Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah swt. serta asisten laboratorium yang
sudah membimbing saya sehingga akhirnya saya dapat menyelesaikan laporan
tentang Morfologi dan Perhitungan Mikroba yang digunakan sebagai salah satu
syarat yang harus penuhi untuk menunjang mata kuliah Mikrobiologi umum tepat
pada waktunya.
Saya harap laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca karena didalamnya
terdapat pengetahuan mengenai Morfologi dan Perhitungan Mikroba. Saya
sebagai penulis menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat pada laporan
ini. Dikarenakan kurangnya pengetahuan serta sumber buku yang didapatkan.
Untuk itu, saya harapkan kritik yang membangun untuk lebih meningkatkan
kualitas laporan ini.

Serang, April 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
DAFTAR TABEL................................................................................................iii
BAB I PENDHULUAN
1.1. Latar Belakang......................................................................................1
1.2. Tujuan...................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Mikroba...............................................................................2
2.2. Kebutuhan Nutrisi Mikroba..................................................................5
2.3. Metode Perhitungan Mikroba...............................................................6
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat................................................................................10
3.2. Alat dan Bahan......................................................................................10
3.3. Cara kerja..............................................................................................10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASA
4.1. Hasil......................................................................................................11
4.2. Pembahasan...........................................................................................12
BAB V PENUTUP
5.1. Simpulan...............................................................................................17
5.2. Saran......................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................18
LAMPIRAN.........................................................................................................19

ii
DAFTAR TABEL

4.1.1 Tabel Hasil Morfologi dan Perhitungan Mikroba 10-7.................................11


4.1.2 Tabel Hasil Morfologi dan Perhitungan Mikroba 10-8.................................11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.
Latar Belakang
Mikroorganisme (jasad renik) merupakan jasad hidup yang mempunyai
ukuran sangat kecil. Mikroorganisme mempengaruhi kehidupan manusia baik
secara langsung maupun tidak langsung yang bisa berperan sebagai kawan
maupun lawan bagi kehidupan manusia. Mikroorganisme juga merupakan
makhluk hidup, untuk memeliharanya dibutuhkan medium yang harus
mengandung semua zat yang diperlukan untuk pertumbuhannya, antara lain
senyawa-senyawa organik (protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin
(Dwidjoseputro, 2005).
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan
sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak
berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan.
Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk
diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga
berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding
sel bakteri melalui serangkaian pengecatan.
Jumlah koloni mikroba dapat diperkirakan dengan suatu metode perhitungan.
Terdapat dua metode perhitungan bakteri atau mikroba yaitu dengan metode
hitung secara langsung (direct methode) dan metode perhitungan secara tidak
langsung (indirect methode) dengan hitungan cawan baik dengan metode
penyebaran maupun metode penuangan. Beberapa koloni yang bergabung menjadi
satu merupakan suatu kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloni dapat
dihitung sebagai satu koloni dan satu rantai koloni (Ferdiaz, 1992).

1.2. Tuj
uan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum kali ini yaitu agar mahasiswa dapat
mengenali bentuk dan morfologi sel dan koloni mikroorganisme.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Mikroba


Mikroba merupakan organisme yang berukuran kecil (mikro), dapat melakukan
aktifitas untuk hidup, dapat tergolong dalam prokaryot seperti bakteri dan virus,
dan eukaryot seperti alga, protozoa. Mikroba sangat berperan dalam kehidupan.
Mikroba terdiri dari bakteri, jamur, dan virus. Secara umum, tiap mikroba
mempunyai morfologi dan struktur anatomi yang berbeda. Peranan utama
mikroba adalah sebagai (pengurai) bahan-bahan organik. Selain merugikan,
mikroba juga mempunyai banyak keuntungan bagi manusia. Mikroba tidak perlu
tempat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan, dan tingkat
pembiakannya relatif cepat. Oleh karena itu, setiap mikroba memiliki peran dalam
kehidupan. Jenis dan Golongan Mikroba Berdasarkan struktur sel, mikroba dibagi
menjadi dua golongan yaitu prokariotik dan eukariotik. Hanya bakteri dan arkhae
(alga hijau biru) yang memiliki sel prokariotik. Sedangkan protista, tumbuhan,
jamur dan hewan semuanya mempunyai sel eukariotik (Kusnadi, 2003).
Morfologi Koloni Mikroba (Makroskopik) Mikroba tumbuh sangat cepat
ketika didukung dengan gizi dan kondisi lingkungan yang baik. Mikroba
membentuk koloni yang khas. Morfologi koloni dapat ditinjau dari berbagai
aspek, yaitu bentuk, tepi atau pinggir koloni, ketinggian, permukaan, warna
koloni. Morfologi sel mikroba adalah karakteristik mikroba yang dilihat melalui
pengamatan mikroskop. Morfologi mikroskopik mikroba dapat ditinjau dari
bentuk sel, sifat terhadap pewarnaan (gram positif/negatif), dan spora. Tiap jenis
mikroba memiliki morfologi sel yang berbeda. Jamur, khamir dan kapang
memiliki karakteristik yang tidak sama (Hidayat, 2015).
A. Bakteri
Bakteri adalah kelompok mikroba yang tidak memiliki membran inti sel,
termasuk prokariota dan mikroskopik, serta memiliki peran dalam kehidupan.
Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai penyebab penyakit, kelompok lainnya

2
memberikan manfaat di bidang pangan, pengobatan, dan industri. Struktur sel
bakteri relatif sederhana, tanpa nukleus, kerangka sel, dan organel lainnya seperti
mitokondria dan kloroplas (Madigan, 2009). Pada umumnya, bakteri berukuran
0,5-5 μm, tetapi ada bakteri yang dapat berdiameter hingga 700 μm, yaitu
Thiomargarita. Bakteri umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan
jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan). Beberapa
jenis bakteri bersifat motil (mampu bergerak) yang disebabkan oleh flagel
(Ferdiaz, 1992).
Bakteria umumnya dapat bergerak dengan bantuan alat gerak yang ada pada
tubuhnyamenuju tempat-tempat yang menguntungkan dan menghindari tempat-
tempat yang merugikan.
 Jenis-jenis / macam-macam alat gerak pada organisme bakteri :
1. Atrik : bakteri yang tidak mempunyai flagel / alat gerak 
2. Monotrik : bakteri yang mempunyai satu flagel / alat gerak pada salah satu
ujung tubuhnya.
3. Lofotrik : bakteri yang memiliki sejumlah flagel / alat gerak pada satu ujung
tubuh bakteri.
4. Amfitrik : bakteri yang mempunyai sejumlah flagel / alat gerak pada kedua
ujungnya.
5. Peritrik : bakteri yang mempunyai flagel / alat gerak pada seluruh
permukaan tubuhnya.
 Menurut Dwidjoseputro (2005), bentuk sel bakteri Bakteri memiliki beberapa
bentuk sel, ada yang berbentuk batang (basil), berbentuk bulat (coccus), dan
berbentuk spiral.
1. Bakteri berbentuk bulat dikenal sebagai basil. Kata basil berasal dari
bacillus yang berarti batang. Bentuk basil dapat pula dibedakan atas:
1). Basil tunggal yaitu bakteri yang hanya berbentuk satu batang tunggal,
misalnya Salmonella typhi, penyebab penyakit tipus.
2). Diplobasil yaitu bakteri berbentuk batang yag bergandengan dua-dua.
3). Streptobasil yaitu bakteri berbentuk batang yang bergandengan
memanjang membentuk rantai misalnya Bacillus anthracis penyebab
penyakit antraks.

3
2. Menurut Pelczar (2006), bakteri bentuk bola dikenal sebagai coccus, bakteri
ini juga dapat dibedakan atas:
1). Monokokus, yaitu bakteri berbentuk bola tunggal, misalnya Neisseria
gonorrhoeae, penyebab penyakit kencing nanah.
2). Diplokokus, yaitu bakeri berbentuk bola yang bergandengan dua-dua,
misalnya Diplococcus pneumonia penyebab penyakit pneumonia atau
radang paru-paru.
3). Sarkina, yaitu bakteri berbentuk bola yang berkelompok empat-empat
sehngga bentuknya mirip kubus.
4). Streptokokus, yaitu bakteri bentuk bola yang berkelompok memanjang
membentuk rantai.
5). Stafilokokus, yaitu bakteri berbentuk bola yang berkoloni membentuk
sekelopok sel tidak teratur sehingga bentuknya mirip dompolan buah
anggur.
3. Menurut Pelczar (2006), bakteri bentuk spiral Ada tiga macam bentuk spiral:
1). Spiral, yaitu golongan bakteri yang bentuknya seperti spiral misalnya
Spirillum.
2). Vibrio, ini dianggap sebagai bentuk spiral tak sempurna, misalnya Vibrio
cholera penyebab penyakit kolera.
3). Spiroseta yaitu golongan bakteri berbentuk spiral yang besifat lentur.
Pada saat bergerak, tubuhnya dapa memanjang dan mengerut.
B. Khamir (Yeast)
Khamir merupakan jenis jamur uniseluler, bentuk sel tunggal dan berkembang
biak secara pertunasan. Ukuran sel khamir beragam, lebarnya berkisar antara 1-5
μm dan panjangnya berkisar dari 5-30 μm atau lebih. Biasanya sel khamir
berbentuk telur, tetapi beberapa ada yang memanjang atau berbentuk bola. Setiap
spesies mempunyai bentuk yang khas, namun sekalipun dalam biakan murni
terdapat variasi yang luas dalam hal ukuran dan bentuk. Sel-sel individu,
tergantung kepada umur dan lingkungannya. Khamir tak dilengkapi flagellum
atau organ-organ penggerak lainnya (Hadioetomo, 1990).
C. Kapang (Mould)

4
Kapang (mould/filamentous fungi) merupakan mikroba anggota Kingdom
Fungi yang membentuk hifa. Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri
dari 2 bagian miselium dan spora (sel resisten, istirahat atau dorman). Miselium
merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya
5-10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 μm.
Kapang melakukan penyebaran menggunakan spora. Spora kapang terdiri dari dua
jenis, yaitu spora seksual dan spora aseksual. Spora aseksual dihasilkan lebih
cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan spora seksual (Waluyo,
2005).

2.2. Kebutuhan Nutrisi Mikroba


Seperti halnya dengan jasad hidup pada umumnya, mikroba memerlukan
energi dan bahan-bahan untuk membangun tubuhnya yang disebut nutrien. Untuk
dapat menggunakan energi dari nutrien maka sel melakukan kegiatan yang disebut
metabolisme. Mikroba banyak jenisnya, berbeda sifat fisiologis sehingga
kebutuhan nutrisinya juga berbeda. Mikroba dapat menggunakan makanan dalam
bentuk padat (holozoik), dan bentuk cair (holofitik). Mikroba holofitik dapat juga
menggunakan makanan bentuk padat, tetapi makanan tersebut harus dicerna diluar
sel dengan enzim ekstraselluler. Bahan makanan berfungsi sebagai sumber energi,
bahan pembangun sel, dan aseptor). Secara garis besar bahan makanan dibagi
menjadi nutrisi makro dan nutrisi mikro (Hidayat, 2015).
Nutrisi makro seperti air, cahaya matahari, karbohidrat, karbonat, 15 asam
organik, protein, lemak, vitamin. Nutrisi mikro seperti C, O, N, H, K, Ca, Mg, S,
Na, Cl, dan P. Berdasarkan sumber karbon, mikroba digolongkan menjadi
mikroba autotrof dan heterotrof. Mikroba autotrof yaitu mikroba yang
memerlukan karbon anorganik seperti CO2 dan CO3. Sedangkan mikroba
heterotrof memerlukan karbon organik seperti karbohidrat. Selain itu mikroba
heterotrof juga dapat mendegradasi senyawa organik dan menggunakannya untuk
menunjang pertumbuhannya. Proses ini dibantu oleh beberapa jenis enzim untuk
memecah makromolekul seperti karbohidrat, protein, dan lemak untuk dipecah
menjadi senyawa yang lebih sederhana. Sebagai contoh enzim protease digunakan

5
untuk memecah protein menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti asam
amino (Lay, 1992).
Di dalam kehidupan beberapa mikroba seperti bakteri, jamur, dan virus
dipengaruhi oleh lingkungan dan untuk mempertahankan hidup mikroba
melakukan adaptasi dengan lingkungan. Adaptasi ini terjadi secara cepat serta
bersifat sementara atau permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi dan
struktur anatomi dari bakteri, jamur, dan virus. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme seperti oksigen, kadar air,
temperatur (suhu), dan pH (Lay, 1992).

2.3. Metode Perhitungan Mikroba


Perhitungan mikroba adalah suatu cara yang digunakan untuk menghitung
koloni mikroba yang tumbuh pada suatu meeia pembiakan. Secara mendasar, ada
dua cara yang digunakan dalam perhitungan mikroba yaitu secara langsung dan
secara tidak langsung. Ada beberapa cara perhitungan secara langsung antara lain
adalah dengan membuat preparat dari suatu bahan dan menggunakan ruang
hitung. Sedangkan perhitungan secara tidak langsung hanya mengetahui jumlah
mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja, dalam pelaksanaannya
ada beberapa cara yaitu perhitungan pada cawan petri, perhitungan melalui
pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekatdan cara kekeruhan atau
turbidimetri (Sri, 2011).
1. Metode hitung cawan
Metode hitung cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang hidup
dapat berkembang menjadi koloni. Jumlah koloni yang muncul pada cawan adalah
indeks bagi jumlah mikroorganisme yang terkandung dalam sempel. Teknik yang
harus dikuasai pada metode ini adalah mengencerkan sampel dan mencawankan
hasil pengenceran. Setelah inkubasi, jumlah semua koloni diamati untuk
memenuhi persyaratan statistik. Pada metode perhitungan cawan dilakukan
pengenceran yang bertingkat dimana ditujukan untuk membentuk konsentrasi dari
suatu suspensi bakteri. Sampel yang telah diencerkan ini kemudian dihitung
kedalam cawan baru kemudian dituang kemediumnya. Tingkat pengenceran yang

6
diperlukan didasarkan pada pendugaan populasi yang ada pada contoh
(Dwidjoseputro, 2005).
Hasil yang baik adalah jika pada pengenceran yang lebih rendah lebih banyak
menunjukan hasil uji positif dibandingkan dengan sampel pengenceran yang lebih
tinggi. Metode ini adalan cara yang paling sensitif untuk menghitung  dapat
digunakan untuk isolasi dan identifikasi  mikroba. Kelemahan metode cawan
diantaranya hasil perhitungan tidak menujukkan jumlah yang sesungguhnya,
medium dan kondisi yang berbeda memungkinkan hasil  yang berbeda, mikroba
yang di tumbuhkan harus dapat tumbuh ada medium padat. Syarat perhitungan
koloni yaitu cawan yang dihitung adalah cawan yang mengandung 30-300 koloni.
Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu dapat dihitung sebagai satu koloni.
Colony counter adalah alat yang digunakan untuk menghitung jumlah koloni
bakteri atau mikroorganisme. Bakteri yang dihitung disini adalah dengan
melakukan pengenceran dari medium bakteri misalnya sampai tiga kali dalam
tabung reaksi, kemudian ditanam dan diinkubasi dalam incubator ( Hidayat,
2015).
Menurut Dwidjoseputro (2005), ciri-ciri yang perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut :
 Ukuran;
- pinpoint/punctiform (titik)
- Small (kecil)
- Moderate (sedang)
- Large (besar)
 Pigmentasi : mikroorganisme kromogenik sering memproduksi pigmen
intraseluler,
 beberapa jenis lain memproduksi pigmen ekstraseluler yang dapat terlarut
dalam media
 Karakteristik optik : diamati berdasarkan jumlah cahaya yang melewati koloni.
Opaque (tidak dapat ditembus cahaya), Translucent (dapat ditembus cahaya
sebagian), Transparant (bening)

 Bentuk - Spindle

7
- Filamentous - Flat
- Rhizois - Raised
- Circular - Convex
- irregular - Umbonate
 Elevasi
 Permukaan : Halus mengkilap, Kasar, Berkerut, Kering seperti bubuk
 Margin :
 Entire
 Lobate
 Undulate
 Serrate
 Felamentous
 Curled
2. Metode TPC
Merupakan analisis untuk menguji cemaran mikroba dengan menggunakan
metode pengenceran dan metode cawan tuang. Metode cawan tuang adalah
metode per plate. Metode ini dilakukan dengan mengencerkan sumber isolate
yang telah diketahui beratnya kedalam 9 ml larutan garam fisiologis, larutan yang
digunakan sekitar  1 ml suspensi  kedalam cawan petri steril, dan menuangkan
media penyubur atau nutrisi untuk makanan mikroba (Dwidjoseputro 2005).
3. Metode hitung langsung
Menurut Lay (1992), menyatakan bahwa perhitungan langsung dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu:
a. Perhitungan sel langsung
Cara ini menggunakan bilik hitung (hemocytometer) yang menhgasilkan
hitungan total karena semua sel terhitung. Baik sel yang hidup maupun sel
yang mati. Karena mikroba itu kecil, maka perhitungan yang dilakukan
secara statistik dapat diterima namun harus dibuat suspensi sekurang-
kurangnya 10-7.
b. Menghitung dengan alat hitung elektrik
Dengan alat ini, dapat menghitung ribuan mikroba dalam beberapa detik.
Penggunaan alat ini didasarkan atas kerja dengan lubang penguntai

8
elektronik. Kerjanya tergantung pada interupsi dari berkas cahaya
elektronik yang melintasi suatu ruang antara dua ruang elektron yang
berdekatan letaknya. Haemocytometer memiliki kelemahan dan kelebihan
dan penggunaannya, saat proses perhitungan bakteri secara langsung.
Kelebihannya antara lain ialah lebih cepat dalam menghasilkan data dan
tidak perlu menunggu lama, serta datanya atau jumlah sel mikroba
langsung di peroleh saat itu juga setelah menghitung menggunakan
rumusnya dan menghemat biaya. Sedangkan kelemahannya ialah tidak
dapat membedakan sel yang hidup dan mati karena perhitungan secara
keseluruhan dan data yang dihasilkan tidak akurat (Waluyo, 2005).

9
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Pada praktikum Media Pertumbuhan, dilaksanakan pada hari Rabu, 18 April
2018 pada jam 16.10– 17.30 WIB. Bertempat di Laboratorium Bioteknologi
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu coloni counter, jarum senter.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah hasil isolasi mikroba.

3.3. Cara kerja


Adapun cara kerja dari praktikum morfologi dan perhitungan jumlah mikroba
ini adalah:
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dihitung jumlah mikroba di coloni counter
3. Hasil dimasukkan kedalam tabel hasil

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 4.1.1 Hasil Morfologi dan Perhitungan Mikroba 10-7
No Sampel Gambar Morfologi Jumlah
tanah
1. Vegetasi  Ukuran : Sedang Circular:
 Bentuk : Circular 59

 Elevasi: Raised Irregular: 5

 Permukaan: Spindle: 3

Halus Filamen: 0

 Margin: Lobate Total: 69

2. Non  Ukuran: Kecil Circular: 4


vegetasi  Bentuk: Sirculer Irregular: 2

 Elevasi:Convex Spindle: 2

 Permukaan:Halus Filamen: 0
Total: 8
 Margin:Entire

Tabel 4.1.2 Hasil Morfologi dan Perhitungan Mikroba 10-8


No Sampel Gambar Morfologi Jumlah
tanah

11
1. Vegetasi  Ukuran: Circular: 14
 Bentuk: Irregular: 7

 Elevasi: Spindle: 0

 Permukaan: Filamen: 0
Total: 21
 Margin:

2. Non  Ukuran: Large Circular: 8


vegetasi  Bentuk: Irregular: 2
irreguler Spindle: 0
 Elevasi: Raised Filamen: 0

 Permukaan: Total: 10

Kasar
 Margin: Entire

4.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini mengenai morfologi dan perhitungan jumlah
mikroba. Menurut Dwidjoseputro (2005), Morfologi suatu mikroba dapat
diperiksa dalam keadaan hidup maupun mati. Pada praktikum kali ini digunakan
media yang telah dibuat pada praktikum sebelumnya yaitu tanah vegetasi dan non
vegetasi 10-7 dan 10-8. Dari hasil praktikum sebelumnya menghasilkan kesimpulan
bahwa mikroba yang tumbuh pada media NA adalah bakteri. Bakteri adalah
kelompok mikroba yang tidak memiliki membran inti sel, termasuk prokariota
dan mikroskopik, serta memiliki peran dalam kehidupan. Struktur sel bakteri
relatif sederhana, tanpa nukleus, kerangka sel, dan organel lainnya seperti
mitokondria dan kloroplas. Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 μm, tetapi
ada bakteri yang dapat berdiameter hingga 700 μm, yaitu Thiomargarita.
Bakteri memiliki macam-macam alat gerak atrik atau bakteri yang tidak
mempunyai flagel/alat gerak, monotrik atau bakteri yang mempunyai satu
flagel / alat gerak pada salah satu ujung tubuhnya, lofotrik atau bakteri yang
memiliki sejumlah flagel/alat gerak pada satu ujung tubuh bakteri, amfitrik atau
bakteri yang mempunyai sejumlah flagel/alat gerak pada kedua ujungnya, dan
Peritrik bakteri yang mempunyai flage/alat gerak pada seluruh permukaan
tubuhnya. Menurut Dwidjoseputro (2005), bentuk sel bakteri Bakteri memiliki

12
beberapa bentuk sel, ada yang berbentuk batang (basil), berbentuk bulat (coccus),
dan berbentuk spiral. Bakteri berbentuk batang dikenal sebagai basil. Kata basil
berasal dari bacillus yang berarti batang. Bentuk basil dapat pula dibedakan atas
basil tunggal, diplobasil, dan streptobasil. bakteri bentuk bola dikenal sebagai
coccus, bakteri ini juga dapat dibedakan atas monokokus, diplokokus, sarkina ,
streptokokus dan stafilokokus. Sedangkan bakteri bentuk spiral ada tiga macam
yaitu spiral, vibrio dan spiroseta.
Pada praktikum kali ini, membahas tentang morfologi mikroba dan
perhitungan jumlah mikroba. Mikroba yang dimaksud disini yaitu mikroba yang
sudah terbentuk pada media NA dari sampel tanah yang dibuat dua hari yang lalu
pada praktikum islasi mikroba. Didalam media NA terdapat koloni koloni
mikroba yang sangat beragar sesuai dengan sampel yang digunakan. Pada
praktikum sebelumnya digunakan sampel tanah vegetasi dan non vegetasi 10-7 dan
10-8. Dari praktikum tersebut dihasilkan bahwa pada media yang ditanami sampel
10-7 memiliki jumlah mikroba atau bakteri ebih banyak dari pada sampel 10-8.
Koloni bakteri adalah sekumpulan dari bakteri-bakteri yang sejenis yang
mengelompok menjadi satu dan membentuk suatu kumpulan. Morfologi bakteri
dapat dibedakan menjadi dua yaitu morrfologi makroskopis dan morfologi
mikroskopis. Morfologi makroskopik (kolonial morfologi) adalah morfologi yang
membahas tentang karakterisktik koloni (pengamatan pada plate agar) dan bentuk
koloni seperti ukuran, margin, elevasi, warna, permukaan, konsistensi. Sedangkan
morfologi makroskopis membahas tentang struktur morfologi mikroba dari bentuk
sel mikroba (bakteri) yang dilakukan dengan mikroskop agar bentuk dari mikroba
tersebut bisa dilihat dengan jelas karena mikroba memiliki ukuran yang sangat
kecil.
Kali ini, pengamatan morfologi mikroba dilakukan dengan cara morfologi
makroskopis yaitu mengenali mikroba baik dari bentuk dan karakteristik mikroba
tersebut. Dalam pengamatan makroskopis, kita dapat mengamati mikroba baik
dari ukuran, bentuk, elevasi, permukaan dan margin. Ukuran mikroba dapat dibagi
menjadi bentuk titik, kecil, moderat atau sedang, besar. Sedangkan bentuk
mikroba dapat dibagi menjadi Irregular, spindle, filamentous, rhizois dan circular.
Dalam hal pertumbuhan koloni bakteri dapat dikelompokan menjadi flat atau

13
ketinggian tidak terukur, nyaris rata dengan medium, raised adalah ketinggian
nyata terlihat, namun rata pada seluruh permukaan, convex adalah bentuk
cembung seperti tetesan air dan umbonate atau bentuk cembung dibagian tengah
lebih menonjol. Morfologi mikroba dilakukan dengan cara yaitu pertama buka
tutup cawan petri, setelah itu agar kita bisa melihat langsung mikroba dengan jlas
dibutuhkan senter. Senter ditaruh dibawah cawan petri sampai mikroba terlihat
dengan jelas.
Untuk mengamati ukuran dari mikroba dalam media NA, terdapat beberapa
koloni dari bakteri. Untuk itu, kita bisa memilih salah satu dari koloni bakteri
tersebut untuk menentukan ukuran. Dalam mementukan ukuran mikroba,
diperlukan bantuan mikroskop karena ukuran bakteri atau mikroba yang sangat
kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Sedangkan untuk
menentukan bentuk bakteri harus dilakukan secara benar yaitu dengan arah yang
lurus agar kita dapat melihat bentuk koloni bakteri dengan benar. Untuk elevasi,
dilakukan dengan cara yang hampir sama seperti pada saat melihat bentuk tetapi
pengamatan elevasi dilakukan dengan cara melihat secara miring agar terlihat
benjolan yang terdapat pada bakteri karean bakteri yang saling menumpuk. Dalam
menentukan jenis permukaan dari mikroba, bisa dilakukan dengan cara melihat
salah satu koloni yang terdapat dalam media. Dan morfolohi yang terakdih yaitu
margin. Margin adalah pinggiran yang terdapat pada suatu koloni mikroba, dqlam
menentukan margin kita harus memilih pinggiran yang memiliki warna sangat
putih seperti batu es.
Setelah diamati secara seksama, maka didapat hasil pada medeia yang
ditanami sampel tanah vegetasi 10-7 memiliki morfologi yaitu ukuran sedang,
bentuk dari bakteri circular, memiliki elevasi raised, dengan permukaan halus dan
memiliki margin lobate. Sedangkan pada media dengan sampel tanah non vegetasi
10-7 mikroba memiliki ukuran yang kecil, dengan bentuk mikrobanya yaitu
circular, elevasi convex, permukaan mikroba halus dan marginnya entire. Untuk
media non vegetasi 10-8 morfologi dari mikrobanya memiliki ukuran large
(sedang), dengan bentuk irreguler, elevasi mikroba raised, permukaan tubuh kasar
dan margin entire. Dan pada media dengan sampel tanah vegetasi 10 -8 memiliki
ciri-cirimorfolog mikrobanya yaitu memiliki ukuran besar (large), dengan bentuk

14
tubuh irregular, elevasinya yaitu raised, permukaan kasar serta merginnya yaitu
entire.
Selain mengamati morfologi mikroba, pada praktikum kali ini membahas
tentang perhitungan jumlah mikroba.perhitungan jumlah mikroba ini dilakukan
agar kita bisa mengetahui jumlah dari mikroba yang terdapat dalam suatu media
biakan. Menurut Ferdiaz (1992), Perhitungan jumlah mikroba secara langsung
yaitu jumlah mikroba dihitung secara keseluruhan, baik yang mati atau yang
hidup sedangkan perhitungan jumlah miroba secara tidak langsung yaitu jumlah
mikroba dihitung secara keseluruhan baik yang mati atau yang hidup atau hanya
untuk menentukan jumlah mikroba yang hidup saja, ini tergantung cara-cara yang
digunakan. Menentukan jumlah mikroba yang hidup dapat dilakukan setelah
larutan bahan atau biakan mikroba diencerkan dengan faktor pengenceran tertentu
dan ditumbuhkan dalam media dengan cara-cara tertentu tergantung dari macam
dan sifat-sifat mikroba. Banyak metode yang digunakan dalam menaksir secara
kuantitatif dari suatu populasi bakteri. Namun, ada dua metode yang paling sering
digunakan yaitu metode hitung koloni di cawan petri (Standard/ Viable Plate
Count Method) dan analisa spektrofotometer (turbidimeter). Meskipun kedua
metode tersebut kadang akan menghasilkan hasil perhitungan yang mirip, tetapi
keduanya memiliki perbedaan prinsip. Metode cawan petri  merupakan metode
penaksiran jumlah kepadatan bakteri secara tidak langsung dan informasi yang
didapatkan hanya bakteri yang hidup (viable) saja, bakteri yang mati tidak ikut
terhitung. Perhitungan jumlah koloni dengan metode hitung cawan (Total Plate
Count) didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan
berkembang menjadi satu koloni .
Pada praktikum ini metode yang digunakan yaitu dengan metode hitung
cawan. Yaitu dengan menghitung langsung jumlah mikroba yang terdapat dalam
cawan petri. Sampel media yang digunakan juga sama dengan sampel yang
digunakan untuk pengamatan morfologi mikroba. Hal yang pertama dilakukan
yaitu disiapkan media yang akan diamat kemudian diletakkan kedalam coloni
counter. Lalu amati dengan seksama jumlah mikroba yang terdapat dalam media
tersebut. Perhitungan dilakukan dengan cara menusuk-nusuk mikroba yang
terlihat dengan menggunakan jarum. Hal ini dilakukan karena prinsip kerja dari

15
coloni counter harus adanya getaran agar coloni counter tersebut secara otomatis
menghitung jumlah mikroba. Agar perhitungan dilakukan dengan benar, lebih
baik dilakukan perkotak yang terdapat dilayar coloni counter sehingga kita tidak
keliru dalam perhitungannya.
Dari perhitungan yang telah dilakukan pada semua sampel dihasilkan data
yaitu pada sampel data tanah vegetasi 10-7 total mikroba yang dapat dihitung yaitu
69 mikroba. Terdiri dari circular 59, irregular 5, spindle 3 dan jumlah filamen
tidak ada. Sedangkan pada tanah non vegetasi 10-7 memiliki total jumlah mikroba
yaitu 8. Terdiri dari 4 circular, 2 irregular, 2 spindle dan tidak terdapat filamen.
Pada sampel tanah vegetasi 10-8 terdapat mikroba dengan jumlah 21 yang terdiri
dari 14 circular, 7 irregular, 0 spindle, 0 filamen. Sedang pada sampel tanah non
vegetasi 10-8 memiliki total mikroba 10 yang terdiri dari 8 circular, 2 irregular, o
spindle dan 0 filamen.
Sampel yang diuji telah melakukan pengenceran secara bertahap sehingga
jumlah dari mikroba yang terdapat dalam sempel yang konsentrasinya lebih tingga
lebih sedikit dibanding konsentrasi yang lebih rendah.dari data yang ada, maka
didapatkan adanya kesalahan pada hasil penjumlahan pada sampel non vegetasi
10-8. Seperti yang diketahui, tanah non vegetasi memiliki jumlah mikroba lebih
sedikit dibanding dengan tanah vegetasi. Karena sampel diuji secara bertahap,
seharusnya jumlah mikroba pada sampel 10-8 lebih sedikit dibandingkan dengan
sampel non vegetasi 10-7 tapi hasil ya ng didapatkan malah sebaliknya aitu pada
sampel tanah non vegetasi 10-7 jumlah mikroba yaitu 8, sedangkan pada sampel
non vegetasi 10-8 total mikrobanya berjumlah 10.
Menurut Dwidjoseputro (2005), faktor utama yang menyebabkan terjadinya
kegagalan adalah kesalahan dalam prosedur pengenceran misalnya mengambil
terlalu banyak atau terlalu sedikit bakteri dari larutan suspensi awal. Kesalahan
lain yang mungkin terjadi adalah akibat larutan suspensi yang kurang homogen
sehingga jumlah bakteri yang terambil tidak mewakili populasi bakteri yang ada.
Selain dua faktor tersebut, faktor penyebab kegagalan secara umum dapat
disebabkan oleh persyaratan tumbuh yang kurang cocok maupun akibat
kontaminasi. Kontaminasi menyebabkan bakteri kultur tidak tumbuh secara
optimum pada media. Selain factor di atas media juga sangat berpengaruh

16
terhadap kesalahan pemeriksaan misalnya saat pembuatan media yang tidak sesuai
syarat ataupun proses sterilisasi yang kurang benar.

BAB V
PENUTUP

5.1. Simpulan
Dari praktikum yang sudah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
mikroba memiliki morfologi yang bermacam-macam dan beragam. Morfologi
mikroba meliputi ukuran, bentuk, elevasi, permukaan dan margin. Pada praktikum
ini metode yang digunakan yaitu dengan metode hitung cawan, yaitu dengan
menghitung langsung jumlah mikroba yang terdapat dalam cawan petri. Jumlah
mikroba suatu bahan dapat ditentukan dengan bermacam-macam cara, tergantung
pada bahan dan jenis mikroba yang ditentukan. Ada dua cara penghitungan
jumlah mikroba yaitu penghitungan jumlah mikroba secara langsung (direct
method), cara ini dipakai untuk menentukan jumlah mikroba secara keseluruhan
baik yang mati maupun yang hidup. Penghitungan jumlah mikroba secara tidak
langsung (indirect method) yaitu cara ini dipakai untuk menentukan jumlah
mikroba secara keseluruhan baik yang hidup maupun yang mati atau hanya untuk
menentukan jumlah mikroba yang hidup saja tergantung cara yang digunakan.

5.2. Saran
Saran saya untuk praktikum kali ini yaitu morfologi dan perhitungan jumlah
mikroba harus dilakukan dengan hati-hati dan seksama agar hasil yang didapat
juga sesuai dan benar. Praktikan juga harus lebih kondusif lagi agar praktikum
bisa berjalan dengan lancar agar semua praktikan bisa paham terhadap materi
praktikum yang dilakukan dan bisa menerapkannya dikehidupan sehari-hari.

17
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D.2005. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Erlangga


Ferdiaz. 1992. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta. Universitas Indonesia
Hadioetomo, Ratna, 1990, Mikrobiologi Dalam Praktek. Jakarta : PT Gramedia.
Hidayat, Habibi. 2015. Identifikasi Morfologi dan Uji Aktivitas Antimikroba
Terhadap Bakteri Escherichia coli. Jurnal Imu-Ilmu MIPA. Vol. 3,
No.1
Kusnadi, Peristiwati dkk,  2003, Mikrobiologi. Bandung: Universitas Pendidikan
Lay,B. W. dan Hastowo. 1992. Mikrobiologi. Jakarta. Rajawali Press.
Nuzuludin, Ahmad. 2015. Perbedaan Cara Penyebaran Suspensi terhadap Jumlah
Bakteri pada Media Eosin Methylene Blue Agar. Jurnal Indonesia
Medicus Veterinus. Vol. 4, No. 3
Pelczar, Michael J. Dan E.C.S Chan. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta.
Penerbit Universitas Indonesia..
Sri, Andi. 2011. Penghitungan Jumlah Bakteri Yogurt Berbasis Threshold. Jurnal
Jurnal Teknologi Terpadu. Vol. 2, No. 1
Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.

18
19

Anda mungkin juga menyukai