Anda di halaman 1dari 8

PROPOSAL

HUBUNGAN MOBILISASI DINI POST SECTIO CAESAREA (SC)


DENGAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA BEKAS OPERASI
DI RSUD SAWERIGADING KOTA PALOPO
TAHUN 2020

RISMA SYAM
B.17.09.025

PROGRAM STUDI DIPLOMA EMPAT KEBIDANAN


STIKES MEGA BUANA PALOPO
2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan

pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan

pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu melalui jalan lahir atau

melalui jalan lain, berlangsung dengan bantuan atau tanpa bantuan

(Ferinawati & Hartati, 2019).

Persalinan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pervaginam dan

pelahiran Sectio Caesarea. Persalinan pervaginam adalah keluarnya hasil

konsepsi melewati jalan lahir yang dapat dilakukan tanpa bantuan alat

(persalinan spontan) dan dengan bantuan alat obstetrik operatif (Kiik, 2017).

Pelahiran Sectio Caesarea adalah persalinan buatan dimana janin

dilahirkan melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat

rahim dalam keadaan utuh dan berat janin diatas 500 gram yang sering disebut

dengan Sectio Caesarea (Susilowati, 2018)

Persalinan dengan Sectio Caesarea memiliki resiko tinggi karena

dilakukan pembedahan dengan membuka dinding perut dan dinding uterus

atau insisitransabdominal uterus, sehingga pasien akan merasakan rasa nyeri.

Rasa nyeri merupakan stressor yang dapat menimbulkan stress dan


ketegangan dimana individu dapat berespon secara biologis dan perilaku yang

menimbulkan respon fisik dan psikis (Ferinawati & Hartati, 2019).

Sectio Caesarea merupakan tindakan yang beresiko, dampak yang

ditimbulkan antara lain, berupa pendarahan, infeksi, anesthesia, emboli paru-

paru, kegagalan ginjal akibat hipotensi yang lama. Pasien yang menjalani

persalinan dengan metode ini biasanya merasakan berbagai ketidaknyamanan.

Ketidaknyamanan seperti, rasa nyeri dari insisi abdominal dan efek samping

dari anestesi (Nadiya & Mutiara, 2018).

Menurut World Health Organization (WHO) sebanyak (99%)

kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara

berkembang. Salah satu indikator utama derajat kesehatan suatu negara adalah

angka kematian ibu (AKI). sebanyak 16% SC yang melebihi batas yang

direkomendasikan. Indikator SC yaitu sebesar 5–15% untuk setiap negara

(Rahayu & Yunarsih, 2019)

Word Health Organization (WHO) menyatakan bahwa standar rata-

rata Sectio Caesarea di sebuah negara adalah sekitar 5 – 15 %. Data dari

World Health Organization menyatakan bahwa standar persalinan SC di

Inggris tahun 2010 sampai 2012 angka SC mengalami peningkatan sebesar

24,6 % yang pada tahun 2015 sekitar 24,5 % dan di Australia tahun 2011

terjadi peningkatan 31% . Sedangkan pada tahun 2017, beberapa negara

lainnya seperti Australia kejadian SC sebesar 32%, Brazil sebesar 54%, dan

Colombia sebesar 43% (Ferinawati & Hartati, 2019)


Di rumah sakit pemerintah rata-rata 11 % sementara di rumah sakit

swasta bisa lebih dari 30 %. Angka Sectio Caesarea terus meningkat 3–4 % 15

tahun yang lampau, sampai insidensi 10 hingga 15 % sekarang ini (Eriyani et

al., 2018)

Berdasarkan data RIKESDAS, tingkat persalinan sectio caesarea di

Indonesia sebesar 9,8 % dengan proporsi tertinggi di DKI Jakarta (19,9 %)

(RI, 2018)

Angka kelahiran di Indonesia masih tinggi dan kira-kira 15% dari

seluruh wanita hamil mengalami komplikasi dalam persalinan, hal ini terjadi

seiring meningkatnya kelahiran dengan SC (Rahayu & Yunarsih, 2019)

Kejadian SC di Indonesia umumnya dilakukan bila ada indikasi medis

tertentu, sebagai tindakan mengakhiri kehamilan dengan komplikasi. Selain

itu, SC juga menjadi alternatif persalinan tanpa indikasi medis karena

dianggap lebih mudah dan nyaman. SC sebanyak 25% dari jumlah kelahiran

(Kiik, 2017)

Pada masa persalinan komplikasi paling tinggi terjadi pada persalinan

yang dilakukan dengan cara SC, dengan kata lain SC juga merupakan

morbiditas dan mortalitas ibu yang paling tinggi daripada persalinan

pervaginam (Ferinawati & Hartati, 2019)

Dengan adanya luka bekas operasi Sectio Caesarea menimbulkan

nyeri pada pasien sehingga pasien cenderung untuk berbaring saja, untuk
mempertahankan seluruh tubuh kaku dan tidak mengindahkan daerah

pembedahan sehingga menimbulkan kaku persendian, postur yang buruk,

kontraktur otot, nyeri tekan apabila tidak melakukan mobilisasi dini (Eriyani

et al., 2018)

Mobilisasi dini merupakan suatu tindakan rehabilitative (pemulihan)

yang dilakukan setelah pasien sadar dari pengaruh anestesi dan sesudah

operasi. Mobilisasi berguna untuk membantu dalam jalannya penyembuhan

luka. Mobilisasi atau bergerak adalah kemampuan seseorang untuk bergerak

secara bebas dengan menggunakan koordinasi sistem saraf dan

muskuloskeletal (Eriyani et al., 2018)

Mobilisasi dini yang dilakukan tergantung pada ada tidaknya

komplikasi persalinan dan nifas. Pada ibu post Sectio Caesarea diperbolehkan

bangun dari tempat tidur paling lama 24-48 jam setelah melahirkan. Untuk

itu, anjurkan ibu agar memulai mobilisasi dini dengan miring kiri atau kanan,

duduk kemudian berjalan (Susilowati, 2018)

Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat

pemulihan pasca bedah dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah. Banyak

keuntungan bisa diraih dari latihan ditempat tidur dan berjalan pada periode

dini pasca bedah. Mobilisasi akan sangat berguna bagi semua sistem tubuh,

terutama fungsi usus, kandung kemih, sirkulasi dan paru-paru (Nadiya &

Mutiara, 2018)
Hal tersebut juga membantu mencegah pembentukan bekuan darah

(trombosis) pada pembuluh darah tungkai dan membantu kemajuan ibu dari

ketergantungan peran sakit menjadi peran sehat dan tidak tergantung namun

sebagian pasien enggan untuk melakukan mobilisasi dini setelah beberapa jam

melahirkan (Keramaris, 2017)

Konsep mobilisasi dini mula-mula berasal dari ambulasi dini yang

merupakan pengembalian secara berangsur-angsur ke tahap mobilisasi

sebelumnya untuk mencegah komplikasi. Sedangkan mobilisasi dini adalah

kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari

tempat tidurnya dan membimbingnya selekas mungkin berjalan (Rahayu &

Yunarsih, 2019)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada

penelitian ini adalah “Apakah Terdapat Hubungan Mobilisasi Dini dengan

Penyembuhan Luka Bekas Operasi Section Caesarea?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

a. Untuk mengetahui Hubungan Mobilisasi Dini pada Ibu Post Sectio

Caesarea di ruang nifas RSUD Sawerigading Kota Palopo Tahun 2020

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui Mobilisasi Dini pada Ibu Post Sectio Caesarea di

ruang nifas RSUD Sawerigading Kota Palopo Tahun 2020

b. Untuk mengetahui proses penyembuhan luka operasi di ruang nifas

RSUD Sawerigading Kota Palopo Tahun 2020

c. Untuk mengetahui Hubungan Mobilisasi Dini Post Sectio Caesarea

dengan Proses Penyembuhan Luka Bekas Operasi di RSUD

Sawerigading Kota Palopo Tahun 2020

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

a. Bagi Ibu

Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan meningkatkan

pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pentingnya melakukan

mobilisasi dini setelah menjalani persalinan yang bermanfaat bagi

pemulihan kesehatan fisiknya seperti keadaan semula.

b. Manfaat Bagi Masyarakat

Berguna untuk menambah pengetahuan dan wawasan

masyarakat tentang mobilisasi dini terhadap penyembuhan luka bekas

operasi sectio caesarea

c. Bagi Ilmu dan Profesi Kebidanan


Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap

pengembangan ilmu kebidanan serta merupakan masukan informasi

yang berharga bagi profesi bidan dalam menyusun program pemberian

pendidikan kesehatan tentang pentingnya melakukan mobilisasi dini

setelah menjalani persalinan.

d. Bagi Rumah Sakit Umum

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai penilaian

dan pemikiran terhadap pelayanan yang telah diberikan terutama dalam

pemberian asuhan kebidanan kepada ibu post Sectio Caesaria selama

perawatan masa nifas.

e. Bagi Insititusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan sebagai bahan perbandingan serta

dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan

penelitian lanjutan.

f. Bagi Penulis

Penelitian ini sebagai sarana dalam mengembangkan dan

mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang di dapat selama pendidikan

dengan kenyataan yang ada di lapangan dan pengalaman yang sangat

yang berguna dalam memberikan asuhan kebidanan kepada ibu serta

untuk menambah wawasan dalam pembuatan karya tulis ilmiah.