Anda di halaman 1dari 8

Resume Risalah Pergerakan Jilid I - Bab Dakwah Kami

DAKWAH KAMI

KETERUS-TERANGAN

Kami ingin berterus-terang kepada semua orang tentang tujuan kami, memaparkan di hadapan
mereka metode kami, dan membimbing mereka menuju dakwah kami. Di sini tidak ada yang
remang-remang. Semuanya terang. Bahkan lebih terang dari sinar mentari, lebih jelas dari
cahaya fajar, dan lebih benderang dari putihnya siang.

KESUCIAN

Kami membawa misi dakwah yang bersih dan suci, bersih dari ambisi pribadi, bersih dari
kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu. Ia terus berlalu menapaki jalan panjang
kebenaran yang telah digariskan Allah SWT dalam firman-Nya:

QS Yusuf 12:108

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta benda atau imbalan
yang lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.Yang kami harap
hanyalah pahala dari Allah SWT.

KASIH SAYANG

Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri
kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan
mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini, selain rasa cinta yang telah mengharu-
biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin
tidur dari pelupuk mata kami.
Sungguh, kami berbuat di jalan Allah SWT untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak
dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai
saudara-saudara tercinta. Sesaat kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.

SEMUA KEUTAMAAN HANYALAH MILIK ALLAH

Andaikan yang kami lakukan ini adalah sebuah keutamaan, maka kami sama sekali tidak
menganggap itu keutamaan diri kami. Kami hanya percaya pada firman Allah SWT:
Qs Al Hujurat 49:17

Kami hanya ingin umat ini menyaksikan sendiri, adakah sesuatu dalam hati ini selain kecintaan
yang tulus, rasa kasih sayang yang dalam, serta kesungguhan kerja guna mendatangkan manfaat
dan kebaikan bagi mereka? Adakah sesuatu dalam hati ini selain lara dan perih atas musibah
yang menimpa mereka?
Namun biarlah, cukup bagi kami keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui itu semua. Hanya
Dia-lah yang menanggung kami dengan dukungan-Nya dan mengiringi kami dengan bimbingan-
Nya dalam langkah-langkah kami. Di tangan-Nya-lah berada semua kunci dan kendali hati
manusia. Cukuplah Dia bagi kami. Dia-lah sebaik-baik tempat bergantung.

MELEBUR

Umat Islam harus mengetahui bahwa beban dakwah ini hanya dapat dipikul oleh mereka yang
telah memahami dan bersedia memberikan apa saja yang kelak dituntut olehnya, baik waktu,
kesehatan, harta, bahkan darah.

QS At Taubah 9:24

Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap: TOTALITAS. Siapa
yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah dan dakwah pun melebur dalam
dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala
besar mujahid dan tertinggal bersama orang yang duduk-duduk. Lalu Allah SWT akan
mengganti mereka dengan generasi yang lebih baik dan sanggup memikul beban dakwah ini.

QS Al Maidah 5:54

KEJELASAN

Kami mengajak manusia kepada suatu ideologi. Ideologi yang jelas, definitif, dan aksiomatik.
Sebuah ideologi yang mereka semua telah mengenalnya, beriman kepadanya, dan percaya akan
kebenarannya. Mereka juga tahu bahwa ideologi itu merupakan jalan menuju pembebasan,
kebahagiaan, dan ketenangan dalam kehidupan ini. Sebuah ideologi yang telah dibuktikan oleh
pengalaman dan disaksikan oleh sejarah akan keabadian dan kelaikannya dalam menata dan
menyejahterakan kehidupan manusia.

ISLAM KAMI

Dengarlah wahai saudaraku!

Dakwah kami adalah dakwah yang hanya dapat dilukiskan secara integral oleh kata “Islamiyah”.
Kata ini mempunyai makna yang sangat luas, tidak sebagaimana yang dipahami secara sempit
oleh sebagian orang.
Kami meyakini bahwa Islam adalah sebuah sistem nilai yang komprehensif, mencakup seluruh
dimensi kehidupan. Dia memberi petunjuk bagi kehidupan manusia dalam semua aspeknya, dan
menggariskan formulasi sistemik yang akurat tentang hal itu. Ia sanggup memberi solusi atas
berbagai masalah vital dan kebutuhan akan berbagai tatanan untuk mengangkat harkat kehidupan
manusia.
Kami memahami Islam secara integral, mencakup dimensi kehidupan dunia dan akhirat. Ini
bukanlah klaim yang kami buat-buat. Tetapi memang itulah yang kami pahami dari Kitab Allah
dan hasil napak tilas kami kepada generasi terdahulu Islam.
Dakwah kami memang islamiyah, dengan segala makna yang tercakup dalam kata itu. Pahamilah
apa saja yang ingin Anda pahami dari kata itu dengan tetap berpedoman kepada Kitab Allah
(sumber dasar Islam), Sunnah Rasulullah SAW (penjelasan dari kitab tersebut), dan sirah salafus
shalih (jalan hidup pendahulu yang shalih, sebagai contoh aplikatif dari perintah Allah dan ajaran
Islam).

(Islam adalah system yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah
negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan,
peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan
kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah aqidah yang
lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih. –Risalah Pergerakan jilid 2, bab
Risalah Ta’lim, hal. 162, Hasan Al Banna, edisi terj. Intermedia, cetakan ketiga, April 2000 M)

BATASAN NASIONALISME KAMI

Batasan nasionalisme bagi kami ditentukan oleh ikatan aqidah, sementara pada mereka (kaum
nasionalis fanatik) batasan paham itu ditentukan oleh teritorial wilayah negara dan batas-batas
geografis. Bagi kami, setiap jengkal tanah di bumi ini, di mana di atasnya ada seorang Muslim
yang mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah”, maka itulah tanah air kami. Kami wajib menghormati
kemuliaannya dan siap berjuang dengan tulus demi kebaikannya.
Setiap muslim -dalam wilayah geografi yang manapun- adalah saudara dan keluarga kami. Kami
turut merasakan apa yang mereka rasakan dan memikirkan kepentingan-kepentingan mereka.
Kami menginginkan kekuatan dan kemaslahatan untuk semua bangsa-bangsa Muslim.

TUJUAN NASIONALISME KAMI

Kami percaya, bahwa di leher setiap Muslim tergantung amanah besar untuk mengorbankan
seluruh jiwa dan raga serta hartanya demi membimbing manusia menuju cahaya Islam. Setiap
Muslim harus mengangkat bendera Islam setinggi-tingginya di setiap belahan bumi, bukan untuk
mendapatkan harta, popularitas dan kekuasaan atau menjajah bangsa lain, tapi semata-mata
untuk memperoleh ridho Allah SWT dan memakmurkan dunia dengan bimbingan agamanya.

PERSATUAN

Sesungguhnya Islam –sebagai agama persatuan dan persamaan- telah menjamin kekuatan ikatan
(persatuan bangsa yang terdiri dari berbagai aliran dan agama) itu selama masyarakat tetap
tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa. Lihatlah firman Allah SWT:

QS Al Mumtahanah 60:8

Kami seiring sejalan dalam mencintai segala kebaikan bagi tanah air dan berjuang untuk
membebaskannya, dan membangun serta memajukannya. Kami mendukung semua pihak yang
bekerja untuk itu semua dengan tulus.
Lebih dari itu, kami juga ingin agar Anda tahu, kalau cita-cita besar mereka hanya membebaskan
tanah air dari cengkeraman penjajah dan mengembalikan kehormatannya, maka itu hanyalah
sepotong jalan dari cita-cita besar yang diperjuangkan oleh Ikhwanul Muslimin. Karena setelah
tahapan itu, kami masih harus berjuang menegakkan bendera tanah air Islam itu setinggi-
tingginya di setiap belahan bumi. Agar bendera Al Qur’an berkibar megah di seluruh penjuru
dunia.

IKATAN AQIDAH

Ikhwanul Muslimin memandang manusia –dalam kaitannya dengan sikap mereka terhadap fikrah
Ikhwan- terbagi mejadi dua golongan.

Ada golongan manusia yang meyakini apa yang kami yakini. Yaitu beriman kepada Allah SWT
dan kitab-Nya serta beriman kepada Rasulullah SAW dengan segenap ajaran yang dibawanya.
Terhadap mereka itu, kami diikat oleh sebuah ikatan yang suci dan luhur, yakni ikatan aqidah.

Bagi kami, ikatan ini jauh lebih suci dari ikatan darah dan tanah air. Mereka adalah kaum yang
paling dekat dengan kami, yang setiap saat kami rindukan dan karenanya kami bekerja dan
berjuang membela mereka, menebus kehormatan mereka dengan darah dan harta, di belahan
bumi mana pun mereka berada dan dari keturunan apa pun mereka berasal.

Ada lagi golongan manusia di mana ikatan aqidah tidak mengikat kami dengan mereka. Namun
kami tetap berdamai dengan mereka selama mereka berdamai dengan kami. Kami menginginkan
kebaikan bagi mereka selama mereka tidak memusuhi kami. Kami percaya bahwa di antara kami
tetap ada satu ikatan, yaitu ikatan dakwah.

Kami harus mengajak mereka kepada misi yang kami emban, karena ini merupakan kebaikan
bagi seluruh manusia. Dan dalam melakukan dakwah, kami harus mengikuti metode dan saran
yang telah dijelaskan oleh Islam sendiri. Maka siapa di antara mereka yang menzhalimi kami,
niscaya kami akan membalas kezhaliman mereka dengan seutama-utamanya cara untuk
membalas kezhaliman orang-orang zhalim. Jika Anda mendengar itu dari kitab Allah SWT,
maka dengarkanlah yang berikut ini:

QS Al Hujurat 49:10
QS Al Mumtahanah 60:8-9

Saya berharap bahwa Anda telah mengetahui kepada siapa Ikhwanul Muslimin berpihak dan ke
mana pula dia mengajak.

HARAPAN DAN PERASAAN

Saya ingin Anda tahu bahwa kami benar-benar tidak putus asa terhadap diri kami. Bahkan kami
berharap akan memberi banyak kebaikan. Kami percaya bahwa tabir yang memisahkan antara
kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan. Jika harapan itu kuat dalam diri kita, maka
dengan izin Allah SWT, kita akan mencapai banyak kebaikan.

Ayat-ayat Allah SWT dan hadits-hadits Rasulullah SAW tentang pendidikan dan pembangunan
umat menjelang kehancurannya, kisah-kisah kehancuran dan kebangunan umat-umat terdahulu
yang banyak tertera di dalamnya, semua itu telah mengajak kami untuk senantiasa memiliki
harapan yang besar, dan menunjukkan kepada kami jalan lurus menuju kebangkitan. Andaikan
kaum Muslimin mau mempelajari hakikat ini, tentulah mereka dapat memahaminya. Lihatlah –
misalnya- firman Allah SWT berikut ini:

QS Al Qashash 28:1-6

Dengan kehendak-Nya, Ia akan memenangkan orang-orang yang tertindas, lalu seketika itu juga,
fondasi kebatilan akan runtuh, dan kebenaran segera tertegak gagah dengan pilar-pilarnya yang
perkasa. Para pendukung kebenaran saat itu tampil sebagai pemenang. Setalah ayat-ayat
semacam ini, takkan ada lagi alasan untuk pesimis dan putus asa bagi umat Islam yang percaya
kepada Allah SWT dan kitab-Nya.

Saudaraku, karena hal-hal semacam inilah Ikhwanul Muslimin tidak pernah pesimis dan putus
asa dari mengharap pertolongan Allah, betapa pun banyak rintangan. Dan dengan berbekal
harapan itulah, kami bekerja dengan penuh kesungguhan. Hanya Allah-lah tempat memohon
pertolongan.

Tentang modal dasar untuk pencapaian tujuan, Ikhwanul Muslimin berpusat pada 3 hal, yaitu:

Manhaj yang benar, yaitu Al Qur’an, Sunnah dan hukum-hukum Islam (sebagaimana ketika ia
dipahami pertama kali oleh kaum muslimin dengan bersih, segar dan jauh dari penetrasi paham-
paham lain)

Pendukung yang beriman, itulah sebabnya Ikhwanul Muslimin selalu berusaha menerapkan
Islam yang telah mereka ketahui untuk diri mereka, dengan penuh kesungguhan dan penuh
keseriusan.

Pemimpin yang kuat dan terpercaya


Anggota yang selalu taat kepada pemimpin mereka, dan di bawah pemimpin mereka itu mereka
bekerja

Saudaraku, itulah gambaran umum tentang dakwah kami yang ingin saya sampaikan kepadamu.
Dan saya yakin, Andalah Yusuf dari mimpi-mimpi ini. Jika Anda setuju dengan kami, maka
marilah kita saling berjabat tangan dan berjanji setia untuk bekerja sama di jalan ini.

Allahu Akbar, Alhamdulillah.


Hasan Al Banna

sumber:
buku Risalah Pergerakan jilid 1,
bab Dakwah Kami, halaman 29-54,
edisi terbitan Intermedia,
cetakan keempat, April 2000M
Refleksi Risalah Hasan Al Banna, Dakwah Kami Di Zaman Baru

Posted on 26 August 2009 by Budiman


Pemikiran Hasan Al Banna menjadi paradigma yang memola sikap organisasi yang didirikannya
(Al Ikhwan Al Muslimun) dalam menyikapi problem dan tantangan yang dihadapinya. Banyak
pemikir Ikhwan yang lain, tetapi pemikiran sang pembina awal tetap menjadi rujukan penting
bagi organisasinya. Sayyid Qutb adalah pemikir besar Ikhwan, pemikirannya meng-kaya-kan
Ikhwan dengan ragam pemikiran yang penuh nuansa. Tetapi pemikirannya tidaklah menjadi
basis utama kebijakan organisasi Ikhwan. Ini bukan berarti tidak ada pengaruh pemikiran Qutb
dalam organisasi Ikhwan. Bagaimanapun Qutb adalah anggota Ikhwan dan diakui ketokohan dan
pemikirannya. Fenomena penting yang perlu dicermati di sini adalah bahwa merujuk pada
pemikiran Al Banna adalah asas metodis organisasi Ikhwan menghadapi tantangan dan
menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Hasan Al Banna memang tidak menulis satu buku besar mengenai aspek-aspek pemikirannya.
Pemikirannya tersebar dalam risalah-risalah yang ditulisnya. Salah satu risalahnya adalah
Dakwah Karu Di Zaman Baru. Ini adalah salah satu risalahnya yang bagi saya pribadi
menarik.Setiap membacanya [lihat posting terdahulu] kembali ada saja yang memperjelas atau
membuka wawasan terhadap pemikiran dakwahnya.
Membaca terjemahan risalah ini melalui terjemahan (alm) Ustadz Rahmat Abdullah membuka
kembali wawasan baru mengenai risalah ini. Ustadz Rahmat menerjemahkan tiga risalah Hasan
Al Banna sekitar tahun 1990 atau sebelumnya (cetakan kedua yang saya dapat tercetak tahun
1991) dengan judul Da’wah Kami Kemarin dan Hari Ini, dengan diberi kata pengantar yang
khas Rahmat Abdullah. Keistimewaan dari terjemahan ini barangkali adalah diksi atau pilihan
kata yang digunakan sangat khas, terjemahan ini juga secara tidak langsung adalah penjelasan
(syarah) terhadap risalah ini berdasar refleksi Ustadz Rahmat Abdullah.
Risalah ini ditujukan untuk mengungkapkan karakter dakwah (seruan perbaikan, misi perbaikan)
Ikhwanul Muslimin, metode perbaikan yang dijalankannya dan sikap terhadap pandangan-
pandangan yang muncul di dunia Islam kontemporer. Ciri atau karakter dakwah Ikhwan
terungkap dalam ciri-ciri berikut.
Ketuhanan Semestawi (Rabbaniyah ‘Alamiyah)
Rabbaniyah berarti bahwa asas dakwah Ikhwan adalah mengajak untuk mengenal Allah yang
akan mengangkat jiwa manusia dari kebekuan dan kekerasan materialisme (kebendaan) kepada
tingkat kesucian, keindahan dan kemanusiaan.
‘Alamiyah berarti bahwa prinsip dakwah ini ditujuakan kepada seluruh umat manusia. Di sini
juga dipahami bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh ras, golongan atau kebangsaannya
tetapi oleh kebaikan, ketaqwaanya kepada Allah. Ini adalah prinsip persamaan dan persaudaraan
antar umat manusia. Ini juga refleksi dari karakter kemanusiaan (insaniyyah, humanity) dakwah
yang diserukan Ikhwan.
Integrasi (Menghimpun) Dua Logika : Ghaib dan Ilmiah
Pemikiran manusia (terkait problem metafisis), dalam sejarahnya, seringkali terguncang dan
berputar pada lingkarang berikut.Satu, pada lingkaran khurafat dan penyerahan mutlak pada
kegaiban serta kekuatan tersembunyi secara naif. Dua, pada lingkaran materialisme dan
pengingkaran terhadap alam gaib, pemberontakan terhadap kekuatan yang tidak terindra,
mereduksi realitas pada fenomena empiris dan eksperimental semata. Pemikiran seperti ini
banyak menguasai akal zaman baru (modern) di mana mereka banyak mengungkap rahasia alam
(melalui ilmu pengetahuan) dan penguasaannya terhadap alam melalui teknologi. Pada
puncaknya materialisme ini bisa mengingkari eksistensi Tuhan, kenabian dan hari akhir.
Dua warna pemikiran ini adalah kesalahan yang nyata. Islam datang dengan mendudukkan
permasalah ini pada proporsi yang benar. Ia mengakui adanya alam ghaib, menghubungkan jiwa
manusia dengan iman kepada Allah. Islam mendekatkan alam ghaib yang misterius itu dengan
gambaran yang mendekatkan kepada akal dan tidak bertentangan dengan gambaran akal yang
konkret (lazim). Disamping itu Islam juga mengakui kebaikan alam material ini, mengajak untuk
memandang secara benar kerajaan langit dan bumi milik Allah ini, dan memanfaatkannya.
Kesadaran Jiwa sebagai Asas Kebangkitan
Kaidah perubahan yang dijadikan landasan bagi jalan kebangkitan, sebagaimana diinspirasikan
oleh surat Ar Ra’du : 11 adalah kesadaran penuh dalam jiwa dan semangat (yaqzhah ar ruhiyah),
kekuatan batin yang menuntun dan mendorongnya. Sehingga pokok misi Ikhwan adalah
munculnya kesadaran jiwa dan hidupnya hati nurani serta kebangunan hakiki dalam pemikiran
dan perasaan (shohwah al fikriyah). Jalan yang digunakan untuk merealisasikan ini adalah
dengan menanamkan keyakinan bahwa apa yang dia bawa ini adalah kebenaran, menanamkan
kebanggaan sebagai penghasung nilai-nilai kebenaran dan menanamkan bahwa Allah akan
menyertai dan menolong pembela-pembela kebenaran. Ringkasnya melalui iman, kebanggaan
dan harapan.
Perubahan Individu, Keluarga dan Masyarakat
Perasaan yang kuat, kesadaran jiwa dan kebangkitan ilmiah (pemikiran) pasti akan memberi
bekas dan pengaruh pada individu, keluarga dan masyarakat.

Sikap Terhadap Pandangan-Pandangan Kontemporer


Memandang pandangan atau pemikiran kontemporer yang menggejala dalam tubuh umat
perlulah diketahui substansi dan tujuan dari pandangan itu. Kebangsaan, arabisme, ketimuran
dan kemanusiaan adalah diantara pandangan-pandangan itu. Bangsa yang telah menerima
hidayah Islam merupakan bagian dari tanah air Islam, bekerja untuknya adalah bekerja untuk
kejayaan Islam. Yang ditolak adalah jika sasaran kebangsaan itu adalah upaya untuk melikuidasi
Islam dari kehidupan masyarakat. Arabisme yang otentik adalah arabisme karena kesamaan
bahasa. Ketimuran muncul karena adanya pandangan relatif peradaban Barat. Kemanusian dan
kerja sama internasional yang berkeadilan.
Catatan Rujukan
Risalah-risalah Hasan Al Banna (Majmu’atur Rasail) pernah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dan diterbitkan oleh Media Dakwah tahun 80-an. Terjemahan tiga risalah Hasan Al
Banna (Dakwah Kami Di Zaman Baru, Antara Kemarin dan Hari Ini, Risalah Ta’alim) oleh
ustadz Rahmat Abdullah diterbitkan oleh Firdaus, Jakarta tahun 1991 (cet.2). Dalam
terjemahannya ini ustadz Rahmat Abdullah menempatkan risalah ini (secara berurutan) dalam
judul-judul bab berikut : Misi Ketuhanan Semestawi, Antara Kemarin Dan Hari Ini, Telaah
Kami. Judul pertama merefleksikan misi Ikhwan, judul kedua merefleksikan telaah tentang
permasalahan umat dan judul ketiga (terjemahan dari Risalah Ta’alim) merefleksikan
metodologi pergerakan yang dijalankan Ikhwan. Sayangnya banyak salah cetak dalam buku ini,
sehingga cukup mengganggu.
Edisi baru terjemahan bahasa Indonesia dari Majmua’tur Rasail, dengan judul Risalah
Pergerakan Hasan Ikhwanul Muslimin diterbitkan oleh Intermedia, Solo, 1997 (cet-1, terj. jilid
1 oleh Anis Matta, Rofi’ Munawwar dan Wahid Ahmadi). Edisi dua bahasa (Arab dan Inggris)
muncul dengan judul Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, terbitan Al I’tisham Cahaya
Umat (edisi pertama jilid pertama terbit 2005, terj. oleh Khazin Abu Faqih Lc). Syarah Rasmul
Bayan Tarbiyah oleh Jasiman Lc, terbitan Auliya’ Press, Solo, 2005.
Filed under: Bibliophilie, Ikhwanul Muslimin Tagged: | hasan al banna, risalah pergerakan,
Rahmat Abdullah