Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN AKHIR FARMAKOTERAPI

HEMATEMESIS

Disusun oleh :

1. Linda Nur Azizah (180105059)


2. Maghfira Nur ‘Is Hakiki (180105060)
3. Meliyana (180105063)
4. Nofnain Nurino Pandah (180105071)
5. Pariyem (180105078)
6. Syarief Ahmad Khorurroji (180105096)

PROGRAM S1 FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA PURWOKERTO
2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan saya kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan laporan ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya saya
tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang
kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehatNya, baik
itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga laporan akhir ini kami harapkan bisa
menjadi referensi bagi mahasiswa lain untuk belajar tentang farmakoterapi hematemesis.

Kami tentu menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada
makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Terima Kasih

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Purwokerto, 16 November 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................

1.1 Latar Belakang ................................................................................

1.2 Etiologi ............................................................................................

1.3 Manifestasi Klinik ...........................................................................

1.4 Patofisiologi .....................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ...............................................................................

2.1 Pembahasan .....................................................................................

BAB III KASUS ............................................................................................

3.1 Review Kasus...................................................................................

BAB IV PENUTUP .......................................................................................

4.1 Kesimpulan ......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

LAMPIRAN ..................................................................................................

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perdarahan SCBA adalah hilangnya darah dari saluran cerna atas yang secara
anatomis terletak di atas ligamentum Treitz, yaitu esofagus, gaster hingga duodenum
bagian horizontal (PGI, 2012). Ada pun manifestasi klinis yang timbul dari perdarahan
SCBA adalah hematemesis, keluarnya darah atau pun bekuan darah dari nasogastric
tube, dan/atau melena, serta dapat pula berupa hematoskezia bila terjadi perdarahan
SCBA yang massif dan cepat (PGI, 2012)
Di negara barat insidensi perdarahan akut SCBA mencapai 100 per 100.000
penduduk/tahun, laki-laki lebih banyak dari wanita.Insidensi ini meningkat sesuai
dengan bertambahnya usia. Di Indonesia kejadian yang sebenarnya di populasi tidak
diketahui. Berbeda dengan di negera barat dimana perdarahan karena tuka k peptik
menempati urutan terbanyak maka di Indonesia perdarahan karena ruptura varises
gastroesofageal merupakan penyebab tersering yaitu sekitar 50-60 %, gastritis erosiva
hemoragika sekitar 25-30 %, tukak peptik sekitar 10-15 %, dan karena sebab lainnya < 5
% (Milani., 2015)
Hematemesis atau muntah darah dan melena atau berak darah merupakan keadaan
yang diakibatkan oleh perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA). Hematemesis
melena adalah salah satu penyakit yang sering dijumpai di bagian gawat darurat rumah
sakit. Sebahagian besar pasien datang dalam keadaan stabil dan sebahagian lainnya
datang dalam keadaan gawat darurat yang memerlukan tindakan yang cepat dan tepat
(Mazen A., 2010)
Melena (berak darah) adalah keadaan dimana feses hitam akibat diwarnai oleh
darah yang berubah. Kejadian melena terjadi jika ada perdarahan di saluran cerna bagian
atas (upper gastrointestinal tract) dengan kehilangan darah lebih dari 60 ml (Dorland.,
2011). Kejadian melena adalah keadaan darurat di rumah sakit yang menimbulkan 8%-
14% kejadian meninggal dunia. Faktor terpenting tingginya angka kematian adalah
kegagalan untuk menilai keadaan klinis gawat dan kurang tepat diagnostik menentukan
sumber pendarahan (Almi., 2013)
Menurut American Society of Hypertension (ASH) hipertensi adalah suatu sindrom
atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif sebagai akibat dari kondisi lain yang
kompleks dan saling berhubungan, WHO menyatakan hipertensi merupakan peningkatan

1
tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic
sama atau lebih besar 95 mmHg, (JNC VII) berpendapat hipertensi adalah peningkatan
tekanan darah diatas 140/90 mmHg, sedangkan menurut Brunner dan Suddarth hipertensi
juga diartikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan darahnya diatas 140/90
mmHg. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hipertensi merupakan peningkatan
tekanan darah sistolik yang persisten diatas 140 mmHg sebagai akibat dari kondisi lain
yang kompleks dan saling berhubungan (Bianti, Nuraini., 2015)
Cephalgia adalah istilah medis dari nyeri kepala atau sakit kepala. Cephalgia
berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu cephalo dan algos. Cephalo
memiliki arti kepala, sedangkan algos memiliki arti nyeri. Cephalgia dapat menimbulkan
gangguan pada pola tidur, pola makan, menyebabkan depresi sampai kecemasan pada
penderitanya. (Hidayati, 2016).

1.2 ETIOLOGI
1. Hematemesis Melena
Hematemesis melena disebabkan oleh perdarahan dari hipertensi portal karena
varises esovagus, varises lambung, hipertensi portal gastropati atau varises ektopik
(Ahmad., 2014)
Hematemesis terjadi bila ada perdarahan di daerah proksimal jejenum. Paling
sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru dijumpai keadaan melena.
Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai
patokan untuk menduga besar kecilnya perdarahan saluran makan bagian atas.
Hematemesis merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan perawatan
segera di rumah sakit (Nurarif, Amin dkk., 2015). Etiologi dari hematemesis adalah :
1) Kelainan esofagus : varise, esofagitis, keganasan.
2) Kelainan lambung dan duodenum : tukak lambung dan duodenum, keganasan dan
lain-lain.
3) Penyakit darah : leukemia, DIC (disseminated intravaskular coagulation), purpura
trombositopenia dan lain-lain.
4) Penyakit sistemik lainnya : uremik, dan lain-lain.
5) Pemakaian obat-obatan yang ulserogenik : golongan salisilat, kortikosteroid,
alkohol, dan lain-lain (Nurarif, Amin dkk., 2015)
Penting menentukan penyebab dan tempat asal perdarahan saluran makan
bagian atas, karena terdapat perbedaan usaha penanggulangan setiap macam

2
perdarahan saluran makan bagian atas. Penyebab perdarahan saluran makan bagian
atas yang terbanyak dijumpai di indonesia adalah pecahnya varises esofagus dengan
rata-rata 45-50% seluruh perdarahan saluran makan bagian atas (Nurarif, Amin dkk.,
2015)
2. Hipertensi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi
terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain
(Bianti, Nuraini., 2015) :
1) Genetik: adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan
keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan
peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium
terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko
dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak
mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.8 Selain itu didapatkan 70-80%
kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga
2) Obesitas: berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan darah pada
kebanyakan kelompok etnik di semua umur. Menurut National Institutes for
Health USA (NIH,1998), prevalensi tekanan darah tinggi pada orang dengan
Indeks Massa Tubuh (IMT) >30 (obesitas) adalah 38% untuk pria dan 32% untuk
wanita, dibandingkan dengan prevalensi 18% untuk pria dan 17% untuk wanita
bagi yang memiliki IMT. Menurut Hall (1994) perubahan fisiologis dapat
menjelaskan hubungan antara kelebihan berat badan dengan tekanan darah, yaitu
terjadinya resistensi insulin dan hiperinsulinemia, aktivasi saraf simpatis dan
sistem reninangiotensin, dan perubahan fisik pada ginjal.
3) Jenis kelamin: prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita.
Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause salah
satunya adalah penyakit jantung koroner. 10 Wanita yang belum mengalami
menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan
kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi
merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis.
Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita
pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit
demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari

3
kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah
kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai
terjadi pada wanita umur 45-55 tahun.
4) Stres: stres dapat meningkatkan tekanah darah sewaktu. Hormon adrenalin akan
meningkat sewaktu kita stres, dan itu bisa mengakibatkan jantung memompa
darah lebih cepat sehingga tekanan darah pun meningkat
5) Kurang olahraga: olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit
tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan
perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot
jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan
yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu. Kurangnya aktivitas fisik
menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi
gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih
cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi,
semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan
yang mendesak arteri.
6) Pola asupan garam dalam diet: badan kesehatan dunia yaitu World Health
Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat
mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan
adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam)
perhari. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di
dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler
ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya
volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah,
sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi.
7) Kebiasaan Merokok: merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok
berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan
risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.14 Dalam
penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and
Women’s Hospital, Massachussetts terhadap 28.236 subyek yang awalnya tidak
ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok
pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang
merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median
waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi

4
terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang
perhari.
3. Cephalgia
Penyebab nyeri kepala banyak sekali, meskipun kebanyakan adalah kondisi
yang tidak berbahaya (terutama bila kronik dan kambuhan), namun nyeri kepala yang
timbul pertama kali dan akut awas ini adalah manifestasi awal dari penyakit sistemik
atau suatu proses intrakranial yang memerlukan evaluasi sistemik yang lebih teliti
(Bahrudin, 2013).
Menurut Papdi (2012) sakit kepala sering berkembang dari sejumlah faktor
resiko yang umum yaitu:
1) Penggunaan obat yang berlebihan yaitu mengkonsumsi obat berlebihan dapat
memicu sakit kepala bertambah parah setiap diobati.
2) Stress Stress adalah pemicu yang paling umum untuk sakit kepala, stress bias
menyebabkan pembuluh darah di bagian otak mengalami penegangansehingga
menyebabkan sakit kepala.
3) Masalah tidur Masalah tidur merupakan salah satu faktor terjadinya sakit kepala,
karenasaat tidur seluruh anggota tubuh termasuk otak dapat beristirahat.
4) Kegiatan berlebihan Kegiatan yang berlebihan dapat mengakibatkan pembuluh
darah di kepaladan leher mengalami pembengkakan, sehingga efek dari
pembengkakanakan terasa nyeri.
5) Rokok Kandungan didalam rokok yaitu nikotin yang dapat mengakibatkan
pembuluh darah menyempit, sehingga menyebabkan sakit kepala.
1.3 MANIFESTASI KLINIS
1. Hematemesis Melena
Menurut (Nurarif, Amin dkk. 2015) Gejala terjadi akibat perubahan morfologi dan
lebih menggambarkan beratnya kerusakan yang terjadi dari pada etiologinya.
Didapatkan gejala dan tanda sebagai berikut :
1) Gejala-gejala intestinal yang tidak khas seperti anoreksia, mual, muntah dan diare.
2) Demam, berat badan turun, lekas lelah.
3) Ascites, hidratonaks dan edemo.
4) Ikterus, kadang-kadang urin menjadi lebih tua warnanya atau kecoklatan.
5) Hematomegali, bila telah lanjut hati dapat mengecil karena fibrosis. Bila secara
klinis didapati adanya demam, ikterus dan asites, dimana demam bukan oleh

5
sebab-sebab lain, ditambahkan sirosis dalam keadaan aktif. Hati-hati akan
kemungkinan timbulnya prekoma dan koma hepatikum.
6) Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral didinding, koput medusa,
wasir dan varises esofagus.
7) Kelainan endokrin yang merupakan tanda dari hiperestrogenisme yaitu:
Impotensi, atrosi testis, ginekomastia, hilangnya rambut axila dan pubis.
Amenore, hiperpigmentasi areola mamae, Eritema dan hiperpigmentasi
8) Jari tabuh.
2. Hipertensi
Menurut Martha (2012) gejala-gejala yang mudah diamati pada penderita
hipertensi antara lain : pusing atau sakit kepala, sering gelisah, wajah merah, tengkuk
terasa pegal, mudah marah, telinga berdengung, sukar tidur, sesak nafas, rasa berat di
tengkuk, mudah lelah, mata berkunang-kunang serta mimisan (keluar darah dari
hidung). Sedangkan menurut Ardiansyah (2012) sebagian manifestasi klinis timbul
setelah penderita mengalami hipertensi selama bertahun-tahun dengan gejalanya
berupa nyeri kepala saat terjaga, terkadang disertai mual dan muntah akibat
peningkatan tekanan darah interkranium; penglihatan kabur karena terjadi kerusakan
pada retina sebagai dampak dari hipertensi; ayunan langkah yang tidak mantap karena
terjadi kerusakan susunan saraf pusat; nokturia (sering berkemih di malam hari)
karena adanya peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus; dan edema
dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler. Pada kasus
hipertensi berat, gejala yang dialami pasien antara lain sakit kepala (rasa berat di
tengkuk), palpitasi, kelelahan, nausea, muntah-muntah, kegugupan, keringat
berlebihan, tremor otot, nyeri dada, epistaksis, pandangan kabur atau ganda, tinnikus
(telinga mendenging), serta kesulitan tidur.
2.4 PATOFISIOLOGI
1. Hematemesis Melena
1) Ulkus Peptikum
Ulkus peptikum terjadi terutama pada mukosa gastroduodenal karena jaringan ini
tidak dapat menahan kerja asam lambung pencernaan (asam hidroklorida) dan
pepsin. Erosi yang terjadi berkaitan dengan peningkatan konsentrasi dan kerja
asam pepsin, atau berkenaan dengan penurunan pertahanan normal dari mukosa.
Mukosa yang rusak tidak dapat mensekresi mucus yang cukup bertindak sebagai
barier terhadap asam klorida.

6
2) Sekresi lambung
Sekresi lambung terjadi pada tiga fase yang serupa ; (1) fase sefalik yaitu :
fase yang dimulai dengan rangsangan seperti pandangan, bau, atau rasa
makanan yang bekerja pada reseptor kortikal serebral yang pada gilirannya
merangsang saraf vagal , (2) fase lambung, yaitu : pada fase lambung
dilepaskan asam lambung dilepaskan sebagai akibat dari rangsangan kimiawi
dan mekanis terhadap resptor di dinding lambung, dan (3) fase usus, yaitu
makanan pada usus halus menyebabkan pelepasan hormon (dianggap sebagai
gastrin) yang pada waktunya akan merangsang sekresi asam lambung.
3) Barier mukosa lambung
Merupakan pertahanan utama lambung terhadap pencernaan yang dilakukan
lambung itu sendiri. Faktor lain yang mempengaruhi pertahanan mukosa
adalah suplai darah , keseimbangan asam basa, integritas sel mukosa dan
regenersi sel epitel. Seseorang mungkin akan mengalami ulkus peptikum
karena satu dari dua faktor ini , yaitu; (1) hipersekresi asam lambung (2)
kelemahan barier mukosa lambung.
Apapun yang menurunkan produksi mucus lambung atau merusak mukosa
lambung adalah ulserogenik ; salisilat, obat anti inflamasi non steroid, alcohol
dan obat antiinflamasi.
4) Sindrom Zollinger-Ellison Sindrom ini diidentifikasi melalui temuan ;
hipersekresi getah lambung, ulkus duodenal, dan gastrinoma dalam pancreas.
5) Ulkus Stres Merupakan istilah yang diberikan pada ulserasi mukosal akut dari
duodenal atau area lambung yang terjadi setelah kejadian penuh stress secara
fisiologis. Kejadian stress misalnya ; luka bakar, syok, sepsis berat dan
trauma organ multipel. (Nurarif, Amin dkk. 2015)

Zat kimia, obat-obatan golongan NSAID, alkohol

Kelainan di esofagus, kelainan di lambung, penyakit darah

Masuk lambung

7
Iritasi mukosa lambung

Erosi mukosa lambung, mual, muntah, anoreksia, perdarahan,


Hematemesis melena

Vol intracaskuler Merangsang nosi Intake nutrisi


menurun reseptor hipotalamus adekuat menurun

Penurunan Hb Agents cedera Nutrisi kurang


biologis dari kebutuhan

Transport O2
nyeri Kurang informasi
menurun

keletihan
Cepat lelah Kurang
Gangguan perfusi pengetahuan
jaringan

Intoleransi aktifitas

Kurang volume
Risiko syok
cairan

(Nurarif, Amin. Dkk., 2015)

8
2. Hipertensi
Pembuluh darah akan mengalami fase konstriksi dan relaksasi dimana
mekanisme ini dikontrol dimulai dari jaras saraf simpatis yang berada di pusat
vasomotor medula spinalis. Jaras saraf simpatis dari medula spinalis kemudian
berlanjut ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis menuju ganglia
simpatis di toraks dan abdomen (Price & Wilson, 2005). Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah dimana dengan dilepaskannya norepinefrin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Individu dengan hipertensi sangat
sensitif terhadap norepinefrin, berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan
dapat memengaruhi respons pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi
(Smeltzer & Bare, 2001).
Ketika sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons
rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang yang mengakibatkan tambahan
aktivitas vasokonstriksi. Vasokontriksi ini terjadi karena medula adrenal mensekresi
epinefrin, sedangkan korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya yang
dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin.
Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi
angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi
aldosteron oleh korteks adenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh
tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor
tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Smeltzer & Bare, 2001).
Beberapa faktor yang mengendalikan tekanan darah berkontribusi
mengembangkan hipertensi primer. Dua faktor utama meliputi masalah hormon yaitu
hormon natriuretik dan reninangiotensin-aldosterone system (RAAS) serta mekanisme
atau gangguan elektrolit (natrium, klorida, potasium). Hormon Natriuretik
menyebabkan peningkatan konsentrasi natrium dalam sel yang menyebabkan
peningkatan tekanan darah. Reninangiotensin-aldosterone system mengatur sodium,
potasium, dan volume darah, yang akan mengatur tekanan darah di arteri (pembuluh
darah membawa darah menjauhi hati). Dua hormon yang terlibat dalam RAAS
meliputi angiotensin II dan aldosteron. Angiotensin II menyebabkan penyempitan
pembuluh darah, meningkatkan pelepasan bahan kimia yang meningkatkan tekanan
darah, dan meningkatkan aldosteron produksi. Penyempitan pembuluh darah

9
meningkatkan darah tekanan (kurang ruang, jumlah darah yang sama), yang juga
tempat tekanan pada jantung. Aldosteron menyebabkan natrium dan air tetap berada
di dalam darah. Akibatnya, ada volume darah yang lebih besar akan meningkatkan
tekanan pada jantung dan meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah arteri adalah
tekanan pada pembuluh darah khususnya dinding arteri yang diukur dalam milimeter
merkuri (mmHg). Dua nilai tekanan darah arterial adalah tekanan darah sistole dan
tekanan darah diastole (Bell et al., 2015).

BAB II

PEMBAHASAN

Ny. UH umur 50tahun masuk rumah sakit 30 mei 2020, No RM 3.2981.


Mengeluh Kondisi lemah, mual, BAB warna hitam. Didignosis dokter Hematemesis
dan Hipertensi. Mempunyai Riwayat penyakit hipertensi stage 1 sejak 1 tahun yang
lalu dan Cephalgia. Biasa minum bodrex 1lempeng/hari dan jamu-jamuan.

10
Pada kejadian ini pasien mengalami kenaikan tekanan darah atau hipertensi,
dimana bersadarkan data laboratorium pada tanggal 30 mei, 1-6 juni mengalami
kenaikan dari normalnya yaitu 120/80 mmHg (Kotchen, 2012). Untuk mengatasi
masalah tersebut pasien mendapatkan terapi captopril 3x25mg perhari, amlodipine
1x5mg dan amodipine 1x10mg perhari. Captopril merupakan golongan ACE Inhibitor
yang bekerja dengan menghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE) yang
dalam keadaan normal bertugas menonaktifkan Angiotensin I menjadi Angiotensin II
(berperan penting dalam regulasi tekanan darah). Pemakaian captopril lebih banyak
dibanding ACE Inhibitor lain seperti lisinopril dan ramipril. Captopril lebih banyak
digunakan karena selain murah, juga lebih populer di Indonesia di antara obat lain
(Prasetyo, et al., 2015; Putra, et al., 2012). Amlodipin adalah obat antihipertensi dan
antiangina yang tergolong dalam obat antagonis kalsium golongan dihidropiridin (antagonis
ion kalsium). Amlodipin bekerja dengan menghambat influks (masuknya) ion kalsium
melalui membran ke dalam otot polos vaskular dan otot jantung sehingga mempengaruhi
kerja kontraksi otot polos vaskular dan otot jantung. Efek antihipertensi amlodipin adalah
bekerja langsung sebagai vasodilator arteri perifer yang dapat menyebabkan terjadinya
penurunan resistensi vaskular serta penurunan tekanan darah (Laurent, L., 2011).

Masalah klinik yang juga dialami pasien yakni hematemesis. Hematemesis atau
muntah darah dan melena atau berak darah merupakan keadaan yang diakibatkan oleh
perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA). Hematemesis melena adalah salah satu
penyakit yang sering dijumpai di bagian gawat darurat rumah sakit. Sebahagian besar
pasien datang dalam keadaan stabil dan sebahagian lainnya datang dalam keadaan
gawat darurat yang memerlukan tindakan yang cepat dan tepat (Mazen A., 2010).
Untuk mengatasi masalah tersebut pasien mendapatkan terapi omeprazole, sucralfate,
lanzoprazole, ozid, lactulac dan diazepam. omeprazole merupakan golongan obat Proton
Pump Inhibitor (PPI) dimana obat obat golongan PPI mengurangi sekresi asam lambung
dengan jalan menghambat enzim H+, K+, Adenosine Triphosphatase (ATPase) (enzim ini
dikenal sebagai pompa proton) secara selektif dalam sel-sel parietal. Enzim proton bekerja
memecah KH+ ATP yang kemudian akan menghasilkan energi yang digunakan untuk
mengeluarkan asam dari kanalikuli sel parietal ke dalam lumen lambung. ikatan antara bentuk
aktif obat dengan gugus sulfhidril dari enzim ini yang menyebabkan terjadinya penghambatan
terhadap kerja enzim. kemudian dilanjutkan dengan terhentinya produksi asam lambung (Non
prescription medicines, 2010). pemberian sucralfate pada kasus ini didasari mekanisme
kerja sucralfate atau aluminium sukrosa sulfat diperkirakan melibatkan ikatan selektif
pada jaringan ulkus yang nekrotik, dimana obat ini bekerja sebagai sawar terhadap
asam, pepsin dan empedu. obat ini mempunyai efek perlindungan terhadap mukosa
termasuk simulasi prostaglandin mukosa. selain itu, sucralfate dapat langsung
mengabsorpsi garam-garam empedu.aktivitas ini nampaknya terletak didalam seluruh
kompleks molekul dan bukan hasil kerja ion aluninium saja. obat ini juga memerlukan
pH asam untuk aktif sehingga tidak boleh diberikan bersama antasid atau antagonis
reseptor H2 (Almi DU, 2013).Lansoprazole merupakan kelompok obat pompa proton
inhibitor. Pompa proton inhibitor memiliki efek penghambatan sekresi asam yang
kuat pada lambung, menekan sekresi asam lambung dengan membentuk batas
disulfida irreversible dengan H+ /K+ -ATPase. Pompa ini melepaskan ion hydrogen

11
ke lumen lambung yang kemudian diganti dengan ion kalium (Fohl dan Regal ,2011).
Laktulosa dihifrolisa bakteri usus menjadi asam laktat dan asetat. Lingkungan asam
ini mengionisasi amonia menjadi ion amonium, sehingga tidak berdifusi melalui
membran colon dan akan dieksresikan bersama feses. Laktulosa juga menghambat
pembentukan amonia oleh bakteri usus.kelebihan laktulosa lainnya adalah sifat
katarsis yang dimilikinya. Laktulosa akan menarik cairan sehingga melunakkan feses
dan merangsang peristaltik usus. Peningkatan peristaltik usus akan memendekkan
transit time feses dalam colon, sehingga amonia yang terserap semakin sedikit (Li et
al, 2004). Tetapi untuk pemberian diazepam tidak disarankan karena Alprazolam,
lorazepam, diazepam, dan estazolam merupakan golongan obat benzodiazepine yang
penggunaan tidak sesuai digunakan pada pasien usia lanjut, karena pada usia lanjut
khususnya yang sensitif dengan obat ini dapat meningkatkan resiko kemunduran
mental, delirium (tidak bisa berpikir jernih), jatuh, dan patah tulang. ini terjadi apabila
penggunaan obat dihentikan setelah beberapa lama terapi, terapi jangka panjangdan
penggunaan dosis tinggi. jatuh dan patah tulang dapat dipicu karena efek samping
obatnya yaitu pusing, lemah, mengantuk yang dapat mengurangi konsentrasi, dan
keseimbangan pasien (Ikawati Z, 2011).

Pasien juga mengalami anemia. Anemia merupakan keadaan dimana jumlah


sel darah merah atau jumlah hemoglobin berkurang dari normal (Prawirohardjo,
2012). Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, nilai Hb pada tgl 30/5 yaitu 5,2
g/dL dan pada tgl 3/6 yaitu 10 g/dL (nilai normal 13,8-17,2 g/L) dan Hct pada tgl 30/5
yaitu 17,3%dan pada tgl 3/6 yaitu 31,5% (nilai normal 41-50%) dari hasil tersebut
menandakan pasien mengalami perdarahan dalam kasus ini adalah perdarahan saluran
cerna. Untuk mengatasi anemia pasien diberikan transfusi PRC, pemberian transfusi
Packed Red Cell (PRC) merupakan salah satu terapi pendukung untuk mengatasi
anemia (Schjrijvers, 2011). Transfusi Packed Cells (PRC) ditunjukkan untuk mencapai
peningkatan yang cepat dalam pasokan oksigen ke jaringan, bila kepekatan HB rendah
dan/atau kemampuan membawa oksigen berkurang yaitu mekanisme kompensasi fisiologi
tigak memadai (Liumbruno G, 2009). Transfusi darah yang biasa diberikan di anemia yaitu
PRC merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit yang telah dipekatkan dengan
memisahkan komponen lain. PRC banyak dipakai dalam pengobatan anemia terutama untuk :
talasemia,leukemia,anemia aplastik dan akibat keganasan lainnya serta penyakit kronis yang
mengebai ginjal dan hati, serta infeksi dan kekurangan endokrin, sehingga pasien anemia
perlu diberikan transfusi darah PRC (Bakta IM, 2009).

Pasien juga mengalami riwayat cephalgia sejak 1 tahun yang lalu. Terapi yang diberikan yakni dengan
pemberian analgesik parasetamol. Cephalgia adalah istilah medis dari nyeri kepala atau sakit kepala.
Cephalgia berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu cephalo dan algos.Cephalo
memiliki arti kepala, sedangkan algos memiliki arti nyeri. Cephalgia dapat menimbulkan gangguan
pada pola tidur, pola makan, menyebabkan depresi sampai kecemasan pada penderitanya. Penelitian
yang telah dilakukan oleh Paiva dkk mengidentifikasi adanya gangguan tidur yang spesifik pada 55%
populasi penderita nyeri kepala dengan gangguan tidur pada malam hari (Hidayati, 2016). Terapi yang
diberikan untuk mengatasi cephalgia yakni dengan pemberian analgesik parasetamol. Parasetamol
merupakan obat analgetik non narkotik dengan cara kerja menghambat sintesis prostaglandin
terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP). Parasetamol berguna untuk nyeri ringan sampai

12
sedang, seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri paska melahirkan dan keadaan lain (Katzung,
2011).

Pasien juga diberikan terapi penunjang untuk mengatasi kondisi lemahnya yaitu
dengan pemberian infus NS. Infus saline normal 0,9% diberikan secara intravena.
Diberikan secara intravaskular sebagai cairan dasar pada prosedur hemodialisis. NaCl
0,9% (normal saline) dapat dipakai sebagai cairan resusitasi (replacement therapy),
terutama pada kasus seperti kadar Na+ yang rendah, dimana RL tidak cocok untuk
digunakan (seperti pada alkalosis, retensi kalium). NaCl 0,9% merupakan cairan
pilihan untuk kasus trauma kepala, sebagai pengencer sel darah merah sebelum
transfusi (Braun, 2015).

13
BAB III

KASUS
FORMULIR PEMANTAUAN TERAPI OBAT
PTO – 1. SUBJEKTIF
A. IDENTITAS PASIEN
TANGGAL MRS : 30 Mei 2020 TGL LAHIR / UMUR : 50 Tahun

NAMA : Ny.UH BB/TB/LPT : - / - /

NO. RM : 3.2981 JENIS KELAMIN : (Laki-laki / Perempuan)


R. RAWAT :- ALERGI OBAT :-
NAMA DPJP :- TANGGAL KRS :-

KONDISI KHUSUS :

a. Hamil/Menyusui b. Gangguan Ginjal c. Gangguan Hati d. Hematemasis dan Hipertensi

KELUHAN UTAMA :

Lemah, mual. BAB warna hitam

DIAGNOSIS DOKTER:

Hematemasis dan Hipertensi

II. RIWAYAT PASIEN


Riwayat Penyakit Hipertensi stage 1 sejak 1 tahun yang lalu dan Cephalgia

Riwayat Biasa minum bodrex 1 lempeng/hari dan jamu-jamuan


Pengobatan

Riwayat Keluarga

14
-

PTO – 2. OBJEKTIF
A. DATA PEMERIKSAAN KLINIK (TTV)
Nilai Tanggal
Pemeriksaa
Norm 7/6 8/6 9/6
n 30/5 1/6 2/6 3/6 4/6 5/6 6/6
al
Suhu 36-37 36,4 36,4 36,4 36,4 36,4 36,4 36,4 36 36 36
RR 20x/m 20 25 24 23 23 23 23 23 23 23
in
HR 80x/m 84 82 82 80 84 80 80 60 80 80
in
Tekanan <120/ 160/ 150/ 120/ 160/ 160/ 140/ 140/ 140/ 140/ 140/
Darah 80mm 90 90 90 90 90 70 70 90 90 80
Hg

INTERPRETASI DATA PEMERIKSAAN KLINIK :


1. Suhu : dari tanggal 30 bulan mei sampai tanggal 1-6 juni suhu normal. Suhu tubuh
normal manusia yaitu 35,8°C-37,5°C (Sherwood, 2014).
2. RR : dari tanggal 1/6 sampai dengan tanggal 6/6 RR mengalami kenaikan yang dapat
diartikan pasien memiliki RR diatas normalnya (12-20x/menit) (Royal College of
Physicians (RCP), 2017).
3. HR : pada tanggal 30 mei, 1,2,4 juni pasien memiliki denyut nadi diatas normalnya
yaitu 70-80x/menit (Tortora et al, 2009)
4. TD : pada tanggal 30 mei, 1-6 juni mengalami kenaikan dari normalnya yaitu 120/80
mmHg (Kotchen, 2012).

15
B. DATA PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal
Pemeriksaan Nilai normal 30/5 3/6
Hemoglobin 13.8 - 17.2 5,2 10
g/dL
Leukosit 20 - 40% 24,2 -
HCT 41 - 50% 17,3 31,5
Angka 4.00 - 10.50 - 9,52
leukosit 10^3 uL
MCV 80.0 - 97.6 70,5 79,1
FI
At - 22 24
Creatinin 0,7 - 1,3 423 298
Mg/l
BUN 8 - 25Mg/dl 1,05 -
SGPT <39 U/ 26 -
Monosit 2 - 8% 6,5 -
Eosinofil 1 -3% 0,6 -
Basofil 0 - 1% 0,3 -
Na 135-145 0,3 -
mEq/L
K 3,5-5 3,6 -
mEq/L
GDS 95-111 132 -
Mg/dL

INTERPRETASI DATA PEMERIKSAAN LAB :

1. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, nilai Hb pada tgl 30/5 yaitu 5,2 g/dL
dan pada tgl 3/6 yaitu 10 g/dL (nilai normal 13,8-17,2 g/L) dan Hct pada tgl 30/5
yaitu 17,3%dan pada tgl 3/6 yaitu 31,5% (nilai normal 41-50%) dari hasil tersebut
menandakan pasien mengalami perdarahan dalam kasus ini adalah perdarahan saluran
cerna.
2. Hasil pemeriksaan laboratorium, nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) dan/atau
kadar hemoglobin pada tgl 30/5 yaitu 70,5 dan tgl 3/6 yaitu 79,1 (nilai normal 80-97,6
FI)
3. Nilai gula darah sewaktu (GDS) Ny. UH pada tgl 30/5 diatas dari normalnya yaitu
<110 mg/dL (Rudi, 2013).
4. Pada tgl 30/5 nilai BUN diatas dari normalnya yaitu 8-25mg/dL (Widman, 2011).
5. pada tgl 30/5 dan 3/6 nilai MCH pasien dibawah dari normalnya yaitu 27,5-33,2 pg
(Syahida Djasang, 2018).

16
C. DATA PEMERIKSAAN LABORATORIUM PENDUKUNG SPESIFIK
(CT-SCAN, FOTO THORAX, DAN LAIN SEBAGAINYA)
-

17
PTO – 3. ASSESSMENT
A. PROFIL PENGGUNAAN OBAT

JENIS OBAT Tanggal Pemberian Obat (Mulai MRS)

Rut 3 1/6 2/6 3/6 4/6 5/6 6/6 7/6


No Nama Dagang/ Regimen Dosis 0
e
Generik /
5
1. O2 3 tpm Infu √ √ √ √ √ √ √ √
s

2. Infus NS 16 tpm Infu √ √ √ √ √ √ √ √


s

3. Drip Omeprazole 8 Mg/J Drip √ √ //

4. Sucralfate 3x CL PO √ √ √ √ √ √ √ //

5. Lactulac 3X CL PO √ √ √ √ √ √ √ √

6. Ozid 3X1 tab IV - - √ √ √ √ √ √

7. Lansoprazole 1x30mg PO - - - - - - √ √

8. Amlodipine 5mg 1x5mg PO - - √ √ //

9. Amlodipine 10mg 1x10mg PO - - - - √ √ √ √

10. Captopril 2x25mg PO √ √ √ √ √ √ √ √

11. Parasetamol/PCT 3x500mg PO √ √ √ //

12. Diazepam 3x2mg PO √ √ √ //

13. Tx PRC - Tx √ √ √ //

18
B. MASALAH KLINIK & DRUG RELATED PROBLEM
1. UNTREATED INDICATION, IMPROPER DRUG SELECTION & MEDICATION USE WITHOUT INDICATION
Indikasi pada Pasien dan Pemilihan Obat
Masalah klinik Drug-related Problems (DRPs) & Resep dokter Kesesuaian Rekomendasi dan Alasan Monitoring
pada Pasien Reference Study Obat (Literature Study)
(DRPs)
pasien mengeluh kondisi lemah, Drip Sesuai omeprazole dan HGB
Hematemesis mual dan BAB berwarna hitam Omeprazole, lansoprazole merupakan
Ozid IV, golongan obat Proton
Lansoprazole Pump Inhibitor (PPI)
dimana obat obat
golongan PPI
mengurangi sekresi asam
lambung dengan jalan
menghambat enzim H+,
K+, Adenosine
Triphosphatase
(ATPase) (enzim ini
dikenal sebagai pompa
proton) secara selektif
dalam sel-sel parietal.
Enzim proton bekerja
memecah KH+ ATP
yang kemudian akan
menghasilkan energi
yang digunakan untuk
mengeluarkan asam dari
kanalikuli sel parietal ke
dalam lumen lambung.
ikatan antara bentuk
aktif obat dengan gugus

19
sulfhidril dari enzim ini
yang menyebabkan
terjadinya penghambatan
terhadap kerja enzim.
kemudian dilanjutkan
dengan terhentinya
produksi asam lambung
(Non prescription
medicines, 2010).
Menurut Cheng (2011)
dan Barkum (2003) Obat
golongan PPI merupakan
pilihan pertama dalam
mengatasi pendarahan
saluran cerna. Menurut
Cheng (2011) dan Hesch
dan Mohebbi (2009)
pemberian PPI 80mg
efektif untuk mengatasi
melena karena stress
ulcer. PPI dalam hal ini
Omeprazole (Ozid)
dengan dosis 80mg
efektif untuk mengatasi
pendarahan. Pemberian
PPI dapat
dikombinasikan dengan
sucralfate (Dipiro,2008).
Tetapi penggunaan 2
jenis PPI kurang tepat,
sebaiknya dipilih satu

20
jenis PPI, sebab menurut
Guideline dan Standar
Sucralfate Sesuai Pelayanan Medis RSUP
Dr. Sardjito (2005)
hanya digunakan 1 jenis
PPI saja. Dimana dilihat
dari data lab pada tgl 6/6
dan 7/6 pasien menerima
2 jenis PPI, lebih baik
memilih salah satu obat
PPI.

Pemberian sucralfate pada


kasus ini didasari mekanisme
kerja sucralfate atau
aluminium sukrosa sulfat
diperkirakan melibatkan
ikatan selektif pada jaringan
ulkus yang nekrotik, dimana
obat ini bekerja sebagai sawar
terhadap asam, pepsin dan
empedu. obat ini mempunyai
efek perlindungan terhadap
mukosa termasuk simulasi
prostaglandin mukosa. selain
itu, sucralfate dapat langsung
mengabsorpsi garam-garam
empedu.aktivitas ini

21
nampaknya terletak didalam
seluruh kompleks molekul
dan bukan hasil kerja ion
aluninium saja. obat ini juga
memerlukan pH asam untuk
aktif sehingga tidak boleh
diberikan bersama antasid
atau antagonis reseptor H2
(Almi DU, 2013).

Lactulax Sesuai Laktulosa dihifrolisa bakteri


usus menjadi asam laktat dan

22
asetat. Lingkungan asam ini
mengionisasi amonia menjadi
ion amonium, sehingga tidak
berdifusi melalui membran
colon dan akan dieksresikan
bersama feses. Laktulosa juga
menghambat pembentukan
amonia oleh bakteri
usus.kelebihan laktulosa
lainnya adalah sifat katarsis
yang dimilikinya. Laktulosa
akan menarik cairan sehingga
melunakkan feses dan
merangsang peristaltik usus.
Peningkatan peristaltik usus
akan memendekkan transit
time feses dalam colon,
sehingga amonia yang
terserap semakin sedikit (Li et
al, 2004).

Alprazolam,
lorazepam, diazepam,
dan estazolam
Diazepam Tidak Sesuai merupakan golongan

23
obat benzodiazepine
yang penggunaan tidak
sesuai digunakan pada
pasien usia lanjut,
karena pada usia lanjut
khususnya yang
sensitif dengan obat
ini dapat
meningkatkan resiko
kemunduran mental,
delirium (tidak bisa
berpikir jernih), jatuh,
dan patah tulang. ini
terjadi apabila
penggunaan obat
dihentikan setelah
beberapa lama terapi,
terapi jangka
panjangdan
penggunaan dosis
tinggi. jatuh dan patah
tulang dapat dipicu
karena efek samping
obatnya yaitu pusing,
lemah, mengantuk
yang dapat
mengurangi
Didiagnosis hipertensi, dan konsentrasi, dan

24
Hipertensi mempunyai penyakit hipertensi Captopril Sesuai keseimbangan pasien TD
stage 1 sejak 1 tahun yang lalu. (Ikawati Z, 2011).
Dilihat dari data lab pasien pada
pada tgl 30/5,1/6 dan 3/6-9/6 TD
diatas dari nilai normalnya yaitu
<120/80mmHg.

Captopril merupakan
golongan ACE Inhibitor yang
bekerja dengan menghambat
Angiotensin Converting
Enzyme (ACE) yang dalam
keadaan normal bertugas
menonaktifkan Angiotensin I
menjadi Angiotensin II
(berperan penting dalam
regulasi tekanan darah).
Pemakaian captopril lebih
banyak dibanding ACE
Inhibitor lain seperti lisinopril
dan ramipril. Captopril lebih
banyak digunakan karena
selain murah, juga lebih
populer di Indonesia di antara
obat lain (Prasetyo, et al.,
2015; Putra, et al., 2012)

25
Amlodipine Sesuai TD

Amlodipin adalah obat


antihipertensi dan antiangina
yang tergolong dalam obat
antagonis kalsium golongan
dihidropiridin (antagonis ion
kalsium). Amlodipin bekerja
dengan menghambat influks
(masuknya) ion kalsium melalui
membran ke dalam otot polos
vaskular dan otot jantung
sehingga mempengaruhi kerja
kontraksi otot polos vaskular dan
otot jantung. Efek antihipertensi
amlodipin adalah bekerja
langsung sebagai vasodilator
arteri perifer yang dapat
menyebabkan terjadinya
penurunan resistensi vaskular
serta penurunan tekanan darah
(Laurent, L., 2011).Sediaan
beredar dalam bentuk tablet
dengan kekuatan dosis antara 5
dan 10 mg/tablet. Dosis untuk
penggunaan antihipertensi
diberikan secara individual,
tergantung pada toleransi dan
respon pasien. Dosis awal 5 mg

26
sehari 1 tablet dan dosis
maksimum 10 mg sehari 1 tablet
Cephalgia Parasetamol Sesuai (Informasi spesialite obat
Indonesia., 2011)
Parasetamol merupakan obat
analgetik non narkotik dengan
cara kerja menghambat
sintesis prostaglandin
terutama di Sistem Syaraf
Pusat (SSP). Parasetamol
berguna untuk nyeri ringan
sampai sedang, seperti nyeri
kepala, mialgia, nyeri paska
melahirkan dan keadaan lain
(Katzung, 2011).

Anemia Dilihat dari data Lab Kadar Tx PRC Sesuai Transfusi Packed Cells HGB & HCT
hemoglobin pada tgl 30/5 (PRC) ditunjukkan untuk
5,2g/dL dan tgl 3/6 10g/dLdan mencapai peningkatan
hematokrit rendah pada tgl 30/5 yang cepat dalam
17,3% dan tgl 3/6 31,5% yang pasokan oksigen ke
menunjukan pasien terkena jaringan, bila kepekatan
anemia. HB rendah dan/atau
kemampuan membawa
oksigen berkurang yaitu
mekanisme kompensasi
fisiologi tigak memadai

27
(Liumbruno G, 2009).
Transfusi darah yang
biasa diberikan di
anemia yaitu PRC
merupakan komponen
yang terdiri dari eritrosit
yang telah dipekatkan
dengan memisahkan
komponen lain. PRC
banyak dipakai dalam
pengobatan anemia
terutama untuk :
talasemia,leukemia,anem
ia aplastik dan akibat
keganasan lainnya serta
Terapi Penunjang penyakit kronis yang
Infus NS Sesuai mengebai ginjal dan hati,
Pasien mengeluh lemah serta infeksi dan
kekurangan endokrin,
sehingga pasien anemia
perlu diberikan transfusi
darah PRC (Bakta IM,
2009)

Infus saline normal 0,9%


diberikan secara intravena.
Diberikan secara intravaskular
sebagai cairan dasar pada
prosedur hemodialisis. NaCl
0,9% (normal saline) dapat

28
dipakai sebagai cairan
resusitasi (replacement
therapy), terutama pada kasus
seperti kadar Na+ yang
rendah, dimana RL tidak
cocok untuk digunakan
(seperti pada alkalosis, retensi
kalium). NaCl 0,9%
merupakan cairan pilihan
untuk kasus trauma kepala,
sebagai pengencer sel darah
merah sebelum transfusi
(Braun, 2015)

29
2. SUBTHERAPEUTIC DOSAGE & OVERDOSAGE
Analisis Kesesuaian Dosis

No Nama Obat Dosis dari literatur Dosis Pemberian Rekomendasi/Saran

1 O2 - 3 tpm -

2 Infus NS Tergantung pada usia,BB dan 16 tpm -


keadaan klinis penderita(ISO
VOL 50.2016)

3 Drip Omeprazole Anak dan remaja : 0,5-3mg/kg IV 8 mg/j -


setiap hari dalam satu atau dua
dosis terbagi (maks 80mg per
hari) (Hendre Putra dkk, 2019).

4 Surcalfat Dewasa: 2 kaplet 3-4 kali sehari, 3 x Cl -


diminum 1 jam sebelum makan
dan sebelum tidur, bila disertai
nyeri dapat diberikan antasida ½ -
1 jam sebelum pemakaian
sukralfat, lama pengobatan 4-8
minggu(ISO VOL, 2015)

5 Captopril Awal sehari 2x 12,5 mg. 3 x 25 mg


Pemeliharaan sehari 2 X 25 mg
dapat ditingkatkan setelah 2
sampai 4 minggu. Dosis Maks
sehari sehari 3x50mg. (ISO VOL
51)

6 Paracetamol/PCT Dewasa 3-4 x 1 3 x 500 mg -

30
kapsul (kapsul), anak 6-12 tahun:
sehari 2-3x ½ -1 kapsul

7 Diazepam Diazepam 2mg, 5mg/tab(ISO 3 x 2 mg


VOL 49, 2014)

8 Tx PRC satu unit PRC dari 500 mL -


darah lengkap didapatkan volume
sel darah merah
200-250 mL(Journal Of Health
Vol.5)

9 Amlodipin 5 mg Awal sehari 1 x 5mg, maks 10mg 1 x 5mg -


1 x sehari; usia lanjut dan
kelainan fungsi hati dosis awal
sehari 1 x 2,5mg(ISO VOL 49,
2014)

10 Amlodipin 10 mg Awal sehari 1 x 5mg, maks 10mg 1x 10mg -


1 x sehari, usia lanjut dan kelaina
fungsi hati dosis awal sehari 1 x
2,5mg(ISO VOL 49, 2014)

11 Lactulac 10-30Ml/hari sampai 2xsehari 3 x Cl


(Goodman & Gilman’s, 2008).

12 Ozid Tukak usus 12 jari,tukak 3 x 1 tab


lambung, refluks esofagitis erosif
erosif ulseratif 20 mg sehari 1 x
selama 2-4 minggu; Tukak
lambung, refluks esofagitis erosif/
ulseratif 20 mg selama 4
Minggu, yang dapat ditingkatkan

31
menjadi di sehari 1 X 40 mg;
sindroma zollingerellison: sehari
1x60 mg. Kasus berat : Sehari
Sehari 1-2 X 20-120 mg. berikan
segera sebelum makan. (ISO
VOL 48)

13 Lansoprazole Tukak usus dan refluks esofagus 1 x 30 mg -


sehari 1x 30mg selama 4 minggu.
untuk tukak lambung sehari 1x
30mg selama 8 minggu(ISO VOL
50,2016)

3. FAILURE TO RECEIVE MEDICATION


Obat Yang Gagal Diterima Pasien
Nama Obat Dosis Indikasi Rekomendasi/Saran
- - -
- - -

4. ADVERSE DRUG REACTIONS


Nama Obat Efek Samping Potensial Efek Samping Yang Timbul Rekomendasi/Saran
- - - -

32
5. DRUG INTERACTIONS

OBAT A OBAT B EFEK MEKANISME INTERAKSI MANAJEMEN INTERAKSI


INTERAKSI
FARMAKOKINETIK FARMAKODINAMIK

Omeprazole Diazepam Moderate omeprazole dapat - Monitoring terapi atau


meningkatkan efek penyesuaian dosis untuk
farmakologis mengurangi dampak klinis akibat
benzodiazepin melalui interaksi obat.
penghambatan enzim
hepatik. penghambatan
dilakukan oleh sitokrom
P-450 dan P-
glikoprotein (Wei, 2013)

diazepam menurunkan
Diazepam Parasetamol Minnor kadar asetaminofen - Monitoring terapi atau
dengan meningkatkan penyesuaian dosis untuk
metabolism. mengurangi dampak klinis akibat
Metabolisme interaksi obat

33
ditingkatkan
meningkatkan tingkat
metabolit hepatotoksik
(Medscape, 2015)

PTO – 4. PLAN
1. MONITORING HASIL TERAPI OBAT
Parameter Monitoring Evaluasi Hasil yang
Indikasi pada Pasien Nama Obat Dosis
(Data Lab, Data Klinik) diperoleh
Hematemesis - Drip omeprazole - 8 mg/J HGB Untuk mengatasi
- Ozid iv - 3x1 tab keluhan kondisi lemah,
- Lansoprazole - 1x30 mg mual dan BAB
- Sucralfate - 3xCL berwarna hitam
- lactulax - 3xCL
Hipertensi - Captopril - 2x25 mg Tekanan darah Untuk menurunkan
- Amlodipin - 1x5 mg tekanan darah
- 1x10 mg
Cephalgia paracetamol 3x500 mg Suhu tubuh Untuk menurunkan suhu
tubuh
Anmia Tx PRC - HGB & HCT Untuk mengatasi
anemia
Terapi penunjang Infus NS 16 tpm Kondisi lemah Mengatasi keluhan
lemah

34
2. TERAPI NON FARMAKOLOGI

Terapi Non Farmakplohi Hipertensi :


Pengobatan non farmakologi berupa pengurangan asupan garam, penurunan berat
badan untuk pasien obesitas dan berolahraga (Saseen dan Carter,2005). Terapi ini dapat
dilakukan dengan mengubah gaya hidup seseorang. Semua pasien dan individu dengan
riwayat keluarga hipertensi dinasehati mengenai gaya hidup seperti menurunkan
kegemukan, asupan garan (total < 5g/hari), asupan lemak jenuh dan alkohol (pria
<21thn unit dan perempuan <14 unit per minggu), banyak makan buah dan sayuran,
tidak merokok dan berolahraga yang teratur, semua ini terbukti dapat merendahkan
tekanan darah dapat menurunkan penggunaan obat-obat (Ditjen Bina Farmasi dan
Alkes, 2006).

Terapi Non Farmakologi Cephalgia :


Melakukan latihan peregangan leher atau otot bahu sedikitnya 20 sampai
30 menit,Perubahan posisi tidur,Pernafasan dengan diafragma atau metode relaksasi otot
yang lain,Penyesuaian lingkungan kerja maupun rumah,Pencahayaan yang tepat untuk
membaca, bekerja, menggunakan
komputer, atau saat menonton televisi,Hindari eksposur terus-menerus pada suara keras
dan bising,Hindari suhu rendah pada saat tidur pada malam hari (Sidharta Priguna.
2008).

Terapi Non Farmakologi Hematemesis :


Bed rest, puasa hingga pendarahan berhenti dan diet cair (Milani, 2015).

35
BAB IV

KESIMPULAN

36
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, J. 2014. Portal hypertensive bleeding. In : ahmad, J., Friedman, S.L., & dancygier,
H. Mount sinai expert guides hepatology. UK : john wiley & sons, Ltd, 196-208
Almi, D. U. (2013). Hematemesis melena et causa gastritis erosif dengan riwayat penggunaan
obat NSAID pada pasien laki-laki lanjut usia. Medula, 1(01), 72-78
Bahrudin, M., 2013. Neurologi Klinis. Edisi Pertama, Malang, Universitas Muhammadiyah
Malang Press, hal 53-55
Bianti Nuraini. (2015). Risk factors of hypertension. J majority. Artikel Review: Faculty Of
Medicine, University Of Lampung
Dorland N. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi ke 28. Mahode AA, editor. Jakarta:
EGC; 2011. hal 457-507
Fadila, Milani Nur., (2015). Hematemesis Melena dikarenakan gastritis erosif dengan anemia
dan riwayat gout atritis. Jurnal Medula. Vol 4(2), 10.
Mazen A. Managing Acute Upper GI Bleeding, Preventing Recurrences. Clev Clin J Med;
2010.
Nurarif, Amin huda, dkk. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan diagnosa medik
& NANDA NIC-NOC. Edisi revisi jilid 2. Mediaction jogja : Jogjakarta
Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI). Konsensus Nasional Penatalaksanaan
Perdarahan Saluran cerna atas non varises di Indonesia. PGI. Jakarta. 2012.p. 4-6.
Setyoahadi, B. dkk. 2012. EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in
Internal Medicine). Volume I. Jakarta : Internal Publishing.

37