Anda di halaman 1dari 12

BAB II

DASAR TEORI

2.1.Pembangkit Listrik Tenaga Bayu ( PLTB )


Pembangkit listrik tenaga bayu / angina merupakan pembangkit listrik yang
dapat mengkonversi ( mengubah ) energy angina menjadi energy listrik. Energy
angina memutar turbin angin. Turbin angina yang berputar juga menyebabkan
berputarnya rotor geneator karena satu poros sehingga dapat menghasilkan energy
listrik . Tambahkan narasi

2.2. Turbin Angin


Turbin angin adalah kincir angin yang digunakan untuk membangkitkan tenaga
listrik. Turbin angin ini pada awalnya dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan para
petani dalam melakukan penggilingan padi, keperluan irigasi, dll. Turbin angin
terdahulu banyak dibangun di Denmark, Belanda, dan negara-negara Eropa lainnya
dan lebih dikenal dengan Windmill.
Kini turbin angin lebih banyak digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan
listrik masyarakat, dengan menggunakan prinsip konversi energi dan menggunakan
sumber daya alam yang dapat diperbaharui yaitu angin. Walaupun sampai saat ini
pembangunan turbin angin masih belum dapat menyaingi pembangkit listrik
konvensional (Contoh: PLTD,PLTU,dll), turbin angin masih lebih dikembangkan
oleh para ilmuwan karena dalam waktu dekat manusia akan dihadapkan dengan
masalah kekurangan sumber daya alam tak terbaharui (Contoh: batubara, minyak
bumi) sebagai bahan dasar untuk membangkitkan listrik. Pada turbin angina terdapat
2 macam turbin angina , yaitu turbin angina bersumbu vertical dan turbin angina
bersumbu horizontal.
Gambar 2.1 Turbin Angin Bersumbu Horizontal Dan Vertikal

Turbin angin sumbu horizontal (TASH) memiliki poros rotor utama dan
generator listrik di puncak menara. Turbin berukuran kecil diarahkan oleh sebuah
baling-baling angin (baling-baling cuaca) yang sederhana, sedangkan turbin
berukuran besar pada umumnya menggunakan sebuah sensor angin yang
digandengkan ke sebuah servo motor. Sebagian besar memiliki sebuah gearbox yang
mengubah perputaran kincir yang pelan menjadi lebih cepat berputar.

Karena sebuah menara menghasilkan turbulensi di belakangnya, turbin


biasanya diarahkan melawan arah anginnya menara. Bilah-bilah turbin dibuat kaku
agar mereka tidak terdorong menuju menara oleh angin berkecepatan tinggi. Sebagai
tambahan, bilah-bilah itu diletakkan di depan menara pada jarak tertentu dan sedikit
dimiringkan.

Turbin angin sumbu vertikal/tegak (atau TASV) memiliki poros/sumbu rotor


utama yang disusun tegak lurus. Kelebihan utama susunan ini adalah turbin tidak
harus diarahkan ke angin agar menjadi efektif. Kelebihan ini sangat berguna di
tempat-tempat yang arah anginnya sangat bervariasi. VAWT mampu
mendayagunakan angin dari berbagai arah. Dengan sumbu yang vertikal, generator
serta gearbox bisa ditempatkan di dekat tanah, jadi menara tidak perlu menyokongnya
dan lebih mudah diakses untuk keperluan perawatan. Tapi ini menyebabkan sejumlah
desain menghasilkan tenaga putaran yang berdenyut. Drag (gaya yang menahan
pergerakan sebuah benda padat melalui fluida (zat cair atau gas) bisa saja tercipta saat
kincir berputar.

Karena sulit dipasang di atas menara, turbin sumbu tegak sering dipasang
lebih dekat ke dasar tempat ia diletakkan, seperti tanah atau puncak atap sebuah
bangunan. Kecepatan angin lebih pelan pada ketinggian yang rendah, sehingga yang
tersedia adalah energi angin yang sedikit. Aliran udara di dekat tanah dan objek yang
lain mampu menciptakan aliran yang bergolak, yang bisa menyebabkan berbagai
permasalahan yang berkaitan dengan getaran, diantaranya kebisingan dan bearing
wear yang akan meningkatkan biaya pemeliharaan atau mempersingkat umur turbin
angin. Jika tinggi puncak atap yang dipasangi menara turbin kira-kira 50% dari tinggi
bangunan, ini merupakan titik optimal bagi energi angin yang maksimal dan
turbulensi angin yang minimal.

2.3 Generator DC

Generator DC merupakan sebuah perangkat mesin listrik dinamis yang


mengubah energi mekanis menjadi energi listrik. Generator DC menghasilkan arus
DC / arus searah. Generator DC dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan dari
rangkaian belitan magnet atau penguat eksitasinya terhadap jangkar (anker), jenis
generator DC yaitu:

1. Generator penguat terpisah


2. Generator shunt
3. Generator kompon  
Gambar 2.2 Generator DC

Generator DC terdiri dua bagian, yaitu stator, yaitu bagian mesin DC yang diam, dan
bagian rotor, yaitu bagian mesin DC yang berputar. Bagian stator terdiri dari: rangka
motor, belitan stator, sikat arang, bearing dan terminal box. Sedangkan bagian rotor
terdiri dari: komutator, belitan rotor, kipas rotor dan poros rotor. Tambahkan narasi

2.4 Tachometer

Tachometer adalah sebuah alat pengujian yang dirancang untuk mengukur


kecepatan rotasi dari sebuah objek, seperti alat pengukur dalam sebuah mobil yang
mengukur putaran per menit (RPM) dari poros engkol mesin. Kata tachometer berasal
dari kata Yunani tachos yang berarti kecepatan dan metron yang berarti untuk
mengukur. Perangkat ini pada masa sebelumnya dibuat dengan dial, jarum yang
menunjukkan pembacaan saat ini dan tanda-tanda yang menunjukkan tingkat yang
aman dan berbahaya. Pada masa kini telah diproduksi tachometer digital yang
memberikan pembacaan numerik tepat dan akurat dibandingkan menggunakan dial
dan jarum.
Gambar 2.3 Tachometer Digital

Tambahkan prinsip kerja dan narasi

2.5 Wattmeter

Pada Wattmeter terdapat kumparan tegangan dan kumparan arus, sehingga


besarnya medan magnit yang ditimbulkan sangat tergantung pada besarnya arus yang
mengalir melalui kumparan arus tersebut. Walaupun medan magnit yang ditimbulkan
oleh kumparan tegangan praktis sama (tidak berubah), maka bila arus yang mengalir
pada kumparan arus makin besar (sesuai dengan besarnya alat / peralatan listrik),
maka medan magnit yang ditimbulkan oleh kumparan arus juga makin besar,
sehingga gaya tolak yang menyebabkan kumparan tegangan / jarum berputar kekanan
juga makin nkuat, yang menyebabkan penyimpangan jarum kekanan makin lebar.

Pada rangkaian arus bolak-balik, simapangan jarum penunjuk sebanding


dengan rata-rata arus dan tegangan sesaat i dan v Wattmeter DC dan AC tersebut
dapat mengalami kerusakan oleh adanya arus yang berlebihan. Pada Amperemeter
dan Voltmeter, arus yang berlebihan ini akan menimbulkan panas dimana ini
merupakan kondisi yang berbahaya (jarum penunjuk jadi tidak dapat bergerak lagi
karena melebihi bata skala). Akan tetapi pada Wattmeter, arus dan tegangan akan
menjadi panas tetapi tidak menyebabkan penunjuukan jarum melebihi batas skala.
Dalam pengoperasiannya harus memperhatikan pentunjuk yang ada pada manual
book atau able yang tertera pada Wattmeter. Demikian juga dalam hal
pembacaannya harus mengacu pada manual book yang ada. Adapun macam-macam
Watmeter dibagi menjadi 2, yaitu:

2.5.1. Wattmeter Analog

Wattmeter elektrodinamik atau elektrodinamometer, instrumen ini cukup


familiar dalam desain dan konstruksi elektrodinamometer tipe ampermeter dan
voltmeter analog. Kedua koilnya dihubungkan dengan sirkuit yang berbeda dalam
pengukuran power. Koil yang tetap atau field coil dihubungkan secaraseri dengan
rangkaian, koil bergerak dihubungkan paralel dengan tegangan dan membawa arus
yang proporsional dengan tegangan. Sebuah tahanan non-induktif dihubungkan
secara seri dengan koil bergerak supaya dapat membatasi arus menuju nilai yang
kecil. Karena koil bergerak membawa arus proposional dengan tegangan maka
disebut  pressure coil  atau voltage coil dari wattmeter. Alat pengukur watt analog
tradisional adalah instrumen elektrodinamik . Perangkat terdiri dari sepasang
kumparan tetap, yang dikenal sebagai kumparan arus , dan kumparan bergerak yang
dikenal sebagai kumparan potensial .

Kumparan arus dihubungkan secara seri dengan rangkaian, sedangkan


kumparan potensial dihubungkan secara paralel . Juga, pada wattmeter analog ,
kumparan potensial membawa jarum yang bergerak di atas skala untuk menunjukkan
pengukuran. Arus yang mengalir melalui kumparan arus menghasilkan medan
elektromagnetik di sekitar kumparan. Kekuatan medan ini sebanding dengan arus
garis dan sefase dengannya. Kumparan potensial memiliki, sebagai aturan umum,
resistor bernilai tinggi yang dihubungkan secara seri dengannya untuk mengurangi
arus yang mengalir melaluinya.
Hasil dari pengaturan ini adalah bahwa pada rangkaian DC , defleksi jarum sebanding
dengan arus ( I ) dan tegangan ( V ), sehingga sesuai dengan persamaan P = VI .

Untuk daya AC , arus dan tegangan mungkin tidak dalam fase, karena efek
penundaan induktansi atau kapasitansi rangkaian. Pada rangkaian AC , defleksi
sebanding dengan produk sesaat rata-rata tegangan dan arus, sehingga mengukur daya
aktif , P = VI cos φ . Di sini, cos φ mewakili faktor daya yang menunjukkan bahwa
daya yang ditransmisikan mungkin kurang dari daya semu yang diperoleh dengan
mengalikan pembacaan voltmeter dan amperemeter di rangkaian yang sama.

Gambar 2.4 Wattmeter Elektrodinamik/Analog

2.5.2. Wattmeter Digital

Wattmeter analog tradisional adalah sebuah instrumen elektrodinamik. Alat


ini berisi sepasang koil-koil permanen, dikenal sebagai koli arus, dan koil yang dapat
bergerak yang dikenal sebagai koil potensional. Koil arus terkoneksi secara seri
dengan rangkaian, sedangkan koil potensional terhubung secara paralel. Juga, pada
wattmeter analog, koil potensional memiliki jarum yang bergerak pada skala untuk
mengindikasikan pengukuran. Arus mengalir melalui koil arus menghasilkan medan
elektromagnetik disekitar koil. Tenaga medan ini proporsi dengan jalur arus dan fasa-
nya. Koil potensional memiliki, aturan umum, resistor dengan nilai tinggi terhubung
seri dengan koil tersebut untuk memperkecil arus yang mengalir melaluinya.
Hasil dari pengaturan ini ialah pada rangkaian DC, pembelokan jarum bisa
proporsional untuk arus dan tegangan, dengan demikian sesuai dengan persamaan
W=V x A atau P=V x I. Pada rangkaian AC pembelokan-nya proporsional dengan
produk rata-rata tegangan dan arus saat itu juga, dengan demikian mengukur true
power, dan kemungkinan (tergantung karakteristik beban) memperlihatkan
pembacaan yang berbeda yang diperoleh dengan mengalikan hasil pembacaan yang
ditunjukkan oleh voltmeter dan ammeter tunggal pada rangkaian yang sama.
Dua rangkaian dari sebuah wattmeter dapat rusak oleh arus yang berlebihan.
Ammeter dan voltmeter rentan terhadap panas yang berlebihan - dalam kasus
overload, jarum penunjuknya dapat bergerak keluar dari skala - tetapi pada wattmeter,
salah satu atau kedua rangkaian arus dan potensial dapat menjadi panas secara
berlebihan tanpa jarum penunjuknya bergerak hingga akhir dari skala. Hal ini
dikarenakan posisi jarum tergantung pada power factor, tegangan dan arus. Dengan
demikian, rangkaian dengan power factor rendah akan memberikan pembacaan yang
rendah pada wattmeter, bahkan saat kedua rangkaiannya di bebani hingga batas
maksimum aman-nya. Oleh karena itu, sebuah wattmeter dinilai bukan hanya dalam
watt, tetapi juga dalam volt dan ampere.

Gambar 2.5 Wattmeter Digital


2.6 Beban Lampu

Beban listrik adalah sesuatu yang harus "dipikul" oleh pembangkit listrik.
Dalam aplikasi sehari-hari dapat digambarkan bahwa beban listrik adalah peralatan
yang mengunakan daya listrik agar bisa berfungsi. Contoh beban listrik dalam rumah
tangga diantaranya televisi, lampu penerangan, setrika, mesin cuci, lemari es dan lain-
lain. Pada keseluruhan sistem, total daya adalah jumlah semua daya aktif dan reaktif
yang dipakai oleh peralatan yang menggunakan energi listrik. Jadi dalam penggunaan
rumah tangga, total beban listrik adalah total semua daya yang dikonsumsi oleh
peralatan listrik tersebut yang aktif, karena dalam kondisi mati peralatan tentu
tersebut tidak menggunakan daya listrik.

Namun Pada Penelitian yang dilakukan oleh penulis, beban yang di gunakan
adalah 1 buah lampu DC 12 volt. Lampu adalah suatu perangkat/alat yang dapat
menghasilkan cahaya saat dialiri arus listrik. Arus listrik yang dimaksud ini dapat
berasal tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik terpusat (Centrally
Generated Electric Power) seperti PLN dan Genset ataupun tenaga listrik yang
dihasilkan oleh Baterai dan Aki. Di zaman modern ini, Lampu Listrik telah menjadi
salah satu alat listrik yang paling penting bagi kehidupan manusia. Dengan adanya
lampu listrik, kita dapat melakukan berbagai kegiatan pada malam hari, memperindah
Interior maupun Eksterior rumah, penerang ruangan yang gelap ataupun sebagai
Indikator tanda-tanda bahaya. Sebelum ditemukan lampu listrik, manusia pada saat
itu menggunakan lilin, lampu minyak dan api unggun sebagai alat penerang pada
malam hari.
Gambar 2.6 Lampu DC 12 Volt

2.7. Baterai atau Aki


Baterai atau Aki adalah piranti atau komponen penyimpan energi listrik. Baterai
merupakan komponen penyimpan energi yang paling banyak digunakan. Terdapat
jenis baterai yang dapat dipakai sekali (Non-Renewable)dan beterai yang dapat disi
ulang (Renewable). Pada aki terdapat 2 jenis aki yaitu; aki kering dan aki basah.
Pemasangan gabungan beberapa baterai atau aki secara seri akan memberikan
penambahan kapaistas tegangan, sedangkan pemasangan secara paralel akan
menambah kapasitas arus.
Menurut Effendi dan Yuana (2016), baterai atau aki akan di isi oleh tenaga
listrik yang berasal dari sistem sel surya dan sistem energi angin. Pada saat pelepasan
muatan, arus searah yang berasal dari baterai akan dirubah menjadi arus bolak-balik
oleh inverter dan kemudian dialirkan menuju beban. Untuk menjaga agar baterai
tidak mengalami kelebihan muatan (over charge) dan kekurangan muatan (under
charge) maka pengoperasian baterai dan inverter perlu diawasi dan dikontrol oleh
suatu sistem kontrol. Dalam pemilihan baterai yang akan digunakan haruslah
memperhatikan hal-hal berikut ini;
1. Mempunyai umur panjang (lebih dari 3 tahun).
2. Mempunyai kondisi charge yang stabil.
3. Mempunyai self discharge yang rendah.
4. Kestabilan depth of discharge (DOD).
5. Mempunyai efisiensi pengisian (chargain) yang tinggi.
Mudah untuk dibongkar pasang dengan menggunakan peralatan sederhana untuk
keperluan transportasi ke daerah terpencil.

Gambar 2.7. Aki/Baterai


2.8 Baterai Charge Controller Unit atau Solar Charge Controller

Baterai Unit Charge Controller atau BCCU adalah perangkat pengontrol untuk
pengecasan atau pengisian baterai atau aki. Menurut Astra dan Sidopekso (2011),
agar dapat mengontrol pengisian baterai dengan baik, maka diperlukan sebuah charge
controller yang dapat memantau level tegangan dan arus yang mengalir kebaterai.
Apabila charge controller sudah mengetahui level tegangan baterai penuh maka
pengisian akan terputus secara otomatis. Tujuannya adalah untuk melindungi baterai
dari kerusakan akibat over charging. Perangkat BCCU sangat penting dalam
menentukan kehandalan PLTB dan PLTS dalam menyuplai daya yang dihasilkan
oleh Kincir Angin dan panel surya.
Gambar 2.8. Controller