Anda di halaman 1dari 14

BIOFISIKA MUSCULAR

Gerak manusia dihasilkan oleh kontraksi otot yang menghasilkan gaya untuk
menggerakkan anggota badan. Pada gerak sadar, sinyal perintah dari pusat sistem syaraf
ditransmisikan melalui syaraf tulang belakang (spinal cord) lalu ke otot untuk menghasilkan
gaya. Otot berfungsi dengan normal jika antara sistem syaraf, spinal cord, dan otot terhubung
secara utuh dan bekerja dengan baik. Kerusakan pada sistem syaraf yang diakibatkan penyakit
yang menyerang syaraf tulang belakang (spinal cord injury, SCI) akan mengganggu sinyal
perintah mencapai otot (Fictor F, 1996).
Otot manusia merupakan suatu alat yang penting untuk menunjang pergerakan atau
selama aktifitas. Pergerakan otot sadar diawali dengan adanya sebuah sinyal dari syaraf
motorik (gerak) yang memerintahkan agar otot ini bergerak sesuai dengan batasan kemampuan
geraknya. Tanggapan atau reaksi otot ini sepenuhnya tergantung pada kondisi otot itu sendiri.
Sehingga apabila kondisi otot tersebut terganggu, maka pergerakan yang terjadi akibat
kontraksi otot tersebut akan berjalan lambat dan tidak maksimal (Fictor F, 1996).

Sistem Otot

Jaringan otot merupakan jaringan yang menunjukkan kerja mekanis dengan cara
berkontraksi. Jika ada sesuatu rangsang (stimulus) datang pada sel-sel otot maka sel-sel otot
tersebut menyambutnya dengan cara mengubah sitoplasma sel. Sel-sel otot akan memendekkan
dirinya dalam arah tertentu. Daging sebenarnya tidak lain adalah kumpulan serabut-serabut
otot. Otot-otot rangka merupakan salah satu dari empat kelompok jaringan pokok. Otot adalah
suatu jaringan yang mempunyai kemampuan untuk berkontraksi. Otot pada tubuh manusia
mencapai hampir separuh berat tubuh. Otot manusia mencapai lebih dari 600 jenis. Ilmu
pengetahuan yang mempelajari otot disebut miologi.
Otot dikaitkan pada tulang rawan (kartilago), ikat sendi (ligamentium), dan kulit
(integumen). Tulang-tulang tidak dapat berfungsi sebagai alat gerak jika tidak digerakkan oleh
otot. Serabut-serabut otot itu pada hakikatnya merupakan sel-sel otot. Serabut-serabut otot itu
berkumpul menjadi berkas-berkas otot. Beberapa berkas otot berkumpul membentuk otot atau
daging. Bagian tengah dari daging ini menyambung, dan kedua ujungnya mengecil dan keras,
disebut urat atau tendon. Tendon inilah yang menempel pada otot.
Fungsi otot yang utama adalah sebagai alat gerak aktif, disebabkan oleh kemampuan
sel-sel otot berkontraksi. Otot berkontraksi karena suatu rangsangan, baik rangsangan panas,
dingin, dan sentuhan lainnya.
Sifat Gerak Otot

Otot perlu bekerja dengan cara bepasangan dengan otot lain untuk dapat menghasilkan
suatu gerak. Saat suatu otot berkontraksi, maka otot yang bersangkutan akan menggerakkan
tulang yang dilekatinya ke suatu arah. Sebaliknya, otot lain yang merupakan pasangannya akan
menggerakan tulang ke arah sebaliknya (berlawanan). Gerak kedua otot tersebut merupakan
gerak antagonis. Misalnya, otot bisep dan otot trisep. Otot bisep mempunyai ujung otot yang
bercabang dua, sedangkan otot trisep mempunyai ujung otot bercabang tiga. Ujung otot bisep
yang bercabang dua masing-masing berhubungan dengan tulang belikat dan tulang lengan atas.
Ujung otot bisep yang berlawanan berhubungan dengan tulang pengumpul. Sementara itu,
trisep berhubungan dengan tulang belikat dan tulang hasta. Gerak fleksi terjadi karena tulang
bisep berkontraksi dan trisep berelaksasi. Sebaliknya gerak ekstensi terjadi karena bisep
berelaksasi dan trisep bekontraksi. Otot bisep disebut fleksor karena saat berkontraksi terjadi
gerak fleksi. Sebaliknya, otot trisep disebut ekstensor karena pada saat berkontraksi terjadi
gerak ekstensi.

Selain pasangan otot antagonis, ada juga beberapa jenis otot yang berbeda, namun
kejanya saling menunjang. Otot ini disebut otot sinergis. Misalnya, otot-otot di antara tulang
rusuk yang bekerjasama saat terjadi pengambilkan dan penghembusan napas.

Jenis Otot
Otot pada manusia dibedakan menjadi tiga jenis yaitu otot rangka, otot polos, dan otot
jantung.
1) Otot Rangka (Otot Lurik)
Otot rangka merupakan otot yang melekat dan menggerakan tulang rangka. Otot rangka
mampu menggerakkan tulang karena otot dapat memanjang (relaksasi) dan memendek
(kontraksi). Hasil pergerakan otot menyebabkan tulang-tulang yang menjadi tempat perlekatan
otot dapat digerakkan.
Otot rangka jika dilihat dengan mikroskop
terlihat berupa sel-sel otot berbentuk
serabut-serabut halus panjang (miofibril)
yang mengandung banyak inti sel
(multinuklei) dan tampak garis-garis
terang diselingi garis-garis gelap yang
melintang. Oleh karena itu otot rangka
disebut juga otot lurik atau otot serat
lintang. Sel-sel serabut otot bersatu dalam suatu kelompok membentuk berkas-berkas yang
disebut fasikuli. Berkas-berkas otot diliputi oleh selaput (fasia) yang disebut fasia propia.
Beberapa berkas otot bergabung membentuk otot. Setiap otot dibungkus lagi oleh selaput yang
disebut fasia superfisialis.
Gabungan otot membentuk kumparan yang menggembung pada bagian tengahnya yang
disebut empal atau ventrikel otot. Ventrikel otot mempunyai daya kontraksi dan elastisistas
yang tuinggi sehingga dapat memanjang dan memendek. Bagian ujung ventrikel otot mengecil,
liat, dan keras yang disebut tendon atau urai otot. Ujung tendon yang melekat pada tulang yang
tidak bergerak disebut origo (origin = asal) sedangkan otot yang melekat pada tulang yang
bergerak disebut insersi (insertian = sisipan)
Ciri-ciri otot lurik adalah:
a. Bentuk sel silindris, memanjang, mempunyai bnayk inti sel.
b. Dilihat dengan mikroskop tampak adanya garis-garis melintang yang tesusun dari daerah
gelap dan terang berseling-se;ling; karena itu pula disebut sebagai otot bergaris lintang.
c. Bekerja dibawah kesadaran kita, artinya menurut perintah dari otak kita; karena itu otot lurik
disebut pula otot sadar.
2) Otot Polos
Jika diamati dengan mikroskop, sel otot ini tampak polos dan tidak bergaris melintang.
Otot polos banyak dijumpai pada organ-organ dalam, misalnya pada usus, pembuluh darah,
saluran kelamin, dan dinding rahim.
Ciri-ciri otot polos adalah:
a. Bentuknya bergelondong, kedua ujungnya
meruncing mdan di bagian tengahnya
menggelembung.
b. Di dalam sel terdapat satu inti sel.
c. Tidak memiliki garis-garis melintang (polos)
d. Bekerja di luar kesadaran kita, artinya tidak di
bawah perintah otak
3) Otot Jantung
Otot jantung (miokardium) hanya dijumpai
pada dinding jantung dan vena kava yang
memasuki jantung. Sayatan otot dinding jantung
menunjukkan sel-sel otot jantung menyerupai otot
rangka dengan satu inti satiap satu sel otot jantung
yang membentuk anyaman dengan percabangan
yang disebut sinistium. Pada setiap percabangan sel otot jantung terdapat jaringan ikat yang
disebut diskus interkalaris. Gerak otot jantung dikendalikan oleh saraf tak sadar (saraf otonom).
Otot jantung mampu berkontraksi secara ritmis terus-menerus sebagai akibat dari aktifitas sel
otot jantung yang berpautan.

Mekanisme Kontraksi
Otot bekerja dengan dua cara, yaitu berkontraksi (memendek atau mengendur) dan
relaksasi (ke keadaan kembali semula). Keadaan otot yang memendek (kontraksi) maksimal
disebut tonus. Tonus biasanya diikuti oleh relaksasi.

Kontraksi
Bagian otot yang berkontraksi adalah sel-sel otot. Pada diagram tentang struktur otot lurik
terlihat adanya filamen protein, yaitu aktin (filamen tipis) dan miosin (filamen tebal).
Bagian-bagian otot terdiri dari :
a) Sarkolema adalah membran yang melapisi suatu sel otot yang fungsinya sebagai
pelindung otot
b) Sarkoplasma adalah cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat dimana miofibril dan
miofilamen berada
c) Miofibril merupakan serat-serat pada otot.
d) Miofilamen adalah benang-benang/filamen halus yang berasal dari miofibril. Miofilamen
terbagi atas 2 macam, yakni Miofilamen homogen (terdapat pada otot polos) dan
Miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan pada otot rangka/otot
lurik).
Setiap miofibril tersusun atas satuan kontraktil yang disebut sarkomer. Sarkomer dibatasi
dua garis Z (perhatikan gambar). Sarkomer mengandung dua jenis filamen protein tebal disebut
miosin dan filamen protein tipis disebut aktin. Kedua jenis filamen ini letaknya saling
bertumpang tindih sehingga sarkomer tampak sebagai gambaran garis gelap dan terang. Daerah
gelap pada sarkomer yang mengandung aktin dan miosin dinamakan pita A, sedangkan daerah
terang hanya mengandung aktin dinamakan zona H. Sementara itu, di antara dua sarkomer
terdapat daerah terang yang dinamakan pita I (Suwarni, 1990).

2.2. Model Filamen-Luncur dari Kontraksi Otot


Kita dapat menjelaskan banyak tentang apa yang terjadi selama kontraksi seluruh otot
dengan berfokus pada satu sarkomer (gambar 4). Peluncuran filamen didasarkan pada interaksi
antara miosin dan molekul-molekul aktin yang menyusun filamen tipis dan tebal. Setiap miosin
terdiri dari wilayah “kepala” dan “ekor”. Kepala dapat mengikat dan menghidrolisis ATP
menjadi ADP dan fosfat organik. Seperti yang ditujukan pada gambar 5, hidrolisis ATP
mengubah miosin menjadi bentuk berenergi tinggi yang dapat berikatan dengan aktin,
membentuk jembatan silang (cross bridge), dan menarik filamen tipis ke arah pusat sarkomer.
Masing-masing dari sekitar 350 kepala filamen tebal membentuk dan membentuk kembali
sekitar lima jembatan silang per detik, mendorong filamen-filamen melewati satu sama lain.
Gambar 4
Ketika otot berkontraksi, aktin dan miosin bertautan dan saling menggelincir satu sama
lain. Akibatnya zona H dan pita I memendek, sehingga sarkomer pun juga memendek. Dalam
otot terdapat zat yang sangat peka terhadap rangsang disebut asetilkolin. Otot yang terangsang
menyebabkan asetilkolin terurai membentuk miogen yang merangsang pembentukan
aktomiosin. Hal ini menyebabkan otot berkontraksi sehingga otot yang melekat pada tulang
bergerak. Jika otot dirangsang   berulang-ulang secara teratur dengan interval waktu yang
cukup, otot akan berelaksasi sempurna di antara 2 kontraksi. Namun jika jarak rangsang
singkat, otot tidak berelaksasi melainkan akan berkontraksi maksimum atau disebut tonus. Jika
otot terus-menerus berkontraksi, disebut tetanus (Purnomo, 2001).
Serat otot yang khas saat istirahat mengandung ATP yang hanya cukup untuk beberapa
kontraksi. Energi yang dibutuhkan secara berulang-ulang disimpan dalam dua senyawa yang
lain: kreatin fosfat dan glikogen. Kreatin fosfat dapat mentransfer gugus fosfat ke ADP untuk
mensintesis ATP
tambahan. Suplai
keratin fosfat saat
istirahat cukup untuk
mempertahankan
kontraksi selama
sekitar 15 detik.
Glikogen pecah
menjadi glukosa, yang
dapat digunakan untuk
menghasilkan ATP
melalui respirasi
aerobikatau glukolisis. Dengan menggunakan glukosa dari simpanan glikogen serat otot yang
khas, glikolisis dapat mendukung sekitar 1 menit kontraksi yang dipertahankan, sementara
respirasi aerobik dapat memberi tenaga untuk kontraksi selama hampir satu jam (Campbell,
2008)

Gambar 5

Peran Kalsium dan Protein Regulasi

Gambar 6
Ion kalsium (Ca 2+¿
❑ ) dan protein-protein yang terikat ke aktin berperan sangat penting
¿

dalam kontraksi dan relaksasi sel otot. Tropomiosin, suatu protein regulasi dan kompleks
troponin (troponin complex) merupakan seperangkat protein regulasi tambahan yang terikat
ke dalam untaian aktin dari filamen tipis. Saat istirahat, tropomiosin menutupi situs pengikatan
miosis di sepanjang filamen tipis, mencegah aktin dan miosin berinteraksi (gambar 6). Ketika
Ca2+¿ terakumulasi di dalam sitosol, ia berikatan dengan kompleks troponin, menyebabkan
¿

protein-protein yang terikat disepanjang untaian aktin menggeser posisi dan memaparkan situs
pengikatan miosis di filamen tipis (gambar 6). Dengan demikian, ketika konsentrasi Ca2+¿

¿
naik
di sitosol, filamen tipis dan tebal meluncur melewati satu sama lain, dan serat otot berkontraksi.
Ketika kontrasi Ca2+¿

¿
turun, situs pengikatan menjadi tertutup dan kontraksi berhenti
(Campbell, 2008).
Kedatangan potensial aksi di terminal sinapsis suatu neuron motorik menyebabkan
pelepasan neurotransmiter asetilkolin. Pengikatan asetilkolin ke reseptor di serat otot
menyebabkan depolarisasi yang memicu potensial aksi. Di dalam serat otot, potensial aksi
menyebar jauh ke dalam interior mengikuti pelipatan membran plasma ke dalam yang disebut
tubulus transversal (transverse [T] tubule).
Tubulus T memiliki hubungan yang dekat dengan retikulum sarkoplasmik (rs) adalah
suatu retikulum endoplasma yang terspesialisasi. Penyebaran potensial aksi di sepanjang
tubulus T memicu perubahan dalam RS, sehingga membuka saluran Ca2+¿
❑ . Ion-ion kalsium
¿

yang tersimpan dalam interior RS mengalir melalui saluran yang terbuka dalam sitosol dan
berikatan ke kompleks troponin, sehingga memulai kontraksi otot (Campbell, 2008).

Kekuatan Otot
Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau kelompok otot menghasilkan tegangan dan
tenaga selama usaha maksimal baik secara dinamis maupun secara statis. Kekuatan otot dari
kaki, lutut serta pinggul harus cukup kuat untuk mempertahankan keseimbangan tubuh saat
adanya gaya dari luar. Kekuatan otot tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan otot
untuk melawan gaya gravitasi serta beban eksternal lainnya yang secara terus menerus
mempengaruhi posisi tubuh. Kekuatan otot dihasilkan oleh kontraksi otot yang maksimal. Otot
yang kuat merupakan otot yang dapat berkontraksi dan rileksasi dengan baik, jika otot kuat
maka keseimbangan dan aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan baik seperti berjalan, lari,
bekerja ke kantor dan lain sebagainya.

Pengertian Gaya
Gaya adalah tarikan atau dorongan yang terjadi terhadap suatu benda. Gaya dapat
menimbulkan perubahan posisi, gerak atau perubahan bentuk pada benda. Gaya termasuk ke
dalam besaran Vektor, karena memiliki nilai dan arah. Sebuah Gaya disimbolkan dengan huruf
F (Force) dan Satuan Gaya dalam SI (Satuan Internasional) adalah Newton, disingkat dengan
N. Pengukuran gaya dapat dilakukan dengan alat yang disebut dinamometer atau neraca pegas.
Untuk melakukan sebuah gaya diperlukan usaha (Tenaga), semakin besar gaya yang hendak
dilakukan, maka semakin besar pula Usaha (tenaga) yang harus dikeluarkan.
Gaya memiliki beberapa sifat berikut :

1. Gaya dapat mengubah arah gerak benda


2. Gaya dapat mengubah bentuk benda
3. Gaya dapat mengubah posisi benda dengan cara menggerakkan atau memindahkannya
Gaya dirumuskan dengan tiga rumusan dasar yang menjelaskan kaitan gaya dengan gerak
benda. Tiga Rumusan dasar ini adalah HUKUM NEWTON 1, 2, dan 3.
a. Hukum Newton 1

Jika Resultan (Penjumlahan atau pengurangan gaya) yang bekerja pada benda sama

dengan nol, maka benda yang semula diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak lurus

beraturan akan tetap bergerak lurus beraturan.

Jadi Rumus Hukum Newton 1 adalah :

∑F = 0

Keterangan :

∑F = resultan gaya (Kg m/s2)

b. Hukum Newton 2

Percepatan (Perubahan dari kecepatan) gerak benda selalu berbanding lurus dengan

resultan gaya yang bekerja pada suatu benda dan selalu berbanding terbalik dengan massa

benda.

Jadi Rumus Hukum Newton 2 adalah :

∑F = m.a

Keterangan :

∑F = resultan gaya (Kg m/s2)

m = Massa Benda (Kg)

a = percepatan (m/s2)
c. Hukum Newton 3

Setiap Aksi akan menimbulkan reaksi, artinya jika Suatu benda mengerjakan gaya

terhadap benda kedua makan, benda kedua akan membalas gaya dari benda pertama dengan

arah yang berlawanan.

Jadi Rumus Hukum Newton 3 adalah :

∑F AKSI = -∑F REAKSI

Jenis-jenis Gaya yang dihasilkan oleh Otot


1) Gaya Berat
Berat sebuah benda adalah gaya tarikan gravitasi antara benda dan bumi. Gaya ini
sebanding dengan massa m benda itu dan medan gravitasi yang juga sama dengan percepatan
gravitasi jatuh bebas : Berat benda sifat intrinsik benda.Berat bergantung pada lokasi benda,
karena g bergantung pada lokasi. Gaya berat selalu tegak lurus kebawah dimana pun posisi
benda diletakkan, apakah dibidang horisontal, vertikal ataupun bidang miring.
2) Gaya Normal
Gaya normal adalah gaya yang bekerja pada bidang sentuh antara dua prmukaan yang
bersentuhan dan arahnya selalu tegak lurus bidang sentuh.
3) Gaya Gesek
Bila dua benda dalam keadaan bersentuhan, maka keduanya dapat saling mengerjakan
gaya gesekan. Gaya-gaya gesekan itu sejajar dengan permukaan benda-benda di titik
persentuhan. Gaya gesek (friksi) sangat penting dalam kehidupan keseharian terutama tubuh.

2.3. Gaya Pada Tubuh


1) Gaya pada tubuh dalam keadaan statis.
Gaya berat dan gaya otot sebagai sistem pengumpil tubuh dalam keadaan Statis berarti
tubuh dlm keadaan setimbang, jumlah gaya dan momen gaya yang ada sama dengan nol.
Tulang dan otot tubuh manusia berfungsi sebagai sistem pengumpil.

Ada 3 kelas sistem pengumpil :


 Klas pertama  Titik tumpuan terletak diantara gaya berat dan otot. Contoh: kepala
& leher
 Klas Kedua  Gaya berat diantara titik tumpu dan Gaya otot.contoh: tumit menjinjit
 Klas Ketiga  Gaya otot terletak diantara titik tupuan dan gaya berat Contoh: otot
lengan. Traksi terapeutik didapat dengan memberikan tarikan pada kepala,tubuh atau
anggota gerak menuju sedikitnya dua arah, misalnya: tarikan traksi dan tarikan traksi
lawannya. Gaya traksi – lawan atau gaya keduanya biasanya berasal dari berat tubuh
pasien pada saat bertumpu atau berat lain.

Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani
kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari traksi adalah untuk menangani
fraktur, dislokasim atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan
mmpercepat penyembuhan. Ada dua tipe utama dari traksi : traksi skeletal dan traksi kulit,
dimana didalamnya terdapat sejumlah penanganan.

2) Gaya pada tubuh dalam keadaan dinamis.

Pada tubuh manusia terdapat 3 jenis gaya yaitu gaya gravitasi, gaya reaksi dan gaya otot.
 Gaya gravitasi adalah yaitu gaya yang melalui pusat massa dari tiap segmen tubuh
manusia dengan arah kebawah. Besar gayanya adalah massa dikali percepatan gravitasi
( F = m g ).
 Gaya Reaksi yaitu gaya yang terjadi akibat beban pada segmen tubuh atau berat
segmen tubuh itu sendiri.
 Gaya otot yaitu gaya yang terjadi pada bagian sendi, baik akibat gesekan sendi atau
akibat gaya pada otot yang melekat pada sendi. Gaya ini menggambarkan besarnya
momen otot.

2.4. Gangguan dan Kelainan pada Otot


Gangguan pada otot dapat disebabkan oleh banyak hal, baik faktor luar maupun faktor
dalam. Faktor luar seperti kecelakaan dan serangan penyakit, sedangkan faktor dalam meliputi
bawaan dan kesalahan gerak atau akibat dari otot yang tidak pernah dilatih.
1) Hernia
Suatu tonjolan dari alat-alat dalam (sering berupa usus atau mesenterium) melalui tempat lemah
pada dinding perut antara lain kanalis inguinalis atau umbilileus (pusar).
2) Kram
Kontraksi otot yang terusmenerus (tetanik) terasa sakit dan diluar kehendak
(involunter), misalnya kram sewaktu olahraga yang disebabkan capek atau lelah, banyak
berkeringat, dan panas.
3) Mialgia
Otot sakit karena infeksi atau peradangan
4) Nyeri Pinggang
Keadaan dimana titik berat tubuh pada otot pinggang sudah bergeser karena aktifitas
yang berat maupun aktifitas yang salah dalam jangka waktu yang lama.
5) Tendinitis
Peradangan tendon akibat pemakaian berlebihan atau luka.
6) Kejang-kejang
Suatu kontraksi atau suatu seri kontraksi involunter yang hebat dan tertarik dari suatu
kelompok otot, misalnya pada nanak-anak yanhg sedang demam tinggi dll.
7) Tetanus
Penyakit kronis pada otot menjadi kejang karena toksin bakteri tetanus (clostridium
tetani) yang berbentuk basil masuk ke luka.
PENUTUP
Jaringan otot merupakan jaringan yang menunjukkan kerja mekanis dengan cara
berkontraksi. Jika ada sesuatu rangsang (stimulus) datang pada sel-sel otot, maka sel-sel otot
tersebut menyambutnya dengan cara mengubah sitoplasma sel. Sel-sel otot akan memendekkan
dirinya dalam arah tertentu.
Fungsi otot yang utama adalah sebagai alat gerak aktif, disebabkan oleh kemampuan
sel-sel otot berkontraksi. Otot berkontraksi karena suatu rangsangan, baik rangsangan panas,
dingin, dan sentuhan lainnya. Otot vertebrata dan manusia dibedakan menjadi tiga jenis yaitu
otot rangka, otot polos, dan otot jantung.
Otot bekerja dengan dua cara, yaitu berkontraksi (memendek atau mengendur) dan
relaksasi (ke keadaan kembali semula). Gangguan pada otot dapat disebabkan oleh banyak hal,
baik faktor luar maupun faktor dalam. Faktor luar seperti kecelakaan dan serangan penyakit,
sedangkan faktor dalam meliputi bawaan dan kesalahan gerak atau akibat dari otot yang tidak
pernah dilatih

Anda mungkin juga menyukai