Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN KASUS STEMI DI RUANG ICU RSUD JOMBANG

STASE KRITIS

Dibimbing Oleh :

Eliza Zihni, S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :

VIKI ARIYANTI
NIM : 2019040025

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG
TAHUN 2020
Lembar Pengesahan
Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Dengan Kasus STEMI di
ruang ICU RSUD Jombang, Telah disahkan dan disetujui pada :
Hari :
Tanggal :

Mahasiswa

( Viki Ariyanti )

Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Ruangan

(Eliza Zihni, S.Kep.,Ns.,M.Kep) ( )

Kepala Ruang

( )
LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
STEMI

A. Laporan pendahuluan STEMI


1. Definisi
ST elevation myocardial infarction (STEMI) merupakan salah satu
spektrum sindroma koroner akut yang paling berat. Sindroma koroner
akut (SKA) merupakan satu subset akut dari penyakit jantung koroner
(PJK) (Firdaus I, 2012). SKA merupakan spektrum klinis yang mencakup
angina tidak stabil, infark mikard akut tanpa elevasi segmen ST
(NSTEMI) dan infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (STEMI)
(Myrtha R, 2011).
2. Etiologi
Penyakit jantung disebabkan oleh adanya penimbunan abnormal
lipid atau bahan lemak dan jaringan fibrosa di dinding pembuluh darah
yang mengakibatkan perubahan struktur dan fungsi arteri dan penurunan
aliran darah ke jantung (Suddarth, 2014).
Umumnya terjadi jika aliran darah koroner menurun secara
mendadak setelah oklusi trombus pada plak ateroskerotik yang sudah ada
sebelumnya. Ini disebabkan karena injuri yang disebabkan oleh faktor-
faktor seperti merokok, hipertensi, dan akumulasi lipid (Nurarif AH &
Hardhi K, 2013). Penyebab lain infark tanpa aterosklerosis koronaria
antara lain emboli arteri koronaria, anomali arteri koronaria kongenital,
spasme koronaria terisolasi, arteritis trauma, gangguan hematologik, dan
berbagai penyakit inflamasi sistemik (Libby, Bonow, Mann, Zipes, 2008).
3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infark miokard umumnya berupa nyeri dada
substernum yang terasa berat, menekan, seperti diremas-remas dan
terkadang dijalarkan ke leher, rahang, epigastrium, bahu, atau lengan kiri,
atau hanya rasa tidak enak di dada, nyeri sering disertai dengan napas
pendek, pucat, berkeringat dingin, pusing dan kepala ringan, dan mual
serta muntah.
4. Patofisiologi
Infark miokard (serangan jantung) terjadi ketika arteri korener
(setidaknya sebagian) tiba-tiba terhalang oleh bekuan darah yang
menyebabkan setidaknya beberapa dari otot jantung yang mendapat suplai
darah oleh arteri menjadi infark (mati). Pada kasus STEMI arteri koroner
benar-benar diblokir oleh bekuan darah dan sebagai hasilnya hampir
semua otot jantung yang disuplai oleh arteri yang terkena mulai mati
(Fogoros RN, 2008).
Serangan jantung tipe ini biasanya ditunjukkaan oleh perubahan
karakteristik pada hasil EKG. Slah satu perubahan EKG adalah elevasi
pada “segmen ST”. Segmen ST yang tinggi menunjukkan bahwa terjadi
kerusakan otot jantung yang relatif besar (karena arteri koroner benar-
benar tersumbat) (Fogoros RN, 2008). Faktor risiko biologis infark
miokard yang tidak dapat diubah yaitu usia, jenis kelamin, ras, dan
riwayat keluarga. sedangkan faktor risiko yang masih dapat diubah,
sehingga berpotensi dapat memperlambat proses aterogenik, antara lain
kadar serum lipid, hipertensi, merokok, gangguan toleransi glukosa, dan
diet yang tinggi lemak jenuh, kolesterol, serta kalori .
Sumber: Prince & Wilson, 2005
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan sebagai bagian dalam
tatalaksana pasien STEMI tetapi tidak boleh menghambat implementasi
terapi reperfusi. Pemeriksaan petanda kerusakan jantung yang dianjurkan
adalah creatinin kinase (CK) MB dan cardiac specific troponin (cTn) T
atau cTn I, yang dilakukan secara serial. cTn digunakan sebagai petanda
optimal untuk pasien STEMI yang disertai kerusakan otot skeletal karena
pada keadaan ini juga akan diikuti peningkatan CKMB (Sudoyo AW dkk,
2010).
1. Pemeriksaan EKG 12 sandapan harus dilakukan pada semua pasien
dengan nyeri dada atau keluhan yang dicurigai STEMI.
2. Kimia darah meliputi, Profil lemak. Kolesterol tetap, trigliserida,
Elektrolit serum, Kalsium serum, Nitrogen urea darah (BUN) dan
glukosa serum. (Sudoyo AW dkk, 2010).

6. Penatalaksanaan
Terdapat beberapa pedoman (guideline) dalam tatalaksana IMA
dengan elevasi ST yaitu dari ACC/AHA tahun 2009 dan ESC tahun 2008,
tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi sarana/fasilitas di masing-masing
tempat dan kemampuan ahli yang ada (Sudoyo AW dkk, 2010; Fauci et
al, 2010).
A. Oksigen : suplemen oksigen harus diberikan ada pasien dengan
saturasi oksigen <90%. Pada semua pasien STEMI tanpa
komplikasi dapat diberikan oksigen selama 6 jam pertama.
B. Nitrogliserin : Nitrogliserin sublingual dapat diberikan dengan
aman dengan dosis 0,4 mg dan dapat diberikan sampai 3 dosis
dengan interval 5 menit.
C. Terapi Fibrinolitik, diindikasikan untuk pasien dengan infark
miokardium elevasi segmen ST akut. Tujuan terapi fibrinolitik
adalah melarutkan thrombus, menetapkan kembali aliran darah
koroner, meminimalkan ukuran infark, mempertahankan fungsi
ventrikel kiri, serta mengurangi morbiditas dan motilitas. obat
fibrinolitik yang sering dipakai yaitu Streptokinase, tenekteplase,
reteplase, alteplase.
D. Terapi Antikoagulan, seperti heparin unfractionated, inhibitor
thrombin langsung, dan wafarin membatasi pembentukan fibrin
lebih lanjut dan membantu mencegah tromboembolisme.
E. Terapi Inhibitor Trombosit, aspirin merupakan inhibitor trombosit
yang paling luas digunakan, menghambat tromboksan A2,
suatuagonis trombosit, dan mencegah pembentukan thrombus dan
vasokontriksi arteri. Aspirin digunakan untuk mengurangi
mortalitas pada pasien yang mengalami infark miokard,
mengurangi insiden infark miokard non fatal dan mortalitas pada
pasien yang mengalami angina stabil, angina tidak stabil, atau
infark miokardium sebelumnya.

7. Komplikasi
a. Mati mendadak
b. Aritmia, Angina, Gagal jantung
c. Disfungsi otot perifer, nekrosis atau ruptur
d. Perikarditis

B. Konsep Asuhan Keperawatan STEMI


1. Pengkajian
A. Identitas : Nama, Jenis kelamin, umur, TTL, agama, alamat,
pendidikan, pekerjaan, no RM, tanggal MRS,tanggal pengkajian, jam
pengkajian , identitas penanggung jawab, dll
B. Keluhan Utama : biasanya pasien akan mengatakan sesak, lemas, dll
C. Alergi : apakah px mempunyai alergi makanan, udara, obat , dll

2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit saat ini : bagaimana status kesehatan pasien saat ini
b. Riwayat penyakit dahulu : apakah pasien memiliki riwayat penyakit
jantung, atau penyakit kronis lainya.
c. Riwayat penyakit keluarga: apakah dikeluarga memiliki penyakit yang
sama atau penyekit menular, menurun dan menahun lainya.
d. Genogram : silsilah keluarga klien
3. Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum : lemas, cukup atau baik
Kesadaran : cm, somnolen
TTV :
TD,
N,
RR,
S,
BB,
TB

Pemeriksaan Head To Toe

 Kepala : bentuk kepala bagaimana, keadaan rambut(+/-),


adakah lesi / trauma (+/-).
 Hidung : bentuk hidung, nafas cuping hidung (+/-), nyeri tekan
(+/-), secret (+/-) epistaksis (+/-), sumbatan (+/-) , Perdarahan
(+/-).
 Telinga : simetris (+/-), secret (+/-), perdarahan (+/-), nyeri
tekan (+/-), gangguan  pendengaran (+/-), nyeri tekan (+/-).
 Mulut : mukosa kering / lembab, gusi berdarah (+/-), lidah
kotor (+/-), sariawan (+/-), gangguan kecap (+/-)
 Leher : Pembesaran tyroid (+/-), Nyeri tekan (+/-).
 Thoraks : Jantung: takikardi (+/-), nyeri tekan (+/-), bunyi paru
tambahan (wheez, rhonc), bunyi jantung, irama jantung, nyeri
dada (+/-), sesak (+/-).
 Abdomen : adakah lesi (+/-), Bising usus, kembung (+/-), mual
(+/-), muntah (+/-).
 Ekstremitas atas : kulit kering (+/-), bengkak (+/-), deformitas
(+/-), sianosis (+/-), kebas (+/-)
Ekstremitas bawah: kulit kering (+/-), bengkak (+/-), nyeri
sendi (_+/-), deformitas (+/-), sianosis (+/-), kebas (+/-) .
 Genetalia : adakah lesi (+/-), adakah gangguan berkemih (+/-),
gangguan BAB (+/-), adakah Hemoroid (+/-).

4. Pemeriksaan Penunjang

Rontgen, CT Scan, USG, EKG

Endoskopi, Lain-lain : ……………..

5. Terapi : kolaborasi dengan dokter dan pharmacist


6. Analisa Data

No Data Etiologi Problem


1 DS: Misal : Pasien mengatakan nyeri Agen pencedera Nyeri akut
pada bagian dada kiri fisiologis
DO: Nadi:100x/mnt
TD:90/80 mmHg
RR:20x/mnt
2 DS : Misal : Pasien mengatakan Perubahan irama Penurunan curah
badannya lemas dan afterload jantung
DO : Pasien tampak pucat, gelisah, jantung
keringat dingin.

Nadi:100x/mnt, TD:90/80

mmHg, RR:20x/mnt
7. Diagnosa Keperawatan yang muncul
1. Nyeri akut b/d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri
2. Penurunan curah jantung b/d perubahan irama dan afterload jantung
d.d sianosis, hipotensi
3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan d.d sianosis

8. Intervensi

No SDKI SLKI SIKI


.
1 Nyeri akut b/d agen Tingkat nyeri (L.08066) Managemen nyeri (I.08238)
pencedera fisiologis Setelah dilakukan tindakan Observasi :
d.d mengeluh nyeri keperawatan 3x24 jam  Monitor lokasi, karakter,
(D.0077) diharapkan tingkat nyeri durasi,frekuensi,kualitas, dan
menurun intensitas nyeri
Kriteria hasil :  Identifikasi skala nyeri
 Keluhan nyeri menurun (5)  Identifikasi respon nyeri non verbal
 Meringis menurun (5)  Identifikasi pengetahuan dan
 Gelisah menurun (5) keyakinan tentang nyeri
 Skala nyeri menurun (5)  Identifikasi pengaruh budaya
 Kesulitan tidur menurun (5) terhadap respon nyeri
 Anoreksia menurun (5)  Monitor keberhasilan terapi yg
 Mual muntah menurun (5) diberikan
 Pola nafas membaik (5)  Monitor efek samping penggunaan
 Mafsu makan membaik (5) analgetik
 Fokus, perilaku membaik (5) Terapeutik :
 Pupil dilatasi menurun (5)  Berikan terknik nonfarmakologis
 Berkemih membaik (5) untuk mengurangi nyeri
 TD membaik (5)  Control lingkungan yang
 Perasaan takut menurun (4) memperberat nyeri
 Menarik diri menurun (5)  Fasilitasi istirahat dan tidur
 Diaphoresis menurun (5)  Pertimbaangkan jenis dan sumber
 Sikap protektif menurun (5) nyeri
 Perasaan depresi menurun (5) Edukasi
 Jelaskan penyebab, periode,
pemicu nyeri
 Jelaskanlah strategi meredakan
nyeri
 Anjurkan monitor nyeri secara
mandiri
 Ajarkan teknik non farmakologis
untuk mengurangi nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian analgetik

2 Penurunan curah Curah jantung (L.02008) Perawatan jantung akut (I.02076)


jantung b/d Setelah dilakukan tindakan Observasi :
perubahan irama dan keperawatan 3x24 jam  Identifikasi karakteristik nyeri dada
afterload jantung d.d diharapkan curah jantung  Monitor ekg 12 sadapan untuk
sianosis, hipotensi meningkat melihat perubahan ST dan T
(D.0008) Kriteria hasil :  Monitor aritmia (kelainan irama
 Kekuatan nadi perifer dan frekuensi)
meningkat (5)  Monitor elektrolit yg dpt
 Ejection fraction meningkat meningkatkan resiko aritmia
(5)  Monitor enzim jantung
 LVSWI meningkat (5) Terapeutik :
 SVI meningkat (5)  Pertahankan tirah baring minimal
 Palpitasi menurun (5) 12 jam
 Bradikardia menurun (5)  Pasang akses intravena
 Takikardia menurun (5)  Puasakan hingga bebas nyeri
 Gambaran EKG aritmia  Berikan relaksasi utk mengurangi
menurun (5) ansietas dan stress
 Lelah menurun (5)  Siapkan menjalani intervensi
 Edema menurun (5) koroner perkutan, jika perlu
 Distensi vena jugularis  Berikan dukungan spiritual jika
menurun (5) perlu
 Dyspnea menurun (5) Edukasi :
 Oliguria menurun (5)  Anjurkan segera melaporkan nyeri
 Sianosis/pucat menurun (5) dada
 PND menurun (5)  Anjurkan menghindari maneuver
 Ortopnea menurun (5) valsava (mis. Mengedan saat BAB)
 Batuk menurun (5)  Jelaskan tindakan yang dijalani
 Suara jantung S3, S4 menurun pasien
(5)  Ajarkan teknik menurunkan
 Murmur jantung menurun (5) kecemasan dan ketakutan
 Hepaatomegali menurun (5) Kolaborasi :
 Tekanan darah membaik (5)  Kolaborasi pemberian anti platelet,
 Pengisian kapiler membaik jika perlu
(5)  Kolaborasi pemberian anti angina
 CVP dan PAWP membaik (5) (mis. Nitrogliserin, dll)
 Kolaborasi pemberian morfin, jika
perlu
 Kolaborasi pemberian inotropic,
jika perlu
 Kolaborasi pemberian obat untuk
mencegah manuver valsava, jika
perlu
 Kolaborasi pemberian
antikoagulan, jika perlu
 Kolaborasi pemeriksaan x-ray
dada, jika perlu

9. Implementasi
Suatu tindakan keperawatan yangdilakukan sesuai rencana keperawatan
atau intervensi yang telah disusun.

10. Evaluasi

S :Berisi data subjektif atau respon klien setelah dilakukan tindakan


keperawatan
O :Berisi data objectif dari klien setelah dilakukan tindakan
keperawatan
A :Berisi pembanding antara respon klien dan kriteria hasil
P :Berisi rencana keperawatan lanjutan atau dihentikan
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN STEMI DI RUANG ICU
DI RSUD JOMBANG

1. Pengkajian
A. Identitas :
Identitas klien : penanggung jawab :
Nama : Tn. Z Nama : Ny. L
Jenis kelamin : laki-laki JK : Perempuan
Umur/TTL : 40th, 18/01/1980 Umur : 38th
Agama : Islam Alamat: Perak
Alamat : Perak, Jombang Pekerjaan : IRT
Pendidikan : tamat SMA Hubungan :
Istri Px
Pekerjaan : Swasta
Suku : Jawa
No RM/tgl MRS : 433800 / 13-05-2020
Tgl pengkajian : 13-05-2020
Jam pengkajian : jam 07:20 WIB
Ruang : ICU bed 03
Diagnosa Medis : ST elevasi (STEMI)

B. Keluhan Utama : nyeri di bagian dada

C. Riwayat Kesehatan
 Riwayat Penyakit saat ini : Tn Z, 40th datang dengan Ny L, ke
igd pada tanggal 10-05-20, 09:40 Wib, datang dengan keluhan
nyeri dada sebelah kiri yang tidak menjalar ke kedua lengan
ataupun pundak sejak 2 hari yang lalu. Selain itu pasien
mengeluh sesak napas yang berlangsung sepanjang hari, pasien
juga mengatakan sering terbangun malam hari karena sesak
napas. Sesak napas dirasakan sudah lama, kurang sebih selama
1 minggu terakhir. Karena kondisi yang kritis atau tidak
membaik, pasien dipindah ke ruang icu pada tgl 11-05-20 wib.
 Riwayat penyakit dahulu : px mengatakan hanya memiliki
riwayat hipertensi
 Riwayat penyakit keluarga: dikeluarga px sang ibu memiliki
riwayat jantung

D. Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum : lemas
Kesadaran : compos mentis GCS : E 4, M 5, V 6
TTV : TD : 130/90 mmHg
N : 125 x/mnt
RR : 22 x/mnt, SPO2 : 88 %
S : 37ºC
BB : 68 kg
TB : 170 cm

Pemeriksaan Head To Toe

 Kepala
Inspeksi : bentuk kepala simetris, keadaan rambut bersih dan
lurus, warna hitam beruban, lesi / trauma (-).
Palpasi : nyeri tekan (-)
 Mata
Inspeksi : simetris, tidak ada lesi, reflek popil isokor, tidak
icterus, konjungtiva anemis
Palpasi : nyeri tekan (-)
 Hidung
Inspeksi : bentuk hidung normal, nafas cuping hidung (-),
terpasang O2 masker NRBM 5 liter/mnt, secret (-), epistaksis
(-), sumbatan (-) , Perdarahan (-).
Palpasi : nyeri tekan (-)
 Telinga
Inspeksi : simetris , secret (-), perdarahan (-), gangguan
pendengaran (-)
Palpasi : nyeri tekan (-).
 Mulut
Inspeksi : mukosa kering , gusi berdarah (-), lidah kotor (-),
sariawan (-), gangguan kecap (-)
 Leher
Inspeksi : Pembesaran tyroid (-), lesi (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-).
 Thoraks
Inspeksi : thorax simetris, tidak ada lesi,
Palpasi : takikardi (+), bradikardi (-), nyeri tekan (+)
Perkusi : jantung pekak, paru wheez (-), Rhonc (+)
Auskultasi : bunyi jantung murmur , irama jantung ireguler,
 Abdomen
Inspeksi : adakah lesi (-),
Auskultasi : Bising usus 8x/mnt
Palpasi : nyeri tekan (+)
Perkusi : timpani, Kembung (-)
 Ekstremitas atas
Inspeksi : kulit kering (+), bengkak (-), deformitas (-),
terpasang infus (S), sianosis (+), kebas (-) , berkeringat
Palpasi : nyeri tekan (-), turgor kulit menurun
Ekstremitas bawah
Inspeksi : kulit kering (+), bengkak (-), nyeri sendi (-),
deformitas (-), sianosis (+), kebas (-) .
 Genetalia
Inspeksi : adakah lesi (-), adakah gangguan berkemih (+),
gangguan BAB (-), Hemoroid (-).

E. Pemeriksaan Penunjang
Hasil :
1. Rontgen : Pada pemeriksaan foto rontgen thorax PA
didapatkan Bronkopneumonia dan emfisematous paru
2. EKG : Pada pemeriksaan EKG didapatkan elevasi ST
3. Laborat :

Nilai
No. Parameter Hasil Satuan Remaks Metode
rujukan
1 SGOT 74,00 u/L 11,00- Tinggi IFCC tanpa pyridoxal 5-
33,00 p 37c
2 SGPT 76 u/L 11,00- Tinggi IFCC tanpa pyridoxal 5-
50,00 p 37c
3 Bun 19 Mg/dl 8,00-23,00 Urease-GLDH
4 Creatin 0,61 Mg/dl 0,70-1,20 Rendah Jaffetanpa deproteinisasi
5 LDH 1.431,00 u/L 240,00- Tinggi DGKC
480,00

F. Terapi :
Inf. NaCl 0.9% 18 tpm
Aspirin 75mg
Inj. Ceftriaxone 3x1
Inj. Ranitidin 2x1

G. Analisa Data

No Data Etiologi Problem


1 DS: Pasien mengatakan nyeri Agen pencedera Nyeri akut
DO: Nadi:125x/mnt, TD:130/90 fisiologis
mmHg, RR:22x/mnt, S: 37ºC
Tampak meringis
P : sakit jantung
Q :nyeri berat, seperti diremas
sangat kuat
R : dada sebelah kiri
S : skala nyeri 6 (numeric)
T : hilang timbul

H. Diagnosa Keperawatan yang muncul


1. Nyeri akut b/d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri
1. Intervensi

No SDKI SLKI SIKI


.
1 Nyeri akut b/d agen Tingkat nyeri (L.08066) Managemen nyeri (I.08238)
pencedera fisiologis Setelah dilakukan tindakan Observasi :
d.d mengeluh nyeri keperawatan 3x24 jam  Monitor lokasi, karakter,
(D.0077) diharapkan tingkat nyeri durasi,frekuensi,kualitas, dan
menurun intensitas nyeri
Kriteria hasil :  Identifikasi skala nyeri
 Keluhan nyeri menurun (5) Terapeutik :
 Meringis menurun (5)  Berikan terknik nonfarmakologis
 Gelisah menurun (5) untuk mengurangi nyeri
 Skala nyeri menurun (5) Edukasi
 Kesulitan tidur menurun (5)  Ajarkan teknik non farmakologis
 Mual muntah menururn (5) untuk mengurangi nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian analgetik

2. Implementasi

No. DX / Implementasi Respon Klien Paraf


tanggal
Observasi :
1  Memonitor lokasi, karakter,  Px bersediamdiperiksa
durasi,frekuensi,kualitas,
13/05/2020 dan intensitas nyeri
 Mengidentifikasi skala nyeri  Px bersedia diperiksa
Jam 07:45 Terapeutik :
wib  Memberikan terknik  Px kooperatif
nonfarmakologis untuk (kompres air hangat di
mengurangi nyeri bagian nyeri)
Edukasi
 Mengajarkan teknik non  Px memperhatikan ajaran
farmakologis untuk yg diberikan perawat
mengurangi nyeri (mengajarkan teknik nafas
dalam)
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian  Px mengikuti terapi yang
analgetik diberikan

14/05/2020 Observasi :
 Memonitor lokasi, karakter,  Px bersediamdiperiksa
Jam 07:15 durasi,frekuensi,kualitas,
dan intensitas nyeri
 Mengidentifikasi skala nyeri  Px bersedia diperiksa
wib Terapeutik :
 Memberikan terknik  Px kooperatif
nonfarmakologis untuk (kompres air hangat di
mengurangi nyeri bagian nyeri)
Edukasi
 Mengajarkan teknik non  Px memperhatikan ajaran
farmakologis untuk yg diberikan perawat
mengurangi nyeri (mengajarkan teknik nafas
dalam)
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian  Px mengikuti terapi yang
analgetik diberikan

3. Evaluasi

No. DX Catatan Perkembanagan Paraf

Tanggal

1 S : px mengatakan nyeri dada

13/05/2020 O : Nadi:125x/mnt, TD:130/90 mmHg, RR:22x/mnt, S: 37ºC


Tampak meringis, gelisah
10:20 wib P : sakit jantung
Q :nyeri berat, seperti diremas sangat kuat
R : dada sebelah kiri
S : skala nyeri 6 (numeric)
T : hilang timbul
SPO2 : 88 %
Terpasang O2 NRBM 5 l/mnt
A : nyeri akut belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Observasi :
 Monitor lokasi, karakter, durasi,frekuensi,kualitas, dan
intensitas nyeri
 Identifikasi skala nyeri
Terapeutik :
 Berikan terknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri
Edukasi
 Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian analgetik

14/05/2020
S : px mengatakan nyeri dada
Jam 09:30
O : Nadi:100x/mnt, TD:120/90 mmHg, RR:22x/mnt, S: 37ºC
wib
Tampak meringis, gelisah
P : sakit jantung
Q :nyeri berat, seperti diremas sangat kuat
R : dada sebelah kiri
S : skala nyeri 5 (numeric)
T : hilang timbul
SPO2 : 90 %
Terpasang O2 NRBM 5 l/mnt
A : nyeri akut teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
Observasi :
 Monitor lokasi, karakter, durasi,frekuensi,kualitas, dan
intensitas nyeri
 Identifikasi skala nyeri
Terapeutik :
 Berikan terknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri
Edukasi
 Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian analgetik