Anda di halaman 1dari 14

UJIAN AKHIR SEMESTER

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Ir. Agustiana, M.P.
NIP. 19630808 198903 2 002

DISUSUN OLEH :
Muhammad Adam A
NIM. 1910814210017

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK MESIN
BANJARBARU
2020
SOAL 1
Menurut anda Rule Of Law di Indonesia sudah dinikmatikah oleh masyarakat, bangsa.
Karena Rule Of Law tidak hanya ditentukan oleh hukum tetapi lebih dari pada itu yaitu ada
tidaknya keadilan yang dapat dinikmati oleh setiap anggota masyarakat tanpa mengenal
golongan dan kasta, kalau menurut anda sudah atau belum tercapai berikan alasanny menurut
anda ?
Jawab :
dari segi yang telah kita lihat secara mata dan telah kita rasakan secara langsung maupun
tidak secara langsung, seperti misalnya contoh negara indonesia adalah negara hukum yang
dimana hukum yang menyatakan bahwa hukum harus memerintah sebuah negara dan bukan
keputusan pejabat-pejabat secara individual. dan lagi kita lihat bahwasanya di indonesia ini
hukum tidak memandang kasta, bagi yang bermasalah dengan hukum maka akan mendapat
hukuman. alasannya karena penegakan hukum atau rule of law merupakan suatu doktrin
dalam hukum yang mulai muncul pada abad ke-19, bersamaan dengan kelahiran negara
berdasar hukum (konstitusi) dan demokrasi. Kehadiran rule of law boleh disebut sebagai
reaksi dan koreksi terhadap negara absolut (kekuasaan di tangan penguasa) yang telah
berkembang sebelumnya. Berdasarkan pengertiannya, Friedman (Srijanti et. all, 2008:108)
membedakan rule of law menjadi 2 (dua), yaitu pengertian secara formal (in the formal
sense) dan pengertian secara hakiki/materil (ideological sense). Secara formal, rule of law
diartikan sebagai kekuasaan umum yang terorganisasi (organized public power), hal ini dapat
diartikan bahwa setiap warga negara mempunyai aparat penegak hukum. Sedangkan secara
hakiki, rule of law terkait dengan penegakan hokum yang menyangkut ukuran hokum yaitu:
baik dan buruk (just and unjust law).
Ada tidaknya penegakan hukum, tidak cukup hanya ditentukan oleh adanya hukum saja, akan
tetap lebih dari itu, ada tidaknya penegakan hukum ditentukan oleh ada tidaknya keadilan
yang dapat dinikmati setiap anggota masyarakat. Rule of law tidak saja hanya memiliki
sistem peradilan yang sempurna di atas kertas belaka, akan tetapi ada tidaknya rule of law di
dalam suatu negara ditentukan oleh kenyataan, apakah rakyatnya benar-benar dapat
menikmati keadilan, dalam arti perlakuan yang adil dan baik dari sesama warga negaranya,
maupun dari pemerintahannya, sehingga inti dari rule of law adanya jaminan keadilan yang
dirasakan oleh masyarakat/bangsa. Rule of law merupakan suatu legalisme yang mengandung
gagasan bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan sistem peraturan dan prosedur
yang bersifat objektif, tidak memihak, tidak personal dan otonom.
Fungsi rule of law pada hakikatnya merupakan jaminan secara formal terhadap “rasa
keadilan” bagi rakyat Indonesia dan juga ‘’keadilan sosial’’, sehingga diatur pada pembukaan
UUD 1945, bersifat tetap dan instruktif bagi penyelenggaraan negara. Dengan demikian, inti
dari Rule of Law adalah jaminan adanya keadilan bagi masyarakat, terutama keadilan sosial.
Prinsip-prinsip di atas merupakan dasar hukum pengambilan kebijakan bagi penyelenggara
negara/pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang berkaitan dengan jaminan
atas rasa keadilan, terutama keadilan sosial.
Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal termuat di dalam pasal-pasal UUD 1945,
yaitu:
a. Negara Indonesia adalah negara hukum (Pasal 1 ayat 3);
b. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan (Pasal 24 ayat1);
c. Segenap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hokum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya (Pasal 27 ayat
1);
d. Dalam Bab X A tentang Hak Asasi Manusia, memuat 10 pasal, antara lain bahwa setiap
orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hokum yang adil serta
perlakuan yang sama di hadapan hukum (pasal 28 ayat 1);
e. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan
layak dalam hubungan kerja (Pasal 28 ayat 2).
Pelaksanaan rule of law mengandung keinginan untuk terciptanya negara hukum, yang
membawa keadilan bagi seluruh rakyat.

SOAL 2
Geopolitik dan Geostrategi tidak dapat dipisahkan begitu saja karena geopolitik dan
geostrategi merupakan bagaimana kita memanfaatkan dan menggunakan Sumber daya
Manusia dan Sumber daya Alam serta geografi wilayah Indonesia. Menurut anda sudah
tepatkah pelaksanaan geopolitik dan geostrategi yang di terapkan dengan model astagatra
sekarang ini ?
Jawab :
Geopolitik berasal dari kata geo dan politik. “Geo” berarti bumi dan “Politik” berasal
dari bahasa yunani politeia berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri dan teia berarti
urusan. Dalam bahasa Indonesia politik mempunyai makna kepentingan umum warga negara
suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara, dan alat
yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki.
Geopolitik diartikan sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan dalam wujud
kebijaksanaan dan strategi nasional yang didorong oleh aspirasi nasional geografik
(kepentingan yang titik beratnya terletak pada pertimbangan geografi, wilayah atau territorial
dalam arti luas) suatu Negara, yang apabila dilaksanakan dan berhasil akan berdampak
langsung kepada system politik suatu Negara. Sebaliknya, politik Negara itu secara langsung
akan berdampak pada geografi Negara yang bersangkutan. Geopolitik bertumpu pada
geografi sosial (hukum geografis), mengenai situasi, kondisi, atau konstelasi geografi dan
segala sesuatu yang dianggap relevan dengan karakteristik geografi suatu Negara.
Secara umum geopolitik adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai
diri, lingkungan, yang berwujud negara kepulauan berlandaskan pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945. Penyelenggaraan Negara kesatuan Republik Indonesia sebagai system
kehidupan nasional bersumber dari dan bermuara pada landasan ideal pandangan hidup dan
konstitusi Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu pedoman bangsa Indonesia adalah
wawasan nasional yang berpijak pada wujud wilayah nusantara sehingga disebut dengan
wawasan nusantara. Kepentingan nasional yang mendasar bagi bangsa Indonesia adalah
upaya menjamin persatuan dan kesatuan wilayah, bangsa, dan segenap aspek kehidupan
nasionalnya.
Secara umum wawasan nasional berarti cara pandang suatu bangsa tentang diri dan
lingkungannya yang dijabarkan dari dasar falsafah dan sejarah bangsa itu sesuai dengan
posisi dan kondisi geografi negaranya untuk mencapai tujuan atau cita-cita nasionalnya.
Sedangkan wawasan nusantara memiliki arti cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan
lingkungannya berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta sesuai dengan
geografi wilayah nusantara yang menjiwai kehidupan bangsa dalam mencapai tujuan dan
cita-cita nasionalnya.
Wawasan nusantara adalah geopolitik Indonesia. Hal ini dipahami berdasarkan
pengertian bahwa dalam wawasan nusantara terkandung konsepsi geopolitik Indonesia, yaitu
unsur ruang, yang kini berkembang tidak saja secara fisik geografis, melainkan dalam
pengertian secara keseluruhan.
Pandangan geopolitik bangsa Indonesia yang didasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan
Kemanusiaan yang luhur dengan jelas tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945.bangsa
Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdeklaan. Bangsa Indonesia
menolak segala bentuk penjajahan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri
keadilan. Oleh karena itu, bangsa Indonesia juga menolak paham ekspansionisme dan adu
kekuatan yang berkembang di Barat. Bangsa Indonesia juga menolak paham rasialisme,
karena semua manusia mempunyai martabat yang sama, dan semua bangsa memiliki hak dan
kewajiban yang sama berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan yang universal.
Salah satu manfaat paling nyata dari penerapan geopolitik atau wawasan Nusantara,
khususnya, di bidang wilayah, adalah diterimanya konsepsi Nusantara diforum internasional,
sehingga terjaminlah integritas wilayah teriterorial Indonesia. Penerapan wawasan nusantara
dalam pemabangunan Negara di berbagai bidang tampak pada berbagai proyekpembangunan
sarana dan prasarana komunikasi dan transportasi. Penerapan di bidang sosial budaya terlihat
pada kebijakan untuk menjadikan bangsa Indonesia yang Bhineka Tungga Ika tetap merasa
sebangsa dan setanah air, senasib sepenanggunan dengan asas pancasila. Penerapan Wawasan
Nusantara di bidang pertahanan keamanan terlihat pada kesiapan dan kewaspadaan seluruh
rakyat melalui Sistem Pertahan keamanan Rakyat semesta untuk menghadapi berbagai
ancaman bangsa dan Negara.
Geostrategi berasal dari kata “Geo” dan “Strategi”.Geografi merujuk pada ruang hidup
nasional wadah atau tempat hidupnya bangsa dan negara Indonesia.Strategi diartikan sebagai
ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan
tertentu dalam keadaan perang maupun damai. Dengan demikian, geostrategi adalah
perumusan strategi nasional denganmemperhitungkan kondisi dan konstelasi geografi sebagai
faktor utamanya. Geostrategi Indonesia merupakan strategi dalam memanfaatkan konstelasi
geografi negara Indonesia untuk menentukan kebijakan, tujuan sarana-sarana untuk mencapai
tujuan nasional Indonesia.
Ketahanan nasional sebagai wujud dari geostrategi di Indonesia memiliki konsep
Astagrata. Model Astagatra merupakan perangkat hubungan bidang kehidupan manusia dan
budaya yang berlangsung diatas bumi degan memanfaatkan segala kekayaan alam.
• Tiga aspek (tri gatra) kehidupan alamiah, yaitu :
• Gatra letak dan kedudukan geografi.
• Gatra keadaan dan kekayaan alam.
• Gatra keadaan dan kemampuan penduduk.
• Lima aspek (panca gatra) kehidupan social, yaitu :
• Gatra ideologi.
• Gatra Politik.
• Gatra sosial.
• Gatra pertahanan dan keamanan.
• Gatra dibidang Ekonomi
Sebagai satu kesatuan negara kepulauan, secara konseptual, geopolitik indonesia
dituangkan dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan politik
luar negeri bebas aktif. Sedangkan geostrategi indonesia diwujudkan melalui konsep
ketahanan nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi, politil, ekonomi,
sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Geopolitik dapat memperkuat suatu negara dengan beberapa aspek, yaitu situasi
geografi, kekayaan alam, zona iklim, konfigurasi wilayah dan jumlah penduduk. Berdasarkan
aspek-aspek tersebut, Indonesia sudah bisa dikatakan memiliki semua hal tersebut, apalagi
kekayaan alam. Hal ini sangat cocok untuk menerapkan ketahanan nasional model astagrata
yang menyangkut semua aspek kehidupan bangsa Indoensia.
Sayangnya, geostrategi Indonesia bidang pengelolaan sumber daya alam belum
maksimal dan perlu adanya pemaksimalan atau pemantapan lagi dengan adanya kerja sama
antara pemerintah dengan warga. Misalkan dengan cara mengetahui potensi apa saja yang
ada di daerah tempat tinggal dan mencoba memanfaatkannya dengan menciptakan inovasi-
inovasi baru terlebih di bidang teknologi. Dengan pemanfaatan sumber daya alam yang
maksimal, tentu dapat meningkatkan Ketahanan Nasional karena rakyat-rakyat Indonesia
akan lebih makmur dan sejahtera serta perlahan-lahan cita-cita Indonesia akan tercapai yaitu
pada aspek memajukan kesejahteraan umum.

SOAL 3
Negara diumpamakan sebagai organisme (mahluk hidup) lahir, tumbuh, berkembang,
menyusut dan mati (contoh Unisopiyat. Indonesia kita pernah yang katanya mengalami
kejayaan ditahun 1995 lihat gambar dibawah dan coba cerna Indonesia lahir 1945 dan
tumbuh berkembang, hingga tahun 1995 mencapai titik keemasan kemudian menurun
kembali di era reformasi 1998. Menurut anda bagaimana tahun selanjutnya hingga tahun
2019 berikan pendapat dan sebab-sebab kejadiannya serta lanjutkan grafiknya ?

Jawab :
Perkembangan indonesia berdasarkan presiden yang memimpin yaitu:
Soeharto (1967-1998)
MASA kekuasaan Soeharto adalah yang terpanjang dibandingkan presiden lain Indonesia
hingga saat ini. Pasang surut perekonomian Indonesia juga paling dirasakan pada eranya. Ia
menjadi presiden di saat perekonomian Indonesia tak dalam kondisi baik. Pada 1967, ia
mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1967, tentang Penanaman Modal
Asing. UU ini membuka lebar pintu bagi investor asing untuk menanam modal di Indonesia.
Tahun berikutnya, Soeharto membuat Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang
mendorong swasembada. Program ini mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga
tembus 10,92 persen pada 1970. Ekonom Lana Soelistianingsih menyebut, iklim ekonomi
Indonesia pada saat itu lebih terarah, dengan sasaran memajukan pertanian dan industri. Hal
ini membuat ekonomi Indonesia tumbuh drastis. Setelah itu, di tahun-tahun berikutnya,
hingga sekitar tahun 1997, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung tinggi dan terjaga di
kisaran 6-7 persen. Namun, selama Soeharto memerintah, kegiatan ekonomi terpusat pada
pemerintahan dan dikuasai kroni-kroni presiden. Kondisinya keropos.Pelaku ekonomi tak
menyebar seperti saat ini, dengan 70 persen perekonomian dikuasai pemerintah. Begitu dunia
mengalami gejolak pada 1998, struktur ekonomi Indonesia yang keropos itu tak bisa
menopang perekonomian nasional. "Ketika krisis, pemerintah kehilangan pijakan, ya
bubarlah perekonomian Indonesia karena sangat bergantung pada pemerintah," kata Lana.
Posisi Bank Indonesia (BI) pada era Soeharto juga tak independen. BI hanya alat penutup
defisit pemerintah. Begitu BI tak bisa membendung gejolak moneter, maka terjadi krisis dan
inflasi tinggi hingga 80 persen. Pada 1998, negara bilateral pun menarik diri untuk membantu
ekonomi Indonesia, yaitu saat krisis sudah tak terhindarkan. Pertumbuhan ekonomi pun
merosot menjadi minus 13,13 persen. Pada tahun itu, Indonesia menandatangani kesepakatan
dengan Badan Moneter Internasional (IMF). Gelontoran utang dari lembaga ini mensyaratkan
sejumlah perubahan kebijakan ekonomi di segala lini. Direktur Pelaksana Dana Moneter
Internasional (IMF) Michel Camdessusmenyaksikan Preisden Soeharto menandatangani nota
kesepakatan bantuan di Jalan Cendana, Jakarta, pada 15 Januari 1998. Jejak Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia
dari Masa ke Masa. Senin, 26 November 2018 | 17:50 WIB
Pertumbuhan ekonomi adalah suatu kenaikan kemampuan jangka panjang dari negara untuk
menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. ~Simon Kuznets~℘
PERTUMBUHAN ekonomi bisa dibilang sebagai indikator berhasil atau tidaknya suatu
pemerintahan dalam menjalankan, mengelola, dan membangun negara. Meskipun, ada
banyak faktor baik di dalam negeri maupun di tataran global yang menjadi faktor penentu.
Menurut ekonom Amerika Serikat, Simon Kuznets, pertumbuhan ekonomi adalah suatu
kenaikan kemampuan jangka panjang dari negara untuk menyediakan berbagai barang
ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan tersebut akan tumbuh seiring dengan adanya
perkembangan atau kemajuan teknologi dan juga penyesuaian kelembagaan serta ideologi.
Menurut salah seorang peraih Nobel Ekonomi ini, pertumbuhan ekonomi dicapai oleh tiga
faktor, yakni peningkatan persedian barang yang stabil, kemajuan teknologi, serta
penggunaan teknologi secara efisien dan efektif. Pertumbuhan ekonomi dicapai oleh tiga
faktor, yakni peningkatan persedian barang yang stabil, kemajuan teknologi, serta
penggunaan teknologi secara efisien dan efektif. Dalam perjalanannya, Indonesia
mencatatkan pasang-surut pertumbuhan ekonomi. JEO ini merangkum jejak pertumbuhan itu
dari masa ke masa pemerintahan tujuh presiden yang pernah memimpin Indonesia, dari
Soekarno sampai Joko Widodo (Jokowi). Sebagai data awal, per kuartal III-2018,
pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,17 persen, lebih tinggi dibanding periode yang
sama tahun lalu sebesar 5,06 persen. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai
5,07 persen, angka tertinggi sejak 2014.Memang, angka itu masih di bawah pertumbuhan
ekonomi masa pemerintahan Soeharto yang sempat menembus 10 persen, sehingga ketika itu
Indonesia dipuja-puji sebagai salah Macan Asia. Bahkan, kinerja ekonomi saat ini masih di
bawah capaian pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang bisa di atas 6 persen.Namun,
kondisi perekonomian Indonesia sekarang tetap dinilai sudah mulai stabil, setelah mengalami
kejatuhan pada krisis 1998. Saat itu inflasi meroket drastis 80 persen dengan pertumbuhan
ekonominya minus."Sekarang kita jelas tumbuh lebih baik, meski pertumbuhan di bawah
zaman Orde Baru tapi reformasi ekonomi kita menunjukkan perbaikan pesat," ujar Chief
Economist Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, kepada Kompas.com, Senin (5/11/2018).
ERA SEBELUM REFORMASI
Soekarno (1945-1967)
INDONESIA mengalami tiga fase perekonomian di era Presiden Soekarno. Fase pertama
yakni penataan ekonomi pasca-kemerdekaan, kemudian fase memperkuat pilar ekonomi,
serta fase krisis yang mengakibatkan inflasi. Pada awal pemerintahan Soekarno, PDB per
kapita Indonesia sebesar Rp 5.523.863.Pada 1961, Badan Pusat Statistik mengukur
pertumbuhan ekonomi sebesar 5,74 persen. Setahun berikutnya masih sama, ekonomi
Indonesia tumbuh 5,74 persen. Lalu, pada 1963, pertumbuhannya minus 2,24 persen.Angka
minus pertumbuhan ekonomi tersebut dipicu biaya politik yang tinggi.Angka minus
pertumbuhan ekonomi tersebut dipicu biaya politik yang tinggi. Akibatnya, Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit minus Rp 1.565,6 miliar. Inflasi melambung
atau hiperinflasi sampai 600 persen hingga 1965. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi
Indonesia masih dapat kembali ke angka positif pada 1964, yaitu sebesar 3,53 persen.
Setahun kemudian, 1965, angka itu masih positif meski turun menjadi 1,08 persen. Terakhir
di era Presiden Soekarno, 1966, ekonomi Indonesia tumbuh 2,79 persen.
Soeharto (1967-1998)
Masa kekuasaan Soeharto adalah yang terpanjang dibandingkan presiden lain Indonesia
hingga saat ini. Pasang surut perekonomian Indonesia juga paling dirasakan pada eranya. Ia
menjadi presiden di saat perekonomian Indonesia tak dalam kondisi baik. Pada 1967, ia
mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1967, tentang Penanaman Modal
Asing. UU ini membuka lebar pintu bagi investor asing untuk menanam modal di Indonesia.
Tahun berikutnya, Soeharto membuat Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang
mendorong swasembada. Program ini mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga
tembus 10,92 persen pada 1970. Ekonom Lana Soelistianingsih menyebut, iklim ekonomi
Indonesia pada saat itu lebih terarah, dengan sasaran memajukan pertanian dan industri. Hal
ini membuat ekonomi Indonesia tumbuh drastis. Setelah itu, di tahun-tahun berikutnya,
hingga sekitar tahun 1997, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung tinggi dan terjaga di
kisaran 6-7 persen. Namun, selama Soeharto memerintah, kegiatan ekonomi terpusat pada
pemerintahan dan dikuasai kroni-kroni presiden. Kondisinya keropos. Kegiatan ekonomi
terpusat pada pemerintahan dan dikuasai kroni-kroni presiden. Kondisinya keropos. Pelaku
ekonomi tak menyebar seperti saat ini, dengan 70 persen perekonomian dikuasai pemerintah.
Begitu dunia mengalami gejolak pada 1998, struktur ekonomi Indonesia yang keropos itu tak
bisa menopang perekonomian nasional. "Ketika krisis, pemerintah kehilangan pijakan, ya
bubarlah perekonomian Indonesia karena sangat bergantung pada pemerintah," kata Lana.
Posisi Bank Indonesia (BI) pada era Soeharto juga tak independen. BI hanya alat penutup
defisit pemerintah. Begitu BI tak bisa membendung gejolak moneter, maka terjadi krisis dan
inflasi tinggi hingga 80 persen. Pada 1998, negara bilateral pun menarik diri untuk membantu
ekonomi Indonesia, yaitu saat krisis sudah tak terhindarkan. Pertumbuhan ekonomi pun
merosot menjadi minus 13,13 persen. Pada tahun itu, Indonesia menandatangani kesepakatan
dengan Badan Moneter Internasional (IMF). Gelontoran utang dari lembaga ini mensyaratkan
sejumlah perubahan kebijakan ekonomi di segala lini. Direktur Pelaksana Dana Moneter
Internasional (IMF) Michel Camdessusmenyaksikan Preisden Soeharto menandatangani nota
kesepakatan bantuan di Jalan Cendana, Jakarta, pada 15 Januari 1998. Direktur Pelaksana
Dana Moneter Internasional (IMF) Michel Camdessusmenyaksikan Preisden Soeharto
menandatangani nota kesepakatan bantuan di Jalan Cendana, Jakarta, pada 15 Januari 1998.
ERA REFORMASI
BJ Habibie (1998-1999)
Pemerintahan Presiden Baharuddin Jusuf Habibie dikenal sebagai rezim transisi. Salah satu
tantangan sekaligus capaiannya adalah pemulihan kondisi ekonomi, dari posisi pertumbuhan
minus 13,13 persen pada 1998 menjadi 0,79 persen pada 1999. Habibie menerbitkan berbagai
kebijakan keuangan dan moneter dan membawa perekonomian Indonesia ke masa
kebangkitan. Kurs rupiah juga menguat dari sebelumnya Rp 16.650 per dollar AS pada Juni
1998 menjadi Rp 7.000 per dollar AS pada November 1998. Pada masa Habibie, Bank
Indonesia mendapat status independen dan keluar dari jajaran eksekutif. Mantan Presiden BJ
Habibie menghadiri pembukaan Sidang Tahunan MPR Tahun 2017 di Kompleks Parlemen,
Senayan, Jakarta, Rabu (16/8). Sidang tersebut beragendakan penyampaian pidato
kenegaraan Presiden Joko Widodo tentang kinerja lembaga-lembaga negara.
Abdurrahman Wahid (1999-2001)
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur meneruskan perjuangan Habibie mendongkrak
pertumbuhan ekonomi pasca krisis 1998. Secara perlahan, ekonomi Indonesia tumbuh 4,92
persen pada 2000. Gus Dur menerapkan kebijakan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah.
Pemerintah membagi dana secara berimbang antara pusat dan daerah. Kemudian, pemerintah
juga menerapkan pajak dan retribusi daerah. Meski demikian, ekonomi Indonesia pada 2001
tumbuh melambat menjadi 3,64 persen.
Megawati Soekarnoputri (2001-2004)
Pada masa pemerintahan Megawati, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara bertahap terus
meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2002, pertumbuhan Indonesia mencapai 4,5 persen dari
3,64 persen pada tahun sebelumnya. Kemudian, pada 2003, ekonomi tumbuh menjadi 4,78
persen. Di akhir pemerintahan Megawati pada 2004, ekonomi Indonesia tumbuh 5,03 persen.
Tingkat kemiskinan pun terus turun dari 18,4 persen pada 2001, 18,2 persen pada 2002, 17,4
persen pada 2003, dan 16,7 persen pada 2004. "Saat itu mulai ada tanda perbaikan yang lebih
konsisten. Kita tak bisa lepaskan bahwa proses itu juga dipengaruhi politik. Reformasi politik
juga mereformasi ekonomi kita," kata Lana. Perbaikan yang dilakukan pemerintah saat itu
yakni menjaga sektor perbankan lebih ketat hingga menerbitkan surat utang atau obligasi
secara langsung. Saat itu, kata Lana, perekonomian Indonesia mulai terarah kembali. Meski
tak ada lagi repelita seperti di era Soeharto, namun ekonomi Indonesia bisa lebih mandiri
dengan tumbuhnya pelaku-pelaku ekonomi.

Soesilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)


Meski naik-turun, pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Soesilo
Bambang Yudhoyono (SBY) relatif stabil. Pertumbuhan Indonesia cukup menggembirakan di
awal pemerintahannya, yakni 5,69 persen pada 2005. Pada 2006, pertumbuhan ekonomi
Indonesia sedikit melambat jadi 5,5 persen. Di tahun berikutnya, ekonomi Indonesia tumbuh
di atas 6 persen, tepatnya 6,35 persen. Lalu, pada 2008, pertumbuhan ekonomi masih di atas
6 persen meski turun tipis ke angka 6,01 persen. Saat itu, impor Indonesia terbilang tinggi.
Namun, angka ekspor juga tinggi sehingga neraca perdagangan lumayan berimbang. Pada
2009, di akhir periode pertama sekaligus awal periode kedua kepemimpinan SBY, ekonomi
Indonesia tumbuh melambat di angka 4,63 persen. Perlambatan tersebut merupakan dampak
krisis finansial global yang tak hanya dirasakan Indonesia tetapi juga ke negara lain. Pada
tahun itu, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga yang membuat
harga komoditas global naik. "Saat Bank Sentral AS menarik dana dari publik, tidak injeksi
lagi, harga komoditas melambat lagi. Kita mulai keteteran," kata Lana. "Ekspor kita memang
tinggi, tapi impornya lebih tinggi," tambah dia. Meski begitu, Indonesia masih bisa
mempertahankan pertumbuhan ekonomi walaupun melambat. Pada tahun itu, pertumbuhan
ekonomi Indonesia masuk tiga terbaik di dunia. Lalu, pada 2010, ekonomi Indonesia kembali
tumbuh dengan capaian 6,22 persen. Pemerintah juga mulai merancang rencana percepatan
pembangunan ekonomi Indonesia jangka panjang. Pada 2011, ekonomi Indonesia tumbuh
6,49 persen, berlanjut dengan pertumbuhan di atas 6 persen pada 2012 yaitu di level 6,23
persen. Namun, perlambatan kembali terjadi setelah itu, dengan capaian 5,56 persen pada
2013 dan 5,01 persen pada 2014.

Joko Widodo (2014-Sekarang)


Pada masa pemerintahannya, Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi merombak
struktur APBN dengan lebih mendorong investasi, pembangunan infrastruktur, dan
melakukan efisiensi agar Indonesia lebih berdaya saing. Namun, grafik pertumbuhan
ekonomi Indonesia selama empat tahun masa pemerintahan Jokowi terus berada di bawah
pertumbuhan pada era SBY. Pada 2015, perekonomian Indonesia kembali terlihat rapuh.
Rupiah terus menerus melemah terhadap dollar AS. Saat itu, ekonomi Indonesia tumbuh 4,88
persen. "Defisit semakin melebar karena impor kita cenderung naik atau ekspor kita yang
cenderung turun," kata Lana. Di era Jokowi kata Lana, arah perekonomian Indonesia tak
terlihat jelas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) seolah hanya
sebagai dokumen tanpa pengawasan dalam implementasinya. Dalam kondisi itu, tak
diketahui sejauh mana RPJMN terealisasi. Ini tidak seperti repelita yang lebih fokus dan
pengawasannya dilakukan dengan baik sehingga bisa dijaga. Pada 2016, ekonomi Indonesia
mulai terdongkrak tumbuh 5,03 persen. Dilanjutkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun
2017 sebesar 5,17. Berdasarkan asumsi makro dalam APBN 2018, pemerintah memprediksi
pertumbuhan ekonomis 2018 secara keseluruhan mencapai 5,4 persen. Namun, pertumbuhan
ekonomi di kuartal I-2018 ternyata tak cukup menggembirakan, hanya 5,06 persen.
Sementara pada kuartal II-2018, ekonomi tumbuh 5,27 persen dibandingkan periode yang
sama tahun lalu. Hanya ada sedikit perbaikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada Senin
(5/11/2018), BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2018
sebesar 5,17 persen, malah melambat lagi dibandingkan kuartal sebelumnya.
Untuk kuartal IV-2018, pertumbuhan ekonomi diprediksi meleset dari asumsi APBN. Bank
Indonesia, misalnya, memprediksi pertumbuhan Indonesia secara keseluruhan pada 2018
akan berada di batas bawah 5 persen.

TANTANGAN PERTUMBUHAN EKONOMI


Terkait naik-turun pertumbuhan ekonomi, Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang saat
ini notabene adalah rezim yang sedang berkuasa juga melakukan berbagai upaya untuk
mendongkrak laju perekonomian Indonesia.
Dalam sejumlah kesempatan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berulang kali menyampaikan
bahwa kunci pertumbuhan ekonomi adalah pemerataan kesejahteraan. Oleh karena itu, ia
ingin memperluas jangkauan untuk pertumbuhan di kawasan timur Indonesia, kawasan
perbatasan, dan daerah-daerah lain yang masih tertinggal. Selain itu, target pertumbuhan
ekonomi diharapkan bisa dicapai dengan memperkuat usaha ultra-mikro, usaha mikro, kecil,
menengah, dan koperasi. Pemerintah juga berupaya menekan ketimpangan antardaerah serta
memperkecil kesenjangan antarkelompok pendapatan. Dari sisi sektoral, pemerintah
mendorong sektor yang punya nilai tambah dan menciptakan kesempatan kerja lebih luas.
Jokowi juga menekankan pentingnya mengembangkan iklim investasi. Maka, mekanisme
untuk mengurus perizinan harus diperbaiki agar efisien dan terukur. Salah satu solusi yang
diberikan adalah dibentuknya Online Single Submission (OSS) yang mempermudah investor
mengurus perizinan. Penerapan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan OSS diyakini akan
efektif mengurangi rantai birokrasi dan mempermudah para pelaku usaha. Di masa kampanye
dan awal pemerintahannya, Jokowi berambisi membawa ekonomi Indonesia tumbuh hingga 7
persen. Namun, ternyata kondisi ekonomi tak semulus yang dibayangkan. Pertumbuhan
ekonomi harus bersusah payah merangkak hingga ke posisinya saat ini. Angka 7 persen
masih jauh dari realita. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun mengakui bahwa target itu sulit
dicapai. "Pertumbuhan 5 persen itu sudah lumayan baik, kalau lihat tekanan eksternal," kata
Sri Mulyani. Target 7 persen muncul karena pada 2014 pemerintah melihat potensi
pertumbuhan ekonomi tinggi dari kondisi ekonomi global yang meyakinkan. Lagi pula, target
tersebut merupakan kesepakatan bersama antara pemerintah dan DPR. Pada 2019, asumsi
pertumbuhan ekonomi dalam APBN adalah 5,3 persen. Sayangnya, perkembangan ekonomi
global belakangan putar arah dan menimbulkan ketidakpastian. Tak hanya Indonesia yang
terdampak, tapi juga negara lain. Sejumlah negara bahkan tak mampu bertahan sehingga
mengalami krisis seperti Venezuela dan Turki. Melihat realita seperti itu, pemerintah
menurunkan target ke angka yang lebih rasional. Pada 2019, asumsi pertumbuhan ekonomi
dalam APBN adalah 5,3 persen. Tantangan perekonomian Indonesia pada 2019 dan tahun-
tahun mendatang pun diperkirakan tidak akan berkurang. Malah, sejak jauh-jauh hari banyak
ekonom nasional dan global yang memperkirakan tantangan lebih berat menanti di masa
mendatang. Isu perang dagang yang memanaskan Amerika Serikat dan China pun sudah
terbukti menyeret peta ekonomi politik global. Belum lagi kondisi ekonomi di Amerika
Serikat yang diperkirakan bakal memperketat kebijakan moneternya, ditakar bakal menarik
pulang greenback ke negeri asalnya, yang sudah pasti menekan nilai tukar mata uang negara
lain termasuk rupiah. Dari dalam negeri, persoalan dasar industrialisasi yang tidak berjalan
sebagaimana mestinya, juga masih menjadi pekerjaan rumah tiada usai bagi pemerintahan,
siapa pun itu yang berkuasa. Menjelang tutup tahun 2018, terbukti sejumlah kebijakan yang
muncul juga kembali berkutat pada komoditas mentah, yang pada beberapa tahun sempat
diupayakan untuk dikurangi dengan mengedepankan nilai tambah ketika diekspor, selain
relaksasi. Di luar perdagangan, sektor-sektor ekonomi lain yang diharapkan bisa
mendongkrak pertumbuhan juga belum banyak unjuk gigi. Jasa dan pariwisata masih menjadi
tumpuan bersanding dengan konsumsi. Karena itu, siapa pun pasangan presiden dan wakil
presiden yang akan terpilih pada Pemilu 2019 masih akan berhadapan dengan tantangan
perekonomian yang sama, termasuk memacu angka pertumbuhan ekonomi ini. Itu pun,
pertumbuhan ekonomi seperti apa yang hendak disasar juga masih dapat terus menjadi
dialektika bangsa, sekadar angka atau memang yang kinerja yang menyejahterakan
warganya.

Anda mungkin juga menyukai