Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

ARESTER

Dosen Pengampu : Drs. Dadang Mulyana.,M.Pd

DI SUSUN

Kelompok 5
Gesty Novianti Simanjuntak 5182131012
Angga Karisto Bangun 5183131012
Bayu A Perangin-angin 5182131011
Gally Chandra Pratama 5183131011

PRODI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Pertama-tama Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya serta kesehatan
kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan makalah yang berjudul Arester.
Makalah ini disusun dengan harapan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan kita serta mampu memberi tanggapan serta kritikan terhadap suatu
pembahasan dengan sumber yang berbeda. Penulis menyadari bahwa makalah
yang disusun masih jauh dari kata kesempurnaan.Masih ada terdapat kekurangan
dalam menyusun dan menyampaikan materi yang sesuai dengan judul topik.
Karena itu Penulis sangat menantikan saran dan kritik dari pembaca yang
sifatnya membangun pada makalah ini.
Akhir kata, Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan dan pengetahuan bagi siapa saja yang memerlukannya dimasa yang
akan datang.

Medan, Oktober 2020

Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1

1.1 Latar Belakang..............................................................................................1


1.2 Pembatasan Masalah....................................................................................1
1.3 Rumusan Masalah........................................................................................1
1.4 Tujuan Penulisan...........................................................................................2

BAB II KAJIAN PUSTAKA....................................................................................3


BAB III PEMBAHASAN..........................................................................................4
3.1 Ringkasan Hasil Pembahasan.......................................................................4
3.1.1 Pengertian Relai ..........................................................................................4
3.1.2 Konsep Relai................................................................................................5
3.1.3 Persyaratan Relai.......................................................................................6
3.1.4 Jenis-jenis Relai..........................................................................................8
3.2. Pertanyaan Terkait Relai.............................................................................12

BAB IV PENUTUP .................................................................................................13

4.1 Kesimpulan ................................................................................................13


4.2 Pembahasan................................................................................................13
4.3 Saran............................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................15

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Petir merupakan fenomena alam yang terjadi karena disebabkan
oleh pemuatan energi listrik serta pelepasan muatan-muatan listrik
yang terjadi antara awan dan bumi, awan ke awan serta dalam awan
itu sendiri yang mempunyai polaritas yang berbeda. Akibat yang
ditimbulkan dari sambaran petir sangatlah merugikan karena dapat
mengurangi keandalan penyaluran energi listrik, sehingga pemenuhan
energi ke konsumen dapat terganggu. Sambaran petir yang terjadi
pada saluran distribusi biasanya dapat berupa sambaran langsung
dan sambaran tidak langsung.
Pada jaringanTransmisi, Distribusi dan Instalasi salah satu cara
untuk mengatasi kerusakan peralatan yang diakibatkan petir adalah
dengan pemasangan arrester. Arrester merupakan suatu alat proteksi
peralatan dalam sistem tenaga listrik yang bekerja dengan cara
membatasi surja tegangan lebih yang datang yang kemudian
mengalirkannya ke tanah.
1.2 Pembatasan Masalah
1. Pengertian dan Fungsi Arester
2. Prinsip Kerja Arester
3. Komponen Arester
4. Syarat-syarat dan Jenis-jenis Arester

1.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas,  penulis merumuskan
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan arester ?
2. Bagaimana prinsip kerja arester ?
3. Bagaimana komponen yang terdapat di arester ?
4. Apa sajakah syarat-syarat dan jenis-jenis arester ?

1
1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan pengertian arester
2. Mendeskripsikan prinsip kerja arester
3. Menjabarkan komponen-komponen arester
4. Menjelaskan syarat-syarat dan jenis-jenis arrester.

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Menurut Dr. Ir. Dipl. Ing. Reynaldo Zoro, ahli petir dan direktur PT.
Lapi Elpatsindo yang membahas tentang “TIGA SYARAT TIMBULNYA
PETIR” di mana pada tulisannya sedikit banyak membahas tentang ketiga
elemen yaitu naiknya udara, kelembapan, dan partikel bebas atau aerosol
menyebabkan timbullah muatan dalam awan cumulonimbus. Umumnya
muatan negatif terkumpul dibagian bawah dan ini menyebabkan
terinduksinya muatan positif diatas perrmukaan tanah, sehingga
membentuk medan listrik antara awan dan tanah. Jika muatan listrik
cukup besar dan kuat medan listrik di udara dilampaui, maka terjadi
pelepasan muatan berupa petir atau terjadi sambaran yang bergerak
dengan kecepatan cahaya dengan efek merusak yang sangat dahsyat
karena kekuatannya.
Dalam sistem tenaga listrik arrester merupakan kunci koordinasi
isolasi. Saat surja (surge) tiba di gardu induk kemudian arrester akan
melepaskan muatan listrik dan tegangan abnormal yang akan mengenai
gardu induk dan peralatannya akan berkurang. Setelah surja (petir atau
hubung) dilepaskan melalui arrester masih terdapat arus mengalir
dikarenakan tegangan sistem yang disebut sebagai arus dinamik atau
arus susulan (follow current). Arrester harus memiliki ketahanan termis
yang cukup terhadap enersi dari arus susulan tersebut, serta harus
mampu untuk memutuskannya.
Prinsip kerja arrester ini pada dasarnya sama dengan arrester
katup. Arrester ini tidak memiliki sela seri sehingga sangat bergantung
pada tahanan dalam arrester itu sendiri. Saat terkena petir, tahanan
arrester akan turun sehingga menjadi konduktor dan mengalirkan petir ke
bumi. Saat arus petir lewat, tahanan kembali naik dan arrester bersifat
sebagai isolator.

3
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. RINGKASAN HASIL PEMBAHASAN


3.1.1 Pengertian dan Fungsi Arester
Arrester adalah alat pelindung bagi sistem tenaga listrik terhadap
tegangan lebih yang disebabkan oleh petir atau surja hubung (switch
surge). Alat ini digunakan sebagai jalan pintas (by-pass) sekitar isolasi.
Arrester membentuk jalan yang mudah dilalui oleh arus kilat atau petir,
sehingga tidak timbul tegangan lebih pada peralatan. Jalan pintas itu
harus sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aliran arus daya
system 50 Hz.
Fungsi arrester adalah untuk meneruskan arus listrik petir ke
ground yang masuk melalui jalur yang dilindunginya, apabila tegangan
petir lebih dari kapasitas maksimumnya maka arrester tersebut akan
meneruskan arus tersebut ke tanah. Tujuannya agar tegangan di
system tidak naik melampaui batas yang diijinkan sehingga peralatan
listrik pelanggan maupun generator ataupun trafo tidak rusak.
Arrester juga berfungsi untuk melindungi isolasi atau peralatan
listrik terhadap tegangan lebih yang disebabkan oleh sambaran petir
atau tegangan transient yang tinggi dari suatu penyambungan atau
pemutusan rangkaian (sirkuit), dengan jalan mengalirkan arus surja
(surge current) ketanah serta membatasi berlangsungnya arus ikutan
(follow current) serta mengembalikan keadaan jaringan ke keadaan
semula tanpa mengganggu sistem. Jadi pada keadaan normal arrester
berlaku sebagai isolator dan pada saat timbul tegangan surja alat ini
bersifat sebagai konduktor yang tahananya relatif rendah sehingga
dapat mengalirkan arus yang tinggi ketanah. Persyaratan yang harus
dipenuhi oleh arrester adalah:

4
a) Tegangan percikan (spark over voltage) dan tegangan
pelepasannya (discharge voltage) yaitu tegangan pada terminalnya
pada waktu pelepasan, harus cukup rendah, sehingga dapat
mengamankan isolasi peralatan. Tegangan percikan disebut juga
tegangan gagal sela (gap break down voltage).
b) Arrester harus dapat memutuskan arus dinamik dan dapat
bekerja terus seperti semula. Pada arrester terdapat beberapa bagian
yang penting, sebagai berikut:
1. Elektroda Elektroda-elektroda ini adalah terminal dari
arrester yang dihubungkan dengan bagian yang bertegangan dibagian
atas, dan elektroda bawah dihubungkan dengan tanah.
2. Sela Percikan (Spark Gap) Apabila terjadi tegangan lebih
oleh sambaran petir atau surja hubung pada arrester yang terpasang,
maka sela percikan (spark gap) akan terjadi loncatan busur api. Pada
beberapa tipe arrester busur api yang terjadi tersebut ditiup keluar oleh
tekanan gas yang ditimbulkan oleh tabung fiber yang terbakar.
3. Tahanan Katup Tahanan yang digunakan dalam arrester ini
adalah suatu jenis aterial yang sifat tahanannya akan berubah bila
mendapatkan perubahan tegangan.
3.1.2 Prinsip Kerja Arester
Arrester petir disingkat arrester, atau sering juga disebut penangkal
petir adalah alat pelindung bagi peralatan sistem tenaga listrik terhadap
surja petir. Arrester berlakau sebagai jalan pintas (by-pass)) sekitar
isolasi. Arrester membentuk jalan yang mudah dilalui oleh arus kilat dan
petir, sehingga tidak timbul tegangan tinggi yang lebih pada peralatan.
Jalan pintas tersebut harus sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu aliran arus daya sistem 50Hz. Jadi pada kerja normal
arrestel berlaku sebagai isolator dan pada saat timbul surja (petir ) dia
berlaku sebagai konduktor, jadi melewatkan arus yang tinggi. Setelah
surja hilang, arrester arus cepat kembali menjadi isolator sehingga
pemutus daya tidak sempat terbuka.

5
Arrester dapat memutuskan arus susulan tanpa menimbulkan
gangguan. Inilah salah satu fungsi terpenting dari arrester. Arrester
terdiri dari dua bagian yaitu sela api (spark gap) dan tahanan tak linier
atau tahanan kran (Valve Resistor). Keduanya dihubungkan secara
seri, batas atas dan batas bawah dari tegangan percikan ditentukan
oleh tegangan maksimum dan oleh tingkat isolasi peralatan yang
dilindungi. Oleh karena itu, sebenarnya arrester terdiri dari tiga unsur
yaitu sela api, tahanan kran atau tahanan katub dan sistem pengaturan
atau pembagi tegangan (Granding System).
Arrester bekerja pada tegangan tertentu diatas tegangan oprasi
untuk membuang muatan listrik dari surja petir dan berhenti beroprasi
pada tegangan tertentu diatas tegangan oprasi agar tidak terjadi arus
pada tegangan oprasi, dan perbandingan dua tegangan ini disebit rasio
proteksi arrester. Tingkat bahan isolasi arrester harus dibawah tingkat
isolasi bahan transfomator agar apabila sampai terjadi flashover. Maka
di harapkan flashover terjadi pada arrester tidak pada transfomator.
3.1.3 Komponen Arester
Lightning Arrester pada transmisi ataupun pada Gardu Induk
memiliki konstruksi yang hampir sama, hanya lokasi penempatannya
saja yang berbeda. Komponen utama pada Lightning Arrester yaitu
varistor (komponen aktif) yang terbuat dari Zinc Oxide.
Varistor ini berbentuk kepingan blok yang tersusun di dalam
housing (kompartemen) yang terbuat dari porcelen ataupun polymer.
Selain berfungsi untuk penyangga, housing ini juga berfungsi untuk
menginsulasi antara bagian yang bertegangan dengan tanah pada
tegangan operasi Lightning Arrester.
Perhatikanlah gambar di bawah ini mengenai konstruksi bagian
Lightning Arrester:

6
Gambar: Bagian-bagian konstruksi Lightning Arrester
Perlu diketahui juga bahwa Lightning Arrester juga dilengkapi
dengan katup pressure relief di bagian kedua ujungnya. Bagian katup
ini berfungsi untuk melepas tekanan internal yang berlebih, pada saat
Lightning Arrester dilewati oleh arus surja. Kontruksi lain bagian
pendukung Lightning Arrester yaitu terdiri menjadi: struktur penyangga,
grading ring, pentanahan, dan alat monitoring.
3.1.4 Jenis-jenis dan syarat-syarat Arester
3.1.4.1 Jenis-jenis Arester
a.Jenis Ekpulsi
Arrester jenis ekspulsi/tabung pelindung pada prinsipnya terdiri
dari sela percik yang berada dalam tabung serat dan sela percik
batang yang berada di luar di udara atau disebut dengan sela seri.
Arrester ini digunakan untuk melindungi trafo distribusi bertegangan 3-
15 kV, tetapi belum memadai untuk melindungi trafo daya. Selain itu
digunakan juga pada saluran transmisi untuk mengurangi besar
tegangan surja petir yang masuk ke gardu induk.

7
b.Jenis Katup

Arrester ini terdiri dari beberapa sela percik yang


dihubungkan seri (series gap) dengan resistor tak linier. Resistor ini
memiliki sifat khusus yaitu tahanannya rendah saat dialiri arus besar
dan sebaliknya tahanan yang besar saat dialiri arus kecil. Resistor
yang umum digunakan untuk arrester terbuat dari bahan silicon karbid.
Sela percik dan resistor tak linier keduanya ditempatkan dalam tabung
isolasi tertutup sehingga kerja arrester ini tidak dipengaruhi keadaan
udara sekitar.Arrester jenis ini ummunya dipakai untuk melindungi
alatalat yang mahal pada rangkaian, biasanya dipakai untuk
melindungi trafo daya. Arrester katup ini dibagi menjadi empat jenis,
yaitu sebagai berikut:

1. Arrester Katup Jenis Gardu ( Arrester 150kV ) Pemakaiannya


secara umum pada gardu induk besar untuk melindungi alat-alat
yang mahal pada rangkaian mulai dari 2,4-287 kV.

8
2. Arrester Katup Jenis Saluran (Arrester 20kV) Arrester jenis saluran
lebih murah dari arrester gardu. Arrester jenis saluran inidipakai
pada sistem tegangan 15-69 kV.

3. Arrester Katup Jenis Distribusi Seperti namanya arrester ini


digunakan untuk melindungi transformator pada saluran distribusi.
Arrester jenis ini dipakai pada peralatan dengan tegangan 120-750
volt.

4. Arrester Katup Jenis Gardu untuk Mesinmesin Arrester jenis gardu


ini khusus untuk melindungi mesin-mesin berputar. Pemakaiannya
untuk tegangan 2,4-15 kV.

c.Jenis Seng Oksida

Arrester seng oksida yang disebut juga metal oxide


arrester (MOA) merupakan arrester yang tidak memiliki sela seri, terdiri
dari satu atau lebih unit yang kedap udara, yang masingmasing berisikan
blok-blok tahanan katup sebagai elemen aktif dari arrester. Pada dasarnya
prinsip kerja arrester ini sama dengan arrester katup. Karena arrester ini
tidak memiliki tahanan sela seri, maka arrester ini sangat bergantung pada

9
tahanan yang ada dalam arrester itu sendiri. Apabila terkena petir,
tahanan arrester akan langsung turun sehingga menjadi konduktor dan
mengalir petir ke bumi. Namun setelah petir lewat, tahanan kembali naik
sehingga bersifat isolator.

3.1.4.2 Syarat-syarat Arrester


Arrester yang dipasang harus memenuhi syarat-syarat seperti:

a. Tegangan percik dan tegangan pelepasan, yaitu tegangan pada


terminal pada waktu pelepasan harus cukup rendah sehingga dapat
mengamankan isolasi peralatan. Tegangan percik ini biasa juga disebut
dengan gagal sela (gap breakdown) dan tegangan pelepasan disebut
dengan tegangan sisa (residual voltage).
b. Arrester harus mampu mengalirkan arus surja ke tanah tanpa
merusak arrester itu sendiri.

c. Arrester harus mampu memutuskan arus susulan, dan dapat


bekerja kembali seperti semula.

d. Arrester harus memiliki harga tahanan pentanahan di bawah 5


ohm.

BAB IV

10
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Arrester
adalah alat pelindung bagi sistem tenaga listrik terhadap tegangan lebih
yang disebabkan oleh petir atau surja hubung (switch surge). Alat ini
digunakan sebagai jalan pintas (by-pass) sekitar isolasi. Arrester
membentuk jalan yang mudah dilalui oleh arus kilat atau petir, sehingga
tidak timbul tegangan lebih pada peralatan. Jalan pintas itu harus
sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aliran arus daya system 50
Hz.
4.2 Pembahasan
Fungsi arrester adalah untuk meneruskan arus listrik petir ke
ground yang masuk melalui jalur yang dilindunginya, apabila tegangan
petir lebih dari kapasitas maksimumnya maka arrester tersebut akan
meneruskan arus tersebut ke tanah. Tujuannya agar tegangan di
system tidak naik melampaui batas yang diijinkan sehingga peralatan
listrik pelanggan maupun generator ataupun trafo tidak rusak.
Lightning Arrester pada transmisi ataupun pada Gardu Induk
memiliki konstruksi yang hampir sama, hanya lokasi penempatannya
saja yang berbeda. Komponen utama pada Lightning Arrester yaitu
varistor (komponen aktif) yang terbuat dari Zinc Oxide.
Arrester bekerja pada tegangan tertentu diatas tegangan oprasi
untuk membuang muatan listrik dari surja petir dan berhenti beroprasi
pada tegangan tertentu diatas tegangan oprasi agar tidak terjadi arus
pada tegangan oprasi, dan perbandingan dua tegangan ini disebit rasio
proteksi arrester.
3.1 Saran
Tim Penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat sederhana
dan jauh dari kata sempurna oleh karena itu kami berharap agar
pembaca dapat memakluminya dan memberikan saran kepada
penulis.

11
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/33497349/Pengertian_Aarrester

http://eprints.polsri.ac.id/380/3/BAB%20II.pdf

https:/ /jtptunimus-gdl-ihwanernan-6634-3-babii.pdf

12
13