Anda di halaman 1dari 7

GCS E2= stimulus dengan nyeri , V2=bingung, gelisah (tdk bisa beri info), M5=menghampiri arah nyeri

GCS 9 DELIRIUM = yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-
teriak, berhalusinasi, kadang berkhayal.

Kaku kuduk leher lekuk

Kernig sign: dengan panggul dan lutut difleksikan membuat sudut 90 derajat. == rasa nyeri akan
membatasi ekstensi lutut secara pasif

Diagnosa :

1. Gangguan perfusi jarinagan serebral b.d peningkatan tik


2. Nyeri akut b.d infeksi meningen dan peningkatan intracranial
3. Hipertermi b.d proses infeksi
1. Kegawatan yang mungkin terjadi
Kejang karena hipoksia serebral

2. Tindakan segera untuk menstabilkan


 A: Kaji kepatenan jalan napas
 B: Monitor status pernapasan, berikan o2 reperfusi jaringan cerebral dan hipoksia tidak
meluas
 C: Berikan terapi cairan (hipereksi menyebabkan kekurangan cairan), beri obat anti
kejang( karena kejang terus menerus bisa mengakibatkan kerusakan otak), antibiotic
(mengatasi infeksi), paracetamol 1gr (mengatasi panas), antimietik (mengatasi mual
muntah)
 D: Monitor status kesadaran pasien dan ukuran serta reflex pupil.
Kaji suhu pasien- ketika suhu meningkat kebutuhan o2 meningkat, sementara
otak butuh o2 banyak maka akan terjadi kejang- karena termoregulasi rusak
 E: Buka pakaian pasien lalu kaji apakah ada cidera pada bagian tubuh lain

3. Penunjang di IGD
 Pemeriksaan darah lengkap ( hb, gds, kolestrol)- memastikan perfusi o2 keotak
adekuat
 ct scan & MRI – melihat besar hematoma
 AGD: memastikan perfusi o2 keotak adekuat, dikhawatirkan hematoma mendesak
otak- herniasi otak- menekan medulla oblongata- penekanan pusat pernapasan- RR
meningkat
 rontgen thorax: melihat fungsi paru utnuk mendukung oksigenasi
 kultur darah: melihat bakteri

4. Intervensi terapeutik lain apa yang sesuai?


 Pertahankan kepatenan jalan napas
 Lakukan intubasi jika gcs < 8
 berikan oksigenasi melalui NRM
 Monitor ketat gcs, pupil
 Monitor ttv – monitor map lewat TD
 Monitor peningkatan tik (MAP 93 mmHg)
 cek darah lengkap
 EKG: monitor pompa darah jantung untuk mereperfusi cerebral
 Pasang ngt: agar tidak terjadi respirasi saat penurunan refleks muntah
 pasang kateter urin- untuk mengevaluasi output urin
 Kolaborasi pemberian terapi: obat anti kejang( karena kejang terus menerus bisa
mengakibatkan kerusakan otak), antibiotic (mengatasi infeksi), paracetamol 1gr
(mengatasi panas), antimietik (mengatasi mual muntah)
5. Bagaimana pengobatan kasus tersebut bisa berbeda berdasarkan kemampuan institusi? Apa
implikasinya bagi peran perawat?

6. Pemindahan pasien

setelah diperiksa di IGD dan dapat di diagnosis dipindahkan ke ruang isolasi. pasien dirawat di
ruang isolasi agar proses penyembuhan berlangsung optimal dan tidak ada penularan ke orang
lain

TANDA DAN GEJALA

 Nyeri Kepala- penumpukan csf (hidrosefalus)- peningkatan tik


 Demam: infeksi meningen- pelepasan zat pirogen- mempengaruhi kerja thermostat- peningkata
suhu
 Kaku kuduk (+): meningen selaput pembungkus( dari otak sampai tulang belkang)- inflmasi-
tidak bisa menekuk leher
 Kernig sign (+)
 Brudzinski sign (+)
 Fotophobia: syaraf sensori terganggu
 Penurunan kesadaran: fungsi neurologis menurun

EPIDEMIOLOGI

Menurut WHO, belum ada estimasi akurat mengenai prevalensi kejadian dan mortalitas meningitis di
dunia. Didapatkan data bahwa terdapat negara-negara endemik tinggi meningitis, yaitu negara Afrika Sub
Sahara dengan >10 kasus per 100.000 penduduk setiap tahunnya.

Komplikasi potensial

 Koma
 Nyeri Kepala Kronik: peningkatan tik
 Distres pernapasan: herniasi menekan medulla oblongata
 Kehilangan sensasi pengelihatan(NII optikus), penciuman (N I olfaktorius), pendengaran (NVIII
vestibule troktelaris), pengecapan (NXII Hipoglosus)
 Syok sepsis: bakteri masuk kedarah
 Hidrosefalus: sumbatan csf- penumpukan csf

Manajemen pengobatan

 obat anti kejang( karena kejang terus menerus bisa mengakibatkan kerusakan otak),
 antibiotic (mengatasi infeksi),
 paracetamol 1gr (mengatasi panas),
 antimietik (mengatasi mual muntah)
Tindakan keperawatan utama

 A: Kaji kepatenan jalan napas


 B: Monitor status pernapasan, berikan o2 reperfusi jaringan cerebral dan hipoksia tidak
meluas
 C: Berikan terapi cairan (hipereksi menyebabkan kekurangan cairan), beri obat anti
kejang( karena kejang terus menerus bisa mengakibatkan kerusakan otak), antibiotic
(mengatasi infeksi), paracetamol 1gr (mengatasi panas), antimietik (mengatasi mual
muntah)
 D: Monitor status kesadaran pasien dan ukuran serta reflex pupil.
Kaji suhu pasien- ketika suhu meningkat kebutuhan o2 meningkat, sementara
otak butuh o2 banyak maka akan terjadi kejang- karena termoregulasi rusak
 E: Buka pakaian pasien lalu kaji apakah ada cidera pada bagian tubuh lain

ASKEP

Masalah utama keperawatan: Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral