Anda di halaman 1dari 14

Mata Kuliah Dosen Pengampu

Psikologi Islam Elyusra Ulfah, M.Psi.

JIWA MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM


SYAHWAT

Disusun Oleh

Kelompok 5

Milatul Hanifah (1180121573)

Millinya Fitri Yana (1180125056)

Muhammad Trianda A (11860112170)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT.yang mana atas limpahan rahmat, taufiq dan
hidayah-Nya sehingga sampai saat ini kita masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas
makalah tentang Syahwat.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan atas junjungankita Nabi Besar
Muhammad SAW. karena beliaulah yang membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman
yang terang benderang yakni Islam.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada dosen pengampu ibu Elyusrah Ulfah,
M.Psi. Kami sadar masih banyak kekurangan yang ada pada diri kami, untuk itu kami
memohon maaf dan kami sangat berharap kepada pembaca untuk memberikan saran serta
kritiknya yang membangun demi perbaikan makalah ini. Demikian dari kami, semoga makalah
ini bermanfaat. Aamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pekanbaru, 21 November 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ii
BAB I: PENDAHULUAN.................................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................... 2
C. Tujuan........................................................................................................................ 2
BAB II: PEMBAHASAN...................................................................................................... 3
A. Pengertian Syahwat..................................................................................................... 5
B. Bagaimana cara mengendalikan syahwat................................................................... 6
C. Apa saja macam – macam syahwat............................................................................. 7
D. Apa saja dampak positif dan negatif yang ditimbulkan syahwat............................... 8
BAB III: PENUTUP............................................................................................................... 9
A. Kesimpulan.................................................................................................................. 9
B. Saran............................................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 10
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Allah SWT mengutus Nabi dan Rasul untuk menyampaikan pengajaran dari Allah
SWT. Karena Allah yang menciptakan manusia maka Dia pulalah yang paling tahu apa yang
terbaik untuk manusia. Disampaikanlah kepada manusia lewat perantara Rasul pilihan-Nya,
bagaimana cara memenuhi syahwat perut yang benar, mana yang halal dan mana yang haram.
Demikian pula diajarkan bagaimana cara memenuhi syahwat faraj, mana yang boleh dinikani,
mana yang tidak, dan seterusnya.
Syahwat merupakan fitrah manusia dan manusia merasa indah jika syahwatnya
terpenuhi maka syahwat menjadi penggerak tingkah laku. Jika seseorang sedang lapar atau haus
maka tingkah lakunya selalu mengarah kepada tempat dimana dapat diperoleh makanan dan
minuman. Jika yang sedang dominan syahwat seksual maka perilakunya juga selalu mengarah
kepada hal-hal yang memberi kepuasan seksual. Begitulah seterusnya, perilaku manusia sangat
dipengaruhi oleh syahwat apa yang sedang dominan dalam dirinya; syahwat seksual, syahwat
politik, syahwat pemilikan, syahwat kenyamanan, syahwat harga diri, syahwat kelezatan dan
lain-lainnya.. Syahwat itu wataknya seperti anak-anak, jika dilepas maka ia akan melakukan apa
saja tanpa kendali, karena anak-anak hanya mengikuti dorongan kepuasan, belum mengerti
tanggung jawab. Jika dididik, maka jangankan anak-anak. Binatang pun tingkah lakunya bisa
dikendalikan. Syahwat yang dimanjakan akan mendorong orang pada pola hidup glamour dan
hedonis.
Syahwat, yang sering diterjemahkan dengan hasrat seksual, sebenarnya memiliki
pengertian yang jauh lebih luas. Dalam pengetian bahasa (Arab), syahwat dimaknai sebagai
kecenderungan hati yang sulit terbendung kepada sesuatu yang bersifat inderawi dan materil.
Dalam fitrahnya, syahwat bukanlah sesuatu yang layak dibenci, namun merupakan karunia
Allah yang harus dikendalikan, sehingga memiliki nilai tambah bagi setiap diri (pribadi)
manusia. Ego (nafs) manusia bisa terbawa ke arah positif atau negatif, tergantung pada
kemampuan setiap diri (pribadi) manusia untuk mengarahkannya. Oleh karenanya, menjadi
tugas setiap manusia untuk mengarahkan syahwat ke arah yang serba positif dan
mengendalikannya jangan sampai menuju ke arah yang serba negatif.
Syahwat yang terkendali oleh akal sehat dan hati yang bersih, apalagi jika juga
didasarkan nurani yang tajam dengan disertai pemahaman agama yang benar, maka syahwat
berfungsi sebagai penggerak tingkah laku atau hasrat untuk menyuburkan motivasi ke arah
keutamaan hidup dan menjadikan hidupnya lebih bermakna dan terarah. Dalam kondisi
demikian syahwat seperti energi yang selalu menggerakkan mesin untuk hidup dan hangat.
Keseimbangan itu menjadikan orang mampu menekan dorongan syahwat pada saatnya harus
ditekan (seperti rem mobil), dan memberikan hak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis berikan ada beberapa rumusan sebagai
pertanyaan dalam makalah ini. Berikut rumusan masalah ini yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan syahwat ?
2. Bagaimanakah cara mengendalikan syahwat?
3. Apa saja macam – macam syahwat?
4. Apa saja dampak positif dan negatif yang ditimbulkan syahwat?

1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang penulis berikan berikut tujuan permasalahan dari
makalah ini yaitu :
1. Mendeskripsikan tentang syahwat.
2. Mendeskripsikan cara mengendalikan syahwat.
3. Mendeskripsikan macam – macam syahwat.
4. Mendeskripsikan dampak positif dan negatif yang ditimbulkan syahwat.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Syahwat


Kalimat syahwat disebut al-Qur'an dalam berbagai kata bentukannya sebanyak tiga
belas kali, lima kali di antaranya dalam bentuk masdar (Asal atau sumber), yakni dua kali dalam
bentuk mufrad (Tunggal) dan tiga kali dalam bentuk jama' (Jamak). Secara lughawi, syahwat
artinyamenyukai dan menyenangi (syahiya, syaha-yasha, atau syahwatan), sedangkan
maknanya adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya.
Dengan singkat Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan syahwat yaitu nafsu atau
keinginan bersetubuh, kebirahian. Demikian pula WJS Poerwadarminta mengartikan syahwat
berarti kebirahian, nafsu atau kegemaran bersetubuh. Arti yang sama terdapat dalam Kamus
Modern Bahasa Indonesia, syahwat berarti nafsu, keinginan, terutama keinginan bercampur
antara laki-laki dan perempuan.
Adapun Al-Qur'an menggunakan term syahwat untuk beberapa arti: Pertama, dalam
kaitannya dengan pikiran-pikiran tertentu, yakni mengikuti pikiran orang karena mengikuti
hawa nafsu seperti dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Nisa/4:27. Kedua, dihubungkan dengan
keinginan manusia terhadap kelezatan dan kesenangan seperti dijelaskan dalam al-Qur’an surat
Ali 'Imran/3:14 dan Maryam/19:59.
Ketiga, berhubungan dengan perilaku seks menyimpang seperti dijelaskan dalam al-
Qur’an surat al-A'raf/7:81, dan QS. al-Naml/27:55. Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan
bahwa menurut al-Qur’an, di dalam diri manusia terkandung dorongan-dorongan yang
mendesak manusia untuk melakukan hal-hal yang memberikan kepada kepuasan seksual,
kepuasan kepemilikan, kepuasan kenyamanan dan kepuasan harga diri. Orang-orang yang
menapaki jalan Allah, dari bermacam-macam aliran (thariqat) dan suluk mereka, telah
bersepakat bahwa nafsu insaniahitu sebagai penghalang bagi hati insani untuk mencapai
Tuhannya. Hidayat Allah tidak akan menembus dalam sanubarinya, sebelum ia berhasil
menundukkan bahkan melenyapkan hawa nafsunya.
Dalam al-Quran, kata syahwat terkadang dimaksudkan untuk obyek yang diinginkan. Di
ayat lain syahwat dimaksudkan untuk menyebutkan potensi keinginan manusia, sebagaimana
yang disebutkan
dalam QS. Ali Imran ayat 14 (Pane 2016)

‫ض ِة َو ْٱل َخ ْي ِل‬
َّ ِ‫ب َو ْٱلف‬
ِ َ‫ير ْٱل ُمقَنطَ َر ِة ِمنَ ٱل َّذه‬ ٰ
ِ ‫ت ِمنَ ٱلنِّ َسٓا ِء َو ْٱلبَنِينَ َو ْٱلقَنَ ِط‬ ِ ‫اس حُبُّ ٱل َّشهَ ٰ َو‬ ِ َّ‫ُزيِّنَ لِلن‬
ِ ‫ا‬qََٔ‫ث ۗ ٰ َذلِكَ َم ٰتَ ُع ْٱل َحيَ ٰو ِة ٱل ُّد ْنيَا ۖ َوٱهَّلل ُ ِعن َدهۥُ ُحس ُْن ْٱل َمٔـ‬
‫ب‬ ِ ْ‫ْٱل ُم َس َّو َم ِة َوٱأْل َ ْن ٰ َع ِم َو ْٱل َحر‬
Yang berarti Ayat itu menyatakan syahwat sebagai potensi keinginan manusia, yakni
pada dasarnya manusia menyukai terhadap wanita (seksual), anakanak (kebanggaan), harta
kekayaan atau benda berharga (kebanggaan, kenyamanan, kesenangan), binatang ternak
(kesenangan, kemanfaatan) dan sawah ladang (kesenangan, kemanfaatan) jadi kecenderungan
manusia terhadap seksual, harta benda dan kenyamanan dalam pandangan Alquran adalah
manusiawi (dalam Pane, 2016).
Ali al-Ṣabuni (dalam Pane, 2016) menjelaskan manusia selalu mencintai dan
menganggap indah segala sesuatu yang berkaitan dengan syahwat; pikiran selalu mengarah
kepada syahwat. Allah mengucapkan kecintaan manusia terhadap perempuan yang pertama
menunjukkan fitnah dan kelezatan yang sangat luar biasa.8 Dalam hadith disebutkan:
… Aku tidak meninggalkan ftnah yang lebih bahaya bagi seorang laki-laki dari pada
perempuan. (al-Bukhari, Sahih al-Bukhari dalam Pane 2016)
Manusia sangat cinta kepada anak karena anak hasil dari rasa cinta dan permata hati
.Dalam sebuah syair dikatakan.
Sesungguhnya anak kami berada di depan kami, seolah-olah hati kami sedang berjalan
di atas bumi, jikalau sebagian mereka dihembus oleh angin niscaya mataku tak dapat terpejam.
Tuhan mendahulukan syahwat anak-anak daripada harta karena manusia lebih mencintai
anaknya dari pada harta. Manusia juga mencintai Harta yang banyak seperti emas dan perak
kadang-kadang harta ini dicintai dapat melampaui syahwat, bahkan seseorang dapat melakukan
hal yang berbahaya dalam mendapatkan harta.
Dalam ayat lain dalam surat al-fajr (20).
‫َوتُ ِحبُّونَ ْٱل َما َل ُحبًّا َج ّمًا‬
Tuhan mengkhususkan penyebutan emas dan perak karena dengan kedua ini manusia
bertransaksi .Kemudian Tuhan menyebutkan kuda-kuda pilihan karena saat itu kendaraan yang
sangat bagus .Sementara itu, harsh adalah kebun dan tempat bercocok tanam yang dapat
menghasilkan makanan. Kesenangan yang disebutkan tersebut merupakan bagian-bagian
syahwat atau bunga kehidupan di dunia dan perhiasan yang fana dan akan hilang serta binasa.
Karena syahwat merupakan fitrah manusia dan manusia merasa indah jika syahwatnya
terpenuhi maka syahwat menjadi penggerak tingkah laku. Jika seseorang sedang lapar atau haus
maka tingkahlakunya selalu mengarah kepada tempat dimana dapat diperoleh makanan dan
minuman. Jika yang sedang dominan syahwat seksual maka perilakunya juga selalu mengarah
kepada hal-hal yang memberi kepuasan seksual. Begitulah seterusnya, perilaku manusia sangat
dipengaruhi oleh syahwat apa yang sedang dominan dalam dirinya; syahwat seksual, syahwat
politik, syahwat pemilikan, syahwat kenyamanan, syahwat harga diri, syahwat kelezatan dan
lain-lainnya. Syahwat itu seperti anak-anak, jika dilepas maka ia akan melakukan apa saja tanpa
kendali, karena anak-anak hanya mengikuti dorongan kepuasan, belum mengerti tanggung
jawab. Jika dididik, jangankan anak-anak binatangpun tingkah lakunya bisa dikendalikan.
Syahwat yang dimanjakan akan mendorong pada pola hidup glamour dan hedonis
Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut al-Qur’an, di dalam diri
manusia terkandung dorongan-dorongan yang mendesak manusia untuk melakukan hal-hal
yang memberikan kepada kepuasan seksual, kepuasan kepemilikan, kepuasan kenyamanan dan
kepuasan harga diri (Pane 2016).

2.2. Cara Mengendalikan Syahwat


Dalam Islam metode pengendalikan syahwat, dilakukan secara sistemik dalam ajaran
yang terkemas dalam syari`ah dan akhlak.

1. Pengendalian syahwat seksual dilakukan dengan anjuran menikah, menutup aurat


tubuh, larangan pergaulan bebas antar jenis, dan “puasa” (puasa mata, telinga dan
perut). Hidup melajang tidak direkomendasi meskipun itu merupakan bisa disebut
sebagai hak asasi setiap orang.

2. Pengendalian syahwat perut dilakukan dengan anjuran; jangan makan kecuali ketika
lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, disamping puasa wajib dan puasa sunat.

3. Pengendalian syahwat kekayaan dilakukan dengan pola hidup sederhana dan


kewajiban membayar zakat, dan anjuran infaq dan shadaqah. Sederhana tidak identik
dengan miskin, sederhana adalah mengonsumsi sesuai dengan standar kebutuhan
universal. Jadi orang boleh punya kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi yang
dikonsumsi (makanan, pakaian, kendaraan, rumah dan sebagainya) adalah sekadar
yang dibutuhkan menurut standar kebutuhan universal. Banyak orang kaya yang
hidupnya sederhana dan tak jarang orang miskin yang hidup bermewah-mewah.

4. Syahwat politik dikendalikan dengan penekanan, bahwa pada hakikatnya seorang


pemimpin adalah pelayan dari orang banyak yang dipimpin (sayyid al-qaum
khâdimuhum). Politik adalah medan pengabdian, pemimpin adalah pejuang yang
berpegang pada prinsip untuk memberi perlindungan dan kesejahteraan orang banyak
yang dipimpin.

5. Syahwat gengsi dikendalikan dengan kesadaran akan fungsi, bahwa mobil adalah alat
transportasi, pakaian adalah pelindung badan dan penutup aurat, rumah adalah tempat
tinggal dan istirahat, harta adalah alat untuk menggapai keutamaan
Menurut Imam Al-Ghazali ada3 Cara untuk Melemahkan Nafsu Syahwat, yaitu :

1. Memutuskan keterikatan.
Kita terikat kepada benda yang menguatkan nafsu syahwat. Maka, tidak boleh tidak,
kita harus belajar memutuskan keterikatan itu. Misalnya, keterikatan kepada makanan
diputus dengan berpuasa.
2. Memadamkan api.
Sesungguhnya nafsu syahwat itu dapat berkobar dengan pandangan kepada hal-hal
yang dapat memancing nafsu syahwat. Rasulullah SAW bersabda, "Pandangan itu
adalah salah satu panah beracun dari panah-panah iblis." Menjaga pandangan dari
hal-hal tercela, menjaga telinga dari ucapan-ucapan kotor, menjaga langkah kaki dari
tempat-tempat yang tidak pantas, menjaga pikiran dari bacaan-bacaan yang tidak
bermanfaat, merupakan langkah-langkah memadamkan api nafsu syahwat.
3. Mencari jalan yang halal.
Setiap manusia tentu memiliki kebutuhan jasmaniah yang harus dipenuhi, baik
makanan, pakaian, maupun pasangan. Maka semua itu dapat dipenuhi dengan
menjaga diri dengan syari’at yang kuat, yakni mencari jalan yang halal atas setiap
kebutuhan hidup.
Inilah tiga jalan yang mampu melemahkan tentara nafsu syahwat. Langkah
pertama seperti halnya memutuskan makanan bagi anjing yang ganas supaya ia lemah,
lalu hilanglah kekuatannya. Langkah kedua mencegah anjing yang ganas itu agar tidak
mencium bau amis daging dan darah, sehingga perut sang hewan tidak tergerak lantaran
melihat dan mencium makanan kesukaannya. Langkah ketiga menghias diri dengan
sesuatu yang sedikit, mencukupkan diri dengan yang halal, dari kebutuhan tabiat manusia.
Manusia yang bersungguh-sungguh mengendalikan hawa nafsu duniawi niscaya
akan dimudahkan oeh Allah untuk meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat. Seperti
yang telah di firmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al Ankabut ayat 69 : “Dan orang-
orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.
(Al-'Ankabut/29:69)
Dari ayat diatas sudah sangat jelas bahwa apabila manusia bersungguh-sungguh
dalam melawan godaan setan atau nafsu duniawi maka Allah akan memudahkanya dalam
mendapatkan hidayah jalan petunjuk. Sebaliknya apabila manusia menyerah terhadap
hawa nafsunya maka dia akan lemah serta melupakan perintah larangan Allah, dan
niscaya akan menjadi tawanan dari hawa nafsunya tersebut, sehingga perbuatan dosa dan
maksiatpun akan dilakukan hanya untuk melaksanakan perintah dari hawa nafsu
duniawinya, contoh berani berbohong, menipu, menghalalkan segala cara dan tidak
bersyukur terhadap apa yang telah didapatkan dan dimilikinya.

2.3. Macam – Macam Syahwat


a. Syahwat Birahi

Penyebab utama munculnya syahwat birahi ini, berawal dari melepas pandangan tanpa
adanya kontrol iman. Dari pandangan ini,selanjutnya membawa pesan fitnah yang dibenarkan
oleh nafsunya. Dengan demikian, terjadilah gejolak syahwat yang menggebu menguasai akal
dan hatinya, sehingga banyak manusia dibuat terpedaya olehnya, yang kelak dapat merusak
fisik dan agamanya, atau kedua-duanya.
Mata Adalah Cerminan Hati, kebersihan dan kesucian hati seorang hamba sangat
dipengaruhi oleh kemampuannya untuk mengendalikan pandangan kedua matanya. Hal itu
dikarenakan hampir semua perasaandan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata.Bila
mata dibiarkan memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang
berbahaya.
Lebih lanjut, Ibn Jauzi menyebut pandangan liar tersebut dengan panah iblis yang
beracun. Dimana panah tersebut berfungsi melukai kesucian hati setiap mukmin, sehingga
sangat mudah bagi iblis menaklukan hati seseorang yang sudah terluka, untuk kemudian
membunuhnya dan menguasainya. Hal itu didasarkan pada Hadist nabi Muhammad Shalallahu
'Alaihi wa Sallam yang berbunyi:
"Pandangan adalah panah beracun yang dilepaskan oleh iblis,barang siapa yang
meninggalkan karena takut Allah, maka Allah akan mendatangkan manisnya iman dalam
hatinya" (Ibn Jauzi Hlm117)

b. Syahwat Rakus (al-Syarrah)

Rakus berasal dari syahwat perut yang banyak merusak fisik dan psikis manusia, karena
syahwat perut sumber segala penyakit, dan dari situlah timbul syahwat kemaluan. Kemudian,
syahwat perut dan syahwat kemaluan melahirkan syahwat kehormatan dan harta yang keduanya
merupakan cara untuk mendapatkan yang lebih dari makan dan nikah. Karena itulah, Adam as
melanggar larangan Allah sehingga dikeluarkan dari surga, dan itulah yang menyebabkan
seseorang mencari dunia dan menyukainya.

c. Syahwat Kekuasaan

Penyebab utama munculnya syahwat kekuasaan adalah berangkat dari keinginan untuk
memperoleh kedudukan di sisi manusia dan harta kekayaan yang berlimpah, serta kemudahan-
kemudahan fasilitas hidup. Kegampangan dalam mendapatkan kepuasan nafsu syahwat dan
kepuasan dalam bermanuver politik secara culas dan licik. Untuk menggapai kedudukan ini
biasanya manusia menghalalkan dengan segala cara sehingga muncul perilaku culas dan picik,
tanpa mempertimbangkan kehalalan dan keharamannya ambisi telah menjadikan oportunis dan
terpedaya, sehingga akal jernihnya tertutu poleh syahwat kekuasaan tersebut.

2.4. Dampak Positif Dan Dampak Negatif yang Ditimbulkan Syahwat

a) Positif
Hawa nafsu mampu membentuk sulûk (perilaku) manusia. Oleh sebab itu, Allah SWT
mengkaitkan banyak masalah penting kehidupan dengan hawa nafsu. Hawa nafsu
menjamin terpenuhinya beragam kebutuhan primer manusia. Reproduksi, misalnya,
merupakan bagian vital kehidupan manusia. Tanpa proses tersebut spesies manusia akan
punah. Untuk kebutuhan vital seperti di atas, Tuhan menganugrahi manusia dengan
hawa nafsu seksual yang merangsang perkawinan dan reproduksi sebagai jaminan
kelangsungan dan kelestarian jenis manusia (Pane 2016).
Tuhan menggantungkan pertumbuhan manusia pada nafsu makan dan mmum. Tanpa
keduanya, manusia tidak akan dapat menumbuhkan lagi sel-sel yang rusak oleh gerak
dan keija manusia. Tuhan juga telah membekali manusia dengan naluri ber masyarakat
yang melaluinya sistem kehidupan sosial. Hawa nafsu merupakan tangga menuju
kesempurnaan sekaligus peluncur kepada kehinaan (Pane 2016).

b) Negatif
Suatu hal yang tidak perlu diragukan lagi, bahwasanya manusia sekarang ini hidup di
zaman yang bergelimpangan dengan syahwat. Bahkan, syahwat dirayakan dengan
bebas. Stasiun televisi membangkitkan syahwat, dengan menampakkan para wanita
“yang memikat”. Demikian juga nyanyian-nyanyian yang membangkitkan gelora
syahwat. (Pane, 2016).
Karena itu, Tuhan melarang syahwat yang mengakibatkan kerusakan di bumi ini, seperti
konsumsi narkoba, free sex, dan lain-lain. Bahkan,Tuhanpun melarang melampui batas
dalam memenuhi syahwat. Kerusakan akan menimpa umat manusia bila syahwat
dipenuhi dengan melampui batas (Pane, 2016).
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Sumber segala dosa adalah syahwat perut, dan dari situlah timbul syahwat kemaluan.
Dan Manusia akan menganggap baik setiap kejelekanyang datang dari diri (nafsu)nya dan
hampir-hampir tidak dapat melihatcelanya, padahal nafsu tetap memusuhi dan membuat
madlarat. Tidak memakan waktu lama, nafsu itu tentu akan menjerumuskannya ke dalam
keterbukaan aib dan kerusakan, sedangkan ia tidak merasa, kecuali jika Allah menjaganya dan
menolongnya mengalahkan nafsu, dengan anugerah dan rahmatNya.
Syahwat merupakan fitrah manusia dan manusia merasa indah jika syahwatnya
terpenuhi maka syahwat menjadi penggerak tingkah laku.Syahwat itu seperti anak-anak, jika
dilepas maka ia akan melakukan apa saja tanpa kendali, karena anak-anak hanya mengikuti
dorongan kepuasan, belum mengerti tanggung jawab. Jika dididik, jangankan anak-anak
binatangpun tingkah lakunya bisa dikendalikan. Syahwat yang dimanjakan akan mendorong
pada pola hidup glamour dan hedonis.

3.2. Saran

Sebagai Muslim Sejati kita harus bisa menjadi muslim yang taqwa kepada Allah
Subhanallahu Wata 'Alayakni dengan mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala
larangannya. Maka dari itu kita sebagai muslim sejati harus bisa mengendalikan Syahwatnya
agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak disukai Allah Subhanallahu Wata 'Ala dan dilarang
oleh Allah Subhanallahu Wata 'Ala. Apalagi kita hidup dizaman dimana untuk mengendalikan
Syahwat itu cukup Sulit, maka dari itu kita harus menjadi muslim yang cerdas dalam berbuat
sesuatu agar hal yang kita buat tidak menjadi kerugian untuk kita nantinya. masih banyak sekali
kekurangan, baik dari segi isi maupun peletakan kalimat. Untuk itu penulis berharap pembaca
dapat memberikan saran dan masukkan kepada para penulis, dan pembaca dapat membaca dari
sumber referensi lain, untuk menambah wawasan.
DAFTAR PUSTAKA

Dr. H. Akhmad Alim, MA., Studi Islam I Akidah dan Akhlak, Bogor: UIKAPRESS, 2016, hlm.
177-181

Farida dnir, F. (2014). Syahwat dalam Alquran (Doctoral dissertation, Pascasarjana UIN-SU).

Hadi, M. N., & Taubah, M. (2019). PANGGUNG POLITIK KYAI NU DI KABUPATEN


PASURUAN ANTARA MASLAHAH UMMAT DAN SYAHWAT POLITIK. AL
MURABBI, 5(1), 25-35.

Kartikowati, Endang & Zubaedi. 2016. Psikologi Agama Dan Psikologi Islami. Jakarta:
Prenadamedia Group.

Pane, U. H. S. (2016). Syahwat Dalam Al-Qur’an. Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu


Ushuluddin, 4(2), 385-402.

Na’am Farikhun Muh (2014). Peran etika berbusana serta batasan porongrafi dan pornoaksi
sebagai pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Jurnal teknologi: Volume 1 No.1 – Juni.
Halaman 22-3.

http://roinalrois.blogspot.co.id/2014/04/pengendalian-syahwat-farji-makalah.htm.

Pembagian Tugas Kelompok :


1. Milatul Hanifah (1180121573) : Mencari referensi, merangkum materi,
membuat makalah.
2. Millinya Fitri Yana (11860125056) : Mencari referensi, merangkum materi,
membuat makalah.
3. Muhammad Trianda A (11860112170) : Mencari referensi, merangkum
materi, membuat makalah, membuat PPT.