Anda di halaman 1dari 14

Tugas Ke-1 (Kesatu)

Pembelajaran Seni Berbahasa


Makalah disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah penegmabangan materi ajar bahasa indonesia
Dosen Pengampu: Zulfadli Hamdi, M.Pd

Oleh:
NAMA : NURULAINI
NPM : 170102096

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN (FIP)
UNVERSITAS HAMZANWADI
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa adalah hal terpenting dala kehidupan sehari-hari. karena dnegan
bahasa semua orang bersosialisasi dengan baik, menyampaikan aspirasi dan
bahkan menolak aspirasi yang tidak sesuai dengan pendapat atau pengetahuan
sendiri. Bahasa kadang menjadi sesuatu yang sensitif dikalangan masyarakat luas
dikarenakan perbedaan bahasa yang berkembang dimasyarakat. Perbedaan bahasa
tersebut menjadi salah satu landasan adanya bahasa pemersatu yang bisa
digunakan untuk semua kalangan dan semua daerah tentu dengan aturan bahasa
yang baik dan benar yang dilandasi dengan aturan kaidah berbahasa.
Peran dan pentingnya aturan dalam berbahasa memerlukan wadah untuk
mempelajarinya sehingga perlu adanya pendidikan bahasa. Saat ini pendidikan
bahasa sudah lumrah diajarkan bahkan ada disetiap jenjang pendidikan mulai dari
pendidikan sekolah dasar sampai perguruan tinggi, hanya saja materi dan ranah
penerapannya saja yang berbeda. Bahasa pada dasarnya adalah sebuah simbol
atau lambang yangdigunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang
berinovatif dan beragam.
Adanya perbedaan dan variasi dalam berbahasa inilah yang menjadikan
pendidikan berbahasa karena bahasa yang baik dan dibenarkan itu memiliki
aturan aturan serta kajian yang baik dalam berbahasa. salah satu kajian yang ada
dalam berbahasa meliputi seni bahasa yang didalamnya tercakup menyimak,
membaca, menulis, dan berbicara. seni secara sederhananya dikatakan sebagai
sebuah keterampilan yang dimana bisa dikembangkan dan dilatih dalam
penerapannya. Dasar dalam berbahasa ini perlu dikembangkan dalam dunia
pendidikan terlebih khusus lagi dalam pendidikan anak SD.
Bahasa yang diajarkan dengan baik pada tahap awal perkembangan
anak, akan menjadikan anak lebih mengerti dan faham tentang aturan dalam

1
berbahasa. perbedaan karakter, latar belakang, serta pemahaman siswa tentu
menjadi hal pertama yang dipertimbangkan dalam pembelajaran bahasa anak.
Karena faktor-faktor tersebut dalam belajar berbahasa seorang pendidik juga
menemukan teknik yang cocok serta penerapan yang berkesinambungan dalam
pendidikan. Suatu tindakan yang kecil bissa berdampak bagi penerima tindakan.
Pembelajaran bahasa anak yang diajarkan oleh seorang guru, memiliki
implikasi atau akibat yang bisa dirasakan langsung oleh si penerima tindakan
yakni peserta didik. implikasi yang terjadi pada anak atau dunia pendidikan
daalam bidang seni berbahasa. Seni berbahasa yang diberikan oleh seorang guru
dalam pendidikan bisa memiliki yang mengena langsung kepada pelaku
pendidikan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Bahasa
Para pakar linguistik mendefinisikan bahasa sebagai “satu sistem
lambang bunyi yang bersifat arbitrer,” yang kemudian lazim ditambah dengan
“yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan
mengidentifikasi diri.” (Chaer, 2015). Definisi diatas menggambarkan tentang apa
itu bahasa sebenarnya dan menyatakan bahwa fungsi bahasa itu sendiri.
Bagian pertama definisi di atas menyatakan bahwa bahasa itu adalah
satu sistem, sama dengan sistem-sistem lain, yang sekaligus bersifat sistematis
dan bersifat sistemis. Jadi, bahasa itu bukan merupakan satu sistem tunggal
melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem.. Karena tersusun dari beberapa hal
tersebut, bahasa tidak bisa berdiri sendiri karena harus tersusun dari beberapa hal
yang menunjang bahasa itu bisa dipergunakan dengan semestinya dan berfungsi
sebagaimana definisi yang sudah dijelaskan pada pengertian yang tertera diatas.
Sistem bahasa ini merupakan sistem lambang, seperti lambang lalu
lintas serta bentuk lambang yang lainnta. Hanya, sistem lambang bahasa ini
berupa bunyi, bukan gambar atau tanda lain, dan bunyi itu adalah bunyi bahasa
yang dilahirkan oleh alat ucap manusia. Sama dengan sistem lambang lain,
sistem lambang bahasa ini juga bersifat arbitrer. Artinya, antara lambang yang
berupa bunyi itu tidak memiliki hubungan wajib dengan konsep yang
dilambangkannya. Maka, pertanyaan, misalnya “mengapa binatang berkaki empat
yang biasa dikendarai disebut [kuda],’’ tidaklah bisa dijelaskan. Pada suatu saat
nanti bisa saja atau mungkin saja tidak lagi disebut [kuda], melainkan disebut
dengan lambang bunyi lain, sebab bahasa itu bersifat dinamis.

Makna bahasa diatas juga mendifinisikan jika setipa lambang bahasa


baik itu kata, kalimat ataupun wacana tersebut memiliki makna yang bisa berubah

3
setiap waktu sesuai dengan perkembangan atau gaya hidup setiap pelaku atau
pengguna bahasa, Bahasa yang baik dan benar memiliki aturan dan konsep yang
seharusnya difahami oleh setiap pelaku pendidikan.
Bagian tambahan dari defenisi di atas menyiratkan fungsi bahasa dilihat
dari segi sosial, yaitu bahwa bahasa itu adalah alat interaksi atau alat komunikasi
di dalam masyarakat. Tentu saja konsep linguistic deskriptif tentang bahasa itu
tidak lengkap, sebab bahasa bukan hanya alat interaksi sosial, melainkan juga
memiliki fungsi dalam berbagai bidang lain. Itulah sebabnya mengapa psikologi,
antropologi, etnologi, neurologi, dan filologi juga menjadikan bahasa sebagai
salah satu objek kajiannya dari sudut atau segi yang berbeda-beda.
Kridaklasana (1983 dan juga dalam Djoko Kentjono 1982) ) Bahasa
adalah system lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota
kelompok social untuk berkerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan
diri”.
Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional bangsa Indonesia dan bahasa
Malaysia adalah bahasa nasional bangsa Malaysia. Oleh karena itu, meskipun
bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti, tidak ada kegiatan manusia
yang tidak disertai bahasa, tetapi karena “rumitnya” menentukan suatu Parole
bahasa atau bukan, hanya dialek saja dari bahasa yang lain, maka hingga kini
belum pernah ada angka yang pasti berapa jumlah bahasa yang ada didunia ini.
1. Bahasa Sebagai Sistem
Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari
dengan makna `cara` atau `aturan`, seperti dalam kalimat “ kalau tahu
systemnya, tentu mudah mengerjakkannya”.
2. Bahasa sebagai lambang.
Berbeda dengan tanda, lambang atau symbol tidak bersifat langsung
dan alamiah lambang menandai suatu yang lain secara konvesional, karena
lambang bisa menunjukkan suatu hal yang memiliki makna yang berbeda

4
tergantung dari keadaan penggunaannya dan tidak secara alamiah dan
langsung.
3. Bahasa adalah bunyi
Bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran
gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan
udara. Bahasa yang dilisankan inilah yang pertama-tama menjadi objek
linguistik akibat dari bunyi yang daihasilkan dari getarannya.
4. Bahasa itu bermakna
Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa
berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa,
kalimat, dan wacana. Semua satuan itu memiliki makna. Namun, karena ada
perbedaan tingkatnya, makna jenis maknanya pun tidak sama.
5. Bahasa itu arbitrer
Kata arbiterer bias diartikan `sewenag-wenang, berubah-ubah, tidak
tepat, makna suka `. yang dimaksud dengan istilah arbiterer itu adalah tidak
adanya hubungan wajib antara lambang bahasa.
6. Bahasa itu konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang
dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk
suatu konsep tertentu bersifat konvesional.
7. Bahasa itu produktif
Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti
produktif adalah “ banyak hasilnya”, atau lebih tepat “terus-menerus
menghasilkan”.
8. Bahasa itu unik
Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki
oleh yang lain. Lalu, kalau bahasa dikatakan bersifat unik, maka artinya,
setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa
lainnya.

5
9. Bahasa itu universal
Ciri-ciri yang universal ini tentunya merupakan unsur bahasa yang
paling umum, yang bias diaktifkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain.
B. Seni Berbahasa
Seni pada lumrahnya kebanyakana orang mengartikannya sebagai
sebuah hiburan yang dimiliki oleh sebagian orang tertentu saja. Seni adalah
subjek yang didapat secara kreatif dianyam didalam subjek-subjek yang lain atau
dihubungkan dengan berbagai subjek dlam program pendidikan. Seni tidak hanya
didapat pada pendidikan formal seni saja. Seni hidup dalam diri manusia. Seni
memiliki banyak aspek mulai dari seni tari, drama, rupa, musik, dan teater.
Seni adalah milik semua manusia yag diolah sendiri oleh manusia
menggunakan kemampuan mental, kognitif, dan psikologis yang ada didalam
dirinya. Tidak hanya menyangkut kreasi, seni berbahasa juga ditunjukkan dalam
kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa dalam konteks tertentu terdapat
perbedaan baik guru, teman, orang tua, tempat ramai dan lain-lain.
Lintas seni berbahasa juga meliputi keterampilan-keterampilan yang ada
didalam berbahasa yang mencakup keterampilan membaca, menulis, menyimak,
dan berbicara. Keterampilan atau seni inilah yang dikembangkan oleh diri
manusia untuk meningkatkan kemampuannya.
Pada hakikatnya, keterampilan berbahasa terdiri dari empat komponen,
yaitu menulis, membaca, berbicara, menyimak. Setiap keterampilan itu erat sekali
berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam.
Keterampilan berbahasa diperoleh melalui susatu hubungan urutan yang teratur,;
Mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak, kemudian berbicara, sesudah
itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari
sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya
merupakan suatu kesatuan.
Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses
mendasari Bahasa. Sebab, Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin

6
terampil seorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya.
Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan
banyak latihan, Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan
berfikir.
1. Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa
Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang
kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada
amsa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari. Berbicara
sudah barang tentu berhubungan erat dengan perkembangan kosa kata yang
diperoleh oleh sang anak; melalui kegiatan menyimak dan membaca. Berikut
ini hubungan antara:
a. Menyimak dan berbicara
Menyimak dan berbicara adalah suatu kegiatan berkomunikasi secara
langsung yang bisa emlalu tatap muka langsung atau tidak tatap muka
langsung.
Antara berbicara dan menyimak terdapat hubungan yang erat,
hubungan ini terdapat pada hal-hal berikut:
1) Ujaran biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru.
2) Kata-kata yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya
ditentukan oleh perangsang yang mereka temui.
3) Ucapan sang anak menggambarkan penggunaan Bahasa dirumah dan
kehidupan dalam bermasyarakat..
4) Anak yang memiliki usia yang lebih muda lebih memahami kalimat
yang disimaknya daripada kalimat yang diucapkannya.
5) Memperbaiki kemampuan menyimak bisa membantu meningkatkan
tingkat kualitas seseorang dalam berbicara.
6) Faktor terpenting dalam meningkatkan cara pemakaian kalimat dan
bahasa seorang anak.

7
b. Hubungan antara berbicara dan membaca
Berbicara dan membaca memiliki hubungan dlam meningkatkan kualitas
berbahasa seseorang, difokuskan pada kegiatan lisan dan membaca.
Hubungan antara kedua keterampilan ini adalah antara lain:
1) Perubahan serta penampilan membaca berbeda dengan kemampuan
dalam berbahasa lisan atau ucapan.
2) Pola ucapan pada anak yang tidak bisa membaca bisa mengganggu
proses pembelajaran pada anak-anak, seperti anak yang mengalami
tuna-aksara.
3) Kalau pada tahun-tahun awal sekolah, ajaran membentuk suatu dasar
bagi pelajaran membaca, maka membaca bagi anak-anak kelas yang
lebih tinggi turut membantu meningkatkan Bahasa lisan mereka
4) Kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara
langsung.
c. Hubungan antara Ekspresi lisan dan Ekspresi Tulis
Berkomunikasi lisan dan berbicara dengan cara tulisan memiliki
banyak kesamaan, diantaranya:
1) Anak bisa berbicara sebelum anak bisa menulis.
2) Anak yang telah dapat menulis dengan lancer biasanya dapat pula
menuliskan pengalaman-pengalaman pertamanya meski perlu
membacakan ide-ide rumit yang didapatnya.
3) Perbedaan juga terjadi antara komunikasi lisan dan komunikasi dalam
bentuk tertulis.
4) Baik dalam membaca mauun menyimak, kesatuan pemahaman lebih
tertuju pada frase, kalimat, atau paragraph ketimbang pada kata
tunggal itu sendiri.
5) Sebagai tambahan terhadap pemahaman suatu kalimat atau bagian
secara tepat dan alamiah, baik membaca ataupun menyimak dapat
melibatkan interpretasi kritis dan kreatif terhadap bahan.

8
6) Menyimak dan membaca memiliki situasi individual maupun bersifat
sosial tergantung dari situasi yang ada.
d. Berbicara sebagai seni dan ilmu
Berbicara biasanya dibagi menjadi dua bidang umum wilayah, yakni:
1) Berbicara terapan atau berbicara fungsional
2) Penegtahuan dasar berbicara.

Berbicara dapat dilihat sebagai seni dan sebagai sumber ilmu. Jika
berbicara tentang serbicara sebagai seni ilmu, maka penekanan
diletakkan pada penerapannya sebagai alat komunikasi di masyarakat
serta butir-butir mendapat perhatian antara lain sebagai berikut:

a. Berbicara dimuka umum


b. Semantic: Pemahaman makna kata
c. Diskusi kelompok

C. Teknik Belajar Berbahasa Anak


1. Fase Fonologis
Pada pase in tentunya anak yang baru lahir dengan orang dewasa
memiliki fisiologis yang berbeda. Anak pada usia 6 minggu baru bisa
menghasilkan bunyi reflektif dan vegetatif. Anak mengeluarkan bunyi-bunyi
yang mirip bunyi vokal atau konsonan. Pada usia 8-20 minggu anak berada
pada tahap mendekut (cooing) dengan bunyi sejenis nunyi konsonan /c/,
/g/, /x/, dan /k/ yang diikuti vokal /i/ dan kemudian oleh vokal belakang /u/.
Bunyi inipun belum jelas identitasnya.
Pada usia 6 bulan, anak mulai mencampur konsonan da vokal sehingga
menghasilkan bunyi celoteh (babbling). Celotehan diawali oleh konsonan dan
diakhiri dengan vokal.

9
Pada awal usia sekolah, anak-anak dapat mengucapkan semua bunyi bahasa.
Namun pada bunyi-bunyi tertentu terutama yang berupa klaster, masih sulit
untuk mengucapkan.
2. Fase sintaksis
Sintaks adalah penggabungan kata menjadi kalimat berdasarkan
aturan sistematis yang berlaku pada bahasa tertentu.
3. Fase semantik
Semantik adalah ilmu yang mempelajari arti makna dari suatu
bahasa yang dibentuk dalam suatu kalimat.

D. Implikasi Pembelajaran Seni Berbahasa


Pembelajaran seni berbahasa yang ada dalam pembelajaran disekolah
memiliki impikasi atau dampak yang dirasakan oleh setiap pelaku proses
pembelajaran. Implikasi pembelajaran seni berbahasa ada yang terlibat,
melibatkan guru, murid, dan tindakan yang dilakukan yakni pembelajaran seni
berbahasa. impikasi yang dirasakan dalam pembelajaran ini terjadi pada siswa.
yang diberikan tindakan oleh guru. Bagaimana anak-anak belajar berbahasa serta
berbicara memiliki implikasi terhadap perkembangan bahasa anak. Aada tujuh
implikasi dalam pembelajaran seni berbahasa, yakni:
1. Anak-anak belajar berbicara dengan menyerap bahasa dari lingkungan
sekitarnya, bukan kemampuan berbicara melalui contoh yang diajarkan,
Karena bahasa anak sebagian besar menyerap bahasa dari sosialisasi dn
berinteraksi dengan orang lain.
2. Anak-anak menggunakan empat sistem berbahasa secara bersamaan, yakni
mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis, mempelajari seni berbahasa
dan meningkatkan kemampuan berbahasanya dengan terus melatih keempat
keterampilan-keterampilan tersebut.

10
3. Anak-anak mengkonstruksi pengetahuan mereka sebagaimana yang mereka
buat dan menguji hipotesis, dengan meningkatkan kemampuan berbicara
mereka, Sikap sosialisasi anak
4. Anak-anak belajar dan menggunakan bahasa yang meaningful sesuai dengan
fungsi bahasa melalui berbicara dan menulis.
5. Anak-anak belajar mengguakan tujuh fungsi bahasa melalui berbicara dan
menulis.
6. orang dewasa menyiapkan model untuk mendukung proses pembelajaran
anak.
7. Orang tua dan yang lainnya memberikan harapan kepada anak-anak bahwa
mereka akan sukses dalam belajar berbicara

11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Bahasa itu adalah satu sistem, sama dengan sistem-sistem lain, yang
sekaligus bersifat sistematis. Bahasa itu bukan merupakan satu sistem tunggal
melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem. sistem lambang bahasa ini berupa
bunyi, bukan gambar atau tanda lain, dan bunyi itu adalah bunyi bahasa yang
dilahirkan oleh alat ucap manusia. Sama dengan sistem lambang lain, sistem
lambang bahasa ini juga bersifat arbitrer. Artinya, antara lambang yang berupa
bunyi itu tidak memiliki hubungan wajib dengan konsep yang dilambangkannya

Seni adalah subjek yang didapat secara kreatif dianyam dalam subjek-
subjek yang lain atau dihubungkan dalam subjek-subjek yang lain atau
dibubungkan dengan berbagai dalam program pendidikan. Seni adalah milik
semua manusia yang diolah manusia menggunakan kemampuan mental, kognitif,
dan psikologis yang ada didalam dirinya. Kontes seni berbahasa meliputi
keterampilan-keterampilan yang ada dalam berbahasa yang mencakup
keterampilan membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Keterampilan atau
seni inilah yang dikembangkan oleh diri manusia untuk meningkatkan
kemamuannya.

B. Saran

Sebaiknya guru dalam mengajarkan berbahasa dengan mempraktikkan


juga didepan siswa walaupun itu diluar mata pembelajaran karena praktik
penggunaan bahasa yang baik dan benar diterapkan siswa dalam kehidupan
sehari-hari. Guru juga memberikan arahan dan pembelajaran tentang berbahasa
secara berkesinambumgan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer. (2015). Psikolinguistik. Jakarta : PT Rineka Cipta.


Aminuddin. (2015). Semenatik pengantar Studi Tentang Makna. Bandung : Penerbit
Sinar Baru Algensindo Bandung.
Guntur, Henry. (2015). Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung : CV Angkasa.
Rosdiana, Yosi. (2011). Bahasa dan Sastra Indonesia di SD. Jakarta : Penerbit
Universtas Terbuka Kementrian Pendidikan Nasional.
Surtantini, Rin. “Pembelajaran Seni Bahasa dlam Konteks Lintas Kurikulum Melalui
Drama”. Jurnal Kajian Seni Vol.02 (2015).

13

Anda mungkin juga menyukai