Anda di halaman 1dari 19

BAB II

SPESIFIKASI PROYEK

2.1. KETERANGAN UMUM

Nama Proyek Pembangunan Rumah Susun Sewa Sederhana


(Rusunawa) 2 Twin Blok (Paket SLM-03)
Lokasi royek Dusun Pringwulung, Kecamatan Depok, Kabupaten
Sleman, DIY
Pemilik Kimpraswil Provinsi DIY
Penanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal
Cipta Karya Satuan Kerja Pengembangan Kawasan
Pemukiman
Kontraktor Persero PT. Waskita Karya Cabang DIY
Perencana CV. Ripta Yasa
Konsultan MK PT. Proporsi
Fungsi Bangunan Rumah Susun Sewa
Struktur Bangunan Rangka Beton Bertulang
Jumlah Lantai 5 lantai
Tahun Anggaran 2009
Nilai Proyek ± 22 Miliar
Luas Bangunan 7052 m2
Luas Lahan 2 ha
Waktu Pelaksanaan 180 hari (Mei – Oktober)

2.2. FUNGSI BANGUNAN / PROYEK

Tujuan pembangunan proyek rumah susun sederhana sewa


(RUSUNAWA) 2 twin blok PAKET : SLM-3 sleman DI. Yogyakarta
adalah untuk menciptakan tatanan kawasan pemukiman di Yogyakarta ini
baik dan terarah sesuai dengan prinsip pola tata guna lahan yang baik.

8
Selain itu juga , diharapkan dengan bertambahnya tingkat
pertumbuhan penduduk di Yogyakarta baik yang berasal dari kawasan
Yogyakarta sendiri maupun yang berasal dari luar Yogyakarta dengan
adanya pembangunan proyek RUSUNAWA ini mampu mengurangi tingkat
hunian yang begitu banyak tersebar sehingga dapat mengurangi
pengembangan perumahan yang dapat mengurangi tata guna lahan.

2.3. LOKASI PROYEK

Proyek pembangunan rumah susun sederhana (RUSUNAWA) 2


twin blok PAKET : SLM-3 Sleman DI.Yogayakarta dibangun di sebelah
utara Ambaruko Plaza, sebelah timur berbatasan dengan pondok pesantren
UII, sebelah barat berbatasan dengan perumahan penduduk dan sebelah
utara berbatasan dengan aliran irigasi selokan Mataram.
Hal-hal yang menjadi pertimbangan dibangunnya RUSUNAWA
ini antara lain :
• Lokasi strategis terletak di antara pusat bisnis DI
Yogyakarta,instansi/lembaga pemerintahan,kampus antara lain
:Atmajaya, UPN Veteran, AA YKPN, UNY, UGM, IAIN Sunan Kali
Jaga,UII fakultas ekonomi, pusat perbelanjaan, wisata kuliner serta pasar
tradisional.
• Suasana nyaman dan tenang.
• Mudah dicapai dengan sarana transportasi.
• Dekat dengan pusat kota
U
PEMUKIMAN
PENDUDUDK

LOKASI PROYEK

JALAN MASUK

PEMUKIMAN
PENDUDUK

SELOKAN
MATARAM

SAWAH
SAWAH

9
2.4. DATA TEKNIS

Jumlah bangunan 4 gedung, masing-masing 5 lantai terbagi dalam 2


twin (zone/gedung 1-2 ; twin 1 dan zone/gedung 3-
4 ; twin 2)
Luas bangunan 1,6 ha luas lahan
Jumlah lantai 5 lantai (ground floor, first floor, second floor, four
floor dan five floor)

2.5. DATA UMUM PERENCANA

Nama Proyek Proyek pembangunan Rumah Susun sederhana Sewa


(RUSUNAWA) 2 twin blok PAKET : SLM-3
Sleman DI.Yogyakarta.
Pemilik Proyek Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral
Cipta Karya, Satuan Kerja Pengembangan Kawasan
Pemukiman Propinsi DI.Yogyakarta (SATKER
LAKBANGKIM). Alamat : Jl. Bumiji No.5
Yogyakarta.
Konsultan Perencana CV. RIPTA YASA
Konsultan Pengawas PT.PROPORSI
Kontraktor Persero PT. WASKITA KARYA
SPMK 2 Mei 2009 (surat perintah mulai kerja)
No.SPMK/tgl KU.08.09/SK/PKP/41, tanggal 2 Mei 2009-11-03

10
PSPPJ KU.08.09/SK/PKP/40, tanggal 1 Mei 2009
(Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Jasa)

2.6. SUMBER DANA

Dana yang diperlukan untuk pekerjaan pembangunan ini berasal


dari pemerintah pusat yang berasal dari APBN 2009 melalui Departemen
Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Cipta Karya dengan total dana
Rp.22.478.000.600,00 (dua puluh dua milyar empat ratus tujuh puluh
delapan juta enam ratus rupiah.

2.7. STRUKTUR ORGANISASI PROYEK

Suatu proyek adalah kegiatan yang terorganisir, menggunakan


sumber- sumber yang dijalankan selama jangka waktu tertentu/ terbatas
yang mempunyai titik awal saat dimulainya dan titik akhir saat berakhirnya.
Proyek tersebut akan berjalan apabila fungsi-fungsi yang ada didalam
organisasi bekerja sesuai dengan tugasnya masing masing dengan baik.

2.7.1. Unsur-unsur Pokok Pelaksanaan Proyek

a) Pemberi tugas atau pemilik proyek (Owner)


Pemberi tugas adalah orang atau badan baik pemerintah
maupun swasta yang memberikan pekerjaan dan akan membayar
hasil pekerjaan tersebut sesuai dengan perjanjian yang telah
ditentukan. Pemberi tugas dapat memilih langsung badan atau
organisasi yang dipercayakan untuk mengurus pembuatan proyek.
Pemilik proyek pembanguanan Rusunawa 2 Twin Blok Yogyakarta

11
adalah Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Cipta
Karya, Satker Lakbangkim, Jakarta.
Tugas dan wewenang pemberi tugas adalah :
(a)Membayar sejumlah biaya yang diperlukan untuk terwujudnya
suatu pekerjaan bangunan.
(b)Menerima suatu pekerjaan apabila sudah layak dan tidak
keberatan untuk menyetujui atau mensyahkan terjadinya item
pekerjaan maupun perubahan volume pekerjaan.
(c)Mengawasi pelaksanaan pekerjaan bersama pengawas pelaksana
proyek (Consultant of Management Construction).
(d)Memberikan nasehat dabn instruksi kepada pelaksanan proyek
melalui pengawas pelaksana proyek melalui pengawas
pelaksanaan proyek, serta menerima laporan kemajuan proyek
dari pelaksana.

b) Konsultan perencana
Konsultan perencana adalah orang atau badan hukum yang
membuat perencanaan lengkap dari suatu pekerjaan bangunan atas
permintaan dan persetujuan dengan pihak pemberi tugas. Pada
proyek ini yang bertindak sebagai konsultan perencana adalah
CV.RIPTA YASA yang beralamat di Jln Lapangan Tembak ,
Cibubur, Jakarta.
Tugas dan wewenang perencana meliputi:
(a)Membuat perencanaan lengkap, meliputi gambar bestek,
rencana kerja dan syarat-syarat, hitungan struktur serta
perencanaan anggaran dan biaya yang harus mendapat
persetujuan dari pemilik proyek,
(b)Memberikan usulan, saran, dan pertimbangan kepada pemberi
tugas tentang perencanaan pekerjaan,

12
(c)Melakukan perubahan perencanaan yang berkaitan dengan
permasalahan dilapangan, setelah disetujui oleh pengawas dan
pemilik proyek,
(d)Memberikan saran, usulan dan pertimbangan kepada pengawas
dan kontraktor apabila terjadi permasalahan dilapangan.
(e)Menghadiri rapat evaluasi dan koordinasi pengelola proyek, dan
(f) Membantu segala sesuatu yang berkaitan dengan proses
pelelangan.

c) Konsultan pengawas
Konsultan pengawas adalah orang atau badan hukum yang
ditunjuk pemberi tugas untuk mengawasi dan mengendalikan
jalannya pelaksanaan pembangunan dan memberikan laporan
kemajuan pekerjaan yang ditujukan kepada pemberi tugas.
Konsultan pengawas mewakili atau sebagai koordinator dalam
pelaksanaan pekerjaan dilapangan atas nama pemberi tugas. Dalam
proyek pembangunan Rusunawa 2 Twin Blok yang bertindak
sebagai konsultan pengawas adalah PT.PROPORSI.
Tugas konsultan pengawas meliputi :
(a)Membimbing dan mengadakan pengawasan dalam pelaksanaan
pekerjaan.
(b)Mengatur, meneliti, dan menerima pembayaran angsuran biaya
pelaksanaan pekerjaan.
(c)Membuat gambar-gambar tambahan atau revisi jika perlu.
(d)Memeriksa dan memperbaiki gambar kerja yang dibuat oleh
kontraktor.
(e)Menyusun laporan pekerjaan untuk disampaikan kepada
pemberi tugas yang berupa laporan harian, mingguan dan
bulanan.
(f) Menyiapkan dan menghitung kemungkinan adanya pekerjaan
tambahan dan pekerjaan kurang.

13
(g)Mengawasi dan menguji kualitas atau mutu bahan dan material
yang akan digunakan.
(h)Mengadakan rapat evaluasi/koordinasi.

d) Kontraktor/ Pelaksana
Kontraktor adalah orang atau badan hukum yang menerima
dan menyelenggarakan pekerjaan sesuai dengan biaya yang
tersedia dan melaksanakan sesuai dengan peraturan serta gambar-
gambar rencana yang ditetapkan yang bertindak sebagai kontraktor
adalah PT. Waskita Karya.
Tugas dan wewenang kontraktor adalah :
(a)Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar-gambar rencana,
risalah pekerjaan, peraturan dan syarat-syarat.
(b)Membuat gambar kerja (shop drawing) sebelum memulai
pekerjaan, untuk memudahkan pelaksanaan maupun
pengawasan.
(c)Menghadiri rapat koordinasi pengelola proyek.
(d)Membuat laporan kemajuan pekerjaan yang harus disetujui oleh
pengawas disertai keterangan mutu bahan, alat dan hasil test/
pengujian laboratorium.
(e)Selalu berkonsultasi dan memberitahukan masalah yang timbul
dilapangan kepada perencana dan pengawas.
(f) Menyelesaikan dan menyerahkan hasil pekerjaan.
(g)Menerima pembayaran sesuai dengan perjanjian.

2.7.2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi adalah suatu kerangka kerja yang


mengatur pola hubungan kerja antara orang atau badan yang berada

14
didalamnya, dimana masing-masing mempunyai peranan, tugas,
kewajiban serta tanggung jawab tertentu dalam suatu kesatuan yang
utuh.
Hubungan kerja antara unsur-unsur pengelolah proyek adalah
suatu hubungan kerja antara pemberi tugas, perencana, pengawas, dan
pelaksana proyek dalam mengerjakan atau melaksanakan sebuah
proyek. Semua unsur-unsur tersebut dalam penyelenggaraan pekerjaan
pembangunan suatu proyek harus mengikuti atau berpedoman pada
ketentuan, persyaratan, dan peraturan yang telah disepakati.
Secara umum organisasi pengelola proyek dapat
digambarkan seperti bagan di bawah ini.

Pemilik Proyek

Pimpinan Proyek

Perencana Pengawas Pelaksana

Keterangan :
: Garis Instruksi
: Garis Laporan Pekerjaan
: Garis Konsultasi

Hubungan antar unsur-unsur pengelola proyek pembangunan


Rusunawa 2 Twin Blok Yogyakarta ini dijelaskan sebagai berikut :

a) Hubungan antara pemberi tugas dan konsultan perencana


Hubungan antara pemberi tugas dan konsultan perencana
adalah terikat dalam suatu kontrak dimana konsultan perencana
memberi jasa perencana suatu proyek secara lengkap dan detail

15
sesuai dengan permintaan pemberi tugas, dan pemberi tugas akan
memberikan imabalan jasa perencanan.

b) Hubungan antara pemberi tugas dan konsultan pengawas


Hubungan antara pemberi tugas dan konsultan pengawas
adalah terikat dalam suatu kontrak dimana pemberi tugas menunjuk
konsultan pengawas untuk mengawasi jalannya pelaksanaan
pekerjaan dilapangan. Sebagai pertanggungjawaban kepada
pemberi tugas, konsultan pengawas harus membuat laporan hasil
pekerjaan yang telah dicapai oleh pelaksana proyek pada tiap
periode tertentu. Atas jasa pengawasan ini maka pemberi tugas
akan memberikan imbalan.

c) Hubungan antara pemberi tugas dan pelaksana


Hubungan antara pemberi tugas dengan pelaksana proyek
atau kontraktor adalah terikat dalam suatu kontrak dimana pemberi
tugas memberikan suatu pekerjaan kepada kontraktor dengan
ketentuan dan persyaratan yang telah ditetapkan dan kontraktor
menyatakan sanggup serta harus menyelesaikan pekerjaan yang
diberikan pemberi tugas membayar sejumlah harga bangunan.

d) Hubungan antara konsultan pengawas dan pelaksana


Hubungan antara konsultan pengawas dan pelaksana adalah
hubungan kerja tanpa kontrak dimana konsultan pengawas atas
nama pemberi tugas melaksanakan pengawasan terhadap kerja
kontraktor serta memberikan persetujuan pelaksanaan pekerjaan
atau perubahan serta menilai prestasi kerja kontraktor. Kontraktor
dapat melakukan konsultasi jika terdapat pekerjaan yang kurang
jelas.

e) Hubungan antara konsultan pengawas dan konsultan perencana

16
Hubungan antara konsultan pengawas dan konsultan
perencana adalah hubungan kerja tanpa kontrak dimana konsultan
pengawas dapat meminta penjelasan kepada konsultan perencana
jika terdapat ketidakjelasan dalam perencanaan dan konsultan
perencana wajib memberikan penjelasan. Konsultan perencana
harus memberitahukan jika ada perubahan dalam perencanaan dan
memberikan penjelasan tentang perubahan tersebut.
2.7.3. Pelelangan dan Kontrak Pekerjaan

a) Pelelangan
Yang dimaksudkan dengan pelelangan (tender, tendering,
bid) dalam hubungannya dengan pelaksanaan pekerjaan
pembangunan ialah agar diperoleh karya bangunan yang bersaing
yaitu suatu karya bangunan yang dapat dipertanggung jawabkan
sesuai persyaratan (specification) dari bangunan tersebut. Pada
proyek pembangunan Rusunawa UMY pihak pemilik proyek
berperan dalam menentukan konsultan perencana.
Secara garis besar pelelangan dibagi menjadi dua macam
yaitu pelelangan umum dan pelelangan terbatas. Selain itu masih
ada satu macam pelelangan yang disebut pelelangan dibawah
tangan (Onderhandsche aanbestending, nominated) atau
penunjukan langsung.
Ketentuan-ketentuan tentang pelelangan dan penunjukan
langsung untuk pemborong/ pembelian dapat dilakukan melalui:
(a)Pelelangan umum
Pelelangan umum adalah pelelangan yang dilakukan secara luas
melalui media massa atau pada papan pengumuman resmi
untuk penerangan umum, sehingga semua kontraktor yang
berminat dapat mengikuti.
(b)Pelelangan terbatas

17
Pelelangan terbatas adalah pelelangan bentuk pekerjaan tertentu
yang diikuti oleh kontraktor yang tercatat dalam Daftar Rekanan
Mampu (DRM) yang telah lulus dalam prakualifikasi yang
diadakan oleh panitia prakualifikasi.

(c)Penunjukan langsung
Penunjukan langsung adalah penunjukan kontraktor tanpa
melalui pelelangan umum maupun pelelangan terbatas.
(d)Pengadaan langsung
Pengadaan langsung adalah pelaksanaan pemborongan atau
pembelian dari golongan ekonomi lemah tanpa melalui
pelelangan umum, pelelangan terbatas maupun penunjukan
langsung.

b) Kontrak
Yang dimaksud dengan kontrak (Contract) adalah
perjanjian pemborongan pekerjaan antara pihak pemberi tugas
(owner, employer, client) dengan kontraktor (Contractor).

(a)Dokumen kontrak (Contract Document)


Didalam pelaksanaan suatu pekerjaan kontruksi/bangunan,
selain ikatan kerja antara pemberi tugas dan kontraktor yang
berupa kontrak, masih diperlukan bagian-bagian dari dokumen
sebagai kelengkapan dari persyaratan teknis, administrasi dan
yuridis formal. Bagian-bagian dokumen tersebut termasuk
kontrak, secara keseluruhan disebut dokumen kontrak yang
merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan.
Dokumen-dokumen kontrak terdiri dari :

(1)Gambar-gambar kontrak

18
Gambar-gambar kontrak atau juga disebut gambar-gambar
rencana atau gambar bestek ialah gambar-gambar dari
pekerjaan / bangunan yang akan dilaksanakan/dibangun yang
secara lengkap menunjukan bentuk ukuran/dimensi,
susunaan, keterangan singkat bahan-bahan yang digunakan,
perbandingan ukuran/skala dan sebagainya. Pada umumnya
gambar-gambar kontrak antara lain:
 Gambar situasi
 Gambar denah
 Gambar potongan/ tampang.
 Gambar pandangan/ tampak.
 Gambar detail/ penjelasan.
 Gambar konstruksi lengkap dengan perhitungan
konstruksi.
 Gambar penjelasan tambahan (bila diperlukan)

(2)Perincian teknis atau spesifikasi (Specification)


Perincian teknis ialah uraian secara terperinci jelas dari
bagian– bagian pekerjaan atau bangunan yang akan
dilaksanakan yang memuat antara lain:
 Uraian bagian bagian pekerjaan beserta persyaratan yang
tidak dapat diwujudkannya dalam bentuk gambar.
 Teknis pelaksanaan dari pekerjaan.
 Persyaratan bahan-bahan bangunan yang digunakan
kualitas atau mutu cara pengerjaan.
 Ukuran-ukuran terperinci dan tepat/ pasti untuk
melengkapi ukuran-ukuran dari gambar detail.
 Peraturan-peraturan normalisasi yang berlaku sebagai
persyaratan dalam pelaksanaan bagian-bagian pekerjaan.

19
Perincian teknis, biasanya telah dimasukkan atau merupakan
salah satu bagian dari peraturan dan syarat-syarat (bestek),
yang akan diuraikan atau dijelaskan lebih lanjut dibagian
yang lain.
 Syarat-syarat umum kontrak (General Condition of
Contract)
 Syarat-syarat umum kontrak berisi antara lain mengenai
ketentuan-ketentuan hubungan kerja yang meliputi
perincian tugas, kewajiban, tanggung jawab wewenang
dari pemberi tugas, kontraktor, dan tenaga ahli.
 Risalah penjelasan/ penunjukan pekerjaan (Letter of
Explanation)
 Risalah penjelasan pekerjaan atau juga lazim disebut
berita acara penjelasan/penunjukan pekerjaan ialah berupa
catatan/ notulen hasil rapat penjelasan/ penunjukan
pekerjaan ( Unwiring ) yang diselenggarakan oleh panitia
lelang dan dihadiri oleh para peserta pelelangan. Risalah
penjelasan pekerjaan berisi catatan lengkap dan terperinci
dari kesimpulan/ keputusan rapat dan harus
ditandatangani, selain oleh panitia lelang juga oleh wakil
para peserta pelelangan sebagai tanda atas isi dari risalah
penjelasan pekerjaan tersebut. Risalah penjelasan
pekerjaan, peraturan dan syarat-syarat bestek dan gambar-
gambar rencana / gambar-gambar bestek merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan untuk
keperluan baik dalam pembuatan perhitungan anggaran
biaya pekerjaan/ bangunan, maupun sebagai pedoman
dalam pelaksanaan pekerjaan / bangunan.
 Penawaran (Bidding Proposal)
 Penawaran berisi harga pekerjaan/ bangunan yang dibuat
penawar/ kontraktor dan diajukan kepada pemberi tugas

20
sebagai harga penawaran yang mengikat dengan
berpedoman dokumen-dokumen (a, b, c, dan d) tersebut
diatas (selanjutnya dapat dilihat uraian mengenai syarat-
syarat penawaran dari pelelangan). Macam/ jenis kontrak
berdasarkan cara pelaksanaan pekerjaan/ bangunan/
proyek yang harus diwujudkan oleh pihak kontraktor dan
pengaturan pembayaran biaya pekerjaan bangunan/ proyek
yang harus disediakan oleh pihak pemberi tugas.

(b)Isi kontrak
Pada umumnya isi kontrak tergantung dari macam / jenis
pekerjaan yang akan dilaksanakan berpedoman pada peraturan
dan syarat-syarat umum kontrak dan risalah penjelasan-
pekerjaan.

Isi kontrak dirundingkan bersama antara pihak pemberi tugas


dan pihak kontraktor, tetapi untuk bangunan/ pekerjaan
pemerintah telah ada pedoman pokok-pokok isi kontrak untuk
keragaman.

Ketentuan dan peraturan yang berlaku sebagai dasar


pelaksanaan pekerjaan :
 Jaminan pelaksanaan / pekerjaan
 Jangka waktu pemeliharaan
 Jangka waktu pelaksanaan
 Harga borongan
 Peraturan pembayaran
 Denda dan sangsi
 Pekerjaan tambah dan kurang
 Kenaikan harga

21
 Pembatalan pekerjaan
 Direksi/ pengawas pekerjaan
 Wakil kontraktor
 Pengaman pelaksanaan

2.7.4. Rencana Kerja

Rencana kerja adalah pembagian waktu terperinci yang


disediakan untuk masing-masing bagian pekerjaan dari suatu proyek
pembangunan, dalam jumlah waktu yang sudah direncanakan.
Manfaat dibuatnya rencana kerja adalah :
1) Untuk menentukan urutan pekerjaan.
2) Mengetahui volume pekerjaan yang harus diselesaikan dalam
satuan waktu
3) tertentu.
4) Mengendalikan waktu pelaksanaan masing-masing bagian
pekerjaan.
5) Mengetahui bahan bangunan dan peralatan yang diperlukan
diproyek.
6) Mengetahui jumlah dan jenis tenaga kerja yang diperlukan.
7) Sebagai alat koordinasi bagi pimpinan.
8) Sebagai pedoman kerja dan penilaian kemajuan pelaksanaan
pekerjaan (prestasi kerja).

2.7.5. Tenaga Kerja

22
Tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman dalam
bidangnya masing-masing sangat mempengaruhi keberhasilan dan
progres suatu pekerjaan. Pada proyek pembangunan Rusunawa 2
Twin Blok Yogyakarta terdapat tiga golongan tenaga kerja, yaitu
tenaga kerja ahli, tenaga kerja menengah dan tenaga kerja pelaksana.

a) Tenaga Kerja Ahli


Tenaga ahli merupakan tenaga yang mengelola bidang
pekerjaan yang menuntut keahlian khusus, seperti dalam bidang
konstruksi, manajemen dan arsitektur. Tugas tenaga ahli adalah:
(a)Mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan kegiatan
konstruksi dilapangan.
(b)Menyusun rencana kerja pelaksanaan dan rencana biaya
pelaksanaan pekerjaan.
(c)Mengevaluasi hasil pekerjaan
(d)Melaporkan prestasi kerja pada pimpinan

b) Tenaga Kerja Menengah


Tenaga kerja menegah yang bekerja pada proyek ini
adalah tenaga kerja lulusan sarjana muda atau yang sederajat dan
cukup berpengalaman dibidangnya.
Tenaga kerja menengah terbagi atas dua golongan, yaitu:
(a)Tenaga kerja teknik yang merupakan tenaga pelaksana yang
mengelola dan mengatur kegiatan pekerjaan dilokasi proyek.

Adapaun tugas dari tenaga kerja teknik antara lain:


 Membuat gambar kerja
 Melaksanakan pengukuran
 Mengontrol hasil pekerjaan
 Mengatur penenmpatan peralatan dan material bangunan

23
 Menetapkan jumlah tenaga kerja pada setiap bagian
berdasarkan bobot pekerjaan.

(b)Tenaga Administrasi
Yang bertugas melaksanakan pekerjaan administrasi, antara lain:
 Menyelesaikan surat-menyurat
 Membuat dan mengatur pembukuan proyek
 Membuat rekapitulasi gaji karyawan dan upah kerja

c) Tenaga Kerja Pelaksana


Tenaga kerja pelaksana adalah tenaga kerja yang langsung
berhubungan dengan pekerjaan struktur bangunan berdasarkan
perintah atau petunjuk dari pelaksana maupun tenaga ahli. Dalam
pelaksanaan pekerjaannya, tenaga pelaksana bertanggungjawab
kepada mandor. Tenaga pelaksana terdiri dari tenaga kerja kasar,
kepala tukang dan tukangnya.

2.7.6. Waktu

Pelaksanaan pekerjaan akan berjalan dengan baik dan


dinilai berhasil apabila segala sesuatunya sesuai dengan rencana.
Apabila semua pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut
mempunyai disiplin (waktu dan administrasi), sehingga efisien waktu
dan efektifitas kerja dapat tercapai.

a) Waktu kerja
Waktu kerja yang berlaku pada proyek pembangunan
Rusunawa 2 Twin Blok Yogyakarta adalah sebagai berikut ini :
(a)Jam kerja regular

24
Jumlah jam kerja selama 1 hari adalah 8 jam, perincian jam
kerja biasa tersebut adalah sebagai berikut ini.
1. Pukul 08.00 – 12.00 WIB, waktu kerja I,
2. Pukul 12.00 – 13.00 WIB, waktu istirahat,
3. Pukul 13.00 – 16.00 WIB, Waktu kerja II.
(b)Jam kerja lembur
Jam kerja lembur dilakukan diluar jam kerja regular. Jam kerja
lembur dilakukan apabila pekerjaan harus segera diselesaikan
atau melanjutkan pekerkaan yang tertunda untuk mencapai
target. Untuk mencapai target pekerjaan tersebut dilakukan jam
kerja lembur.

b) Upah kerja
Upah kerja diberikan sebagai imbalan atas jasa kerja yang
telah dilakukan oleh masing-masing pekerja. Pembayaran upah
para tenaga kerja adalah sebagai berikut :
(a)Upah kerja tetap
Upah diberikan kepada tenaga kerja tetap, yang
dibayarkan setiap akhir bulannya.
(b)Upah kerja borongan
Upah ini dibayarkan kepada mandor yang
disesuaikan dengan volume pekerjaan.
(c)Upah kerja harian
Upah ini diberikan kepada tenaga kerja harian, yang
dibayarkan setiap akhir kerja yaitu setiap hari sabtu.
(d)Upah kerja lembur
Upah ini dibayarkan kepada tenaga kerja yang
melakukan kerja lembur. Besarnya upah disesuaikan dengan
lamanya kerja lembur (yang dihitung tiap jam ).

2.8. GAMBAR PRA-RENCANA (*terlampir)

25
2.9. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (*terlampir)

Rencana Kerja dan Syarat-syarat memuat mengenai persyaratan


umum yang harus dipenuhi oleh kontraktor dalam melaksanakan setiap
pekerjaan yang dimaksud. Penjelasan persyaratan teknis pelaksanaan
pekerjaan dibagi menurut urutan pelaksanaan di lapangan. Pada setiap
bagian memiliki persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembangunan.
Persyaratan tersebut berupa; standar-standar yang berlaku, penjelasan
teknis pelaksanaan, ukuran-ukuran, bahan yang digunakan, dan alat-alat.
Pekerjaan beton mengikuti ketentuan-ketentuan seperti tertera
dalam; American Society of Testing Material (ASTM) C150, American
Society of Testing Material (ASTM) C 33, Standar Industri Indonesia (SII)
– 0051 – 74, Standar Industri Indonesia (SII) – 003 – 81, Standar Industri
Indonesia (SII) – 0136 – 84, Tata-cara perhitungan struktur beton untuk
banguan gedung (SK SNI T-15-1991), Peraturan Umum Bangunan
Indonesia (PUBI, 1982), Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung
tahun 1983, dan Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Untuk Gedung
(PPTGUG, 1983).
Penjelasan teknis pekerjaan pembetonan sekaligus menjelaskan
mengenai; ukuran, bahan dan alat yang digunakan. Tentunya teknis
tersebut sudah mengacu berdasarkan ketentuan maupun syarat- syarat
yang sudah dicantumkan.

26