Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN November 2020


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

INFERTILITAS PADA WANITA


DAN PENANGANANNYA

Oleh:
MariyaniRumalolas
105505401619

Pembimbing:
dr. Hj. Andi Fatimah, Sp.OG

(Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik bagian obgyn)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITASMUHAMMADIYAH MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu gangguan kesehatan reproduksi yang terjadi pada usia subur

adalah infertilitas. Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk mengandung sampai

melahirkan bayi hidup setelah satu tahun melakukan hubungan seksual yang

teratur dan tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun atau setelah memutuskan

untuk mempunyai anak.

Sesuai dengan definisi fertilitas yaitu kemampuan seorang isteri untuk

menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu

menghamilinya,maka pasangan infertil haruslah dilihat sebagai satu kesatuan.

Penyebab infertilitaspun harus dilihat pada kedua belah pihak yaitu isteri dan

suami. Salah satu bukti bahwa pasangan infertil harus dilihat sebagai satu

kesatuan adalah adanya faktor imunologi yang memegang peranan dalam fertilitas

suatu pasangan. Faktor imunologi ini erat kaitannya dengan faktor semen/sperma,

cairan/lendir serviks dan reaksi imunologi isteri terhadap semen/sperma suami.

termasuk juga sebagai faktor imunologi adanya autoantibodi.

Walaupun pasangan suami-istri dianggap infertil, bukan tidak mungkin

kondisi infertil sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri. Hal

tersebut dapat dipahami karena proses pembuahan yang berujung pada kehamilan

dan lahirnya seorang manusia baru merupakan kerjasama antara suami dan istri.

Kerjasama tersebut mengandung arti bahwa dua faktor yang harus dipenuhi

adalah: (1) suami memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga

mampu menghasilkan dan menyalurkan sel kelami pria (spermatozoa) ke dalam


organ reproduksi istri dan (2) istri memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang

sehat sehingga mampu menghasilkan sel kelamin wanita (sel telur atau ovum)

yang dapat dibuahi oleh spermatozoa dan memiliki rahim yang dapat menjadi

tempat perkembangan janin, embrio, hingga bayi berusia cukup bulan dan

dilahirkan.

Kegagalan pasangan suami istri (pasutri) dalam memperoleh keturunan,

disebabkan oleh masalah pada pria dan atau wanita. 40 persen kesulitan

mempunyai anak terdapat pada wanita, 40 persen pada pria, dan 20 persen pada

keduanya. WHO juga memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 sari 7

pasangan) memiliki masalah infertilitas, dan setiap tahun muncul sekitar 2 juta

pasangan infertil.

Penyebab infertilitas dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu 33,3 % masalah

terkait pada wanita, 33,3 % pada pria dan 33,3% disebabkan oleh factor

kombinasi. Penyebab dari pihak wanita diantaranya masalah vagina yaitu

vaginitis, masalah di serviks yaitu servitis, uterus, tuba dan masalah di ovarium

yaitu kista ovarium. Penyebab dari pihak pria diantaranya spermatogenesis

abnormal, kelainan anatomi, ejakulasion retrofrade,stress, infeksi menular,

asupan alcohol dan nikotin berlebih, factor pekerjaan serta ketidakmampuan

sperma melakukan penetrasi ke sel telur. Penyebab dari pihak kombinasi adalah

penyebab yang ditimbulkan apabila kedua suami istri sama-sama memiliki faktor

penyebab terjadinya infertilitas.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Reproduksi Wanita

Setiap bayi perempuan lahir dengan rata-rata 400 ribu sel telur

imatur pada ovariumnya. Ketika perempuan sudah mencapai menarche,

maka setiap bulan ketika haid, wanita akan kehilangan 1 sel telurnya.

Setiap siklus menstruasi dimulai dengan pelepasan gonadotropin releasing

hormon (GnRH), FSH, dan LH. Hormon-hormon ini akan mempersiapkan

ovarium untuk melepaskan sel telur dan memberi sinyal untuk uterus agar

endometrium mempersiapkan diri untuk sebuah implantasi. Kemudian

ketika di pertengahan siklus, adanya peningkatan hormon akan membuat

pelepasan sel telur oleh ovarium, hal ini disebut ovulasi. Sel telur itu

kemudian ditangkap oleh fimbrae dan berjalan melalui tuba fallopi menuju

uterus. Apabila sel telur ini kemudian bertemu dengan sel sperma, maka

sel telur dan sel sperma akan bertemu dan terjadi fertilisasi, hal ini paling

sering terjadi di ampulla tuba fallopi. Sel telur yang telah difertilisasi ini

akan menjadi zigot, terus berjalan ke arah uterus, dan akhirnya akan terjadi

implantasi pada endometrium uterus dalam bentuk blastula. Apabila sel

telur ini tidak dibuahi maka akan hormon akan memberi sinyal agar

endometrium meluruhkan lapisan-lapisan yang tadinya dipersiapkan untuk

implantasi bayi. Hal inilah yang disebut dengan menstruasi, dan siklus ini

akan berlanjut sampai masa menopause.


Gambar a.1 Reproduksi Wanita

B. Definisi

Fertilitas adalah kemampuan seorang isteri untuk menjadi hamil dan

melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya.

Infertilitas adalah kondisi ketidakmampuan untuk mengandung sampai

melahirkan bayi hidup setelah satu tahun atau 12 bulan dalam melakukan

hubungan seksual yang teratur dan tidak menggunakan alat kontrasepsi

apapun atau setelah memutusukan untuk mempunyai anak.

infertilitas adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan psikologis,

ekonomi, medis yang mengakibatkan trauma, stres, terutama dalam rangkaian

sosial seperti kita, dengan penekanan kuat pada hubungan anak.


Pasangan infertil dapat diartikan sebagai pasangan yang telah menikah

dan melakukan hubungan seksual selama satu tahun namun belum berhasil

hamil. Dan syarat untuk menjadi hamil adalah uterus dan endometrium

normal, anatomi dan fungsi tuba normal, siklus mentruasi normal, hasil

analisis sperma normal, serta kemampuan melakukan hubungan seksual

normal

Infertilitas dibagi menjadi dua :

1. Infertilitas primer : Merupakan keadaan dimana istri belum berhasil

hamil walaupun bersenggama teratur dan di hadapkan kepada

kemungkinan hamil selama 12 bulan berturut-turut.

2. Infertilitas sekunder : Merupakan keadaan dimana istri pernah hamil

tetapi tidak berhasil hamil lagi walaupun bersenggama teratur dan

dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan

berturut-turut.

C. Etiologi

Penyebab terjadinya infertilitas pada wanita dapat dibagi menjadi

beberapa golongan penyebab, yaitu:

1. Gangguan Ovulasi

Gangguan ovulasi merupakan salah satu penyebab yang paling

sering kenapa wanita tidak bisa memiliki anak, yaitu sekitar 30% dari
seluruh wanita infertil. Penyebab terjadinya gangguan ovulasi dapat

diklasifikasikan menjadi:

a. Gangguan Hormonal

Gangguan ini merupakan penyebab paling sering terjadinya

gangguan ovulasi. Proses dari suatu ovulasi tergantung dari

keseimbangan yang kompleks dari interaksi hormon-hormon. Selain

itu hormonal dipengaruhi oleh psikologis, sering ditemukan Semakin

berat stres infertilitas yang dialami perempuan infertil yang menjalani

fertilisasi in vitro akan meng- hambat maturasi oosit yaitu

menghasilkan banyak oosit tidak matur sehingga menghasilkan angka

fertilisasi yang lebih rendah dibandingkan dengan yang meng- alami

stres ringan dan sedang. stres akan berpengaruh pada aksis

hipotalamus-hipofisis-adrenal sehingga mengganggu fungsi

reproduksi .

b. Scar pada ovarium

Kerusakan fisik pada ovarium dapat berakibat gagalnya

ovulasi. Sebagai contoh, adanya operasi ekstensif dan invasi yang

dilakukan beruang-ulang pada kista ovarium dapat menyebabkan

kapsul ovarium menjadi rusak, sehingga folikel tidak dapat menjadi

matur dengan benar dan ovulasi tidak terjadi. Selain itu infeksi juga

dapat berakibat seperti ini.

c. Menopause prematur
Hilangnya fungsi normal ovarium sebelum usia 40 tahun. Pada

keadaan ini, ovarium tidak menghasilkan jumlah hormon estrogen

normal atau melepaskan telur secara teratur.

d. Polycistic Ovarium syndrome (PCOS)

Pada penyakit ini, tubuh memproduksi hormon androgen yang

terlalu banyak, sehingga dapat mempengaruhi ovulasi. PCOS

berhubungan dengan resistensi insulin dan obesitas.

2. Gangguan Tuba

Sumbatan yang terjadi pada tuba dapat terjadi akibat semua

infeksi. Penyakit abnormal, riwayat penyakit abdominal, riwayat operasi,

kehamilan ektopik, kelainan kongenital.Penyakit tuba terjadi pada sekitar

25% pasangan yang infertil, dan sangat bervariasi, mulai dari adesi

ringan sampai penutupan total tuba fallopi.

a. Infeksi

Infeksi bisa disebabkan baik oleh bakteri maupun virus yang

biasanya ditularkan melalui hubungan seksual, infeksi ini akan

menyebabkan inflamasi pada tuba sehingga terjadi scar dan kerusakan

pada tuba. Sebagai contoh adalah hydrosalphing, sebuah kondisi

dimana tuba fallopi menjadi tertutup pada kedua ujungnya sehingga

cairan terkumpul dituba.


b. Penyakit Abdominal

Penyakit abdominal yang paling sering menyebabkan

infertilitas adalah apendisitis dan kolitis. Penyakit ini dapat

menimbulkan inflamasi pada cavum abdominal yang dapat

mempengaruhi tuba fallopi yang dapat berakibat timbulnya skar dan

penutupan saluran tuba.

c. Riwayat Operasi

Riwayat operasi merupakan salah satu penyebab penting pada

terjadinya kerusakan tuba. Operasi pada abdomen dan pelvis dapat

menyebabkanb terjadinya adhesi yang dapat merubah tuba sehingga

sel telur tidak dapat melewatinya.

d. Kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di

saluran tuba, sehingga dapat terjadi kerusakan tuba.

e. Kelainan kongenital

Hal ini sangat jarang terjadi, pada beberapa kasus, wanita

dapat dilahirkan dengan tuba yang abnormal.

3. Lendir Serviks atau faktor serviks

Beberapa wanita memiliki antibodi terhadap sperma sehingga

seringkali sperma tidak dapat melewati kanalis servikalis pada saat

ovulasi sekalipun. Mukus serviks berperan sebagai sarana transportasi

sperma yang masuk ke dalam vagina. Spematozoa memerlukan cairan

mukus untuk melindunginya dari keasaman vagina dan membantunya


bergerak masuk kedalam uterus. Oleh karena itu adanya kelainan pada

mukus ini dapat menghambat pergerakan sperma sehingga tidak bisa

sampai ke sel telur.Pada beberapa kasus, mukus serviks juga dapat

mengandung antibodi antisperma, yang juga dapat mengganggu sperma.

4. Gangguan Uterus

Terdapat beberapa faktor yang dapat mengganggu transpor

sperma dan keadekuatan implantasi sel telur yang sudah dibuahi. Faktor

ini termasuk fibroid uterus, polip uterus atau bentuk uterus yang

abnormal. Uterus dapat berupa uterus bikornuatum atau mungkin

memiliki sputum dan semua faktor ini dapat menghambat implantasi atau

mengakibatkan angka keguguran tinggi. Tuberculosis dan infeksi kronis

lain dapat mempengaruhi endometrium sehingga mencegah terjadinya

implantasi.

5. Endometriosis

Endometriosis sangat erat kaitannya dengan infertilitas,

diperkirakan 20-40% perempuan infertil menderita endometriosis. Pada

endometriosis berat terjadi distorsi anatomi dari adnexa, menghalangi

atau mencegah penangkapan ovum sesudah ovulasi, gangguan

pertumbuhan oosit atau embryogenesis dan penurunan reseptivitas atau

kemampuan menerima endometrium. Pada endometriosis ringan terjadi

gangguan implantasi, defek imunologi dan penurunan kualitas oosit

karena terganggunya proses folikulogenesis. Dan pada kenyataannya, 30-


40% pasien dengan endometriosis didiagnosis infertil. Endometriosis

merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan adanya pertumbuhan

jaringan endometrium pada daerah lain selain cavum uteri, yang paling

sering terjadi pada cavum pelvis, termasuk ovarium.Diagnosis pasti dari

penyakit ini hanya bisa ditegakkan dengan laparoskopi untuk melihat

uterus, tuba fallopi, ovarium, dan peritoneum pelvis secara langsung.

Gejala pada endometriosis antara lain adanya menstruasi yang lama,

banyak dan nyeri, bercak premenstrual, perdarahan rectal, dan urgensi

urin.

D. Pemeriksaan infertilitas

Pemeriksaan fisik dari pasangan subur dapat mengidentifikasi

penyebabyang berpotensi dapat menyebabkan infertilitas yang kemudian dapat

dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan tes laboratorium khusus atau studi

pencitraan.Pada pasangan infertil, pendekatan diagnosa secara sistematis

diperlukan untuk evaluasi diagnostik infertilitas.

Adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut:

1. Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha

untuk mendapatkan anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih

dini apabila:

a. Pernah mengalami keguguran berulang

b. Diketahui mengidap kelanan endokrin

c. Pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut

d. Pernah mengalami bedah ginekologik


2. Istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan

pertama pasangan itu datang ke dokter.

3. Istri pasangan infertil yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan

pemeriksaan infertilitas kalau belum punya anak dari perkawinan ini.

4. Pemeriksaan infertiitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu

anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan

istri dan anaknya.

Pemeriksaan infertilitas pada wanita adalah sebagai berikut :

1) Faktor ovulasi

Untuk melihat bagaimana fungsi ovulasi seorang wanita, riwayat

menstruasi merupakan tanda yang akurat. Wanita dengan siklus reguler

antara 25-35 hari dan ada gejala premenstrual ternyata lebih dari 95%

bersifat ovulatoar. Untuk mngetahui terjadinya ovulasi ada beberapa tes

sederhana yang dapat dilakukan, seperti pengukuran serum progesteron

dan pembuatan grafik suhu basal tubuh.

Tes serum progesteron merupakan tes yang murah dan banyak

digunakan. Pada tes ini memanfaatkan kenaikan serum progesteron setelah

terjadi ovulasi. Spesimen darah diambil di hari ke 21 pada siklus

menstruasi reguler 28 hari. Adanya serum progesteron lebih dari 3 mg/ml

menunjukkan telah terjadi ovulasi. Namun tes ini sering terjadi negative

palsu karena perlu pengambilan spesimen darah pada waktu yang tepat.

Pengukuran suhu basal tubuh digunakan untuk mengukur secara

tidak langsung kenaikan level hormon progesteron yang mempunyai efek


termogenik. Peningkatan hormon progesteron setelah terjadi ovulasi akan

meningkatkan suhu basal tubuh 0,3o-0,6o C yang biasanya berlangsung

selama 11-14 hari setelah ovulasi. Pengukuran suhu basal tubuh ini

dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur. Pengukuran pertama

dilakukan pada hari pertama menstruasi. Pemeriksaan ini akurat untuk

memastikan adanya ovulasi namun kurang akurat untuk memastikan waktu

terjadinya ovulasi.

Selain kedua tes diatas juga ada tes dengan menggunakan ovulation

predictor kit. Alat ini menggunakan enzim immunoassay untuk mendeteksi

adanya peningkatan LH yang diketahui merupakan pemacu terjadinya

ovulasi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan urin pasien untuk

mendeteksi adanya LH, yang akan menghasilkan perubahan warna pada

indikator alat ini. Pemeriksaan dilakukan pertama kali pada hari ke sepuluh

setelah awal menstruasi dan diperiksa pada hari keberapa terjadi perubahan

warna indikator pada alat. Positif palsu dapat terjadi bila urin yang dipakai

adalah urin pagi karena urin pagi cenderung lebih pekat. Pada pemeriksaan

ini juga bisa didapatkan LH pada urin yang persisten selama satu bulan

penuh, ini biasanya menunjang untuk dicurigai PCOS.

2) Faktor serviks

Infertilitas karena faktor serviks biasanya disebabkan oleh kelainan

produksi mukus atau adanya gangguan pada interaksi antara sel sperma

dan mukus serviks. Secara umum, hal ini dapat dideteksi dengan

melakukan postcoital test (PCT). PCT dilakukan sekitar 2-3 hari sebelum
ovulasi diprediksikan terjadi, kemudian pasangan yang dilakukan tes

diminta untuk melakukan hubungan seksual antara 2-12 jam sebelum tes.

Setelah itu wanita kemudian datang ke petugas medis, yang akan

mengambil mukus serviksnya. Lendir kemudianditempatkan padakacaslide

dimanaspinnbarkheitnya(stretchability) dinilai.Jumlah sperma

yangmotiljuga dihitung perbidang high powermikroskopis. Namun PCT ini

tidak direkomendasikan oleh American Society for Reproductive Medicine,

karena 3 alasan, yaitu:

 Tes ini tidak distandarisasikan, tidak sensitif, tidak spesifik, dan

tidak prediktif.

 Faktor serviks jarang ditemukan sebagai satu-satunya faktor yang

menyebabkan infertilitas.

 Pengobatan secara kontemporer untuk mengobati infertilitas yang

tidak dapat dijelaskan dapat mengaburkan keterlibatan faktor

serviks dalam infertilitas.

3) Faktor tuba dan uterus

Kelainan uterus seperti mioma submukosa dan polip endometrium

dapat menyebabkan infertilitas walaupun jarang terjadi. Namun untuk

kelainan tuba merupakan penyebab paling sering terjadinya infertilitas.

Penyakit yang paling sering pada kelainan tuba adalah pelvic inflammatory

disease (PID) karena infeksi penyakit menular seksual yang disebabkan

bakteri Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae. Penyakit yang

melibatkan uterus dan tuba dapat dilihat dengan menggunakan


histerosalfingogram (HSG). HSG merupakan suatu studi pencitraan yang

menggunakan pewarna radioopak untuk melihat kavitas uterus dan tuba

fallopi melalui fluoroskopi. Ada pula suatu data yang menyebutkan bahwa

fluoroskopi juga dapat berefek sebagai terapeutik pada infertilitas yang tak

diketahui, terutama bila menggunakan pewarna radioopak dengan bahan

dasar minyak. Prosedur pemeriksaan harus dilakukan kira-kira 2-3 hari

setelah menstruasi berhenti untuk memastikan bahwa pasien tidak dalam

keadaan hamil dan untuk meminimalisasikan aliran balik darah menstruasi.

Risiko yang paling diperhatikan pada pemakaian HSG adalah

adanya infeksi pelvis iatrogenik, terutama pada wanita yang mempunyai

riwayat PID. Pada wanita ini sebelum dilakukan pemeriksaan HSG harus

diperiksa laju endap darahnya terlebih dahulu, dan bila didapatkan

peningkatan maka pemeriksaan dengan HSG harus ditunda terlebih dahulu.

Dan bila LED nya normal, pemeriksaan HSG bisa dilakukan dengan

memberikan antibiotik profilaksis terlebih dahulu dengan doksisiklin

selama 5 hari dengan dosis 2x100 mg/hari.

Selain itu ada pula cara lain untuk memeriksa patensi tuba yaitu

dengan pertubasi. Pertubasi. Atau uji Rubin, bertujuan memeriksa patensi

tuba dengan jalan meniupkan gas CO2 melalui kanula atau kateter Foley

yang dipasang pada kanalis servikalis. Apabila kanalis servikouteri dan

salah satu atau kedua tubanya paten, maka gas akan mengalir bebas ke

dalam kavn peritonei. Patensi tuba akan dinilai dari catatan tekanan aliran

gas sewaktu dilakukan peniupan. Insuflator apapun yang dipakai, kalau


tekanan gasnya naik dan bertahan sampai 200 mmHg, maka dikatakan ada

sumbatan tuba, kalau naiknya hanya 80-100, salah satu atau kedua tubanya

dianggap paten. Tanda lain yang menyokong patensi tuba adalah

terdengarnya pada auskultasi suprasimfisis tiupan gas masuk ke dalam

kavum peritonei seperti “bunyi jet” atau nyeri bahusegera setelah pasien

dipersilahkan duduk sehabis pemeriksaan, akibat terjadinya pengumpulan

gas di bawah difragma.

4) Faktor peritoneum / endometriosis

Penyakit peritoneum seperti endometriosis dan adesi dapat ikut

meberikan kontribusi terhadap terjadinya infertilitas. Endometriosis

ditemukan ada sekitar 25%-40% wanita yang infertil, yang jumlahnya kira-

kira 10 kali dari populasi umum. Dalam hal ini, laparoskopi bisa dilakukan

untuk mendeteksi penyebab infertilitas bila alat diagnostik lain gagal.

E. Penatalaksanaan

 Medikamentosa

Obat-obatan untuk menginduksi ovulasi dapat digunakan untuk

mengobati wanita dengan amenore atau yang mempunyai menstruasi tidak

teratur. Adapun jenis-jenis pengobatan yang bisa diberikan adalah:

1. Anti-Estrogen

Clomifen sitrat dapat membantu untuk menstimullasi terjadinya

ovulasi pada wanita dengan amenore atau menstruasi tidak teratur.

Clomifen dapat digunakan pada wanita dengan infertilitas yang tak


diketahui dan PCOS. Clomifen bekerja dengan berkompetisi dengan

hormon estrogen untuk menempati reseptornya di otak. Oleh karena

jumlah estrogen yang terikat dengan reseptornya sedikit maka tubuh akan

memberikan sinyal ke otak bahwa mereka kekurangan estrogen dan hal

ini akan merangsang pelepasan hormon FSH dan LH ke dalam pembuluh

darah. Tingginya kadar FSH akan menstimulasi ovarium untuk

membentuk folikel yang berisi sel telur, dan tinginya kadar LH akan

menyebabkan pelepasan sel telur dari folikel matur dalam sebuah proses

yang disebut ovulasi. Pengobatan ini efektif untuk membantu

meningkatkan fertilitas pada wanita dengan PCOS, terbukti sekitar 70%-

80% penderita PCOS akan berovulasi dengan pemberian klomifen sitrat.

2. Gonadotropin

Seperti dikatakan sebelumnya bahwa 2 hormon yang dibutuhkan

dalam ovulasi adalah FSH dan LH. 2 hormon ini disebut gonadotropin.

Ada beberapa jenis sediaan gonadotropin yang bisa digunakan untuk

meningkatkan fertilitas, antara lain:

a. hMG (human menopausal gonadotropin) mengandung FSH dan

LH alami yang diekstraksi dan dipurifikasi dari urin wanita

postmenopause yang mempunyai kadar hormon tinggi.

b. uFSH (urinary folicle stimulating hormone) mengandung FSH

yang berasal dari purifikasi urin wanita postmenopause.


c. rFSH (recombinant folicle stimulating hormon) mengandung

FSH yang diproduksi di laboratorium menggunakan teknologi

DNA.

d. rLH (recombinant luteinizing hormon) mengandung LH yang

diproduksi di laboratorium menggunakan teknologi DNA.

Selain untuk menstimulasi ovarium, gonadotropin juga ada yang

digunakan untuk merangsang pelepasan sel telur dari folikel matur.

Pemberian gonadotropin jenis ini dilakukan ketika kita sudah mendeteksi

bahwa folikel benar-benar matur dan berisi sel telur didalamnya baik

dengan menggunakan tes darah maupun USG ovarium. Obat-obat

tersebut adalah:

a. uhCG (urinary human chorionic gonadotropin) mempunyai

aktivitas biologi yang sama dengan LH, walaupun juga

mengandung FSH. Hormon ini diekstraksi dan dipurifikasi dari

urin wanita hamil.

b. rhCG (recoombinant human chorionic gonadotropin) yang

dihasilkan dari teknologi DNA dilaboratorium.

c. uLH (urinary luteinizing hormon) mengandung LH yang

diekstraksi dan dipurifikasi dari urin wanita postmenoause.

d. rLH

3. Gonadotropin releasing hormone (GnRH) pulsatil

GnRH dilepaskan secara teratur dalam interval antara 60-120

menit selama fase folikular dalam siklus haid yang normal. Sekresi
GnRH secara pulsatil dari hipotalamus di otak ke aliran darah akan

menstimulasi kelenjar pituitari untuk mensekresikan LH dan FSH.

Pemberian medikasi ini melalui pompa yang dipasang pada ikat pinggang

dan dipakai sepanjang waktu. pompa ini akan memberikan dosis kecil

yang teratur kepada pasien melalui sebuah jarum yang ditempatkan

dibawah kulit atau didalam pembuluh darah. Namun hal ini bisa

menimbulkan infeksi dan alergi akibat pemasangan jarum tersebut.

4. Gonadotropin releasing hormone analogue (GnRH agonist)

5. Dopamin Agonist

Beberapa wanita beovulasi secara ireguler akibat dari pelepasan

hormon prolactin yang berlebihan dari kelenjar pituitari yang biasa

disebut hiperprolactinemia. Kelebihan hormon prolaktin ini akan

mencegah terjadinya ovulasi pada wanita dan hal ini akan menyebabkan

terjadinya menstruasi yang tidak teratur dan bahkan hingga berhenti sama

sekali. Dopamin agonist seperti bromokroptin dan cabergolin melalui

oral dapat mencegah hal ini dengan menurunkan produksi prolaktin,

sehingga ovarium dapat bekerja dengan baik.

6. Aromatose Inhibitor

Inhibitor aromatose digunakan terutama pada kanker payudara

pada wanita postmenopause. Mereka bekerja dengan menurunkan kadar

estradiol dalam sirkulasi dan mengurangi umpan balik negatif yang

menstimulasi peningkatan sekresi dari kelenjar pituitari dan sebagai


akibatnya akanmeningkatkan kerja ovarium. Jenis obat penghambat

aromatose ini adalah letrozole dan anastrozole.

 Terapi Pembedaan

Operasi atau dilakukannya pembedaan merupakan pilihan terapi

apabila didapatkan beberapa kelainan tuba, PCOS, adhesi, endometriosis,

dan kelainan uterus. Terapi bedah untuk infertilitas antara lain:

1. Ovarian Drilling

Wanita infertil dengan PCOS mempunyai kesulitan dalam

ovulasi. Ovulasi dapat diinduksi secara pembedahan dengan prosedur

yang disebut ovarian drilling atau ovarian diathermy. Prosedur ini

berguna untuk wanita dengan PCOS yang resisten terhadap pengobatan

dengan klomifen sitrat. Ovarian drilling dilakukan secara laparoskopi

melalui lubang insisi kecil, kemudian beberapa insisi kecil dilakukan

pada ovarium dengan menggunakan panas atau laser. Proses ini akan

membantu kelainan hormon dan memicu terjadinya ovulasi.

Gambar e.1. Ovarian Drilling


2. Pembedahan pada tuba fallopi

Penutupan atau kerusakan pada tuba fallopi dapat diatasi dengan

berbagai macam jenis prosedur operasi tergantung dari lokasi penutupan

dan jenis kerusakannnya.

a. Histerosalfingografi (HSG) merupakan sebuah prosedur yang dapat

digunakan untuk mendiagnosis masalah pada uterus dan tuba

fallopi. HSG menggunakan sinar x dan cairan radioopak yang

dimasukkan ke traktus reproduksi dari uterus sampai ke tuba fallopi

melalui kateter dari serviks.

b. Salpingolisis merupakan salah satu prosedur operasi dengan

laparotomi yang diiringi dengan penggunaan microscope untuk

memperluas area. Salpingolisis dilakukan dengan membebaskan

tuba fallopi dari adhesi dengan memotong perlengketan tersebut,

biasanya menggunakan electrosurgery dengan memakai

elektrokauter.

c. Salfingotomi biasanya dilakukan untuk membentuk sebuah lubang

baru pada tuba. Prosedur ini dapat dilakukan secara laparotomy

ataupun laparoskopi. Salfingostomi dapat dilakukan pada

pengobatan kehamilan ektopik dan infeksi pada tuba fallopi.

d. Tubal anastomosis merupakan prosedur pembedahan dengan

mengambil jaringan tuba yang tertutup dan kemudian menyambung

lagi ujung-ujung tuba yang terpotong tersebut.


e. Tubal kanalisasi, prosedur ini dilakukan ketika penutupan tuba

relatif terbatas. Prosedur ini dilakukan dengan mendorong kawat

atau kateter melalui penutupan tersebut sehingga terbuka. Prosedur

ini dilakukan dengan dipandu fluoroskopi.


BAB III

KESIMPULAN

Infertilitas diklasifikasikan menjadi infertilitas primer dan sekunder.

Infertilitas primer bila istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan

dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Infertilitas sekunder

bila istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi

walaupun pasangan bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan

kehamilan selama 12 bulan.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan infertilitas pada wanita antara

lain seperti infeksi vagina, disfungsi seksual, lingkungan vagina yang terlalu

asam, kelainan serviks, sumbatan di tuba falopi, gangguan ovulasi serta

endometriosis.

Penatalaksanaan bagi wanita dengan infertilitas yaitu dengan terapi

medikamentosa dan atau pembedahan.


DAFTAR PUSTAKA

1. Hendarto,Hendy. Stress Infertilitas Menghambat Maturasi Oosit dan Hasil

Fertilisasi In Vitro. Majalah Obsetri & Ginekologi Vol.23. 2015

2. Saraswati, Andini. Infertility. Artikel Review, J Majority Vol.4 2015.

3. Trisnawati, Yuli. Analisis Kesehatan Reproduksi Wanita Ditinjau Dari

Riwayat Kesehatan Reproduksi Terhadap Infertilitas di RS Margono

Soekardjo Tahun 2015. Jurnal kebidanan Vol.VII 2015.

4. Sharma, Asha. Male Infertility; Evidences, Risk Factors, Causes, Diagnosis

and Management in Human. Imed Pub Journals, Annals Of Clinical And

Laboratory Research Vol.05 No.3:188 2017.

5. Setiyono. Pengaruh Tingkat Stress dan Kadar Kortisol Dengan Jumlah

Folikel Dominan Pada Penderita Infertilitas Yang Menjalani Fertilisasi In

Vitro. Majalah Obsetri & Ginekologi Vol. 23 No.3: 128-132. 2015.

6. Christiani, Ninik. Hipnotherapi Sebagai Prespejtif Komplementer dan

Pengobatan Alternatif Untuk Kasus Infertilitas. Prosiding Seminar Nasional

Kebidanan dan Call Of Paper No.282-289 2016.

7. D Santi, A R M Granata, M Simoni. FSH Treatment Of Male Idiopathic

Infertility Improves Pregnancy Rate: A Meta-Analysis. Endocrine Connections

No.1-13. 2015.