Anda di halaman 1dari 21

BAB IX

KALKULASI BIAYA PRODUK SAMPINGAN DAN PRODUK


GABUNGAN
Capaian Pembelajaran BAB IX :
a. Membedakan antara produk gabungan, produk sampingan, dan nilai
sisa
b. Menentukan, jika ada beberapa nilai yang akan ditetapkan perusahaan
atas produk sampingan sebelum dijual
c. Mengidentifikasikan alasan untuk mengalokasikan biaya gabungan
d. Memilih metode yang paling tepat untuk mendistribusikan biaya
gabungan ke produk sampingan dan produk gabungan untuk penilaian
persediaan
e. Menerapkan analisis diferensial dalam memutuskan apakah akan terus
meproses produk
PRODUK SAMPINGAN, PRODUK GABUNGAN DAN NILAI SISA
Perbedaan Produk Sampingan, Produk Gabungan, dan Nilai Sisa
Produk sampingan (By – Product)
Produk sampingan (by-product) merupakan suatu produk dengan nilai total
yang relatif kecil dan dihasilkan secara simultan atau bersamaan dengan produk lain
yang nilai totalnya lebih besar. Produk dengan nilai total yang lebih besar, biasanya
disebut dengan produk utama (main product). Produk utama diproduksi dalam
jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan produk sampingan. Produsen
biasanya hanya memiliki sedikit kendali atas jumlah produk sampingan yang
dihasilkan. Akan tetapi pada perusahaan dengan metode teknik yang lebih maju,
telah memungkinkan pengendaian yang lebih besar atas jumlah residu dan produk
sampingan lainnya. Misalnya, suatu perusahaan yang menyewa truk untuk
mengangkut bahan tertentu menemukan bahwa bahan buangan tersebut dapt
digunakan sebagai pupuk. Sehingga, produk sampingan tersebut (pupuk) dapat
menjadi sumber pendapatan lain bagi seluruh industri.

Produk Gabungan (Joint Product)


Produk gabungan (joint product) merupakan produk yang dihasilkan secara
simultan atau bersamaan melalui suatu proses atau serentetan proses umum, dimana
setiap produk yang dihasilkan dari proses tersebut memiliki lebih dari sekedar nilai
nominal. Proses produksi bersifat simultan karena proses tersebut menghasilakn
seluruh produk tersebut tanpa terkecuali. Peningkatan pada output salah satu produk
akan menyebabkan peningkatan kuantitas dari produk atau produk – produk lain
dan demikian pula sebaliknya. Titik batas (split – off point) didefinisikan sebagai
titik dimana produk – produk tersebut dapat dipisahkan sebagai unit – unit
individual. Sebelum titik tersebut, produk masih dalam satu kesatuan yang
homogen.
Nilai Sisa
Nilai sisa atau nilai residu (salvage value) merupakan nilai jual kembali suatu
aset pada akhir masa manfaatnya. Dimana dalam ilmu akuntansi nilai tersebut
diperhitungkan sebagai pengurang biaya overhead. Untuk menentukan jumlah
biaya aset yang akan disusutkan, nilai residu harus dikurangi dari biaya aset tetap.
Dengan demikian, nilai residu digunakan sebagai komponen perhitungan
penyusutan.
Karakteristik Produk Sampingan dan Produk Gabungan
Asal mula dari produk sampingan dapat bervariasi, seperti produk sampingan
yang dihasilkan dari pembersihan produk utama, produk sampingan sisa atau
sampah, dan produk sampingan yang timbul dari proses persiapan bahan baku
sebelum digunakan dalam proses produksi produk utama. Produk sampingan dapat
diklasifikasikan menjadi dua kelompok menurut kondisi dapat dipasarkannya
produk tersebut pada titik pisah batas yaitu :
• Produk yang dijual dalam bentuk asalnya tanpa diproses lebih lanjut
• Produk yang membutuhkan proses lebih lanjut agar dapat dijual
Contoh klasik dari produk gabungan adalah industri pengemasan daging. Berbagai
jenis potongan daging dan beberapa produk sampingan dihasilkan dari satu hewan

Produk Gabungan (Joint Product)


Produk gabungan (joint product) merupakan produk yang dihasilkan secara
simultan atau bersamaan melalui suatu proses atau serentetan proses umum, dimana
setiap produk yang dihasilkan dari proses tersebut memiliki lebih dari sekedar nilai
nominal. Proses produksi bersifat simultan karena proses tersebut menghasilakn
seluruh produk tersebut tanpa terkecuali. Peningkatan pada output salah satu produk
akan menyebabkan peningkatan kuantitas dari produk atau produk – produk lain
dan demikian pula sebaliknya. Titik batas (split – off point) didefinisikan sebagai
titik dimana produk – produk tersebut dapat dipisahkan sebagai unit – unit
individual. Sebelum titik tersebut, produk masih dalam satu kesatuan yang
homogen.
Nilai Sisa
Nilai sisa atau nilai residu (salvage value) merupakan nilai jual kembali suatu
aset pada akhir masa manfaatnya. Dimana dalam ilmu akuntansi nilai tersebut
diperhitungkan sebagai pengurang biaya overhead. Untuk menentukan jumlah
biaya aset yang akan disusutkan, nilai residu harus dikurangi dari biaya aset tetap.
Dengan demikian, nilai residu digunakan sebagai komponen perhitungan
penyusutan.
Karakteristik Produk Sampingan dan Produk Gabungan
Asal mula dari produk sampingan dapat bervariasi, seperti produk sampingan
yang dihasilkan dari pembersihan produk utama, produk sampingan sisa atau
sampah, dan produk sampingan yang timbul dari proses persiapan bahan baku
sebelum digunakan dalam proses produksi produk utama. Produk sampingan dapat
diklasifikasikan menjadi dua kelompok menurut kondisi dapat dipasarkannya
produk tersebut pada titik pisah batas yaitu :
• Produk yang dijual dalam bentuk asalnya tanpa diproses lebih lanjut
• Produk yang membutuhkan proses lebih lanjut agar dapat dijual
Contoh klasik dari produk gabungan adalah industri pengemasan daging. Berbagai
jenis potongan daging dan beberapa produk sampingan dihasilkan dari satu hewan
Menurut Bustami, dkk (2006:178), alasan mengalokasikan biaya gabungan
terhadap produk gabungan adalah untuk menghitung harga pokok dan menentukan
nilai persediaan untuk tujuan pelaporan keuangan internal, menilai persediaan
untuk tujuan asuransi, menentukan nilai persediaan jika terjadi kerusakan terhadap
nilai barang yang rusak, biaya bahan yang hancur, menentukan biaya departemen
atau divisi untuk tujuan pengukuran kinerja eksekutif. Selain beberapa alasan
tersebut, alokasi biaya bertujuan untuk mengetahui berapa besar kontribusi masing
– masing produk gabungan terhadap total pendapatan perusahaan, mengetahui
apakah seluruh biaya produksi yang dibebankan kepada masing – masing produk
gabungan sudah dihitung dengan seteliti mungkin.
METODE UNTUK MENGHITUNG BIAYA PRODUK SAMPINGAN DAN
GABUNGAN
Metode untuk Mendistribusikan Biaya Produk Gabungan ke Produk
Sampingan dan Produk Gabungan
Metode untuk Menghitung Biaya Produk Sampingan
Metode yang dapat diterima untuk menghitung biaya produk sampingan
terbagi atas dua kategori. Dalam kategori Pertama, biaya produksi gabungan tidak
dialokasikan ke produk sampingan. Dalam kategori ini, ada dua metode.
Pendapatan yang dihasilkan dari penjualan produk sampingan dikreditkan ke
pendapatan atau biaya produk utama. Metode ini dibedakan oleh perlakuannya atas
pendapatan kotor dari produk sampingan dan disebut sebagai metode 1.
Alternatifnya, biaya produk sampingan setelah titik pisah batas di-offset dengan
pendapatan bersih dari produk sampingan dan disebut sebagai metode 2.
Dalam metode 1, pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan
ditampilkan dalam laporan laba rugi sebagai salah satu dari kategori ini:
• Pendapatan lain-lain
• Tambahan pendapatan penjualan
• Pengurangan harga pokok penjualan dari produk utama
• Pengurangan biaya produksi utama
Dalam metode 2, pendapatan bersih dari produk sampingan (pendapatan dari
penjualan produk sampingan dikurangi dengan biaya administratif dan pemasaran
untuk memasarkan produk sampingan, kemudian dikurangi lagi dengan biaya
pemprosessan lebih lanjut setelah titik pisah batas) ditampilkan dilaporan laba rugi
sebagai salah satu keempat kategori untuk metode 1 seperti yang disebutkan diatas.
Dalam kategori yang kedua untuk menghitung biaya produk sampingan,
sebagian biaya gabungan dialoksikan ke produk tersebut. Alokasi biaya gabungan
seperti ini hampir sama dengan perlakuan terhadap produk gabungan. Nilai
persediaan didasarkan pada besarnya biaya gabungan yang digunakan. Metode 3
merupakan metode biaya penggantian, sedangkan metode 4 adalah metode nilai
pasar atau yang juga dikenal sebagai metode pembatalan atau pembalikan biaya
(reversal cost method).
Metode 1 : Pengakuan Pendapatan Kotor
Dengan metode pendapatan kotor, biaya persediaan final dari produk utama
dihitung terlalu tinggi (overstated) karena menanggung biaya yang seharusnya
dibebankan ke produk sampingan. Keterbatasan ini dikoreksi di metode 1d, tetapi
hanya sebagian, karena yang dikurangi dari biaya produksi produk utama dalam
metode ini adalah nilai jual produk sampingan dan bukannya biaya produksinya.
Metode 1a : Pendapatan Produk Sampingan sebagai Pendapatan Lain-lain.
Metode ini diilustrasikan dalam laporan laba rugi dibawah ini. Dengan asumsi
bahwa pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan adalah sebesar $ 1.500:

Metode 1b : Pendapatan Produk Sampingan sebagai Tambahan Pendapatan


Penjualan. Untuk metode ini, laporan laba rugi diatas akan menampilkan $ 1.500
dari pendapatan penjualan produk sampingan sebagai bahan penjualan atas produk
utama. Akibatnya, total pendapatan penjualan berubah menjadi sebesar $15.000
harga pokok penjualan produk utama, sehingga laba kotor dan laba operasi akan
meningkat sebesar $ 1.500 dibandingkan dengan yang ditampilkan dilaporan laba
rugi diatas. Laba sebelum pajak akan tetap sebesar $4.500.
Metode 1c : pendapatan Produk Sampingan sebagai Pengurang Harga Pokok
Penjualan. Dalam metode ini, $1.500 dari pendapatan penjualan produk
sampingan dikurangkan dari $15.000 harga pokok penjualan produk utama,
sehingga laba kotor dan laba operasi akan meningkat sebesar $1.500 dibanding
dengan yang ditampilkan di laporan laba rugi diatas. Laba sebelum pajak akan tetap
sebesar $ 4.500.
Metode 1d : Pendapatan Produk Sampingan Mengurangi Biaya Produksi.
Dalam metode ini, $ 1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan
dikurangkan dari $16.500 total biaya produksi, sehingga biaya produksi bersih yang
ditampilkan dalam laporan laba rugi berikut ini $ 1.500. Biaya produksi yang sudah
direvisi ini mengakibatkan rata-rata biaya per unit produk utama menjadi sebesar $
1,3625. Biaya yang dibebankan ke persediaan akhir produk utama menjadi sebesar
$2.725 dan bukannya $3.000. Dengan cara yang hampir sama, biaya persediaan
awal yang berkurang ($1,35 per unit seperti yang diilustrasikan dilaporan laba rugi
berikut ini), disebabkan karena pendapatan dari penjualan produk sampingan
diperiode sebelumnya dikreditkan ke biaya produksi produk utama diperiode yang
sama. Dari ketiga metode sebelumnya, tidak ada satupun yang mempengaruhi biaya
perunit yang dilaporkan untuk produk utama. Hal ini adalah perbedaan penting
dalam perhitungan biaya produk, meskipun pada umumnya dampak dari metode
ini dalam nilai dolar adalah relatif kecil. Laporan laba rugi akan ditampilkan sebagai
berikut:

Untuk metode yang terakhir dijelaskan ini, tidak diperlukan ayat jurnal yang
rumit. Pendapatan yang diterima dari penjualan produk sampingan didebit ke kas
atau piutang usaha. Dalam ketiga metode sebelumnya, Pendapatan dari Penjualan
Produk Sampingan yang dikreditkan; sedangkan dalam metode yang keempat,
biaya produksi dari produk utama. Hal ini biasanya dilakukan dengan
mengkreditkan barang dalam proses.
Metode 2 : Pengakuan Pendapatan Bersih
Dalam metode ini menyadari adanya kebutuhan untuk membebankan biaya
yang dapat ditelusuri ke produk sampingan. Akan tetapi, metode ini tidak berusaha
untuk mengalokasikan biaya produksi gabungan ke produksi sampingan. Biaya
yang terjadi setelah titik pisah batas guna memproses maupun memasarkan produk
sampingan dicatat dalam akun yang terpisah dari produk utama. Angka produk
sampingan ditampilkan dilaporan laba rugi dengan menggunakan salah satu
tampilan yang dijelaskan dalam metode 1.
Ayat jurnal dalam metode 2 melibatkan pembebanan biaya yang terjadi setelah
titik pisah batas ke pendapatan produk sampingan. Beban pemasaran dan
administratif juga dialokasikan ke produk sampingan. Beberapa perusahaan
memiliki satu akun yang berjudul produk sampingan. Semua biaya terjadi setelah
titik pisah batas didebit ke akun ini, sementara pendapatan yang diperoleh
dikreditkan ke akun tersebut. Saldo dari akun ini ditampilkan dilaporan laba rugi,
dengan mengikuti salah satu cara yang dijelaskan dalam metode 1. Akumulasi biaya
produksi yang dapat dibebankan ke persediaan produk sampingan yang belum
terjual dilaporkan di neraca.
Metode 3 : Metode Biaya Penggantian
Dalam metode ini biasanya digunakan oleh perusahaan itu sendiri. Adanya
produk sampingan menghilangkan kebutuhan untuk membeli bahan baku yang
serupa dari pemasok. Biaya produksi dari produk utama dikreditkan, dan debitnya
diposting ke departemen yang menggunakan produk sampingan tersebut. Jumlah
yang diposting oleh ayat jurnal tersebut merupakan biaya pembelian atau biaya
penggantiannya.
Perhitungan biaya produk sampingan yang digunakan dalam perusahaan.
Misalnya, suatu harga transfer bisa diterapkan berdasarkan biaya untuk berdasarkan
harga arbitrer mungkin saja digunakan. Apa pun harga yang dipakai, biaya produksi
produk utama yang menghasilkan produk sampingan dikredit, dan debitnya
diposting ke departemen yang menggunakan produk sampingan tersebut.
Metode 4 : Metode Harga Pasar (Pembatalan Biaya – Reversal Cost)
Metode harga pasar, atau metode pembatalan biaya pada dasarnya hampir
serupa dengan teknik yang diilustrasikan metode 1d. Tetapi, metode tersebut
mengurangi biaya produksi dari produk utama, bukan dengan pendapatan aktual
yang diterima, melainkan dengan estimasi nilai produk sampingan pada saat dijual.
Akun produk sampinngan dibebankan dengan nilai estimasi ini, dan biaya estimasi
dari produk utama di kredit. Tambahan biaya bahan baku, tenaga kerja, atau
overhead pabrik yang terjadi setelah titik pisah batas dibebankan ke produk
sampingan. Saldo dari akun ini dapat ditampilkan di laporan laba rugi dengan salah
satu cara yang telah dijelaskan di metode 1. Biaya produksi yang dapat dibebankan
ke persediaan produk sampingan yang belum terjual dilaporkan di neraca.
Metode harga pasar (pembatalan biaya) dalam menghitung biaya produk utama
dan produk sampingan dapat diilustrasikan sebagai berikut :
Ilustrasi ini menunjukkan bahwa nilai estimasi dari produk sampingan pada
titik pisah batas, dihitung dengan cara mengestimasikan laba kotor dan biaya
produksi setelah titik pisah batas, dari produk sampingan, lalu mengurangkannya
dari harga pokok pasar finalnya. Alternatif lain, jika produk sampingan memiliki
nilai pasar pada titik pisah batas, maka akun produk sampinga dibebankan dengan
nilai pasar tersebut dikurangi dengan estimasi laba kotor. Lawannya dikreditkan ke
biaya produksi produk utama.
Metode 4 didasarkan pada ide bahwa biaya produk sampingan berkaitan
dengan nilai jualnya. Mungkin juga untuk menggunakan gabungan total dasar pasar
dari produk utama dan produk sampingan pada titik pisah batas sebagai dasar untuk
mengalokasikan bagian biaya ke produk sampingan. Lawannya dikredit ke bia
produksi dari produk utama. Dalam pendekatan ini, perlakuan terhadap prod
sampingan serupa dengan produk gabungan, sebagaimana dijelaskan baik dal
kasus apapun, biaya produk sampingan yang terjadi setelah titik pisah ba
dibebankan ke produk sampingan.
Metode Alokasi Biaya Produksi Bersama ke Produk Gabungan
Untuk membebankan biaya bersama ke masing-masing poduk bisa digunak
salah satu dari metode berikut :
• Harga jual relatif
• Unit produk rata-rata
• Rata-rata tertimbang
Contoh :
PT.Ditiasa mengeluarkan biaya bersama sebesar Rp.9.000.000,- Produk bersa
dihasilkan adalah Sabun A, Sabun B, dan Sabun C (Di singkat SA, SB,dan S
masing-masing jenis dibuat SA=30.000 unit; SB=40.000 unit; SC= 20.0
unit,harga jual perunit @SA=Rp200,-;@SB=Rp150,-;@SC=Rp150,- .
Metode Harga Jual Relatif
Dengan tidak mempertimbangkan adanya produk sampingan (dianggap tid
ada) dan tidak ada biaya terpisah (separable cost). Alokasi biaya bersama deng
metode relatif harga jual adalah :

Contoh :
Apabila timbul biaya terpisah misalnya produk SA= Rp 2.000.000; produk SB=Rp
2.000.000 tetapi produl SC tidal memerlukan tambahan biaya, maka alokasi biaya
bersama dengan metode relatif harga pasar (dengan asumsi harga jual perunit
sesudah biaya terpisah ) SA=Rp 300,-; SB= Rp 250,- maka perhitungan biaya
bersama adalah :
Metode Unit Produksi Rata-rata
Dalam metode unit produksi rata-rata, maka biaya bersama dibebankan ke
produk berdasarkan jumlah unit yang diproduksi. Makin besar unit diproduksi
makin besar dibebani biaya produksi. Metode ini kurang tepat untuk digunakan bagi
produk yang hasil jualnya mempunyai perbedaan yang besar antara produk satu
dengan lainnya.
Contoh :
Dengan data yang ada pada perusahaan sabun PT. Ditiasa, maka alokasi biaya
bersama metode unit produksi rata-rata PT. Nomi sebagai berikut :\
Metode rata-rata tertimbang adalah metode yang digunakan untuk
menyempurnakan metode unit produksi. Dalam metode rata-rata tertimbang, unit
produksi harus dicari bobotnya sehingga pembagian biaya bersama karena lebih
tepat. Misalnya untuk membuat produk SA,SB, dan SC tersebut diperlukan bahan
SA= 0,6 liter; SB= 0,3 liter; dan SC= 1liter. Maka alokasi biaya bersama dengan
metode rata-rata tertimbang, akan tampak sebagai berikut :

Tambahan dari Metode-metode Alokasi Biaya Produksi Gabungan ke


Produk Gabungan.
Biaya produk gabungan (terjadi sebelum titik pisah batas), dapat dialokasikan
ke produk gabungan menggunakan salah satu metode berikut :
• Metode harga pasar, berdasarkan harga pasar relatif dari produk individual.
• Metode biaya-biaya per unit.
• Metode rata-rata tertimbang, berdasarkan pada faktor pembobotan yang
telah ditentukan sebelumnya.
• Metode unit kuantitatif, berdasarkan pada ukuran fisik unit seperti berat,
ukuran linear, atau volume.
Metode Harga Pasar
Pendukung metode harga pasar sering kali berpendapat bahwa harga pasar dari
produk apapun sampai batas tertentu merupakan manifestasi dari biaya yang
dikeluarkan untuk memproduksinya. Anggapannya adalah bahwa jika suatu produk
harganya lebih mahal daripada produk lain, hal tersebut disebabkan karena biaya
yang dikeluarkan untuk memproduksinya lebih besar. Dengan kata lain, jika bukan
karena biaya, maka harga jual tidak akan ada. Tetapi, berdasarkan definisinya,
usaha yang diperlukan. Jika dapat ditentukan, maka alokasi dapat dihitung
berdasarkan jumlah relatif dari usaha yang diperlukan untuk setiap produk
gabungan. Lebih lanjut lagi, menurut teori ekonomi, harga dalam ekonomi dengan
pasar yang kompetitif ditentukan berdasarkan kelangkaan dari barang yang diminta
oleh pelanggan, bukan berdasarkan biaya relatif untuk memproduksi barang
tersebut.
Argumen lain untuk menggunakan harga pasar untuk mengalokasikan biaya
gabungan adalah bahwa metode ini netral. Berarti, metode ini tidak mempengaruhi
profitabilitas relatif dari produk gabungan. Keputusan yang harus dibuat
berdasarkan pada suatu analisis atas profitabilitas relatif dari berbagai produk
gabungan tidak terdistorsi oleh alokasi biaya metode harga pasar akan
menyebabkan setiap produk gabungan memiliki tarif laba kotor yang sama per dolar
penjualan. Pilihan atas berbagai metode akuntansi cenderung untuk arbitrer ketika
proporsi produk gabungan yang menyusun bauran output tidak dapat diubah.
Tetapi, pilihan tersebut tidak akan arbitrer bila proporsi dapat bervariasi dan terdapat hubungan
antara total biaya gabungan dengan total nilai output. Hal
tersebut mengimplikasikan dukungan rasional yang kuat bagi metode harga pasar
atau harga jual jika, untuk input tertentu ke proses produksi gabungan, dua kondisi
berikut terpenuhi :
• Bauran fisik dari output dapat diubah dengan mengeluarkan lebih banyak
(atau lebih sedikit) biaya gabungan relatif terhadap biaya produksi lainnya,
dan
• Jika perubahan tersebut menghasilkan total nilai pasar yang lebih besar
(atau lebih kecil)
Produk Gabungan yang Dapat Dijual pada Titik Pisah-Batas. Metode harga
pasar mengalokasikan biaya gabungan berdasarkan harga pasar relatif dari produk
gabungan. Metode ini total harga pasar dari setiap produk, yaitu jumlah unit yang
diproduksi dikalikan dengan harga jual per unit. Untuk mengilustrasikan hal ini,
asumsikan produk gabungan A, B, C, dan D diproduksi dengan biaya gabungan
sebesar $120.000. Kuantitas yang diproduksi adalah A= 20.000 unit, B= 15.000
unit, C= 10.000 unit, dan D= 15.000 unit. Produk A dijual seharga $0,25; B seharga
$3,00; C seharga $3,50; dan D seharga $5,00. Harga ini merupakan harga pasar dari
produk tersebut pada titik pisah batas. Dengan kata lain, diasumsikan bahwa
produk-produk tersebut dapat dijual pada titik tersebut. Manajemen mungkin saja
memutuskan bahwa akan lebih menguntungkan jika produk tertentu diproses lebih
lanjut sebelum dijual. Namun hal tersebut tidak akan mengubah penggunaan harga
jual pada titik pisah batas sebagai dasar alokasi biaya gabungan. Alokasi biaya
gabungan dapat dihitung sebagai berikut :

Hasil yang sama juga akan diperoleh apabila total biaya produksi gabungan
($120.000) dibagi dengan total harga pasar dari keempat produk ($160.000). Angka yang
dihasilkan sebesar 0,75 merupakan rasio biaya produksi gabungan dari setiap
produk terhadap harga pasarnya. Dengan mengalikan harga pasar dengan rasio
tersebut, biaya gabungan dialokasikan sebagaimana ditunjukkan ditabel
sebelumnya.
Berdasarkan metode harga pasar, setiap produk gabungan menghasilkan
persentase laba kotor yang sama, dengan asumsi bahwa unit dijual tanpa
pemprosesan lebih lanjut. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut, dengan
asumsi bahwa tidak ada persediaan awal :

Produk Gabungan yang Tidak Dapat Dijual pada Titik Pisah-Batas. Produk
yang tidak dapat dijual dititik pisah batas, dan oleh karena itu tidak memiliki harga
pasar, memerlukan pemprosesan tambahan sebelum dapat dijual. Dalam kasus
semacam itu, dasar untuk mengalokasikan biaya gabungan adalah harga pasar
hipotesis pada titik pisah batas. Untuk mengilustrasikan alokasi ini asumsi berikut
ini ditambahkan ke contoh sebelumnya:

Untuk memperoleh dasar alokasi, biaya pemprosessan lebih lanjut dikurangi


dari harga pasar final untuk mendapatkan harga pasar hipotesis. Beban pemasaran
dan beban administratif yang dapat ditelusuri langsung ke produk tertentu, serta
estimasi untuk laba juga harus dikurangi jika jumlahnya berbeda secara proporsional untuk
produk gabungan yang berbeda. Tabel berikut ini
mengindikasikan langkah-langkah yang harus diambil:

Jika produk tertentu dapat dijual dititik pisah-batas sementara yang lain tidak,
maka harga pasar pada titik pisah-batas digunakan untuk kelompok yang pertama.
Untuk kelompok yang terakhir, digunakan harga pasar hipotesis. Laporan laba
kotor berikut ini menggunakan jumlah unit terjual yang sama dengan yang
digunakan diilustrasi sebelumnya, tetapi harga jual telah dinaikkan sebagai akibat
dari pemprosessan lebih lanjut.
Laporan sering kali dibuat sedemikian rupa sehingga semua produk gabungan
memiliki profitabilitas yang sama. Untuk mencapai hal tersebut, teknik nilai jual
dapat dimodifikasi dengan menggunakan persentase laba kotor secara keseluruhan
untuk menentukan laba kotor dari setiap produk. Dalam tabel berikut ini, laba kotor
(23%) dikurangi dari nilai jual untuk menentukan total biaya. Total biaya kemudian
dikurangi dengan biaya pemprosessan lebih lanjut dari setiap produk untuk
menentukan alokasi biaya gabungan untuk masing-masing produk gabungan
tersebut.

Jika harga jual persentase laba kotor, atau biaya pemprosessan lebih lanjut
merupakan estimasi dan bukan jumlah aktual, maka saldo yang berjudul “biaya
gabungan” berfungsi sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya gabungan aktual.
Metode Biaya Rata-rata per Unit
Metode biaya rata-rata per unit (average unit cost method) berusaha untuk
mengalokasikan biaya gabungan ke produk gabungan sedemikian rupa sehingga
setiap produk menerima alokasi biaya gabungan per unit dalam jumlah yang sama,
yang disebut sebagai biaya rata-rata per unit. Biaya rata-rata per unit diperoleh
dengan cara membagi total biaya gabungan denga total jumlah unit yang
diproduksi. Perusahaan yang menggunakan metode ini berpendapat bahwa semua
produk yang dihasilkan melalui proses yang sama seharusnya menerima pembagian
biaya gabungan yang besarnya proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi.
Selama semua produk gabungan diukur dengan unit fisik yang sama dan tidak
berbeda jauh dalam hal harga pasar per unit, metode ini wajar. Tetapi ketika unit yang diproduksi
tidak diukur denga satuan yang sama, dan harga pasar per unit
berbeda secara signifikan, maka metode ini sebaiknya tidak digunakan.
Dengan menggunakan angka-angka dari contoh untuk harga pasar, metode
rata-rata per unit dapat diilustrasikan sebagai berikut :

Metode Rata-rata Tertimbang


Dalam beberapa kasus, Metode biaya rata-rata per unit (average unit cost
method) tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah alokasi biaya
gabungan, karena unit-unit individual dari berbagai produk gabungan berbeda
secara signifikan. Dalam kasus semacam ini faktor pembobotan yang telah
ditentukan sebelumnya dapat diberikan ke setiap unit. Faktor pembobotan disarkan
pada atribut-atribut seperti ukuran unit, tingkat kesulitannya, waktu yang
diperlukan untuk memproduksi unit tersebut, perbedaan dalam jenis tenaga kerja
yang digunakan, dan perbedaan dalam jumlah bahan baku yang digunakan. Barang
jadi dari semua jenis dikalikan dengan faktor pembobotan guna menghitung dasar
untuk mengalokasikan biaya gabungan.
Untuk tujuan ilustrasi, asumsikan faktor pembobotan yang dibebankan ke
keempat produk dicontoh sebelumnya sebagai berikut:
 Produk A-3 poin
 Produk B-12 poin
 Produk C-13,5 poin
 Produkm D-15 poin

Menggunakan data dari contoh sebelumnya, alokasi biaya gabungan


diilustrasikan sebagai berikut:

Metode Unit Kuantitatif


Metode unit kuantitatif (quantitative unit method) mengalokasikan biaya
gabungan berdasarkan satuan pengukuran yang sama, misalnya pon,galon, ton, atau
meter persegi. Jika produk gabungan tidak biasanya diukur dalam satuan ukuran
yang sama, maka ukuran tersebut harus dikonversikan kesatuan yang sama.
Misalnya, ketika arang diproduksi, batu bara, benzol, amonia sulfat, dan gas juga
ikut diproduksi dan masing-masing diukur dalam satuan yang berbeda.
Tabel berikut ini mengilustrasikan metode unit kuantitatif, menggunakan berat
sebagai dasar alokasi biaya gabungan dengan asumsi biaya batu bara adalah sebesar
$40 per ton.

Metode biaya rata-rata per unit, metode rata-rata tertimbang, dan metode unit
kuantitatif dapat menghasilkan biaya produk yang melebihi harga pasar dari satu
atau lebih produk gabungan. Akibatnya, produk gabungan tersebut tampaknya tidak
menguntungkan sementara produk gabungan yang lain tampaknya menguntungkan.
Oleh karena itu pilihan cara perhitungan biaya memengaruhi biaya produk dan
merupakan pilihan yang arbitrer, maka biasanya dianggap bahwa metode
perhitungan biaya yang dipilih tidak boleh mengakibatkan timbulnya rugi artifisial
(rugi untuk salah satu produk gabungan sementara laba untuk produk gabungan
yang lain). Pada titik pisah-batas, sekelompok produk gabungan bersifat
menguntungkan atau tidak menguntungkan sama sekali. Metode harga pasar
memiliki kelebihan karena metode tersebut menghindari perbedaan dalam tarif
profitabilitas dari produk gabungan. Jika alokasi arbitrer harus dilakukan, maka
paling tidak alokasi tersebut harus bersifat netral.
Analisis Differensial dalam Keputusan
Biaya diferensial adalah berbagai perbedaan biaya di antara sejumlah alternatif
pilihan yang dapat digunakan perusahaan. Biaya diferensial atau biaya relevan
sering pula disebut sebagai biaya marjinal. Biaya diferensial merupakan berbagai
kemungkinan yang dapat terjadi dan dapat digunakan perusahaan dalam
menghitung biaya yang akan dikeluarkan perusahaan. Berbagai kemungkinan biaya
ini dapat digunakan oleh manajemen perusahaan untuk menyelesaikan beberapa
persoalan yang dihadapi oleh perusahaan. Pada dasarnya biaya diferensial
merupakan biaya tunai atau out-of pocketcost yaitu biaya yang memerlukan
pengeluaran tunai saat ini atau pada masa mendatang, yang harus terjadi apabila
suatu proyek dilaksanakan atau diperluas sampai melebihi ukuran yang ditentukan
semula.
Analisa biaya diferensial digunakan untuk menentukan kenaikan
pendapat,biaya dan marjin laba sehubung dengan beberapa kemungkinan cara
untuk menggunakan fasilitas tetap atau kapasitas yang tersedia. Dalam analisa biaya
diferensial, biaya variabel sangat relevan karena lazimnya biaya variabel dapat
dielakkan ketika proyek masih dalam tahap evaluasi dan bias juga tidak bias
dielakkan. Sebaliknya, biaya tetap biasanya tidak dapat dielakkan dalam kondisi
apapun, sehingga tidak relevan bagi setiap keputusan menyangkut biaya atau
profitabilitas relatif dari berbagai alternatif. Akan tetapi, jika biaya tetap terpaksa
dinaikkan, misalnya karena keputusan untuk menyewa ruang tambahan, membeli
fasilitas tambahan, atau penyebab pengeluaran ekstra lainnya, maka biaya tetap
semacam itu dapat dikelompokan menjadi biaya diferensial. Dalam penentuan
biaya yang akan terjadi dalam pelaksanaan atau perluasan proyek, setiap
pengeluaran tunai yang diperlukan untuk pengadaan kapasitas yang memadai,
bersifat relevan bagi pengambilan keputusan.
Terdpat dua kriteria penting agar suatu jenis biaya dapat dikelompokkan
sebagai biaya diferensial atau biaya relevan,yaitu:
• Biaya tersebut merupakan biaya yang akan datang.
Biaya relevan bukanlah biaya yang telah dikeluarkan perusahaan dimasa lalu
atau biaya historis, tetapi merupakan biaya yang akan dikeluarkan perusahaan
dimasa yang akan datang. Memang dalam memperkirakan biaya yang akan
dikeluarkan dimasa mendatang, perusahaan dapat menggunakan biaya historis.
Tetapi data historis tersebut hanya digunakan sebagai dasar untuk membuat
prediksi tentang besarnya biaya yang akan dikeluarkan perusahaan dalam masa
mendatang atas suatu proyek tertentu, dan biaya historis itu sendiri tidak relevan
dengan keputusan yang akan diambil. Karena itu, sunk cost, yaitu biaya yang terjadi
dan tidak dapat diubah dengan keputusan apapun baik saat ini maupun yang akan
datang, tidak dapat dikelompokan sebagai biaya relevan.
• Biaya tersebut berbeda diantara sejumlah alternatif
Biaya yang akan dikeluarkan dimasa mendatang harus merupakan biaya yang
berbeda diantara berbagai alternatif. Jika biaya yang akan dikeluarkan perusahaan
dimasa mendatang tidak memberikan perbedaan diantara berbagai alternatif yang
ada, maka biaya tersebut tidak dapat dikelompokan sebagai biaya relevan, seperti
biaya penyusutan aset tetap untuk bulan kedepan dimana proyek akan dilaksanakan.
Keputusan untuk meneruskan atau menghentikan operasi
Adakalanya, perusahaan dihadapkan pada situasi dimana aktivitas terus
mengalami kerugian dan tidak bisa dihindarkan. Kerugian yang terjadi diakibatkan
oleh berbagai faktor yang tidak dapat dikendalikan langsung oleh perusahaan,
seperti tingkat persaingan yang tinggi, kegagalan perusahaan meningkatkan pangsa
pasarnya, harga jual produk yang terlalu tinggi, daya beli masyarakat yang rendah,
dan berbagai faktor lainnya. Berbagai faktor tersebut dapat mengakibatkan
perusahaan mengalami kerugian usaha yang tidak dapat diatasi dalam waktu
singkat. Karena itu, pihak manajemen mulai mempertimbangkan menutup
operasinya untuk sementara diwilayah pemasaran tertentu akibat kerugian yang
dialami tersebut. Akan tetapi, menutup opersi disuatu wilayah pemasaran tertentu,
khususnya dalam jangka pendek, tidak selalu menjadi pilihan yang paling
menguntungkan bagi perusahaan. Ini karena perusahaan harus menanggung biaya
tetap dalam suatu periode tertentu walaupun aktivitas usaha dihentikan untuk
jangka waktu tertentu. Lain halnya, kalau perusahaan menutup usaha secara
permanen dan melikuidasi seluruh asetnya.Contoh:
Salah satu cabang perusahaan PT. Mitra Usaha yang berlokasi di Batam
memiliki kapasitas produksinya sebesar 100.000 unit per tahun. Taksiran biaya
yang akan dikeluarkan untuk membuat 100.000 unit tersebut pada tahun 2014
adalah sebagai berikut:
Sejak tahun 2010, perusahaan ini terus mengalami kerugian, yang disebabkan
karena ketidakmampuan perusahaan menjual dengan harga diatas Rp12.000 per
unit, tetapi hanya mampu menjual dengan harga maksimal Rp10.500 per unitnya
akibat persaingan yang ketat, yaitu para pesaing menjual produknya kurang dari
Rp10.500 per unit. Pada akhir bulan November 2013, manajemen PT. Mitra Usaha
mempertimbangkan untuk menutup cabang Batam tersebut pada awal tahun 2014.
Benarkah keputusan menutup cabang Batam tersebut? mengapa?
Jika cabang Batam ditutup, biaya yang dapat dihapus oleh PT. Mitra Niaga
hanyalah biaya variabelnya saja. Sedangkan biaya tetapnya tidak dapat dihapus. Oleh karena itu,
walaupun perusahaan berhenti beroperasi dan berhenti
berproduksi, biaya tetap yang ditanggung perusahaan tidak dapat dihapus begitu
saja. Perbandingan biaya berikut ini akan memperjelas keputusan yang harus
diambil perusahaan.

Jika perusahaan tetap beroperasi dengan tingkat efisiensi yang tidak berubah
dan harga jual tetap sebesar Rp10.500 per unit, maka jelas setiap tahun PT. Mitra
Usaha cabang Batam akan mangalami kerugian sebesar Rp120.000.000. akan
tetapi, jika perusahaan ditutup dan menghentikan seluruh aktivitas produksi, maka
perusahaan tidak akan memperoleh pendapatan sama sekali karena tidak ada
produk yang dijual. Sedangkan Biaya tetap sebesar Rp 370.000.000 tetap harus
ditanggung perusahaan. Akibatnya, jika perusahaan menghentikan produksi, maka
kerugian yang harus di tanggung perusahaan adalah Rp 370.000.000 pertahun.
Hal ini terjadi, dengan asumsi kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan
dibiarkan tidak terpakai sama sekali. Dengan kerugian sebesar itu, jelas
menghentikan produksi bukanlah keputusan yang bijaksana karena akan
mengakibatkan perusahaan menanggung kerugian yang jauh lebih besar. Karena
itu, jalan keluar lain harus dipertimbangkan manajemen perusahaan agar persoalan
kerugian tersebut dapat terselesaikan. Biaya tetap yang ditanggung perusahaan,
walaupun jumlahnya relatif tidak berubah ketika terjadi perubahan volume
produksi, tetapi terkadang terdapat sejumlah biaya tetap yang dapat dihindarkan
jika aktivitas produksi berhenti sama sekali. Misalnya, pengurangan tenaga satpam,
pengurangan tenaga mandor, pengurangan tenaga administrasi, dan sebagainya.
Jika perusahaan memiliki biaya tetap yang dapat dihindarkan, hal itu akan
menghasilkan perhitungan yang berbeda dan pilihan yang berbeda. Perhitungan
biaya diferensial menunjukkan hasil sebagai berikut:

Adanya biaya tetap yang dapat dihindarkan sebesar 30% jika perusahaan
berhenti berproduksi dan menyewakan fasilitas produksinya kepada pihak lain
sebesar Rp 175.000.000 mengakibatkan PT Mitra Usaha Cabang Batam
memperoleh pendapatan sewa sebesar Rp 175.000.000, dan hanya menanggung
biaya tetap sebesar 70% dari masing-masing biaya tetap yang ada. Alternatif ini
mengakibatkan perusahaan menanggung kerugian sebesar Rp 84.000.000. Jika
perusahaan memilih tidak memanfaatkan sama sekali fasilitas produksinya,
alternatif ini mengakibatkan perusahaan dapat menghindarkan biaya tetap sebesar
60%, sehingga perusahaan hanya menanggung biaya tetap sebesar 40% dari total
biaya tetap yang ada. Pilihan ini mengakibatkan perusahaan menanggung kerugian sebesar Rp
148.000.000. sedangkan jika memilih tetap berproduksi, maka kerugian
yang harus ditanggung perusahaan sebesar Rp 120.000.000 pertahun. Dengan hasil
perhitungan seperti ini, maka alternatif untuk menghentikan aktivitas produksi dan
menyewakannya kepada pihak lain merupakan pilihan yang paling menguntungkan
perusahaan.