Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang
secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari
kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan
mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Orang Dengan Masalah
Kejiwaan yang selanjutnya disingkat ODMK adalah orang yang mempunyai
masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas
hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.1
Orang Dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya disingkat ODGJ adalah
orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang
termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang
bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan
fungsi orang sebagai manusia. Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk
mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga,
dan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.1
Penderita gangguan jiwa sering mendapat stigma dan diskriminasi dari
masyarakat dibandingkan individu yang menderita penyakit medis lainnya. Hal
tersebut tidak hanya memberikan konsekuensi negatif terhadap penderitanya tetapi
juga bagi anggota keluarga yang dapat berupa sikap penolakan, penyangkalan, dan
dikucilkan. Sering kali mereka disebut sebagai orang gila. Perlakuan ini disebabkan
karena minimnya pengetahuan dari keluarga atau anggota masyarakat mengenai
gangguan jiwa. Berdasarkan hal tersebut maka pengembangan Upaya kesehatan
Jiwa Berbasis Masyarakat (UKJBM) menjadi sebuah prioritas untuk kesehatan jiwa
yang mana Puskesmas merupakan ujung tombaknya yang bekerjasama dengan
masyarakat dalam mencegah meningkatnya gangguan jiwa di masyarakat.2
Berdasarkan Permenkes RI No. 4 tahun 2019, Setiap ODGJ berat wajib
mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar. Pelayanan kesehatan jiwa pada

1
ODGJ berat adalah pelayanan yang bertujuan meningkatkan kesehatan jiwa ODGJ
berat (psikotik akut dan skizofrenia) serta mencegah terjadinya kekambuhan dan
pemasungan. Pelayanan kesehatan jiwa pada ODGJ berat yang diberikan oleh
perawat dan dokter Puskesmas di wilayah kerjanya meliputi pemeriksaan kesehatan
jiwa yang terdiri dari pemeriksaan status mental serta wawancara, edukasi
kepatuhan minum obat, dan melakukan rujukan bila diperlukan.3
Kesehatan Jiwa merupakan salah satu permasalahan kesehatan dengan angka
yang signifikan di dunia. Berdasarkan data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta
orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia,
serta 47,5 juta terkena dimensia. Berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial
ditambah dengan keanekaragaman penduduk yang ada di Indonesia menjadi alasan
terus bertambahnya jumlah kasus gangguan jiwa yang berdampak pada
penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka
panjang.4 Data Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat prevalensi gangguan jiwa
berat di Indonesia mencapai 7 per satu juta penduduk. Terdapat peningkatan dari
tahun lalu yang hanya sebanyak 1.7 per satu juta penduduk Indonesia. Provinsi
Jawa tengah memiliki presentase sebanyak 8,7% dari seluruh penderita di Indonesia
dan pedesaan memiliki jumlah gangguan jiwa yang lebih tinggi dibandingkan
dengan perkotaan. Hal ini berkaitan dengan minimnya pelayanan dan fasilitas
kesehatan jiwa di berbagai daerah Indonesia sehingga banyak penderita gangguan
kesehatan mental yang belum tertangani dengan baik. “Kesenjangan pengobatan
gangguan jiwa di Indonesia mencapai lebih dari 90 persen”. Artinya, kurang dari
10 persen penderita gangguan jiwa yang mendapatkan layanan terapi oleh petugas
kesehatan.4,5
Gangguan jiwa dapat mempengaruhi fungsi kehidupan seseorang. Aktifitas,
kehidupan sosial, pekerjaan, serta hubungan antar keluarga menjadi terganggu.
Keterlambatan dalam pengobatan dapat merugikan penderita, keluarga dan
masyarakat oleh karena itu seseorang dengan gangguan jiwa apapun harus segera
mendapatkan pengobatan.6 Berdasarkan data Puskesmas Mertoyudan II dari
Januari - Februari 2019, jumlah total ODGJ di kecamatan Mertoyudan berjumlah
72 orang. Dari sejumlah tersebut, hanya 36 ODGJ yang mendapat pelayanan sesuai
standar. Hal ini menunjukkan angka cakupan ODGJ yang mendapat pelayanan

2
sesuai standar di Kecamatan Mertoyudan periode Januari - Februari 2019 hanya
mencapai 50%. Di Desa Kalinegoro, terdapat enam ODGJ berat dengan dua ODGJ
berat yang mendapatkan pelayanan sesuai standar. Hal ini menunjukkan bahwa
angka cakupan ODGJ berat yang mendapat pelayanan sesuai standar di Desa
Kalinegoro periode Januari - Februari 2019 hanya mencapai 33,33% sementara
target 100%.
Fasilitas Pelayanan di Bidang Kesehatan Jiwa menyelenggarakan pelayanan
kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang didirikan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau Masyarakat dan harus memiliki sumber daya
manusia di bidang Kesehatan Jiwa, perbekalan kesehatan jiwa, serta mengikuti
perkembangan teknologi dan produk teknologi Kesehatan Jiwa yang berbasis bukti.

I.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah, yaitu “Apakah
faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan ODGJ yang mendapatkan
pelayanan sesuai standar di sarana kesehatan Puskesmas Mertoyudan II periode
Januari – Februari 2019 dan apa sajakah alternatif pemecahan masalah yang sesuai
dengan penyebab masalah yang ditemukan serta rencana tindak lanjut dari alternatif
pemecahan terpilih”?

I.3 Tujuan Penulisan


I.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui, mengidentifikasi, menganalisis faktor – faktor yang
menyebabkan rendahnya cakupan ODGJ yang mendapatkan pelayanan di sarana
kesehatan, menentukan dan merumuskan alternatif pemecahan masalah, prioritas
pemecahan masalah, serta kegiatan yang dapat dilakukan untuk pemecahan
masalah tersebut di Puskesmas Mertoyudan II.
I.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui faktor – faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan ODGJ
yang mendapatkan pelayanan sesuai standar dari faktor input, proses
maupun lingkungan di Puskesmas Mertoyudan II, Kabupaten Magelang.

3
b. Mencari alternatif pemecahan masalah yang menyebabkan rendahnya
cakupan ODGJ yang mendapatkan pelayanan sesuai standar di Puskesmas
Mertoyudan II, Kabupaten Magelang.
c. Menentukan prioritas pemecahan masalah yang menyebabkan rendahnya
cakupan ODGJ yang mendapatkan pelayanan sesuai standar di Puskesmas
Mertoyudan II, Kabupaten Magelang.
d. Menyusun rencana tindak lanjut alternatif pemecahan masalah terpilih.

I.4 Manfaat Penulisan


1. Membantu Puskesmas Mertoyudan II dalam mengidentifikasi penyebab
rendahnya cakupan ODGJ yang mendapatkan pelayanan sesuai standar di
Puskesmas Mertoyudan II, Kabupaten Magelang
2. Membantu Puskesmas dalam memberikan alternatif penyelesaian terhadap
masalah rendahnya cakupan ODGJ yang mendapatkan pelayanan sesuai
standar di Puskesmas Mertoyudan II, Kabupaten Magelang.
3. Masyarakat mendapatkan pengetahuan tentang ODGJ dan dapat memberikan
dukungan terhadap ODGJ.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Gangguan Jiwa


Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun
sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.7 Pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun
1948 yaitu “suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya
ketiadaan penyakit atau kelemahan”. Kesehatan mental adalah kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan masyarakat
di mana dia hidup. Gangguan pada kesehatan mental dan/atau jiwa dapat
mengganggu fungsi seseorang, hal ini biasa juga disebut dengan gangguan jiwa.8

II.1.1 Definisi
Menurut Depkes RI tahun 2000, gangguan jiwa adalah suatu perubahan
pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan
peran sosial. Gangguan jiwa terdiri dari berbagai jenis dengan penderita yang kerap
kali dikucilkan, mendapat perlakuan diskriminasi, di isolasi bahkan hingga di
pasung. Padahal perlakuan-perlakuan tersebut tidak akan membantu penderita sama
sekali bahkan dapat memperparah kondisi penderita. Penderita gangguan jiwa biasa
disebut dengan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).8
ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan
perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan
perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan
dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.9
Gangguan jiwa yaitu suatu sindrom atau pola perilaku yang secara klinis
berhubungan dengan penderitaan pada seseorang dan menimbulkan gangguan pada
satu atau lebih fungsi kehidupan manusia.10 Menurut Maramis tahun 2008,
gangguan jiwa merupakan bagian dari gangguan alam: cara berpikir (cognitive),
kemauan (volition), emosi (affective), tindakan (psychomotor). Gangguan jiwa
merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang

5
berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Keabnormalan tersebut dibagi
ke dalam dua golongan yaitu: gangguan jiwa (Neurosa) dan sakit jiwa (Psikosa).
Keabnormalan terlihat dalam berbagai macam gejala yang diantaranya adalah
ketegangan (tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-
perbuatan yang terpaksa (convulsive), histeria, rasa lemah, tidak mampu mencapai
tujuan, rasa takut dan pikiran-pikiran buruk.11 Dampak dari gangguan jiwa salah
satunya adalah ketidaksanggupan penderita untuk menilai dengan baik kenyataan,
tidak dapat lagi menguasai dirinya untuk mencegah mengganggu orang lain atau
merusak/menyakiti dirinya sendiri. Gangguan jiwa bersifat lebih kompleks apabila
dibandingkan dengan terganggunya jasmani, mulai dari yang ringan seperti rasa
cemas, takut hingga yang tingkat berat berupa gangguan psikotik yang dapat
mencelakai diri sendiri dan orang lain.11

II.1.2 Faktor Penyebab


Gejala yang paling menonjol pada gangguan jiwa terdapat pada unsur
kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin dari tubuh itu sendiri (somatogenik),
lingkungan sosial (sosiogenik), ataupun psikis (psikogenik). Biasanya terdapat
beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi
atau secara kebetulan terjadi bersamaan, menimbulkan gangguan badan ataupun
gangguan jiwa. Penyebab gangguan jiwa dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Faktor Biologis
1) Genetik
Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas akan tetapi individu yang
mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan lebih tinggi
dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki factor herediter.
2) Temperamen
Orang yang terlalu peka/sensitif biasanya mempunyai masalah kejiwaan
dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan
jiwa. Proses emosi yang terjadi secara terus-menerus dengan koping yang
tidak efektif akan mendukung munculnya gejala psikotik.
3) Penyakit dan Cedera Tubuh

6
Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker, dan
sebagainya mungkin dapat menyebabkan merasa murung dan sedih.
Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa
rendah diri.
4) Jasmaniah
Beberapa peneliti berpendapat bentuk tubuh seseorang berhubungan
dengan gangguan jiwa tertentu. Misal, seseorang dengan bentuk tubuh
gemuk/endoform cenderung menderita psikosa manik depresif, sedang
yang kurus/ektoform cenderung menjadi skizofrenia. Cacat kongenital
atau sejak lahir dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak, terlebih
yang berat seperti retardasi mental berat
5) Deprivasi
Deprivasi atau kehilangan fisik baik sejak lahir atau didapat misalnya
kecelakaan hingga anggota gerak harus diamputasi.
b. Faktor Psikologis
Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami
akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifat di kemudian hari. Pemberian
kasih sayang orang tua yang dingin, acuh tak acuh, kaku dan keras akan
menimbulkan rasa cemas dan tekanan serta memiliki kepribadian yang
bersifat menolak dan menentang terhadap lingkungan
c. Faktor Ansietas/Rasa Takut
Kekhawatiran pada sesuatu hal yang tidak jelas dan perasaan yang tidak
menentu akan sesuatu hal menyebabkan individu merasa terancam,
ketakutan hingga terkadang mempersepsikan dirinya terancam.
d. Faktor Sosio-kultural
1) Penyebab Primer
Kondisi yang dapat menyebabkan gangguan jiwa secara langsung, atau
suatu kondisi yang tanpa kehadirannya suatu gangguan jiwa tidak akan
muncul.
2) Faktor Predisposisi
Menyebabkan seseorang rentan terhadap salah satu bentuk gangguan
jiwa.

7
3) Faktor Pencetus
Kejadian traumatik yang dapat secara langsung menyebabkan gangguan
jiwa atau mencetuskan gangguan jiwa.
4) Faktor Penguat
Kondisi yang cenderung mempertahankan atau mempengaruhi tingkah
laku maladaptif yang terjadi.
5) Penyebab Multipel
Serangkaian faktor penyebab yang kompleks serta saling
mempengaruhi. Gangguan jiwa, jarang disebabkan oleh satu sebeb
tunggal, bukan sebagai suatu hubungan sebab akibat, melainkan saling
mempengaruhi satu faktor penyebab dengan faktor lainnya.
e. Faktor Presipitasi
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang adalah
stressor, faktor ini dapat menjadi faktor stimulus seorang individu
mempersepsikan dirinya dalam menghadapi tantangan, ancaman, atau
tuntutan untuk koping. Hal ini dapat berpengaruh terhadap konsep diri
seseorang dimana individu sulit atau tidak mampu menyesuaikan diri.
Konsep diri dan berbagai komponennya dapat dipengaruhi oleh lingkungan.
Bentuk stressor dan lingkungan yang dapat merubah konsep diri seseorang
adalah hilangnya anggota tubuh, tindakan operasi, proses patologi penyakit,
perubahan struktur dan fungsi tubuh, proses tumbuh kembang, dan prosedur
tindakan serta pengobatan.12,13

II.1.3 Klasifikasi
Adapun pembagian gangguan jiwa menurut PPDGJIII ialah berdasarkan pada
system hierari yang terdiri dalam:
a. Gangguan mental organik.
b. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat.
c. Skizofrenia, gangguan skizotipal dan gangguan waham.
d. Gangguan suasana perasaan.
e. Gangguan neurotik, gangguan somatoform, dan gangguan terkait stress.

8
f. Sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor
fisik.
g. Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa.
h. Retardasi mental.
i. Gangguan perkembangan psikologis.
j. Gangguan perilaku emosional dengan onset biasanya pada masa kanak dan
dewasa.14
Menurut Davidson tahun 2006, gangguan jiwa dibagi menjadi dua bagian besar,
yaitu:
a. Gangguan jiwa berat (psikotik)
Merupakan suatu gangguan jiwa yang merupakan ketidakmampuan untuk
berkomunikasi atau mengenali realitas yang menimbulkan kesukaran dalam
kemampuan seseorang berperan sebagaimana mestinya dalam kehidupan
sehari-hari. Salah satu gejala psikosis yang dialami penderita gangguan jiwa
berupa gangguan persepsi dimana pasien mempersepsikan sesuatu yang
sebenarnya tidak terjadi. Dua jenis yaitu psikosis organik, dimana
didapatkan kelainan pada otak dan psikosis fungsion dimana tidak terdapat
kelainan pada otak.
b. Gangguan jiwa ringan (neurotik)
Merupakan gangguan dimana seseorang dalam keadaan sadar, dengan
melalui ketidakberesan tingkah laku yang disebabkan oleh adanya tekanan
yang terus menerus seperti konflik yang ditandai dengan gejala-gejala
seperti: reaksi kecemasan, kerusakan aspek-aspek kepribadian, phobia,
histeris. Gangguan jiwa ringan adalah suatu bentuk dimana perilaku
seseorang yang maladaptif karena adanya faktor penyebab yang mendasar.
Mengetahui bahwa jiwanya terganggu. Faktor penyebab gangguan jiwa
ringan adalah: tekanan sosial yang dapat menyebabkan ketakutan dengan
kecemasan dan ketegangan hingga kronis, banyak mengalami frustasi yang
dialami sejak lama, kepribadian yang sangat labil.15

9
II.1.4 Dampak Gangguan Jiwa bagi Keluarga
Dampak bagi keluarga dengan anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa
diantaranya belum terbiasa dengan:
a. Penolakan
Sering terjadi dan timbul ketika ada keluarga yang menderita gangguan jiwa,
pihak anggota keluarga lain menolak penderita tersebut dan meyakini memiliki
penyakit berkelanjutan. Selama episode akut anggota keluarga akan khawatir
dengan apa yang terjadi pada mereka cintai. Pada proses awal, keluarga akan
melindungi orang yang sakit dari orang lain dan menyalahkan dan merendahkan
orang yang sakit untuk perilaku tidak dapat diterima dan kurangnya prestasi.
Sikap ini mengarah pada ketegangan dalam keluarga, dan isolasi dan kehilangan
hubungan yang bermakna dengan keluarga yang tidak mendukung orang yang
sakit. Tanpa informasi untuk membantu keluarga belajar untuk mengatasi
penyakit mental, keluarga dapat menjadi sangat pesimis tentang masa depan.
Sangat penting bahwa keluarga menemukan sumber informasi yang membantu
mereka untuk memahami bagaimana penyakit itu mempengaruhi orang
tersebut. Mereka perlu tahu bahwa dengan pengobatan, psikoterapi atau
kombinasi keduanya, mayoritas orang kembali ke gaya kehidupan normal. 13
b. Stigma
Informasi dan pengetahuan tentang gangguan jiwa tidak semua dalam anggota
keluarga mengetahuinya. Keluarga menganggap penderita tidak dapat
berkomunikasi layaknya orang normal lainnya. Menyebabkan beberapa
keluarga merasa tidak nyaman untuk mengundang penderita dalam kegiatan
tertentu. stigma dalam begitu banyak di kehidupan sehari-hari, tidak
mengherankan, semua ini dapat mengakibatkan penarikan dari aktif
berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari. 13,15
c. Frustasi, tidak berdaya dan kecemasan
Sulit bagi siapa saja untuk menangani dengan pemikiran aneh dan tingkah laku
aneh dan tak terduga. Hal ini membingungkan, menakutkan, dan melelahkan.
Bahkan ketika orang itu stabil pada obat, apatis dan kurangnya motivasi bisa
membuat frustasi. Anggota keluarga memahami kesulitan yang penderita
miliki. Keluarga dapat menjadi marah-marah, cemas, dan frustasi karena

10
berjuang untuk mendapatkan kembali ke rutinitas yang sebelumnya penderita
lakukan.13
d. Kelelahan dan Burn out
Seringkali keluarga menjadi putus asa berhadapan dengan orang yang dicintai
yang memiliki penyakit mental. Mereka mungkin mulai merasa tidak mampu
mengatasi dengan hidup dengan orang yang sakit yang harus terus-menerus
dirawat. Namun seringkali, mereka merasa terjebak dan lelah oleh tekanan dari
perjuangan sehari-hari, terutama jika hanya ada satu anggota keluarga mungkin
merasa benar-benar diluar kendali. Hal ini bisa terjadi karena orang yang sakit
ini tidak memiliki batas yang ditetapkan di tingkah lakunya. Keluarga dalam
hal ini perlu dijelaskan kembali bahwa dalam merawat penderita tidak boleh
merasa letih, karena dukungan keluarga tidak boleh berhenti untuk selalu men-
support penderita.13,15
e. Duka
Kesedihan bagi keluarga di mana orang yang dicintai memiliki penyakit mental.
Penyakit ini mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi dan
berpartisipasi dalam kegiatan normal dari kehidupan sehari-hari, dan penurunan
yang dapat terus-menerus. Keluarga dapat menerima kenyataan penyakit yang
dapat diobati, tetapi tidak dapat disembuhkan. Keluarga berduka ketika orang
yang dicintai sulit untuk disembuhkan dan melihat penderita memiliki potensi
berkurang secara substansial bukan sebagai yang memiliki potensi berubah.15
f. Kebutuhan pribadi dan mengembangkan sumber daya pribadi
Jika anggota keluarga memburuk akibat stress dan banyak pekerjaan, dapat
menghasilkan anggota keluarga yang sakit tidak memiliki sistem pendukung
yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, keluarga harus diingatkan bahwa
mereka harus menjaga diri secara fisik, mental, dan spiritual yang sehat.
Memang ini bisa sangat sulit ketika menghadapi anggota keluarga yang sakit
mereka. Namun, dapat menjadi bantuan yang luar biasa bagi keluarga untuk
menyadari bahwa kebutuhan mereka tidak boleh diabaikan.13,15

11
II.2 Upaya Kesehatan Jiwa
Menurut Undang-Undang No.18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, upaya
kesehatan jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa
yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat dengan pendekatan
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara
menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
dan/ atau masyarakat. Tujuan dari upaya kesehatan jiwa antara lain:
a. Menjamin setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik, menikmati
kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan
gangguan lain yang dapat mengganggu Kesehatan Jiwa.
b. Menjamin setiap orang dapat mengembangkan berbagai potensi kecerdasan.
c. Memberikan pelindungan dan menjamin peiayanan Kesehatan Jiwa bagi
ODGJ berdasarkan hak asasi manusia.
d. Memberikan pelayanan kesehatan secara terintegrasi, komprehensif, dan
berkesinambungan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif bagi ODGJ.
e. Menjamin ketersediaan dan ketedangkauan sumber daya dalam Upaya
Kesehatan Jiwa.
f. Meningkatkan mutu Upaya Kesehatan Jiwa sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
g. Memberikan kesempatan kepada ODGJ untuk dapat memperoleh haknya
sebagai Warga Negara Indonesia.
Kegiatan upaya kesehatan jiwa terdiri dari upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
a. Upaya Promotif
Upaya promotif adalah merupakan suatu kegiatan dan/atau rangkaian
kegiatan penyelenggaraan pelayanan Kesehatan Jiwa yang bersifat promosi
Kesehatan Jiwa. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan dan
meningkatkan derajat Kesehatan Jiwa masyarakat secara optimal,
menghilangkan stigma, diskriminasi, pelanggaran hak asasi ODGJ sebagai
bagian dari masyarakat, meningkatkan pemahaman dan peran serta
masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa dan meningkatkan penerimaan dan

12
peran serta masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa. Upaya promotif dapat
dilakukan secara terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan dengan
upaya promotif kesehatan lain. Upaya promotif' di lingkungan fasilitas
pelayanan kesehatan dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi,
dan edukasi mengenai Kesehatan Jiwa dengan sasaran kelompok pasien,
kelompok keluarga, atau masyarakat di sekitar fasilitas pelayanan
kesehatan.
b. Upaya Preventif
Upaya preventif merupakan suatu kegiatan untuk mencegah terjadinya
masalah kejiwaan dan gangguan jiwa. Upaya preventif ditujukan untuk
mencegah teradinya masalah kejiwaan, mencegah timbulnya dan/atau
kambuhnya gangguan jiwa, mengurangi faktor risiko akibat gangguan jiwa
pada masyarakat secara umuln atau perorangan, dan mencegah timbulnya
dampak masalah psikososial. Upaya preventif terutama di lingkungan
keluarga dilaksanakan dalam bentuk pola asuh yang mendukung
pertumbuhan dan perkembangan jiwa; komunikasi, informasi, dan edukasi
dalam keluarga; dan kegiatan lain sesuai dengan perkembangian
masyarakat.
c. Upaya Kuratif
Upaya kuratif merupakan kegiatan pemberian pelayanan kesehatan terhadap
ODGJ yang mencakup proses diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat
sehingga ODGJ dapat berfungsi kembali secara wajar di lingkungan
keluarga, lembaga, dan masyarakat. Upaya kuratif Kesehatan Jiwa
ditujukan untuk penyembuhan atau pemulihan, pengurangan penderitaan,
pengendalian disabilitas, dan pengendalian gejala penyakit.
Penatalaksanaan kondisi kejiwaan pada ODGJ dilakukan di fasilitas
pelayanan di bidang Kesehatan Jiwa. Penatalaksanaan kondisi kejiwaan
pada ODGJ dilaksanakan melalui sistem rujukan. Penatalaksanaan kondisi
kejiwaan pada ODGI dapat dilakukan dengan cara rawat jalan dan rawat
inap.

13
d. Upaya Rehabilitatif
Upaya rehabilitatif Kesehatan Jiwa merupakan kegiatan dan/atau
serangkaian kegiatan pelayanan Kesehatan Jiwa yang dihrjukan untuk
mencegah atau mengendalikan disabilitas, memulihkan fungsi sosial,
memulihkan fungsi okupasional, dan mempersiapkan dan memberi
kemampuan ODGJ agar mandiri di masyarakat. Upaya rehabilitatif ODGJ
meliputi: rehabilitasi psikiatrik dan/atau psikososial dan rehabilitasi sosial.
Rehabilitasi psikiatrik dan/atau psikososial dan rehabilitasi sosial ODGJ
dapat merupakan upaya yang tidak terpisahkan satu sama lain dan
berkesinambungan.2

II.3 Upaya Kesehatan Jiwa di Puskesmas


Berdasarkan Permenkes RI No. 4 tahun 2019, Setiap ODGJ berat
mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar. Pelayanan kesehatan jiwa pada
ODGJ berat dilakukan oleh minimal 1 orang dokter dan/atau perawat terlatih jiwa
dan/atau tenaga kesehatan lainnya.
Pelayanan kesehatan jiwa pada ODGJ berat meliputi:
a. Penetapan sasaran pada ODGJ berat yang ditetapkan oleh Kepala Daerah
dengan menggunakan data RISKESDAS terbaru yang ditetapkan oleh Mentri
Kesehatan.
b. Pemeriksaan kesehatan jiwa (pemeriksaan status mental, wawancara).
c. Edukasi (kepatuhan minum obat).
d. Melakukan rujukan jika diperlukan.
e. Pelaksanan kunjungan rumah (KIE Keswa, melatih perawatan diri, minum
obat sesuai anjuran dan berkesinambungan, kegiatan rumah tangga dan
aktivitas bekerja sederhana).
Capaian kinerja Pemerintah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan
kesehatan sesuai standar bagi ODGJ berat dinilai dari jumlah ODGJ berat yang
mendapatkan pelayanan sesuai standar di wilayah kerjanya dalam kurun waktu satu
tahun. Target capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam pelayanan
kesehatan jiwa pada orang dengan gangguan jiwa berat sesuai standar di wilayah
kerja adalah 100 persen.3

14
Rumus Perhitungan Kinerja Pelayanan Kesehatan Orang dengan Gangguan Jiwa
(ODGJ) Berat

Langkah-langkah Kegiatan Pelayanan Kesehatan ODGJ Berat :


1. Pendataan ODGJ berat menurut data estimasi wilayah kerja Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama (FKTP).
2. Melakukan diagnosis terduga ODGJ berat dan melakukan penatalaksanaan
medis.
3. Penatalaksanaan kunjungan rumah (KIE, Keswa, melatih perawatan diri,
minum obat sesuai anjuran dan berkesinambungan, kegiatan rumah tangga dan
aktivitas bekerja sederhana).
4. Melakukan rujukan ke FKRTL atau Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
5. Pelaporan, monitoring dan evaluasi.3

Sumber pendanaan Upaya Kesehatan .Iiwa dibebankan pada Anggaran


Pendapatan dan Belanja Negara serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Sumber dana upaya kesehatan jiwa lainnya biasa didapat dari dukungan dana
masyarakat. Dalam upaya meningkatkan efektifitas pembiayaan kesehatan maka
pendanaan kesehatan jiwa diutamakan untuk peningkatan akses dan mutu
pelayanan kesehatan jiwa bagi masyarakat miskin melalui program Jaminan
Kesehatan Nasional.1,16
Sumber Daya Manusia yang terkait dengan Kegiatan Pelayanan Kesehatan ODGJ
Berat adalah:
1. Dokter
2. Perawat
3. Kader yang dilatih oleh tenaga kesehatan.3

15
II.4 Pengetahuan dan Sikap
Perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor
internal meliputi pengetahuan, persepsi, emosi, motivasi, sedangkan faktor
eksternal meliputi lingkungan fisik maupun non fisik. Lingkungan fisik meliputi
letak geografis, tempat tinggal dan kependudukan, sedangkan lingkungan non fisik
terdiri dari pengetahuan, sikap dan perilaku individu.17
II.4.1 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” dan terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia, yaitu: indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa, dan raba. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam
menumbuhkan rasa percaya diri dalam sikap dan peilaku setiap hari. Secara
etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge.
Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa pengetahuan adalah
kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Pengetahuan itu adalah
semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian, pengetahuan merupakan hasil
proses dari usaha manusia untuk tahu. Dalam kamus filsafat, dijelaskan bahwa
pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari
kesadarannya sendiri.
a. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan mempunyai tingkatan sebagai berikut:
1) Tahu (Know): Kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah
dipelajari, dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang
diterima. Cara kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa
yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasikan dan mengatakan.
2) Memahami (Comprehension): Kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi (Application): Kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.

16
Aplikasi dalam hal ini dapat diartikan sebagai pengguna hukum-
hukum, rumus, metode, prinsip-prinsip dan sebagainya.
4) Analisis (Analysis): Kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek dalam suatu komponen-komponen, tetap masih dalam
struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti
kata kerja mengelompokkan, menggambarkan, memisahkan.
5) Sintesis (Synthesis): Kemampuan untuk menghubungkan bagian-
bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis
adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi yang ada
6) Evaluasi (Evaluation): Kemampuan untuk melakukan penelitian
terhadap suatu materi atau objek tersebut bersdasarkan suatu cerita
yang sudah ditentukan sendiri atau mengguanakan kriteria yang sudah
ada.18
c. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita
sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan berikut:
1) Tingkat pengetahuan baik bila skor > 75% - 100%.
2) Tingkat pengetahuan cukup bila skor 60% - 75%.
3) Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 60%.18

II.4.2 Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu
tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu. Sikap
belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi
tindakan suatu perilaku. Terdapat 3 komponen pokok yaitu 1) kepercayaan
(keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek, 2) Kehidupan emosional atau
evaluasi terhadap suatu objek, 3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to be have).

17
a. Tingkat Sikap
1) Menerima (receiving), yaitu sikap dimana seseorang atau subjek mau
memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
2) Menanggapi (responding), yaitu sikap memberikan jawaban atau
tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.
3) Menghargai (valuing), yaitu sikap dimana subjek atau seseorang
memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus. Dalam arti
membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau
mempengaruhi orang lain merespon.
4) Bertanggungjawab (responsible), sikap yang paling tinggi
tindakannya adalah bertanggungjawab terhadap apa yang diyakininya.17
b. Penilaian Sikap
Penilaian sikap dapat dilakukan dengan angket tentang pernyataan materi
yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Sikap responden
dinilai menggunakan skala Likert, sebagai berikut:
1) Sangat Setuju (SS).
2) Setuju (S).
3) Netral (N).
4) Tidak Setuju (TS).
5) Sangat Tidak Setuju (STS).17

18
BAB III
ANALISIS MASALAH

Menurut Permenkes No. 4 tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal


(SPM), setiap ODGJ berat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar.
Cakupan ODGJ berat yang berobat ke sarana pelayanan kesehatan merupakan salah
satu indikator dari kegiatan program kesehatan jiwa. Perlu dilakukan pemecahan
masalah untuk meningkatkan cakupan ODGJ berat yang tidak berobat ke sarana
kesehatan agar sesuai target SPM Nasional, yaitu 100%. Berdasarkan SPM Puskesmas
Mertoyudan II dari bulan Januari sampai dengan Februari 2019, didapatkan angka
cakupan sebesar 50% dengan total ODGJ sebanyak 72 orang dan yang mendapatkan
pelayanan kesehatan sesuai standar hanya sebanyak 36 orang.

Tabel 1. Persentase ODGJ yang Mendapatkan Pelayanan Kesehatan


Sesuai Standar di Kecamatan Mertoyudan Januari – Februari 2019

ODGJ
Target
No. Indikator Sasaran Tidak Cakupan
(%) Berobat
Berobat
ODGJ Mendapatkan
Pelayanan
1 100% 72 36 36 50%
Kesehatan Sesuai
Standar
Sumber: Puskesmas Mertoyudan II Januari - Februari 2019

Desa Kalinegoro merupakan wilayah kerja terdekat dari Puskesmas Mertoyudan


II, meskipun demikian masih terdapat orang dengan ODGJ berat yang belum
mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar. Berdasarkan data kunjungan pasien

19
Puskesmas Mertoyudan, dari 6 orang ODGJ berat hanya 2 orang ODGJ berat yang
melakukan pengobatan di sarana kesehatan sesuai standar.

Tabel 2. Jumlah ODGJ Berat yang Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Sesuai


Standar di Kecamatan Mertoyudan Januari – Februari 2019
ODGJ
Indikator Target (%) Sasaran Tidak Cakupan
Berobat
Berobat
Kalinegoro 100% 6 2 4 33,33%
Jogonegoro 100% - - - -
Bondowoso 100% - - - -
Sukorejo 100% - - - -
Banjarnegoro 100% - - - -
Bulurejo 100% - - - -
Sumber: Puskesmas Mertoyudan II Januari – Februari 2019
Dari data hasil kunjungan 4 orang dengan ODGJ berat dengan ODGJ berat
didapatkan daftar nama responden sebagai berikut:
a. Ny. SR (RW 18)
b. Sdr. H (RW 18)
c. Sdr. T (RW 06)
d. Sdr. S (RW 04)
Berdasarkan hasil yang di dapat, jumlah cakupan ODGJ berat yang melakukan
pelayanan kesehatan di Sarana kesehatan sesuai standar di Desa Kalinegoro adalah
sebagai berikut:
Besar cakupan = ODGJ Berat yang Mendapatkan
Pelayanan Kesehatan di Desa Kalinegoro x 100%
Jumlah ODGJ Berat di Desa Kalinegoro
= 2/6 x 100%
= 33,33%

20
Dari hasil perhitungan di atas, didapatkan persentase cakupan ODGJ berat di
Desa Kalinegoro yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar periode
Januari – Februari 2019 adalah sebesar 33,33%, dimana angka tersebut masih belum
mencapai target. Hal ini tentu menjadi masalah yang harus diatasi oleh Puskesmas
Mertoyudan II.

21
BAB IV
KERANGKA PENELITIAN

IV.1 Kerangka Teori

INPUT PROSES

Man: Dokter, koordinator P1: Penjadwalan penyuluhan


program jiwa, kader dan kunjungan rumah ODGJ
Money: Dana Puskesmas berat
(Biaya Operasional Kesehatan)
P2: Pemeriksaan kesehatan
OUTPUT
Method: Pemeriksaan jiwa sesuai SOP,
kesehatan jiwa, penyuluhan pelaksanaan penyuluhan
Setiap ODGJ
mengenai kesehatan jiwa, mengenai kesehatan jiwa,
kunjungan rumah dengan berat
pelaksanaan kunjungan mendapatkan
ODGJ berat
rumah ODGJ berat, pelayanan
Material: Ruangan balai pencatatan berkala. kesehatan
pengobatan dan pemeriksaan, sesuai
rumah warga P3: Pengawasan dan standar
evaluasi berkala Puskesmas
Machine: SOP gangguan
kejiwaan, peralatan penunjang
penyuluhan (leaflet,
microphone, dan proyektor)

LINGKUNGAN

₋ Faktor lingkungan fisik: letak geografis, tempat tinggal dan kependudukan


₋ Faktor lingkungan non fisik: pengetahuan, dan sikap keluarga ODGJ berat mengenai
gangguan jiwa dan pentingnya upaya kesehatan jiwa

Bagan 1. Kerangka Teori

21
IV.2 Kerangka Konsep

INPUT

₋ Koordinator program jiwa

PROSES OUTPUT
₋ Pelaksanaan penyuluhan mengenai
Setiap ODGJ berat
kesehatan jiwa dan kunjungan rumah mendapatkan
ODGJ berat pelayanan kesehatan
₋ Pencatatan pasien ODGJ berat sesuai standar

LINGKUNGAN

₋ Faktor pengetahuan dan sikap keluarga


ODGJ berat mengenai gangguan jiwa dan
pentingnya upaya kesehatan jiwa

Bagan 2. Kerangka Konsep

22
BAB V
METODOLOGI PENELITIAN

V.1 Ruang Lingkup Penelitian


V.1.1 Lokasi
Puskesmas Mertoyudan II, Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan,
Kabupaten Magelang.
V.1.2 Waktu
Hari Minggu, 31 Maret 2019.
V.1.3 Sasaran
Koordinator program jiwa, kader, pasien penderita gangguan jiwa yang
tidak berobat, tetangga dan keluarga pasien di Desa Kalinegoro.
V.1.4 Metode
Survei, wawancara, pengamatan, pencatatan, dan pengisian kuesioner.

V.2 Jenis Data


Jenis data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer
didapatkan dengan pengisian kuisioner oleh keluarga dan tetangga pasien ODGJ
berat yang tidak berobat sesuai standar dan edukasi terhadap pasien dan keluarga
pasien agar berobat ke sarana kesehatan.
Data sekunder diperoleh dari laporan koordinator jiwa Puskesmas
Mertoyudan II. Pengisian kuisioner dilakukan di Desa Kalinegoro, Kecamatan
Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Responden diambil sebanyak empat responden
yang sebelumnya telah didiagnosa skizofrenia paranoid di fasilitas kesehatan
namun tidak berobat sesuai standar.
Data yang telah didapat dianalisis melalui pendekatan sistem dengan tujuan
mengetahui permasalahan secara menyeluruh. Data yang didapat kemudian diolah
untuk mengidentifikasi permasalahan, setelah itu dilakukan analisis masalah
dengan mencari kemungkinan penyebab melalui pendekatan sistem diagram
fishbone. Setelah ditemukan kemungkinan penyebab kemudian dilakukan
konfirmasi penyebab masalah kepada koordinator jiwa Puskesmas Mertoyudan II
lalu dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah secara sistematis

23
dengan menggunakan kriteria matriks. Setelah itu, dibuat plan of action
berdasarkan prioritas pemecahan masalah.

V.3 Batasan Judul


Penulis memilih judul “Rencana Peningkatan Cakupan ODGJ (Orang
Dengan Gangguan Jiwa) yang Mendapatkan Pelayanan Sesuai Standar di
Puskesmas Mertoyudan II Periode Januari - Februari 2019”. Penulisan tugas
mandiri ini dilakukan untuk menganalisis faktor – faktor yang menyebabkan
rendahnya cakupan pelayanan kesehatan jiwa di sarana kesehatan, menentukan
alternatif pemecahan masalah, prioritas pemecahan masalah dan merencanakan
kegiatan yang akan dilakukan. Sesuai dengan hasil cakupan dari SPM Puskesmas
Mertoyudan II, cakupan pelayanan orang dengan gangguan jiwa di sarana
kesehatan yang dianalisis selama dua bulan, yaitu bulan Januari sampai Februari
2019 masih di bawah target yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten
Magelang.

V.4 Definisi Operasional


a. Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan
adanya gangguan pada fungsi jiwa yang menimbulkan penderitaan pada
individu dan hambatan dalam melaksanakan peran sosial.
b. Cakupan adalah total hasil kegiatan yang telah dilakukan dibandingkan
dengan sasaran yang telah ditetapkan. Lebih spesifiknya yaitu batasan suatu
masalah yang didapat dengan angka persentase perhitungan jumlah total
pelayanan di sarana kesehatan Puskesmas Mertoyudan II (hasil kegiatan)
dibagi dengan sasaran (sasaran dua bulan).
c. Upaya kesehatan jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat
kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat
dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang
diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
d. Pengetahuan adalah hasil dari “tahu” dan terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indera manusia, yaitu: indera penglihatan, pendengaran, penciuman,

24
rasa, dan raba. Tingkat pengetahuan ini dilihat dari hasil pengisian kuisioner
mengenai pengetahuan.
e. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Dapat disimpulkan bahwa manifestasi
sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu.
f. Faktor lingkungan non fisik adalah faktor lingkungan yang tidak berwujud
fisik yakni pengetahuan, dan sikap keluarga dan tetangga ODGJ berat
mengenai gangguan jiwa dan pentingnya upaya kesehatan jiwa
g. Unit Pelayanan Kesehatan adalah suatu badan/suatu profesi kerja yang
melaksanakan kegiatan proses pemenuhan kebutuhan kesehatan. Unit
pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah unit pelayanan kesehatan baik
pemerintah maupun swasta (dokter praktek swasta dan bidan praktek
swasta) yang menjaring kemitraan kerja dengan Puskesmas Mertoyudan II.

V. 5 Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi


V.5.1 Kriteria Inklusi
a. Keluarga dan tetangga responden dengan gangguan jiwa berat yang tidak
berobat atau tidak terkontrol selama bulan Januari – Februari 2019 di Desa
kalinegoro dan bersedia untuk di wawancara.
b. Petugas koordinator pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas Mertoyudan II
yang bersedia untuk di wawancara.
V.5.2 Kriteria Eksklusi
Keluarga responden dengan gangguan jiwa berat yang tidak berobat atau
tidak terkontrol selama bulan Januari – Februari 2019 di Desa Kalinegoro tetapi
tidak bersedia untuk di wawancara.

25
BAB VI
HASIL PENELITIAN

VI.1 Data Umum Desa Kalinegoro


VI.1.1 Keadaan Geografis
Desa Kalinegoro berada di Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang
terletak diantara beberapa desa yaitu di sebelah utara: Desa Jogonegoro, di sebelah
Timur: Desa Bondowoso dan Donorojo, di sebelah selatan: Desa Pasuruhan,
sebelah barat: Desa Sumberarum Kecamatan Tempuran. Luas wilayah Desa
Kalinegoro sekitar 466,38 ha. Secara administratif, Desa Kalinegoro dibagi menjadi
12 Dusun, 6 RW Perumnas dan terdiri dari 88 RT.
Tabel 3. Jumlah Dusun di Desa Kalinegoro
No. Nama Dusun / RW Jumlah RT
1 Perumnas RW 01 8 RT
2 Perumnas RW 02 6 RT
3 Perumnas RW 03 ( Arga Jaya ) 9 RT
4 Perumnas RW 04 6 RT
5 Perumnas RW 05 10 RT
6 Perumnas RW 06 4 RT
7 Dusun Jetis 4 RT
8 Dusun Jonggrangan 5 RT
9 Dusun Tonogoro 4 RT
10 Dusun Kelipan 1 RT
11 Dusun Daren 2 RT
12 Dusun Maliyan 3 RT
13 Dusun Jati 3 RT
14 Dusun Kaligintung 4 RT
15 Dusun Dukoh 3 RT
16 Dusun Bromo 5 RT
17 Dusun Bletukan 5 RT
18 Dusun Pronogaten 3 RT

Sumber: Monografi Desa Kalinegoro 2018

26
VI.I.2 Luas Wilayah
Desa Kalinegoro memiliki luas wilayah sebesar 466,380 ha. Menurut
penggunaannya sebagai berikut:
a. tanah sawah irigasi: 36,319 ha.
b. tanah sawah lorog: 71,450 ha.
c. tanah tegalan: 161,464 ha.
d. tanah perumahan dan pekarangan: 173,046 ha.
e. sungai, jalan, makam dan lain-lain: 24, 81 ha.

VI.I.3 Jumlah Penduduk


Pada tahun 2015 penduduk Desa Kalinegoro berjumlah 11.282 jiwa dan
pada tahun 2017 menjadi 11.315 jiwa atau meningkat 33 jiwa. Dari jumlah
penduduk diketahui bahwa jumlah penduduk berumur produktif (15-64 tahun)
pada tahun 2017 berjumlah 8569 jiwa naik menjadi 8616 jiwa tahun 2018,
sedangkan penduduk usia tidak produktif (0-14 dan 65 tahun keatas) sebesar
2746 jiwa pada tahun 2017, dan naik menjadi 2761 jiwa pada tahun 2018. Di
Perumahan Arga Jaya RW 003 terdapat 155 KK dan jumlah penduduknya sekitar
778 orang. Jumlahnya 9 RT.

VI.I.4 Kependudukan dan Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)


Persediaan potensi di desa Kalinegoro sangat besar, mengingat jumlah
penduduk pada saat dilaksanakan pendataan ini sebanyak 11.462 orang.
Dibandingkan dengan keadaan populasi penduduk pada saat dilaksanakan sesnsus
Penduduk Tahun 2010 (11.315 jiwa), maka dapat dikatakan populasi penduduk
desa Kalinegoro mengalami peningkatan sebanyak 62 jiwa atau sebesar 0,55 %.

Tabel 4. Data Penduduk Desa Kalinegoro Menurut SDM


No. Potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Jumlah %
1. Pertanian 314 2,70
2. Perkebunan 115 0,99
3. Peternakan 76 0,67
4. Perikanan 31 0,27
5. Perdagangan dan Jasa 180 1,55
6. Pertambangan 11 0,09

27
7. Industri Kecil Mikro 194 1,67
8. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informatika (IPTEK) 15 0,13
9. Konstruksi 11 0,09
10. Pembengkelan 11 0,09
11. Lain-lain/PNS/TNI/POLRI/Pensiunan/Purnawirawan 10684 91,77
Total 11.642 100,00
Sumber: Monografi Desa Kalinegoro 2018

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa Potensi Sumber Daya Manusia di
desa Kalinegoro paling banyak di sektor pertanian sebanyak 2,76%, kemudian
disusul Usaha Kecil Mikro/UKM 1,71%, perdagangan dan jasa 1,58%, dan
perkebunan 1,01%. Tingkat pendidikan rata - rata warga Desa Kalinegoro yang
tidak sekolah, 6945 orang, untuk tamatan SD/sederajat yaitu sebanyak 1398 orang
dan rata-rata tamatan SLTA/sederajat sebanyak 7137 orang.

VI.2 Hasil Survei Penyebab Masalah


Survei penyebab masalah menggunakan teknik pengumpulan data berupa
survei, wawancara dan pengisian kuesioner, yakni menggunakan kuesioner
pengetahuan dan sikap keluarga mengenai gangguan jiwa dan ODGJ.

VI.2.1 Wawancara dengan Responden


Salah satu cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan
mewawancarai anggota keluarga ODGJ berat yang tidak mendapatkan pengobatan
sesuai standar. Hal ini dilakukan guna menemukan penyebab masalah. Rangkuman
wawancara kepada keempat responden di rangkum ke dalam tabel sebagai berikut:
a. Responden I
- Nama Responden : Ny. P
- Umur : 43 th
- Hubungan dengan pasien : Anak kandung

28
Tabel 5. Wawancara dengan Keluarga ODGJ yang Tidak Mendapatkan
Pelayanan Sesuai Standar (Responden I)
No. Pertanyaan Jawaban Responden
1. Sudah berapa lama pasien terdiagnosa Sudah sangat lama, sejak pasien masih
mengalami gangguan jiwa? berusia muda yaitu sekitar 30 tahun yang
lalu.
2. Gejala awal apa yang dialami oleh pasien? Saat itu pasien mulai terlihat berbicara
sendiri. Pasien tidak mau melakukan
aktivitas sehari - hari seperti makan,
mandi atau beribadah dan pasien
mengaku mendengar bisikan.
3. Apakah pasien sudah pernah dirawat Pasien sempat dirawat sebanyak satu kali
sebelumnya? di RSJ selama satu bulan saat kurang
lebih 20 tahun yang lalu.
4. Apakah pasien masih rutin berobat? Bila Dari dahulu hingga saat ini pasien belum
tidak, apa alasannya? kembali berobat karena pasien selalu
menolak tidak mau dibawa ke fasilitas
kesehatan.
5. Apakah ada peran dari bidan desa, kader Sampai saat ini belum ada.
maupun pemerintah daerah setempat dalam
mendukung pengobatan pasien?
6. Apakah ada kunjungan rumah dari program Sampai saat ini belum ada.
kesehatan jiwa di Puskesmas?
Sumber: Survei ODGJ Berat Desa Kalinegoro Maret 2019

d. Responden II
- Nama Responden : Ny. P
- Umur : 43 th
- Hubungan dengan pasien : Kakak
Tabel 6. Wawancara dengan Keluarga ODGJ yang Tidak Mendapatkan
Pelayanan Sesuai Standar (Responden II)
No. Pertanyaan Jawaban Responden
1. Sudah berapa lama pasien terdiagnosa Sudah cukup lama, kurang lebih 2 tahun
mengalami gangguan jiwa? yang lalu
2. Gejala awal apa yang dialami oleh pasien? Saat itu pasien mulai terlihat berbicara
sendiri, pasien juga tidak mau mandi,
makan dan beribadah seperti biasanya.

29
Pasien lebih sering menarik diri dari
lingkungan dan mengurung diri di kamar.
Pasien juga sering terlihat ketakutan tanpa
sebab dengan menutupi wajahnya sendiri
dengan bantal.
3. Apakah pasien sudah pernah dirawat Pasien belum pernah sama sekali dirawat
sebelumnya? karena masalah kejiwaan sebelumnya.
4. Apakah pasien masih rutin berobat? Bila Dari dahulu hingga saat ini pasien belum
tidak, apa alasannya? pernah dibawa berobat karena keluarga
tidak merasa ini adalah sebuah masalah.
5. Apakah ada peran dari bidan desa, kader Sampai saat ini belum ada.
maupun pemerintah daerah setempat dalam
mendukung pengobatan pasien?
6. Apakah ada kunjungan rumah dari program Sampai saat ini belum ada.
kesehatan jiwa di Puskesmas?

e. Responden III
- Nama Responden : Ny. SI
- Umur : 59 th
- Hubungan dengan pasien : Ibu Kandung
Tabel 7. Wawancara dengan Keluarga ODGJ yang Tidak Mendapatkan
Pengobatan Sesuai Standar (Responden III)
No. Pertanyaan Jawaban Responden
1. Sudah berapa lama pasien terdiagnosa Sudah lama, sejak 10 sampai 11 tahun
mengalami gangguan jiwa? yang lalu.
2. Gejala awal apa yang dialami oleh pasien? Saat itu pasien mulai menarik diri dan
sering mengurung diri di kamar, berbicara
dan tertawa sendiri serta kadang seperti
sedang bertengkar dengan 10 orang akan
tetapi tidak ada orangnya.
3. Apakah pasien sudah pernah dirawat Pasien sempat dirawat sebanyak tiga kali
sebelumnya? di RSJ, terakhir kali pasien dirawat saat
tahun 2016
4. Apakah pasien masih rutin berobat? Bila Dari terakhir kali dirawat hingga saat ini
tidak, apa alasannya? pasien belum kembali berobat karena
pasien tidak memiliki biaya dan masih
belum bisa me

30
ngurus jaminan kesehatan (BPJS).

5. Apakah ada peran dari bidan desa, kader Sejauh ini masih belum ada.
maupun pemerintah daerah setempat dalam
mendukung pengobatan pasien?
6. Apakah ada kunjungan rumah dari program Sampai saat ini belum ada.
kesehatan jiwa di Puskesmas?

VI.2.2 Kuesioner Survei Penyebab Masalah


Kuisoner terdiri dari beberapa pertanyaan yang menilai pengetahuan, dan
sikap responden yang bertujuan untuk mencari penyebab rendahnya cakupan ODGJ
berat yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar. Kuisoner diberikan
pada 1 keluarga pasien dan 2 tetangga pada di setiap pasien ODGJ berat.
Didapatkan total keseluruhan keluarga sebanyak 3 orang dan tetangga sebanyak 6
orang. Berikut dilampirkan tabel-tabel hasil penilaian kuisoner.
Tabel 8. Hasil Kuesioner Pertanyaan Pengetahuan
No Pertanyaan Frekuensi Persentase
1 Apakah yang dimaksud dengan “sehat”?
a) Jawaban benar 4 44,44%
b) Jawaban salah 5 55,56%
2 Apa yang dimaksud dengan kesehatan jiwa?
a) Jawaban benar 2 22,22%
b) Jawaban salah 7 77,78%
3 Rasa sedih yang berlarut-larut sampai mengganggu
pola hidup seseorang, seperti tidak mau makan, tidak
bisa tidur, dan lainnya. Masalah apa yang muncul pada
orang tesebut?
a) Jawaban benar 4 44,44%
b) Jawaban salah 5 55,56%
4 Perasaan khawatir pada sesuatu yang belum jelas
keberadaannya disebut...
a) Jawaban benar 6 66,67%
b) Jawaban salah 3 33,33%
5 Dalam mengkonsumsi obat harus memperhatikan
prinsip 5 benar seperti yang tercantum dibawah ini,
kecuali... 5 55,56%
a) Jawaban benar 4 44,44%

31
b) Jawaban salah
6 Pasien harus minum obat pagi, siang, dan sore.
Merupakan salah satu prinsip 5 benar minum obat
yaitu… 7 77,78%
a) Jawaban benar 2 22,22%
b) Jawaban salah
7 Berikut ini adalah salah satu peyebab masalah
psikologis, yaitu...
a) Jawaban benar 4 44,44%
b) Jawaban salah 5 55,56%
8 Salah satu tanda dan gejala munculnya gejala
psikologis diantaranya…
a) Jawaban benar 7 77,78%
b) Jawaban salah 2 22,22%
9 Contoh perilaku yang dapat menyebabkan seseorang
menjadi minder atau rendah diri adalah...
c) Jawaban benar 7 77,78%
d) Jawaban salah 2 22,22%
10 Salah satu pemicu munculnya gangguan jiwa antara
lain...
a) Jawaban benar 9 100%
b) Jawaban salah 0 0%
Sumber: Data Kuesioner ODGJ Berat yang Tidak Mendapat Pengobatan Sesuai Standar di
Kalinegoro 2019

Dari hasil kuesioner yang telah didapatkan tentang pengetahuan keluarga dan
lingkungan sekitar pasien mengenai gangguan jiwa, didapatkan bahwa dari ketiga
keluarga pasien satu orang mendapatkan nilai 100% dan dua lainnya mendapatkan
nilai 80%, sedangkan untuk lingkungan sekitar pasien didapatkan hasil sebanyak
dua orang mendapat nilai 20%, tiga orang mendapat nilai 50% dan hanya satu orang
yang mendapatkan nilai 100%.

Tabel 9. Rekapitulasi Tingkatan Pengetahuan tentang ODGJ


Tingkat Pengetahuan Jumlah Responden Persen (%)
>75 % Baik 4 44,44%
60-75% Cukup 0 0%
< 60% Kurang 5 55,56%
Sumber: Data Kuesioner Pengetahuan tentang Gangguan Jiwa 2019

32
Pada tabel di atas dapat kita lihat, bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan
dari keluarga ODGJ dan masyarakat sekitarnya tentang gangguan jiwa di Desa
Kalinegoro adalah masih kurang, yaitu sebanyak lima orang atau 55,56% masih
memiliki pengetahuan yang kurang. Hanya sebanyak empat orang atau 44,44%
yang memiliki tingkat pengetahuan baik.

Tabel 10. Hasil Kuesioner Pertanyaan Sikap terhadap ODGJ


No Pertanyaan Frekuensi Persentase
1 Saya mengurung anggota keluarga yang menggalami
gangguan jiwa karena merusak nama baik keluarga
a) setuju 4 44,44%
b) tidak setuju 5 55,56%
2 Saya menjauhi pasien gangguan jiwa karena mereka
berbahaya
a) setuju 1 11,11%
b) tidak setuju 8 88,89%
3 Saya memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan-
kegiatan yang bermanfaat
a) setuju 8 88,89%
b) Tidak setuju 1 11,11%
4 Saya tidak segan mengobrol dengan orang yang
mengalami gangguan jiwa
c) setuju 6 66,67%
d) Tidak setuju 3 33,33%
5 Saya membiarkan orang lain menjauhi pasien
a) setuju 4 44,44%
b) tidak setuju 5 55,56%
6 Saya membiarkan saja pasien melakukan hal-hal
sesukanya
a) setuju 7 77,78%
b) tidak setuju 2 22,22%
7 Saya memarahi pasien apabila melakukan kesalahan
a) setuju 6 66,67%
b) tidak setuju 3 33,33%
8 Saya menyarankan/membawa orang dengan gangguan
jiwa untuk berobat
a) setuju 9 100%

33
b) tidak setuju 0 0%
9 Saya melaporkan orang dengan gangguan jiwa ke
petugas kesehatan/kader setempat
a) setuju 9 100%
b) tidak setuju 0 0%
10 Saya bersedia mengantar keluarga/tetangga yang
mengalami gangguan jiwa ke fasilitas pelayanan
kesehatan terdekat
a) setuju 8 88,89%
b) tidak setuju 1 11,11%
Sumber: Data Kuesioner Sikap terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa 2019

Sikap
1. 55,56 % responden setuju untuk tidak mengurung anggota keluarga yang
menggalami gangguan jiwa karena merusak nama baik keluarga.
2. 88,89 % responden setuju untuk tidak menjauhi pasien gangguan jiwa
karena mereka berbahaya .
3. 88,89 % responden setuju memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan-
kegiatan yang bermanfaat.
4. 66,67 % responden setuju untuk tidak segan mengobrol dengan orang yang
mengalami gangguan jiwa.
5. 55,56 % responden setuju untuk tidak membiarkan orang lain menjauhi
pasien.
6. 77,78 % responden setuju untuk tidak membiarkan pasien melakukan hal-
hal sesukanya.
7. 33,33 % responden setuju untuk tidak memarahi pasien apabila melakukan
kesalahan.
8. 100 % responden setuju untuk menyarankan/membawa orang dengan
gangguan jiwa untuk berobat.
9. 100 % responden setuju untuk melaporkan orang dengan gangguan jiwa ke
petugas kesehatan/kader setempat.
10. 88,89 % responden setuju untuk bersedia mengantar keluarga/tetangga yang
mengalami gangguan jiwa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

34
Dari hasil kuesioner mengenai sikap keluarga dan lingkungan sekitar
terhadap orang dengan gangguan jiwa, didapatkan bahwa dari ketiga keluarga
pasien dua orang mendapatkan nilai 70% dan satu lainnya mendapatkan nilai 80%,
sedangkan untuk lingkungan sekitar pasien didapatkan hasil sebanyak dua orang
mendapat nilai 90%, dua orang mendapat nilai 70%, dua orang mendapatkan nilai
70% dan satu orang mendapatkan nilai 30%.

Tabel 11. Rekapitulasi Sikap Responden terhadap ODGJ (Orang dengan


Gangguan Jiwa)
Tingkat Sikap Jumlah Responden Persen (%)
>50 % Cukup 8 88,89%
< 50% Kurang 1 11,11%
Sumber: Data Kuesioner tentang Gangguan Jiwa 2019

Pada tabel di atas dapat kita lihat, bahwa sebagian besar tingkat sikap
responden baik keluarga ataupun lingkungan sekitarnya terhadap ODGJ (Orang
dengan Gangguan Jiwa) adalah cukup, yaitu sebanyak 8 orang atau 88,89%
medapatkan nilai >50%.

VI.3 Wawancara dengan Koordinator Program Jiwa


Data primer yang didapat selain melalui kuesioner, data primer juga diperoleh
melalui wawancara baik dengan kader ataupun tenaga kesehatan dari pihak
puskesmas berkaitan dengan aspek input dan proses.

35
Tabel 12. Hasil Wawancara Input terhadap Petugas Koordinator Kesehatan
Jiwa Puskesmas Mertoyudan II
No Pertanyaan Jawaban
1 Man - Berapa jumlah kader kesehatan - Saat ini terdapat 12 orang kader dan satu
dan petugas program pelayanan CMHN (Community Mental Health
kesehatan jiwa di Desa Nursing) yang bertugas dalam pelayanan
Kalinegoro? kesehatan jiwa di Desa Kalinegoro.
- Apakah ada petugas kesehatan - Saat ini belum ada petugas khusus. Sehari-
khusus yang memberikan harinya terdapat petugas pelaksana
penanganan mengenai masalah program pelayanan kesehatan jiwa yang
gangguan jiwa? terdiri dari dokter umum dan koordinator
upaya kesehatan jiwa serta petugas yang
selalu siaga untuk mengevakuasi ODGJ
berat.
- Apakah ada kader khusus yang - Kader khusus untuk gangguan jiwa di Desa
menagani masalah gangguan Kalinegoro masih belum ada, saat ini kader
jiwa? yang bertugas adalah kader posyandu yang
mengikuti pelatihan DSSJ (Desa Siaga
Sehat Jiwa).
- Apakah ada dukungan dari - Perangkat desa ikut serta dalam
pemerintah setempat untuk menghimbau dan memfasilitasi keluarga
mengatasi masalah ODGJ? yang terdapat ODGJ berat.
- Apakah ada kendala dari petugas - Ada, sebagian masih merasa segan atau
kesehatan saat melakukan takut untuk berinteraksi dengan ODGJ.
kunjungan rumah pasien ODGJ?
2 Money - Apakah ada dana operasional - Dana untuk pengobatan dan pelayanan
yang dikhususkan untuk rawat jalan telah tersedia dari Biaya
menangani masalah ODGJ berat? Operasional Kesehatan untuk pelatihan dan
refreshing kader jiwa.
3 Method - Apakah ada kegiatan promosi - Ada, tetapi belum semua keluarga dengan
kesehatan mengenai gangguan ODGJ berat mendapatkan penyuluhan
jiwa dan ODGJ yang dilakukan mengenai ODGJ.
oleh Puskesmas?
- Bagaimana cara petugas - Pihak keluarga atau masyarakat setempat
kesehatan melakukan memberi laporan ke kader ataupun
penjaringan warga yang diduga perangkat desa setempat, kemudian baik
menderita gangguan jiwa? dari kader maupun perangkat desa memberi
laporan mengenai penemuan tersangka

36
gangguan jiwa kepada Puskesmas,
selanjutnya akan dilakukan kunjungan
rumah kemudian petugas akan membuat
genogram keluarga untuk mengetahui
jumlah seluruh ODGJ dalam keluarga
tersebut serta dilakukan evakuasi bekerja
sama dengan pihak kepolisian setempat.
4 Material - Dimana penyuluhan dilakukan? - Penyuluhan dilakukan di balai desa
ataupun di Puskesmas.
5 Machine - Apakah terdapat SOP yang - Saat ini sudah ada SOP penanganan ODGJ
menjadi panduan petugas dalam
menangani ODGJ berat?
- Apakah ada peralatan untuk - Terdapat peralatan penunjang penyuluhan
menunjang proses penyuluhan? seperti leaflet, microphone dan proyektor
yang biasanya alat-alat ini di bawa dari
Puskesmas ke lokasi penyuluhan.

Sumber: Wawancara dengan Koordinator Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Mertoyudan II

Tabel 13. Hasil Wawancara Process terhadap Petugas Koordinator


Kesehatan Jiwa Puskesmas
No Pertanyaan Jawaban
1 P1 - Apakah ada penjadwalan khusus untuk - Dalam waktu dekat ini ada
kegiatan penyuluhan tentang masalah rencana penjadwalan untuk
kesehatan jiwa? penyuluhan terhadap keluarga
tentang bagaimana cara
menghadapi ODGJ.
- Apakah ada penjadwalan khusus untuk - Belum ada jadwal khusus
kunjungan rumah ODGJ berat? kunjungan rumah ODGJ berat.
2 P2 - Apakah pelaksanaan penyuluhan - Saat ini belum dapat terlaksana
tentang masalah kesehatan jiwa sudah secara merata dan masih terbatas
dilaksanakan dan dilakukan secara pada persiapan DSSJ di Desa
merata? Kalinegoro.
- Kapan dilakukan penyuluhan - Penyuluhan dilakukan sebanyak 3
mengenai masalah kesehatan jiwa? kali dalam setahun.
- Apakah terdapat pencatatan dan - Pencatatan rutin dilakukan untuk
pelaporan mengenai warga dengan kunjungan pasien setiap bulan
masalah kejiwaan ? baik pasien baru maupun pasien

37
lama yang datang ke Puskesmas
serta dilakukan juga pencatatan
untuk ODGJ di setiap desa oleh
para kader setempat.
3 P3 - Bagaimana cara menilai penyuluhan - Dilaksanakan evaluasi kepada
mengenai masalah kesehatan jiwa kader DSSJ untuk pencatatan dan
serta kunjungan rumah yang telah pelaporan dari kader mengenai
dilakukan? setiap kegiatan baik penyuluhan
maupun kunjungan rumah yang
telah dilakukan.
- Apakah evaluasi yang dilakukan telah - Evaluasi yang dilakukan belum
berjalan optimal? berjalan optimal.
Sumber: Wawancara dengan Koordinator Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Mertoyudan II

38
BAB VII
PEMBAHASAN

VII.1 Kesimpulan Hasil Penelitian


Berdasarkan hasil survei menggunakan kuesioner, dan wawancara yang telah
dilakukan di Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang
didapatkan penyebab masalah sebagai berikut, yaitu didapatkannya hasil sebesar
33,33% ODGJ berat yang tidak mendapatkan pengobatan sesuai standar, sedangkan
berdasarkan hasil kuesioner yang didapat dari 9 sampel didapatkan hasil sebesar
55,56% keluarga dan masyarakat sekitar ODGJ memiliki pengetahuan kurang
tentang masalah kesehatan jiwa dan sebanyak 11,11% memiliki sikap yang kurang
terhadap ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa).

Tabel 14. Penyebab Masalah dari Segi Input


INPUT KELEBIHAN KEKURANGAN
Man 1. Sudah tersedia petugas 1. Tidak ada kader khusus
(Tenaga Kerja) pelaksana program pelayanan yang bertanggung jawab
kesehatan jiwa yang terdiri dari mengenai masalah
dokter umum dan koordinator kesehatan jiwa di Desa
upaya kesehatan jiwa serta Kalinegoro sehingga
petugas yang selalu siaga untuk kursngnys SDM kader
mengevakuasi ODGJ berat. menyebabkan kader
2. Adanya dukungan dari kurang berperan
pemerintah setempat dalam maksimal.
menghimbau dan memfasilitasi 2. Sebagian petugas masih
keluarga dengan ODGJ berat. segan dan takut untuk
berinteraksi dengan
ODGJ
Money 1. Dana operasional untuk Tidak ada masalah
(Pembiayaan) pengobatan, pelayanan serta
upaya promosi kesehatan telah
tersedia

39
INPUT KELEBIHAN KEKURANGAN
Method 1. Dilakukannya penjaringan 3. Belum semua keluarga
(Metode) ODGJ berdasarkan laporan dengan ODGJ berat
keluarga atau masyarakat kepada mendapatkan
kader maupun perangkat desa penyuluhan mengenai
mengenai tersangka gangguan ODGJ.
jiwa yang kemudian dilakukan
kunjungan rumah, pembuatan
genogram keluarga untuk
mengetahui jumlah seluruh
ODGJ dalam keluarga tersebut
serta bekerja sama dengan pihak
kepolisian untuk dilakukannya
evakuasi.
Material 1. Tersedianya tempat untuk Tidak ada masalah
(Perlengkapan) penyuluhan yaitu balai desa atau
rumah kadus.
Machine 1. Tersedianya peralatan penunjang Tidak ada masalah
(Peralatan) untuk penyuluhan seperti leaflet,
proyektor dan microphone yang
dapat dibawa ke lokasi
penyuluhan.
2. Tersedianya SOP untuk
penanganan ODGJ

Tabel 15. Penyebab Masalah Dari Segi Proses dan Lingkungan


PROSES KELEBIHAN KEKURANGAN
P1 1. Terdapat rencana penyuluhan 4. Belum ada penjadwalan
(Perencanaan) serta kunjungan rumah ODGJ khusus untuk kunjungan
berat. rumah ODGJ berat sehingga
kunjungannya masih
bersifat insidentil.
P2 1. Dokter dan petugas pelayanan 5. Kesalahan pada saat petugas
(Pelaksanaan) kesehatan jiwa melakukan memasukkan kode ODGJ
pemeriksaan dan pengobatan berat ke SIMPUS.
ODGJ berat sesuai dengan SOP. 6. Pelaksanaan pencatatan
pasien ODGJ berat di tiap

40
2. Sudah ada pencatatan dan wilayah belum telaksana
pelaporan kunjungan pasien dengan baik.
ODGJ berat ke Pukesmas baik
pasien baru maupun pasien lama.
P3 1. Pelaksanaan promosi kesehatan 7. Belum optimalnya evaluasi
(Penilaian, mengenai masalah kesehatan jiwa petugas koordinator
Pengawasan di beberapa Desa sudah mengenai berjalannya setiap
Pengendalian) dilakukan. upaya promosi kesehatan
2. Sudah dilakukan kunjungan jiwa yang dilaksanakan di
rumah ke sebagian besar ODGJ tiap wilayah oleh kader..
berat.
3. Pengawasan bulanan oleh kepala
Puskesmas mengenai pelayanan
ODGJ berat.
Lingkungan 1. Keluarga dan masyarakat sekitar 8. Masih kurangnya pemahaman
antusian dan koperatif dalam mengenai alur pengobatan
mengikuti penyuluhan atau dan pengobatan gangguan
kunjungan rumah ODGJ berat. jiwa yang sesuai standar.
2. Keluarga dan masyakat 9. Masih kurangnya
mendukung pengobatan pasien pengetahuan keluarga dan
ODGJ berat ke fasilitas layanan masyarakat mengenai ODGJ
kesehatan. berat.

VII.2 Rekapitulasi Analisis Penyebab Masalah


1. Tidak terdapatnya kader khusus yang bertanggung jawab mengenai masalah
kesehatan jiwa di Desa Kalinegoro.
2. Sebagian petugas masih segan dan takut untuk berinteraksi dengan ODGJ.
3. Belum semua keluarga dengan ODGJ berat mendapatkan penyuluhan
mengenai ODGJ.
4. Belum ada penjadwalan khusus untuk kunjungan rumah ODGJ berat
sehingga kunjungan rumah masih bersifat insidentil.
5. Kesalahan pada saat petugas memasukkan kode ODGJ berat ke
SIMPUS.
6. Pelaksanaan pencatatan pasien ODGJ berat di tiap wilayah belum terlaksana
dengan baik.

41
7. Belum optimalnya evaluasi petugas koordinator mengenai berjalannya
setiap upaya promosi kesehatan jiwa yang dilaksanakan di tiap wilayah oleh
kader.
8. Masih kurangnya pemahaman keluarga dan masyarakat sekitar ODGJ berat
mengenai alur pengobatan gangguan jiwa yang sesuai standar.
9. Masih kurangnya pengetahuan keluarga dan masyarakat sekitar ODGJ berat
mengenai ODGJ.

42
LINGKUNGAN PROSES

P1
Belum ada jadwal khusus kunjungan
rumah ODGJ berat sehingga masih
Masih kurangnya pemahaman mengenai
bersifat insidentil.
alur pengobatan dan pengobatan masalah
kejiwaan yang sesuai standar.
Kurangnya pengetahuan keluarga dan
masyarakat setempat mengenai ODGJ. P2
Kesalahan petugas memasukkan kode
ke SIMPUS.
Pencatatan pasien ODGJ di tiap
wilayah belum terlaksana dengan baik.

P3
Belum optimalnya evaluasi petugas
koordinator mengenai upaya promosi MASALAH
kesehatan jiwa di tiap wilayah oleh kader.
Cakupan ODGJ Berat yang
Mendapatkan Pelayanan
Kesehatan Sesuai Standar di
MAN Desa Kalinegoro sebesar
Tidak terdapatnya kader khusus jiwa di 33,33%, sedangkan target
Desa Kalinegoro.
sebesar 100%
Sebagian petugas masih segan dan takut
berinteraksi dengan ODGJ berat.

MATERIAL

MONEY

MACHINE

METHOD Bagan 3. Diagram Fishbone ODGJ Berat


Belum semua keluarga dengan ODGJ berat
yang Mendapat Pelayanan Sesuai Standar
mendapatkan penyuluhan mengenai ODGJ.

INPUT 43
VII.4 Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah
Langkah selanjutnya menentukan alternatif pemecahan masalah.

Tabel 16. Pemecahan Masalah


Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Masalah
1. Tidak terdapatnya kader khusus yang Pelatihan serta penyuluhan berkala mengenai
bertanggung jawab mengenai masalah masalah kesehatan jiwa kepada kader di Desa
kesehatan jiwa Kalinegoro.
2. Sebagian petugas masih segan dan takut Pelatihan berkala kepada petugas terkait
berinteraksi dengan ODGJ berat. mengenai cara menghadapi pasien ODGJ berat.
3. Belum semua keluarga dengan ODGJ berat Penyuluhan kepada keluarga ODGJ berat yang
mendapat penyuluhan mengenai ODGJ tercatat dalam laporan khusus kesehatan jiwa di
berat. setiap wilayah secara berkala.
Pembuatan jadwal kunjungan rumah berkala
4. Belum ada penjadwalan khusus kunjungan
kepada ODGJ berat yang tercatat dalam laporan
rumah ODGJ berat.
khusus kesehatan jiwa di setiap wilayah.
Memberikan refreshing pelatihan kepada petugas
5. Kesalahan saat petugas memasukan kode kesehatan mengenai cara memasukkan kode
ODGJ berat ke SIMPUS. diagnosis ICD 10 yang semestinya ke dalam
SIMPUS.
6. Pelaksanaan pencatatan pasien ODGJ
Pemantauan pencatatan pasien ODGJ berat di
berat di tiap wilayah belum terlaksana
setiap wilayah secara berkala.
dengan baik.
7. Belum optimalnya evaluasi petugas
koordinator mengenai berjalannya setiap Evaluasi secara berkala mengenai upaya promosi
upaya promosi kesehatan jiwa yang kesehatan yang telah dijalankan di setiap wilayah.
dilaksanakan di tiap wilayah oleh kader
8. Masih kurangnya pemahaman mengenai Pelaksanaan penyuluhan berkala mengenai alur
alur pengobatan ODGJ. pengobatan ODGJ.
9. Kurangnya pengetahuan keluarga dan Pelaksanaan penyuluhan mengenai ODGJ dan
masyarakat sekitar ODGJ berat mengenai cara menghadapinya secara berkala di seluruh
ODGJ. wilayah.

44
VII.5 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah
PENYEBAB MASALAH ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Pelatihan serta penyuluhan


Tidak terdapatnya kader khusus
mengenai ODGJ berat dan cara
1 kesehatan jiwa di Desa Kalinegoro menghadapinya kepada kader
dan petugas terkait di Desa
A
Kalinegoro secara berkala.
Sebagian petugas masih segan dan
2 takut berinteraksi dengan ODGJ
berat. Penyuluhan kepada keluarga
dengan ODGJ berat beserta
masyarakat sekitarnya mengenai
Belum semua keluarga dengan ODGJ serta alur pelayanan yang B
3 ODGJ berat mendapat penyuluhan sesuai standar di setiap wilayah
mengenai ODGJ berat. secara berkala.

Belum ada penjadwalan khusus


4 kunjungan rumah ODGJ berat Pembuatan jadwal kunjungan
rumah berkala kepada ODGJ
berat yang tercatat dalam C
Kesalahan saat petugas memasukan laporan khusus kesehatan jiwa
5 kode ODGJ berat ke SIMPUS. di setiap wilayah.

Memberikan refreshing
Pelaksanaan pencatatan pasien
pelatihan kepada petugas
6 ODGJ berat di tiap wilayah
kesehatan mengenai cara
belum terlaksana dengan baik.
memasukkan kode diagnosis
D
ICD 10 yang semestinya ke
Belum optimalnya evaluasi dalam SIMPUS.
petugas koordinator terhadap
7 upaya promosi kesehatan yang
telah berjalan Evaluasi pencatatan pasien
ODGJ berat dan berjalannya
program upaya promosi secara E
Masih kurangnya pemahaman berkala di setiap wilayah.
keluarga dan masyarakat sekitar
8 ODGJ berat mengenai alur
pengobatan ODGJ.

Kurangnya pengetahuan keluarga


9 dan masyarakat sekitar ODGJ berat
mengenai ODGJ.

Bagan.4 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah

45
VII.6 Prioritas Pemecahan Masalah
Setelah menemukan pemecahan masalah yang paling mungkin, maka
selanjutnya dilakukan penentuan prioritas pemecahan masalah. Penentuan prioritas
pemecahan masalah yang akan dilakukan. Prioritas pemecahan masalah dilakukan
dengan menggunakan metode kriteria matriks:
a. Magnitude (M) = besarnya penyebab masalah dari pemecahan masalah
dapat diselesaikan. Makin besar (banyak) penyebab masalah yang dapat
diselesaikan dengan pemecahan masalah, maka makin efektif.
b. Importancy (I) = pentingnya cara pemecahan masalah. Maka pentingnya
cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah, maka makin efektif.
c. Vulnerability (V) = sensitifitas cara penyelesaian masalah. Makin sensitif
bentuk penyelesaian masalah maka makin efektif.
d. Cost (C) = perkiraan besaran biaya yang diperlukan untuk melakukan
pemecahan masalah. Kriteria cost (c) diberi nilai 1-5.

46
Tabel 17. Matriks Prioritas Penyelesaian Masalah
Hasil
Nilai Kriteria
Penyelesaian masalah Akhir Urutan
M I V C (M.I.V)/C
A. Pelatihan serta penyuluhan mengenai ODGJ berat dan
cara menghadapinya kepada kader dan petugas terkait di 3 5 4 2 30 II
Desa Kalinegoro secara berkala.
B. Penyuluhan kepada keluarga dengan ODGJ berat beserta
masyarakat sekitarnya mengenai ODGJ serta alur 4 4 2 1 32 I
pelayanan sesuai standar di tiap wilayah secara berkala.
C. Pembuatan jadwal kunjungan rumah berkala kepada
2 2 2 1 8 V
ODGJ berat di setiap wilayah.
D. Memberikan refreshing pelatihan petugas mengenai cara
memasukkan kode diagnosis ICD 10 yang semestinya ke 2 4 4 2 16 IV
dalam SIMPUS.
E. Evaluasi pencatatan pasien ODGJ berat dan berjalannya
3 3 3 1 27 III
program upaya promosi secara berkala di setiap wilayah.

Berdasarkan kriteria matriks, maka didapatkan prioritas alternatif pemecahan


masalah sebagai berikut:
1. Penyuluhan kepada keluarga dengan ODGJ berat beserta masyarakat
sekitarnya mengenai ODGJ serta alur pelayanan sesuai standar di tiap wilayah
secara berkala.
2. Pelatihan serta penyuluhan mengenai ODGJ berat dan cara menghadapinya
kepada kader dan petugas terkait di Desa Kalinegoro secara berkala.
3. Evaluasi pencatatan pasien ODGJ berat dan berjalannya program upaya
promosi kesehatan jiwa secara berkala di setiap wilayah.
4. Memberikan refreshing pelatihan petugas mengenai cara memasukkan kode
diagnosis ICD 10 yang semestinya ke dalam SIMPUS.
5. Pembuatan jadwal kunjungan rumah berkala kepada ODGJ berat di setiap
wilayah.

47
VII.7 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan

Tabel 18. Tabel POA (Plan of Action) ODGJ Berat di Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang

Kegiatan Tujuan Sasaran Tempat Pelaksana Waktu Biaya Metode Kriteria keberhasilan
Penyuluhan Meningkatkan Keluarga Puskesmas Petugas 1x/3 bulan BOK Penyuluhan Proses:
mengenai ODGJ pengetahuan dan dengan ODGJ Mertoyudan pelayanan dan diskusi Terlaksananya penyuluhan
berat serta alur sikap berat dan II, balai desa. kesehatan mengenai ODGJ berat dan
pelayanan sesuai masyarakat masyarakat jiwa, kader alur penanganan sesuai
standar. mengenai sekitarnya. standar.
pengertian dan Hasil:
penanganan Meningkatnya pengetahuan
ODGJ berat dan sikap masyarakat
sesuai standar mengenai ODGJ berat dan
penanganannya.
Pelatihan dan Meningkatkan Kader dan Puskesmas Dokter, 3x/tahun BOK Penyuluhan Proses :
penyuluhan pengetahuan dan petugas Mertoyudan Kepala dan pelatihan Terlaksananya penyuluhan
mengenai ODGJ kemampuan terkait II, balai desa. puskesmas, dan pelatihan mengenaI
berat dan cara dalam pelayanan Petugas ODGJ berat dan cara
menghadapinya. menghadapi kesehatan pelayanan menghadapinya.
pasien ODGJ jiwa. kesehatan Hasil :
berat. jiwa.

48
Terlatihnya para petugas dan
kader dalam menghadapi
pasien ODGJ berat
Evaluasi Berjalannya dan Kader. Rumah kader Petugas 1x/bulan Puskesmas Tanya jawab Proses:
pencatatan dan tercatatnya pelayanan dan diskusi Terlaksananya evaluasi untuk
berjalannya setiap ODGJ kesehatan pencatatan pasien ODGJ berat
program upaya berat dan jiwa. beserta program upaya
promosi kegiatan upaya promosi kesehatan jiwa di
kesehatan jiwa. promosi tiap wilayah dengan baik.
kesehatan jiwa Hasil:
dengan baik. Tercatatnya setiap ODGJ
berat di tiap wilayah dan
program upaya hesehatan
jiwa dengan baik.
Refreshing Meningkatkan Petugas Puskesmas Kepala 1x/tahun Puskesmas Pelatihan dan Proses:
pelatihan cara keterampilan pelayanan Mertoyudan II puskesmas. tanya jawab Terselenggaranya refreshing
memauskkan petugas dalam kesehatan. pelatihan petugas mengenai
kode diagnosis memasukkan cara memasukkan kode
ICD 10 ke kode diagnosis diagnosis ICD 10 ke dalam
dalam SIMPUS. ICD 10 ke dalam SIMPUS.
SIMPUS. Hasil:

49
Meningkatnya keterampilan
petugas dalam memasukkan
kode diagnosis ICD 10 ke
dalam SIMPUS.
Pembuatan Membuat Pelayanan Puskesmas Koordinator Rapat Puskesmas Menulis Proses:
jadwal susunan jadwal kesehatan Mertoyudan II pelayanan perencanaan jadwal Terlaksananya penyusunan
kunjungan kunjungan jiwa kesehatan program sistematis jadwal kunjungan rumah
rumah berkala rumah pasien jiwa, kepala 1x/4 bulan. (Gannt chart) ODGJ berat secara sistematis.
ODGJ berat ODGJ berat puskesmas. Hasil:
Tersusunnya jadwal
kunjungan rumah ODGJ berat
secara sistematis.

50
VII.8 Gannt Chart
April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
No. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1

Keterangan No.:

1. Penyuluhan mengenai ODGJ berat serta alur pelayanan sesuai standar.


2. Pelatihan dan penyuluhan mengenai ODGJ berat dan cara menghadapinya.
3. Evaluasi pencatatan dan berjalannya program upaya promosi kesehatan jiwa.
4. Refreshing pelatihan cara memauskkan kode diagnosis ICD 10 ke dalam SIMPUS.
5. Pembuatan jadwal kunjungan rumah berkala ODGJ berat.

51
BAB VIII
PENUTUP

VIII.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil evaluasi ODGJ berat yang mendapatkan pelayanan kesehatan
sesuai standar di Desa Kalinegoro, didapatkan hasil hanya sebanyak 33,33%, dari
seluruh ODGJ berat yang ada di Desa Kalinegoro, dengan target 100% yang mana
seluruh ODGJ harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar.
Setelah dilakukan analisis kemungkinan penyebab masalah yang mendasari
rendahnya cakupan tersebut salah satunya adalah masih rendahnya pengetahuan
keluarga dengan ODGJ berat dan masyarakat sekitarnya mengenai ODGJ berat dan
alur penanganannya yang sesuai standar. Penyuluhan yang telah dilakukanpun belum
mencakup seluruh keluarga dengan ODGJ berat. Penyebab masalah lainnya adalah
belum adanya kader khusus yang menangani masalah kesehatan jiwa selain itu juga
masih ada petugas yang segan atau takut berinteraksi dengan ODGJ berat sehingga
menyebabkan tidak optimalnya peran kader dan rendahnya penjaringan ODGJ berat
di masyarakat. Masalah lainnya yaitu belum ada penjadwalan khusus untuk
kunjungan rumah ODGJ sehingga kunjungan rumah masih bersifat insidentil. Selain
itu, kurang optimalnya evaluasi dan proses pencatatan program kesehatan jiwa juga
menjadi penyebab masalah rendahnya persentase cakupan pengobatan ODGJ berat
yang tidak sesuai standar di desa Kalinegoro.
Telah dirumuskan alternatif pemecahan masalah antara lain; Pelatihan dan
penyuluhan berkala kepada kader dan petugas pelayanan kesehatan jiwa mengenai
ODGJ dan cara menghadapinya secara berkala, penyuluhan kepada keluarga dengan
ODGJ berat beserta masyarakat sekitarnya mengenai ODGJ dan pelayanan sesuai
standar, pembuatan jadwal kunjungan rumah ODGJ berat secara berkala, refresing
pelatihan memasukkan kode diagnosis ICD10 ke dalam SIMPUS, evaluasi pencatatan
pasien ODGJ berat dan berjalannya program upaya promosi kesehatan secara berkala
di tiap wilayah.

52
VIII.2 Saran
VIII.2.1 Bagi Masyarakat :
i. Masyarakat diharapkan untuk dapat mengubah stigma akan ODGJ berat
selama ini serta lebih memahami dan mawas diri terhadap pentingnya
pelayanan kesehatan jiwa di Sarana Kesehatan
ii. Masyarakat terutama yang tinggal disekitar ODGJ berat untuk
menciptakan lingkungan dan rumah yang sehat.
VIII.2.2 Bagi Puskesmas:
i. Meningkatkan penyuluhan, yang dipimpin koordinator program jiwa
sehingga dapat meningkatkan kerjasama dalam penjaringan kasus ODGJ
berat.
ii. Peran aktif dari tenaga kesehatan serta kader untuk memberikan
sosialisasi penyuluhan sekaligus memberikan penyuluhan kepada warga
tentang penyakit jiwa, pengobatan dan pencegahan.
iii. Evaluasi program yang sedang berjalan dengan seksama dan berkala di
tiap wilayah oleh petugas pelayanan kesehatan jiwa.

53
RENCANA PENINGKATAN CAKUPAN ODGJ YANG
MENDAPATKAN PELAYANAN KESEHATAN SESUAI
STANDAR DI PUSKESMAS MERTOYUDAN II PERIODE
JANUARI – FEBRUARI 2019

Evaluasi Manajemen
Program Pelayanan Kesehatan Jiwa
Puskesmas Mertoyudan II

Laporan Tugas Mandiri Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Disusun Oleh :
Vivi Anisa Putri 1710221021

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
“VETERAN” JAKARTA
PERIODE 4 MARET 2019 – 27 APRIL 2019
LEMBAR PENGESAHAN

RENCANA PENINGKATAN CAKUPAN ODGJ YANG


MENDAPATKAN PELAYANAN KESEHATAN SESUAI
STANDAR DI PUSKESMAS MERTOYUDAN II PERIODE
JANUARI – FEBRUARI 2019

Evaluasi Manajemen
Program Pelayanan Kesehatan Jiwa
Puskesmas Mertoyudan II

Laporan Tugas Mandiri Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

DISUSUN OLEH :
Vivi Anisa Putri
1710221021

Telah disetujui dan disahkan oleh :

Pembimbing I Pembimbing II

(dr. Herlina Nung Rahmasari) (dr. Yuniar, M.Kes)

Kepala Puskesmas Mertoyudan II

(dr. Herlina Nung Rahmasari)

ii
LEMBAR PENGUJI

RENCANA PENINGKATAN CAKUPAN ODGJ YANG


MENDAPATKAN PELAYANAN KESEHATAN SESUAI
STANDAR DI PUSKESMAS MERTOYUDAN II PERIODE
JANUARI – FEBRUARI 2019

Evaluasi Manajemen
Program Pelayanan Kesehatan Jiwa
Puskesmas Mertoyudan II

Laporan Tugas Mandiri Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Disusun Oleh :
Vivi Anisa Putri
1710221021

Telah diuji pada tanggal 5 April 2019:


Penguji

dr. Hartoyo, M.Kes

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat,
hidayah serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
laporan yang berjudul “Rencana Peningkatan Cakupan ODGJ yang
Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Sesuai Standar di Puskesmas
Mertoyudan II Periode Januari - Februari 2019”. Laporan ini dibuat untuk
memenuhi salah satu syarat dalam tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Mertoyudan II. Selama penyusunan laporan
ini penulis mendapatkan banyak bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak
yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu dalam
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada:
1. dr. Herlina Nung Rahmasari selaku Kepala Puskesmas Mertoyudan II yang
telah membimbing kami selama melakukan Kepaniteraan Klinik di Puskesmas
Mertoyudan II
2. dr. Hartoyo, M.Kes, selaku pembimbing dalam Kepaniteraan IKM
3. Kepada seluruh perawat, bidan, karyawan dan staf Puskesmas Mertoyudan II
4. Tim Pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang
5. Orangtua yang telah banyak memberikan dukungan baik dari segi moril
maupun materil selama ini
6. Perangkat desa, kader, serta masyarakat Desa Kalinegoro yang telah membantu
penulis selama pelaksanaan kegiatan.
Penulis menyadari dalam penulisan laporan masih banyak sekali
kekurangan, oleh karena itu penulis menerima semua saran dan kritik yang
membangun guna menyempurnakan tugas laporan ini. Penulis ucapkan terima
kasih untuk semua perhatiannya.
Magelang, Maret 2019

Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ii
LEMBAR PENGUJI ...................................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................................... v
DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii
DAFTAR BAGAN .......................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
I.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
I.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 3
I.3 Tujuan ............................................................................................... 3
I.3.1 Tujuan Umum ......................................................................... 3
I.3.2 Tujuan Khusus ....................................................................... 3
I.4 Manfaat ............................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 5
II.1 Gangguan Jiwa ................................................................................ 5
II.2 Upaya Kesehatan Jiwa .................................................................... 12
II.3 Upaya Kesehatan Jiwa di Puskesmas .............................................. 14
II.4 Pengetahuan dan Sikap ................................................................... 16
BAB III ANALISIS MASALAH .................................................................. 19
BAB IV KERANGKA PENELITIAN ......................................................... 21
IV.1 Kerangka Teori .............................................................................. 21
IV.2 Kerangka Konsep .......................................................................... 22
BAB V METODE PENELITIAN ................................................................ 23
V.1 Ruang Lingkup Penelitian .............................................................. 23
V.2 Jenis Data ...................................................................................... 23
V.3 Batasan Judul ................................................................................ 24
V.4 Definisi Operasional ..................................................................... 24
V.5 Kriteria Inklusi dan Ekslusi .......................................................... 25
BAB VI HASIL PENELITIAN .................................................................... 26

v
VI.1 Data Umum Desa Kalinegoro ...................................................... 26
VI.1.1 Keadaan Geografis .............................................................. 26
VI.1.2 Luas Wilayah ...................................................................... 27
VI.1.3 Jumlah Penduduk ................................................................ 27
VI.1.4 Kependudukan dan pengelolaan SDM .............................. 27
VI.2 Hasil Survei Penyebab Masalah ................................................... 28
VI.2.1 Wawancara dengan Responden ........................................... 28
VI.2.2 Kuesioner Survei Penyebab Masalah ................................. 31
VI.3 Wawancara dengan Koordinator Program Jiwa ........................... 35
BAB VII PEMBAHASAN ............................................................................ 39
VII.1 Kesimpulan Hasil Penelitian ........................................................ 39
VII.2 Rekapitulasi Analisis Penyebab Masalah ................................... 41
VII.3 Diagram Fishbone ...................................................................... 43
VII.4 Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah ................................. 44
VII.5 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah ............................ 45
VII.6 Prioritas Pemecahan Masalah .................................................... 46
VII.7 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan ............................. 48
VII.8 Gannt Chart ............................................................................... 51
BAB VIII PENUTUP .................................................................................... 52
VIII.1 Kesimpulan .......................................................................... 52
VIII.2 Saran..................................................................................... 53
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 54
LAMPIRAN.................................................................................................... 56

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Persentase ODGJ Berat yang Mendapatkan Pelayanan Kesehatan


Sesuai Standar di Kecamatan Mertoyudan Januari - Februari 2019 .....19
Tabel 2 Jumlah ODGJ Berat yang Mendapatkan Pelayanan Kesehatan
Sesuai Standar di Kecamatan Mertoyudan Januari – Februari 2019 ....20
Tabel 3 Jumlah Dusun di Desa Kalinegoro .......................................................26
Tabel 4 Data Penduduk Desa Kalinegoro Menurut SDM..................................27
Tabel 5 Wawancara dengan keluarga ODGJ yang Tidak Mendapatkan
Pelayanan Sesuai Standar (Responden I) .............................................29
Tabel 6 Wawancara dengan keluarga ODGJ yang Tidak Mendapatkan
Pelayanan Sesuai Standar (Responden II) ............................................29
Tabel 7 Wawancara dengan keluarga ODGJ yang Tidak Mendapatkan
Pelayanan Sesuai Standar (Responden III) ...........................................30
Tabel 8 Hasil Kuesioner Pertanyaan Pengetahuan ...........................................31
Tabel 9 Rekapitulasi Tingkatan Pengetahuan tentang Gangguan Jiwa .............32
Tabel 10 Hasil Kuesioner Pertanyaan Sikap terhadap ODGJ .............................33
Tabel 11 Rekapitulasi Sikap Responden terhadap ODGJ ..................................35
Tabel 12 Hasil Wawancara Input terhadap Petugas Kesehatan .........................36
Tabel 13 Hasil Wawancara Process terhadap Petugas Kesehatan ......................37
Tabel 14 Penyebab Masalah dari Segi Input ......................................................39
Tabel 15 Penyebab Masalah dari Segi Process dan Lingkungan .......................40
Tabel 16 Pemecahan Masalah .............................................................................44
Tabel 21 Matriks Prioritas Penyelesaian Masalah .............................................47
Tabel 22 Tabel Plan Of Action ...........................................................................48

vii
DAFTAR BAGAN

Bagan 1 Kerangka Teori ....................................................................................21


Bagan 2 Kerangka Konsep .................................................................................22
Bagan 3 Diagram Fishbone ................................................................................43
Bagan 4 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah ....................................45

viii
DAFTAR PUSTAKA

1. Republik Indonesia. Undang-Undang No.18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.


Lembaran Negara RI Tahun 2014. Jakarta: Sekretariat Negara. 2014.
2. Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 39 Tahun
2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan
Pendekatan Keluarga. Lembaran Negara RI Tahun 2016. Jakarta: Sekretariat Negara.
2016.
3. Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 4 Tahun
2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar pada Standar
Pelayanan Minimal Bidang kesehatan. Lembaran Negara RI Tahun 2019. Jakarta:
Sekretariat Negara. 2019.
4. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Peran Keluarga Dukung Kesehatan Jiwa
Masyarakat, diakses 31 Agustus 2018,
http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-
kesehatan-jiwa-masyarakat.html
5. Kemetrian Kesehatan Republik Indonesia, Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan
Penelitian dan Pembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
2018.
6. Yosep, I, Mencegah Gangguan Jiwa Mulai Dari Keluarga, diakses pada 27 Maret
2019, http://ebookbrowse.com/mencegah-gangguan-jiwa-mulai-dari-keluarga-kita-
pdf-d14398638.
7. Republik Indonesia. Undang – Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan. Lembaran Negara RI Tahun 2009. Jakarta: Sekertariat Negara 2009.
8. Lubis. N, Krisnani.H dan Fedryansyah. M. Pemahaman Masyarakat Mengenai
Gangguan Jiwa dan Keterbelakangan Mental., diakses 31 Agustus 2018,
http://www.jurnal.unpad.ac.id/share/article/download/13073/5958
9. Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 54 Tahun
2017 Tentang Penanggulangan Pemasungan pada Orang Dengan Gangguan Jiwa.
Lembaran Negara RI Tahun 2017. Jakarta: Sekretariat Negara. 2017.
10. Keliat, Budi A. Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta: EGC. 2011.

54
11.Maramis, W.F. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
2008.
12. Kaplan, BJ, & Sadock. Sinopsis Psikiatri, volume 2 edisi 7. Jakarta: Binarupa
Aksara. 2002.
13.Sukanto, A.G., & Elvira, D.S. Buku Ajar Psikatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 2010.
14. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ). Edisi III.Jakarta: Direktorat Jendral Pelayanan
Medis RI. 1998.
15.Davison, Gerald C. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2006.
16. Direktorat Bina Kesehatan Jiwa. Rencana Aksi Kegiatan Tahun 2015-2019 Direktorat
Bina Kesehatan Jiwa. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Jiwa. 2014.
17. Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan.Rineka Cipta. Jakarta: Direktorat
Bina Kesehatan. 2014.
18. Budiharto. Pengantar Ilmu Perilaku Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan Gigi.
Jakarta: EGC. 2010.

55
Lampiran 1
Survei ODGJ Berat yang Tidak Mendapat Pengobatan Sesuai Standar

56
Lampiran 2
Kuesioner Pengetahuan dan Sikap

KUESIONER PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP ODGJ

Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Hubungan dengan pasien :
Sumber informasi kesehatan :
No. Pertanyaan Jawaban Responden

1. Sudah berapa lama pasien terdiagnosa


mengalami gangguan jiwa?

2. Gejala awal apa yang dialami oleh


pasien?

3. Apakah pasien sudah pernah dirawat


sebelumnya?

4. Apakah pasien masih rutin berobat?


Bila tidak, apa alasannya?

5. Apakah ada peran dari bidan desa,


kader maupun pemerintah daerah
setempat dalam mendukung
pengobatan pasien?
6. Apakah ada kunjungan rumah dari
program kesehatan jiwa di Puskesmas?

57
Petunjuk pengisian kuisioner pengetahuan:
1. Isilah semua pertanyaan tanpa ada yang kosong atau terlewat.
2. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang dipilih a, b, atau c.
Kuisioner tentang Pengetahuan (Skala Guttman)
1. Apakah yang dimaksud dengan “sehat”?
a. Keadaan terbebas dari penyakit.
b. Tidak terganggunya fisik, mental, dan sosial.
c. Tidak mengalami stress.
2. Apa yang dimaksud dengan kesehatan jiwa?
a. Kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial.
b. Keadaan seseorang yang normal.
c. Keadaan tidak mengalami gangguan psikologis.
3. Rasa sedih yang berlarut-larut sampai mengganggu pola hidup seseorang,
seperti tidak mau makan, tidak bisa tidur, dan lainnya. Masalah apa yang
muncul pada orang tesebut?
a. Cemas
b. Depresi
c. Kesedihan

4. Perasaan khawatir pada sesuatu yang belum jelas keberadaannya, disebut...


a. Cemas
b. Takut
c. Depresi
5. Dalam mengkonsumsi obat harus memperhatikan prinsip 5 benar seperti yang
tercantum dibawah ini, kecuali.....
a. Benar tempat
b. Benar cara
c. Benar dosis
6. Pasien harus minum obat pagi, siang, dan sore. Merupakan salah satu prinsip 5
benar minum obat, yaitu.....
a. Benar cara
b. Benar waktu

58
c. Benar orang
7. Berikut ini adalah salah satu penyebab masalah psikologis, yaitu.....
a. Kemasukan roh leluhur
b. Pengalaman hidup tidak menyenangkan
c. Diguna-guna orang lain
8. Salah satu tanda dan gejala munculnya masalah psikologis adalah.....
a. Bekerja dengan baik
b. Bersosialisasi dan bergaul dengan tetangga
c. Tertawa atau marah tanpa sebab
9. Contoh perilaku yang dapat menyebabkan seseorang menjadi minder atau
rendah diri adalah.....
a. Mengajak bersama membersihkan rumah
b. Memanggil dengan panggilan kurang baik
c. Melibatkan dalam kegiatan di lingkungan RT
10. Salah satu hal yang dapat memicu munculnya gangguan jiwa adalah.....
a. Berbicara dengan penderita gangguan jiwa
b. Berteman dengan penderita gangguan jiwa
c. Tekanan dari lingkungan dan keluarga

59
Petunjuk pengisian kuisioner sikap:
1. Isilah semua pernyataan tanpa ada yang kosong atau terlewat.
2. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang dipilih Sangat Setuju (SS), Setuju
(S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS).

Kuisioner tentang Sikap (Skala Likert)


No. Pernyataan Alternatif Jawaban
SS S TS STS
1. saya mengurung pasien gangguan jiwa di
dalam rumah karena dapat merusak nama baik
keluarga.
2. Saya menjauhi pasien gangguan jiwa karena
mereka berbahaya
3. Saya memotivasi pasien gangguan jiwa untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang
bermanfaat.
4. Saya tidak segan mengobrol dengan orang
yang mengalami gangguan jiwa.
5. Saya membiarkan orang lain menjauhi pasien.
6. Saya membiarkan pasien melakukan hal-hal
sesukanya.
7. Saya memarahi pasien apabila melakukan
kesalahan.
8. Saya menyarankan/akan membawa orang
dengan gangguan jiwa untuk berobat.
9. Saya melaporkan orang dengan gangguan jiwa
ke petugas kesehatan/kader setempat.
10. Saya bersedia mengantar keluarga/tetangga
saya yang mengalami gangguan jiwa ke
fasilitas pelayanan kesehatan.

60