Anda di halaman 1dari 22

Tugas ilmia

Mujiarah,Ajaran Dan Tokohnya (Mujiarah,Latar Belakang


Munculnya Mujiarah,Pokok-Pokok Ajaran Mujiara,Tokoh-
Tokoh Aliran Mujiarah

DISUSUN

OLEH:

KELOMPOK 5

1. Sri vega wahyuni/ 112019004

2. Rahayu hawani/112019051

3. Marinil/ 112019050

Dosen Pengampuh Aidil Saputra, S. Pd. I, MA

KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
TENGKU DIRUNDENG MEULABOH
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
KATA PENGANTAR

 Puji dan syukur kehadiran ALLAH SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang. Dengan rahmat, petunjuk, dan karunianya, akhirnya kami dapat
menuliskan makalah ilmu kalam Berjudul “mujiarah, ajaran dan tokohnya.” ini.
Fungsi utama dari makalah ini adalah untuk menjelaskan dan membuat teman-teman
menjadi lebih aktif lagi.

Makalah ini kami buat untuk panduan kepada teman-teman semuanya berupa
materi yang bermanfaat bagi teman-teman semuanya. Materi-materi yang akan kami
sampaikan nanti semoga bermamfaat untuk teman-teman semuanya.

Maka dari itu kami ingin mengajak teman-teman semua untuk mendengarkan
penjelasan yang akan kami jelaskan nantinya.Semoga makalah ini dapat bermanfaat
untuk teman-teman semuanya Amiinnn....... 

                                                                                   
 Meulaboh, 17 november 2020

                                                                                                  
Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................1

LATAR BELAKANG.................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN............................................................................2

1. PENGERTIAN MURJI’AH ..............................................................2

2. AJARAN DALAM POKOK..............................................................2

3. SEKTE SEKTE DALAM MURJI’AH..............................................2

BAB III PENUTUP.....................................................................................17

KESIMPULAN...........................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................18
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kaum muslimin terpecah menjadi beberapa kelompok yang mengusung beragam


pemikiran. Hal ini, tidak lain karena kaum muslimin jauh dari ajaran Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan jauh dari pemahaman para sahabatnya dalam beragama. Mengenai
perpecahan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mensinyalir dalam sebuah
hadits yang berarti:

“Sesungguhnya, barangsiapa di antara kalian yang hidup, maka ia akan melihat


perselisihan yang banyak. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang baru, karena ia
adalah kesesatan. Barang siapa di antara kalian yang mendapatinya, maka wajib berpegang
teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafa-ur rasyidin al-mahdiyin; gigitlah ia dengan
gigi gerahammu” [HR At-Tirmidzi]

Al- Asy’ari menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Prinsip-prinsip Dasar Aliran Theologi
Islam, bahwa perpecahan dalam masyarakat muslim secara implisit muncul sejak
pemberontakan terhadap kekhalifahan Utsman bin Affan. Kemudian terjadi perlawanan
Mu’awiyah, Talha dan Zubair terhadap Ali karena perebutan kekuasaan politik.
Pemberontakan melawan Utsman dipimpin oleh khawarij. Pemberontakan dan
perang saudara ini mengakibatkan reaksi keras umat muslim. Reaksi ini menimbulkan
dukungan masyarakat yang dikenal dengan irja’. Sikap pragmatis ini, kemudian dirumuskan
sebagai ajaran.
Untuk mengenal dan memahami pemikiran aliran ini, maka pemakalah memaparkan
sejarah, pokok ajaran dan sekte-sekte yang muncul dalam aliran Murji’ah.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah munculnya aliran Murji’ah?
2. Apa ajaran pokok dalam aliran Murji’ah?
3. Apa dan berapa sekte dalam aliran Murji’ah?
C. Tujuan
1. Untuk menguraikan sejarah munculnya aliran Murji’ah.
2. Untuk menguraikan ajaran pokok dalam aliran Murji’ah.
3. Untuk mengulas sekte-sekte dalam aliran Murji’ah.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Sejarah Munculnya Murji’ah
1. Pengertian Murji’ah
Kata al-Murji’ah adalah bentuk isim fa’il yang mendapat ta’ marbutah (murji’un-murji’atun).
Fi’il madhinya (arja’a)-yurji’u-irja’a, artinya bisa bermacam-macam yaitu menunda
(menangguhkan), memberi harapan dan mengesampingkan.Nurdin menguraikan ketiga makna
tersebut sebagai berikut:1
a. Menunda (menangguhkan) maksudnya ialah dalam menghadapi sahabat-sahabat yang
bertentangan, mereka tidak mengeluarkan pendapat siapa yang bersalah. Sikap
mereka adalah menunda dan menangguhkan penyelesaian persoalan tersebut di hari
akhirat kelak di hadapan Allah.
b. Memberi harapan maksudnya ialah orang-orang Islam yang berbuat dosa besar tidak
mrnyeabkan mereka menjadi kafir. Mereka tetap mukmin dan tetap mendapatkan
rahmat Allah meskipun mereka harus masuk lebih dahulu dalam neraka karena
perbuatan dosanya. Nama al-Murji’ah diberikan untuk golongan ini karena mereka
memberi pengharapan bagi orang yang berdosa besar untuk masuk surga.
c. Mengesampingkan maksudnya ialah golongan ini menganggap yang penting dan
diutamakan adalah iman, sedang amal perbuatan hanya merupakan soal kedua, yang
menentukan mukmin atau kafirnya seseorang adalah imannya bukan perbuatannya.
Dengan kata lain perbuatan itu berada di belakang setelah iman dalam pengertian
kurang penting atau dikesampingkan.

Sedangkan Dr. Abdul Mun’im Al-Hafni menjelaskan bahwa irja’ memiliki dua makna; yang
pertama adalahta’khir (mengakhirkan, maksudnya; kelompok ini sepakat untuk mengakhirkan
amal setelah iman). Sedangkan makna kedua adalah i’tha’u ar-raja’a (memberikan harapan;
pengikut kelompok ini sepakat memberi harapan bagi pelaku dosa besar, tetap mendapatkan
pahala atas keimanannya).2
Belum ada bukti yang pasti mengenai siapa yang menamai golongan ini, Nurdin menyatakan
bahwa terdapat kecenderungan golongan mereka sendiri yang menamainya. 3 Penamaan tersebut
diilhami oleh ayat Al-Qur’an, QS. At-Taubah (9): 106;
ِ ِ
)106( ‫يم‬ ٌ ‫وب َعل َْي ِه ْم واهلل َعل‬
ٌ ‫يم َحك‬ ُ ُ‫ألم ِر اهلل َّإما َيت‬
ْ ‫َوآ َخ ُرو َن ُم ْر َج ْو َن‬

3
“Dan ada (pula)orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah;
adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat
mereka. Dan Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”(QS. At-Taubah (9): 106 ).
2. Asal-usul Aliran Murji’ah
Lahirnya al-Murji’ah sebagai suatu aliran teologi dalam Islam, merupakan reaksi terhadap
paham-paham yang dilontarkan oleh aliran al-Khawarij, suatu paham dalam teologi Islam yang
dikembangkan oleh segolongan pengikut Ali bin Abi Thalib, yang tidak menyetujui gencatan
senjata dalam perang Shiffin melawan Muawiyah. 4 Hal ini sama dengan pernyataan Fazlu Rahman
bahwa reaksi atas Khawarij ini menimbulkan dukungan terhadap sikap para pasif atau minimal
non-aktivis di masyarakat yang dikenal sebagai irja’.5
Aliran teologi al-Murji’ah sebagaimana juga al-Khawarij, pada mulanya ditimbulkan oleh
kasus politik, tegasnya, persoalan khilafah yang membawa perpecahan di kalangan umat Islam
setelah Utsman bin Affan mati terbunuh. Muncullah kaum al-Khawarij yang berbalik memusuhi
Ali. Perlawanan mereka ini memperkuat pendukung-pendukung yang bertambah keras membela
Ali dan akhirnya mereka membentuk golongan tersendiri dalam Islam yang dikenal dengan nama
Syi’ah (Syi’atu Aliyin). Meskipun Syi’ah dan al-Khawarij bermusuhan, namun mereka sama-sama
menentang kekuasaan Bani Umayah dengan motif yang berlainan. Al-Khawarij menentang Bani
Umayah karena mereka manganggap Bani Umayah telah menyeleweng dari ajaran Islam, sedang
Syi’ah menentang Bani Umayah karena memandang mereka telah merampas kekuasaan dari Ali
dan keturunannya.6
Pemimpin Murji’ah ini adalah Hasan bin Bilal Al-Muzni, Abu Salat as-Saman, Tsauban
Dliror bin Umar. Penyair Murji’ah yang terkenal pada pemerintahan Bani Umayah ialah Tsabit bin
Quthanah, mengarang syair kepercayaan-kepercayaan kaum Murji’ah.7
Abu Zahirah dalam Nurdin menjelaskan bahwa dalam suasanan pertentangan semacam
inilah muncul golongan al-Murji’ah yang ingin bersikap netral dan tidak mau turut dalam praktik
kafir mengkafirkan di antara golongan yang bertentangan itu. Bagi mereka, sahabat-sahabat yang
bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat dipercaya dan tidak keluar dari jalan yang
benar. Oleh karena itu, kaum al-Murji’ah tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang

4
M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam......, h. 22, lihat Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,
(Jakarta: CV Pustaka Setia, 2008), h.. 111
5
Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan dalam Islam-Studi Tentang Fundamentalisme Islam, (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2001), h. 94

6
Ibid., h. 23
7
Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam (Teologi Islam)-Sejarah, Ajaran, dan Perkembangannya, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2012), h. 152
sebenarnya bersalah. Mereka memandang lebih baik menunda penyelesaian persoalan mereka
kepada Tuhan di akhirat kelak.8
Dengan sikap tersebut, Murji’ah tidak mengalami tekanan dari Bani Umayah seperti yang
dialami oleh Khawarij dan Syiah serta secara tidak langsung Murji’ah mendukung kekuasaan
dinasti Umayah. Sehingga reduplah nama Murji’ah seiring lenyapnya kekuasaan dinasti Umayah
dikemudian hari.
Selain teori yang diungkapkan oleh Nurdin di atas, terdapat beberapa teori lain tentang
asal-usul al-Murji’ah seperti yang tertulis dalam buku Rosihon Anwar yang berjudul Ilmu Kalam,
sebagai berikut:9
a. Teori pertama mengatakan bahwa gagasanirja’ atau arja dikembangkan oleh sebagian
sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi
pertikaian politik dan juga menghindari sektarianisme. Murji’ah, baik sebagai kelompok
politik maupun teologis, diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculan Syi’ah dan
Khawarij, kelompok ini merupakan musuh berat Khawarij.
b. Teori kedua10 mengatakan bahwa, gagasan irja’, yang merupakan basis doktrin Murji’ah,
muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi
Thalib, Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah sekitar tahun 695 H. Penggagas teori ini
menceritakan bahwa 20 tahun setelah kematian Muawiyah , pada tahun 680 H dunia
Islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Al-Mukhtar membawa paham Syi’ah ke Kufah dari
tahun 685-687 H; Ibn Zubayr mengklaim kekhalifahan di Mekah hingga yang berada di
bawah kekuasaan Islam. Sebagai respon dari keadaan ini, muncul gagasan irja’atau
penangguhan (postponenment). Gagasan ini pertama kali dipergunakan oleh cucu Ali
dalam surat pendeknya. Dalam surat itu, Al-Hasan menunjukkan sikap politiknya dengan
mengatakan, “Kita mengakui Abu Bakar dan Umar, tetapi menangguhkan keputusan atas
persoalan yang terjadi pada konflik sipil pertama yang melibatkan Utsman, Ali dan
Zubayr”. Dengan sikap politik ini al-Hasan mencoba menanggulangi perpecahan umat
Islam. Ia kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok Syiah revolusioner yang
terlampau mengagungkan Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij
yang menolak mengakui kekhalifahan Muawiyah dengan alasan bahwa ia adalah
keturunan si pendosa Utsman.
c. Teori ketiga menceritakan bahwa ketika terjadi perseteruan antara Ali dan Muawiyah,
dilakukanlah tahkim (arbitrase) atas usulan Amr bin Ash, seorang kaki tangan Muawiyah.

10
Kelompok Ali terpecah menjadi dua kubu, pro dan kontra. Kelompok kontra yang
akhirnya menyatakan keluar dari Ali, yakni kubu Khawarij. Mereka memandang bahwa
tahkim bertentangan dengan Al-Qur’an, dalam pengertian, tidak bertahkim berdasarkan
hukum Allah. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim itu dosa
besar dan pelakunya dihukumi kafir. Pendapat ini ditentang sekelompok sahabat
bernama Murji’ah, yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin,
sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah Dia akan mengampuni atau tidak.
Dari seluruh uraian di atas, dapat diketahui bahwa Murji’ah lahir dengan membawa paham
yang sama sekali bertentangan dengan paham Khawarij.

B. Ajaran dalam Murji’ah


1. Ajaran Pokok Murji’ah
Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja’ yang
diaplikasikan dalam banyak persoalan baik persoalan politik atau teologis. Di bidang politik,
doktrin irja’ diimplementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok, yang hampir selalu
diekspresikan dengan sikap diam. Itulah sebabnya, kelompok Murji’ah dikenal pula sebagai the
queietists (kelompok bungkam).11
Sedangkan dalam bidang teologi, menurut Ahmad Amin dalam Nurdin, persoalan yang
dibicarakan dalam aliran ini berkisar pada pembahasan tentang iman, kufur, mukmin dan
kafir.12Persoalan tersebut dibahas dalam aliran ini, karena melihat golongan Khawarij yang
mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar, dan Syi’ah memasukkan ketaatan kepada imam
sebagai salah satu rukun iman.
Kemudian muncullah pendapat Murji’ah mengenai iman, seperti yang ditulis oleh Nurdin
bahwa iman adalah mengetahui Allah dan rasul-rasul-Nya. Barangsiapa yang mengetahui bahwa
tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mereka adalah mukmin. 13 Hanya imanlah
yang penting dan yang menentukan mukmin atau tidaknya seseorang, perbuatan tidak
berpengaruh dalam hal ini. Dengan demikian, ucapan dan perbuatan seseorang tidak merusak
iman seseorang.14
Oleh karena itu, bagi kaum Murji’ah, seorang yang melakukan dosa besar dengan iman
dalam hatinya tidak dihukumi kafir. Sebaliknya, Khawarij menghukumi kafir pendosa besar,
walaupun masih terdapat iman dalam hatinya. Dengan demikian, jelas bahwa iman bagi Murji’ah

11
Rosihon Anwar, Ilmu Kalam....., h. 58
12
M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam.....,h. 25
13
Ibid., h. 26
14
Novan Ardi Wiyani, Ilmu Kalam, (Jogjakarta: teeras, 2015), h. 67
hanya keyakinan dalam hati yang tidak berkaitan dengan amal atau perbuatan.Dasar teologi yang
dibangun oleh Murji’ah tersebut sangat menguntungkan bagi Bani Umayah.
Secara politis, berarti penguasa Bani Umayah tidak putus kedudukannya sebagai anggota
masyarakat karena melakukan sesuatu yang dianggap dosa oleh orang Islam. Konsekuensinya
pendapat demikian ialah bahwa pemberontakan terhadap Bani Umayah tidak sah menurut
hukum. Dengan demikian maka kaum Murji’ah merupakan golongan pertama dan utama yang
mendukung Bani Umayah atas dasar agama.15
Dengan lindungan dinasti Umayah inilah Murji’ah berkembang, sehingga timbul
perbedaan pendapat antar tokoh didalamnya yang akhirnya memunculkan sekte-sekte dalam
aliran ini. Jumlah sekte dalam aliran ini belum diketahui secara pasti karena terdapat perbedaan
pendapat dari para ahli yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian C.
Berkaitan dengan doktrin teologi Murji’ah, W. Montgomery Watt merincinya sebagai
berikut:16
a. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya di
akhirat kelak.
b. Penangguhan Ali untuk menduduki ranking keempat dalam peringkat Al-Khalifah Ar-
Rasyidun.
c. Pemberian harapan (giving of hope) terhadap orang muslim yang meakukan dosa
besar untuk memperoleh ampunan dari rahmat Allah.
d. Doktrin-doktrin Murji’ah menyerupai (madzhab)para skeptis dan empiris dari
kalangan Helenis.

Masih berkaitan dengan doktrin teologi Murji’ah, Harun Nasution dalam Anwar
menyebutkan empat ajaran pokoknya, yaitu:17
a. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asy’ari yang
terlibat tahkim dan menyerahkan kepada Allah di hari kiamat kelak.
b. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
c. Meletakkan (pentingnya) iman daripada amal.
d. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh
ampunan dan rahmat dari Allah.

Sementara itu, Abu A’la Al-Maududi menyebutkan dua doktrin pokok ajaran Murji’ah: 18

15
Ibid., h. 27, lihat juga W. Montgomery Watt, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam (terj.), Basalim
dari PPP dan M, (T. tp: Jakarta, 1987), h. 43
16
Rosihon Anwar, Ilmu Kalam....., h. 58
17
Ibid., h. 58-59
18
Ibid., h. 59
a. Iman adalah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Adapun amal dan perbuatan
tidak merupakan keharusan. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap mukmin walaupun
meninggalkan perbuatan yang difardhukan dan melakukan dosa besar.
b. Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman di hati, setiap
maksiat tidak mendatangkan mudharat. Untuk mendapatkan pengampunan, manusia
cukup hanya dengan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah
tauhid.

Selain ajaran-ajaran pokok yang disebutkan oleh para ahli di atas, terdapat berbagai
perbedaan anggapan tentang ajaran dalam aliran ini.
2. Perbedaan Anggapan dalam Murji’ah
Aliran yang awal pertumbuhannya karena masalah politik, kemudian pindah ke ranah
teologi ini, dalam perkembangannya, terdapat berbagai perbedaan anggapan pada ajaran-ajaran
Murji’ah menurut para pengikutnya:19

a. Iman
Tentang iman terdapat duabelas kelompok anggapan. 1) Kelompok pertama ialah
Jahamiyyah, para pengikut Jaham ibn Shafwan, mereka beranggapan bahwa iman
meliputi pengenalan terhadap-Nya, Rasul-Nya dan apapun yang didatangkan-Nya
sedangkan amal baik tidak termasuk iman. Lebih jauh kelompok ini beranggapan
bahwa seseorang yang mengenali Allah kemudian mengingkari Allah secara lisan tidak
dianggap kufur (karena perbuatan bukan termasuk iman), 2) Kelompok kedua ialah
pengikut Abu al-Husein al-Shali dimana mereka beranggapan bahwa iman hanya
pengenalan terhadap Allah semata dan kufur pun hanya kejahilan atas-Nya sehingga
tiadalah keimanan tanpa mengenal-Nya dan tiada pula kekufuran kalau tidak jahil
atas-Nya. Oleh karena itu seseorang yang mengatakan Allah itu ada tiga tidak
dianggap kafir kecuali secara dhahir sebagai orang kafir. Sebab kaum muslimin pun
bersepakat (menurut anggapan mereka) tidak mengkufurkan perkataan seseorang
kalau dia bukan orang kafir, 3) Kelompok ketiga ialah pengikut Yunus al-Samiri,
dimana mereka beranggapan bahwa iman itu pengenalan terhadap-Nya, patuh atas-
Nya, tidak bersikap sombong kepada-Nya dan mencintai-Nya. Mereka beranggapan
seseorang tidak disebut mukmin kecuali pada dirinya terhimpun hal-hal tersebut.
Kadang-kadang mereka menyebut kafir jika seseorang itu meninggalkan salah satu
dari hal itu, sekalipun Yunus al-Samiri konon tidak beranggapan begitu.
19
Abul Hasan Isma’il al-Asy’ari, Prinsip-prinsip Dasar Aliran Theologi Islam (terj.), (Bandung: CV
Pustaka Setia, 1998), h. 196-219
Sedangkan kelompok keempat 4) ialah para pengikut Syamriyyah (pengikut Abu
Syamr dan Yunus), mereka beranggapan bahwa iman itu pengenalan terhadap Allah,
patuh atas-Nya, mencintai-Nya sepenuh hati dan menyatakan ikrar bahwa Dia itu Esa
tanpa sesuatu apapun yang menyerupai-Nya. Maka mereka menganggap iman itu
ialah menyatakan dan membenarkan semua hal ini, sementara pengenalan terhadap
sesuatu yang didatangkan Allah termasuk iman, 5) Kelompok kelima ialah pengikut
Tsaubaniyyah, para pengikut Abu Tsauban.Mereka menganggap iman itu menyatakan
ikrar kepada Allah, rasul-Nya, terhadap apa pun yang boleh secara akal untuk tidak
diperbuat. Karena itu iman, menurut anggapan mereka, bukanlah sekedar mengenal
Allah semata, 6) Kelompok keenam, Najariyyah, ialah para pengikut Muhammad al-
Najar. Mereka beranggapan bahwa iman itu pengenalan terhadap Allah, rasul-Nya,
segenap kewajiban dari-Nya, patuh atas semua yang diwajibkan-Nya dan menyatakan
ikrar secara lisan. Karena itu kalau seseorang tidak mengenal semua hal ini ataupun
hanya mengenalnya tanpa menyatakan ikrar niscaya dia pun disebut sebagai orang
kafir. 7) Kelompok ketujuh ini, Ghailaniyyah ialah para pengikut Ghailani. Mereka
beranggapan bahwa, iman itu pengenalan terhadap Allah berdasarkan akal dan dalil-
dalil-Nya, mencintai-Nya, mematuhi-Nya, menyatakan ikrar kepada rasul-Nya dan
atas segenap yang didatangkan-Nya.
Kemudian 8) Kelompok kedelapan ini ialah para pengikut Muhammad ibn Syabib,
beraggapan bahwa Dia adalah Esa tanpa sesuatu yang menyerupai-Nya, iman itu
menyatakan ikrar kepada Allah dan mengakui segala yang didatangkan oleh Allah
kepada orang muslim melalui Rasulullah SAW seperti halnya salat, puasa dan lainnya,
9) Kelompok kesembilan ialah para pengikut Hanifah yang dikenal sebagai
Hanafiyyah, iman itu mengenal dan menyatakan ikrar kepada Allah, rasul-Nya dan
apapun yang didatangkan Allah secara total, 10) Kelompok kesepuluh, Tumaniyyah
ialah para pengikut Abu Mu’adz al-Tumani. Mereka beranggapan bahwa iman itu
merupakan hal yang menghindarkan seseorang dari kekufuran, yang penamaan
tersebut diberikan untuk beberapa hal dan kalau seseorang meninggalkan hal ini
ataupun sebagainya, niscaya dia pun disebut orang kafir, 11) Kelompok kesebelas,
Marisiyyah ialah pengikut Bisyr al-Marisi. Mereka beranggapan bahwa iman
merupakan pembenaran (tashdiq) secara lisan dan hati, (12 Kelompok keduabelas,
Karamiyyah ialah pengikut Muhammad ibn Karam. Mereka beranggapan bahwa iman
itu menyatakan ikrar dan pembenaran secara lisan, bukan dengan sepenuh hati.
Bahkan orang munafik di zaman Rasulullah pun menurut anggapan mereka pada
dasarnya adalah mukmin. Karena itu disebut kufur jika mengingkari-Nya secara lisan.
b. Batasan Kufur
Tentang hal ini terbagi menjadi tujuh kelompok anggapan. 1) Kelompok pertama
ialah pengikut Jahamiyyah yang beranggapan kufur itu merupakan sesuatu hal yang
berkenaan dengan hati dimana hati tidak mengenal (jahl) terhadap Allah SWT, 2)
Kelompok kedua beranggapan bahwa kufur itu merupakan banyak hal yang
berkenaan dengan hati ataupun selainnya, 3) Kelompok ketiga ...20, 4) Kelompok
keempat beranggapan bahwa kufur terhadap Allah itu mendustakan-Nya,
membangkang terhadap-Nya dan mengingkari-Nya secara lisan. Karena itu tidaklah
kekufuran kecual dengan lisan dan bukan selainnya, anggapan ini dikemukakan oleh
Muhammad ibn Karam dan para pengikutnya, 5) Kelompok kelima beranggapan
bahwa kufur itu membangkang, melawan dan mengingkari Allah baik sepenuh hati
ataupun secara lisan, 6) Kelompok keenam ialah pengikut Abu Syamr, 7) Kelompok
ketujuh ialah para pengikut Muhammad ibn Syabib.
Adapun sebagian besar pengikut murji’ah tidak mengkufurkan seseorang yang
mentakwilkan Al-Qur’an bahkan tidak mengkufurkan siapapun selain yang
kekufurannya itu telah disepakati oarang-orang Islam.
c. Perbuatan Maksiat
Tentang hal ini terbagi menjadi dua kelompok anggapan. 1) Kelompok pertama
ialah para pengikut Bisyr al- Marisi yang beranggapan bahwa segenap perbuatan
maksiat terhadap Allah itu termasuk dosa besar, 2) Kelompok kedua beranggapan
bahwa perbuatan maksiat ini ada dua macam, yang termasuk dosa besar dan dosa
kecil.
d. Orang yang Taqlid dalam Keimanan
Tentang hal ini terpecah menjadi dua kelompok anggapan. 1) Kelompok pertama
beranggapan bahwa seseorang yang itikadnya atas keesaan Allah itu taqid tanpa
melalui pemikiran, niscaya dia tidaklah disebut mukmin, 2) Kelompok kedua
beranggapan bahwa seseorang yang itikadnya atas keesaan Allah itu taqlid tanpa
melalui pemikiran, niscaya dia tetaplah disebut mukmin.
e. Kabar yang Didatangkan Allah
Tentang hal ini terpecah menjadi tujuh kelompok anggapan. 1) Kelompok pertama
beranggapan bahwa menyetujui kebenaran kabar yang didatangkan Allah SWT jika Dia
menyatakan akan menyiksa hamba-Nya yang melakukan dosa besar. Difirmankannya:
20
Kelompok ini tidak dijelaskan oleh Al-Asy’ari
)48( ....ُ‫اد ْو َن ذلك لِ َم ْنيشاَء‬
ُ ‫إِ َّن اهلل الََي ْغ ِف ُر أَ ْن يُ ْش َر َك بِ ِه َوَي ْغ ِف ُر َم‬

Artinya: “Sesungguhnya, Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia pun hanya
mengampuni dosa selain (syirik) itu, bagi yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisa’ (4):
48)

2) Kelompok kedua, beranggapan bahwa janji pahala Allah tidaklah mengenal


pengecualian, sementara janji siksa-Nya mengenal pengecualian sekalipun tidak jelas,
3) Kelompok ketiga ialah pengikut Waqf, mereka beranggapan bahwa kabar yang
didatangkan Allah sebagai kenyataan umum baik yang berupa janji pahala maupun
janji siksa, 4) Kelompok keempat ialah pengikut Muhammad ibn Syabib, mereka
membolehkan memaknai secara umum maupun khusus mengenai ayat-ayat tentang
janji siksa dan pahala, 5) Kelompok kelima beranggapan bahwa tidak ada janji siksa
bagi muslim yang ahli salat, karena janji siksa hanya untuk orang musyrik, 6)
Kelompok keenam beranggapan bahwa barangsiapa mengabarkan Allah menjanjikan
pahala, niscaya Dia pun menepati janjinya. Bahkan barangsiapa mengabarkan Allah
menjanjikan siksa pula kepada mukmin tersebut, tetapi Dia tidak sampai menyiksanya
niscaya itu merupakan karunia-Nya, 7) Kelompok ketujuh beranggapan bahwa kabar-
kabar yang terdapat dalam Al-Qur’an itu sebenarnya dimaksudkan secara khusus
kecuali yang keumumannya telah disepakati, begitupun kabar yang berkenaan
dengan perintah ataupun larangan Allah.
f. Perintah dan Larangan
Tentang hal ini terpecah menjadi dua kelompok anggapan. 1) Kelompok pertama
beranggapan bahwa perintah dan larangan Allah itu sebenarnya dinyatakan secara
khusus, sampai nanti datangnya alasan yang memaksudkannya secara umum, 2)
Kelompok kedua beranggapan bahwa perintah dan larangan Allah itu dinyatakan
secara umum, kecuali datangnya alasan yang memaksudkannya secara khusus.
g. Kekekalan Orang-orang Kafir
Terbagi menjadi dua kelompok anggapan. 1) Kelompok pertama ialah pengikut
Jaham ibn Shafwan dimana mereka beranggapan bahwa surga ataupun neraka itu
niscaya lenyap bahkan peghuni keduanya pun niscaya lenyap pula sehingga hanya
Allah lah yang tetap ada (maujud) tanpa sesuatu pun yang menyertai keberadaan-Nya,
dan hal ini seperti keberadaan-Nya semula, dimana ada-Nya tanpa disertai sesuatu
pun. Karena itu Allah pun tidaklah boleh mengekalkan para penghuni surga di
dalamnya, tidak boleh pula mengekalkan para penghuni neraka di dalamnya, 2)
Kelompok kedua ialah para pengikut aliran Murji’ah yang selain kelompok
Jahamiyyah, dimana mereka beranggapan bahwa Allah itu niscaya mengekalkan
orang-orang kafir di dalam neraka.
h. Orang-orang Muslim yang Berdosa Besar
Tentang hal ini Murji’ah terpecah menjadi lima kelompok anggapan: 1) Kelompok
pertama, ialah pengikut Bisyr al-Marisi, mereka beranggapan bahwa mustahil Allah
mengekalkan orang muslim ahli kiblat yang berdosa besar itu di dalam neraka. Allah
berfirman:

َ ‫) َو َم ْن َي ْع َم ْل ِم ْث َق‬7( ُ‫ال ذَ َّر ٍة َخ ْي ًر َاي َره‬


)8( ُ‫ال َذ َّر ٍة َش َّر َّاي َره‬ َ ‫مل ِم ْث َق‬
ْ ‫فَ َم ْن َي ْع‬
Artinya: “ Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat ato (dzarah)pun, niscaya
(balasannya)akan dilihat dan barangsiapa mengerjakan keburukan seberat atom
(dzarah)pun niscaya (balasannya)dia lihat pula.”(QS. Al-Zalzalah (99): 7-8)
2) Kelompok kedua ialah pengikut abu Syamr dan Muhammad ibn syabib,
beranggapan bahwa boleh-boleh saja Allah memasukkan orang muslim ahli kiblat
yang berdosa besar itu ke dalam neraka baik secara kekal atau tidak, 3) Kelompok
ketiga beranggapan bahwa orang muslim yang berdosa besar itu niscaya dimasukkan
Allah ke neraka kecuali yang memperoleh syafa’at Rasulullah SAW dimana dia niscaya
dikeluarkan lagi dari neraka dan dimasukkan ke surga, 4) Kelompok keempat ialah
para pengikut Ghailan yang beranggapan bahwa boleh-boleh saja orang muslim yang
berdosa besar itu disiksa Allah, diampuni-Nya ataupun tidak dikekalkan-Nya di dalam
neraka, sesuai dosa yang dia perbuat, tetapi kalau Allah mengekalkan orang muslim
yang berdosa besar itu di dalam neraka, bahkan kalau mengampuninya, maka hal itu
niscaya berlaku bagi siapapun, 5) Kelompok kelima, beranggapan bahwa boleh-boleh
saja orang muslim yang berbuat dosa besar itu disiksa Allah atau tidak bahkan
sekalipun disiksa, boleh-boleh saja disiksanya itu dikekalkan Allah atau tidak.

i. Dosa Besar ataupun Kecil


Tentang dosa besar atau kecil, terbagi menjadi dua kelompok: 1) kelompok
pertama menyatakan bahwa setiap perbuatan maksiat itu merupakan dosa besar, 2)
Kelompok kedua, menyatakan bahwa perbuatan maksiat itu terbagi dua yaitu
perbuatan maksiat yang termasuk dosa kecil dan perbuatan maksiat yang termasuk
dosa besar.
j. Pengampunan Allah karena Tobat
Tentang ampunan ini terbagi menjadi dua kelompok: 1) Kelompok pertama,
beranggapan bahwa pengampunan Allah atas dosa besar karena melakukan tobat itu
merupakan suatu karunia-Nya, yang bisa terjadi tetapi hal ini bukan merupakan suatu
kewajiban-Nya, 2) Kelompok kedua, beranggapan bahwa pengampunan Allah atas
dosa besar karena melakukan tobat itu merupakan suatu kewajiban-Nya.
k. Perbuatan Maksiat Para Nabi
Tentang perkara ini, terbagi menjadi dua kelompok: 1) Kelompok pertama,
beranggapan bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan para nabi itu merupakan dosa
besar, karena para nabi pun bisa saja melakukan dosa besar seperti halnya
membunuh, berzina ataupun perbuatan maksiat lainnya, 2) Kelompok keua
beranggapan bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan para nabi itu merupakan dosa
kecil, bukan dosa besar.
l. Timbangan Amal Seseorang
Mengenai timbangan amal, terpecah menjadi dua kelompok: 1) Kelompok
pertama beranggapan bahwa keimnan itu senantiasa menghapuskan siksa yang
diakibatkan oleh fasiqnya seseorang karena iman timbangannya lebih berat daripada
fasiq sehingga Allah pun niscaya tidak menyiksa orang yang mengesakan-Nya. Adapun
anggapan ini dikemukakan oleh Muqatil ibn Sulaiman, 2) Kelompok kedua
beranggapan bahwa boleh-boleh saja Allah menyiksa orang yang yang mengesakan-
Nya, karena Allah pun niscaya menimbang berat-ringan amal perbuatan seseorang
baik yang berupa keburukan ataupun kebaikan dan kalau kebaikannya lebih berat
ketimbang keburukannya niscaya Allah pun memasukkannya ke surga, begitupun
sebaliknya. Tetapi kalau kebaikannya tidak lebih berat ketimbang keburukannya,
bahkan kalau keburukannya pun tidak lebih berat ketimbang kebaikannya niscaya
pula Allah tetap memasukkannya ke surga. Adapun anggapun ini dikemukakan oleh
Abu Mu’adz.
m. Mengkufurkan Orang yang Mentakwilkan Al-Qur’an
Tentang hal ini, terpecah menjadi tiga kelompok: 1) Kelompok pertama,
beranggapan tidaklah boleh mengkufurkan orang yang mentakwilkan Al-Qur’an,
kecuali kalau kekufuran orang tersebut disepakati benar oleh segenap orang-orang
muslim, 2) Kelompok kedua, ialah pengikut Abu Syamr yang beranggapan bahwa
hanya mengkufurkan seseorang yang mengingkari anggapannya dalam masalah qadar
dan tauhid bahkan hanya mengkufurkan seseorang yang ragu-ragu dalam
keraguannya terhadap Allah, 3) Kelompok ketiga ini beranggapan, kekufuran itu tidak
mengenal Allah (jahl) semata, sehingga tidaklah boleh mengkufurkan seseorang,
kecuali orang tersebut memang tidak mengenal Allah. Adapun anggapan ini
dikemukakan oleh Jaham ibn Shafwan.
n. Pengampunan atas Orang Zhalim kepada Sesamanya
Tentang ampunan ini, terpecah menjadi dua kelompok: 1) Kelompok pertama
beranggapan orang yang berbuat zhalim kepada sesamanya itu sebenarnya diampuni
Allah di akhirat kelak, ketika dia nanti dikumpulkan Allah dengan orang yang
dizhaliminya itu ditukarkan kepadanya, 2) Kelompok kedua, secara akal pun
pengampunan Allah atas orang yang berbuat dosa di dunia ini boleh-boleh saja, baik
yang berbuat dosa kepada Allah ataupun kepada sesamanya.
o. Mengesakan Allah
Dalam mengesakan Allah, terpecah menjadi tiga kelompok: 1) Kelompok pertama,
pengikut Muqatil ibn Sulaiman, beranggapan bahwa Allah itu jisim yang terbilang
bahkan seperti halnya manusia yang mempunyai daging, darah, rambut dan tulang
sebenarnya Dia pun mempunyai anggota tubuh, seperti halnya tangan, kaki, kepala
dan dua mata yang tidak berlubang, tetapi dalam hal ini Dia tidaklah serupa dengan
selain-Nya, karena tiada yang menyerupai-Nya, 2) Kelompok kedua ini ialah para
pengikut al-Jawaribi, dimana mereka beranggapan sama dengan kelompok pertama,
bahkan merekapun menambahkan bahwa dari mulut sampai dadanya-Nya itu
berlubang sementara anggota tubuh lainnya tertutup rapat, 3) Kelompok ketiga ini,
beranggapan bahwa Allah itu jisim, tetapi Dia tidaklah seperti layaknya jisim-jisim
lain.
p. Melihat (Ru’yah) Allah
Tentang melihat Allah, terpecah menjadi dua kelompok: 1) Kelompok pertama,
cenderung sesuai dengan anggapan Mu’tazilah yang beranggapan menafikan
anggapan bahwa Allah itu niscaya dapat dilihat dengan penglihatan mata, 2)
Kelompok kedua ini beranggapan bahwa Allah itu niscaya dapat dilihat dengan
penglihatan mata, di akhirat kelak.
q. Al-Qur’an
Tentang Al-Qur’an, terpecah menjadi tiga kelompok: 1) Kelompok pertama, ini
beranggapan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, 2) Kelompok kedua, beranggapan bahwa
Al-Qur’an itu sebenarnya bukan makhluk, 3) Kelompok ketiga, beranggapan bahwa
kalamullah (Al-Qur’an) itu tidak bisa dianggap makhluk, tetapi tidak bisa pula dianggap
bukan makhluk.
r. Hakikat Allah
Tentang hal ini, terpecah menjadi dua kelompok: 1) Kelompok pertama
beranggapan bahwa bagi Allah itu ada hakikat yang tidak diketahui manusia di dunia
ini, tetapi bagi manusiapun telah diciptakan-Nya indra keenam, yang dengan indra
itulah manusia pasti mengetahui hakikat-Nya di akhirat kelak, 2) Kelompok kedua
beranggapan dengan menolak anggapan kelompok pertama bahkan sangat
menolaknya.

s. Qadar
Aliran Murji’ah berbeda anggapan mengenai qadar dan terpecah menjadi dua
kelompok: 1) Memiliki anggapan yang sesuai dengan aliran Mu’tazilah, 2) Mempunyai
anggapan sebaliknya, yang menisbatkan qadar itu datang dari Allah.
t. Nama-nama dan Sifat-sifat Allah
Para pengikut aliran Murji’ah berbeda anggapan tentang nama dan sifat Allah,
sebagian sesuai dengan aliran Mu’tazilah, sementara sebagian lainnya bersesuaian
dengan anggapan Abdullah ibn Muhammad ibn Kullab.

C. Sekte-sekte dalam Murji’ah

Di bawah kekuasaan Bani Umayah, berkembanglah Murji’ah sehingga bermunculan tokoh-


tokoh yang memiliki corak pemikiran yang berbeda. 21 Dalam hal ini, terdapat problem yang
mendasar ketika pengamat mengklasifikasikan sekte-sekte Murji’ah. Kesulitannya antara lain
adalah ada beberapa tokoh aliran pemikiran tertentu yang diklaim oleh seorang pengamat sebagai
pengikut Murji’ah, tetapi tidak dikalim penganut lain. Tokoh yang dimaksud adalah Washil bin
Atha dari Mu’tazilah dan Abu Hanifah dari Ahlus Sunnah. Oleh karena itulah, Ash-Syahrastani,
seperti yang dikutip oleh Watt, menyebutkan sekte-sekte Murji’ah sebagai berikut: 22
1. Murji’ah Khawarij
2. Murji’ah Qadariyah
3. Murji’ah Jabariyah
4. Murji’ah Murni
5. Murji’ah Sunni

Sementara itu, Muhammad Imarah menyebutkan 12 sekte Murji’ah, yaitu: 23


1. Al-Jahmiyah, pengikut Jahm bin Shafwan.
21
M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam,..... , h. 25
22
Rosihon Anwar, Ilmu Kalam....., h. 59
23
Ibid.
2. Ash-Shalihiyah, pengikut Abu Musa Ash-Shalahi
3. Al-Yunushiyah, pengikut Yunus As-Samary
4. As-Samriyah, pengikut Abu Samr dan Yunus
5. Asy-Syaubaniyah, pengikut Abu Syauban
6. Al-Ghailaniyah, pengikut Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimsaqy
7. An-Najariyah, pengikut al-Husain bin Muhammad An-Najr
8. Al-Hanafiyah, pengikut Abu Hanifah An-Nu’man
9. Asy-Syabibiyah, pengikut Muhammad bin Syabib
10. Al-Mu’aziyah, pengikut Muadz Ath-Thaumi
11. Al-Murisiyah, pengikut Basr Al-Murisy
12. Al-Karamiyah, pengikut Muhammad bin Karam As-Sijistany

Sedangkan Abdul Mun'im Al-Hafni menjelaskan bahwa kelompok Murji’ah terbagi menjadi
beberapa sekte sebagai berikut:24
1. Sekte pertama adalah orang-orang yang mengambil sikap irja’ dalam masalah qadar
(takdir) Allah SWT. Dalam sekte ini terdapat beberapa madzhab, antara lain madzhab
Ghilan Ad-Dimsyaqi, madzhab Abu Syamr dan madzhab Muhammad bin Syabib Al-Bashari.
Orang-orang yang termasuk sekte ini disebut dengan kaum Murji’ah Qadariyyah.
2. Sekte kedua adalah orang yang yang mengambil sikap irja’ dalam masalah iman. Mereka
sefaham dengan kelompok Jahamiyyah yang mengatakan, manusia sama sekali tidak
berkuasa atas perbuatan-perbuatannya karena yang menciptakan perbuatannya itu
adalah Allah SWT. Sekte ini biasa dikenal dengan nama kelompok Murji’ah Jabariyyah.
3. Sekte ketiga adalah yang terkenal dengan sebutan kelompok Murji’ah Khalishah. Mereka
terbagi menjadi beberapa kelompok kecil, yaitu: kelompok Yunusiyyah (pengikut Yunus
An-Namir), kelompok Ghassaniyah (pengikut Ghassan bin Abban Al-Kuffi), kelompok
Tsaubaniyyah (pengikut Abu Tsauban Al-Murji’i), kelompok Taumaniyyah (pengikut Abu
Mu’adz At-Taumani), kelompok Murisiyyah (pengikut Bisyr bin Ghiyats Al-Murisi) dan
kelompok Shalihiyyah (pengikut Shalih bin ‘Amr Ash-Shalihi).
Jumlah sekte-sekte Murji’ah yang tidak sedikit dengan corak pemikiran yang berbeda,
secara garis besar dapat dibagi menjadi dua sekte besar, yaitu Murji’ah moderat dan Murji’ah
ekstrim.
Pada golongan Murji’ah yang moderat berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa
besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai

24
Abdul Mun’im Al-Hafni, Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai dan Gerakan
Islam(terj.), (Jakarta: Soegeng Sarjadi Syndicate bekerjasama dengan Grafindo Khazanah Ilmu, 2006), h. 809-
810
dengan besarnya dosa yang ia lakukan, dan ada kemungkinan Tuhan akan mengampuninya,
sehingga mereka tidak akan masuk neraka sama sekali. Pada golongan ini terdapat nama al-Hasan
Ibnu Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa Ahli Hadits. 25 Jadi,
iman seluruh umat Islam dianggap sama, baik yang hanya beriman dalam hati tanpa diiringi
perbuatan dengan yang taat beribadah.
Adapun golongan Murji’ah ekstrim, berpendapat bahwa orang Islam yang percaya pada
Tuhan, kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena kafir dan
imannya seseorang tempatnya bukan dalam bagian tubuh manusia tetapi dalam hati sanubari.
Mereka mengatakan, bahwa orang yang telah menyatakan iman, meskipun menyembah berhala,
melaksanakan ajaran-ajaran agama Yahudi atau Kristen dengan menyembah salib, menyatakan
percaya pada trinitas, kemudian mati, tidaklah menjadi kafir, melainkan tetap mukmin dalam
pandangan Allah. Pandangan serupa ini muncul dari prinsip yang mereka anut yaitu bahwa iman
tempatnya di hati, ia tidak bertambah dan tidak berkurang karena perbuatan apapun dan amal
tidak punya pengaruh apa-apa terhadap iman.26
Menurut Nasution dalam Nata, Murji’ah ekstrim ini amat berbahaya jika diikuti, karena
dapat menimbulkan kehancuran dalam bidang akhlak dan budi pekerti luhur, lebih-lebih pada
masyarakat yang dilanda berbagai produk budaya yang tidak bermoral yang pada gilirannya akan
menimbulkan sikap permissivisme, yakni sikap yang mentolelir penyimpangan-penyimpangan dari
norma akhlak dan moral yang berlaku. Karena dalam pandangan Murji’ah yang dipentingkan
hanyalah iman, maka norma-norma akhlak dapat dianggap kurang penting dan diabaikan. Inilah
sebabnya nama Murji’ah pada akhirnya mengandung arti tidak baik dan tidak disenangi. 27
Pandangan kelompok ekstrim tersebut sebagai berikut:28
1. Jahamiyah, kelompok Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa
orang yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan,
tidaklah menjadi kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada
bagian lain dalam tubuh manusia.
2. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah
mengetahui Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Salat bukan merupakan
ibadah kepada Allah. Yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti
mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa, dan haji bukanlah ibadah, melainkan
sekedar menggambarkan kepatuhan.

25
Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat danTasawuf,(Jakarta:Fajar Interpratama Offset, 1998), h..34
26
Ibid., h. 35-36
27
Ibid., h. 36
28
Rosihon Anwar, Ilmu Kalam....., h. 60
3. Yunusiyah dan Ubudiyah melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau
perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan
perbuatan-peerbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang
bersangkutan. Dalam hal ini, Muqatil bin Sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat,
banyak atau sedikit tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik (pholitheist).
4. Hasaniyah menyebutkan bahwa jika seorang mengatakan,”saya tahu Tuhan melarang
makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adaah kambing
ini,” maka orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir. Begitu pula orang yang
mengatakan, “saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji ke Ka’bah, tetapi saya tidak tahu
apakah Ka’bah di India atau tempat lain.”

Pada akhir ulasannya mengenai Murji’ah, Nasution menyimpulkan bahwa golongan


Murji’ah moderat, sebagai golongan yang berdiri sendiri telah hilang dalam sejarah dan ajaran-
ajaran mereka mengenai iman, kufr dan dosa besar masuk ke dalam aliran Ahlus Sunnah Wal
Jama’ah. Adapun golongan Murji’ah ekstrim juga telah hilang sebagai aliran yang berdiri sendiri,
tetapi dalam prakteknya masih terdapat sebagian umat Islam yang menjalankan ajaran-ajaran
ekstrim itu, mungkin dengan tidak sadar bahwa mereka sebenarnya dalam hal ini mengikuti
ajaran-ajaran golongan Murji’ah ekstrim.29

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:

29
Harun Nasution, Teologi Islam, (Jakarta: UI press, 1986), h. 32
A. Sejarah Munculnya Murji’ah
Secara subtansi, pahamirja’ telah ada sejak lama, namun disebut sebagai suatu
golongan tertentu adalah ketika terjadi permasalahan politik dalam tubuh umat Islam.
Golongan ini muncul seiring munculnya golongan Khawarij, yang keluar dari Ali r.a dan
golongan Syi’ah yang mendukung bahkan memuja Ali r.a . Murji’ah merupakan golongan
yang memilih diam/pasif terhadap aktifitas politik kala itu. Dari ranah politik ini, golongan
Murji’ah masuk ke ranah teologi dan mengalami perkembangan di bawah kekuasaan Bani
Umayah.
B. Ajaran Pokok Murji’ah
Banyak perbedaan terkait doktrin Murji’ah antar tokoh di dalamnya. Hal yang
mendasar dari ajaran Murji’ah ini adalah masalah iman, kufur dan dosa.
C. Sekte-sekte dalam Murji’ah
Banyaknya jumlah sekte yang terbentuk, para ahli membagi Murji’ah menjadi dua
kelompok besar, yakni Murji’ah moderat dan Murji’ah ekstrim.
DAFTAR RUJUKAN

Al-Qur’an Al-Karim. 2016. Al-Qur’an Transliterasi. Solo: PT Tiga Seragkai Pustaka Mandiri.

Abul Hasan Isma’il al-Asy’ari. 1998. Prinsip-prinsip Dasar Aliran Theologi Islam (terj.). Bandung: CV
Pustaka Setia.

Al-Hafni, Abdul Mun’im. 2006. Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai dan
Gerakan Islam (terj.). Jakarta: Soegeng Sarjadi Syndicate bekerjasama dengan Grafindo
Khazanah Ilmu.

Anwar, Rosihon. 2007. Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka Setia.


Nasir, Sahilun A. 2012. Pemikiran Kalam (Teologi Islam)-Sejarah, Ajaran, dan Perkembangannya,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam, Jakarta: UI press


Nata, Abuddin. 1998. Ilmu Kalam, Filsafat danTasawuf. Jakarta:Fajar Interpratama Offset

Nurdin, M. Amin. 2014. Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Rahman, Fazlur. 2001. Gelombang Perubahan dalam Islam-Studi Tentang Fundamentalisme
Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: CV Pustaka Setia.


Wiyani, Novan Ardi. 2015. Ilmu Kalam. Jogjakarta: Teras.