Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

1. CFIT (Culture Fair Intelligence Test)

A. Sejarah CFIT

B. IST merupakan alat ukur


intelegensi yang
dikembangkan oleh Rudolf
Amthauer pada
C. tahun 1953 dan menjadi
populer di Frankfurt,
Jerman. Kemudian IST
terus berkembang
D. dan disempurnakan oleh
beberapa tokoh Jerman
seperti Berliner,
Kiepmann, Beauducel,
E. dan Brocke hingga tahun
2000.
1
IST merupakan alat ukur
intelegensi yang
dikembangkan oleh Rudolf
Amthauer pada
tahun 1953 dan menjadi
populer di Frankfurt, Jerman.
Kemudian IST terus
berkembang
dan disempurnakan oleh
beberapa tokoh Jerman seperti
Berliner, Kiepmann,
Beauducel,
dan Brocke hingga tahun 2000.
Culture Fair Intelligence Test (CFIT) merupakan salah satu tes inteligensi
yang sering digunakan oleh psikolog dan lembaga psikologi di Indonesia. Pertama
kali Tes CFIT ini dikembangkan oleh Raymond B. Cattell pada tahun 1940. Test
kecerdasan Culture Fair ini berusaha menghindari unsur bahasa dan isi yang terikat
budaya. Sehingga, apabila dilakukan di wilayah dengan bahasa yang berbeda dan
budaya yang berbeda pula, akan tetap mampu dikatakan valid. Hal ini menjadikan
CFIT masih sering dipergunakan.

2
Tes ini dikembangkan oleh Cattell berdasarkan pandangannya mengenai
inteligensi. Tes ini mengukur general intelligence (Cattell, 1949). Menurut Cattel dan
Horn (dalam Abdul, 2011), manusia mempunyai dua macam general intelligence
(kecerdasan umum), yaitu fluid intelligence dan crystalized intelligence. Fluid
intelligence merupakan kecerdasan yang berasal dari sifat bawaan lahir atau hereditas.
Kemampuan kognitif yang Fluid ini di dalam perkembangan individu selanjutnya
mempengaruhi kemampuan kognitif lainnya yang disebut sebagai Cristalized
intelligence. Crystallized intelligence adalah kecerdasan yang sudah dipengaruhi oleh
lingkungan, misalnya kecerdasan yang didapat melalui proses pembelajaran di
sekolah. Dengan hal ini, maka penggunaan Culture Fair Intelligence Test akan lebih
lengkap apabila disertai pula dengan penggunaan tes-tes intelegensi umum lainnya
yang mengukur Cristalized intelligence.

B. Pengertian Culture Fair Intelligence Test (CFIT)


Tes kecerdasan Culture Fair Intelligence test (CFIT) adalah tes yang
dirancang dengan meminimalisir pengaruh kelancaran verbal, kondisi budaya dan
tingkat pendidikan (Cattel & Cattel, 2006). Alasannya, yaitu perbedaan kebudayaan
dapat mempengaruhi performance test (hasil) sehingga dikembangkan tes yang adil
budaya (culture fair) antara lain CFIT.
Tes CFIT memiliki tiga jenis skala. Masing-masing skala diberi nama dengan
angka, sehingga nama-nama skala tersebut adalah skala 1, skala 2, dan skala 3. Skala
1 ditujukan untuk usia 4 sampai 8 tahun, skala 2 ditujukan untuk usia 8 sampai 13
tahun, dan skala 3 ditujukan untuk individu dengan kecerdasan di atas rata-rata. Skala
CFIT 2 dan 3 memiliki bentuk pararel, yaitu A dan B. Hal ini berarti bahwa skala
CFIT 2 terdiri dari 2A dan 2B, sedangkan skala CFIT 3 terdiri dari 3A dan 3B. Cattell
dan Cattell (dalam Ridwan, 2018) selanjutnya mengungkapkan bahwa skala CFIT 3
terdiri dari empat subtes, yaitu:
1. Series terdiri dari 13 item, peserta diinstruksikan untuk melanjutkan gambar
secara logis dari 3 gambar yang telah disajikan sebelumnya.
2. Classification terdiri dari 14 item, peserta diinstruksikan untuk mencocokan 2
gambar dari setiap seri. Kemudian pada gambar yang cocok dipasangkan
bersama.

3
3. Matrice terdiri dari 13 item, peserta diinstruksikan untuk menentukan mana
dari 5 alternatif yang paling logis untuk melengkapi pola matriks yang telah
disajikan.
4. Topology terdiri dari 10 item, peserta diinstruksikan untuk mencari aturan
umum dimana titik ditempatkan dengan menyimpulkan aturan dan memilih
gambar yang berlaku.

Di Indonesia dikenal dengan nama:


 Tes G skala 2A (A7A)
 Tes G skala 2B (A7B)
 Tes G skala 3A
 Tes G skala 3B

Tes ini dipergunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan faktor


kemampuan mental umum atau kecerdasan. Nilai IQ yang diperoleh dari hasil tes
CFIT ini disebut dengan istilah IQ Original, karena nilai tersebut merupakan nilai
potensi yang sifatnya bawaan, dan lebih dikarenakan faktor usia. Nilai IQ yang
diperoleh dari tes ini tidak berhubungan langsung dengan prestasi akademik.

C. Administrasi Tes CFIT

Untuk instruksi dalam


setiap subtesnya, antara
lain dapat digambarkan
dengan
contoh sebagai berikut :

4
Subtes 1 : Tes Pengetahuan
Umum
Soal-soal 01 – 20 terdiri atas
kalimat-kalimat.
Pada setiap kalimat terdapat
satu kata yang hilang dan
akan disediakan 5 (lima) kata
pilihan sebagai jawabannya.
Pilihlah kata yang tepat yang
dapat menyempurnakan
kalimat itu !
Penyajian Tes:
Tes ini dapat disajikan secara individual maupun klasikal. Disamping tester, perlu
pengawas tambahan bagi kelompok yang terdiri dari 25 orang atau lebih.
Peralatan:
 Buku soal CFIT
 Lembar jawaban
 Stopwatch
 Alat tulis

Tujuan:

5
Tujuan test CFIT adalah untuk mengetahui kemampuan mental umum atau
kecerdasan umum seseorang.
 Skala 1
Usia 4-8 tahun dan individu yang lebih tua yang mengalami cacat mental
Tidak ada bentuk A & B
Terdiri atas 8 subtes
 Skala 2
Usia 8-15 tahun
Untuk orang dewasa yang memiliki kecerdasan dibawah normal
Ada bentuk A & B
Terdiri atas 4 subtes
 Skala 3
Usia > 15 tahun (untuk usia sekolah lanjutan atas)
Untuk orang dewasa dengan kecerdasan tinggi
Ada bentuk A & B
Terdiri atas 4 subtes

Waktu:
Waktu yang di tentukan untuk seluruh penyajian bentuk tes membutuhkan waktu
sekitar 20-40 menit, tergantung pada daya faham kelompok atau subjek. Perincian
sub-tes adalah sebagai berikut.
 Sub-tes 1 Series: 3 menit (13 soal)
 Sub-tes 2 Clasification: 4 menit (14 soal)
 Sub-tes 3 Matrices: 3 menit (13 soal)
 Sub-tes 4 Topology: 2,5 menit (10 soal)

Instruksi:
Setiap sub-tes memiliki instruksi yang berbeda-beda. Masing-masing instruksi untuk
tiap-tiap sub-tes adalah sebagai berikut.
 Sub-tes 1 Series
Di sebelah atas, Anda akan menemukan sederet kotak yang berisi urutan
gambar. Namun, kotak kotak terakhir belum ada isinya. Tugas Anda adalah
mengisi kotak tersebut dengan gambar yang sesuai, yang bisa dipilih dari

6
enam pilihan jawaban yang tersedia, yaitu A, B, C, D, E, dan F. Perlu diingat
bahwa gambar-gambar pada soal memiliki pola tertentu sehingga untuk
mengisinya, Anda perlu mengetahui pola dari urutan gambar tersebut.
 Sub-tes 2 Clasification
Pada setiap soal, Anda akan menemukan 5 buah gambar yang disusun secara
berdampingan. Telitilah gambar-gambar tersebut. Tugas Anda adalah
menemukan 2 gambar yang tepat yang memiliki karakteristik yang sama. 3
gambar lainnya berfungsi sebagai pengecoh, sehingga berhati-hatilah dalam
menentukan pilihan.  
 Sub-tes 3 Matrices
Di bagian sebelah kiri, Anda akan menemukan sebuah kotak besar, yang di
dalamnya terdapat kotak-kotak kecil bergambar. Di dalam kotak besar terdapat
kotak kecil bergambar garis tebal miring. Perhatikan bahwa bagian sebelah
kanan bawah masih kosong. Tugas Anda adalah melengkapi bagian kosong
tersebut dengan salah satu dari 5 pilihan jawaban di sebelah kanan (A, B, C, D,
E, dan F).
 Sub-tes 4 Topology
Perhatikan contoh soal. Pada contoh nomor 1, terdapat kotak yang berisikan
gambar dan mempunyai titik hitam tebal. Tugas Anda adalah mencari gambar
yang mempunyai titik hitam, dimana titik hitam tersebut berada pada 2 gambar
sekaligus.

D. Skoring Tes CFIT


a) Mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban yang sudah tersedia. 
b) Hitung jawaban yang benar dari setiap subtes, lalu jumlahkan total skor-nya.
Setiap jawaban yang benar di nilai 1.  
c) Untuk mengetahui tingkat IQ, lihatlah tabel IQ yang telah tersedia.

Klasifikasi IQ CFIT

Skor IQ Kategori
>170 Genius / Jenius
140 - 169 Very Superior / Sangat Cerdas
120 - 139 Superior / Cerdas
110 - 119 High Average / Di atas Rata-Rata

7
90 - 109 Average / Rata-Rata
80 - 89 Low Average / Di bawah Rata-Rata
70 - 79 Borderline
<70 Mentally Defective

E. Aspek yang diukur


 Subtes 1
Sistematika berpikir, yaitu kemampuan berpikir runtut untuk memahami
rangkaian suatu permasalahan yang berkesinambungan.
 Subtes 2
Ketajaman diferensiasi, yaitu kemampuan untuk mengamati hal-hal yang detil
secara tajam dan berpikir dengan kritis untuk mengidentifikasi permasalahan.
 Subtes 3
Asosiasi, yaitu kemampuan analisa-sintesa untuk menghubungkan dua atau
lebih permasalahan yang serupa.
 Subtes 4
Pemahaman konsep, yaitu kemampuan memahami suatu prinsip untuk
diterapkan ke dalam situasi yang berbeda.

2. Tes RPM
A. Sejarah RPM
Raven Progressive Matrices diciptakan oleh J.C Raven pada tahun 1938. John
Carlyle Raven lahir di London pada tanggal 28 Juni 1902. Tes ini pada awalnya
dikembangkan di Inggris secara luas dipergunakan dalam lingkungan angkatan bersenjata
Inggris pada perang dunia II. Awalnya tes RPM digunakan untuk rekuitmen tentara dari
rakyat sipil. Karena, pada zaman itu banyak rakyat inggris belum berpendidikan. Oleh
sebab itu, Jhon. C. Raven menciptakan Raven Progressive Matrices untuk mengukur
inteligensi umum dengan berdasar teori Spearman yang disebut dengan teori dua faktor.
RPM merupakan tes inteligensi dengan performance test atau sering disebut
dengan Culture Fair, yaitu tes dibuat untuk menghilangkan bias budaya dengan
meminimalkan perbedaan nilai antara satu budaya dengan budaya lain. Oleh sebab itu, tes
ini seringkali digunakan mulai dari penelitian untuk mengetahui kemampuan kognitif
secara umum hingga untuk membandingkan kemampuan intelektual antar suku bangsa
atau ras maupun kelompok mayoritas dan minoritas.

8
Raven Progressive Matrices (RPM) merupakan tes intelegensi yang dapat
disajikan secara kelompok maupun individu. Materi tes ini berupa gambar dengan
sebagian yang terpotong. RPM juga dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan individu
yang memiliki kesulitan membaca, gangguan pendengaran, hingga yang bukan berbahasa
(native language) inggris, selain itu dapat digunakan untuk menggali kemampuan
individu.

B. Pengertian RPM (Raven Progressive Matrice)


Raven’s Progressive Matrice adalah sebuah tes multiple choice nonverbal yang
mengukur kemampuan intelegensi umum (general ability atau biasa disebut dengan ‘g’
dalam literatur psikologi) atau penalaran abstrak seorang individu. Pertama kali
dikembangkan di Inggris pada tahun 1936. Dinamai sesuai dengan pembuatnya, John C
Raven, PM dirujuk sebagai salah satu pengukuran intelegensi umum terbaik yang pernah
ada. Tes PM ini terdiri dari beberapa seri pola yang ditampilkan dalam bentuk matriks dan
akan menjadi semakin sulit seiring dengan meningkatnya nomor. Dalam tes ini partisipan
diminta untuk mengidentifikasi pola elemen yang hilang. Biasanya pola-pola tersebut
ditampilkan dalam bentuk matriks 4x4, 3x3 atau 2x2.
Tes ini memiliki tiga bentuk yang berbeda dengan versi orisinilnya yaitu Standard
Progressive Matrices (SPM) yang dirancang untuk menentukan tingkat intelegensi
seseorang. Ketiga bentuk Ravens’ Progressive Matrices, untuk derajat yang berbeda-beda,
mengukur dua komponen intelegensi umum, yaitu:
1. Komponen yang menentukan kemampuan seseorang untuk berpikir jernih dan
membaca suatu situasi yang kompleks (eductive)
2. Komponen yang menggambarkan kemampuan seseorang untuk menyimpan,
memproses, dan memproduksi kembali suatu informasi (reproductive)
Kedua komponen ini dipercaya sebagai pengukur yang reliable untuk kapasitas
mental seseorang. Selain itu, sama dengan WAIS, Raven’s Standard Progressive sudah
melewati banyak penelitian dan memiliki banyak data psychometric yang mendukung
reliabilitas dan validitas tes ini. Aspek nonverbal pada SPM meminimalisasi pengaruh
kemampuan berbahasa pada performa dalam pengukuran. Fakta bahwa Raven
menunjukkan sedikit sekali pengaruh budaya dibandingkan dengan tes verbal lainnya
membuat tes ini menjadi salah satu alat ukur global untuk kemampuan kognitif.

9
Minatnya di bidang psikologi berkembang pada usia dini. Setelah selesai
menempuh pendidikan, Raven menjadi akrab dengan Charles Spearman. Raven
berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan adalah sebuah tes yang berdasarkan teori dan
mudah untuk dikelola. Oleh karena itu , ia mulai mengembangkan tes dari dua komponen
g diidentifikasi oleh Spearman – yaitu eductive dan reproductive. SPM datang dengan
sendirinya dengan munculnya Perang Dunia Kedua. Tingginya angka buta huruf
menyebabkan tes verbal kurang layak digunakan. Setelah beberapa latihan validasi, versi
20 menit khusus SPM tersebut diproduksi untuk militer. Tidak adanya ketergantungan
pada bahasa memfasilitasi difusi tes ke dalam sistem militer di seluruh dunia.

C. Rasionalisasi Subtest RPM


a) Standard Progressive Matrices
Standard Progressive Matrices dipublikasikan pertama kali pada tahun 1938.
Booklet tes ini terdiri dari 5 set (A hingga E) dengan 12 pola (A1 hingga E12) yang
membutuhkan semakin banyak kapasitas kognitif seriring meningkatnya nomor soal.
Matriks mencakup berbagi macam permasalahan dan seseorang harus menyelesaikan
permasalahan ini untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Semua item tes
ditampilkan dengan tinta berwarna hitam dan latar berwarna putih.
Tes ini adalah tes yang paling umum digunakan untuk suatu populasi SPM
adalah alat ukur nonverbal yang dirancang untuk mengukur kemampuan seseorang
dalam mempersepsi, berpikir jernih, memaknakan sesuatu yang membingungkan, dan
mebuat konsep baru ketika dihadapkan dengan informasi baru. Skor SPM
mengindikasikan potensi seseorang untuk sukses dalam suatu posisi seperti
supervisor, mid level manager atau posisi yang setara dalam suatu organisasi.
Kategori posisi ini biasanya membutuhkan kemampuan berpikir yang jernih dan
akurat, identifikasi masalah, pemaknaan keadaan secara keseluruhan, dan evaluasi
sementara berdasarkan informasi yang tersedia.

b) Coloured Progressive Matrices


Coloured Progressive Matrices memunculkan matriks dalam bentuk berwarna.
Tes ini hanya memiliki 3 set dengan 12 pola di mana set terakhir ditampilkan dalam
bentuk hitam putih. Jika seseorang berhasil menyelesaikan 3 set, seseorang lolos dari
3 set terakhir SPM. Raven sendiri mengatakan bahwa CPM cocok untuk tujuan studi
antropologis atau studi klinis serta cocok bagi subjek yang memiliki cacat jasmani

10
atau yang kapasitas intelektualnya di bawah normal. Selain itu, tes ini juga biasanya
digunakan untuk anak-anak berusia 4-10 tahun. Seperti RPM pada umumnya, tes ini
berguna untuk mengukur intelegensi umum atau yang biasa dikenal dengan fluid
intelligence

c) Advanced Progressive Matrices


Bentuk terakhir dari tes ini adalah Advanced Progressive Matrices, dirancang
untuk seseorang yang dipercaya memiliki intelegensi di atas rata-rata. Tes ini hanya
memiliki 2 set matriks. Pada set pertama, hanya terdapat 12 pola dengan level
kesulitan yang semakin meningkat. Set kedua berisi 36 matriks yang lebih sulit
daripada SPM. Tes ini biasanya hanya dilakukan oleh individu yang berada di ranking
20% teratas suatu populasi. Dalam analisis 12 item pada APM set I, Hunt (1974)
mengatakan bahwa perceptual algorithm saja sudah cukup untuk menyelesaikan item
nomer 1-6, sedangkan analytic algorithm diperlukan untuk menyelesaikan item 7-12
Bidang pendidikan, klinis dan pekerjaan menggunakan Raven’s Progressive Matrices
untuk alasan yang berbeda-beda.
Tes ini berguna untuk mengukur kerusakan neurological pada pasien di
rumah sakit. Tes ini juga berguna untuk menentukan kemampuan kognitif seseorang
yang tidak bisa menghadapi tes intelegensi yang lebih memakan waktu. Pendidikan
menggunakan tes ini untuk menentukan apakah seorang siswa harus ditempatkan pada
level yang sama. Dalam bisnis, tes ini digunakan untuk mengidentifikasi individu
yang paling pantas untuk posisi manager.
Catatan penting: Tes Raven Progressive Matrices memiliki kemampuan
untuk mengukur general fluid intelligence. Tes ini digunakan dalam studi brain-
imaging untuk menilai bagaimana perbedaan kemampuan menalar dan memecahkan
masalah ditranslasikan ke dalam firing of neurons di otak (Gray, 2003). Dengan
memasangkan magnetic resonance imaging (MRI) ketika partisipan menyelesaikan
matriks, aktivitas otak yang terkait dengan tugas tersebut diobservasi. Studi
menunjukkan bahwa variasi performa tes tercermin dari aktivitas otak di lateral
prefrontal cortex. Partisipan yang memiliki skor tinggi dalam tes RPM menunjukkan
peningkatan aktivitas otak di anterior cingulated cortex dan cerebellum. Studi
mengkonfirmasi bahwa tes intelegensi standar seperti RPM mengukur cara kerja
aktivitas otak yang penting dan spesifik.

11
D. Administrasi
Adapun alat-alat yang diperlukan untuk mendukung seluruh tes adalah
1. Kumpulan gambar-gambar/pola yang disusun oleh John Raven
2. Stopwatch
3. Alat tulis
Untuk Standard Progressive Matrices (SPM) itu sendiri terdiri dari 60 soal yang
dikelompokkan dalam 5 seri untuk usia 6—65 tahun. Tujuannya adalah untuk mengukur
dan menggoongkan tingkat kecerdasan umum dari subjek. Waktu yang diperlukan dalam
menyelesaikan tugas ini dibatasi sepanjang 30 menit.
Sedangkan pada Advanced Progressive Matrices (APM) terdiri dari 2 set dan
bentuknya nonverbal. Set 1 disajikan dalam buku tes yang berisikan 12 butir soal sedangkan
pada set 2 berisikan 36 soal. Pada tes ini dirujukkan pada orang normal berusia diatas 11
tahun dengan tanpa diberikannya batasan waktu. Hal ini digunakan untuk mengukur
kemampian observasi dan clear thinking. Apabila tes ini diberikan batasan waktu, maka
batasan waktu yang tepat adalah 40 menit. Penggunaan batasan waktu ini digunakan apabila
ingin melihat kecepatan dan ketepatan kemampuan intelektual. Lain halnya dengan Colors
Progressive Matrices (CPM) yang diperuntukkan untuk anak berusia 5 -11 tahun, orang-
orang yang lanjut usia dan anak-anak yang defective. Tes ini terdiri dari 36 soal dalam 3 seri
yaitu, A, AB, dan B dan bentuknya dapat berupa soal maupun papan.
Adapun tata cara pelaksanaannya relatif sama untuk ketiga tes, yang diantaranya
adalah:
1. Pelaksana tes memberikan buku tes kepada masing-masing individu dalam keadaan
buku soal tertutup
2. Pelaksana tes memberikan instruksi dimana di dalam buku soal terdapat 60 soal dan
waktu yang diberikan adalah 30 menit. Penyampaian instruksi ini sangat penting di
awal mengerjakan tes sehingga secara fisik dan mental subjek tidak mengalami
kelelahan karena waktu penyajiannya relatif cepat.
3. Pelaksana tes memberikan aba-aba “mulai”
5. Pelaksana tes membiarkan peserta mengerjakan soal
6. Pelaksana tes memberikan aba-aba selesai dan mengumpulkan buku soal.
Hal-hal yang penting pada tes ini terutama pada Standard Progressive Matrices
1. Tes terdiri dari 5 kelompok soal ( A,B,C,D,E ) dimana kelompok soal terdiri
dari 12 soal.

12
1. jumlah keseluruhan soal adalah sebanyak 60 soal (A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7,
A8, A9, A10, A11, A12, B1, B2, B3, B4, B5, B6, B7, B8, B9, B10, B11, B12,
C1, C2, C3, C4, C5, C6, C7, C8, C9, C10, C11, C12, D1, D2, D3, D4, D5, D6,
D7, D8, D9, D10, D11, D12, E1, E2, E3, E4, E5, E6, E7, E8, E9, E10, E11,
E12).
2. Soal bergerak dari soal yang mudah menuju soal yang sulit
3. Semua kelompok soal pada tes ini disajikan dengan dicetak tinta hitam pada
latar putih (hitam putih)

Contoh instruksi
Di sini ada sepotong gambar tetapi ada bagian yang hilang. Coba pilih dari 6 pilihan
di bawahnya mana yang cocok untuk mengisi bagian yang hilang. Apakah anda sudah
mengerti cara mengerjakannya?"

E. Langkah Skoring RPM


Langkah skoring ini berlaku pada ketiga jenis tes Progressive Matrices (SPM, APM, CPM),
yaitu
1. Hitunglah jumlah jawaban benar dari testee
 Jawaban kosong: Gunakan bolpen warna hijau dan bubuhkan tanda “V” pada kotak
yang dilompati/kosong atau tidak dijawab oleh OP.
 Jawaban salah: Gunakan bolpen warna merah dan coret jawaban yang salah.
 Jawaban benar: Gunakan bolpen warna biru dan bubuhkan tanda “V” pada kotak
jawaban yang benar. Beri nilai 1 untuk jawaban benar.
 Pada SPM, skor mentah atau raw score maksimal adalah 60, CPM berjumlah 36 dan
APM bergantung pada jumlah soal masing-masing alat tes.
2. Mengkonversikan skor mentah ke dalam persentil
 Memasukkan skor mentah dalam tabel skor mentah dan mengkonversikannya ke
dalam persentil.
 Skor persentil diperoleh dengan cara mencocokkan skor mentah pada tabel konversi
yang sudah ditentukan, sesuai dengan usia kronologis testee.
3. Mengkonversikan persentil ke dalam IQ
 Untuk mengkonversikan persentil yang sudah di dapatkan untuk masing-masing
testee ke dalam IQ, digunakan tabel equivalensi.

13
4. Menentukan taraf inteligensi
 Kita dapat mengetahui taraf inteligensi testee menggunakan klasifikasi IQ Stanford
Binet.

F.Interpretasi Tes RPM


Klasifikasi inteligensi menurut Raven adalah:
A. Grade I: Intelectually superior: Persentil 95 ke atas.
B. Grade II: Definitely above the average in intellectual capacity: Persentil 75 – 95.
C. Grade III: Intellectually average: Persentil 25 – 75.
 III + bila skor lebih besar dari median atau persentil 50 untuk kelompok usianya.
 III – apabila skornya lebih dari median.
D. Grade IV: Definitely below average in intellectual capacity: di bawah persentil 25,
IV- bila skor terletak di bawah persentil 10.
E. Grade V: Intellectually defective: di bawah persentil 5.

Referensi:
 Andriani, Neny. 2016. Buku Panduan Tes Intelegensi. Padang.
 Azwar, Saifuddin. 2008. Pengantar Psikologi Intelegensi. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
 Fadil, Abdul, Dkk. 2011. Pemanfaatan ICT dalam Pendidikan. Yogyakarta:
Universitas Ahmad Dahlan.
 Nur'aeni. 2012. Tes Psikologi: Tes Inteligensi dan Tes Bakat.Yogyakarta: Universitas
Muhammadiyah (UM) Purwokerto Press dan Pustaka Pelajar.
 Saptoto, Ridwan. 2012. Perbedaan Waktu Pemberian Jawaban dan Hasil Tes
Inteligensi Ditinjau dari Perbedaan Lembar Jawaban. Jurnal Psikologi. Vol 39 (2):
222 – 232.
 Saptoto, Ridwan. 2018. Pengaruh Adaptasi Waktu Administrasi yang disebabkan
Penggunaan Lembar Jawaban Komputer terhadap Hasil CFIT 3 A dan 3 B. Jurnal
Psikologi. Vol 45 (1): 52 – 65.
 Sukadji, Soetarlinah, 1983. Laporan Penelitian Pendahuluan Tes Kecerdasan Culture
Fair Skala 2 dengan petunjuk Penyajian. Monograf
 Susilowati, Endang Sri, 1982. Studi Pendahuluan Tentang Validitas dan Reliabilitas
Culture Fair Tests Skala 2 pada Murid Murid Kelas V Sekolah Dasar Negeri
Karangwuni I, II, dan Sekolah Dasar Negeri II IKIP Yogyakarta. Skripsi Sarjana
PSikologi UGM.

14

Anda mungkin juga menyukai