Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum sinyal diartikan sebagai suatu besaran fisis yang merupakan
fungsi waktu, ruangan, atau beberapa variabel. Informasi-informasi yang dapat
diperoleh dari suatu sinyal adalah amplutido, frekuensi, perbedaan fase, dan gangguan
akibat noise. Untuk mengamati informasi tersebut, dapat digunakan secara langsung
dengan peralatan ukur elektronik seperti osiloskop dan spektrum analisis. Peralatan
tersebut bekerja dengan memanfaatkan model matematik dari sinyal tersebut.
Informasi yang diperoleh dari suatu sinyal sering terdapat noise.
Noise merupakan sinyal tidak dikehendaki yang secara alamiah terdapat pada
semua jenis sistem. Berbagai macam metode digunakan untuk dapat mengatasi noise
agar sistem dapat memberikan output yang lebih baik kualitasnya. Maka diperlukan
suatu rangkaian elektronik yang berfungsi untuk mengolah frekuensi dari suatu sinyal,
frekuensi tersebut akan diloloskan atau diredam disesuaikan dengan kebutuhan yang
kemudian disebut dengan filter.
Proses konvolusi sangat berguna untuk menggambarkan beberapa efek yang
terjadi secara luas dalam pengukuran, seperti pengaruh dari low-pass
filter pada sinyal listrik atau pengaruh spektral bandpasspada spektrometer dalam
bentuk spektrum. Selain itu konvolusi berguna pada bidang komunikasi seperti pada
penggunaan radio.
Oleh karena itu dilakukannya percobaan tentang konvolusi sinyal ini agar kita
dapat melihat bentuk sinyal asli, kemudian sinyal menggunakan noise gaussian, dan
sinyal konvolusi dari sinyal asli dan sinyal noise tersebut

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui bentuk dasar dari sebuah operasi konvolusi
2. Untuk mengetahui pengaruh operasi konvolusi pada sinyal

C. Manfaat
1. Dapat membuatkonvolusi sinyal audio
2. Dapat menjelaskan pengaruh parameter pada konvolusi
Tinjauan Pustaka

Gelombang adalah getaran yang merambat gerak gelombang dapat dipandang


sebagai perpindahan momentum dari suatu titik di dalam ruang ke titik lain tanpa
perpindahan materi Rumus dasar gelombang adalah :
l
v  f .v
t (1)
l  v.T (2)
Dengan:
v = kecepatan rambat

l = Panjang gelombang
Dalam kenyataannya pengklasifikasian gelombang sangat beragam, ada yang
menurut arah rambatnya, medium perambatannya, menurut dimensi penyebaran
rambatannya dll. Namun yang akan dibahas pada makalah ini hanya dua
pengklasifikasiaan gelombang yaitu menurut arah perambatannya dan kebutuhan
medium perambatannya. Gelombang menurut arah perambataanya: Gelombang
longitudinal merupakan gelombang dengan arah gangguan sejajar dengan arah
penjalarannya. Contoh gelombang longitudinal adalah gelombang bunyi, gelombang
bunyi ini analog dengan pulsa longitudinal dalam suatu pegas vertikal di bawah
tegangan dibuat berosilasi ke atas dan ke bawah disebuah ujung, maka sebuah
gelombang longitudinal berjalan sepanjang pegas tersebut, koil – koil pada pegas
tersebut bergetar bolak – balik di dalam arah di dalam mana gangguan berjalan
sepanjang pegas (Wiendartun,2012).
Gelombang transversal adalah gelombang dengan gangguan yang tegak lurus
arah penjalaran. Misalnya gelombang cahaya dimana gelombang listrik dan
gelombang medan magnetnya tegak lurus kepada arah penjalarannya
(Wiendartun,2012).
Sinyal dapat direpresentasikan dalam berbagai cara, dalam semua kasus infomasi
pada suatu sinyal dimuat dalam sebuah pola dengan variasi-variasi dalam berbagai
bentuk. Sebagai contoh mekanisme suara manusia, yang menghasilkan pembicaraan
dengan membuat fluktuasi pada tekanan akustik, yang didapatkan dengan
menggunakan sebuah mikrofon untuk merasakan variasi-variasi tekanan akustik yang
kemudian dikonversi ke dalam sinyal listrik (Alan, 1997).
Sinyal direpresentasikan secara matematis sebagai fungsi dari satu variabel bebas
atau lebih. Sebagai contoh, sinyal pembicara dapat direpresentasikan secara
matematis oleh tekanan akustik sebagai fungsi waktu dan gambar yang
direpresentasikan oleh terang sebagai fungsi dua variabel ruang (Alan, 1997).
Ada dua jenis sinyal dasar yaitu sinyal waktu-kontinyu dan sinyal waktu-diskrit.
Pada kasus sinyal waktu-kontinyu, variabel bebas adalah kontinyu dan dengan
demikian sinyal ini ditetapkan untuk harga variabel bebas kontinyu. Di lain pihak,
sinyal waktu-diskrit hanya ditentukan pada waktu diskrit dan konsekuensinya variabel
bebas hanya mengambil sekumpulan harga diskrit. Sinyal pembicara sebagai fungsi
waktu dan tekanan atmosfer sebagai fungsi ketinggian adalah contoh-contoh sinyal
waktu-kontinyu (Alan, 1997).
Untuk membedakan antara sinyal waktu-kontinyu dan sinyal waktu-diskrit, kita
akan menggunakan simbol t untuk menandai variabel bebas waktu-kontinyu dan n
untuk menandai variabel bebas waktu-diskrit. Selain itu, untuk sinyal waktu-kontinyu
kita akan memagari variabel bebas dalam tanda kurung(.), sedangkan untuk sinyal
waktu-diskrit kita akan menggunakan kurung siku [.] untuk memagari variabel bebas.
Ilustri-ilustri sinyal waktu-kontinyu x(t) dan sinyal waktu-diskrit x[n]. Penting untuk
dilihat bahwa sinyal waktu-diskrit x[n] ditentukan hanya untuk harga variabel bebas
yang bilangan bulat. Pilihan representasi grafis kita untuk x[n] menggunakan fakta ini
dan untuk penekanan selanjutnya kita akan kerap merujuk x[n] sebagai urutan waktu-
diskrit (Alan, 1997).
Sistem fisik dalam pengertian yang paling luas adalah sebuah interkoneksi dari
berbagai komponen, piranti atau subsistem. Dalam konteks yang bergerak dari proses
sinyal dan komunikasi sampai motor elektromekanis, kendaraan automotif dan reaktor
kimia, suatu sistem dapat dipandang sebagai sebuah proses di mana sinyal masukan
ditransformasikan oleh sistem atau penyebab sistem menanggapi dengan beberapa
cara, yang menghasilkan sinyal lain sebagai keluaran (Alan, 1997).
Sistem waktu-kontinyu merupakan sistem dimana sinyal masukan waktu-
kontinyu diterapkan dan menghasilkan sinyal keluaran waktu-kontinyu. Sistem seperti
ini akan direpresentasikan. Di mana x(t) merupakan masukan y(t) adalah keluaran
sebagai alternatif, kita akan sering merepresentasikan hubungan masukan-keluaran
sistem waktu-kontinyu dengan notasi. Dengan cara yang sama, sebuah sistem waktu-
diskrit yaitu sebuah sistem yang mengubah masukan waktu-diskrit kedalam keluaran
waktu-diskrit (Alan, 1997).
Sinyal merupakan sebuah fungsi yang berisi informasi mengenai keadaan tingkah
laku dari sebuah sistem secara fisik. Meskipun sinyal dapat diwujudkan dalam
beberapa cara, dalam berbagai kasus, informasi terdiri dari sebuah pola dari beberapa
bentuk yang bervariasi. Sebagi contoh sinyal mungkin berbentuk sebuah pola dari
banyak variasi waktu atau sebagian saja. Secara matematis, sinyal merupakan fungsi
dari satu atau lebih variable yang berdiri sendiri (independent variable)
(Syahputra,R.2015).
Secara umum, variable yang berdiri sendiri (independent) secara matematis
diwujudkan dalam fungsi waktu, meskipun sebenarnya tidak menunjukkan waktu.
Terdapat 2 tipe dasar sinyal, yaitu: 1. Sinyal waktu kontinyu (continous-time signal)
2. Sinyal waktu diskrit (discrete-time signal) (Santoso,2018).
Pada sinyal kontinyu, variabel independent (yang berdiri sendiri) terjadi terus-
menerus dan kemudian sinyal dinyatakan sebagai sebuah kesatuan nilai dari variable
independent. Sebaliknya, sinyal diskrit hanya menyatakan waktu diskrit dan
mengakibatkan variabel independent hanya merupakan himpunan nilai diskrit.
(Santoso,2018).
Fungsi sinyal dinyatakan sebagai x dengan untuk menyertakan variabel dalam
tanda (.). Untuk membedakan antara sinyal waktu kontinyu dengan sinyak waktu
diskrit kita menggunakan simbol t untuk menyatakan variabel kontinyu dan symbol n
untuk menyatakan variabel diskrit. Sebagai contoh sinyal waktu kontinyu dinyatakan
dengan fungsi x(t) dan sinyal waktu diskrit dinyatakan dengan fungsi x(n). Sinyal
waktu diskrit hanya menyatakan nilai integer dari variabel independent.
(Santoso,2018).
Konvolusi antara dua sinyal diskrit x[n] dan v[n] dapat dinyatakan sebagai
x

 x[i]v[n  1]
X[n]*v[n] = x (3)
Bentuk penjumlahan yang ada di bagian kanan pada persamaan (1) disebut sebagai
convolution sum. Jika x[n] dan v[n] memiliki nilai 0 untuk semua integer pada n<0,
selanjutnya x[i]=0 untuk semua integer pada i<0 dan v[i-n]=0 untuk semua integer n –
i < 0 (atau n<i). Sehingga jumlahan pada persamaan (1) akan menempati dari nilai i=0
sampai dengan i=n . dapat diselesaikan dengan merubah discret time indeks n sampai
dengan i dalam sinyal x[n] dan v[n]. membalik fungsi diskrit, dan mengalikan dengan
menggeser step n (Santoso,2018).
Hasil dan Pembahasan

A. Kasus praktikum
Membuat pengamatan mengenai pengaruh operasi konvolusi pada sinyal audio.

A. Algoritma
1. Mendeklarasikan frekuensi sampling.
2. Memainkan audio yang di input.
3. Menambahkan sinyal noise.
4. Memainkan audio yang telah ditambahkan noise.
5. Membangkitkan sebuah sinyal baru.
6. Melakukan konvolusi dari kedua sinyal.
7. Menampilkan hasil grafik dari konvolusi sinyal

B. Flowchart

D. Script
clear all
y1=wavread('Hari_Merdeka');
Fs=16000;
[y1,Fs]=wavread('Hari_Merdeka');
%sound(y1,Fs);
Subplot(3,1,1)
plot(y1,'linewidth',2)
ylabel('amplitudo')
xlabel('Fs')
title('sinyal asli')
nois=randn(length(y1),1);
Y_noise=y1+0.08*nois;
Subplot(3,1,2)
plot(Y_noise,'linewidth',2)
ylabel('smplitudo')
xlabel('Fs')
title('sinyal dengan noise')
%sound(Y_noise,Fs)
satu = ones(4,1);
Y_c=conv(satu,Y_noise);
%sound(Y_c,Fs)
Subplot(3,1,3)
plot(Y_c,'linewidth',2)
ylabel('amplitudo')
xlabel('Fs')
title('sinyal konvolusi sinyal asli dan noise')

E. Hasil

E. Pembahasan
Fs yang digunakan pada grafik pertama adalah 16000. Simpangan tertinggi audio
pada grafik pertama terdapat pada amplitudo maksimum yaitu 1 dan amplitudo
minimum pada nilai -1. grafik kedua dari -1.5 sampai 1.5 dan grafik ketiga dari -5
sampai 5. grafik pertama merupakan sinyal audio normal, kemudian dibangkitkan
sinyal audio dengan penambahan gaussian noise Penjelasan jalannya program yaitu
dibaca file audio yang diinginkan, kemudian dimainkan audio dan didengarkan,
didapatkan hasil suara yang normal. Kemudian dibangkitkan sinyal audio dengan
penambahan Gaussian noise, kemudian dimainkan dan didengarkan suara yang
terdapat noise.
Kemudian dibangkitkan sebuah sinyal yang bernilai satu dengan ones berfungsi
sebagai pengali. Setelah itu dilakukan konvolusi pada sinyal ones dan sinyal audio
lagu bernoise, sehingga menghasilkan suara yang lebih sedikit noisenya dibandingkan
yang sebelumnya, karena mekanisme konvolusi berfungsi sebagai filter sehingga
noise berkurang.
Konvolusi dilakukan pada sinyal audio dengan tujuan mengetahui pengaruh
konvolusi pada sinyal audio dengan memanfaatkan file .wav. Dapat pula dilihat pada
grafik, bahwa amplitudo lagu ada yang berubah karena penambahan noise. dapat pula
dilihat pada amplitudo audio pada hasil konvolusi amplitudo noise sudah difilter
sehingga hasil audio lebih mendekati sinyal asli. Ini merupakan salah satu kegunaan
konvolusi pada sinyal gelombang suara
Daftar pustaka

Allan, S.W. 1997. Sinyal dan Sistem. Jakarta: Erlangga


Karim, Saeful . 2008. Belajar IPA Untuk Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Syahputra, R., (2015). Teknologi dan Aplikasi Elektromagnetik. Yogyakarta,
LP3M UMY, Yogyakarta
Tri Budi Santoso,dkk.2018. MODUL ANALISIS SINYAL Untuk Pengantar
Praktikum Analisis Sinyal. Jakarta.
Windartun.2008.Konvolusi sinyal dengan fungsi singularitas,UPI.Jakarta
PAPER PRAKTIKUM
ANALISIS SINYAL
KONVOLUSI

DISUSUN OLEH

NAMA : PUTRYANA THALIA A.H


NIM : 1407045065
PRODI : FISIKA
KELAS :B

LABORATORIUM FISIKA KOMPUTASI DAN PEMODELAN


JURUSAN FISIKA
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2018
LEMBAR PENGESAHAN
Praktikum Analisis Sinyal
“Sampling dan Aliasing”

Samarinda, 12 April 2018


Mengetahui,
Asisten Praktikan

An’am prasetiyo Putryana Thalia A


Nim : 1307045008 Nim:140704506