik Konseling di Pendidikan Anak Usia Dini’, Jurnal CARE
(Children Advisory Research and Education), 4(1), pp. 61–68.
Wulansari, B. Y. and Ponorogo, U. M. (2017) ‘Jurnal Ilmiah Pendidikan PraSekolah dan Sekolah
Awal’, (1), pp. 1–11.

138