Anda di halaman 1dari 20

Rhinitis Atrofi (Ozaena)

RHINITIS ATROFI (OZAENA)

PENDAHULUAN

Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai adanya
atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Disebut juga
rhinitis chronica atrophicanscum foetida, sebab ada rhinitis chronica atrophican non
foetida. Secara klinis, mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat
mengering, sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.
Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat
diterangkan dengan memuaskan. Oleh karena etiologinya belum pasti, maka
pengobatannya belum ada yang baku. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan
faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara
konservatif atau jika tidak menolong, dilakukan operasi. Menurut pengalaman, untuk
kepentingan klinis perlu ditetapkan derajat ozaena sebelum diobati, yaitu ringan,
sedang atau berat, oleh karena ini sangat menentukan terapi dan prognosisnya.
Biasanya diagnosis ozaena secara klinis tidak sulit. Biasanya discharge berbau,
bilateral, terdapat crustae kuning kehijau-hijauan. Keluhan subjektif yang sering
ditemukan pada pasien biasanya napas berbau (sementara pasien sendiri menderita
anosmia).(1,2,10,11,15)
Menurut Boies frekwensi penderita rhinitis atrofi wanita : laki adalah 3 : 1.
Penyakit ini lebih sering mengenai wanita, usia 1-35 tahun terutama pada usia
pubertas. Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah
dan di lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang.(1,2)
Ozaena lebih umum di negara-negara sekitar Laut Tengah daripada di
Amerika Serikat. Menurunnya insidens campak, scarlet fever, dan difteria di Eropa
Selatan sejak perang dunia ke II tampaknya timbul bersaman dengan suatu penurunan
tajam dalam insidens ozaena.(3)

Engki Irawan FK-UNBRAH 1


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

Rhinitis alergi merupakan penyakit yang mempengaruhi masyarakat dengan


persentase yang besar, dengan perkiraan prevalensi sebesar 9-42%. Penyakit ini dapat
diklasifikasikan menjadi seasonal atau perennial tergantung apakah gejala yang
muncul terjadi dengan interval tahunan yang tetap atau terjadi sepanjang tahun.
Japanese cedar pollinosis (JCPsis) merupakan alergi tipe I yang diperantarai oleh
imunoglobulin E (IgE), yang disebabkan oleh paparan terhadap Japanese cedar
(Crptomeria japonica) pollen (JCP), yang normalnya ada dari awal Februari-akhir
April. Beberapa dekade terakhir terjadi peningkatan prevalensi alergi ini dan
mengenai >16% masyarakat Jepang. Penjelasan mengenai peningkatan prevalensi
tersebut adalah dengan hipotesis hygiene, yang mendalilkan bahwa penurunan
kesempatan terpapar dengan patogen immunostimulating pada masa kanak-kanak
awal dapat menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit alergi (9)

ANATOMI

Untuk mengetahui penyakit dan kelainan hidung perlu diketahui dulu tentang
anatomi hidung. Hidung terdiri dari hidung bagian luar dan rongga hidung dengan
perdarahan serta persarafannya, serta fisiologi hidung.
Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya :
1. Pangkal hidung (bridge).
2. Dorsum nasi.
3. Puncak hidung.
4. Ala nasi.
5. Kolumela.
6. Lubang hidung.

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung.

Engki Irawan FK-UNBRAH 2


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

Rongga hidung atau cavum nasi berbentuk terowongan dari depan


kebelakang, dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya menjadi cavum nasi
kanan dan kiri dan lubang belakang disebut nares posterior atau koana yang
menghubungkan cavum nasi dengan nasofaring.

Gambar 1. Anatomi Rongga Hidung


Bagian dari cavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang
nares anterior disebut vestibulum. Vestibulum mempunyai banyak kelenjar sebasea
dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise.
Tipa cavum nasi yang mempunyai 4 (empat) buah dinding, yaitu dinding
lateral, medial, inferior dan superior.
Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan
tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, Krista
nasalis os maksila dan Krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah
kartilago septum tampak kolumela.

Engki Irawan FK-UNBRAH 3


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan
dibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebahagian besar dinding lateral
hidung.
Pada dinding lateral terdapat 4 (empat) buah konka. Yang terbesar dan
letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang paling kecil ialah konka
media, lebih kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka
suprema ini biasanya rudimenter.
Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang
disebut meatus. Tergantung dari letak meatus ada 3 meatus yaitu superior, inferior,
media.(1)

Pendarahan Hidung
Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmikus, sedangkan a.oftalmikus berasal
dari a.karotis interna.
Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksila
interna. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari a.fasialis. Pada bagian depan
septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoidalis
anterior, a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus kiesselbach.
Pleksus kiesselbach letaknya superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga
sering menjadi sumber epistaksis.(1)

Engki Irawan FK-UNBRAH 4


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

Gambar 2 . Perdarahan Hidung


Persarafan Hidung.
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari
n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris yang berasal dari
N.oftalmikus (N.V-I).
Rongga hidung lainnya sebahagian besar mendapat persarafan sensoris dari
n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum.(1)

Fisiologi Hidung.
Fungsi hidung ialah :
1. Sebagai jalan nafas, untuk mengatur keluar masuknya udara.
2. Pengatur kondisi udara (Air Conditioning), perlu untuk mempersiapkan udara
yang akan masuk kedalam alveolus paru. Fungsi ini dilakukan dengan cara
mengatur kelembaban udara dan mengatur suhu.
3. Sebagai penyaring dan pelindung, ini berguna untuk membersihkan udara
yang masuk dari debu dan bakteri.
4. Indera pencium dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung,
konka superior dan sepertiga atas septum.
5. Resonansi suara, penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi.
6. Proses bicara, hidung membantu proses pembentukan kata-kata.
7. Reflek nasal, mukosa hidung merupakan reseptor reflek yang berhubungan
dengan saluran cerna, kardiovaskuler, pernafasan.(1)

DEFENISI
Rhinitis atrofi adalah suatu penyakit infeksi hidung dengan tanda adanya
atrofi progresif tulang dan mukosa konka. Secara klinis mukosa hidung menghasilkan
Engki Irawan FK-UNBRAH 5
Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

secret kental dan cepat mongering sehingga terbentuk krusta berbau busuk, sering
mengenai tingkat social ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk.
Lebih sering mengenai wanita pada usia antara 1-35 tahun, terbanyak pada
usia pubertas. Secara histopatologik tampak mukosa hidung menjadi tipis, silia
menghilang. Metaplasia epitel torak bersilia menjadi epitel kubik atau gepeng
berlapis, kelenjar-kelenjar bergenerasi dan atrofi serta jumlahnya berkurang dan
berbentuk menjadi kecil.(5,7,11,12,13)

EPIDEMIOLOGI
Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai
wanita, terutama pada usia pubertas. Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria,
dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. Samiadi mendapatkan 4 penderita
wanita dan 3 pria. Menurut Boies frekwensi penderita rhinitis atrofi wanita : laki
adalah 3 : 1. Tetapi dari segi umur, beberapa penulis mendapatkan hasil yang
berbeda. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun, Jiang dkk berkisar 13-68
tahun, Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. Penyakit ini sering ditemukan
di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang
buruk dan di negara sedang berkembang. Di RS H. Adam Malik dari Januari 1999
sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi, 4 wanita dan 2 pria, umur
berkisar dari 10-37 tahun.1,2
Ozaena lebih umum di negara-negara sekitar Laut Tengah daripada di
Amerika Serikat. Menurunnya insidens campak, scarlet fever, dan difteria di Eropa
Selatan sejak perang dunia ke II tampaknya timbul bersaman dengan suatu penurunan
tajam dalam insidens ozaena

ETIOLOGI
Teori mengenai etiologi dan patogenesis rhinitis atrofi sampai sekarang belum
dapat diterangkan dengan memuaskan, ada beberapa hal yang dianggap sebagai
penyebabnya, antara lain :(4,5,7,8)
Engki Irawan FK-UNBRAH 6
Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

1. Infeksi kuman spesifik, yang tersering ditemukan adalah spesies Klebsiela,


terutama klebsiela ozaena. Kuman lainnya antara lain staphylokokus,
streptokokus dan pseudomonas aeruginosa.
2. Beberapa factor yang mungkin menimbulkan penyakit ini adalah sinusitis
kronis, trauma yang luas pada mukosa, sifilis.
3. Oleh karena penyakit ini mulai timbul pada usia remaja (pubertas) dan lebih
banyak ditemukan pada wanita, maka diduga ketidakseimbangan endokrin
juga berperan sebagai penyebab penyakit ini.
4. Gizi buruk, biasanya karena defisiensi vitamin A, vitamin C dan zat besi.
5. Penyakit kolagen, yang termasuk penyakit autoimun.
6. Herediter.
7. Berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi. Trauma dapat terjadi karena
kecelakaan ataupun iatrogenik, yaitu efek lanjut pembedahan, sedangkan
terapi radiasi pada hidung segera merusak pembuluh darah dan kelenjar
penghasil mucus.

PATOLOGI DAN PATOGENESIS (4,7,8)


Adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau
atrofik dan fibrosis dari tunika propria. Terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik
dalam jumlah dan ukuran dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole
terminal. Oleh karena itu secara patologi, rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:
1) Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat
infeksi kronik; membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen.
2) Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler, yang bertambah jelek dengan terapi
estrogen.
Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Endarteritis di arteriole akan
menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Juga akan ditemui infiltrasi sel
bulat di submukosa. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif
dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.
Engki Irawan FK-UNBRAH 7
Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan


krusta tebal yang melekat. Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. Ini
juga dihubungkan dengan teori proses autoimun; Dobbie mendeteksi adanya antibodi
yang berlawanan dengan surfaktan protein A. Defisiensi surfaktan merupakan
penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi
Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus
clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. Ini
akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya
mukosa hidung dan hilangnya silia. Mukus akan mengering bersamaan dengan
terkelupasnya sel epitel, membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat
baik untuk pertumbuhan kuman
Perubahan histopatologi dalam hidung pada rinitis atrofi (Ozaena), yaitu : (5)
• Mukosa hidung. Berubah menjadi lebih tipis.
• Silia hidung. Silia akan menghilang.
• Epitel hidung. Terjadi perubahan metaplasia dari epitel torak bersilia
menjadi epitel kubik atau epitel gepeng berlapis.
• Kelenjar hidung. Mengalami degenerasi, atrofi (bentuknya mengecil),
atau jumlahnya berkurang.

GEJALA KLINIS
Atrofi sedang tidak hanya mempengaruhi daerah mukosa hidung yang lebih
besar, namun terutama melibatkan suplai darah epitel hidung, secara berlahan
memperbesar rongga hidung ke segala jurusan dengan semakin tipisnya epitel.
Kelenjar mukosa atrofi dan menghilang sementara fibrosis jaringan subepitel
berlahan-lahan menyeluruh. Jaringan disekitar mukosa juga ikut terlibat termasuk
kartilago, otot dan kerangka tulang hidung. Akhirnya kekeringan, pembentukan
krusta dan iritasi mukosa hidung dapat meluas ke epitel nasofaring dan laring.

Engki Irawan FK-UNBRAH 8


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

Keadaan ini dapat mempengaruhi potensi tuba eustachius, berakibat efusi


telinga kronik, dan dapat menimbulkan perubahan yang tidak diharapkan pada
apparatus lakrimalis, termasuk keratitis sikka.(2)
Pada perubahan lanjut rhinitis atrofi, dikenal sebagai ozaena atau krusta yang
banyak dapat disertai bau busuk mamualkan. Sementara orang disekeliling penderita
tidak tahan terhadap bau busuk tersebut, pasien sendiri tidak merasakannya karena
anosmia. Ia mengeluh kehilangan indera pengecap dan tidak bisa tidur nyenyak
ataupun tidak tahan udara dingin. Meskipun jalan menjadi semakin lebar, pasien
merasakan sumbatan yang makin progresif saat bernafas lewat hidung, terutama
karena katup udara yang mengatur perubahan tekanan hidung, dan menghantarkan
impuls sensoris dari mukosa hidung ke sistem saraf pusat telah bergerak semakin
jauh. Keluhan yang lain pada rhinitis atrofi adalah nyeri kepala dan epistaksis.(1,3,4,7,8)
Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat : (4,7,8)
a) Tingkat I : Atrofi mukosa hidung, mukosa tampak kemerahan dan berlendir,
krusta sedikit.
b) Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas, mukosa makin kering, warna
makin pudar, krusta banyak, keluhan anosmia belum jelas.
c) Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai
garis, rongga hidung tampak lebar sekali, dapat ditemukan krusta di nasofaring,
terdapat anosmia yang jelas.

Pemeriksaan THT pada kasus rinitis atrofi (Ozaena) dapat kita temukan : (5)

• Rongga hidung. Rongga hidung sangat lapang.


• Konka hidung. Konka nasi media dan konka nasi inferior mengalami hipotrofi
atau atrofi.
• Sekret. Sekret purulen dan berwarna hijau.
• Krusta. Berwarna hijau.

Engki Irawan FK-UNBRAH 9


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

PEMERIKSAAN PENUNJANG (5,6,12)

Pemeriksaan penunjang pada kasus rinitis atrofi (Ozaena) yang dapat kita
lakukan antara lain :

• Transiluminasi.
• Foto Rontgen. Foto sinus paranasalis.
• Pemeriksaan mikroorganisme.
• Uji resistensi kuman.
• Pemeriksaan darah tepi.
• Pemeriksaan Fe serum.
• Pemeriksaan histopatologi.

Perubahan histopatologi dalam hidung pada rinitis atrofi (Ozaena), yaitu : (5)
Mukosa hidung. Berubah menjadi lebih tipis. Silia hidung. Silia akan
menghilang. Epitel hidung. Terjadi perubahan metaplasia dari epitel torak bersilia
menjadi epitel kubik atau epitel gepeng berlapis. Kelenjar hidung. Mengalami
degenerasi, atrofi (bentuknya mengecil), atau jumlahnya berkurang.

DIAGNOSIS(4,7,8)
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan darah rutin,
rontgen foto sinus paranasal, pemeriksaan Fe serum, Mantoux test, pemeriksaan
histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan
sifilis. Diagnosis Banding: Rinitis kronik tbc, rinitis kronik lepra, rinitis kronik sifilis
dan rinitis sika.

DIAGNOSIS BANDING(4,8)
Diagnosis rinitis atrofi (ozaena) antara lain :
1. Rinitis kronik TBC
Secara klinis rinitis aropi dan rhinitis kronik TBC sama,dapat dibedakan
dengan pemeriksaan Foto Rontgen Thorak.
2. rinitis kronik lepra

Engki Irawan FK-UNBRAH 10


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

penderita rinitis kronik lepra mempunyai riwayat atau sedang menderita


penyakit Lepra
3. rinitis kronik sifilis
Rinitis kronik sifilis terjadi pada penderita yang sedang atau sudah pernah
menderita penyakit sifilis sebelumnya
4. rinitis sika

KOMPLIKASI(4,7,8)
Komplikasi rinitis atrofi (ozaena) dapat berupa :
1. Perforasi septum
2. Faringitis
3. Sinusitis
4. Miasis hidung
5. Hidung pelana

PENATALAKSANAAN
Hingga kini pengobatan medis terbaik rinitis atrofik hanya bersifat paliatif.
Termasuk dengan irigasi dan membersihkan krusta yang terbentuk, terapi sistemik
dan lokal dengan endokrin; steroid; dan antibiotik; vasodilator; pemakaian iritan
jaringan lokal ringan seperti alkohol; dan salep pelumas. Penekanan terapi utama
adalah pembedahan, yaitu usaha-usaha langsung mengecilkan rongga hidung, dan
dengan demikian juga memperbaiki suplai darah mukosa hidung.5 Tujuan pengobatan
adalah menghilangkan faktor etiologi/ penyebab dan menghilangkan gejala.
Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan
operasi.(1)

Konservatif(1,3,4,6,7,8,10,11,12,13,)
Pengobatan konservatif ozaena meliputi pemberian antibiotik, obat cuci
hidung, dan simptomatik

Engki Irawan FK-UNBRAH 11


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman, dengan dosis adekuat
sampai tanda-tanda infeksi hilang. Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik
pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.
2) Obat cuci hidung, untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret
dan menghilangkan bau. Antara lain :
a. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau
b. Campuran :
• NaCl
• NH4Cl
• NaHCO3 aaa 9
• Aqua ad 300 cc 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat
c. Larutan garam dapur
d. Campuran :
• Na bikarbonat 28,4 g
• Na diborat 28,4 g
• NaCl 56,7 g dicampur 280 ml air hangat
Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan
menghembuskan kuat-kuat, air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut,
dilakukan dua kali sehari. Pemberian obat simptomatik pada rinitis atrofi (Ozaena)
biasanya dengan pemberian preparat Fe.

3) Obat tetes hidung , setelah krusta diangkat, diberi antara lain : glukosa 25%
dalam gliserin untuk membasahi mukosa, oestradiol dalam minyak Arachis
10.000 U / ml, kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml.
diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes.
4) Vitamin A 3 x 10.000 U selama 2 minggu.
5) Preparat Fe.

Engki Irawan FK-UNBRAH 12


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

6) Selain itu bila ada sinusitis, diobati sampai tuntas. Sinha, Sardana dan Rjvanski
melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan
dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan
93,3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Ini membantu regenerasi epitel
dan jaringan kelenjar. Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2
tablet sehari selama 2 minggu, natrium bikarbonat, cuci hidung dengan Na Cl
fisiologis 3 x sehari, kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek
samping obat, pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali, cuci hidung
diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan
pada 6 dari 7 penderita.

OPERASI (1,4,7,8,11,14)
Tujuan operasi pada rhinitis atrofi (ozaena) antara lain untuk : menyempitkan
rongga hidung yang lapang, mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan
mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Teknik
bedah dibedakan menjadi dua kategori utama :
1) Implan dengan pendekatan intra atau ekstra nasal dan
2) Operasi, seperti penyempitan lobulus hidung atau fraktur tulang hidung ke
arah dalam.
Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain :
1) Young's operation
Penutupan total rongga hidung dengan flap. Sinha melaporkan hasil yang baik
dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah
satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun.
2) Modified Young's operation
Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka.
3) Lautenschlager operation
Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid, kemudian
dipindahkan ke lubang hidung.
Engki Irawan FK-UNBRAH 13
Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan, tulang, dermofit, bahan sintetis


seperti Teflon, campuran Triosite dan Fibrin Glue.
5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation)
dengan tujuan membasahi mukosa hidung. Mewengkang N melaporkan operasi
penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil
dengan memuaskan.

Bila pengobatan konsevatif adekuat yang cukup lama tidak menunjukkan


perbaikan, pasien dirujuk untuk dilakukan operasi penutupan lubang hidung.
Prinsipnya mengistirahatkan mukosa hidung pada nares anterior atau koana sehingga
menjadi normal kembali selama 2 tahun. Atau dapat dilakukan implantasi untuk
menyempitkan rongga hidung.(3)

Engki Irawan FK-UNBRAH 14


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

KESIMPULAN
1. Rhinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda adanya
atrofi progresif tulang dan mukosa konka.
2. Etiologi penyakit ini belum jelas. Beberapa hal dianggap sebagai penyebab
seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu sepsis klebsiela, yang sering
klebsiela ozaena, kemudian staphylokokus, dan pseudomonas aeruginosa,
defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal dan
penyakit kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.
3. Gejala klinis adalah berupa keluhan subyektif yang sering ditemukan pada
pasien biasanya nafas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia),
ingus kental hijau, krusta hijau, gangguan penciuman, sakit kepala dan hidung
tersumbat. Pada pemeriksaan THT ditentukan rongga hidung sangat lapang,
konka inferior dan media hipotrofi atau atrofi, sekret purulen hijau, dan krusta
berwarna hijau.
4. Terapi belum ada yang baku, ditujukan untuk menghilangkan etiologi dan
gejala dapat dilakukan secara konservatif ataupun operatif.

Engki Irawan FK-UNBRAH 15


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga

Hidung Tenggorokan, Edisi III, editor : H. Dr. Efianty Arsyad Soepardi,

Sp.THT, Fak. Kedokteran UI, Jakarta, 1997, Hal : 89-95 ; 113-115.

2. Adams, Boeis higler, Buku Ajar Penyakit THT, Edisi VI, Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Hal : 221-222.

3. A. Mansyoer, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Satu, FK UI,

Jakarta, Hal : 100-101.

4. Asnir, A. R. 2004. Rinitis Atrofi. Available from : http://www.kalbe.co.id.

Accessed : 2008, April 12. Sumber : Cermin Dunia Kedokteran No. 144,

2004. Hal 5-7.

5. Http://hennykartika.wordpress.com/
6. Http://www.rachimuddin.com/rhinitis+atopi-file.
7. Http://www.kesimpulan.com/2009/05/rhinitis-atrofi.htm

8. Http://www.netdoctor.co.uk/diseases/facts/cermin dunia kedokteran.htm.

9. http://www.kalbe.co.id/health profesional.

10. Http://www.sutrisno09.blogspot.com/.../tht-pada-hidung-

pengrtiansebabpenyakitp.html

11. Http://www.rizsa82.wordpress.com/2008/07/19/ozaena-rhinitis-atrofi/

12. Http://www.mercywords.blogspot.com/2008/09/ozaena.html

Engki Irawan FK-UNBRAH 16


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

13. Http://www.usupress.usu.ac.id/.../MKN%20Vol_%2039%20No_

%202%20Juni%202006.pdf

14. Http://en.wikipedia.org/wiki/Atrophic_rhinitis#Aetiology

15. http://www.kalbe.co.id/?mn=med&tipe=cdk&detail=printed&cat=det&det_id

Engki Irawan FK-UNBRAH 17


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nyalah
penulis dapat menyelesaikan Paper ini.
Dengan penulisan Paper ini penulis bermaksud membahas mengenai
“Rhinitis Atrofi ” sebagai salah satu persyaratan Kepaniteraan Klinik Senior
dibagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok di RSU. Dr. Pirngadi Medan.
Dalam kesempatan ini penulis bermaksud menyampaikan terima kasih kepada
Dr. Beresman Sianipar, SpTHT sebagai pembimbing dalam Kepaniteraan dibagian
Ilmu Penyakit THT serta dokter-dokter lainnya yang telah banyak memberikan
bimbingan selama Kepaniteraan Klinik dipoliklinik THT.
 Dr. Zulkifli, SpTHT.
 Dr. Netty Harnita, Sp.THT
 Dr. Dewi Fauziah Syahnan, SpTHT.
 Dr. Rehulina Surbakti, SpTHT.
 Dr. Ali Syahbana Siregar, Sp.THT
 Dr. Beresman Sianipar, SpTHT.
 Dr. Linda Samosir, SpTHT.
 Dr. Ita L. Roderthani, SpTHT.
 Dr. Magdalena Hutagalung, SpTHT.
 Dr. Zalfina Cora, Sp.THT.
 Dr. M. Taufiq Ishaq, Sp.THT
 Dr. Olina Hulu, Sp.THT
 Dr. Seri Ulina, Sp.THT
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, April 2010


Pembimbing
Engki Irawan FK-UNBRAH 18
Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

Dr. Beresman Sianipar, SpTHT Penulis

Engki Irawan FK-UNBRAH 19


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010
Rhinitis Atrofi (Ozaena)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. i

Daftar Isi........................................................................................................... ii

Pendahuluan...................................................................................................... 1

Defenisi............................................................................................................. 4

Etiologi............................................................................................................. 5

Gejala klinis...................................................................................................... 6

Pemeriksaan penunjang.................................................................................... 7

Penatalaksanaan................................................................................................ 7

Kesimpulan....................................................................................................... 8

Daftar pustaka................................................................................................... 10

Engki Irawan FK-UNBRAH 20


Halaman
KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2010