Anda di halaman 1dari 58

I Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana


MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

Hak Cipta @ 2020

PERANGKAT
TRAINING OF TRAINER (ToT) PENCEGAHAN STUNTING MELALUI 1000 HPK DAN
PENGASUHAN ANAK USIA DINI PADA KELOMPOK BINA KELUARGA BALITA HOLISTIK
INTEGRATIF (BKB HI)

Edisi Pertama Tahun 2020

Tim Penyusun

Dra. Theodora Pandjaitan, M.Sc


Achmad Sopian, M.Pd

Pengarah :
DR. Lalu Makripuddin, M.Si
Penanggung Jawab :
Dadi Ahmad Roswandi, M.Si
Editor :
Dewi Andayani, S.Pd., M.Si.
Tim Teknis :
Yufi Winiastuti, SKM
Desnita Ekaratri, SS, MPH
Tri Aryadi, S.Psi.
Ratu Chaira Vielananda, S.Pd.
Sugeng

Diterbitkan oleh :
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPENDUDUKAN DAN KB
BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL
Jl. Permata No. 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur 13650
PO. BOX : 296 JKT 13013

II Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
KATA SAMBUTAN

P
uji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan hidayahNya, sehingga perangkat pembelajaran
Training of Trainers (TOT) ) Pelatihan Teknis Bina Keluarga
Balita Holistik Integratif (BKB HI) dan Pencegahan Stunting bagi
Fasilitator Tingkat Provinsi yang merupakan program prioritas
nasional di lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) dapat diselesaikan.

Perlu kita pahami bersama bahwa pembangunan Sumber


Daya Manusia (SDM) harus dimulai sejak dalam kandungan,
karena saat itu proses pertumbuhan dan perkembangan
manusia sudah berlangsung, khususnya perkembangan otak.
Begitupun dalam keseluruhan siklus hidup manusia, masa di bawah usia lima tahun
(Balita) merupakan periode paling kritis karena pada masa tersebut proses tumbuh
kembang berlangsung sangat cepat. Masa tersebut adalah masa “emas” yang
apabila tidak dibina dengan baik akan menyebabkan gangguan perkembangan
emosi, sosial dan kecerdasan. Masa ini merupakan tahap awal pembentukan
dasar kemampuan, mental, intelektual dan moral yang menentukan sikap, nilai dan
perilaku di masa dewasa.

Orangtua sebagai pengasuh dan pendidik pertama dan utama diharapkan


dapat mengasuh anak balitanya dengan benar, bukan hanya melalui pemenuhan
kebutuhan anak akan kesehatan, gizi, akan tetapi juga perhatian, kasih sayang
dan rasa aman serta rangsangan terhadap mental, emosional, sosial, dan moral.
Mengingat sangat strategisnya posisi orangtua dalam mengasuh dan membina
tumbuh kembang anak, maka orangtua perlu meningkatkan pengetahuan
dan keterampilannya agar mampu melaksanakan pengasuhan secara optimal.
Pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat diperoleh orangtua antara lain
dengan mengikuti kegiatan Bina Keluarga Balita Holistik Integratif (BKB HI EMAS).

BKB HI-EMAS merupakan salah satu program inovasi strategi untuk


mengimplementasikan kegiatan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan
dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dalam mendukung penurunan
stunting dan pencapaian target BKKBN. Keluarga dan anggota keluarga merupakan
sasaran utama kegiatan ini dengan melibatkan seluruh komponen dan organisasi
masyarakat dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup keluarga. Penyusunan

III Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

perangkat pembelajaran ini diharapkan dapat mendukung upaya mewujudkan


Keluarga Indonesia dan berkualitas dan berketahanan. Saya berharap perangkat
ini menjadi acuan utama dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan, orientasi dan
kegiatan sejenis di lingkungan BKKBN Pusat, Provinsi, Kab/Kota seluruh Indonesia.

Akhirnya, kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan


komitmennya dalam menyusun perangkat pembelajaran ini saya ucapkan terima
kasih. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkah atas semua yang telah
kita lakukan.

Jakarta, Juni 2020

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian


dan Pengembangan,

Prof. Rizal Damanik, PhD.

IV Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
KATA PENGANTAR

P
uji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkah dan karunia-Nya, penyusunan perangkat
pembelajaran Training of Trainers (TOT) ) Pelatihan Teknis
Bina Keluarga Balita Holistik Integratif (BKB HI) dan Pencegahan
Stunting bagi Fasilitator Tingkat Provinsi dapat diselesaikan
dengan baik dan tepat waktu.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan


Keluarga Berencana bekerjasama dengan Direktorat Bina
Keluarga Balita dan Anak menyusun perangkat pembelajaran
ini dalam rangka mempersiapkan SDM yang kompeten guna
memfasilitasi dan memberikan informasi kepada Keluarga Indonesia mengenai
Pengasuhan Anak Usia Dini dalam rangka Pencegahan Stunting melalui Kelompok
BKB. Perangkat pembelajaran ini adalah acuan pengelolaan pelatihan untuk
menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) ) Pelatihan Teknis Bina Keluarga
Balita Holistik Integratif (BKB HI) dan Pencegahan Stunting bagi Fasilitator Tingkat
Provinsi. Dengan mengacu kepada perangkat pembelajaran ini diharapkan setiap
penyelenggaraan pelatihan dapat dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan, sehingga dapat menghasilkan alumnus pelatihan yang berkualitas.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh
pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan perangkat pembelajaran ini.
Semoga segala upaya kita untuk meningkatkan kualitas pelatihan dapat berkontribusi
dalam pembangunan keluarga Indonesia yang berkualitas. Semoga Tuhan Yang
Masa Esa memberikan berkah-NYA terhadap setiap kegiatan yang kita lakukan.

Jakarta, Juni 2020

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan


Kependudukan dan KB,

DR. Lalu Makripuddin, M.Si

V Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

DAFTAR ISI

SAMPUL DEPAN ......................................................................................................................I


KATA SAMBUTAN ..................................................................................................................III
KATA PENGANTAR ..............................................................................................................V
DAFTAR ISI ............................................................................................................................VI

☼ BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................1


A.Latar Belakang ...........................................................................................................2
B.Deskripsi Singkat .........................................................................................................3
C. Manfaat Modul...........................................................................................................3
D.Tujuan Pembelajaran .................................................................................................3
E.Materi Pokok dan Sub Materi Pokok .........................................................................4
F.Petunjuk Belajar ...........................................................................................................5

☼ BAB II ASPEK PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI ..........................................................6


A.Pengertian dan Tahapan Perkembangan Anak Usia Dini .....................................7
B. Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini .......................................................9
C. Faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini .............................10
D. Rangkuman..............................................................................................................11
E. Latihan ......................................................................................................................12

☼ BAB III STIMULASI GERAKAN KASAR DAN GERAKAN HALUS ANAK ..........................13
A.Pengertian gerakan kasar dan gerakan halus anak usia dini ............................14
B.Stimulasi gerakan kasar menurut tahapan perkembangan anak usia dini ........14
C.Stimulasi gerakan halus menurut tahapan perkembangan anak usia dini .......15
D.Rangkuman ...............................................................................................................17
E.Latihan ........................................................................................................................17

☼ BAB IV STIMULASI KOMUNIKASI AKTIF, KOMUNIKASI PASIF


DAN KECERDASAN ANAK USIA DINI ...........................................................................18
A.Komunikasi Efektif antara orang tua dan anak Balita ............................................19
B.Perkembangan kemampuan komunikasi pasif anak usia dini.............................21
C.Perkembangan Kemampuan Komunikasi Aktif Anak Usia Dini..........................22
D. Perkembangan Kecerdasan Anak Usia Dini ......................................................23
E. Rangkuman ............................................................................................................28
F. Latihan .......................................................................................................................28

VI Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
☼ BAB V STIMULASI MENOLONG DIRI SENDIRI DAN TINGKAH LAKU SOSIAL .......................29
A. Stimulasi menolong diri sendiri menurut tahapan perkembangan
anak usia dini............................................................................................................30
B.Stimulasi tingkah laku sosial menurut tahapan perkembangan
anak usia dini.............................................................................................................33
C.Rangkuman................................................................................................................35
D.Latihan .......................................................................................................................36

☼ BAB VI DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI..........................................37


A. Pengertian deteksi dini tumbuh kembang anak usia dini.....................................38
B. Memantau tumbuh kembang anak usia dini dengan KKA...................................38
C. Cara melakukan deteksi dini dan mencari solusinya menurut
tahapan perkembangan anak usia dini................................................................42
D. Rangkuman...............................................................................................................43
E. Latihan........................................................................................................................43

☼ BAB VII PENUTUP ............................................................................................................44


A. Kesimpulan ...............................................................................................................45
B. Evaluasi .....................................................................................................................47

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................48

VII Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

MODUL
TUMBUH KEMBANG
ANAK USIA DINI

Tim Penyusun

Dra. Theodora Pandjaitan, M.Sc


Achmad Sopian, M.Pd

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPENDUDUKAN DAN KB


BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL
TAHUN 2020

VIII Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
BAB I
PENDAHULUAN

1 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

A. Latar Belakang
Mengasuh anak adalah memberikan kebutuhan dasar anak agar anak dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal. Kebutuhan dasar anak yang harus
dipenuhi orangtua yaitu kebutuhan kesehatan dan gizi, kebutuhan kasih sayang,
dan kebutuhan stimulasi. Pada modul ini, pembahasan akan lebih difokuskan pada
kebutuhan stimulasi anak, yang dalam penerapannya juga didukung oleh kebutuhan-
kebutuhan dasar lainnya. Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan
dasar anak oleh lingkungan (ayah, ibu, anggota keluarga lain, pengasuh anak)
untuk mempercepat tumbuh kembang. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan
keterlambatan tumbuh kembang anak.

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap


makhluk. Sejak dalam kandungan seseorang sudah mengalami proses pertumbuhan
meskipun tidak dapat diamati secara langsung. Pada masa balita, proses tumbuh
kembang terjadi sangat cepat dan dapat diamati dengan jelas. Pertumbuhan dan
perkembangan sebenarnya berjalan seiring artinya pertumbuhan menentukan
perkembangan dan sebaliknya.

Kata pertumbuhan dan perkembangan sering digunakan secara bergantian


atau bersamaan. Ada yang mengatakan bahwa pertumbuhan merupakan bagian
perkembangan. Jadi bisa dikatakan bahwa Istilah tumbuh kembang sebenarnya
mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan. Pertumbuhan
berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat
sel, organ maupun individu. Dapat diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram),
ukuran panjang (cm, meter), umur tulang, dan lain-lain. Perkembangan adalah
bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks
dalam pola yang teratur, termasuk aspek sosial atau emosional akibat pengaruh
lingkungan (Depkes et all, 2004).

Pada mata Diklat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Balita akan membahas
mengenai periode emas anak Balita, Pertumbuhan dan perkembangan anak
balita, ciri dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak balita Sehingga penyusunan modul pertumbuhan dan perkembangan anak
balita ini akan sangat berguna bagi para petugas lapangan dan kader program
Bina Keluarga Balita (BKB) dalam melakukan KIE pada masyarakat. Diharapkan
dengan tersedianya modul ini petugas lapangan dan kader akan lebih memahami
dan dapat mempelajarinya lebih mendalam sehingga tujuan program BKB dapat
tercapai sebagaimana mestinya.

Kemudian untuk dapat lebih memahami tentang Pertumbuhan dan perkembangan


anak balita, para petugas lapangan dan kader dapat mempelajarinya pada modul

2 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Mata Diklat Pelaksanaan Pemantauan dan Rujukan Perkembangan Anak Balita
Menggunakan Kartu Kembang Anak (KKA).

B. Deskripsi Singkat
Modul ini membahas aspek perkembangan anak usia dini; stimulasi gerakan kasar
dan gerakan halus anak usia dini; stimulasi komunikasi aktif, komunikasi pasif dan
kecerdasan anak usia dini; stimulasi menolong diri sendiri dan tingkah laku sosial;
deteksi dini tumbuh kembang balita dan anak. Pembelajaran dilakukan dengan
metode ceramah, simulasi dan praktik.

C. Manfaat Modul
Modul sebagai bahan bacaan peserta pelatihan BKB HI EMAS, dapat dijadikan
rujukan dalam meningkatkan pemahaman terhadap pertumbuhan dan
perkembangan anak kepada para pengelola BKB khususnya dan para orang tua
yang mempunyai Balita.

D. Tujuan Pembelajaran
a. Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu mempraktikkan
konsep tumbuh kembang Balita dan anak.

b. Indikator Hasil Belajar


Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat:
• menjelaskan aspek perkembangan anak usia dini;
• mempraktikkan stimulasi gerakan kasar dan gerakan halus anak usia dini;
• mempraktikkan stimulasi komunikasi aktif, komunikasi pasif dan kecerdasan
anak usia dini;
• mempraktikkan stimulasi menolong diri sendiri dan tingkah laku sosial;
• menjelaskan deteksi dini tumbuh kembang anak usia dini

3 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

4 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
F. Petunjuk Belajar
Agar peserta pelatihan mudah memahami seluruh materi dalam modul ini, maka
strategi belajar adalah :
1. Memahami secara garis besar manfaat dari pertumbuhan dan perkembangan
anak balita
2. Memahami perbedaan pertumbuhan dengan perkembangan anak balita
secara umum.
3. Mengerjakan latihan – latihan yang ada dalam modul.
4. Pelajari materi dari yang paling mudah ke sulit, dari ringan ke berat dan dari
bagian keseluruhan.
5. Diskusikan bersama teman Anda dan tanyakan kepada Pengampu apabila
ada hal-hal yang kurang dimengerti.
6. Carilah referensi lain yang relevan untuk memperkuat pemahaman Anda.

5 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

BAB II
ASPEK PERKEMBANGAN
ANAK USIA DINI
Indikator Hasil Belajar:
setelah mempelajari BAB II ini, peserta diklat
diharapkan dapatmenjelaskan aspek perkembangan anak usia dini

6 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
A. Pengertian dan Tahapan Perkembangan Anak Usia Dini

Mengasuh anak adalah memberikan kebutuhan dasar anak agar anak dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal. Kebutuhan dasar anak yang harus
dipenuhi orangtua yaitu kebutuhan kesehatan dan gizi, kebutuhan kasih sayang,
dan kebutuhan stimulasi. Pada modul ini, pembahasan akan lebih difokuskan
pada kebutuhan stimulasi anak, yang dalam penerapannya juga didukung
oleh kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Tahun pertama perkembangan anak
merupakan salah satu periode yang paling dinamis dan menarik. Terjadi banyak
perubahan besar dalam periode ini. Namun, setiap bayi memiliki kecepatan masing-
masing pada pertumbuhan. Karena itu, penting bagi kita sebagai orang tua untuk
mengenali pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga dapat mendukung
dan mengoptimalkan setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan anak kita.

Perkembangan merupakan proses perubahan yang teratur dari satu tahapan


ketahapan selanjutnya, artinya perkembangan anak mencakup perkembangan
mental, kecerdasan, tingkah laku, budi pekerti sikap dan sebagainya.Apabila
diamati, anak berkembang melewati proses pematangan, berlangsung secara
bertahap dan dalam waktu tertentu. Kemampuannya meningkat dari sederhana
menjadi kemampuan yang lebih sulit. Kita tidak boleh memaksa anak untuk menjalani
proses perkembangan yang belum saatnya, seperti contoh: anak berkembang
dari mulai tengkurap, duduk, lalu selanjutnya bisa berdiri sendiri tanpa dibantu oleh
siapapun. Apabila anak memang belum bisa berdiri, namun dipaksa berdiri maka
akan berpengaruh pada pertumbuhan kakinya yang menjadi tidak wajar.

Pada lima tahun pertama merupakan periode penting karena proses


perkembangannya berjalan sangat cepat. Hasil perkembangan usia 5 (lima) tahun
ini merupakan landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian selanjutnya.
Proses tahapan perkembangan yang terjadi pada anak usia 0-6 tahun
1. Perkembangan Mental
Seorang bayi belajar dengan cara memandang, meraba, mencium bau dan
mengecap semua objek yang terjangkau. Menjelang akhir masa bayi, seorang
anak mulai bisa menyusun kata-kata menjadi kalimat. Pada usia 2 (dua) tahun
bayi dapat membuat generalisasi (penyamaan) sederhana terhadap
hal-hal sekitarnya. Anak mulai memperhatikan hal-hal kecil agar dia tidak mudah
bingung jika menghadapi benda, situasi atau orang. Kemampuan mental semakin
meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan berpikir dan melihat
hubungan antar kejadian.

2. Perkembangan Psikososial
Perkembangan social pada masa bayi mempengaruhi hubungan sosial yang akan
berkembang pada masa depannya. Bayi memberikan reaksi sosial kepada orang

7 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

dewasa, misalnya tersenyum dan bersuara. Perkembangan psikososial meningkat


setiap tahunnya, seiring dengan meningkatnya sosialisasi antara anak dan teman
sebayanya. Hal ini ditandai dengan banyaknya waktu yang dihabiskan anak
untuk bermain.

Salah satu elemen dalam perkembangan psikososial adalah perkembangan


identitas ego. Identitas ego adalah pemahaman akan kesadaran diri yang
berkembang lewat interaksi social. Identitas ego kita terus berubah karena adanya
pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam interaksi dengan
orang lain. Selain itu, pemahaman akan kompetensi juga memotivasi perilaku dan
tindakan. Masing-masing tahapan mengarahkan anak agar semakin kompeten
dalam suatu bidang kehidupan.

3. Perkembangan Emosi
Pada waktu bayi waktu lahir, emosinya baru tampak dalam bentuk yang
sederhana, seperti marah, takut, penasaran, gembira dan sayang. Emosi ini
akan berkembang semakin kuat sehingga anak mudah terbawa oleh ledakan
emosional; dia akan sulit dibimbing dan diarahkan.
Seorang anak akan memiliki dasar yang kuat dalam perkembangan selanjutnya
jika dia dapat menangani perasaan pribadinya, memahami perasaan dan
kebutuhan orang lain, dan menjalin interaksi secara positif dengan orang lain.
Perbedaan dalam perkembangan social dan emosional adalah akibat dari
temperamen bawaan anak, pengaruh budaya, contoh perilaku yang ditiru
dari orang dewasa disekitarnya, tingkat rasa aman yang dirasakan anak dan
kesempatan yang timbul dari interaksi sosial.
Anak pada umur satu tahun baru saja belajar mengenal dan menangani
perasaan mereka. Mereka mengalami berbagai macam emosi dan tantrum
ketika lelah atau frustasi. Mereka juga menanggapi konflik dengan memukul,
menggigit, berteriak atau menangis. Anak umur satu tahun sedang belajar untuk
mendapatkan otonomi. Tidak heran mereka suka membantah dan berkata
“Tidak!” jika diberi saran atau nasihat dari orang dewasa. Terkadang mereka ingin
mengerjakan sendiri semua aktifitas yang dilakukan, namun setelah itu mereka
akan meminta tolong kepada orang dewasa.

4. Perkembangan Psikoseksual
Sejak lahir, seorang bayi sebenarnya sudah belajar memahami jenis kelaminnya.
Bayi dibedakan jenis kelaminnya lewat pakaian yang dikenakan, mainan dan
perlakuan orang disekitarnya. Seorang anak yang melewati tahap psikoseksual
dengan baik, akan memiliki kepribadian yang sehat.

5. Perkembangan Nilai Moral dan Spiritual


Anak-anak harus meletakkan dasar-dasar hati nurani sehingga dapat membimbing

8 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
mereka untuk membedakan perilaku yang benar dan salah. Perkembangan
spiritual mencakup perkembangan pemahaman mereka mengenai diri, potensi
unik mereka, pemahaman akan kekuatan dan kelemahan mereka,
serta kemauan untuk meraih kesuksesan. Ketika rasa penasaran mereka
mengenai diri sendiri dan tempat tinggal mereka di dunia meningkat, mereka
akan mencoba menjawab sendiripertanyaan-pertanyaan hidup yang mendasar.
Mereka mengembangkan pengetahuan, keterampilan, pemahaman, sifat dan
sikap yang mereka butuhkan untuk merawat kesejahteraan batin.

Perkembangan moral meliputi kemampuan anak untuk memahami perbedaan


antara benar, salah, konflik moral, perhatian kepada orang lain dan kemauan
untuk melakukan hal yang benar. Mereka mampu dan bersedia merenungkan
konsekuensi tindakan mereka serta belajar untuk memaafkan diri sendiri serta
orang lain. Mereka mengembangkan pengetahuan, keterampilan, pemahaman,
sifat serta perilaku yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan moral yang
bertanggung jawab serta bertindak berdasarkan keputusan itu.

B. Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

1) Perkembangan Kemampuan Gerakan Kasar


Gerakan Kasar adalah gerakan yang dilakukan dengan melibatkan sebagian
besar otot tubuh dan biasanya memerlukan tenaga. Tujuan latihan gerakan kasar
adalah agar anak dapat terampil dan tangkas melakukan berbagai gerakan
yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
2) Perkembangan Kemampuan Gerakan Halus
Gerakan Halus adalah gerakan yang dilakukan oleh bagian-bagian tubuh
tertentu saja dan hanya melibatkan sebagian kecil otot tubuh. Gerakan halus
tidak memerlukan tenaga yang besar, tetapi
perlu memusatkan perhatian (kerjasama) mata dengan anggota tubuh (tangan
dan kaki). Tujuan latihan gerakan halus adalah agar seorang anak kelak
dapat terampil dan cermat menggunakan jemarinya dalam kehidupan sehari-
hari, khususnya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah seperti menulis atau
menggambar.
3) Perkembangan Kemampuan Memahami Ucapan Orang Lain (Komunikasi Pasif)
Komunikasi Pasif adalah kemampuan memahami isyarat dan pembicaraan
orang lain. Tujuan latihan kemampuan mengerti isyarat pembicaraan adalah
agar anak dapat lebih mudah mengerti, menangkap dan memahami maksud
dan penjelasan orang lain.
4) Perkembangan Kemampuan Berbicara (Komunikasi Aktif)
Komunikasi aktif adalah kemampuan menyatakan perasaan, keinginan dan
pikiran, baik melalui tangisan, gerakan tubuh isyarat, maupun kata-kata. Tujuan

9 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

latihan kemampuan dengan isyarat kata-kata agar anak mengungkapkan diri


dengan baik sesuai dengan tahapan usianya.
5) Perkembangan Kemampuan Kecerdasan
Cerdas erat kaitannya dengan kemampuan berpikir. Cerdas artinya cepat
tanggap, cepat memahami, mampu dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
tertentu, menyelesaikan masalah sesuai dengan usianya dan mempunyai banyak
gagasan. Agar potensi kecerdasan anak dapat berkembang dengan optimal,
maka perlu dirangsang pertumbuhan dan perkembangannya sejak dalam
kandungan.
6) Perkembangan Kemampuan Menolong Diri Sendiri
Menolong diri sendiri adalah kemampuan dan keterampilan seorang anak untuk
melakukan sendiri kegiatan sehari-hari untuk dirinya sendiri agar secara bertahap
tidak bergantung pada orang lain. Tujuan latihan kemampuan menolong diri
sendiri adalah agar anak mampu melakukan sendiri kegiatan sehari-hari, sehingga
merasa percaya diri, berani dan tidak merepotkan orang lain.
7) Perkembangan Kemampuan Bergaul (Tingkah Laku Sosial)
Bergaul berarti menjalin hubungan yang baik dengan anggota keluarga maupun
dengan orang lain. Tujuan latihan kemampuan bergaul adalah agar anak dapat
mudah berkawan, tidak merasa canggung ketika memasuki lingkungan baru,
serta mengerti disiplin, sopan santun dan aturan-aturan yang ada, baik di dalam
rumah maupun di luar rumah.

C. Faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini

Beberapa faktor mendasar dalam proses perkembangan anak


1) Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor bawaan. Seperti contoh: ada
anak yang lahir dengan memiliki penyakit bawaan asma. Apabila orang tua/
keluarga kurang memperhatikan hal tersebut, maka perkembangan kemampuan
dalam bersosialisasinya bisa terlambat.
2) Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan adalah
faktor utama yang menentukan kecepatan pertumbuhan mental. Orang tua
dapat membantu perkembangan otak bayi dengan memberikan stimulasi
dan reaksi yang tepat. Stimulasi ini sangat penting pada tahun pertama dan
kedua anak, yaitu ketika bayi pertama kali mengenal dunia sekitarnya. Seperti
contoh: seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang kasih
sayang, terutama karena hubungan ayah ibunya kurang harmonis, maka proses
perkembangan kepribadiannya bisa terganggu. Anak akan lebih mudah murung
dan marah.
3) Tumbuh kembang anak berjalan secara bertahap. Pada setiap tahapan
perkembangan selama tahun pertama hidupnya, seorang bayi akan
mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang berbeda-beda. Orang tua
sangat penting untuk mengetahui dan mengenal tahap-tahap perkembangan

10 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
anak sehingga dapat melakukan beberapa aktivitas bersama anak untuk
meningkatkan dan mengoptimalkan perkembangan fisik dan mentalnya. Seperti
contoh: seorang anak pada awalnya belajar bicara dengan meniru suara, lalu
meniru kata-kata ayah ibunya, dan pada akhirnya dapat menggunakan kata-
katanya sendiri.
4) Setiap anak berkembang sebagai individu yang unik. Seperti contoh: ada anak
yang usia 1 (satu) tahun sudah dapat berbicara kalimat sederhana, namun ada
pula pada umur yang sama yang hanya baru bisa mengucapkan 1 atau 2 kata
sederhana.

D. Rangkuman

Perkembangan merupakan proses perubahan yang teratur dari satu tahapan


ketahapan selanjutnya, artinya perkembangan anak mencakup perkembangan
mental, kecerdasan, tingkah laku, budi pekerti sikap dan sebagainya. Apabila
diamati, anak berkembang melewati proses pematangan, berlangsung secara
bertahap dan dalam waktu tertentu. Kemampuannya meningkat dari sederhana
menjadi kemampuan yang lebih sulit.
Aspek-aspek perkembangan anak usia dini terdiri atas:
1. Perkembangan Kemampuan Gerakan Kasar
2. Perkembangan Kemampuan Gerakan Halus
3. Perkembangan Kemampuan Memahami Ucapan Orang Lain
(Komunikasi Pasif)
4. Perkembangan Kemampuan Berbicara (Komunikasi Aktif)
5. Perkembangan Kemampuan Kecerdasan
6. Perkembangan Kemampuan Menolong Diri Sendiri
7. Perkembangan Kemampuan Bergaul (Tingkah Laku Sosial)

Faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini terdiri atas:


1. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor bawaan
2. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
3. Tumbuh kembang anak berjalan secara bertahap.
4. Setiap anak berkembang sebagai individu yang unik.

11 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

E. Latihan

1. Diskusikan dengan teman Anda bagaimana pertumbuhan dan perkembangan


Q
Balita di lingkungan RT Anda!.
2. Lakukan pengamatan di wilayah RT Anda, apakah ada Balita yang terhambat
pertumbuhan dan perkembangannya? buatlah laporannya!
3. Bagaimana langkah-langkah yang dilakukan untuk mendukung aspek
pertumbuhan dan perkembangan Balita, Diskusikan dengan teman Anda!
4. Kemukakan pendapat Anda, bagaimana meningkatkan kemampuan gerak
kasar anak Balita?
5. Buatlah simpulan dalam 1 paragraf faktor

12 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
BAB III
STIMULASI GERAKAN KASAR DAN
GERAKAN HALUS ANAK
Indikator Hasil Belajar:
setelah mempelajari BAB III ini, peserta diklat diharapkan dapat
mempraktikkan stimulasi gerakan kasar dan gerakan halus anak Balita

13 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

A.Pengertian gerakan kasar dan gerakan halus anak usia dini

Para Pengelola BKB, perlu diketahui bahwa tahap pertumbuhan dan perkemban-
gan anak perlu didukung agar dapat mengoptimalkan seluruh kapasitas fisik mau-
pun mental yang dimiliki anak kita. Orang tua sebaiknya memanfaatkan masa emas
anak, yaitu usia 0-5 tahun secara optimal karena masa tersebut tidak akan terulang
kembali. Orang tua harus berperan aktif memberikan rangsangan/stimulasi pada
masa emas ini, baik dengan pemenuhan kebutuhan gizi, stimulasi fisik dan psikis.
Dengan memberikan stimulasi yang tepat maka anak dapat tumbuh dan berkem-
bang secara optimal.

Anak usia 0-12 bulan perlu mendapat stimulasi untuk dapat melakukan melatih
koordinasi seluruh anggota tubuhnya untuk mulai melakukan respon atau gera-
kan-gerakan dari mulai yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Seorang
anak mulai melakukan gerakan kasar dan gerakan halus. Gerakan Kasar adalah
gerakan yang dilakukan dengan melibatkan sebagian besar otot tubuh dan biasan-
ya memerlukan tenaga. Tujuan latihan gerakan kasar adalah agar anak dapat ter-
ampil dan tangkas melakukan berbagai gerakan yang diperlukan untuk menyesuai-
kan diri dengan lingkungannya.

Sedangkan Gerakan Halus adalah gerakan yang dilakukan oleh bagian-bagian


tubuh tertentu saja dan hanya melibatkan sebagian kecil otot tubuh. Gerakan ha-
lus tidak memerlukan tenaga yang besar, tetapi perlu memusatkan perhatian (ker-
jasama) mata dengan anggota tubuh (tangan dan kaki). Tujuan latihan gerakan
halus adalah agar seorang anak kelak dapat terampil dan cermat menggunakan
jemarinya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk mengerjakan tugas-tugas
sekolah seperti menulis atau menggambar.

B. Stimulasi gerakan kasar menurut tahapan


perkembangan anak usia dini

Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak oleh lingkungan


(ayah, ibu, anggota keluarga lain, pengasuh anak) untuk mempercepat tumbuh
kembang anak. Stimulasi ini perlu diberikan sejak konsepsi sampai kelahiran bayi ser-
ta pada masa perkembangannya. Orang tua dapat memberikan stimulasi dini yang
memadai yaitu dengan cara merangsang otak balita agar perkembangan motorik,
berbicara, berbahasa, bersosialisasi dan kemandiriannya dapat berkembang opti-
mal sesuai usia anak.

Stimulasi yang dapat diberikan orang tua untuk mengoptimalkan perkembangan


motorik kasar anak menurut tahapan perkembangan anak adalah:

14 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Ciri Perkembangan Motorik Kasar Anak Stimulasi yang dapat diberikan orang tua

A. Usia 1-2 Tahun •Melatih anak berjalan mundur dan mengikuti garis lurus
• Belajar berjalan mundur
• Belajar berjalan mengikuti garis lurus

B. Usia 2-3 Tahun •Melatih anak untuk melompat dan berdiri satu kaki
• Melompat dengan dua kaki jatuh bersamaan •Mengajak anak bermain lempar, tangkap, tending dan kejar
• Berdiri di satu kaki bola
• Melempar, menangkap dan menendang bola •Mengajak anak menari sambil mendengarkan music
• Melakukan gerakan sesuai irama •Mengajak anak menaiki tangga dengan kaki bergantian
• Menaiki tempat tinggi
• Berlari
• Mulai makan dan berpakaian sendiri

C. Usia 3-4 Tahun


• Berlari dan meloncat menghindari rintangan •Mengajak anak berlari dan meloncat sambil melompati benda
• Berdiri dengan satu kaki selama 5-10 detik (misalnya balok)
• Berjalan kearah depan dengan menggunakan •Mengajak anak berdiri dengan satu kaki bergantian
• tumit •Mengajak anak melompati kotak yang digaris dilantai dengan
• Melompat dengan satu kaki sebanyak 3-5 kaki satu kaki
• Menangkap bola •Mengajak anak bermain lempar dan tangkap bola
• Berdiri dengan satu kaki

D. Usia 4-5 Tahun •Bermain bersama anak sehingga anak mengembangkan ket-
• Naik dan turun tangga dengan berganti kaki erampilan fisiknya, seperti naik dan turun tangga sambil diawasi
• Berlari lurus bermain bola, bermain tali, naik sepeda bersama dan berjalan
• Berjalan di balok titian di balok titian
• Melompat dengan satu kaki
• Melempar bola dengan memutar badan, memindahkan tump-
uan badan pada kaki tertentu, dan menangkap bola dengan
satu tangan
• Naik sepeda roda tiga
• Lompat ke belakang

E. Usia 5-6 Tahun •Sering beraktivitas bersama anak dengan mengajak anak ber-
• Berdiri dengan satu kaki bergantian selama 10 detik jalan mundur, berjinjit, lomba lari, lompat tali, lompat dengan
• Berjalan mundur dengan berjinjit sejauh 2 meter satu kaki, menangkap, melempar dan menangkap bola
• berlari dengan cepat dan stabil •Mengajari anak bersepeda roda dua
• Lompat ke depan maupun mundur 5 kali berturut-turut
• Lompat tali 10 kali berturut-turut
• Lari ke depan sambil menendang bola
• Naik sepeda roda dua

C. Stimulasi gerakan halus menurut tahapan


perkembangan anak usia dini

Berikan stimulasi/rangsangan untuk mengoptimalkan pertumbuhan otak. Semak-


in banyak stimulasi yang diterima, maka semakin banyak sambungan yang terjadi
antar sel-sel syaraf otak. Stimulus perlu disesuaikan dengan usia anak dan diberi-
kan lewat permainan dalam suasana yang menyenangkan, penuh kegembiraan
dan kasih sayang. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan keterlambatan tumbuh
kembang anak.

Adapun stimuasi gerakan halus yang dapat diberikan orang tua pada anak
menurut tahap perkembangannya, yaitu:

15 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

Ciri Perkembangan Motorik Halus Stimulasi yang dapat diberikan orang tua

A. Usia 0-6 bulan •Merangsang pendengaran dengan mengajak bicara bayi


• Mengisap putting ibu pada setiap kesempatan
• Memutar kepala saat leher atau mulutnya disentuh •Merangsang penglihatan dengan mengajak bayi
• Mengomunikasikan dan mengekspresikan emosi tersenyum, peluk dan menimang bayi
melalui berbagai cara, seperti menangis, memalingkan wajah, •Berikan mainan warna kontras (hitam dan putih)
dsb •Berikan mainan denganwarna primer (merah, biru, kuning)
• Mendengar berbagai suara, terutama suara ibu •Merangsang taktil/perabaan bayi dengan mengusap ba-
• Melihat benda yang jaraknya 20-30 cm gian tubuh bayi dengan sentuhan penuh kasih saying
• Mengikuti benda bergerak dengan 2 bola matanya
• Membedakan warna, setelah bayi berusia 2 bulan
• Membawa tangan ke mulut

B. Usia 6-12 bulan •Merangsang kemampuan motorik kasar dengan melatih


• Mengangkat kepala dan tubuh bagian atas saat berbaring anak mendudukannya dengan menggunakan ganjal ban-
tengkurap tal
• Mengikuti gerakan orang dengan mata •Setelah anak bisa duduk, maka dapat melatihnya untuk
• Meraih benda merangkak dan berdiri dengan memegangnya
• Duduk tanpa bantuan •Merangsang kemampuan motorik halus dengan mem-
• Merangkak berikan mainan dan meletakkan mainan yang menarik di
• Berjalan beberapa langkah sambil berpegangan depan anak
• Memindahkan benda dari tangan kanan ke kiri atau sebaliknya

C. Usia 1-2 Tahun


• Mampu menumpuk 2 benda atau lebih •Memberikan mainan dan wadahnya
• Mampu mengumpulkan benda di sebuah wadah •Melatih anak memegang dan menggunakan sendok
• Mampu menggunakan sendok •Melatih anak memakai dan melepas baju sendiri
• Belajar memakai dan melepas baju sendiri •Menyediakan kertas dan pensil
• Membuat coretan gambar

D. Usia 2-3 Tahun •Melatih anak untuk meremas dan merokok kertas
• Meremas benda •Memberi contoh meronce manik-manik
• Menggenggam pensil atau krayon •Mengajak anak belajar
• Mencorat-coret saat diberi pensil atau krayon •Menggunting dan melipat kertas
• Menggunakan gunting •Bermain memindahkan air, pasir, biji-bijian ke dalam wa-
• Menuang/memasukkan benda dah seperti toples/baskom
• Memegang benda pipih/datar
• Melipat kertas

E. Usia 3-4 Tahun •Menyediakan permainan balok untuk anak


• Membuat menara dari 9-11 balok •Menyediakan kertas dan pensil
• Membuat gambar lingkaran, garis, segi empat •Mengajak anak meronce dan menggunting
• Menuang/memasukkan benda ke dalam wadah •Mengajak anak memasukkan air, pasir atau biji-bijian ke
• Meronce dalam wadah seperti botol atau mangkok
• Menggunting

F. Usia 4-5 Tahun •Melatih anak untuk berpakaian dan makan sendiri
• Membuka dan memasang kancing baju tanpa bantuan serta •Mengajari anak menjepit dan melipat kertas
memakai baju sendiri •Mengajak anak menggambar dan mewarnai
• Menjepit kertas dengan penjepit kertas dan merapikan lipatan •Mengajak anak bermain dengan balok
kertas dengan jari •Memberikan aktivitas yang memungkinkan anak untuk
• Mampu makan dengan menggunakan sendok dan garpu memperkuat jari dan tangannya
• Meronce
• Menggunakan alat tulis untuk menggambar, mewarnai dan
menebalkan huruf

G. Usia 5-6 Tahun •Menyediakan kertas dan alat tulis serta gunting pada anak
• Menggunakan pisau untuk memotong lilin/tanah liat •Bersana anak beraktivitas menggunting bentuk serta
• Mengikat tali sepatu sendiri menggambar, mewarnai dan meniru huruf/bentuk
• Memegang pensil dengan 3 jari secara tepat
• Meniru huruf
• Mewarnai dengan tidak keluar garis
• Menggambar bentuk segitiga, persegi panjang dan belah
ketupat

16 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
D. Rangkuman

Anak usia 0-12 bulan perlu mendapat stimulasi untuk dapat melakukan melatih
koordinasi seluruh anggota tubuhnya untuk mulai melakukan respon atau gera-
kan-gerakan dari mulai yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Seorang
anak mulai melakukan gerakan kasar dan gerakan halus. Gerakan Kasar adalah
gerakan yang dilakukan dengan melibatkan sebagian besar otot tubuh dan biasan-
ya memerlukan tenaga. Tujuan latihan gerakan kasar adalah agar anak dapat ter-
ampil dan tangkas melakukan berbagai gerakan yang diperlukan untuk menyesuai-
kan diri dengan lingkungannya.

Sedangkan Gerakan Halus adalah gerakan yang dilakukan oleh bagian-bagian


tubuh tertentu saja dan hanya melibatkan sebagian kecil otot tubuh. Gerakan ha-
lus tidak memerlukan tenaga yang besar, tetapi perlu memusatkan perhatian (ker-
jasama) mata dengan anggota tubuh (tangan dan kaki). Tujuan latihan gerakan
halus adalah agar seorang anak kelak dapat terampil dan cermat menggunakan
jemarinya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk mengerjakan tugas-tugas
sekolah seperti menulis atau menggambar.

E. Latihan

1. Amatilah perkembangan anak balita ketika meraih sesuatu apakah termasuk


gerakan halus atau kasar!
Q
2. Bagaimana merangsang gerakan halus!
3. Bagaimana merangsang gerakan kasar!
4. Diskusikan dengan teman Anda, bagaimana solusi agar gerakan halus anak
balita tidak terhambat?
5. Diskusikan dengan teman Anda, bagaimana caranya orang tua memantau
perkembangan gerakan anak balita?

17 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

BAB IV
STIMULASI KOMUNIKASI AKTIF,
KOMUNIKAS PASIF DAN
KECERDASAN ANAK USIA DINI
Indikator Hasil Belajar:
setelah mempelajari BAB IV ini, peserta diklat diharapkan dapat
mempraktikkan stimulasi komunikasi aktif, komunikasi pasif dan
kecerdasan anak usia dini

18 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Dalam lima tahun terakhir, kasus keterlambatan bicara pada anak usia balita
meningkat signifikan dibandingkan kasus gangguan tumbuh kembang anak lainnya.
Penyebab utamanya adalah stimulus berupa komunikasi aktif dari orang tua kepada
anak yang kurang. Demikian diungkapkan Anggota Divisi Tumbuh Kembang Anak
Rumah Sakit Umum Dr Soetomo dr Ahmad Suryawan SpA(K), Minggu (18/1) di
Surabaya. Pada usia nol hingga enam tahun, anak mengalami perkembangan
dasar otak. Karena itu, anak harus selalu dirangsang untuk berkomunikasi aktif agar
sel-sel jaringan otaknya berkembang. Berdasarkan teknologi imaging otak yang
mampu merekam fungsi otak, antara usia nol hingga enam tahun anak memasuki
masa kritis perkembangan otaknya. Masa kritis adalah periode di mana jika pada
periode tersebut terdeteksi adanya gangguan dan tidak segera diketahui dan
ditangani dapat menyebabkan kelainan yang bersifat permanen. Orang tua
juga perlu mengetahui bahwa untuk mengembangkan kemampuan anak balita
dalam pertumbuhan dan perkembangannya maka harus dirangsang dengan
menggunakan alat atau media interaksi agar kemampuan berfikir, berbicara,
bergaul anak balita yang terpendam akan dapat dimunculkan dan dimanfaatkan
secara optimal.

A. Komunikasi Efektif antara orang tua dan anak Balita

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pikiran dan perasaan melalui


bahasa, pembicaraan, mendengar, gerak tubuh atau ungkapan emosi. Sebuah
penelitian mengungkapkan bahwa 70% dari waktu bangun kita, digunakan
untuk berkomunikasi.Mulai dari bangun tidur, interaksi dengan anggota keluarga;
beraktivitas diluar rumah juga melibatkan komunikasi, yang menjadi pertanyaan
adalah apakah komunikasi yang kita lakukan tersebut apakah berhasil?dengan
kata lain, apakah sudah efektif komunikasi yang kita lakukan? Seberapa efektifkah
komunikasi yang telah dilakukan?

Secara sederhana, komunikasi efektif terjadi apabila orang berhasil menyampaikan


apayang dimasudkannya. Menurut Tubbs, (Yusrizal:2005) ”secara umum, komunikasi
dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh
pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan
dipahami oleh penerima.

Komunikasi antara orang tua dan anak pada dasarnya harus terbuka. Komunikasi
yang terbuka diharapkan dapat menghindari kesalahpamahan. Dalam batas-batas
tertentu sifat keterbukaan dalam komunikasi juga dilaksanakan dengan anak-anak,
yaitu apabila anak-anak telah dapat berpikir secara baik.
a. Tujuan Komunikasi Efektif
• Membangun hubungan yang harmonis dalam keluarga keterbukaan dan
mendengar

19 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

• Membuat keluarga mau bicara pada saat menghadapi masalah


• Membuat keluarga mau mendengar dan menghargai saat orang bicara
• Membantu keluarga menyelesaikan masalah
b. Hal apa yang sering dilakukan orang tua dalam berkomunikasi
• Lebih banyak bicara daripada mendengar
• Merasa lebih tahu banyak daripada lawan bicara
• Cenderung memberi arahan dan nasihat
• Tidak berusaha untuk mendengar dulu apa yang sebenarnya terjadi dan apa
yang dialami oleh lawan bicara
• Tidak memberi kesempatan agar orang lain mengemukakan pendapatnya
• Tidak mencoba menerima dahulu kenyataan yang dialami
• Merasa putus asa dan marah-marah karena tidak tahu lagi apa yang harus
dilakukan
c. Kiat-kiat Berkomunikasi orang tua dengan anak
• Dengarkan dulu apa yang diungkapkan anak, untuk itu orang tua harus
Membuka dan menerima keadaan anak apa adanya
• Peka dan memperhatikan sungguh-sungguh ungkapan, percakapan, nada
suara, gerakan
• Sabar mau mendengar pernyataan anak.
• Jangan memutus pembicaraan anak
d. Pahami perasaan anak, orang tua harus :
• Mendorong anak untuk mengungkapkan perasaan
• Pahami apa yang diharapkan, dipikirkan, dicemaskan anak
• Bantu anak untuk dapat memecahkan permasalahan dari sudut
pandang anak
• Gunakan bahasa tubuh dengan menepuk, membekai, mendekap.

e. Perhatikan inti pesan yang diungkapkan anak


f. Gunakan pesan “Saya” bukan pesan “Kamu”
• Usahakan untuk sejajar dengan anak waktu bicara
• Jongkok setinggi anak atau pangku agar seperti setinggi orang tuanya
• Pandang mata anak, ajarkan untuk menatap mata orang tuanya ketika
berbicara
• Bicara tenang dan pelan, jangan berteriak, kontrol emosi orang tua
• Gunakan kata2 sederhana yang mudah dipahami
g. Kekeliruan dalam berkomunikasi
• Bicara tergesa-gesa
• Tidak kenal diri sendiri
• Lupa bahwa setiap individu itu unik
• Perbedaan antara kebutuhan dan kemauan
• Tidak membaca bahasa tubuh

20 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
• Tidak mendengar perasaan
• Menggunakan 12 gaya arogansi:
1) Memerintah
2) Menyalahkan
3) Meremehkan
4) Membandingkan
5) Mencap/memberi label
6) Mengecam
7) Menasehati
8) Membohongi
9) Menghibur
10) Mengeritik
11) Menyindir

B. Perkembangan kemampuan komunikasi pasif anak usia dini

Komunikasi pasif adalah kesanggupan untuk mengerti isyarat dan pembicaraan


orang lain. Contoh; menengok kearah sumber suara, mengerti kalimat sederhana,
senang mendengarkan cerita, mengerti dan dapat melaksanakan perintah dari
yang sederhana hingga yang lebih sukar.
1. Perkembangan Komunikasi pasif anak 0-1 tahun
• Berekasi terhadap pembicaraan orang dengan melihat pembicara
• Memberi reaksi terhadap bermacam-macam suara
• Menengok ke arah datangnya suara
• Memberi reaksi dengan gerakan terhadap perkataan yang disertai dengan
gerakan
• Menghentikan kegiatan kalau mendengar ada perintah
2. Perkembangan Komunikasi pasif anak 1-2 tahun
• Memberi reaksi tepat apabila ditanya “di mana”
• Mengerti kata arti “ di dalam dan di bawah”
• Menjalankan perintah untuk membawa benda yang dikenal dari ruangan lain
• Mengerti kalimat sederhana paling banyak 2 kata saja
• Mengerti dua perintah sederhana yang paling berhubungan
3. Perkembangan Komunikasi pasif anak 2-3 tahun
• Menunjuk beda umum yang sudah dikenal apabila benda tersebut disebut
• Dapat mengenal benda apabila diberitahukan kegunaanya
• Mengerti bentuk pertanyaan “apa dan di mana”
• Mengerti kata larangan “ tidak, jangan, bukan, tidak dapat”
• Senang mendengarkan cerita yang sederhana dan minta diceritakan lagi
4. Perkembangan Komunikasi pasif anak 3-4 tahun
• Mulai memahami kalimat yang memakai konsep waktu

21 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

• Mengerti perbandingan dalam hal ukuran, membandingkan dua benda


• Memahami konsep sebab akibat
• Mengerti dan dapat melaksanakan 2-4 perintah/petunjuk yang ada
• Mengerti kalau diberitahu
5. Perkembangan Komunikasi pasif anak 4-5 tahun
• Dapat mengikuti 3 perintah yang tak berhubungan dalam urutan yang tepat
• Mengerti perbandingan sesuatu sifat dari benda/orang secara bertingkat (bi
asa-lebih-paling)
• Mendengarkan cerita yang panjang
• Menggabungkan perintah lisan ke dalam kegiatan
• Mengerti kejadian-kejadian apabila diberitahu

C. Perkembangan Kemampuan Komunikasi Aktif Anak Usia Dini

Perkembangan kemampuan komunikasi aktif yaitu kemampuan untuk menyatakan


perasaan dan keinginannya melalui tangisan, gerakan tubuh, maupun dengan
kata-kata. Sebagai makhluk sosial, anak akan selalu berada diantara atau bersama
orang lain. Agar dicapai saling pengertian maka diperlukan suatu komunikasi,
dimana bahasa merupakan alat untuk menyatakan pikiran dan perasaannya. Baik
komunikasi pasif maupun yang aktif, keduanya perlu dikembangkan yaitu dengan
cara melatih anak secara bertahap agar mau dan mampu berkomunikasi seperti
berbicara, mengucapkan kalimat-kalimat, menyanyi dan ungkapan verbal (lisan)
lainnya.

Berikut penjelasan singkat mengenai tahapan perkembangan komunikasi anak,


menurut Indonesian Pediatric Society.
• Usia 0-6 bulan
Menangis adalah cara komunikasi bayi pada saat lahir. Namun, pada usia 2-3
bulan, bayi sudah dapat membuat suara yang disebut cooing. Mendekati usia 6
bulan, bayi sudah mulai melakukan babbling (celotehan), dan dapat mengoceh
dengan suku kata sederhana. Selain itu, ocehan bayi pun disertai dengan ekspresi
wajah yang sesuai dengan emosinya. Sebaiknya waspada jika pada usia 6 bulan
bayi tidak mulai babbling.
• Usia 6-12 bulan
Pada awal usia ini, bayi mulai mengerti nama orang dan benda, serta sudah
mengerti konsep perbedaan ‘ya’ dan ‘tidak’. Selain itu, bayi pun dapat
mengucapkan kata-kata sederhana, seperti papa atau mama tanpa arti. Bayi
pun sudah mulai menyatakan keinginannya melalui isyarat. Pada usia 12 bulan,
bayi sudah mengerti sekitar 70 kata. Sebaiknya waspada, jika pada usia ini bayi
tidak menunjukkan ekspresi, dan tidak dapat menunjuk dengan jari.
• Usia 12-18 bulan
Kosakata anak akan bertambah dengan pesat pada usia 15 bulan, dan dapat

22 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
mengucapkan 3-6 kata dengan arti. Namun, pada saat usia 18 bulan, kosakatanya
dapat mencapai 5-50 kata, yang diucapkan anak untuk mengungkapkan
keinginannya. Sebaiknya Anda waspada, jika anak tidak mulai mengucapkan
kata-kata berarti pada usia 16 bulan.
• Usia 18-24 bulan
Pada rentang usia ini, anak akan memiliki kosakata baru dan senang
mendengarkan cerita. Pada usia 2 tahun, sekitar 50% bicaranya sudah dapat
dimengerti oleh orang lain. Sebaiknya Anda waspada, jika tidak ada kalimat 2
kata yang diucapkannya, yang dapat dimengerti orang dewasa pada saat usia
anak 2 tahun.
• Usia 2-3 tahun
Setelah usia 2 tahun, hampir semua kata yang diucapkan anak sudah dapat
dimengerti orang dewasa. Pada usia 3 tahun, anak sudah dapat menyebutkan
nama atau benda. Secara umum, pada usia berapapun, sebaiknya bawalah anak
Anda ke dokter, agar lebih jelas mengenai pertumbuhan dan perkembangannya,
termasuk dalam hal kelancarannya belajar bicara. Jika anak Anda mengalami
salah satu tanda waspada di atas, sebaiknya segera hubungi dokter, dan meminta
pertolongan.

Otak si Kecil berkembang sangat pesat pada usia 1-2 tahun. Perkembangan otak
tersebut juga ditandai dengan meningkatnya kemampuan berbicara pada si Kecil.
Kemampuan bicara merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki si Kecil.
Dengan kemampuan berbicara, si Kecil akan belajar berkomunikasi.
Melalui komunikasi, anak dapat memperbanyak kosa kata dan mengembangkan
daya penerimaan dan juga daya ingatnya. Kelancaran berbicara anak pada usia
1-2 tahun juga menjadi tanda tumbuh kembang yang sehat, cerdas, dan pintar.

Bagi orangtua khususnya Ibu pastinya khawatir jika si Kecil mengalami keterlambatan
dalam berkomunikasi atau berbicara. Penting bagi Ibu untuk mengetahui tahapan
perkembangan bicara si Kecil mulai usia 0-24 bulan

D. Perkembangan Kecerdasan Anak


Usia Dini

Pada anak Balita, kemampuan berpikir mula-mula


berkembang melalui kelima inderanya. Ia melihat
warna-warna, mendengar suara atau bunyi-bunyi,
mengenal rasa dan seterusnya. Daya pikir dan
pengertian mula-mula terbatas pada apa yang nyata
yang dapat dilihat dan dipegang atau dimainkan.
Kemudian berbagai konsep atau pengertian akan
dimiliki, seperti konsep tentang benda, warna, manusia, bentuk, dan lain-lain. Semua

23 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

konsep ini kemudian memungkinkan anak melakukan pemikiran-pemikiran ke tingkat


yang lebih tinggi, yang lebih abstrak dan majemuk.

Otak si Kecil berkembang sangat pesat pada usia 1-2 tahun. Perkembangan
otak tersebut juga ditandai dengan meningkatnya kemampuan berbicara pada
si Kecil. Kemampuan bicara merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki si
Kecil. Dengan kemampuan berbicara, si Kecil akan belajar berkomunikasi.Melalui
komunikasi, anak dapat memperbanyak kosa kata dan mengembangkan daya
penerimaan dan juga daya ingatnya. Kelancaran berbicara anak pada usia 1-2
tahun juga menjadi tanda tumbuh kembang yang sehat, cerdas, dan pintar.

Bagi orangtua khususnya Ibu pastinya khawatir jika si Kecil mengalami keterlambatan
dalam berkomunikasi atau berbicara. Penting bagi Ibu untuk mengetahui tahapan
perkembangan bicara si Kecil mulai usia 0-24 bulan sebelum memberikan stimulasi
perkembangan bicara. Tahapan perkembangan bicara tersebut antara lain:

• Usia 0-3 bulan:


Si Kecil hanya mampu mengeluarkan suara
seperti menangis ataupun tertawa.
• Usia 4-6 bulan:
Si Kecil mulai bisa mengeluarkan kata
pengulangan seperti “Ma..ma” dan
“Pa..pa”.
• Usia 7-8 bulan:
Si Kecil mulai mampu menggabungkan
beberapa kata untuk diucapkan. Misalnya,
“Mama makan”,
“Minum susu”.
• Usia 9-12 bulan:
Si Kecil mulai memiliki kemampuan berbicara aktif dengan menirukan apa
yang Ibu ucapkan.
• Usia 12-24 bulan:
Si Kecil sudah mampu berbicara dengan baik dengan perbendaharaan
kata yang banyak dan telah bisa mengasah kemampuan berbicara sehingga Ibu
mengerti apa yang si Kecil katakan.

Setelah mengetahui bagaimana tahapan perkembangan berbicara si Kecil,


langkah yang harus orangtua khususnya Ibu lakukan adalah dengan memberikan
stimulasi yang tepat bagi perkembangan berbicara si Kecil. Berikut 4 hal yang dapat
memberikan stimulasi perkembangan berbicara anak usia 1-2 tahun:
1. Berkomunikasi
Mengajak si Kecil berkomunikasi akan membantu si Kecil menjadi anak yang

24 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
komunikatif. Ibu perlu mengajak si Kecil berkomunikasi sejak dini kapanpun dan
dimanapun. Perlu bagi Ibu untuk mengenalkan si Kecil dengan nama-nama benda
yang sedang si Kecil pegang ataupun benda yang ada di sekitarnya. Ibu juga
bisa mengajak si Kecil berkomunikasi dengan menceritakan semua kegiatan yang
tengah Ibu lakukan. Terapis wicara di Chicago, Pam Quinn, mengatakan teruslah
berbicara, walaupun tampak konyol karena bayi berusia di bawah 3 tahun belum
pandai menjawab dan menanggapi. Dengan berbicara kepada si Kecil, Ibu telah
mengajarkan si Kecil tidak hanya pada kemampuan berbicara namun juga pada
aspek sosial si Kecil.

2. Jadi “Role Model” Si Kecil


Menjadi “role model” si Kecil dapat dilakukan dengan memperbaiki kesalahan
kalimat yang mungkin saja salah diucapkan. Memperbaiki yang benar adalah
dengan cara merespon ucapan si Kecil dengan penggunaan kalimat atau kata
yang benar. Misalnya, saat si Kecil mengucapkan kata “cucu” untuk susu, Ibu bisa
membenarkannya dengan merespon “iya, ini susumu”. Hindari untuk mengoreksi
ucapannya dengan terang-terangan. Mengoreksi kata-kata si Kecil dengan terang-
terangan dapat membuatnya tidak nyaman dan membuatnya berpikir apa yang si
Kecil lakukan selalu salah di mata Ibu.

3. Bernyanyi dan Bercerita


Bernyanyi dan bercerita merupakan cara efektif yang dapat Ibu lakukan sebagai
stimulasi perkembangan berbicara si Kecil. Pasalnya, tak hanya memberikan
pelajaran pada perkembangan berbicara namun juga merupakan cara bermain si
Kecil yang menyenangkan.
Si Kecil pasti senang untuk diajak bernyanyi. Ibu dapat memilihkan lagu sederhana
yang mudah untuk diingat dan dihafalkan si Kecil. Ibu juga bisa mengajarkan si
Kecil bercerita tentang kesehariannya atau sekedar menceritakan cerita dongeng
kepadanya.
Bernyanyi dan bercerita mampu mengembangkan kosa kata berbahasanya
serta melatih daya ingatnya pada suatu hal salah satunya melalui lagu.

4. Instruksi dan Pertanyaan


Penting bagi Ibu untuk memberikan instruksi dan pertanyaan untuk mengasah
kemampuan berbicara si Kecil. Dengan memberikan instruksi kecil seperti “Dik,
ambilkan Ibu sendok makan”, si Kecil akan mengetahui kosa kata benda dan belajar
menanggapi seperti “Dimana?”, “Ini ya bu?”. Stimulasi lain juga dapat diberikan
melalui pertanyaan. Tanyakan hal-hal sederhana yang sekiranya mampu untuk si
Kecil tanggapi. Misalnya, “Adik tadi sore main dimana?”.“Adek mau makan?”, dan
sebagainya.

Stimulasi yang Ibu berikan melalui perkataan, akan si Kecil simpan dalam

25 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

memorinya dan suatu saat si Kecil akan meniru apa yang dia dengarkan, baik yang
diajarkan orangtua maupun lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, penting juga
bagi Ibu untuk selalu mengajarkan si Kecil berbicara dengan kata-kata yang positif
dan tetap menjaga lingkungan si Kecil agar tetap kondusif.

Mari kita tengok bersama makna kata cerdas dan kecerdasan. Cerdas berdasarkan
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kondisi kemampuan anak dalam berpikir,
tajam berpikir, sempurna perkembangan akal budinya. Sedangkan kecerdasan
adalah kesempurnaan perkembangan akal budi dalam rangka menyelesaikan
persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan anak dapat diketahui sejak usia dini. Mereka akan memasuki usia
0-7 tahun ketika berada di dalam masa eksplorasi. Pada saat ini orang tua dapat
mengenali dan menggali potensi kecerdasan anak. Salah satu caranya adalah
dengan membebaskan anak untuk memilih aktivitas yang disenanginya. Pada
masa ini, anak-anak memasuki usia keemasan dimana perkembangan sel sarafnya
berkembang dengan pesat. Oleh karena itu, stimulasi oleh orang tua dan pendidik
sangat diperlukan untuk meningkatkan kecerdasan anak.

“Kecerdasan seorang anak tidak semata-mata mampu berprestasi di bidang


akademik, mampu menyelesaikan persoalan sehari-hari dan menunjukkan
kemampuan yang gemilang dalam bidang spesifik juga menunjukkan kecerdasan
seseorang.” (Catherine Yusuf, M.Psi., Psi., CGA)

Kecerdasan anak yang kita kenal dapat berupa Intelligence Quotient (IQ)
yang merupakan kecerdasan tunggal dari individu yang pada dasarnya hanya
bertautan dengan aspek kognitif individu tersebut, Emotional Quotient (EQ) yang
merupakan kemampuan mengontrol dan menggunakan emosi, mengendalikan
diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan termasuk kerja sama dan kemampuan
bersosialisasi, serta Spiritual Quotient (SQ) yang merupakan kecerdasan untuk
mengetahui makna dan value, menempatkan perilaku dan hidup pada makna
yang lebih luas.

Berdasarkan cerita pada pembukaan tulisan ini, terdapat kecerdasan majemuk


pada diri kita masing-masing. Kecerdasan majemuk tersebut terdiri dari 8 jenis
kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard Gardner dalam Multiple Intellegence,
yaitu:
• Linguistic intelligence, kemampuan untuk menganalisa informasi yang
berhubungan dengan bahasa
• Logical-mathematical intelligence, kemampuan untuk berhitung dan
menyelesaikan masalah secara abstrak.
• Spatial intelligence, kemampuan untuk mengenali bentuk dan gambar spasial.

26 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
• Musical intelligence, kemampuan untuk menghasilkan, mengingat dan
membaca pola dari suara
• Bodily-kinesthetic intelligence, kemampuan untuk menggunakan tubuh untuk
membuat sesuatu.
• Naturalistic intelligence, kemampuan untuk dapat membedakan berbagai
macam jenis binatang dan tanaman dan beberapa cuaca.
• Interpersonal intelligence, kemampuan untuk memahami motivasi, keinginan,
dan kondisi emosi orang lain.
• Intrapersonal intelligence, kemampuan untuk memahami motivasi, keinginan,
dan kondisi emosi diri sendiri.

Semakin banyaknya jenis kecerdasan anak menyadarkan orang tua bahwa anak
itu tidak hanya pintar di satu bidang, tetapi mereka dapat memiliki kecerdasan di
berbagai bidang, tidak hanya di bidang eksak saja. Hal ini dapat membuat orang
tua untuk dapat mengenali kecerdasan dan bakat anak. Seringkali kita jumpai
pemaksaan yang dilakukan orang tua terhadap anak agar berkembang menurut
apa yang mereka sukai/inginkan. Padahal, anak akan berkembang lebih pesat
apabila diasah sesuai dengan bidang yang diminatinya.

Para orang tua hendaknya sering menghabiskan waktu bersama anak-anaknya


melalui kegiatan-kegiatan seru di dalam atau di luar rumah, saat liburan ataupun hari-
hari biasa. Kegiatan yang mampu mengoptimalkan kecerdasan dan memancing
anak untuk dapat menunjukkan bakatnya. Prinsip dalam menstimulasi kemampuan
anak adalah tanpa paksaan, bila perlu sambil bermain dan belajar sehingga anak
sadar dan berada di lingkungan yang kondusif untuk melatih kemampuannya.

Sampai saat ini, tidak ada indikator dan alat ukur yang jelas untuk mengukur
kecerdasan seseorang, kecuali untuk mengukur IQ. IQ dapat diukur melalui
serangkaian psikotest, tetapi hasilnya dapat berubah sesuai dengan usia manusia.
Ada beberapa tes yang dapat digunakan, antara lain Wechles Intellegence Scale
for children (WISC) yang digunakan mengukur kemampuan kognitif anak usia 5- 15
tahun, mengukur kemampuan verbal dan logika anak, tes IQ Fischer-Price, yaitu tes
yang digunakan pada anak usia enam bulan hingga satu tahun dan dilakukan pada
orang tua sang bayi. Mereka ditanya 10 pertanyaan mengenai perilaku dan respon
bayi terhadap beberapa situasi., dan Bayley Scales of Infant Development yang
dapat dilakukan pada bayi berumur 1 bulan hingga 42 bulan. Melalui serangkaian
tes IQ dan tes minat bakat, orang tua dapat mengetahui kecerdasan IQ anak serta
peminatan dan bakat mereka. Selain melalui pengukuran kecerdasan standard,
ada cara lain untuk mengetahui kecerdasan seseorang yaitu melalui pengamatan
yang dapat dilakukan oleh guru, pengasuh, dan seluruh anggota keluarga. Selain itu,
peran guru dan pengasuh serta lingkungan sekitar sangat penting dalam mendeteksi
kecerdasan anak sejak dini.

27 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

Nah Bu, penting juga bagi Ibu untuk tidak membanding-bandingkan kemampuan si
Kecil dengan anak lainnya. Perlu diketahui bahwa perkembangan dan pertumbuhan
setiap anak berbeda-beda. Namun, tetap usahakan stimulasi yang maksimal agar
tumbuh kembang si Kecil sesuai, cepat tangkap dan aktif bergerak.

E. Rangkuman

Secara sederhana, komunikasi efektif terjadi apabila orang berhasil menyampaikan


apayang dimasudkannya. Menurut Tubbs, (Yusrizal:2005)”secara umum, komunikasi
dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh
pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan
dipahami oleh penerima.
Komunikasi pasif adalah kesanggupan untuk mengerti isyarat dan pembicaraan
orang lain. Contoh; menengok kearah sumber suara, mengerti kalimat sederhana,
senang mendengarkan cerita, mengerti dan dapat melaksanakan perintah dari
yang sederhana hingga yang lebih sukar.
Perkembangan kemampuan komunikasi aktif yaitu kemampuan untuk
menyatakan perasaan dan keinginannya melalui tangisan, gerakan tubuh, maupun
dengan kata-kata. Sebagai makhluk sosial, anak akan selalu berada diantara atau
bersama orang lain.
Kecerdasan anak yang kita kenal dapat berupa Intelligence Quotient (IQ)
yang merupakan kecerdasan tunggal dari individu yang pada dasarnya hanya
bertautan dengan aspek kognitif individu tersebut, Emotional Quotient (EQ) yang
merupakan kemampuan mengontrol dan menggunakan emosi, mengendalikan
diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan termasuk kerja sama dan kemampuan
bersosialisasi, serta Spiritual Quotient (SQ) yang merupakan kecerdasan untuk
mengetahui makna dan value, menempatkan perilaku dan hidup pada makna

Q
yang lebih luas.

F. Latihan

1. Amatilahperkembangankomunikasi pasif Balita di lingkungan keluarga Anda,


rekamlah apa yang disampaikan Balita tersebut!
2. Amatilah perkembangan komunikasi aktif Balita di lingkungan Anda, analisislah
perbendaanya dengan komunikasi pasif!
3. Bagaimana merangsang komunikasi pasif Balita!
4. Bagaimana merangsang komunikasi aktif Balita!
5. Kecerdasan Balita perlu diperhatikan dari dini, berikan alasannya!

28 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
BAB V
STIMULASI MENOLONG DIRI
SENDIRI DAN
TINGKAH LAKU SOSIAL
Indikator Hasil Belajar:
setelah mempelajari BAB V ini, peserta diklat diharapkan
dapatmempraktikkan stimulasi menolong diri sendiri dan tingkah
laku sosial

29 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

A. Pengertian menolong diri sendiri dan tingkah laku sosial

Proses belajar anak tidak hanya melalui latihan yang diberikan, tetapi juga den-
gan meniru tingkah laku orang dewasa atau anak yang lebih besar sehingga or-
angtua perlu menjadi teladan bagi anak. Salah satu hal yang bisa orangtua lakukan
adalah mengajarkan tentang bagaimana caranya bergaul dan bertingkah laku
yang sesuai dengan norma atau nilai yang dianut keluarga maupun masyarakat.
Kemampuan menolong diri sendiri dan tingkah laku sosial diharapkan dapat mem-
bantu anak untuk menjadi pribadi yang mandiri, mudah bergaul, dan mudah be-
radaptasi dengan lingkungan.

Menolong diri sendiri adalah kemampuan dan keterampilan seorang anak untuk
melakukan sendiri kegiatan sehari-hari untuk dirinya sendiri. Proses anak dalam me-
nolong dirinya sendiri harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan agar ke-
mampuan menolong dirinya sendiri menjadi suatu kebiasaan yang menetap hingga
anak besar. Kemampuan menolong diri sendiri dapat membantu anak mengem-
bangkan keberanian dan kepercayaan dirinya sehingga orangtua harus memberi-
kan kesempatan kepada anak untuk menolong dirinya sendiri meskipun hasilnya
dirasakan kurang maksimal.

Sementara itu, tingkah laku sosial mudah dilihat melalui kemampuan anak dalam
bergaul dan menempatkan dirinya. Anak yang mampu bergaul adalah anak yang
mampu untuk menjalin hubungan yang baik dengan anggota keluarga maupun
dengan orang lain.Tujuan melatih kemampuan bergaul adalah agar anak dapat
mudah berkawan, tidak canggung ketika memasuki lingkungan baru, serta men-
gerti disiplin, sopan santun, dan aturan-aturan, baik di dalam maupun di luar rumah.

B. Stimulasi menolong diri sendiri menurut tahapan


perkembangan anak usia dini
Usia (ta- Tugas perkembangan Alat bantu Kegiatan Manfaat
hun) anak

0-1 Dapat menggunakan alat minum cangkir plastik/gelas Memberi kesempatan anak untuk meningkatkan
(cangkir plastik/gelas plastik) plastik menggunakan cangkir/gelas plastik kemandirian
>>orangtua memberikan cangkir/gelas
plastik yang berisi minuman (air putih
atau susu) kepada anak dan men-
gajarkan cara memegang cangkir/
gelas tersebut kemudian meminumnya.
Kemudian orangtua mengajak anak un-
tuk minum bersama dari cangkir/gelas
masing-masing

30 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Menyuap makanan sendiri Makanan dan alat Memberi kesempatan anak untuk ma-
makan kan sendiri
>>orangtua menyiapkan piring/
mangkok berisi makanan, anak diberi-
kan sendok yang aman bagi usianya.
Orangtua mencontohkan cara me-
megang sendok dan cara menyuapkan
makanan. Kemudian orangtua menga-
jak anak untuk makan bersama meng-
gunakan alat makan masing-masing

1-2 Mampu memakai dan melepaskan Pakaian(baju,cela- Memberi kesempatan kepada anak Melatih penanaman
pakaian sendiri na),sepatu,sandal untuk memakai baju sendiri nilai-nilai kemadirian

Mampu mencuci tangan sendiri Air yang Memberi contoh danmemberikanke- Melatih penanaman
mengalir, sabun sempatan kepada anak cara mencuci niai-nilai kemandirian,
tangan, misalnya sebelum makan (+ memahamipentingn-
praktik 6 langkah cuci tangan yakebersihan tangan

Mampu belajar menggosok gigi Sikat gigi, pasta gigi Memberi contoh dan memberikan ke- Melatih penanaman
sendiri sempatan kepada anak untuk meng- niai-nilai kemandirian,
gosok gigi sendiri memahami penting-
>>orangtua mengajak anak untuk nya
menggosok gigi bersama, orangtua kesehatan gigi
menggunakan gosok gigi dewasa dan
anak diberikan gosok gigi anak-anak.
Orangtua mencontohkan bagaimana
cara menggosok gigi di depan anak

2-3 Bisa mengatakan keinginan untuk Kamar mandi,jam- Orangtua melatih cara buang air besar Melatih anak untuk
buang air kecil dan air besar ban dan buang air kecil, misalnya dengan menyampaikan ke-
bertanya ke anak, “Kenapa kok perutn- inginan dan kebutu-
ya dipegangi? Mulas ya? Mungkin kamu hannya serta menan-
mau BAB, coba yuk ke kamar mandi” amkan nilai disiplin

Makan menggunakan sendok tan- Sendok dan perala- Ketika anak mulai mampu dan terbiasa Meningkatkan ke-
pa tumpah tan Makan menyuap makanan sendiri, orangtua mampuan anak da-
perlu memperhatikan apakah anak lam mengenali benda
mampu menyuap tanpa tumpah. Jika dan menggunakan
masih tumpah, orangtua mendampingi sesuai fungsinya
anak dan me-reward anak misal den-
gan pujian ketika berhasil melakukan-
nya. Pun bila masih belum mampu,
orangtua tetap memuji karena anak
sudah berusaha.
Menuang minuman dariceret/ Ceret/teko/kendi/ Ajari anak menuang air dari teko atau Meningkatkan ke-
teko/kendi/botol ke gelas botol, gelas/cangkir botol ke dalam gelas. Bila sudah ter- mampuan anak da-
ampil, biarkan anak melakukannya lam mengontrol ger-
sendiri(tanpa dibantu) akan-gerakan halus,
melatih kepercayaan
diri, kesabaran, dan
kemandirian

Mencuci tangan, kaki, dan men- Air, sabun, serbet, tis- Biasakan anak untuk mencuci tangan Meningkatkan ke-
geringkannya sue, pemutar sesuai dengan langkah-langkahnya mampuan anak untuk
Kran, keset dan mengeringkannya, misalnya sebe- menjaga kebersihan
lum dan sesudah makan. Orangtua dan kesehatan diri
dapat juga sekaligus mengajarkan
anak untuk mencuci kaki setelah ber-
main di luar dan sebelum tidur

3-4 Mengangkat piring dan gelas kotor Piring dan gelas kotor Ajari anak untuk terbiasa meletakan pir- Melatih kepercayaan
sisa makanan/minumannya ke ing atau gelas sehabis makan ke tem- diri, kesabaran, dan
tempatnya patnya kemandirian

31 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

Cuci tangan dan kaki tanpa dib- Sabun, air mengalir Biasakan anak untuk mencuci tangan Melatih hidup bersih
antu dengan sabun sebelum makan dan kaki dan disiplin
sebelum tidur sendiri tanpa dibantu

Memakai sendiri sandal/sepatu Sandal atau sepatu Melatih anak untuk dapat memakai Melatih kepercayaan
tanpa tali tanpa tali sandal/sepatu tanpa tali diri, kesabaran, dan
kemandirian

4-5 Memegang garpu dan sendok Garpu, sendok, dan Menggunakan garpu dan sendok ketika Kemandirian dan mo-
dengan jari-jari makanan makan torik halus

Menggunakan pisau Makanan, pisau Melatih anak memegang pisau dan Memperkenalkan
menggunakannya cara memegang dan
menggunakan pisau

Melepas pakaian yang tidak ber- Pakaian Beri kesempatan anak untuk membuka Melatih koordinasi tan-
kancing pakaian sendiri tanpa dibantu gan dan mata

Berpakaian sendiri secara mandiri Pakaian Beri kesempatan anak untuk berpaka- Melatih koordinasi
ian sendiri, bila belum mampu, orangtua mata dan tangan,
dapat membimbing kemandirian, percaya
diri

Mengikat tali sepatu Sepatu bertali • Tunjukkan dengan contoh bagaima- Melatih koordinasi
na caranya membuka tali sepatu tangan dan mata, ke-
• Ulangi beberapa kali sampai anak mandirian
dapat mengerjakannya sendiri dengan
benar
Berusaha membuat pita tali sepatu Sepatu bertali Contohkan kepada anak membuat pita Melatih keterampilan
pada tali sepatu dan beri kesempatan tangan
baginya untuk mencoba membuatnya

Belajar cebok sendiri Air Ajari anak untuk membersihkan diri Melatih kebersihan
setelah BAB/BAK, orangtua bisa mem- diri, kemandirian
bantu menuangkan air dan anak yang
membersihkannya

Mengeringkan badan setelah man- Handuk Ajari anak menggunakan handuk untuk Melatih kebersihan
di mengeringkan badan setelah mandi diri, kemandirian

5-6 Dapat memakai pakaian yang ber- Pakaian berkancing Ajari anak untuk memakai pakaian Melatih kemampuan
kancing secara mandiri sendiri anak dan kemandi-
rian

Membuat pita tali sepatu Sepatu bertali Beri kesempatan anak membuat pita Melatih kemampuan
pada tali sepatu dan kreativitas

Toilet training(menyiram WC, cebok - Ajari anak cara mengambil air dengan Melatih kemandirian
sendiri, mengeringkan, dan meng- baik dan menyiram bagian badannya
gunakan celana dalam sendiri) agar bersih dari kotoran. Berikan lap un-
tuk mengeringkannya dan minta anak
memakai kembali pakaiannya
Mandi sendiri Air, sabun, handuk, Beri kesempatan anak untuk mandi Melatih kemandirian
gayung sendiri dengan mengajari anak untuk
menggosok badan dengan sabun,
membersihkan dengan air, dan men-
geringkan badan dengan handuk
Berani dalam suasana baru tanpa - Kenalkan anak pada lingkungan baru Melatih kemandirian
didampingi orangtua atau pen- dan beri kesempatan ia untuk berad- dan keberanian
gasuh aptasi

32 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
C.Stimulasi tingkah laku sosial menurut tahapan
perkembangan anak usia dini

Usia (ta- Tugas perkembangan Alat bantu Kegiatan Manfaat


hun) anak

0-1 Tersenyum dan kontak mata den- Orangtua dan orang Orangtua mengenalkan anak kepada Meningkatkan hubu-
gan orang lain lain belum dikenal orang lain ngan dengan orang
lain dengan rasa
aman

Menunjukkan rasa sayang kepada Mainan, boneka, Orangtua mencontohkan dengan me- Menumbuhkan rasa
orang lain, boneka, atau mainan orang, binatang meluk boneka, orangtua memeluk/ kasih sayang, men-
mengelus anak, orangtua bersama ingkatkan kepekaan/
anak memberi makan atau mengelus kepedulian anak ter-
hewan peliharaan hadap orang lain/bi-
natang
1-2 Mengenali dirinya sendiri melalui Cermin Mengajak anak untuk mengenal diri Meningkatkan pema-
kaca cermin sendiri melalui cermin haman tentang dir-
mengajak anak bercermin sambil ber- inya
tanya “itu ada siapa?”

Menunjukkan rasa takut terhadap Tempat/suasana Mengajak anak ke tempat/suasana Meningkatkan ke-
tempat baru dan orang asing baru, orang-orang baru dan memperkenalkan anak kepa- mampuan menyesuai-
lain da orang-orang lain kan diri terhadap tem-
pat baru/orang asing

Mengetahui mana yang menjadi Mainan, benda-ben- Menyampaikan dan mengenalkan ke- Meningkatkan ke-
miliknya atau bukan da sekitar pada anak mainan/benda yang men- mampuan anak da-
jadi miliknya dan bukan miliknya lam memahami nor-
ma sosial

2-3 Mampu mengenali teman laki-laki Boneka, teman se- Mengenalkan perbedaan antara la- Mengenal perbedaan
dan perempuan baya ki-laki dan perempuan dengan bermain
bersama teman laki-laki dan peremp-
uan atau bermain boneka

Mampu bekerja sama dengan Teman sebaya dan Bawa anak mengamati anak-anak lain Meningkatkan rasa
teman alat permainan yang sedang bermain dan beri kesem- kebersamaan
patan anak untuk bergabung dengan
anak-anak lain

Mengenali jenis perasaan diri sendi- Ekspresi diri dan Bercerita, bernyanyi, dan merangsang Belajar mengenali dan
ri dan orang lain orang lain, buku cer- anak untuk mengatakan perasaannya, mengelola emosinya
ita, nyanyian misalnya dengan “kalau adik ketawa,
adik merasa senang ya, “adik kok cem-
berut? Adik sedih ya denger lagunya”,
“mainannya kenapa dibanting-bant-
ing? Adik marah?”
3-4 Bermain dengan teman Sebaya Teman sebaya dan • Beri kesempatan pada anak untuk Melatih anak berso-
alat permainan bermain dengan teman sebayanya sialisasi, berkomunikasi
• Sediakan beberapa jenis permainan dan mengenal nor-
yang bias dipergunakan bersama-sama ma(kejujuran,sportivi-
• Biasakan anak untuk meminta ijin jika tas,dll) serta percaya
akan meminjam mainan temannya dan diri
harus mengembalikannya
• Ajarkan anak untuk mengikuti aturan
permainan

Menunggu giliran Menunggu giliran Biasakan anak untuk menunggu giliran Melatih disiplin, kesa-
Permainan berkelom- ketika bermain sesuai dengan aturan baran, dan menghar-
pok permainan gai orang

33 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

Bisa memberi dan menerima Makanan, mainan, •Ajarkan anak untuk mau berbagi Melatih anak untuk
buku cerita, dll makanan, mainan, buku cerita dll menghargai dan
•Pujilah anak bila mau berbagi memahami kebutu-
han orang lain

Bisa bergaul dengan orang yang


lebih dewasa atau orang tua
- Ajaklah anak mengunjungi keluarga
atau tetangga dan perkenalkan anak
Melatih anak meng-
hormati/sopan santun
pada orang lain misalnya tamu, te- dan berkomunikasi
tangga dengan orang lain
yang lebih tua

4-5 Mulai menyadari akan perilaku baik Contoh keteladan, Ajarkan anak memahami perilaku baik Mengetahui perbe-
dan buruk buku dongeng dan buruk dengan memberi contoh ket- daan perilaku baik
eladanan dan buruk dan men-
gajarkan norma

Menunjukkan dengan cara sopan Permainan berkelom- Biasakan anak untuk menunjukkan Melatih mengendali-
emosi yang dirasakan anak pok tingkah laku sopan bila sedang marah, kan emosi
kesal, dan gagal, misalnya orangtua
mendekati anak dan berkata “kamu
lagi kesal ya? Sini, duduk dulu, yuk am-
bil nafas bareng sampai rasa nggak
nyaman di dadamu mulai berkurang.
Gimana?”
5-6 Dapat menjalin persahabatan Permainan yang bisa •Memfasilitasi anak untuk bergaul/ber- •Mengenali berbagai
yang erat dengan teman sebaya dimainkan bersama sosialisasi dengan teman sebaya macam ekspresi, em-
teman-teman se- •Membimbing anak untuk bergaul/ber- osi
baya atau di dalam sosialisasi dengan teman sebaya •Mengenali aturan
kelompok •Membimbing anak untuk mampu main
membedakan mana yang menjadi mi- •Anak lebih ramah,
liknya dan milik orang lain senang bergaul, lebih
•Bermain bersama seperti ular naga percaya diri
atau ular tangga •Belajar mengatasi
•Bermain siapa cepat dia dapat den- konflik ketika mengh-
gan musik: ada 5 kursi tetapi jumlah adapi masalah
anak ada 6, lalu ketika musik dimatikan, •Belajar toleransi dan
anak yang tidak dapat kursi keluar dari empati
permainan. Lakukan sampai kursi yang •Bekerja sama/tidak
tersisa tinggal satu dan ada dua anak egois
•Belajar kepemimp-
inan

Memilih pertemanan yang memiliki Berbagai jenis Berikan kesempatan pada anak untuk • Mulai mengidenti-
minat sama mainan, misaln- bermain secara kelompok, berdasar- fikasi diri sendiri den-
ya mobil-mobilan, kan minat yang telah mereka tentukan gan tokoh tauladan
masak-masakan, dll sendiri • Bekerja sama

Mulai mengenali berbagai macam Buku cerita, dongeng •Menceritakan dongeng-dongeng dari •Menanamkan cinta
budaya berdasarkan tampilan fisik dari berbagai daer- berbagai daerah tanah air
ah •Melatih anak untuk membedakan •Meningkatkan cinta
berbagai jenis suku yang ada di Indo- kepada Tuhan YME
nesia •Belajar menghargai
•Memperlihatkan foto-foto orang dari perbedaan
berbagai macam budaya

Mulai mengenali mana yang baik Buku cerita yang •Orangtua dan anak melakukan ritual Anak belajar mem-
dan buruk berdasarkan nilai bu- mengenalkan nilai- keagamaan bersama (berdoa, shalat, bedakan berbagai
daya dan agama nilai keagamaan ke gereja, membaca kitab suci) macam perilaku
dan kebudayaan •Memberikan contoh kepada anak beserta konsekuen-
tentang hal-hal yang dilakukan oleh si yang mungkin
anak (hormat, santun, terbiasa mengu- ditemuinya di lingkun-
cap salam, berdoa, mencintai Tuhan gan sekitar
dan ciptaan-Nya)

34 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Bersemangat untuk ikut aktivitas
dan aturan di kelas
- Beri kesempatan anak mengikuti ke-
giatan di kelas dan mendorong anak
Membangun kebersa-
maan
supaya selalu bersemangat dalam set-
iap aktivitas dengan teman

Ingin menjadi mandiri seperti orang


dewasa
- beri kesempatan anak melakukan ke-
giatan sendiri tanpa dibantu saat ia ber-
Melatih
anak
kemandirian

tingkah laku seperti orang dewasa

Meminta maaf untuk kesalahan


yang diperbuat
- Biasakan anak meminta maaf apabila
melakukan kesalahan
Melatih kesabaran
atas kesalahan yang
diperbuat baik sen-
gaja maupun tidak
disengaja

Mau menolong teman


- Saat bermain, ajarkan anak membantu
temannya jika diperlukan
Melatih empati dan
kasih sayang

Bekerja sama dalam kelompok ke- Alat permainan Beri kesempatan anak untuk bekerja Melatih anak mengi-
cil sama dengan teman-temannya, mel- kuti aturan main, mel-
alui bermain bersama. Apabila anak atih kerja sama
enggan, orangtua dapat mendampingi
anak saat bermain

D.Rangkuman

Menolong diri sendiri adalah kemampuan dan keterampilan seorang anak untuk
melakukan sendiri kegiatan sehari-hari untuk dirinya sendiri. Proses anak dalam me-
nolong dirinya sendiri harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan agar ke-
mampuan menolong dirinya sendiri menjadi suatu kebiasaan yang menetap hingga
anak besar. Kemampuan menolong diri sendiri dapat membantu anak mengem-
bangkan keberanian dan kepercayaan dirinya sehingga orangtua harus memberi-
kan kesempatan kepada anak untukmenolong dirinya sendiri meskipun hasilnya
dirasakan kurang maksimal.

Sementara itu, tingkah laku sosial mudah dilihat melalui kemampuan anak dalam
bergaul dan menempatkan dirinya. Anak yang mampu bergaul adalah anak yang
mampu untuk menjalin hubungan yang baik dengan anggota keluarga maupun
dengan orang lain.Tujuan melatih kemampuan bergaul adalah agar anak dapat
mudah berkawan, tidak canggung ketika memasuki lingkungan baru, serta men-
gerti disiplin, sopan santun, dan aturan-aturan, baik di dalam maupun di luar rumah.

35 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

E. Latihan

Diskusikan dengan teman Anda, bagaimana meningkatkan kemampuan menolong


Q
diri sendiri pada Balita!
1. Analisislah jika ditemukan anak “suka” bertengkar dengan teman-temannya,
bagaimana tingkah laku sosialnya!
2. Lakukan wawancara kepada orang tua yang mempunyai Balita, bagaimana
tahap anak bergaul dengan teman-temannya!
3. Amati bagaimana sesorang Balita bangkit jika terjatuh dari tempat bermainn-
ya!
4. Berikan contoh stimulus untuk meningkatkan jiwa sosial anak!

36 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
BAB VI
DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG
ANAK USIA DINI
Indikator hasil belajar:
setelah mempelajari BAB VI ini, peserta diklat diharapkan mampu
menjelaskan deteksi dini tumbuh kembang balita dan anak

37 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

A. Pengertian deteksi dini tumbuh kembang anak usia dini

Orangtua perlu memantau tumbuh kembang anak secara terus menerus. Hal
tersebut salah satunya dilakukan untuk mendeteksi sejak dini adanya kemungkinan
kelainan pada anak sehingga dapat lebih cepat diambil langkah-langkah antisipa-
tif. Sebagai contoh, pada usia tiga tahun anak belum bisa memegang pensil, pada-
hal semestinya motorik halus anak sudah berkembang.Bila hal ini terjadi, orangtua
perlu berkonsultasi dengan tenaga profesional.Jika memang terjadi gangguan tum-
buh kembang, kemungkinan perlu diberikan stimulasi tambahan melalui terapi. Or-
angtua juga perlu menerima kondisi anak sepenuhnya dan perlu selalu mendukung
anak.

B. Memantau tumbuh kembang anak usia dini dengan KKA

Pengisian KKA dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

38 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
39 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

40 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
41 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

C. Cara melakukan deteksi dini dan mencari solusinya


menurut tahapan perkembangan anak usia dini

KKA menjadi salah satu alat bagi orangtua untuk memantau perkembangan anak.
apabila umur anak sudah melampaui garis merah KKA dan belum dapat melaksan-
akan suatu tugas perkembangan tertentu atau dengan kata lain titik perpotongan
garis datar tugas dan garis tegak umur (bulan) berada di bawah garis merah, maka
anak cenderung mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas perkembangan-
nya pada umur tertentu.

Apabila orangtua kesulitan menangani hal tersebut, maka orangtua dapat men-
yampaikannya kepada kader BKB. Namun, bila solusi dirasakan belum maksimal,
maka kader dapat merujuk ke bidan, Puskesmas terdekat, rumah sakit, dokter,
psikolog, tenaga pendidik, atau ahli tumbuh kembang lainnya.

Proses Rujukan Program BKB adalah sebagai berikut:

1. Tingkat Keluarga:
Rujukan dimulai dari tingkat keluarga, dengan cara mengembangkan kemamp-
uan keluarga (khususnya ayah dan ibu) untuk:
a. berinteraksi dengan balita
b. memantau tingkat perkembangan anaknya dengan KKA dan
membahas hasilnya dengan kader BKB dan Kader Posyandu
c. memberikan stimulasi sederhana sesuai tingkat perkembangannya
2. Apabila keluarga belum dapat menanganinya, maka kader BKB dan Posyandu
melanjutkan rujukan berdasarkan hasil KKA.
3. Apabila ternyata tidak dapat ditangani oleh kader di tingkat kelompok atau Po-
syandu, rujukan diteruskan ke Puskesmas terdekat dengan menggunakan surat
pengantar rujukan (Lampiran 1).
4. Setelah ditangani oleh para petugas kesehatan di Puskesmas, petugas tersebut

42 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
memberikan surat keterangan (Lampiran 2), apabila penanganannya sudah di-
anggap selesai.
5. Apabila memerlukan penanganan lebih lanjut, petugas Puskesmas merujuk ke
Klinik/RS Tumbuh Kembang Anak, ke RSU Tk. I, serta rujukan lain di lingkungan pe-
layanan kesehatan, menggunakan sistem rujukan yang ada dalam sistem kese-
hatan tersebut.

D. Rangkuman

Orangtua perlu memantau tumbuh kembang anak secara terus menerus. Hal
tersebut salah satunya dilakukan untuk mendeteksi sejak dini adanya kemungkinan
kelainan pada anak sehingga dapat lebih cepat diambil langkah-langkah antisi-
patif. Memantau pertumbuhan dan perkembangan anak dengan kartu kembang
anak (KKA) dilakukan untuk mengetahui tahap-tahap pertumbuhan dan perkem-
bangan anak. KKA menjadi salah satu alat bagi orangtua untuk memantau perkem-
bangan anak. apabila umur anak sudah melampaui garis merah KKA dan belum
dapat melaksanakan suatu tugas perkembangan tertentu atau dengan kata lain
titik perpotongan garis datar tugas dan garis tegak umur (bulan) berada di bawah
garis merah, maka anak cenderung mengalami kesulitan dalam melaksanakan tu-

Q
gas perkembangannya pada umur tertentu.

E. Latihan

1. Coba amati bagimana kader BKB mendeteksi pertumbuhan dan perkemban-


gan anak Balita dengan menggunakan KKA!
2. Bagaimana solusi apabila ditemukan Balita di bawah garis merah?
3. Praktikkan cara menggunakan KKA yang baik dan benar lalu buatlah rekaman
videonya secara singkat!
4. Simpulkan dari kelompok BKB di wilayah binaan Anda, adakah Balita yang
masih di bawah garis merah?
5. Apa saran Anda kepada orang tua yang mempunyai Balita untuk secara kon-
tinyu memeriksa tumbuh kembang anak dengan KKA?

43 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dapat dikatakan bahwa masa balita adalah periode keemasan dimana orangtua
mempunyai kesempatan yang paling tepat untuk mengembangkan potensi yang
dimiliki anak secara optimal. Periode emas merupakan suatu periode yang hanya
akan dialami satu kali dalam rentang kehidupan manusia dan merupakan sesuatu
yang sangat penting dalam suatu siklus.
Setiap keluarga diharapkan menjadi orangtua yang bertanggung jawab yaitu
dengan merencanakan jumlah anak, dan melahirkan pada usia yang tepat. Untuk
mengembangkan potensi anak secara optimal maka orangtua perlu merangsang
perkembangan balita sesuai dengan tingkat usianya.
Pertumbuhan dan perkembangan anak balita pada dasarnya mencakup 2 per-
istiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan. Pertumbuhan berkaitan den-
gan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ mau-
pun individu. Dapat diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram), ukuran panjang
(cm, meter), umur tulang, dan lain-lain. Perkembangan adalah bertambahnya ke-
mampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang
teratur, termasuk aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkungan (Depkes
et all, 2004).

44 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
B. Evaluasi

Evaluasi Sumatif
Q
Jawablah pertanyaan berikut dengan memilih a, b, c, d atau e pada jawaban yang
tepat!
1. Seorang Balita menampakan wajah tersenyum pada orang yang dilihatnya mer-
upakan tahap perkembangan aspek…
a. mental
b. psikososial
c. spiritual
d. psikoseksual
e. Emosi

2. Sorang Balita dapat memahami aspek psikoseksualnya dari hal-hal…


a. makanan yang dimakan
b. minuman yang diminum
c. pakaian yang dipakai
d. ruangan yang dipakai
e. Alat makan yang dipakai

3. Tujuan latihan gerakan kasar adalah…


a. agar anak dapat terampil dan tangkas melakukan berbagai gerakan
b. agar anak dapat cepat berbicara
c. agar anak mudah bermain dengan teman-temannya
d. agar anak mudah menerima nasihat
e. agar anak berani berbuat

4. Contoh stimulasi dengan memberikan mainan warna kontras (hitam dan putih)
untuk melatih…
a. gerakan halus dan kasar
b. berbicara
c. bermain
d. berjalan
e. belajar

5. Gerakan menulis contoh gerakan…


a. gerakan stimulan
b. gerakan kasar
c. gerakan halus
d. gerakan majemuk
e. gerakan kompleks

45 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

6. Hal-hal perlu dilakukan orang tua dalam berkomunikasi terhadap anak,


di antaranya…
a. Lebih banyak berbicara daripada mendengar
b. Lebih banyak menasihati
c. Lebih banyak memberi perintah
d. Lebih banyak melihat daripada mendengar
e. Lebih banyak mendengar daripada berbicara

7. Kekeliruan dalam berkomunikasi dengan anak di antaranya…


a. Lupa memandang bahwa setiap anak itu unik
b. Mengenal setiap individunya
c. Mengetahui yang menjadi kesukaanya
d. Melakukan komunikasi sejajar
e. Melakukan mendengar aktif

8. Contoh komunikasi Balita “menengok ke arah datangnya suara” merupakan ta-


hap perkembangan…
a. Komunikasi aktif 0-1 tahun
b. Komunikasi pasif 0-1 tahun
c. Komunikasi aktif 2-3 tahun
d. Komunikasi pasif 2-3 tahun
e. Komunikasi pasif 3-4 tahun

9. Pada usia 2-3 bulan, bayi sudah dapat membuat suara yang disebut…
a. Babbling
b. Cooing
c. Coocing
d. Sanging
e. playing

10. Memberi stimulus dengan cara memberikan kesempatan anak untuk makan
sendiri dalam rangka merangsang…
a. Menolong diri sendiri
b. Tingkah laku sosial
c. Berbicara
d. Komunikasi pasif
e. Komunikasi aktif

46 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
C. Umpan balik dan tindak lanjut

Jawaban Evaluasi Sumatif


1. b
2. c
A
3. a
4. a
5. c
6. e
7. a
8. b
9. b
10. a

Setelah membaca dan mempelajari modul ini, diharapkan pada kader BKB atau
posyandu dapat membantu masyarakat dengan melakukan KIE dilingkungan se-
kitarnya dalam menjelaskan proses pertumbuhan dan perkembangan anak Balita
sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga.

47 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
MODUL | Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

DAFTAR PUSTAKA

Orang tua Hebat. BKKBN. 2015

https://www.kalcare.com/artikel/tahapan-perkembangan-komunikasi-anak-
kapan-anak-mulai-belajar-bicara/ diakses tanggal 27 Mei 2020

https://slideplayer.info/slide/3106920/ diakses 28 Mei 2020

48 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana

Tahun 2020

50 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana

Anda mungkin juga menyukai