Anda di halaman 1dari 15

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung (Medicastore, 2003).
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung
(Suyono, 2001). David Ovedorf (2002) mendefinisikan gastritis sebagai inflamasi
mukosa gaster akut atau kronik.
Gastritis yaitu peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung yang
berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan
iritan lain (Reeves, 2002).

B. Klasifikasi
Gastritis ada 2 kelompok yaitu gastritis akut dan gastritis kronik. Salah satu
bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah gastritis akut erosif. Gastritis
akut erosif adalah suatu peradangan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-
kerusakan erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam
daripada mukosa muskularis.
Gastritis kronik bukan merupakan lanjutan dari gastritis akut, dan keduanya
tidak saling berhubungan. Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian
permukaan mukosa lambung yang berkepanjangan yang disebabkan baik oleh ulkus
lambung jinak maupun ganas atau oleh bakteri helicobacter pylori. Gastritis kronik
juga masih dikelompokkan lagi dalam 2 tipe yaitu tipe A dan tipe B. Gastritis kronik
tipe A jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini berhubungan dengan atropi
dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada sekresi gastrik
mempengaruhi produksi antibodi. Anemia pernisiosa berkembang pada proses ini.
Gastritis kronik tipe B lebih lazim. Tipe ini berhubungan dengan infeksi
helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.

C. Penyebab
Penyebab gastritis adalah obat analgetik anti inflamasi terutama aspirin; bahan
kimia, misalnya lisol; merokok; alkohol; stres fisis yang disebabkan oleh luka bakar,
sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf
pusat; refluk usus lambung (Inayah, 2004, hal : 58). Gastritis juga dapat disebabkan
oleh obat-obatan terutama aspirin dan obat anti inflamasi non steroid (AINS), juga
dapat disebabkan oleh gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung seperti trauma, luka
bakar dan sepsis
Gastritis bakterialis biasanya merupakan akibat dari infeksi oleh Helicobacter
pylori (bakteri yang tumbuh di dalam sel penghasil lendir di lapisan lambung).
Bakteri ini bisa menyebabkan gastritis menetap atau gastritis sementara.
Gastritis karena stres akut, merupakan jenis gastritis yang paling berat, yang
disebabkan oleh penyakit berat atau trauma (cedera) yang terjadi secara tiba-tiba.
Cederanya sendiri mungkin tidak mengenai lambung, seperti yang terjadi pada luka
bakar yang luas, operasi besar, gagal ginjal, gagal nafas, penyakit hari yang berat,
septicemia atau cedera yang menyebabkan perdarahan hebat. Gambaran yang sama
tentang gasstritis ini disebut gastritis akut erosif. Kira-kira 90% pasien yang dirawat
di ruang intensif menderita gastritis akut erosif ini.
Gastritis erosif kronis bisa merupakan akibat dari bahan iritan seperti obat-
obatan, terutama aspirin dan obat anti peradangan non-steroid lainnya, penyakit
Crohn, serta infeksi virus dan bakteri. Gastritis ini terjadi secara perlahan pada orang-
orang yang sehat, bisa disertai dengan perdarahan atau pembentukan ulkus (borok,
luka terbuka). Gastritis ini paling sering terjadi pada alkoholis.
Gastritis karena virus atau jamur bisa terjadi pada penderita penyakit menahun
atau penderita yang mengalami gangguan sistem kekebalan. Gastritis eosinofilik bisa
terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap infestasi cacing gelang. Eosinofil (sel
darah putih) terkumpul di dinding lambung.
Gastritis atrofik terjadi jika antibodi menyerang lapisan lambung, sehingga
lapisan lambung menjadi sangat tipis dan kehilangan sebagian atau seluruh selnya
yang menghasilkan asam dan enzim. Keadaan ini biasanya terjadi pada usia lanjut.
Gastritis ini juga cenderung terjadi pada orang-orang yang sebagian lambungnya telah
diangkat (menjalani pembedahan gastrektomi parsial). Gastritis atrofik bisa
menyebabkan anemia pernisiosa karena mempengaruhi penyerapan vitamin B12 dari
makanan. Pada gastritis atrofik, infiltrat menginflamasi lamina propria dengan
menghilangnya kelenjar-kelenjar. Jika atrofi gaster menjadi komplit, elemen kelenjar
berkurang atau hampir tidak ada, tetapi tidak terdapat sel radang, anemia pernisiosa
dapat timbul pada gastritis jenis ini.
Penyakit Ménétrier merupakan jenis gastritis yang penyebabnya tidak
diketahui. Dinding lambung menjadi tebal, lipatannya melebar, kelenjarnya membesar
dan memiliki kista yang terisi cairan. Sekitar 10% penderita penyakit ini menderita
kanker lambung. Gastritis juga bisa terjadi jika seseorang menelan bahan korosif atau
menerima terapi penyinaran kadar tinggi.

D. Patofisiologi
Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obat-
obatan dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada para yang
mengalami stres akan terjadi perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang
akan meningkatkan produksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya HCl
yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia.
Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel
kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya.
Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut
tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi
diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang
memproduksi HCl (terutama daerah fundus) dan pembuluh darah.
Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat.
Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh karena
kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi
mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan
mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa akibat erosi memicu
timbulnya sindrom dyspepsia.

E. Tanda dan Gejala


Gejalanya tergantung kepada jenis gastritisnya. Penderita gastritis mengalami
gangguan pencernaan (indigesti) dan rasa tidak nyaman di perut sebelah atas. Pada
gastritis karena stres akut, penyebabnya (misalnya penyakit berat, luka bakar atau
cedera) biasanya menutupi gejala-gejala lambung; tetapi perut sebelah atas terasa
tidak enak.
Segera setelah cedera, timbul memar kecil di dalam lapisan lambung. Dalam
beberapa jam, memar ini bisa berubah menjadi ulkus. Ulkus dan gastritis bisa
menghilang bila penderita sembuh dengan cepat dari cederanya. Bila penderita tetap
sakit, ulkus bisa membesar dan mulai mengalami perdarahan, biasanya dalam waktu
2-5 hari setelah terjadinya cedera. Perdarahan menyebabkan tinja berwarna kehitaman
seperti aspal, cairan lambung menjadi kemerahan dan jika sangat berat, tekanan darah
bisa turun. Perdarahan bisa meluas dan berakibat fatal. Pada sebagian besar kasus,
gejalanya amat ringan bahkan asimptomatis. Keluhan itu misalnya nyeri pada ulu hati
yang biasanya ringan.
Gejala dari gastritis erosif kronis berupa mual ringan dan nyeri di perut
sebelah atas. Tetapi banyak penderita (misalnya pemakai aspirin jangka panjang)
tidak merasakan nyeri. Penderita lainnya merasakan gejala yang mirip ulkus, yaitu
nyeri ketika perut kosong. Jika gastritis menyebabkan perdarahan dari ulkus lambung,
gejalanya bisa berupa tinja berwarna kehitaman seperti aspal (melena), serta muntah
darah (hematemesis) atau makanan yang sebagian sudah dicerna, yang menyerupai
endapan kopi.
Gejala lainnya dari gastritis kronik adalah anoreksia, mual-muntah, diare, sakit
epigastrik dan demam. Perdarahan saluran cerna yang tak terasa sakit dapat terjadi
setelah penggunaan aspirin. Pada gastritis eosinofilik, nyeri perut dan muntah bisa
disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan ujung saluran lambung yang menuju
ke usus dua belas jari.
Penyakit Méniére, gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri lambung.
Hilangnya nafsu makan, mual, muntah dan penurunan berat badan, lebih jarang
terjadi. Tidak pernah terjadi perdarahan lambung. Penimbunan cairan dan
pembengkakan jaringan (edema) bisa disebabkan karena hilangnya protein dari
lapisan lambung yang meradang. Protein yang hilang ini bercampur dengan isi
lambung dan dibuang dari tubuh.
Pada gastritis sel plasma, nyeri perut dan muntah bisa terjadi bersamaan
dengan timbulnya ruam di kulit dan diare. Gastritis akibat terapi penyinaran
menyebabkan nyeri, mual dan heartburn (rasa hangat atau rasa terbakar di belakang
tulang dada), yang terjadi karena adanya peradangan dan kadang karena adanya tukak
di lambung. Tukak bisa menembus dinding lambung, sehingga isi lambung tumpah ke
dalam rongga perut, menyebabkan peritonitis (peradangan lapisan perut) dan nyeri
yang luar biasa. Perut tampak kaku dan keadaan ini memerlukan tindakan
pembedahan darurat. Kadang setelah terapi penyinaran, terbentuk jaringan parut yang
menyebabkan menyempitnya saluran lambung yang menuju ke usus dua belas jari,
sehingga terjadi nyeri perut dan muntah. Penyinaran bisa merusak lapisan pelindung
lambung, sehingga bakteri bisa masuk ke dalam dinding lambung dan menyebabkan
nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba.
F. Diet Pada Gastritis
Diet pada penderita gastritis adalah diet lambung. Prinsip diet pada penyakit
lambung bersifat ad libitum, yang artinya adalah bahwa diet lambung dilaksanakan
berdasarkan kehendak pasien. Prinsip diet diantaranya pasien dianjurkan untuk makan
secara teratur, tidak terlalu kenyang dan tidak boleh berpuasa. Makanan yang
dikonsumsi harus mengandung cukup kalori dan protein (TKTP) namun kandungan
lemak/minyak, khususnya yang jenuh harus dikurangi.
Makanan pada diet lambung harus mudah dicernakan dan mengandung serat
makanan yang halus (soluble dietary fiber). Makanan tidak boleh mengandung bahan
yang merangsang, menimbulkan gas, bersifat asam, mengandung minyak/ lemak
secara berlebihan, dan yang bersifat melekat. Selain itu, makanan tidak boleh terlalu
panas atau dingin.
Beberapa makanan yang berpotensi menyebabkan gastritis antara lain garam,
alkohol, rokok, kafein yang dapat ditemukan dalam kopi, teh hitam, teh hijau,
beberapa minuman ringan (soft drinks), dan coklat. Garam dapat mengiritasi lapisan
lambung. Beberapa penelitian menduga bahwa makanan bergaram meningkatkan
resiko pertumbuhan infeksi Helicobacter pylori. Gastritis juga biasa terjadi pada
alkoholik. Perokok berat dan mengkonsumsi alkohol berlebihan diketahui
menyebabkan gastritis akut. Makanan yang diketahui sebagai iritan, korosif, makanan
yang bersifat asam dan kopi juga dapat mengiritasi mukosa lambung.

G. Pengobatan
Pengobatan umum terhadap gastritis adalah menghentikan atau menghindari
faktor penyebab iritasi, pemberian antasid dan simptomatik lain, dan pada gastritis
atrofik dengan anemia pernisiosa diobati dengan B12 intramuskuler
(hydroxycobalamin atau cyanocobalamin).
Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter pylori, maka diberikan
bismuth, antibiotik (misalnya amoksisilin dan klaritromisin) dan obat anti-tukak
(omeprazol).
Penderita gastritis karena stres akut banyak yang mengalami penyembuhan
setelah penyebabnya (penyakit berat, cedera atau perdarahan) berhasil diatasi. Tetapi
sekitar 2% penderita gastritis karena stres akut mengalami perdarahan yang sering
berakibat fatal. Karena itu dilakukan pencegahan dengan memberikan antasid (untuk
menetralkan asam lambung) dan obat anti-ulkus yang kuat (untuk mengurangi atau
menghentikan pembentukan asam lambung). Perdarahan hebat karena gastritis akibat
stres akut bisa diatasi dengan menutup sumber perdarahan pada tindakan endoskopi.
Jika perdarahan berlanjut, mungkin seluruh lambung harus diangkat.
Eradikasi Helicobacter pylori merupakan cara pengobatan yang dianjurkan
untuk gastritis kronis yang ada hubungannya dengan infeksi oleh kuman tersebut.
eradikasi dapat mengembalikan gambaran histopatologi menjadi normal kembali.
Eradikasi dapat dicapai dengan pemberian kombinasi penghambat pompa proton dan
antibiotik. Antibiotik dapat berupa tetrasiklin, metronidasol, klaritromisin, dan
amoksisilin. Kadang-kadang diperlukan lebih dari satu macam antibiotik untuk
mendapatkan hasil pengobatan yang baik.
Gastritis erosif kronis bisa diobati dengan antasid. Penderita sebaiknya
menghindari obat tertentu (misalnya aspirin atau obat anti peradangan non-steroid
lainnya) dan makanan yang menyebabkan iritasi lambung. Misoprostol mungkin bisa
mengurangi resiko terbentuknya ulkus karena obat anti peradangan non-steroid.
Untuk meringankan penyumbatan di saluran keluar lambung pada gastritis eosinofilik,
bisa diberikan kortikosteroid atau dilakukan pembedahan.
Gastritis atrofik tidak dapat disembuhkan. Sebagian besar penderita harus
mendapatkan suntikan tambahan vitamin B12. Gastiritis karena penyakit Ménétrier
bisa disembuhkan dengan mengangkat sebagian atau seluruh lambung. Sedangkan
gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat ulkus yang menghalangi pelepasan asam
lambung.
BAB II
LAPORAN KASUS

UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II

STATUS PASIEN
1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur/ : Miserti/ Perempuan/ 50 tahun
b. Pekerjaan/pendidikan : Ibu rumah tangga
c. Alamat : Jl Bahari I RT I/ RW III , Padang

2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga


a. Status Perkawinan : Janda dengan 3 orang
b. Jumlah Anak/ Saudara : 3 orang
c. Status Ekonomi Keluarga: Mampu , dimana penghasilan di beri oleh anak-
anaknya yang sudah bekerja
d. KB : Tidak ada
e. Kondisi Rumah :
- Rumah semi permanen, 4 kamar tidur, dan 1 kamar mandi.
- Lantai rumah dari semen, ventilasi udara dan sirkulasi udara kurang baik,
pencahayaan kurang karena rumahnya tidak menghadap matahari terbit, kamar
pasien cukup lapang.
- WC dalam rumah
- Listrik ada
- Sumber air : sumur gali, airnya jernih tidak berbau dan tidak berasa.
- Halaman rumah tidak terlalu luas, dan terlihat agak gersang tanpa tanaman.
- Bak mandi kelihatan bersih dan dikuras 1 x/seminggu.
- Sampah di bakar, kadang-kadang di buang ke laut kalau tidak sempat di bakar
- Rumah dihuni oleh 5 orang yang terdiri dari pasien, anaknya 3 orang dan
menantunya 1 orang
Kesan : Higiene dan sanitasi lingkungan cukup
f. Kondisi Lingkungan Keluarga
- Pasien tinggal di lingkungan yang cukup padat penduduk dan di dekat pantai,
jarak rumah dari pantai lebih kurang 500 meter
- Warga di sekitar lingkungan pasien sangat ramah dan hidup kekeluargaan di
tempat ini cukup baik
- Lingkungan sekitar cukup bersih walau tidak tertata dengan rapi

3. Aspek Psikologis di keluarga


- Hubungan dengan anggota keluarga baik
- Pasien merasa ketakutan jika rumah yang ditempatinya ini akan di ambil oleh
keluarga suaminya karena suaminya telah meninggal.
- Faktor stress dalam keluarga ada, dimana hubungan dengan sanak keluarga
dan masyarakat di kampungnya (pariaman) tidak terbina dengan baik.
Masyarakat di sana tidak peduli satu sama lain jadi pasien ini merasa kesepian
jika pulang ke kampungnya.

4. Riwayat Penyakit Sekarang


Keluhan utama : sakit di ulu hati dan menjalar ke punggung.
 Sakit di ulu hati dan menjalar ke punggung sejak ± 2 minggu yang lalu dan
meningkat sejak ± 4 hari ini. Sakit ini muncul setelah pasien pulang dari
kampungnya 2 minggu yang lalu, karena selama di kampungnya pasien makan
tidak teratur, dan tidak ada yang mengawasi makanannya. Ditambah lagi
dengan masyarakat di sana acuh tidak acuh, sedangkan pasien sendiri
orangnya suka bergaul dan bersosialisasi dengan orang-orang.
 Sakit ini berkurang jika setelah makan
 Mual ada, dan muntah tidak ada
 Kembung ada
 Sering sendawa-sendawa ada
 Kebiasaan makan pasien selalu memakan makanan yang pedas-pedas, karena
jika tidak pedas nafsu makan pasien hilang.
 Riwayat meminum jamu-jamuan ( kunyit asam) ada sejak pasien gadis
 Riwayat sering menggunakan obat-obat sakit kepala di beli di kedai ada
 Sejak 2 tahun ini pasien selalu mengkonsumsi piroksikam yang di beli sendiri
di apotik tanpa resep dokter jika pasien merasa tangannya ngilu-ngilu
 BAK jumlah dan warna biasa
 BAB warna dan konsistensi biasa.

5. Riwayat Penyakit dahulu / Penyakit Keluarga


- Pasien telah menderita penyakit seperti ini sejak tahun tahun 2006, dan telah
pernah di rawat di RSUP Dr.M.Djamil padang selama 20 hari karena
sebelumnya pasien demam, kemudian mual muntah dan sampai tidak bisa
bangun dari tidur. Saat di rawat ini pasien juga telah di lakukan endoskopi dan
hasilnya kata dokter pasien menderita gastritis yang sudah lama. Dan pasien
juga telah menjalani rawat jalan selama 2 tahun, setelah itu karena
penyakitnya tidak kambuh-kambuh lagi pasien malas untuk berobat dan putus
obat sampai di sini.
- Kakak pasien juga menderita penyakit seperti ini dan juga dikatakan menderita
gastritis.

6. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Nadi : 88x/ menit
Nafas : 20x/menit
TD : 100/70 mmHg
Suhu : 37,4 0C
BB : 63 Kg
Mata : Konjungtiva anemis, Sklera tidak ikterik
Kulit : Pucat tidak ada, sianosis tidak ada, ikterik tidak ada
THT : tidak ada kelainan
Leher : tidak ada pembesaran KGB
Dada
Paru
Inspeksi : simetris kiri dan kanan
Palpasi : fremitus kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)
Jantung
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi :
Kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
Kanan : LSD
Atas : RIC II
Auskultasi : bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)

Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hati dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan (+) di
epigastrium
Perkusi : Timpani
Auskultasi : BU (+) N
Punggung : Nyeri tekan dan nyeri ketok CVA tidak ada.
Alat kelamin : Tidak diperiksa
Anggota gerak : Akral hangat, refilling kapiler baik, Rf +/+, Rp -/-

7. Laboratorium : tidak dilakukan

8. Pemeriksaan anjuran :
• Pemeriksaan Hb, Ht, Leukosit dan trombosit
• Endoskopi ulang

9. Diagnosis Kerja
• Gastritis kronis

10. Diagnosis Banding :


• Ulkus peptikum
11. Manajemen
a. Preventif :
• Hindari makan makanan yang mengandung gas seperti kol, lobak dan
nangka
• Hindari makan makanan yang pedas-pedas
• Jangan membeli obat-obatan tanpa resep dokter di apotik-apotik
• Makan secara teratur
• Hindari stress

b. Promotif :
1. Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit ini akan kambuh jika pasien
stress, atau tidak patuh dengan nasehat dokter
2. Menjelaskan komplikasi terburuk dari penyakit ini agar pasien patuh untuk
berobat
3. Menjelaskan akibat membeli obat sembarangan di apotik

c. Kuratif :
• Istirahat dan
• Diet yang ketat (makan secara teratur, tidak boleh terlalu kenyang dan
tidak boleh puasa)

Medikamentosa :
• Antasida tab 3 x 1 tab
• Omeprazol tab 2x20 mg
• Vitamin B complex 3x1 tab

d. Rehabilitatif :
• Jika nyerinya makin bertambah dan ada muntah darah segera dibawa ke
puskesmas atau ke Rumah sakit.
• Pasien disarankan untuk control lagi ke poli penyakit dalam RSUP dr
M.Djamil Padang untuk melihat kembali apakah bertambah parah.

Dinas Kesehatan Kodya Padang


Puskesmas Ulak Karang

Dokter : Suyastri
Tanggal : 04 Januari 2011

R/ Antasida tab No X
∫ 3 dd tab I a.c
__________________________________________£
R/ Omeprazol tab 20 mg No X
∫ 2 dd tab I
__________________________________________£
R/ Vitamin Bcompleks No XV
∫ 3 dd tab I
__________________________________________£

Pro : Miserti
Umur : 50 tahun
Alamat : Jl Bahari I RT I/RW III, Padang
BAB III
DISKUSI

Seorang pasien datang ke Puskesmas Ulak Karang dengan keluhan utama nyeri di ulu
hati yang menjalar ke punggung. Dan di diagnosa dengan gastritis kronik. Diagnosis di
tegakkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik.
Dari anamnesa di dapatkan Sakit di ulu hati dan menjalar ke punggung sejak ± 2
minggu yang lalu dan meningkat sejak ± 4 hari ini. Sakit ini muncul setelah pasien pulang
dari kampungnya 2 minggu yang lalu, karena pasien stress akibat masalah di kampungnya,
sakit ini berkurang jika setelah makan, mual ada, dan muntah tidak ada, kembung ada, sering
sendawa-sendawa ada, kebiasaan makan pasien selalu memakan makanan yang pedas-pedas,
riwayat meminum jamu-jamuan ( kunyit asam) ada sejak pasien gadis, iwayat sering
menggunakan obat-obat sakit kepala di beli di kedai ada, sejak 2 tahun ini pasien selalu
mengkonsumsi piroksikam yang di beli sendiri di apotik tanpa resep dokter jika pasien
merasa tangannya ngilu-ngilu. Dari pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan di epigastrium,
dan pemeriksaan lainnya normal.
Dari riwayat pengobatan pasien telah pernah di rawat di M.Djamil pada tahun 2006
selama 15 hari dengan diagnosis gastritis kronis e.c helicobacter pillory, dan rajin kontrol
tiap 6 bulan selama 2 tahun yaitu dari 2006-2008, kemudian karena pasien tidak merasakan
keluhan lagi makanya ia berhenti kontrol. Seharusnya pasien ini di sarankan kontrol terus
sampai 4 tahun. Pencetus awalnya penyakit pasien ini adalah karena adanya riwaya makan
jamu-jamuan semenjak gadis, ditambah dengan adanya stress karena suaminya meninggal
dunia pada tahun 2006 tersebut, dan kebiasaannya suka makan makanan yang pedas. Dimana
ini semua akan merangsang pembentukan asam lambung sehingga akan menyebabkan
kerusakan dari mukosa lambung itu akibatnya muncullah gejala sindrom dyspepsia.
Pada saat sekarang penyakitnya kambuh lagi ini disebabkan karena pasein sering
mengkonsumsi obat-obat NSAID secara sembarangan tanpa resep dokter, adanya stress lagi
yaitu pasien menderita sakit kulit yang kemungkinan scabies setelah itu pasien berobat di
kampungnya tapi sanak saudara dikampungnya tidak peduli sama dia dan mengucilkannya,
pasien tidak makan secara teratur dan ditambah lagi tidak ada yang mengontrol makanan
pasien.
Diagnosis banding dari pasien ini adalah ulkus peptikum karena sebelumnya pasien
telah berobat dengan diagnosis gastritis kronik e.c helicobacter pylori dan control tidak
sampai selesai kemungkinan eradikasi H.pilorynya belum selesai sehingga akan menginvasi
lebih dalam dan terjadilah ulkus. Ditambah lagi pasien yang akhir-akhir ini sering minum
NSAID secara sembarangan sehingga akan memperparah ari kerusakan mukosa lambung itu
sendiri. Diagnosis banding ini lebih di kuatkan dengan adanya nyeri di ulu hati yang menjalar
ke punggung yang berarti ulkusnya telah penetrasi ke pancreas, serta adanya keluarga pseien
yang meninggal karena sakit seperti ini. Untuk lebih memastikannya maka pemeriksaan
anjurannya adalah endoskopi ulang dan pasien disarankan untuk kembali control ke RSUP
M.Djamil.
Pada pasien ini diberikan pengobatan medikamentosa omeprazol dan antasida.
Berdasarkan literatur kalau pasien menderita gastritis karena H.pilory maka pengobatannya
adalah golongan PPI di tambah amoksisilin. Disini tidak diberikan karena yang sekarang
belum tentu akibat H.pilorynya walaupun ia sebelumnya akibat H.Pilory.
Untuk pencegahannya agar tidak kambuh lagi adalah hindari makan makanan yang
mengandung gas seperti kol, lobak dan nangka, hindari makan makanan yang pedas-pedas,
jangan membeli obat-obatan tanpa resep dokter di apotik-apotik, makan secara teratur, dan
hindari stress dengan melakukan kegiatan yang positif seperti ikut acara majlis taklim, ikut
kegiatan-kegiatan di mesjid.
DAFTAR PUSTAKA

Hadi, sujono.2002.Gastroenterologi. Bandung : PT alumni

Sudoyo, W. Aru.2006. Ilmu Penyakit dalam. Jakrta: FKUI