Anda di halaman 1dari 9

E4M6V1

Afasia dan paralisi kiri, timbul akibat lobus frontal dan temporal yang ada dalam otak,
khususnya pada sisi kiri otak. Hal ini akan mempengaruhi pusat bahasa yang ada dalam otak
dan mengtur motoric.

Nervus 7 (fasialis): kelemahan wajah

Paralisis adalah kondisi lumpuh karena gangguan pada saraf yang berperan dalam mengatur
gerakan otot tubuh

 Lobus frontal (bagian depan) yang mengendalikan gerakan, ucapan, perilaku, memori, emosi,
dan kepribadian. Bagian otak ini juga berperan dalam fungsi intelektual, seperti proses berpikir,
penalaran, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan perencanaan.
 Lobus parietal (atas) yang mengendalikan sensasi, seperti sentuhan, tekanan, nyeri, dan suhu.
Lobus ini juga mengendalikan orientasi spasial atau pemahaman tentang ukuran, bentuk, dan
arah.
 Lobus temporal (samping) yang mengendalikan indra pendengaran, ingatan, dan emosi. Lobus
temporal kiri juga berperan dalam fungsi bicara.
1. Kegawatan yang mungkin terjadi
Stroke Hemoragik : pecahnya pembuluh darah kecil di cerebral karena benturan

2. Tindakan segera untuk menstabilkan


 A: Kaji kepatenan jalan napas, posisikan pasien semi fowler- menurunkan tik karena
posisi jantung lebih rendah dari kepala, dan agar lambung dan paru tidak sejajar
sehingga tidak terjadi aspirasi dan resiko muntah
 B: Monitor status pernapasan, berikan o2 reperfusi jaringan cerebral
 C: Berikan terapi cairan hipertonik- manitol untuk menarik cairan intrasel masuk
keplasma dan dibuang lewat urin (pada stroke hemoragik), trombolitik (stroke iskemik)
 D: Monitor status kesadaran pasien dan ukuran serta reflex pupil. Kaji suhu pasien.
 E: Buka pakaian pasien lalu kaji apakah ada cidera pada bagian tubuh lain

3. Penunjang di IGD
 Pemeriksaan darah lengkap ( hb, gds, kolestrol)- memastikan perfusi o2 keotak
adekuat
 ct scan & MRI – melihat besar hematoma
 AGD: memastikan perfusi o2 keotak adekuat, dikhawatirkan hematoma mendesak
otak- herniasi otak- menekan medulla oblongata- penekanan pusat pernapasan- RR
meningkat
 rontgen thorax: melihat fungsi paru untuk mendukung oksigenasi

4. Intervensi terapeutik lain apa yang sesuai?


 Pertahankan kepatenan jalan napas
 berikan oksigenasi melalui NRM
 Monitor ketat gcs, pupil
 Monitor ttv – monitor map lewat TD
 Monitor peningkatan tik (MAP 93 mmHg)
 cek darah lengkap
 EKG: monitor pompa darah jantung untuk mereperfusi cerebral
 Pasang ngt: agar tidak terjadi respirasi saat penurunan refleks muntah
 pasang kateter urin- untuk mengevaluasi pemberian manitol

5. Bagaimana pengobatan kasus tersebut bisa berbeda berdasarkan kemampuan institusi? Apa
implikasinya bagi peran perawat?
6. Indikasi pemindahan pasien
Jika MAP > 130 mmHg dan Hematoma > 30 ml pasien dipindahkan ke ICU

TANDA DAN GEJALA

 Nyeri Kepala
 Penurunan kesadaran: o2 tidak adekuat
 Dilatasi pupil dan tidak reflex cahaya: penekanan syaraf optikus (nII)
 pupil anisokor
 aphasia
 paralisis (NXI)
 penurunan pengelihatan (NII)
 Facial droping(ketidaksimetrisan wajah) penurunan NVII fasialis

EPIDEMIOLOGI

Setiap tahun, 15 juta orang di dunia menderita stroke. Dari 15 juta orang tersebut, 5 juta orang
meninggal, dan 5 juta orang lainnya mengalami kecacatan permanen. Stroke jarang ditemukan pada
orang di bawah 40 tahun. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 oleh Kementrian Kesehatan RI, 7%
atau sebesar 1.236.825 orang menderita stroke. Jawa Barat merupakan provinsi dengan angka kejadian
stroke terbanyak di Indonesia, yaitu sebesar 238.001 orang, atau 7,4% dari jumlah penduduknya.

Selain itu, penderita ditemukan paling banyak pada kelompok umur 55-64 tahun Laki-laki juga lebih
banyak mengidap stroke di Indonesia dibandingkan perempuan. Menurut Sample Registration System
(SRS) Indonesia 2014, Stroke merupakan penyakit yang paling banyak diderita, yaitu sebesar 21,1%.

Komplikasi potensial

 Koma
 Nyeri Kepala Kronik: peningkatan tik
 Distres pernapasan: herniasi menekan medulla oblongata
 Kehilangan sensasi pengelihatan(NII optikus), penciuman (N I olfaktorius), pendengaran (NVIII
vestibule troktelaris), pengecapan (NXII Hipoglosus)

Manajemen pengobatan

 Oksigen
 Hipertonik: manitol
 Antihipertensi

Tindakan keperawatan utama

 A: Kaji kepatenan jalan napas, posisikan pasien semi fowler- menurunkan tik karena
posisi jantung lebih rendah dari kepala, dan agar lambung dan paru tidak sejajar
sehingga tidak terjadi aspirasi dan resiko muntah
 B: Monitor status pernapasan, berikan o2 reperfusi jaringan cerebral
 C: Berikan terapi cairan hipertonik- manitol untuk menarik cairan intrasel masuk
keplasma dan dibuang lewat urin (pada stroke hemoragik), trombolitik (stroke iskemik)
 D: Monitor status kesadaran pasien dan ukuran serta reflex pupil. Kaji suhu pasien.
 E: Buka pakaian pasien lalu kaji apakah ada cidera pada bagian tubuh lain

ASKEP

Masalah utama keperawatan: Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral