Anda di halaman 1dari 3

PERAN IBU DALAM MEMBERIKAN EDUKASI KESEHATAN

BAGI ANAK
Tidak banyak dari kita yang mengetahui bahwa upaya dalam memelihara kesehatan ibu dan
anak sudah diatur dalam undang undang kesehatan nomor 36 tahun 2009. Pada pasal 131 secara
spesifik mengatur tentang usaha dalam mendukung kesehatan anak. Adapun bunyi pasal tersebut
:

Ayat 1) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk mempersiapkan
generasi yang akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka
kematian bayi dan anak.

Ayat 2) Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak anak masih dalam kandungan,
dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia 18 (delapan belas) tahun.

Ayat 3) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) menjadi tanggung jawab dan kewajiban bersama bagi orang tua, keluarga,
masyarakat, dan Pemerintah, dan pemerintah daerah.

Dalam undang-undang tersebut telah menjelaskan mengenai tujuan dari upaya pemeliharaan
kesehatan bagi anak (ayat 1) dan siapa yang bertanggung jawab atas upaya tersebut (ayat 3).
Tentunya orang yang paling dekat bagi seorang anak adalah kedua orang tuanya. Sehingga
mereka lah yang menjadi komponen paling penting dalam melaksanakannya

Saat ini, berbagai cara dilakukan oleh para orang tua untuk memelihara kesehatan buah hatinya.
Dari mengarahkan anak untuk mengkonsumsi berbagai jenis produk-produk kesehatan sampai
mengikuti berbagai jenis imunisasi. Ini merupakan insting alamiah pada masing-masing orang
tua untuk senantiasa menjaga anak-anak mereka agar selalu dalam kondisi yang sehat.

Namun di zaman yang semakin dewasa ini, kita kerap dibuat khawatir akan berbagai
pemberitaan mengenai banyaknya penyakit baru yang muncul. Penyakit-penyakit tersebut
umumnya sangat berbahaya dan bersifat menular. Usaha yang umum dilakukan oleh para orang
tua adalah memberikan vaksin sedini mungkin sebagai upaya imunisasi anak terhadap penyakit.
Tetapi bersamaan dengan itu kekhawatiran baru muncul disebabkan baru-baru ini tersiar kabar
akan adanya vaksin-vaksin palsu di berbagai instansi kesehatan. Menjadikan orang malah makin
khwatir dan bingung terhadap tindakan apa yang harus dilakukan sebagai upaya menjaga
kesehatan anak-anaknya.

Satu hal yang jarang dilakukan oleh para orang tua adalah menjadikan si anak sendiri sebagai
agen yang mampu menjaga kesehatannya. Sangat mudah kita temukan orang tua yang begitu
serius dalam menjaga kesehatan dan keamanan sang buah hati. Namun anak-anak seringkali
hanya ditunjukkan yang mana baik dan yang mana buruk bagi kesehatan dan tidak diberi
pemahaman mengapa hal tersebut baik maupun buruk bagi mereka. Akibatnya peraturan-
peraturan yang dibuat para orang tua dalam membatasi sang anak agar terhindar dari penyakit
sangat mudah di abaikan anak-anak. Perlu kita pahami bahwa dunia anak-anak penuh dengan
berbagai tingkah dan celoteh. Keinginan untuk mencoba segala ahal adalah akar dari
keinginannya untuk belajar.

Maka dari itu, tugas dan peran orang tua terkhusus kepada ibu sebagai sekolah pertama anak
untuk mengarahkannya mengenal apa arti kesehatan bagi dirinya sendiri. Perlu di ingat untuk
menjadikan aktifitas edukasi tersebut dilakukan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan
menarik minat sang anak. Tentunnya tidak mungkin hasil nya dapat terlihat secara instan. Upaya
memberi pemahaman yang diharapkan tertanam kuat dalam memori anak akan berbeda bila anak
hanya diberitahu sepintas lalu.

Seorang ibu tidaklah mesti menjadi seorang praktisi kesehatan untuk mengajarkan anak-anak
tentang dunia kesehatan. Cukup dengan senantiasa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang
ada dan giat mencari sumber info kesehatan bagi ibu dan anak. Dengan begitu, Sedikit
banyaknya Ibu telah memiliki bekal dalam membimbing anak menjaga kesehatannya sendiri.
Setidaknya ada 3 hal yang dapat menjadi bahan pendidikan bagi orang tua dalam memberikan
edukasi kesehatan terhadap anak.

1. Mengenalkan pentinganya memenuhi gizi,

seorang ibu hendaknya sangat memahami pentingnya kecukupan gizi bagi buah hatinya.
Gizi yang cukup sehari-hari akan sangat mendukung pertumbuhan dan aktifitas anak.
Maka dari itu, mengenalkan kepada anak jenis jenis gizi seperti Karbohidrat untuk
sumber energi, protein sebagai pendukung metabolisme tubuh dan mineral serta vitamin
yang dapat mengoptimalkan fungsi berbagai organ akan menjadikan anak paham akan
pentingnya mencukupi nilai gizi setidaknya dalam hitungan sehari.  

2. Mengajarkan anak untuk mandiri dalam menangani diri sendiri ketika sakit,

seorang anak biasanya akan sangat tergantung kepada orang tuanya ketika mengalami
sakit ataupun luka pendarahan. Mengajarkan anak bagaimana menangani diri sendiri
ketika mengalami hal tersebut tidak hanya menjadikan seorang anak mandiri tetapi juga
secara tidak lansung mendapatkan ilmu dalam menangani masalah pribadi. Seperti
misalnya ketika mengalami luka yang mengakibatkan pendarahan, ajarkan anak untuk
lansung bertindak mencari antiseptik dan pembalut luka agar lukanya segera ditangani.
begitupula ketika mengalami sakit, seperti diare atau mencret, karena umumnya penyakit
tersebut memiliki gejala dehidrasi pada tubuh, maka bimbing anak untuk menjaga jumlah
cairan dalam tubuhnya dengan banyak meminum air atau larutan oralit (larutan gula
garam) selama mengalami hal tersebut. Selain itu, masih banyak contoh lain yang dapat
kita ajarkan kepada anak dalam mengasah kemandiriannya menangani diri sendiri.  

3. Memotivasi anak untuk senantiasa menjaga diri dari segala hal yang
membahayakan kesehatan,
saat ini di lingkungan luar kita penyakit sudah dapat datang dari berbagai sumber. Dari
debu-debu jalanan, jajanan pinggir jalan bahkan dari orang-orang disekitar yang kita
tidak tahu bahwa dia memiliki penyakit menular. Kepada orang tua yang memiliki anak
dengan aktifitas diluar rumah terutama anak sekolahan agar memberi pemahaman dan
motivasi kepada mereka untuk senantiasa menjaga diri dari berbagai hal yang mungkin
saja mendatangkan penyakit. Senantiasa ajaklah anak berdiskusi mengenai aktifitas
kesehariaanya. Dari situ kita dapat mengarahkannya dalam memilih yang mana baik dan
yang mana buruk baginya. Jangan sampai kita menyesal belakangan ketika anak sudah
terjangkit penyakit.

Selain dari contoh-contoh diatas, masih banyak lagi hal yang dapat kita lakukan dalam
mengarahkan anak menjadi pribadi yang menyadari pentingnya arti kesehatan. Para bagi orang
tua terutama Ibu dalam proses pembimbingan tersebut dapat menyesuaikan dengan tingkah laku
dan karakter si anak. Memberikan edukasi mengenai kesehatan kepada anak dengan model
pendidikan yang tepat akan membuat informasi-informasi yang telah disampaikan orang tua
akan tertanam dalam alam bawah sadar anak-anak.

Peran dalam membimbing tersebut hendaknya dilakukan dengan konsisten dan penuh rasa
tanggung jawab dalam mengawal kualitas kesehatan buah hati. demi mendukung upaya
pemeliharaan kesehatan anak yang kelak diharapkan menjadi generasi penerus bangsa yang
sehat, cerdas dan berkualitas.

sumber:

Dr. D.P. Addy, 1996, Kesehatan Anak, Buku Pintar Kesehatan, Penerbit ARCAN

2014,Undang-Undang KESEHATAN (UU RI No. 36 Th. 2009), Penerbit SINAR GRAFIKA

Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Dalam: Gde Ranuh, editor. Tumbuh


kembang anak. EGC:1998